Uploaded by User101559

bul hsl kjn

advertisement
BULETIN
HASIL KAJIAN
Volume 1 Nomor 01, Tahun 2011
Penanggung Jawab
Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Tim Penyunting
Nana Sutrisna
Karsidi Permadi
Agus Nurawan
Iskandar Ishaq
Hendi Supriyadi
Dian Histifarina
Ikin Sadikin
Penyunting Pelaksana
Nadimin
Bambang Unggul PS
Dian Firdaus
Saefudin
Penerbit
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Alamat Redaksi
Jalan Kayuambon No. 80, Lembang
Bandung Barat 40391
Telepon
: 022-2786238
Faksimile : 022-2789846
E-mail
: [email protected]
Homepage : http//jabar.litbang.deptan.go.id
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
BULETIN
Pengantar
Buletin Hasil Kajian (BHK) merupakan satusatunya medium publikasi BPTP Jawa Barat
yang disiapkan secara khusus untuk menampung
karya tulis peneliti dan teknisi litkayasa. BHK
diharapkan dapat mendukung peningkatan
jenjang jabatan fungsional peneliti dan teknisi
litkayasa. Selain itu, artikel yang terpublikasi
melalui BHK juga merupakan sumbangsih ilmu
dan pengalaman yang dapat bermanfaat bagi
khalayak pembaca dan pengguna.
Secara informal, Tim Penyunting senantiasa
berusaha memacu peneliti dan teknisi litkayasa
untuk menuliskan pengalamannya dalam
bentuk artikel ke BHK. Akan tetapi, pendekatan
informasi tersebut sangat terbatas. Karena itu,
diperlukan dukungan penuh dari pejabat lingkup
BPTP Jawa Barat untuk memacu semangat,
membina, dan meningkatkan keterampilan
peneliti dan teknisi litkayasa dalam menulis
artikel khusunya untuk BHK.
Pada kesempatan ini, kami menyampaikan
terima kasih dan penghargaan kepada para
peneliti dan teknisi litkayasa yang telah
mengirimkan artikelnya. Ucapan terimakasih
dan penghargaan juga disampaikan kepada para
Ketua Kelji yang telah memberikan dorongan
semangat dan pembinaan kepada para peneliti
dan teknisi litkayasa dalam menulis dan
mengirimkan artikel ke BHK.
Kami berharap para peneliti dan teknisi
litkayasa akan terus bersemangat dalam menulis
artikel, didasari niat untuk beribadah dalam
memasyarakatkan ilmu dan pengalaman yang
dapat bermanfaat bagi khalayak pembaca dan
pengguna. Kepada khalayak pembaca dan
pengguna, kami berharap untuk mendapatkan
tanggapan umpan balik agar pengelolaan dan
kinerja BHK semakin meningkat.
Penyunting
Buletin Hasil Kajian memuat karya tulis
kegiatan peneliti dan teknisi litkayasa serta
kegiatan lapangan yang disajikan secara
Buletin ini diterbitkan mulai tahun 2011,
frekuensi satu kali dalam setahun.
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
HASIL KAJIAN
Volume 1 Nomor 01, Tahun 2011
ISSN 2252-3219
Daftar Isi
Peluang Usaha Penangkaran Benih Kentang
di Jawa Barat
Sumarno Tedy, Endjang Sujitno dan Taemi
Fahmi
1-4
Adaptasi Galur Harapan Padi Sawah Ultra
Genjah di Cianjur.
Iskandar Ishaq , IGP Alit Diratmaja dan
Yaya Sukarya ................................................
5 - 10
Uji Adaptasi Varietas Unggul Baru Padi
Inbrida di Kabupaten Tasikmalaya
Nana Sutrisna dan Sunjaya ..........................
11 - 14
Kajian Efektivitas Sistem Tanam Legowo
2:1 Dengan Menggunakan Metode Caplak
dan Kenca
M. Iskandar Ishaq dan Wage R. Rohaeni ....
15 - 17
Kajian Stabilitas Beberapa Model
Pengelolaan Tanam Terpadu (PTT)
Terhadap Produktivitas Padi Sawah Pada
Beberapa Lokasi di Jawa Barat
Hasmi Banjar, Nana Sutrisna, dan Wage R.
Rohaeni ........................................................
18 - 22
Tanggap Produktivitas Padi Sawah
Varietas Inpari-13 Terhadap Dosis Aplikasi
Pemupukan yang Sama pada Lahan Sawah
Irigasi di Jawa Barat
M. Iskandar Ishaq dan Nandang Sunandar
23 - 32
Pengkajian Pengendalian Penyakit Jamur
Akar Teh di Perkebunan Rakyat
Agus Nurawan .............................................
33 - 39
tentang
analisis
praktis.
dengan
i
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
ii
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
PELUANG USAHA PENANGKARAN BENIH KENTANG DI JAWA BARAT
Sumarno Tedy1, Endjang Sujitno2 Dan Taemi Fahmi2
Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Jalan Kayuambon No. 80 Lembang – Bandung Barat 40391
ABSTRAK
Kentang merupakan komoditas yang
sangat penting karena komoditas ini digunakan
untuk berbagai kebutuhan sehari-hari sehingga
permintaan terhadap komoditas ini cukup besar.
Namun produksi yang dihasilkan belum sesuai
dengan potensi produksinya,salah satu faktor
penyebabnya adalah kurangnya penggunaan
benih unggul.Pengkajian dilaksanakan di
sentra-sentra
pengembangan
komoditas
kentang, di Jawa Barat yaitu di Kabupaten
Bandung. Waktu pelaksanaan kegiatan dimulai
mulai dari Bulan Mei sampai Desember 2010.
Metoda pengambilan data dalam penelitian ini
menggunakan metoda desk study dan survey.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan
metoda deskriptif, dengan menganalisis data
kualitatif dan kuantitatif. Hasil pengkajian
menunjukan bahwa sentralisasi penangkar di
satu wilayah menjadi kendala dalam dalam
pemenuhan kebutuhan benih kentang yang
berkualitas di wilayah Jawa Barat, sehingga
untuk kelancaran distribusi benih ke setiap sentra
pengembangan komoditas perlu dilakukan
penambahan dan penyebaran penangkar benih.
Hasil analisis finansial usaha penangkaran
benih kentang yang dikaji ternyata cukup
menguntungkan dengan nilai R/C ratio sebesar
2,38, sedangkan hasil yang diperoleh dari petani
penangkar nilai R/C ratio sebesar 2,08.
Kata Kunci:
Kentang,
Penangkaran
Peluang Usaha
dan
PENDAHULUAN
Luas
penangkaran
benih
kentang
bersertifikat di Jawa Barat tergolong masih
kurang akibatnya kebutuhan benih kentang di
Jawa Barat yang mencapai ± 32.000 ton pada
tahun 2009 belum terpenuhi. Oleh karena
itu sangat perlu dikembangkan penangkarpenangkar benih kentang di daerah sentra
produksi kentang di Jawa Barat.
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Perbanyakan benih kentang bebas
penyakit di Jawa Barat telah dimulai sejak
tahun 1991dalam program kerjasama antara
pemerintah Republik Indonesia dan Jepang
melalui Japan Internasional Corporation Agency
(JICA). Kerjasama ini telah menghasilkan:
standar minimum virus dan sistem perbanyakan
benih secara bertahap mulai dari plantlet/hasil
kultur jaringan, G-0, G-1, G-2, G-3, dan G-4.
Sampai saat ini ketentuan-ketentuan tersebut
masih berlaku dengan tujuan utamanya adalah
untuk memperoleh benih kentang bermutu
tinggi, bebas dari penyakit dengan harga yang
terjangkau oleh petani.
Varietas yang dominan beredar di pasaran
adalah Granola L. Menurut deskripsinya dalam
SK Mentan No 444/KPTS/TP240/6/1993
produksinya 26,5 ton/ha, akan tetapi sekarang
ini dari hasil pengamatan di lapangan produksi
rata-ratanya hanya 15 ton/ha.
Kendala peningkatan produksi kentang
diantaranya yaitu : (1) rendahnya kualitas
dan kuantitas benih kentang, yang merupakan
perhatian utama dalam usaha peningkatan
produksi kentang, (2) teknik budidaya yang
masih konvensional, (3) faktor topografi, dimana
daerah dengan ketinggian tempat dan temperatur
yang sesuai untuk pertanaman kentang sangat
terbatas, (4) daerah tropis Indonesia merupakan
tempat yang optimum untuk perkembangbiakan
hama dan penyakit tanaman kentang (Kuntjoro,
2000). Penanaman benih kentang bermutu, tepat
waktu dan tepat umur fisiologis adalah faktor
utama penentu keberhasilan produksi kentang,
upaya penyediaan benih kentang bermutu
perlu dilandasi dengan sistem perbenihan yang
mapan.
Potensi lahan untuk pengembangan tanaman
kentang di Jawa Barat diperkirakan mencapai
20.000 ha dengan kebutuhan benih pertahun
1
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
sekitar 32.000 ton. Diprediksi bahwa kebutuhan
benih kentang di Jawa Barat baru terpenuhi
sekitar 7% (BPSB-TPH, 2010). Realisasi di
lapangan luas tanam tanaman kentang di Jawa
Barat setiap tahunnya berkisar antara 13.261 ha
sampai 17.969 ha.
Luas penangkaran benih kentang di Jawa
Barat dalam dua tahun terakhir rata-rata 76 ha/
tahun, dengan rata-rata produksi 1.576,5 ton/
tahun. Jumlah ini masih jauh dari kebutuhan
benih kentang di Jawa Barat yang mencapai
± 32.000 ton/tahun. Oleh karena itu perlu
diperluas areal-areal penangkaran di daerah
sentra produksi kentang di Jawa Barat. Oleh
karenanya prospek dari industri perbenihan
kentang cukup menjanjikan sebagai agribisnis
yang mempunyai pasar spesifik dan terbuka
luas. Bahkan apabila kita tinjau pula kebutuhan
kentang bagi pemenuhan pasar restaurant siap
saji yang kini terus berkembang maka segmen
pasar benih kentang akan lebih luas lagi. Adapun
tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan
informasi prospek usaha penyediaan benih
kentang di wilayah Provinsi Jawa Barat,
sehingga dapat dijadikan landasan bagi penentu
kebijakan dalam menentukan pengembangan
jumlah dan sebaran penangkar benih di sentrasentra produksi kentang di Jawa Barat.
BAHAN DAN METODE
Pengkajian dilaksanakan di sentra-sentra
pengembangan komoditas kentang, di Jawa
Barat yaitu di Kabupaten Bandung. Waktu
pelaksanaan kegiatan dimulai mulai dari Bulan
Mei sampai Desember 2010.
Metoda pengambilan data dalam penelitian
ini menggunakan metoda desk study dan survei.
Data yang dikumpulkan meliputi data primer
yang diperoleh dari hasil wawancara dengan
responden yakni petani penangkar atau pelaku
penangkaran benih/benih kentang. Untuk
melengkapi penelitian ini ditunjang dengan data
sekunder dari beberapa instansi terkait atau dari
dokumentasi lain diantaranya, koran, jurnal,
brosur dan yang lainnya.
Analisis data dalam penelitian ini
menggunakan metoda deskriptif, dengan
menganalisis data kualitatif dan kuantitatif
dengan tujuan untuk memberikan deskripsi
2
mengenai subyek penelitian berdasarkan data
dari variabel yang diperoleh dari kelompok
subyek yang diteliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penyebaran tanaman kentang di Jawa Barat
tersebar di beberapa kabupaten diantaranya
Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, dan
Kabupaten Majalengka. Sebaran penanaman
kentang di Jawa Barat dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Luas Tanam Kentang (Ha) pada
Berbagai Sentra di Jawa Barat 20052009
Wilayah
Bandung
Garut
Majalengka
Kab. Lain
Jumlah
2005
2006
2007
2008
2009
10.955 11.511 9.669 7.145 7.007
5.459 4.585 5.086 5.761 4.933
119
750 1.103 1.100
897
13.961
447 2.771
352
424
17.969 17.323 16.135 14.358 13.261
Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, 2010.
Dilihatdari kesesuaian wilayah, Kabupaten
Bandung merupakan wilayah yang paling
sesuai untuk pengembangan tanaman kentang,
karena memiliki lahan kering dataran tinggi
yang cukup luas, sehingga luas tanam kentang
di Kabupaten Bandung dari tahun 2005 – 2009
tercatat berkisar antara 7.007 ha sampai 11.511
ha, kemudian disusul oleh Kabupaten Garut
dengan kisaran luas tanam kentang antara
4.585 ha sampai 5.761 ha, dan di Kabupaten
Majalengka luas tanam kentang berkisar antara
119 ha sampai 1.103 ha, sedangkan yang tersebar
di kabupaten lain berkisar antara 352 ha sampai
13.961 ha sehingga total luas tanam kentang di
Jawa Barat dari tahun 2005 sampai tahun 2009
berkisar antara 13.261 ha sampai 17.969 ha, jika
kita rata-ratakan berarti setiap tahun luas tanam
kentang di Jawa Barat sekitar 15.809 ha.
Fluktuasi luas tanam kentang di Jawa Barat
dari tahun ke tahun dipengaruhi oleh musim,
dimana tanaman kentang dalam pertumbuhannya
sangat tergantung pada ketersediaan air, di
beberapa wilayah kentang hanya dapat ditanam
satu kali dalam satu tahun, namun pada lahanlahan tertentu kentang dapat ditanam setiap
musim karena terdapat sumber air yang dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bagi
tanaman kentang yang diusahakan.
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Tabel 2. Luas Tanam dan Kebutuhan Benih
Kentang Jawa Barat Tahun 2005 –
2009
Luas areal
(Ha)
2005
17.969
2006
17.323
2007
16.135
2008
14.358
2009
13.261
Rata-rata
15.809
Tahun
Kebutuhan
Keterangan
(Ton)1
28.750,4 R a t a - r a t a
27.716,8 k e b u t u h a n
25.816,0 benih 1,6 ton/
ha
22.978,8
21.217,6
25.294,4
Keterangan : Data diolah
Asumsi : 1 Rata-rata kebutuhan benih kentang 1,6 ton/ha
Kebiasaan petani dalam usahatani
kentang membutuhkan benih sekitar 1,6 ton
per hektar, dengan luas areal tanam setiap
tahun yang berkisar antara 13.261 – 17.069 ha
berarti kebutuhan benih kentang di Jawa Barat
pertahunnya berkisar antara 21.217 ton – 28.750
ton, atau jika dirata-ratakan luas areal tanam per
tahun seluas 15.809 ha berarti kebutuhan benih
kentang per tahun mencapai 25.294 ton.
Tabel 3. Ketersedian Benih Kentang di Jawa
Barat Tahun 2005 – 2009
Tahun
G1
2005
2006
2007
2008
2009
20.488
15.721
3.744
29.044
33.067
Kelas Benih
G2
G3
G4
Kg
63.889 706.334
889.422
51.272 609.552
896.721
20.025 130.720
379.261
97.329 739.709
883.711
377.696 906.947 1.594.898
Jumlah
1.680.133
1.573.236
533.750
1.749.793
2.912.608
Sumber: BPSBTPH Provinsi Jawa Barat. 2010
Ketersediaan benih kentang dari berbagai
kelas benih di Jawa Barat dari tahun 2005
sampai tahun 2009 berkisar antara 533.750 kg
(533,75 ton) sampai 2.912.608 kg (2.912,61 ton)
dengan rata-rata ketersediaan benih setiap tahun
sekitar 1.689.904 kg (1.689,90 ton), jika kita
bandingkan antara ketersediaan benih kentang
dengan kebutuhan benih kentang di Provinsi
Jawa Barat berarti kebutuhan benih kentang
baru terpenuhi sekitar 6,68% yang artinya
antara prediksi pemenuhan kebutuhan benih
kentang dengan data yang tercatat dari tahun
2005 sampai tahun 2009 terdapat kecocokan.
Untuk memenuhi kekurangan benih
tersebut, petani kentang memperoleh benih
biasanya dari berbagai sumber, antara lain
dari sesama petani berupa hasil seleksi sendiri,
benih juga diperoleh dari penangkar yang tidak
melakukan pendaftaran ke BPSBTPH Prov. Jawa
Barat, serta hasil penangkaran sendiri, banyak
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
pula petani yang menanam kentang dengan
benih produksi sendiri hasil lanjutan dari benih
yang berlabel pada musim sebelumnya. Jika kita
lihat kenyataan di lapangan dimana kebutuhan
benih kentang yang berkualitas belum mampu
dipenuhi oleh produksi benih kentang dalam
negeri sehingga pasar masih sangat terbuka luas.
Prospek penangkaran benih kentang terlihat dari
tingkat harga yang belaku untuk benih kentang
yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan
harga jual benih konsumsi.
Tabel 4. Harga Benih Kentang pada Berbagai
Kelas Benih di Jawa Barat 2010
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kelas Benih
G0
G1
G2
G3
G4
Konsumsi
Harga
1.500 – 2.000
20.000 – 24.000
15.000 – 17.000
13.000 – 14.000
9.000 – 10.000
3.000 – 5.000
Sumber : Data primer, 2010
Tingkat harga yang bervariasi ini dipengaruhi
oleh hukum penawaran dan permintaan, dimana
jika permintaan cukup tinggi maka harga benih
pun secara otomatis akan meningkat apalagi
jika ketersediaan benih sedikit maka harga akan
lebih tinggi lagi, demikian pun sebaliknya jika
permintaan terhadap benih kurang maka harga
pun akan bergerak turun.
Untuk menjamin kualitas dari benih
kentang yang dihasilkan, para penangkar
diharuskan untuk berkoordinasi dengan pihak
atau instansi terkait, dalam hal ini adalah
BBPK (Balai Besar Pengembangan Kentang)
dan BPSBTPH dan Balai Penelitian Sayuran
(Balitsa). BBPK dan Balitsa bertanggungjawab
dalam penyediaan benih dasar kentang (G0, G1,
G2) sedangkan BPSBTPH bertanggungjawab
dalam hal pendampingan teknis pelaksanaan
penangkaran benih dan sertifikasi benih kentang
yang dihasilkan,
Analisis Finansial Penangkaran
Kentang, Mangga dan Manggis
Benih
Analisis finansial menunjukkan struktur
biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang
diperoleh suatu usaha penangkaran dalam
menjalankan usahanya. Besarnya biaya
produksi mempengaruhi tingkat penerimaan
usahatani. Semakin besar biaya produksi yang
dikeluarkan, maka penerimaan semakin rendah
atau sebaliknya.
3
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Hasil analisis finansial usaha penangkaran
benih kentang di beberapa sentra penangkaran
benih menunjukkan hasilnyacukup menguntungkan dengan nilai R/C ratio sebesar 2,08, dengan
kata lain bahwa dengan pengeluaran modal
sebesar Rp.1,- bisa mendapatkan penerimaan
sebesar Rp. 2,08.Pada kegiatan penangkaran
benih kentang, terdapat dua sumber penerimaan
yaitu dari produk kentang untuk benih dan
produk kentang untuk konsumsi. Kentang
konsumsi sebagai hasil tambahan petani dari
usaha penangkaran.
Tabel5. Analisis
Finansial
Usahatani
Penangkaran Benih Kentang G2 ke
G3 Tahun 2010
No.
Uraian
1. Total biaya
2. Penerimaan kentang benih
3. Penerimaan kentang
konsumsi
4. Total penerimaan
5. Keuntungan
6. R/C ratio
Jumlah (Rp.)
62.700.000
113.820.000
16.730.000
130.550.000
67.850.000
2.08
Selain pengaruh dari faktor perubahan
iklim dan cuaca serta serangan OPT, faktor
penggunaan benih kentang yang kurang
berkualitas atau bisa kita sebut asal-asalan
seperti yang telah disebutkan di atas adalah
merupakan faktor utama rendahnya produksi
kentang di Indonesia umunya dan secara khusus
di Jawa Barat sehingga produksi kentang belum
mencapai potensi hasil yang diharapkan, yang
menyebabkan tingkat keuntungan petani rendah
atau bahkan dapat dikatakan merugi.
Untuk itu diiperlukan langkah-langkah
pembinaan dan pendampingan agar petani
semakin konsisten dalam menggunakan benih
kentang yang berkualitas dalam hal ini berlabel
atau bersertfikat sehingga produksi yang
dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan,
namun keadaan tersebut perlu didukung oleh
upaya untuk memenuhi kebutuhan benih
kentang berkualitas yang salah satu cara
diantaranya adalah dengan mengembangkan
jumlah penangkar, menambah luas areal kebun
penangkaran, serta meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan petani penangkar benih
kentang.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan
maka dapat disimpulkan :Luas tanam kentang
4
di Jawa Barat pada periode 2005 – 2009
berkisar antara 13.261 – 17.069 ha dengan luas
tanam rata-rata per tahun seluas 15.809 ha, jika
diasumsikan kebutuhan benih kentang sebanyak
1,6 ton per ha, maka kebutuhan benih kentang
di Jawa Barat berkisar antara 21.217 ton –
28.750 ton atau rata-rata 25.294 ton per tahun,
sedangkan benih yang tersedia berkisar antara
533,75 - 2.912,61 ton atau rata-rata 1.689,90
ton, dengan demikian pemenuhan kebutuhan
benih kentang Jawa Barat baru terpenuhi
sebanyak 6,68%. Untuk memenuhi kebutuhan
benih kentang harus dilakukan pengembangan
jumlah penangkar dan perbanyakan atau
perluasan areal di wilayah sentra produksi Jawa
Barat.Hasil analisis finansial usaha penangkaran
benih kentang yang ditingkat petani penangkar
ternyata cukup menguntungkan dengan nilai R/C
ratio sebesar 2,08. Nilai keuntungan diperoleh
dari benih kentang dan kentang konsumsi.
Saran
Untuk mempermudah dan mempercepat
pengembangan jumlah penangkar, sebaiknya
dilakukan lagi identifikasi dan inventarisasi
terhadap para calon penangkar yang sudah
melakukan pelatihan penangkaran. Dalam rangka
penyebaran penangkar benih ke setiap wilayah
sentra pengembangan komoditas diperlukan
kebijakan dalam mengatur penyebaran dan
pengembangan penangkar benih, sehingga
antara sebaran penangkar benih dengan sentra
pengembangan komoditas dapat berjalan
seimbang, tidak lagi terjadi penumpukan stok
benih di suatu wilayah padahal di wilayah lain
sangat sulit untuk mendapatkan benih yang
berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
BPSB-TPH Provinsi Jawa Barat, 2003. Peraturan dan
Persyaratan Penangkaran Benih Kentang.
BPSB-TPH Provinsi Jawa Barat, 2010. Laporan
Pelaksanaan dan Realisasi Penangkaran Benih
Hortikultura.
Dinas Pertanian Jawa Barat, 2009. Statistik Buah-buahan
di Jawa Barat..2008.
http://www.diperta.jabarprov.go.id/index.php?mod=stati
stik&idMenuKiri=520&idKategori=3&link=data
StatBuah,diunduh tanggal 22 Januari 2010.
Kuntjoro, A. S. 2000. Produksi Umbi Mini Kentang G0
Bebas Virus melalui Perbanyakan Planlet secara
Kultur Jaringan di PT. Intidaya Agrolestari (Inagro)
Bogor – Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Budi Daya
Pertanian Fakultas Pertanian IPB. 62p.
Suwarno, W. B., 2008. Sistem Perbenihan Kentang di
Indonesia. http://www.situshijau. co.id. Diunduh
tanggal 9 Juli 2009.
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
ADAPTASI GALUR HARAPAN PADI SAWAH ULTRA GENJAH DI
CIANJUR
Iskandar Ishaq , IGP Alit Diratmaja dan Yaya Sukarya
Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Jalan Kayuambon No. 80 Lembang – Bandung Barat 40391
ABSTRAK
Provinsi Jawa Barat merupakan salah
satu sentra produksi padi utama di Indonesia.
Peningkatan produksi dalam rangka mengurangi
impor beras dan kemandirian pangan, salah
satunya dilakukan melalui penggunaan varietas
unggul. Uji multilokasi merupakan salah satu
rangkaian proses dalam perakitan varietas
unggul baru. Tujuan penelitian ini adalah
menelusuri galur harapan padi sawah umur
genjah bersama petani responsif di Cianjur.
Penelitian dilaksanakan di Desa Cisarandi,
Kecamatan
Warungkondang,
Kabupaten
Cianjur. Waktu penelitian pada MH 2009/2010
(September-Desember 2009). Menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12
nomor genotipe padi sawah (10 GH dan 2 varietas
pembanding), diulang sebanyak 4 (empat) kali.
Hasil penelitian menunjukkan, terdapat 5 galur
harapan yang tergolong ke dalam genotipe
padi sawah berumur genjah, dan menunjukkan
produktivitas hasil diatas dan setara dengan
varietas pembanding yang memiliki peluang
diusulkan sebagai padi sawah varietas unggul
berumur genjah terutama di Cianjur, Jawa
Barat, adalah: galur harapan A (B10970C-MR4-2-111-Si-3-2-4-1), F (B11742-RS*2-3-MR34-1-1-5), E (B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-4),
dan D (B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-3).
Kata Kunci:
Padi Sawah; Umur Genjah;
Multilokasi; Jawa Barat
PENDAHULUAN
Cianjur salah satu Kabupaten di Provinsi
Jawa Barat sudah terkenal secara Nasional
sebagai penghasil padi atau beras, yang sangat
dikenal dengan beras Cianjur. Provinsi Jawa
Barat merupakan salah satu sentra produksi
padi di Indonesia dengan luas panen 1.870.334
ha, produktivitas 53,72 ku/ha dan produksi
10.046.877 t (Ishaq et al., 2008). Peningkatan
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
produksi padi nasional pasca tercapainya
swasembada beras tahun 1984 belum dapat
mengimbangi laju peningkatan jumlah penduduk
dan tingkat konsumsi/kapita yang tetap tinggi
yaitu 130,1 kg per kapita (Mardianto, 2001
dalam Tjondronegoro, 2008), sehingga sebagian
kebutuhan beras kembali dipenuhi dari impor.
Pada tahun 2007 volume impor berturut-turut
untuk komoditas padi adalah 3% (Ishaq et al.,
2008).
Para peneliti pemuliaan secara terus
menerus berupaya menghasilkan varietasvarietas baru yang mempunyai sifat-sifat
unggul sesuai untuk tujuan pengembangan pada
masing-masing tipologi wilayah (Harahap dan
Silitonga, 1993), sebab produk varietas unggul
yang dihasilkan lembaga penelitian bersifat
adaptasi luas dan belum ke arah spesifik wilayah
tertentu, sehingga varietas yang dihasilkan
lebih bersifat umum untuk semua wilayah di
Indonesia dan belum memenuhi kriteria spesifik
lokasi (Baihaki, 2003; Balitpa, 2004).
Untuk menghasilkan suatu varietas
unggul dalam sistem penelitian, pemuliaan dan
pelepasan varietas tanaman dilakukan melalui
serangkaian proses, dimulai dari kegiatan
persilangan atau hibridisasi, pembentukan bastar
populasi, pedigree, observasi, uji daya hasil
pendahuluan, uji daya hasil lanjutan, sampai
dengan uji multilokasi sebelum calon varietas
dilepas sebagai varietas unggul baru (VUB).
Penelusuran galur harapan padi sawah umur
genjah sebagai calon varietas perlu dilakukan,
dengan bekerja sama dengan patani yang
responsif. Galur harapan padi umur genjah yang
dimaksud disini adalah galur padi sawah yang
berumur 95-100 hari, yang berdaya hasil 10-15
% lebih tinggi dari Dodokan dan Silugonggo,
tahan hama dan penyakit utama, serta dengan
mutu beras baik. Tujuan penelitian ini adalah
menelusuri galur harapan padi sawah umur
genjah bersama petani responsif di Cianjur.
5
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan
partisipatif (On-Farm Participatory Research/
Assessment) dengan karakteristik : dilakukan pada
lahan petani, dimana petaninya terlibat secara
aktif sejak perencanaan sampai dengan evaluasi,
terdapat keterlibatan (partisipasi) berbagai
pemangku kepentingan lain (stakeholders) seperti
dinas pertanian dan pemerintah daerah setempat.
Lokasi penelitian di Desa Cisarandi, Kecamatan
Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Waktu
tanam pada tanggal 17 September 2009.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak
kelompok (RAK) dengan 12 perlakuan dan 4
kali ulangan (Tabel 1).
Tabel 1. Perlakuan Galur Harapan Padi Sawah
Umur Genjah. Ciannjur. Jawa Barat.
NO
Perlakuan
Galur/Varietas
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
A
B
C
D
E
F
G
H
Y
K
L
M
B10970C-MR-4-2-111-Si-3-2-4-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-2-1-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-3-1-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-4
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-5
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-3
Dodokan
Silugonggo
Ukuran petakan penelitian 4m x 5m,
ulangan 4 kali, Jarak tanam 20cm x 20cm, umur
bibit 14-15 hari setelah sebar, tanam 2-3 bibit/
rumpun. Pemupukan dilakukan pada umur
tanaman: 1. Umur 0-5 hari setelah tanam: 60 kg
urea, 200 kg SP18, 100 kg KCl per ha; 2. Umur 14
hari setelah tanam: 120 kg urea per ha; dan 3.
Umur 14 hari setelah tanam: 120 kg urea per ha.
Penyiangan dilakukan tiga kali yaitu: 1. Pada
umur 14 hari setelah tanam; 2. Pada umur 35
hari setelah tanam; dan 3. Pada umur 49 hari
setelah tanam.
Pengamatan yang dilakukan adalah: Tinggi
Tanaman (cm), Jumlah Anakan Produktif, Umur
Berbunga 50% (hari setelah tanam), Umur Panen
(80% tan menguning) (hari setelah semai),
Jumlah gabah isi (butir), Jumlah gabah hampa
(butir), Bobot 1000 butir (k.a 14%) (gr), Hasil
gabah per petak (k.a 14%) (kg) dan Serangan
OPT (%). Panen dilakukan sesegara mungkin,
6
yaitu apabila sebagian besar (80-90 %) gabah
telah bernas dan berwarna kuning. Panen terlalu
awal menyebabkan gabah hampa, gabah hijau,
dan butir kapur lebih banyak. Panen terlalu
lambat menimbulkan kehilangan hasil karena
banyak gabah yang rontok pada saat di lapangan.
Selain itu dalam proses penggilingan jumlah
gabah yang patah akan meningkat. Perontokan
gabah sesegera mungkin, paling lama 1-2 hari
setelah panen, menggunakan alat perontok.
Untuk mendapatkan mutu gabah yang lebih
baik, gabah secepatnya dijemur.
Ubinan merupakan cara pendugaan hasil
panen yang dilakukan dengan menimbang hasil
tanaman contoh pada plot panen. Tanaman
contoh diambil pada pertengahan plot, tidak
pada dua baris paling pinggir dekat pematang.
Ukuran ubinan minimal ± 5 m2 di tengah
petakan. Jumlah rumpun tanaman dalam ubinan
tergantung pada jarak tanam yang digunakan,
namun demikian jumlah rumpun tanaman
dalam ubinan minimal 120 rumpun per petak.
Gabah dirontok dari malainya dan dibersihkan
dari kotoran, kemudian ditimbang dan diukur
kadar airnya disebut dengan hasil Gabah Kering
Panen (GKP). Konversi hasil ubinan ke dalam
bentuk Gabah Kering Giling (GKG) dihitung
dengan menggunakan rumus berikut (Ishaq dan
Ramdhaniati, 2009) :
Hasil GKG 14% = ((100-Ka)/86) x GKP
Keterangan:
Ka
: Kadar air (%)
GKP : Gabah Kering Panen
GKG : Gabah Kering Giling
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Tinggi Tanaman
Penampilan karakteristik tinggi tanaman
yang diamati umur 60 hari setelah tanam/hst
pada seluruh genotipe yang diuji (10 galur dan
2 varietas pembanding), menunjukkan karakter
tinggi tanaman secara umum memiliki ratarata pertumbuhan tanaman yang tinggi seperti
terlihat berturut-turut pada galur B; C; D; E; G;H;
Y;K termasuk pada kedua varietas pembanding
(varietas Dodokan dan Silugonggo). Hal itu
disebabkan antara lain oleh perbedaan jenis
tanah dan ketinggian tempat, dimana lokasi
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
percobaan yang terletak di Desa Cisarandi,
Kecamatan Warungkondang memiliki jenis
tanah aluvial dengan ketinggian tempat 650 m
dpl (BPP Warungkondang, 2008),
Diantara 10 galur yang diuji dibandingkan
dengan dua varietas pembandingnya, terlihat
bahwa ada 3 galur, yaitu Galur A ,B, dan C
memiliki tinggi di atas 100 cm (102,26 cm
– 117,42 cm) atau lebih tinggi dibandingkan
dengan kedua varietas pembanding (97,51 cm
- 98,07 cm), sedangkan 7 galur lainnya (no 4
s.d no 10) memiliki tinggi tanaman lebih rendah
(93,35 cm – 94,87 cm) dibandingkan dua
varietas pembandingnya, baik varietas Dodokan
(98,07 cm) maupun varietas Silugonggo (97,51
cm) (Tabel 2).
Tabel 2. Tinggi Tanaman Varietas dan Galur
Padi Berumur Genjah. Ciannjur.
Jawa Barat. MH 2009/2010.
Perlakuan
A
B
C
D
E
F
G
H
Y
K
L
M
Galur/Varietas
B10970C-MR-4-2-111-Si-3-2-4-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-2-1-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-3-1-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-4
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-5
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-3
Dodokan
Silugonggo
Tinggi
tanaman (cm)
101,47 c
119,87 d
122,13 d
96,13 abc
94,73 ab
92,07
a
96,40 abc
95,00 ab
94,40 ab
95,20 ab
98,73 bc
98,47 bc
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 0,05
DMRT
2. Jumlah Anakan Produktif
Tinggi tanaman dengan jumlah anakan
produktif berkorelasi terbalik, yakni semakin
tinggi tanaman maka anakan produktifnya
semakin sedikit, seperti terlihat pada Galur A;
B dan C tinggi tanaman rata-rata di atas 100
cm atau di atas rata-rata varietas pembanding
(97,51-98,07 cm), sebaliknya jumlah anakan
produktif pada ke-tiga galur tersebut adalah
antara 15-17 anakan per rumpun atau berada di
bawah rata-rata jumlah anakan produktif dari
varietas pembanding-nya yaitu 21-22 anakan
per rumpun (Tabel 2 dan Tabel 3).
Pertambahan
tinggi
tanaman
dan
pertambahan
jumlah
anakan
produktif
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
menggambarkan adanya pertambahan biomassa
tanaman disebabkan proses pertumbuhan berasal
dari hasil fotosintesis, serapan hara dan air yang
diolah melalui proses biosintesis. Tanaman padi
mengalami pertumbuhan terbatas (determinate),
hal itu dicirikan dengan pertambahan organ
tanaman, ukuran tanaman dan pertambahan
berat yang berhenti pada masa vegetatif setelah
memasuki masa generatif. Menurut Sitompul
dan Guritno (1995), akumulasi biomassa ke
bagian tanaman yang bernilai ekonomis dalam
hal ini adalah pembentukan anakan produktif,
maka dapat dikatakan bahwa tanaman tersebut
tergolong ke dalam tanaman yang efisien dalam
pemanfaatan produksi biomassa. Berdasarkan
hal itu, maka Galur A, B dan C dapat dikatakan
tergolong genotipe tanaman yang kurang
efisien dalam pemanfaatan akumulasi biomassa
tanaman dibandingkan dengan 7 galur lainnya
dan 2 varietas pembanding yang diuji.
Tabel 3. Jumlah Anakan Produktif Varietas dan
Galur Padi Berumur Genjah. Ciannjur.
Jawa Barat. MH 2009/2010.
Perlakuan
Galur/Varietas
A
B10970C-MR-4-2-111-Si-32-4-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si1-2-1-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si1-3-1-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-4
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-5
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-3
Dodokan
Silugonggo
B
C
D
E
F
G
H
Y
K
L
M
Jumlah anakan
produktif (bt)
21,20
19,07
17,73
28,27
29,47
28,53
29,00
29,27
29,47
29,47
26,93
31,07
3. Umur Berbunga 50%
Umur berbunga merupakan salah satu
parameter pengamatan yang penting disamping
keunggulan karakteristik lainnya , sebab dari
kegiatan uji multilokasi dan adaptasi padi sawah
berumur genjah diharapkan dapat terseleksi
galur (genotipe) yang prospektif diusulkan
untuk dilepas menjadi varietas unggul baru
padi sawah berumur genjah disamping varietas
Dodokan dan Silugonggo yang telah dilepas
sebagai varietas unggul pada tahun 2001.
7
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Keragaan umur berbunga 50% dari 10
galur yang diuji tidak ada satu galur-pun
yang menunjukkan umur berbunga 50% yang
lebih cepat dibandingkan dengan 2 varietas
pembanding (umur berbunga 50% 61-62 hst).
Diantara 10 galur yang diuji, maka galur A
merupakan galur yang paling cepat berbunga
(62,5 hst), sedangkan galur yang paling lambat
berbunga adalah galur B (73,5 hst). Dengan
demikian dilihat berdasarkan keunggulan umur
berbunga, maka galur A merupakan galur
yang dapat dipilih (mendapat nominasi) untuk
diusulkan dilepas sebagai calon varietas berumur
genjah, tetapi masih perlu dilihat keunggulan
karakteristik lainnya, utamanya hasil dan
kualitas gabah atau berasnya berdasarkan hasil
evaluasi terhadap preferensi pengguna (Tabel
4).
Tabel 4. Umur berbunga 50% (hari) Pada
Pertanaman Padi Sawah Umur
Genjah. Ciannjur. Jawa Barat. MH
2009/2010.
Perlakuan
Galur/Varietas
A
B
B10970C-MR-4-2-111-Si-3-2-4-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-21-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-31-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-4
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-5
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-3
Dodokan
Silugonggo
C
D
E
F
G
H
Y
K
L
M
Umur
berbunga 50%
(hari)
63
71
71
67
66
66
66
68
65
67
63
62
4. Umur Panen (80%)
Umur berbunga 50% berpengaruh terhadap
umur panen yang ditandai dengan 80% gabah telah
menguning. Seperti halnya pada pengamatan
umur berbunga 50%, maka hasil pengamatan
terhadap umur panen-pun tetap terlihat bahwa
tidak ada satu-pun galur dari 10 galur yang diuji
tersebut lebih genjah dibandingkan dengan 2
varietas pembanding, kecuali galur H (94 hari)
di Kecamatan Cianjur yang berumur sama
dengan varietas pembanding, baik varietas
Dodokan maupun Silugonggo dan galur A di
kecamatan Warungkondang yang berumur
panen lebih lambat satu hari dibandingkan
8
dengan pembanding varietas Dodokan dan lebih
lambat dua hari dibandingkan dengan varietas
Silugonggo (Tabel 5).
Tabel 5. Umur panen 80-90% hari setelah
sebar (hss) Pada Pertanaman Padi
Sawah Umur Genjah. Ciannjur. Jawa
Barat. MH 2009/2010.
Perlakuan
Galur/Varietas
A
B10970C-MR-4-2-111-Si-3-2-4-1
B
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-2-1-1
C
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-3-1-1
D
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-3
E
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-4
F
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-5
G
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-1
H
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-3
Y
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-1
K
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-3
L
Dodokan
M
Silugonggo
Keterangan: hss (hari aetelah sebar)
Umur panen
(hss)
97
105
105
99
98
98
100
101
99
100
96
95
5. Jumlah Gabah per Malai
Dari sepuluh galur yang diuji, genotipe yang
memiliki jumlah gabah isi lebih banyak dari
varietas pembanding (Dodokan dan Silugonggo)
dan stabil di dua lokasi, antara lain galur A, B,
C, D, E, dan galur G, sedangkan galur F, Y dan
galur K memiliki malai isi yang lebih banyak
dibandingkan dengan varietas pembanding
hanya di Kecamatan Cianjur. Galur B merupakan
genotipe yang paling banyak memiliki jumlah
gabah per malai, yakni sebanyak 213 butir per
malai (100%), tetapi diikuti pula dengan jumlah
gabah hampa yang tinggi dengan perbandingan
antara jumlah gabah isi dan jumlah gabah
hampa berturut-turut 105 butir (49,3%) dan
108 butir (50,7%). Penampilan jumlah gabah
isi, jumlah gabah hampa dan jumlah gabah per
malai seluruh genotipe yang diuji disajikan pada
Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah gabah per malai pada
pertanaman uji multilokasi padi
sawah berumur genjah. Cianjur, Jawa
Barat. MH 2009/2010
Perlakuan
A
B
Galur/Varietas
B10970C-MR-4-2-111-Si-3-24-1
Persentase (%)
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si1-2-1-1
Persentase (%)
Isi
Gabah
Hampa
Jml
104
71,2
42
28,8
146
100
107
71,8
42
28,2
149
100
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Perlakuan
C
D
E
F
G
H
Y
K
L
M
Galur/Varietas
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si1-3-1-1
Persentase (%)
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-3
Persentase (%)
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-4
Persentase (%)
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-5
Persentase (%)
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-1
Persentase (%)
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-3
Persentase (%)
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-1
Persentase (%)
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-3
Persentase (%)
Dodokan
Persentase (%)
Silugonggo
Persentase (%)
Isi
Gabah
Hampa
Jml
129
71,7
99
66,0
107
77,0
89
69,5
102
77,9
77
72,6
91
74,6
94
74,0
98
74,2
100
78,7
51
28,3
51
34,0
32
23,0
39
30,5
29
22,1
29
27,4
31
25,4
33
26,0
34
25,8
27
21,3
180
100
150
100
139
100
128
100
131
100
106
100
122
100
127
100
132
100
127
100
6. Panjang Malai
Berdasarkan karakteristik panjang malai
terdapat empat genotipe yang memiliki malai
lebih panjang dibandingkan dengan varietas
pembanding stabil pada semua (dua) lokasi
pengujian, yaitu galur A, B, C, dan galur Y.
(Tabel 7).
Tabel 7. Panjang malai (cm) dan Bobot 1000
butir beberapa galur harapan padi
sawah berumur genjah. Cianjur. Jawa
Barat. MH 2009/2010
Perlkuan
Galur/Varietas
A
B
B10970C-MR-4-2-111-Si-3-2-4-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-21-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-1-31-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-4
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-5
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-3
Dodokan
Silugonggo
C
D
E
F
G
H
Y
K
L
M
Panjang
malai
(cm)
24,6
Bobot
1000
butir
(gr)
28,26
26,34
26,3
25,02
25,16
24,95
25,35
25,32
25,18
25,50
26,91
25,91
Produktivitas hasil tertinggi ditunjukkan
oleh galur B (B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-12-1-1), diikuti oleh galur K (B11742-RS*2-3MR-34-1-4-3), galur D (B11742-RS*2-3-MRBalai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Tabel 8. Produktivitas hasil (t/ha) Pada
Pertanaman Padi Sawah Umur
Genjah. Ciannjur. Jawa Barat. MH
2009/2010.
Perlakuan
Galur/Varietas
A
B
B10970C-MR-4-2-111-Si-3-2-4-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-12-1-1
B11283-6C-PN-5-MR-2-3-Si-13-1-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-4
B11742-RS*2-3-MR-34-1-1-5
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-2-3
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-1
B11742-RS*2-3-MR-34-1-4-3
Dodokan
Silugonggo
C
D
E
F
G
H
Y
K
L
M
Keterangan:
Produktivitas (t/ha)
GKP
GKG
8,88
a
7,73
11,16
d
10,55
10,70
9,49
9,75
9,86
10,35
10,18
10,78
9,02
10,76
cd
cd
abc
abcd
abcd
bcd
abcd
cd
bc
cd
9,24
a
d
8,59
cd
8,92
cd
7,97 abc
8,44 abcd
8,75 abcd
8,85
cd
8,42 abcd
8,96
cd
7,56
bc
9,20
cd
Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 0,05
DMRT
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari 10 Galur Harapan yang diuji terdapat
4 Galur harapan yang tergolong ke dalam
genotipe padi sawah berumur genjah dengan
umur panen di bawah 100 hari, dan produktivitas
hasil berada di atas rata-rata dari varietas
pembanding dan sesuai dengan pilihan petani
sekitar lokasi penelitian. Galur harapan tersebut
memiliki peluang diusulkan sebagai padi sawah
varietas unggul berumur genjah terutama di
Jawa Barat, adalah :
27,33
26,8
23,3
24,1
24,0
23,1
21,3
24,7
23,5
24,3
24,0
7. Produktivitas
BPTP JABAR
34-1-1-3), galur H (B11742-RS*2-3-MR-34-12-3) dan galur C (B11283-6C-PN-5-MR-2-3Si-1-3-1-1) tidak berbeda nyata dengan varietas
Silugonggo (pembanding) (Tabel 8).
1. Galur Harapan Nomor 1 (A) B10970CMR-4-2-111-Si-3-2-4-1
dengan
umur
berbunga (50% berbunga) 63 hari; umur
panen (80-90% gabah menguning) 97 hari;
tinggi tanaman 101,47 cm; jumlah anakan
produktif 21,20 batang; dan produktivitas
hasil 7,73 t/ha GKG.
2. GH Nomor 6 (F) B11742-RS*2-3-MR-34-11-5 dengan umur berbunga (50% berbunga)
66 hari; umur panen (80-90% gabah
menguning) 98 hari; tinggi tanaman 92,07
cm; jumlah anakan produktif 28,53 batang;
dan produktivitas hasil 8,44 t/ha GKG.
9
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
3. GH Nomor 5 (E) B11742-RS*2-3-MR-34-11-4 dengan umur berbunga (50% berbunga)
66 hari; umur panen (80-90% gabah
menguning) 98 hari; tinggi tanaman 94,73
cm; jumlah anakan produktif 29,47 batang;
dan produktivitas hasil 7,97 t/ha GKG.
4. GH Nomor 4 (D) B11742-RS*2-3-MR34-1-1-3 dengan umur berbunga (50%
berbunga) 67 hari; umur panen (8090% gabah menguning) 99 hari; tinggi
tanaman 96,13 cm; jumlah anakan
produktif 28,27 batang; dan produktivitas
hasil 8,92 t/ha GKG.
DAFTAR PUSTAKA
Baehaki, A. 2003. “Undang-Undang No. 29 Tahun
2000 Tentang Perlindungan Varietas
Tanaman Merupakan Peluang Industri
Perbenihan Swasta Meraih Keuntungan”.
Makalah disajikan pada Seminar dan
Workshop Sosialisasi dan Antisipasi
Pelaksanaan Undang-Undang Perlindungan
Varietas Tanaman. Pusat Studi Pemuliaan
Tanaman. IPB Darnaga Bogor, tanggal 20
Mei 2003.
Balitpa. 2004. Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi
(Dikompilasi oleh : O. S Lesmana, Husni
M. Toha, Irsal Las, dan B. Suprihatno).
Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa),
Sukamandi. 68h.
10
Harahap, Z. dan Silitonga. 1993. Perbaikan Varietas
Padi dalam Padi Buku 2. Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Bogor.
Ishaq, I, K. Subagyono, I. Nurhati, S. Murtiani,
dan S. Ramdhaniati. 2008. Pengelolaan
Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT)
Serta Perkembangan Pelaksanaan Program
Peningkatan Produksi Beras Nasional
(P2BN) di Jawa Barat. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Jawa Barat. Balai
Besar Pengkajian dan Pengembangan
Teknologi Pertanian. Badan Litbang
Pertanian. 103h.
Ishaq, I dan S. Ramdhaniati, 2009. Petunjuk
Teknis Display Varietas. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Jawa Barat. h6-7.
Sitompul, S.M dan B. Guritno, 1995. Analisis
pertumbuhan tanaman. Gajah Mada
University Press. Bulaksumur, Yogyakarta.
h160-161.
Tjondronegoro, S.M.P., 2008. Padi: Tanaman
Ekspansif dari Timur ke Barat h1-6 dalam
Suyamto et al., 2008 (penyunting), Padi:
Inovasi teknologi dan ketahanan pangan,
Sukamandi: Balai Besar Penelitian
Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian,
Departemen Pertanian. 512h. ISBN 978979-540-037-0 (jilid I).
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
UJI ADAPTASI VARIETAS UNGGUL BARU PADI INBRIDA DI
KABUPATEN TASIKMALAYA
Nana Sutrisna dan Sunjaya
Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Jalan Kayuambon No. 80 Lembang – Bandung Barat 40391
ABSTRAK
Penggunaan benih unggul bermutu (VUB)
telah berkontribusi secara nyata terhadap
peningkatan produksi sehingga Indonesia
mampu mencapai swasembada beras pada
tahun 1984 dan 2008. Namun demikian,
dampak penggunaan varietas unggul terhadap
peningkatan produksi dan mutu produk hanya
akan terasa bila VUB tersebut ditanam dalam
skala luas. BPTP memiliki peran sangat strategis
dalam mendukung pengembangan varietas.
BPTP tidak saja merupakan sumber inovasi
teknologi bagi, akan tetapi sekaligus sebagai
lembaga/intansi yang memiliki mandat untuk
menyebarkan informasi teknologi, termasuk
VUB kepada petani di lapangan. Tujuan
pengkajian adalah mengetahui kemampuan
adaptasi dan mengenalkan varietas unggul
baru padi inbrida kepada petani, serta respons
petani terhadap varietas unggul baru. Pengujian
dilaksanan di Kecamatan Rajapolah, Kabupaten
Tasikmalaya. Varietas yang diuji adalah Inpari
1, Inpari 3, Inpari 4, Inpari 13, dan Mekongga.
Pengujian menggunakan rancangan acak
kelompok dengan 5 perlakuan varietas dan
diulang 5 kali yang merupakan desa tempat
pengujian. Hasil pengujian menunjukan bahwa
varietas unggul baru Inpari 13 memberikan hasil
tertinggi daripada varietas lainnya. Meskipun
secara statistik tidak berbeda nyata dengan
varietas Inpari 4 namun petani lebih menyukai
Inpari 13. Selain produktivitasnya tinggi Inpari
13 berumur pendek, sehingga dengan percepatan
tanam dapat meningkatkan indeks pertanaman
(IP) dari 2 menjadi 3 kali atau dari 3 menjadi 4
kali.
Kata Kunci:
Uji adaptasi, varietas unggul baru,
padi inbrida
PENDAHULUAN
Keberhasilan Indonesia meraih swasembada
beras pada tahun 1984 antara lain disebabkan
olehditerapkannya
komponen
teknologi
varietas unggul nasional, seperti IR 64. Pada
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
tahun berikutnya produktivitas dan produksi
padi nasional mengalami penurunan akibat
gangguan Organisme Pengganggu Tanaman
(OPT). Tahun 2008, Indonesia berhasil meraih
kembali swasembada beras dan varietas yang
banyak ditanam petani adalah Ciherang.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa
varietas unggul merupakan komponen teknologi
yang dapat meningkatkan produktivitas padi.
Nugraha (2004) menyatakan bahwa
penggunaan varietas unggul dan perbaikan
teknik budidaya telah mampu meningkatkan
produktivitas secara nyata. Daya hasil padi
per satuan luas meningkat dari 2-3 ton/ha
menjadi 4-6 ton/ha. Namun demikian, ekplorasi
pemanfaatan sumber genetik (varietas) tersebut
belum optimal. Selain itu, jika digunakan terus
menerus akan muncul masalah baru, yaitu
gangguan OPT (hama/penyakit), seperti wereng
dan tunggro. Oleh karena itu, pergiliran varietas
sangat perlu dilakukan.
Badan Litbang Pertanian melalui Balai
Penelitian Padi telah menghasilkan beberapa
varietas unggul baru padi inbrida, namun belum
semuanya dikenal dan dapat diadopsi oleh
petani. Ketersediaan benih sumber dan benih
sebar secara enam tepat belum dapat terpenuhi,
kinerja lembaga produksi dan pengawasan
benih belum berjalan optimum, penggunaan
benih unggul bermutu (bersertifikat) di tingkat
petani masih relatif rendah.
Untuk mendapatkan performa hasil
maksimal penggunaan varietas unggul baru,
memerlukan persyaratan-persyaratan khusus
“Presisi” dalam budidayanya seperti kesuburan
lahan, pemupukan, mengamankan dari OPT
(Anonim, 2003)dan/atau perlakuan spesifik
lainnya. Hal ini berarti bahwa penerapan varietas
unggul berproduktivitas tinggi harus dilakukan
pengawalan dan manajemen teknologi dengan
baik.
11
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Salah satu upaya meningkatkan adopsi
varietas unggul baru (VUB) padi inbrida untuk
menunjang swasembada pangan khususnya
beras secara berkelanjutan, dilakukan “Uji
Adaptasi Varietas Ungul Baru Padi Inbrida”
yang terintegrasi dalam kegiatan SL-PTT Padi
Inbrida. Tujuan pengkajian adalah mengetahui
kemampuan adaptasi dan mengenalkan varietas
unggul baru padi inbrida kepada petani, serta
respons petani terhadap varietas unggul baru.
Hasil pengkajian ini diharapkan diperoleh
varietas unggul baru padi inbrida spesifik
lokasi.
BAHAN DAN METODE
Pengamatan dilakukan terhadap karakter
pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah
anakan), umur panen, hasil dan respon petani
terhadap varietas baru yang dikenalkan.
Pengamatan hasil panen dilaksanakan secara
ubinan dan per petak.
Panen dilakukan sesegara mungkin, yaitu
apabila sebagian besar (90-95 persen) gabah
telah bernas dan berwarna kuning. Perontokan
gabah sesegera mungkin, paling lama 1-2 hari
setelah panen, menggunakan alat perontok.
Untuk mendapatkan mutu gabah yang lebih baik
dan harga yang lebih tinggi, gabah secepatnya
dijemur.
Pengujian
dilaksanakan
Pengujian
dilaksanan di 5 desa, yaitu Desa Pakin,
Margasari, Citamba, Kertamukti, dan Pasirhuni,
Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya.
Dasar pemilihan lokasi, di Kecamatan Rajapolah
petani sudah menerapkan teknologi budidaya
padi namun produktivitasnya masih rendah dan
petani jarang melakukan pergiliran varietas.
Waktu pengujian pada musim kemarau (MK1)
bulan Maret s,d, Juli 2010.
Gabah dirontok dari malainya dan
dibersihkan dari kotoran, kemudian ditimbang
dan diukur kadar airnya, Gabah Kering Panen
(GKP). Konversi hasil ubinan ke dalam
Gabah Kering Giling (GKG) dihitung dengan
menggunakan rumus berikut:
Uji adaptasi dan peragaan VUB ditanam
di lahan petani lokasi SL-PTT. Luas petak
setiap varietas sekitar 500 m2, sehingga luas
keseluruhan setiap lokasi yang merupakan
ulangan sekitar 2.500 m2 (Gambar 1).
Ka
: Kadar air (%)
GKP : Gabah Kering Panen
GKG : Gabah Kering Giling
A
B
C
D
E
Gambar 1. Tata Letak Uji Adaptasi dan Peragaan Varietas
Unggul Baru Padi Inbrida
Pengujian menggunakan rancangan acak
kelompok dengan 5 perlakuan varietas dan
diulang 5 kali yang merupakan desa tempat
pengujian.
Pelaksanaan pengujian di lapangan
dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
1. Pemilihan dan Perlakuan Benih
2. Penyiapan Lahan
3. Penanaman
4. Pemeliharaan (penyulaman, pemupukan,
penyiangan, dan pengendalian Organisme
Penggagu Tanaman.
12
Hasil GKG 14% = ((100-Ka)/86) x GKP
Keterangan:
Data hasil pengamatan kemudian diolah
dengan bantuan software SPSS Statistics17.0.
Analisis yang digunakan adalah analisis ragam.
Apabila didapatkan hasil bahwa perlakuan
berpengaruh nyata terhadap karakter yang
diamati, maka dilanjutkan dengan uji Duncan
untuk melihat perbedaan pengaruh antar
perlakuan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komponen Pertumbuhan
Hasil pengukuran tinggi tanaman dan
jumlah anakan (Tabel 1) menunjukkan bahwa
kelima VUB yang diuji memilikidaya adaptasi
tinggi terhadap kondisi agroekosistem lahan
sawah di Kecamatan Rajapolah, Kabupaten
Tasikmalaya. Hal ini ditunjukkan dengan tinggi
tanaman dan jumlah anakan yang sesuai dengan
deskripsi varietas.
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Tabel 1. DataTinggi Tanaman dan Jumlah
Anakan Beberapa Varietas yang Diuji
di Kecamatan Rajapolaj Tahun 2010.
No
Varietas
1
2
3
4
5
Inpari 1
Inpari 3
Inpari 4
Inpari 13
Mekongga
Tinggi
Tanaman (cm)
92,4
96,2
97,3
98,6
95,4
Jumlah
anakan
23ab
23ab
25c
26cd
22a
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 0,05
DMRT
Tabel 2 juga menunjukkan bahwa
tinggi tanaman rata-rata kelima VUB yang
diujitergolong sedang. Sementara itu, jumlah
anakan bervariasi. Varietas Inpari 13 memiliki
jumlah anakan terbanyak dibandingkan dengan
varietas lainnya, meskipun tidak berbeda nyata
dengan Inpari 4. Dengan demikian, Inpari 13
dan Inpari 4 memberikan pertumbuhan yang
lebih baik dibandingan dengan varietas Inpari
1, Inpari 3, dan Mekongga.
Komponen Hasil dan Hasil
Variabel komponen yang diukur/diamati
pada pengujian ini adalah jumlah anakan
produktif dan bobot 1000 butir. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa jumlah anakan produktif
Inpari 13 lebih banyak dibandingkan dengan
VUB lainnya (Tabel 2).
Tabel 2. Komponen Hasil pada Uji Adaptasi
VUB di Kecamatan Rajapolaj Tahun
2010.
No
Varietas
1
2
3
4
5
Inpari 1
Inpari 3
Inpari 4
Inpari 13
Mekongga
Jumlah
anakan
produktif
15a
16ab
17bc
18cd
16b
Umur
panen
110
110
117
103
117
Bobot
1000 butir
26,2cd
23,1a
25,2ab
25,4bc
26,8d
hal itu dicirikan dengan pertambahan organ
tanaman, ukuran tanaman dan pertambahan
berat yang berhenti pada masa vegetatif setelah
memasuki masa generatif. Menurut Sitompul dan
Guritno (1995), akumulasi biomassa ke bagian
tanaman yang bernilai ekonomis dalam hal ini
adalah pembentukan anakan produktif, maka
dapat dikatakan bahwa Inpari 13 tergolong ke
dalam tanaman yang efisien dalam pemanfaatan
produksi biomassa.
Tabel 2 juga menunjukkan bahwa bobot
1000 butir varietas Mekongga paling tinggi
dibandingkan dengan VUB lainnya. Bobot 1000
butir gabah terendah adalah Inpari 3.
Umur panen tanaman padi ditandai dengan
80% gabah telah menguning. Karakter umur
panen kelima VUB yang diuji sesuai dengan
deskripsi varietas.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa
produktivitas tertinggi dihasilkan oleh varietas
Inpari 4, namun tidak berbeda nyata dengan
varietas Inpari 13 (Tabel 3)
Tabel 3. Produktivitas Beberapa Varietas yang
Diuji di Kecamatan Rajapolaj Tahun
2010.
No
Varietas
1
2
3
4
5
Inpari 1
Inpari 3
Inpari 4
Inpari 13
Mekongga
Produktivitas (t/ha)
GKP
GKG
6,47a
5,87a
7,24bc
6,40ab
8,22d
7,45d
7,90cd
7,27cd
7,16ab
6,49bc
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 0,05
DMRT
Preferensi Petani
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama
menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 0,05
DMRT
Data preferensi petani terhadap beberapa
varietas yang diuji daya adaptasinya sangat
penting. Hal ini akan sangat membantu dalam
menetapkan rekomendasi variatas spesifik
lokasi.
Jumlah anakan produktif menggambarkan
adanya pertambahan biomassa tanaman
disebabkan proses pertumbuhan berasal dari
hasil fotosintesis, serapan hara dan air yang
diolah melalui proses biosintesis. Tanaman padi
mengalami pertumbuhan terbatas (determinate),
Hasil pengujian menunjukkan bahwa
sekitar 36% petani menyukai varietas Inpari
13, kemudian diikuti varietas Mekongga (25%),
Inpari 1 (16%), Inpari 4 (12%), dan Inpari 3
(11%). Inpari 4 meskipun produktivitasnya
tertinggi namun kurang disukai petani
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
13
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
khususnya di Kecamatan Rajapolah, Kabupaten
Tasikmalaya. Selain umurnya lebih lama, juga
rasa nasinya kurang disukai.
KESIMPULAN
1. Lima varietas yang diuji memiliki daya
adaptasi tinggi di 5 desa Kecamatan
Rajapolah.
2. Varietas unggul baru Inpari 13 memberikan
hasil tertinggi dibandingkan denganVUB
lainnya.
3. Meskipun secara statistik produktivitas
Inpari 13 tidak berbeda nyata dengan Inpari
4 namun petani lebih menyukai Inpari
13. Inpari 13 berumur pendek, sehingga
dapat digunakan untuk percepatan tanam,
meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari
2 menjadi 3 kali atau dari 3 menjadi 4 kali
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2003. Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Pangan dalam Kaitannya
dengan Sistem Pertanian Organik.
Makalah Pengembangan Teknologi
Padi di Hotel Kaisar Maret 2003.
Baehaki, A. 2003. “Undang-Undang No. 29
Tahun 2000 Tentang Perlindungan
Varietas Tanaman Merupakan Peluang
Industri Perbenihan Swasta Meraih
Keuntungan”. Makalah disajikan pada
Seminar dan Workshop Sosialisasi dan
Antisipasi Pelaksanaan Undang-Undang
Perlindungan Varietas Tanaman. Pusat
14
Studi Pemuliaan Tanaman. IPB Darnaga
Bogor, tanggal 20 Mei 2003.
Balitpa. 2004. Deskripsi Varietas Unggul Baru
Padi (Dikompilasi oleh : O. S Lesmana,
Husni M. Toha, Irsal Las, dan B.
Suprihatno). Balai Penelitian Tanaman
Padi (Balitpa), Sukamandi. 68h.
Harahap, Z. dan Silitonga. 1993. Perbaikan
Varietas Padi dalam Padi Buku 2.
Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, Bogor.
Ishaq, I, K. Subagyono, I. Nurhati, S. Murtiani,
dan S. Ramdhaniati. 2008. Pengelolaan
Tanaman dan Sumberdaya Terpadu
(PTT) Serta Perkembangan Pelaksanaan
Program Peningkatan Produksi Beras
Nasional (P2BN) di Jawa Barat. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa
Barat. Balai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian.
Badan Litbang Pertanian. 103h.
Ishaq, I dan S. Ramdhaniati, 2009. Petunjuk
Teknis Display Varietas. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa
Barat. h6-7.
Sitompul, S.M dan B. Guritno, 1995. Analisis
pertumbuhan tanaman. Gajah Mada
University
Press.
Bulaksumur,
Yogyakarta. h160-161.
Tjondronegoro, S.M.P., 2008. Padi: Tanaman
Ekspansif dari Timur ke Barat
h1-6 dalam Suyamto et al., 2008
(penyunting), Padi: Inovasi teknologi
dan ketahanan pangan, Sukamandi:
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi,
Badan Litbang Pertanian, Departemen
Pertanian. 512h. ISBN 978-979-540037-0 (jilid I).
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
KAJIAN EFEKTIVITAS SISTEM TANAM LEGOWO 2:1 DENGAN
MENGGUNAKAN METODE CAPLAK DAN KENCA
M. Iskandar Ishaq dan Wage R. Rohaeni
Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Jalan Kayuambon No. 80 Lembang – Bandung Barat 40391
ABSTRAK
Sistem tanam legowo merupakan teknologi
alternatif untuk peningkatkan produktivitas padi
sawah dengan meningkatkan populasi perluasan
lahan. Sistem ini masih sulit diadopsi oleh petani
terutama petani tanam karena membutuhkan
waktu tanam yang lebih lama dibanding tegel.
sehingga diperlukan teknik tanam legowo yang
efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
efektvitas cara tanam legowo dengan menggunakan
2 model yaitu Model A (menggunakan caplak)
dan Model B (menggunakan kenca). Legowo
yang diterapkan adalah legowo 2:1 dengan
jarak tanam 25 cm x 12.5 cm x 50 cm. tenaga
tanam yang digunakan adalah 13 orang dan
dilakukan pada luasan lahan 2000 m2. Hasil
penelitian menunjukkan Model A yaitu dengan
menggunakan caplak lebih efektif dibandingkan
Model B yang menggunakan kenca. Waktu ratarata yang dibutuhkan untuk menanam legowo
2:1 seluas 1 ha dengan menggunakan alat caplak
adalah 1.61 jam sedangkan dengan menggunakan
kenca membutuhkan waktu 2.84 jam.
PENDAHULUAN
Berbagai usaha dalam meningkatkan
produksi beras nasional telah dilakukan.
Percepatan peningkatan beras nasional dilakukan
dengan berbagai program diantaranya melalui
pendampingan teknologi SLPTT Padi sawah. Salah
satu kendala utama dalam peningkatan produksi
beras nasional adalah mulai berkurangnya lahan
produktif padi akibat konversi lahan menjadi
perumahan atau areal industri. Data menunjukkan
menurunan luas areal padi sawah sebesar 0,36
persen (40.000 ha) per tahun.Irawan et al. (2001)
menunjukkan bahwa pada periode 1981-1999
telah terjadi konversi lahan sawah nasional
1.627.514 ha dan 61,6% diantaranya terjadi di
pulau jawa. Sehingga satu-satunya jalan adalah
melakukan peningkatan produksi padi per luasan
hektar karena pencetakan lahan menjadi lahan
sawah sangat sulit dilakukan di Pulau jawa.
Salah satu peningkatan produksi per luasan
hektar padi adalah dengan meningkatkan populasi,
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
yaitu dengan sitsem tanam legowo. Sistem tanam
legowo-2 adalah salah teknologi alternative yang
telah dikaji dalam jangka waktu panjang (empat
tahun) dalam meningkatkan produksi padi per
hektar. Teknologi legowo dikembangkan untuk
memanfaatkan pengaruh barisan pinggir tanaman
padi (border effect) yang lebih banyak (Depatremen
Pertanian, 1995). Dengan sistem tanam legowo,
tanaman padi tumbuh lebih baik dan hasil lebih
tinggi karena luasnya border effect dan lorong
di petakan sawah sehingga menghasilkan gabah
yang lebih bernas. Hasil penelitianBachrein (
2010) menunjukkan bahwa dengan tersedianya
ruangan luas yang memanjang ke satu arah, maka
legowo-2 dibandingkan dengan sistem tegel,
memberikan beberapa keuntungan diantaranya:
peningkatan produksi secara nyata dan konsisten
dengan kisaran 12-26,9 dan memudahkan serta
mengurangi biaya produksi yang disebabkan
karena berkurangnya waktu dan biaya tenaga
kerja untuk penyiangan gulma dan pemupukan.
Permasalahan dari aplikasi sistem tanam ini
adalah kemauan dari tenaga tanam untuk menanam
sistem legowo. Jumlah bibit yang harus ditanam
lebih banyak sehingga membutuhkan tenaga dan
waktu tanaman lebih banyak dibandingkan tegel.
Petani tandur yang belum terbiasa akan merasa
sulit untuk mengaplikasikan sistem tanam ini.
Oleh sebab itu diperlukan kajian untuk mengetahui
sistem tanam legowo yang seperti apa yang dapat
mempermudah cara tanam legowo.
Terdapat 3 cara bertanam oleh petani
tandur saat ini diantaranya cara tanam dengan
menggunakan caplak, kenca, atau tanpa alat
ukur. Untuk cara tanam tanpa alat ukur maka
jarak tanam tidak teratur. Oleh sebab itu cara
tanam ini tidak dianjurkan untuk digunakan pada
sistem tanam legowo. Alat caplak dan kenca
menjadi rekomendasi untuk dikaji yang bertujuan
untuk melihat seberapa efektif penanaman
dengan menggunakan 2 cara ini yang nantinya
menjadi rekomendasi bagi petani apabila akan
mengaplikasikan sistem tanam legowo. Kajian ini
dilakukan pada saat pelaksanaan pendampingan
15
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
teknologi mendukung SLPTT di Kab. Karawang
– Jawa Barat.
ke depan atau tanam maju (tanju) bukan tanam
mundur (tandur).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
efektifitas penerapan sistem tanam legowo dengan
dua cara (caplak dan kenca).
(2) Model B :
• Lahan dicaplak menggunakan caplak legowo
2:1 yang telah dibuat dengan arah pencaplakan
hanya satu arah saja, yakni hanya ke arah
membujur dan tidak dilakukan pencaplakan ke
arah melintang, tetapi setelah tenaga pencaplak
selesai melakukan pencaplakan dilanjutkan
dengan memegang dan mengatur tali “kenca”
bersama dengan 1 orang lainnya. Sehingga
untuk proses pencaplakan serta pemegang
dan pengatur tali “kenca” dibutuhkan tenaga
2 orang.
• Tenaga tanam sebanyak 11 orang berdiri
menghadap ke arah melintang atau
menyamping dari arah legowo pada lahan
yang telah dicaplak. Tempat berdiri tenaga
tanam adalah pada bagian lahan yang luas
(legowo)-nya.
• Arah tanam menyamping dan tanam mundur
(tandur).
BAHAN DAN METODE
Pelaksanaan tanam lokasi Demfarm
PTT dilakukan selama 2 hari yaitu pada hari
minggu, tanggal 19 Juni 2011 sampai dengan
Senin, tanggal 20 Juni 2011. Umur bibit yang
dipergunakan berumur 20 hss, tanam 1-3 batang/
lubang, sistem legowo 2:1 dengan jarak tanam
diantara barisan tanaman 25 cm, jarak tanam di
dalam barisan tanaman 12,5 cm dan jarak antara
dua barisan tanaman (legowo) 50 cm (25x12,5x50
cm) dengan bantuan caplak legowo 2:1. Sekolah
lapangan (pelatihan) penerapan sistem tanam
legowo kepada jasa tanam dan petani dilakukan
langsung pada lokasi Demfarm PTT Padi Sawah.
Sekolah lapangan (pelatihan) sistem tanam
legowo dihadiri oleh 50 orang terbagi ke dalam
sebanyak 42 orang petani/jasa tanam berasal dari
desa setempat (Jayakerta) dan 8 orang petani/jasa
tanam berasal dari luar Desa Jayakerta. Dalam
SL sistem tanam legowo dihadiri oleh Kepala
Seksi Padi Distanhut Kab. Karawang berserta
staf (3 orang), Sekertaris BP4K beserta penyuluh
pertanian dari BP3K 3 orang).
Sebelum penanaman dilakukan pertemuan
sosialisasi sistem tanam legowo, pembuatan caplak
legowo sesuai jarak tanam yang dikehendaki
(25cm x 50 cm) (Gambar 2), pembuatan tali
“kenca” panjang 20 meter dan pada setiap jarak
12,5 cm diberi simpul sebagai tanda dan penerapan
dua model sistem tanam legowo 2:1. Adapun
model penanaman sistem tanam legowo 2:1 yang
diperkenalkan dan diuji-cobakan, yaitu :
(1) Model A :
• Lahan dicaplak menggunakan caplak legowo
2:1 yang telah dibuat dengan arah pencaplakan
dua arah, yakni pertama ke arah membujur
dan kedua dilanjutkan dengan pencaplakan
ke arah melintang. Masing-masing dilakukan
oleh 1 orang tenaga pencaplak pria. Sehingga
dibutuhkan 2 orang tenaga pencaplak.
• Tenaga tanam sebanyak 11 orang berdiri
menghadap ke arah membujur pada lahan
yang telah dicaplak. Tempat berdiri tenaga
tanam adalah pada wilayah legowo-nya.
• Arah tanam adalah dari belakang maju menuju
16
Gambar 1. Pelatihan pembuatan caplak legowo 2:1
Gambar 2. Pelatihan Tanam dan Kajian Penerapan
dengan Dua Model Sistem Tanam Legowo
2:1 (Model A Dan B)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil kajian terhadap penerapan
dua model tanam sistem legowo 2:1 (Model-A
dan Model-B) dengan jumlah tenaga kerja yang
terlibat adalah sama banyak yaitu 13 orang (2
orang pria dan 11 orang wanita), maka diketahui
bahwa penerapan tanam sistem legowo Model-A
membutuhkan waktu tanam 1,61 jam per ha
atau kelompok jasa tenaga tanam dalam 1 hari
atau 8 jam kerja dapat menyelesaikan pekerjaan
penanaman sistem tanam legowo 2:1 seluas 4,97
ha. Sedangkan penerapan Model-B membutuhkan
waktu tanam 2,84 jam per ha atau kelompok jasa
tenaga tanam dalam 1 hari (8 jam kerja) dapat
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
menyelesaikan pekerjaan penanaman sistem
tanam legowo 2:1 seluas 2,82 ha.
Tabel 1. Data estimasi waktu tanam
Cara tanam
legowo
Model A
(caplak)
Model B
(Kenca)
Jumlah
tenaga
tanam
13 orang
13 orang
Tabel 2. Kelebihan
model
Cara tanam legowo
Model A
Model B
Estimasi
Waktu tanam
waktu
yang dibutuhkan
terhadap luas
per hektar
tanam
8 jam untuk
1,61 jam
4.97 ha
8 jam untuk
2.84 jam
2,82 ha
dan
kekurangan
Kelebihan
Lebih cepat dan
cetakan di tanah
lebih jelas
Biaya pembuatan
alat lebih murah
(tambang saja)
alat lebih ringan
kedua
Kekurangan
Membutuhkan
biaya pembuatan
caplak dan berat
Lebih lambat
sistem tegel. Namun, beberapa permasalahan
masih dihadapi seperti daya adopsi petani terutama
juru tanam masih sangat rendah. Hal tersebut
karena sistem tanam legowo membutuhkan waktu
tambahan dibandingkan tegel.
Oleh sebab itu, dengan adanya data hasil
penelitian ini yang memberikan rekomendasi cara
tanam yang efektif untuk sistem tanam legowo
diharapkan dapat memberikan gambaran cara
mempermudah tanam legowo. Petani cenderung
lebih menyukai hanca yang sudah tercetak di
tanah dengan menggunakan caplak sehingga
tanam lebih cepat. Sedangkan apabila enggunakan
kenca (tambang jarak tanam), petani cenderung
merasa kagok (kurang leluasa untuk bergerak
bertanam. Hal inilah yang diduga membuat waktu
yang dibutuhkan untuk tanam legowo dengan
menggunakan caplak (Model A) lebih cepat
dibandingkan denggan menggunakan Kenca
(Model B).
KESIMPULAN
Namun demikian, terdapat kelebihan
dan kekurangan dari 2 model sistem tanam
legowo tersebut. Model-A meskipun lebih cepat
dibandingkan dengan Model-B tetapi terdapat
beberapa kekurangan, diantaranya adalah hasil
penanaman terlihat barisan tanaman kurang
lurus dan seringkali dijumpai jarak tanam dalam
barisan yang tidak sama atau sering dijumpai jarak
tanaman dalam barisan bukan 12,5 cm, tapi 25
cm. Sedangkan kelebihan penerapan sistem tanam
legowo 2:1 Model-B diantaranya barisan tanaman
terlihat lurus dan tanaman dalam barisan terisi
penuh oleh tanaman. Hal itu mengindikasikan
bahwa Model-A dapat dikembangkan oleh petani
dan jasa tenaga tanam setempat dengan syarat
pengawasan terhadap tenaga tanam agar tidak
ada tempat tanaman dalam barisan yang terlewat
atau tidak ditanami. Sedangkan Model-B masih
memiliki potensi dikembangkan dengan cara
lebih banyak dilakukan pelatihan kepada jasa
tenaga tanam agar penggunaan waktu tanam
dapat lebih efisien (lebih cepat), sebab penerapan
sistem tanam legowo 2:1 Model-B memiliki hasil
pekerjaan yang lebih baik dibandingkan dengan
Model-A.
Sistem tanam legowo sudah terbukti mampu
meningkatkan produktivitas padi sawah. Hasil
beberapa penelitian telah membuktikan hal
tersebut, diantaranya pada penelitian Pahrudin et
al. (2004), Bachrein (2010) dan BBP2TP (2011)
menunjukkan bahwa produktivitas padi dengan
sistem tanam jajar legowo lebih tinggi daripada
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penerapan legowo dengan menggunakan model
A (menggunakan caplak) lebih efektif 2 kali
lebh cepat dibandingkan model B (menggunakan
kenca).
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
mengenai waktu yang diperlukan untuk
menyamakan kecepatan tanam dengan cara tanam
tegel.
DAFTAR PUSTAKA
Bachrein, S. 2010. Keragaan dan pengembangan sistem
tanam legowo-2 pada padi sawah di Kecamatan
Banyuresmi. Abstrak JPTP. http://www.diperta.
jabarprov.go.id/index.php?mod=statistik&idM
enuKiri=520&idKategori=3&link=dataStatB
uah. Januari 2012.
Departemen Pertanian. 1995. Budidaya Mina Padi Azolla
dengan Tanam Jajar Legowo. Departemen
Pertanian. Jakarta. 32 hlm.
Irawan, B., S. Friyatno. A. Supriyatna, I.S. Anugrah, N.A.
Kitom, B. Rachman, dan B. Wiryono. 2001.
Perumusan modal kelembagaan konversi lahan
pertanian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi
Pertanian. Bogor.
Pahrudin, A., Maripul, dan P.R. Dida. 2004. Cara tanam
padi sistem tanam legowo endukung usaha
tanidi desa Bojong, Cikembar, Sukabumi.
Buletin Teknik Pertanian Vol. 9. No. 1.
17
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
KAJIAN STABILITAS BEBERAPA MODEL PENGELOLAAN TANAMAN
TERPADU (PTT) TERHADAP PRODUKTIVITAS PADI SAWAH PADA
BEBERAPA LOKASI DI JAWA BARAT
Hasmi Bandjar, Nana Supriatna, dan Wage Ratna Rohaeni
Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Jalan Kayuambon No. 80 Lembang – Bandung Barat 40391
ABSTRAK
Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu
(PTT) dari satu lokasi ke lokasi lain besar
kemungkinan terdapat perbedaan. Perbedaan
bisa berupa tingkat adopsi PTT, komponen
teknologi spesifik lokasi, dan perbedaan hasil
produksi akibat penerapan PTT. Tujuan kajian
ini adalah: (1) mengetahui pengaruh interaksi
perlakuan model PTT terhadap lokasi dan
(2) mendapatkan klarifikasi model PTT padi
inbrida spesifik lokasi. Penelitian dilaksanakan
di 10 lokasi (Jawa Barat bagian tengah dan
selatan), yaitu Caringin, Cibungbulang,
Cigudeg, Leuwiliang, Padalarang, Cipatat,
Cipeundeuy, Karangtengah, Warungkondang,
Bojongpicung, Gekbrong, dan Tanggeung. Di
masing-masing lokasi, penelitian menggunakan
rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT)
pada masing-masing lokasi dengan 5 model
teknologi PTT sebagai perlakuan diantaranya:
model A (PTT dasar+ Pengelolaan tanah sesuai
musim pola tanam+ Panen tepat waktu dan
gabah segera dirontokan + umur bibit >21
HSS); model B (PTT dasar + Pengelolaan tanah
sesuai musim pola tanam + Penggunaan bibit
muda umur < 21 hari + Tanam bibit 1-3 batang/
rumpun+ Panen tepat waktu dan gabah segera
dirontokan); model C (PTT dasar+ Pengelolaan
tanah sesuai musim pola tanam+ Penggunaan
bibit muda umur < 21 hari + Tanam bibit
1-3 batang/rumpun + pengairan berselang +
penyiangan menggunakan gasrok + Panen
tepat waktu dan gabah segera dirontokan);
model D (PTT dasar + Pengelolaan tanah
sesuai musim pola tanam + Penggunaan bibit
muda umur < 21 hari+ Tanam bibit 1-3 batang/
rumpun + Pengairan berselang+Penyiangan
menggunakan gasrok); model E( Penggunaan
VUB + Benih bermutu + Panen tepat waktu
dan gabah segera dirontokan + Sistem budidaya
petani). Ulangan dilakukan sebanyak 5 kali.
Varietas unggul baru yang digunakan sebagai
tanaman indikator adalah Inpari 4. Hasil kajian
menunjukan terdapat interaksi model PTT
18
dengan lokasi yang berpengaruh sangat nyata
terhadap produktivitas padi Inbrida. Model
– model PTT yang diterapkan tidak ada yang
stabil pada semua lokasi kajian. Model PTT
D adalah model PTT yang spesifik lokasi di
Cipatat Kab. Bandung Barat. Model PTT C
menghasilkan nilai produktivitas paling tinggi
untuk wilayah Leuwliang, namun model ini
memiliki amplitudo nilai produktivitas yang
tinggi antar lokasinya.
Kata kunci :
Stabilitas, Model PTT, padi, dan
produktivitas (GKP).
PENDAHULUAN
Peningkatan ketahanan pangan saat ini
lebih dititikberatkan pada komoditas padi.
Melalui program peningkatan produksi beras
nasional, peningkatan ketahanan pangan tersebut
didikung oleh dilaksanakannya SLPTT di semua
provinsi di beberapa kabupaten terpilih. BPTP
Jawa Barat telah melakukan pendampingan di
beberapa lokasi di Jawa Barat.
Penerapan
pengelolaan
tanaman
terpadu dari satu lokasi ke lokasi lain besar
kemungkinan terdapat perbedaan. Perbedaan
bisa berupa tingkat adopsi PTT, komponen
teknologi spesifik lokasi, dan perbedaan hasil
produksi akibat penerapan PTT. Berdasarkan
hasil petak demonstrasi yang dilakukan BPTP
menunjukkan peningkatan hasil yang berbedabeda dengan penerapan PTT bervariasi menurut
lokasi, tingkat, dan skala usaha. Hasil kajian
Bandjar et al. (2011a dan 2011b) menunjukkan
nilai produktivitas yang berbeda-beda pada
beberapa lokasi dari beberapa model PTT yang
diterapkan. Sebelumnya menurut Adisarwanto
et al. (2008) pada kasus komoditas kedelai,
penerapaan PTT berbeda pada setiap agroekologi.
Untuk itu diperlukan klarifikasi lebih lanjut
agar diperoleh paket/model teknologi spesifik
agroekologi untuk mendukung keberlanjutan
sistem produksi (sustainable agriculture).
Klarifikasi tersebut dapat menggunakan
beberapa pendekatan, salah satunya melalui
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
analisis stabilitas model AMMI (aditif main
effect and multiplication interaction). Analisis
ini lebih banyak digunakan pada bidang
pemuliaan untuk mengetahui stabilitas genetic
suatu galur ataupun varietas pada beberapa
lokasi (Matchik, 2002). Namun tidak menutup
kemungkinan bahwa analisis ini dapat digunakan
untuk mengetahui stabilitas model PTT pada
beberapa lokasi.
Lokasi-lokasi yang menjadi kajian untuk
melihat tingkat kestabilan model PTT ini adalah
wilayah Jawa Barat bagian tengah dan selatan.
Hal tersebut karena topografi yang hampir sama
yaitu lokasi-lokasi persawahan yang berada di
sekitar perbukitan. Tingkat produktivitas padi
sawah dari beberapa model PTT yang telah
dikaji pada masing-masing lokasi menunjukkan
indikasi perbedaan yang cukup tinggi, sehingga
model PTT yang diterapkan perlu dikaji tingkat
kestabilannya.
Kajian ini memiliki tujuan diantaranya:
1) menjelaskan interaksi model PTT terhadap
agroekologi yang berbeda (M x E), dan 2)
Padalarang, Cipatat, Cipeundey, Karangtengah,
Warungkondang, Bojongpicung, Gekbrong,
dan Tanggeung. Tempat kajian merupakan
lokasi demplot pengkajian dan peragaan PTT.
Penelitian ini dilakukan pada Musim Hujan
(MH) 2010/2011 secara serentak.
Bahan yang digunakan untuk penelitian
diantaranya benih VUB varietas Inpari 4
(sebagai varietas indicator), pupuk Urea, SP-36,
dan KCl, pupuk organik, dan pestisida. Peralatan
yang digunakan adalah Kit PUTS dan saprotan.
Penelitian PTT padi inbrida menggunakan
Rancangan Kelompok Lengkap Teracak
(RKLT) dengan 5 perlakuan dan diulang 5 kali
di 10 lokasi kajian. Dengan luas petak masingmasing perlakuan seluas 100 m2.Lima perlakuan
disajikan pada Tabel 1.
Pelaksanaan penelitian dimulai dengan
pengolahan tanah dan persiapan bibit.
Pengambilan sampel tanah dilakukan untuk
analisis tanah menggunakan Kit PUTS untuk
mendapatkan rekomendasi pupuk anorganik
Tabel 1.Daftar perlakuan paket komponen teknologi PTT
Model
A
B
C
D
E
Perlakuan
PTT Dasar + 7 +12+ umur bibit > 21 hari
PTT Dasar +7+ 8+9+12
PTT Dasar +7+8+9+10+11+12
PTT Dasar +7+8+9+10+11
1+2+12+ Sistem budidaya petani*)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Komponen PTT
Komponen teknologi PTT Dasar (1-6):
VUB
Benih bermutu
Pemberian pupuk organik
Cara tanam legowo 2:1
Pemupukan anorganik spesifik lokasi
Pengendalian OPT dengan PHT
Komponen PTT pilihan (7-12):
Pengelolaan tanah sesuai musim pola tanam
Penggunaan bibit muda umur < 21 hari
Tanam bibit 1-3 batang/dapur
Pengairan berselang
Penyiangan menggunakan landak/gasrok
Panen tepat waktu dan gabah segera dirontokan
Keterangan : *) sistem budidaya petani : sistem tanam tegel, pemupukan tidak menggunakan analisis tanah, dan pengendalian hama
berdasarkan kebiasaan petani.
untuk mendapatkan klarifikasi model PTT yang
spesifik pada lokasi kajian.
METODOLOGI
Lokasi, Waktu Penelitian, dan Rancangan
Percobaan
Penelitian dilaksanakan di 10 lokasi
(Jawa Barat bagian tengah dan selatan), yaitu
Caringin, Cibungbulang, Cigudeg, Leuwiliang,
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
P dan K yang dibutuhkan untuk perlakuan A
sampai D. Selanjutnya perlakuan masing-masing
diaplikasikan pada petak-petak percobaan.
Data pengamatan diantaranya tinggi
tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah gabah
isi/malai/ gabah hampa/malai, produktivitas.
Data hasil pengamatan kemudian diolah dengan
menggunakan analisis ragam gabungan dan
AMMI (aditif main effect and multiplication
interaction) dengan bantuan software SAS
19
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
system 9.0 dan minitab untuk mendapatkan
model PTT yang spesifik untuk suatu lokasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Ragam Gabungan
Berdasarkan hasil analisis ragam gabungan
terlihat bahwa semua sumber keragaman
terhadap hasil produksi berpengaruh sangat
nyata. Hal tersebut menjelaskan banyaknya
factor yang mempengaruhi keragaman produktivitas pada masing-masing lokasi. Model PTT
berpengaruh sangat nyata, begitupun dengan
pengaruh lokasi terhadap produktivitas.
Jika dilihat dari sumbangan keragaman yang
diberikan oleh masing-masing pengaruh (KT
sumber keragaman) terlihat bahwa pengaruh
lokasi merupakan penyumbang terbesar, disusul
oleh pengaruh model PTT dan interaksi Model
PTT dengan Lokasi.
Dengan demikian penerapan model PTT yang
sama akan menghasilkan hasil yang berbeda
pada lingkungan yang berbeda. Model PTT
yang baik pada slah satu lokasi, belum tentu
dapat diterapkan pada lokasi lain. Namun
demikian ada model PTT yang memiliki tingkat
kestabilan yang baik pada semua lokasi dalam
meningkatkan produktivitas. Stabil yang
dimaksud disini adalah model PTT tersebut
menghasilkan nilai produktivitas yang tidak
berbeda jauh antar satu lokasi dengan lokasi
lain.
Perbandingan produktivitas beberapa model
PTT padi sawah pada beberapa lokasi
Berdasarkan hasil analisis ragam gabungan
sebelumnya, model PTT berbeda sangat nyata
pada setiap lokasi yang berbeda dengan tingkat
interaksi model PTT yang diterapkan terhadap
Tabel 2. Analisis ragam gabungan karakter Produktivitas GKP (ton/ha) pada 10 lokasi.
Sumber Keragaman
Model PTT
Lokasi
Ulangan(Lokasi)
Lokasi*Model PTT
Catatan :
db
4
9
40
36
JK
KT
11.691
662.894
53.428
69.046
2.9228**
73.6549**
1.3357tn
1.9179**
F-hit
3.72
55.14
1.7
2.44
Pr > F
0.0062
0.0001
0.0102
0.0001
% kk
12.91
tn = tidak nyata, * = perlakuan berpengaruh nyata pada taraf 5%, ** = berpengaruh sangat nyata pada taraf 1%
Hasil analisis menunjukan bahwa terdapat
interaksi model PTT dengan lokasi yang sangat
nyata. Hal tersebut menunjukkan pengaruh
model PTT berbeda-beda pada setiap lokasi.
Vargas et al. (1998) menyatakan bahwa
terdapatnya interaksi genotype dan lingkungan
akan mempengaruhi keragaan dari tanaman.
agroekologi yang berbed sangat nyata pula
pada antar lokasinya. Terlihat pada Gambar 2,
perbedaan yang sangat signifikan pada nilai
produduktivitasnya.
Gambar 1 yang dipertegas oleh Tabel 3
menunjukkan terdapat perbedaan produktivitas
Gambar 1. Produktivitas pada masing-masing model PTT di setiap lokasi kajian
20
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
antar lokasi kajian. Nilai rata-rata produktivitas
paling kecil terdapat pada lokasi Karangtengah
(Kab. Bandung Barat) dan Tanggeung (Kab.
Cianjur) yang masing-masing memiliki nilai
produktivitas rata-rata 4.86 ton/ha dan 4.62 ton/
ha . Nilai rata-rata produktivitas paling tinggi
terdapat di lokasi Leuwiliang (Kab. Bogor)
sebesar 9.80 ton/ha. Varietas padi sendiri yang
diguanakan sebagai tanaman indikator adalah
Inpari 4. Berdasarkan deskripsi varietas BB
Padi (2010), Nilai potensi hasil dari varietas ini
adalah 8. 25 ton/ha. Dilihat dari segi varietas
saja, perbedaan produktivitas diduga lebih
disebabkan karena perbedaan kesuburan tanah.
Gambar 2 menunjukkan bahwa model PTT
C di Leuwiliang paling menonjol dibandingkan
model-model PTT lainnya. Produktivitasnya
paling tinggi namun fluktuatif antar lokasi.
Hal ini terlihat di lokasi Cigudeg paling
Analisis stabilitas Model PTT
Grafik biplot dapat memudahkan dalam
pengambilan kesimpulan. Hasil pengujian
pada beberapa lokasi menunjukkan terdapat
pengaruh interaksi antar perlakuan dengan
lingkungan yang sangat nyata. Apabila titik
koordinat dari model PTT semakin dekat dengan
titik pusat maka semakin stabil dan sebaliknya
(Sumertajaya, 2007). Artinya model PTT
tersebut stabil meningkatkan hasil pada semua
lokasi. Berdasarkan hasil kajian, model PTT A
dan C adalah paling jauh dari pusat koordinat.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua model
ini paling tidak stabil dalam meningkatkan hasil
produksi. Model PTT A adalah model paling
sederhana dimana komponen teknologi terdiri
dari varietas unggul baru dan benih bersertifikat
dengan sistem budidaya menurut petani. Hal
tersebut jelas bahwa budaya petani pada setiap
Gambar 2. Grafik biplot AMMI 1 dan 2 untuk model PTT pada 10 lokasi
rendah dibandingkan dengan model lainnya.
Mengetahui tingkat kestabilan dan model PTT
yang spesifik lokasi maka perlu analisis lebih
lanjut untuk menjelaskan interaksi yang terjadi
dari model PTT terhadap agroekologi pada
lokasi yang berbeda. Salah satunya adalah
melalui analisis stabilitas model PTT dengan
menggunakan grafik biplot.
Tabel 3. Perbandingan produkvitas rata-rata
antar lokasi
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Lokasi
Leuwiliang
Gekbrong
Warungkondang
Cipeundeuy
Padalarang
Bojongpicung
Cigudeg
Cipatat
Karangtengah
Tanggeung
Produkvitas ratarata (ton/ha)
9.8064
9.0776
8.0300
7.6144
6.7660
6.5584
6.3484
6.1680
4.8636
4.6232
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Duncan
grouping
a
b
c
c
d
de
de
e
f
f
lokasi akan berbeda sehingga hasilnyapun besar
kemungkinan berbeda. Sedangkan untuk model
PTT C adalah model paling lengkap dimana
semua komponen teknologi dasar dan pilihan
diterapkan. Model inipun tidak stabil dalam
meningkatkan hasil produksi, Hal tersebut
diduga pada proses penerapannya kurang efektif
dilaksanakan oleh petani kooperator karena
terlalu banyak komponen yang diterapkan.
Model ini sebenarnya berpotensi menghasilkan
nilai produktivitas yang tinggi karena semua
komponen PTT diterapkan. Banyaknya
komponen teknologi pada paket ini menjadi
kendala sendiri pada proses aplikasinya. Pada
Gambar 2, terlihat bahwa potensi hasil dengan
mengaplikasikan model C terutama pada lokasi
leuwiliang sangat menjanjikan dengan nilai
produktivitas 11.98 ton/ha. Tentunya untuk
mencapai hasil tersebut, penerapan harus benarbenar diaplikasikan oleh petani.
21
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Model PTT yang paling mendekati pusat
koordinat adalah Model PTT B namun jaraknya
masih cukup jauh dari pusat koordinat. Sehingga
belum dapat dikatakan bahwa model ini adalah
model stabil di beberapa lokasi kajian. Hal
ini menjelaskan bahwa tidak ada model PTT
yang stabil menghasilkan nilai produktivitas
yang baik pada semua lokasi, artinya aplikasi
model PTT berbeda-beda pada lokasi yang
berbeda. Hal tersebut karena dalam 1 model
PTT terdapat beberapa komponen teknologi.
Antar komponen satu dengan yang lain akan
ada efek interaksinya yang menyebabkan pada
1 lokasi akan berbeda dengan lokasi lainnya.
Deptan (2008) menyatakan bahwa prinsip PTT
menckup 4 unsur yaitu integrasi, interaksi,
dinamis dan partisipatif. Seperti telah dijelaskan
oleh Vandalisna (2008) bahwapengelolaan
tanaman terpadu bersifat spesifik lokasi
dengan memperhatikan asupan teknologi
(mengintegrasikan teknologi asli petani
dengan teknologi maju) dan keseimbangan
ekologis tanaman dengan lingkungannya
sehingga usahatani dapat berkelanjutan dan
menguntungkan dari segi ekonomi.
Biplot AMMI2 sebagai alat visualisasi dari
analisis AMMI dapat digunakan untuk melihat
model-model PTT yang stabil diterapkan pada
seluruh lokasi uji atau spesifik pada lokasi
tertentu. Model PTT dikatakan stabil jika berada
dekat dengan sumbu, sedangkan model PTT
yang spesifik lokasi adalah model yang berada
jauh dari sumbu utama tapi letaknya berdekatan
dengan garis lokasi. Penjelasan model tersebut
sama halnya seperti pendugaan tingkat
kestabilan suatu genotipe/varietas tanaman yang
dijelaskan Mattjik dan Sumertajaya (2000) pada
analisis AMMI. Dengan demikian, model PTT
D adalah spesifik untuk lokasi L2 (Cipatat).
Penilaian adaptasi suatu model PTT tidak
dapat disamakan seperti adaptasi genotype
tanaman. Model PTT melibatkan komponen
teknologi dan komponen daya adopsi petani,
artinya dalam satu model PTT terdapat interaksi
antar komponen didalamnya, sedangkan
stabilitas genotype melibatkan genetic
tanaman itu sendirian dengan lingkungan
tumbuhnya. Tidak ada factor sosial yang
mempengaruhi keragaan genotype tanaman
yang diuji pada lokasi yang berbeda. Lain
halnya model PTT, istilah terpenting dari
penerapan model PTT adalah tingkat adopsi
bukan adaptasi dari model PTT itu sendiri.
22
Oleh sebab itu evaluasi kesesuaian lingkungan
pengujian harus dilibatkan untuk mengkaji
tingkat kestabilan model PTT. Zambormias
et al. (2008) menyatakan bahwa kesesuaian
lingkungan bertalian dengan pemilihan lokasilokasi yang merupakan lingkungan yang sesuai
untuk meningkatkan produksi. Sehingga untuk
mengetahui tingkat kestabilan model PTT yang
lebih valid pengujian harus dilaksanakan pada
lokasi dengan tingkat kesuburan yang hampir
sama dan daya adopsi petani yang sama-sama
tinggi antar lokasi kajian.
KESIMPULAN
1. Terdapat interaksi Model PTT dengan
lokasi dan berpengaruh sangat nyata antara
terhadap nilai produktivitas padi sawah
inbrida. Demikian, tidak ada model PTT
yang stabil pada 10 lokasi kajian
2. Model PTT D adalah model yang spesifik
untuk lokasi Cipatat dan rata-rata paling
tinggi dihasilkan pada model PTT C di
lokasi Leuwiliang Kab. Bogor.
DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto T., D. Harnowo, Marwoto, Suhartina, Riwanodja,
dan H. Kuntyastuti. 2008. Prospek pengelolaan
tanaman terpadu dalam peningkatan produksi kedelai
di lahan sawah. Prosiding Simposium V Tanaman
Pangan. BBP2TP. Bogor. 599-607hal.
Bandjar, H., N. Sutrisna, dan WR. Rohaeni. 2011. Kajian
penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
padi inbrida spesifik lokasi di Bandung Barat.
Dipublikasikan di Seminar Ilmiah Nasional BB Padi:
Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Cekaman
Biotik dan Abiotik. 27-28 Juli 2011. Balai Besar
Penelitian Padi Sukamandi-Subang.
Bandjar, H., N. Sutrisna, dan WR. Rohaeni. 2011. Kajian
penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
padi inbrida spesifik lokasi di Kabupaten Bogor.
Seminar PHSL 2011 BB2TP Bogor.
Balai Besar Penelitian Padi. 2010. Deskripsi Varietas.
Sukamandi.
Departemen Pertanian. 2008. Sekolah Lapang Pengelolaan
Tanaman Terpadu Padi. Litbang Pertanian. Jakarta.
Matchik A dan IM. Sumertajaya. 2002. Perancangan Percobaan
dengan Aplikasi SAS dan Minitab Jilid 1. Bogor:
Jurusan Statistika FMIPA, Institut Pertanian Bogor.
Pengelolaan tanaman terpadu padi lahan rawa lebak. http://
www.litbang.deptan.go.id/berita/one/592/file/B2PTTRawaLebak.pdf.
Vandalisna. 2008. Konservasi lahan padi sawah (Oryza sativa
, L) dengan sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu
(PTT) didesa Aman Damai Kecamatan Kuala
Kabupaten Langkat.Tesis. USU. Sumatera Barat.
Vargas, M., J. Crossa, K. Sayre, M. Reynolds, M. E. Ramirez, M.
Talbot. 1998. Interpreting genotype x environment
interaction in wheat by Partial Least Square
Regression. Crop Sci. 38 (3) : 379 – 689.
Zambormias, E. dan J. Riry. 2011. Aplication of GGE Biplot
for stability and adaptation evaluation of genotypes
with multi environment trials data. Jurnal Budidaya
Pertanian 4: 84-93 hal.
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
TANGGAP PRODUKTIVITAS PADI SAWAH VARIETAS INPARI-13
TERHADAP DOSIS APLIKASI PEMUPUKAN YANG SAMA PADA LAHAN
SAWAH IRIGASI DI JAWA BARAT
Iskandar Ishaq dan Nandang Sunandar
Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Jalan Kayuambon No. 80 Lembang – Bandung Barat 40391
ABTRAK
Tujuan pengkajian mengetahui tanggap
produktivitas hasil panen varietas Inpari13 terhadap efektivitas penggunaan pupuk
Petroganik, Phonska dan Urea pada lahan sawah
di 17 kabupaten di Jawa Barat. Pengkajian
dilakukan melalui (a) pendekatan Partisipatif
dan (b) pendekatan Dengan (with) dan Tanpa
(without) penerapan Pengelolaan Tanaman
Terpadu (PTT). Metode yang dipergunakan
adalah Demplot. Pengumpulan data dilakukan
melalui observasi dan pengukuran terhadap
objek yang diamati. Analisis data dilakukan
secara deskriptif dan tabulasi. Hasil pengkajian
menunjukkan, bahwa pada umumnya lahan
lokasi demplot memiliki karakteristik tanah
berlumpur dan mudah dilakukan pengeringan
atau pengaturan air drainase dengan ketersediaan
air cukup dan dapat diatur, kecuali lokasi
demplot di Kabupaten Sukabumi, Cirebon
dan Kabupaten Tasikmalaya, terutama pada
saat musim kemarau. Produktivitas hasil panen
varietas Inpari-13 secara ubinan tertinggi
yaitu pada pertanaman demplot di Kabupaten
Bandung Barat (hasil 10,46 t/ha GKP) dan hasil
ubinan terendah di Kabupaten Bekasi (7,25 t/
ha GKP). Selisih peningkatan hasil demplot
dibandingkan dengan hasil petani sekitar paling
tinggi berturut-turut adalah Kabupaten Bandung
Barat 2,94 t/ha, Karawang 2,05 t/ha, Kuningan
1,88 t/ha, Sukabumi 1,80 t/ha, Sumedang 1,78 t/
ha, Bogor 1,62 t/ha Tasikmalaya 1,60 t/ha.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam
rangkapeningkatan
produksi
padi, pemerintah telah menggulirkan program
Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN),
diantaranya melalui kegiatan Sekolah Lapangan
Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) yang
telah dilaksanakan sejak tahun 2007. Pada
tahun 2011 pemerintah RI menetapkan sasaran
produksi padi sebesar 70,6 juta ton (Ditjen
Tanaman Pangan, 2011), sedangkan pemerintah
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
provinsi Jawa Barat menetapkan sasaran
produksi pada Tahun 2013 sebesar 13 juta ton
(Distan Prov. Jabar, 2011). Provinsi Jawa Barat
merupakan salah satu sentra produksi padi
yang berkontribusi sebesar 17,6% terhadap
produksi nasional. Namun demikian, upaya
peningkatan produksi padi sebesar 7% melalaui
program Peningkatan Produksi Beras Nasional
(P2BN) pada tahun 2011 guna mempertahankan
swasembada beras yang telah dicapai semakin
sulit. Hal itu antara lain disebabkan terjadinya
penyusutan lahan pertanian produktif dimana
umumnya merupakan lahan sawah berpengairan
teknis yang relatif subur beralih fungsi menjadi
berbagai kepentingan non pertanian, seperti
peruntukkan bagi lahan pemukiman dan lahan
usaha industri. Disamping itu adanya penurunan
sumberdaya air baik kualitas maupun kuantitas
dan terjadinya kompetisi dalam pemanfaatan
sumberdaya air bagi usaha non pertanian yang
semakin tinggi, perubahan iklim yang berdampak
kepada perubahan iklim mikro tanaman padi dan
peningkatan serangan organisme penggangu
tumbuhan (OPT), degradasi tingkat kesuburan
lahan yang disebabkan pemakaian lahan terlalu
intensif, pemakaian pupuk kimia (an-organik)
terlalu berlebihan dan lain sebagainya, sehingga
dengan adanya hambatan tersebut menyebabkan
penurunan tingkat produktivitas lahan dan
produksi padi.
Intensifikasi padi sawah dengan sistem
tergenang (anaerob) tidak hanya menghambat
berfungsinya kekuatan biologis tanah tetapi
juga menghambat perkembangan sistem
perakaran tanaman padi. Dalam kondisi
anaerob keanekaragaman hayati (biodiversity)
tanah akan terhambat. Pertanaman padi dengan
sistem aerob (lembab) sebagaimana diharapkan
dalam penerapan teknologi PTT melalui sistem
pengairan basah kering berselang (intermitten)
akan menghasilkan sistem perakaran paling
tidak sekitar 3-4 kali lebih besar dibandingkan
dengan sistem tergenang. Perkembangan sistem
perakaran yang optimal dan didukung oleh
23
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
keanekaragaman hayati dalam tanah dapat
meningkatkan potensi hasil padi. Salah satu
faktor yang dapat menentukan keanekaragaman
hayati tanah adalah aplikasi pupuk organik.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa
sekitar 60 persen areal lahan sawah di pulau
Jawa memiliki kandungan bahan organik kurang
dari 1 persen. Dengan demikian lahan sawah
yang selama ini merupakan tulang punggung
pertanian dalam memenuhi kebutuhan pangan
(beras) nasional, disinyalir tanahnya sudah
mulai sakit akibat kejenuhunan masukan pupuk
anorganik yang berlebihan (tidak berimbang).
Penggunaan pupuk anorganik berkonsentrasi
tinggi dan tidak proporsional (berimbang)
pada lahan sawah akan berdampak terhadap
ketidakseimbangan (ketimpangan) status hara
dalam tanah. Sistem pertanian lahan sawah
dapat menjadi berkelanjutan (sustainable)
apabila kandungan bahan organik tanah lebih
dari 2 persen.
intensif dan pemakaian pupuk kimia (anorganik) berlebihan, maka PT. Petrokimia
Gresik melaksanakan kegiatan Uji Efektivitas
Pupuk Petroganik (organik) dan Pupuk Phonska
(anorganik) di 17 kabupaten di provinsi Jawa
Barat yang bekerjasama dengan BPTP Jawa
Barat dalam kegiatan Pendampingan Teknologi
Mendukung Sekolah Lapangan Pengelolaan
Tanaman Terpadu (SL-PTT) serta dalam
pelaksanaannya melibatkan dinas pertanian dan
badan pelaksana penyuluhan di masing-masing
kabupaten. Pengkajian ini diharapkan dapat
mempercepat adopsi teknologi pada pengguna
(Adyana et al., 1993; Partohardjono et al.,
1993).
Berbagai jenis dan merek pupuk organik
telah diproduksi dan sudah beredar di pasaran
baik dalam bentuk pupuk organik cair maupun
padat (serbuk atau granul). Demikian pula
halnya dengan PT. Petrokimia Gresik telah
memproduksi pupuk organik padat dengan
nama merek dagang Petroganik. Dalam upaya
meningkatkan produksi padi melalui antisipasi
degradasi (penurunan) tingkat kesuburan
tanah sebagai akibat penggunaan lahan secara
Pendekatan
Tujuan pengkajian melaksanakan pengujian
efektivitas penggunaan pupuk Petroganik,
Phonska dan Urea pada beberapa lokasi lahan
sawah di Jawa Barat.
METODOLOGI PENELITIAN
Kegiatan uji efektivitas pupuk organik PT
Petrokimia Gresik dalam diseminasi teknologi
mendukung SL-PTT Padi Sawah TA 2011
di Jawa Barat dilakukan melalui beberapa
pendekatan, diantaranya :
(a) Partisipatif, artinya dalam setiap proses
diharapkan adanya partisipasi, keterlibatan
dan peran serta secara aktif dari semua
Tabel 1. Lokasi uji efektivitas pupuk organik PT Petrokimia Gresik dalam diseminasi teknologi
mendukung SL-PTT Padi Sawah TA 2011 Di Jawa Barat.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
24
Lokasi
Kabupaten
Karawang
Indramayu
Subang
Bekasi
Purwakarta
Bogor
Cianjur
Sukabumi
Bandung
Bandung Barat
Sumedang
Majalengka
Kuningan
Cirebon
Garut
Tasikmayala
Ciamis
Kecamatan
Jayakerta
Sliyeg
Sukasari
Sukakarya
Darangdan
Nanggung
Mande
Cikembar
Majalaya
Cipatat
Buah Dua
Ligung
Pancalang
Susukan
Banyuresmi
Ciawi
Ciamis
Desa
Jayakerta
Tambi Lor
Mandalawangi
Suka Makmur
Legoksari
Kalongliud
Bobojong
Cibatu
Majasetra
Mandalasari
Cilangkap
Sukawera
Tajur Buntu
Jatianom
Sukasenang
Sukamantri
Imbanagara Raya
Keltan
Marga Kaya-I
Pelita Massa
Bungur Jaya
Sri Kaya-II
Gawe Rancage
Cempaka
Rindu Alam
Sugih Mukti
Sijepat
Mekarjaya
Mulya Sanepa
Sukawera-II
Rukun Tani-1
Sri Ganggong
Senanghati
Mekar Jaya
Kuda Muntang
Demonstrator
H. Nana
Aan Subhan
H. Ayim
Suherman
Rohdi
Didi
Maman-Jajat
Didi-Ibing Satibin
Maman
Otim dkk
Tarmu dkk
Misngat dkk
Maduri dkk
Sodikin
Enceng dkk
Ade Iri dkk
Darli Hendarsah dkk
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
pemangku kepentingan (stakeholders),
baik sejak proses perencanaan, pelaksanaan
hingga proses evaluasi dan perumusan
teknologi.
(b) Dengan (with) dan Tanpa (without), artinya
dilakukan pengukuran data terhadap
beberapa hal yang menjadi cakupan
kegiatan melalui seperangkat instrumen
pengukuran. Pengumpulan data dilakukan
melalui teknik wawancara, observasi dan
pengukuran terhadap objek yang diamati
pada saat Dengan (with) introduksi teknologi
pemupukan yang direkomendasikan oleh
PT Petrokimia Gresik dibandingkan dengan
Tanpa (without) introduksi teknologi yang
direkomendasikan oleh PT Petrokimia
Gresik.
Lokasi dan Waktu
Pengujian efektivitas pupuk dilaksanakan
pada 17 lokasi (kabupaten) di Jawa Barat
sebagaimana disajikan pada Tabel 1.
Waktu pelaksanaan pengujian efektivitas
pupuk pada musim kemarau (MK-I) dan MKII Tahun 2011 sebagaimana disajikan pada
Tabel 2.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada pengujian,
diantaranya benih padi varietas Inpari-13,
pupuk organik (petroganik) dengan dosis 500
kg/ha, pupuk anorganik tunggal urea dengan
dosis 200 kg/ha, pupuk anorganik majemuk
NPK phonska dengan dosis 300 kg/ha, pestisida
dan bahan pembantu lainnya. Sedangkan, alat
yang digunakan pada pengujian ini, antara lain
alat pengolahan tanah (traktor, cangkul), arit,
dan alat lain yang diperlukan sesuai kebutuhan.
Metode
Pengujian menggunakan metode Petak
Demonstrasi atau Demontrasi Plot (Demplot).
Luas lahan
yang dipergunakan masingmasing demplot seluas 1 ha terdiri atas 1-6
petani pelaksana dalam satu hamparan. Untuk
mengetahui efektivitas penggunaan pupuk
Petroganik, Phonska dan Urea pada pertanaman
padi Varietas Inpari-13 dibandingkan dengan
petani disekitarnya yang menerapkan teknologi
pemupukan sesuai dengan kebiasaan setempat.
Pengumpulan dan Analisis Data
Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas
karakteristik sumberdaya lahan (tanah dan air)
Tabel 2. Waktu pelaksanaan uji efektivitas pupuk organik PT Petrokimia Gresik dalam diseminasi
teknologi mendukung SL-PTT Padi Sawah TA 2011 Di Jawa Barat.
No
Kabupaten
1
Karawang
Semai Benih
30/05/2011
2
3
4
Indramayu
Subang
Bekasi
24/04/2011
24/04/2011
08/05/2011
5
6
7
8
Purwakarta
Bogor
Cianjur
Sukabumi
28/04/2011
01/05/2011
10/05/2011
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Bandung
Bandung Barat
Sumedang
Majalengka
Kuningan
Cirebon
Garut
Tasikmayala
Ciamis
18/04/2011
20/04/2011
02/05/2011
09/04/2011
01/05/2011
04/05/2011
17/04/2011
18/04/2011
Waktu Pelaksanaan Tahapan Kegiatan
Tanam
Panen
FFD Awal
Supervisi
19/06/11
15/09/11
14/05/11
14/05 s.d
22/09/11
11/05/11
08/08/11
05/04/11
per minggu
13/05/11
06/08/11
10/05/11
22/06/11
28/05/11
19/08/11
08/05 s.d
26/05/11
08/06/11
14/05/11
25/08/11
13/05/11
Juni-Juli
19/05/11
15/08/11
13/05/11
13/05/11
25/05/11
20/08/11
12/05/11
25/06 s.d
25/07/11
05/05/11
08/08/11
14/04/11
29/04/11
05/05/11
04/08/11
28/04/11
26/06/11
20/05/11
10/08/11
11/05/11
23/06/11
26/04/11
21/07/11
13/05/11
1-2/07/11
18/05/11
19/08/11
10/05/11
02/07/11
25/05/11
16/08/11
20/05/11
16/06/11
04/05/11
09/08/11
13/05/11
01/06/11
05/05/11
03/08/11
10/05/11
11/07/11
FFD Panen
22/09/11
01/08/11
04/08/11
19/08/11
02/08/11
10/08/11
20/08/11
05/08/11
04/08/11
09/08/11
21/07/11
22/08/11
16/08/11
05/08/11
03/08/11
*) Keterangan : FFD = Farmer Field Day
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
25
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
serta karakteristik agronomis meliputi tinggi
tanaman, jumlah anakan aktif, jumlah anakan
produktif, umur tanaman dapat dipanen baik
sejak dari persemaian maupun sejak ditanam,
hasil panen dalam bentuk ubinan dan komponen
hasil (jumlah gabah isi per malai dan jumlah
gabah hampa per malai). Pengumpulan data
dilakukan melalui pengamatan (observasi)
terhadap 5 (lima) tanaman contoh (sampel)
pada masing-masing demplot. Analisis data
hasil pengamatan dilakukan secara dekriptif
dan tabulasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Umum Wilayah
Provinsi Jawa Barat merupakan salah
satu sentra produksi padi. Hal itu ditunjukkan
dengan potensi luas lahan baku yang dapat
ditanami padi cukup luas, yaitu 3.607.534 ha
(100%) terbagi ke dalam lahan sawah seluas
925.900 ha (25,67%) dan lahan kering seluas
2.681.634 ha (74.33%). Namun demikian
potensi lahan yang dapat ditanami padi dibatasi
oleh faktor ketersediaan air irigasi bagi potensi
pertumbuhan maksimum tanaman padi. Dari
lahan sawah seluas 925.900 ha (25,67%-nya
dari total luas lahan di Jawa Barat) berdasarkan
ketersediaan air irigasi, maka dapat digolongkan
ke dalam : (a) pengairan teknis 380.996 ha;
(b) pengairan setengah teknis 116.443 ha; (c)
pengairan sederhana 92.543 ha; (d) pengairan
pedesaan 158.304 ha; (e) tadah hujan 174.060
ha; (f) pasang surut 46 ha; lebak 567 ha; dan
polder lainnya 2.941 ha (Tabel 3). Luas tanam
Meskipun potensi luas lahan yang dapat
ditanami tanaman padi Di Jawa Barat masih
cukup luas, tetapi dalam kenyataannya
menghadapi berbagai masalah dan kendala,
diantaranya (a) pada lahan sawah irigasi teknis
dan setengah teknis, terutama pada daerah
yang termasuk kedalam golongan air III dan IV
terjadi penurunan debit air yang masuk kedalam
lahan sawah, baik yang diakibatkan penurunan
debit air (penyusutan) dari sumber irigasi
(waduk) itu sendiri maupun adanya kerusakan
fisik dan kurang optimumnya fungsi jaringan
irigasi teknis (jaringan irigasi primer, sekunder,
tersier dan saluran), dengan demikian pada
daerah golongan III dan IV sering terjadi defisit
air, sehingga terjadi kemunduran waktu tanam
bahkan sampai terjadi kegagalan panen, dan (b)
pada lahan sawah tadah hujan dan/atau lahan
kering lebih dipengaruhi oleh ketidakpastian
musim (kemunduran musim hujan) sebagai
akibat pengaruh kondisi iklim global (El-Nino
dan La-Nina), sehingga juga akan berdampak
kurang baik terhadap tingkat produksi dan
produktivitas tanaman padi, seperti kemunduran
waktu tanam, kekeringan, serangan organisme
pengganggu tanaman (OPT) yang akan
bermuara kepada penurunan hasil, produksi
bahkan sampai terjadi kegagalan panen (puso).
Kondisi Sumberdaya Lahan
Pada umumnya lahan lokasi demplot
memiliki karakteristik tanah yang berlumpur
dan mudah dilakukan pengeringan (pengaturan
air drainase). Dari seluruh lokasi demplot
pengujian sebanyak 15 lokasi (88%) tergolong
Tabel 3. Luas lahan sawah untuk pertanaman padi berdasarkan klasifikasi ketersediaan air dan
waktu tanam di Jawa Barat. Tahun 2009.
No
1
2
3
4
5
6
Klasifikasi Lahan Sawah
Irigasi Teknis
Irigasi ½ Teknis
Irigasi Sederhana
Irigasi Pedesaan
Tadah Hujan
Lebak, Ps Surut, dll.
Jumlah Baku Lahan
Luas Baku Lahan (ha)
1 kali tanam
Sementara Tidak
Ditanami
376.108
4.837
51
109.678
6.755
10
83.430
9.108
5
143.886
14.339
79
70.859
102.928
273
1.868
120
1.566
785.829
138.087
1.984
> 2 kali tanam
Jumlah Baku
Lahan (ha)
380.996
116.443
92.543
158.304
174.060
3.554
925.900
Sumber : Diperta Provinsi Jawa Barat (2009)
padi sawah di Jawa Barat dalam setahun adalah
1.709.745 ha dengan indeks pertanaman (IP)
rata-rata sebesar 1,8.
26
ke dalam tanah dengan karakteristik berlumpur
dan mudah dikeringkan yaitu lokasi demplot
di Kabupaten Karawang, Indramayu, Subang,
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Bekasi, Purwakarta, Cianjur, Bandung, Bandung
Barat, Sumedang, Majalengka, Kuningan,
Cirebon, Garut dan Kabupaten Tasikmalaya
dan sebanyak 2 lokasi (12%) tergolong kurang
berlumpur tapi tetap masih dapat dikeringkan
yaitu demplot di Kabupaten Bogor dan
Sukabumi.
Berdasarkan ketersediaan air, maka
sebanyak 14 lokasi demplot (82%) tergolong
ke dalam lahan dengan ketersediaan air cukup
dan dapat diatur yaitu di Kabupaten Karawang;
Indramayu; Subang; Bekasi; Purwakarta; Bogor;
Cianjur; Bandung; Bandung Barat; Sumedang;
Majalengka; Kuningan; Garut dan Ciamis dan
sebanyak 3 lokasi demplot (18%) tergolong ke
dalam lahan dengan ketersediaan air kurang
terutama pada musim kemarau seperti pada saat
itu yaitu di Kabupaten Sukabumi, Cirebon dan
Kabupaten Tasikmalaya.
Kondisi lahan dan pada demplot uji
efektivitas pupuk organik PT Petrokimia Gresik
Di Jawa Barat. MK-I dan MK-II Tahun 2011
disajikan pada Tabel 4.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Kondisi Sumberdaya Lahan
Tanah
Air
Karawang
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Indramayu
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Subang
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Bekasi
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Purwakarta
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Bogor
Dapat
Cukup mudah diatur
dikeringkan
Cianjur
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Sukabumi
Dapat
Kurang saat
dikeringkan
kemarau, mudah
diatur
Bandung
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Bandung Barat Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Sumedang
Berlumpur
Cukup dapat diatur
selalu
tergenang
Majalengka
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
14
Cirebon
15
Garut
16
Tasikmalaya
17
Ciamis
•
Diantara lima hama utama tanaman padi
yang diamati, maka secara umum hama
tikus merupakan hama yang paling tinggi
intensitas serangannya. Pada lahan sawah
lokasi demplot intensitas serangan tikus
rata-rata 10,46% lebih tinggi dibandingkan
dengan lahan sawah petani sekitar demplot
yaitu 9,16%. Dari 17 kabupaten lokasi
demplot, maka yang paling berat serangannya
berturut-turut adalah lokasi demplot di
Kabupaten Indramayu (40%), Bekasi (35%),
dan Karawang (20%), sedangkan lahan
sawah sebagai lokasi demplot di kabupaten
lain intensitas serangannya <10%, berturutturut adalah di Kabupaten Cirebon (8%),
Subang (7,5%), Ciamis (5%), Majalengka
(5%), Cianjur (2,5%), Tasikmalaya (2%),
dan Kabupaten Bandung Barat (0,5%).
•
Serangan hama dengan intensitas tertinggi
kedua setelah hama tikus adalah hama keong
mas. Pada lahan sawah lokasi demplot
serangan keong mas rata-rata 7% lebih tinggi
dibandingkan dengan lahan sawah petani di
sekitar lokasi demplot yaitu 4,75%. Wilayah
demplot yang terserang keong mas dengan
intensitas tertinggi beturut-turut adalah
Kabupaten Karawang (20%), Bekasi (5%),
Indramayu (2%) dan Majalengka (1%).
Serangan hama dengan intensitas tertinggi
•
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Kuningan
Dari seluruh lokasi kegiatan pengujian di
Jawa Barat berdasarkan pengamatan terhadap
intensitas serangan hama utama yang biasa
menyerang pertanaman padi, yaitu hama wereng
batang coklat (WBC), penggerek batang padi
pada fase vegetatif (sundep), penggerek batang
padi pada fase generatif (beluk), tikus dan hama
keong mas, diketahui sebagai berikut :
Lokasi
BPTP JABAR
13
Kondisi Sumberdaya Lahan
Tanah
Air
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Berlumpur dpt Kurang saat
dikeringkan
kemarau, mudah
diatur
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Berlumpur dpt Kurang saat
dikeringkan
kemarau, mudah
diatur
Berlumpur dpt Cukup mudah diatur
dikeringkan
Kondisi Hama dan Penyakit (Organisme
Pengganggu Tumbuhan)
Tabel 4. Kondisi lahan dan pada demplot
uji efektivitas pupuk organik PT
Petrokimia Gresik Di Jawa Barat.
MK-I dan MK-II Tahun 2011.
No
Lokasi
27
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
•
ketiga pada lahan sawah lokasi demplot
adalah sundep. Demplot petrokimia
intensitas serangan sundep rata-rata 5% lebih
tinggi dibandingkan dengan lahan sawah
petani sekitar demplot yaitu 4,6%. Lokasi
yang terlihat terdapat serangan sundep
(penggerek batang padi pada fase vegetatif)
bukan saja pada wilayah yang terletak di
daerah pantai utara (pantura) Jawa Barat,
seperti di Kabupaten Karawang, Indramayu,
Cirebon, Subang dan Bekasi melainkan juga
terlihat pada wilayah tengah dan selatan
Jawa Barat, seperti di Kabupaten Cianjur,
Bandung, Bandung Barat, Majalengka,
Kuningan, dan Kabupaten Tasikmalaya.
Serangan hama dengan intensitas tertinggi
keempat pada lahan sawah lokasi demplot
adalah beluk, tetapi dibandingkn dengan
lahan sawah petani sekitar demplot, maka
serangan beluk atau penggerek batang padi
pada fase generatif rata-rata intensitasnya
2,65% lebih rendah dibandingkan dengan
petani sekitar yaitu 6,3%. Sebaran wilayah
•
serangan beluk sama dengan wilayah
serangan sundep.
Serangan hama dengan intensitas tertinggi
kelima pada lahan sawah lokasi demplot
adalah WBC. Namun demikian, serangan
WBC pada lahan petani sekitar demplot
secara umum lebih tinggi yaitu 3%
dibandingkan dengan lahan sawah lokasi
demplot petrokimia yaitu 2,3%. Serangan
WBC terlihat pada lokasi lahan sawah yang
terletak di Kabupaten Bandung, Sumedang
dan Kuningan.
Keragaan serangan hama baik pada
lokasi demplot maupun petani sekitar pada 17
kabupaten di Jawa Barat disajikan pada Gambar
1 dan Tabel 5.
Upaya pengendalian hama tikus pada
beberapa lokasi dengan intensitas serangan yang
relatif tinggi seperti di Kabupaten Indramayu,
Karawang, Bekasi dan Cirebon telah dilakukan
melalui teknik pengendalian secara kombinasi,
diantaranya melalui penggunaan sistem bubu
Gambar 1. Intensitas serangan hama pada demplot uji efektivitas pupuk organik PT Petrokimia
Gresik Di Jawa Barat. MK-I dan MK-II Tahun 2011
Gambar 2. Hasil tangkapan tikus pada lokasi demplot uji efektivitas pupuk organik PT
Petrokimia Gresik di Kabupaten Karawang. MK-II 2011.
28
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Tabel 5. Keragaan intensitas serangan hama utama pada lokasi demplot uji efektivitas pupuk
organik PT Petrokimia Gresik Di Jawa Barat. MK-I dan MK-II Tahun 2011
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
*)
Lokasi
Karawang
Petroganik
Petani Sekitar
Indramayu
Petroganik
Petani Sekitar
Subang
Petroganik
Petani Sekitar
Bekasi
Petroganik
Petani Sekitar
Purwakarta*)
Bogor*)
Cianjur
Petroganik
Petani Sekitar
Sukabumi
Petroganik
Petani Sekitar
Bandung
Petroganik
Petani Sekitar
Bandung Barat
Petroganik
Petani Sekitar
Sumedang
Petroganik
Petani Sekitar
Majalengka
Petroganik
Petani Sekitar
Kuningan
Petroganik
Petani Sekitar
Cirebon
Petroganik
Petani Sekitar
Garut*)
Tasikmalaya
Petroganik
Petani Sekitar
Ciamis
Petroganik
Petani Sekitar
Intensitas Serangan Hama
Beluk
Tikus
WBC
Sundep
Keong Mas
0%
0%
1%
10%
2%
30%
20%
15%
20%
15%
0%
0%
3%
5%
4%
6%
40%
10%
2%
2%
0%
0%
5%
6%
4%
5%
7,5%
11%
-
0%
0%
-
20%
5%
35%
5%
-
-
-
-
0%
0%
3%
3%
2%
2%
2,5%
2,1%
0%
0%
0%
0%
-
-
0%
1%
-
5%
5%
-
-
-
-
0%
0%
2%
3%
0,5%
3%
0,5%
0,5%
-
2%
2%
-
-
-
-
0%
0%
2%
10%
2%
10%
5%
20%
1%
2%
0%
2%
3,2%
3,0%
2%
2%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
3%
3%
2%
2%
8%
15%
0%
0%
0%
0%
8,0%
3,0%
3%
3%
2%
2%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
5%
15%
0%
0%
Keterangan : tidak ada data.
perangkap atau trap barrier system (TBS),
pengemposan dan gerakan massa melalui
gropyokan. Sebagai contoh pada lokasi
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
demplot di Kabupaten Karawang berdasarkan
pengamatan selama 9 (sembilan) minggu hasil
tangkapan tikus melalui penerapan teknik TBS
29
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Tabel 6. Keragaan intensitas serangan penyakit utama pada lokasi demplot uji efektivitas pupuk
organik PT Petrokimia Gresik Di Jawa Barat. MK-I dan MK-II Tahun 2011
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
*)
Lokasi
Karawang
Petroganik
Petani Sekitar
Indramayu
Petroganik
Petani Sekitar
Subang
Petroganik
Petani Sekitar
Bekasi
Petroganik
Petani Sekitar
Purwakarta*)
Bogor*)
Cianjur
Petroganik
Petani Sekitar
Sukabumi*)
Bandung
Petroganik
Petani Sekitar
Bandung Barat
Petroganik
Petani Sekitar
Sumedang*)
Majalengka
Petroganik
Petani Sekitar
Kuningan
Petroganik
Petani Sekitar
Cirebon
Petroganik
Petani Sekitar
Garut*)
Tasikmalaya
Petroganik
Petani Sekitar
Ciamis
Petroganik
Petani Sekitar
Tungro
Intensitas Serangan Penyakit
VKR
VKH
BLB
0%
0%
0%
2%
0%
1%
5%
10%
0%
0%
1%
2%
0%
1%
5%
7%
-
-
-
5%
10%
0%
0%
-
0%
0%
-
0%
0%
-
5%
5%
-
0%
0%
-
0%
0%
-
0%
0%
-
4,4%
4,5%
-
-
-
-
5%
5%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0,5%
1,5%
2%
5%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
3%
3%
0%
0%
-
0%
0%
-
0%
0%
-
0%
0%
-
0%
0%
0%
0%
0%
0%
2%
2%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
Keterangan : tidak ada data.
dan Gropyokan diketahui, bahwa jumlah populasi
tikus yang tertangkap tertinggi berturut-turut
adalah pada minggu ke-2 (350 ekor/minggu)
dan minggu ke-6 (250 ekor/minggu). Keragaan
hasil tangkapan tikus di Kabupaten Karawang
disajikan pada Gambar 2.
Berdasarkan
pengamatan
terhadap
intensitas serangan penyakit utama pada
tanaman padi, yaitu penyakit tungro, virus kerdil
30
rumput (VKR), virus kerdil hampa (VKH) dan
hawar daun bakteri atau bacterial leaf blight
(Blb), diketahui bahwa penyakit hawar daun
bakteri atau BLB merupakan penyakit yang
paling tinggi intensitas serangannya, baik pada
lahan sawah lokasi demplot maupun lahan
sawah petani sekitarnya, terutama pada lokasi
berturut-turut di Kabupaten Karawang (5% vs
10%), Indramayu (5% vs 7%), Subang (5%
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
vs 10%), Bekasi 5% vs 5%), Bandung (5% vs
5%), Cianjur (4,4% vs 4,5%), Kuningan (3%
vs 3%), Majalengka (2% vs 5%) dan Bandung
Barat (0,5% vs 1,5%). Sedangkan penyakit
lain yang terlihat di lapangan adalah VKR dan
VKH terutama di Kabupaten Karawang dan
Indramayu dengan intensitas serangan relatif
rendah (ringan).
Intensitas serangan penyakit pada lokasi
demplot disajikan pada Tabel 6.
Karakteristik Agronomis Tanaman
Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman varietas Inpari-13 pada
pertanaman demplot berkisar 85,6 cm di
Kabupaten Bogor sampai dengan 112,4 cm di
Kabupaten Indramayu, sedangkan pada petani
pembanding di sekitar demplot tinggi tanaman
berkisar 79,62 cm (varietas Inpari-10) di
Kabupaten Sukabumi sampai dengan 108,6 cm
(varietas lokal Sogin) di Kabupaten Bandung.
Jumlah Anakan
Jumlah anakan aktif (fase vegetatif) varietas
Inpari-13 pada pertanaman demplot berkisar
dari yang paling sedikit yaitu 16,3 anakan di
Kabupaten Majalengka sampai dengan anakan
paling banyak yaitu 40 anakan di Kabupaten
Bandung Barat, sedangkan jumlah anakan aktif
pada pertanaman pembanding petani sekitar
demplot paling sedikit adalah 17 anakan pada
varietas Situ Bagendit di Kabupaten Kuningan
sampai dengan anakan aktif terbanyak yaitu 34
anakan pada varietas Ciherang di Kabupaten
Bandung Barat.
Jumlah Anakan Produktif
Jumlah anakan produktif (fase generatif)
varietas Inpari-13 pada pertanaman demplot
berkisar antara 14 anakan di Kabupaten Bekasi
sampai dengan 38 anakan di Kabupaten
Bandung Barat, sedangkan jumlah anakan
produktif pada varietas pembanding di lokasi
lahan petani sekitar demplot berkisar antara 14
anakan pada varietas Situ Bagendit di Kabupaten
Kuningan sampai dengan terbanyak 31 anakan
pada varietas Ciherang di Kabupaten Bandung
Barat.
Umur Panen
Umur panen tanaman, baik dihitung sejak
semai maupun sejak tanam maka umur varietas
Inpari-13 pada pertanaman demplot memiliki
umur panen cukup beragam yaitu berkisar dari
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
paling genjah yaitu berumur 103 hari setelah
semai (HSS) di Kabupaten Subang sampai
dengan berumur 115 HSS di Kabupaten Bandung.
Apabila umur panen dihitung sejak ditanam di
lapangan atau hari setelah tanam (HST), maka
diketahui bahwa paling genjah adalah berumur
83 HST di Kabupaten Cirebon dan paling dalam
adalah berumur 98 HST di Kabupaten Bandung.
Pada pertanaman pembanding diketahui bahwa
tanaman yang paling genjah dihitung sejak
semai adalah berumur 102 HSS varietas Inpari13 di Kabupaten Bekasi sampai dengan berumur
paling dalam berumur 125 HSS pada varietas
Mekongga di Kabupaten Indramayu, sedangkan
bila dihitung sejak tanam maka tanaman yang
paling genjah berumur 76 HST pada varietas
Inpari-13 di Kabupaten Bekasi sampai dengan
paling dalam berumur 104 HST pada varietas
Mekongga di Kabupaten Indramayu.
Jumlah Gabah Isi dan Jumlah Gabah
Hampa
Berdasarkan pengamatan komponen hasil
jumlah gabah isi dan jumlah gabah hampa pada
pertanaman demplot varietas Inpari-13, maka
diketahui bahwa jumlah gabah isi terbanyak
adalah 245 butir per malai pada pertanaman di
Kabupaten Bekasi dan jumlah gabah isi paling
sedikit sebanyak 134 butir per malai pada
pertanaman demplot di Kabupaten Cianjur dan
Sumedang. Jumlah gabah hampa paling sedikit
diketahui sebanyak 7 butir per malai pada
pertanaman demplot di Kabupaten Cirebon dan
jumlah gabah hampa paling banyak 56 butir per
malai pada pertanaman demplot di Kabupaten
Bogor dan Sumedang. Pada pertanaman
pembanding diketahui jumlah gabah isi
terbanyak adalah 160 butir per malai pada
varietas Sogin (lokal) di Kabupaten Bandung
dan jumlah gabah isi paling sedikit adalah 101
butir per malai pada varietas Situ Begendit di
Kabupaten Kuningan, sedangkan jumlah gabah
hampa paling sedikit adalah 7 butir per malai
pada varietas Mekongga di Indramayu dan
jumlah gabah hampa per malai terbanyak adalah
27 butir per malai pada varietas Mekongga di
Kabupaten Cianjur.
Hasil Panen
Berdasarkan hasil panen secara ubinan
pada pertanaman demplot diketahui, bahwa
tertinggi diperoleh pada pertanaman demplot di
Kabupaten Bandung Barat yaitu 10,46 t/ha GKP
dan hasil ubinan terendah pada pertanaman
31
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
demplot di Kabupaten Bekasi yaitu 7,25 t/
ha GKP. Namun demikian, bila dibandingkan
dengan hasil ubinan petani sekitar pada masingmasing lokasi demplot maka kenaikkan hasil
atau selisih peningkatan hasil diketahui paling
tinggi adalah peningkatan hasil demplot berturutturut di Kabupaten Bandung Barat yaitu dengan
peningkatan 2,94 t/ha dibandingkan dengan hasil
ubinan petani sekitar (10,46 t/ha vs 7,52 t/ha)
diikuti berturut-turut oleh Kabupaten Karawang
dengan peningkatan hasil ubinan sebesar 2,05 t/
ha (8,77 t/ha vs 6,72 t/ha); Kabupaten Kuningan
1,88 t/ha (10,12 t/ha vs 8,24 t/ha); Kabupaten
Sukabumi 1,80 t/ha (7,47 t/ha vs 5,67 t/ha);
Kabupaten Sumedang 1,78 t/ha (10,05 t/ha vs
8,27 t/ha); Kabupaten Bogor 1,62 t/ha (8,50 t/
ha vs 6,88 t/ha); Kabupaten Tasikmalaya 1,60
t/ha (9,10 t/ha vs 7,50 t/ha); dan Kabupaten
Majalengka 1,28 t/ha (8,94 t/ha vs 7,66 t/ha).
Peningkatan hasil ubinan pada lokasi
demplot di kabupaten lainnya meskipun masih
menunjukkan lebih tinggi dibandingkan dengan
hasil ubinan petani sekitar tetapi kenaikkannya
kurang dari 1 t/ha GKP, berturut-turut di
Kabupaten Bandung 0,96 t/ha; Kabupaten
Ciamis 0,76 t/ha; Kabupaten Purwakarta 0,67 t/
ha; Kabupaten Indramayu 0,66 t/ha; Kabupaten
Cirebon 0,60 t/ha; Kabupaten Subang 0,59 t/ha;
dan Kabupaten Cianjur 0,10 t/ha, sedangkan di
Kabupaten Bekasi hasil ubinan antara demplot
dengan petani sekitar tidak berbeda dan di
Kabupaten Garut demplot belum panen sehingga
belum dapat diketahui hasil ubinannya.
Pencapaian hasil panen yang beragam di
berbagai lokasi disebabkan adanyan interaksi
genotipe (varietas Inpari-13) dan lingkungan
(status hara tanah dan aplikasi pemupukan)
menyebabkan terjadinya perbedaan respons
tanaman pada beberapa kondisi lingkungan
(Finlay and Wilkinson, 1963; Eberhart and
Russel, 1966). Hasil pengamatan karakteristik
agronomis, hasil dan komponen hasil disajikan
pada Lampiran 1.
KESIMPULAN DAN SARAN
• Pada umumnya lahan lokasi demplot
memiliki karakteristik tanah yang berlumpur
dan mudah dilakukan pengeringan atau
pengaturan air drainase dengan ketersediaan
air cukup dan dapat diatur, kecuali lokasi
demplot di Kabupaten Sukabumi, Cirebon
dan Kabupaten Tasikmalaya, terutama pada
saat musim kemarau.
• Hama tikus merupakan hama yang paling
32
•
•
tinggi intensitas serangannya, terutama
di Kabupaten Indramayu, Bekasi, dan
Kabupaten Karawang dengan intensitas
10,46% lebih tinggi dibandingkan dengan
lahan sawah petani sekitar demplot dengan
intensitas 9,16%. Sedangkan, penyakit yang
paling tinggi intensitas serangannya pada
lahan sawah lokasi demplot maupun lahan
sawah petani sekitarnya adalah hawar daun
bakteri atau BLB dengan intensitas berkisar
0,5% sampai dengan 10%.
Hasil panen secara ubinan pada pertanaman
demplot tertinggi pada pertanaman demplot
di Kabupaten Bandung Barat (hasil 10,46
t/ha GKP) dan hasil ubinan terendah di
Kabupaten Bekasi (7,25 t/ha GKP).
Selisih
peningkatan
hasil
demplot
dibandingkan dengan hasil petani sekitar
paling tinggi berturut-turut adalah Kabupaten
Bandung Barat 2,94 t/ha, Karawang 2,05
t/ha, Kuningan 1,88 t/ha, Sukabumi 1,80
t/ha, Sumedang 1,78 t/ha, Bogor 1,62 t/
ha Tasikmalaya 1,60 t/ha dan Kabupaten
Majalengka 1,28 t/ha GKP.
DAFTAR PUSTAKA
Adyana, M.O., M. Syam dan I. Manwan. 1993.
Percepatan proses adopsi teknologi dalam M.
Syam, Hermanto, H. Kasim dan Sunihardi
(eds.). Kinerja Penelitian Tanaman Pangan.
Bogor. h.183-199.
Distan Prov. Jabar. 2011. Program dan Kegiatan
Perbenihan Tanaman Pangan dalam Mendukung
P2BN dan Swasembada di Jawa Barat Tahun
2012. Materi disajikan pada Pertemuan
Koordinasi Perbenihan Padi dan Palawija pada
tanggal 11-13 Desember 2011 di Lembang.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi
Jawa Barat. 32h.
Ditjen Tanaman Pangan, 2011. Pra Angka Ramalan
(ARAM) III Produksi Tanaman Pangan Tahun
2011. Materi disajikan pada Rapat Pimpinan
Kelembagaan Kementerian Pertanian pada
tanggal 26 Oktober 2011 di Yogyakarta.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan,
Kementerian Pertanian. 107h.
Eberhart, S.A., and W.A. Russell. 1966. Stability
parameters for comparing varieties. Crop Sci.
6: 36–40.
Finlay, K.W., and G.N. Wilkinson. 1963. The analysis
of adaptation in a plant breeding programme.
Aust. J. Agric. Res. 14: 742–752.
Partohardjono, S., I.S, Ismail, Subandi, M.O. Adyana
dan D.A. Darmawan. 1993. Peranan sistem
usahatani terpadu dalam upaya pengentasan
kemiskinan di berbagai agroekosistem dalam
M. Syam, Hermanto, H. Kasim dan Sunihardi
(eds.). Kinerja Penelitian Tanaman Pangan.
Bogor. h.143-182.
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
PENGKAJIAN PENGENDALIAN PENYAKIT JAMUR AKAR TEH DI
PERKEBUNAN RAKYAT
Agus Nurawan
Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Jalan Kayuambon No. 80 Lembang – Bandung Barat 40391
ABSTRAK
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan
memadukan penerapan berbagai komponen
teknologi serta pemanfaatan sumberdaya
hayati/nabati dan musuh alami dengan
sasaran mempertahankan dan meningkatkan
produktivitas tanaman teh rakyat. Disamping itu
keberadaan musuh-musuh alami dan lingkungan
dapat dipertahankan. Upaya mengendalikan
secara kimiawi umumnya menjadi pilihan utama,
karena hasilnya lebih cepat nampak. Namun
ketergantungan terhadap pestisida kimiawi dan
meningkatnya harga pestisida, sehingga tidak
terjangkau oleh daya beli petani. Salah satu
alternatif pengendalian yang murah dan mudah
yaitu dengan memanfaatkan biofungisida
Trichoderma koningii, danbelerang sebagai
hasil teknologi ramah lingkungan Badan Litbang
Pertanian. Pengkajian/penelitian ditujukan
untuk mengendalikan penyakit jamur akar yang
disebabkan oleh Ganoderma pseudoferreum.
Pengkajian dilakukan dilahan petani peserta
SL-PHT di Desa Cileunca, Kecamatan Bojong
Kabupaten Purwakarta. Menggunakan rancangan
demplot dengan luasan 2-3 ha tujuannya untuk
mengetahui efektifitas biofungisida. Tahap
pertama, dilakukan pemetaan pola penyebaran
penyakit serta prosentase serangan penyakit
jamur akar ini.
Kata Kunci:
B i o f u n g i s i d a , Tr i c h o d e r m a
koningii, Jamur akar.
PENDAHULUAN
Teh (Cammelia sinensis), merupakan salah
satu komoditas unggulan perkebunan yang
menempati prioritas utama di Jawa Barat. Hal ini
cukup beralasan karena Jawa Barat merupakan
penghasil teh terbesar di Indonesia, dengan
kontribusi 70% terhadap produksi teh nasional.
Luas perkebunan teh di Jawa Barat mencapai
107.040 hektar, dari luasan tersebut Perkebunan
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Teh Rakyat merupakan yang terbesar (52.630
ha) dibandingkan dengan Perkebunan Besar
Swasta (21.259 ha) dan Perkebunan Besar
Negara (53.571 ha) (Biro Pusat Statistik, 2009).
Masalah utama petani teh perkebunan rakyat
adalah rendahnya produktivitas dan harga
pucuk teh serta gangguan hama dan penyakit.
Hal ini berkaitan dengan berbagai faktor, seperti
pemeliharaan tanaman yang kurang intensif
yang dapat mengakibatkan penurunan produksi
serta kualitas pucuk teh. Akibat kenaikan harga
sarana produksi menyebabkan tingginya biaya
yang dikeluarkan untuk pemeliharaan, hal ini
menjadi penyebab kurangnya pemeliharaan
tanaman, pada akhirnya produksi dan kualitas
pucuk teh menurun. Menurut Widayat dkk,
(2000) bahwa biaya yang dikeluarkan untuk
pengendalian hama sebesar 10 – 15% dari
seluruh biaya produksi. Harga pucuk teh yang
rendah pada tingkat petani dan harga pestisida
yang tinggi mengakibatkan pengendalian
hama dan penyakit tidak sampai pada sasaran,
karena terjadi pengurangan dosis yang tidak
sesuai anjuran, sehingga hama menjadi resisten
terhadap pestisida tertentu .Salah satu faktor
penghambat dalam peningkatan produksi pucuk
di kebun teh adalah serangan hama dan penyakit
yang dapat menyebabkan kehilangan hasil.
Upaya untuk menciptakan tanaman sehat dan
terbebas dari serangan hama dan penyakit perlu
dilakukan agar tanaman teh dapat berproduksi
secara optimal (Arifin, 1997). Penyakit akar yang
menyerang tanaman teh sampai sekarang masih
merupakan salah satu penyakit yang penting.
Dimana serangan penyakit tidak dapat dibiarkan
begitu saja, karena lambat laun serangan akan
meluas yang mengakibatkan kerugian semakin
meningkat, baik dalam kematian tanaman
maupun dalam biaya pengendaliannya.
Penyakit akar merupakan penyakit yang sulit
diberantas, karena gejala yang tampak di atas
permukaan tanah biasanya merupakan gejala
33
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
lanjut, sehingga perdu teh yang terserang sudah
tidak dapat tertolong lagi. Bahkan perdu yang
terserang penyakit akar sebanyak 1% dari total
tanaman maka kehilangan produksi dalam
waktu sepuluh tahun akan sebesar 10% dari
potensi hasil pucuk apabila areal tersebut tidak
terserang penyakit akar.
Pengendalian penyakit akar pada tanaman
teh sampai sekarang masih menggunakan cara
tradisional, yaitu dilakukan pembongkaran
pada tanaman yang terserang. Usaha tersebut
memerlukan waktu lama dan hasilnya
kurang memuaskan. Untuk memecahkan
masalah tersebut diatas, telah dilakukan
penelitian pengendalian penyakit akar dengan
memanfaatkan mikroorganisme tanah yang
bersifat antagonisme terhadap jamur akar. Salah
satu mikroorganisme yang sudah terbukti dapat
menekan jamur akar yaitu jamur Trichoderma sp.
Jamur ini ternyata bersifat antagonisme terhadap
jamur akar dan merupakan biofungisida yang
cukup efektif dan aman terhadap pencemaran
lingkungan (Arifin, 2000).
Jamur Trichoderma dapat hidup pada
kisaran pH 3 – 7, tetapi pertumbuhan yang
terbaik terjadi pada kisaran pH 4.5 oleh karena
itu pada tanah-tanah yang memiliki kisaran pH
lebih besar dari 6 penggunaan biofungisida
sebaiknya dikombinasikandenganbelerang.
Belerang selain dapat menurunkan
pH tanah, belerang juga bersifat toksik
terhadap Rigidoporuslignosus dan unsur ini
dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman
(Sinulingga, 1996).
Pemberian belerang
justru merangsang pertumbuhan T. koningii,
baik percobaan lapang maupun laboratorium
menunjukkan bahwa T. koningii mempunyai
toleransi untuk tumbuh pada media dengan kadar
belerang yang tinggi (Basuki dan Sinulingga,
1996).
Jamur Trichoderma bersifat antagonisme
terhadap jamur patogen dapat menyebabkan lisis
dan penciutan pada hifa Ganodermaboninensis
yang menyerang kelapa sawit (Abadi, 1997))
dan G. pseudoferreum yang menyerang pada
tanaman teh (Arifiin, et. al, 1989). Peristiwa in
kemungkinan disebabkan adanya enzim B-(1-3)
glukonase dan kitinase yang dihasilkan oleh
34
jamur Trichoderma (Chet, et. al. 1979 dalam
Bekti, 1988). Selain itu jamur Trichoderma
juga dapat mengeluarkan substansi toksik yang
difusikan kedalam medium berupa antibiotik
yang larut dalam khloroform termasuk
trichodermin dan antibiotik peptida yang dapat
menghambat pertumbuhan Fomesannosus
(Dennis dan Webster, 1971)
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Pengkajian dilaksanakan di desa Cileunca,
Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta.
Lokasi tersebut diharapkan dapat mewakili
wilayah (sentra) teh perkebunan rakyat di Jawa
Barat dan merupakan daerah endemik penyakit
akar. Melibatkan 7 orang petani di kelompok
tani SLPHT tersebut. Di kelompok tani tersebut
sebagian besar sudah mengikuti pelatihan SLPHT.
Pengkajian akan dilaksanakan mulai tahun
2004, selama 12 bulan dimulai pada bulan Januari
sampai Desember 2004. Perlakuan dilakukan
musim kemarau dan musim penghujan.
Metode Pengkajian
Penelitian diakukan di kebun teh rakyat di
daerah Jawa Barat, terutama yang daerah endemi
penyakit akar. Kemudian dilakukan pembuatan
peta serangan jamur akar serta penyebarannya.
Rencana perlakuan yang akan di lakukan di
lapangan antara lain : (a) Pengendalian dengan
menggunakan serbuk belerang yang tujuannya
untuk memperbaiki lingkungan dalam tanah
yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan
jamur Trichoderma sp secara alami, (b)
pengendalian biologi dengan menggunakan
jamur Trichoderma dosis 50 gr/tanaman, (c)
campuran antara penggunaan belerang 50 g + 50
g Trichoderma sp. (d) kontrol. ( Arifin, 2004).
Perlakuan dicoba musim kemarau dan musim
penghujan. Model perlakuan ada 2 jenis yaitu:
( 1) Tanaman yang ada dalam plot dibongkar
seluruhnya, kemudian dilakukan penanaman
baru dalam plot percobaan dengan klon
Gambung 3, dan (2) tanaman yang terserang
berat saja yang dibongkar kemudian ditanami
kembali dengan bibit klon Gambung 3. Kedua
model tersebut perlakuannya sama.
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
petani terhadap teknologi menggunakan alat
kuesioner.
Gambar 1. Model 1 semua tanaman terserang dalam plot
dibongkar kemudian dilakukan penanaman baru
dengan klon Gambung 3.
Karakter yang diamati dalam penelitian ini
antara lain:
1. Pengaruh perlakuan belerang, Trichoderma
sp dan kombinasinya. terhadap intensitas
penyakit jamur akar (tahun 2005)
2. Prosentase kematian tanaman dilakukan
setiap bulan (%)
3. Peta penyebaran penyakit Jamur Akar
4. Respon dan umpan balik petani tehadap
teknologi.
Pengkajian
ini
dilakukan
melalui
pendekatan penelitian FDR (Farmer Driven
Research), setiap unit pengkajian 5 x 4 m,
dilakukan pada satu hamparan dengan luas 5
ha, melibatkan petani koperator sebanyak 7
orang, direncanakan akan dilakukan dalam 3
perlakuan, 1 kontrol dengan 3 ulangan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gejala Serangan penyakit.
Gambar 2. Model 2, tanaman asal dalam plot tersebut tidak
dibongkar
Cara Kerja
•
Sebelum perlakuan perlu dilakukan survey
dan pemetaan serangan jamur akar di
lapangan dan tindakan-tindakan yang pernah
dilakukan oleh petani selama ini.
•
Hasil survey terhadap tingkat serangan
jamur akar dan tindakan yang pernah
dilakukan oleh petani, kemudian ditentukan
perlakuan yang disesuaikan dengan kondisi
di lapangan.
•
Menetapkan lokasi bekas serangan penyakit
akar dan areal tersebut sebelum di ploting
harus dilakukan pembongkaran bekas
tanaman yang terserang.
•
Tanaman yang sudah dicabut dibersihkan
dari lokasi tersebut dengan di bakar.
•
Dilakukan ploting dengan ukuran petak
percobaan disesuaikan dengan kondisi di
lapangan.
•
Perlakuan di lapangan disesuaikan dengan
perlakuan yang sudah ditentukan.
•
Menghitung analisis usahatani dan respons
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Penyakit jamur akar merah anggur adalah
penyakit akar yang paling berbahaya dalam
perkebunan teh terutama pada daerah dataran
rendah dan sedang (< 900 m dpl.). Gejala dini
dari penyakit akibat patogen ini sulit dideteksi,
bila terlihat gejala luar (visual) berupa mulamula daun menuguning sedikit-demi sedikit.
Gejala kuning ini dari waktu ke waktu semakin
meluas. Gejala lanjut tanaman tampak layu
seperti disiram air panas, kemudian daun
menjadi rontok akhirnya tanaman mati. Apabila
diadakan pembongkaran tanaman, maka akan
terlihat miselium yang berwarna putih baik
pada akar tunggang maupun akar lateral. Pada
bagian akar tanaman yang mati itu ditekan atau
dipijit dengan menggunakan tang, maka akan
keluar cairan. Waktu gejala awal terlihat sangat
bervariasi sejak tanaman sehat sampai dengan
terlihat menunjukkan gejala sakit berkisar antara
1 sampai dengan 3 minggu. Sebenarnya pada
saat gejala visual belum nampak, akar sudah
terinfeksi oleh jamur, namun masa inkubasinya
masih berlangsung. Sedangkan proses dari
timbulnya gejala serangan hingga tanaman
mati rata-rata antara 2 minggu sampai dengan
1 bulan.
35
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Gambar 3. Gejala awal serangan penyakit jamur akar, nampak
daun sudah mulai menguning
Gambar 6. Setelah tanaman dibongkar terlihat akar vertikal dan
lateral terserang jamur, dengan ditandai miselium
yang berwarna putih dan jaringan kayu terlihat
berwarna kehitaman.
Gambar 4. Gejala penyakit akar selanjutnya adalah daun gugur
dan yang tersisa hanya ranting-ranting saja.
Gambar 7. Serangan lebih banyak pada kebun teh yang tidak
terpelihara dengan baik.
Gambar 5. Gejala selanjutnya tanaman teh yang tersisa hanya
ranting-ranting saja.
Gambar 8. Akibat serangan jamur akar,
banyak berkurang.
populasi tanaman
Penyebab penyakit
Beberapa jenis penyakit akar pada tanaman
teh : (1) Penyakit akar merah anggur disebabkan
oleh patogen Ganoderma pseudoferreum, (2)
Penyakit akar merah bata Poria hypolateritia,
36
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
(3) Penyakit akar hitam (Rosellinia arcuata dan
R. Bunodes), (4) Penyakit leher akar (Ustulina
maxima) dan (5) Penyakit kanker belah
(Armilaria mellea) (Pusat penelitian Teh dan
Kina, 1997).
Penyakit akar merah anggur ini,
merupakan penyakit yang sangat berbahaya
dalam perkebunan teh terutama pada daerah
sedang dan rendah dan pada tanah latosol. Di
Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta
ini merupakan perkebunan teh dataran rendah
(< 900 m dpl.) dominan yang menyerang
adalah patogen G. pseudoferreum. Penyebaran
penyakit ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain, kondisi tanah latosol yang kondusif
untuk pertumbuhan dan perkembangan jamur,
dan adanya pohon pelindung yang peka
terhadap jamur akar seperti Albizia falcata, A.
Sumatrana, Glyricidia sepium sangat membantu
penyebaran penyakit. Di Kecamatan Bojong,
Kabupaten Purwakarta petani menyisipkan
tanaman jenjing (Albizia sp.) sebagai tanaman
sela, sehingga membantu penyebaran penyakit,
disamping tunggulnya dapat merupakan media
untuk pertumbuhan jamur akar tersebut.
Cara pengendalian
Petani teh di Kecamatan Bojong, Purwakarta
pada umumnya tidak mengendalikan penyakit
jamur akar ini secara khusus. Tapi bila terdapat
serangan tanaman yang cukup parah dan tanaman
mulai mengering, tanaman tersebut dibongkar
untuk dijadikan kayu bakar. Tetapi dalam
penelitian Isdiyanto dan Martosupono, (1996)
pengendalian jamur akar dengan menggunakan
agensia hayati Trichoderma koningii serta
belerang cukup efektif untuk mengendalikan
penyakit akar merah G. Pseudoferreum pada
tanaman teh. Dosis terbaik adalah 20 g/0,50
m3. Namun perlakuan kombinasi pemberian
antara T. Koningii 15-20 g ditambah belerang
20 g/0,50 m3 juga memberikan hasil yang
terbaik. Karena ada interaksi yang positif antara
pemberian pupuk belerang dengan T. Koningii.
Interaksi tersebut disebabkan karena serbuk
belerang yang diberikan akan menurunkan pH
tanah, sehingga tanah menjadi masam , dan
kondisi tersebut secara tidak langsung akan
menghambat perkembangan G. Pseudoferreum
di pihak lain akan memacu perkembangan T.
Koningii.
Prosentase serangan jamur akar
Serangan
penyakit
jamur
akar
G.pseudoferreum sangat merugikan khususnya
di Kecamatan Bojong, karena dapat mematikan
tanaman dengan prosentase serangan rata-rata
6,48% selama 7 bulan.
Bila dilihat data di atas, pada bulan Juli
sampai dengan Oktober 2004 peningkatan
serangan secara visual sedikit, karena pada
bulan-bulan tersebut keadaannya cukup kering
karena musim kemarau. Sebaliknya pada bulan
11 dan 12 serangan patogen jadi meningkat,
karena keadaan tanah sangat lembab, karena
Tabel 1. Prosentase serangan jamur akar dari 7 pemilik kebun yang dijadikan plot pengamatan.
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Nama Petani
Sangkan
Holil
Enok
Saefuloh
H.Mahfudin
Aos
Enen
Jumlah
Populasi
(tan)
4.000
1.600
5.000
1.600
3.200
2.400
2.400
20.200
6
159
81
75
55
150
111
123
754
7
165
101
82
60
165
126
134
833
Jumlah serangan (tan) Bulan :
8
9
10
11
172
181
198
250
117
120
124
149
90
92
98
124
64
69
80
84
173
180
185
199
134
147
160
165
138
145
158
167
888
934
1.003 1.138
membongkar tanaman tersebut, masih banyak
bagian akar yang tertinggal dan merupakan
inokulum yang dapat membantu penyebaran
penyakit tersebut. Pada umumnya petani
tidak melakukan perlakuan apapun baik untuk
pencegahan maupun untuk pengendalian. Hasil
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
12
304
158
140
96
205
186
220
1.309
Rata-rata
(%)
7,60
9,87
2,80
6,00
6,41
7,75
9,17
6,48
hujan sudah mulai turun. Hal ini sejalan dengan
penelitian Arifin (2004), serangan penyakit
akar banyak dijumpai pada tanah laterit tua,
juga dibantu dengan kondisi tanah yang lembab
perkembangan penyakit akar akan lebih baik
dan meningkat.
37
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Peta penyebaran penyakit jamur akar
Hasil survei sementara di beberapa Desa
Cibeber yang berada di 2 wilayah Kecamatan
Kiara pedes dan Kecamatan Bojong. Tanaman
teh yang terserang jamur akar cukup menyebar,
dan penyebarannya cenderung tidak mempunyai
pola yang jelas. Cenderung menyebar ke segala
penjuru. Namun bila dibandingkan di kedua
kecamatan tersebut, maka Kecamatan Bojong
tingkat serangannya lebih tinggi. Penularan
penyakit akar ini berdasarkan pengamatan
melalui kontak akar dengan akar baik dengan
tanaman teh lagi maupun dengan akar tanaman
inang yang mengandung inokulum.
Gambar 9. Persentase serangan jamur akar di desa Cileunca,
Bojong, Purwakarta
38
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
Kecamatan Bojong prosentase serangan selama
6 bulan adalah 6,48%.
Perlakuan T. koningii pada musim kemarau
tidak ada pengaruh terhadap perkembangan
penyakit jamur akar ini, karena kelembaban
yang kurang optimal untuk perkembangan
agensia hayati tsb.
DAFTAR PUSTAKA
= Tanaman sehat
= Tanaman sakit
Gambar 10. Pola penyebaran penyakit akar di pertanaman teh
rakyat desa Cibeber, Kabupaten Purwakarta.
= Tanaman sehat
= Tanaman sakit
Gambar 11. Pola penyebaran penyakit akar di pertanaman
teh rakyat desa Cileunca, Kecamatan Bojong,
Kabupaten Purwakarta.
Luas areal yang diamati dalam pembuatan
peta pola dan penyebaran penyakit jamur akar
ini masing-masing kurang lebih 2 ha. Di desa
Cibeber, Kecamatan Kiarapedes, serangan
penyakit jamur akar ini dimulai dari pinggir
areal, namun setelah diamati selama 6 bulan
penyebarannya tidak mempunyai pola tertentu,
misalnya mengikuti arus air hujan, dari dataran
tinggi ke rendah. Ternyata penyebaran penyakit
loncat-loncat secara sporadis, baik dari arah
utara, selatan, barat dan timur. Hal ini semakin
terbukti, bahwa penularan dan penyebaran
penyakit akibat adanya kontak antara tanaman
yang sakit dengan tanaman sehat. Baik antara
tanaman teh, maupun antara tanaman teh dengan
tanaman inang (Albizia falcata atau Glyricidia
sepium).
KESIMPULAN
Peta penyebaran penyakit jamur akar
tidak mempunyai pola yang khusus, sporadis
dan dapat menyebar ke segala penjuru. Untuk
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Abadi, A.L., 1997. Biologi Ganoderma boninensis
pada kelapa sawit
(Elaeis gunensis)
dan pengaruh beberapa mikroba tanah
antagonistik terhadap pertumbuhan .
Fakultas Pasca Sarjana IPB. 147 hal.
Anonimous, 1997. Petunjuk kultur tehnis tanaman
teh. APPI. Pusat Penelitian teh dan Kina
Gambung.
Arifin, I.S. 1997. Beberapa penyakit penting dan
penegendaliannya pada tanaman teh.
Prosiding Pertemuan Aplkasi teknologi
Pertanian tanaman kakao dan teh. Gambung
26-27 Nopember 1996. Hal 44-50.
rifin, I.S. 2000. Potensi antagonisme
jamur
Trichoderma terhadap penekanan jamur
akar Poria hypolateritia. Jurnal Penelitian
Teh dan Kina. Pusat Penelitian Teh dan
Kina Gambung, APPI. Vol.3(3) Hal. 98102.
Arifin, I.S. 2004. Implementasi Pengendalian
penyakit akar dengan biofungisida di
perkebunan teh. Bahan In house training
PTPN VIII, 24-26 Agust 2004.
Basuki dan W. Sinulingga. 1996. Penyakit akar
putih pada tanaman karet, gejala penyakit,
pengendalian hayati, dan saran-saran
pengendalian penyakit. Warta Pusat
Penelitian Karet. Vol 15 (2).Hal. 87-95.
Bekti, D.W.S.
1988. Pengujian antagonisme
Aspegillus niger dan Trchoderma sp.
terhadap Rhizoctonia solani pada pesemaian
kopi. Fak. Pertanian IPB.
Dennis, C dan J. Webster. 1971.Antagonism of
Fomes annosus in the Rhizosphere of grey
adler (Alnus incana) and Norway Spruce
(Pica abeis). Eur. Jounal. Path. 10 : 385395.
Biro Pusat Statristik. 2009. Jawa Barat Dalam Angka.
Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Hal. 276
Sinulingga, W. 1996. Usaha-usaha untuk mengatasi
meningkatnya serangan penyakit akar putih
pada tanama karet. Warta pusat penelitian
Karet. Vol. 15(2). Hal. 96-104.
Widayat, W. 2000. Budidaya Teh organik dan
prospeknya di masa mendatang. Prosiding
Pertemuan teknis teh Nasional. Bandung
8-9 Nop. 1999. Pusat Penelitian teh dan
Kina Gambung.
39
Buletin Hasil Kajian Vol. 1, No. 1 Tahun 2011
40
BPTP JABAR
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Download