BAB 2 - Library Binus

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deindividuasi
2.1.1 Definisi Deindividuasi
Deindividuasi oleh Myers(2008) didefinisikan sebagai hilangnya kesadaran diri dan
pengertian evaluatif diri sendiri yang terjadi didalam situasi kelompok dimana hal tersebut
membantu perkembangan baik atau buruknya norma kelompok. Kemudian, dalam jurnal
yang berjudul “The Theories of Deindividuation” Li(2010) mengatakan deindividuasi adalah
saat dimana ketika berada dalam kelompok reaksi individu meningkat. Singer, Brush &
Lublin (dalam Li,2010) mengungkapkan deindividuasi terjadi ketika seseorang melakukan
tindakan anti sosial yang tidak di inginkan karena ketertarikan individu dalam kelompok.
Deindividuasi merupakan tahap psikologis yang ditandai oleh hilangnya selfawareness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dalam kelompok (Hughes,
2013). Selain itu, Diener (dalam Li, 2010) mendefinisikan deindividuasi sebagai proses
psikologis dimana kesadaran diri (self-awareness) berkurang. Diener menjelaskan Individu
merasa terlindungi oleh faktor situasional dalam kelompok yang membuat perilaku individu
tidak dapat di identifikasi.
Diener (dalam Li, 2010) memiliki 3 tahapan dimana seseorang mengalamai
deindividuasi, yaitu:
1. Self-awareness hilang dari individu, kelompok menjadi fokus perhatian dan di identifikasi
sebagai satu kesatuan.
2. Untuk menjadi sepenuhnya deindividuasi harus ada perubahan perhatian antara individu.
Individu tidak melihat diri mereka secara terpisah tetapi sebagai bagian dari kelompok.
3. individu mengalami ketiadaan self-regulation
7
8
Weakened restraints
against impulsive
behaviour
Enviromental Condition:
-
Anonymity
High level of
arousal
Focus on
external events
Close group
unity
Increased sensitivity to
immediate cues or current
emotional cues
Reducef Selfawareness
Deindividuation
Inability to monitor or
regulate own behaviour
Lessened concern about
evaluations by others
Lowered ability to engage
in rational planning
Gambar 2.1 Self-awareness dan deindividuasi menurut Ed diener
Dari definisi-definisi yang sudah dijelaskan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa deindividuasi adalah suatu proses dimana terjadi peleburan identitas individu menjadi
identitas sosial, yang mengakibatkan hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri dari individu
atkibat tidak ter-identifikasinya perilaku individu dalam suatu kelompok.
2.1.2 Teori Deindividuasi
Teori deindividuasi menurut Chang(2008) membahas mengenai bagaimana kelompok
mempengaruhi perilaku individu. Festinger (dalam Chang, 2008) mengatakan deindividuasi
sebagai hasil pengekangan dari perilaku yang diinginkan individu tetapi bertolak belakang
dengan norma sosial. Deindividuasi teori juga menegaskan peleburan individu terhadap
kelompok membuat individu kehilangan identitas diri yang berakibat seseorang berprilaku
agresif atau menyimpang dari perilaku sosial.
Diener (dalam Chang, 2008) mengatakan kondisi anonim didalam grup mengurangi
kesadaran seseorang. Semakin besar kelompok semakin besar pula kemungkinan anonimnya.
Anonim melindungi individu dari perilaku ketidaktaatan pada norma. Teori deindividuasi
fokus pada bagaimana anonim berpengaruh negatif pada perilaku sosial.
Dalam computer mediated communication douglas & Mcgarty (dalam Chang, 2008)
melakukan penelitian mengenai cara individu yang menggunakan identitas anonim
9
berkomunikasi. Penelitian tersebut menunjukan perubahan perilaku individu menjadi lebih
agresif yang mendukung teori bahwa anonim berpengaruh pada perilaku yang tidak di
inginkan.
2.1.3 SIDE Social Indetity Model of Deindividuation Effect
SIDE menurut Chang (2008) dijelaskan sebagai teori yang fokus pada efek positif
daripada efek negatif dari deindividuasi. Pendekatan ini menjelaskan mengenai konformitas
pada norma grup yang menonjol. Tidak seperti teori deindividuasi, SIDE menegaskan bahwa
perilaku kelompok lebih dapat diatur, jika individu melihat kelompok sama pentingnya
dengan identitas individu, individu akan berprilaku sesuai dengan norma yang telah diatur
kelompok. Tidak seperti teori deindividuasi penelitian SIDE fokus pada bagaimana anonim
dapat meningkatkan pengaruh sosial. SIDE sering digunakan dalam penelitian computer
mediated communication untuk mengetahui sosial efek dari grup online.
2.1.4 Aspek-aspek deindividuasi berdasarkan SIDE
Menurut Reicher (dalam Li, 2010) mengenai the social indetity model’s of
deindividuation effect (SIDE), ada 3 faktor utama yang membuat seseorang mengalami
deindividuasi, yaitu:
1. Group immersion
Meleburnya individu didalam kelompok. Dimana individu tidak lagi melihat dirinya sebagai
self-identity tetapi social identity.
2. anonymity
Anonim adalah saat dimana identitas pribadi seseorang tidak dapat teridentifikasi.
3. hilangnya identitas (self- awareness dan self regulation)
Hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang
mengalami deindividuasi.
2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi deindividuasi
Menurut Myers(2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang mengalami
deindividuasi. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Ukuran kelompok
Kelompok tidak hanya dapat membuat anggotanya bangkit tetapi juga dapat membuat
anggotanya tidak ter-identifikasi. Leon Mann (dalam Myers, 2008) mengungkapkan bahwa
ketika seorang individu dalam kelompok kecil yang membuat dirinya dapat di identifikasi
individu akan lebih tekontrol perilakunya. Sedangkan, pada saat individu dalam kelompok
10
besar dan tidak dapat teridentifikasi individu akan lebih berani untuk melakukan hal yang
tidak sesuai aturan.
2. Physical Anonymity
Ed Diener (dalam Myers, 2008) melakukan penelitian mengenai efek dari individu
berada dalam kelompok dan dalam kondisi anonim. Penelitian tersebut menunjukan bahwa
individu yang berada dalam kelompok dan kondisi anonim akan berprilaku seperti yang
mereka inginkan. Selain itu, menurut Tom Postmes & Russel Spears (dalam Myers, 2008)
kondisi anonim membuat kesadaran diri individu berkurang menjadi kesadaran dalam
kelompok dan bereaksi sesuai situasi negatif maupun positif.
3. Arousing and Distracting Activities
Perilaku agresi yang dilakukan oleh kelompok besar biasanya dipicu oleh aksi
seseodrang yang mengalihkan perhatian kelompok. Menurut Oliver (1984) aksi impulsif
kelompok menyerap perhatian kita. Ketika kita melakukan tindakan agresi kepada seseorang
sebenarnya bukan karena untuk membela dirinya tetapi karena pengaruh situasi dan
kelompok.
2.1.6 Hilangnya Self-awareness
Pengalaman kelompok mengurangi kesadaran diri (self-awarenes) dan mengurangi
self-conciousness yang berdampak pada perilaku yang tidak sesuai dengan norma (Myers,
2008). Ed diener, Prentice-Dunn & Ronald Rogers (dalam Myers, 2008) mengatakan
deindividuasi dapat membuat seseorang tidak dapat mengendalikan diri sendiri. Mereka
berperilaku tidak sesuai dengan diri mereka. Menurut Myers(2008) seseorang dapat
melakukan self-aware pada saat mereka berada didepan umum atau didepan kamera dan
mengendalikan diri mereka. Self-awareness merupakan kebalikan dari deindividuasi.
Meningkatnya Self-awareness dapat mengurangi deindividuasi.
2.1.7 Teknologi deindividuasi
Menurut Khabay (1998) anonim telah menjadi salah satu alasan besar mengapa
seseorang menjadi lebih agresif pada saat mengandarai mobil. Kaca mobil yang tebal
membuat seseorang tertutup dan terisolasi dari luar sehingga memberikan kekuatan karena
mereka merasa identitas mereka tidak diketahui (anonim). Sama seperti pengguna internet
yang tidak dapat terlihat langsung oleh orang lain dan tidak diketahui nya identitas pribadi
dari pengguna internet dapat meningkatkan perilaku agresif pada pengguna internet.
11
2.2 Agresi
2.2.1 Definisi Agresi
Agresi adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti fisik maupun psikologis orang
lain (Aronson, Wilson, & Akert, 2007). Menurut Hogg & Vaughan (2008) agresi adalah
perilaku yang bersifat menyerang, dapat berupa serangan fisik, serangan terhadap objek,
serangan verbal, dan melakukan pelanggaran terhadap hak milik atau menyerang daerah
orang lain. Selain itu, agresi juga didefinisikan sebagai perilaku fisik maupun lisan yang
disengaja dengan maksud untuk menyakiti dan merugikan orang lain (Myers, 2008).
Agresi adalah perilaku yang bertujuan untuk membuat cedera seseorang secara fisik
maupun psikologis (Breckler, Olson, & Wiggins, Social Psychology Alive, 2006). Menurut
KBBI Agresi adalah cenderung (ingin) menyerang kepada sesuatu yang dipandang sebagai
hal yang mengecewakan, menghalangi atau menghambat.
Dari definisi-definisi yang sudah dijelaskan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa agresi adalah tindakan seorang individu yang dilakukan dengan tujuan menyakiti
orang lain secara disengaja baik secara fisik maupun verbal.
2.2.2 Macam-macam agresi
Perilaku agresi memiliki beberapa jenis, menurut Buss dan Perry (1992) (dalam Baron,
Branscombe, & Byrne, 2008) Agresi terbagi menjadi empat jenis, yaitu:
1. Physical Agression
Agresi fisik merupakan perilaku agresi yang dilakukan dengan menggunakan dan
menyerang fisik dalam menyalurkan agresi nya. Bentuk agresi fisik adalah seperti
menendang, menampar, memukul dan lain-lain.
2. Verbal Agression
Agresi verbal merupakan perilaku agresi yang dilakukan untuk melukai atau
menyakiti orang lain secara verbal atau menggunakan kata-kata. Bentuk agresi verbal
adalah seperti ancaman, makian, penolakan dan lain-lain.
3. Anger
Anger merupakan perasaan marah, kesal, dan sebal terhadap orang lain maupun diri
sendiri. Hal tersebut mencakup kesulitan mengendalikan amarah, cepat marah dan
tempramental yang disebut dengan Irritability.
4. Hostility
12
Hostility merupakan perilaku agresi yang tidak terlihat. Hostility terbagi dalam dua
kategori yaitu resentment yang merupakan bentuk rasa iri dan cemburu, dan suspicion
yang merupakan rasa tidak percaya dan permusuhan terhadap orang lain.
2.2.3 Teori-teori agresi
Menurut Myers(2008) ada beberapa pendekatan yang membahas mengenai terjadinya
agresivitas yang terjadi pada individu, yaitu :
1. Agresi akibat faktor biologis
Freud (dalam Myers, 2008) menjelaskan bahwa perilaku agresi tidak dipelajari tetapi
merupakan insting individu. Kemudian Buss & Shackleford (1997) mengatakan agresi
merupakan insting seseorang untuk mendapatkan sumber daya, bertahan dari serangan, dan
digunakan untuk mengintimidasi orang lain pada saat dalam bahaya. Selain itu, david, Lewis
& Pincus (dalam Myres,2008) mengungkapkan bahwa kelainan saraf otak dapat
mempengaruhi perilaku agresi. Teori ini dalam Myers(2008) juga menjelaskan bahwa
perilaku agresi merupakan faktor keturunan. Pengaruh bahan kimia seperti alkohol dan obatobatan terlarang juga dapat mempengaruhi perilaku agresi individu (Myers, 2008).
2. Frustasi - agresi teori
Teori frustasi – agresi (dalam Myers,2008) menjelaskan bahwa perilaku agresi yang
terjadi merupakan reaksi dari frustasi yang dialami individu. Leonard Berkowitz (dalam
Myers,2008) menemukan hubungan antara frustasi dengan agresi, dimana frustasi
menghasilkan amarah yang merupakan emosi yang mengarah pada agresi. Solberg & others
(2002) mengatakan frustasi berasal dari kesenjangan antara harapan dan hasil yang dicapai
(Myers, 2008). Selain itu, frustasi yang mengakibatkan agresi sering terjadi akibat
perbandingan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain. Hal tersebut dapat
meningkatkan frustasi seseorang untuk menjadi lebih baik dibandingkan orang lain sehingga
memicu tindakan agresi (Myers, 2008).
3. Social Learning Theory
Teori pembelajaran sosial merupakan teori yang menjelaskan bahwa perilaku agresi
merupakan pembelajaran dari observasi, meniru dan dengan pemberian penghargaan atau
hukuman (Myers, 2008). Menurut Patterson & others (dalam Myers,2008) seseorang yang
berhasil melakukan perilaku agresi kepada orang lain akan meningkatkan perilaku agresi nya.
13
Selain itu, Bandura (1997) mengemukakan bahwa kita belajar melakukan agresi tidak hanya
dari merasakan tetapi dengan melakukan observasi (Myers, 2008).
2.2.4 Faktor Penyebab Agresi
Menurut Feldman (1985) ada beberapa faktor yang mempengaruhi agresi, antara lain:
1. Arousal as a cause of aggresion
Dalam beberapa penelitian Rule &Nesdale (1976) gairah fisik berhubungan dengan
meningkatnya tingkat agresi seseorang. Gairah fisik bukan hanya satu satunya yang dapat
memicu agresi, gairah yang dihasilkan dari sex, alcohol, dan obat obatan terlarang juga dapat
memicu perilaku agresi.
2.Deindividuation : anonymity facilitates aggresion
Dunn and Rogers (dalam Feldman, 1985) menjelaskan hasil penelitian menyatakan bahwa
deindividuasi efektif dalam meningkatkan perilaku agresi. Subjek yang diteliti mengatakan
bahwa mereka merasakan emosi konsisten pada saat deindividuasi. Mereka mengindikasi ada
perasaan dan pemikiran yang berbeda dengan pada saat normal, tidak merasa bertanggung
jawab pada saat melakukan agresi, tidak merasakan self-concious, dan tidak memikirkan apa
yang akan difikirkan oleh experimenter ataupun korban.
3. Direct provocation as a source of aggresion
Provokasi dari sumber agresi lain memicu tindakan agresi lainnya. Feldman menjelaskan
ketika seseorang merasa terluka oleh sesuatu, mereka akan merespon dengan pehrilku agresi
kepada sumber yang menyebabkan luka. Oleh karena itu, dapat disimpulkan agresi
memfasilitasi atau memicu perilaku agresi lainnya.
2.3 Teori Yang Terkait Dengan Subjek
2.3.1 Cyberbullying
2.3.1.1 Definisi Cyberbullying
Menurut Bhat(2008), cyberbullying adalah penggunaan teknologi untuk
mengintimidasi, membuat korban, atau menganggu sekelompok orang. Selain itu,
Heirman(2015) mendefinisikan cyberbullying sebagai perilaku agresi termasuk didalamnya
penyerangan yang berulang, mempermalukan orang lain atau mengucilkan orang lain demi
kepentingan seseorang yang lebih berkuasa.
Cyberbullying didefinisikan oleh Valentino(2013) sebagai proses mengirim teks atau
gambar yang dimaksudkan untuk menyakiti atau mempermalukan orang lain. Cyberbullying
juga didefinisikan sebagai perlakuan kasar yang dilakukan seseorang atau kelompok orang,
14
menggunakan bantuan alat elektronik yang dilakukan berulang dan terus menerus pada
seorang target yang membela diri (Smith, Mahdavi, Carvalho, Russel, & Tipett, 2008).
Dari definisi-definisi yang dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa cyberbullying
adalah perilaku agresi melalui media elektronik yang dimaksudkan untuk mengintimidasi,
menyakiti, mempermalukan orang lain secara sengaja.
2.2.1.2 Jenis-jenis Cyberbullying
Ada beberapa jenis cyberbullying menurut Willard(2007), dalam jurnal nya yang
berjudul “Educator’s guide to cyberbullying and cyberthreats”. yaitu, sebagai berikut :
1. Flaming, yaitu mengirimkan pesan berupa kata-kata penuh amarah dan frontal.
2. Harassment, yaitu mengirimkan pesan berupa gangguan ke e-mail, atau jejaring
sosial secara terus menerus.
3. Denigration, yaitu proses untuk merusak nama baik orang lain dengan cara
mengumbar keburukan seseorang di media sosial.
4. Impersonation, yaitu berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan pesan-pesan
atau status yang tidak baik ke orang lain.
5. Outing, yaitu menyebarkan data-data, foto dan rahasia orang lain di internet.
6. Trickery , yaitu membujuk seseorang dengan menipu orang tersbut agar mendapatkan
informasi atau foto pribadi orang tersebut.
7. Exclusion, yaitu secara sengaja mengeluarkan seseorang dari grup online.
8. Cybejrstalking, yaitu mengganggu seseorang secara terus menerus sehingga
menyebabkan ketakutan pada orang tersebut.
2.3.2 Remaja
2.3.2.1 Definisi Remaja
Remaja menurut Hurlock(2011), berasal dari bahasa latin yaitu adolesence yang
artinya tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Kemudian, Hurlock memperluas definisi nya
menjadi kematangan mental, emosional dan fisik. Selain itu, Santrock(2011) mendefinisikan
remaja sebagai tahap pertumbuhan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa remaja
adalah masa transisi seseorang dari masa kanak-kanak dan masa dewasa yang melibatkan
perubahan yang cukup besar. Perubahan tersebut mencakup perubahan fisik, kognitif maupun
psikosial (Papalia, Ols, & Feldman, 2008).
15
Masa remaja menurut Hurlock(2011), merupakan masa dimana ketegangan emosi
meninggi akibat perubahan fisik dan kelenjar. Dalam masa remaja seseorang mengalami
ketidakstabilan emosi sebagai akibat dari usaha penyesuaian diri pada perilaku dan harapan
sosial yang baru. Menurut Hal (dalam Santrock, 2011) mengatakan bahwa sudah sejak dulu
remaja dikatakan sulit mengatur emosi, pergerakan emosi dari tinggi ke rendah meningkat
pada masa remaja. Selain itu, Maryse Richards(1994) berpendapat bahwa remaja memiliki
emosi yang ekstrem dan sering berubah-ubah.
Masa remaja menurut Monks(2003) terbagi menjadi empat bagian, yaitu pra remaja
10-12 tahun, remaja awal dengan rentang usia 12-15 tahun, remaja pertengahan dengan
rentang usia 15-18 tahun, dan remaja akhir dengan rentang usia 18- 21 tahun.
Dari definisi-definisi para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa remaja adalah tahapan
perkembangan manusia dimana tahapan tersebut merupakan masa transisi dari masa kanakkanak ke masa dewasa dengan rentang usia 12-21 tahun. Banyak perubahan yang terjadi pada
masa remaja baik secara fisik maupun psikologis yang mengakibatkan terjadinya
ketidakstabilan emosi.
2.3.2.2 Perkembangan Remaja
Perkembangan remaja dibagi menjadi beberapa kategori menurut Santrock(2003),
antara lain:
1. Perkembangan Biologis
Perkembangan biologis pada masa remaja memiliki banyak perubahan seperti tinggi,
berat badan, perubahan hormonal dan lain-lain. Pada masa remaja individu mengalami
pubertas yaitu perubahan cepat pada kematangan fisik yang meliputi perubahan tubuh dan
hormonal yang terutama terjadi pada masa remaja awal.
2. Perkembangan Kognitif
Piaget (dalam Santrock,2003) menjelaskan bahwa remaja terdorong untuk memahami
dunianya karena tindakannya itu merupakan penyesuaian diri biologis. Remaja membangun
dunia kognitifnya sendiri, mengorganisasikan pengalaman mereka, dan menghubungkan satu
gagasan dengan gagasan lainnya menggabungkan hasil observasi dan pengalaman untuk
membuat gagasan baru. Menurut Piaget ada dua cara remaja mengembangkan kemampuan
kognitifnya yaitu asimilasi terjadi ketika seseorang menggabungkan informasi baru kedalam
pengetahuan yg dimilikinya dan akomodasi terjadi ketika seseorang menyesuaikan dirinya
terhadap informasi baru .
16
3. Perkembangan Sosio-Emosional
Perkembangan sosio-emosional remaja meliputi perubahan dalam hub individu
dengan manusia lain dalam emosi, kepribadian dan dalam peran dari konteks sosial dalam
perkembangan. Membantah orangtua, serangan agresif terhadap teman sebaya,
perkembangan sikap asertif dalam peristiwa tertentu dan perang gender dalam masyarakat.
2.3.3 Ask.fm
Ask.fm merupakan sosial media yang dibuat oleh Mark Terebin di Latvia pada 16
Juni 2010, dan memiliki 150 Juta pengguna di seluruh dunia hingga Februari 2015. Ask.fm
adalah media sosial online dimana pengguna dapat membuat akun/profil dan dapat
memberikan pertanyaan ke pengguna lain, dengan pilihan anonimously. Pada saat ini ask.fm
memiliki urutan ke 173 kedalam website yang sering dibuka diseluruh dunia.
Menurut NoBullying(2015) Ask.fm memiliki berbagai macam fitur, antara lain:
-
Pengguna ask.fm dapat menanyakan dan mendapat pertanyaan dari pengguna anonim
-
Pengguna ask.fm dapat menjawab pertanyaan menggunakan kata-kata, gambar, dan
video
-
Ask.fm memiliki fitur dimana pengguna dapat mencantumkan pengguna lain dengan
menggunakan simbol @ pada pengguna lain yang ingin dicantumkan
-
Berdasarkan kritik yang didapat oleh ask.fm, pihak ask.fm membuat privacy setting
dimana pengguna dapat menon-aktifkan pertanyaan anonim
-
Ask.fm baru-baru ini memperkenalkan fitur ‘popular’ dimana kita dapat melihat
pengguna lain yang menarik untuk di follow
-
Dimulai dari Juni 2013, ask.fm dapat di akses melalui smartphone
Pada tahun 2013, ask.fm menjadi salah satu media kontroversial dimana banyak kasus
cyberbullying yang terjadi melalui media tersebut hingga menyebabkan kematian, sedikitnya
7 kasus bunuh diri yang terjadi akibat dari kasus cyberbullying yang terjadi di ask.fm. Kasuskasus tersebut dalam (NoBullying,2015) antara lain:
1. Seorang anak perempuan berumur 14 tahun ditemukan tergantung di dalam
kamarnya setelah menerima pertanyaan/pernyataan yang tidak pantas di akun
ask.fm miliknya. Dimana pernyataan tersebut antara lain menyuruh anak
perempuan tersebut untuk melakukan bunuh dirinya sendiri, dan meminum racun.
Pernyataan yang didapat menggunakan pertanyaan anonim.
17
2. Seorang anak perempuan berumur 12 tahun memutuskan untuk lompat dari atap
pabrik, dan di temukan tewas keesokan harinya. Berdasarkan investigasi yang
dilakukan anak perempuan tersebut telah di bully secara online selama satu tahun
dan mengganti laman ask.fm dirinya sendiri dengan “that dead girl”
3. Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun menggantung dirinya sendiri karena
ask.fm. Ia ditemukan meninggal dirumahnya karena beberapa pertanyaan yang
menyakitkan di laman ask.fm nya. Ia dipanggil aneh dan dikatakan berkali-kali
bahwa tidak ada yang suka pada dirinya, dan mengatakan bahwa ia pantas
mendapatkan hal-hal buruk pada dirinya.
4. Seorang anak laki-laki berusia 17 tahun juga menggantung dirinya pada bulan juli. Ia
memiliki hubungan online dengan seseorang yang ia kira adalah perempuan. Selain
mendapat penipuan, ia juga mendapat pernyataan untuk membunuh dirinya sendiri,
bahkan salah satu dari pesan yang ia terima menyuruh dirinya untuk menusukan pisau
ke tenggorokannya.
5. Remaja lainnya berusia 16 tahun yang berasal dari Florida ditemukan menggantung
dirinya pada hari thanksgiving setelah menerima pertanyaan dari anonim yang
menyuruhnya untuk melakukan bunuh diri. Walaupun ia meresponnya dengan tenang
dengan mencantumkan video. Ia kemudian tetap mendapatkan pesan yang
mengatakan betapa jelek dirinya dan pesan yang menyakitkan.
6. Seorang remaja berusia 15 tahun dari Ireland memutuskan untuk bunuh diri karena
pengguna ask.fm yang kasar. Ia ditemukan tergantung di pohon dekat tempat
tinggalnya pada tahun 2012. Sebelum melakukan tindakannya. Ia sempat mengatakan
pada temannya bahwa ia akan melakukan bunuh diri karena di bully di ask.fm.
7. Seorang remaja berusia 13 tahun melakukan bunuh diri dan meninggalkan pesan
bahwa dirinya telah di bully secara online di ask.fm. Dan tak lama setelah itu saudara
perempuannya yang berusia 15 tahun melakukan hal yang sama dengan meninggalkan
pesan bahwa ia tidak dapat hidup tanpa adik perempuannya yang bunuh diri tersebut.
18
2.4 Kerangka Berfikir
Deindividuasi
Perilaku Agresi
Gambar 2.2 Kerangka Berfikir
Cyberbullying adalah salah satu bentuk kekerasan yang dialami oleh seorang individu
yang didapatkan melalui dunia maya (internet). Cyberbullying dapat dilakukan melalui sosial
media. Dalam penggunaanya seseorang yang menggunakan sosial media harus mengisi data
mengenai dirinya terlebih dahulu, tetapi tidak sedikit dari pengguna sosial media yang
menyembunyikan identitas mereka dengan cara mengisi identitas palsu. Hal tersebut dapat
membuat seorang individu bersembunyi dibalik identitas palsunya sehingga terjadilah
deindividuasi yaitu proses hilangnya kesadaran individu karena pengaruh kelompok sehingga
membentuk suatu pikiran kolektif. Dengan terjadinya deindividuasi muncul lah perilaku
agresi dari individu tersebut yaitu perilaku yang menyakiti orang lain secara fisik ataupun
psikis. Dengan kata lain, perilaku agresi di dunia maya disebut dengan cyberbullying
2.5 Hipotesis
Hipotesis adalah pernyataan yang dianggap tepat atau benar dalam suatu pendapat
meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan. Dari kasus dan fenomena yang telah
dijabarkan diatas terdapat hipotesa dimana deindividuasi berperan dalam tingkat perilaku
agresi oleh remaja. Oleh karena itu, hipotesa penelitian ini adalah terdapat hubungan antara
deindividuasi dan perilaku agresi pelaku cyberbullying pada remaja pengguna ask.fm di
Jakarta.
Download