Uploaded by Jefriyanto Budikafa

Lap. Rx yg mengandung C,H,O,N

advertisement
REAKSI – REAKSI SENYAWA KHUSUS
SENYAWA YANG MENGANDUNG C, H, O, N
A. Tujuan:
Untuk menetapkan kadar asam lemah dengan menambah pereaksi
tertentu untuk menaikkan keasamannya, sehingga dapat dititrasi dengan
baku alkali.
B. Landasan teori
Ada berbagai macam penetapan kadar / kandungan bahan aktif dalam
sediaan obat, mulai dari metode konvensional menggunakan titrasi volumetri
sampai instrument elektronik seperti spektrofotometri UV-vis. Penggunaan
spektrofotometi UV-vis untuk analisa kualitatif sediaan obat mempunyai
beberapa keuntungan, yaitu sensitive, selektif, akurat, teliti dan cepat bila
dibandingkan metode konvensional lainnya seperti titrimetri dan gravimetri.
(Hendry,dkk 2002)
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV tahun 1995 Parasetamol
ditentukan kadarnya menggunakan Kromatografi Cair kinerja Tinggi dengan
fase gerak air - metanol (3 : 1), kolom L1, laju alir 1,5 ml per menit, detektor
243 nm. Kofein dalam serbuk minuman dapat ditentukan secara
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi menggunakan kolom oktadesilsilan dengan
fase gerak air - metanol - asam asetat glasial (69 : 28 : 3), laju alir 1,0
ml/menit, detektor UV 275 nm. (MA PPOM, 2007). Berdasarkan sifat
kepolaran dari Parasetamol dan Kofein, analisis campuran ini dapat dilakukan
dengan fase gerak metanol - air menggunakan kolom C18.
Paracetamol merupakan turunan senyawa sintesis dari p aminofenol yang memberikan efek analgesia dan antipiretika. Senyawa
ini dikenal dengan nama lain asetaminofen, merupakansenyawa metabolit
aktif
fenasetin,
namun
tidak
memiliki
sifat
karsinogenik
(menyebabkankanker) seperti halnya fenasetin. Senyawa ini memilik nama
kimia
N-asetil-p-aminofenol
atau
p-asetamidofenol
atau
4’-
hidroksiasetanilida. Paracetamol mengandung tidak kurangdari 98,0 % dan
tidak lebih dari 101,0 % C8H9NO2 dihitung terhadap zat yang telah
dikeringkan. Serbuk hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau;rasa sedikit
pahit. Kelarutannya dalam 709 bagian air, dalam 7 bagian etanol95% P, dalm
13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian
propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida. (Depkes RI, 1979)
Campuran Parasetamol dan Kofein banyak ditemukan dalam
kombinasi obat Flu yang beredar di pasaran. Parasetamol merupakan salah
obat Non- Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs) yang secara luas
digunakan dalam pengobatan demam dan mengurangi rasa sakit. Kofein
merupakan stimulan system saraf pusat. Zat ini sering dikombinasikan
dengan parasetamol untuk memperkuat efek analgetisnya. ( Tjay dan
Rahardja, 2002).
Paracetamol merupakan obat yang memiliki khasiat meredakan sakit
atau nyeri dan menurunkan suhu demam. parasetamol dimetabolisir oleh hati
dan dikeluarkan melalui ginjal. Parasetamol tidak merangsang selaput lendir
lambung atau tidak menimulkan pendarahan pada saluran cerna. Diduga
,mekanisme kerjanya adalah menghambat pembentukan prostaglandin.
(http://www.actavis.co.id/)
C. Alat Dan Bahan
1. Alat:
-
Buret 50 ml
-
Gelas ukur 100 ml
-
Gelas piala
-
Erlenmeyer
-
Pipet tetes
2. Bahan:
-
Natrium Hidroksida
-
Gliserol netral
-
Indikator fenolftalein
D. Prosedur Kerja
a. Turunan salisilat
-
Salisilamida
1 mg
salisilamida
-
Dilarutkan dalam aquades
-
Ditambahkan 1 tetes larutan FeCl3
-
Dilihat perubahan warna
Hasil percobaan ??
b. Turunan Anilin
-
Paracetamol
10 mg
paracetamol
-
Dilarutkan dalam 10 ml air
-
Ditambahkan 1 tetes FeCl3 (dalam 2
kali pengulangan)
-
Dilihat perubahan warna
Hasil percobaan ??
10 mg
Paracetamol
-
Ditambahkan 10 ml NaOH 3 N
-
Ditambahkan 10 ml Asam nitrit
(HNO3) (dalam 2 kali pengulangan)
-
Dilihat perubahan yang terjadi
Hasil percobaan ??
Paracetamol
-
Ditambahkan dengan HNO3 encer
-
Dilihat perubahan warna
Hasil percobaan ??
E. Hasil Pengamatan
No
1
Perlakuan
10 mg salisilamida + aquades + 1 tetes
Hasil
Berwarna Ungu
Besi (III) klorida (dalam dua kali
pengulangan )
2
10 mg paracetamol + 1 ml air + 1 tetes
Berwarna Biru-violet
larutan Besi (III) klorida (dalam dua 2
pengulangan)
3
10 mg paracetamol + 1 ml Natrium
Berwarna keruh
Hidroksida 3 N (dalam 2 kali
pengulangan)
4
Paracetamol + HNO3 encer
Tidak terjadi perubahan
warna
F. Pembahasan
Asam salisilat merupakan asam yang bersifat iritan lokal yang dapat
digunakan secara topical. Terdapat berbagai turunan yang dapat digunakan
sebagai obat luar . salisilat umumnya bekerja melalui kandungan asamnya.
Hal tersebut dikembangkan secara menetap kedalam salisilat baru.
Parasetamol, zat ini termasuk dalam golongan aniline yang
diidentifikasi dengan cara, zat ditambah NaOH dan ethanol kemudian
dipanaskan untuk mempercepat reaksi karena dapat menurunkan energi
aktivasi sehingga akan tercium bau busuk menandakan adanya turunan amina
aromatis. Termasuk golongan fenol juga karena jika ditambahkan FeCl3
berubah warna ungu-biru
Pada percobaan ini dilakukan percobaan yang melibatkan turunan dari
salisilat yaitu salah satu diantaranya adalah salisilamida. Salisilamida yang
dilarutkan dalam aquades sebanyak 10 gram menghasilkan warna ungu yang
telah diteteskan dengan besi (III) klorida, dengan terjadinya perubahan warna
ungu ini dapat dikatakan adanya reaksi baru yang timbul antara salisilamida
dengan besi (III) klorida meskipun ditambahkan dengan alkohol warnanya
kan tetap sama karena salisilamida larut dalam etanol (95%) dan mudah pula
larut dalam larutan alkali, dalam identifikasi kelarutan salisilamida larutan
yang kurang 100 mg dalam 5 ml ethanol dsan kemudian ditsmbahkan dengan
Besi (III) klorida akan terjadi warna violet. Sehingga pada percobaanya
didapatkan hasil yang tepat.
Pada percobaan kedua juga melibatkan turunan anilin yaitu salah satu
Diantaranya adalah paracetamol. Paracetamol yang dilarutkan dalam 10 ml
air yang kemudian juga ditambahkan dengan besi (III) klorida menghasilkan
warna biru-violet, hal ini disebabkan karena indikasi kelarutan dari
paracetamol itu sendiri yaitu yang jika dilarutkan dengan besi (III) klorida
akan menghasilkan warna biru-violet dan dalam hal ini keduanya juga
membentuk reaksi yang baru. Kemudian dengan pencampurannya dengan
natrium hidroksida (NaOH)
terjadi perubahan warna merah yang juga
ditambahkan dengan asam sulfaniat dan beberapa tetesan larutan nitrit,
namun dalam percobaannya tdak didapatkan hasil yang seharusnya, karena
dalam percobaanya seharusnya dipanaskan terlebih dahulu sebelum di
tambahkan dengan campuran larutan lainnya. Oleh sebab itu hasil yang
didapatkan didalam percobaannya yaitu berwarna keruh .Dalam percobaan
ini paracetamol juga dilarutkan bersama asam nitrit (HNO3) namun hasilnya
tidak terjadi perubahan warna. . Dibeberapa percobaan dapat dikatakan tidak
berhasil, hal ini mungkin disebabkan dengan kesalahan saat melakukan
percobaan atau menyalahi aturan prosedur kerjanya
G. Kesimpulan
Pada percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada
semua sampel yaitu salisilamida sebagai turunan salisilat dan paracetamol
sebagai turunan aniline yang dilakukan analisis kualitatifnya, ternyata
mengndung unsur C,H,O,N.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Henry,Arthur.,dkk., 2002, Analisis Spektrofotometri UV-vis pada obat Influenza
dengan menggunakan aplikasi system persamaan linear. Universitas
Gunadarma: Jakarta.
Tjay,T.H.,2002, Obat-obat penting edisi V, Cetakan pertama, PT.Elex Media
Komputindo: Jakarta.
Nasution, Yulida Amelia. 2009, Penetapan kadar zat aktif paracetamol dalam obat
sediaan oral dengan metode kromatografi cair kinerja Tinggi (KCKT).
Universitas Sumatra Utara: Sumut.
Purba, Novalina Br, 2009, Optimasi gerak methanol – air dalam analisis tablet
Campuran Paracetamol dan Kofein secara Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi (KCKT). Universitas Sumatra Utara: Sumut.
Download