Uploaded by common.user42264

Presentasi Kasus Leiomioma Parasit

advertisement
Presentasi Kasus Ginekologi
LEIOMIOMA PARASIT
Oleh:
dr. David Perdana
PPDS OBSTETRI & GINEKOLOGI
Pembimbing:
Dr.dr.H.Defrin,SpOG(K)
BAGIAN / SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR M DJAMIL PADANG
2019
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ............................................................................................................ i
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
BAB II LAPORAN KASUS ................................................................................... 3
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 15
3.1. Definisi ..................................................................................................... 15
3.2. Klasifikasi ................................................................................................ 15
3.3. Patogenesis ............................................................................................... 17
3.4. Gejala Klinik ............................................................................................ 19
3.5. Lokasi ....................................................................................................... 20
3.6. Diagnosis dan Diagnosis Banding ........................................................... 21
3.7. Penatalaksanaan ....................................................................................... 25
BAB IV DISKUSI ................................................................................................ 26
BAB V KESIMPULAN ........................................................................................ 29
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 30
i
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1. Klasifikasi mioma uteri berdasarkan FIGO ..................................... 16
Gambar 3.2. Lokasi mioma uteri........................................................................... 16
Gambar 3.3. Gambar USG sagital......................................................................... 21
Gambar 3.4. Gambar USG transversal .................................................................. 22
Gambar 3.5. USG Transvaginal ............................................................................ 22
Gambar 3.6. USG Transabdominal ....................................................................... 23
Gambar 3.5. USG Transvaginal ............................................................................ 23
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Mioma atau disebut juga leiomioma, fibromioma, atau fibroid merupakan
tumor jinak yang berasal dari otot polos yang sering ditemukan dan merupakan
sepertiga kasus terbanyak di bagian ginekologi. Insiden sering ditemukan 50 % dari
pemeriksaan post mortem. Didapatkan temuan dari 100 wanita yang menjalani
histerektomi ditemukan fibroid pada 77% spesimen. Frekuensi tertinggi terdapat
pada perempuan berumur 20 - 40 tahun, jarang ditemukan pada usia di bawah 20
tahun sedangkan pada usia menopause hampir tidak pernah ditemukan karena
umumnya telah menjadi fibrotik dan tampak adanya pengapuran.1,2,3
Insiden meningkat karena usia dengan 4,3 per 1000 wanita per tahun untuk
usia 25 hingga 29 tahun dan 22,5% untuk usia 40 hingga 44 tahun. Faktor risiko
terutama termasuk ras Afrika-Amerika, nullipara, obesitas, riwayat keluarga dan
hipertensi.1,2,4
Menurut letaknya mioma dapat dibagi menjadi 3 jenis: intramural,
subserosa, dan submukosa. Sedangkan penampakan mikroskopisnya menunjukkan
suatu tumor berbatas jelas, bersimpai, pada penampang menunjukkan masa putih
dengan susunan lingkaran-lingkaran konsentrik di dalamnya. 1,3
Pada mioma jenis submukosa dan subserosa dapat bertangkai. Tangkai
dapat menjadi panjang dan mioma berjalan-jalan disebut wandering myoma atau
migratory myoma. Bila mioma jenis submukosa bertangkai keluar dari orificium
uteri eksternum, disebut mioma geburt. Mukosa yang meliputi mioma ini dapat
mengalami ulserasi. Kadang-kadang mioma yang besar dapat melekat pada
jaringan sekitar, misalnya omentum, lalu membentuk suplai darah tersendiri dan
kemudian melepaskan diri dari uterus disebut leiomioma parasit.1,5,6,7
Leiomioma diklasifikasikan menurut lokasinya dihubungkan dengan
miometrium.
Federasi
Internasional
Ginekologi
dan
Obstetri
(FIGO)
mengidentifikasi delapan jenis berbeda leiomioma, dengan Grup 8 sesuai presentasi
atipikal, termasuk leiomioma parasit. Secara klasik, leiomioma parasit didefinisikan
1
sebagai varian leiomioma bertangkai yang tidak biasa, karena alasan tertentu,
terbebas dari uterus di rongga abdomen, bertahan hidup dengan mendapatkan suplai
darah dari struktur jaringan sekitarnya. 1,8,9,10
Penyebab dan patofisiologi parasit leiomioma masih belum dipahami
dengan jelas. Parasit leiomioma mungkin berasal dari leiomioma yang terlepas dari
uterus dan menerima suplai darah dari organ yang berdekatan atau implantasi
iatrogenik selama operasi akibat komplikasi laparoskopi.3,6,7
Deskripsi pertama tentang leiomioma parasit dibuat oleh Kelly dan Cullen
pada tahun 1909 dan 1951 sebuah kasus dilaporkan leiomioma parasit pada
kandung kemih. Dalam beberapa tahun terakhir, dengan adanya peningkatan
operasi laparoskopi, jenis baru leiomioma parasit telah muncul, karena iatrogenik,
khususnya, sebagai komplikasi dari miomektomi laparoskopi atau histerektomi
yang membutuhkan tindakan morcellation. Setelah morcellation, fragmen kecil
dari leiomioma dapat tetap tanpa disadari di rongga abdomen lalu tertanam dan
mengambil suplai darah dari struktur sekitarnya, sehingga dapat tumbuh dan
menyebabkan gejala, tetapi mungkin juga tanpa gejala dan didiagnosis sebagai
temuan insidental pada pemeriksaan klinis. Metaplasia peritoneal adalah teori lain
yang menggambarkan patogenesis mioma pada daerah yang tidak terduga pada
abdomen. Pertumbuhan leiomioma parasit dipengaruhi oleh hormon seks dan faktor
pertumbuhan, meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut.8,9,11
Leiomioma parasit adalah tumor ekstra uterine yang sangat jarang yang
dikenal dengan presentasi klinis yang tidak khas dan lokasi yang tidak biasa yang
membuat kesulitan bagi dokter dalam menegakkan diagnosis secara klinis dan
radiologis. Sehingga dapat menciptakan dilema klinis karena kecenderungannya
untuk meniru tumor pelvis lainnya Kunci manajemen yang tepat terletak pada
upaya
menyingkirkan
diferensial
diagnosis
terhadap
berbagai
massa
abdominopelvic dan memanfaatkan teknik pencitraan terbaik pada evaluasi
preoperatif. Diagnosis preoperatif leiomioma parasit jadi hal yang menantang
karena kelangkaannya dan kurangnya penemuan pencitraan yang spesifik.6,10
2
BAB II
LAPORAN KASUS
Nama
: Ny. R
Umur
: 29 Tahun
Alamat
: Gn Pangilun, Padang
Pekerjaan
: Ibu RT
Tanggal masuk RS
: 12 Juni 2019
No MR
: 01051266
ANAMNESIS
Seorang pasien usia 29 tahun masuk kamar rawatan ginekologi RSUP M Djamil
Padang pada tanggal 12 Juni 2019 pukul 17.00 WIB kiriman poliklinik dengan
diagnosis P1H1 + susp mioma uteri + bekas SC.
Riwayat Penyakit Sekarang
•
Terasa pembengkakan di perut, di atas ari-ari sejak 2 bulan yang lalu,
sebesar kepalan tinju orang dewasa.
•
Nyeri pada perut bagian bawah dirasakan hilang timbul sejak 1 bulan yang
lalu
•
Keluar darah dari kemaluan diluar siklus haid tidak ada
•
Riwayat demam, trauma, keputihan tidak ada
•
Riwayat penurunan berat badan drastis tidak ada
•
Riwayat perdarahan setelah berhubungan tidak ada
•
Riwayat nyeri saat berhubungan tidak ada
•
BAB dan BAK tidak ada keluhan
•
Pasien saat ini masih haid setiap bulannya, HPHT : 19/5/2019
•
Pasien sudah menikah dan memiliki 1 orang anak berusia 4 tahun.
•
Riw menstruasi : menarche usia 13 tahun, siklus teratur, selama 5-6 hari, 23 kali ganti duk per hari, nyeri haid tidak ada
3
Riwayat Penyakit Dahulu:
Tidak ada riwayat penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM, hipertensi, dan alergi
Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada keluarga yang mempunyai riwayat penyakit keturunan, penyakit
menular, dan penyakit kejiwaan.
Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi, Kejiwaan, Dan Kebiasaan
-
Riw. Perkawinan
: 1x tahun 2014
-
Riwayat kehamilan/abortus/persalinan : 1/1/1
1. 2015, perempuan, 3500 gr, aterm, SC ai CPD, SpOG, hidup
2. 2019, abortus inkomplit, kuretage, SpOG
-
Riw. Kontrasepsi
: tidak ada
-
Riwayat Pekerjaan
: ibu RT
-
Riwayat Kebiasaan
:Merokok (-),alkohol (-),narkoba (-)
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
-
Keadaan umum : Sedang
-
Kesadaran
: CMC
-
TD
: 120/80 mmHg
-
Nadi
: 80 x/menit
-
Nafas
: 20 x/menit
-
Suhu
: 36,5 ͦC
-
TB
: 154 cm
-
BB
: 54 kg
-
BMI
: 22,76 kg/m2( normoweight)
-
Mata
: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
-
Leher
: JVP 5 – 2 CmH2O, kelenjar tiroid tidak membesar
-
Thorax
: Jantung/paru dalam batas normal
4
-
Abdomen
: Status Ginekologi
-
Genitalia
: Status Ginekologi
-
Ekstremitas
: Edem -/-
Status Ginekologis
Abdomen
-
Inspeksi
: Tidak tampak membuncit, sikatriks (+) pfannenstiel (+)
-
Palpasi
: Teraba massa 2 jari di atas simphisis, padat, permukaan
rata, mobile, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), defans muskular (-)
-
Perkusi
: Pekak di atas massa
-
Auskultasi
: BU (+) N
Genitalia
Inspeksi : V/U tenang, PPV (-)
Inspekulo
Vagina
: tumor (-), laserasi (-), fluxus (-)
Portio
: MP, ukuran sebesar jempol tangan dewasa, tumor (-),
laserasi (-), fluxus (-), sondage AF 8 cm, OUE tertutup
VT Bimanual
Vagina
: tumor (-)
Portio
: MP, ukuran sebesar jempol tangan dewasa, tumor (-),
OUE tertutup, nyeri goyang portio (-)
CUT
: AF, sebesar tinju orang dewasa, mobile, permukaan rata
AP
: lemas kiri dan kanan
CD
: tidak menonjol
5
LABORATORIUM
Hemoglobin
: 11,0 gr/dl
Leukosit
: 5.880 /mm3
Hematokrit
: 35 %
Trombosit
: 254.000/mm3
PT
: 9,8 dtk
APTT
: 39,2 dtk
HbsAg
: (-)
Rapiid HIV test : (-)
GDR
: 103 mg/dl
Total protein : 7,4 g/dl
Albumin
: 4,7 g/dl
SGOT
: 13 u/l
SGPT
: 14 u/l
Ureum
: 15 mg/L
Kreatinin
: 0,7 mg/dl
Kalsium
: 9,0 mg/dl
Natrium
: 141 Mmol/L
Klorida
: 108 Mmol/L
Interprestasi USG
-
Uterus Antefleksi, ukuran 7,0 x 4,2 X 3 cm
-
Terdapat massa hipoechoic dengan ukuran 5,9 x 4,1 x 4.0 cm
-
Ovarium Kiri ukuran 1,4x1,2 cm
6
-
Ovarium Kanan ukuran 1,9x1,4 cm
Kesan : suspek mioma uteri
DIAGNOSIS
P1H1 + susp mioma uteri + bekas SC
7
SIKAP
 Kontrol KU, VS
 Informed consent
 Lapor OK
RENCANA
Laparotomi tanggal 13 Juni 2019
Kamis, 13 Juni 2019
Dilakukan laparotomi
Setelah abdomen dibuka, tampak massa sebesar bola tenis, konsistensi padat
melekat antara fascia dan lapisan otot.
Kesan : suspek wandering mioma dd/ tumor dinding abdomen
Rencana : miomektomi (reseksi tumor). Dilakukan tindakan miomektomi
Setelah diyakini tidak ada perdarahan dinding abdomen ditutup
lapis demi lapis
Jaringan di PA kan
Perdarahan selama tindakan ± 100 cc.
Diagnosis
post miomektomi ai suspek wandering mioma dd/ tumor dinding abdomen
Rencana :
kontrol post op
Kontrol KU, VS, PPV
IVFD RL 28 tts/menit
Inj.Ceftriaxon, 2x1 gr
8
Pronalges sup II K/P
Kateter urin
Cek darah rutin post operasi
9
Hasil laboratorium post op
Hemoglobin
: 10,8 gr/dl
Leukosit
: 10.300 /mm3
Hematokrit
: 36,2 %
Trombosit
: 303.000/mm3
FOLLOW UP
Jumat, 14-06-2019 pukul 08.00 WIB
S/Demam (-), nyeri luka operasi (+), PPV (-), flatus (+), BAK (+) terpasang kateter
O/
Pemeriksaan Fisik
KU
Kes
Sedang
CMC 110/80
Mata
TD
N
R
T
81
20
af
: konjungtiva anemis (-/-), sklera tidak ikterik
Abdomen

Inspeksi
: luka operasi tertutup verban, tenang

Palpasi
: NT (+), NL (-), DM (-)

Perkusi
: timpani

Auskultasi : bising usus (+) normal
Genitalia

Inspeksi : V/U tenang, ppv(-), terpasang kateter
A/
post miomektomi ai suspek wandering mioma dd/ tumor dinding abdomen
Rawatan hari II
10
P/

Kontrol KU, VS

Mobilisasi (boleh duduk)

Diet TKTP
Terapi

Inj.Ceftriaxon 2x1 gr (IV)

Asam Mefenamat 3x500mg tab

SF 1x180 mg

Vit C 3x50 mg
Sabtu, 15-06-2019 pukul 08.00 WIB
S/ Demam (-), nyeri luka operasi (+) berkurang, PPV (-), flatus (+), BAK (+) terpasang kateter
O/
KU
Kes
Sedang
CMC 120/80
Mata
TD
N
R
T
84
19
af
: konjungtiva anemis (-/-), sklera tidak ikterik
Abdomen

Inspeksi
: luka operasi tertutup verban, tenang

Palpasi
: NT (-), NL (-), DM (-)

Perkusi
: timpani

Auskultasi : bising usus (+) normal
Genitalia

Inspeksi : V/U tenang, ppv(-)
A/
post miomektomi ai suspek wandering mioma dd/ tumor dinding abdomen
11
Rawatan hari III
P/

Kontrol KU, VS

Diet TKTP

Aff kateter
Terapi

Cefixime 2x200 mg

Asam Mefenamat 3x500mg tab

SF 1x180 mg

Vit C 3x50 mg
Minggu, 16-06-2019 pukul 08.00 WIB
S/Demam (-), nyeri luka operasi (-), PPV (-), flatus (+), BAK (+)
O/
KU
Kes
Sedang
CMC 110/70
Mata
TD
N
R
T
78
19
af
: konjungtiva anemis (-/-), sklera tidak ikterik
Abdomen

Inspeksi
: luka operasi baik, pus (-)

Palpasi
: NT (-), NL (-), DM (-)

Perkusi
: timpani

Auskultasi : bising usus (+) normal
Genitalia

Inspeksi : V/U tenang, ppv(-)
A/
post miomektomi ai suspek wandering mioma dd/ tumor dinding abdomen
12
Rawatan hari IV
P/

Kontrol KU, VS

Diet TKTP
Terapi

Cefixime 2x200 mg

Asam Mefenamat 3x500mg tab

SF 1x180 mg

Vit C 3x50 mg
Rencana : Pulang, Kontrol Poliklinik Kebidanan RSUP M Djamil Padang tanggal 21-06-2019
Hasil PA :
Makroskopik :
Sepotong jaringan putih kecoklatan, kenyal padat ukuran 9x7x3 cm penampang putih
Mikroskopik :
Tampak potongan jaringan terdiri atas proliferasi sel-sel otot polos yang tumbuh saling silang
membentuk anyaman padat. Tampak pula kapiler-kapiler hiperemi
Diagnosa
LEIOMIOMA UTERI
13
14
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Definisi
Leiomioma parasit adalah tumor jinak otot polos yang terpisah dari rahim. Leiomioma
ekstrauterin jarang terjadi, jinak, dan dapat timbul pada berbagai lokasi. Pola pertumbuhan
tidak biasa bahkan dapat menyerupai keganasan menyebabkan kesulitan untuk keputusan
klinis dan menegakkan diagnosis bagi dokter. Leiomioma parasit secara klasik didefinisikan
sebagai mioma subserosa bertangkai yang mengalami torsi, terlepas dari uterus, dan
mempertahankan
pertumbuhannya
melalui
neovaskularisasi
dari
jaringan
yang
berdekatan.12,13,14
3.2. Klasifikasi
FIGO menggambarkan delapan jenis fibroid serta kelas hibrid. Seperti berbagai jenis
mioma sering muncul bersamaan, klasifikasi ini menawarkan ‘peta’ distribusi fibroid yang
lebih representatif digunakan lebih lanjut untuk pembentukan algoritma baru.9
Klasifikasi mioma berdasarkan FIGO :
S-Submukosal
0 = bertangkai, intracavitas
1 = <50% intramural
2 = ≥50% intramural
O-Other
3 = Kontak dengan endometrium, 100% intramural
4 = Intramural
5 = Subserosal, ≥50% intramural
6 = Subserosal, <50% intramural
7 = Subserosal, bertangkai
8 = Lainnya (misalnya serviks, parasitik)
Hybrid leiomioma : Dimana dua angka diberikan (misalnya 2-5), angka pertama mengacu
ada hubungan dengan endometrium, sedangkan angka kedua mengacu ada hubungan
15
dengan serosa; misalnya 2-5 = submukosal dan subserosal, kurang dari setengah diameter
di rongga endometrium dan lebih dari setengahnya di rongga peritoneum.9
Kategori tambahan, tipe 8, dicadangkan untuk mioma yang tidak berhubungan dengan
miometrium sama sekali dan termasuk lesi serviks, yang ada di ligamentum latum dan
sekitarnya tanpa perlekatan langsung pada uterus, dan sebagainya yang disebut sebagai lesi
'parasit'.9
Gambar.3.1. Klasifikasi mioma uteri berdasarkan FIGO.9
Gambar 3.1.Lokasi mioma uteri.3
16
3.3. Patogenesis
Etio-patogenesis leiomioma parasit tidak dipahami dengan jelas, diyakini berasal dari
mioma subserosa bertangkai yang terpuntir dan terpisah dari perlekatan uterus. Setelah
bebas dari rongga peritoneum dapat menempel pada jaringan yang berdekatan dan
menerima suplai darah dari peritoneum atau dari sumber non uterus.7,13,15
Mekanisme kemungkinan berkembangnya leiomioma parasit lainnya yaitu melalui
implantasi iatrogenik selama operasi. Kejadian leiomioma parasit iatrogenik menurut
beberapa literatur telah meningkat sejak diperkenalkannya teknik laparoskopi dan beberapa
kasus telah dilaporkan setelah penggunaan morcellator. Hal ini dapat terjadi sebagai
komplikasi operasi laparoskopi sebelumnya. Pengangkatan fragmen leiomioma yang tidak
sempurna
selama
operasi
miomektomi
atau
histerektomi
dapat
menyebabkan
pertumbuhannya kembali di rongga peritoneum.6.16
Asal usul tumor sel otot polos di dinding abdomen anterior diperkirakan juga dari selsel dinding pembuluh darah, terutama pada pasien yang menerima terapi penggantian
hormon. Perubahan sel-sel leiomioma melibatkan mutasi somatik dan aksi hormon sinergis
yang tidak diketahui, kekacauan metabolisme lipoid dan faktor pertumbuhan lokal.
Progesteron dan insulin like growth factors terlibat dalam transformasi sel otot polos pada
Leiomioma. Meskipun lipo-leiomioma yang muncul dari dinding anterior abdomen tanpa
adanya faktor-faktor yang disebutkan di atas telah dilaporkan dalam kasus sebelumnya,
tetapi Leiomioma terisolasi yang timbul de novo pada otot-otot dinding abdomen anterior
belum dilaporkan sejauh ini.8,12
Selain itu, baru-baru ini telah ditemukan bahwa adiposit dapat meningkatkan
proliferasi sel leiomioma manusia melalui TNF-α, sitokin pro-inflamasi yang dikaitkan
dengan profil gen proliferatif pada sel Leiomioma uterus manusia, yang dapat berperan
dalam inisiasi atau perkembangan sel-sel Leiomioma uterus (HuLM). Diagnosis banding
leiomioma pada dinding abdomen meliputi tumor yang berdiferensiasi baik yang timbul dari
sel-sel lemak, jaringan fibrosa, dan otot atau sel mesothelial. Mayoritas tumor tersebut jinak.
Diagnosis de novo leiomioma dari dinding abdomen anterior hanya dapat dibuat ketika tidak
ada riwayat operasi abdomen sebelumnya, laparotomi atau laparoskopi, karena munculnya
leiomioma diketahui terjadi pada bekas luka selama 30 tahun.17
Leiomioma, walaupun umumnya terlihat di uterus atau saluran pencernaan, dapat
berkembang secara de novo pada daerah tanpa jaringan miomatosa atau sel otot polos yang
17
jelas. Hal ini terjadi karena sel otot polos dalam pembuluh darah pada dinding abomen
anterior bereaksi terhadap stimulasi hormon asing untuk membentuk leiomioma de novo.
Kondisi ini harus dipikirkan saat membuat diagnosis banding tumor dinding abdomen.12,17
Empat bentuk klinis utama dari leiomiomatosis parasit dapat diidentifikasi, masingmasing terkait dengan mekanisme patofisiologis yang berbeda8 :
1. Leiomioma parasit
Tumor ini muncul sebagai tumor pelvis yang terpisah dari uterus, dengan gejala
klinis yang mirip dengan leiomioma uterus dan respons sama terhadap terapi supresif
GnRH. Kadang-kadang, leiomioma melekat ke struktur sekitarnya (misalnya, ligamen
latum, omentum, atau jaringan ikat retroperitoneal), munculnya suplai darah tambahan,
dan hilangnya perlekatan asal dari uterus lalu menjadi "parasit". Leiomioma yang
melekat pada ligamentum latum diperkirakan berasal dari elemen otot polos dari
ligamentum tersebut yang sensitif dari segi hormonal.8,18
Secara umum, jenis leiomioma ini dikaitkan dengan riwayat morcellation dan
memiliki asal iatrogenik. Pada sebuah tinjauan pustaka, 66 pasien yang membutuhkan
operasi ulang karena leiomioma baru setelah operasi sebelumnya setelah penggunaan
power morcellator, yang pertama adalah setelah laparoskopi histerektomi pada
sebagian besar kasus (63,6%), yang lain setelah laparoskopi miomektomi (36,4%).8,18
2. Leiomiomatosis intravena
Penyakit langka yang secara histologis jinak tetapi agresif secara klinis ditandai
dengan pertumbuhan leiomioma intraluminal dalam pembuluh darah intrauterin dan
sistemik. Didefinisikan sebagai proliferasi sel otot polos dalam pembuluh darah. Jenis
leiomioma ini dikaitkan dengan peningkatan risiko trombosis vena dalam dan
penyebaran intravaskular ke tempat yang jauh. Lesi ini merupakan implan dari lesi yang
sudah ada atau dari leiomioma uterus yang direseksi sebelumnya.8,18
Pertumbuhan tumor ke dalam pembuluh vena miometrium dan parametrium
terjadi pada sekitar 80% kasus, dan keterlibatan jantung terlihat pada 10% -40% kasus.
Tumor otot polos vaskular dapat meluas ke pembuluh darah besar dan bahkan atrium
kanan jantung yang dapat menyebabkan obstruksi fatal.8,18
3. DPL (Disseminated Peritoneal Leiomiomatosis)
18
DPL merupakan suatu lesi jinak yang sangat langka berupa leiomioma vaskular
multipel
yang
tumbuh
bersama
jaringan
submesothelial
dari
peritoneum
abdominopelvic. Kondisi ini terjadi secara spontan merupakan hasil dari metaplasia
peritoneum multifokal dan responsif terhadap hormon steroid, dan pada wanita yang
rentan, adanya fragmen leiomioma di rongga perut dapat mengaktifkan mekanisme
patofisiologis ini. Oleh Karena itu, presentasi klinis yang paling umum leiomioma
parasit adalah DPL, baik terjadi secara spontan atau karena suatu penyebab
iatrogenik.8,18
4. Leiomioma metastasis jinak
Keadaan ini umumnya digambarkan sebagai nodul paru insidental pada wanita
dengan riwayat leiomioma uterus. Riwayat histerektomi karena leiomioma uterus dapat
jadi indikasi, dengan rata-rata interval antara histerektomi dan muculnya nodul paru
mulai dari 3 bulan hingga 20 tahun. Saat ini telah diterima secara luas bahwa lesi ini
timbul sebagai metastasis hematogen dari tumor jinak, namun, menurut pendapat ahli
lainnya masih mendukung hipotesis dari multipel fokus independen dari proliferasi otot
polos.8,18
Leiomioma parasit mungkin timbul dari pelepasan spontan leiomioma
subserosal pada wanita post-partum. Pembesaran dan involusi yang cepat pada uterus
gravid dapat memainkan peran penting dalam patofisiologi leiomioma parasit.6
Ada jenis lain dari leiomioma parasit, yaitu, yang timbul dari situasi terbatasnya
aliran darah ke rahim, seperti penggunaan agonis GnRH, embolisasi arteri uterina atau
ablasi frekuensi radio untuk pengobatan leiomioma uterus.8
3.4. Gejala Klinik
Leiomioma parasit dikaitkan dengan tanda-tanda dan gejala klinis yang tidak spesifik
dan sebagian besar kasus secara tidak sengaja didiagnosis setelah operasi. Gejalanya dapat
asimtomatis dan ini dapat menjadi keterlambatan dalam menegakkan diagnosis. Gejalanya
juga dapat berupa rasa cepat kenyang, kembung saat makan, perut tidak nyaman dan mual.
Gejala yang paling umum adalah nyeri yang dapat bervariasi berupa nyeri perut, nyeri
panggul, dispareunia, atau iritasi peritoneum pada pasien dengan leiomioma parasit dengan
torsi. Presentasi klinis potensial dari leiomioma parasit adalah nyeri perut akut karena torsi
leiomioma atau omentum. Hampir setengah (49%) pasien mencari perawatan medis karena
rasa sakit.7,8,19,23
19
Kadang-kadang leiomioma parasit dikaitkan dengan kondisi jinak lainnya seperti kista
endometrium atau endometriosis dan bahkan dapat mengalami transformasi atipikal. Gejala
lain yang dapat berhubungan dengan keadaan ini tergantung kepada dimana lokasi massa
berada meliputi rasa bengkak di perut, distensi abdomen, sembelit (pada pasien dengan
leiomioma dari kolon sigmoid ), dan sering BAK atau retensi urin (pada pasien dengan
leiomioma yang melibatkan saluran kemih).8,12,19
Dalam sebuah studi kasus yang diterbitkan pada tahun 1990, manifestasi klinis
pertama adalah perdarahan luas dari usus halus (ileum) dan leiomioma parasit ditemukan
melekat pada struktur ini. Kadang-kadang leiomioma parasit dapat dikaitkan dengan
sindrom Meigs, asites dan peningkatan kadar tumor marker yang mungkin menunjukkan
penyakit ganas. Kadar CA 125 dapat cukup tinggi untuk menyebabkan kecurigaan
keganasan. Laporan lain pada pasien dengan leiomioma simptomatik dan tidak ada riwayat
pembedahan sebelumnya yaitu kasus seorang wanita yang pada awalnya diduga menderita
hernia inguinalis yang kemudian didiagnosis dengan leiomioma parasit yang menempati
daerah inguinal, dan dari wanita pascamenopause ditemukan memiliki leiomioma yang
terkalsifikasi, terpisah dari uterus dan melekat pada kandung kemih dan usus.8,12
3.5. Lokasi
Leiomioma parasit dapat terjadi sebagai leiomioma tunggal atau multipel atau
leiomiomatosis diseminata di seluruh rongga abdomen. Pada umumnya, leiomioma parasit
terletak pada rongga pelvis, karena penggunaan morcellator menyebabkan fragmenfragmen kecil jaringan dapat tersebar luas ke seluruh rongga perut dan melekat pada setiap
organ yang ditemui, sehingga menimbulkan leiomioma parasit. Lokasi leiomioma parasit
yang paling umum adalah titik masuk laparoskopi, ligamentum latum, peritoneum, kavum
Douglas, kolon sigmoid dan omentum, yaitu daerah dengan pasokan darah yang baik.
Gambaran paling umum dari jenis leiomioma setelah tindakan morcellation adalah DPL,
meskipun beberapa kasus telah dilaporkan bahwa leiomioma dapat berada di
hipokhondrium kanan, di bawah diafragma, atau melekat pada hati atau kantong empedu.
Hal ini dihubungkan dengan port laparoskopi.8,20,21,23
Leiomioma parasit juga sering ditemukan pada dinding abdomen anterior, omentum,
peritoneum, ligamentum latum, dan usus. Kadang-kadang, leiomioma parasit mungkin
sangat besar dan mengisi seluruh pelvis, mencapai abdomen bagian atas. Leiomiomatosis
20
intravena juga telah dideskripsikan dengan penyebaran sel leiomioma secara hematogen,
tetapi hal ini jarang terjadi.8,22,23
Leiomioma parasit juga dapat ditemukan pada ovarium, vulva, kandung kemih, dan
uretra, juga dapat terletak pada retroperitoneal. Beberapa kasus telah dilaporkan adanya
leiomioma terisolasi pada diafragma di tempat insersi trocar sebelumnya. Kasus yang lebih
jarang adalah kasus leiomioma parasit ditemukan di bokong seorang wanita yang telah
menjalani histerektomi, dan leiomioma parasit pada jaringan subkutan abdomen, di wilayah
di bawah umbilikus. Leiomioma parasit juga telah ditemukan pada serviks yang tersisa
setelah laparoskopi histerektomi subtotal dengan morcellation. Mungkin saja kasus-kasus
ini sebenarnya adalah mioma serviks kecil yang tertinggal atau tidak terlihat selama
histerektomi supraservikal, daripada leiomioma parasit yang sebenarnya.8,14,18,23
3.6. Diagnosis dan Diagnosis Banding
Diagnosis preoperatif leiomioma parasit jadi hal yang menantang karena
kelangkaannya dan kurangnya penemuan pencitraan yang spesifik. Secara histologis,
leiomioma parasit adalah tumor jinak otot polos, tetapi karena terlepas dari rahim, dapat
dianggap sebagai keganasan seperti leiomiosarkoma. Untuk alasan ini, diagnosis banding
diperlukan pada wanita dengan tumor pelvis dengan riwayat laparoskopi miomektomi atau
histerektomi dengan morcellation. Tetapi juga tidak boleh dilupakan bahwa banyak kasus
leiomioma parasit yang tidak berhubungan dengan riwayat pembedahan pada uterus
sebelumnya.6,8
Pemeriksaan fisik dan teknik pencitraan sangat berguna. USG merupakan alat
investigasi awal. Leiomioma biasanya memiliki penampilan yang tidak jelas, dengan
ekhogenisitas yang serupa dengan miometrium, tetapi kadang-kadang dapat hipoekhoik
atau dengan ekhogenisitas yang bervariasi. Gambaran pencitraan khas leiomioma parasit ini
mirip dengan leiomioma yaitu tumor homogen low hipoechoic. USG doppler menampilkan
vaskularisasi di sekelilingnya. Namun, tumor yang bersifat nekrotik atau telah mengalami
torsi akan menunjukkan tidak adanya aliran darah.6,8
USG transvaginal dapat sangat membantu dalam mendiagnosis leiomioma pada
ligamen latum karena memungkinkan pemisahan visual yang jelas antara uterus dan
ovarium dari massa. MRI, dengan kemampuan pencitraan multiplanar, juga dapat sangat
berguna untuk membedakan leiomioma ligamentum latum dari massa tubo-ovarium dan
21
dari kista ligamen latum dan juga dalam membedakannya dari tumor padat ganas pada
pelvis.10,12,23
Gambar.3.3. Gambar USG sagital dari kuadran kiri bawah menunjukkan massa
isoechoic homogen (M) sepanjang dinding sisi kiri pelvis.18
Gambar.3.4.USG transversal menunjukkan massa hipoechoic (M) di sepanjang reses
paraaortik kiri A = aorta, V = vena cava.18
22
Gambar.3.5. USG transvaginal menggambarkan massa hypoechoic (M) di
sepanjang sisi kiri introitus. R = rektum, V = vagina.18
a.
b.
a. Gambar.3.6. a.USG Transabdominal menunjukkan massa yang relatif homogen
berbatas tegas dengan leher kandung kemih (panah).18
b. Gambar.3.7. b.USG transvaginal menggambarkan massa (panah) dengan
lingkaran konsentrik interna.18
Selain ultrasonografi, MRI dapat berguna untuk membedakan antara leiomioma dan
tumor padat lainnya pada pelvis. MRI panggul adalah teknik yang sangat akurat untuk
menunjukkan leiomioma uterus. Resolusi kontras superior, resolusi spasial dan kemampuan
multiplanar yang disediakan oleh MRI memungkinkan untuk karakterisasi rinci tumor dan
juga dapat digunakan untuk mendiagnosis alternatif dan atau patologi sekitar pelvis.
Penampilan klasik leiomioma pada MRI adalah massa yang dibatasi dengan baik dengan
hipointensitas T2 yang homogen dan isointensitas T1 relatif terhadap miometrium.6,12
23
Laparoskopi bisa memfasilitasi diagnosis leiomioma parasit dengan mengidentifikasi
tampilan tumor, koneksi tumor ke organ ekstrauterin, dan pasokan vaskular ke simpul
leiomioma.6
Diagnosis banding dari tumor homogen padat pada abdomen dan rongga pelvis, yang
tidak terhubung ke uterus disamping leiomioma parasit mencakup sex-cord stromal tumor
seperti fibroma, thecoma, dan fibrothecoma yang berasal dari ovarium, tumor stroma
gastrointestinal (GIST) dan jenis leiomioma ekstrauterin lainnya seperti leiomiomatosis
intravena, DPL, dan leiomioma metastasis jinak. GIST adalah tumor padat yang timbul dari
mesentrium dan sering muncul dengan pertumbuhan yang cepat di rongga abdomen dan
menunjukkan penyerapan signifikan18-deoxyglucose pada PET/CT. Pengamatan terpenting
dalam membedakan tumor fibrosa stroma ovarium dari leiomioma subserosal atau
leiomioma parasit adalah dengan identifikasi ovarium yang normal. DPL dapat keliru
dianggap sebagai peritoneal karsinomatosis, dan leiomioma parasit dapat dianggap sebagai
leiomiosarkoma, sementara leiomiomatosis intravena dapat meragukan dengan karsinoma
sel ginjal yang mempengaruhi vena cava inferior, dan leiomioma metastasis jinak dengan
metastasis dari kanker hati atau paru.6,8,12
Kadang-kadang, leiomioma parasit dapat didiagnosis selama kehamilan, dengan
pengamatan massa ekstrauterin padat yang berkembang pesat, atau selama operasi elektif
dengan tujuan untuk menghilangkan suatu massa abdomen yang pada awalnya dianggap
ganas. Lebih lanjut, leiomioma parasit dapat membingungkan dengan massa yang berasal
dari usus ketika melekat ke mesenterim rectosigmoid, dan DPL dengan karsinomatosis
peritoneal. Dalam hal ini, pengukuran tumor marker, seperti CA 125, CA 19-9 atau
alfafetoprotein, tidak akan banyak membantu, karena leiomioma parasit terkadang terkait
dengan peningkatan dari marker ini, dan bahkan dengan adanya asites.6,8,12
Lebih lanjut, mungkin ada kebingungan antara leiomioma parasit dan fragmen
leiomioma yang tersisa sebelumnya setelah morcellation. Dalam hal ini, kuncinya terletak
pada waktu sejak intervensi bedah pertama, periode waktu singkat menunjukkan retensi
fragmen miomatoma, dan periode yang lebih lama menunjukkan adanya leiomioma parasit
nyata. Mungkin salah satu tantangan terbesar bagi dokter ketika menghadapi potensi
diagnosis leiomioma parasit adalah membedakannya dari keganasan pelvis yang baru
terdeteksi atau tumor abdomen. Mengingat bahwa hasil pencitraan tidak konklusif, dan
kadang-kadang pasien dengan leiomioma parasit memiliki peningkatan tumor marker, dan
24
bahkan asites, tidak mengherankan bahwa banyak dari pertumbuhan ini awalnya
diklasifikasikan sebagai ganas.8,12
3.7. Penatalaksanaan
Setiap upaya harus dilakukan untuk mengangkat tumor dan untuk mencegah rekurensi
tumor. Penanganan leiomioma parasit biasanya dilakukan reseksi bedah terbuka atau
laparoskopi atau reseksi robotik. Dalam sebagian besar kasus, leiomioma parasit direseksi
dengan laparoskopi, hasilnya mengindikasikan bahwa teknik ini layak dan aman. Berbagai
penulis telah melaporkan kasus leiomioma parasit yang ditangani menggunakan operasi
robotik dengan hasil yang baik. Menders dan rekan-rekannya berhasil dalam reseksi robotik
3 × 3 cm leiomioma parasit melibatkan fossa obturator melalui foramen obturator.8,17,19
Di sisi lain, pendekatan abdominal diindikasikan jika lokasi atau ukuran tidak cocok
dengan pendekatan laparoskopi, atau jika diduga keganasan. Ketika leiomioma parasit
ditemukan pada organ-organ yang berdekatan, tim multidisiplin harus dilibatkan untuk
memastikan efektivitas pengangkatan semua jaringan penyakit. Perawatan medis
berdasarkan penekanan estrogen menggunakan analog gonadotropin releasing hormon
direkomendasikan dalam kasus DPL spontan.19,23
25
BAB IV
DISKUSI
1. Analisa penegakkan diagnosa
Pada kasus ini, dilaporkan seorang pasien wanita 29 tahun di diagnosis dengan susp
mioma uteri + Bekas SC. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Dari anamnesis pada pasien ini didapatkan pembengkakan di perut sejak 2 bulan yang
lalu, dirasakan makin lama makin membesar yang bisa menjadi salah satu keluhan adanya
massa intraabdomen dan harus dicari penyebabnya. Selain itu, pasien mengeluhkan adanya
nyeri di perut dibagian bawah yang merupakan salah satu gejala pada mioma. Rasa nyeri yang
timbul juga disebabkan karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai
nekrosis setempat dan peradangan.
Secara umum, anamnesis untuk mioma uteri disingkat dengan FIBROIDS. Namun
pada pasien ini tidak terjadi perdarahan abnormal baik dalam siklus haid maupun diluar siklus
haid yang disertai nyeri, anemia, infertilitas. Gejala penekanan dari mioma seperti gangguan
BAK dan BAB juga tidak ditemukan pada pasien ini. Pasien ini cenderung tidak menunjukkan
gejala (Symptomless). Tidak terjadinya hal ini, karena kemungkinan jenis mioma yang terjadi
pada pasien ini adalah jenis subserosa.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan pada abdomen tidak tampak membuncit, teraba
massa 2 jari di atas simphisis, padat, permukaan rata, mobile, tanpa ada tanda akut abdomen.
Dari pemeriksaan genitalia tidak didapatkan perdarahan pervaginam, liang vagina dan portio
tidak terdapat tumor dan laserasi, dari VT bimanual didapatkan CUT antefleksi, ukuran sebesar
kepalan tinju dewasa yang dicurigai adanya pembesaran dari uterus.
Dari pemeriksaan penunjang di dapatkan hasil USG uterus ukuran normal Uterus
Antefleksi, ukuran 7,0 x 4,2 X 3 cm. Terdapat massa hipoechoic dengan ukuran 5,9 x 4,1 x 4.0
cm dengan kesan berbatas tegas di anterior uteri. Feeding arteri merupakan pemeriksaan khas
mioma uteri pada USG, yang terjadi karena peningkatan aliran darah menuju massa mioma.
Pada pasien ini, pemeriksaan ciri khas ini tidak dapat diperiksa karena keterbatasan alat USG.
Dari pemeriksaan laboratorium pada pasien ini didapatkan hasil normal, dimana tidak terjadi
anemia yang kebanyakan terjadi pada pasien mioma uteri dengan gejala perdarahan.
26
2. Analisa Penatalaksanaan Kasus
Pasien dirawat dengan suspek mioma uteri + bekas SC, direncakan terapi bedah berupa
laparotomi dengan rencana miomektomi. Tatalaksana ini atas pertimbangan pasien dengan
suspek mioma uteri asimptomatik, dengan patokan hasil USG berupa massa hipoekhoik yang
berbatas tegas di anterior.
Pada pasien ini tehnik insisi yang dilakukan adalah linea mediana. Insisi abdomen
vertikal didasarkan pada pertimbangan ukuran uterus dan antisipasi kemungkinan abnormal
anatomi akibat perlengketan, karena pasien ini memiliki riwayat SC. Jika pasien sudah
memiliki scar vertikal sebelumnya maka kebanyakan ahli bedah memilih insisi pada bekas scar
tersebut.
Setelah dilakukan insisi pada linea mediana, abdomen dibuka lapis demi lapis, dari
kulit hingga subkutis, pada saat membuka fascia, didapatkan massa tumor sebesar bola tenis
dengan konsistensi padat antara fascia dengan lapisan otot m.rectus abdominis. Massa tumor
ini tidak berhubungan langsung dengan peritoneum yang utuh. Sehingga diputuskan untuk
dilakukan tindakan reseksi tumor tanpa membuka peritoneum. Setelah dipastikan tidak ada
perdarahan, abdomen dijahit lapis demi lapis.
Massa tumor yang sudah diangkat kemudian dibelah, didapatkan tampilan internal
seperti lingkaran konsentrik (kumparan), seperti gambaran makroskopis mioma uteri namun
tidak ada hubungan sama sekali dengan uterus, atas dasar ini ditegakkan diagnosis post op yaitu
post miomektomi ai suspek wandering mioma dd/ tumor dinding abdomen.
3. Analisa perbedaan hasil diagnosis pre operatif dan post operatif dibandingkan
dengan hasil pemeriksaan laboratorium patologi anatomi?
Diagnosis awal pada pasien ini ditegakkan sebagai suspek mioma uteri berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Namun diagnosis ini tidak
menyokong sepenuhnya untuk mioma uteri karena tidak menunjukkan gejala dan tanda yang
spesifik.
Temuan intra operatif berupa massa tumor yang berada pada dinding abdomen dan
tidak berhubungan sama sekali dengan uterus. Massa tumor dicurigai sebagai leiomioma
parasit karena berdasarkan tampilan makroskopisnya, tapi tetap didiagnosis banding dengan
tumor dinding abdomen. Diagnosis pasti ditegakkan setelah hasil pemeriksaan laboratorium
patologi anatomi.
Pada hasil PA, didapatkan kesan leiomioma uteri yang merupakan tumor jinak pada
uterus. Namun hal ini merupakan suatu anomali atau hal yang tidak biasa karena massa ini
27
tumbuh dan berkembang di luar uterus atau tidak melekat sama sekali pada uterus. Ini
merupakan suatu jenis leiomioma yang dikelompokkan ke dalam grup 8 berdasarkan klasifikasi
leiomioma (fibroid) menurut FIGO, yaitu leiomioma yang tidak berhubungan dengan
miometrium sama sekali tanpa perlekatan langsung pada uterus, dan sebagainya yang disebut
sebagai lesi 'parasit'(leiomioma parasit).
Leiomioma parasit secara klasik didefinisikan sebagai mioma subserosa bertangkai
yang mengalami torsi, terlepas dari uterus, dan mempertahankan pertumbuhannya melalui
neovaskularisasi atau mendapatkan suplai darah dari jaringan sekitarnya atau pada tempat
melekatnya.
Mekanisme kemungkinan berkembangnya leiomioma parasit lainnya yaitu melalui
implantasi iatrogenik selama operasi. Kejadian leiomioma parasit iatrogenik menurut beberapa
literatur telah meningkat sejak diperkenalkannya teknik laparoskopi dan beberapa kasus telah
dilaporkan setelah penggunaan morcellator. Hal ini dapat terjadi sebagai komplikasi operasi
laparoskopi sebelumnya. Pengangkatan fragmen leiomioma yang tidak sempurna selama
operasi miomektomi atau histerektomi dapat menyebabkan pertumbuhannya kembali di rongga
peritoneum. Kasus ini tidak biasa karena tidak ada keluhan ginekologi yang khas atau riwayat
operasi ginekologis pada pasien. Operasi yang pernah dijalani sebelumnya yaitu operasi seksio
sesarea. Hal yang jadi pertanyaan adalah apakah operasi ini menyebabkan “penyemaian”
leiomioma menjauh dari uterus, yaitu pada dinding anterior abdomen dengan argumen bahwa
sel-sel otot polos dari uterus telah ditanamkan di dalam bekas luka. Sejauh ini belum ditemukan
literatur untuk mendukung argumen tentang munculnya leiomioma parasit karena riwayat
operasi seksio sesarea sebelumnya.
28
BAB V
KESIMPULAN
1. Diagnosis awal pada pasien ini adalah kurang tepat karena tidak menunjukkan gejala dan
tanda yang khas ke arah mioma uteri.
2. Tindakan yang dilakukan sudah tepat karena prinsipnya adalah untuk mengangkat massa
tumor.
3. Jenis leiomima parasit pada pasien ini adalah hal yang tidak biasa dan menjadi varian baru
karena belum ditemukan literatur yang mendukung tentang munculnya leiomioma parasit
pada pasien bekas SC.
29
DAFTAR PUSTAKA
1. Hillard PA. Benign disease of the female reproductive tract:symptom and signs. In: Berek
JS, Adashi EY, editors. Novak’s gynecology. 14th ed. Baltimore: Williams & Wilkins;2007,
p. 358-61.
2. Jones HW, Rock JA. Leiomyomata Uteri and Myomectomy. In: Jones HW, eds. Te Linde’s
Operative Gynecology. 11th ed. Philadelphia, PA: Wolters Kluwer. 2015:658-62.
3. Callahan TL, Caughey AB, Susan editors. Uterine Leiomyoma in Blueprint Obstetric &
Gynecolgy. 2013. Philadelphia : Lippincott edisi 6: p.188-94.
4. Drayer SM, Catherino WH. Prevalence, morbidity, and current medical management of
uterine leiomiomas. Int J Gynaecol Obstet 2015;131:117–22.
5. Djuanna A. Paradigma baru mengenai miomektomi pada saat seksio sesarea. Majalah
obstetri ginekologi Indonesia. 2006;2:76-81.
6. Lida M, Ishikawa H, Shozu M. Spontaneous parasitic leiomyoma in a post partum woman.
J. Obstet. Gynaecol. 2016. Res. Vol. 42, No. 12: 1874–1877.
7. Kho KA, Nezhat C. Parasitic myomas. Obstet Gynecol 2009; 114:611–615.
8. Lete I, Gonzalez J, et al. Parasitic leiomyomas : a sistematic review. European Journal of
Obstetrics and Gynecology and Reproductive Biology. 2016.
9. Munro MG, Critchley HO, Fraser IS. The FIGO classification of causes of abnormal uterine
bleeding in the reproductive years. Fertil Steril 2011; 95: 2204–2208.
10. Sarmalkar M et al. A rare case of primary parasitic leiomyoma mimicking as ovarian mass:
a clinical dilemma. Int J Reprod Contracept Obstet Gynecol. 2016 Feb;5(2):545-548.
11. Al-Talib A, Tulandi T. Pathophysiology and possible iatrogenic cause of leiomyomatosis
peritonealis disseminata. Gynecol Obstet Invest. 2010;69:239-44.
12. María Fernanda Garrido Oyarzún, Adela Saco & Camil Castelo-Branco. Anterior
abdominal wall parasitic leiomyoma: case report. Gynecological Endocrinology. 2017.
13. Ramesh B, Sharma Pooja, Gunge Dipti. Abdominal wall parasitic myoma following
electromechanical morcellation. The Journal of Obstetrics and Gynecology of India. 2012
14. Sreelatha S et al. A rare case of primary parasitic leiomyoma. Int J Reprod Contracept
Obstet Gynecol. 2013;2(3):422-424.
15. Kale T, Tambe S, Alnur Y. Parasitic fibroid : a diagnostic dilemma. The New Indian
Journal of OBGYN. 2016; 3(1):47-50.
16. Huang PS, Chang WC, Huang SC. Iatrogenic parasitic myoma : A case report and review
of the literature. Taiwan J Obstet Gynecol 2014; 53: 392–396.
30
17. K. L. Narasimha Rao, S.S.R.Nagendra Babu, J.Arjun Prakash, G.Sri ram, N.Mohan rao.
Solitary Anterior Abdominal Wall Leiomyoma Arising from Tubectomy Scar. IOSR
Journal of Dental and Medical Sciences (IOSR-JDMS). 2014, PP 04-06.
18. Fasih N, Prasad Shanbhogue AK, Macdonald DB et al. Leiomyomas beyond the uterus:
Unusual locations, rare manifestations. Radiographics. 2008; 28: 1931–1948.
19. Khan A, Shawl A, Leung PS. Parasitic leiomyoma of the greater omentum presenting as
small bowel obstruction. Journal of Surgical Case Reports. 2018;7, 1–3.
20. Dashraath P, Lim LM2, Huang Z, Ilancheran A. Parasitic leiomyoma. Am J Obstet
Gynecol 2016;215:665.e1–.e2.
21. Sinha R, Hegde A, Mahajan C. Parasitic myoma under the diaphragm. J Minim Invasive
Gynecol 2007;14:1.
22. Sujatha, M.S., Mamatha, S., Poornima, M., Srinivas, R., Roy, P. and Jasmin, K.P. Parasitic
Leiomyoma Peritoneum, A Rare Case. Open Journal of Obstetrics and Gynecology.2014,
4, 864-867.
23. Salih AM, Kakamad FH, AH Dahat, IJ Habibullah, Rauf GM. Parasitic leiomyoma: A case
report with literature review. International Journal of Surgery Case Reports 41. 2017; 33–
35
31
Download