Uploaded by User25680

Ilmu Kesehatan Kejiwaan CSS Sindroma Ekstrapiramidal

advertisement
REFERAT
SINDROMA EKSTRAPIRAMIDAL
Oleh :
Lathifah Muthiah (130112160569)
Pan Chen En (130112163543)
Preceptor :
Lynna Lidyana, dr., Sp.KJ
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2017
PENDAHULUAN
Sistem piramidal merupakan jalur descending yang terdiri dari serabut yang berasal
dari korteks motorik pada otak yang kemudian disalurkan ke batang otak dan turun ke spinal
cord.
Mekanisme kerja sistem piramidal diawali pada korteks motorik, impuls gerakan yang
diinginkan di teruskan menuju bagian posterior kapsula interna, kapsula interna meneruskan
impuls kepada medula oblongata, setelah mencapai medulla oblongata impuls diteruskan
menuju medula spinalis substansi kelabu, yaitu bagian integral dari neuron motorik, respon
kembali diteruskan menuju ujung-ujung akson yaitu efektor hingga akhirnya menjadi suatu
gerakan yang sadar. Traktus piramidal dibagi menjadi dua yaitu traktus pyramidal
(kortikospinal) lateral dan traktus pyramidal (kortikospinal) ventral/anterior. Fungsi sistem
piramidal adalah memulai timbulnya suatu gerakan volunteer atau suatu gerak sadar yang
bersifat halus dan juga berfungsi untuk kontraksi otot distal, khususnya pada tangan dan jari.
Sedangkan sistem ekstrapiramidal merupakan jaringan syaraf yang terdapat pada otak
bagian sistem motorik yang mempengaruhi koordinasi dari gerakan. Sistem ekstrapiramidal
meupakan jalur antara corteks serebal, basal ganglia, batang otak, spinal cord yang keluar
dari traktus piramidal. Letak dari ekstrapimidal adalah terutama di formatio retikularis dari
pons dan medulla, dan di target saraf di medulla spinalis yang mengatur refleks, gerakangerakan yang kompleks, dan kontrol postur tubuh. Traktus ekstrapirimidal dibagi menjadi
traktus retikulospinal, traktus vestibulospinal lateral, traktus vestibulospinal medial, traktus
rubrospinal. Fungsi sistem ekstrapiramidal antara lain adalah mempertahankan tonus otot,
gerakan kasar dan perencanaan suatu gerakan.
Sistem piramidal berperan dalam gerakan volunter, yaitu gerakan sadar yang harus
dilakukan, sedangkan sistem ekstrapiramidal menentukan landasan untuk dapat terlaksananya
suatu gerakan volunter yang terampil dan mahir. Kerjasama yang terpadu antara sistem
piramidal dan sistem ekstrapiramidal diperlukan dalam fungsi motorik yang sempurna pada
otot rangka, keduanya mempunyai andil besar dalam gerakan yang terjadi pada tubuh,
meskipun demikian keduanya memiliki fungsi yang berbeda dalam menghasilkan gerakan.
Sindrom ekstrapiramidal (EPS) mengacu pada suatu gejala atau reaksi yang
ditimbulkan oleh penggunaan jangka pendek atau panjang dari medikasi antipsikotik
golongan tipikal. Obat antipsikotik tipikal yang paling sering memberikan efek samping
gejala ekstrapiramidal yakni Haloperidol, Trifluoperazine, Pherpenazine, Fluphenazine, dan
dapat pula oleh Chlorpromazine. Gejala bermanifestasikan sebagai gerakan otot skelet,
spasme atau rigiditas, tetapi gejala-gejala tersebut di luar kendali traktus kortikospinal
(piramidal).
Terapi antipsikotik dapat memberikan efek samping pengobatan, utamanya penggunaan
dalam jangka waktu yang panjang. Antipsikotik golongan tipikal yang memiliki potensial
tinggi dan pemberian dalam dosis tinggi paling sering memberikan efek samping yang biasa
disebut dengan sindrom ekstrapiramidal pada pasien karena memiliki afinitas yang kuat pada
reseptor muskarinik. Pendekatan farmakologi pada manifestasi psikosis ini terpusat pada
neurotransmitter yang mengontrol respon neuron-neuron terhadap rangsangan.
DEFINISI
Sindrom ekstrapiramidal adalah suatu gejala atau reaksi yang ditimbulkan oleh
penggunaan jangka pendek atau jangka panjang dari medikasi antipsikotik golongan tipikal
karena terjadinya inhibisi transmisi dopaminergik di ganglia basalis. Adanya gangguan
transmisi di korpus striatum yang mengandung banyak reseptor D1 dan D2 dopamin
menyebabkan
depresi
fungsi
motorik
sehingga
bermanifestasi
sebagai
sindrom
ekstrapiramidal. Gejala bermanifestasikan sebagai gerakan otot skelet, spasme atau rigitas,
tetapi gejala-gejala itu diluar kendali traktus kortikospinal (piramidal).
Gejala ekstrapiramidal sering dibagi dalam beberapa kategori yaitu reaksi distonia,
tardive dyskinesia, akatisia, dan Sindrom Parkinson. Namun ada beberapa sumber
menyebutkan bahwa Sindrom Neuroleptik Maligna juga masuk ke dalam gangguan
ekstrapiramidal.
EPIDEMIOLOGI
Sindrom ekstrapiramidal yang terdiri dari reaksi distonia akut, akhatisia, dan sindrom
parkinson umumnya terjadi akibat penggunaan obat-obat antipsikotik. Lebih banyak
diakibatkan oleh antipsikotik tipikal terutama yang mempunyai potensi tinggi. Reaksi
distonia akut terjadi pada kira-kira 10% pasien, biasanya pada pria muda, terutama yang
mendapat pengobatan dengan neuroleptik haloperidol dan flufenarizin. Tardive dyskinesia
terjadi pada sekitar 20-30% pasien yang telah menggunakan antipsikotik tipikal dalam kurun
waktu 6 bulan atau lebih. Tetapi sebagian besar kasus sangat ringan. Hanya 5% pasien yang
memperlihatkan gejala nyata. Akatisia merupakan gejala EPS yang paling sering terjadi.
Kemungkinan besar terjadi pada pasien dengan medikasi neuroleptik. Umumnya pada pasien
muda. Sindrom parkinson lebih sering pada dewasa muda, dengan perbandingan
perempuan:laki-laki = 2:1. Sindrom Neuroleptic Maligna sangat jarang dijumpai.
ETIOLOGI
Sindrom ekstrapiramidal terjadi akibat pemberian obat antipsikotik baik dalam jangka
waktu singkat atau lama yang menyebabkan adanya gangguan keseimbangan antara transmisi
asetilkolin dan dopamine pusat. Obat antispikotik dengan efek samping gejala
ekstrapiramidalnya sebagai berikut :
Antipsikosis
Dosis (mg/hr)
Gejala Ekstrapiramidal
Chlorpromazine
150-1600
++
Thioridazine
100-900
+
Perphenazine
8-48
+++
Trifluoperazine
+++
Fluphenazine
5-60
+++
Haloperidol
2-100
++++
Pimozide
2-6
++
Clozapine
25-100
-
Zotepine
75-100
+
Sulpride
200-1600
+
Risperidon
2-9
+
Quetapine
50-400
+
Olanzapine
10-20
+
Aripiprazole
10-20
+
Beberapa hal lain yang mempengaruhi kerja ekstrapiramidal:
a. Ketidakseimbangan degeneratif
b. Ketidakseimbangan metabolik
c. Ketidakseimbangan sistem endokrin dan eksokrin
d. Inflamasi
e. Racun
f. Tumor atau SOL
g. Anoxia
PATOFISIOLOGI
Susunan ekstrapiramidal terdiri atas korpus striatum, globus palidus, inti-inti talamik,
nukleus subtalamikus, subtansia nigra, formatio retikularis batang otak, serebelum berikut
dengan korteks motorik tambahan, yaitu area 4, area 6 dan area 8. Komponen-komponen
tersebut dihubungkan satu dengan yang lain oleh akson masing-masing komponen itu.
Dengan demikian terdapat lintasan yang melingkar yang dikenal sebagai sirkuit. Oleh karena
korpus striatum merupakan penerima tunggal dari serabut-serabut segenap neokorteks, maka
lintasan sirkuit tersebut dinamakan sirkuit striatal yang terdiri dari sirkuit striatal utama
(principal) dan 3 sirkuit striatal penunjang (aksesori).
Gambar 1. Jaras Aferen dan Eferen
Sirkuit striatal prinsipal tersusun dari tiga mata rantai, yaitu (a) hubungan segenap
neokorteks dengan korpus striatum serta globus palidus, (b) hubungan korpus striatum/globus
palidus dengan thalamus dan (c) hubungan thalamus dengan korteks area 4 dan 6. Data yang
tiba diseluruh neokorteks seolah-olah diserahkan kepada korpus striatum / globus plaidus /
thalamus untuk diproses dan hasil pengolahan itu merupakan bahan feedback bagi korteks
motorik dan korteks motorik tambahan.
Oleh karena komponen-komponen susunan ekstrapiramidal lainnya menyusun sirkuit
yang pada hakekatnya mengumpani sirkuit striata utama, maka sirkuit-sirkuit itu disebut
sirkuit striatal asesorik. Sirkuit striatal asesorik ke-1 merupakan sirkuit yang menghubungkan
stratum-globus palidus-talamus-striatum. Sirkuit-striatal asesorik ke-2 adalah lintasan yang
melingkari globus palidus-korpus subtalamikum-globus palidus. Dan akhirnya sirkuit
asesorik ke-3, yang dibentuk oleh hubungan yang melingkari striatum-subtansia nigrastriatum.
Umumnya
semua
neuroleptik
ekstrapiramidal. Beberapa neuroleptik
menyebabkan
beberapa
derajat
disfungsi
menginhibisi transmisi dopaminergik di ganglia
basalis. Penggunaan beberapa neuroleptik tersebut menyebabkan gangguan transmisi di
korpus striatum yang mengandung banyak reseptor D1 dan D2 dopamin sehingga
menyebabkan depresi fungsi motorik yang bermanifestasi sebagai sindrom ekstrapiramidal.
Beberapa neuroleptik tipikal (seperti haloperidol, fluphenazine) merupakan inhibitor dopamin
ganglia basalis yang lebih poten, dan sebagai akibatnya menyebabkan efek samping gejala
ekstrapiramidal yang lebih menonjol.
MANIFESTASI KLINIS
Akibat gangguan sistem ekstrapiramidal pada pergerakan dapat dianggap terdiri dari
defisit fungsional primer (gejala negatif) yang ditimbulkan oleh tidak berfungsinya sistem
dan efek sekunder (gejala positif) yang timbul akibat hilangnya pengaruh sistem itu terhadap
bagian lain. Pada gangguan dalam fungsi traktus ekstrapiramidal gejala positif dan negatif itu
menimbulkan dua jenis sindrom, yaitu :
-
Sindrom hiperkinetik – hipotonik : asetilkolin ↓ , dopamin ↑

Tonus otot menurun

Gerak involunter / ireguler
Pada : chorea, atetosis, distonia, ballismus
-
Sindrom hipokinetik – hipertonik : asetilkolin ↑ , dopamin ↓

Tonus otot meningkat

Gerak spontan / asosiatif ↓

Gerak involunter spontan
Pada : Parkinson
Gejala negatif
Gejala negatif terjadi akibat kekurangn jumlah dopamin karena produksinya yang
berkurang. Gejala negatif, terdiri dari:
Bradikinesia
Gerakan volunter yang bertambah lambat atau menghilang sama sekali. Gejala
ini merupakan gejala utama yang didapatkan pada penyakit parkinson sehingga
menimbulkan berkurangnya ekspresi wajah, berkurangnya kedipan mata dan
mengurangi perubahan postur pada saat duduk.
Gangguan postural
Merupakan hilangnya refleks postural normal. Paling sering ditemukan pada
penyakit parkinson. Terjadi fleksi pada tungkai dan badan karena penderita tidak
dapat mempertahankan keseimbangan secara cepat. Penderita akan terjatuh bila
berputar dan didorong.
Gejala Positif
Gejala positif timbul oleh karena terjadi perubahan pelepasan ataupun disinhibisi dari
dopamin, tetapi tidak ditemukan kerusakan struktur, yang terdiri dari:
-
-
Gerakan involunter

Tremor

Athetosis

Chorea

Distonia

Hemiballismus
Rigiditas
Kekakuan yang dirasakan oleh pemeriksa ketika menggerakkan ekstremitas
secara pasif. Tahanan ini timbul di sepanjang gerakan pasif tersebut, dan mengenai
gerakan fleksi maupun ekstensi sering disebut sebagai plastic atau lead pipe rigidity.
Bila disertai dengan tremor maka disebut dengan tanda Cogwheel.
Pada penyakit parkinson terdapat gejala positif dan gejala negatif seperti
tremor dan bradikinesia. Sedangkan pada Chorea huntington lebih didominasi oleh
gejala positif, yaitu : Chorea.
Gejala Ekstrapiramidal
Gejala ekstrapiramidal sering di bagi ke dalam beberapa kategori yaitu :
Reaksi Distonia Akut
Merupakan spasme atau kontraksi involunter satu atau lebih otot skelet yang
timbul beberapa menit dan dapat pula berlangsung lama, biasanya menyebabkan
gerakan atau postur yang abnormal. Kelompok otot yang paling sering terlibat adalah
otot wajah, otot rahang (trismus, gaping, grimacing), leher (torticolis dan retrocolis),
lidah (protrusion, memuntir), seluruh otot tubuh (opistotonus) atau otot ekstraokuler
(krisis okulogirik).
Distonia juga dapat terjadi pada glosofaringeal yang menyebabkan disartria,
disfagia, kesulitan bernafas hingga sianosis bahkan kematian. Distonia juga dapat ter
jadi pada
otot diafragmatik yang membantu pernapasan sehingga sulit
bernafas hingga sianosis bahkan kematian..Reaksi distonia akut sering terjadi dalam
satu atau dua hari setelah pengobatan dimulai, tetapi dapat terjadi kapan saja.
Reaksi distonia akut sering sekali terjadi dalam satu atau dua hari setelah
pengobatan dimulai, tetapi dapat terjadi kapan saja. Keadaan ini terjadi pada kira-kira
10% pasien, lebih lazim pada pria muda, dan lebih sering dengan neuroleptik dosis
tinggi yang berpotensi lebih tinggi, seperti haloperidol dan flufenazine. Reaksi
distonia akut dapat merupakan penyebab utama dari ketidakpatuhan dengan
neuroleptik karena pandangan pasien mengenai medikasi secara permanent dapat
memudar oleh suatu reaksi distonik yang menyusahkan.
Kriteria diagnostik dan riset untuk distonia akut akibat neuroleptik menurut
DSM-IV adalah sebagai berikut:
Posisi abnormal atau spasme otot kepala, leher, anggota gerak, atau batang
tubuh yang berkembang dalam beberapa hari setelah memulai atau menaikkan dosis
medikasi neuroleptik (atau setelah menurunkan medikasi yang digunakan untuk
mengobati gejala ekstrapiramidal).
Tardive Dyskinesia (kronik)
Disebabkan oleh defisiensi kolinergik yang relatif akibat supersensitif reseptor
dopamin di puntamen kaudatus. Merupakan manifestasi gerakan otot abnormal, involunter,
menghentak, balistik, atau seperti tik mempengaruhi gaya berjalan, berbicara, bernafas, dan
makan pasien dan kadang mengganggu. Gejala hilang dengan tidur, dapat hilang timbul
dengan berjalannya waktu dan umumnya memburuk dengan penarikan neuroleptik.
Prevalensi bervariasi tetapi tardive diskinesia diperkirakan terjadi 20-40% pasien
yang berobat lama. Tetapi sebagian kasus sangat ringan dan hanya sekitar 5% pasien
memperlihatkan gerakan berat nyata. Namun, kasus-kasus berat sangat melemahkan sekali,
yaitu mempengaruhi berjalan, berbicara, bernapas, dan makan.
Faktor predisposisi dapat meliputi umur lanjut, jenis kelamin wanita, dan pengobatan
berdosis tinggi atau jangka panjang. Pasien dengan gangguan afektif atau organik juga lebih
berkemungkinan
untuk
mengalami
diskinesia
tardive.
Diagnosis
banding
jika
dipertimbangkan diskinesia tardive meliputi penyakit Hutington, Khorea Sindenham,
diskinesia spontan, tik dan diskinesia yang ditimbulkan obat seperti Levodova, stimulant, dan
lain-lain.
Akatisia
Manifestasi berupa keadaan subjektif kegelisahan (restlessness) yang panjang,, gugup
atau suatu keinginan untuk tetap bergerak umumnya kaki yang tidak bisa tenang, atau rasa
gatal pada otot. Penderita dengan akatisia berat tidak mampu untuk duduk tenang,
perasaannya menjadi cemas atau iritabel, agitasi, dan pemacuan yang nyata. Akatisia dapat
menyebabkan eksaserbasi gejala psikotik yang memburuk akibat perasaan tidak nyaman yang
ekstrim.
Sejauh ini, akatisia merupakan yang paling sering terjadi. Kemungkinan terjadi pada
sebagian besar pasien yang diobati dengan medikasi neuroleptik, terutama pada populasi
pasien lebih muda. Terdiri dari perasaan dalam yang gelisah, gugup atau suatu keinginan
untuk tetap bergerak. Juga telah dilaporkan sebagai rasa gatal pada otot. Pasien dapat
mengeluh karena anxietas atau kesukaran tidur yang dapat disalah tafsirkan sebagai gejala
psikotik yang memburuk. Sebaliknya, akatisia dapat menyebabkan eksaserbasi gejala
psikotik akibat perasaan tidak nyaman yang ekstrim.
Agitasi, pemacuan yang nyata, atau manifestasi fisik lain dari akatisisa hanya dapat
ditemukan pada kasus yang berat. Juga, akinesis yang ditemukan pada parkinsonisme yang
ditimbulkan neuroleptik dapat menutupi setiap gejala objektif akatisia. Akatisia sering timbul
segera setelah memulai medikasi neuroleptikdan pasien sudah pada tempatnya mengkaitkan
perasaan tidak nyaman. Yang dirasakan ini dengan medikasi sehingga menimbulkan masalah
ketidakpatuhan pasien.
Sindrom Parkinson
Faktor risiko antipsikotik menginduksi parkinson adalah peningkatan usia, dosis obat,
riwayat parkinson sebelumnya, dan kerusakan ganglia basalis. Terdiri dari akinesia, tremor,
dan bradikinesia. Akinesia meliputi wajah topeng, jedaan dari gerakan spontan, penurunan
ayunan lengan saat berjalan, penurunan kedipan, dan penurunan mengunyah yang dapat
menimbulkan pengeluaran air liur.
Pada suatu bentuk yang lebih ringan, akinesia hanya terbukti sebagai suatu status
perilaku dengan jeda bicara, penurunan spontanitas, apati dan kesukaran untuk memulai
aktifitas normal, kesemuanya dapat dikelirukan dengan gejala skizofrenia negatif. Tremor
dapat ditemukan pada saat istirahat dan dapat pula mengenai rahang. Gaya berjalan dengan
langkah kecil dan menyeret kaki diakibatkan karena kekakuan otot.
Lain-lain
Berikut merupakan EPS lain yang agak lazim yang dapat dimulai berjam-jam setelah
dosis pertama neuroleptik atau dimulai secara berangsur-angsur setelah pengobatan bertahuntahun. Manifestasinya meliputi berikut :
Akinesia : yang meliputi wajah topeng, kejedaan dari gerakan spontan, penurunan ayunan
lengan pada saat berjalan, penurunan kedipan, dan penurunan mengunyahyang dapat
menimbulkan pengeluaran air liur. Pada bentuk yang yang lebih ringan, akinesia hanya
terbukti sebagai suatu status perilaku dengan jeda bicara, penurunan spontanitas, apati dan
kesukaran untuk memulai aktifitas normal, kesemuanya dapat dikelirukan dengan gejala
negative skizofrenia.
Tremor : khususnya saat istirahat, secara klasik dari tipe penggulung pil. Tremor dapat
mengenai rahang yang kadang-kadang disebut sebagai “sindrom kelinci”. Keadaan ini dapat
dikelirukan dengan diskenisia tardiv, tapi dapat dibedakan melalui karakter lebih ritmik,
kecerendungan untuk mengenai rahang daripada lidah dan responya terhadap medikasi
antikolinergik.
Gaya berjalan membungkuk : menyeret kaki dengan putaran huruf en cetak dan hilangnya
ayunan lengan.
Kekuan otot : terutama dari tipe cogwheeling. Gangguan gerakan yang kronis progresif yang
ditandai oleh adanya tremor, bradikinesia, rigiditas, dan ketidakstabilan postural.
Chorea Huntington = Chorea Mayor
Merupakan gangguan herediter yang bersifat autosomal dominan, onset
pada usia pertengahan dan berjalan progresif hingga menyebabkan kematian
dalam waktu 10 – 12 tahun. Dapat terjadi pada usia muda (tipe juvenile) dimana
gejalanya kurang tampak dan didominasi oleh gejala negatif (rigiditas, demensia,
perubahan kepribadian, gangguan afektif, psikosis, hipotonus, reflex primitif)
DIAGNOSIS
Diagnosa awal dilakukan dengan anamnesa pasien. Pemeriksaan yang dapat
dilakukan di antaranya adalah pemeriksaan fisik pada umumnya yaitu tanda–tanda vital dan
kondisi fisik seluruhnya. Dapat ditambah pemeriksaan neurologis.
Pemeriksaan laboratorium tergantung pada tampilan klinis. Pasien dengan distonia
simplek tidak membutuhkan tes. Pemeriksaan kualitatif untuk mendeteksi adanya antipsikotik
tidak tersedia secara luas. Selain itu, kandungan obat dalam serum untuk tranquilizer mayor
tidak berkorelasi dengan baik dengan keparahan klinis dari overdosis dan tidak bermanfaat
pada pengobatan akut.
Pemeriksaan rutin elektrolit, pemeriksaan potassium, asam urat, keratin kinase-MM ,
nitrogen dan urea darah, kreatinin darah, glukosa darah, mioglobin dan bikarbonat
bermanfaat dalam menilai status hidrasi, fungsi ginjal, status asam basa, kerusakan otot dan
hipoglikemi sebagai penyebab kelainan sensorium.
Kontraksi otot yang terus menerus sering menyebabkan perusakan otot yang terlihat
dari peningkatan potassium, asam urat, dan keratin kinase-MM. Perusakan otot juga
menghasilkan myoglobin yang diserap oleh ginjal, sehingga menyebabkan disfungsi tubulus
ginjal. Dehidrasi memperburuk penyerapan ini. Pada myoglobinuria, urin menjadi berwarna
cokelat gelap.
DIAGNOSIS BANDING

Sindroma putus obat

Parkinson Disease

Distonia primer

Tetanus

Gangguan gerak ekstrapiramidal primer

Penyakit Huntington,

Chorea Syndenham

Anxietas

Gejala psikotik yang memburuk
Pada pasien dengan tardive diskinesia dapat pula didiagnosis banding dengan penyakit
Hutington dan Khorea Sindenham.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan umum untuk sindrom ekstrapiramidal yakni :
Non-farmakologis :
Menurunkan dosis antipsikotik hingga mencapai dosis minimal yang efektif.
Farmakologis

Pada pasien > 60 tahun diberikan L-dopa .Pemberian L-dopa 3-4x 1 hari dengan total
dosis maksimal 600 mg/ hari diberikan 30 menit sebelum makan, contoh madopar,
sinemet.

Pada pasien muda diberikan DA (dopamine antagonist)
 Pemberian dopamine agonist :
Contoh ergot da:
1. Bromocriptin dimulai dengan dosis 1,25 mg ditingkatkan sampai total maksimal
40mg/ hari terbagi dalam 3-5 dosis.
2. Pergolide mesylate dimulai dari 0,05 mg 0,05 mg tiap 4-7 hari sampai 2-4 mg / hari
untuk 3x beri
3. Piribedil 50 mg terbagi 5x/ hari
4. Cabergoline , dostinex 0,5 mg setiap 2 hari
 Contoh Non-ergot da:
1. Pramipexole, sifrol 1 mg dimulai dari 0,125 mg. Dosis umumnya 3-4,5 mg / hari
2. Ropinirole, requip 2 mg, dimulai dari 0,25 mg. Dosis umumnya 3-9 mg/ hari
3. Pemberian antihistamin seperti difenhidramine, sulfas atropine
4. Pemberian antikolinergik seperti :
a) Trihexyphenidil ((THP), 4-6mg per hari selama 4-6 minggu. Setelah itu dosis
diturunkan secara perlahan-lahan, yaitu 2 mg setiap minggu, untuk melihat apakah
pasien telah mengembangkan suatu toleransi terhadap efek samping sindrom
ekstrapiramidal ini.
b) n-Methyl-D-Aspartate Receptor Inhibitor: amantadine dimulai dari 100 mg. Dosis
umumnya 300-400 mg/ hari terbagi dalam 3-4 dosis
c) Enzyme inhibitor: Monoamine Oxidase Type B inhibitor MAO –B contoh selegiline,
selegos 5 mg, rasagiline sebagai neuroprotektor.
d) COMT –I (Cathechol o Methyl Transferase Inhibitors) :
Entacapone, comtan 200mg dosis maksimal 1600 mg, tolcapone untuk menurunkan
degradasi dopamine otak dan meningkatkan efek L-dopa.
Pedoman umum :

Gejala ekstrapiramidal dapat sangat menekan sehingga banyak ahli menganjurkan
terapi profilaktik. Gejala ini penting terutama pada pasien dengan riwayat EPS atau
para pasien yang mendapat neuroleptik poten dosis tinggi.

Medikasi anti-EPS mempunyai efek sampingnya sendiri yang dapat menyebabkan
komplians yang buruk. Antikolinergik umumnya menyebabkan mulut kering,
penglihatan kabur, gangguan ingatan, konstipasi dan retensi urine. Amantadin dapat
mengeksaserbasi gejala psikotik.

Umumnya disarankan bahwa suatu usaha dilakukan setiap enam bulan untuk menarik
medikasi anti-EPS pasien dengan pengawasan seksama terhadap kembalinya gejala.
Reaksi Distonia Akut (ADR)
Medikasi antikolinergik merupakan terapi ADR bentuk primer dan praterapi dengan
salah satu obat-obat ini biasanya mencegah terjadinya penyakit. Paduan obat yang umum
meliputi benztropin (Congentin) 0,5-2 mg dua kali sehari (BID) sampai tiga kali sehari (TID)
atau triheksiphenidil (Artane) 2-5 mg TID. Benztropin mungkin lebih efektif daripada
triheksiphenidil pada pengobatan ADR dan pada beberapa penyalah guna obat
triheksiphenidil karena “rasa melayang” yang mereka dapat daripadanya.
Seorang pasien yang ditemukan dengan ADR berat, akut harus diobati dengan cepat
dan secara agresif. Bila dilakukan jalur intravena (IV) dapat diberikan benztropin 1 mg
dengan dorongan IV. Umumnya lebih praktis untuk memberikan difenhidramin (Benadryl)
50 mg intramuskuler (IM) atau bila obat ini tidak tersedia gunakan benztropin 2 mg IM.
Remisi ADR dramatis terjadi dalam waktu 5 menit.
Akatisia
Pengobatan akatisia mungkin sangat sulit dan sering kali memerlukan banyak
eksperimen. Agen yang paling umum dipakai adalah antikolinergik dan amantadin
(Symmetrel); obat ini dapat juga dipakai bersama. Penelitian terakhir bahwa propanolol
(Inderal) sangat efektif dan benzodiazepine, khususnya klonazepam (klonopin) dan
lorazepam (Ativan) mungkin sangat membantu.
Sindrom Parkinson
Aliran utama pengobatan sindrom Parkinson terinduksi neuroleptik terdiri atas agen
antikolinergik. Amantadin juga sering digunakan . Levodopa yang dipakai pada pengobatan
penyakit Parkinson idiopatik umumnya tidak efektif akibat efek sampingnya yang berat.
Tardive Diskinesia
Pencegahan melalui pemakaian medikasi neuroleptik yang bijaksana merupakan
pengobatan sindrom ini yang lebih disukai. Ketika ditemukan pergerakan involunter dapat
berkurang dengan peningkatan dosis medikasi antipsikotik tetapi ini hanya mengeksaserbasi
masalah yang mendasarinya. Setelah permulaan memburuk, pergerakan paling involunter
akan menghilang atau sangat berkurang, tetapi keadaan ini memerlukan waktu sampai dua
tahun.
Benzodiazepine dapat mengurangi pergerakan involunter pada banyak pasien,
kemungkinan melalui mekanisme asam gamma-aminobutirat-ergik. Baclofen (lioresal) dan
propanolol dapat juga membantu pada beberapa kasus. Reserpin (serpasil) dapat juga
digambarkan sebagai efektif tetapi depresi dan hipotensi merupakan efek samping yang
umum. Lesitin lemak kaya kolin sangat bermanfaat menurut beberapa peneliti, tetapi
kegunaannya masih diperdebatkan.
Pengurangan dosis umumnya merupakan perjalanan kerja terbaik bagi pasien yang
tampaknya mengalami diskinesia tardive tetapi masih memerlukan pengobatan. Penghentian
pengobatan dapat memacu timbulnya dekompensasi yang berat, sementara pengobatan pada
dosis efektif terendah dapat mempertahankan pasien sementara meminimumkan risiko, tetapi
kita harus pasti terhadap dokumen yang diperlukan untuk penghentian pengobatan.
KOMPLIKASI
Gangguan gerak yang dialami penderita akan sangat mengganggu sehingga
menurunkan kualitas penderita dalam beraktivitas dan gangguan gerak saat berjalan dapat
menyebabkan penderita terjatuh dan mengalami fraktur. Pada distonia laring dapat
menyebabkan asfiksia dan kematian.
Medikasi anti-EPS mempunyai efek sampingnya sendiri yang dapat menyebabkan
komplikasi yang buruk. Anti kolinergik umumnya menyebabkan mulut kering, penglihatan
kabur, gangguan ingatan, konstipasi dan retensi urine. Amantadine dapat mengeksaserbasi
gejala psikotik.
PROGNOSIS
Prognosis pasien dengan sindrom ekstrapiramidal yang akut akan lebih baik bila
gejala langsung dikenali dan ditanggulangi. Sedangkan prognosis pada pasien dengan
sindrom ekstrapiramidal yang kronik lebih buruk, Pasien dengan tardive distonia hingga
distonia laring dapat menyebabkan kematian bila tidak diatasi dengan cepat. Sekali terkena,
kondisi ini biasanya menetap pada pasien yang mendapat pengobatan neuroleptik selama
lebih dari 10 tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Kaplan H.I.MD, Saddock B.M.JD, Grebb J.A.MD. Synopsis Psikiatri Jilid 1. Bagian Psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. 1997
Kaplan H.I.MD, Saddock B.M.JD, Grebb J.A.MD. Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Bagian Psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. 1997
Maslim. R, SpKJ. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikiatri edisi Ketiga. Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2007
Download