PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA SCOOTER (Smart Crops Composter) Sebagai Solusi Pengelolaan Limbah Sayur Berbasis Eco-Friendly BIDANG KEGIATAN PKM KARSA CIPTA Diusulkan Oleh: Safira Nurul Izzah; Handika Ahmad Maulana; Ardiyan Taruna; 185040207111052; 185040207111068; 185040207111069; UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2018 2018 2018 2018 ii PENGESAHAN PKM-KARSA CIPTA 1. :SCOOTER (Smart Crops Judul Kegiatan Composter)Sebagai Solusi Pengelolaan Limbah Sayur Berbasis Eco-Friendly 2. Bidang Kegiatan 3. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap b. NIM c. Jurusan d. Universitas/Institut/Politeknik e. Alamat Rumah dan No. Tel./HP Tangerang Selatan / 08561588828 f. Email 4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis 5. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar b. NIDN c. Alamat Rumah dan No Tel./Hp d. Email [email protected] 6. Biaya Kegiatan Total a. Kemristekdikti b. Sumber lain 7. Jangka Waktu Pelaksanaan : PKM-KC : Safira Nurul Izzah : 185040207111052 : Non Jurusan : UniversitasBrawijaya Malang : Graha Raya Bintaro F15/32, Pakujaya, : [email protected] : 2 orang : Mochammad Syamsul Hadi, S.P, MP. : 0023068602 : Jl. Bendungan Bening No. 25, Malang / 085 336 214 411 : msh.ub.ac.id / : Rp 4.900.000,00 : Rp 41.000,00 : 4 Bulan Malang, 15 Maret 2019 Dosen Pendamping, Ketua Pelaksana Kegiatan (Safira Nurul Izzah) (Mochammad Syamsul Hadi, S.P, MP.) NIDN. 0023068602 NIM. 185040207111052 Menyetujui, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, (Dr. Ir. Syafrial, MS.) NIP. 19580529 198303 1 001 iii DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii DAFTAR ISI. ........................................................................................................ iii BAB I: PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ....................................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah .................................................................................. 2 1.3. Tujuan.................................................................................................... 2 1.4. Luaran.................................................................................................... 2 1.5. Manfaat .................................................................................................. 3 BAB II: TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 3 2.1. Timbulan Limbah Sayur di Pasar Tradisional Maupun Modern ............. 3 2.2. Pengelolaan Limbah Sayur di Pasar ...................................................... 4 2.3. SCOOTER (Smart Crops Composter) Sebagai Solusi Pengelolaan Limbah Sayuran ....................................................................... 4 BAB III: TAHAP PELAKSANAAN ..................................................................... 5 3.1. Tahap Pelaksanaan ................................................................................. 6 3.1.1. Langkah Kerja SCOOTER ........................................................... 6 3.1.2. Analisis Cara Kerja SCOOTER .................................................... 6 3.2. Menyusun Desain SCOOTER ................................................................ 7 3.3. Membuat SCOOTER ............................................................................. 8 3.4. Tahapan Pengujian dan Evaluasi Level Penerimaan Masyarakat ............ 8 BAB IV: BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN .................................................... 9 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 10 LAMPIRAN .......................................................................................................... 12 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Limbah merupakan bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Berdasarkan Peraturan pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999 Limbah didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan manusia. Sedangkan berdasarkan keputusan Menperindag RI No. 231/MPP/Kep/7/1997 Pasal I tentang prosedur impor limbah, menyatakan bahwa limbah adalah bahan/barang sisa atau bekas dari suatu kegiatan atau proses produksi yang fungsinya sudah berubah dari aslinya. Menurut Widjajanti (2009), limbah dapat dihasilkan dari proses produksi pada sektor industri maupun domestik (rumah tangga). Limbah berdasarkan wujudnya dibagi menjadi tiga yaitu limbah cair, padat, gas atau partikel, sedangkan berdasarkan tingkat bahayanya terdapat limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang terdiri dari limbah rumah sakit, limbah elektronik , logam dll (Rusmono, 2008). Pertumbuhan penduduk yang meningkat, berbanding lurus dengan limbah yang dihasilkan. Salah satu jenis limbah yang jumlahnya paling banyak ialah limbah padat, karena limbah ini dapat dihasilkan dari aktivitas rumah tangga seperti bahan makanan (sayuran, buah-buahan dll), kertas, plastik, kain, sabun dan sebagainya. Sayuran merupakan bahan yang paling banyak digunakan dalam aktivitas rumah tangga yang umumnya diproduksi dari sebuah pasar. Gambar 1: Keadaan Limbah Sayur yang Bercampur pada Pasar Sumber: http://icang.web.unej.ac.id Pengelolaan limbah sayuran pada pasar di Indonesia dapat dikatakan belum maksimal. Menurut Riskawati (2018), hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kurangnya tenaga pekerja pengelola sampah, kurangnya kepedulian industri pengelola, pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Kecendrungan masyarakat yang membuang sisa sayuran pasar secara sembarangan dan berlebihan menjadikan timbulan sampah yang dihasilkan tadi bertambah banyak. Selain itu juga menjadikan pasar di Indonesia terkesan kumuh dan kotor. Padahal limbah sayuran yang dihasilkan dari suatu pasar ternyata memiliki dampak yang besar, yaitu terjadinya penipisan lapisan tanah, peningkatan biaya pembuangan limbah sayuran dan gas kimia berbahaya yang 2 dihasilkan seperti gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) (Prasetyo, Rizki dan Rangkuti, C, 2015). Disisi lain, sayuran merupakan bahan makanan yang penting karena mengandung banyak vitamin yang baik untuk pertumbuhan makhluk hidup. Oleh karena itu pengolahan limbah sayuran perlu dilakukan agar dapat mengurangi timbulan sampah dan dampak berbahaya lainnya menjadi kompos telah banyak dilakukan oleh beberapa individu dalam rumah tangga maupun perusahaan besar. Menurut Crawford(2003), Kompos adalah hasil penguraian parsial dari campuran bahan organik yang dapat dipercepat secara buatan oleh mikroba pada kondisi tertentu. Dalam pengomposan diperlukan syarat khusus agar dihasilkan kompos yang baik, yaitu bahan yang digunakan tidak mengandung logam berat yang berbahaya bagi pertumbuhan tanaman, bahan mengandung unsur mikro yang penting bagi pertumbuhan tanaman seperti Cu, Mo, Mn (BSN, 2016). Kandungan C/N Rasio yang baik untuk pengomposan adalah 10-20, sedangkan limbah sayuran sendiri memiliki C/N rasio sebesar 10. Pada realitanya, limbah sayuran yang terdapat pada pasar terkadang digabungkan menjadi satu container besar. Sementara beberapa sayuran didalamnya masih bisa dimanfaatkan dan memiliki potensi untuk dijadikan pupuk kompos. Penggambungan limbah tersebut dapat menyulitakan pengelola dalam memilah limbah sayuran yang masih baik maupun yang sudah tidak layak, berdasarkan pemaparan dari Lilis (2005) dikatakan bahwa bahan yang digunakan untuk pembuatan kompos haruslah yang masih segar agar terjaga kelembabannya. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengatur keberadaan bakteri patogen yang terdapat dalam sayuran karena akan membuat proses dekomposisi menjadi tidak sempurna. Oleh karena itu dibuatlah SCOOTER (Smart Crops Composter) : Solusi Pengelolaan Limbah Sayur Pasar di Indonesia Berbasis Eco-Friendly, alat pembuatan kompos yang dapat memisahkan bahan sayuran antara yang baik dan busuk, untuk pembuatan pupuk kompos cair dan padat. Selain itu, alat ini dapat memisahkan limbah sayuran pasar yang terkadang terdapat logam berat berukuran kecil terkandung didalam container atau bak sampah pasar. Penggunaan teknologi sensor dan magnet yang juga dilengkapi mesin pencacah ini menjadikan alat kami adalah alat yang pintar. 1.2.Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang diangkat pada topik penelitian ini yaitu: a. Bagaimana solusi dari limbah makanan sayuran yang terdapat di pasar di Indonesia? b. Apa saja karakteristik yang memenuhi standar kompos yang baik? c. Bagaimana tingkat kualitas kompos yang dihasilkan? 1.3.Tujuan Adapun tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini yaitu: a. Menemukan solusi yang tepat untuk permasalahan limbah sayuran di pasar tradisional b. Menetapkan karakteristik yang tepat untuk pembuatan kompos di pasar tradisional c. Mendapatkan kualitas kompos yang baik untuk pertumbuhan tanaman 1.4.Luaran 3 Luaran yang diharapkan dari program ini adalah agar SCOOTER (Smart Crops Composter) dapat diaplikasikan pada pasar-pasar tradisional di Indonesia, terutama pasar besar tradisional di daerah yang tersebar di Indonesia. Selain itu, permasalahan limbah sayur yang belum dimanfaatkan dengan baik dapat menemukan jalan keluar dengan SCOOTER (Smart Crops Composter) sekaligus memecahkan permasalahan lingkungan pasar di Indonesia. Serta mendapatkan hak cipta dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI (Kemenristekdikti), Kementrian Pertanian RI dan juga Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup untuk alat yang kami rancang. 1.5.Manfaat 1.5.1. Bagi Mahasiswa a. Sebagai sarana pengaplikasian ilmu diperkuliahan b. Mengembangkan keterampilan (soft skill) mahasiswa di bidang lingkungan dalam kehidupan sehari-hari 1.5.2. Bagi Masyarakat a. Memberikan solusi untuk mengurangi limbah sayuran di pasar tradisional di Indonesia b. Menyediakan kompos dengan kualitas yang baik dari hasil limbah sayuran di pasar tradisional c. Menekan permasalahan kurangnya gizi baik dengan penyediaan kompos untuk tanaman yang baik d. Mengurangi paradigma masyarakat tentang kumuhnya pasar tradisional di Indonesia 1.5.3. Bagi perkembangan IPTEK a. Dapat mengetahui potensi limbah sayuran menjadi kompos dengan kualitas baik b. Dapat diajukan acuan untuk penelitian selanjutnya mengenai karakteristik kompos yang baik dengan bahan limbah sayuran BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Timbulan Limbah Sayur di Pasar Tradisional Maupun Modern Limbah merupakan barang yang sudah lagi tidak terpakai dan dapat berpotensi mencemari lingkungan, limbah sayuran merupakan salah satu jenis limbah yang memberikan dampak pencemaran lingkungan cukup besar. Pasar adalah tempat transaksi jual-beli masyarakat yang memiliki potensi besar menghasilkan limbah sayuran. Berdasarkan data dari Djafar et. al (2014), timbulan sampah yang dihasilkan dari Pasar Induk Caringin, Bandung mencapai angka 1,64 kg/m2 dengan berisi 16 pedagang didalamnya. Selain itu penelitian lain telah dilakukan oleh Dwi D.E dan Sukmono Y (2013) menghasilkan 5.94 m3/hari timbulan sampah di Pasar Segiri Kota Samarinda dan jumlah tersebut nyatanya didominasi oleh limbah organik seperti sayuran, buah-buahan, dedaunan dll sebesar 78,26%. Jumlah yang besar tersebut disebabkan karena limbah sayuran pada pasar di Indonesia umumnya pun masih disatukan antara sayuran yang masih memiliki potensi dengan sayuran yang busuk. Limbah sayuran yang sudah busuk inilah yang menyebabkan masalah. Masalah yang dihasilkan seperti bau menyengat, sehingga mengganggu aktivitas dipasar dan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan virus. Masalah lain yang dihasilkan yaitu pencemaran lingkungan. Limbah sayur dan buah-buahan 4 yang sudah busuk umumnya memiliki kadar air yang tinggi sehingga ketika sampah disatukan akan menunjang terbentuknya air lindi. Air lindi adalah air yang dihasilkan dari timbulan sampah, Jika air ini masuk kedalam selokan atau bahkan saluran air di Pasar maka akan meningkatkan masalah pencemaran lingkungan. Limbah organic yang bercampur dengan air mampu menurunkan kandungan oksigen terlarut dan meningktkan Biochemical Oxygen Demond (BOD), Chemical Oxygen Demond (COD), Total Suspended Solid (TDS) yang menjadi parameter utama pencemaran air (Shovitri dan Kuswytasari, 2012). 2.2. Pengelolaan Limbah Sayur di Pasar Pemerintah sejatinya sudah mengatur peraturan pengelolaan sampah di pasar, bahkan di Yogyakarta terdapat peraturan daerah kota Yogyakarta Nomor 10 Tahun 2012, bahwa pengelolaan sampah merupakan kegiatan yang sistematis, menyulur, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penangan sampah. Dari Perda tersebut telah dilakukan pengelolaan limbah sayur di Pasar Giwangan, Yogyakarta dengan memanfaatkan limbah sayuran yang dihasilkan menjadi pupuk kompos. Namun, terdapat beberapa kendala dalam pegelolaan sampah di pasar tersebut antara lain, kurangnya lahan yang luas, fasilitas TPS yang masih belum tersedia di pasar, kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan teknologi yang mampu mengelola sampah organik dan anorganik (Martinus, 2016). Disisi lain, Pasar Sampangan Baru Kota Semarang juga telah mengelola limbah sayuran pasarnya menjadi pupuk kompos yang siap dijual. Pengelolaan ini dilakukan dengan mengambil lahan yang cukup besar yaitu pembuatan rumah kompos yang terdapat pada wilayah pasar (Indriyanti D. R, Banowati E dan Margunani, 2015). Selain dijadikan kompos, limbah sayuran juga dapat dijadikan pollard, biogas, bioethanol dll. Pollard merupakan pakan yang berasal dari limbah industri pertanian atau organik yang banyak digunakan oleh peternak sebagai sumber energy. Pollard kaya akan protein, lemak, zat-zat mineral dan vitamin-vitamin. Pada pembuatan pollard diperlukan bahan limbah pertanian yaitu limbah kubis, limbah sawi, garam tetes dan media mikrobiologi dimana bahan tersebut banyak terdapat pada limbah sayuran pasar (Utama, 2013). Sedangkan biogas adalah bahan bakar gas alami dari gas yang dihasilkan oleh limbah sayuran organik (CH4 dan CO2) melalui proses fermentasi. Bioethanol merupakan etanol yang berasal dari sumber hayati seperti limbah sayur dan buah yang mengandung selulosa dan dapat dijadikan sebagai bahan alternative karena memiliki sifat yang ramah lingkungan mengandungemisi gas CO lebih rendah, kandungan oksigen yang tinggi sehinggaterbakarlebih sempurna, dandapatdiproduksiterus menerus oleh mikroorganisme (Kusumaningati et. al.,2013). 2.3. SCOOTER (Smart Crops Composter) Sebagai Solusi Pengelolaan Limbah Sayuran Sebagaimana diketahui dari data diatas bahwa pengelolaan sampah di pasar umumnya masih mencampurkan semua limbah organik maupun anorganik menjadi satu container sampah. Hal tersebut mengakibatkan banyak limbah sayur yang sebenarnya masih berpotensi, justru menjadi sampah yang tidak bisa lagi dimanfaatkan. Bahan anorganik yang tecampur didalamnya justru akan menghambat reaksi fermentasi jika limbah sayuran akan dimanfaatkan kembali. Logam adalah salah satu bahan anorganik yang dapat menghambat prosesnya. 5 Selain itu limbah sayuran yang sudah busuk beberapa diantaranya mengandung bakteri patogen yang membawa penyakit. Pembuatan kompos dirasa suatu hal yang sederhana dalam pengelolaan limbah sayuran yang ada dipasar. Namun, untuk membuat kompos diperlukan syarat-syarat agar kompos yang dihasilkan dapat berkualitas baik. Berdasarkan ketetapan yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia atau SNI (2004), proses dekomposisi akan berjalan dengan baik apabila bahan yang digunakan memiliki C/N rasio sebesar 10-20, tidak terdapat bahan pencemar seperti logam berat, B3 dan kimia organik, mengandung unsur mikro yang penting untuk pertumbuhan tanaman nantinya (Cu, Mo, Zn), kadar air yang terdapat pada bahan maksimum 50%, dan memiliki pH netral. Untuk itu karena dalam suatu pasar masih mencapurkan semua limbah menjadi satu, diperlukan alat yang dapat memisahkan limbah yang masih berpotensi dengan limbah yang akan dibuang ke TPA. Oleh karena itu SCOOTER (Smart Crops Composter), dengan menggunakan teknologi sensor warna dan magnet diciptakan untuk memisahkan antara bahan limbah sayuran yang masih layak dengan sayuran yang sudah busuk agar produk kompos yang dihasilkan dapat berbentuk cair dan padat. Karena kadar air pada limbah sayur yang busuk lebih tinggi dibandingkan yang masih baik, maka produk yang dihasilkan adalah kompos cair. Sedangkan sayuran yang masih baik akan dijadikn kompos padat. Selain itu, SCOOTER juga mampu memisahkan limbah sayuran dengan limbah logam berat yang berukuran kecil dengan pemasangan magnet pada alat, sehingga limbah sayuran yang akan diproses terbebas dari logam berat. Selain itu, sensor warna yang digunakan mengadopsi prinsip Computer Vision yaitu dengan metode HSV atau biasa digunakan untuk menentukan grade pada buah-buahan dan sayuran (Agustiyanto, F. R. (2012). Umumnya sayuran yang mengalami kerusakan atau membusuk terjadi perubahan warna menjadi coklat dari jaringan yang rusak didalamnya (Utama, 2001) dari hal tersebut, sensor akan menangkap warna sayuran yang tidak sesuai dengan karakteristik sayuran yang baik dan akan secara otomatis memisahkan sayuran tersebut. Selain itu, agar pengomposan berjalan dengan baik, ukuran bahan sayuran yang digunakan harus berukuran kecil maka SCOOTER dilengkapi dengan pisau pencacah dimana sayuran akan terpotong menjadi ukuran yang lebih kecil agar proses dekomposisi berjalan maksimal. Penambahan EM (Effective Microorganisme) juga dapat dilakukan secara berkala oleh SCOOTER sendiri agar mikrorganisme baik dapat meningkatkan laju dekomposisi. (Setyorini et al., 2006) 6 BAB III TAHAP PELAKSANAAN 3.1. Tahap Pelaksanaan 3.1.1. Langkah Kerja SCOOTER SCOOTER merupakan alat yang natinya dapat digunakan untuk mengubah limbah sayuran yang berada di pasar untuk menjadi pupuk kompos padat dan cair sehingga dapat mengurangi penumpukan sampah yang ada di pasar. Adapun alur kerja SCOOTER adalah sebagai berikut : Limbah sayuran dimasukkan kedalam alat Logam kecil yang terdapat pada limbah sayuran akan menempel pada dinding alat Limbah sayuran akan masuk kebagian dalam alat, Sensor warna akan memisahkan limbah sayuran yang bagus dan yang busuk Limbah sayuran akan terpisah dan akan masuk ke tahap pencacahan Limbah akan diolah menjadi kompos cair dan padat 3.1.2. Analisis Cara Kerja SCOOTER a. Limbah sayuran dimasukkan ke dalam alat Limbah sayuran yang telah dibuang dipasar biasanya tidak lagi dimanfaatkan oleh masyarakat karena dianggap sudah tidak memiliki potensi untuk digunakan lagi. Limbah yang telah diambil kemudian dimasukkan ke dalam alat blabla untuk selanjutnya akan diubah menjadi pupuk kompos. b. Pemisahan logam dari limbah sayuran Limbah sayuran yang didapatkan tentunya masih terdapat banyak kandungan logam di dalamnya. Untuk itu, di bagian dalam alat ini disediakan magnet sebagai pengikat logam yang ada di limbah sayuran. Magnet diletakkan pada bagian leher alat di sisi kanan dan kiri. Pada bagian magnet diberi cekungan atau ruang untuk logam yang tertarik agar jika dimasukkan limbah sayuran lagi, logam yang sudah tertarik tidak terbawa oleh limbah sayuran kebawah. c. Limbah sayuran akan masuk dan dipilah oleh sensor warna 7 Setelah terpisah dari logam, kemudian limbah sayuran akan masuk ke bagian dalam alat. Di bagian dalam alat terdapat sensor warna yang akan memisahkan limbah sayuran yang masih bagus dan yang sudah jelek. Sensor akan mendeteksi dari segi warna sayuran, jika sayuran yang ditangkap oleh sensor terdeteksi dalam kategori bagus akan secara otomatis masuk ke sisi lain bagian alat. Kemudian limbah sayuran yang jelek juga akan masuk ke sisi berbeda dari limbah sayuran yang bagus. d. Limbah terpilih akan dicacah oleh mesin Setelah terpisah dari limbah sayuran yang jelek, limbah sayuran yang bagus akan masuk ke dalam mesin pencacah. Limbah sayuran akan dicacah oleh pisau berputar untuk selanjutnya dirubah menjadi potonganpotongan kecil agar bisa diolah menjadi pupuk kompos. e. Limbah sayuran bagus diolah menjadi pupuk kompos Di dalam bagian pengolahan pupuk kompos sudah terdapat tanah yang belum mempunyai kandungan apapun sebagai campuran dengan limbah sayuran bagus. Tanah dan limbah sayuran yang telah menyatu akan disemprotkan oleh sebuah tabung yang mengandung MOL (Mikro Organisme Lokal). MOL merupakan larutan hasil fermentasi yang berbahan dasarcdari berbagai sumber daya yang tersedia setempat. Larutan MOL mengandungunsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensisebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, dansebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman, sehingga MOL dapat digunakan baik sebagai dekomposer, pupuk hayati dan sebagai pestisidaorganik terutama sebagai fungisida. Kemudian baling- baling akan mengaduk tanah dan limbah sayuran bagus yang akan menjadi pupuk kompos. 3.2. Menyusun Desain SCOOTER Gambar 2: Desain alat Penyusunan desain alat dilakukan dengan mengamati komponen yang penting dalam composter pada umumnya. Pada umumnya pembuatan kompos yang sudah dicacah, dilakukan dengan menutup kompos menggunakan terpal. Selanjutya hal tersebut diaplikasikan pada tong SCOOTER. 8 3.3. Membuat SCOOTER Pembuatan SCOOTER dibutuhkan alat dan bahan utama, yaitu: plat besi, sensor image, pisau pemotong, magnet, baling pembalik, drum sampah, pipa pvc, botol spray, dan EM4. 3.4. Tahapan Pengujian dan Evaluasi Level Penerimaan Masyarakat Pengujian dilakukan dengan memasukan 3 jenis limbah, Yaitu limbah sayur yang masih baik, limbah yang sudah busuk serta limbah logam dengan menggunakan sensor warna serta magnet yang dipasang pada alat SCOOTER. Hasil pengujian yang telah dilakukan, akan dicatat dan dijadikan bahan evaluasi dalam perbaikan alat. 9 BAB IV BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN Anggaran biaya dan jadwal kegiatan Tabel 1. Anggaran Biaya No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp) 1 Peralatan Penunjang Rp4.620.000,00 2 Bahan Habis Pakai Rp110.000,00 3 Perjalanan Rp135.000,00 4 Lain-lain Rp76.000,00 Jumlah Rp 4.941.000,00 Tabel 2. Jadwal Kegiatan No Kegiatan 1 Menganalisis permasalahan Menemukan ide dan solusi Studi literatur Merancang bentuk composter Penyediaan alat dan bahan Melakukan penelitian Pembuatan alat Uji coba Sosialisasi 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Evaluasi Penyusunan laporan Bulan Desember Januari Februari 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Maret 1 2 3 4 10 DAFTAR PUSTAKA Agustiyanto, F. R. (2012). Aplikasi Computer Vision Pada Kualitas Kematangan Buah. Jurnal Sainstek, 116-122. Crawford. J. H., 2003. Composting Of Agricultural Waste. In Biotechnology Applications And Research, Paul N., Cheremisinoff And R. P.Ouellette (Ed). P. 68-77. Djafar et.al, 2014, Pengolahan Limbah Organik Sampah Pasar Menjadi Kompos. Jurnal Institut Teknologi Nasional. Vol 2(1). Indriyanti D. R, Banowati E Dan Margunani, 2015. Pengolahan Limbah Organik Sampah Pasar Menjadi Kompos. Jurnal ABDIMAS. Vol 19 (1) Kusumaningati A. Mutiara , S. Nurhatika, Dan A. Muhibidin. 2013. Pengaruh Konsentrasi Inokulum Bakteri Zymomonas Mobilis Dan Lama Fermentasi Pada Produksi Etanol Dari Sampah Sayur Dan Buah Pasar Wonokromo Surabaya. Jurnal Sains Dan Seni Pomits, 2(2) : 218-225. Lilis, 2005. Pengelolaan Sampah Dengan Cara Menjadikannya Kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan. Vol 2(1): 77-84. Martinus, 2016. Pengelolaan Sampah Pasar Sebagai Upaya Pengendalian Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 10 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah (Studi Kasus Di Pasar Giwangan Kota Yogyakarta). Jurnal Ilmiah Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Paramita , P., Shovitri , M., & Kuswytasari, N. D. (2012). Biodegradasi Limbah Organik Pasar dengan. JURNAL SAINS DAN SENI ITS , E-23 - E-25. Prasetyo, Rizki dan Rangkuti, C, 2015. Produksi gasbio menggunakan Limbah Sayuran. Seminar Nasional Cendikiawan. Universitas Trisakti. Rahayu, Dwi Dan Sukmono, Y, 2013. Kajian Potensi Pemanfaatan Sampah Organik Pasar Berdasarkan Karakteristiknya (Studi Kasus Pasar Segiri Kota Samarinda). Jurnal Sains Dan Teknologi Lingkungan. Vol. 5(2): 77-90 Riskawati, 2018. Pengelolaan Sampah Di Pasar Terong Kota Makassar. Jurnal Tomalebbi. Vol. 5(2). Rusmono, 2008. Pengertian, Macam Dan Sifat Serta Potensi Limbah Pertanian. Modul 1 Pemanfaatan Limbah Pertanian. Universitas Terbuka. Setyorini et. al., 2006. Pupuk Organik Dan Pupuk Hayati: Kompos. Balai Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Standar Nasional Indonesia, 2004. Spesifikasi Kompos Dari Sampah Organik Domestik. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta Utama S.C et. al., 2013. Profil Mikrobiologis Pollard Yang Difermentasi Dengan Ekstrak Limbah Pasar Sayur Pada Lama Peram Yang Berbeda. Jurnal AGRIPET.Vol. 13 (2). 11 Utama, I. M. (2001). Penanganan Pascapanen Buah Dan Sayuran Segar. Forum Konsultasi Teknologi. Bali. Widjajanti, E., 2009. Penanganan Limbah Laboratorium Kimia. Makalah. Yogyakarta: UNY, 1-8 12 LAMPIRAN Lampiran 1. Biodata Ketua Program dan Anggota Ketua Program A.Identitas Diri 1. Nama lengkap Safira Nurul Izzah 2. Jenis Kelamin Perempuan 3. Program Studi Agroekoteknologi 4. NIM 185040207111052 5. Tempat dan Tanggal Lahir Jakarta,12 Mei 1999 6. Email [email protected] 7. Nomor Telepon/HP 08561588828 B.Riwayat Pendidikan SD SMP SMA Nama Institusi SD Islam AlSMPN 4 Kota SMAN 17 Ashar Tangerang Bandung Jurusan Non-Jurusan Non- Jurusan IPA Tahun Masuk 2005-2010 2011-2013 2014-2017 C.Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) No Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar Judul Artikel Waktu dan Ilmiah Tempat 1. D.Pengahargaan Dalam 5 Tahun Terakhir (Dari Pemerintah, Asosiasi, dan Istitusi Lainnya) No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun 1. Peserta Kegiatan Belajar Bersama Maestro Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2016 2. Peserta Forum Pelajar Indonesia ke-8 Peserta Friendship From Indonesia Peserta Kakak SabangMerauke Indonesia Student and Youth Forum Intercultural Friendship Society SabangMerauke 2016 3. 4. 2018 2018 Semua data yang saya isi kan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk memenuhi salah satu pernyataan dalam pengajuan hibah. Malang, 15 Maret 2019 Anggota 1 A.Identitas Diri (Safira Nurul Izzah) 13 1. 2. 3. 4. 5. Nama lengkap Handika Ahmad Maulana Jenis Kelamin Laki-laki Program Studi Agroekoteknologi NIM 185040207111068 Tempat dan Tanggal Ngawi, 31 Mei 2000 Lahir 6. Email [email protected] 7. Nomor Telepon/HP 081333937398 B.Riwayat Pendidikan SD SMP SMA Nama Institusi SDN Bangunrejokidul MTSN 6 Ngawi MAN 1 Kota 2 Madiun Jurusan Non-Jurusan Non-Jurusan IPA Tahun Masuk 2006-2012 2012-2015 2015-2018 C.Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) No Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar Judul Artikel Waktu dan Ilmiah Tempat 1. D.Pengahargaan Dalam 5 Tahun Terakhir (Dari Pemerintah, Asosiasi, dan Istitusi Lainnya) No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun 1. Juara 1 Lomba Kementrian Agama Kota 2017 Desain Grafis Madiun Aksioma 2017 2. Peserta Aksioma Kementrian Agama Provinsi 2017 Tingkat Provinsi Jawa Timur Jawa Timur Semua data yang saya isi kan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanki. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk memenuhi salah satu pernyataan dalam pengajuan hibah. Malang,12 Februari 2018 (Handika Ahmad Maulana) 14 Anggota 2 A.Identitas Diri 1. Nama lengkap Ardiyan Taruna 2. Jenis Kelamin Laki – laki 3. Program Studi Agroekoteknologi 4. NIM 185040207111069 5. Tempat dan Tanggal Praya, 2 April 2000 Lahir 6. Email [email protected] 7. Nomor Telepon/HP 087858545012 B.Riwayat Pendidikan SD SMP SMA Nama Institusi SDN 2 Aikmual SMPN 2 Praya SMAN 1 Praya Jurusan MIPA Tahun Masuk 2007 2012 2015 C.Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) No Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar Judul Artikel Waktu dan Ilmiah Tempat 1. D.Pengahargaan Dalam 5 Tahun Terakhir (Dari Pemerintah, Asosiasi, dan Istitusi Lainnya) No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun 1. Juara 4 OSN Dinas Pendidikan dan 2016 Geografi 2016 Kebudayaan tingkat kabupaten 2. 3. Semua data yang saya isi kan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanki. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk memenuhi salah satu pernyataan dalam pengajuan hibah. Malang,12 Februari 2018 (Ardiyan Taruna) 15 Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan 1. Peralatan Penunjang Material Justifikasi Volume Pemakaian Harga Jumlah Satuan (Rp) Biaya (Rp) Sensor image Menyortir sayuran bagus dan busuk 1 buah Rp 1.000.000 Rp 1.000.000 Drum Sampah Tempat kompos 2 buah Rp 300.000 Rp 300.000 Magnet (1mm x 60cm) Menangkap logam pada sayuran 2 lembar Rp 200.000 Rp 400.000 Dinamo listrik Memutar pisau 2 buah Rp 200.000 Rp 400.000 Engsel Membuka dan meutup penutup alat 1 buah Rp 70.000 Rp 70.000 Besi Stainless Bahan sisi luar alat 2 lembar Rp 500.000 Rp 1.000.000 Balingbaling besi Mengaduk sayuran dengan tanah 1 buah Rp 150.000 Rp 150.000 Botol spray Menyemprotkan aktivator 2 buah Rp 50.000 Rp 100.000 Pisau pencacah Mencacah sayuran 2 buah Rp 350.000 Rp 700.000 Pipa pvc Saluran cairan 2 meter Rp 100.000 Rp 200.000 Kawat Kabel Menyatukan Botol Spray pada Drum Sampah 1 gulung Rp 300.000 Rp 300.000 SUB TOTAL Rp4.620.000,00 2. Bahan Habis Pakai Material Justifikasi Volume Pemakaian Harga Jumlah Satuan (Rp) Biaya (Rp) EM4 Activator pupuk 1 botol Rp 30.000 Rp 30.000 Plastik Kemasan Pupuk 1 pack Rp 30.000 Rp 30.000 16 Botol Kemasan Pupuk 1 pack Rp 50.000 Rp 50.000 SUB TOTAL Rp110.000,00 3. Perjalanan Material Justifikasi Volume Pemakaian Harga Jumlah Satuan (Rp) Biaya (Rp) Pencarian Bahan Mendapatkan EM4 dan bahan pendukung 3 orang Rp 25.000 Rp 75.000 Survey Pasar Mengamati kondisi limbah sayur di Pasar 3 orang Rp 20.000 Rp 60.000 SUB TOTAL (Rp) Rp135.000,00 4. Lain-lain Material Justifikasi Volume Pemakaian Administrasi Harga Jumlah Satuan (Rp) Biaya (Rp) Print 8 bundel Rp 7.000,00 Rp 56.000,00 Jilid 4 bundel Rp 5.000,00 Rp 20.000,00 SUB TOTAL (Rp) Rp76.000,00 TOTAL (Keseluruhan) (Rp) Rp 4.941.000,00 Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas No Nama/NIM Program Studi Alokasi Uraian Tugas Waktu (Jam/ Minggu) 1. Safira Nurul Izzah/ Agroekoteknologi 14 Merencanakan 185040207111052 pembuatan, Penyusunan proposal, Desain alat 2. Handika Ahmad Agroekoteknologi 14 Merencanakan Maulana/ pembuatan, 185040207111068 Penyusunan proposal, Membuat Prototype 3. Ardiyan Taruna/ Agroekoteknologi 14 Merencanakan 185040207111069 pembuatan, 17 Penyusunan proposal, Membuat Prototype