Uploaded by cyamayasyifa

KELOMPOK 1 seminar haji bismilah

advertisement
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HNP (HERNIA NUCLEUS
PULPOSUS)
DI RAWAT INAP I C RUMAH SAKIT UMUM HAJI SURABAYA
Pembimbing Akademik :
Pembimbing Klinik :
Anis Rosyiatul H.,S.Kep.,Ns,M.Kes
Premilda Ardianisa S.,S.Kep.,Ns
OLEH :
KELOMPOK 1
1. MOH. RIDWAN HELMI
2. ARDHY IGO SANGGAR PRATAMA
3. VIKA RAMADHANA FITRIYANI
4. HERLINDA ASTORIA
5. RIFMA YUNIAR M.W
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2019
1
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul
i
Kata Pengantar
ii
Daftar Isi
iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
8
1.1 Rumusan Masalah
10
1.2 Tujuan Penelitian
10
1.2.1
Tujuan Umum
10
1.2.2
Tujuan Khusus
10
1.3 Meode Penulisan
10
1.4 SistematikaPenulisan
10
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
1.1 HNP (HERNIA
10
NUCLEUS
PULPOSUS)
BAB III ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1 Asuhan Keperawatan
25
BAB IV ANALISA
JURNAL
BAB V PENUTUP
4.1 Kesimpulan
55
DAFTAR PUSTAKA
56
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur, penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat
dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah yang berjudul ”Asuhan Keperawatan Pasien Dengan HNP (Hernia
Nucleus Pulposus) Di Rawat Inap I C Rumah Sakit Umum Haji Surabaya”
. Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Anis Rosiyatul Husna., S.Kep.,Ns.,M.Kes., selaku dosen pembimbing
akademik
2. Premilda Ardianisa S., S.Kep.,Ns., selaku pembimbing klinik di ruang 1C
RSU Haji Surabaya
3. Orang tua yang selalu memberikan bantuan dan dorongan baik materiil
maupun spiritual.
4. Teman-teman yang selalu memberikan kritik dasarannya.
5. Semua pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari, makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak demi
sempurnanya makalah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis
maupun bagi pembaca.
Surabaya, 29 Agustus 2019
Penulis
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Punggung merupakan bagian belakang tubuh yang terletak diantara pinggang dan
kepala. Punggung digunakan sebagai tempat tumpuan ketika duduk atau bersandar,
seperti perisai pelindung tubuh dan tidak serapuh seperti tubuh bagian depan.
Punggung juga merupakan bagian yang paling mudah mengalami nyeri, kebanyakan
nyeri punggung bawah sembuh dengan sendirinya, tapi kadangkala ada penyebab
khusus yang memerlukan penanganan medis (Davies, 2007).
Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP) merupakan keluhan yang
umum dijumpai di masyarakat yang diperkirakan mengenai 85% dari seluruh
populasi. Nyeri punggung bawah merupakan sindroma klinik yang ditandai dengan
gejala utama nyeri di daerah tulang punggung bagian bawah. Nyeri punggung pada
bagian bawah yang umum terjadi yaitu Hernia Nucleus Pulposus (HNP).
Pada kasus spesifik akan ada pemeriksaan tambahan karena adanya kelainan
neurologi, yang kebanyakan disebabkan karena HNP, spondilosis, dan trauma. HNP
terjadi karena pergeseran nucleus puposus sehingga menekan akar syaraf pada spinal
cord (Eyles, 2013). Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah keadaan ketika nucleus
pulposus keluar menonjol kemudian menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus
fibrosus yang robek. HNP sering terjadi pada daerah Lumbal
Lumbal 5 dan Lumbal 5 - Sacrum 1 dimana kelainan ini lebih banyak terjadi pada
individu dengan pekerjaan yang banyak membungkuk dan mengangkat beban. Rasa
nyeri pada HNP disebabkan oleh proses patologik di kolumna vertebralis pada diskus
intervertebralis (Muttaqin, 2008).
Penderita kondisi HNP perlu mendapatkan pelayanan medis yang tepat dan benar
salah satunya pelayanan fisioterapi. Fisioterapi menggunakan cara-cara fisik (seperti
pijatan, latihan, panas, atau listrik) untuk mempertahankan dan mengembalikan
4
kesehatan fisik dan mental anda. Fisioterapi juga merupakan pengobatan aktif dan
bukan pasif, dan biasanya memfokuskan untuk menjaga sendi dan otot agar tetap
bergerak. Seperti untuk meredakan nyeri punggung, fisioterapi juga dapat digunakan
untuk sejumlah besar gangguan umum lainnya (Archard dan Bull, 2007).
Fisioterapi pada kondisi HNP berperan dalam mengurangi nyeri serta
meningkatkan kekuatan otot dan lingkup gerak sendinya (LGS). Untuk menangani
pasien dengan kondisi tersebut modalitas fisioterapi yang digunakan oleh penulis,
yaitu: 1. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS) adalah suatu metode
untuk mengurangi nyeri menggunakan arus listrik yang kecil ke dalam medula
spinalis atau serabut saraf sensorik melalui elektroda yang dipasang pada kulit
(Weller, 2005). 2. Core stability exercise adalah latihan yang bertujuan untuk
menguatkan core, mengurangi nyeri punggung bawah, meningkatkan fleksibilitas dan
koreksi postur serta keseimbangan (Kibler, 2006).
1.2.Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum:
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan HNP
1.2.2. Tujuan Khusus:
1.2.2.1.Mahasiswa/i mengetahui definisi penyakit HNP
1.2.2.2.Mahasiswa/i mengetahui etiologi penyakit HNP
1.2.2.3.Mahasiswa/i mengetahui patofisiologi penyakit HNP
1.2.2.4.Mahasiswa/i mengetahui manifestasi klinis penyakit HNP
1.2.2.5.Mahasiswa/i mengetahui komplikasi penyakit HNP
1.2.2.6.Mahasiswa/i mengetahui cara penanggulangan atau pencegahan HNP
1.2.2.7.Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan HNP
1.3.Metode Penulisan
5
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode studi kepustakaan
yaitu dengan mempelajari literature yang ada untuk mendapatkan bahan dalam
pembuatan makalah dan sebagian mengambil dari media elektronik yaitu internet.
1.4.Sistematika Penulisan
Sistematika penulsan dalam makalah ini meliputi Bab 1 Pendahuluan, yang berisi
latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan serta sistematika penulisan. Bab II
tinjauan teori, dan Bab III penutup yang berisi kesimpulan dan saran dari hasil akhir
dari makalah ini.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Dasar Nyeri
1.1.Definisi
Nyeri adalah suatu perasaan sensorik tidak menyenangkan disertai kerusakan
jaringan aktual/potensial.
Nyeri adalah perasaan yang tidak nyaman yang sangat subjektif dan hanya orang
yang mengalaminya yang dapat menjelaskan dan mengevaluasi perasaan tersebut.
1.2.Etiologi
Etiologi nyeri diantaranya yaitu :
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Kebudayaan
4. Makna nyeri
5. Perhatian
6. Ansietas
7. Pengalaman terdahulu
8. Gaya koping
9. Keluarga dan dukungan sosial
Pengalaman nyeri pada seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, diantara
nya arti nyeri, persepsi nyeri, toleransi nyeri, dan reaksi terhadap nyeri. Etiologinya
yaitu :

Trauma pada gangguan tubuh, misalnya kerusakan jaringan akibat bedah atau
cedera

Iskemik jaringan

Spasmus otot merupakan suatu keadaan kontraksi yang tidak disadari atau tak
terkendali dan sering menimbulkan rasa sakit
7

Inflamasi pembengkakan jaringan akibat terjadi peningkatan lokal dan juga
karena ada pengeluaran zat histamin dan zat kimia biokraf lainnya

Post operasi setelah dilakukan pembedahan.
1.3.Patofisiologi
Nyeri diawali dengan kerusakan jaringan (tissue demage), dimana jaringan tubuh
yang cedera melepaskan zat kimia inflammatory (extratory nurotransmiter), (histamin
dan bradikinin) sebagai vasodilator yang kuat → edema, kemerahan dan nyeri dan
menstimulasi pelepasan prostaglandins.
Transduksi (transduction) yaitu, perubahan energi stimulus menjadi energi
elektrik → proses transmisi (transmision) yaitu, ketika energi listrik mengenal
nonciceptor dihantarkan melalui serabut saraf A dan C dihantarkan dengan cepat ke
substantion gelatinosa di dorsal hom dan spinal cord → ke otak melalui
spinalthalamic tract → thalamus dan pusat-pusat yang lebih tinggi termasuk reticular
formation, limbic system dan somatosensory cortex.
Persepsi (perseption) yaitu, saat otak menginterpretasi signal, memproses
informasi dari pengalaman, pengetahuan, dan budaya, serta mempersepsikan nyeri →
individu mulai menyadari nyeri.
Modulasi (modulation) yaitu, saat otak mempersepsikan nyeri, tubuh melepaskan
neuromodulator seperti opiods (endorphins and enkephalins), serotonin norepine dan
gammaminobutyic acid → menghalangi/menghambat transmisi nyeri dan membantu
menimbulkan keadaan analgetik dan berefek menghilangkan nyeri.
1.4.Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis nyeri antara lain adalah :
1. Gangguan tidur
2. Posisi menghindari nyeri
3. Gerakan menghindari nyeri
4. Raut wajah kesakitan
8
5. Perubahan nafsu makan
6. Tekanan darah meningkat
7. Nadi meningkat
8. Pernapasan meningkat
9. Depresi
1.5.Klasifikasi
1) Nyeri akut
Selang waktunya singkat dengan tanda-tanda klinis antara lain :Berkeringat
banyak, tekanan darah naik, nadi naik, pucat, umumnya menangis,
teriak/mengusap daerah nyeri.
2) Nyeri kronik
Mempunyai selang waktu yang lebih lama dan dapat berlangsung lebih dari
enam bulan.
3) Nyeri berdasarkan intensitasnya
-
Nyeri berat (7-10)
-
Nyeri sedang (3-6)
-
Nyeri ringan (0-3)
4) Nyeri berdasarkan tempatnya
-
Pheriperal pain : nyeri terasa pada permukaan tubuh
-
Deep pain : nyeri terasa pada permukaan tubuh yang lebih dalam atau
pada organ-organ tubuh normal
-
Refered pain : nyeri yang disebabkan karena penyakit/struktur dalam
tubuh yang ditransmisikan kebagian tubuh di daerah yang berbeda, bukan
daerah asal nyeri
-
Central pain : nyeri yang terjadi karena pernagsangan pada system saraf
pusat, spinal cord, batang otak, thalamus, dll
5) Nyeri berdasarkan sifatnya
9
-
Incidental pain : nyeri yang timbul sewaktu-waktu lalu menghilang
-
Steady pain : nyeri yang timbul menetap serta dirasakan dalam waktu
lama
-
Proxymal pain : nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali
6) Skal nyeri
Skala nyeri menurut Hayward
Skala
Keterangan
0
Tidak nyeri
1-3
Nyeri ringan
4-6
Nyeri sedang
7-9
Sangat nyeri, tetapi dapat dikontrol dengan aktivitas yang biasa
dilakukan
10
Nyeri hebat dan tidak bisa dikontrol
Skala penilaian numerik (Numerical Rating Scale, NRS) lebih digunakan
sebagai pengganti alat pendeskripsian kata dengan menggunakan skala analog
visual (Visual Analog Scale, VAS) merupakan suatu garis lurus yang
mewakili intensitas nyeri, skala nyeri yang dapat digunakan yaitu :
1. Numerik
Adapula skala wajah, yakni Wong Braker Faces Rating Scale yang
ditujukan untuk klien yang tidak mampu menyatakan intensitas nyerinya
melalui skala angka. Ini termasuk anak-anak yang tidak mampu
berkomunikasi secara verbal dan lansia yang mengalami gangguan kognisi
dan komunikasi.
10
2. Faces Rating Scale
1.6.Penatalaksanaan
1) Non farmakologi
a. Relaksasi distraksi mengalihkan perhatian klien terhadap sesuatu
b. Stimulasi kulit beberapa teknik untuk menstimulasi kulit antara lain,
kompres dingin
2) Farmakologi
a. Analgetik
- NSAID (non narkotik dan obat anti inflamasi non steroid)
- Anagetik narkotik atau oplat
- Obat tambahan (adjuvan) atau koanalgetik
b. Anastesi lokal dan regional, yaitu suatu keadaan hilangnya sensasi pada
lokalitas bagian tubuh
c. Analgetik epidural, yaitu bentuk anastesi lokal dan terapi efektif untuk
menangani nyeri post op khususnya yang berhubungan dengan kanker..
1.7.Komplikasi
1) Edema pulmonal
2) Kejang
3) Masalah mobilisasi
4) Hipertensi
5) Hipovolemik
6) Hipertermi
1.8 Pemeriksaan Penunjang
11
1) Pemeriksaan USG untuk data penunjang apabila ada nyeri tekan di abdomen
2) Rontgen untuk mengetahui tulang/organ dalam yang abnormal
3) Pemeriksaan lab sebagai data penunjang pemeriksaan lainnya
4) Ct-Scan (cedera kepala) untuk mengetahui adanya pembuluh darah yang
pecah di otak
2. Konsep Dasar Hernia Nucleus Pulposus (HNP)
2.1 Definisi
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah turunnya kandungan annulus fibrosus
dari diskus intervertebralis lumbal pada spinal canal atau rupture annulus fibrosus
dengan tekanan dari nucleus pulposus yang menyebabkan kompresi pada element
saraf. Pada umumnya HNP pada lumbal sering terjadi pada L4-L5 dan L5-S1.
Kompresi saraf pada level ini melibatkan root nerve L4, L5, dan S1. Hal ini akan
menyebabkan nyeri dari pantat dan menjalar ketungkai. Kebas dan nyeri menjalar
yang tajam merupakan hal yang sering dirasakan penderita HNP. Weakness pada grup
otot tertentu namun jarang terjadi pada banyak grup otot (Lotke dkk, 2008).
Hernia nucleus pulposus (HNP) adalah keadaan ketika nucleus pulposus keluar
menonjol kemudian menekan kearah kanalis spinal melalui annulus fibrosus yang
robek. Herniasi nucleus pulposus (HNP) merupakan uatu nyeri yang disebabkan oleh
proses patologik di kolumna vertebralis pada diskus intervertebralis atau diskogenik.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa HNP adalah sustu keadaan dimana
nucleus pulposus keluar melalui annulus fibrosus yang robel kemudian menonjol dan
menekan kanalis spinalis dengan gejala yang uatama adalah nyeri khususnya pada
daerah punggung. (Sylvia dan Lorraine M. Wilson. 2015).
12
2.2 ETIOLOGI
Penyebab
dari
Hernia
Nucleus
Pulposus
(HNP)
biasanya
dengan
meningkatnya usia terjadi perubahan degeneratif yang mengakibatkan kurang
lentur dan tipisnya nucleus pulposus. Annulus fibrosus mengalami perubahan
karena digunakan terus menerus. Akibatnya, annulus fibrosus biasanya di daerah
lumbal dapat menyembul atau pecah (Moore dan Agur, 2013).
Hernia nucleus pulposus (HNP) kebanyakan juga disebabkan oleh karena
adanya
suatu
trauma
derajat
sedang
yang
berulang
mengenai
discus
intervertebralis sehingga menimbulkan sobeknya annulus fibrosus. Pada
kebanyakan pasien gejala trauma bersifat singkat, dan gejala ini disebabkan oleh
cidera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan atau bahkan dalam
beberapa tahun. Kemudian pada generasi diskus kapsulnya mendorong ke arah
medulla spinalis, atau mungkin ruptur dan memungkinkan nucleus pulposus
terdorong terhadap sakus doral atau terhadap saraf spinal saat muncul dari
kolumna spinal (Helmi, 2012).
2.3 KLASIFIKASI
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) terbagi atas:
1. HNP sentral yang akan menimbulkan para paresis flasid, parestesia dan
retensi urin
13
2. HNP lateral yang bermanifestasi pada rasa nyeri yang terletak pada punggung
bawah di tengah-tengah antara bokong dan betis, belakang tumit, dan telapak
kaki.
2.4 MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis utama yang muncul adalah rasa nyeri d punggung bawah
disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan, selin itu diantaranya
1. Nyeri yang dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal,
torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi,
kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur
disekitarnya.
2. Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh)
3. Penurunan pergerakan satu atau dua ekstremitas
4. Kelemahan satu atau dua ekstremitas
5. Kehilangan control anus atau kendung kemih sebagian atau lengkap (Price
Sylvia dan Lorraine M. Wilson. 2015)
HNP terbagi atas HNP sentral dan lateral. HNP sentral akan menimbulkan
paraparesis flasid, parestesia dan retensi urine. Sedangkan HNP lateral
bermanifestasi pada rasa nyeri dan nyeri tekan yang terletak pada punggung
bawah, di tengah-tengah area bokong dan betis, belakang tumit, dan telapak kaki.
Kekuatan ekstensi jari kelima kaki berkurang dan reflex achiller negative. Pada
HNP lateral L5-S1 rasa nyeri dan nyeri tekan didapatkan di punggung bawah,
bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian lateral, dan di dorsum pedis.
Kelemahan m. gastrocnemius (plantar fleksi pergelangan kaki), m. ekstensor
halusis longus (ekstensi ibu jari kaki). Gangguan reflex Achilles, defisit sensorik
pada malleolus lateralis dan bagian lateral pedis (Setyanegara dkk, 2014).
2.5 ANATOMI DAN FISIOLOGI
Fungsi kerangka
14
1. Menahan seluruh bagian-bagian badan (menopang tubuh).
2. Melindungi alat tubuh yang halus seperti otak, jantung, dan paru-paru.
3. Tempat melekatnya otot-otot dan pergerakan tubuh dengan perantaraan otot.
4. Tempat pembuatan sel-sel darah terutama sel darah merah.
5. Member bentuk pada bangunan tubuh.
Gambar 2.6 Lapisan dalam otot-otot punggung (Putz dan Pabst, 2012)
Gambar 2.7 Lapisan dalam otot-otot abdomen (Putz dan Pabst, 2012)
2.6 PATOFISIOLOGI
Pada tahap pertama sobeknya annulus fibrosus bersifat sirkum ferensial. Karena
adanya gaya traumatic yang berulang, sobekan tersebut menjadi lebih besar dan
timbul sobekan radial. Apabila hal ini telah terjadi, maka risiko HNP hanya
menunggu waktu dan trauma berikutnya saja. Gaya presipitasi itu dapat diasumsikan
sebagai gaya traumatik ketika hendak menegakkan badan waktu terpeleset,
mengangkat benda berat dan sebagainya.
15
Menjebolnya (herniasi) nucleus pulposus dapat mencapai ke korpus tulang
belakang diatas atau di bawahnya. Bisa juga menjebol langsung ke kanalis
vertebralis. Menjebolnya sebagian nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra dapat
dilihat pada foto rontgen polos dan dikenal sebagai nodus schmorl. Sobekan sirkum
ferensial dan radial pada annulus fibrosus diskus intervertebralis berikut dengan
terbentuknya nodus schmorl merupakan kelainan yang mendasari low back pain
subkronis atau kronis yang kemudian disusul oleh nyeri sepanjang tungkai yang
dikenal sebagai ischialgia atau siatika. Menjebolnya nucleus pulposus ke kanalis
vertebralis berarti bahwa nucleus pulposus menekan radiks yang bersama-sama
dengan arteria radikularis yang berada dalam lapisan dura. Hal itu terjadi jika
penjebolan berada disisi lateral. Setelah terjadi HNP, sisa discus intervertebralis
mengalami lisis, sehingga dua korpus vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan
(Muttaqin, 2008).
2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu diagnose HNP adalah sebagai
berikut:
6. Pemeriksaan laboratorium: darah lengkap dan cairan serebrospinal
7. RO Spinal : memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang
8. MRI : dapat memperlihatkan perubahan tulang dan jaringan lunak divertebra
serta herniasi.
9. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada
MRI. Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan dan menunjukkan lokasi lesi atau
disk protusion
10. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang
terkena
11. Epidural venogram : menunjukkan lokasi herniasi
16
12. Lumbal functur : untuk mengetahui kondisi infeksi dan kondisi cairan
serebrospinal.
(Price Sylvia dan Lorraine M. Wilson. 2015)
2.8 KOMPLIKASI
1) Kelemahan dan atropi otot
2) Trauma serabut syaraf dan jaringan lain
3) Kehilangan kontrol otot sphinter
4) Paralis atau ketidakmampuan pergerakan
5) Perdarahan
6) Infeksi dan inflamasi pada tingkat pembedahan diskus spinal
2.9 PENATALAKSANAAN
1. Terapi konservatif
a) Tirah baring
Penderita harus tetap berbaring di tempat tidur selama beberapa hari dengan
sikap yang baik adalah sikap dalam posisi setengah duduk dimana tungkai
dalam sikap fleksi pada sendi panggul dan lutut. tertentu. Tempat tidur tidak
boleh memakai pegas/per dengan demikina tempat tidur harus dari papan
yang larus dan diutu[ dengan lembar busa tipis. Tirah baring bermanfaat
untuk nyeri punggung bawah mekanik akut. Lama tirah baring tergantung
pada berat ringannya gangguan yang dirasakan penderita. Pada HNP
memerlukan waktu yang lebih lama. Setelah berbaring dianggp cukup maka
dilakukan latihan / dipasang korset untuk mencegah terjadinya kontraktur
dan mengembalikan lagi fungsi-fungsi otot.
b) Medikamentosa
 Symtomatik
17
Analgetik (salisilat, parasetamol), kortikosteroid (prednison, prednisolon),
anti-inflamasi non-steroid (NSAID) seperti piroksikan, antidepresan
trisiklik (amitriptilin), obat penenang minor (diasepam, klordiasepoksid).
 Kausal: kolagenese
 Fisioterapi
Biasanya dalam bentuk diatermi (pemanasan dengan jangkauan
permukaan yang lebih dalam) untuk relaksasi otot dan mengurangi
lordosis.
2. Terapi operatif
Terapi operatif dikerjakan apabila dengan tindakan konservatif tidak
memberikan hasil yang nyata, kambuh berulang atau terjadi defisit neurologic.
Macam-macam dari tindakan pembedahan adalah sebagai berikut:
a) Disektomi: mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus
intervertebral
b) Laminektomi: mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada
kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis
spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan
kompresi medula dan radiks
c) Laminotomi: pembagian lamina vertebra.
d) Disektomi dengan peleburan: graf tulang (dari krista illaka atau bank tulang)
yang digunakan untuk menyatukan dengan prosessus spinokus vertebrata.
Tujuan peleburan spinal adalah untuk menstabilkan tulang belakang dan
mengurangi kekambuhan.
e) Faraminotomi: pembedahan diskus dan permukaan sendi untuk mengangkat
tulang yang menekan syaraf.
f) Mikrodisektomi: penggunaan mikroskop saat operasi untuk melihat
potongan yang mengganggu dan menekan serabut syaraf
18
g) Spinal fusion: penempatan keping tulang diantara vertebrata agar dapat
kembali normal.
3. Rehabilitasi
a) Mengupayakan penderita segera bekerja seperti semula
b) Agar tidak menggantungkan diri pada orang lain dalam melakkan kegiatan
sehari-hari (the activity of daily living)
c) Klien tidak mengalami komplikasi pneumonia, infeksi saluran kencing dan
sebagainya).
4. Teknologi Intervensi Fisioterapi
A. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS)
a. Definisi
TENS merupakan suatu cara penggunaan energi listrik untuk merangsang
sistem saraf melalui permukaan kulit. Sedang secara khusus TENS
merupakan jenis arus listrik yang mempunyai parameter tertentu dalam
hubungannya dengan durasi fase, frekuensi arus, bentuk gelombang
dengan segala modifikasinya ( Parjoto, 2006 ). TENS terbukti efektif
untuk merangsang berbagai tipe nyeri terutama nyeri pada kasus Hernia
Nucleus Pulposus.
b. Macam-macam TENS
TENS dibedakan menjadi tiga tipe yaitu: (1) tipe konvensional dengan
spesifikasi sbb; target arus adalah mengaktifasi saraf berdiameter besar,
serabut yang teraktivasi adalah A beta, mekanoresepror, frekuensinya 10200 pps, intensitas pola kontinyu, durasi stimulus 100-200 µ detik, sensasi
yang timbul yaitu paraestesia yang kuat dengan sedikit kontrasi, durasi
terapi secara terus menerus saat nyeri terjadi, mekanisme analgetik tingkat
segmental, posisi elektrode pada titik nyeri dermatom, (2) Al-TENS
dengan spesifikasi sbb; target arus adalah mengaktivasi motoric untuk
19
menimbulkan kontraksi otot-otot fasik yang berakhir pada aktivasi saraf
berdiameter kecil nonnoksius., serabut yang teraktivasi G III atau A-δ
ergoreseptor, sensasi yang diinginkan kontraksi otot fasik yang kuat tapi
nyaman, karakteristik fisika frekuensi rendah, intensitas tinggi dan durasi
100 – 200 µ detik, penempatan elektrode pada motor point atau nyeri
miotom, profil analgetik terjadi setelah 30 menit terapi dan menghilang >
1 jam setelah alat dimatikan, durasi terapi 30 menit setiap kali terapi,
mekanisme analgetik ekstrasegmental atau segmental, (3) tipe intense
dengan ciri-ciri sbb; target arus mengaktivasi saraf berdiameter kecil,
jaringan yang teraktivasi adalah nosiseptor, sensasi yang diinginkan
adalah intensitas tinggi yang masih tertoleril pasien dengan sedikit
kontraksi otot, fisika dasar frekuensi tinggi 200 pps, durasi stimulus
>1000 μ detik dan intensitas tertinggi yang masih dapat ditoleransi pasien,
penempatan elektrode di area nyeri atau sebelah proksimal titik nyeri atau
pada cabang utama saraf yang bersangkutan, profil analgetik < 30 menit
setelah terapi dimulai, sedang pengaruh anlgetiknya bisa bertahan > 1 jam
kadang dijumpai hipoaestesia, durasi terapi 15 menit, mekanisme
analgetik periferal, ekstrasegmental maupun segmental (Parjoto, 2006).
c. Metode TENS
Dalam hubungannya dengan modulasi nyeri, mekanisme TENS menurut
Johnson (2000) yang dikutip oleh Parjoto (2006) adalah sebagai berikut:
2. Mekanisme periferal atau mekanisme tepi
Stimulasi listrik yang diaplikasikan pada serabut saraf akan
menghasilkan impuls yang berjalan dengan dua arah di sepanjang
akson saraf yang bersangkutan, peristiwa ini dikenal sebagai aktivasi
antidromik. Impuls saraf yang dihasilkan oleh TENS yang berjalan
menjauh dari arah system saraf pusat
20
akan menabrak dan
menghilangkan atau menurunkan impuls aferen yang dating daru
jaringan rusak atau sumber nyeri. Pada keadaan jaringan yang rusak
aktivasi bisa terjadi pada serabut saraf berdiameter besar dan TENS
tipe konvensional juga akan mengaktivasi serabut saraf yang
berdiameter besar dan menghasilkan impuls antidromik yang
berdampak
analgesia.
Impuls
antidromik
juga
mengakibatkan
terlepasnya materi P yang merupakan dasar bagi terjadinya triple
responses. Adanya triple responses dan penekanan aktivasi simpatis
akan meningkatkan aliran darah sehingga pengangkutan materi yang
berpengaruh terhadap nyeri seperti bradikinin, histamin, materi P.
3. Mekanisme segmental
TENS konvensional menghasilkan efek analgesia terutama melalui
mekanisme segmental yaitu dengan jalan mengaktivasi serabut A-β
yang selanjutnya akan menginhibisi neuron nosiseptif di kornu dorsalis
medulla spinalis. Ini mengacu pada teori gerbang control (Gate Control
Theory) yang menyatakan bahwa gerbang terdiri dari sel internunsial
yang bersifat inhibisi yang dikenal sebagai substansia gelatinosa dan
yang terletak di kornu posterior dan sel T yang merelai informasi dari
pusat yang lebih tinggi. Tingkat aktivasi sel T ditentukan oleh
keseimbangan asupan dari serabut berdiameter besar A-α dn A-β serta
serabut beriameter kecil A-δ dan serabut tipe C. Asupan dari serabut
berdiameter kecil akan mengaktivasi sel T yang akan dirasakan sebagai
keluhan nyeri. Jika serabut berdiameter besar teraktivasi, akan
mengaktifkan sel T namun pada saat yang bersamaan impuls tersebut
juga mengaktifkan substansia gelatinosa yang berdampak pada
penurunan asupan terhadap sel T yang berasal dari serabut berdiameter
kecil dengan kata lain asupan impuls serabut berdiameter besar akan
21
menutup gerbang dan menghambat tranmisi impuls nyeri sehingga
nyeri dirasakan berkurang atau menghilang.
4. Mekanisme ekstrasegmental
TENS yang menginduksi aktifitas aferen yang berdiameter kecil juga
manghasilkan analgesia tingkat ekstrasemental melalui aktivasi struktur
yang membentuk jalanan inhibisi desenden seperti periaqueductal grey
matter (PAG), nucleus rape magnus (NRM) dan nucleus rape
gigantocellularis (NRG). Kontraksi otot fasik yang dihasilkan oleh ALTENS
akan
membangkitkan
aktifitas
aferen
motorik
kecil
(ergoreseptor) yang berujung pada aktivasi jalanan inhibisi desenden.
d. Indikasi dan Kontraindikasi
Kontraindikasi TENS menurut Jonhson (2000) yang dikutip oleh Parjoto
(2006) yaitu : kontraindikasi relatif hanya sedikit dan sebagian besar
hanya bersifat hipotetis karena data yang berhubungan dengan pernyataan
tersebut masih sangat sedikit. Meski demikian fisioterapi harus berhatihati sewaktu memberikan TENS pada kondisi (1) epilepsi, (2) nyeri yang
diagnosa kausanya belum jelas, (3) pasien dengan alat pacu jantung, (4)
kehamilan dan penempatan pada uterus. TENS jangan ditempatkan pada
(1) sinus karotikus, (2) pada kulit yang terbuka, (3) di dalam mulut, (4)
pasien dengan gangguan sensasi.
B. Activation Deep Muscle
a. Definisi
Menurut Kisner (2007) Activation deep muscle exercise adalah latihan
yang digunakan untuk mengaktifkan deep muscle terutama m.
transversus abdominis dan m. multifidus.
b. Teknik
Transfersus abdominis activation
22
 Posisi pasien: pasien tidur telentang dengan posisi kedua lutut
ditekuk 70o-90o
 Prosedur: mengajarkan pasien dengan demonstrasi, lisan, dan taktil
fasilitasi. Menjelaskan bahwa otot mengelilingi trunk, dan ketika
aktif ukuran pinggang tertarik kedalam. Palpasi dari otot mungkin
hanya jarak ke Anterios Supra Iliaca Spine dan lateral dari rectus
abdominis. Ketika internal oblique berkontraksi, tonjolan otot
terasa, ketika transfersus abdominis berkontraksi ketegangan
kempes terasa. Tujuannya adalah mengkontraksikan transfersus
abdominis dengan minimal atau tanpa kontraksi dari internal
oblique. Kontraksinya lemah lembut. Instruksikan pasien untuk
menarik nafas, menghembuskan nafas, lalu lemah lembut menarik
perut terhadap spine untuk membuat bagian abdominal cekung.
Saat melakukan gerakan tersebut pastikan minimal atau tidak ada
gerakan
dari
pelvic
(posterior
pelvic
tilting),
tidak
ada
pengembangan atau penurunan dari lower ribs, tidak ada inspirasi
atau pengangkatan dari tulang rusuk. Tidak ada penonjolan keluar
dari dinding abdominal dantidak ada peningkatan tekanan pada
kaki.
Multifidus Activation
 Posisi pasien: pasien tidur tengkurap atau tidur miring
 Prosedur: letakkan ibu jari pada bagian lateral dari processus
spinosus dari lumbal spine. Palpasi permukaan spinal lain untuk
perbandingan pada aktifasi dari m. multifidus dapat mencapai
antara segmen lain maupun dari sisi ke sisi. Instruksikan pasien
untuk mengembangkan ototnya melawan ibu jari pemeriksa.
Palpasi kontraksi otot pada level lainnya. Fasilitasi tekhnik
23
melibatkan drawing-in maneuver dan kontraksi lemah lembut dari
otot dasar panggul.
 Efek
Meningkatkan kestabilan pada lumbal spine yang mengalami
ketidakstabilan akibat kondisi HNP.
Isotonic Resistive Exercise
 Definisi
Isotonic resistive exercise menurut Early (2013) merupakan latihan
menggunakan kontraksi otot isotonik melawan sejumlah berat
untuk bergerak hingga akhir Lingkup Gerak Sendi.
 Teknik
Pasien melakukan kontraksi otot melawan tahanan, hingga akhir
LGS. Tahanan dapat melawan maksimal selama otot mampu
berkontraksi.
Tahanan
dapat
secara
manual
atau
dengan
menggunakan beban, springs, elastic bands sandbags, atau alat
khusus. Sumber dari tahanan tergantung pada aktifitas dan tahanan
diberikan peningkatan dengan menambah jumlah tahanan. Banyak
tipe latihan penguatan, salah satunya progressive resistive exercise
(PRE). Dasar dari teknik ini adalah pembebanan berlebih. Selama
prosedur latihan, awalnya menggunakan beban yang kecil dan
meningkat setiap set dan satu set 10 kali pengulangan. Set pertama
pembebanan 50%, set kedua pembebanan 75%, dan set ketiga
pembebanan 100% atau maksimal. Dengan waktu istirahat 2 hingga
4 menit untuk setiap set dan dilakukan empat hingga lima kali
seminggu.
 Efek
24
Isotonic Resistive Exercise efektif untuk meningkatkan kekuatan
otot tapi mungkin juga membantu rileksasi otot antagonis hingga
pemendekan otot.
2.10
WOC
Pemisahan lempeng tulang rawan
dari korpus vertebrae yang
berdekatan
Nukleus pulposus keluar melalui
serabut annulus yang sobek
Menekan syaraf spinal
Kerusakan jalur simpatik
desending
Spasme otot & pelepasan
mediator kimia: histamin,
prostaglandin, bradikinin,
serotonin
Terputusnya jaringan
saraf di medulla spinalis
Nyeri
Paralisis dan paraplegia
Kelemahan
Gangguan mobilitas
fisik
Bed rest total & lama
↓ Tonus otot
Atropi,
kontraktur
Penekanan jaringan
setempat
Ulkus, dekubitus
Risk for disuse
syndrome
25
Resiko gangguan
integritas kulit
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
IDENTITAS
Nama Pasien
: Ny. S
Umur
: 59 Tahun (30-06-1960)
No. register
: 58 – 68 - XX
Jenis Kelamin
: Perempuan
Suku Bangsa
: Jawa / Indonesia
Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
Pendidikan
: SMA
Alamat
: Menur
Tanggal MRS
: 26 Agustus 2019 pukul 11:00 WIB
Diagnose Medis
: HNP (HERNIA NUCLEUS PULPOSUS) LA-LS (post-op)
Tanggal Pengkajian
: 26 Agustus 2019
STATUS KESEHATAN
Keluhan utama saat masuk RS
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien mengeluhkan nyeri cekot-cekot pada
pinggang menjalar sampai ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah)
dengan skala nyeri 5 dari 10, nyeri juga muncul secara terus-menerus. Sehingga
selama 1 bulan terakhir pasien bedrest, tidak bisa melakukan aktivitas seperti
biasanya, jika berdiri dalam waktu lama pasien tidak kuat.
Keluhan utama saat pengkajian
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien mengeluhkan nyeri cekot-cekot pada
pinggang menjalar sampai ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah)
dengan skala nyeri 5 dari 10, nyeri juga muncul secara terus-menerus.
Riwayat kesehatan :
26
1. Riwayat Kesehatan/Penyakit sekarang
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sudah mengetahui penyakit ini sejak
setelah lebaran tahun 2019. Sudah melakukan pemeriksaan di RSU Haji
Surabaya, dan dokter menganjurkan untuk dilakukan operasi, tetapi pasien tidak
mau/tidak menyetujuinya karena masalah terkait biaya dan pasien juga takut
jika operasi tidak berhasil. Setelah beberapa bulan kondisi pasien semakin
buruk, pasien mengeluhkan nyeri cekot-cekot pada pinggang menjalar sampai
ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri 5
dari 10, nyeri juga muncul secara terus-menerus. Sehingga selama 1 bulan
terakhir pasien bedrest, tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, jika
berdiri dalam waktu lama pasien tidak kuat. Lalu pada hari Senin, 26 Agustus
2019 pukul 11:00 WIB keluarga membawa pasien ke IGD RSU Haji Surabaya
untuk berobat, dan pasien langsung mau/menyetujui jika harus dilakukan
operasi, dan mendapatkan ruang rawat inap di Marwah 1C untuk mendapatkan
perawatan. dengan diagnose medis HNP (Hernia Nucleus Pulposus) LA-LS.
Lalu pasien sudah melakukan tidakan operasi pada tanggal 27 Agustus 2019
pukul 09:00 WIB.
2. Riwayat Kesehatan/Penyakit dahulu
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak mempunyai riwayat
kesehatan/penyakit dahulu seperti diabetes mellitus (DM), hipertensi, dan
kolesterol.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit keluarga
Keluarga pasien mengatakan bahwa keluarga tidak mempunyai riwayat
penyakit seperti yang diderita pasien.
4. Genogram
27
Keterangan :
: Laki-laki
/
: Pasien
: Perempuan
X
: Tinggal 1 rumah
: Meninggal
5. Vital Sign
Kesadaran/GCS
:
-
Keadaan umum : Klien tampak lemah
-
Composmetis
-
Eyes
:4
-
Motoric
:6
-
Verbal
:5
-
GCS
: 456 (normal 13-15)
Tekanan Darah
: 116/56 mmHg
Frekuensi Pernapasan
: 20 x/menit
Suhu
: 370C
Nadi
: 74 x/menit
Berat Badan
: 58 Kg
Tinggi Badan
: 160 cm
SPO2
: 96%
POLA FUNGSI KESEHATAN
1. Pola penatalaksanaan kesehatan/persepsi sehat
Data Subyektif
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sudah mengetahui penyakit ini
sejak setelah lebaran tahun 2019. Sudah melakukan pemeriksaan di RSU Haji
Surabaya, dan dokter menganjurkan untuk dilakukan operasi, tetapi pasien
28
tidak mau/tidak menyetujuinya karena masalah terkait biaya dan pasien juga
takut jika operasi tidak berhasil. Setelah beberapa bulan kondisi pasien
semakin buruk, pasien mengeluhkan nyeri cekot-cekot pada pinggang
menjalar sampai ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah)
dengan skala nyeri 5 dari 10, nyeri juga muncul secara terus-menerus.
Sehingga selama 1 bulan terakhir pasien bedrest, tidak bisa melakukan
aktivitas seperti biasanya, jika berdiri dalam waktu lama pasien tidak kuat.
Setelah dilakukan operasi pasien mengeluhkan masih merasakan nyeri.
Data Obyektif
- Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri cekot-cekot pada
pinggang menjalar sampai ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai
bagian bawah) dengan skala nyeri 5 dari 10, nyeri juga muncul secara terusmenerus.
- TD : 116/56 mmHg
- Nadi : 74 x/menit
- RR ; 20 x/menit
Masalah Keperawatan
-
Nyeri akut
-
Ketidakpatuhan
2. Pola Nutrisi – Metabolik
Data Subyektif
Keluarga pasien mengatakan sebelum sakit pasien makan dengan rutin yaitu
sehari tiga kali dengan porsi 7-8 sendok makan. Saat sakit pasien tidak teratur
makan hanya 2x sehari dengan porsi 2-3 sendok makan saja, hal tersebut
terjadi karena pasien selalu merasa mual bahkan memuntahkan apa yang
sudah dimakan. Sedangkan, pasien minum 4 gelas sehari (240 ml/gelas).
Data Obyektif
29
-
IPPA
I : Tidak ada kelainan pada abdomen, mukosa bibir lembab.
P : Pada area abdomen terdengar suara timpani dan redup.
P : Tidak ada nyeri pada abdomen
A : Adanya bising usus
-
ABCD
A : BB (58 kg), TB (160 cm)
BMI = BB (kg)/TB (m2)
= 58 kg/(160 m2)
= 58 kg/(1,6 m2)
= 58/2,56
= 22,65
B : Pasien sudah melakukan pemeriksaan lab darah lengkap pada tanggal
26 Agustus 2019 dan MRI pada pada tanggal 10 Juni 2019.
C : Keadaan klinis pasien normal
D : Melakukan diit protein, lemak, natrium dan Fe.
Masalah Keperawatan
Tidak ada masalah keperawatan
3. Pola Eliminasi Alvi & Uri
Data Subyektif
Pasien mengatakan bahwa BAK sehari 7 kali. Sedangkan BABnya rutin
setiap hari sekali.
Data Obyektif
Sebelum operasi pasien masih bisa ke kamar mandi, setelah operasi pasien
menggunakan kateter untuk BAK.
Masalah Keperawatan
Tidak ada masalah keperawatan
30
4. Pola Aktvitas
Data Subyektif
Keluarga pasien mengatakan bahwa sebelum sakit aktivitas sehari-hari pasien
sudah tidak seperti biasanya yang banyak kegiatan, selama sakit pasien lebih
banyak tidur/bedrest karena tidak kuat untuk berjalan. Setelah dilakukan
operasi pasien mengeluhkan masih belum bisa menggerakkan badannya, dan
merasakan nyeri.
Data Obyektif
Pasien berbaring di kamar tidur, jika berjalan atau duduk pasien tidak kuat
berlama-lama. Setelah dilakukan operasi pasien masih belum
bisa
menggerakkan badannya.
Masalah Keperawatan
-
Risiko jatuh
-
Gangguan mobilitas fisik.
5. Pola Istirahat Tidur
Data Subyektif
Pasien mengatakan bahwa sebelum maupun selama sakit masih sama. Siang
hari tidur mulai pukul 13:00 s.d 15:00 dan pada malam hari mulai pukul 21:00
s.d 04:00, jadi sehari pasien tidur 9 jam. pasien sering terjaga pada malam
hari. Pasien tidur dari jam 21:00 WIB dan bangun di tengah malam sampai
subuh.
Data Obyektif
Sebelum dan selama sakit pasien tidur selama 9 jam.
Masalah Keperawatan
6. Pola Persepsi Kognitif
Data Subyektif
31
Keluarga pasien mengatakan bahwa sejak mengetahui penyakitnya pasien
tidak melakukan tindakan yang sudah dianjurkan oleh dokter.
Data Obyektif
Tampak tanda gejala pada penyakit pada pasien.
Masalah Keperawatan
Ketidakpatuhan
7. Pola Konsep Diri dan Persepsi Diri
Pasien mengatakan harapan ia dapat segera sembuh agar dapat beraktivitas
seperti sedia kala.
Masalah Keperawatan
8. Pola Hubungan Peran
Persepsi klien tentang pola hubungan
Keluarga pasien mengatakan hubungan pasien dengan keluarga sangat
harmonis.
Persepsi klien tentang peran dan tanggung jawab
Keluarga mengatakan bahwa pasien merupakan orang tua (ibu) dari 6 orang
anak 6 orang anak, 2 orang sudah meninggal dunia.
Masalah Keperawatan
9. Pola Reproduksi Seksual
Data subyektif
Pasien mengatakan bahwa ia mengalami menstruasi pertama pada umur 17
tahun dan mengalami menopause pada umur 40 tahun.
Data Obyektif
Pasien sudah menua.
32
Masalah Keperawatan
10. Mekanisme Koping
Kemampuan mengendalikan stress
Keluarga mengatakan bahwa pasien merasakan cemas atau khawatir, gelisah
dengan keadaannya saat ini. Begitupun dengan keluarganya sendiri, mereka
khawatir dengan keadaan pasien.
Sumber pendukung
Keluarga
Masalah Keperawatan
Ansietas
11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Keluarga mengatakan bahwa pasien rajin melakukan sholat lima waktu
sebelum dan selama MRS.
Masalah Keperawatan
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratoriun
Tanggal
21/01/19
Pemeriksaan
Lab
Hematologi
Darah lengkap
Hb
Hasil
13,5 g/dl
Bayi 0 – 1 hari 13,2 17,3
Bayi 2 hari 13,2 – 17,4
Bayi 3 – 5 hari 15,0 – 24,6
Anak 1 – 6 tahun 10,7 – 14,7
Anak 7 – 13 tahun 10,8 – 15,6
Dewasa >13 tahun 12,8 – 16,8
Leukosit
8,070 /mm3
Bayi 0 – 2 hari 9400 – 34000
Bayi 3 – 5 hari 9400 – 34000
33
Nilai Normal
Trombosit
506,000
/mm3
Hematokrit
40,9 %
FH (RJ)
PPT
9,9 C:10.4
detik
25,7 C:25.4
detik
APTT
INR
Kimia Klinik
GDA
BUN
SGOT
SGPT
K/NA/CL
Kalium
Natrium
0.88
101 mg/dl
15 mg/dl
99 U/L
148 U/L
Bayi 3 – 5 hari 9402 – 34000
Bayi 6 – 30 hari 5500 – 18000
Bayi 1 – 12 bulan 6000 – 17500
Anak 1 – 13 tahun 4500 – 13500
Dewasa >13 tahun 4500 – 13500
Bayi 0 – 12 bulan 180000 –
550000
Anak 1 – 13 tahun 180000 –
550000
Dewasa >13 tahun 150000 –
440000
Bayi 0 – 1 hari 44 – 72
Bayi 2 hari 45 – 72
Bayi 3 – 5 hari 50 – 82
Anak 1 – 13 tahun 33 – 45
Dewasa >13 33 – 45
11 – 14”/perbedaan dg control
(2”
5-40”/perbedaan dg control <7”
0.64-1.17 (dg tx oral anti
koagulant 2-4)
<150 mg/dl
5 – 20 mg/dl
<40 U/L
<41 U/L
Bayi 0 – 12 bulan 3,3 – 5,6
Anak 1 – 13 tahun 3,3 – 4,6
Dewasa >13 tahun 3,6 – 5,0
143 mmol/L Bayi 0 – 12 bulan 132 – 143
Anak 1 – 13 tahun 132 – 145
Dewasa >13 tahun 136 – 145
4,3 mmol/L
2. Pemeriksaan Radiologi
1) Pemeriksaan MRI pada tanggal 10 Juni 2019 pukul 18:07 WIB dengan
interpretasi :
-
Diskusi 2/3, L3/4, L4/5 dan L5/S1 menonjol ke posterior.
34
-
Indentasi pada thecal sac disitu
-
Indensitas diskus hiperintens pada T2.
-
Corpus tampak gepeng.
-
Kesimpulan : HNP multipelregio lumbal, L4/5
2) Pemeriksaan lab darah lengkap pada tanggal 26 Agustus 2019 pukul 16:33
WIB.
3. Terapi dan Diet
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
NAMA
OBAT/INFUS/INJEKSI
Ceftriaxone (IV)
Raitidin (IV)
Ondancentron
Antrain
Wida RD (infuse)
Tramadol
Neurobion
35
DIBERIKAN
2x1
2x1
3x1
3x1
20 tpm
3x100 (drip PZ)
2x5000
DOSIS
2 gr
5 mg
4 mg
1 gr
500 ml
100 mg
5000
CATATAN EDUKASI TERINTEGRASI
Ruang Rawat : Marwah 1C
RM
: 58 – 68 - XX
Nama
: Ny. S
Tgl. Lahir
: 30/JUN/1960
Alamat
: Surabaya
(Mohon diisi atau ditempel sticker Label
Identitas jika ada)
Instruksi : Beri tanda () pada kotak yang sesuai (dapat lebih dari satu sesuai
dengan kebutuhan pasien dan keluarga)
Asesmen Edukasi
Diagnosa Medis : HNP (HERNIA NUCLEUS PULPOSUS) LA-LS
Bahasa
:
Indonesia
Kebutuhan Penerjemah
:
Ya Tidak
Pendidikan Pasien
:
SD
Baca Tulis
:
Baik
SLT
Verbal
Kesediaan menerima Edukasi :
Bersedia
Motivasi
SLTA
S1
Lain-lain
Lain-lain
Tulisan
Tidak bersedia
Tidak ada Ada, bila ada :
Emosional Pendengaran
Daerah
Kurang
Pemilihan Tipe Pembelajaran :
Hambatan Edukasi :
Inggris
Penglihatan
Bahasa
Kognitif
Gangguan fisik
Budaya/Agama/Spiritual/Nilai-nilai
KEBUTUHAN EDUKASI
Y
D : Duscase (Diagnosa)
√
Pasien / keluarga mengetahui tentang
obat yang pernah digunakan
M : Medication (Obat-obatan)
Pasien / keluarga mengetahui tentang
obat yang pernah digunakan
√
36
T
RENCANA PROGRAM
EDUKASI
1. Dokter spesialis / Dokter
umum
Penjelasan
penyakit,
penyebab, tanda dan
gejala serta prognosa
Hasil pemeriksaan
Tindakan medis
E : Enviroment (Lingkungan)
Keluarga dan lingkungan mendukung
proses pengobatan
T : Treatment (Tindakan/Perawatan,
Rehabilitas Medis, Manajemen Nyeri)
Pasien / keluarga mampu menjelaskan
perawatan yang telah dilakukan
√
H : Healt (Pola hidup sehat)
√
Pasien / keluarga mampu menjelaskan
tentang pola hidup sehat
O : Out Patient (Perawatan diri rumah)
Pasien / keluarga mampu menjelaskan
tentang
tindakan/penggunaan
alat
/penanganan dan perawatan di rumah
√
D : Diit (Nutrisi)
Pasien/keluarga menjelaskan tentang
pola diitnya (diet dan nutrisi)
√
√
37
Perkiraan
hari
perawatan
Penjelasan komplikasi
yang terjadi
2. Perawat / Bidan
Memberikan pendidikan
kesehatan
Penanganan
dan
perawatan di
rumah
Perawatan
luka,
personal
hygiene
(mandi,
kebersihan
pakaian, berhias)
Alat-alat yang perlu
disiapkan di
rumah,
keamanan
penggunaan
alat
Tentang PPI
Tentang patient safety
Manajemen nyeri
3. Petugas Farmasi
Nama, dosis, aturan
pemakaian
dan
kegunaan obat
Cara pemberian dan
penyimpanan obat
Efek samping dan
kontraindikasi obat
Intraksi
obat
dan
makanan
4. Nutrition / Ahli Gizi
Diit
dan
nutrisi.
Sebutkan …….
Penyuluhan nutrisi
Makanan yang boleh
dan tidak
boleh dikonsumsi
5. Petugas Rehabilitas Medis
Dokter Sp.KFR
FT (Fisioterapi)
OK (Okupasi) TW
(Terapi Wicara)
OP (Ortotik Prestetik)
PSM (Pekerja Sosial
Medik)
6. Lain-lain
…………………………
TTD
Pasien/Keluarga
TTD
Edukator
(……………….)
Ttd & Nama
Terang
(……………….)
Ttd & Nama
Terang
TGL/
JAM
IMPLEMENTASI EDUKASI
Metode/Durasi
1. Dokter spesialis / Dokter umum
Penjelasan
penyakit,
penyebab, tanda dan gejala
serta prognosa
Hasil pemeriksaan
Tindakan medis
Perkiraan hari perawatan
Penjelasan komplikasi yang
terjadi




2. Perawat / Bidan
Memberikan pendidikan
kesehatan
Penanganan dan perawatan di
rumah
Perawatan luka, personal
hygiene (mandi, kebersihan




Wawancara
Diskusi
Ceramah
Demonstrasi
Durasi : 10
menit
Wawancara
Diskusi
Ceramah
Demonstrasi
Durasi : 10
38
VERIFIKA
SI
 Mampu
menjelaskan
……………
 Mampu
mendemons
trasikan
……………
.
 Re-Edukasi
 Edukasi
lanjutan
 Mampu
menjelask
an
…………
…
 Mampu
mendemo
TTD
Keluhan
Edukator
Pasien
pakaian, berhias)
menit
Alat-alat yang perlu disiapkan
di rumah, keamanan
penggunaan alat
Tentang PPI
Tentang patient safety
Manajemen nyeri
3. Petugas Farmasi
 Wawancara
Nama,
dosis,
aturan  Diskusi
pemakaian dan kegunaan obat  Ceramah
Cara pemberian dan
 Demonstrasi
penyimpanan obat
Efek samping dan
kontraindikasi obat
Durasi : 10
Intraksi obat dan makanan
menit




4. Nutrition / Ahli Gizi
Diit dan nutrisi. Sebutkan
…………………………..
Penyuluhan nutrisi
Makanan yang boleh dan tidak
boleh dikonsumsi
Wawancara
Diskusi
Ceramah
Demonstrasi
Durasi : 10
menit




5. Petugas Rehabilitas Medis
Dokter Sp.KFR menjelaskan
tentang :
39
Wawancara
Diskusi
Ceramah
Demonstrasi
nstrasikan
…………
….
 ReEdukasi
Edukasi
lanjutan
 Mampu
menjelask
an
…………
…
 Mampu
mendemo
nstrasikan
…………
….
 ReEdukasi
Edukasi
lanjutan
 Mampu
menjelask
an
…………
…
 Mampu
mendemo
nstrasikan
…………
….
 ReEdukasi
Edukasi
lanjutan
 Mampu
menjelaska
n
…………
…
Durasi : 10
menit
6. Lain-lain.
40
 Mampu
mendemon
strasikan
…….
 Re-Edukasi
Edukasi
lanjutan
INDIKATOR SKOR PASIEN (Petunjuk Pengisian Skor)
PEMERIKSAAN RISIKO JATUH
Pemeriksaan Risiko Jatuh Morse
Faktor Risiko
Skala
Ya
Pengalaman jatuh
(dlm 3 bln)
Tidak
Skor
20
0
15 
0
Diagnosis Skunder (≥ Ya
2 diagnosis medis)
Tidak
Mencengkeram
ke
furniture
untuk
dukungan
Peralatan ambulasi
Kruk / tongkat / alat
(alat bantu)
penopang
Tidak ada kursi roda /
perawat / tirah baring
Ya
Terpasang infuse
Tidak
Kesulitan / terganggu
Gaya berjalan
(transferring)
Normal
Sering
lupa
akan
keterbatasan
yang
dimiliki
Status mental
Mampu
menilai
kemampuan diri sendiri
Kesimpulan/masalah
Risiko tinggi : ≥ 45
Risiko sedang : 25 44
Risiko rendah : 0 –
24
30
Total skror = 70
15 
0
20 
0
20 
0
15
0
PEMERIKSAAN NORTON SCALE (RISIKO KULIT / DEKUBITUS)
Parameter
Skala
Kesimpulan /
masalah
Skor
Sangat buruk
Buruk
Kondisi fisik
Cukup
Baik
Stupor
Kondisi
mental
Delirium
Apatis
1
2
3
4
1
2
3
41
Risiko tinggi : ≥
45
Tidak ada masalah
Total skror = 17
4
1
2
3
4
1
2
3
4
Kompos mentis
Tirah baring
Kursi roda
Dipapah
Mandiri
Sulit / tidak bergerak
Sangat terbatas
Agak terbatas
Penuh/full
Ngompol kencing dan
feses
Biasanya ngompol
kencing
Kadang-kadang
Tidak ngompol
Aktivitas
Mobilisasi
Inkontenen
1
2
3
4
SKOR NYERI
0
1
2
3
Nyeri ringan
Tidak Nyeri
4
5
6
Nyeri yang
Nyeri yang
mengganggu
menyusahkan
Nyeri Ringan (1 - 3) 
7
8
9
Nyeri sangat
Nyeri hebat
Nyeri Sedang (4 – 6)
10
hebat
Nyeri
Berat (7 – 10)
Pemeriksaan aktivitas harian dasar (ADL)
Makan/memakai
baju
0=Mandiri
Berjalan
0=Mandiri
Mandi/buang air
0=Mandiri
1=25%
dibantu
1=25%
dibantu
1=25%
dibantu
2=50%dibantu
2=50%dibantu
2=50%dibantu
3=75%
dibantu
3=75%
dibantu
3=75%
dibantu
Normal
Kurang
perawatan
diri 
TRAUMA SCORE GLASCOW COMA SCALE (GCS)
Faktor Risiko
Respon mata/buka
mata
Skala
Secara spontan
Terhadap stimulant
Skor
4
3
42
Kesimpulan/masalah
13 – 15 ringan
Respon verbal
Respon motorik
verbal
Terhadap stimulus
nyeri
Tidak ada respon
Berorientasi pada
waktu
Bingung
Kata-kata tidak
teratur
Suara tidak jelas
Tidak ada suara
Mematuhi perintah
Menunjukkan lokasi
nyeri
Menghindari
Fleksi abnormal
Extensi abnormal
Tidak ada respon
2
1
9 – 12 sedang
3 – 8 berat
Total score : 15
5
4
3
2
1
6
5
4
3
2
1
DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan kompresi saraf ditandai dengan keluhan
punggung bawah sampai pada kaki kanan.
2. Ketidakpatuhan berhubungan dengan kondisi penyakit kronis ditandai dengan
perilaku tidak menjalankan pengobatan.
3. Ansietas berhubungan dengan kondisi penyakit ditandai dengan perasaan
khawatir.
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan ketidaknyamanan
spasme otor ditandai dengan keterbatasan rentang gerak dan kesulitan untuk
membolak-balikan badan pasca operasi.
5. Risiko jatuh berhubungan dengan tekanan darah tinggi ditandai dengan
pusing.
43
ANALISA DATA
: 58 – 68 - XX
Nama Pasien : Ny. S
No. Register
Umur
Diagnosa Medis : HNP (Hernia Nucleus
: 59 Tahun
Pulposus) LA-LS (post-op)
No.
DATA
1. DS :
- Keluarga pasien mengatakan bahwa
pasien mengeluhkan nyeri cekotcekot pada pinggang menjalar
sampai ke kaki kanan (dari kaki
bagian atas sampai bagian bawah)
dengan skala nyeri 5 dari 10, nyeri
juga muncul secara terus-menerus.
Sehingga selama 1 bulan terakhir
pasien bedrest, tidak bisa melakukan
aktivitas seperti biasanya, jika
berdiri dalam waktu lama pasien
tidak kuat.
- Setelah dilakukan operasi pasien
mengeluhkan masih merasakan
nyeri.
DO :
- Wajah pasien tampak meringis
kesakitan merasakan nyeri cekotcekot pada pinggang menjalar sampai
ke kaki kanan (dari kaki bagian atas
sampai bagian bawah) dengan skala
nyeri 5 dari 10, nyeri juga muncul
secara terus-menerus.
- TD : 116/56 mmHg
- Nadi : 74 x/menit
- RR : 20 x/menit
2. DS :
Keluarga pasien mengatakan pasien
lebih banyak tidur/bedrest karena tidak
kuat untuk berjalan. Setelah dilakukan
operasi pasien mengeluhkan masih
belum bisa menggerakkan badannya,
ETIOLOGI
Kompresi saraf/spasme otot
Keluhan nyeri pada
punggung bawah sampai
kaki kanan
PROBLEM
Nyeri akut berhubungan
dengan kompresi saraf
ditandai dengan keluhan
punggung bawah sampai
pada kaki kanan
Nyeri akut
nyeri, ketidaknyamanan
spasme otot
Sulit merubah posisi
44
Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan nyeri
dan
ketidaknyamanan
spasme otor ditandai
dengan
keterbatasan
rentang
gerak
dan
dan merasakan nyeri..
DO :
- Pasien berbaring di kamar tidur.
- Jika berjalan atau duduk pasien tidak
kuat berlama-lama.
- Kekuatan otot.
Kanan
Kiri
5555
5555
4444
5555
- Pasca operasi pasien belum bisa
menggerakkan tubuhnya.
3. DS :
- Pasien mengatakan belum bisa
menggerakkan tubuhnya pasca
operasi.
DO :
- Pasien tampak besrest total.
- TD = 140/80 mmHg
- Kekuatan otot
Kanan
Kiri
5555
5555
4444
5555
kesulitan
untuk
membolak-balikan badan
pasca operasi.
Gangguan mobilitas fisik
Riwayat kesehatan (HNP)
dilakukan tindakan operasi
Hambatan untuk
beraktivitas
Risiko jatuh
45
Risiko jatuh berhubungan
dengan kondisi pasca
operasi
4. DS :
- Keluarga pasien mengatakan sudah
mempunyai riwayat penyakit HNP
sejak setelah lebaran tahun 2019.
- Keluarga pasien mengatakan bahwa
pasien
tidak
menyetujui
jika
dilakukan
operasi
pada
saat
terdiagnosis HNP setelah lebaran
2019.
DO :
- Pasien tampak tidak patuh dengan
pemeriksaan yang sudah dianjurkan.
Riwayat kesehatan (HNP
(Hernia Nucleus Pulposus)
LA.LS)
Ketidakpatuhan
berhubungan
dengan
kondisi penyakit ditandai
dengan perilaku tidak
menjalankan pengobatan.
Tidak pernah menjalani
pengobatan
Muncul kembali gejala
ketidakpatuhan
5. DS :
- Pasien mengatakan cemas dengan
keadaannya saat ini.
DO :
- Sumber pendukung pasien saat ini
adalah keluarga terdekat.
Riwayat kesehatan (HNP
(Hernia Nucleus Pulposus)
LA.LS)
Khawatir
Ansietas
46
Ansietas
berhubungan
dengan kondisi penyakit
ditandai dengan perasaan
khawatir.
No. Pendaftaran : 190113016
: 58 – 68 - XX
No. RM
Tgl. Pendaftaran : 26/08/2019
11:00:00
TANGGAL
26 januari
2019
Asuhan Keperawatan / Kebidanan
Klien Dengan Nyeri akut
SDKI D.0001
DIAGNOSA
Nursing Outcame Clasification (NOC)
KEPERAWATAN/KEBIDANAN
Tujuan
Nyeri akut b.d :
Mengurangi gangguan nyeri akut pada
o Kompresi saraf
pasien.
Ditandai dengan :
Kriteria hasil :
o Keluhan nyeri pada punggung 1. Keluhan nyeri menurun dari skala 6
menjalar sampai ke kaki kanan.
menjadi 3.
2. Meringis pada pasien menurun.
3. Frekuensi nadi membaik.
Verivikasi DPJP
Perawat Penanggung Jawab
Ttd & Nama Terang
Ttd & Nama Terang
47
Nama
: Ny. S
Umur / K : 59 Tahun/P
Alamat
: Surabaya
Nursing Intervention Clasification (NIC)
Intervensi
Observasi
1.Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intesitas nyeri.
2.Identifikasi skala nyeri
3.Identivikasi nyeri non verbal.
4.Identifikasi respons yang memperberat dan
memperingan nyeri.
Terapeutik
5.Berikan teknik norfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri.
6.Fasilitasi istirahat dan tidur.
Edukasi
7.Jelaskan strategi meredakan nyeri.
8.Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian analgetik.
Surabaya, 22 Januari 2019
Pasien/Keluarga
Ttd & Nama Terang
No. Pendaftaran : 190113016
: 58 – 68 - XX
No. RM
Tgl. Pendaftaran : 26/08/2019
11:00:00
TANGGAL
27 Januari
2019
DIAGNOSA
KEPERAWATAN/KEBIDANAN
Gangguan mobilitas fisik b.d :
o Nyeri
o Ketidaknyamanan spasme otot
Ditandai dengan :
o Kesulitan
membolak-balikkan
posisi pasca operasi
Asuhan Keperawatan / Kebidanan
Klien Dengan Gangguan mobilitas fisik
SDKI D.0054
: Ny. S
Umur / K : 59 Tahun/P
Alamat
: Surabaya
Nursing Outcame Clasification (NOC)
Tujuan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
pasien dapat tetap mempertahankan
pergerakannya.
Kriteria hasil :
1. Klien meningkat dalam aktivitas fisik.
2. Mengerti tujuan dan peningkatan
mobilitas
3. Memverbalisasikan perasaan dalam
meningkatkan kekuatan dan kemampuan
berpindah
4. Memperagakan penggunaan alat
5. Bantu untuk mobilisasi (walker)
Nursing Intervention Clasification (NIC)
Intervensi
1. Observasi tanda-tanda vitas sebelum dan
sesudah latihan dan lihat respon pasien saat
latihan.
2. Konsultasikan dengan terapi fisik tentang
rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan.
3. Bantu klien untuk menggunakan tongkat
saat berjalan dan cegah terhadap cedera.
4. Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain
tentang teknik ambulasi.
5. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi.
6. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan
ADLs secara mandiri sesuai kemampuan.
7. Damping dan bantu pasien saat mobilisasi
dan bantu pebuhi kebutuhan ADLs pasien.
8. Berikan alat bantu jika klien memerlukan.
9. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi
dan berikan bantuan jika diperlukan.
Verivikasi DPJP
Surabaya, 22 Januari 2019
Pasien/Keluarga
Ttd & Nama Terang
Ttd & Nama Terang
Perawat Penanggung Jawab
Ttd & Nama Terang
Nama
48
No. Pendaftaran : 190113016
: 58 – 68 - XX
No. RM
Tgl. Pendaftaran : 26/08/2019
14:00:00
Klien Dengan Risiko jatuh
SDKI D.0143
DIAGNOSA
Nursing Outcame Clasification (NOC)
KEPERAWATAN/KEBIDANAN
Tujuan
Risiko
jatuh
Risiko
jatuh Tidak terjadi jatuh pada pasien setelah
berhubungan dengan kondisi pasca dilakukan pencegahan risiko jatuh.
operasi
Dibuktikan dengan adanya :
Kriteria hasil :
o Kondisi pasca operasi
1) Risiko jatuh teridentifikasi 1x/shift.
2) Terpasang penanda jatuh lingkaran
kuning.
3) Edukasin risiko jatuh terlaksana.
4) Pasien tidak jatuh.
Nama
: Ny. S
Umur / K : 59 Tahun/P
Alamat
: Surabaya
Perawat Penanggung Jawab
Verivikasi DPJP
Nursing Intervention Clasification (NIC)
Intervensi
Intervensi pencegahan jatuh rendah (skor 0 –
24)
1) Roda tempat tidur pada posisi terkunci.
2) Posisikan tempat tidur pada posisi terendah.
3) Pasang pagar pengaman tempat tidur.
4) Edukasi pasien dan keluarga.
5) Monitor pasien secara berkala.
6) Pastikan lingkungan bebas hambatan dan
aman.
7) Anjurkan pasien memakai alas kaki tanpa
selip.
Intervensi pencegahan jatuh sedang (skor 25 –
50)
1) Lakukan semua tindakan pada risiko rendah.
2) Pertimbangkan
efek
obat
yang
mempengaruhi kesadaran berisiko jatuh.
3) Lakukan asesmen ulang sesuai kebutuhan.
Intervensi pencegahan jatuh tinggi (skor >51)
1) Lakukan semua tindakan tingkat pad risiko
rendah dan sedang.
2) Monitor jatuh setia.
Surabaya, 22 Januari 2019
Pasien/Keluarga
Ttd & Nama Terang
Ttd & Nama Terang
Ttd & Nama Terang
TANGGAL
26 januari
2019
Asuhan Keperawatan / Kebidanan
49
50
CATATAN KEPERAWATAN
Ruang Rawat : Marwah 1 C
RM
: 85 – 75 - XX
Nama
: Ny. S
Tgl. Lahir
: 21/JAN/1950
Alamat
: Surabaya
(Mohon diisi atau ditempel sticker Label Identitas
Tgl/
Jam
Pagi
26/8/
19
Mengunci roda tempat tidur
untuk mengurangi resiko jatuh
Memasang pagar pengaman
tempat tidur
Memastikan lingkungan bebas
hambatan, aman
Paraf
Nama
Tgl/
Jam
Sore
26/8/ Mengobservasi tanda-tanda
vital meliputi TD: RR: N: S:
19
Mendampingi dan membantu
pasien melakukan teknik nafas
dalam untuk mengurangi nyeri
yang dirasakan.
Mengkaji pasien
Mengunci roda tempat tidur
untuk mengurangi resiko jatuh
Mengobservasi tanda-tanda
vital meliputi TD: RR: N: S:
Memasang pagar pengaman
tempat tidur
Mengobservasi tanda-tanda
vital
Paraf
Tgl/
Nama
Jam
jika ada)
Malam
26/8/ Mengobservasi tanda-tanda
vital meliputi TD: RR: N: S:
19
Mendampingi dan membantu
pasien melakukan teknik
nafas dalam untuk
mengurangi nyeri yang
dirasakan.
Mengunci roda tempat tidur
untuk mengurangi resiko
jatuh
Memasang pagar pengaman
tempat tidur
Mengobservasi
vital-
51
tanda-tanda
Paraf
Nama
CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN TERINTEGRASI
(CPPT)
Tgl/
jam
26/
8/1
9
Profesional
Pemberi
Asuhan
(PPA)
Pagi
13.
00
26/
8/1
9
18.
00
Sore
HASIL ASESMEN PASIEN DAN PEMBERI PELAYANAN
Ditulis dalam format SOAP/ADIME, Disertai dengan target yang terukur, evaluasi
hasil tatalaksana dituliskan dalam asesmen, harap bubuhkan stempel nama dan paraf
pada setiap akhir catatan)
S : Pasien mengeluhkan nyeri cekot-cekot pada pinggang menjalar sampai ke kaki
kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri 5 dari 10, nyeri
juga muncul secara terus-menerus, jika berdiri dalam waktu lama pasien tidak kuat.
O : Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri.
A : Masalah belum teratasi
- Nyeri akut.
- Gangguan mobilitas fisik.
- Risiko jatuh
P : Mempertahankan intervensi.
I : Melakukan observasi tanda-tanda vital
- TD : 116/56 mmHg
- Nadi : 74 x/menit
- RR : 20 x/menit
- S : 370C
- EWS : 1
S : Pasien mengeluhkan nyeri cekot-cekot pada pinggang menjalar sampai ke kaki
kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri 5 dari 10, nyeri
juga muncul secara terus-menerus, jika berdiri dalam waktu lama pasien tidak kuat.
O : Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri.
A : Masalah belum teratasi
- Nyeri akut.
- Gangguan mobilitas fisik.
- Risiko jatuh
P : Mempertahankan intervensi.
I : Melakukan observasi tanda-tanda vital
- TD : 120/60 mmHg
- Nadi : 76 x/menit
- RR : 20 x/menit
52
RM: 85 – 75 - XX
Nama : Ny. S
Tgl. Lahir : 21/JAN/1950
Alamat : Surabaya
INSTRUKSI
REVIEW
PPA/PASCA
VERIVIKASI I DPJP
(Tulis nama, beri paraf,
BEDAH
(Instruksi
tgl jam) DPJP harus
ditulis dengan
membaca/mereview
rinci dan jelas) seluruh rencana Asuhan)
26/
8/1
9
Malam
27/
8/1
9
Pagi
- S : 36,50C
- EWS : 1
S : Pasien mengeluhkan nyeri cekot-cekot pada pinggang menjalar sampai ke kaki
kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri 5 dari 10, nyeri
juga muncul secara terus-menerus, jika berdiri dalam waktu lama pasien tidak kuat.
O : Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri.
A : Masalah belum teratasi
- Nyeri akut.
- Gangguan mobilitas fisik.
- Risiko jatuh
P : Mempertahankan intervensi.
I : Melakukan observasi tanda-tanda vital
- TD : 110/70 mmHg
- Nadi : 78 x/menit
- RR : 20 x/menit
- S : 370C
- EWS : 1
S : Pasien mengeluhkan nyeri cekot-cekot pada pinggang menjalar sampai ke kaki
kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri 5 dari 10, nyeri
juga muncul secara terus-menerus, jika berdiri dalam waktu lama pasien tidak kuat.
O : Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri.
A : Masalah belum teratasi
- Nyeri akut.
- Gangguan mobilitas fisik.
- Risiko jatuh
P : Mempertahankan intervensi.
I : Melakukan observasi tanda-tanda vital
- TD : 120/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
- RR : 20 x/menit
- S : 370C
- EWS : 1
53
27/
8/1
9
Sore
27/
8/1
9
Malam
28/
8/1
Pagi
S : Pasien mengeluhkan nyeri pasca operasi cekot-cekot pada pinggang menjalar
sampai ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri
5 dari 10, nyeri juga muncul secara terus-menerus, nyeri mendingan ketika diberi obat.
O : Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri.
A : Masalah teratasi sebagian
- Nyeri akut.
- Gangguan mobilitas fisik.
- Risiko jatuh
P : Mempertahankan intervensi.
I : Melakukan observasi tanda-tanda vital
- TD : 120/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
S : Pasien mengeluhkan nyeri pasca operasi cekot-cekot pada pinggang menjalar
sampai ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri
5 dari 10, nyeri juga muncul secara terus-menerus, nyeri mendingan ketika diberi obat.
O : Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri.
A : Masalah teratasi sebagian
- Nyeri akut.
- Gangguan mobilitas fisik.
- Risiko jatuh
P : Mempertahankan intervensi.
I : Melakukan observasi tanda-tanda vital
- TD : 120/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
S : Pasien mengeluhkan nyeri pasca operasi cekot-cekot pada pinggang menjalar
sampai ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri
5 dari 10, nyeri juga muncul secara terus-menerus, nyeri mendingan ketika diberi obat.
O : Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri.
A : Masalah teratasi sebagian
- Nyeri akut.
- Gangguan mobilitas fisik.
- Risiko jatuh
54
9
28/
8/1
9
Sore
28/
8/1
9
Malam
P : Mempertahankan intervensi.
I : Melakukan observasi tanda-tanda vital
- TD : 120/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
S : Pasien mengeluhkan nyeri pasca operasi cekot-cekot pada pinggang menjalar
sampai ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri
5 dari 10, nyeri juga muncul secara terus-menerus, nyeri mendingan ketika diberi obat.
O : Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri.
A : Masalah teratasi sebagian
- Nyeri akut.
- Gangguan mobilitas fisik.
- Risiko jatuh
P : Mempertahankan intervensi.
I : Melakukan observasi tanda-tanda vital
- TD : 120/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
S : Pasien mengeluhkan nyeri pasca operasi cekot-cekot pada pinggang menjalar
sampai ke kaki kanan (dari kaki bagian atas sampai bagian bawah) dengan skala nyeri
5 dari 10, nyeri juga muncul secara terus-menerus, nyeri mendingan ketika diberi obat.
O : Wajah pasien tampak meringis kesakitan merasakan nyeri.
A : Masalah teratasi sebagian
- Nyeri akut.
- Gangguan mobilitas fisik.
- Risiko jatuh
P : Mempertahankan intervensi.
I : Melakukan observasi tanda-tanda vital
- TD : 120/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
55
PERENCANAAN PASIEN PULANG
(DISCHARGE PLANNING)
RM
: 58 – 68 - XX
Nama
: Ny. S
Tgl. Lahir
: 30/JUN/1950
Alamat
: Surabaya
(Mohon diisi atau ditempel sticker Label
Identitas jika ada)
Fase
Tahap I
Pengkajian Saat Pasien masuk
1
Tahap II Fase
Diagnostik/Proses
Asuhan
Pelaksanaan
Tanggal
Jam
Pengkajian fisik dan psikososial (Format 26/08/19 11.00
pengkajian keperawatan)
Kegiatan
Pengkajian Status fungsional (Indeks 26/08/19 11.00
Barthel)
2
3
4
Pengkajian
Kebutuhan
Pendidikan 26/08/19 11.00
Kesehatan
a. Proses penyakit
b. Obat-obatan
c. Prosedur, cara perawatan
d. Keamanan pasien
e. Rehabilitasi
f. Diet dan nutrisi
g. Management nyeri
Menjelaskan dan mendemonstrasikan 26/08/19 11.00
kepada penderita dan keluarga :
a. Proses penyakit
b. Obat-obatan
c. Prosedur, cara perawatan
d. Keamanan pasien
e. Rehabilitasi
f. Diet dan nutrisi
g. Management nyeri
1
Evaluasi
Dokumen terisi
Lengkap
Sebagian
Kosong
Mandiri
Ringan
Sedang
Berat
Total
Tercapai
Belum tercapai
Penderita dan Keluarga
Mampu menjelaskan
Mampu mendemonstrasikan
Belum mampu
Tahap III
Fase Stabilisasi/Kontinuitas Pelayan
Tahap IV
Fase Discharge
5
6
7
8
9
Mengevaluasi kemampuan penderita dan 26/08/19 11.00
keluarga :
a. Proses penyakit
b. Obat-obatan
c. Prosedur, cara perawatan
d. Keamanan pasien
e. Rehabilitasi
f. Diet dan nutrisi
g. Management nyeri
Diskusi tentang modifikasi lingkungan 26/08/19 11.00
pasien setelah pulang dari rumah sakit.
Penderita dan Keluarga
Mampu menjelaskan
Belum mampu
Diskusikan tentang rencana perawatan 26/08/19 11.00
lanjutan pasien
a. Bantuan ADL
b. Jadwal control
Diskusikan tentang pengawasan pada 26/08/19 11.00
pasien setelah pulang tentang obat, diet,
aktivitas, dan peningkatan status
fungsional.
Diskusi
tentang
support
system 26/08/19 11.00
keluarga, financial dan alat/transportasi
yang akan digunakan pasien
Tercapai
Belum tercapai
Catatan Pulang
1.
2.
3.
4.
Pelaksanaan
Tanggal
Jam
Resep obat-obatan pulang
Surat control
Rujukan rehabilitasi
Leaflet/Informasi kesehatan
Discharge Planner/Perawat :
Tercapai
Belum tercapai
Tercapai
Belum tercapai
Tercapai
Belum tercapai
Keterangan
Pasien/Keluarga :
(……………………….........)
Tanda tangan & Nama Terang
(……………………….........)
Tanda tangan & Nama Terang
2
BAB IV
ANALISA JURNAL
4.1.Clinical Queston (Pertanyaan Klinis)
Pada pasien dengan HNP (Hernia Nucleus Pulposus) yang mengalami
nyeri dan disabilitas aktivitas sehari-hari apakah berpengaruh terhadap
kualitas hidup pasien HNP Lumbal?
4.2.PICOT
Population
: 16 pasien HNP lumbal
Intervention
: Penambahan mobilisasi saraf
Outcome
: Kualitas Hidup (Quality of Life), Wellbeing
Kata kunci (Key Word)
: HNP (Hernia Nucleus Pulposus), nerve
mobilization (mobilisasi saraf), pain (nyeri),
Quality of Life (QoL), Well-being
3
4.3.Matriks
PENGARUH PENAMBAHAN MOBILISASI SARAF TERHADAP PENURUNAN NYERI ISCHIALGIA OLEH KARENA
HERNIA NUCLEUS PULPOSUS DI RS St ELISABETH SEMARANG
1.
2.
3.
4.
Pertanyaan
Why was study done?
Mengapa penelitian ini dilakukan?
What is sample size ?
Apa sampel size?
Are the measurements of major
variables valid & reliable ?
Apakah penelitiannya valid/reliable?
How are the data analyzed ?
Bagaimana data dianalisis?
Penelitian bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh penambahan mobilisasi saraf terhadap penurunan nyeri
ischialgia oleh karena hernia nucleus pulposus di RS St elisabeth semarang.
16 orang, sample yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi berjumlah 16 orang, uji statistic menggunakan uji
non parametric di RS St elisabeth semarang.
Quadruple Visual Analogue Scale (Q-VAS) yang sudah teruji validitasnya.
Karena jumlah data yang dianalisis adalah 16 yang dibagi menjadai dua kelompok (kurang dari 30 subjek),
maka menggunakan uji statistik non parametrik (Hastono dan Sabri, 2011). Uji 2 kelompok yang berpasangan
menggunakan uji Wilcoxon, dan 2 kelompok yang tidak berpasangan menggunakan uji Mann Whitney.
5. Were there any untoward events during Peneliti tidak menuliskan adanya kejadian yang tidak diharapkan dalam proses penelitian.
the conduct of the study ?
Adakah kejadian-kejadian yang tidak Peneliti menuliskan keterbatasan dalam penelitian yaitu, (1) ketidakmampuan peneliti dalam mengendalikan
aktifitas subyek dalam kesehariannya serta obat yang dikonsumsinya, (2) waktu penelitian yang relatif singkat
diinginkan?
sehingga subyek yang didapatkan hanya sedikit, (3) subyek dalam penelitian pada masing-masing kelompok
yang sedikit, sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas dari penelitian ini.
6. How do the results fif with previous Pada penelitian ini terdapat pengaruh yang signifikan pemberian TENS terhadap pengurangan nyeri ischialgia.
research in the area ?
Maka hipotesis ada pengaruh TENS terhadap pengurangan nyeri ischialgia oleh karena HNP diterima.
Bagimana hasil peneliti sejalan Selisih mean VAS sebelum dan sesudah perlakuan sebesar 23,67.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang diungkapkan oleh Johnson (2000) yang dikutip oleh Parjoto (2006) bahwa
dengan penelitian sebelumnya?
TENS pada konvensional menghasilkan efek analgesia terutama melalui mekanisme segmental yaitu dengan
jalan mengaktivasi serabut A-β yang selanjutnya akan menginhibisi neuron nosiseptif di kornu posterior medula
4
7. What does this research mean for
clinical practice ?
kira-kira
hasil
implikasi
(menyelesaikan masalah/tidak) ?
spinalis.
Pada implikasi klinis, mobilisasi saraf bisa digunakan sebagai modalitas tambahan dari terapi yang biasa
dilakukan di Rumah Sakit pada penderita ischialgia, selain itu bisa juga diberikan edukasi kepada pasien untuk
selalu pada postur yang benar saat duduk, menekuk lututnya pada saat mengangkat barang atau tidak memberi
tekanan pada pinggang. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk lebih memperhatikan aspek dari posisi sholat
yang benar.
5
4.4.Kesimpulan
Dari hasil statistik tidak menunjukan adanya perbedaan yang signifikan, tetapi secara
praktis ada sedikit perbedaan. Pada implikasi klinis, mobilisasi saraf bisa digunakan sebagai
modalitas tambahan dari terapi yang biasa dilakukan di Rumah Sakit pada penderita
ischialgia
4.5.Hasil Clinical Implication
Menurut Carey, et all (1995) efektivitas mobilisasi saraf terjadi karena adanya efek
flossing, yaitu kemampuan untuk mengembalikan mobilitas dan penguluran, akibatnya aliran
darah dan transportasi aksonal pada jaringan saraf lancer. Mobilisasi saraf membantu dalam
memecah adhesi dan mewujudkan mobilitas, dalam hal ini mobilisasi saraf membantu dalam
memberikan pengurangan gejala, seperti nyeri.
Evidence based untuk mobilisasi saraf memang belum banyak, secara umum mobilisasi
saraf mungkin bermanfaat pada entrapment saraf tepi ekstremitas atas dan sindroma nyeri
cercvico-brachial dan lumbo-sakral (Shacklock, 2005) yang dikutip Setiawan, 2008. Jurnal
penelitian melakukan penelitian di Indonesia, besar kemungkinan clinical implication
tersebut bisa diterapkan pada populasi HNP di Indonesia, mobilisasi saraf bisa digunakan
sebagai modalitas tambahan dari terapi yang biasa dilakukan di Rumah Sakit pada penderita
ischialgia, selain itu bisa juga diberikan edukasi kepada pasien untuk selalu pada postur yang
benar saat duduk, menekuk lututnya pada saat mengangkat barang atau tidak memberi
tekanan pada pinggang.
6
BAB V
PENUTUP
5.1.KESIMPULAN
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah keadaan ketika nucleus pulposus keluar menonjol
kemudian menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosus yang robek. HNP sering
terjadi pada daerah Lumbal 4 - Lumbal 5 dan Lumbal 5 - Sacrum 1 dimana kelainan ini lebih
banyak terjadi pada individu dengan pekerjaan yang banyak membungkuk dan mengangkat
beban. Rasa nyeri pada HNP disebabkan oleh proses patologik di kolumna vertebralis pada
diskus intervertebralis (Muttaqin, 2008).
7
DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer dkk, 1991, Kapita selekta kedokteran, Media Aesculapius FKUI, Jakarta
Arjatmo Tjokronegoro, dkk, 1996, Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, FKUI, Jakarta.
Doengoes Marillyn, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
8
Download