Uploaded by User105952

Biaya Kualitas dan Produktivitas

advertisement
Biaya Kualitas dan Produktivitas: Pengukuran, Pelaporan, dan
Pengendalian
MATA KULIAH : AKUNTANSI MANAJEMEN
DOSEN PENGAJAR : Antonius GS,SE,M.Sc,Ak, CA
OLEH
MUHAMMAD DIMAS LUTHFIANSYAM (C1C115091)
MUHAMMAD HABIBULLAH FAUZI (C1C115092)
MUHAMMAD REZA NURHAFI (C1C115225)
MUHAMMAD RUZAINI (C1C115032)
MUHAMMAD SARIF PADILLAH (C1C115033)
MUHAMMAD WAHYU KURNIAWAN (C1C115099)
KELOMPOK 3
KELAS C
S1 AKUNTANSI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
2017/2018
Pengukuran Biaya Kualitas
Memberi perhatian yang lebih besar pada kualitas dapat meningkatkan profitabilitas.
Peningkatan kualitas dapat meningkatkan profitabilitas melalui dua cara yaitu : meningkatkan
permintaan pelanggan dan mengurangi biaya.
A. Definisi Kualitas
Kualitas adalah ukuran relatif dari kebaikan. Mendefinisikan kualitas sebagai
kebaikan merupakan makna yang sangat umum yang tidak memiliki makna operasional.
Secara operasional, produk dan jasa yang berkualitas adalah yang memenuhi atau
melebihi harapan pelanggan. Akan tetapi, apa yang dimaksud dengan harapan pelanggan
dapat digambarkan melalui atribut-atribut kualitas atau yang sering disebut dimensi
kualitas, yang meliputi delapan dimensi, yaitu:








Kinerja
Estetika
Kemudahan perawatan dan perbaikan
Fitur
Keandalan
Tahan lama
Kualitas kesuaian
Kecocokan penggunaan.
Dengan demikian, perbaikan kualitas berarti perbaikan pada satu atau lebih dari
delapan dimensi tersebut di atas sambil tetap mempertahankan kinerja dimensi lainnya.
Menyediakan produk yang kualitasnya lebih baik daripada pesaing bearti mengungguli
produk pesaing, setidaknya dalam satu dimensi. Sementara itu, kinerja dimensi lainnya
tetap setara.
B. Definisi Biaya Kualitas
Biaya kualitas adalah biaya-biaya yang timbul karena mungkin atau telah terdapat
produk yang kualitasnya buruk. Definisi ini mengimplikasikan bahwa biaya kualitas
berhubungan dengan subkategori dari kegiatan yang terkait dengan kualitas yaitu
kegiatan pengendalian dan kegiatan karena kegagalan. Kegiatan pengendalian dilakukan
oleh suatu perusahaan untuk mencegah atau mendeteksi kualitas yang buruk. Biaya
pengendalian adalah biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan pengendalian.
Kegiatan karena kegagalan dilakukan oleh perusahaan atau pelanggannya untuk
merespon kualitas yang buruk. Biaya kegagalan adalah biaya yang dikeluarkan
perusahaan karena telah terjadi kegagalan dalam kegiatan. Definisi mengenai kegiatan
yang berhubungan dengan kualitas juga menunjukkan empat kategori biaya kualitas:
biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kegagalan internal, dan biaya kegagalan
eksternal.
C. Mengukur Biaya Kualitas
Biaya kualitas bisa juga diklasifikasikan sebagai biaya yang dapat diamati atau
tersembunyi. Biaya kualitas dapat diamati (observable quality costs) adalah biaya-biaya
yang tersedia atau dapat diperoleh dari catatan akuntansi perusahaan. Biaya kualitas yang
tersembunyi (hidden costs) adalah biaya kesempatan atau oportunitas yang terjadi karena
kualitas yang buruk (tidak disajikan dalam catatan akuntansi). Meskipun mengestimasi
biaya kualitas yang tersembunyi sulit dilakukan, ada 3 metode yang disarankan untuk
tujuan tersebut, yaitu metode pengali (multiplier method), metode penelitian pasar
(market research method), dan fungsi kerugian kualitas Taguchi (Taguchi quality loss
function).
1. Metode Pengali mengasumsikan total biaya kegagalan adalah hasil pengalian dari
biaya-biaya kegagalan yang terukur.
Total biaya kegagalan eksternal = k (Biaya kegagalan eksternal yang terukur)
Dimana k adalah efek pengali. Nilai k diperoleh berdasarkan pengalaman.
2. Metode penelitian pasar formal digunakan untuk menilai dampak kualitas yang buruk
terhadap penjualan dan pangsa pasar. Survei pelanggan dan wawancara dengan
anggota tim penjualan perusahaan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik
terhadap besarnya biaya tersembunyi perusahaan. Hasil penelitian pasar dapat
digunakan untuk memproyeksikan hilangnya laba di masa depan akibat kualitas yang
buruk.
3. Fungsi kerugian kualitas Taguchi mengasumsikan setiap penyimpangan dari nilai
target suatu karakteristik kualitas dapat menimbulkan biaya kualitas yang
tersembunyi. Selanjutnya, biaya kualitas yang tersembunyi meningkat secara kuadrat
saat nilai aktual menyimpang dari nilai target. Fungsi kerugian kualitas Taguchi dapat
diperjelas sebagai berikut.
L(y) = k(y – T)2
Dimana:
k = konstanta proporsionalitas yang besarnya bergantung pada struktur biaya
kegagalan eksternal perusahaan
y = nilai aktual dari karakteristik kualitas
T = nilai target dari karakteristik kualitas
L = kerugian kualitas
Untuk menggunakan fungsi kerugian Taguchi, nilai k harus diestimasi. Nilai k
dihitung dengan membagi estimasi biaya pada salah satu batas spesifikasi tertentu
dengan deviasi kuadrat dari batas nilai target.
k = c/d2
dimana:
c
= kerugian pada batas spesifikasi atas atau bawah
d
= jarak batas dari nilai target
Hal ini berarti kita masih harus mengestimasi kerugian akibat deviasi dari nilai target.
Salah satu dari dua metode pertama, metode pengali atau metode penelitian pasar,
dapat digunakan untuk membantu estimasi ini (penilaian pada satu titik waktu
diperlukan). Jika k diketahui, maka biaya kualitas tersembunyi bisa diestimasi untuk
setiap tingkat penyimpangan dari nilai target.
Pelaporan Biaya Kualitas
Sebuah sistem pelaporan biaya kualitas memiliki arti penting bagi perusahaan yang
menaruh perhatian serius terhadap perbaikan dan pengendalian biaya kualitas. Langkah
pertama dan paling sederhana dalam menciptakan sistem semacam itu adalah menilai biaya
kualitas aktual saat ini. Pencatatan biaya aktual secara terperinci berdasarkan kategorinya
dapat memberikan dua masukan pandangan penting. Pertama, catatan tersebut
mengungkapkan besarnya biaya kualitas dalam setiap kategori yang memungkinkan para
manajer menilai dampak keuangannya. Kedua, catatan tersebut menunjukkan distribusi biaya
kualitas menurut kategori yang memungkinkan para manajer menilai kepentingan relative
dari setiap kategori.
A. Laporan Biaya Kualitas
Pentingnya biaya kualitas terhadap segi keungan perusahaan dapat dinilai lebih
mudah dengan menampilkan biaya-biaya kualitas sebagai persentasi dari penjualan aktual.
Tampilan 1 dibawah ini ,sebagai contoh, melaporkan biaya kualitas Ladd Lighting
Corporation yang mencakup hampir 15% dari penjualan untuk tahun fiscal 2008. Mengacu
pada prinsip yang berlaku umum, biaya kualitas sebaiknya kurang dari 2,5%, Ladd
Lighting Corporation memiliki kesempatan yang baik untuk meningkatkan laba dengan
mengurangi biaya kualitas. Akan tetapi, pengurangan biaya ini seharusnya melalui
perbaikan kualitas. Pengurangan biaya kualitas tanpa upaya peningkatan kualitas
merupakan strategi yang dapat mengakibatkan bencana.
Ladd Lighting Corporation
Laporan Biaya Kualitas
untuk Tahun yang Berakhir 31 Maret 2008
Biaya
Kualitas
Biaya Pencegahan :
Pelatihan kualtias
Rekayasa keandalan
Biaya Penilaian :
Pemeriksaan Bahan
Baku
Penerimaan Produk
Penerimaan Proses
Biaya kegagalan
internal :
Sisa Bahan
Pengerjaan Ulang
Biaya kegagalan
eksternal :
Kebutuhan pelanggan
Garansi
Perbaikan
350.00
0
800.00
0
200.00
0
100.00
0
380.00
0
500.00
0
350.00
0
250.00
0
250.00
0
150.00
0
Persentas
e (%)
Dari
penjualan
1.150.000
5,18%
680.000
3,06
850.000
3,82
650.000
2,93
Total biaya kualitas
3.330.000
14,90%
Penjualan aktual
22.200.000
3.330.000/22.200.000 = 15% perbedaan disebabkan oleh
pembulatan
Tampilan 1
Pandangan tambahan mengenai distribusi relative biaya kualitas dapat diperoleh
dengan membuat bagan lingkaran. Tampilan 2 dibawah ini mengilutrasikan bagan tersebut
dengan menggunakan biaya kualitas yang dilaporkan pada Tampilan 1. Para manajer tentu
memiliki tanggung jawab dalam menilai tingkat kualitas optimal dan menetapkan jumlah
relative yang seharusnya dikeluarkan untuk setiap kategori. Ada dua pandangan mengenai
biaya kualitas optimal, yaitu pandangantradisional yang mengacu pada pencapaian
tingkat kualitas yang dapat diterima dan pandangan kontemporer yang dikenal sebagai
pengendalian kualitas total. Setiap pandangan menawarkan kepada para manajer masukan
pandangan tentang bagaimana biaya kualitas sebaiknya dikelola.
Kegagalan Eksternal; 19.5
Pencegahan; 34.5
Kegagalan Internal; 25.6
Penilaian; 20.4
Tampilan 2
B. Fungsi Biaya Kualitas : Pandangan Kualitas yang Dapat Diterima
Pandangan kualitas yang dapat diterima mengasumsikan terdapat perbandingan
terbalik antara biaya pngendalian dan biaya kegagalan. Ketika biaya pengendalian
meningkat, biaya kegagalan seharusnya menurun. Selama penurunan biaya kegagalan
lebih besar daripada kenaikan biaya pengendalian, perusahaan harus terus meningkatkan
usahanya untuk mencegah atau mendeteksi unit-unit yang tidak sesuai. Pada akhirnya,
akan dicapai suatu titik di mana kenaikan tambahan biaya dalam upaya tersebut
menimbulkan biaya yang lebih besar daripada penurunan biaya kegagalan. Titik ini
mewakili tingkat minimum dari total biaya kualitas. Hal ini merupakan perbandingan
optimal antara biaya pengendalian dan biaya kegagalan, serta mendefinisikan apa yang
dikenal sebagai tingkat kualitas yang dapat diterima (acceptable quality level-AQL).
C. Fungsi Biaya Kualitas : Pandangan Cacat-Nol
Sudut pandang AQL didasarkan pada definisi produk cacat tradisional. Dalam
pengertian klasik, sebuah produk dikatakan cacat bila kualitasnya berada di luar batas
toleransi suatu karakteristik kualitas. Menurut pandangan ini, biaya kegagalan timbul
hanya jika produk tidak sesuai dengan spefikasi dan terdapat perbandingan terbalik
optimal antara biaya kegagalan dan biaya pengendalian. Pandangan AQL megizinkan,
bahkan mendukung diproduksinya sejumlah barang cacat tertentu. Model ini digunakan
dalam model pengendalian kualitas hingga akhir 1970-an ketika model AQL ditantang
oleh model model cacat nol (zero-defect model). Intinya, model cacat nol menyatakan
keunggulan biaya akan diperoleh dengan mengurangi unit cacat hingga nol. Perusahaanperusahaan yang menghasilkan semakin sedikit produk cacat akan menjadi lebih
kompetitif relative terhadap perusahaan yang meneruskan penggunaan modeol AQL
tradisional. Pada pertengahan 1980-an, model cacat nol lebih disempurnakan dengan
model kualitas kokoh (robust quality model) yang menentang definisi unit cacat. Menurut
pandangan kokoh ini, kerugian terjadi karena diproduksinya produk yang menyimpang
dari nilai target : semakin jauh penyimpangannya, semakin besar pula nilai kerugiannya.
Selain itu, kerugian juga tetap terjadi meskipun deviasi masih dalam batas toleransi
spesifikasi. Dengan kata lain, penyimpangan dari spefikasi ideal adalah merugikan dan
batas toleransi spefikasi tidak menawarkan manfaat apa pun, bahkan dapat menipu.
D. Sifat Dinamis Biaya Kualitas
Ketika perusahaan menambah biaya pencegahan dan penilaian serta menurunkan
biaya kegagalan, mereka selanjutnya dapat mengurangi biaya pencegahan dan
penilaiannya. Sesuatu yang pada awalnya tampak berbanding terbalik berubah menjadi
pengurangan biaya permanen di semua kategori biaya kualitas.
Strategi untuk menekan biaya kualitas cukup sederhana : (1) lakukan serangan
langsung terhadap biaya kegagalan untuk memaksanya menuju titik nol, (2) lakukan
investasi pada kegiatan pencegahan yang “tepat” untuk menghasilkan perbaikan, (3)
kurangi biaya penilaian sesuai dengan hasil yang dicapai, dan (4) lakukan evaluasi secara
berkelanjutan dan arahkan kembali upaya pencegahan untuk mendapatkan perbaikan lebih
lanjut. Strategi ini didasarkan pada premis berikut :



Setiap kegagalan selalu ada akar penyebabnya.
Penyebab dapat dicegah.
Pencegahan selalu lebih murah.
E. Manajemen Berbasis Kegiatan dan Biaya Kualitas Optimal
Manejemen berbasis kegiatan (activity – based management – ABM) mengklasifikasikan
berbagai kegiatan sebagai bernilai tambah dan tak bernilai tambah, serta hanya
mempertahankan kegiatan – kegiatan yang memberikan nilai tambah. Prinsip ini dapat
diaplikasikan pada kegiatan – kegiatan yang berkaitan dengan kualitas. Kegiatan –
kegiatan kegagalan, penilaian, dan biaya – biaya terkait tidak menghasilkan nilai tambah
dan harus dihilangkan. Kegiatan pencegahan yang dilakukan serta efisien dapat
diklasifikasikan sebagai kegiatan bernilai tambah dan perlu dipertahankan. Meskipun
demikian, pada awalnya, kegiatan pencegahan mungkin tidak dilakukan secara efesien;
pengurangan kegiatan dan pemilihan kegiatan (atau mungkin bahkan pembagian kegiatan)
dapat digunakan untuk mencapai sasaran nilai tambah yang diinginkan.
Setelah berbagai kegiatan untuk setiap kategori diidentifikasi, pendorong timbulnya
penggunaan sumber daya (resource drivers) dapat digunakan untuk memperbaiki
pembagian biaya pada setiap kegiatan. Pendorong (biaya) akar juga dapat diidentifikasi,
khususnhya untuk kegiatan – kegiatan yang gagal, dan berguna untuk membantu para
manajer memahami hal – hal yang menyebabkan biaya kegiatan.
F.
Analisis Tren
Laporan biaya kualitas menunjukkan jumlah dan distribusi biaya kualitas di antara
keempat kategori sehingga menunjukkan peluang untuk perbaikan kualitas. Setelah ukuran
– ukuran peningkatan kualitas ditentukan, hal penting yang harus dilakukan perusahaan
adalah menentukan apakah biaya kualitas telah berkurang sebagaimana yang
direncanakan. Laporan biaya kualitas tidak akan memperlihatkan apakah perbaikan telah
terjadi atau tidak. Akan berguna bagi perusahaan untuk mendapatkan gambaran mengenai
bagaimana keberhasilan program perbaikan kualitas sejak diterapkan. Apakah tren
multiperiode – perubahan keseluruhan dalam biaya kualitas – bergerak ke arah yang tepat?
Apakah peningkatan kualitas yang dihasilkan dari waktu ke waktu cukup signitifikan?
Jawaban atas pertanyaan – pertanyaan tersebut dapat diketahui dengan menggunakan
bagan atau grafik tren yang menggambarkan perubahan biaya kualitas dari waktu ke
waktu. Grafik demikian disebut laporan tren kualitas multiperiode (multiple – periode
quality trend report). Dengan mengggambarkan biaya kualitas sebagai persentase dari
penjualan, keseluruhan tren program kualitas dapat dinilai.
Penggunaan Informasi Biaya Kualitas
Tujuan utama pelaporan biaya kualitas adalah memperbaiki dan mempermudah
perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan manajerial. Sebagai contoh, dalam
memutuskan pengimplementasian program seleksi pemasok guna memperbaiki kualitas
bahan baku, seorang manajer memerlukan penilaian terhadap biaya kualitas saat ini menurut
bagian dan kategori, penilaian tehadap biaya kualitas saat ini menurut jenis dan kategori.
Penggunaan informasi biaya kualitas untuk keputusan – keputusan umplementasi program
kualitas dan untuk mengevaluasi efektifitas program tersebut – setelah diimplementasikan –
hanya merupakan salah satu potensi penggunaan dari sistem biaya kualitas. Penggunaan –
penggunaan penting lainnya juga dapat diidentifikasi.
Skenario A: Penetapan Harga Strategis
Skenario A menguilustrasikan informasi biaya kualitas dan implementasi program
pengendalian kualitas total berguna untuk pengambilan keputusan strategis yang signitifikan.
Skenario tersebut juga menunjukkan bahwa meningkatkan kualitas bukanlah sebuah obat
mujarab. Pengurangan biaya yang ditawakan ternyata tidak mampu menutupi penurunan
harga secara sekaligus. Hasil peningkatan produktivitas yang lain, seperti yang dijanjikan
oleh bagian teknik, akan diperlukan untuk menjamin keberlangsungan hidup jangka panjang
dari lini produk ini.
Skenario B: Analisis Produk Baru
Skenario B mengilustrasikan pentingnya pengklasifikasian lebih lanjut dari biaya
kualitas menurut perilaku. Skenario tersebut juga memperkuat arti penting identifikasi dan
pelaporan biaya kualitas secara terpisah. Produk terbaru dirancang untuk mengurangi biaya
kualitas dan hanya dengan mengetahui teknik penetapan biaya kualitaslah Brittany dan Tara
dapat menemukan kesalahan dalam analisis laba rugi siklus hidup.
Pelaporan biaya kualitas agar dapat digunakan untuk mengambil keputusan hanyalah
salah satu tujuan dari sistem penghitungan biaya kualitas yang baik. Tujuan lainnya adalah
pengendalian biaya kualitas suatu faktor penting untuk membantu mencapai hasil yang
diharapkan.
Produktivitas: Pengukuran dan Pengendalian
Produktivitas berkaitan dengan memproduksi output secara efisien. Secara spesifik,
produktivitas mengacu pada hubungan antara output dan input yang digunakan untuk
memproduksi output. Kombinasi atau bauran dari input yang berbeda-beda biasanya dapat
digunakan untuk memproduksi sutau tingkat output tertentu. Efisiensi produktif total adalah
suatu titik di mana dua kondisi terpenuhi: (1) pada setiap bauran input untuk memproduksi
output tertentu, tidak satu input pun yang digunakan lebih dari yang diperlukan untuk
menghasilkan output, dan (2) atas bauran-bauran yang memnuhi kondisi pertama digerakkan
oleh hubungan teknis sehingga disebut efisiensi teknis. Dengan melihat sebagai input, kondisi
pertama mensyaratkan penghapusan seluruh kegiatan tak bernilai tambah dan pelaksanaan
kegiatan bernilai tambah dengan kuantitas minimal yang diperlukan untuk memproduksi
sejumlah output. Kondisi kedua digerakkan oleh hubungan relatif dari harga input sehingga
disebut efisiensi trade off input. Harga input menetukan proporsi relatif setiap input yang
harus digunakan. Penyimpangan dari proporsi tetap tersebut menciptakan trade off input yang
tidak efisien.
A. Pengukuran Produktivitas Parsial
Pengukuran Produktivitas adalah penilaian kuantitatif atas perubahan produktivitas.
Tujuannya untuk menilai apakah efisiensi produktif telah meningkat atau menurun.
Pengukuran ini dapat berupa aktual memungkinkan manajer untuk menilai, memantau, dan
mengendalikan perubahan atau prospektif melihat ke masa depan, dan berguna sebagai input
bagi pengambilan keputusan strategis. Secara khusus, pengukuran prospektif memungkinkan
para manajer untuk membandingkan manfaat relatif dari berbagai kombinasi input, pemilihan
input, dan bauran input yang memberikan manfaat terbesar.
Definisi Pengukuran Produktivitas Parsial Produktivitas dari satu input tunggal biasanya
diukur dengan menghitung rasio output terhadap input.
Rasio produktivitas = Output/Input
Karena hanya produktivitas dari satu input yang sedang diukur, ukuran tersebut
disebut pengukuran produktivitas parsial. Jika output dan input diukur dalam kuantitas fisik,
maka kita memperoleh ukuran produktivitas operasional. Jika output dan input dinyatakan
dalam dolar, maka kita memperoleh ukuran produktivitas keuangan.
Ukuran-Ukuran Parsial dan Pengukuran Perubahan Efisiensi Produktif Rasio
produktivitas tenaga kerja sebesar tiga mesin per jam adalah ukuran produktivitas Ladd
Lighting pada tahun 2007. Rasio tersebut menunjukkan sedikit informasi mengenain efisiensi
produktif atau apakah produktivitas perusahaan telah meningkat atau menurun. Namun,
laporan mengenai peningkatan atau penurunan efisiensi produktivitas juga dapat dibuat
melalui pengukuran perubahan dalam produktivitas. Untuk mengukur perubahan dalam
produktivitas, ukuran produktivitas yang aktual berjalan dibandingkan dengan ukuran
produktivitas periode sebelumnya.
Keunggulan Ukuran Parsial Ukuran parsial memungkinkan manajer untuk memfokuskan
perhatiannya pada penggunaan input tertentu. Penggunaan ukuran parsial memiliki
keunggulan, yaitu mudah diinterpresentasikan oleh semua pihak di dalam perusahaan
sehingga ukuran tersebut mudah digunakan untuk menilai kinerja produktivitas dari
karyawan operasional.
Kelemahan Ukuran Parsial Ukuran parsial yang digunakan terpisah dapat menyesatkan
penurunan produktivitas suatu input mungkin diperlukan untuk meningkatkan produktivitas
yang lainnya. Trade off seperti itu diperlukan jika biaya secara keseluruhan turun, tetapi
pengaruh tersebut akan hilang jika digunakan ukuran parsial masing-masing.
B. Pengukuran Produktivitas Total
Pengukuran produktivitas dari seluruh input disebut pengukuran produktivitas total.
Dalam istilah praktis, pengukuran produktivitas total dapat didefinisikan sebagai pemfokusan
perhatian pada beberapa input yang menunjukkan keberhasilan perusahaan secara total.
Pengukuran Profil Produktivitas pembuatan sebuah produk melibatkan beberapa input
utama, seperti tenaga kerja, bahan, modal, dan energi. Pegukuran profil menyediakan
serangkaian atau sebuah vektor ukuran operasional parsial yang berbeda dan terpisah. Profil
dapat dibandingkan dari waktu ke waktu untuk memberikan informasi mengenai perubahan
produktivitas.
Pengukuran Produktivitas yang Berkaitan dengan Laba Menilai pengaruh perubahan
produktivitas terhadap laba berjalan merupakan salah satu cara menilai perubahan
produktivitas. Laba perubahan dari periode dasar ke periode berjalan.
Sebagian perubahan laba tersebut laba tersebut disebabkan oleh perubahab oleh
perubahan produktivitas. Pengukuran jumlah perubahan laba yang diakibatkan oleh
perubahan produktivitas disebut pengukuran produktivitas yang berkaitan dengan laba.
Dengan menilai pengaruh perubahan produktivitas terhadap laba periode berjalan,
manajer akan terbantu dalam mengetahui manfaat ekonomis dari perubahan produktivitas.
Keterkaitan perubahan produktivitas dengan laba dijelaskan oleh aturan bberikut.
Aturan Keterkaitan dengan laba (Profit-Linkage Rule): untuk periode berjalan,
hitunglah biaya input yang seharusnya digunakan dalam keadaan tanpa adanya perubahan
produktivtas dan bandingkan biaya tersebut dengan biaya input aktual yang digunakan.
Selisih biayanya adalah sejumlah perubahan laba yang disebabkan oleh perubahan
produktivitas.
Untuk mengaplikasiakan aturan ini, input yang seharusnya digunakan selama periode
berjalan dalam keadaan tanpa perubahan produktivitas harus dihitung terlebih dahulu.
Misalkan, PQ adalah jumlah input tanpa perubahan produktivitas. Untuk mengetahui PQ
pada suatu input tertentu, bagilah output periode berjalan dengan rasio produktivitas input
periode dasar.
PQ = Output periode berjalan/Rasio produktivitas periode dasar
Untuk ilustrasi bisa dilihat pada buku halaman 286
C. Komponen Pemulihan Harga
Ukuran terkait dengan laba menghitung jumlah perubahan laba dari periode dasar ke
periode berjalan sebagai akibat perubahan produktivitas. Jumlah tersebut umuimnya tidak
akan sama dengan total perubahan laba antara dua periode. Selisih antara perubahan laba total
dan perubahan produktivitas terkait dengan laba disebut komponen pemulihan harga.
Komponen ini adalah perubahan pendapatan dikurangi perubahan biaya input dengan asumsi
tidak ada perubahan produktivitas. Oleh karena itu, komponen pemulihan harga mengukur
kemampuan perubahan pendapatan untuk menutupi perubahan biaya input dengan asumsi
tidak ada perubahan produktivitas.
Untuk menghitung komponen pemuliahn harga, pertama kita perlu menghitung
perubahan laba setiap periode
2008
2007
Selisih
Pendapatana
$7.200.000
$6.000.000
$1.200.000
Biaya inputb
$5.550.000
$2.840.000
$2.710.000
Laba
$1.650.000
$3.160.000
$(1.510.000)
a
$48 x 150.000: $50 x 120.000
b
($12 x 37.500) + ($3 x 1.700.000); ($11 x 40.000) + ($2 x 1.200.000)
Pemulihan harga
= perubahan laba – perubahan produktivitas terkait dengan laba
= ($1.510.000) – ($450.000)
= ($1.060.000)
Kenaikan pendapatan tidak akan cukup untuk menutupi kenaikan biaya input.
Penurunan produktivitas hanya akan memperburuk masalah pemulihan harga. Meskipun
demikian, perhatikan bahwa kenaikan produktivitas dapat digunakan untuk mengimbangi
kerugian pemulihan harga.
D. Kualitas dan Produktivitas
Peningkatan kualitas dapat meningkatkan produktivitas dan juga sebaliknya, sebagai
contoh, jika pengerjaan ulang berkurang karena menurunnya unit produk cacat, maka lebih
sedikit tenaga kerja dan bahan yang digunakan untuk menghasilkan output yang sama.
Penurunan jumlah unit cacat memperbaiki kualitasnya, sedangkan pengurangan jumlah input
yang digunakan meningkatkan produktivitasnya.
Karena sebagian besar peningkatan kualitas mengurangi jumlah sumber daya yang
digunakan untuk memproduksi dan menjual output perusahaan, peningkatan kualitas akan
meningkatkan produktivitas. Jadi, peningkatan kualitas secara umum akan tercermin pada
ukuran-ukuran produktivitas. Namun, ada juga cara-cara lain untuk meningkatkan
produktivitas. Sebuah perusahaan mungkin saja memproduksi barang dengan sedikit atau
tanpa cacat, tetapi masih menjalankan proses yang tidak efisien.
E. Insentif Pembagian Keuntungan
Adalah pemberian insentif uang tunai bagi seluruh tenaga kerja perusahaan yang
menjadi kunci pencapaian kualitas dan produktivitas. Sebagai contoh, suatu perusahaan
memiliki target untuk mengurangi jumlah unit cacat hingga 10% selama kuartal brikutnya
pada pabrik tertentu. Jika tujuan tersebut tercapai, perusahaan memperkirakan akan terjadi
penghematan sebesar $1.000.000 (dengan menghindari hal-hal seperti pengerjaan ulang dan
perbaikan dimasa garansi). Pembagian keuntungan memberikan insentif dengan menawarkan
bonus pada pegawai sesuai dengan persentase penghematan biaya, misalnya 20%.
Download