Persamaan Filsafat, Pengetahuan, dan Ilmu

advertisement
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan
Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
Ngir Tjuk Hirwo
B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
A. FILSAFAT
Sejarah Perkembangan Filsafat
Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami
perkembangan yang sangat mencolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani,
“philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu
pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain.
Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecahpecah (Bertens, 1987, Nuchelmans, 1982).
Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu
pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan
ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17
tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan
dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan
bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang
dianut.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu
sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana
“pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing
cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing
mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju
dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu
pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti
spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
1
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
(1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan
taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.
Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu
pengetahuan, sejak Oleh sebab itu Francis bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut
filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).
Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena pengetahuan ilmiah
atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai
penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler
(dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan
umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak
dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik
tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento
Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena
terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak
mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan
pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.
Pengertian Filsafat
Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani
“philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos
(philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani
Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu
ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi
pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat
sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis
(The Liang Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah
dikemukakan oleh para filsuf.Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang
yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.),
yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
2
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan).
Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan.
Selanjutnya, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah
Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam
semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat
adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsurunsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).Timbulnya filsafat karena manusia
merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu
terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan
manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara
memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997), dengan
melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak semua
persoalan itu harus persoalan filsafat.
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi
segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang
atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicitacitakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam
memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan
menyeluruh dengan segala hubungan.
Pengertian filsafat menurut para tokoh :
1. Pengertian filsafat menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata
tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan
sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan
2. Menurut Plato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada
3. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat
menyelidiki sebab dan asas segala benda.
4. Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM)
mengatakan bahwa filsafat adalah
pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
3
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
5. Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat
adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki
hakekatnya yang sebenarnya.
Suhar AM berpendapat bahwa, “filsafat” merupakan istilah yang sering dikaitkan
dengan sebuah teori umum tentang hakikat dari sesuatu, khususnya tentang bagaimana
memperoleh pengertian yang luas tentang sesuatu tersebut.
Lebih lanjut Suhar menjelaskan bahwa ruang lingkup pembahasan filsafat sangat
luas, maka para ahli filsafat memberikan definisi yang berbeda. Plato misalnya, yang
mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang
asli. Aristoteles, murid Plato, mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi
kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika,
ekonomi, politik dan esetetika. Sementara itu, Descartes mengatakan bahwa filsafat
merupakan kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan manusia menjadi
pokok penyelidikan. Sedangkan menurut Ir. Poedjaeijatna, filsafat merupakan ilmu yang
mencari sebab yang sedaam-dalamnya bagi segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat diketahui betapa kompleksnya
pembahasan filsafat. Namun, tidak ada perbedaan yang menjadi pertentangan. Hanya,
perbedaan tersebut dilihat dari sudut pandang dalam mengkaji filsafat tersebut. Pada
dasarnya mereka mengemukakan bahwa pembahasan filsafat meliputi: Tuhan, manusia dan
alam, yang mana merupakan objek material filsafat. Lebih jauh dari itu, filsafat juga
mengkaji hakikat yang terkandung di dalam objek kajiannya tersebut dengan berpikir secara
mendalam (objek forma).
1.
Fungsi Filsafat
Endang Saifuddin Anshari, dalam bukunya Ilmu, Filsafat dan Agama, menguraikan
filsafat sebagai “ilmu istimewa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak
dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan pada umumnya, karena jangkauan filsafat lebih dalam
dari ilmu pengetahuan. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Anshari juga berpendapat
bahwa filsafat merupakan proses berpikir untuk memahami secara radikal, integral dan
sistematis tentang Tuhan, manusia dan alam semesta.
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
4
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
Jadi, sangat jelas bahwa filsafat sangatlah berperan penting dan berfungsi dalam
kehidupan manusia. Filsafat dapat memenuhi harapan-harapan manusia. Fitrah manusia
adalah berpikir, maka pola pikir manusia pun mengalami perubahan dari masa ke masa. Dan
seiring perubahan-perubahan tersebut, dasar-dasar kehidupan manusia juga berubah dan
mengalami lompatan-lompatan termasuk dalam bidang sains dan teknologi.
Namun, di sisi lain, dari kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh manusia
tersebut, tidak diiringi dengan pembangunan dan perkembangan moral manusia. Dari
sinilah ilmu pengetahuan tidak selaras dengan kebijaksanaan. Sehingga, manusia pun
mengalami keadaan yang dilematis dalam hidupnya. Mereka mengalami disharmonisasi
dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan mereka mengalami alienasi dari dirinya sendiri,
lingkungan sosialnya dan Tuhannya.
Menghadapi kenyataan itu, maka filsafat menjadi penyelaras tujuan sains dan
teknologi yang tercerabut dari akar metafisisnya. Filsafat memaknai kembali dasar-dasar
saintek baik dalam aspek epistemologi, ontologi ataupun aksiologinya. Dengan begitu, maka
kehidupan manusia lebih terarah. Karena filsafat dapat merumuskan kembali nila-nilai moral
sebagai landasan konstruksi sains dan teknologi. Singkatnya, filsafat berfungsi untuk
menyelamatkan manusia dari kesesataan hidup menghadapi modernisasi dan gaya hidup
materialisme.
2.
Pemikiran Filsafat
Menurut Kattsoff, perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan
konsepsional. Konsepsi tersebut merupakan hasil generalisasi dan abstaraksi dari
pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses satu demi satu. Sebagai konsekuensinya,
para filosof tidak hanya membahas tentang Tuhan, alam dan manusia, tetapi juga
membahas tentang proses berpikir itu sendiri. Mereka tidak hanya ingin mengetahui hakikat
yang ada dan ukuran-ukuran kebenarannya, melainkan juga menemukan kaidah-kaidah
berpikir itu sendiri. Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun bagan yang keheren
(runtut) dan rasional. Selain itu, filsafat
juga senantiasa bersifat komprehensif
(menyeluruh).
Sedangkan, Ali Maksum menguraikan ciri dari pemikiran filsafat diantaranya:
pertama, berpikir radikal, yang berarti filosof tidak terpaku pada fenomena tertentu saja.
Keradilan berpikir menuntut untuk berpikir menemukan akar seluruh kenyataan. Berpikir
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
5
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
radikal bertujuan untuk memperjelas realitas dengan pemahaman realitas itu sendiri.
Kedua, mencari asas. Dalam memandang realitas, filsafat senantiasa berusaha mencari asas
yang paling hakiki dari keseluruhan realitas. Dengan kata lain, mencari asas berarti
menemukan esensi dari realilitas itu. Ketiga, para filosof berupaya untuk memburu
kebenaran. Sudah barang tentu kebenaran yang diburu adalah kebenaran yang hakiki dan
sungguh-sungguh dapat dipertanggungjawabkan. Keempat, mencari kejelasan. Berfilsafat
merupakan perjuangan untuk mencari kejelasan pengertian dan kejelasan seluruh realitas.
Pencarian kejelasan itu ialah salah satu sifat dasar dari filsafat. Kelima, berpikir rasional.
Berpikir rasional berarti berpikir logis, sistematis dan kritis. Pemikiran filsafat dapat
diidentifikasi sebagai sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam
dengan ciri-ciri berpikir filsafat yang sebagaimana disebut di atas.
3.
Filsafat Sebagai Induk Ilmu Pengetahuan
Pada uraian sebelumnya secara tidak langsung telah disinggung titik singgung antara
filsafat dan ilmu pengetahuan. Sebagai suatu proses berpikir, filsafat merupakan jalan untuk
mengetahui hakikat yang ada. Dari proses tersebut, lahirlah ilmu pengetahuan yang
sebagaimana dapat kita pelajari dan kita pergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
kata lain, filsafat merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan.
Sebagai induk ilmu pengetahuan, filsafat mengandung pertanyaan-pertanyaan
ilmiah, yaitu apa, mengapa, kemana, dan bagaimana. Dengan pertanyaan-pertanyaan
tersebut filsafat menguraikan kebenaran dan hakikat sesuatu. Sebagaimana ilmu
pengetahuan yang dijadikan manusia sebagai jalan untuk mengetahui sesuatu melalui
metode ilmiah. Jadi, ilmu pengetahuan bertolak dari tidak mengetahui menjadi mengetahui,
sedangkan filsafat bergerak dari tahu menjadi lebih tahu serta mengetahui hakikat dari yang
diketahui.
Dengan pertanyaan-pertanyaan ilmiah di atas, dapat diartikan filsafat berperan
sebagai ilmu. Namun, tidak hanya sebagai ilmu, filsafat juga dapat dijadikan sebagai metode
berpikir dan sutau sikap terhadap realitas. Dengan demikian, ilmu pengetahuan lahir dari
rahim yang sama, yakni filsafat. Filsafat merupakan The Mother of Science yang menjadi
dasar dan pijakan ilmu pengetahuan.
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
6
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
B. Filsafat Ilmu
Definisi Filsafat Ilmu
Setelah memaparkan pengertian filsafat, maka penulis akan mendeskripsikan filsafat
ke arah yang lebih mengerucut, yakni filsafat ilmu. Sebagaimana diuraikan sebelumnya,
filsafat adalah berpikir rasional, kritis, sistematis, dan mendalam tentang suatu hal untuk
menemukan hakikat dari hal tersebut. Filsafat telah melahirkan pemikiran-pemikiran yang
begitu luar biasa. Filsafat pula yang melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Dengan
lahirnya ilmu pengetahuan, manusia berkembang seiring perkembangan zamannya.
Filsafat adalah prasyarat mendasar untuk memahami sejarah, sosiologi dan studi
lain dari ilmu pengetahuan, metode-metode, prestasi dan prospek. Masalah filsafat klasik
seperti yang kehendak bebas dibandingkan determinisme, atau apakah pikiran adalah
bagian dari tubuh, atau apakah ada ruang untuk tujuan, kecerdasan dan makna dalam
bahan murni semesta, yang dibuat oleh dan mendesak dibentuk oleh penemuan-penemuan
ilmiah dan teori.
Sementara itu, pengertian ilmu dapat dirujuk dengan kata ilm (Arab), science
(Inggris), watenschap (Belanda) dan wissenschaf (Jerman). Mohamad Adib mengutip R.
Harre berpendapat bahwa ilmu adalah kumpulan teori yang sudah diuji coba yang
menjelaskan tentang pola-pola yang teratur atau pun tidak teratur di antara fenomena yang
dipelajari secara hati-hati. Sederhananya, ilmu atau ilmu pengetahuan ialah akumulasi
pengetahuan yang telah melalui proses ilmiah yang disusun secara sistematis, konsisten dan
kebenarannya telah diuji secara empiris.
Filsafat dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang saling terkait. Kattsof
mengatakan bahwa bahasa yang dipakai dalam filsafat berusaha untuk berbicara mengenai
ilmu. Begitu apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi
seorang filsuf.
Pernyataan Kattsof menjadi benar, karena lapangan kerja filsafat bukan main
luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin
diketahui manusia. Demikian juga, ilmu pengetahuan lapangan kerjanya melingkupi segala
hal yang ingin diketahui manusia meliputi objek materia dan objek forma. Sehingga dalam
hal ini bagi Kattsof antara filsafat dengan ilmu pengetahuan mempunyai timbal balik. Hasilhasil ilmu pengetahuan penting bagi seorang filsuf untuk perenungan kefilsafatan guna
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
7
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
menyusun pandangan dunia yang sistematis. Dengan berbuat demikian, berarti pula
sekadar meliputi azas azas yang demikian rupa keadaannya agar tidak bertentangan dengan
penemuan-penemuan serta hasil-hasil ilmu yang dikenal. Pada akhirnya antara filsafat
dengan ilmu pengetahuan terdapat titik penisbatan (persamaan) yakni sama-sama mencari
kebenaran.
Filsafat dan ilmu yang dikenal di dunia Barat berasal dari zaman Yunani kuno. Pada
zaman itu keduanya masuk dalam pengertian episteme. Sementara, istilah lain dari filsafat
ilmu adalah teori ilmu. The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu sebagai segenap pemikiran
reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu
maupun hubungan ilmu dengan segala segi kehidupan manusia.
Filsafat ilmu dapat dibedakan menjadi dua; pertama, filsafat ilmu dalam arti luas
yaitu yang menampung semua permasalahan yang berkaitan dengan hubungan keluar dari
kegiatan ilmiah, seperti implikasi ontologik-metafisik dari citra dunia yang bersifat ilmiah,
tata susila yang menjadi pegangan penyelenggara ilmu dan konsekuensi pragmatic-etik
penyelenggara ilmu dan sebagainya. Kedua, filsafat ilmu dalam arti sempit yaitu
menampung permasalahan yang berkaitan dengan hubungan kedalam yang terdapat di
dalam ilmu, yaitu yang menyangkut sifat pengetahuan ilmiah, dan cara-cara mengusahakan
serta mencapai pengetahuan ilmiah.
Untuk mempermudah pemahaman kita terhadap pengertian filsafat ilmu kiranya
kita dapat merangkum menjadi tiga jalan untuk menelaahnya yaitu pertama, filsafat ilmu
adalah suatu penalaran secara kritis terhadap suatu metode yang digunakan oleh ilmu
tertentu, seperti lambang yang digunakan dan struktur penalaran yang digunakan dalam
menentukan lambang tersebut. Penalaran kritis ini dapat diartikan sebagai bahan untuk
mengkaji ilmu empiris dan juga ilmu rasional juga dapat digunakan dalam bidang studi etika
dan estetika, sejarah, antropologi, geologi, dan sebagainya. Dalam hal ini yang paling
penting untuk ditelaah adalah masalah penalaran dan teorinya.
Kedua, filsafat ilmu adalah sebuah usaha di dalam menemukan kejelasan terhadap
konsep-konsep, atau asumsi-asumsi terhadap wacana, juga upaya dalam menguak tabir
kerasionalan, kepragmatisan. Aspek ini erat kaitanya dengan masalah yang logis dan
epistemologis. Jadi peran filsafat ilmu di sini memiliki makna ganda yaitu filsafat ilmu pada
satu sisi sebagai analisa kritis terhadap anggapan dasar seperti kuantitas, kualitas, ruang dan
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
8
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
waktu dan hukum. sedangkan sisi yang lain filsafat ilmu mencakup studi tentang keyakinan
mengenai dunia lain, keyakinan mengenai keserupaan di dalam alam semesta, dan
keyakinan mengenai penalaran proses-proses alami. Ketiga, filsafat ilmu ialah sebuah studi
gabungan yang mencakup berbagai studi yang beraneka macam yang ditujukan untuk
menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu.
Objek Material dan Objek Formal Filsafat Ilmu
Seperti filsafat pada umumnya, filsafat ilmu juga mempunyai objek material dan
objek formal. Rizal Muntasyir dan Misnal Munir dalam bukunya Filsafat Ilmu, berpendapat
bahwa objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri. Objek material
secara tak menentu dan dalam keseluruhannya menunjukkan pokok soal suatau
pengetahuan (terutama suatu pengetahuan demonstratif) dalam hubungan dengan
proposisi-proposisi yang dapat dibuat tentangnya. Dengan kata sifat “material” kita tidak
mengimplikasikan bahwa ada materi dalam susunan pokok soal itu, kita bermaksud
menunjukkan bahwa obyek itu bagi pengetahuan seperti bahan-bahan bagi seorang
seniman atau seorang tukang.
Untuk memberikan gambaran yang cermat dan lengkap tentang suatu pengetahuan,
kita menunjukkan obyek materialnya sebagaimana dicirikan oleh obyek formalnya yang
disebut obyek sebenarnya dari suatu pengetahuan. Jika objek material filsafat ilmu adalah
ilmu, maka objek formal filsafat ilmu adalah esensi ilmu pengetahuan, atau tinjauan filosofis
dari ilmu pengetahuan itu sendiri dengan landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
Dalam artian, paradigma yang digunakan menggunakan disiplin ilmu kefilsafatan seperti
radikal, universal, konseptual, koheren, sistematis, komprehensif, bebas dan bertanggung
jawab.
Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Sebagai suatu disiplin, filsafat ilmu pertama-tama berupaya menjelaskan unsurunsur yang terlibat dalam proses ilmiah diantaranya: prosedur-prosedur pengamatan, polapola argumen, metode penyajian dan penghitungan, perandaian-perandaian metafisik dan
seterusnya. Kemudian mengevaluasi dasar-dasar validitasnya berdasarkan logika formal,
metodologi praktis dan metafisika. Filsafat ilmu telah mengalami perkembangan yang
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
9
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
sangat pesat, sehingga menjadi suatu bidang pengetahuan yang sangat luas dan sangat
mendalam. Dalam bidang filsafat, ruang lingkup filsafat ilmu pada dasarnya mencakup dua
pokok pembahasan, yaitu pertama membahas sifat pengetahuan ilmiah yang meliputi
bidang
epistemology atau filsafat pengetahuan dan kedua menelaah cara-cara utuk
mengusahakan atau melahirkan pengetahuan ilmiah yang terkait dengan pokok persoalan
cara-cara mengusahakan lahirnya pengetahuan ilmiah. Filsafat ilmu sangat erat kaitanya
dengan logika dan metodologi, dan kadang-kadang filsafat ilmu disamakan pengertianya
dengan metodologi. Jadi filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang cirri-ciri
pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsaat ilmu
sesungguhnya merupakan penyelidikan lanjutan.
Selain tersebut di atas sebenarnya filsafat ilmu dapat dikelompokan menjadi dua
pokok bahasan yaitu;
1.
Filsafat ilmu umum. Kajianya mencakup persoalan-persoalan, kesamaan, keseragaman
serta hubungan antara berapa ilmu yang terkait. Dengan kata lain kajian filsafat umum ini
membahas tentang hubungan ilmu dengan kenyatataan atau objek ilmu itu sendiri yang
diantaranya terkait dengan struktur kenyataan.
2.
Filsafat ilmu khusus. Kajian yang khusus membahas kategorisasi serta cara yang
digunakan dalam melakukan pendekatan terhadap ilmu-ilmu tertentu, seperti dalam disiplin
ilmu alam, ilmu sejarah, ilmu social dan sebagainya.
Selain menggunakan diklasifikasikan seperti tersebut di atas, filsafat ilmu juga dapat
diklasifikasikan berdasarkan model pendekatan, seperti pendekatan filsafat ilmu terapan
dan filsafat ilmu murni. Filsafat ilmu terapan menggali dasar persoalan kefilsafatan yang
melatar belakangi munculnya pengetahuan normative dalam dunia ilmu. Sedangkan filsafat
ilmu murni, bentuk pengkajian filsafat ilmu dengan cara menelaah secara kritis-eksploratif
terhadap objek kefilsafatan, membuka cakrawala baru terhadap kemungkinan munculnya
disiplin ilmu baru atau perkembangan pengetahuan yang baru.
Amsal Bakhtiar, mengemukakan bahwa ruang lingkup filsafat lebih luas daripada
ilmu yang hanya mencakup hal yang bersifat empiris saja. Filsafat mencakup hal yang
bersifat empiris dan non empiris. Filsafat menjadi pijakan bagi kegiatan keilmuan. Setelah
itu, ilmu berkembang sesuai dengan spesialisasi masing-masing. Awalnya, filsafat terbagi
pada teoritis dan praktis. Filsafat teoritis mencakup metafisika, fisika, matematika, dan
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
10
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
logika. Ekonomi, politik, hukum dan etika. Etiap bidang ilmu ini kemudian berkembang dan
menspesialisasi, seperti fisika berkembang menjadi biologi, biologi berkembang menjadi
anatomi, kedokteran, dan kedokteran pun terspesialisasi menjadi beberapa bagian.
Perkembangan ini dapat diibaratkan sebuah pohon dengan cabang dan ranting yang sekain
lama semakin rindang.
Dari perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat tersebut, membuat ilmu
pengetahuan menjauh dari induknya (filsafat), bahkan membuat ilmu pengetahuan saling
bersaing dengan ilmu pengetahuan yang lain. Maka, seperti yang diuraikan sebelumnya,
tugas filsafat adalah menyelaraskan visi ilmu pengetahuan itu sendiri agar tidak kontradiktif
dengan berbagai kepentingan. Ilmu sebagai objek kajian filsafat seyogyanya mengikuti alur
filsafat, yaitu objek material yang didekati lewat pendekatan radikal, komprehensif, dan
rasiona serta spekulatif. Pendekatan spekulatif akan mnejadikan ilmu semakin berkembang.
Peran Filsafat Ilmu
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai
buku maupun karangan ilmiah lainnya.Sehubungan dengan pendapat tersebut serta
sebagaimana pula yang telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa
filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat
ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti
perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan
lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada
dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori)
adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi
pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik (Heuristik adalah seni dan ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan suatu penemuan. Kata ini berasal dari akar yang
sama dalam bahasa Yunani dengan kata "eureka", berarti 'untuk menemukan'. Heuristik
yang berkaitan dengan pemecahan masalah adalah cara menujukan pemikiran seseorang
dalam melakukan proses pemecahan sampai masalah tersebut berhasil dipecahkan. Ini
berbeda dari algoritma di mana hanya dipergunakan sebagai peraturan atau garis
pedoman, bertentangan dengan prosedur invarian). Bahkan sampai pada dimensi
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
11
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti
maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat
dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti
ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau
mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono
(1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk
memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat
ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan
ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Lebih lanjut Koento Wibisono (1984), mengemukakan bahwa hakekat ilmu
menyangkut masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh
sang ilmuwan dalam menjawab pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn) itu.
Inilah awal-mula sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis,
materialistis, agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan
dalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam upaya
menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai,
ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan
ilmu.Adanya pola berfikir semacam ini akan menumbuhkan sikap ketenangan,
keseimbangan pribadi, mengendalikan diri, dan tidak emosional. Sikap dewasa secara
filsafat dalam penyelidikan alam adalah sikap menyelidiki secara objektif, kritis, skeptis,
terbuka (open minded), toleran, dan selalu bersedia meninjau suatu masalah dari berbagai
sudut pandangan. Metode berfikir ilmiah ini merupakan gabungan antara pendekatan
induktif-empirik dengan pendekatan deduktif-rasional.
Pengertian Ilmu Pengetahuan (Sains)
Sementara itu, yang dimaksud pendidikan sains adalah kumpulan fakta, konsep,
teori, dan generalisasi yang menjelaskan tentang alam. Melalui pendidikan sains, penemuan
dari suatu kebenaran ilmiah mengenai hakikat semesta alam dijelaskan secara logis untuk
memberikan pemahaman konsep. Hukum yang bersifat ilmiah didekati melalui suatu proses
induksi dari informasi yang didapatkan dari berbagai data.
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
12
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
Obyek penelitian sains mencakup keseluruhan alam semesta dengan segenap isinya.
Sikap ini sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an bahwa dalam setiap melakukan aktivitas,
termasuk dalam pencarian ilmu pengetahuan kealaman (sains): ”Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (Qs. al-‘Alaq [96]: 1). Ayat ini supaya
manusia dalam “kegiatan membaca/meneliti” memperoleh berbagai pemikiran dan
pemahaman.
Iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah,
yang merupakan asas Aqidah Islam (al-Qashash,1995: 81). Al-Quran juga menyatakan bahwa
objek ilmu meliputi batas-batas alam materi (physical world), karena itu dapat dipahami
mengapa Al-Quran di samping menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen
(QS. [29]: 20), juga menganjurkan untuk menggunakan akal dan intuisi (antara lain, QS
[16]:78).
Dengan demikian, sejak semula Allah Swt dalam Al-Quran menyatakan bahwa di
balik alam raya ini ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia (antara lain
QS 2:164; 51:20-21), dan bahwa tanda-tanda wujud-Nya itu akan diperlihatkan-Nya melalui
pengamatan dan penelitian manusia, sebagai bukti kebenaran Al-Quran (QS 41:53).
Memberikan isyarat melalui ayat-ayat-Nya bahwa tafakkur menghasilkan sains, tashkhir
menghasilkan teknologi guna kenyamanan hidup manusia. Simpelnya, tanpa keraguan dapat
dinyatakan bahwa "Al-Quran" membenarkan --bahkan mewajibkan-- usaha-usaha
pengembangan ilmu sains dan teknologi, selama ia membawa manfaat untuk manusia serta
memberikan kemudahan bagi mereka.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, pengetahuan berarti segala sesuatu
yg diketahui; kepandaian: atau segala sesuatu yg diketahui berkenaan dengan hal (mata
pelajaran). Adapun pengetahuan menurut beberapa ahli adalah:
1. Menurut Pudjawidjana (1983), pengetahuan adalah reaksi dari manusia atas
rangsangannya oleh alam sekitar melalui persentuhan melalui objek dengan indera
dan pengetahuan merupakan hasil yang terjadi setelah orang melakukan
penginderaan sebuah objek tertentu.
2. Menurut Ngatimin (1990), pengetahuan adalah sebagai ingatan atas bahan-bahan
yang telah dipelajari dan mungkin ini menyangkut tentang mengikat kembali
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
13
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
sekumpulan bahan yang luas dari hal-hal yang terperinci oleh teori, tetapi apa yang
diberikan menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai.
3. Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan
ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telingan.
Dari beberapa pengertian pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
merupakan segala sesuatu yang diketahui yang diperoleh dari persentuhan panca indera
terhadap objek tertentu. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat,
mendengar, merasakan, dan berfikir yang menjadi dasar manusia dan bersikap dan
bertindak. Partanto Pius dalam kamus bahasa indonesia (2001) pengetahuan dikaitkan
dengan segala sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses belajar.
Pengertian Ilmu pengetahuan
Ilmu Pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia .
Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan
kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari
keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan
pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji
dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut
filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan
yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Contoh:

Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang
bahani (materiil saja). Ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak
matahari.
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
14
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung

Ilmu Psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya
dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Ilmu psikologi
menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.
Persamaan Filsafat, Pengetahuan, dan Ilmu Pengetahuan
1. Ketiganya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki objek selengkaplengkapnya.
2. Ketiganya memberikan pengertian mengenai hubungan yang ada antara kejadiankejadian yang kita alami dan mencoba menunjukan sebab-sebabnya.
3. Ketiganya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan
4. Ketiganya mempunyai metode dan sistem
5. Ketiganya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari
hasrat manusia (objektivitas) akan pengetahuan yang lebih mendasar
Perbedaan Filsafat, Pengetahuan, dan Ilmu Pengetahuan
Filsafat
Mencoba merumuskan
pertanyaan atas jawaban.
Mencari prinsip-prinsip
umum, tidak membatasi segi
pandangannya bahkan
cenderung memandang
segala sesuatu secara umum
dan keseluruhan.
Keseluruhan yang ada
Pengetahuan
Yang dipelajari terbatas
karena hanya sekedar
kemampuan yang ada dalam
diri kita untuk mengetahui
sesuatu hal.
Ilmu Pengetahuan
Cenderung kepada hal yang
dipelajari dari sebuah buku
panduan.
Objek penelitian yang
terbatas
Menilai objek renungan
dengan suatu makna.
Misalkan : religi, kesusilaan,
keadilan, dsb
Bertugas mengintegrasikan
ilmu-ilmu.
Tidak menilai objek dari
suatu sistem nilai tertentu.
Ilmu pengetahuan adalah
kajian tentang dunia
material.
Ilmu pengetahuan adalah
definisi eksperimental.
Bertugas memberikan
jawaban
Ilmu Pengetahuan dapat
sampai pada kebenaran
melalui kesimpulan logis dari
pengamatan empiris
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
15
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Pengetahuan Alam
Frank (dalam Soeparmo, 1984), dengan mengambil sebuah rantai sebagai
perbandingan, menjelaskan bahwa fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah
mengembangkan pengertian tentang strategi dan taktik ilmu pengetahuan alam. Rantai
tersebut sebelum tahun 1600, menghubungkan filsafat disatu pangkal dan ilmu
pengetahuan alam di ujung lain secara berkesinambungan. Sesudah tahun 1600, rantai itu
putus. Ilmu pengetahuan alam memisahkan diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam
menempuh jalan praktis dalam menurunkan hukum-hukumnya. Menurut Frank, fungsi
filsafat ilmu pengetahuan alam adalah menjembatani putusnya rantai tersebut dan
menunjukkan bagaimana seseorang beranjak dari pandangan common sense (prapengetahuan) ke prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu pengetahuan
alam bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan pandangan dunia yang di dalamnya
ilmu pengetahuan alam, filsafat dan kemanusian mempunyai hubungan erat.
Sastrapratedja (1997), mengemukakan bahwa ilmu-ilmu alam secara fundamental
dan struktural diarahkan pada produksi pengetahuan teknis dan yang dapat digunakan. Ilmu
pengetahuan alam merupakan bentuk refleksif (reflection form) dari proses belajar yang ada
dalam struktur tindakan instrumentasi, yaitu tindakan yang ditujukan untuk mengendalikan
kondisi eksternal manusia. Ilmu pengetahuan alam terkait dengan kepentingan dalam
meramal (memprediksi) dan mengendalikan proses alam. Positivisme menyamakan
rasionalitas dengan rasionalitas teknis dan ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan
alam.
Menurut Van Melsen (1985), ciri khas pertama yang menandai ilmu alam ialah
bahwa ilmu itu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi
inderawi yang langsung. Hal kedua yang penting mengenai registrasi ini adalah bahwa dalam
keadaan ilmu alam sekarang ini registrasi itu tidak menyangkut pengamatan terhadap
benda-benda dan gejala-gejala alamiah, sebagaimana spontan disajikan kepada kita. Yang
diregistrasi dalam eksperimen adalah cara benda-benda bereaksi atas “campur tangan”
eksperimental kita. Eksperimentasi yang aktif itu memungkinkan suatu analisis jauh lebih
teliti terhadap banyak faktor yang dalam pengamatan konkrit selalu terdapat bersama-
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
16
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
sama. Tanpa pengamatan eksperimental kita tidak akan tahu menahu tentang elektronelektron dan bagian-bagian elementer lainnya.
Ilmu pengetahuan alam mulai berdiri sendiri sejak abad ke 17. Kemudian pada tahun
1853, Auguste Comte mengadakan penggolongan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya
penggolongan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Auguste Comte (dalam Koento
Wibisono, 1996), sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan
bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih
dahulu. Dengan mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling umum secara
lebih tenang dan rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi ilmu-ilmu
pengetahuan yang saling berkaitan untuk dapat berkembang secara lebih cepat. Dalam
penggolongan ilmu pengetahuan tersebut, dimulai dari Matematika, Astronomi, Fisika, Ilmu
Kimia, Biologi dan Sosilogi. Ilmu Kimia diurutkan dalam urutan keempat.
Penggolongan tersebut didasarkan pada urutan tata jenjang, asas ketergantungan
dan ukuran kesederhanaan. Dalam urutan itu, setiap ilmu yang terdahulu adalah lebih tua
sejarahnya, secara logis lebih sederhana dan lebih luas penerapannya daripada setiap ilmu
yang dibelakangnya (The Liang Gie, 1999).
Pada pengelompokkan tersebut, meskipun tidak dijelaskan induk dari setiap ilmu
tetapi dalam kenyataannya sekarang bahwa fisika, kimia dan biologi adalah bagian dari
kelompok ilmu pengetahuan alam.
Ilmu kimia adalah suatu ilmu yang mempelajari perubahan materi serta energi yang
menyertai perubahan materi. Menurut ensiklopedi ilmu (dalam The Liang Gie, 1999), ilmu
kimia dapat digolongkan ke dalam beberapa sub-sub ilmu yakni: kimia an organik, kimia
organik, kimia analitis, kimia fisik serta kimia nuklir.
Selanjutnya Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996) memberi efinisi tentang
ilmu kimia sebagai “… that it relates to the law of the phenomena of composition and
decomposition, which result from the molecular and specific mutual action of different
subtances, natural or artificial” ( arti harafiahnya kira-kira adalah ilmu yang berhubungan
dengan hukum gejala komposisi dan dekomposisi dari zat-zat yang terjadi secara alami
maupun sintetik). Untuk itu pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia tidak saja
melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga dengan
perbandingan (komparasi).
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
17
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
Jika melihat dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam, pada mulanya
orang tetap mempertahankan penggunaan nama/istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan
alam. Hal ini dapat dilihat dari judul karya utama dari pelopor ahli kimia yaitu John Dalton:
New Princiles of Chemical Philosophy.
Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam
tidak terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat. Untuk itu diharapkan
uraian ini dapat memberikan dasar bagi para ilmuan IPA dalam merenungkan kembali
sejarah perkembangan ilmu alam dan dalam pengembangan ilmu IPA selanjutnya.
Pentingnya filsafat ilmu dalam pendidikan sains dapat dilihat dalam tiga kajian, yaitu
kajian ontologis, kajian epistemologis, dan kajian aksiologis. Dari kajian ontologis, objek yang
ada yang akan diteliti ialah yang dapat dijangkau teori melalui pengalaman manusia secara
empiris. Dari kajian epistemologis, yaitu pengembangan ilmu dilakukan dengan
menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologis untuk memperoleh pemahaman dan
pengertian (verstehen) serta mencapai kearifan (kebijaksanaan atau wisdom).Kemudian,
dari kajian aksiologis ialah pendidikan sains sebagai proses pembudayaan manusia secara
beradab dalam perkembangan intelektual dan pembentukan kepribadian. llmu pendidikan
tidak bebas nilai atau memiliki etika.
Pendidikan sains dapat menjadi sarana relevan untuk lebih memelihara dan
menghargai alam dalam situasi lingkungan heterogen maupun lingkungan homogen yang
berkaitan erat dengan penerapan sains dan teknologi. Dengan demikian, pendidikan sains
bukan hanya memahami konsep-konsep ilmiah dan aplikasinya dalam masyarakat,
melainkan juga untuk mengembangkan berbagai nilai.
Untuk memahami nilai-nilai sains diperlukan penalaran yang logis dan intuisi yang
tajam. Pola pemikiran mulai dari tingkat pemikiran yang sederhana sampai pada tingkat
pemikiran yang kompleks, sedangkan melalui intuisi dalam pembentukan kepribadian, maka
penghayatan internalisasi nilai-nilai pendidikan sains bisa menjadi budaya hidup.
Etika pengembangan keilmuan alam selalu mengacu kepada kaidah moral, yaitu hati
nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma yang bersifat utilitaristik
(kegunaan). Hati nurani disini adalah penghayatan tentang yang baik dan yang buruk yang
dihubungkan dengan periaku manusia. Ilmu pengetahuan diupayakan bagaimana supaya
menjadi berkah dan rahmat bagi kehidupan manusia
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
18
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
Dalam masyarakat yang beragama, ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
nilai-nilai ketuhanan karena sumber yang hakiki adalah dari Tuhan, semua ilmu datang dari
Allah SWT, Sang Maha Pemilik Pengetahuan. Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada
tujuan hakikinya, yaitu memahami realitas alam, dan memahami eksistensi Tuhan (Allah
Swt) dan memahami hakikat penciptaan manusia sebagai khalifah Allah. Manusia adalah
makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk yang
lain, karena manusia diberikan daya berfikir.
Daya fikir inilah yang menjadi sarana utama penemuan teori-teori ilmiah. Dalam
pendidikan sains, setiap orang tentunya memiliki persfektif masing-masing mengenai suatu
teori, sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan dalam menilai suatu kebenaran teori.
Hal ini bukan hal yang perlu diperdebatkan. Meskipun pada hakikatnya, kebenaran suatu
teori sangat penting bagi dapat diterimanya oleh semua orang.
Dalam konteks demikian diperlukan suatu pandangan yang komprehensif tentang
ilmu
dan
teori-teori
kebenaran.
Teori-teori
kebenaran
yaitu
teori
kebenaran
konsistensi/koherensi, teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran pragmatisme dan
teori kebenaran religious. Dengan demikian, para ilmuwan dalam menilai suatu ilmu/teori
harus memiliki pijakan berbagai teori kebenaran, dan juga yang terpenting mampu
menjelaskan atas dasar rasionalitas dan metedologis yang tepat.
Dengan demikian, dengan mempelajari dan memahami berbagai fenomena alam,
meliputi keragaman, keteraturan dan segala keindahannya yang menakjubkan dalam alam
semesta akan melahirkan pengakuan terhadap keagungan Allah SWT dan merasakan
kehadiran Allah SWT tanpa meski memperdebatkan berbagai perbedaan persfektif yang
ada.
Semakin luas wawasan seseorang dan semakin dalam seseorang mempelajari
IPA(sains), maka semakin kecil ia merasa sebagai makhluk hidup dihadapan sang Khaliq
(sang Penciptanya), dan perbedaan/keragaman merupakan karunia dan berkah yang tidak
ternilai dari sedikit kekuasaan dan pengetahuan yang Allah SWT berikan pada hambahamba-Nya.
Alam semesta dengan segala isinya tak akan pernah habis dipikirkan, dan tidak
pernah akan selesai diterangkan. Pengakuan dan perasaan ini pada akhirnya juga akan
mendorong manusia untuk lebih bisa menghargai alam. Sir Isaac Newton, seorang fisikawan
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
19
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
terkemuka abad ke-17, mengibaratkan dirinya sebagai anak kecil yang sedang bermain
kerang di tepi pantai, sedangkan lautan luas yang terbentang di hadapannya ibarat ilmu
pengetahuan (sains) yang tak mengenal batas
Demikian pula Einstein, yang semula eteis, karena menekuni sains akhirnya
mempercayai adanya Tuhan. Ia menyadari bahwa filsafat, sains, seni, agama, dan
sebagainya, masing-masing mendapat tempat dalam kehidupan manusia dan saling terpadu
secara holistik. Semuanya bersifat saling membutuhkan dan saling mengisi, seperti yang
dikatakan Einstein, bahwa “sains tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa sains adalah
lumpuh”.
Pernyataan ini, selaras dengan Filosofis Padi ”padi semakin berisi, maka akan semakin
merunduk”, berarti semakin seseorang memiliki intelektual yang tinggi, maka perilakunya
akan semakin rendah hati dan bijaksana. Maksudnya mampu berfikir dan bertindak ilmiah
dalam memecahkan persoalan-persoalan hidup, terutama juga dalam interaksi dengan
lingkungan alam.
Kesimpulan
1. Berfilsafat berarti selalu berusaha untuk berfikir guna mencapai kebaikan dan
kebenaran, berfikir dalam filsafat bukan sembarang berfikir namun berpikir secara
radikal sampai ke akar-akarnya.
2. Pada awalnya dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi
tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut. Ilmu adalah
pengetahuan tentang sesuatu bidang yang di susun secara bersistem menurut
metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
3. Sejalan dengan perubahan dan perkembangan zaman ilmu mulai terpisah dari
induknya yaitu filsafat. Ilmu mulai berkembang dan mengalami deferensiasi/
pemisahan hingga spesifikasinya semakin terperinci.
4. Persesuaian antara ilmu dan filsafat adalah bahwa keduanya menggunakan
metode berpikir reflektif dalam upaya memahami fakta-fakta dunia dan
kehidupan. Oleh karena itu filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berpikiran
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
20
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
terbuka serta sangat komitmen pada kebenaran, disamping perhatiannya pada
pengetahuan yang terorganisir dan sistematis.
5. Filsafat ilmu (philosophy of science) adalah pemikiran reflektif terhadap persoalan
persoalan mengenai sifat dasar landasan landasan ilmu yang mencakup konsepkonsep pangkal, anggapan-anggapan dasar, asas-asas permulaan, strukturstruktur teoritis, dan ukuran-ukuran kebenaran ilmu.
6. Eksistensi ilmu tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah final, namun perlu
dikritisi, dikaji, bukan untuk melemahkannya tapi untuk memposisikan secara
tepat dalam batas wilayahnya.
7. Filsafat ilmu bisa menjadi pengetahuan bagi kalangan awam untuk memahami
hakikat berbagai ilmu.
8. Dalam upaya kita meningkatkan pendidikan keilmuan di rasakan perlunya
mengembangkan paradigma baru dalam berbagai hal dengan mengembangkan
paradigma epistemologi
pemecahan masalah di
samping penemuan
pengetahuan ilmiah. Demikian juga perlu dipikirkan pengembangan paradigma
lain yang berkaitan dengan peningkatan kegiatan pendidikan dan keilmuan.
-------------------
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
21
Ngir Tjuk Hirwo / B. 2021412 RB. 1009
Magister Teknik Sipil
Fakultas Teknik – Universitas Sangga Buana YPKP Bandung
DAFTAR PUSTAKA
Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu
Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.
Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya
Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca Sarjana UGM
Yogyakarta p.3, 14-16.
Moh. Arif, 2013., “Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam
(Sains)” , IAIN Tulungagung
Adib, Mohammad, 2010., “Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu
Pengetahuan”, Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
AM, Suhar, 2009., “Filsafat Umum; Konsepsi Sejarah dan Aliran”, Jakarta: Gaung Persada
Pers.
Anshari, Endang Saifuddin., 1987., “ Ilmu, Filsafat dan Agama “, Surabaya: PT Bina Ilmu.
Bakhtiar, Amsal., 2010, “ Filsafat Ilmu”, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (Sains)
22
Download