Uploaded by User24450

BPPV RSMJ

advertisement
Nama peserta : dr. Grace Elizabeth Claudia
Nama wahana: RSUD Kota Bekasi
Topik: Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Tanggal (kasus):
Nama Pasien: Nn. F
No. RM: 02064856
Tanggal presentasi:6Desember 2018
Nama pendamping:
1. dr. Richard Sabar Nelson Siahaan
2. dr. Corry Christina H
Tempat presentasi: Aula Komite Medik RSUD Kota Bekasi
Obyektif presentasi:
□ Keilmuan
□ Keterampilan
□ Penyegaran
□ Tinjauan pustaka
□ Diagnostik
□ Manajemen
□ Masalah
□ Istimewa
□ Neonatus
□Bayi
□Anak
□ Remaja □ Dewasa
□ Lansia
□ Bumil
Bahan bahasan:
□ Tinjauan pustaka
□ Riset
□ Kasus
□ Audit
Cara membahas:
□ Diskusi
□ Presentasi dan
□ Email
□ Pos
diskusi
Data pasien:
Nama: Ny. S,46 tahun
Nomor RM: 1029120
Nama klinik: RSUD Kota Bekasi
Telp: -
Terdaftar sejak: 13 Januari 2019
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis: BPPV/ Pasien datang dengan keluhanpusing berputar sejak 1 hari SMRS disertai dengan nyeri
ulu hati dan mual. Pemeriksaan fisik didapatkanKesadaran: CM, TD: 137/90, HR: 99x/menit, RR: 24 x/mnt, T : 37,
BB=70kg. Dari Pemeriksaankoordinasi, gait, dan keseimbangan didapatkan cara berjalan normal dan test Romberg
1
dipertajam (+). Dix Hallpike Maneuver: Nistagmus (+) horizontal dengan masa laten.
2. Riwayat Kesehatan/Penyakit:Alergi (+), Asma (+), Riwayat penyakit bawaan (-), Hipertensi (-), Kencing manis (-)
3. Riwayat Keluarga: Tidak ada yang memiliki kelainan bawaan. Riwayat Hipertensi (+), Kencing manis (-)
4. Riwayat Pekerjaan: Pasien adalah seorang pelajar SMK.
5. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik: Tidak ada yang berhubungan.
Daftar pustaka:
1.
Wahyudi, Kupaya Timbul. Vertigo. CDK-198. Volume 39. Nomor 10. Jakarta: Kalbe Farma; 2012. h.738-41.
2.
Mardjono M, Sidharta P. Neurologi klinis dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2008.
3.
Turner, B, Lewis, NE. Symposium Neurology:Systematic Approach that Needed for establish of Vetigo.The
Practitioner.September 2010 - 254 (1732): p.19-23.
4.
SwartzR, Longwell, P. 2005. Treatment of Vertigo in Journal of American Family Physician. p.71-6.
5.
Mcphee SJ, Papadakis MA. Current Medical Diagnosis and Treatment. 50thEdition. New York: The McGraw-Hill Medical;
2011.
6.
Hain TC, Cherchi M. Approach to the patient with dizziness and vertigo. In Practical Neurology: Fifth Edition. Chester:
Wolters Kluwer Health Pharma Solutions (Europe) Ltd; 2017. p. 207-26
7.
Bintoro AC, Rahmawati D,Tugasworo D, Endang K, Yuslam S et al. Vertigo. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro; 2006.h.3-4
Hasil pembelajaran:
1. Penegakan diagnosis BPPV.
2. Penanganan awal dan manajemen kegawatdaruratan pada BPPV.
3.
Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai BPPV dan penanganannya.

Subjektif: (Autoanamnesis dan Alloanamnesis)
2
•
Keluhan Utama: Pusing berputar sejak 6 jam SMRS.
•
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dengan keluhan pusing berputar sejak 6 jam SMRS. Pusing berputar timbul secara mendadak dan
dirasakan terus menerus. Pasien mengatakan pusing berputar seperti ruangan di sekitarnya berputar. Pusing berputar
dirasakan bertambah parah saat pasien merubah posisinya, terutama saat menengok kea rah kiri, dari tidur ke duduk atau
berdiri atau saat memberat dan berkurang bila pasien menutup mata atau saat beristirahat. Keluhan pusing berputar disertai
dengan mual, namun tidak disertai dengan muntah. Keluhan demam disangkal. Pasien mengatakan tidak pernah mengalami
trauma, keluar cairan dari telinga, nyeri pada telinga, telinga berdenging dan gangguan pendengaran. Pasien mengatakan
keluhan pusing berputar sudah dirasakan selama 2 bulan terakhir. Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat secara rutin.

Objektif:
Status Present
KU
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
GCS
: E4M6V5
Tekanan Darah
: 120/80 mmHg
HR
: 90x/menit, Regular (+)
Respirasi
: 20 x/menit
Suhu
: 36,80C
Sat O2
: 98%
BB
: 66 kg
TB
: 155 cm
3
Status Generalis
 Kepala : Normocephali
 Mata
: Pupil isokor, konjungtiva anemis (-/-), sklera tidak (-/-).
 Leher
: Pembesaran KGB (-), Trakea ditengah.
 Thoraks
o Paru
Inspeksi
: Simetris pada kedua lapang paru pada saat statis dan dinamis
Palpasi
: Nyeri tekan (-/-), taktil fremitus normal
Perkusi
: Sonor (+/+)
Auskultasi
: Suara napas vesikuler (+/+), Ronki (-/-), wheezing (-/-)
o Jantung
Inspeksi
: Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi
: Iktus cordis teraba di linea midclavicula sinistra ICS V
Perkusi
: Batas jantung normal
Auskultasi : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
 Abdomen
Inspeksi
: Datar
Palpasi
: Supel, Nyeri tekan (-), Tidak teraba massa
Perkusi
: Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal

Ekstremitas : Edema -/-, sianosis -/-, Capillary Refill time< 2s, turgor kembali cepat.
4
Pemeriksaan Saraf
Saraf Kranial
I.
N. Olfaktorius (I)
kanan
kiri
Subjektif
baik
baik
Dengan bahan
tidak dilakukan
tidak dilakukan
kanan
kiri
Tajam penglihatan
6/60
6/60
Lapangan penglihatan
normal
normal
Melihat warna
normal
normal
Fundus okuli
tidak dilakukan
tidak dilakukan
kanan
kiri
Ptosis
Tidak ada
Tidak ada
Pergerakan bulbus
baik ke semua arah
baik ke semua arah
Strabismus
negatif
negatif
Nistagmus
positif
positif
Eksoftalmus
negatif
negatif
II. N. Optikus (N. II)
III. N. Okulomotorius (N.III)
Pupil isokor
-
Besar
± 3 mm
± 3 mm
-
Bentuk
bulat
bulat
Membuka kelopak mata
ya
ya
Refleks cahaya
+
+
Refleks konsesual
+
+
5
Diplopia
tidak ada
tidak ada
IV. N. Trochlearis (N.IV)
kanan
kiri
Pergerakan mata
Baik
Baik
Sikap bulbus
normal
normal
Diplopia
tidak ada
tidak ada
kanan
kiri
(kebawah-keluar)
V. N. Trigeminus (N.V)
Membuka mulut
Baik
Mengunyah
Baik
Menggigit
Baik
Sensibilitas
V1
simetris kanan dan kiri
V2
simetris kanan dan kiri
V3
simetris kanan dan kiri
Refleks kornea
tidak dilakukan
tidak dilakukan
kanan
kiri
Pergerakan mata ke lateral
Baik
Baik
Sikap bulbus
normal
normal
Diplopia
negatif
negatif
kanan
kiri
Mengerutkan dahi
Baik
Baik
Mengangkat alis
Baik
Baik
VI. N. Abdusen (N.VI)
VII. N. Fascialis (N.VII)
6
Menutup mata
Baik
Baik
Memperlihatkan gigi
Baik
Baik
Bersiul
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Perasaan lidah 2/3 anterior
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
VIII. N. Vestibulo-koklearis (N.VIII) kanan
IX.
X.
XI.
kiri
Detik arloji
(+)
(+)
Suara berisik
(+)
(+)
Weber
tidak dilakukan
tidak dilakukan
Rinne
tidak dilakukan
tidak dilakukan
Swabach
tidak dilakukan
tidak dilakukan
N. Glosofaringeus (N.IX)
Perasaan lidah 1/3 belakang
: Tidak dilakukan
Sensibilitas
: Tidak dilakukan
N. Vagus (N.X)
Arcus pharynx
: Simetris
Menelan
: baik
Bicara
: artikulasi jelas, sengau (-)
N. Aksesorius (N.XI)
kanan
kiri
Mengangkat bahu
Baik
Baik
Memalingkan kepala
Baik
Baik
XII. N. Hipoglosus (N.XII)
Pergerakan lidah
: Tidak ada deviasi
7
Tremor lidah
: Tidak ada
Artikulasi
: Jelas
Badan dan Anggota Gerak
1.
Badan
a. Motorik
Respirasi
: simetris dalam keadaan stastis dan dinamis
Bentuk columna vertebralis
: simetris dalam garis median
b. Sensibilitas
kanan
kiri
Taktil
(+)
(+)
Nyeri
(+)
(+)
Thermi
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Lokalisasi
(+)
(+)
c. Refleks
Refleks kulit perut atas
:+
Refleks kulit perut bawah
:+
Refleks kulit perut tengah
:+
2. Anggota gerak atas
a. Motorik
kanan
kiri
Pergerakan
bebas
bebas
Kekuatan
5-5-5-5
5-5-5-5
8
Tonus
normotoni
normotoni
Atrofi
Tidak ada
Tidak ada
kanan
kiri
Taktil
(+)
(+)
Nyeri
(+)
(+)
Thermi
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Diskriminasi
baik
baik
Lokalisasi
baik
baik
kanan
kiri
Biceps
++
++
Triceps
++
++
Hoffman – Tromner
Negatif
Negatif
kanan
kiri
Pergerakan
bebas
bebas
Kekuatan
5-5-5-5
5-5-5-5
Tonus
normotoni
normotoni
Atrofi
(-)
(-)
kanan
kiri
Taktil
(+)
(+)
Nyeri
(+)
(+)
b. Sensibilitas
c. Refleks
3. Anggota gerak bawah
a. Motorik
b. Sensibilitas
9
Thermi
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Diskriminasi
baik
baik
Lokalisasi
baik
baik
kanan
kiri
Patella
++
++
Achilles
++
++
Babinski
Negatif
Negatif
c. Refleks
d. Tanda rangsang meningeal:
Kaku kuduk : Negatif
Brudzinki I
: Negatif
Brudzinki II : Negatif
Laseque
: Negatif
Kernig
: Negatif
e. Koordinasi, gait, dan keseimbangan
Cara berjalan
: Normal
Test Romberg dipertajam
: (+)
Disdiadokokinensia
: (-)
Rebound phenomenon
: (-)
f. Gerakan-gerakan abnormal
1. Tremor
: tidak ada
2. Miokloni
: tidak ada
3. Khorea
: tidak ada
10
g. Alat vegetatif
1. Miksi
: Normal
2. Defekasi
: Normal
h. Tes tambahan
1. Dix Hallpike Maneuver: Nistagmus (+) horizontal dengan masa laten
Laboratorium:
-
Tanggal 12November 2018(Lab RSUD Kota Bekasi)
-
Pemeriksaan Hematologi
Nama Pemeriksaan
Hasil
Rujukan
Hemoglobin
13,2
11,3 – 16,5 g/dl
Hematokrit
38
37 – 45%
Leukosit
9,87
4– 11 x 103/ul
Eritrosit
4,85
4,2-5,4 x 106/ul
Trombosit
359
150000 - 400000/ul
103
60 – 110 mg/dL
Hematologi Rutin
Kimia Klinik
Glukosa Darah Sewaktu
-
11

Assesment(penalaran klinis)
Vertigo berasal dari istilah latin, yaitu “vertere” yang berarti berputar. Vertigo merupakan subtipe dari dizziness yang secara
definitif merupakan ilusi gerakan, dan yang paling sering adalah perasaan atau sensasi tubuh yang berputar terhadap lingkungan atau
sebaliknya, lingkungan sekitar kita rasakan berputar. Vertigo juga dirasakan sebagai suatu perpindahan linear ataupun miring, tetapi
gejala seperti ini lebih jarang dirasakan. Kondisi ini merupakan gejala kunci yang menandakan adanya gangguan sistem vestibuler
dan kadang merupakan gejala kelainan labirin. Namun, tidak jarang vertigo merupakan gejala dari gangguan sistemik lain (misalnya
obat, hipotensi, penyakit endokrin, dan sebagainya).1
ETIOLOGI
Vertigo merupakan suatu gejala,sederet penyebabnya antara lain akibat kecelakaan, stres, gangguan pada telinga bagian
dalam, obat-obatan, terlalu sedikit ataubanyak aliran darah ke otak dan lain-lain. Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan
keseimbangan melalui organ keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam. Organ inimemiliki saraf yang berhubungan
dengan area tertentu di otak. Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telinga
dengan otak dan didalam otaknya sendiri.Keseimbangan dikendalikan oleh otak kecil yang mendapat informasi tentang posisi tubuh
dari organ keseimbangan di telinga tengah dan mata.Penyebab umum dari vertigo:2
1. Keadaan lingkungan: mabuk darat, mabuk laut
2. Obat-obatan: alkohol, gentamisin
3. Kelainan telinga: endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam yang menyebabkan benign
paroxysmal positional
4. Vertigo, infeksi telinga bagian dalam karena bakteri, labirintis, penyakit maniere
5. Peradangan saraf vestibuler, herpes zoster.
6. Kelainan Neurologis: Tumor otak, tumor yang menekan saraf vestibularis, sclerosis multipel, dan patah tulang otak yang disertai
12
cedera pada labirin, persarafannya ataukeduanya
7. Kelainan sirkularis: Gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya alirandarah ke salah satu bagian otak (Transient
Ischemic Attack) pada arteri vertebral danarteri basiler.
Penyebab vertigo dapat berasal dari perifer yaitu dari organ vestibuler sampai ke intinervus VIII sedangkan kelainan sentral
dari inti nervus VIII sampai ke korteks.Berbagai penyakit atau kelainan dapat menyebabkan vertigo. Penyebab vertigo serta lokasi
lesi:3
Labirin, telinga dalam:

vertigo posisional paroksisimal benigna

pasca trauma

penyakit menierre

labirinitis (viral, bakteri)

toksik (misalnya oleh aminoglikosid, streptomisin, gentamisin)

oklusi peredaran darah di labirin

fistula labirin
Saraf otak ke VIII:

neuritis iskemik (misalnya pada DM)

infeksi, inflamasi (misalnya pada sifilis, herpes zoster)

neuritis vestibular

neuroma akustikus
Telinga luar dan tengah:

Otitis media
13

Tumor
SENTRAL
Supratentorial:

Trauma

Epilepsi
Infratentorial:

Insufisiensi vertebrobasiler
OBAT
Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran.Obat-obat itu antara lain
aminoglikosida, diuretik loop, anti inflamasi nonsteroid,derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. Streptomisin lebih
bersifat vestibulotoksik, demikian juga gentamisin; sedangkan kanamisin, amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik.
Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid, asam nalidiksat, metronidaziol dan minosiklin.
Obat penyekat alfa adrenergik, vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan
dengan vertigo.3
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik yang menyeluruh sebaiknya difokuskan pada evaluasi neurologis terhadap saraf-saraf kranial dan fungsi
serebelum, misalnya dengan melihat modalitas motorik dan sensorik. Penilaian terhadap fungsi serebelum dilakukan dengan menilah
fiksasi gerakan bola mata; adanya nistagmus (horizontal) menunjukkan adanya gangguan vestibuler sentral. Pemeriksaan kanalis
auditorius dan membran timpani juga harus dilakukan untuk menilai ada tidaknya infeksi telinga tengah, malformasi, kolesteatoma,
14
atau fistula perilimfatik. Dapat juga dilakukan pemeriksaan tajam pendengaran.1
Tes Keseimbangan
Pemeriksaan klinis, baik yang dilakukan unit gawat darurat maupun di ruang pemeriksaan lainnya, mungkin akan memberikan
banyak infomasi tentang keluhan vertigo. Beberapa pemeriksaan klinis yang mudah dilakukan untuk melihat dan menilai gangguan
keseimbangan diantaranya adalah: Tes Romberg. Pada tes ini, penderita berdiri dengan kaki yang satu di depan kaki yang lain, tumit
yang satu berada di depan jari-jari kaki yang lain. Orang yang norma, mampu berdiri dalam sikap Romberg ini selama 30 detik atau
lebih. Berdiri dengan satu kaki dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata tertutup merupakan skrining yang sensitive untuk
kelainan keseimbangan. Bila pasien mampua berdiri dengan satu kaki dalam keadaan mata tertutup dianggap normal.
Past ponting Test
Penderita diperintahkan untuk merentangkan lengannya dan telunjuk penderita diperintahkan menyentuh telunjuk pemeriksa.
Selanjutnya, penderita diminta untuk menutup mata, mengangkat lengannya ke atas, dan kemudian kembali pada posisi semula. Hal
ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Pada gangguan vestibuler, akan didapatkan salah tunjuk.
Heel to knee Test
Gambar 1: Heel to knee
15
Penderita diminta untuk menggerakkan tumit kakinya ke lutut kontralateral, kemudian diteruskan dengan mendorong tumit tersebut
lurus ke jari-jari kakinya.1
Dix-Hallpike Manuver
Untuk menimbulkan vertigo pada penderita dengan gangguan sistem vestibuler, dapat dilakukan maneuver Dix-Hallpike.
Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat, sehingga kepalanya menggantung 45º di
bawah garis horisontal, kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan
nistagmus.Dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. Pada vertigo perifer, vertigo dan nistagmus timbul
setelah periode laten 2-20 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1 menit, akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang
beberapa kali (fatigue). Pada vertigo sentral: tidak ada periode laten, nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit, bila
diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue).
Gambar 2: Dix-Hallpike
Tes Kalori
Tes kalori dilakukan setelah dipastikan tidak ada perforasi membrane timpani maupun serumen. Penderita berbaring dengan kepala
fleksi 30º, sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC)
dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak
16
permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis
atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik setelah
rangsang air hangat maupun air dingin, sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus
yang sama di masing-masing telinga. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. VIII, sedangkan directional
preponderance menunjukkan lesi sentral.
Gambar 3: Tes Kalori
Pemeriksaan lain dapat juga dilakukan, dan selain pemeriksaan fungsi vestibuler, perlu dikerjakan pula pemeriksaan penunjang lain
jika diperlukan. Beberapa pemeriksaan penunjkan dalam hal ini di antara nya adalah pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, tes
toleransi glukosa, elektrolit darah, kalsium, fosfor, magnesium) dan pemeriksaan fungsi tiroid. Pemeriksaan penunjang dengan CT
Scan, MRI, atau angiografi dilakukan untuk menilai struktur organ dan ada tidaknya gangguan aliran darah, misalnya pada vertigo
sentral.1,2
Patofisiologi
17
Vertigo timbul jika terdapat gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh
(informasi aferen) yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat (pusat kesadaran). Susunan aferen yang
terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke
pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei
vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis. Informasi yang berguna untuk
keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi
paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor
vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan
diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di
samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer
atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses
pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. Di samping itu, respons penyesuaian otot
menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan
dan gejala lainnya.
Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian ketidakseimbangan tubuh :
1. Teori rangsang berlebihan (overstimulation)
Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga
fungsinya terganggu; akibatnya akan timbul vertigo, nistagmus, mual dan muntah.
2. Teori konflik sensorik
Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara
18
mata/visus, vestibulum dan proprioseptik, atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan.
Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus
(usaha koreksi bola mata), ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler, serebelum) atau rasa melayang, berputar (yang
berasal dari sensasi kortikal). Berbeda dengan teori rangsang berlebihan, teori ini lebih menekankan gangguan proses
pengolahan sentral sebagai penyebab.
3. Teori neural mismatch
Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik; menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola
gerakan tertentu; sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah
tersimpan, timbul reaksi dari susunan saraf otonom.Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulang-ulang akan
terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsur-angsur tidak lagi timbul gejala.
4. Teori otonomik
Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebagai usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi, gejala klinis
timbul jika sistim simpatis terlalu dominan, sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan.
5. Teori neurohumoral
Di antaranya teori histamin (Takeda), teori dopamin (Kohl) dan teori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan
peranan neurotransmiter tertentu dalam mempengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo.
6. Teori sinap
Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler
yang terjadi pada proses adaptasi, belajar dan daya ingat. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi
CRF (corticotropin releasing factor), peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang
selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. Teori ini dapat
menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat, berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis,
19
yang berkembang menjadi gejala mual, muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan
saraf parasimpatis.4
KLASIFIKASI
Vertigo dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu vertigo vestibular dan non-vestibular. Vertigo vestibular adalah
vertigo yang disebabkan oleh gangguan sistem vestibular, sedangkan vertigo non vestibular adalah vertigo yang disebabkan oleh
gangguan sistem visual dan somatosensori.5
Tabel 1. Perbedaaan vertigo vestibuler dan non vestibuler
Karakteristik
Vertigo Vestibular
Vertigo Non-vestibular
Waktu
Episodik
Konstan
Sifat Vertigo
Berputar
Melayang
Faktor pencetus
Gerakan kepala, perubahan
Stress, hiperventilasi
posisi
Gejala Penyerta
Mual, muntah, tuli, tinnitus
Gangguan mata, gangguan
somatosensorik
Vertigo vestibular selanjutnya dapat dibedakan menjadi vertigo vestibular perifer dan sentral. Vertigo vestibular perifer
adalah vertigo yang terjadi akibat gangguan alat keseimbangan tubuh di labirin (telinga dalam) atau di saraf kranial VIII (Saraf
Vestibulokoklear) divisi vestibular. Vertigo vestibular sentral adalah vertigo yang terjadi akibat gangguan alat keseimbangan tubuh
di sistem saraf pusat, baik di pusat integrasi (serebelum dan batang otak) ataupun di area persepsi (korteks). Penyebab vertigo sentral
antara lain adalah perdarahan atau iskemik di serebelum, nukleus vestibular, dan koneksinya di batang otak, tumor di sistem saraf
20
pusat, infeksi, trauma, dan sklerosis multiple. Vertigo yang disebabkan neuroma akustik juga termasuk dalam vertigo sentral. Vertigo
akibat gangguan di korteks sangat jarang terjadi, biasanya menimbulkan gejala kejang parsial kompleks.5
Tabel 2. Perbedaan Vertigo Vestibuler Sentral dan Perifer
Karakteristik
V. Vestibular Perifer
V. Vestibular Sentral
Onset
Tiba-tiba, onset mendadak
Perlahan, onset gradual
Durasi
Menit hingga jam
Minggu hingga bulan
Frekuensi
Biasanya hilang timbul
Biasanya konstan
Intensitas
Berat
Sedang
Mual muntah
Tipikal
Sering kali tidak ada
Diperparah perubahan
Ya
Kadang tidak berkaitan
Berapapun, biasanya
Usia lanjut
posisi kepala
Usia pasien
muda
Gangguan status
Tidak ada atau kadang-
Biasanya ada
mental
kadang
Defisit nervi cranial
Tidak ada
Kadang disertai ataxia
Seringkali berkurang atau
Biasanya normal
atau cerebellum
Pendengaran
dengan tinnitus
Nistagmus
Nistagmus horizontal dan
Nistagmus horizontal atau
rotatoar; ada nistagmus
vertical; tidak ada
21
Penyebab
fatique 5-30 detik
nistagmus fatique
Meniere’s disease
Massa Cerebellar / stroke
Labyrinthitis
Encephalitis/ abscess otak
Positional vertigo
Insufisiensi A. Vertebral
Neuroma Akustik
Sklerosis Multiple
Penyebab perifer Vertigo

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan penyebab utama vertigo. Onsetnya lebih sering terjadi pada
usia rata-rata 51 tahun.
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) disebabkan oleh pergerakan otolit dalan kanalis semisirkularis pada
telinga dalam. Hal ini terutama akan mempengaruhi kanalis posterior dan menyebabkan gejala klasik tapi ini juga dapat
mengenai kanalis anterior dan horizontal.Otoli mengandung Kristal-kristal kecil kalsium karbonat yang berasal dari
utrikulus telinga dalam . Pergerakan dari otolit distimulasi oleh perubahan posisi dan menimbulkan manifestasi klinik
vertigo dan nistagmus.
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) biasanya idiopatik tapi dapat juga diikuti trauma kepala, infeksi kronik
telinga, operasi dan neuritis vestibular sebelumny, meskipun gejala benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) tidak
terjadi bertahun-tahun setelah episode.4,6

Ménière’s disease
Ménière’s disease ditandai dengan vertigo yang intermiten diikuti dengan keluhan pendengaran . Gangguan pendengaran
berupa tinnitus (nada rendah), dan tuli sensoris pada fluktuasi frekuensi yang rendah, dan sensasi penuh pada
22
telinga.Ménière’s disease terjadi pada sekitar 15% pada kasus vertigo otologik.
Ménière’s disease merupakan akibat dari hipertensi endolimfatik. Hal ini terjadi karena dilatasi dari membrane labirin
bersamaan dengan kanalis semisirularis telinga dalam dengan peningkatan volume endolimfe. Hal ini dapat terjadi
idiopatik atau sekunder akibat infeksi virus atau bakteri telinga atau gangguan metabolic.4

Vestibular Neuritis
Vestibular neuritis ditandai dengan vertigo, mual, ataxia, dan nistagmus. Hal ini berhubungan dengan infeksi virus pada
nervus vestibularis.
Labirintis terjadi dengan komplek gejala yang sama disertai dengan tinnitus atau penurunan
pendengaran. Keduanya terjadi pada sekitar 15% kasus vertigo otologik.4,6
TATALAKSANA
Prinsip umum terapi Vertigo

Medikasi
Karena penyebab vertigo beragam, sementara penderita seringkali merasa sangat terganggu dengan keluhan vertigo tersebut,
seringkali menggunakan pengobatan simptomatik. Lamanya pengobatan bervariasi. Sebagian besar kasus terapi dapat dihentikan
setelah beberapa minggu. Beberapa golongan yang sering digunakan:
1. H-1 reseptor antagonis
Obat – obat ini akan menekan respon vestibuler melalui satu efek pada CNS, mekanisme secara pasti tidak diketahui,
dianggap melalui aktivitas antivitas antikolinergik sentral.
-
Dimehidrinat (Dramamin)
Khususnya berguna untuk terapi vertigo perifer, menurunkan stimulasi vestibuler dan menekan fungsi melalui
aktivitas antikolinergik sentral. Dosis: 50 – 100 mg tiap 4-6 jam. Jangan lebih dari 400 mg/hari; 50 mg IV dalam 10
ml NaCl disuntikan selama kurang lebih 2 menit; 50 mg IM.
23
-
Prometazine hidroklorid
Untuk terapi simtomatik nausea karena disfungsi vestibuler. Suatu anti dopaminergik, yang efektif untuk terapi
vertigo yang memblok reseptor dopaminergik mesolimbik di postsinap di otak dan menurunkan stimulus sistem
retikuler di batang otak.
2. Benzodiazepin
Bekerja di sentral, menghambat respon vestibuler, terutama dengan meningkatkan potensiasi inhibitorik reseptor GABA.
-
Diazepam/ Valium
Dengan sifat lipophilik yang tinggi dan mengalami redistribusi yang cepat setelah pemberian, sehingga kurang
disukai. Dosis 5 – 10 mg/ PO/IM/IV setiap 3 – 4 jam, bisa diulang tiap 2-4 jam, jangan lebih dari 30 mg/8 jam.4
-
Lorazepam/ Ativan
Sedative hipnotik dengan onset singkat dan half life yang relatif panjang. Menekan di seluruh tingkat CNS, termasuk
sistem limbik dan formasio retikularis, diduga melalui peningkatan aksi GABA sebagai neurotransmitter inhibitorik
mayor. Dosis 1 – 10 mg/ hari PO/IM/IV dibagi 2-3 kali.
3. Antagonis Kalsium:
Dapat juga berkhasiat dalam mengobati vertigo. Obat antagonis kalsium Cinnarizine (Stugeron) dan Flunarizine (Sibelium)
sering digunakan. Merupakan obat supresan vestibular karena sel rambut vestibular mengandung banyak terowongan
kalsium. Namun, antagonis kalsium sering mempunyai khasiat lain seperti anti kholinergik dan antihistamin. Sampai dimana
sifat yang lain ini berperan dalam mengatasi vertigo belum diketahui.
- Cinnarizine (Stugerone)
Mempunyai khasiat menekan fungsi vestibular. Dapat mengurangi respons terhadap akselerasi angular dan linier. Dosis
biasanya ialah 15 – 30 mg, 3 kali sehari atau 1 x 75 mg sehari. Efek samping ialah rasa mengantuk (sedasi), rasa cape, diare
atau konstipasi, mulut rasa kering dan “rash” di kulit.7
24

Terapi Fisik
Susunan saraf pusat mempunyai kemampuan untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan. Namun kadang-kadang
dijumpai beberapa penderita yang kemampuan adaptasinya kurang atau tidak baik. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya
gangguan lain di susunan saraf pusat atau didapatkan deficit di sistem visual atau proprioseptifnya. Kadang-kadang obat tidak
banyak membantu, sehingga perlu latihan fisik vestibular. Latihan bertujuan untuk mengatasi gangguan vestibular, membiasakan
atau mengadaptasi diri terhadap gangguan keseimbangan. Tujuan latihan ialah:
1. Melatih gerakan kepala yang mencetuskan vertigo atau disekuilibrium untuk meningkatkan kemampuan mengatasinya
secara lambat laun.
2. Melatih gerakan bola mata, latihan fiksasi pandangan mata.
3. Melatih meningkatkan kemampuan keseimbangan
Contoh latihan:
1. Berdiri tegak dengan mata dibuka, kemudian dengan mata ditutup.
2. Olahraga yang menggerakkan kepala (gerakan rotasi, fleksi, ekstensi, gerak miring).
3. Dari sikap duduk disuruh berdiri dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup.
4. Jalan di kamar atau ruangan dengan mata terbuka kemudian dengan mata tertutup.
5. Berjalan “tandem” (kaki dalam posisi garis lurus, tumit kaki yang satu menyentuh jari kaki lainnya dalam melangkah).
6. Jalan menaiki dan menuruni lereng.
7. Melirikkan mata kearah horizontal dan vertikal.
8. Melatih gerakan mata dengan mengikuti objek yang bergerak dan juga memfiksasi pada objek yang diam.4
1. Terapi Fisik Brand-Darrof
Ada berbagai macam latihan fisik, salah satunya adalah latihan Brand-Darrof.
25
Gambar 4. Terapi Brandt Darrof
Keterangan Gambar:
 Ambil posisi duduk.
 Arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian balik posisi duduk.
 Arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri. Masing-masing gerakan lamanya sekitar satu menit, dapat
dilakukan berulang kali.
 Untuk awal, cukup 1-2 kali kiri dan kanan, semakin lama, semakin bertambah.
2. Terapi Spesifik
1. BPPV
Pada kondisi ini tidak direkomendasikan terapi bat-obatan. Vertigo dapat membaik dengan maneuver rotasi kepala hal ini
akan mmemindahkan deposit kalsium yang bebas ke belakang vestibule,. Manuver ini meliputi reposisi kanalit berupa maneuver
epley, modifikasi maneuver epley. Pasien perlu tetap tegak selama 24 jam setelah reposisi kanalit utnuk mencegah deposit
26
kalsium kembali ke kanalis semisirkularis.
2. Vestibular neuronitis dan Labirynthis
Terapi focus pada gejala menggunakan terapi obat-obatan yang mensipresi vestibular yang diikuti dengan latihan
vestibular. Kompensasi vestibular terjasi lebih cepat dan lebih sempurna jika pasien mulai 2 kali sehari latihan vestibular sesegera
mungkin setelah vertigo berkurang dengan obat-obatan.
3. Meniere disease
Terapi dengan menurunkan tekanan endolimfatik. Walaupun diet rendah garam dan diuretic seringkali mengurangi
vertigo, hal ini kurang efektif dalam mengobati ketulian dan tinnitus.
Pada kasus yang jarang intervensi bedah seperti dekompresi dengan shunt endolimfatik atau cochleosacculoctomy
dibutuhkan jika penyakit ini resisten terhadap pengobatan diuretic dan diet.4
27
4. Plan:
DIAGNOSIS KERJA
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Dispepsia
TERAPI
Farmakologis

RL 20 tpm

Omeprazoleinj 1 x 1amp

Betahistinetab 3 x 6 mg

Flunarizinetab 2 x 10 mg

Analsikinj 3 x 1
Nonfarmakologis

Obeservasi keadaan umum dantanda-tanda vital

Istirahat tirah baring

Latihan Brandt – Daroff
5.Follow up
Tanggal 14 November 2018
S : Pusing berputar berkurang
O : KU : TSS
Kes : CM
N : 82 x/mnt
R : 22 x/mnt
28
TD : 110/80 mmHg
S : 36,2 C
Kepala : CA -/- , SI -/Thorax : BJ I – II murni regular, murmur (-), gallop (-)
Suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-.
Abdomen : BU (+)
Extremitas : akral hangat, CRT < 3”
A : BPPV, Dispepsia
P : terapi lanjut
Tanggal 15November 2018
S : Pusing (-)
O : KU : TSS
N : 80x/mnt
Kes : CM
TD : 100/80 mmHg
R : 18 x/mnt
S : 36,5 C
Kepala : CA -/- , SI -/Thorax : BJ I – II murni regular, murmur (-), gallop (-)
Suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-.
Abdomen : BU (+)
Extremitas : akral hangat, CRT < 3”
A : BPPV, Dispepsia
P : Boleh pulang
29
Download