Uploaded by Melina

Makalah Paradigma Penelitian (terutama kualitatif)

advertisement
MAKALAH
MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF
PARADIGMA PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Di Susun Oleh :
1.
Citra Aanisah Jahroo - 44316120038
2.
Indra Yogista - 44316120028
3.
Melina Triani - 44316120037
4.
Silvia Rahmadhani - 44316120017
BIDANG ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
September 2019
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................................................. i
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang ............................................................................................................ 1
1.2
Rumusan masalah ........................................................................................................ 3
1.3
Tujuan makalah ........................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 5
A. PARADIGMA PENELITIAN KUALITATIF ............................................................... 5
B. PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF .......................................................... 10
BAB III.................................................................................................................................... 13
KESIMPULAN............. ......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 14
i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
A. PARADIGMA
Istilah paradigma tergolong sangat jarang digunakan dalam percakapan yang kita lakukan
sehari – hari. Meskipun begitu, kita tetap harus mengetahui makna / arti kata paradigma yang
sebenarnya, sehingga ketika istilah ini digunakan, kita dapat mengetahui apa makna / artinya.
Istilah paradigma (paradigm) sebagai konsep, pertama diperkenalkan oleh Thomas Kuns
dalam bukunya The Structur of Scientific Revolution. Paradigma merupakan terminology
kunci dalam model perkembangan ilmu pengetahuan yang diperkenalkan oleh khun.
Selanjutnya kembali di populerkan oleh Robert Freidrischs. Dia adalah orang yang pertama
kali merumuskan pengertian paradigma secara lebih jelas.
Paradigma adalah seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis
membentuk suatu kerangka pemikiran. Paradigma adalah suatu cara pandang mendasar atau
cara kita melihat, memikirkan, memaknai,menyikapi serta memilih tindakan atas fenomena
yang ada
Pradigma berkaitan erat dengan prinsip – prinsi dasar yang menentukan berbagai macam
pandangan manusia terhadap dunia sebagai bagian dari sistem bricoluer. Sebuah paradigma
biasanya meliputi tiga elemen utama yaitu elemen metodologi, elemen epistemologi, dan
elemen ontologi. Dengan menggunakan tiga elemen ini, manusia menggunakan paradigma
untuk meraih berbagai macam pengetahuan mengenai dunia dan berbagai macam fenomena
yang terjadi di dalamnya.
Definisi dan Pengertian Paradigma Menurut Para Ahli
Robert Freidrichs
Menurut Robert Freidrichs, paradigma merupakan kumpulan tata nilai yang membentuk pola
pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga terbentuk citra subjektif seseorang
1
terhadap ralita sehingga berujung pada ketentuan bagaimana cara untuk menangani realita
tersebut.
Thomas Kuhn
Menurut Thomas Kuhn, pengertian paradigma adalah landasan berpikir atau pun konsep
dasar yang digunakan / dianut sebagai model atau pun pola yang dimaksud para ilmuan
dalam usahanya, dengan mengandalkan studi – studi keilmuan yang dilakukannya.
C. J. Ritzer
Menurut C. J. Ritzer, paradigma adalah pandangan mendasar para ilmuan mengenai apa yang
menjadi pokok permasalahan yang seharusnya dipelajari oleh satu cabang ilmu pengetahuan
tertentu.
Guba
Menurut Guba, pengertian paradigma adalah sekumpulan keyakinan dasar yang
membimbing tindakan manusia.Secara etimologis, istilah paradigma pada dasarnya berasal
dari bahasa Yunani yaitu dari kata “ “para” yang artinya di sebelah atau pun di samping, dan
kata “diegma” yang artinya teladan, ideal, model, atau pun arketif. Sedangkan secara
terminologis, istilah paradigma diartikan sebagai sebuah pandangan atau pun cara pandang
yang digunakan untuk menilai dunia dan alam sekitarnya, yang merupakan gambaran atau
pun perspektif umum berupa cara – cara untuk menjabarkan berbagai macam permasalahan
dunia nyata yang sangat kompleks.
B. PARADIGMA PENELITIAN
Semua disiplin penelitian dilakukan dalam sebuah paradigma. Paradigma penelitian dipahami
sebagai keyakinan dasar di mana teori akan di bangun, yang secara fundamental
mempengaruhi bagaimana peneliti melihat dunia dan menentukan perspektif dan bentuk
pemahaman tentang bagaimana hal-hal yang saling terkait (Ihwan Susila, 2015).
Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang
cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dari segi
peristilahan para ahli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda
meskipun mengacu pada hal yang sama. Secara konsep, paradigma adalah asumsi-asumsi
dasar yang diyakini ilmuwan dan menentukan cara dia memandang gejala yang ditelaahnya.
2
Ia dapat meliputi kode etik, maupun pandangan dunia, yang mempengaruhi jalan pikiran dan
perilaku ilmuwan dalam berolah ilmu (Sulaiman, 2018). Menurut Ritzer, paradigma
membantu merumuskan tentang apa dan bagaimana persoalan harus dipelajari dan mesti
dijawab (George Ritzer, 2009)
Semua disiplin penelitian dilakukan dalam sebuah paradigma.Paradigma penelitian dipahami
sebagai keyakinan dasar di mana teori akan di bangun, yang secara fundamental
mempengaruhi bagaimana peneliti melihat dunia dan menentukan perspektif dan bentuk
pemahaman tentang bagaimana hal-hal yang saling terkait (Ihwan Susila, 2015). Secara
umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang cukup
dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dari segi
peristilahan para ahli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda
meskipun mengacu pada hal yang sama. Secara konsep, paradigma adalah asumsi-asumsi
dasar yang diyakini ilmuwan dan menentukan cara dia memandang gejala yang ditelaahnya.
Ia dapat meliputi kode etik, maupun pandangan dunia, yang mempengaruhi jalan pikiran dan
perilaku ilmuwan dalam berolah ilmu (Sulaiman, 2018). Menurut Ritzer, paradigma
membantu merumuskan tentang apa dan bagaimana persoalan harus dipelajari dan mesti
dijawab (George Ritzer, 2009)
1.2 Rumusan masalah
A. PARADIGMA PENELITIAN KUALITATIF
1. Apakah yang dimaksud dengan paradigma penelitian kualitatif ?
2. Bagaimanakah konsep paradigma penelitian kualitatif ?
B. PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF
1. Apakah yang dimaksud dengan paradigma penelitian kuantitatif ?
2. Bagaimanakah konsep paradigma penelitian kualitatif ?
1.3 Tujuan makalah
A. PARADIGMA PENELITIAN KUALITATIF
1. Mengetahui pengertian paradigma penelitian kualitatif
2. Mengetahui konsep paradigma penelitian kualitatif
3
B.PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF
1. Mengetahui pengertian paradigma penelitian kualitatif
2. Mengetahui konsep paradigma penelitian kualitatif
C. PERBEDAAN PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Mengetahui perbedaan penedekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. PARADIGMA PENELITIAN KUALITATIF
1). Definisi Paradigma Penelitian Kuantitatif
Obyek dan masalah penelitian mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan mengenai
pendekatan, desain ataupun metode penelitian yang akan diterapkan. Tidak semua obyek dan
masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan
pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti
tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat
digunakan, atau bahkan mungkin menggabungkannya.
Penelitian kualitatif merupakan suatu model penelitian yang bersifat humanistik, dimana
manusia dalam penelitian ini ditempatkan sebagai subyek utama dalam suatu peristiwa sosial.
Dalam hal ini hakikat manusia sebagai subyek memiliki kebebasan berfikir dan menentukan
pilihan atas dasar budaya dan sistem yang diyakini oleh masing-masing individu. Paradigma
kualitatif meyakini bahwa dalam suatu sistem kemasyarakatan terdapat suatu ikatan yang
menimbulkan keteraturan. Keteraturan ini terjadi secara alamiah, oleh karenanya tugas
seorang peneliti sosial adalah mencari dan menemukan keteraturan itu. Menurut Sukmadinata
Penelitian kualitatif bersifat induktif, peneliti membiarkan permasalahanpermasalahan
muncul dari data atau dibiarkan terbuka untuk interpretasi. Data dihimpun dengan
pengamatan yang seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetail disertai
catatancatatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan catatancatatan.
Dengan orientasi yang memiliki tujuan diatas, maka penelitian kualitatif memiliki paradigma
sebagaimana yang diungkapkan Lincoln dan Guba yang dikutip Alwasilah (2008) yakni:
1. Natural setting (latar tempat dan waktu penelitian yang alamiah).
2. Humans as primary data-gathering instrumens (manusia atau peneliti sendiri sebagai
instrumen pengumpul data primer).
3. Use of tacit knowledge (penggunaan pengetahuan yang tidak eksplisit).
5
4. Qualitative methods (metode kualitatif).
5. Purposive sampling (pemilihan sampel secara purposif).
6. Inductive data analysis (analisis data secara induktif atau bottom-up).
7. Grounded theory (teori dari dasar yang dilandaskan pada data secara terus menerus).
8. Emergent design (cetakbiru penelitian yang mencuat dengan sendirinya).
9. Negotiated outcomes (hasil penelitian yang disepakati oleh peneliti dan responden).
10. Case-study reporting modes (cara pelaporan penelitian gaya studi kasus).
11. Idiographic interpretation (tafsir idiografik atau kontekstual).
12. Tentative application of findings (penerapan tentatif dari hasil penelitian).
13. Focus determined boundaries (batas dan cakupan penelitian ditentukan oleh fokus
penelitian). 14. Special criteria for trustwortginess (mengikuti kriteria khusus untuk
menentukan keterpercayaan dan mutu penelitian).
Ada dua pandangan besar dalam kegiatan penelitian yang menyangkut metode yaitu
pandangan positivistik dan non positivistik. Dalam paham positivistik, segala sesuatu atau
gejala itu dapat diukur secara positif atau pasti sehingga dapat dikuantifikasikan. Hal tersebut
tidak hanya berlaku dalam ilmu alam saja, tetapi juga pada ilmu sosial. Dalam ilmu alam,
paham positivistik tersebut tidak banyak menemui kendala karena objeknya adalah materi
atau benda. Tetapi ketika diterapkan pada ilmu sosial, maka bukan saja sulit dilakukan, tetapi
juga banyak ditentang oleh ilmuwan-ilmuwan sosial. Penganut paham positivistik tersebut
berpendapat bahwa segala sesuatu itu tidak boleh melebihi fakta. Dalam paham nonpositivistik, kebenaran tidak hanya berhenti pada fakta, melainkan apa makna di balik fakta
tersebut. Dalam ilmu sosial, di mana kajiannya adalah manusia bukannya benda, maka
pandangannya lebih didominasi oleh pandangan non-positivistik. Dalam konsepsi ini, paham
positivistik diidentifikasikan dengan kegiatan riset kuantitatif, sedangkan paham nonpositivistik diidentifikasikan sebagai kegiatan riset kualitatif. Namun demikian, perbedaan
paham tersebut berdampak positif terutama dijadikan sebagai ajang dialog dalam rangka
untuk mengembangkan keilmuan baik sosial maupun alam, untuk saling melengkapi kedua
paradigma tersebut.
Pada awal perkembangan riset kualitatif, terjadi pertentangan yang sangat tajam dengan riset
kuantitatif, yang sebelumnya secara kuat telah menguasai kegiatan penelitian di segala bidang
ilmu. Pada mulanya riset kualitatif dipandang sebagai kegiatan yang tidak bisa dipercaya dan
dipandang tidak ilmiah. Perdebatan panjang dan saling menyerang telah terjadi dalam waktu
6
yang cukup lama. Dengan menunjukkan kekuatanya masing-masing, pertentangan tersebut
telah berkembang dan mendudukkan posisi penelitian kualitatif menjadi berbeda, yaitu
sebagai pendekatan yang diakui oleh sebagian besar pakar penelitian dan para ilmuan sebagai
suatu alternatif metodologi penelitian yang bisa digunakan.
Pada saat ini kedua paradigma penelitian tersebut telah dinyatakan sama kedudukannya, dan
bahkan bisa saling membantu untuk memperkuat hasil penelitian.
Penelitian kualitatif pada hakikatnya lebih menekankan pada penggunaan diri si peneliti
sebagai instrumen. Lincoln dan Guba mengemukakan bahwa dalam pendekatan kualitatif
peneliti seyogianya memanfaatkan diri sebagai instrumen, karena instrumen nonmanusia sulit
digunakan secara luwes untuk menangkap berbagai realitas dan interaksi yang terjadi.
Peneliti harus mampu mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap
fungsi inderawinya. Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh informan dan
lingkungannya agar mampu mengungkap data yang tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa
tubuh, perilaku maupun ungkapan-ungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan
informan (Mohammad Mulyadi, 2011).
2). Pendekatan Dalam Penelitian Kualitatif
Terdapat beberapa pendekatan berdasarkan penelitian kualitatif, antara lain:
2.1 Pendekatan Fenomenologi
Menurut Bogdan dan Biklen peneliti dengan pendekatan fenomenologis berusaha memahami
makna dari suatu peristiwa dan bagaimana peristiwa tersebut pengaruhya dengan manusia
dalam kondisi dan situasi tertentu.
Karakteristik lain dari pendekatan fenomenologis adalah sebagai berikut:
 Tidak berasumsi mengenai berbagai hal yang dianggap berarti bagi bagi manusia yang
menjadi subjek penelitian.
 Memulai suatu penelitian dengan ketenangan berfikir guna mengungkap apa yang sedang
diteliti.
 Melakukan penelitian secara mendalam sampai pada aspek subyektif perilaku manusia,
sampai ke dalam dunia konseptual subjek sehingga mampu memahami makna bagaimana
7
dan apa yang terkonstruksi di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari dari mereka
yang diteliti.
 Mempercayai adanya banyak cara dalam kehidupan manusia yang dapat digunakan untuk
menafsirkan pengalaman dari setiap individu melalui interaksinya dengan orang lain yang
akan menimbulkan makna atas pengalaman tersebut menjadi sebuah realita.
 Dalam pendekatan ini penelitian kualitatif menggunakan pendekatan yang mana peneliti
menggunakan pandangan dari subjek yang ditelitinya.
2.2 Interaksi Simbolik
Interaksi simbolik merupakan suatu kerangka fenomenologi yang lebih baik dan terjabarkan
atas pokok-pokok pemikiran yang lebih kongkrit. Pokok – pokok pikiran pendekatan
interaksi simbolik adalah sebagai berikut:
 Sesuai dengan dasar dan perspektif fenomenologis, dimana interaksi simbolis berasumsi
bahwa pengalaman manusia dijembatani oleh pemaknaan terhadap suatu peristiwa yang
dialami.
 Manusia bertindak bukan atas dasar reaksi atau respon atas suatu yang ditetapkan
sebelumnya, melainkan merupakan interpretasi dan pendefisian yang hanya dapat diketahui
jika peneliti terlibat dalam proses interprestasi dan pendefinisian tersebut melalui observasi
partisipan.
 Interaksi bukan kegiatan yang terjadi begitu saja dan bukan pula kegiatan yang diataur
sedemikian rupa. Interpretasi menjadi hal yang esensial dimana Interaksi simbolik menjadi
paradigma yang menjelaskan secara konseptual.
 Teori dalam pendekatan ini bukanlah sebuah norma, aturan atau regulasi tertentu. Tetapi
bagaimana teori ini dapat didefinisikan dan dan digunakan dalam situasi dan kondisi yang
bersifat khusus.
 Pendekatan ini juga memandang susunan diri sebagai hal yang penting.
2.3 Etnometodologi
Etnometodologi merupakan pendekatan yang lebih fokus pada bidang kajian yang diteliti
atau subjek matter. Bidang kajian etnometodelogi bukanlah suatu masyarakat yang khusus
pada peristiwa tertentu, melainkan orang-orang yang berada dalam berbagai situasi dan
kondisi yang ada dalam masyarakat.
8
Etnometodologi membahas berbagai hal untuk mengarti bagaimana dan apa yang manusia
kerjakan, bagaimana menusia melihat dan menelaskan suatu peristiwa, bagaimana
mendeskripsikan berbagai urutan dan golongan serta bagaimana tata tertib mengatur manusia
dalam dunia dan lingkungan serta sistem dimana manusia itu hidup.
3. Analisis dan Pengambilan Kesimpulan dalam Paradigma Kualitatif
Terdapat beberapa cara untuk mengambil kesimpulan berdasarkan paradigma penelitian
kualitatif, diantaranya:
3.1 Induksi analitis
Induksi analitis adalah satu pendekatan analisis dan pengolahan data yang mengelompokan
berbagai data tersebut ke dalam suatu konsep dan juga kategori tertentu. Dalam analisis ini
data-data kualitatif dikelompokan berdasarkan atas suatu konsep dan kategori tertentu yang
diperoleh berdasarkan data empiris dilapangan.
Dimana data-data tersebut dijabarkan bukan dalam bentu numerik melainkan dalam bentuk
deskripsi, yakni dengan cara merubah dan mengolah data ke formulasi tertentu berdasar teori
yang digunakan sehingga menjadi sebuah deskripsi atas suatu peristiwa atau realitas sosial
yang terjabarkan secara padat dan mudah dipahami.
3.2 Ekstrapolasi
Ekstrapolasi merupakan cara analisis dan kesimpulan dengan cara melakukan simultan pada
saat proses induksi analitis. Analisis pengambilan kesimpulan pada pendekatan ini dilakukan
secara bertahap. Dalam hal ini mulai dari satu kasus ke kasus lainnya. Sehingga nantinya
akan diperoleh sebuah benang merah yang akan merujuak pada suatu teori tertentu.
Dari proses analisis tersebut akan diperoleh data akhir yang menunjukan suatu gejala atau
peristiwa tertentu yang nantinya menjadi suatu kesimpulan. Data akhir tersebutlah yang
nantinya menjadi sebuah kesimpulan dan dirumuskan serta dikaitkan dengan suatu
pernyataan teoritis.
9
4. Manfaat Mempelajari Paradigma Penelitian Kualitatif
Sebagai pembelajar dalam rumpun ilmu sosial wajib bagi kita untuk mengetaui paradigma
penelitian kualitatif. Dimana paradigma penelitian kualitatif ini merupakan salah satu yang
wajib dalam kita ketahui dalam rangka memperdalam keilmuan ilmu sosial. Hal ini
disebabkan bahwasanya keilmuan sosial yang menjadikan manusia sebagai subjek utamanya
memiliki suatu perkemangan yang dinamis sehingga arus diungkap melalui sebuah metode
yang mampu menjawab berbagai persoalan yang terikat dengan kehidupan manusia tersebut.
Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengetahui secara mendalam bagaimana sebuah
peristiwa terjadi dan berbagai hal yang terkait dari peristiwa sosial tersebut melalui sebuah
metode yang menjadikan observasi dan pendapat subjek sebagai sumber utama sehingga
mampu mengungkap sampai pada apa yang menjadi akar permasalahnya. Dimana dalam hal
ini angka dalam pendekatan kuantitatif tidak mampu menjawab suatu peristiwa sosial dampai
pada akar permasalahannya.
B. PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF
1). Definisi Paradigma Penelitian Kuantitatif
Secara singkat, penelitian kuantitatif didefinisikan sebagai bentuk usaha pencatatan data hasil
penelitian dalam bentuk jumlah tertentu. Hasil penelitian kuantitatif juga bisa dinyatakan
dalam bentuk statistik atau pun angka angka. Secara luas, penelitian kuantitatif diartikan
sebagai teknik penelitian ilmiah yang menggunakan metode statistik, yakni dengan
mengumpulkkan, menyusun, meringkas dan mempresentasikan data hasil penelitian dalam
bentuk angka atau statistik. Dari hasil penelitian ini, peneliti membuat kesimpulan dan
keputusan yang logis.
Penelitian kualitatif lebih mengutamakan pada proses dan persepsi atau makna sementara
penelitian kuantitatif berfokus pada hasil penelitian yang berbentuk angka atau statistika.
Penelitian kuantitatif memiliki prosedur dan kerangka acuan yang baku dan pasti sementara
penelitian kualitatif lebih bersifat fleksibel mengikuti proses dari penelitian itu sendiri.
10
Paradigma penelitian kuantitatif sendiri memilki pendekatan khas yang patut untuk
diperhatikan. Dengan memahami sifat dari penelitian kuantitatif, peneliti akan lebih mudah
mengambil arah yang benar dalam menentukan topik penelitian, menyusun data, membuat
analisis dan laporan penelitian. Berikut beberapa pendekatan penting dari penelitian
kuantitatif.
Memakai pola pemikiran deduktif, yakni rasional empiris atau top down approach. Pola ini
artinya penelitian kuantitatif akan mencoba memahami fenomena atau kejadian dengan
konsep atau teori yang umum terlebih dahulu untuk kemudian menjelaskan kejadian yang
bersifat lebih khusus.
Dalam penelitian kuantitatif, digunakan logika jenis positivistik. Dalam logika ini, artinya
penelitian kuantitatif menghindari segala yang bersifat subjektif.
Dalam penelitian kuantitatif pula telah ditentukan diawal tentang prosedur penelitian. Peneliti
harus mengikuti prosedur sesuai dengan rencana awal penelitian.
Penelitian kuantitatif memiliki tujuan untuk menyusun ilmu nomotetik. Ilmu ini memilki arti
ilmu yang berusaha membuat hukum dari generalisasi hukum itu sendiri.
Tidak hanya prosedur, hampir segala hal dalam penelitian kuantitatif harus sesuai dengan
rencana awal penelitian. Hal hal tersebut antara lain subjek penelitian, data yang diambil,
sumber data yang akan dikumpulkan dan alat yang dipakai untuk mengambil data. Peneliti
harus konsisten dan disiplin terhadap hal hal tersebut.
Pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif dilakukan dengan melakukan pengukuran.
Pengukuran ini sendiri harus menggunakan alat yang baku dan objektif, seperti yang telah
disebutkan diatas.
Seorang peneliti dalam penelitian kuantitatif harus menempatkan dirinya terpisah dari objek
penelitian. Ini artinya, peneliti tidak boleh terlibat secara emosional dengan subjek
penelitannya. Analisis data dalam penelitian kuantitatif harus dilakukan setelah seluruh data
dapat dikumpulkan. Hasil penelitian kuantitatif adalah prediksi dan generalisasi terlepas dari
konteks situasi dan waktu dilakukannya penelitian.
11
B.Penerapan Paradigma Penelitian Kuantitatif
Salah satu metode yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah metode deduktif.
Metode ini sering digunakan dalam penelitian kuantitatif analitik. Menurut metode ini, teori
ilmiah yang telah diketahui dan diterima kebenarannya oleh masyarakat luas boleh dijadikan
suatu acuan untuk mencari kebenaran dalam penelitian selanjutnya.
Dalam penerapan paradigma penelitian kuantitatif, peneliti harus mengerti benar metode
penelitian yang digunakan dan cara mengaplikasikannya. Suriasumantri dalam bukunya Ilmu
dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik menjelaskan secara umum tentang kerangka
berpikir ilmiah yang bisa menjadi sarana penerapan paradigma penelitian kuantitatif. Berikut
adalah langkah langkah penelitian kuantitatif dalam penerapannya:
 Melakukan perumusan masalah. Dalam hal ini peneliti harus membuat pertanyaan tentang
objek empiris dengan batas batas yang jelas. Peneliti juga wajib mampu mengidentifikasi
faktor faktor yang mempengaruhi objek penelitian.
 Membuat kerangka berpikir. Dalam menyusun hipotesis, peneliti harus mampu menjelaskan
hubungan antara beberapa faktor yang membentuk permasalahan penelitian. Kerangka
berpikir harus disusun dengan rasional yang didasarkan oleh premis ilmiah yang telah
diketahui kebenarannya. Tidak lupa faktor faktor bersifat empiris yang berhubungan
dengan permasalahan wajib dijadikan pertimbangan.
 Membuat rumusan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara atau dapat dikatakan
dugaan terhadap pertanyaan yang diberikan di awal penelitian. Isi dari hipotesis ini adalah
kesimpulan dari kerangka berpikir peneliti yang telah dikembangkan sebelumnya.
 Melakukan pengujian hipotesis. Uji hipotesis ini berupa pengumpulan data data berupa
fakta yang berhubungan dengan hipotesis. Pengujian ini dilakukan untuk menunjukan
apakah ada fakta yang mendukung hipotesis peneliti atau malah berbanding terbalik dengan
hipotesis.
 Menarik kesimpulan. Pada bagian ini, peneliti akan menilai apakah hipotesis yang diajukan
sebelumnya dapat ditolak atau diterima.
Contoh prosedur penelitian kuantitatif diatas hanya merupakan sedikit penerapan dari
paradigma penelitian kuantitatif. Terdapat banyak hal lain yang bisa dijadikan contoh dari
paradigma penelitian kuantitatif. Yang harus diperhatikan, penelitian kuantitatif memiliki
sifat dan prosedur yang tentunya berbeda dengan penelitian kualitatif atau penelitian lainnya.
12
BAB III
KESIMPULAN
Masing-masing paradigma metode penelitian kualitatif maupun metode penelitian kuantitatif
mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga untuk menentukan pendekatan atau
paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal
diantaranya:

Jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek
detail yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya
dipakai adalah paradigma kualitatif. Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat
kesimpulan umum dan hasil penelitian didasarkan pada pengujian secara empiris, maka
sebaiknya digunakan paradigma kuantitatif.

Jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek
penelitian yang banyak, maka paradigma kuantitaif yang lebih tepat. Dan jika penelitian
ingin menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek
penelitian saja, maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan.
13
DAFTAR PUSTAKA
Sogiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta, Bandung, 2015.
Yusuf, MA. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan. Jakarta:
Prenadamedia Group.
Bakhri, dkk. 2014. Pendekatan Kualitatif Paradigma Epistomologi Teori dan Aplikasi
(Makalah). Sorong: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri.
14
Download