Uploaded by User102715

2bpeksos 1804289 faridbudimansyah PROPOSAL BANGSAT

advertisement
PERAN PEKERJAAN SOSIAL DALAM PEMBENTUKAN
RESILIENSI ANAK TERLANTAR
Disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Metode Penelitian
DOSEN :
Drs. Edi Suhanda, M.Si
DISUSUN OLEH :
Farid Budimansyah
18.04.289
PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA TERAPAN PEKERJAAN SOSIAL
POLITEKNIK KESEJAHTERAAN SOSIAL
BANDUNG
2020
I
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta
sholawat dan salam kepada nabi Muhammad SAW, sehingga saya dapat menyelesaikan
proposal penelitian ini.
Proposal Penelitian ini membahas tentang Peran Pekerjaan Sosial dalam Pembentukan
Resiliensi Anak Terlantar
Penyusunan proposal penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih
luas tentang peran pekerja sosial dalam mengembangkan resliensi pada anak terlantar.
Saya menyadari proposal penelitian ini masih terdapat kekurangan, oleh sebab itu kami
menerima kritik dan saran demi perbaikan dimasa yang akan datang. Semoga makalah
ini bermanfaat.
Tasikmalaya, Mei 2020
II
DAFTAR ISI
BAB I 1
A.
Latar Belakang .............................................................................................................................. 1
B.
Rumusan masalah ....................................................................................................................... 2
C.
Tujuan Penelitian ......................................................................................................................... 2
D.
Manfaat Penelitian ....................................................................................................................... 2
1. Manfaat Teoritik ........................................................................................................................ 2
2. Manfaat Praktis ......................................................................................................................... 2
a. Bagi Anak Terlantar ............................................................................................................. 2
b. Bagi Penelti ............................................................................................................................ 2
c. Bagi Pemerintah dan Lmebaga Swasta yang menangani masalah anak terlantar
3
BAB II .......................................................................................................................................................... 4
TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................................................... 4
1. Resiliensi .................................................................................................................................... 4
2. Anak Terlantar........................................................................................................................... 5
3. Peran Pekerja Sosial ............................................................................................................... 6
BAB III ......................................................................................................................................................... 9
A.
Desain Penelitian ......................................................................................................................... 9
B.
SUMBER DATA, POPULASI DAN SAMPEL ........................................................................... 9
C.
DEFINISI OPERASIONAL ......................................................................................................... 10
D.
TEKNIK PENGUMPULAN DATA ............................................................................................. 11
E.
VALIDITAS DAN REABILITAS ALAT UKUR ........................................................................ 11
F.
TEKNIK ANALISIS DATA ......................................................................................................... 12
G.
JADWAL DAN LANGKAH ....................................................................................................... 13
Daftar Pustaka...........................................................................................................................14
III
II
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak terlantar adalah seorang anak berusia 6 (enam) tahun sampai 18 (delapan belas)
tahun, meliputi anak yang mengalami perlakuan salah dan diterntarkan oleh orang tua dan
keluarga atau anak kehilangan hak asuh dari orang tua atau keluarga. Dalam perkembanganya
anak terlantar berada dalam fase anak- anak dan remaja. Dalam perkembanganya fase remaja
merupakan suatu periode kehidupan yang ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, social, dan
emosial yang terjadi secara cepat. Maka perlu adanya optimalisasi dalam perkembangan anak
terlantar karena permasalahanya merupakan hal yang krusial dan perlu penanganan secara
tepat agar seyogyanya anak terlantar pun dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia
yang berkualitas terutama dari segi regulasi emosi
Fenomena yang perlu mendapatkan perhatian saat ini adalah maraknya anak-anak
terlantar. Perkembangan anak terlantar ini tidak terlepas dari kurangnya peran keluarga dalam
membentuk karakter diri anak sehingga mendorong meningkatnya angka anak putus sekolah
dan anak terlantar. Pada umumnya anak terlantar mengalami masalah yang komplesk seperti
kesulitan ekonomi, kurangnya peran keluarga (kehilangan hak asuh), menderita gizi buruk, dan
tidak bisa mendapat layanan pendidikan secara maksimal
Dinas sosial kota Tasikmalaya mencatat jumlah anak terlantar pada tahun 2020 bulan
februri mencatat ada 26 orang anak terlantar. Berdasarkan data ini kuantitas anak terlantar
cukup meningkat dibandingkan pada tahun 2019 yang hanya berjumlah 12 orang. Menurut
departemen sosial RI (2006:1), keterlantaran pada anak secara garis besar disebabkan oleh
dua factor yakni (1) faktor ketidaksengajaan atau dengan kata lain karena kondisi yang tidak
memungkinkan dari orang tua atau keluarga untuk memenuhi kebutuhan anaknya, (2) faktor
kesengajaan untuk menelangtarkan anaknya karena rendahnya tanggung jawab sebagai orang
tua atau keluarga terhadap anaknya.
Permasalahan anak terlantar menjadi salah satu permasalahan krusial baik dilihat dari
komplesksitas masalah maupun kuantitas dari anak terlantar yang semakin meningkat.
Beberapa dampak dari permasalahan keterlataran pada anak salah satunya berkaitan dengan
rendahnya pengelolaan emosi anak sehingga seringkali anak tidak mampu bertahan dalam
1
situasi sulit. Maka kompleksitas permasalahan yang terjadi terhadap anak terlantar mendorong
peneliti untuk mengetahui bagaimana tingkatan resiliensi atau kemampuan beradaptasi dan
tetap teguh dalam situasi sulit. Hal ini merupakan permasalahan yang perlu mendapatkan
perhatian seriu dalam maslaah kesejahteraan sosial khususnya peran pekerj sosial.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan batasan masalah, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana peran pekerja sosial dalam membentuk resiliensi anak terlantar ?
2. Bagaimana tingkatan resiliensi anak terlantar ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi peran pekerja
sosial dalam perkembangan resiliensi atau ketahanan dalam situasi sulit pada anak
terlantar.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kajian ilmu dalam pekerja sosial
terutama dalam hal perkembangan anak terlantar khususnya perkembangan resiliensi
dalam aspek emosi sehingga peran pekerja sosial mampu berkembang secara optimal.
Dengan bertambahnya kajian ilmu ini seyogyanya akan dapat dikembangkan untuk
penelitian-penelitian lanjutan dalam topik yang sama mamupun berbeda.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Anak Terlantar
Dapat mengetahui tingkatan perkembangan pada aspek emosi khususnya resiliensi
(ketahanan diri pada situasi tersulit), dan digunakan sebagai acuan dalam
menghadaoi problema kehidupan anak terlantar.
b. Bagi Penelti
1) Peneliti dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang
penelitian.
2) Lebih memahami dan mampu menerapkan peran pekerja sosial terhadap
optimalisasi anak terlantar khususnya pada perkembangan aspek emosi.
2
c. Bagi Pemerintah dan Lmebaga Swasta yang menangani masalah anak terlantar
1) Dapat menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan terhadap anak terlantar.
2) Dapat menjadi masukan dalam mengembangkan usaha pemberdayaan anak
terlantar khususnya pada aspek terhadap emosi secara efektif dan efisien.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Resiliensi
Menurut Rutter (1987) (dalam Grotberg, 2004) berpendapat bahwa resiliensi
merupakan hasil dari kesuksesan dalam mengahadapi masalah daripada menghindar
terhadap masalah. Sehingga individu yang memiliki resiliensi dipastikan akan selalu
berani menghadapi dan menyelesaikan masalah yang sedang ada di hadapannya tanpa
harus menghindar.
Menurut Reivich. K dan Shatte. A yang dijelaskan dalam bukunya “The Resiliency
Factor” menjelaskan resiliensi ialah kemampuan untuk beradapatasi dan mengatasi
terhadap suatu kejadian dan situasi yang berat atau masalah yang terjadi dalam sebuah
kehidupan.
Menurut Grotberg (1999) (dalam Nisa, 2016) resiliensi adalah kemampuan manusia
untuk menghadapi, mengatasi, dan menjadi kuat atas kesulitan dan permasalahan yang
dihadapinya. Grotberg mengatakan bahwa resiliensi bukanlah hal magic dan bisa dimiliki
oleh semua manusia tanpa terkecuali dan bukan pemberian dari sumber yang tidak
diketahui.
Dapat diambil kesimpulan bahwa resliensi adalah kemampuan individu dalam
menghadapi dan mengatasi masalah dengan tidak mudah putus asa, sehingga dapat
bertahan dalam situasi yang membuat tertekan, dan mencoba bangkit untuk menjadi
lebih baik.
Fungsi resiliensi menurut Reivich & Shatte (2002) yaitu sebagai berikut :
a. Overcoming : kemampuan menyikapi permasalahan dengan cara menganalisa
situasi yang ada dan mengubah sudut pandang yang lebih positif dan belajar untuk
meningkatkan kemampuan mengontrol kehidupan diri kita sendiri
b. Steering through : Esensi dari steering through dalam stres kronis adalah self –
efficacy yang berarti keyakinan terhadap diri sendiri bahwa kita dapat menguasai
lingkungan kita dengan baik dan memecahkan berbaga permasalahan yang
muncul.
c. Bouncing back : Terdapat tiga karakteristik orang resiliensi dalam menyembuhkan
diri dari traumatik atau yang lain, yaitu individu menunjukkan task oriented coping
style dimana individu melakukan segala hal yang dapat mengatasi permasalahan
4
dan derita mereka, individu yakin bahwa ia dapat mengendalikan hidup mereka,
dan mampu kembali ke kehidupan normal mereka semula.
d. Reaching out : Resiliensi tidak hanya berguna dalam mengatasi permasalahan,
stres, atau traumatik yang mereka rasakan. Akan tetapi hal positif lainnya yaitu,
orang yang resliensi akan mendapatkan pengalaman hidup yang lebih banyak dan
lebih bermakna dalam hidup.
Reivich dan Shatte dalam (Reivich & Shatte, 2003) menjelaskan terdapat tujuh
aspek yang membangun resiliensi dalam individu. Aspek – aspek tersebut yaitu :
a. Emotion Regulation : Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di
bawah kondisi yang menekan.
b.
Impulse control : kemampuan individu dalam mengendalaikan keinginan,
kesukaan, ataupun tekanan yang timbul dari dalam diri individu
c. Optimisme : sikap ketika individu melihat masa depannya cemerlang.
d. Causal analysis : megarah pada kemampuan individu dalam mengidentifikasi apa
saja penyebab atau faktor dari permaslaah yang sedang kita hadapi secara akurat
dan benar.
e. Empati : sangat erat kaitannya dengan kemampuan individu untuk membaca tanda
– tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain.
f.
Self – efficacy adalah hasil dari pengentasan masalah yang berhasil.
g. Reaching Out : kemampuan individu dalam memetik hal positif dari kehidupan
dimana ia telah mengalami keterpurukan dalam hidupnya.
2. Anak Terlantar
Anak terlantar adalah seorang anak berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18
(delapan belas) tahun, meliputi anak yang mengalami perlakuan salah dan ditelantarkan
oleh orang tua / keluarga atau anak kehilangan hak asuh dari orang tua/keluarga, dengan
kriteria : a. berasal dari keluarga fakir miskin; b. anak yang dilalaikan oleh orang tuanya;
dan c. anak yang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya (Peraturan Menteri Sosial RI
Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan Dan Pengelolaan Data Penyandang
Masalah Kesejahteraan Sosial Dan Potensi Dan Sumber Kesejahteraan Sosial).
Kementerian Sosial RI mendefinisikan anak terlantar adalah anak yang berusia 5 – 18
tahun yang karena sebab tertentu (karena beberapa kemungkinan : miskin/tidak mampu,
5
salah seorang dari orang tuanya/wali pengampu sakit, salah seorang/kedua orang
tuanya/wali 30 pengampu atau pengasuh meninggal, keluarga tidak harmonis, tidak ada
pengampu atau pengasuh), sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan
wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial. Anak Terlantar adalah anak karena
suatu sebab orang tuanya melalaikan kewajibannya sehingga kebutuhan anak tidak
dapat terpenuhi dengan wajar baik secara rohani, jasmani dan sosial serta anak yang
tinggal dalam keluarga miskin usia sampai dengan 18 tahun. Seorang anak dikatakan
terlantar, bukan sekedar karena ia sudah tidak lagi memiliki salah satu orang tua atau
kedua orang tuanya. Terlantar dalam pengertian ketika hak-hak anak untuk tumbuh
kembang secara wajar, untuk memperoleh pendidikan yang layak, dan untuk
memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, tidak terpenuhi karena kelalaian,
ketidakmengertian orang tua, ketidakmampuan atau kesengajaan (Suyanto, 2013)
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya anak terlantar yaitu :
1. Anak terlantar disebabkan sebagian besar karena orang tuanya berasal dari kelas
ekonomi rendah.
2. Anak terlantar disebabkan karena hanya memiliki salah satu orang tua terutama
apabila dikepalai seorang ibu yang tidak memiliki pekerjaan.
3. Orang tua yang menelantarkan anak disebabkan mempunyai intelektual di bawah
normal, akan mengurangi kemampuan dalam memenuhi kebutuhan anak sehingga
tidak dapat melaksanakan fungsinya sebagai pengasuh.
4. Ibu yang mempunyai intelektual dibawah normal, akan mengurangi kemampuan
dalam memenuhi kebutuhan anak, sehingga anak menjadi tidak terurus.
5. Kelalaian dari orang tua dalam memperhatikan anaknya, orang tua mengalami
gangguan secara fisik, kestabilan emosi yang menurun karena lelah, memiliki
masalah kesehatan secara medis, secara sosial terisolasi, frustasi, bert apatis dan
putus asa, sehingga mengalami kesulitan mengurus anak.
6. Orang tua yang menelantarkan anak mempunyai pengalaman emosional yang tidak
menyenangkan pada anak-anaknya.
3. Peran Pekerja Sosial
Definisi peran menurut kamus bahasa Indonesia yang diberikan oleh dinas pendidikan
dan kebudayaan (1997) adalah seperangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang
yang memiliki kedudukan di masyarakat sedangkan menurut Soerdjono Soekanto (1990)
6
dalam (Setiawan & Sunusi, 2015) mendefinisikan peran sebagai: suatu konsep perihal
apa-apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai suatu organisasi
peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang
dalam masyarakat
Fungsi Pekerja Sosial menurut Heru Sukoco (1995:22-27) menjelaskan fungsi dan
peran pekerjaan sosial sebagai berikut :
a. Membantu orang meningkatkan dan menggunakan kemampuanya secara efektif
untuk melakukan tugas-tugas kehidupan dan memecahkan masalah-masalah
sosial yang mereka alami
b. Mengkaitkan orang dengan sistem-sistem sumber
c. Memberikan fasilitas interaksi dengan sistem-sistem sumber
d. Mempengaruhi kebijakan sosial
e. Memeratakan atau menyalurkan sumber-sumber material
Peran Pekerjaan Sosial yaitu
a. Sebagai pemercepat perubahan atau enabler
Sebagai enabler, seorang pekerja sosial membantu individu-individu,
kelompok-kelompok dan masyarakat dalam mengakses sistem sumber yang ada,
mengidentifikasi masalah dan mengembangkan kapasitasnya agar dapat
mengatasi masalah untuk pemenuhan kebutuhanya
b. Sebagai perantara (broker)
Peran
sebagai
perantara
yaitu
menghubungkan
individu-individu,
kelompok-kelompok dan masyarakat dengan Lembaga pemberi pelayanan
masyarakat dalam hal ini ; Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, serta
Pemerintah, agar dapat memberikan pelayanan kepada individu-individu,
kelompok-kelompok dan masyarakat yang membutuhkan bantuan atau layanan
masyarakat.
c.
Pendidik (educator)
Dalam
menjalankan
peran
seabgai
pendidik,
community
worker
diharapkan mempunyai kemampuan menyampaikan informasi dengan baik dan
benar serta mudah diterima oleh individu-individu, kelompok-kelompok yang
menjadi sasaran perubahan.
d. Tenaga Ahli (expert)
7
Dalam kaitannya sebagai tenaga ahli, pekerja sosial dapat memberikan
masukan, saran, dan dukungan infirmasi dalam berbagai area (individu-individu,
kelompok-kelompok, dan masyarakat).
e.
Perencana Sosial (social planner)
Seorang perencana sosial mengumpulkan data mengenai masalah sosial
yang
dihadapi
individu-individu,
kelompok-kelompok,
dan
masyarakat,
menganalisa dan menyajikan alternative tindakan yang rasional dalam mengakses
sistem sumber yang ada unuk mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan
individu-individu, kelompok-kelompok, dan masyarakat.
f.
Fasilitator
Pekerja sosial sebagai fasilitaor berkaitan dengan menstimulasi atau
mendukung
pengembangan
masayarakat.
Peran
ini
dilakukan
untuk
mempermudah proses perubahan individu-individu, kelompok-kelompok, dan
masyarakat, Menjadi katalis untuk bertindak dan menolong sepanjang proses
pengembangan dengan menyediakan waktu, pemikiran dan sarana-sarana yang
dibutuhkan dalam proses tersebut.
8
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pemilihan pendekatan kuantitatif
dilakukan karena dalam penelitian in terdiri dari dua varibael yang saling berhubungan untuk
mengemukakan bagaimana peran pekerja sosial dalam membentuk resiliensi terhadap anak
terlantar, hal ini sejalan dengan pendapat Creswell (2014) yang menyatakan bahwa penelitian
kuantitatif adalah penedekatan untuk menguji teori objektif dengan memeriksa hubungan
antar variabel yang dapat diukur dan berbentuk angka yang diolah dengan prosedur statistik.
(alasan)
Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional, hal ini sesuai dengan tujuan dari
penelitian, yaitu untuk mengetahui hubungan 2 variabel yakni peran pekerja sosial dalam
membentuk resiliensi terhadap anak terlantar . Sedangkan desain penelitian yang akan
digunakan dalam penelitian adalah desain logitudinal, karena pengumpulan data dari setiap
variabel dilakukan secara bertahap sehingga memenuhi kebutuhan peneliti.
B. SUMBER DATA, POPULASI DAN SAMPEL
1. Sumber Data
Adapun data yang diperlukan dalam penyusunan penelitian ini adalah
a. Data Primer
Data primer merupakan datayang didapat dari sumber pertama baik individu atau
perorangan seperti hasil wawancara atau hasil pengisia kuesioner yang bisa
dilakukan oleh peneliti (Husain Umar, 2000). Data primer yang digunakan dalam
penelitian ini didapat melalui hasil wawancara dengan subjek penelitian serta
menggunakan angket untuk mengetahui seberapa efektif kah peran pekerja sosial.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan
baik oleh pengumpul data primer oleh pihak lain misalnya dalam bentuk tabel-tabel
atau diagram-diagram (Husain Umar, 2000). Adapun data sekunder yang digunakan
dalam penelitian ini adalah buku-buku ilmiah dan referensi lain berkaitan dengan
judul penelitian seperti jurnal dan artikel ilmiah.
9
2. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh anak terlantar yang berada di Kota
Tasikmalaya, data diambil berdasarkan pendataan oleh dinas sosial. Dengan jumlah
populasi berdasarkan pendataan pada bulan februari sejumlah 26 orang
3. Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yakni berdasarkan cakupan wilayah
kecamatan di kota Tasikmalaya. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian
ini menggunakan pendekatan probability dengan teknik cluster random sampling, Cara
pengambilan sampel dilakukan seperti simple random sampling, namun dilakukan pada
sebuah kelompok-kelompok individu dalam tiap-tiap daerah yang berbeda.
C. DEFINISI OPERASIONAL
a.
Peran Pekerja Sosial
Definisi peran menurut kamus bahasa Indonesia yang diberikan oleh dinas
pendidikan dan kebudayaan (1997) adalah seperangkat tingkah yang diharapkan
dimiliki oleh orang yang memiliki kedudukan di masyarakat sedangkan menurut
Soerdjono Soekanto (1990) mendefinisikan peran sebagai: suatu konsep perihal apaapa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai suatu organisasi
peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat
seseorang dalam masyarakat
b.
Resiliensi
Menurut Rutter (1987) (dalam Clarissa, 2012 ; 34) berpendapat bahwa resiliensi
merupakan hasil dari kesuksesan dalam mengahadapi masalah daripada
menghindar terhadap masalah. Sehingga individu yang memiliki resiliensi dipastikan
akan selalu berani menghadapi dan menyelesaikan masalah yang sedang ada di
hadapannya tanpa harus menghindar.
c.
Anak Terlantar
Anak Terlantar adalah anak karena suatu sebab orang tuanya melalaikan
kewajibannya sehingga kebutuhan anak tidak dapat terpenuhi dengan wajar baik
secara rohani, jasmani dan sosial serta anak yang tinggal dalam keluarga miskin usia
sampai dengan 18 tahun. Seorang anak dikatakan terlantar, bukan sekedar karena
ia sudah tidak lagi memiliki salah satu orang tua atau kedua orang tuanya. Terlantar
dalam pengertian ketika hak-hak anak untuk tumbuh kembang secara wajar, untuk
10
memperoleh pendidikan yang layak, dan untuk memperoleh pelayanan kesehatan
yang memadai, tidak terpenuhi karena kelalaian, ketidakmengertian orang tua,
ketidakmampuan atau kesengajaan (Suyanto, 2013 : 227).
D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, angket
dan observasi. Kemudian angket yang digunakan adalah untuk mengukur sejauh mana
subjek penelitian mengetahui aspek mengenai peran pekerja sosial. Sedangkan dalam jenis
observasi yang dilakukan adalah proses mengamati kegiatan yang dilakukan oleh subjek
penelitian
E. VALIDITAS DAN REABILITAS ALAT UKUR
a. Validitas
Validitas menurut Sugiyono (2016:177) menunjukan derajat ketepatan antara data yang
sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dikumpulkan oleh peneliti untuk
mencari validitas sebuah item, kita mengkorelasikan skor item dengan total item-item
tersebut. Validitas digunakan untu mengukur item dalam angket yang digunakan dalam
penelitian mengenai peran pekerja sosial dalam pembentukkan resiliensi anak terantar
Jika koefisien antara item dengan total item sama atau diatas 0,3 maka item tersebut
dinyatakan valid, tetapi jika nilai korelasinya dibawah 0,3 maka item terebut dinyatakan
tidak valid. Untuk mencari nilai koefisien, maka peneliti menggunakan rumus pearson
product moment sebagai berikut : 3.5.2 Keterangan : r = Korelasi product moment ∑Xi =
Jumlah skor suatu item ∑Xtot = Jumlah total skor jawaban ∑xi² = Jumlah kuadrat skor
jawaban suatu item ∑xtot² = Jumlah kuadrat total skor jawaban ∑XiXtot= Jumlah
perkalian skor jawaban suatu item dengan total skor Syarat minimum untuk dianggap
suatu butir instrument valid adalah nilai indeks valid adalah nilai indeks validitasnya ≥ 0,3
(Sugiyono, 2016 : 179). Oleh karena itu, semua pernyataan yang memiliki tingkat korelasi
dibawah 0,3 harus diperbaiki karena dianggap tidak valid. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas
adalah sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan objek yang sama akan
menghasilkan data yang sama ( Sugiyono, 2012 : 177).
11
b. Realibitas
Uji reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan objek
yang sama akan me nghasilkan data yang sama ( Sugiyono, 2012 : 177). Uji realianilitas
kuesioner dalam penelitian digunakan metode split half item tersebut dibagi menjadi dua
kelompok yaitu kelimpok item ganjil dan kelompok item genap. Kemudian masing-masing
kelompok skor tiap itemnya dijumlahkan sehinga menghasilkan skor total. Apabila
korelasi 0,7 maka dikatakan item tersebut memberikan tingkat reliabel yang cukup,
sebaliknya apabila nilai korelasi dibawah 0,7 maka dikatakan item tersebut kurang
reliabel.
F. TEKNIK ANALISIS DATA
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa korelasi
untuk mengetahui derajat (tingkat keeratan) hubungan linear antara variabel peran pekerja
sosial dengan pembentukkan resileinsi pada anak terlantar. Perhitngan penelitian
menggunakan bantuan proshram statistik komputer, analisis data menggunakan SPSS
dengan menggunakan Pearson’s Product Moment. Sedangkan untuk menguji realibitas pada
12
penelitian ini menggunakan Alpha Cronbach. Pengujian normalitas pada penelitian ini
menggunakan Kolmogorov-Smrinov, untuk uji linearitas digunakan ANOVA table of linearity
G. JADWAL DAN LANGKAH
No
Nama Kegiatan
1
Penyusunan Proposal
2
Seminar Proposal
3
Revisi Proposal
4
5
Feb April Mei
Acc dewan skripsi dan penetapan dosen
pembimbing skripsi
Pengajuan permohonan pembimbing
skripsi tingkat fakultas
6
Penyusunan BAB I
7
Penyusunan BAB II
8
Penyusunan BAB III
9
Pengambilan data di Tasikmalaya
10
Penyusunan BAB IV
11
Penyusunan BAB V
12
Acc dosen pembimbing
13
Ujian sidang
14
Revisi
15
Wisuda
13
Juli
Aguutus Oktober
DAFTAR PUSTAKA
Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods
Approaches, 4 Edition. London: SAGE.
Grotberg, H. (2004). Children and Cregivers; the role of resilience. Journal of International Council
of Psyuchological (ICP), Convention China.
Nisa, M. K. (2016). STUDI TENTANG DAYA TANGGUH ( RESILIENSI ) ANAK DI PANTI
ASUHAN
SIDOARJO
A
STUDY
OF
CHILDREN
RESILIENCE
IN
SIDOARJO
ORPHANAGES Maulida Khoirun Nisa. Skripsi, resiliensi.
Reivich, K., & Shatte, A. (2003). The Resilience Factors : 7 keys to finding your inner, strength,
and overcoming life's hurdles . Amerika: Broadway Books.
Sukoco, D. H. (1992). Profesi Pekerjaan sosial. Bandung: Koperasi mahasiswa STKS Bandung.
Suyanto, B. (2013). Masalah Sosial Anak. Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri.
Setiawan, H. H., & Sunusi, M. (2015). Analisis Yuridis Peran Profesi Pekerja Sosial Dalam
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012. Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas
Gadjah Mada, 27(2), 256. https://doi.org/10.22146/jmh.15887
Umar, H. (2000). Metodologi Penelitian Untuk Skripsi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
14
Download