Uploaded by Azis Aldi

kajian seni rupa 1

advertisement
MAKALAH KAJIAN SENI RUPA DALAM KURIKULUM 2013
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Pembelajaran Seni Rupa
Dosen Pengampu : Novy Trisnani, M.Pd
Disusun Oleh :
Azis Aldi
17013004
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI WATES
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas rahmat dan karunia-Nya serta kerja keras kami sehingga kami mampu
menyelesaikan pembuatan makalah ini.
Kami menyadari dan menyakini bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna. Masih banyak kekurangan ataupun kesalahan yang kami
sadari maupun tidak kami sadari. Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran dari makalah ini, agar dimasa yang akan datang kami bisa
menyusun makalah yang lebih baik lagi. Meskipun makalah ini jauh dari
sempurna kami berharap agar makalah kami dapat bermanfaat bagi yang
membacanya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam pembuatan makalah ini. Demikian
sedikit kata pengantar dari kami, atas perhatian dari pembaca sekalian
kami mengucapkan banyak terima kasih.
Wates , 29 Maret 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seni dan budaya memiliki manfaat yang sangat penting bagi kehidupan
manusia baik secara pribadi maupun sosial, sehingga sangat beralasan jika seni
dan budaya masuk dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah seperti yang
dinyatakan dalam Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional Pasal 37 ayat 1. Dalam struktur Kurikulum Tingkat Satuan
Pelajaran (KTSP), materi seni dan budaya dikemas dalam mata pelajaran Seni
Budaya dan Keterampilan (SBK), sementara dalam kurikulum 2013 SBK diganti
namanya menjadi mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (selanjutnya ditulis
SBDP) dengan demikian, mata pelajaran SBDP di SD wajib disampaikan oleh
guru dalam proses kegiatan belajar mengajar di Sekolah.
Mata
pelajaran
SBDP
diberikan
di
sekolah
karena
keunikan,
kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta
didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan
berekspresi/berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni,”
“belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Peran ini hanya dapat diberikan
melalui mata pelajaran seni. Pentingnya seni dalam pendidikan, disampaikan oleh
Ki Hajar Dewantara “Seni adalah segala sesuatu perbuatan manusia yang timbul
dari hidup perasaannya dan bersifat indah, sehingga dapat menggerakan jiwa
perasaan manusia” (Hadjar Primadi, 2009). Seni menurut pandangan Ki Hajar
Dewantara , diyakini dapat menggerakan jiwa perasaan manusia sehingga sangat
dibutuhkan dalam membentuk kepribadian peserta didik sehingga diharapkan
menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang utuh (berkarakter) di kemudian
hari.
Namun demikian seiring diberlakukannya kurikulum 2013 penulis belum
menemukan suatu kajian atau evaluasi, yang mengkaji secara detil sejauh mana
proses pembelajaran seni dan budaya dilasanakan pada proses pembelajaran
dalam penerapan kurikulu sebelumya (KTSP). Apakah sudah berjalan sesuai
dengan tuntutan rumsan kurikulum atau belum. Hal ini mendorong penulis untuk
mengetahui sejauhmana implementasi kurikulum 2013 mata pelajaran SBDP di
SD dilaksanakan. Apakah sudah diterapkan sesuai tuntutan kurikulum atau belum,
upaya ini dilakukan sebagai dasar pertimbangan dalam mengantisipasi berbagai
kendala di lapangan terkait diberlakukannya kurikulum 2013 tersebut.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar ?
2. Bagaimana Peran Seni Rupa dalam Pendidikan ?
3.Bagaimana Ruang Lingkup Seni Rupa ?
4.Bagaimana Kurikulum Pendidikan Guru Seni Rupa ?
5.Bagaimana Fungsi dan Kegunaan Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya ?
6.Bagaimana Alokasi Waktu Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya di SD ?
7.Apa Saja Cakupan Materi Seni Budaya dan Prakarya di SD ?
8. Bagaimana Kompetensi Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya di SD ?
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Bagaimana Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar
2. Untuk Mengetahui Bagaimana Peran Seni Rupa dalam Pendidikan
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Ruang Lingkup Seni Rupa
4. Untuk Mengetahui Bagaimana Kurikulum Pendidikan Guru Seni Rupa
5. Untuk Mengetahui Bagaimana Fungsi dan Kegunaan Mata Pelajaran Seni
Budaya dan Prakarya
6. Untuk Mengetahui Bagaimana Alokasi Waktu Mata Pelajaran Seni Budaya dan
Prakarya di SD
7. Untuk Mengetahui Apa Saja Cakupan Materi Seni Budaya dan Prakarya di SD
8. Untuk Mengetahui Bagaimana Kompetensi Mata Pelajaran Seni Budaya dan
Prakarya di SD
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kurikulum 2013 Sekoalah Dasar
Kurikulum yang digunakan dalam system pendidikan di Indonesia telah
terjadi beberapa kali pergantian dalam kurun waktu 44 tahun telah melahirkan 5
kurikulum yaitu kurikulum 1968, 1975, 1984, 1994,2004 KBK),2006 (KTSP),
dan yang diberlakukan pada saat ini adalah kurikulum 2013. Tujuan dari semua
kurikulum yang dirumuskan pada hakikatnya sama yaitu untuk mengahasilkan
pesertadidik yang berkualitas yang mencakup tiga kemampuan yaitu, pengetahuan
(kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor).
Beberapa perubahan yang terdapat pada kurikulum 2013 dari KTSP 2006
yang merupakan lanjutan dari rintisan kurikulum berbasis kompetensi (KBK
2004) di antaranya jumlah mata pelajaran dan jam pelajaran. Mata Pelajaran SBK
pada KTSP yang semula diberikan pada kelas 4, 5 dan 6 dengan waktu 4 jam
dalam 1 minggu, pada kurikulum 2013 berubah nama menajdi mata pelajaran
Seni Budaya dan Prakarya (SBDBP) yang diberikan kepada kelas 1 sampai 6
melalui pendekatan pembelajaran tematik dengan jumlah jam pelajaran untuk
kelas 1, 2, dan 3 (4 jam pelajaran), sementara untuk kelas 4, 5, dan 6 (6 jam
pelajaran). Dengan demikian ada dua hal yang sangat krusial yang harus ditelusuri
secara detail dengan diberlakukannya kurikulum 2013 terkait mata pelajaran
SBDP pada kurikulum 2013 di SD. Kedua hal tersebut adalah: pertama,
penguasaan materi SBDP dan kedua pemahaman dan penguasan pendekatan
pembelajaran tematik. Kedua hal tersebut sangat penting dikuasai guru dalam
memgiplentasikan kurikulum 2013.
Seperti pada mata pelajaran SBK di SD pada KTSP, SBDP merupakan
amanat dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan. Budaya yang dimaksud dalam mata
pelajaran SBK pada KTSP/SBDP pada Kurikulum 2013, tidak hanya terdapat
dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek
kehidupan. Dalam mata pelajaran SBDP, aspek budaya tidak dibahas secara
tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Karena itu, mata pelajaran SBDP pada
dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya.
Mata pelajaran SBDP/SBK pada KTSP memiliki sifat multilingual,
multidimensional, dan multikultural. Multilingual bermakna pengembangan
kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media
seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya.
Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi
meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan
kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika,
kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni
menumbuhkembangkan
kesadaran
dan
kemampuan
apresiasi
terhadap
kemajemukan budaya Nusantara dan Mancanegara. Hal ini merupakan wujud
pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara
beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang beragam.
Pendidikan Seni Budaya dan Prakarya memiliki peranan dalam
pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan
kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas
kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik
matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas,
kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional.
Bidang seni rupa, musik, tari, dan keterampilan memiliki kekhasan
tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam pendidikan seni
dan keterampilan, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang
tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan
kreasi. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan
teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.
Mata pelajaran SBDP bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut.
1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan
2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan
3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan
4. Menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat
lokal, regional, maupun global.
Ruang lingkup mata pelajaran SBDP meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Seni rupa, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam
menghasilkan karya seni berupa lukisan, patung, ukiran, cetak-mencetak,
dan sebagainya
2. Seni musik, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vokal,
memainkan alat musik, apresiasi karya musik
3. Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan olah tubuh dengan dan
tanpa rangsangan bunyi, apresiasi terhadap gerak tari
4. Seni drama, mencakup keterampilan pementasan dengan memadukan seni
musik, seni tari dan peran
5. Keterampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup ( life skills )
yang meliputi keterampilan personal, keterampilan sosial, keterampilan
vokasional dan keterampilan akademik.
Guru kelas diharapkan minimal mengajarkan satu dari keempat bidang
seni yang ditawarkan sesuai dengan kemampuan serta fasilitas yang tersedia. Pada
sekolah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran lebih dari satu bidang seni,
peserta didik diberi kesempatan untuk memilih bidang seni yang akan diikutinya.
Pada tingkat SD/MI, mata pelajaran Keterampilan ditekankan pada keterampilan
vokasional, khusus kerajinan tangan (sumber KTSP 2006).
Berdasarkan uiraian tersebut di atas, dapat kita simpulkan bahwa
pembelajaran SBK di SD merupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh guru SD
yang berstatus sebagai guru kelas, mengapa demikian kerena sistem dalam
pendidikan SD kita tidak memberlakukan guru mata pelajaran tetapi guru kelas.
Oleh karena itu, setiap guru kelas harus menguasai berbagai mata pelajaran
kecuali mata pelajaran agama dan olah raga. Walaupun mata pelejaran SBK
bukan salah satu mata pelajaran yang tercantum pada standar kompetensi guru
kelas (SKGK), karena di SD tidak ada guru SBDP khusus seperti pada mata
pelajaran agama dan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (penjasorkes)
namun demikian guru SD dituntut menguasai mata pelalajaran SBDP.
B. Peran Seni dalam Pendidikan
Mata pelajaran seni dan budaya diberikan di sekolah (SD,SMP,SMA)
pada dasarnya bukan bertujuan untuk mencetak pesertadidik menjadi seniman
atau budayawan, tetapi seni dan budaya diberikan bertujuan untuk memfasilitasi
perkembangan anak secara utuh (cerdas akalnya, sehat jasmaninya, indah
perilakunya). Lebih lanjut Cut Camaril (2003) menjelaskan bahwa “Pendidikan
seni yang bersifat multidimensional, multilingual, dan multicultural memeliki
potensi dalam pengembangan kecerdasan manusia agar mampu tampil secara
bermartabat pada masa depan”. Hal senada disampaikan Primadi Tabrani (2003)
yang menyatakan bahwa pendidikan manusia seutuhnya-pendidikan integral tak
akan tercapai bila seni dianaktirikan dalam kurikulum SD, SMP dan SMA kita".
Melalui seni anak dapat mengembangkan kretivitasnya secara optimal, orang
yang kreative akan lebih mudah menjalani hidup dimasa depan dibandingkan
dengan anak yang memiliki kecerdasan secara kognitif belaka. Oleh karena itu
pemberlakuan Kurikulum 2013 di antaranya berupaya mendorong pesertadidik
memiliki
kreativitas
tinggi.
Seperti
disampaiakan
Prof.Alkaf
pada
pressworkshop kurikulum 2013 mengutif dari pendapat Dyers, J.H. et al [2011],
Innovators DNA, Harvard Business Review menjelaskan:
• 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3
sisanya berasal dari genetik.
• Kebalikannya berlaku untuk kemampuan kecerdasan yaitu: 1/3 dari
pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik.
• Kemampuan kreativitas diperoleh melalui:
- Observing [mengamat]
- Questioning [menanya]
- Experimenting [mencoba]
Personal
- Associating [menalar]
- Networking [Membentuk jejaring]
interpersonal
Mengacu pada pendapat tersebut pembelajaran berbasis kecerdasan
tidak akan memberikan hasil siginifikan (hanya peningkatan 50%)
dibandingkan yang berbasis kreativitas (sampai 200%). Sarana untuk
mengembangkan kreativitas pesertadidik yang paling tepat yaitu melalui
pembelajaran seni budaya dan prakarya. Terkait dengan pendekatan tematik
yang diberlakukan pada kurikulum 2013, seni dapat dijadikan sebagai media
untuk memahami materi pelajaran lain hal ini seyogyanya dapat membantu
guru SD dalam mengimplentasikan kurikulum 2013 tersebut yang
menggunakan pendekatan tematik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.
Penguasan materi seni dan budaya yang dikuasai guru dapat membantu guru
dalam menyampaikan materi pembelajaran secara keseluruhan. Pendekatan
pendidikan seni yang dilakukan dalam pendekatan pembelajaran tematik
adalah pendekatan “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar
tentang seni. Melalui pembelajaran seni musik, tari, dan rupa guru dapat
menjelaskan materi yang terkait dengan mata pelajaran, bahasa, matematika,
IPA, IPS, PKn, olah raga serta agama (memlaui lagu religi).
Peran dan fungsi seni lebih lanjut disampaikan oleh Hajar Pamadhi
dkk (2009) dalam Buku Matrei Pokok (BMP) Pendidikan Seni di SD untuk
mahasiswa S1 PGSD FKIP Universitas Terbuka yang menjelaskan bahwa
salah satu fungsi pendidikan seni adalah menyeimbangkan kinerja otak kanan
(mengembangkan kedisiplinan, keteraturan dan berpikir sistematis) dan otak
kiri (mengembangkan kemampuan kreasi yang unstructured seperti ekspresi,
kreasi, imajinasi yang tidak membutuhkan sistematika kerja agar terjadi
perpaduan gerak yang dinamis). Dari berbagai hasil penelitian yang
dilakukan para ahli ditemukan bahwa ternyata seni dapat membantu
pengembangan daya pikir anak, mengembangkan kepekaan anak, dapat
membantu memahami materi pelajaran lain, dan melalui kegiatan produksi
karya seni mampu membangkitkan karsa anak. Untuk lebih mengoptimalkan
proses pembelajaran mata pelajaran seni budaya dan prakarya dalam
melaksanakan kurikulum 2013, guru dituntut lebih menguasai dan memahami
bukan saja hanya sekadar teori, tetapi praktik seni budaya dan prakarya
sesuai cakupan materi yang telah dirumuskan dalam kurikulum. Guru harus
memahami dan mengerti tentang fungsi pendidikan seni yang di antaranya
sebagai media ekspresi, sebagai media komunikasi, dan sebagai media
pembinaan kreativitas, serta sebagai media pengembangan hobi dan bakat.
Melalui seni guru dapat melatih anak untuk belajar mengungkap isi hati dan
pikiran yang sulit diungkapkan melalui kata-kata, memberikan kesempatan
ide dan pikiran diungkapkan melalui gerakan sehingga berujud tarian,
demikian pula seni memberi kesempatan mengungkapkan yang dirasakan,
gagasan, dan pikiran anak melalui rangkaian nada dan suara atau
mewujudkannya dalam bentuk gambar atau prakarya lainya.
C. Pengertian Seni
Setiap manusia memiliki sisi kreatifitasnya masing-masing dengan
hasil keterampilan dan rasa keindahan yang sering disebut sebagai sebuah
karya seni. Pengertian seni diartikan sebagai sebuah karya pengungkapan
rasa
keindahan
yang
menyajikan
beberapa
bentuk
kreatifitas.
Pengungkapan seni tersebut bisa terbagi ke dalam berbagai jenis dan
macamnya. Beberapa contoh jenis atau macam-macam seni dapat terbagi
menjadi 3 macam sebagai berikut:
1. Seni Rupa
adalah sering dianggap sebagai salah satu macam seni yang
hasilnya berupa gambar, lukisan, patung, dan kerajinan tangan.
Hasil karyanya lebih berupa sebuah seni yang berwujud benda 2
dimensi ataupun 3 dimensi. Seni yang satu ini paling banyak
digemari oleh pecinta seni karena keindahan bentuknya.
a) Pengertian Seni Rupa Menurut Ahli
1) La
Mery.
Seorang
ahli
seni
rupa
2
dimensi
mengungkapkan apa itu seni rupa. Seni rupa adalah
penglihatan ekspresi secara simbolis yang berbentuk
dan berwujud lebih tinggi serta menjadi lebih indah
sebagai bentuk pengekspresian dan emosi.
2) Haukin. Seni rupa merupakan bentuk ekspresi jiwa dari
seseorang yang diimajinasikan pada sebuah bentuk yang
indah, kemudian diungkapkan serta dinikmati oleh
banyak orang dalam pertunjukan atau pameran-pameran
seni.
3) Kamala Devi Chattopadhayaya. Seni rupa ialah suatu
desakan ekspresi diri pada sebuah bentuk yang
kemudian menjadikan seseorang mampu meluapkan apa
yang sedang dirasakan, sehingga mampu membuat
orang-orang yang melihatnya merasakan karya seni
tersebut.
b) Unsur Seni Rupa
1) Titik
Titik adalah unsur terkecil dan dasar dari semua ide-ide
seni yang akan dibuat atau diciptakan.
2) Garis
Unsur garis merupakan penghubung dari suatu titik ke
titik lainnya. Umumnya unsur garis ada beberapa
macam, yang mana garis-garis yang diciptakan tersebut
kemudian membentuk watak atau ciri unik yang akan
menjelaskan arti dari karya tersebut. Apakah karya
tersebut
bersifat
keras,
lentur,
kaku,
atau
lainnya.https://www.mypurohith.com/pengertian-ekonomimaritim/
3) Bidang
Pengembangan dari garis yang apabila digabungkan
bisa membentuk beberapa sisi pada hasil yang tersebut.
4) Bentuk
Unsur yang satu ini berfungsi untuk memberikan karya
seni menjadi lebih hidup dengan menambahkan
berbagai sentuhan serta detail yang sangat sempurna.
Kemudian akan menghasilkan suatu karya yang indah.
5) Ruang
Ruang memiliki dua sifat yakni semu dan nyata.
Dimensi yang dihasilkan dari kedua sifat unsur ruang
tentu saja sangat berbeda. Apakah nanti menghasilkan
karya dua dimensi atau tiga dimensi.
6) Warna
Salah satu unsur penting yang akan menjadikan suatu
karya seni jauh lebih indah. Paduan corak warna pada
suatu karya seni tergantung dari yang membuat karya
tersebut.
Warna
yang
diberikan
biasanya
akan
menggambarkan sesuatu dari karya tersebut. Seperti
apakah suasana hati, apakah sedang senang, sedih, dan
berbagai suasana hati lainnya.
7) Tektur
Dalam seni rupa tekstur yang dimaksud adalah keadaan
atau sifat yang ada pada hasil karya tersebut. Unsur
tekstur juga dibagi menjadi dua kelompok yaitu semu
dan nyata. Tekstur semu ialah unsur tekstur dengan
kesan berbeda antara penglihatan dan indera peraba.
Berbeda
dengan
tekstur
nyata
yang
teksturnya
mengandung kesamaan pada hasil karya tersebut baik
melalui indera peraba dan penglihatan.
8) Gelap Terang
Unsur ini akan membuat hasil karya semakin terlihat
sangat nyata. Karena pada saat membuat karya tersebut
sang penciptanya sangat memperhatikan intensitas
cahaya dari objek yang akan dijadikan karya.
c) Fungsi Seni Rupa
Seni rupa memiliki beberapa fungsi yang dilihat dari sudut
pandang pengaruhnya dalam kehidupan individu dan
komunitas masyarakat di suatu tempat.
1) Fungsi Individu
Fungsi individu dalam seni rupa yakni memiliki sifat
yang berguna untuk memuaskan diri sendiri. Intinya
seseorang yang membuat suatu karya seni bertujuan
hanya untuk pengekspresian dan memuaskan batin
sendiri.Biasanya
hasil
karya
tersebut
akan
mengeluarkan aura yang sangat dalam karena dibuat
berdasarkan luapan ekspresi dari seseorang. Apakah itu
ekspresi senang, sedih, dan lainnya.
2) Fungsi Sosial
Fungsi sosial dalam seni rupa merupakan fungsi yang
memberikan bentuk kepuasan bagi banyak orang.
Seperti contoh seni rekreasi yang dapat dinikmati
banyak orang atau seni komunikasi agar mampu
menarik saat berada di hadapan orang banyak.
d) Jenis Seni Rupa
Seni rupa dapat digolongkan kedalam beberapa jenis,
berdasarkan dari bentuk karya yang dihasilkan.
1) Seni rupa murni
Suatu cabang seni yang menghasilkan karya menjadi
lebih fokus akan nila-nilai keindahan saja serta tidak
memperdulikan nilai praktis dari karya seni yang dibuat.
Contoh karya yang masuk dalam jenis seni rupa murni
ialah: seni lukis, seni grafis, seni kaligrafi, seni patung,
seni keramik.
2) Seni desain
Jenis seni rupa yang satu ini berhubungan dengan
proses-proses kreatif ketika merancang bentuk. Contoh
jenis seni desain adalah: arsitektur, desain busana,
desain interior.
3)
Seni kriya
Seni rupa jenis ini ialah sebuah karya yang dibuat
menggunakan
keterampilan
tangan
yang
sangat
memperhatikan nilai seni serta aspek-aspek fungsional
pada hasil karya seni tersebut. beberapa contoh seni
kriya yakni: seni pahat, ukir kayu, kriya bambu, kriya
rotan.
2. Seni Musik
adalah sesuai dengan namanya, yaitu seni ini berupa hasil
karya sebuah melodi ataupun harmoni yang menghasilkan
suara ataupun bunyi yang indah. Pengertian seni musik lebih
mengacu pada hasil karya yang dinikmati para penggemarnya.
Hasil seni ini biasanya berupa sebuah lagu, alunan nada,
ataupun suara permainan sebuah alat musik.
3. Seni Budaya
Seni ini sangat lekat dengan kebudayaan suatu negara atau
daerah yang menghasilkan suatu atau beberapa keindahannya.
Misalnya saja seperti seni tari-tarian, adat, ataupun seni
lainnya. Seni budaya menjadi seni yang jenisnya paling
beranekaragam sesuai dengan masing-masing daerahnya.
D. Kurikulum Pendidikan Guru Seni Rupa
Kurikulum Pendidikan Guru atau secara lebih khusus Kurikulum
Pendidikan Guru Seni Rupa, dalam penyusunannya tentu memperhatikan
berbagai aspek, karena kualitas pendidikan guru hakikatnya diwarnai oleh
kualitas kurikulumnya, terutama kurikulum dalam dimensi rencana dan
dimensi proses. Kedua dimensi kurikulum tersebut tidak dapat dipisahkan
satu dengan lainnya. Kurikulum dalam dimensi rencana (written
curriculum)
menjadi
dasar
bagi
kurikulum
proses
(experiences
curriculum).
Berbagai aspek yang patut dipertimbang-kan dalam penyusunan
Kurikulum Pendidikan Guru; antara lain tujuan pendidikan guru, model
kurikulum, dan konten kurikulum mata pelajaran. Hamalik (2004:63)
mengatakan bahwa dalam penyusunan kurikulum pendidikan guru
sesungguhnya tidak dapat didasarkan pada tradisi, adat istiadat, atau
intuisi; namun harus dengan pertimbangan akal sehat atau logika, hasil
refleksi, dan metode ilmiah. Dengan demikian dalam rangka penyusunan
kurikulum pendidikan gurudiperlukan kerangka sistemik yang dapat
dijadikan acuan dalam menganalisis tujuan atau kebutuhan pendidikan
guru, konten kurikulum, pengorganisasian, dan berbagai nilai yang patut
dikembangkan dalam masyarakat yang senantiasa selalu berubah dan
berkembang. Oleh karena itu, dibutuhkan kurikulum pendidikan guru yang
fleksibel; artinya kurikulum pendidikan guru tersebut diharapkan dapat
menjawab dan mengakomodasi tantangan serta kebutuhan masyarakat
yang dinamis.
Untuk menjawab dinamika perubahan dan tuntutan kebutuhan
masyarakat pendukung pendidikan guru tersebut, diperlukan formulasi
tujuan
pendidikan
guru
berdasarkan
pada
kondisi
masyarakat
pendukungnya, pertumbuhan dan perkembangan manusia sebagai subjek
pendidikan guru, dan perkembangan IPTEKS. Dengan kata lain, bahwa
dalam pengembangan kurikulum untuk pendidikan guru patut diperhatikan
asas filosofis, asas psikologis, dan sosiologis-teknologis (baca Sanjaya,
2005:17) dan menurut Ismiyanto (2011), selain ketiga asas tersebut, perlu
ditambahkan pertimbangan IPTEKS. Pendidikan guru itu diharapkan
mampu mengekspresikan nilai-nilai luhur masyarakat; prinsip-prinsip
belajar; keseimbangan dalam pengembangan kognitif, afektif, dan
psikomotorik; keseimbangan antara materi kependidikan dan disiplin ilmu;
dan sebagainya.
Dalam rangka menanggapi tantangan kebutuhan guru tersebut,
diperlukan pilihan model kurikulum. Hudoyo (1991) menawarkan model
concurrent dan consecutive. Kedua model kurikulum dapat dielaborasi
lagi ke dalam 4 (empat) pendekatan. Model Concurrent Curriculum
menjadi (a) Guru yang Ilmuwan dan Akademik dan (b) Guru yang
Ilmuwan dan Profesional. Model Consecutive Curriculum menjadi (a)
Ilmuwan yang Guru dan Akademik dan (b) Ilmuwan yang Guru dan
Profesional.
Pendekatan Guru yang Ilmuwan dan Akademik adalah model
pendidikan guru yang mengutamakan penguasaan dan keluasan wawasan
ilmu keguruan yang diterapkan pada mata pelajaran yang diajarkan serta
memperhatikan kedalaman - keluasan pengetahuan mata pelajaran.
Pendekatan Guru yang Ilmuwan dan Profesional adalah model pendidikan
guru dengan pilihan pengutamaan penguasaan dan keluasan wawasan ilmu
keguruan yang diterapkan pada mata pelajaran yang diajarkan tanpa
memperhatikan kedalaman maupun keluasaan materi pengetahuan mata
pelajaran (hanya didasarkan pada kurikulum).
Pendekatan Ilmuwan yang Guru dan Akademik, penyusunan
program pendidikannya akan lebih mengutamakan penguasaan konsep
dasar ilmu yang akan diajarkan disertai dengan ilmu keguruan yang
memadai sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Pendekatan Ilmuwan
yang Guru dan Profesional, program pendidikannya disusun dengan lebih
mengutamakan penguasaan konsep dasar ilmu yang akan diajarkan dan
disertai dengan latihan keterampilan mengajarkan mata pelajaran tertentu.
Isi kurikulum pendidikan guru tentu harus relevan dengan tujuan
dan model atau pendekatan pendidikan guru, perkembangan dan tuntutan
masyarakat dan IPTEKS; selain itu juga isi yang terkait dengan
pengembangan kepribadian dan sosio-psikologis. Beberapa kriteria
pemilihan isi kurikulum pendidikan guru dapat dirumuskan sebagai
berikut: (1) up to date, sesuai dengan laju-pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni rupa; (2) dapat memberikan kemudahan
bagi calon guru dalam memahami prinsip pokok dan generalisasigeneralisasi sebagai asas memilih informasi yang sedang berkembang, (3)
membantu para calon guru terampil menggunakan kompetensi berpikir
rasional, logis, runtut, serta mampu membedakan antara fakta dan
perasaan, (4) membantu pengembangan moralitas yang esensial dalam
rangka evaluasi dan penggunaan ilmu pengetahuan, (5) bermakna dan
bermanfaat bagi calon guru, (6) berupa tantangan dan mendorong untuk
selalu belajar, (7) memungkinkan calon guru kreatif dalam memecahkan
permasalahan yang mengemuka dalam tugasnya, dan (8) membantu calon
guru mengkomunikasikan gagasan dengan berbagai media, secara lisan
maupun tertulis, (9) membantu calon guru melakukan interaksi edukatif
dan mampu memahami orang lain, (10) membantu calon guru memahami
konsep, prinsip-prinsip, pendekatan, dan strategi/metode pembelajaran
(baca juga Hamalik, 2004:70-82). Selain pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, dalam pengembangan kurikulum pendidikan guru, patut pula
jika dipertimbangkan standar penerimaan karena calon guru adalah
determinan psikologis yang ikut menentukan keberhasilan kurikulum.
E. Fungsi, Tujuan, dan Kegunaan Mata Pelajaran Seni Budaya dan
Prakarya (SBdP) MI/SD
Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) sebagai salah satu
Mata Pembelajaran yang diajarkan di sekolah dasar/Madrasah Ibtidaiyah
merupakan salah satu Mata Pembelajan yang membantu mengembangkan
jasmani dan rohani anak untuk membentuk kepribadian dan menyiapkan
manusia yang memiliki nilai estetis dan me mahami perkembangan seni
budaya nasional.
Pendidikan Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) memiliki fungsi dan
tujuan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan dalam berkarya dan
berapresiasi. Pendidikan Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) memiliki
peranan dalam membentuk pribadi peserta didik yang harmonis dengan
memerhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal,
visual, musikal, linguistik, logika, matematis, naturalis, dan kecerdasan
kreativitas, kecerdasan spiritual, moral, serta kecerdasan emosional. Mata
Pelajaran bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebgaia
berikut:
1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan
2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan
3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan
4. Menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam
tingkat lokal, regional, maupun global.
Mata Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) termasuk
kelompok Mata Pelajarab unun kelompok B sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b merupakan program kurikuler yang bertujuan untuk
mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan
kompetensi keterampilan peserta didik terkait di lingkungan dalam bidang
sosial, budaya dan seni.
F.
Alokasi Waktu Struktur Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya
(SBdP) MI/SD
Alokasi
waktu
adalah
waktu
yang
digunakaan
untuk
menyampaikan matapelajaran kepada siswa dalam waktu satu minggu.
Alokasi waktu yang dibuat sudah sesuai dengan karakteristik atuan
pendidian. Susunan mata Pembelajaran dan alokasi waktu untuk Madrasah
Ibtidaiyah adalah sebagai berikut:
ALOKASI
MATAPELAJARAN
WAKTU
PER
MINGGU
I
II
III
IV
V
VI
4
4
4
4
4
4
5
5
6
5
5
5
Kelompok A
1.
2.
Pendidikan
Agama
dan
Budi Pekerti
Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan
3.
Bahasa Indonesia
8
9
10
7
7
7
4.
Matematika
5
6
6
6
6
6
5.
lmu Pengetahuan Alam
-
-
-
3
3
3
6.
Ilmu Pengetahuan Sosial
-
-
-
3
3
3
4
4
4
5
5
5
4
4
4
4
4
4
30
32
34
36
36
36
Kelompok B
1.
Seni Budaya dan Prakarya
Pendidikan Jasmani, Olah
2.
raga, dan Kesehatan
JUMLAH
ALOKASI
WAKTU
PER MINGGU
Keterangan:
Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat memuat Bahasa
Daerah.
Tabel diatas mengelompokkan Matapelajaran menjadi 2
kategori, yaitu Kategori Mata Pembelajaran Kelompok A dan Mata
Pembelajaran Kelompok B. Kelompok Mata Pembelajaran A adalah
kelompok mata Pembelajaran yang kontennya dikembangkan oleh
pusat. Sedangkan matapelajaran B adalah kelompok mata Pembelajaran
yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan
konten lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah.
Mata Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) masuk
dalam Kelompok Mata Pelajaran B yaitu mata pembelajaran yang
kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten
local
yang
dikembangkan
oleh
pemerintah
daerah.
Sebagai
pembelajaran tematik terpadu, angka jumlah jam pelajaran perminggu
untuk tiap matapelajaran adalah relatif. Guru dapat menyesuaikannya
sesuai kebutuhan peserta didik dalam pencapaiaan kompetensi yang
diharapkan. Jumlah alokasi waktu jam pembelajaran setiap kelas
merupakan jumlah minimal yang dapat ditambah sesuai dengan
kebutuhan peserta didik.
Perubahan signifikan berkenaan dengan jumlah matapelajaran di
SD/MI. Pada kurikulum 2006 untuk tingkat SD, ada 10 matapelajaran
yang diajarkan, yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan,
Bahasa
Indonesia,
Matematika,
IPA,
IPS,
Seni
Budaya
dan
Keterampilan, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, serta
Muatan Lokal dan Pengembangan Diri. Sedangkan Kurikulum 2013,
matapelajaran untuk anak SD yang semula berjumlah 10 mata pelajaran
dipadatkan menjadi delapan mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama
dan Budi Pekerti, PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, IPA dan IPS.
Enam mata pelajaran tersebut dalam Kelompok A. Kemudian
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, Seni Budaya merupakan
kelompok B. Bahkan semula rencananya hanya enam mata pelajaran
saja, karena IPA dan IPS rencanya diintergasikan ke dalam mata
pelajaran lainnya. Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP)
untuk kelas I-III dalam satu minggu ada 4 jam. Sedangkan
Matapelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) untuk kelas IV-VI
mengalami peningkatan pada jam pelajaran yaitu menjadi 5 jam setiap
satu minggunya. Durasi waktu setiap satu jam pelajaran adalah 35 menit
sesuai pada pasal 7 Permendikbud No. 57 Tahun 2014.
G. Cakupan Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) MI/SD
Cakupan materi matapelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) tingkat
pendidikan dasar (Kelas I-VI) pada kurikulum 2013 sebagai berikut:
1. Apresiasi
dan
Kreasi
karya
seni
rupa
(gambar
ekspresif,
mosaik/aplikasi, relief dan patung dari bahan lunak).
2. Apresiasi dan Kreasi/rekreasi (cipta-ulang) karya seni music (lagu,
elemen music, dan ritme)
3. Apresiasi dan Kreasi/rekreasi (cipta-ulang) karya seni tari (gerak
anggota tubuh, gerak tiruan).
4. Apresiasi dan Kreasi prakarya (kerajinan dari bahan alam, kerajinan
menggunting dan melipat, produk rekayasa yang digerakan oleh air,
makanan olahan).
5. Apresiasi warisan budaya (ceritera dalam bahasa daerah)
6. Apresiasi dan kreasi seni rupa (dua dimensi : gambar dekoratif, gambar
bentuk, montase, kolase) dan (3 dimensi : terbentuk darii bahan lunak).
7. Apresiasi dan kreasi/rekreasi karya seni music (lagu wajib, lagu
permainan, alat music ritmis dan melodis).
8. Apresiasi dan kreasi/ rekreasi karya seni tari (gerak tari bertema, tari
nusantara daerah setempat)
9.
Apresiasi dan kreasi prakarya (kerajinan dari bahan alam/ buatan,
karya rekayasa : menganyam, meronce, membantik teknik ikat celup,
membuat aksesoris, karya rekayasa bergerak dengan angin dan tali
temali, bertani sayuran.
10. Apresiasi warisan budaya (cerita rakyat dalam bahasa daerah).
11. Apresiasi dan kreasi karya seni rupa 2 dimensi (gambar perspektif ,
gambar ilustrasi) dan 3 dimensi ( topeng dan patung nusantara daerah
lain).
12. Aresiasi dan kreasi/rekreasi karya seni musik (lagu anak-anak, lagu
nusantara daerah lain, lagu wajib, music ansambel, alat music).
13. Apresiasi dan kreasi/ rekreasi karya seni tari (gerakmtari bertema,
busana dan iringan tari nusantara daerah lain)
14. APresiasi dan kreasi prakarya (kerajinan dari bahan tali temali bahan
keras, batik, dan teknik jahit ; apotik hidup dan merawat hewan
peliharaan ; olahan p[angan bahan makanan umbi-umbian dan olahan
non pangan sampah organic atau anorganik
15. Apresiasi warisan budaya (cerita secara lisan dan tuln unsure-unsue
budaya daerah, bahasa daerah).
16. Pameran dan pertunjukan karya seni rupa, music, tari, dan prakarya
H. Kompetensi Mata Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya
(SBdP) untuk MI/SD yang Mendukung Pencapaiaan Kompetensi
Lulusan
Pada
Permendikbud
No
54
tahun
2014
dijelaskan
bahwa Standar Kompetensi Lulusan yang harus dimiliki seorang
peserta didik SD/MI paada setiap tingkat yang harus dimiliki seorang
peserta didik SD/ MI pada setiap tingkat kelas. kompetensi inti
dirancang untuk setiap kelas atau usia tertentu. Melalui kompetensi
inti, sinkronisasi horisontal berbagai kompetensi dasar antarmata
pelajaran pada kelas yang sama dapat dijaga. Selain itu, sinkronisasi
vertikal berbagai kompetensi dasar pada mata pelajaran yang sama
pada kelas yang berada dapat dijaga pula. Rumusan kompetensi inti
menggunakan notasi yaitu, kompetenai inti 1 untuk kompetensi inti
sikap spiritual, kompetensi inti 2 untuk kompetensi inti sikap sosial,
kompetensi inti 3 untuk kompetensi inti pengetahuan dan kompetensi
inti 4 untuk kompetensi inti keterampilan.
Kriteria kompetensi dasar mengenai kualifikasi kemampuan
lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama
pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian
pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar saran
dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Standar
Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan
peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan
proses belajar disatuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar.
Mengetahui ketercapaian dan kesesuaian antara Standar
Kompetensi Lulusan dan lulusan dari masing-masing satuan
pendidikan dan kurikulum yang digunakan pada satuan pendidikan
tertentu perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dan
berkelanjutan dalam setiap periode. Hasil yang diperoleh dari
monitoring dan evaluasi digunakan sebagai bahan masukan bagi
penyempurnaan Standar Kompetensi Lulusan di masa yang akan
datang.
Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A memiliki sikap,
pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut: Tujuan Kurikulum
mencakup empat kompetensi, yaitu
(1) Kompetensi sikap spiritual
(2) Sikap sosial
(3) Pengetahuan dan
(4)
Keterampilan.
Kompetensi
tersebut
dicapai
melalui
proses
pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler dan elstrakurikuler.
Rumusan Kompetensi sikap spiritual adalah “Menerima dan
menjalankan ajaran agama yang dianututnya. Adapun rumusan kompetensi
sikap sosial adalah “menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
santun, peduli, dan percaya diri dalam berinterkasi dengan keluarga, teman
dan guru”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak
langsung (indirect teaching), yaitu keteeladann, pembiasaan, dan budaya
sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran , serta
kebutuhan dan kondisi siswa
Kompetensi Pengetahuan dan keterampilan pada kelas I
dirumuskan sebagai berikut:
KOMPETENSI
INTI
3 KOMPETENSI
(PENGETAHUAN)
3.
cara
4
(KETERAMPILAN)
Memahami pengetahuan faktual
4.
dengan
INTI
Menyajikan pengetahuan faktual
mengamati dalam bahasa yang jelas dan logis,
(mendengar, melihat, membaca) dalam karya yang estetis, dalam
dan menanya berdasarkan rasa gerakan mencerminkan anak sehat,
ingin tahu tenteng dirinya, makhluk dan
ciptaan Tuhan dan kegiatannya,
dalam
mencerminkan
tindakan
yang
perilaku
anak
dan enda-benda yang dijumpainya bermain dan berakhlak mulia.
di rumah dan di sekolah.
KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI DASAR
3.1 Mengenal karya ekspresi dua 4.1 membuat ekspresi dua dan tiga
dan tiga dimensi (C1)
3.2
Mengenal
elemen
melalui lagu
dimensi (P2)
musik 4.2
Menirukan
elemen
music
melalui lagu (P1)
3.3 mengenal gerak anggota tubuh 4.3 Meragakan gerak aggota tubuh
melalui tari
melalui tari (P1)
3.4 mengenal bahan alam dalam 4.4 Membuat karya dari bahan
berkarya
alam (P2)
Kompetensi inti pada dimensi pengetahuan didalam kelas I terdiri
dari KD 3.1, 3.2, 3.3, dan 3.4, sedangkan kompetensi inti keterampilan
terdiri dari 4.1, 4.2, 4.3, dan 4.4. kompetensi dasar 3.1-3.4 memuat Kata
Kerja Operasional (KKO) “Mengenal” masuk kedalam aspek kognitif
yaitu C1 pengetahuan.
Kompetensi dasar pada dimensi keterampilan hampir sama
tingkatannya. Pada Kompetensi Dasar 3.1 dan 3.4 memuat Kata Kerja
Operasional (KKO) “membuat” masuk pada tigkat taksonomi Bloom pada
P2 Sedangkan Kompetensi Dasar 3.2 dan 3.3 memuat Kata Kerja
Operasonal (KKO) “menirukan” dan “meragakan” ” masuk pada tigkat
taksonomi Bloom pada P1.
KESIMPULAN
1. Subtsansi Mata Pelajaran Umum Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) meliputi
Secara spesifik mata Pelajaran SBK meliputi aspek-aspek diantaranya seni rupa,
seni musik, seni tari, seni drama dan keterampilan.
2. Fungsi Tujuan, Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) adalah untuk
mengembangkan sikap dan kemampuan dalam berkarya dan berapresiasi.
Pendidikan Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) juga memiliki peranan dalam
membentuk pribadi peserta didik yang harmonis dengan memerhatikan kebutuhan
perkembangan anak dalam mencapai multi-kecerdasan.
3. Alokasi waktu Matapelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) untuk kelas I-III
dalam satu minggu ada 4 jam. Sedangkan untuk kelas IV-VI mengalami
peningkatan pada jam pelajaran yaitu menjadi 5 jam setiap satu minggunya.
Durasi waktu setiap satu jam pelajaran adalah 35 menit.
4. Cakupan materi Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) meliputi apresiasi
dan kreasi/rekreasi baik seni rupa, seni musik, seni tari, seni drama dan
keterampilan.
5. Kompetensi bahasa Indonesia dari kelas I-VI itu sudah tercatum dan menunjang
kompetensi lulusan SD/MI. Kompetensi ini sesuai dengan tingkat perkembangan
berfikir anak dan dikembangkan setiap tingkatan kelasnya
DAFTAR PUSTAKA
A.Tatang Sopandi. 2010. Pemanfaatan Video Penunutun Buku Materi Pokok
(BMP) Mata Kuliah Pendidikan Seni di SD dalam Meningkatkan
Kemampuan Mengajar Seni dan Budaya (SBK) Mahasiswa Program S1
PGSD FKIP-UT UPBJJ-UT Bandung. Tesis Program Pasca sarjan
Universitas Suultan Ageng Tirtayasa BAnten. Tidak diterbitkan.
Cut Kamaril. 2001. Konsep Pendidikan Seni. Makalah yang disajika
pada
semiloka nasional Pendidikan Seni. Jakarta: FF the Ford
Foundation-UPI.
Depdiknas. 2005. Peraturan Pemerintah N0. 19 Tahun 2005 tentang
Standar Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas 2006. Standar Kompetensi Guru Kelas SD/MI Lulusan S1 PGSD.
Jakarta: Direktorat Ketenagaan Ditjen. Pendidikan Tinggi.
Made Pidarta. 1997. Landasan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Primadi Tabrani. 2001. Peran Pendidikan Seni dalam Pendidikan Integral.
Jakarta: FF the Foundation-UPI.
www.romadecade.org/seni.rupa
www.id.wikipedia.org/wiki/Seni
www.jurnal.unes.ac.id
www.journal.ugm.ac.id
www.researchgate.net
www.journal.untan.ac.id
www.ejournal.unp.ac.id
www.repository.upi.edu
www.journal.stkip11april.ac.id
www.jurnal.univrab.ac.id
Download