Konversi Hutan Mangrove

advertisement
Laporan Studi Pustaka (KPM 403)
DAMPAK KONVERSI HUTAN MANGROVE TERHADAP
STRATEGI NAFKAH RUMAHTANGGA NELAYAN
AMALIA SETYA PRATIWI
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
PERNYATAAN
Dengan ini Saya menyatakan bahwa laporan studi pustaka yang berjudul “Dampak
Konversi Hutan Mangrove terhadap Strategi Nafkah Rumahtangga Nelayan”
benar-benar hasil karya saya sendiri yang belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah
pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari pustaka yang diterbitkan atau tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam naskah dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir laporan
studi pustaka. Demikian pernyataan ini Saya buat dengan sesungguhnya dan Saya
bersedia mempertanggungjawabkan pernyataan ini.
Bogor, Mei 2015
Amalia Setya Pratiwi
NIM. I34120145
ABSTRAK
AMALIA SETYA PRATIWI. Dampak Konversi Hutan Mangrove terhadap Strategi
Nafkah Rumahtangga Nelayan. Di bawah bimbingan ARIF SATRIA
Hutan mangrove merupakan ekosistem wilayah pesisir yang memiliki sumberdaya alam
hayati yang melimpah. Sebagian besar masyarakat pesisir memanfaatkan hutan
mangrove sebagai sumber nafkah utama. Peningkatan jumlah penduduk,aktivitas, dan
kebutuhan penduduk menyebabkan hutan mangrove mengalami degradasi setiap
tahunnya. Hal ini disebabkan oleh terjadinya konversi hutan mangrove menjadi areal
pertambakan, pertanian, perkebunan, industri, dan pemukiman. Kondisi ini kemudian
berdampak pada menurunnya fungsi hutan mangrove secara ekologis dan ekonomi.
Abrasi dan intrusi air laut di wilayah pantai semakin menggerus habis pantai dan
menyebabkan banjir. Aktivitas nelayan dalam memanfaatkan mangrove semakin
berkurang sehingga berdampak pada kondisi ekonomi rumahtangga nelayan. Oleh
karena itu, rumahtangga nelayan menggunakan strategi untuk dapat meningkatkan
kondisi ekonomi dan mempertahankan kesejahteraanya. Bentuk strategi yang dilakukan
adalah strategi nafkah, baik strategi ekonomi maupun strategi sosial. Strategi ekonomi
yang dilakukan berupa pola nafkah ganda, optimalisasi tenaga kerja rumahtangga, dan
migrasi, sedangkan strategi sosial berupa pemanfaatan lembaga kesejahteraan lokal
serta jejaring sosial.
Kata kunci: masyarakat pesisir, konversi hutan mangrove, kondisi ekonomi, strategi
nafkah
ABSTRACT
AMALIA SETYA PRATIWI. The Influence of Mangrove Forest Conversion on
Livelihood Strategies of Fisherman Household. Supervised by ARIF SATRIA
The mangrove forest is an ecosystem of coastal areas that have abundant natural
resources. Most coastal communities utilize the mangrove forest as the main source of
livelihood. Increases in population, activities, and needs of the population cause
degraded mangrove forests anually. It is caused by the conversion of mangrove forests
into aquaculture areas, agriculture, plantation, industrial, and residential. This
condition then decrease the function of mangrove forests, both ecologically and
economically. Abrasion and sea water intrusion in coastal areas increasingly eroded
the depleted beaches and cause flooding. Fishing activities in exploiting mangrove is
decreasing so the impact on household economic conditions of fishermen. Therefore,
fishing households use strategies to improve economic conditions and maintaining
economic security. Shape strategy undertaken is a living strategy, both economic and
social strategy. Economic strategy undertaken in the form of a coping strategys,
optimization of household labor, and migration, while social strategies such as the use
of local welfare agencies and social networking.
Keywords: coastal communities, mangrove forest conversion,economic conditions,
livelihood strategies
DAMPAK KONVERSI HUTAN MANGROVE TERHADAP STRATEGI
NAFKAH RUMAHTANGGA NELAYAN
Oleh
AMALIA SETYA PRATIWI
I34120145
Laporan Studi Pustaka
sebagai syarat kelulusan KPM 403
pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
LEMBAR PENGESAHAN
Dengan ini menyatakan bahwa laporan studi pustaka yang disusun oleh:
Nama Mahasiswa
: Amalia Setya Pratiwi
NIM
: I34120145
Judul
: Dampak Konversi Hutan Mangrove terhadap Strategi Nafkah
Rumahtangga Nelayan
dapat diterima sebagai syarat kelulusan mata kuliah Studi Pustaka (KPM 403) pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Sains
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut
Pertanian Bogor.
Disetujui oleh
Dr Arif Satria, SP MSi
NIP. 19710917 199702 1 003
Diketahui oleh
Dr Ir Siti Amanah, MSc
NIP. 19670903 199212 2 001
Tanggal pengesahan: _______________________
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
studi pustaka yang berjudul “Dampak Konversi Hutan Mangrove terhadap Strategi
Nafkah Rumahtangga Nelayan” ini dengan baik. Laporan studi pustaka ini ditujukan
untuk memenuhi syarat kelulusan Mata Kuliah Studi Pustaka (KPM 403) pada
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi
Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr Arif Satria, SP MSi
sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, masukan dan
waktu selama proses penulisan hingga penyelesaian laporan studi pustaka ini. Penulis
juga menyampaikan terimakasih kepada Ibu Dr Ir Ekawati S. Wahyuni, MS selaku
dosen Koordinator Mata Kuliah Studi Pustaka (KPM 403) yang telah memberikan
arahan serta bimbingan terkait teknik penulisan laporan studi pustaka. Tidak lupa
penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua orangtua tercinta, Ibu Siti Chomsah
dan Bapak Supriyanto atas semangat dan doa yang tiada henti-hentinya mengalir untuk
kelancaran penulisan laporan studi pustaka ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih
kepada teman-teman SKPM angkatan 49 yang telah berkenan menjadi rekan bertukar
pikiran dalam menyelesaikan laporan studi pustaka ini.Semoga laporan studi pustaka ini
bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Mei 2015
Amalia Setya Pratiwi
NIM. I34120145
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL............................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................... ix
PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
Latar Belakang ............................................................................................................ 1
Tujuan Penulisan......................................................................................................... 2
Metode Penulisan ........................................................................................................ 2
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA ................................................................... 3
1. Judul Konversi Lahan Hutan Mangrove serta Upaya Penduduk Lokal dalam
Merehabilitasi Ekosistem Mangrove (Rusdianti dan Sunito 2012)......................... 3
2. Judul Dampak Perubahan Lingkungan terhadap Perkembangan Aktivitas
Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir di Kawasan Segara Anakan
(Ramadhan dan Hafsaridewi 2012) ......................................................................... 4
3. Judul Kondisi Ekonomi Pasca Konversi Hutan Mangrove menjadi Lahan Tambak
di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan (Mayudin 2012) 6
4. Judul Potensi dan Nilai Manfaat Jasa Lingkungan Hutan Mangrove di Kabupaten
Sinjai Sulawesi Selatan (Saprudin dan Halidah 2012) ............................................ 7
5. Judul Persepsi Pesanggem Mengenai Hutan Mangrove dan Partisipasi Pesanggem
dalam Pengelolaan Tambak Mangrove Ramah Lingkungan Model Empang Parit
(Elhaq dan Satria 2011) ........................................................................................... 8
6. Judul Nilai Ekonomi Total Hutan Mangrove Desa Margasari Kecamatan Labuhan
Maringgai Kabupaten Lampung Timur (Ariftia et al. 2014) ................................ 10
7. Judul Valuasi Total Ekonomi Hutan Mangrove di Kawasan Delta Mahakam
Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur (Wahyuni et al. 2014) ............ 11
8. Judul Kondisi dan Manfaat Langsung Ekosistem Hutan Mangrove Desa
Penunggul Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan (Sofian et al. 2012) ........... 13
9. Judul Pemanfaatan Langsung Ekosistem Mangrove di Jawa Tengah dan
Penggunaan Lahan di Sekitarnya; Kerusakan dan Upaya Restorasinya (Setyawan
dan Winarno 2006) ................................................................................................ 14
10. Judul Strategi Nafkah Berkelanjutan bagi Rumah Tangga Miskin di Daerah
Pesisir (Widodo 2011) ........................................................................................... 16
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 18
Hutan Mangrove ....................................................................................................... 18
Fungsi Hutan Mangrove ........................................................................................... 19
Konversi Hutan Mangrove........................................................................................ 21
1. Faktor yang Memengaruhi Konversi Hutan Mangrove ...................................... 21
2. Dampak Konversi Hutan Mangrove ................................................................... 22
Karakteristik Masyarakat Pesisir .............................................................................. 23
Strategi Nafkah Rumahtangga .................................................................................. 25
Dampak Konversi Hutan Mangrove terhadap Strategi Nafkah Rumahtangga
Nelayan .................................................................................................................. 27
SIMPULAN .................................................................................................................... 29
Hasil Rangkuman dan Pembahasan .......................................................................... 29
Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian Skripsi ........................................... 30
Usulan Kerangka Analisis Baru ................................................................................ 30
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 31
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................................ 33
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Matriks Fungsi Hutan Mangrove....................................................................... 20
Tabel 2 Dampak Konversi Hutan Mangrove.................................................................. 23
Tabel 3 Klasifikasi Strategi Nafkah Rumahtangga ....................................................... 26
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kerangka Analisis...........................................................................................29
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Saat ini konversi lahan merupakan isu utama, bukan hanya dalam bidang agraria
tetapi juga pada bidang maritim di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di wilayah
pesisir. Lestari (2009) mendefinisikan konversi lahan atau biasa disebut alih fungsi
lahan sebagai perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya
semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif
(masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Kini semakin banyak
investor yang menjadikan wilayah pesisir sebagai sasaran pembangunan, mengingat
konversi lahan pertanian sudah semakin banyak dan lahan semakin sempit. Potensi yang
dimiliki kawasan pesisir, seperti ekosistem hutan mangrove, terumbu karang, padang
lamun, dan berbagai keanekaragaman hayati di dalamnya, tentu memberikan peluang
besar untuk pemanfaatan kawasan. Usaha pertambakan, perindustrian, pemukiman,
pariwisata, dan pertambangan menjadikan wilayah pesisir menjadi beralih fungsi,
khususnya pada kawasan hutan mangrove.
Aktivitas pemanfaatan dan pembangunan wilayah pesisir seharusnya mematuhi
peraturan pemerintah dan perundang-undangan yang ada agar tercapai pembangunan
wilayah pesisir yang lestari dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Harahab
2010). Faktanya, para investor, pemerintah, maupun masyarakat yang memanfaatkan
sumberdaya pesisir seperti hutan mangrove, memandang bahwa hutan mangrove
merupakan lahan marginal yang harus dikonversi menjadi penggunaan lainnya. Padahal
hutan mangrove memiliki fungsi, baik fungsi ekologis maupun ekonomi, seperti yang
terdapat pada Peraturan Menteri Kehutanan No. P.03/MENHUT/V/2004 dalam Harahab
(2010). Peraturan tersebut menyebutkan bahwa, hutan mangrove merupakan jalur hijau
daerah pantai yang mempunyai fungsi ekologis dan sosial ekonomi.
Harahab (2010) pun menjelaskan fungsi hutan mangrove dari segi ekologis dan
ekonominya. Dari segi ekologinya, hutan mangrove berfungsi sebagai kawasan
penyangga atau penahan intrusi laut, sebagai kawasan berlindung dan berkembang biak
bagi berbagai biota laut, sebagai penahan abrasi, dan sebagai daerah asuhan, mencari
makan, serta daerah pemijahan berbagai macam biota perairan, seperti ikan, udang,
kepiting, dan sebgainya. Dari segi ekonominya, hutan mangrove berfungsi sebagai
penghasil kayu (kayu bakar, kayu konstruksi, dan arang), sebagai mata pencaharian
penduduk sekitar (pencari udang, kepiting, dan tiram), serta tempat bersarangnya
burung yang memproduksi telur hingga 64.680 butir/ tahun. Oleh karena itu, banyak
masyarakat sekitar hutan yang memanfaatkan hutan mangrove tersebut sebagai sumber
pendapatan utama. Akan tetapi, maraknya konversi hutan mangrove di wilayah pesisir
membuat sumber pendapatan masyarakat menjadi menurun.
Berdasarkan data tahun 1999, luas wilayah mangrove yang terdapat di Indonesia
yakni total 8,6 juta hektare. Namun sejak rentang 1999 hingga 2005, hutan bakau itu
sudah berkurang sebanyak 5,58 juta hektare atau sekitar 64 persennya. Saat ini hutan
mangrove di Indonesia yang dalam keadaan baik tinggal 3,6 juta hektar, sisanya dalam
keadaan rusak dan sedang1. Dampak hilangnya mangrove mulai dirasakan oleh
masyarakat daerah pesisir. Rupanya hutan mangrove tak hanya memiliki fungsi
ekologis, melainkan juga fungsi ekonomis. Hal ini menyebabkan masyarakat sekitar
hutan mangrove, yang menjadikan hutan sebagai sumber pendapatan utama, mengalami
kerugian karena berkurangnya sumberdaya hutan sebagai sumber nafkah. Pemanfaatan
dan pembangunan di wilayah pesisir yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
1
Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/hutan-mangrove-indonesia-terus-berkurang
2
masyarakat, justru merugikan masyarakat dengan mengalihfungsikan hutan mangrove
sebagai sumber penghasilan utama masyarakat.
Sebagai gambaran konversi hutan mangrove menjadi pertambakan terjadi di
Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.
Penelitian yang telah dilakukan di wilayah tersebut menunjukkan bahwa konversi hutan
mangrove menjadi lahan tambak memberikan dampak positif dan negatif bagi
masyarakat, terutama dalam aspek ekonomi. Dampak positif dari konversi hutan
mangrove menjadi tambak ini yaitu dapat membantu menaikkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat di Desa Karangsong sesuai dengan tujuan Pemerintah Desa.
Di sisi lain, masyarakat pun merasa dirugikan dengan adanya konversi hutan mangrove
berskala besar. Konversi mangrove dalam skala besar tanpa menyisakan tanaman
mangrove disekitarnya memberikan pengaruh terhadap biaya produksi yang cenderung
lebih tinggi dalam membudidayakan ikan bandeng. Mangrove yang sudah habis tidak
mampu menyediakan pakan alami untuk ikan bandeng yang biayanya jauh lebih murah
dibandingkan dengan membuat pakan buatan. Konversi mangrove dalam skala besar
juga telah banyak memengaruhi kondisi tanah yang cocok untuk budidaya udang windu,
sehingga banyak petani tambak yang tidak bisa membudidayakan udang windu di
tambak mereka. Banyak sumber penghasilan utama dari hutan mangrove yang tidak
dapat diperoleh kembali oleh masyarakat karena hutan mangrove sudah tidak tersisa.
Masyarakat yang hanya memanfaatkan hutan mangrove sebagai sumber
pendapatan pun harus mencari alternatif sumber nafkah yang lain agar tetap dapat
melangsungkan kehidupannya dan keluarga. Menurut de Haan dalam Purnomo (2006),
jika keberlanjutan nafkah terancam, rumahtangga akan melakukan strategi coping
(coping strategy). Coping strategy merupakan strategi nafkah yang dilakukan dalam
keadaan sulit. Coping strategy dilakukan dengan mengubah strategi nafkah semula
dengan strategi nafkah yang baru. Artinya, rumahtangga seseorang tidak hanya
mengandalkan hidup pada satu pekerjaan saja. Untuk menambah penghasilan
rumahtangga, maka dalam beberapa penelitian menunjukkan adanya usaha
memaksimalkan sumberdaya keluarga, yaitu istri dan anak. Tak jarang jaringan sosial
pun turut menyumbang dalam pemenuhan kebutuhan mereka, seperti berhutang kepada
tetangga atau saudara. Maka dari itu, penting untuk menganalisis bagaimana dampak
konversi hutan mangrove terhadap kondisi ekonomi rumahtangga nelayan, serta
bagaimana strategi nafkah yang dilakukan rumahtangga nelayan untuk mengatasi
terjadinya konversi hutan mangrove.
Tujuan Penulisan
Penulisan studi pusataka ini bertujuan untuk menganalisis definisi tentang
konversi hutan mangrove di wilayah pesisir dan dampaknya terhadap strategi nafkah
masyarakat yang memanfaatkan hutan mangrove tersebut sebagai sumber pendapatan.
Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan studi pustaka ini yaitu mengumpulkan,
meringkas, menganalisis, dan melakukan sintesis data sekunder berupa hasil penelitian,
seperti jurnal penelitian, skripsi, tesis maupun disertasi yang berkaitan dengan topik
studi pustaka ini yaitu konversi hutan mangrove. Hasil dari ringkasan tersebut akan
digunakan sebagai landasan teori dan juga konsep mengenai konversi hutan mangrove
dan hubungannya dengan strategi nafkah masyarakat yang memanfaatkan hutan
mangrove sebagai sumber pendapatan utama. Penarikan hubungan antara kedua konsep
tersebut dilakukan untuk memunculkan sebuah kerangka teoritis yang menjadi dasar
perumusan masalah bagi penelitian yang akan dilakukan.
3
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA
1. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi)
Alamat URL
Tanggal diunduh
: Konversi Lahan Hutan Mangrove serta Upaya
Penduduk Lokal dalam Merehabilitasi Ekosistem
Mangrove
: 2012
: Jurnal
: Elektronik
: Konny Rusdianti dan Satyawan Sunito
: : : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan
Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, Bogor
: Jurnal Sosiologi Pedesaan
: Vol. 06, No. 01 (2012)
: http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/12345678
9/54415/I12kru.pdf?sequence=3
: 13 Maret 2015, pukul 19.15 WIB
Ringkasan Pustaka
Ekosistem hutan mangrove memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi ekologis
dan fungsi sosial ekonomi. Fungsi ekologis hutan mangrove yaitu sebagai pelindung
pantai dari gejala alam, seperti abrasi, intrusi air laut, gelombang dan badai. Hutan
mangrove juga berfungsi sebagai penyangga kehidupan sumberdaya ikan, sebab
ekosistem mangrove merupakan daerah pemijahan, daerah asuhan, dan daerah mencari
makan bagi ikan-ikan. Hutan mangrove juga mempunyai fungsi sosial ekonomi, yaitu
sebagai sumber mata pencaharian berupa berbagai hasil hutan, sumber bahan bangunan
dan kerajinan, objek penelitian, tempat pembuatan garam, serta sebagai tempat wisata
alam.
Berbagai kegiatan pengelolaan hutan mangrove terkait kedua fungsi tersebut
dilakukan oleh masyarakat lokal Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten
Indramayu dengan memanfaatkan lahan mangrove untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Akan tetapi, pemanfaatan yang dilakukan masyarakat belum dilakukan secara benar.
Terdapat aktor-aktor yang melakukan kesalahan dalam pengelolaan ekosistem hutan
mangrove, seperti mengeksploitasinya menjadi lahan tambak. Aktivitas tersebut
menyebabkan penurunan luas hutan mangrove dan berakibat pada penurunan fungsi dan
manfaat mangrove bagi masyarakat dan lingkungannya. Kondisi hutan mangrove yang
bersifat open access membuat masyarakat bebas memanfaatkan hutan secara terbuka,
baik secara ekologis maupun ekonomis. Kurangnya pengetahuan masyarakat lokal
tentang fungsi dan manfaat hutan mangrove menyebabkan kurangnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya keberadaan hutan mangrove. Masyarakat tertarik dengan
usaha lahan tambak yang didirikan oleh para pendatang dan menghasilkan keuntungan
ekonomi yang besar, namun hanya untuk keuntungan jangka pendek. Masyarakat tidak
memikirkan dampak ekologis konversi hutan mangrove untuk jangka panjang.
Hasil penelitian yang telah dilakukan menjelaskan bahwa konversi hutan
mangrove dalam skala besar memberikan dampak terhadap penduduk lokal di
sekitarnya baik keuntungan maupun kerugian dalam jangka waktu yang langsung
maupun tidak langsung. Keuntungan yang didapat adalah konversi mangrove dapat
membantu menaikkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Desa Karangsong
sesuai dengan tujuan Pemerintah Desa. Kerugiannya, konversi mangrove dalam skala
besar tanpa menyisakan tanaman mangrove disekitarnya memberikan pengaruh
terhadap biaya produksi yang cenderung lebih tinggi dalam membudidayakan ikan
4
bandeng. Konversi mangrove dalam skala besar juga telah banyak memengaruhi kondisi
tanah yang cocok untuk budidaya udang windu, sehingga banyak petani tambak yang
tidak bisa membudidayakan udang windu di tambak mereka. Keadaan tambak yang
gersang tanpa mangrove pun membuat tanggul-tanggul tambak terkena abrasi.
Keberadaan biota laut, seperti kerang dan kepiting pun tidak mampu berkembang biak
dalam kondisi mangrove yang rusak. Abrasi pantai juga terus menggerus pantai Desa
Karangsong yang semakin habis dari tahun ke tahun.
Namun berbagai kerugian yang dirasakan tersebut, masih belum memberikan
kesadaran pada penduduk mengenai pentingnya keberadaan ekosistem mangrove. Hal
tersebut terbukti dengan masih sedikitnya partisipasi penduduk dalam proses rehabilitasi
hutan mangrove yang ada di Desa Karangsong tersebut. Tak jarang pula masyarakat
yang turut berpartisipasi dalam tiga program yang diadakan dalam rangka
merehabilitasi hutan mangrove, yaitu penghijauan, usaha, dan pemberdayaan. Persepsi
penduduk Desa Karangsong menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa
Karangsong memiliki persepsi kategori “sedang” terhadap kegiatan rehabilitasi yang
dilakukan oleh Kelompok Pantai Lestari. Hal tersebut merupakan sikap pasif atau sikap
kurang adanya inisiatif terhadap kegiatan rehabilitasi yang ada.
Analisis Pustaka
Hasil penelitian ini menambah pengetahuan mengenai dampak positif dan
dampak negatif konversi hutan mangrove bagi masyarakat lokal dan lingkungannya.
Selain itu, penelitian ini memberikan informasi baru bahwa kesadaran masyarakat lokal
Desa Karangsong masih rendah dibuktikan dengan kurangnya partisipasi masyarakat
dalam program rehabilitasi hutan mangrove. Penelitian ini sudah dilakukan sesuai
dengan tujuan awal penelitian, yaitu untuk mengkaji dan menganalisis kronologis
terjadinya konversi mangrove menjadi lahan tambak dan dampaknya terhadap kondisi
ekonomi dan ekologis wilayah pesisir serta persepsi dan partisipasi penduduk lokal
terhadap kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu,
Kabupaten Indramayu. Pendekatan penelitian, jumlah, karakteristik, dan penentuan
responden maupun informan, serta teknik analisis data yang digunakan telah dijabarkan
dengan sangat jelas oleh peneliti.
2. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi)
Alamat URL
Tanggal diunduh
: Dampak
Perubahan
Lingkungan
terhadap
Perkembangan Aktivitas Ekonomi dan Kesejahteraan
Masyarakat Pesisir di Kawasan Segara Anakan
: 2012
: Jurnal
: Elektronik
: Andrian Ramadhan dan Rani Hafsaridewi
: : : Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan
Perikanan, Jakarta
: Jurnal Sosek KP
: Vol. 7 No. 1 (2012)
: http://bbpse.litbang.kkp.go.id/publikasi/jsosek/jurnal_
2012_v7_no1_%283%29_full.pdf
: 14 Maret 2015, pukul 23.20 WIB
Ringkasan Pustaka
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan lingkungan
Segara Anakan terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Data yang
5
dikumpulkan pada masyarakat di Desa Ujung Alang dan Klaces, Kecamatan Kampung
Laut, Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah dianalisis menggunakan analisis
kesejahteraan rumah tangga berdasarkan indeks rumah tangga miskin menurut Badan
Pusat Statistik (BPS) dan analisis deskriptif.
Segara Anakan merupakan laguna dengan wilayah perairan yang cukup luas
pada masa lalu dimana pada tahun 1980 luasnya mencapai 3.852 ha. Namun seiring
dengan berjalannya waktu, kawasan ini terus mengalami penyempitan yaitu hanya
sekitar 600 ha pada tahun 2000. Berkurangnya wilayah perairan berganti dengan zonazona yang akhirnya ditumbuhi dengan semak belukar dan mangrove. Akan tetapi, zona
mangrove tersebut justru mengalami penurunan yang signifikan akibat adanya
penebangan secara ilegal. Kondisi ini memengaruhi aktivitas masyarakat khususnya
dalam upaya mendapatkan penghasilan melalui pemanfaatan sumberdaya perairan.
Sumberdaya perairan tersebut terus mengalami penurunan seiring dengan menyusutnya
luas laguna dan mangrove diantaranya adalah udang, ikan dan kepiting. Dengan
demikian, masyarakat perlu melakukan strategi adaptasi untuk mengatasi perubahan
lingkungan yang terjadi di kawasan perairan.
Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Kampung Laut memiliki mata
pencaharian sebagai nelayan. Sektor perikanan merupakan sektor utama dalam kegiatan
ekonomi yang dilakukan masyarakat di Kawasan Segara Anakan. Pendidikan
masyarakat yang rendah menyebabkan masyarakat bergantung pada sumberdaya. Bagi
masyarakat yang sudah bertahun-tahun menjadi nelayan akan sulit beradaptasi dengan
perubahan lingkungan yang terjadi pada perairan di Kawasan Segara Anakan, sebab
hanya kemampuan itulah yang dimiliki. Laut merupakan satu-satunya sumber
penghidupan bagi masyarakat. Akan tetapi, ada pula masyarakat yang berusaha mencari
sumber penghidupan lain dengan memanfaatkan lahan yang terbentuk akibat
sedimentasi untuk pertanian atau pertambakkan, membudidayakan udang, ikan bandeng
dan juga kepiting. Rendahnya pengetahuan yang dimiliki membuat masyarakat masih
sangat tergantung pada alam dan tidak mendapatkan hasil yang optimal bahkan
seringkali mengalami kegagalan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan lingkungan yang besar di
Kawasan Segara Anakan berdampak besar bagi sumberdaya perikanan dan kelautan.
Perubahan lingkungan yang terjadi memberi pengaruh pada aktivitas ekonomi
masyarakat yang telah bertahun-tahun berfokus pada sektor perikanan. Masyarakat
belum mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi akibat rendahnya
pengetahuan yang dimiliki masyarakat. Tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum
masih kurang sejahtera meski tidak ditemukan rumah tangga yang miskin sebagaimana
kriteria yang ditetapkan BPS. Secara lebih spesifik juga diketahui bahwa sumberdaya
perikanan di Kawasan Segara Anakan masih memberi pengaruh penting terhadap
tingkat kesejahteraan masyarakat. Hal ini terbukti dari tingkat kesejahteraan masyarakat
berdasarkan mata pencaharian dimana masyarakat nelayan memiliki tingkat
kesejahteraan yang relatif lebih baik.
Analisis Pustaka
Penelitian ini tidak menjelaskan pendekatan penelitian yang digunakan, apakah
penelitian kualitatif atau kuantitatif, walaupun telah menjelaskan secara rinci teknik
pengambilan data yang digunakan. Jumlah dan karakteristik responden pun tidak
dicantumkan oleh peneliti. Temuan penelitian ini telah sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai peneliti, yaitu untuk mengetahui pengaruh perubahan lingkungan Segara
Anakan terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Hasil temuan dari
penelitian ini memberikan pengetahuan baru bahwa di Kawasan Segara Anakan,
masyarakat masih bergantung pada sektor perikanan walaupun telah terjadi perubahan
6
lingkungan. Masyarakat juga berusaha mencari sumber nafkah lainnya untuk dapat
meningkatkan kesejahteraan.
3. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi)
Alamat URL
Tanggal diunduh
: Kondisi Ekonomi Pasca Konversi Hutan Mangrove
menjadi Lahan Tambak di Kabupaten Pangkajene
Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan
: 2012
: Jurnal
: Elektronik
: Arif Mayudin
: : : Politeknik Negeri Pontianak, Pontianak
: Jurnal Eksos
: Vol. 8, No. 2, Juni 2012
: http://repository.polnep.ac.id/xmlui/bitstream/handle/
123456789/86/05-eksos%203%20%20arif.pdf?
sequence=1
: 27 Februari 2015, pukul 20.22 WIB
Ringkasan Pustaka
Kawasan hutan mangrove di sepanjang Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi
Selatan, banyak mengalami konversi menjadi lahan tambak. Hal ini menyebabkan
degradasi hutan mangrove menjadi suatu isu yang paling serius. Keanekaragaman
hayati dan sumberdaya lainnya akan terganggu dan berpengaruh pada fungsi ekonomi
dan ekologis dari ekosistem hutan mangrove. Konversi hutan mangrove dengan
melakukan penebangan dan mengalihfungsikan menjadi lahan tambak akan berdampak
besar. Hal tersebut mampu memberikan hasil kepada pendapatan masyarakat dan
kesempatan meningkatkan kerja. Di pihak lain, penyusutan hutan amngrove akan terjadi
dan mengganggu ekosistem perairan di kawasan sekitarnya. Konversi hutan mangrove
tersebut dapat memberikan dampak, baik terhadap ekonomi, sosial, dan budaya. Untuk
menilai pemanfaatan hutan mangrove tersebut, baik sebelum dan sesudah konversi
hutan mangrove, dilakukan dengan menggunakan analisis nilai manfaat ekonomi
ekosistem mangrove dan nilai manfaat ekonomi tambak.
Ekosistem mangrove di Kabupaten Pangkep telah banyak memberikan manfaat
bagi masyarakat lokal yang secara turun-temurun berinteraksi dengan huan mangrove
untuk sumber penghidupan. Nilai manfaat total ekosistem mangrove ini terdiri dari
empat kategori, yaitu nilai manfaat langsung, nilai manfaat tidak langsung, nilai
manfaat pilihan, dan nilai keberadaan. Nilai manfaat langsung ekosistem mangrove
diidentifikasi dari kegiatan pemanfaatan hutan untuk memenuhi kebutuhan, terdiri dari
manfaat hasil hutan dan manfaat hasil perikanan. Manfaat langsung hasil hutan meliputi
kayu bangunan, kayu bakar, cerucuk, dan daun nipah, sedangkan manfaat langsung
hasil perikanan meliputi berbagai sumberdaya ikan yang diperoleh dengan cara
tradisional. Nilai manfaat tidak langsung terdiri dari pencegah intrusi air laut, penyedia
unsur hara ekosistem mangrove, dan ekowisata. Nilai manfaat pilihan diperoleh dengan
menggunakan nilai manfaat keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan hutan
mangrove, sedangkan nilai manfaat keberadaan dihitung berdasarkan penilaian
responden terhadap pentingnya kawasan hutan mangrove.
Berdasarkan hasil penilaian yang diperoleh, ekosistem hutan mangrove memiliki
peranan yang cukup besar, baik langsung maupun tidak langsung, oleh masyarakat
sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan. Hutan mangrove pun berperan
dalam menahan abrasi pantai, penahan intrusi laut maupun penjaga kestabilan siklus
7
makanan biota perairan. Nilai total manfaat ekonomi mangrove terbukti memiliki nilai
yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai manfaat ekonomi tambak. Akan tetapi, nilai
ekonomi tambak jika dibandingkan dengan manfaat langsung ekosistem mangrove,
memiliki nilai yang lebih besar. Hal ini justru menjadi ancaman terhadap kelestarian
ekosistem mangrove akibat konversi hutan mangrove menjadi tambak karena
masyarakat menilai manfat ekonomi tambak yang jauh lebih menguntungkan.
Penelitian ini memperoleh beberapa hasil penelitian, yaitu kondisi ekonomi
masyarakat pesisir pasca konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak di Kecamatan
Mandalle, Segeri dan Labakkang Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan dikategorikan
baik dan dapat diukur dari beberapa indikator. Nilai total manfaat ekonomi mangrove
menunjukkan bahwa hutan mangrove dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar
bila dapat dikelola dengan baik. Kondisi ekonomi masyarakat pesisir pasca konversi
hutan mangrove menjadi lahan tambak secara umum meningkat. Dengan pemanfaatan
tersebut, maka pendapatan masyarakat meningkat hingga 50%.
Analisis Pustaka
Temuan dalam penelitian ini memberikan pengetahuan bahwa kondisi ekonomi
pasca konversi hutan mangrove di Kabupaten Pangkep mengalami peningkatan akibat
usaha di bidang pertambakkan. Penelitian ini sudah menyantumkan pendekatan
penelitian yang digunakan serta teknik pemilihan responden. Penelitian ini kurang
memberikan analisis deskriptif secara jelas dari hasil penilaian yang dilakukan pada
nilai manfaat ekosistem mangrove dan tambak. Perhitungan nilai manfaat tersebut pun
kurang mendetail sehingga sulit untuk mengetahui hasil penilaian manfaat tersbeut.
Tujuan penelitian ini telah sesuai dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian yaitu
kondisi ekonomi masyarakat pasca konversi hutan mangrove.
4. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi)
Alamat URL
Tanggal diunduh
: Potensi dan Nilai Manfaat Jasa Lingkungan Hutan
Mangrove di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan
: 2012
: Jurnal
: Elektronik
: Saprudin dan Halidah
: : : Balai Penelitian Kehutanan Manado, Manado
: Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
: Vol. 9 No. 3 : 213-219, 2012
: http://forda-mof.org/files/02_Saprudin_OK.pdf
: 19 Maret 2015, pukul 18.45 WIB
Ringkasan Pustaka
Hutan mangrove merupakan ekosistem utama yang mendukung kehidupan
wilayah pesisir dan lautan. Hutan mangrove mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis
yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat dan wilayah di sekitarnya. Fungsi
ekologis hutan mangrove adalah sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat
pemijahan dan asuhan bagi berbagai biota perairan, penahan abrasi dan tsunami,
penyerap limbah, pencegah intrusi laut dan sebagainya. Fungsi ekonomis hutan
mangrove ini adalah sebagai penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan makanan
ternak dan obat-obatan, buah sebagai sumbr benih, dan sebagainya. Fungsi ekonomis ini
merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat lokal yang berada di kawasan hutan
mangrove tersebut.
8
Di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan terdapat areal rehabilitasi mangrove yang
dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai sumber pendapatan. Nilai yang diperoleh
untuk sumber ekonomi ini merupakan nilai yang dapat dimanfaatkan secara langsung
oleh masyarakat. Analisis potensi hutan bakau dan analisis manfaat mangrove dapat
digunakan untuk mengetahui potensi dan nilai manfaat yang dimiliki oleh ekosistem
mangrove.
Masyarakat di pesisir Sinjai telah melakukan pemanfaatan hutan mangrove
secara langsung berupa tiga macam sumberdaya, yaitu berupa kayu, buah, dan daun
bakau. Nilai manfaat yang terbesar adalah nilai pada kayu, kemudian buah, dan yang
paling kecil adalah nilai manfaat daun bakau. Masyarakat memanfaatkan kayu
mangrove untuk memproduksi kayu bakar dan kayu bahan bangunan dengan
karakteristik tertentu yang telah ditentukan berdasarkan pengetahuan masyarakat. Buah
bakau dimanfaatkan sebagai sumber benih dan daun bakau dimanfaatkan untuk
penghasil pakan ternak.
Berdasarkan hasil penilaian ekonomi dari pemanfaatan hutan mangrove,
diketahui manfaat nilai guna langsung secara keseluruhan (kayu, buah, dan daun)
sebesar Rp 11,61 juta/ ha/ tahun. Nilai ekonomi ini juga didapatkan dari hasil penelitian
di beberapa kawasan hutan mangrove lainnya, seperti hutan mangrove di Teluk Bintuni,
hutan mangrove di Malili Kabupaten Luwu Timur, di desa Tallise Kabupaten Minahasa
Sulawesi Utara, dan Pulau Kangean Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Nilai
manfaat ekonomi yang dihasilkan dari sumberdaya hutan mangrove tersebut
menggambarkan bahwa masyarakat memiliki tingkat ketergantungan pada jasa hutan
mangrove tersebut. Dengan demikian perlu adanya jaminan kelestarian manfaat dengan
kegiatan rehabilitasi secara berkesinambungan.
Analisis Pustaka
Temuan penelitian ini mampu memberikan informasi yang sangat penting terkait
manfaat ekonomis hutan mangrove. Masyarakat sekitar hutan mangrove sangat
bergantung pada keberadaan hutan mangrove sebagai sumber pendapatan mereka,
sehingga perlu dibuat kebijakan oleh pemerintah untuk tetap menjaga kelangsungan
hidup kawasan mangrove demi manfaat ekonomis dan ekologis yang dapat diperoleh.
Penelitian ini masih kurang jelas dalam menganalisis potensi hutan mangrove terkait
tegakan hutan mangrove tersebut. Metode penelitian dan responden yang dipilih sudh
cukup dijelaskan dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini pun sudah tercapai dengan
hasil penelitian yang diperoleh yaitu untuk mengetahui potensi dan nilai manfaat yang
diperoleh dari hutan mangrove di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.
5. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi)
Alamat URL
: Persepsi Pesanggem Mengenai Hutan Mangrove dan
Partisipasi Pesanggem dalam Pengelolaan Tambak
Mangrove Ramah Lingkungan Model Empang Parit
: 2011
: Jurnal
: Elektronik
: Imam Habibi Elhaq dan Arif Satria
: : : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan
Masyarakat,Fakultas Ekologi Manusia, IPB, Bogor
: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan
Ekologi Manusia
: Vol. 5, No. 1 2011
: http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/view
9
Tanggal diunduh
File/5829/4494
: 20 Maret 2015, pukul 16.23 WIB
Ringkasan Pustaka
Luas hutan mangrove sebagai sumberdaya pesisir terus mengalami penurunan
dari tahun ke tahun. Penurunan ini disebabkan oleh kegiatan konversi hutan mangrove
menjadi lahan pertambakan. Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat dan kondisi
sosial ekonomi masyarakat pesisir yang relatif masih rendah juga memicu terjadinya
konversi lahan untuk memperoleh penghasilan yang besar. Masyarakat, khususnya
pesanggem (petani tambak) memiliki persepsi yang salah mengenai hutan mangrove
karena menganggap hutan mangrove hanya sebagai lahan kosong yang tidak memiliki
manfaat sehingga lebih baik dikonversi menjadi lahan tambak. Masyarakat tidak
mengetahui secara jelas fungsi ekologi dan sosial ekonomi yang diperoleh dari hutan
mangrove. Dengan demikian, pesanggem yang tergabung dalam LMDH Mina Wana
Lestari bekerja sama dengan Perum Perhutani untuk menerapkan sistem pengelolaan
tambak mangrove di Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang. Kendala
yang ditemukan dalam sistem ini adalah kurangnya partisipasi pesanggem dalam
pengelolaan tambak mangrove tersebut.
Sebagian besar pesanggem memiliki perspektif positif mengenai ekosistem
hutan mangrove. Para pesanggem telah mengenal baik kondisi fisik ekosistem hutan
mengrove karena interaksi yang dilakukan setiap hari dengan hutan mangrove.
Mayoritas pesanggem juga memiliki persepsi positif terhadap fungsi ekologi hutan
mangrove, karena pesanggem merasakan manfaat ekologi yang diperoleh dari hutan
mangrove seperti menciptakan iklim makro dan mencegah bencana alam. Berbeda
dengan persepsi pesanggem terhadap fungsi sosial ekonomi hutan mangrove yang
tergolong negatif. Hal ini disebabkan oleh pesanggem yang belum memahami dengan
benar fungsi sosial ekonomi hutan mangrove atau tidak ditemukannya teknologi yang
memadai untuk mendapatkan keuntungan sosial ekonomi yang optimal.
Sebagian besar pesanggem memiliki partisipasi yang rendah pada tahap
perencanaan pengelolaan tambak mangrove ramah lingkungan karena dalam tahap ini
pesanggem memang tidak diberi kesempatan oleh Perum Perhutani untuk berpartisipasi.
Pada tahap pelaksanaan pengelolaan tambak mangrove, sebagian besar pesanggem ikut
berpartisipasi, sedangkan pada tahap monitoring partisipasi pesanggem cenderung
rendah karena para pesanggem cenderung takut memberikan laporan mengenai masalah
pengelolaan tambak kepada pihak Perum Perhutani. Pada tahap menikmati hasil
pengelolaan tambak mangrove, pesanggem cenderung memiliki partisipasi tinggi karena
adanya kesadaran bahwa pembagian andil tambak kepada pesanggem cukup adil,
tergantung kemampuan membayar uang sharing. Secara umum, tidak terdapat
hubungan antara persepsi pesanggem mengenai hutan mangrove dengan partisipasi
pesanggem dalam pengelolaan tambak mangrove model empang parit. Hal ini berbeda
dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang terdapat hubungan antara kedua variabel
tersebut.
Rendahnya partisipasi pesanggem dlam pengelolaan tambak mangrove di Desa
Sedari berpengaruh pada pengelolaan tambak mangrove. Masalah yang ditimbulkan
adalah banyak tanaman payau yang ditanam di tambak pesanggem tidak terawat dan
mati. Hasil panen tambak yang diperoleh pesanggem pun semakin berkurang dari tahun
ke tahun akibat pencemaran air yang tidak dapat diatasi akibat rusaknya hutan
mangrove. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan dalam pengelolaan tambak
mangrove secara partisipatif oleh pihak pesanggem untuk terwujudnya keberlanjutan
ekologi dan sosial ekonomi masyarakat.
10
Analisis Pustaka
Penelitian ini memberikan temuan baru yang berisi informasi bahwa penelitian
yang dilakukan dengan variabel dan indikator yang sama dapat memberikan hasil yang
berbeda. Penelitian ini memberikan hasil yang berbeda dengan penelitian sebelumnya
karena perbedaan lokasi, metodologi, karakteristik sampel, aktor yang berperan, dan
model pengelolaan sumberdaya yang bersifat top down dalam penelitian ini. Hal ini
menyebabkan hipotesis penelitian ini tidak dapat dibuktikan. Peneliti telah menjelaskan
metode penelitian yang digunakan dan karakteristik responden yang dipilih. Peneliti
tidak menjelaskan alasan mengapa memilih lokasi tersebut untuk dilakukan penelitian.
Tujuan penelitian ini telah dicapai oleh peneliti yaitu untuk mengetahui persepsi
pesanggem mengenai hutan mangrove, partisipasi pesanggem dalam pengelolaan
tambak mangrove ramah lingkungan model empang parit, dan hubungan antara
keduanya.
6. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi)
Alamat URL
Tanggal diunduh
: Nilai Ekonomi Total Hutan Mangrove Desa Margasari
Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung
Timur
: 2014
: Jurnal
: Elektronik
: Ria Indrian Ariftia, Rommy Qurniati, dan Susni
Herwanti
: : : Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas
Lampung, Bandar Lampung
: Jurnal Sylva Lestari
: Vol. 2 No. 3, September 2014
: http://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JHT/article/view
File/427/403
: 26 Maret 2015, pukul 21.13 WIB
Ringkasan Pustaka
Hutan mangrove di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten
Lampung Timur memiliki potensi baik secara fisik, ekonomi, dan ekologi. Potensi fisik
yang dimiliki hutan mangrove adalah pencegah intrusi air laut, perluasan lahan ke arah
laut, dan mencegah pencemaran air tambak. Potensi ekologi hutan mangrove adalah
sebagai tempat pemijahan, daerah asuhan, dan daerah mencari makan bagi biota laut.
Potensi ekonomi hutan mangrove berupa hasil hutan, baik kayu maupun bukan kayu
yang dapat meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat. Akan tetapi, masyarakat hanya
menilai hutan mangrove dari segi ekonomi saja tanpa memperhitungkan nilai produk
dan jasa lingkungan hutan mangrove, sehingga perlu menghitung nilai ekonomi total
potensi hutan mangrove. Nilai ekonomi total dapat diperoleh dengan menjumlahkan
nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, nilai pilihan, dan nilai keberadaan hutan
mangrove yang kemudian dirupiahkan agar dapat dilihat dengan pasti nilai ekonominya.
Berdasarkan hasil penelitian, bentuk pemanfaatan langsung hutan mangrove di
Desa Margasari berupa pemanfaatan rajungan, udang, kepiting, daun jeruju, buah
pidada, kayu bakar, dan ekowisata. Bentuk pemanfaatan tidak langsung dari hutan
mangrove di desa ini adalah jasa lingkungan hutan yaitu sebagai daerah mencari makan
bagi biota laut, penghalang intrusi laut, dan pembentukkan darat baru yang menjorok ke
laut. Potensi yang dimiliki oleh hutan mangrove adalah pengembangan ekowisata,
seperti fasilitas perahu, pengamatan flora dan fauna, serta pemandangan matahari terbit
11
dan terbenam. Ada pula pemanfaatan daun nipah sebagai sumber pendapatan tambahan
bagi masyarakat sekitar.
Hasil penelitian menunjukkan nilai guna langsung hutan mangrove bagi
masyarakat Desa Margasari yaitu pemanfaatan rajungan, udang, kepiting, daun jeruju
sebagai bahan dasar membuat kerupuk, buah pidada sebagai bahan dasar membuat
sirup, daun nipah sebagai atap rumah (woka), kayu bakar, dan ekowisata. Nilai guna
tidak langsung merupakan nilai yang tidak dapat langsung dirasakan manfaatnya. Nilai
guna tidak langsung hutan mangrove dapat berupa penyedia pakan alami biota laut,
sebagai penghalang intrusi air laut yang dapat dinilai dengan biaya yang dikeluarkan
untuk membuat tanggul pantai, dan sebagai perluasan lahan ke arah laut diestimasi
dengan menggunakan harga pasar terkini. Nilai pilihan adalah nilai potensial yang dapat
dimanfaatkan untuk masa mendatang. Nilai pilihan hutan mangrove diperoleh dengan
menggunakan nilai keanekaragaman hayati. Nilai keberadaan hutan mangrove
merupakan nilai kepedulian seseorang akan keberadaan hutan mangrove.
Perhitungan nilai ekonomi total hutan mangrove membuktikan bahwa hutan
mangrove memiliki nilai jasa dan lingkungan yang sangat tinggi sehingga masyarakat
tidak dapat mengabaikan nilai ekologis dan ekonomi hutan mangrove yang selama ini
dianggap tidak memiliki nilai pasar.
Analisis Pustaka
Peneliti tidak menjelaskan alasan memilih lokasi penelitian tersebut. Peneliti
telah menjelaskan metode penelitian yang digunakan dan pemilihan responden yang
diwawancara. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi banyak pihak karena dengan
menghitung nilai ekonomi total hutan mangrove, masyarakat lebih mengetahui manfaat
ekologis dan ekonomi mangrove secara lebih rinci. Mayarakat juga tidak dapat
mengabaikan potensi yang dimiliki hutan mangrove karena setelah dibuat
perhitungannya ke dalam nilai rupiah, hutan mangrove ini sangat potensial dan
memiliki nilai pasar. Walaupun demikian, peneliti kurang menjelaskan perhitungan nilai
keberadaan hutan mangrove sehingga penjelasan mengenai kepedulian seseorang
terhadap sumberdaya hutan mangrove masih sangat kurang.
7. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi)
Alamat URL
Tanggal diunduh
: Valuasi Total Ekonomi Hutan Mangrove di Kawasan
Delta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara
Kalimantan Timur
: 2014
: Jurnal
: Elektronik
: Yuyun Wahyuni, Eka Intan Kumala Putri, dan Sahat
MH Simanjuntak
: : : Program Studi Pascasarjana Ekonomi Sumber Daya
Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor
: Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
: Vol. 3 No.1, April 2014
: http://jurnal.balithutmakassar.org/index.php/wallacea
/article/viewFile/29/32
: 26 Maret 2015, pukul 20.00 WIB
12
Ringkasan Pustaka
Hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara
mengalami penurunan luasan dan mengalami kerusakan. Kerusakan dan penurunan luas
hutan mangrove ini terjadi setiap tahunnya walaupun telah ditetapkan aturan untuk
menjaga kelestarian hutan. Hal ini menyebabkan terganggunya fungsi hutan dan
berdampak pada sumber mata pencaharian yang mengakibatkan penurunan pendapatan
masyarakat sekitarnya. Pemanfaatan hutan mangrove sekarang ini masih belum optimal
dan lestari. Usaha pemanfaatan hutan mangrove seharusnya menghitung manfaat dan
biaya dari kegiatan usaha, termasuk menghitung nilai ekonomi sumberdaya hutan
mangrove.
Usaha pemanfaatan hutan mangrove ini menimbulkan permasalahan,
diantaranya adalah luasan hutan mangrove yang semakin berkurang setiap tahunnya,
terjadi kerusakan mangrove akibat eksploitasi secara berlebihan oleh masyarakat
sekitar, dan terjadi konversi lahan hutan mangrove menjadi lahan tambak dan
pemukiman. Melihat permasalahan yang terjadi, hutan mangrove ini perlu
dipertahankan kelestariannya karena nilai ekonomi hutan mangrove yang sangat tinggi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerusakan dan penurunan luas hutan
mangrove mengakibatkan menurunnya fungsi hutan mangrove di kawasan Delta
Mahakam. Penurunan fungsi tersebut meliputi fungsi hutan mangrove sebagai penahan
abrasi, sehingga masyarakat sekitar harus lebih waspada terhadap ancaman abrasi yang
dapat menghancurkan tempat tinggalnya. Penurunan fungsi lainnya adalah fungsi
mangrove sebagai lapangan pekerjaan semakin menurun dan menyebabkan
berkurangnya jumlah hasil tangkapan para nelayan dan menurunkan jumlah produksi
ikan yang dihasilkan para petambak. Hewan bekantan sebagai hewan endemik yang
menghuni hutan mangrove pun semakin terancam.
Nilai ekonomi total hutan mangrove kawasan Delta Mahakam diperoleh dari
penjumlahan nilai guna dan nilai non guna. Nilai guna terdiri dari nilai guna langsung
yang dihitung dari nilai kayu, buah, ikan, udang, dan kepiting, nilai guna tak langsung
yang dihitung dari nilai penahan abrasi, spawning, nursery dan feeding ground, serta
nilai pilihan yang dihitung adalah nilai sewa rumah, sewa tambak, dan nilai rekreasi.
Nilai non guna diperoleh dari perhitungan nilai keberadaan dan nilai warisan. Dengan
demikian nilai ekonomi total yang telah dihitung tergolong sangat besar dibandingkan
dengan hutan mangrove di Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta. Faktor-faktor
yang memengaruhi manfaat ekonomi hutan mangrove agar tetap lestari adalah nilai
rekreasi, nilai keberadaan hutan mangrove, dan nilai keberadaan bekantan sebagai
hewan endemik penghuni hutan mangrove.
Analisis Pustaka
Temuan dalam penelitian ini mampu memberikan informasi baru mengenai
manfaat ekonomi hutan mangrove agar tetap lestari, salah satunya adalah keberadaan
spesies bekantan sebagai hewan endemik dan hutan mangrove sebagai tempat untuk
berekreasi. Judul penelitian ini sudah relevan dengan temuan yang diperoleh yaitu
valuasi total ekonomi hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam yang diperoleh
dengan melihat nilai guna dan nilai non guna. Pemilihan lokasi penelitian ini tidak
disertai alasannya. Peneliti telah menjelaskan secara rinci metode penelitian yang
digunakan, responden yang dipilih, teknik pemilihan responden, dan teknik analisis
data.
13
8. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi)
Alamat URL
Tanggal diunduh
: Kondisi dan Manfaat Langsung Ekosistem Hutan
Mangrove Desa Penunggul Kecamatan Nguling
Kabupaten Pasuruan
: 2012
: Jurnal
: Elektronik
: Achmad Sofian, Nuddin Harahab, dan Marsoedi
: : : Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang
: El-Hayah
: Vol. 2, No.2, Maret 2012
: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/bio/article/
view/2208
: 16 April 2015, pukul 20.15 WIB
Ringkasan Pustaka
Hutan mangrove merupakan ekosistem khas di wilayah pesisir dan mempunyai
fungsi strategis, baik fungsi ekologi, sosial, maupun ekonomi bagi kehidupan
masyarakat di sekitarnya. Hutan mangrove juga memiliki banyak fungsi, baik fungsi
langsung mupun tidak langsung. Fungsi langsung dari hutan mangrove dapat langsung
dirasakan oleh masyarakat sebagai sumber penghidupan ekonomi, seperti pemanfaatan
kayu, ikan, kepiting, dan sebagainya. Manfaat tidak langsung pun dapat dirasakan
berupa penahan abrasi dan tempat ikan bertelur. Fungsi hutan mangrove ini semakin
lama semakin mengalami penurunan akibat berkurangnya luas hutan mangrove akibat
meningkatnya aktivitas manusia dan konversi hutan mangrove menjadi tambak.
Menurut Fauzi (2005), hal ini menyebabkan kerusakan lingkungan yang disebabkan
oleh dua faktor utama yaitu kebutuhan ekonomi dan kegagalan kebijakan.
Wilayah pesisir Desa Penunggul, Kecamatan Nguling merupakan kawasan
mangrove yang mengalami konversi menjadi areal pertambakan, jarang sekali
ditumbuhi tanaman, bahkan terjadi abrasi setiap tahunnya. Namun, pesisir Kecamatan
Nguling, terutama Desa Penunggul, sekarang telah dipenuhi oleh hutan mangrove yang
rimbun akibat gerakan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Kecamatan
Nguling merupakan wilayah yang mengalami peningkatan luasan hutan mangrove di
Kabupaten Pasuruan dari 3,5 Ha di tahun 1985 meningkat menjadi 84,6 Ha di tahun
2005. Keberhasilan konservasi hutan mangrove di Kecamatan Nguling telah membawa
manfaat pada kembalinya fungsi ekologi maupun ekonomi hutan mangrove.
Hutan mangrove Desa Penunggul terlindung dari ombak karena adanya tanah
timbul yang semakin menjorok ke laut dan hutannya pun rimbun, mendapatkan
masukan air tawar dari sungai Laweyan, serta sedimentasi yang tinggi saat banjir
lumpur dan terjadi pasang surut air laut. Luasan hutan mangrove di Desa Penunggul
setelah penanaman (reboisasi) dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan pihak
swasta, dapat diamati dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar hutan
mangrove. Hasil penelitian di Desa Penunggul, Kecamatan Nguling menunjukkan
adanya pemanfaatan langsung berupa bibit mangrove, kegiatan perikanan yang menjadi
sumber mata pencaharian masyarakat sekitar, dari penangkapan kerang, kepiting, dan
rajungan, serta pemanfaatan untuk pendidikan dan pariwisata. Bibit mangrove dapat
digunakan untuk usaha penyemaian dan penanaman mangrove sehingga bernilai
ekonomi tinggi. Kegiatan perikanan di hutan mangrove yang awalnya dilakukan oleh
masyarakat Desa Penunggul pun mampu menyumbangkan manfaat ekonomis, seperti
penangkapan kepiting, kerang, dan rajungan. Hutan mangrove pun dapat bermanfaat
dalam hal pendidikan dan pariwisata, seperti beberapa perguruan tinggi maupun sekolah
14
yang belajar dan melakukan riset di hutan mangrove. Kegiatan wisata pun dapat
dilakukan di hutan mangrove dengan pembangunan fasilitas dan akses jalan menuju
kawasan hutan mangrove. Walaupun demikian, pengunjung hutan mangrove ini masih
sebatas masyarakat sekitar hutan, terutama remaja.
Analisis Pustaka
Temuan penelitian ini memberikan pengetahuan baru mengenai kondisi hutan
mangrove pasca upaya konservasi atau reboisasi yang didukung oleh berbagai pihak,
seperti masyarakat, pemerintah, dan swasta. Setelah melakukan penanaman mangove di
Desa Penunggul, luasan hutan menjadi semakin bertambah dan memberikan manfaat
ekonomis yang tinggi bagi masyarakat sekitar hutan mangrove. Tujuan penelitian ini
sudah relevan dengan judul penelitian dan temuan penelitian yaitu untuk mengetahui
kondisi hutan mangrove dan manfaat langsung dari hutan mangrove di Desa Penunggul.
Akan tetapi, informasi dalam penelitian ini hanya sebatas di permukaan dan tidak
mendapatkan informasi secara detail dan mendalam, seperti manfaat langsung dari
hutan mangrove yang tidak dijelaskan secara lengkap. Pendekatan penelitian sudah jelas
yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif dan mengumpulkan data melalui
pengamatan langsung, wawancara dengan masyarakat dan pemerintah desa, serta
dengan studi pustaka. Namun, pendekatan ini tidak dijelaskan dalam metode penelitian
dan hanya dicantumkan pada abstrak saja.
9. Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Penerbit
Nama Jurnal
Volume (edisi)
Alamat URL
Tanggal diunduh
: Pemanfaatan Langsung Ekosistem Mangrove di Jawa
Tengah dan Penggunaan Lahan di Sekitarnya;
Kerusakan dan Upaya Restorasinya
: 2006
: Jurnal
: Elektronik
: Ahmad Dwi Setyawan dan Kusumo Winarno
: : : Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan
Biodiversitas, Lembaga Penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Sebelas
Maret (UNS), Surakarta
: Biodiversitas
: Vol. 7, No. 3
: http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0703/D070318.
pdf
: 17 April 2015, pukul 22.10 WIB
Ringkasan Pustaka
Ekosistem mangrove memilik peranan dalam aspek ekologi, sosial-ekonomi,
dan sosial-budaya bagi kehidupan sekitar hutan. Peranan ekologi hutan mangrove yaitu
sebagai tempat sekuestrasi karbon, remediasi bahan pencemar, menjaga stabilitas pantai
dari abrasi, intrusi air laut dan gelombang badai, menjaga kealamian habitat, menjadi
tempat bersarang, pemijahan, dan pembesaran berbagai jenis ikan, udang, kerang,
burung, dan fauna lain, serta sebagai pembentuk daratan. Peranan sosial-ekonomi hutan
mangrove meliputi pemanfaatan untuk kayu bangunan, kayu bakar, kayu lapis, bubur
kertas, tiang telepon, tiang pancang, bagan penangkap ikan, dermaga, bantalan kereta
api, kayu untuk mebel dan kerajinan tangan, atap huma, tannin, bahan obat, gula,
alkohol, asam asetat, protein hewani, madu, karbohidrat, dan bahan pewarna. Peranan
sosial-budaya hutan mangrove yaitu sebagai areal konservasi, pendidikan, ekoturisme,
15
dan identitas budaya. Ketiga peranan hutan mangrove tersebut mengalami ancaman
penurunan fungsi akibat menurunnya kuantitas dan kualitas hutan mangrove akibat
kegiatan manusia, seperti pembukaan lahan tambak, penebangan hutan, dan pencemaran
lingkungan. Reklamasi dan sedimentasi, penambangan, dan faktor alam pun turut
memengaruhi kelestarian hutan mangrove. Maka dari itu, restorasi hutan mangrove
perlu dilakukan karena tingginya nilai ekonomis hutan mangrove.
Ekosistem hutan mangrove di Jawa Tengah memiliki bentuk yang beragam.
Terdapat perbedaan ekosistem mangrove di pantai utara dan pantai selatan Laut Jawa,
sehingga vegetasi dan karakteristik mangrove pun berbeda-beda. Di pantai selatan Jawa,
hutan mangrove tidak terlalu berperan penting karena luas ekosistem mangrove yang
terbatas, berbeda dengan pantai utara Jawa yang memiliki ekosistem mangrove yang
luas. Hasil penelitian hutan mangrove yang dilakukan di pantai utara dan selatan Pulau
Jawa ini memberikan beberapa temuan, antara lain jenis-jenis pemanfaatan langsung
ekosistem mangrove, jenis-jenis penggunaan lahan di sekitar ekosistem mangrove, serta
kerusakan dan upaya restorasi ekosistem mangrove di pantai utara dan pantai selatan
Jawa Tengah. Pemanfaatan langsung dalam ekosistem mangrove di Jawa Tengah yaitu
mencakup perikanan, kayu, bahan pangan sebagai sumber protein hewani, bahan obat
dari kandungan bioaktif tumbuhan mangrove (meliputi anti-helmintik, anti mikrobia,
nati virus, anti jamur, kanker, tumor, diare, pendarahan, analgesik, inflamasi,
disinfektas, serta anti oksidan dan astringen) , bahan pakan ternak, bahan baku industri
(berasal dari hidupan liar setempat maupun bahan galian C), pariwisata dan pendidikan.
Lahan di sekitar ekosistem mangrove pun dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar
atau pihak-pihak lainnya. Penggunaan lahan di sekitar ekosistem mangrove dalam
penelitian ini meliputi pertambakan (udang, ikan, garam), pertanian (sawah, tegalan,
ladang penggembalaan/ pastoral), pemukiman (rural, urban), pelabuhan (besar, kecil
atau dermaga ikan, dan tempat pelelangan ikan), jalan negara dan propinsi, serta
kawasan industri. Lahan di sekitar ekosistem mangrove paling banyak digunakan untuk
pertambakkan, baik di pantai utara maupun selatan. Penggunaan lahan tambak inilah
yang menyumbang kerusakan paling besar pada ekosistem hutan mangrove. Beberapa
aktivitas manusia terhadap kawasan hutan mangrove berpengaruh pada kehidupan
mangrove secara luas, seperti aktivitas konversi mangrove menjadi tambak, penebangan
pohon secara berlebihan, sedimnetasi, dan pencemaran lingkungan. Hal ini disebabkan
kurangnya pengetahuan mengenai nilai dan manfaat yang dapat diperoleh dari hutan
mangrove. Penurunan fungsi hutan mangrove akibat aktivitas manusia ini menimbulkan
kesadaran bagi masyarakat untuk melakukan upaya restorasi terhadap hutan mangrove.
Upaya restorasi mangrove di pantai selatan Jawa lebih terbatas dibandingkan dengan di
pantai utara akibat terbatasnya luas mangrove. Upaya restorasi dilakukan dengan
menghadirkan (penanaman) bibit-bibit mangrove mayor, seperti Rhizopora, Sonneratia,
dan Avicennia yang dilakukan oleh masyarakat setempat, pemerintah, LSM, perhutani,
dan perguruan tinggi. Upaya restorasi ini cukup berhasil di beberapa wilayah, namun
mengalami kegagalan di wilayah lainnya akibat kesalahan pemilihan bibit dan tidak
adanya pemeliharaan yang baik.
Analisis Pustaka
Temuan dalam penelitian ini memberikan informasi baru yang sangat jelas dan
terperinci karena peneliti memaparkan hasil penelitiannya berupa penjabaran manfaat
langsung mangrove bagi kehidupan sekitarnya. Mangrove juga dapat digunakan sebagai
bahan obat, bahan pangan, dan bahan baku industri. Tujuan penelitian ini pun sudah
sesuai dengan hasil temuan dalam penelitian ini yaitu mengetahui jenis-jenis
pemanfaatan langsung di dalam ekosistem hutan mangrove, jenis-jenis penggunaan
lahan di sekitar ekosistem mangrove, serta kerusakan dan upaya restorasi ekosistem
mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah. Temuan penelitian ini pun cukup
16
memberikan penjelasan mengenai kondisi mangrove di pantai utara maupun selatan
Jawa, tetapi kurang terlihat perbandingan di antara keduanya. Penelitian ini tidak
menjelaskan metode dan pendekatan penelitian yang digunakan , apakah kuantitatif atau
kualitatif.
10. Judul
: Strategi Nafkah Berkelanjutan bagi Rumah Tangga
Miskin di Daerah Pesisir
Tahun
: 2011
Jenis Pustaka
: Makara
Bentuk Pustaka
: Elektronik
Nama Penulis
: Slamet Widodo
Nama Editor
: Judul Buku
: Kota dan Penerbit : Nama Jurnal
: Sosial Humaniora
Volume (edisi)
: Vol. 15, No. 1
Alamat URL
: http://journal.ui.ac.id/index.php/humanities/article/
viewFile/890/849
Tanggal diunduh : 30 April 2015, pukul 20.00 WIB
Ringkasan Pustaka
Kemiskinan merupakan permasalahan yang mengancam masyarakat Indonesia,
begitu pula pada masyarakat di kawasan pesisir. Masyarakat pesisir banyak yang
menggantungkan hidupnya pada sumberdaya laut dan pantai serta bergantung pada
musim. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai nelayan kecil, buruh nelayan,
pengolah ikan skala kecil, dan pedagang kecil. Para nelayan kecil hanya mampu
memanfaatkan sumberdaya pesisir dengan hasil tangkapan yang terus menurun akibat
persaingan dengan kapal besar dan penurunan kualitas sumberdaya pantai. Menurut
Febrianto dan Rahardjo (2005), pola hubungan eksploitatif antara pemilik modal dengan
buruh dan nelayan membuat masyarakat miskin di kawasan pesisir semakin sulit untuk
keluar dari kondisi kemiskinan.
Laut merupakan sumberdaya alam yang bersifat open access, artinya
sumberdaya tersebut tidak jelas kepemilikannya dan dapat diakses oleh siapa pun.
Sumberdaya yang terbuka ini menyebabkan adanya persaingan antar nelayan untuk
memperoleh sumberdaya tersebut. Persaingan ini dapat menimbulkan konflik perebutan
daerah penangkapan serta pendapatan rata-rata nelayan kecil semakin menurun akibat
kesenjangan teknologi yang menyebabkan rendahnya penguasaan modal dan teknologi
(Christy 1982). Maka dari itu, konsep mata pencaharian (livelihood) sangat diperlukan
untuk memahami strategi nafkah. Strategi nafkah diperlukan mengingat banyaknya
pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Carner (1984) menjelaskan strategi nafkah
yang dapat dilakukan rumahtangga pedesaan diantaranya: (1) melakukan beraneka
ragam pekerjaan meskipun dengan upah yang rendah, (2) memanfaatkan ikatan
kekerabatan serta pertukaran timbal balik dalam pemberian rasa aman dan
perlindungan, dan (3) melakukan migrasi ke daerah lain.
Hasil penelitian ini memberikan beberapa temuan yang terdapat di masyarakat
nelayan Kwanyar Barat, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan. Nelayan
Kwanyar Barat masih menggunakan cara tradisional untuk menangkap ikan. Hasil
tangkapannya biasanya dijual langsung kepada pedagang lokal maupun dikonsumsi
sendiri. Selain penangkapan ikan, usaha pengawetan ikan asin maupun pemindangan
juga dilakukan oleh nelayan Kwanyar Barat. Faktor yang menyebabkan kemiskinan di
masyarakat Kwanyar Barat adalah rendahnya pendapatan dan cenderung tidak menentu
setiap saat. Hal ini menyebabkan sulitnya mengakses pendidikan dan kesehatan yang
17
layak. Akan tetapi, ikata kekerabatan yang terjalin pada masyarakat Kwanyar Barat
sangatlah erat. Strategi nafkah yang diterapkan oleh rumahtangga nelayan miskin di
Kwanyar Barat dibedakan menjadi dua macam, yaitu strategi ekonomi dan strategi
sosial. Strategi ekonomi yang digunakan adalah dengan menerapkan pola nafkah ganda,
optimalisasi tenaga kerja rumahtangga, dan migrasi. Pola nafkah ganda yang dilakukan
adalah dengan melakukan jasa perbaikan perahu dan jaring serta menarik becak.
Optimalisasi tenaga kerja rumahtangga dilakukan dengan mengerahkan seluruh anggota
keluarga untuk memperoleh pendapatan. Kegiatan yang dilakukan adalah terlibatnya
anggota keluarga yang merupakan laki-laki dewasa dalam penangkapan ikan, anak-anak
membantu memilih ikan hasil tangkapan dan menarik perahu hingga memperbaiki
jaring, sedangkan perempuan membantu menjual ikan hasil tangkapan. Sebagian besar
masyarakat memilih strategi berupa migrasi ke kota-kota besar, biasanya dilakukan oleh
pihak laki-laki. Berbeda dengan strategi ekonomi, strategi sosial yang dilakukan
masyarakat Kwanyar Barat berupa pemanfaatan lembaga kesejahteraan lokal dan
jejaring sosial, seperti kekerabatan, pertetanggaan, dan perkawanan.
Upaya strategi nafkah berkelanjutan dilakukan oleh masyarakat Kwanyar Barat
dengan dua cara, yaitu dengan adanya modal sosial dan peran perempuan. Strategi
nafkah yang dilakukan masyarakat Kwanyar Barat erat kaitannya dengan pemanfaatan
modal sosial. Kunci dalam modal sosial tersebut adalah adanya kepercayaan (trust).
Kekuatan modal sosial dapat dimanfaatkan untuk memperoleh akses terhadap modal
lainnya, seperti modal finansial, modal fisik, modal alam, dan modal manusia. Lembaga
keuangan mikro perlu dibentuk untuk meningkatkan akses terhadap modal finansial.
Lembaga ini akan berjalan dengan baik jika terdapat rasa saling percaya antar warga.
Peran perempuan pun sangat penting dalam upaya strategi nafkah berkelanjutan.
Pemanfaatan ikatan sosial antar penduduk perempuan perlu ditingkatkan sehingga
berpeluang untuk akses terhadap modal finansial.
Analisis Pustaka
Temuan dalam penelitian ini dapat memberikan pengetahuan baru mengenai
strategi nafkah yang dilakukan masyarakat miskin pesisir. Terdapat banyak alternatif
pilihan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, baik dengan melakukan strategi
ekonomi maupun sosial. Judul penelitian ini tidak mencantumkan lokasi penelitian
sehingga membuat pembacanya harus mencari terlebih dahulu pada bagian abstrak
maupun metode penelitian. Metode penelitian sudah dicantumkan secara jelas, yaitu
menggunakan metode kualitatif. Peneliti tidak menggunakan metode kuantitatif
sehingga hasil dan pembahasan penelitian kurang mampu menjelaskan secara rinci
strategi nafkah yang dilakukan dalam suatu variabel yang dapat diukur.
18
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN
Hutan Mangrove
Ekosistem hutan mangrove merupakan suatu ekosistem perpaduan antara
ekosistem lautan dan daratan dan berkembang terutama di daerah tropika dan sub
tropika yaitu pada pantai-pantai yang landai, muara sungai, dan teluk yang terlindung
dri hempasan gelombang air laut (Harahab 2010). Menurut Harahab (2010), hutan
mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, dan merupakan komunitas yang
hidup di dalam kawasan yang lembap dan berlumpur serta dipengaruhi oleh pasang
surut air laut. Mangrove dapat disebut juga sebagai hutan pantai, hutan payau, atau
hutan bakau.
Lebih lanjut Harahab (2010) menjelaskan pengertian hutan mangrove sebagai
hutan pantai adalah pohon-pohonan yang tumbuh di daerah pantai (pesisir), baik daerah
yang dipengaruhi pasang surut air laut maupun wilayah daratan patai yang dipengaruhi
oleh ekosistem pesisir. Berbeda dengan pengertian hutan mangrove sebagai hutan payau
atau hutan bakau yaitu pohon-pohonan yang tumbuh di daerah payau pada tanah aluvial
atau pertemuan air laut dan air tawar di sekitar muara sungai. Pada umumnya formasi
tanaman didominasi oleh jenis-jenis tanaman bakau. Maka istilah bakau hanya
digunakan untuk jenis-jenis tumbuhan dari genus Rhizophora, sedangkan istilah
mangrove digunakan untuk segala tumbuhan yang hidup di sepanjang pantai atau muara
sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut.
Soerianegara (1990) dalam Sara (2014) mendefinisikan hutan mangrove sebagai
hutan yang tumbuh di daerah pantai, biasanya terdapat di daerah teluk dan muara sungai
yang dicirikan oleh: (1) tidak terpengaruh iklim; (2) dipengaruhi pasang surut; (3) tanah
tergenang air laut; (4) tanah rendah pantai; (5) hutan tidak mempunyai struktur tajuk;
(6)jenis-jenis pohonnya biasanya terdiri dari api-api (Avicenia sp.), pedada (Sonneratia
sp.), bakau (Rhizophora sp.), lacang (Bruguiera sp.), nyirih (Xylocarpus sp.), dan Nipah
(Nypa sp.).
FAO (2003) dalam Kustanti (2011) juga menjelaskan mangrove sebagai vegetasi
yang tumbuh di lingkungan estuaria pantai yang dapat ditemui di garis pantai tropika
dan subtropika yang bisa memiliki fungsi-fungsi sosial ekonomi dan lingkungan. Studi
estimasi luasan mangrove global terbaru yang dilakukan oleh FAO (2003) menunjukkan
bahwa Indonesia memiliki luasan mangrove terbesar di dunia (22%), diikuti oleh Brazil,
Nigeria, dan Australia yang masing-masing memiliki proporsi 6% dari luasan mangrove
total global.
Soerianegara (1990) dalam Sara (2014) mendefinisikan hutan mangrove sebagai
hutan yang tumbuh di daerah pantai, biasanya terdapat di daerah teluk dan muara sungai
yang dicirikan oleh: (1) tidak terpengaruh iklim; (2) dipengaruhi pasang surut; (3) tanah
tergenang air laut; (4) tanah rendah pantai; (5) hutan tidak mempunyai struktur tajuk;
(6)jenis-jenis pohonnya biasanya terdiri dari api-api (Avicenia sp.), pedada (Sonneratia
sp.), bakau (Rhizophora sp.), lacang (Bruguiera sp.), nyirih (Xylocarpus sp.), dan Nipah
(Nypa sp.).
Hutan mangrove mempunyai karakteristik yang unik dengan berbagai sistem
perakaran maupun fungsi ekologi yang dikandungnya. Mangrove dapat tumbuh optimal
di wilayah pesisir yang memiliki muara sungai besar dan delta yang aliran airnya
banyak mengandung lumpur, sedangkan di wilayah pesisir yang tidak terdapat muara
sungai, hutan mangrove pertumbuhannya tidak optimal. Mangrove tidak atau sulit
tumbuh di wilayah pesisir yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut
kuat, karena kondisi ini tidak memungkinkan terjadi pengendapan lumpu, substrat yang
diperlukan untuk pertumbuhan mangrove (Dahuri et al. 2001 dalam Harahab 2010).
19
Ekosistem mangrove di Jawa Tengah memiliki bentuk yang beragam. Pantai
utara berbatasan dengan Laut Jawa yang hempasan gelombangnya relatif kecil.
Sebaliknya pantai selatan berbatasan langsung dengan Laut Selatan (Samudera Hindia)
yang kondisi gelombangnya sangat besar. Hal ini menyebabkan penampakan fisiografi
dan fisiognomi vegetasi mangrove di kedua kawasan tersebut berbeda. Di pantai utara,
sedimen dari sungai dan laut terendapkan pada lokasi-lokai tertentu yang terlindung dan
membentuk tidal flat atau mud flat (dataran lumpur pasang surut). Di pantai selatan
sedimen yang terbawa sungai dan laut mengendap di muara sungai membentuk tanggul
dan gumuk pasir (sand dunes) yang menghambat masuknya air sungai ke laut, sehingga
terbentuk laguna. Di pantai utara mangrove tidak hanya tumbuh di muara sungai,
namun juga pada kawasan tidal flat, sedangkan di pantai selatan mangrove hanya
tumbuh pada laguna di muara sungai, termasuk laguna Segara Anakan, Cilacap,
kawasan mangrove terluas di Jawa (Steenis 1958; 1965 dalam Setyawan dan Winarno
2006).
Bengen (2000) menjelaskan karakteristik hutan mangrove secara umum sebagai
berikut:
1. Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur,
berlempung atau berpasir.
2. Daerahnya tergenangi air laut secara berkala, baik setiap hari maupun yang
hanya tergenang pada saat pasang purnama . Frekuensi genangan menentukan
komposisi vegetasi hutan mangrove.
3. Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat.
4. Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Air
bersalinitas payau (2-22 permil) hingga asin (mencapai 38 permil).
Dalam struktur ekosistem mangrove terdis
Fungsi Hutan Mangrove
Sumberdaya yang terdapat di kawasan hutan mangrove, seperti vegetasi dan
fauna, memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi,
sosial, dan ekologi. Hutan mangrove memiliki fungsi, baik langsung maupun tidak
langsung, bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya, terutama dalam hal ekonomi,
sosial, budaya, serta ekologi. Berbagai fungsi hutan mangrove dijelaskan oleh beberapa
sumber, seperti dijelaskan pada Tabel 1 berikut.
20
Tabel 1 Matriks Fungsi Hutan Mangrove
Aspek fungsi
Fungsi ekologis/ biologis













Fungsi ekonomi





Fungsi sosial

Penjelasan fungsi mangrove
Penyedia makanan bagi organisme yang tinggal di sekitar
mangrove, seperti udang, kepiting, ikan, burung, dan mamalia
(Kustanti 2011; Harahab 2010)
Sebagai daerah mencari makan (feeding ground) bago organisme
yang ada di dalamnya (Kustanti 2011; Harahab 2010)
Sebagai tempat berkumpul dan tempat persembunyian (nursery
ground atau daerah asuhan), terutama bagi anak udang, anak
ikan, dan biota laut lainnya (Kustanti 2011; Harahab 2010)
Sebagai tempat bagi proses pemijahan (spawning ground) biota
laut yang ada di dalamnya (Kustanti 2011; Harahab 2010)
Sebagai proteksi dari abrasi/ erosi, gelombang, atau angin
kencang (Harahab 2010)
Pengendalian intrusi air laut (Harahab 2010)
Habitat berbagai jenis fauna, seperti burung bangau dan burungburung lainnya menempati lahan basah, buaya, dan tikus
(Harahab 2010; Sara 2014)
Pembangunan lahan melalui proses sedimentasi (Harahab 2010)
Memelihara kualitas air (mereduksi polutan, pencemar air)
(Harahab 2010)
Penyerap CO2 dan penghasil O2 yang relatif tinggi dibandingkan
tipe hutan lain (Harahab 2010)
Penyambung ekologi darat dan laut, serta gejala alam yang
ditimbulkan oleh perairan, seperti abrasi, gelombang, dan badai
(Departemen Kelautan dan Perikanan 2009 dalam Rusdianti dan
Sunito 2012)
Menjaga garis pantai agar tetap stabil, mengolah bahan limbah,
penghasil detritus, dan mengurangi resiko bahaya tsunami
(Ujung Kulon Conservation Society 2010 dalam Rusdianti dan
Sunito 2012)
Sebagai tempat tinggal hewan endemik bekantan (Wahyuni et al.
2014)
Pembangunan lokasi ekowisata mangrove dan hutan pendidikan
untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat
(Kustanti 2011)
Hasil hutan mangrove
- Hasil kayu (kayu konstruksi, tiang/ pancang, kayu bakar,
arang, serpihan kayu untuk bubur kayu, kerajinan, bahan
baku kertas) (Kustanti 2011; Harahab 2010)
- Hasil non kayu (tannin, madu, alkohol, makanan, obatobatan, bahan makanan hewan ternak, buah untuk dimakan)
(Kustanti 2011; Harahab 2010; Supriharyono 2000 dalam
Saprudin dan Halidah 2012)
Sumber mata pencaharian masyarakat sekitar dari pemanfaatan
bibit mangrove, kerang, rajungan, kepiting, ikan, udang, daun
jeruju, dan buah pidada (Ariftia et al. 2014)
Areal pertambakan ikan/ udang dan tambak garam (Setyawan
dan Winarno 2006)
Areal perkebunan, dan tempat pembuatan garam (Ujung Kulon
Conservation Society 2010 dalam Rusdianti dan Sunito 2012)
Sebagai pemukiman penduduk dan peruntukan kemaslahatan
manusia lainnya (Rusdianti dan Sunito 2012)
21
Konversi Hutan Mangrove
Lestari (2009) mendefinisikan konversi lahan atau biasa disebut alih fungsi
lahan sebagai perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya
semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif
(masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Konversi dan
pemanfaaatan hutan mangrove dengan cara menebang hutan dan mengalihkan
fungsinya ke penggunaan lain akan membawa dampak yang sangat luas. Pengambilan
hasil hutan dan konversi hutan mangrove dapat memberikan hasil kepada pendapatan
masyarakat dan kesempatan meningkatkan kerja. Di pihak lain, terjadi penyusutan
hutan mangrove, dimana pada gilirannya dapat mengganggu ekosistem perairan
kawasan sekitarnya (Mayudin 2012).
Tingkat kerusakan ekosistem mangrove dunia, termasuk Indonesia, sangat cepat
dan dramatis. Ancaman utama kelestarian ekosistem mangrove adalah kegiatan
konversi hutan mangrove yang dilakukan manusia, seperti pembuatan tambak (ikan dan
garam), penebangan hutan, dan pencemaran lingkungan. Di samping itu terdapat pula
ancaman lain seperti reklamasi dan sedimentasi, pertambangan dan sebab-sebab alam
seperti badai (Setyawan dan Winarno 2006).
1. Faktor yang Memengaruhi Konversi Hutan Mangrove
Masalah utama yang memengaruhi keberadaan hutan mangrove adalah kegiatan
manusia yang mengkonversi daerah mangrove untuk pemukiman, usaha komersial,
industri, dan pertanian. Selain itu permintaan kayu bakau (mangrove) untuk industri
juga terus meningkat sehingga merangsang masyarakat untuk terus melakukan
penebangan kayu mangrove (Sara 2014).
Sofian et al. (2012) juga menjelaskan bahwa seiring dengan meningkatnya
aktivitas masyarakat di wilayah pesisir dan kebutuhan yang diinginkan sangat tinggi
menyebabkan hutan mangrove mengalami tekanan yang dapat mengancam keberadaan
dan fungsinya. Kondisi tersebut pada akhirnya merugikan manusia dan alam karena
terkait dengan berkurangnya fungsi-fungsi baik ekologis maupun ekonomi dan fungsi
lainnya. Lebih lanjut Fauzi (2005) dalam Sofian et al. (2012) menjelaskan kerusakan
lingkungan yang terjadi baik pada ekosistem laut maupun ekosistem lainnya memang
banyak dipicu oleh berbagai faktor. Secara umum dua pemicu yang cukup dominan
adalah kebutuhan ekonomi (economic driven) dan kegagalan kebijakan (policy failure
driven).
Setiawan (2010) dalam Rusdianti dan Sunito (2012) menjelaskan pandangannya
mengenai faktor utama yang menjadi permasalahan dan penyebab terjadinya konversi
mangrove antara lain adalah tekanan penduduk untuk kebutuhan ekonomi yang tinggi
sehingga permintaan konversi mangrove juga semakin tinggi. Penduduk disini lebih
mementingkan kebutuhannya sendiri-sendiri dibandingkan kepentingan ekologis dan
kepedulian akan dampak lingkungan hidup. Lebih lanjut Rusdianti dan Sunito (2012)
menjelaskan bahwa tambak dalam skala kecil tidak terlalu banyak memengaruhi
ekosistem mangrove, tapi lain halnya bila dalam skala besar. Kondisi sosial ekonomi
penduduk yang bermukim di daerah pesisir secara umum akan memengaruhi ekosistem
mangrove. Konversi hutan mangrove menjadi areal tambak merupakan salah satu
penyebab kerusakan hutan mangrove.
Nontji (1987) dalam Soraya et al. (2012) juga menjelaskan bahwa sering
ditemukan ekosistem mangrove yang mengalami kerusakan yang memprihatinkan.
Kerusakan ini diakibatkan oleh semakin tingginya tingkat eksploitasi, lemahnya
koordinasi dan sinkronisasi program antar sektor, lemahnya penegakkan hukum, serta
rendahnya kesadaran masyarakat terhadap fungsi ekosistem mangrove. Akibatnya
22
peranan fungsi kawasan mangrove sebagai habitat biota laut dan perlindungan wilayah
pesisir terganggu.
Peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan ekonomi tak menutup
kemungkinan bagi pembukaan lahan mangrove atau konversi hutan mangrove yang
lebih besar untuk tambak. Salah satu pemanfaatan lahan yang mengalami
perkembangan yang begitu pesat adalah usaha tambak budidaya ikan seperti udang.
Majunya usaha tersebut salah satunya didorong oleh harga udang yang tinggi, sehingga
penduduk berlomba-lomba memanfaatkan peluang tersebut. Padahal jumlah pengguna
lahan semakin bertambah. Hal ini menyebabkan terganggunya kelestarian lahan yang
dikonversi (Sofian 2003).
2. Dampak Konversi Hutan Mangrove
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya aktivitas
masyarakat di wilayah pesisir serta peningkatan kebutuhan, kini hutan mangrove
mengalami degradasi akibat perubahan fungsi atau konversi sehingga megancam
keberadaan hutan mangrove tersebut. Hutan mangrove sering dialihfungsikan menjadi
lahan pertanian, pertambakan, perkebunan, pemukiman, pertambangan, dan industri.
Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas dan kuantitas hutan mangrove sehingga
menyebabkan menurunnya fungsi hutan mangrove tersebut, baik dalam aspek ekologi
maupun ekonomi. Adapun dampak konversi hutan mangrove dapat dijelaskan pada
Tabel 2 berikut.
23
Tabel 2 Dampak Konversi Hutan Mangrove
Aspek Dampak
Dampak Ekologis
(fisik dan biologis)






Dampak SosialEkonomi





Penjelasan
Mengancam regenerasi stok-stok ikan dan udang di perairan
lepas pantai yang memerlukan hutan (rawa) mangrove sebagai
nursery ground larva dan/ atau stadium muda ikan dan udang
(Berwick 1983 dalam Dahuri et al. 2001)
Pencemaran laut oleh bahan-bahan pencemar yang sebelum hutan
mangrove dikonversi dapat diikat oleh substrat hutan mangrove
(Berwick 1983 dalam Dahuri et al. 2001)
Pendangkalan perairan pantai karena pengendapan sedimen yang
sebelum hutan mangrove dikonversi mengendap di hutan
mangrove (Berwick 1983 dalam Dahuri et al. 2001)
Intrusi garam melalui sluran-saluran alam yang bertahan
keberadaannya atau melalui saluran-saluran buatan manusia yang
bermuara di laut (Berwick 1983 dalam Dahuri et al. 2001)
Erosi dan abrasi garis pantai yang sebelumnya ada mangrove
(Berwick 1983 dalam Dahuri et al. 2001; (Rusdianti dan Sunito
2012)
Penurunan keragaman, stabilitas, dan produktivitas biologis
(berkaitan dengan aspek amunitas dan ketersediaan sumber
penghasilan dari keberadaan hutan mangrove) (Jakaria 2000
dalam Rusdianti dan Sunito 2012)
Keuntungan dan kerugian dan bentuk nilai uang
- Keuntungan
Konversi mangrove menjadi tambak sebagai
kegiatan
ekonomi baru membuat keadaan perekonomian penduduk
lokal secara keseluruhan lebih baik dari sebelumnya. Konversi
mangrove dapat membantu menaikkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tujuan pemerintah
desa (Rusdianti dan Sunito 2012)
- Kerugian
Biaya produksi yang cenderung lebih tinggi dalam
membudidayakan ikan bandeng (Rusdianti dan Sunito 2012)
Para pencari kerang dan kepiting yang kehilangan pendapatan
karena keadaan mangrove yang rusak dan memengaruhi
keberadaan biota air (Rusdianti dan Sunito 2012)
Nelayan kecil yang mencari ikan dengan perahu sulit
mendapatkan ikan dalam jarak melaut yang dekat atau sekitar
laut bagian dangkal (Rusdianti dan Sunito 2012)
Pemilik tambak dekat dengan bibir pantai mengalami kerugian
karena keadaan tambak yang gersang tanpa mangrove membuat
tanggul-tanggul tambak menjadi mudah longsor dan terkena
abrasi (Rusdianti dan Sunito 2012)
Konversi mangrove memengaruhi kondisi tanah yang cocok
untuk budidaya udang windu, sehingga banyak petani tambak
yang tidak bisa membudidayakan udang windu di tambak mereka
(Rusdianti dan Sunito 2012)
Karakteristik Masyarakat Pesisir
Satria (2009) mendefinisikan masyarakat pesisir sebagai sekumpulan
masyarakat yang hidup bersama dan mendiami wilayah pesisir membentuk dan
memiliki kebudayaan yang khas yang terkait dengan ketergantungannya pada
pemanfaatan sumberdaya pesisir.
24
Secara sosiologis, karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakteristik
masyarakat agraris seiring dengan perbedaan karakteristik sumberdaya yang dihadapi.
Masyarakat pesisir atau nelayan menghadapi sumberdaya yang hingga saat ini masih
bersifat open access. Karakteristik sumberdaya ini menyebabkan nelayan harus
berpindah-pindah untuk memperoleh hasil maksimal. Dengan demikian, elemen
resikonya menjadi sangat tinggi. Meski demikian, tidak sedikit nelayan yang merangkap
sebagai petani. Hal ini karena ditunjang kondisi ekosistem yang memang
memungkinkan seperti tersedianya areal lahan persawahan di sekitar pantai. Ada musim
tertentu bagi nelayan untuk turun ke sawah. Ada pula musim ternetu bagi mereka untuk
kembali melaut. Pekerjaan rangkap seperti itu merupakan bagian dari pola adaptasi
masyarakat pesisir terhadap kondisi ekosistem yang mereka hadapi (Satria 2002).
Satria (2002) menguraikan secara singkat karakteristik masyarakat pesisir
sebagai representasi komunitas desa-pantai dan desa terisolasi, dari beberapa aspek
berikut:
1. Sistem Pengetahuan
Pengetahuan tentang teknik penangkapan ikan umumnya diperoleh secara turun
temurun berdasarkan pengalaman empirik. Kuatnya pengetahuan lokal ini
menjadi salah satu faktor penyebab terjaminnya kelangsungan hidup sebagai
nelayan. Pengetahuan lokal (indigenous knowledge) tersebut merupakan kekayaan
intelektual yang hingga kini terus dipertahankan.
2. Sistem Kepercayaan
Secara teologi, nelayan masih memiliki kepercayaan yang kuat bahwa laut
memiliki kekuatan khusus dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan agar
keselamatan dan hasil tangkapan semakin terjamin. Namun seiring berjalannya
waktu, berbagai tradisi dilangsungkan hanya sebagai salah satu instrumen
stabilitas sosial dalam komunitas nelayan.
3. Peran Wanita
Umumnya selain banyak bergelut dalam urusan domestik rumah tangga, istri
nelayan tetap menjalankan aktivitas ekonomi dalam kegiatan penangkapan di
perairan dangkal, pengolahan ikan, maupun kegiatan jasa dan perdagangan. Istri
nelayan juga dominan dalam mengatur pengeluaran rumah tangga sehari-hari
sehingga sudah sepatutnya peranan istri-istri nelayan tersebut menjadi salah satu
pertimbangan dalam setiap program pemberdayaan.
4. Struktur Sosial
Struktur yang terbentuk dalam hubungan produksi (termasuk pasar) pada usaha
perikanan, perikanan tangkap maupun perikanan budidaya, umumnya dicirikan
dengan kuatnya ikatan patron-klien. Kuatnya ikatan ini merupakan konsekuensi
dari sifat kegiatan penangkapan ikan yang penuh dengan resiko dan
ketidakpastian. Pada perikanan budidaya, patron meminjamkan modal kepada
para nelayan lokal untuk pembudidayaan ikan. Dengan konsekuensi, hasilnya
harus dijual kepada patron dengan harga yang lebih murah. Ciri yang kedua
adalah stratifikasi sosial. Bentuk stratifikasi masyarakat pesisir Indonesia sangat
beragam. Seiring moderninasi akan terjadi diferensiasi sosial yang dilihat dari
semakin bertambahnya jumlah posisi sosial atau jenis pekerjaan sekaligus terjadi
pula perubahan stratifikasi karena sejumlah posisi sosial tersebut tidaklah bersifat
horisontal, melainkan vertikal dan berjenjang berdasarkan ukuran ekonomi,
prestise atau kekuasaan.
5. Posisi Sosial Nelayan
Di kebanyakan masyarakat, nelayan memiliki status yang relatif rendah.
Rendahnya posisi sosial nelayan ini merupakan akibat dari keterasingan nelayan
sehingga masyarakat bukan nelayan tidak mengetahui lebih jauh cara hidup
nelayan. Hal ini terjadi akibat sedikitnya waktu dan kesempatan nelayan untuk
25
berinteraksi dengan masyarakat lain karena alokasi waktu yang besar untuk
kegiatan penangkapan ikan dibanding untuk bersosialisasi dengan masyarakat
bukan nelayan yang memang secara geografis relatif jauh dari pantai. Secara
politis posisi nelayan kecil terus dalam posisi dependen dan marjinal akibat dari
faktor kapital yang dimilikinya sangatlah terbatas.
Strategi Nafkah Rumahtangga
Nafkah merupakan konsep yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan
rumahtangga yang diupayakan dengan melakukan pekerjaan atau mata pencarian.
Konsep mata pencarian (livelihood) sangat penting dalam memahami coping strategis
karena merupakan bagian dari atau bahkan kadang-kadang dianggap samadengan
strategi mata pencarian (livelihood strategies). Suatu mata pencarian meliputi
pendapatan (baik yang bersifat tunai maupun barang), lembaga-lembaga sosial, relasi
gender, hak-hak kepemilikan yang diperlukan guna mendukung dan menjamin
kehidupan (Ellis 2000 dalam Widodo 2011).
Ellis (2000) dalam Purnomo (2006) menggambarkan bahwa strategi nafkah
dapat dilakukan dalam konteks krisis. Strategi nafkah yang dilakukan dalam kondisi
krisis berbeda dengan strategi nafkah yang dilakukan dalam keadaan biasa (normal).
Menurut de Haan dalam Purnomo (2006), jika keberlanjutan nafkah terancam,
rumahtangga akan melakukan strategi coping (coping strategy). Coping strategy
merupakan strategi nafkah yang dilakukan dalam keadaan sulit. Coping strategy
dilakukan dengan mengubah strategi nafkah yang biasa dilakukan dengan strategi
nafkah yang baru. Strategi nafkah yang baru dilakukan dengan menggunakan sumbersumber nafkah rumahtangga. Strategi nafkah yang baru dapat bersifat sementara atau
dilakukan seterusnya.
Menurut Scoones (1998) dalam Iqbal (2004), terdapat empat sumber yang
dibutuhkan dalam ekonomi rumah tangga, agar strategi nafkah bisa dioperasionalkan,
yaitu:
1. Ketersediaan modal alam dalam bentuk sumber-sumber alam
2. Modal ekonomi atau keuangan
3. Ketersediaan sumberdaya manusia dalam bentuk pendidikan, keahlian dan
pengetahuan
4. Ketersediaan modal sosial (dan politik) dalam bentuk hubungan dan
jaringan kerja.
Berbagai macam klasifikasi strategi nafkah disebutkan oleh beberapa sumber,
seperti dijelaskan pada Tabel 3.
26
Tabel 3 Klasifikasi Strategi Nafkah Rumahtangga
Sumber
Carner (1984)
dalam Widodo
(2011)
Widodo (2011)
Dharmawan
(2001)
dalam
Iqbal (2004)
White (1990)
Klasifikasi Strategi
Penjelasan
Nafkah
 Melakukan beraneka  Rumahtangga melakukan lebih dari satu
ragam
pekerjaan
pekerjaan walaupun dengan upah yang
meskipun
dengan
rendah,
sehingga
pendapatan
tidak
upah yang rendah
bergantung pada satu pekerjaan saja
 Memanfaatkan
 Rumahtangga
memanfaatkan
ikatan
ikatan kekerabatan
kekerabatan dan pertukaran timbal balik
dalam
pemberian
rasa
aman
dan
perlindungan
 Migrasi
 Anggota rumahtangga melakukan migrasi ke
daerah lain biasanya migrasi desa-kota
sebagai alternatif terakhir apabila sudah tidak
terdapat lagi pilihan sumber nafkah di
desanya.
 Strategi ekonomi
 Strategi ekonomi yang digunakan berupa
pola nafkah ganda, optimalisasi tenaga kerja
rumah tangga dan migrasi
 Strategi sosial
 Strategi sosial berupa pemanfaatan lembaga
kesejahteraan lokal dan jejaring sosial
 Strategi
nafkah  Strategi dalam kategori tindakan positif
normatif
dengan basis kegiatan sosial-ekonomi,
misalnya kegiatan produksi, migrasi, strategi
substitusi dan sebagainya. Kategori ini juga
disebut peaceful ways, karena sesuai dengan
norma-norma yang berlaku.
 Strategi
nafkah  Strategi dalam kategori negatif, dengan
ilegal
tindakan-tindakan yang melanggar hukum.
Seperi merampok, mencuri, melacur,
korupsi dan sebagainya. Kategori ini disebut
non-peaceful ways, karena cara yang
ditempuh umumnya dengan melakukan
tekanan fisik dan tekanan.
 Strategi akumulasi
 Rumahtangga memperoleh surplus; hasil
pertanian/
produksi/
penangkapannya
mampu diinvestasikan kembali baik pada
sektor pertanian maupun non pertanian,
dengan imbalan penghasilan yang relatif
tinggi pula
 Strategi konsolidasi
 Rumahtangga hanya mampu memenuhi
kebutuhan subsisten; Mereka biasanya
bekerja pada sektor non pertanian dalam
upaya melindungi diri dari ancaman atau
memberikan sumber pendapatan yang
berkelanjutan mengingat usaha pertanian/
perikanan tangkap bersifat musiman
 Strategi
bertahan  Rumahtangga yang penghasilannya tidak
hidup
(survival
dapat
mencukupi
kebutuhan
dasar;
strategy)
Rumahtangga ini akan mengalokasikan
sebagian dari tenaga kerja mereka-tanpa
modal, dengan imbalan yang rendah ke
dalam kegiatan non pertanian/ perikanan
tangkap
27
Dampak Konversi Hutan Mangrove terhadap Strategi Nafkah Rumahtangga
Nelayan
Berbagai alternatif pengelolaan dapat dilakukan terhadap hutan mangrove yang
ada. Masyarakat lokal misalnya, mereka mengkonversi dan memanfaatkan lahan
mangrove sesuai dengan kebutuhan hidup, kemampuan mereka dan pandangan mereka
atau persepsi tentang hutan mangrove. Dengan berbagai bentuk pemanfaatan yang ada,
menyebabkan terjadinya perbedaan dalam perolehan pendapatan dari usaha mengelola
hutan mangrove tersebut. Pola pemanfaatan yang dilakukan dalam usaha mencukupi
kebutuhan hidup sesuai kemampuan yang masyarakat miliki belum tentu benar dengan
apa yang seharusnya dilakukan. Hal tersebut dikarenakan masih terdapat aktor-aktor
yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam memanfaatkan ekosistem mangrove,
seperti mengeksploitasi lahan hutan mangrove dan mengkonversinya menjadi tambak,
pemukiman, lahan pertanian, lahan perkebunan, industri dan/atau lainnya dalam skala
besar tanpa memikirkan keberlanjutan ekosistem pesisir itu serdiri. Berbagai aktivitas
manusia tersebut menyebabkan penurunan luas hutan mangrove dan berakibat juga pada
penurunan fungsi dan manfaat mangrove bagi penduduk dan lingkungan sekitarnya
(Rusdianti dan Sunito 2012).
Rusdianti dan Sunito (2012) juga menjelaskan dampak dari adanya konversi
hutan mangrove sangat dirasakan oleh masyarakat lokal yang menggantungkan
perekonomiannya pada hutan mangrove. Konversi mangrove dalam skala besar telah
banyak mempengaruhi kondisi tanah yang cocok untuk budidaya udang windu. Selain
itu, kerugian pun dialami oleh pemilik tambak dekat dengan bibir pantai, yaitu keadaan
tambak yang gersang tanpa mangrove membuat tanggul-tanggul tambak menjadi mudah
longsor dan terkena abrasi. Kerugian juga tidak hanya dirasakan oleh penduduk yang
memiliki tambak, namun penduduk non petambak pun seperti pencari kerang dan
nelayan kecil merasakan dampak yang diakibatkan konversi lahan dalam skala besar.
Keberadaan biota air payau seperti kerang, kepiting dan lainnya tidak akan mampu
bertahan dan berkembang biak dalam keadaan mangrove yang rusak. Kerugian yang
dirasakan nelayan kecil yang mencari ikan dengan perahu adalah hasil tangkap dan
jarak melaut. Sulitnya mendapatkan ikan dalam jarak melaut yang dekat atau sekitar
laut bagian dangkal membuat mereka harus menempuh jarak melaut yang sedikit lebih
jauh ke arah tengah laut untuk mendapatkan hasil tangkap yang lebih banyak. Hal ini
tentu saja berpengaruh pada penghasilan penduduk yang memiliki tambak maupun tidak
serta nelayan kecil.
Oleh karena itu, penduduk lokal harus mampu beradaptasi dengan kondisi
mangrove yang telah dikonversi dan terbentuknya lahan timbul. Perlu adanya upaya
yang dilakukan oleh penduduk lokal yang menggantungkan hidupnya pada hutan
mangrove. Penduduk lokal perlu melakukan rehabilitasi serta mencari alternatif mata
pencaharian lain untuk memperoleh pendapatan sehingga kelangsungan hidup
rumahtangganya dapat berjalan dengan baik. Setiap rumahtangga melakukan strategi
yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu strategi nafkah. Sebagian
besar masyarakat melakukan strategi nafkah ganda atau dengan melakukan lebih dari
satu pekerjaan. Masyarakat yang semula hanya menjadi nelayan kecil atau petani
tambak, menambah sumber nafkahnya dengan melakukan pekerjaan di bidang pertanian
dan budidaya perikanan. Hal ini disebabkan masyarakat cenderung melihat peluang
adanya tanah timbul.
Hal tersebut kemudian menjadi dasar seseorang untuk mengelola lahan tersebut
dengan kegiatan pertanian agar mendapatkan keuntungan yang optimal dari
kepenguasaannya atas lahan tersebut. Situasi ini kemudian menjadi faktor pendorong
berkembangnya aktivitas perekonomian dimasyarakat. Selain bekerja di sektor
perikanan, saat ini masyarakat juga banyak terlibat pada sektor pertanian. Kegiatan ini
28
pada dasarnya memanfaatkan lahan-lahan timbul yang ditumbuhi oleh semak dan
mangrove untuk ”dibuka” agar menjadi sumber-sumber pendapatan baru masyarakat.
Meski awalnya masyarakat tidak memiliki wawasan dalam bidang ini, namun seiring
dengan waktu mereka mampu belajar khususnya dari para pendatang yang mengadu
nasib untuk dapat memiliki lahan pertanian secara cuma-cuma. Selain kegiatan
pertanian, perubahan lingkungan juga mendorong berkembangnya kegiatan budidaya
perikanan. Banyak masyarakat yang beruji coba untuk membudidayakan udang, ikan
bandeng dan juga kepiting. Namun demikian, hasil dari kegiatan budidaya tampaknya
masih kurang menjanjikan (Ramadhan dan Hafsaridewi 2012).
Diantara masyarakat nelayan yang memiliki sumber pendapatan tambahan,
sebanyak tiga per empatnya merupakan masyarakat yang merangkap sebagai petani dan
memiliki lahan pertanian aktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa kegiatan pertanian yang
berasal dari pemanfaatan lahan timbul, memberikan hasil yang nyata bagi masyarakat
nelayan. Namun sayangnya, tidak semua nelayan memiliki lahan pertanian untuk
digarap. Bagi sebagian masyarakat nelayan, membuka lahan-lahan kosong menyita
waktu dan tenaga yang cukup banyak. Selain itu mereka merasa tidak terbiasa dengan
kegiatan pertanian, sehingga menurunkan minat dalam membuka lahan. Ada pula
mereka yang memiliki lahan, akan tetapi lahannya terendam oleh air sehingga tidak lagi
dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. Sebagian lainnya sudah menjual lahan-lahan
yang telah dibuka kepada para pendatang karena merasa tidak sabar dengan usaha
pertanian yang membutuhkan waktu relatif lama. Penjualan lahan juga dilakukan seiring
dengan desakan kebutuhan keluarga baik pada saat kebutuhan insidental seperti nikahan
atau pada saat musim paceklik (Ramadhan dan Hafsaridewi 2012).
Selain itu, ada pula rumahtangga yang mengoptimalkan tenaga kerja
rumahtangga, yaitu semua anggota keluarga melakukan pekerjaan untuk memperoleh
pendapatan. Sang istri dapat berjualan di pasar atau mengolah ikan dan anak-anaknya
membantu ibunya berjualan. Migrasi juga sering menjadi pilihan yang dipilih oleh
sebagian besar masyarakat, khususnya untuk laki-laki dewasa. Laki-laki yang dianggap
sudah mampu pergi merantau akan mencari pekerjaan di perkotaan, baik menjadi
pegawai, buruh, pedagang, dan sebagainya. Dengan demikian, masyarakat memiliki
banyak alternatif pilihan untuk mempertahankan kondisi ekonomi dan
kesejahteraannya.
29
SIMPULAN
Hasil Rangkuman dan Pembahasan
Berdasarkan pemaparan pada bagian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
konversi hutan mangrove memiliki dampak, baik positif maupun negatif, terhadap
kondisi ekologis, ekonomi, maupun sosial rumahtangga nelayan. Hutan mangrove
didefinisikan sebagai komunitas vegetasi pantai tropis dan merupakn komunitas yang
hidup di dalam kawasan yang lembap dan berlumpur serta dipengaruhi oleh pasang
surut air laut yang bisa memiliki fungsi-fungsi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hutan
mangrove memiliki banyak fungsi dari aspek ekologis/ biologis, ekonomi, dan sosial.
Fungsi ekologis hutan mangrove yaitu sebagai daerah mencari makan (feeding
ground),tempat berkumpul dan tempat persembunyian (nursery ground), serta tempat
bagi proses pemijahan (spawning ground) biota laut di dalamnya. Hutan mangrove juga
mampu menahan abrasi , gelombang, dan intrusi air laut. Fungsi ekonomi hutan
mangrove yaitu sebagai sumber mata pencaharian masyarakat sekitar karena
keanekaragaman hayati di dalamnya yang dapat dimanfaatkan, sedangkan fungsi
sosialnya yaitu sebagai pemukiman penduduk.
Seiring dengan peningkatan kebutuhan dan aktivitas manusia, hutan mangrove
mengalami degradasi akibat konversi lahan. Hutan mangrove dikonversi atau
dialihfungsikan menjadi lahan pertambakan, pemukiman, industri, lahan pertanian,
perkebunan, pembangunan infrastruktur, dan sebagainya. Faktor yang memengaruhi
terjadinya konversi hutan mangrove antara lain karena peningkatan jumlah penduduk,
peningkatan aktivitas dan kebutuhan manusia terutama kebutuhan ekonomi, serta
kegagalan kebijakan.
Konversi hutan mangrove yang dilakukan secara besar-besaran dapat
memberikan dampak bagi kondisi ekonomi maupun ekologis. Dampak ekonomi
konversi hutan mangrove bagi masyarakat sekitar hutan mangrove adalah terjadinya
peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat shingga kondisi perekonomian
masyarakat sekitar menjadi lebih baik. Hal ini disebabkan pemanfaatan lahan mangrove
menjadi lahan pertambakan mempunyai nilai ekonomi yang lebih tingg dan
menguntungkan. Di sisi lain, nelayan atau masyarakat pesisir yang tidak memiliki
tambak cenderung mengalami kerugian dan kehilangan pendapatan karena keadaan
mangrove yang rusak dan semakin berkurang sehingga biota laut seperti kepiting,
udang, dan kerang sebagai hasil perikanan tangkap menjadi berkurang atau bahkan
hilang. Konversi hutan mangrove skala besar juga memberikan pengaruh terhadap biaya
produksi yang leih tinggi dalam membudidayakan ikan. Dampak ekologis konversi
hutan mangrove yaitu mengancam regenerasi biota laut yang hidup di hutan (rawa)
mangrove, pencemaran laut, pendangkalan perairan pantai, intrusi air laut, dan abrasi
yang terus menggerus pantai dan dapat menyebabkan banjir.
Kondisi hutan mangrove yang semakin terdegradasi secara langsung
memengaruhi kondisi ekonomi nelayan. Nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat
open access sehingga nelayan harus berpindah-pindah untuk memperoleh hasil
maksimal. Nelayan juga seringkali melakukan pekerjaan rangkap untuk dapat
memperoleh pendapatan maksimal. Begitu pula dengan nelayan yang memanfaatkan
sumberdaya di kawasan hutan mangrove sebagai sumber nafkah. Strategi nafkah dapat
dilakukan dalam kondisi krisis. Jika keberlanjutan nafkah terancam, rumahtangga akan
melakukan strategi coping (coping strategy) untuk dapat mempertahankan kondisi
ekonomi serta kesejahteraan rumahtangganya. Strategi yang dapat dilakukan oleh
rumahtangga pedesaan, antara lain melakukan beraneka ragam pekerjaan meskipun
dengan upah yang rendah, memanfaatkan ikatan kekerabatan serta pertukaran timbal
balik dalam pemberian rasaaman dan perlindungan, serta melakukan migrasi ke daerah
30
lain. Strategi ekonomi yang digunakan berupa pola nafkah ganda, optimalisasi tenaga
kerja rumah tangga dan migrasi, sedangkan strategi sosial berupa pemanfaatan lembaga
kesejahteraan lokal dan jejaring sosial seperti kekerabatan, pertetanggaan dan
perkawanan.
Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian Skripsi
Berdasarkan analisis, sintesis serta kesimpulan yang telah dibuat, maka dapat
disusun beberapa pertanyaan spesifik yang dapat diangkat untuk topik penelitian
selanjutnya. Rumusan pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana dampak konversi hutan mangrove terhadap kondisi ekonomi dan
ekologis rumahtangga nelayan?
2. Bagaimana pengaruh kondisi ekonomi dan ekologis rumahtangga nelayan
terhadap strategi nafkah yang dilakukan rumahtangga nelayan?
Usulan Kerangka Analisis Baru
Tingkat
konversi hutan
mangrove
Dampak konversi
hutan mangrove
- Dampak ekonomi
- Dampak ekologis
Faktor penyebab
- Kebijakan
- Aktivitas masyarakat
- Karakteristik masyarakat
(pengetahuan, usia,
pekerjaan, tingkat
ekonomi, tingkat
kemiskinan)
Gambar 1 Kerangka Analisis
Keterangan:
= Hubungan memengaruhi
= Memengaruhi secara tidak langsung
= Variabel yang diteliti
Strategi Nafkah
Rumahtangga Nelayan
- Strategi ekonomi
- Strategi sosial
31
DAFTAR PUSTAKA
Ariftia RI, Qurniati R, Herwanti S. 2014. Nilai konomi total hutan mangrove Desa
Margasari Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur. Jurnal
Sylva Lestari [Internet]. [Diunduh pada 26 Maret 2015]; 2 (3). Tersedia pada :
http://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JHT/article/viewFile/427/403
Bengen DG. 2000. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove,
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor [ID]: IPB
Dahuri R, Rais J, Ginting SP, Sitepu MJ. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah
Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta [ID]: Pradnya Paramita
Elhaq IH, Satria A. 2011. Persepsi pesanggem mengenai hutan mangrove dan
partisipasi pesanggem dalam pengelolaan tambak mangrove ramah lingkungan
model empang parit. Sodalityc [Internet]. [Diunduh pada 20 Maret 2015]; 5 (1).
Tersedia pada : http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/viewFile/
5829/4494
Harahab N. 2010. Penilaian Ekonomi Ekosistem Hutan Mangrove dan Aplikasinya
dalam Perencanaan Wilayah Pesisir. Yogyakarta [ID]: Graha Ilmu
Iqbal M. 2004. Strategi Nafkah Rumahtangga Nelayan (Studi Kasus di Dua Desa
Nelayan Tangkap Kabupaten Lamongan, Jawa Timur). [Tesis]. Bogor [ID]: IPB
Kustanti A. 2011. Manajemen Hutan Mangrove. Bogor [ID]: IPB Pr.
Lestari A. 2009. Dampak Sosio-Ekonomis dan Sosio-Ekologis Konversi Lahan
Pertanian. [Skripsi]. [Internet]. Bogor [ID]: IPB. [Diunduh pada 20 September
2014]. Tersedia pada: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/47310
Mayudin A. 2012. Kondisi ekonomi pasca konversi hutan mangrove menjadi lahan
tambak di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal
Eksos [Internet]. [Diunduh pada 27 Februari 2015]; 8 (2). Tersedia pada :
http://repository.polnep.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/86/05eksos%203%20%20arif.pdf?sequence=1
Purnomo AM. 2006. Strategi Nafkah Rumahtangga Desa Sekitar Hutan (Studi Kasus
Desa Peserta PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) di Kabupaten
Kuningan, Provinsi Jawa Barat)). [Skripsi]. [Internet]. Bogor [ID]: IPB.
[Diunduh
pada
2
April
2015].
Tersedia
pada:
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/8466/2006amp.pdf?se
quence=2
Ramadhan A, Hafsaridewi R. 2012. Dampak perubahan lingkungan terhadap
perkembangan aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir di kawasan
Segara Anakan. Jurnal Sosek KP [Internet]. [Diunduh pada 14 Maret 2015]; 7
(1). Tersedia pada : http://bbpse.litbang.kkp.go.id/publikasi/jsosek/jurnal
_2012_v7_no1_%283%29_full.pdf
Rusdianti K, Sunito S. 2012. Konversi lahan hutan mangrove serta upaya penduduk
lokal dalam merehabilitasi ekosistem mangrove. Sodalityc [Internet]. [Diunduh
pada 13 Maret 2015]; 6 (1). Tersedia pada : http://repository.ipb.ac.id/
bitstream/handle/123456789/54415/I12kru.pdf?sequence=3
Samantha G. 2012. Hutan Mangrove Indonesia Terus Berkurang. [Internet]. [Diunduh
pada
10
Maret
2015].
Tersedia
pada:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/hutan-mangrove-indonesiaterus-berkurang
Saprudin, Halidah. 2012. Potensi dan nilai manfaat jasa lingkungan hutan mangrove di
Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
[Internet]. [Diunduh pada 19 Maret 2015]; 9 (3). Tersedia pada : http://fordamof.org/files/02_Saprudin_OK.pdf
Sara L. 2014. Pengelolan Wilayah Pesisir. Bandung [ID]: Alfabeta
32
Satria A. 2002. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Jakarta [ID]: Cidesindo
________. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor [ID]: IPB Pr.
Setyawan AD, Winarno K. 2006. Pemanfaatan langsung ekosistem mangrove di Jawa
Tengah dan penggunaan lahan di sekitarnya; kerusakan dan upaya restorasinya.
Biodiversitas [Internet]. [Diunduh pada 17 April 2015]; 7 (3). Tersedia pada :
http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0703/D070318.pdf
Sofian A. 2003. Valuasi Ekonomi Pemanfaatan Hutan Mangrove di Kawasan Blanakan
Kabupaten Subang, Jawa Barat. [Skripsi]. [Internet]. Bogor [ID]: IPB. [Diunduh
pada 23 April 2014]. Tersedia pada: http://repository.ipb.ac.id/handle/
123456789/20719
Sofian A, Harahab N, Marsoedi. 2012. Kondisi dan manfaat langsung ekosistem hutan
mangrove Desa Penunggul Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan. El-Hayah
[Internet]. [Diunduh pada 16 April 2015]; 7 (1). Tersedia pada :
http://jurnal.balithutmakassar.org/index.php/wallacea/article/viewFile/29/32
Soraya D, Suhara O, Taofiqurohman A. 2012. Perubahan garis pantai akibat kerusakan
hutan mangrove di Kecamatan Blanakan dan Kecamatan Legonkulon, Kabupaten
Subang. Jurnal Perikanan dan Kelautan [Internet]. [Diunduh pada 30 April
2015]; 3 (4). Tersedia pada : http://jurnal.unpad.ac.id/jpk/article/view/2580
Wahyuni Y, Putri EIK, Simanjuntak SMH. 2014. Valuasi total ekonomi hutan
mangrove di kawasan Delta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan
Timur. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea [Internet]. [Diunduh pada 26
Maret 2015]; 3 (1). Tersedia pada : http://jurnal.balithutmakassar.org/
index.php/wallacea/article/viewFile/29/32
White BNF. 1990. Agroindustri, Industrialisasi Pedesaan, dan Transformasi Pedesaan.
Sajogyo, Tambunan M, editor. Jakarta [ID]: PT Sekindo Eka Jaya
Widodo S. 2011. Strategi nafkah berkelanjutan bagi rumah tangga miskin di daerah
pesisir. Sosial Humaniora [Internet]. [Diunduh pada 30 April 2015]; 15 (1).
Tersedia pada : http://journal.ui.ac.id/index.php/humanities/article/viewFile/
890/849
33
RIWAYAT HIDUP
Amalia Setya Pratiwi dilahirkan di Bogor tanggal 04 Juli 1994. Penulis
merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang terlahir dari pasangan Supriyanto dan
Siti Chomsah. Penulis memulai pendidikannya di RA/ TKA Tarbiyyatun Nisaa Bogor
pada tahun 1998-2000. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri Semplak 2
Bogor tahun 2000-2006, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kota Bogor tahun 20062009, dan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kota Bogor tahun 2009-2012. Pada tahun
2012, penulis melanjutkan studinya ke Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Ujian
Tulis Mandiri (UTM) di Fakultas Ekologi Manusia, Departemen Sains Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat (SKPM).
Selama penulis menimba ilmu di Institut Pertanian Bogor, penulis aktif di
berbagai organisasi dan kepanitiaan. Pada tahun 2013-2014, penulis aktif menjadi
pengurus Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu Komunikasi dan Pengembangan
Masyarakat (HIMASIERA) sebagai anggota divisi Advertising and Multimedia. Penulis
juga aktif menjadi anggota divisi Design/ Layouter Majalah Komunitas tahun 2015.
Penulis juga aktif mengikuti kepanitiaan beberapa acara yang diselenggarakan oleh IPB,
diantaranya Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI) tahun 2014, KPM Gabung Antar
Angkatan tahun 2014, Gebyar Nusantara (Genus) tahun 2015, dan Connection tahun
2015. Selain itu penulis juga menjadi asisten praktikum Mata Kuliah Komunikasi
Massa selama satu periode. Penulis memiliki keahlian di bidang desain, komunikasi,
dan pengembangan masyarakat.
34
Download