analisis hubungan antara eksposur nilai tukar terhadap tingkat

advertisement
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA EKSPOSUR NILAI TUKAR TERHADAP
TINGKAT PENGEMBALIAN SAHAM PADA INDUSTRI MANUFAKTUR
SUBSEKTOR PRODUKSI MAKANAN PADA BURSA EFEK DI INDONESIA
DAN JEPANG
Hernanda Wicaksono
Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia
E-mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini meneliti tentang adanya hubungan antara eksposur nilai tukar terhadap tingkat
pengembalian dengan membandingkan perbedaaan besarnya pengaruh yang terdapat pada negara
berkembang dan negara maju. Untuk variabel dependennya adalah tingkat pengembalian saham
dan untuk variabel independennya adalah eksposur nilai tukar dan indeks pasar saham. Untuk
negara berkembang menggunakan sampel pada perusahaan yang ada di Indonesia dan untuk
negara maju menggunakan sampel dari perusahaan yang ada di Jepang. Metode yang digunakan
untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan regresi time series untuk tahap pertama dan
regresi cross sectional untuk regresi tahap kedua. Hasil dari penelitian ini menghasilkan
perbedaaan besarnya tingkat signifikansi eksposur nilai tukar dari negara berkembang
(Indonesia) sebesar 26.92%, sedangkan dari negara maju (Jepang) sebesar 8,73%.
Abstract
This study researching about the existence of the relationship between exposures value of the
exchange against rate of return with comparing differences the magnitude of influence of which
contained on developing countries and developed countries. For the dependent variable is stock
returns and for the independent variable is exposure exchange rate and index stock market. For
emerging countries use the sample of on companies which exist in Indonesian and for developed
countries use the samples from companies who exist in Japan. Methods which used for resolve
this problem is with regression time series for the first stage and regression cross sectional for
regression second stage. The results of this research generate differences in the magnitude of
level of significance from developing countries (Indonesia) amounted to 26.92%, whereas from
developed countries (Japan) amounted to 8.73%.
Key Word : exchange rate exposure, stock return, market index
Analisis hubungan…, Hernanda Wicaksono, FE UI, 2013
1.Pendahuluan
Nilai tukar suatu negara ditentukan oleh satu
unit mata uang terhadap mata uang negara
lain. Jika kondisi perekonomian suatu
negara berubah, maka nilai tukarnya pun
akan berubah secara substansial. Hal ini
disebabkan
oleh
beberapa
faktor
fundamental seperti tingkat suku bunga,
tingkat inflasi, permintaan dan penawaran
dari dua negara yang mata uangnya
ditentukan oleh nilai kursnya. Selain faktor
nilai tukar, indikator makroekonomi suatu
negara adalah Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG).
Perubahan
nilai
tukar
merupakan
ketidakpastian makroekonomi yang dihadapi
oleh setiap perusahaan. Dengan adanya
globalisasi, maka pasar akan menjadi
semakin terbuka terhadap perdagangan dan
teknologi, sehingga jumlah perusahaan yang
terpengaruh secara langsung dan tidak
langsung terhadap nilai tukar semakin
meningkat.
Menurut Utami Rahayu (2003), telah
terbukti secara empiris bahwa variabel
makroekonomi seperti inflasi, suku bunga,
dan nilai tukar berpengaruh secara signifikan
terhadap tingkat pengembalian pada emiten
yang terdaftar di BEJ. Pandangan tradisional
beranggapan bahwa perubahan nilai tukar
mata uang di suatu negara akan diikuti
dengan perubahan harga saham. Menurut
Jones (2000) dalam bukunya yang berjudul
Investment Analysis and Management
menyebutkan
bahwa
harga
saham
merupakan indikator yang paling sensitif
dalam perekonomian suatu negara. Harga
saham terbentuk atas permintaan dan
penawaran dari sebuah sekuritas. Permintaan
dan penawaran ini sangat tergantung dari
ekspektasi investor.
Dalam mengindikasikan perkembangan
keadaan perusahaan dalam ekonomi suatu
negara, pasar modal memegang peranan
penting. Para peneliti yang telah melakukan
penelitian pada pasar modal menggunakan
banyak data di beberapa negara, namun
belum memberikan hasil yang pasti
mengenai hubungan tersebut. Pemilihan
metode analisis juga dapat memberikan hasil
yang berbeda dari setiap penelitian. Melihat
berbagai macam penelitian yang telah
dilakukan tentang pasar, maka penulis ingin
membuktikan pengaruh dari perubahan nilai
tukar terhadap tingkat pengembalian (return)
saham di Indonesia dan Jepang. Untuk
membandingkan
seberapa
besar
signifikansinya pada negara berkembang
dan negara maju.
Berdasarkan Bartram dan Bodnar (2012)
yang meneliti hampir semua negara di dunia
yang membandingkan emerging market dan
developed market, Indonesia yang termasuk
dalam emerging market memiliki tingkat
signifikansi yang sangat tinggi mengenai
tingkat pengembalian saham non-financing
terhadap eksposur nilai tukar yaitu sebesar
35,3 %. Presentase ini termasuk sangat
tinggi jika dibandingkan dengan negaranegara lain. Jepang yang termasuk dalam
developed
market
memiliki
tingkat
signifikansi yang tidak terlalu tinggi atau
berada dalam tingkat fraksi sedang. Tingkat
signifikansi mengenai eksposur nilai tukar
yang ada pada perusahaan di Jepang sebesar
11,1%.
Foreign exchange rate exposure merupakan
dampak perubahan nilai tukar pada
perusahaan. Klasifikasi industri, kondisi
persaingan presentase perdagangan luar
negeri dan kapitalisasi pasar merupakan
faktor ekonomi yang penting dalam
menentukan ukuran eksposur terhadap harga
saham.
Ada tiga jenis exposure yang disebabkan
oleh perubahan nilai tukar, yaitu economic,
translation, dan transaction. Translation dan
transaction exposure dijelaskan dalam
perhitungan akuntansi yang didefinisikan
Analisis hubungan…, Hernanda Wicaksono, FE UI, 2013
dengan nilai buku dari asset dan liabilities
yang dinominasikan dalam mata uang asing.
Sedangkan economic exposure merupakan
sensitifitas
nilai perusahaan terhadap
perubahan nilai tukar. Pada tingkat
corporate,
perubahan
nilai
tukar
mempengaruhi nilai perusahaan karena
future cashflow perusahaan akan berubah
seiriing dengan fluktuasi nilai tukar. Dengan
kata lain, perubahan nilai tukar menjadi
implikasi penting bagi penghambilan
keputusan financial dan profitabiitas
perusahaan.
Penelitian yang dilakukan oleh Adler dan
Dumas (1984) menganalisis pengaruh nilai
tukar terhadap profitabilitas dan nilai
perusahaan (economic exposure). Mereka
menjelaskan bahwa meskipun perusahaan
beroperasi
secara
domestik,
dapat
terpengaruh oleh nilai tukar jika harga dan
outputnya dipengaruhi oleh perubahan kurs.
Bodnar (1993) menjelaskan tentang tingkat
eksposur dalam industri di negara seperti
Canada, Jepang, dan USA. Beberapa
industri di ketiga negara tersebut
terpengaruh secara signifikan terhadap nilai
tukarnya.
Karena pentingnya dampak fluktuasi nilai
tukar terhadap nilai perusahaan, maka
penulis terdorong untuk menganalisis
seberapa besar pengaruh perubahan nilai
tukar terhadap tingkat pengembalian
(return) saham perusahaan pada industri
manufaktur sehingga dapat dilihat pengaruh
perubahan nilai tukar terhadap perubahan
harga
saham
perusahaan.
Industri
manufaktur
dipilih
menjadi
sampel
penelitian dikarenakan memiliki dampak
secara langsung terhadap nilai tukar yang
meskipun memiliki orientasi penjualan
secara lokal tetapi menggunakan bahan baku
impor. Menurut Bodnar dan Marston (2000),
perubahan nilai tukar dapat mempengaruhi
perusahaan melalui berbagai cara seperti
perusahaan berproduksi di dalam negeri
untuk kebutuhan penjualan domestik dan
luar negeri (ekspor) dan perusahaan
berproduksi dengan menggunakan bahan
baku impor.
2. Metode Penelitian
Objek observasi pada penelitian ini adalah
seluruh perusahaan non financial industri
manufaktur subsektor food production yang
terdaftar pada Bursa Efek di Indonesia dan
Jepang.
Pengeliminasian
perusahaan
financial merupakan hal biasa yang
dilakukan pada penelitian mengenai perilaku
pengaruh nilai tukar. Hal ini dilakukan
karena perusahaan berbasis keuangan
dianggap sebagai pemakai dan juga
penyedia instrumen derivatif yang membuat
mereka mempunyai faktor-faktor tersendiri
dalam mengelola risiko. Clark dan Judge
(2005) menyebutkan bahwa perusahaan
financial tidak dimasukkan dalam sampel
penelitian karena perusahaan financial
mempunyai strategi pengelolaan risiko yang
mencakup perlindungan nilai dan transaksi
spekulatif akibat kondisi natural dari
bisnisnya yang menjual instrument derivatif
untuk hedging. Selain itu, objek penelitian
juga dibatasi hanya pada perusahaan
manufaktur subsektor food production yang
terdaftar
pada
Bursa
Efek
untuk
mempermudah pengumpulan data karena
seluruh perusahaan yang terdaftar pada
Bursa Efek tersedia pada Data Stream.
Rentang waktu terhadap data penelitian
adalah dari tahun 2003 hingga 2012.
Penentuan Sampel Penelitian
Sampel data berupa :
•
•
•
Data tingkat pengembalian saham
perusahaan manufaktur Desember 2002
– Desember 2012 (120 bulan)
Data tingkat pengembalian saham
portofolio negara Desember 2002 –
Desember 2012 (120 bulan)
Data kurs lokal terhadap kurs asing
Rupiah terhadap Dollar AS dan Yen
Analisis hubungan…, Hernanda Wicaksono, FE UI, 2013
Jepang terhadap Dollar AS Desember
2002 – Desember 2012 (120 bulan)
Data diperoleh dari Reuters Data Stream.
Klasifikasi
industri
manufaktur
ini
berdasarkan Thomson Reuters Bussines
Classification, karena data historis diambil
dari reuter data stream.
Data yang diambil adalah data saham-saham
perusahaan yang termasuk di industri
manufaktur di Indonesia dan Jepang, data
exchange rate Indonesia dan Jepang.
Time Series Regresion
Untuk mengidentifikasi efek exchange rate
exposure pada harga saham perusahaan,
kami mengestimasi sensitivitas return
masing-masing perusahaan dalam faktor
exchange rate. Dalam mengestimasi
eksposur kami mengikuti struktur yang
diajukan oleh Adler dan Dumas (1984).
Sementara itu regresi time-series yang
dilakukan mengikuti Jorion (1990).
Persamaan di atas kemudian diestimasi
dengan basis firm by firm untuk jendela 60
bulan rolling. Artinya diregresi dengan data
dalam rentang waktu 60 bulan sebelumnya.
Kemudian dikoreksi autokorelasi dan
heteroskedastisitasnya
sesuai
dengan
prosedur Newey dan West (1987).
Cross-sectional Regression
Kemudian market beta dan exchange rate
exposure yang diperoleh dari estimasi
pertama tersebut digunakan di tahap kedua,
dimana dilakukan cross-sectional regression
untuk mengestimasi exchange rate exposure
setiap periode yang digunakan di tahap
kedua. Untuk acuan mengenai cross
sectional regression dalam satu periode
untuk mengestimasi efeknya berkaitan
dengan masing-masing risk exposure
terdapat pada Fama dan MacBeth (1973),
mereka menggunakan model berikut:
!!"!! = α + b!!" + d!!" + !!"
(3.5)
!!" = !! + !! !!" + !"!"# + !!"
(3.4)
Dimana:
!!" = tingkat
perusahaan
pengembalian
saham
!!" = tingkat
portofolio lokal
pengembalian
saham
!!"# = tingkat pengembalian kurs lokal
terhadap kurs asing (index)
!!"# di dalam paper Jorion (1990)
merupakan tingkat pengembalian dalam
trade weighted exchange rate dimana
perhitungannya didasarkan ke Multilateral
Exchange Rate Model (MERM) yang dapat
diambil dari International Monetary Fund.
Sedangkan dalam paper Bartram dan Bodnar
(2012) data mengenai trade weighted
foreign exchange rate indices diambil dari
DataStream.
Dimana !!" adalah market beta dari firm j
dan !!" adalah exchange rate exposure dari
firm j, keduanya diestimasi dari 60 bulan
sebelumnya. Koefisien b dan d adalah
average return impact (% per bulan) per unit
eksposur untuk setiap faktor untuk bulanbulan selanjutnya. Kami mengulangi
estimasi equation ini untuk setiap bulan
dengan menggunakan exposure estimates
dari rolling regression 60 bulan dari
equation Jorion (1990) kemudian di koreksi
autokorelasi dan heteroskedastisitasnya
dengan prosedur Newey-West (1987).
3. Hasil Pembahasan
Untuk mengetahui tingkat eksposur nilai
tukar maka dilakukan regresi persamaan 1
yaitu dengan cara rolling regression timeseries. Tabel di atas menunjukkan hasil
regresi dari persamaan 1 yang mana
merupakan perhitungan eksposur nilai tukar
dan market beta dari setiap perusahaan
Analisis hubungan…, Hernanda Wicaksono, FE UI, 2013
subsektor food production dengan cara
rolling regression time series dengan
rentang waktu 60 bulan dari tahun 20032012. Βeta merupakan eksposur dari nilai
pasar. Delta menggambarkan eksposur nilai
tukar
Tabel 4.6. Tabel signifikansi eksposur nilai
tukar
Exposure Estimate
sig %
Indonesia
Jepang
26,92%
8,73%
Jumlah observasi pada 26 perusahaan
subsektor food production yang listing di
Bursa Efek Indonesia berjumlah 1551 pada
exchange rate dan 1560 pada market index.
Perbedaan jumlah observasi pada exchange
rate dan market index dikarenakan
perubahan tingkat pengembalian nilai tukar
dan tingkat pengembalian market index tidak
dihitung. Jumlah observasi yang mengalami
positif eksposur nilai tukar berjumlah 882
atau sekitar 56,9% dan yang mengalami
negatif eksposur nilai tukar berjumlah 43,1.
Berdasarkan Bartram dan Bodnar (2012)
yang meneliti hampir semua negara di dunia
yang membandingkan emerging market dan
developed market, Indonesia yang termasuk
dalam emerging market memiliki tingkat
signifikansi yang sangat tinggi mengenai
tingkat pengembalian saham non-financing
terhadap eksposur nilai tukar yaitu sebesar
35,3 %. Presentase ini termasuk sangat
tinggi jika dibandingkan dengan negaranegara lain.
Jepang yang termasuk dalam developed
market memiliki tingkat signifikansi yang
tidak terlalu tinggi atau berada dalam tingkat
fraksi sedang. Tingkat signifikansi mengenai
eksposur nilai tukar yang ada pada
perusahaan di Jepang sebesar 11,1%.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh
peneliti, ditemukan sebesar 7 perusahaan
yang berpengaruh signifikan terhadap
eksposur nilai tukar atau tingkat signifikansi
sebesar 26,92% pada perusahaan di
Indonesia yang mengambil sampel sebanyak
26 perusahaan pada industri manufaktur
subsektor
food
production.
Tingkat
signifikansi eksposur yang tinggi ini
disebabkan oleh karena perusahaan yang ada
di Indonesia khususnya subsektor food
production tidak melakukan hedging
terhadap kegiatan bisnisnya. Perusahaan di
Indonesia
yang
berpengaruh
secara
signifikan adalah Citra Kebun Raya Agri
(CKRA), Dharma Samudera Fishing
Industries (DSFI), FKS Multi Agro (FISH),
Inti Agri Resources (IIKP), Sierad Produce
(SIPD), Smart (SMART), dan Ultrajaya
Milk Industry and Trading Company
(ULTJ).
Untuk penelitian yang dilakukan pada
perusahan di Jepang yang mengambil
sampel sebanyak 135 perusahan pada
industri
manufaktur
subsektor
food
production,
ditemukan
sebesar
11
perusahaan yang berpengaruh secara
signifikan terhadap eksposur nilai tukar atau
tingkat signifikansi eksposur nilai tukar
sebesar 8,73%. Tingkat signifikansi
eksposur yang tidak terlalu besar jika
dibandingkan
dengan
Indonesia
ini
disebabkan oleh karena beberapa perusahan
yang ada di Jepang khsusunya perusahaan
subsektor food production telah melakukan
hedging terhadap kegiatan bisnisnya
sehingga tidak terpengaruh dengan fluktuasi
nilai tukar yang berubah-ubah setiap waktu.
Perusahaan di Jepang yang berpengaruh
secara signifikan adalah Cybele, Daisui,
Kewpie, Marutai, Morinaga, Nichiwa
Sangyo, Prima Meat Packers, Seihyo,
Shaklee Global Group, Taiyo Kagaku, dan
Takizawa HAM.
Presentase yang relatif kecil pada setiap
perusahaan dengan eksposur yang signifikan
Analisis hubungan…, Hernanda Wicaksono, FE UI, 2013
telah ditemukan pada penelitian sebelumnya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
corporate hedging dapat mengurangi
sensitivitas tingkat pengembalian saham
terhadap risiko nilai tukar. Karena
perhitungan eksposur nilai tukar dari
persamaan 1 adalah jumlah aktivitas hedging
perusahaan, perusahaan dengan tingkat
eksposur yang besar yang dapat mengelola
eksposur
ini
dengan
efektif
akan
memperlihatkan tingkat eksposur yang
signifikan.
Berdasarkan Dominguez dan Tezar (2001),
ditemukan presentase yang lebih besar pada
tingkat signifikansi sensitivitas nilai tukar
dalam setiap perusahaan yang berada pada
pasar
yang
sedang
berkembang
dibandingkan dengan perusahaan yang ada
pada negara maju. Kombinasi dari
operational hedging dan pengelolaan risiko
menjelaskan tingkat eksposur nilai tukar
pada perusahaan di negara maju. Tingkat
presentase yang rendah dari signifikansi
nilai tukar ditemukan pada pasar yang
memiliki akses terhadap instrumen pasarnya
dan pengalaman dengan pengelolaan risiko
nilai tukar. Tingkat presentase yang tinggi
yang tinggi pada tingkat signifikansi
eksposur nilai tukar ditemukan pada pasar
yang memiliki manajemen risiko, peluang,
dan pengalaman yang terbatas, dalam hal ini
adalah negara berkembang. Hal ini
menunjukkan bahwa tingkat pengembalian
pada perusahaan di negara berkembang
memiliki tingkat signifikansi terhadap
perubahan nilai tukar dibandingkan dengan
perusahaan yang berada pada negara maju.
4. Kesimpulan
Penelitian ini berfokus pada perhitungan
eksposur nilai tukar dengan presentase
signifikansi statistik yang dihasilkan. Sedikit
perhatian
diberikan
terhadap
proses
generating eksposur nilai tukar terhadap
tingkat pengembalian saham.
Penelitian ini menggambarkan tentang
hubungan antara eksposur nilai tukar dan
tingkat pengembalian saham. Penelitian ini
mengambil sampel industri manufaktur
subsektor food production negara Indonesia
untuk emerging market dan Jepang untuk
developed marked. Analisis dalam penelitian
ini termotivasi dari penelitian sebelumnya
yang mengatakan bahwa hanya sedikit
tingkat pengembalian saham perusahaan non
financial yang terkena dampak oleh nilai
tukar dan bahwa hanya ada sedikit alasan
pada perubahan nilai tukar memiliki efek
sistematik pada tingkat pengembalian. Dari
hasil penelitian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Terdapat perbedaan efek dari nilai tukar
terhadap tingkat pengembalian saham
perusahaan pada emerging market dan
developed market. Sebagian besar
perusahaan di emerging market seperti di
Indonesia dalam penelitian ini terkena
dampak yang signifikan terhadap risiko
nilai tukar asing. Namun hanya sebagian
kecil dari perusahaan di developed
market seperti Jepang dalam penelitian
ini terkena dampak yang signifikan
terhadap risiko nilai tukar asing.
2. Pada model regresi stock return yang
dilakukan pada perusahaan di Indonesia
terdapat signifikansi sebesar 26,92%.
Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah
perusahaan yang tingkat pengembalian
sahamnya terkena dampak eksposur nilai
tukar di Indonesia sangat besar. Tingkat
signifikansi eksposur yang tinggi ini
disebabkan oleh karena menurut Bartram
(2012), keadaan perekonomian dari
negara berkembang yang relatif tidak
stabil mengakibatkan perusahaan yang
ada dalam negara tersebut terkena
dampak dari fluktuasi nilai tukar. Selain
itu perusahaan yang ada di Indonesia
khususnya subsektor food production
tidak melakukan hedging terhadap
kegiatan bisnisnya. Perusahaan di
Analisis hubungan…, Hernanda Wicaksono, FE UI, 2013
Indonesia yang berpengaruh secara
signifikan adalah Citra Kebun Raya Agri
(CKRA), Dharma Samudera Fishing
Industries (DSFI), FKS Multi Agro
(FISH), Inti Agri Resources (IIKP),
Sierad
Produce
(SIPD),
Smart
(SMART), dan Ultrajaya Milk Industry
and Trading Company (ULTJ).
3. Pada model regresi stock return yang
dilakukan pada perusahaan di Jepang
terdapat signifikansi sebesar 8,73%. Hal
ini menggambarkan bahwa jumlah
perusahaan yang tingkat pengembalian
sahamnya terkena dampak eksposur nilai
tukar di Jepang tidak terlalu besar.
Tingkat signifikansi
eksposur yang
tidak terlalu besar jika dibandingkan
dengan Indonesia ini disebabkan oleh
karena menurut Bartram (2012) keadan
perekonomian di negara maju seperti
Jepang relatif stabil dan tidak terlalu
terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar.
Dan juga beberapa perusahan yang ada
di Jepang khsusunya perusahaan
subsektor
food
production
telah
melakukan hedging terhadap kegiatan
bisnisnya sehingga tidak terpengaruh
dengan fluktuasi nilai tukar yang
berubah-ubah setiap waktu. Perusahaan
di Jepang yang berpengaruh secara
signifikan adalah Cybele, Daisui,
Kewpie, Marutai, Morinaga, Nichiwa
Sangyo, Prima Meat Packers, Seihyo,
Shaklee Global Group, Taiyo Kagaku,
dan Takizawa HAM.
5.Daftar Pustaka
Adler, Michael, and Bernard Dumas, (1984).
“Exposure to Currency Risk :
Definition
and
Measurement,”
Financial Management, Summer,
41-50
Bartram and Bodnar, (2012). “Crossing the
lines: The conditional relation
between exchange rate exposure and
stock returns in emerging and
developed markets” Journal of
International Money and Finance.
Bodnar, G.M., and Marston, R.C., (2000). A
Simple Model of Foreign Exchange
Exposure, Journal of Economic
Literature.
Bodnar, G.M., and William M. Gentry,
(1993). “Exchange Rate Exposure
and Industry Characteristics :
Evidence from Canada, Japan and
the USA,” Journal of International
Money and Finance, February, 29-45
Boediono, (1981), Ekonomi Makro, BFE
UGM Yogyakarta
Chue, Timothy K and David Cook, (2003).
Emerging Market Exchange Rate
Exposure, November (2003)
Dominguez, K.M.E., Tesar, L.L., (2001).
Trade and exposure. American
Economic Review 91 (2), 367–370.
Eun, C.S., Resnick, B.G., (2009). Exchange
rate uncertainty, forward contracts,
and international portfolio selection.
Journal of Finance 43 (1), 197–215.
Fama, E.F., MacBeth, J., (1973). Risk,
return and equilibrium: empirical
tests. Journal of Political Economy
81, 607–636.
Gujarati, D.N., (2003). Basic Econometrics,
4th ed., McGraw Hill
Jones, Charles P. (2000). Investment :
Analysis and Management, 7th
edition, New York : John Willey and
Sons, Inc
Jorion,
P., (1990). The exchange-rate
exposure of U.S. multinationals.
Journal of Business 63 (3), 331–345.
Analisis hubungan…, Hernanda Wicaksono, FE UI, 2013
Madura, J., (1997). International Financial
Management. 8th Edition, Prentice
Hall International, Inc., New York
Samuelson, Paul A, (1995). "Corrigendum
(Facets of Balassa-Samuelson Thirty
Years
Later),"
Review
of
International Economics, Wiley
Blackwell, vol. 3
Newey, W.K., West, K.D., (1987). A
simple,
positive
semi-definite,
heteroskedasticity
and
autocorrelation consistent covariance
matrix. Econometrica 55 (3), 703–
708.
Pindyck, Robert S. and Daniel L. Rubinfeld
(1998), Econometric Models &
Economic Forecasts, Fourth Edition,
McGraw-Hill
Salvatore,
D.,
(1997).
Ekonomi
Internasional. Edisi kelima, Penerbit
Erlangga, Jakarta
Utami, M., and Rahayu, M., (2003). Peranan
Profitabilitas, Suku Bunga, Inflasi
dan
Nilai
Tukar
Dalam
Mempengaruhi
Pasar
Modal
Indonesia Selama Krisis Ekonomi,
Jurnal
Manajemen
&
Kewirausahaan, Vol. 5, No. 2, 123131
Analisis hubungan…, Hernanda Wicaksono, FE UI, 2013
Download