Uploaded by User18147

[REFERAT] - Perforasi Gaster

advertisement
REFERAT
PERFORASI TUKAK GASTER
Pembimbing :
dr. Syamsul Bahri Sp.B
Disusun oleh :
Ajeng Dhian Andari - 030.13.012
KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH
RSUD KARAWANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 28 AGUSTUS – 3 NOVEMBER 2017
LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT
Judul:
PERFORASI TUKAK GASTER
Penyusun:
AJENG DHIAN ANDARI - 030.13.012
Telah disetujui oleh
Pembimbing
(dr. Syamsul Bahri Sp.B)
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya saya
dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagian
Ilmu Bedah Studi Pendidikan Dokter Universitas Trisakti di Rumah Sakit Umum
Daerah Karawang
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini, terutama :
1. dr. Syamsul Bahri Sp.B selaku pembimbing dalam penyusunan makalah.
2. Teman-teman yang turut membantu penyelesaian makalah ini.
3. Serta pihak-pihak lain yang bersedia meluangkan waktunya untuk membantu
saya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Saya
mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dan bertujuan untuk ikut
memperbaiki makalah ini agar dapat bermanfaat untuk pembaca dan masyarakat luas.
Jakarta, Oktober 2017
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................
i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN ..........................................................................
1.1 Latar belakang ...........................................................................
1
1
BAB II
PEMBAHASAN .............................................................................
2.1 Gaster .........................................................................................
2.1.1 Anatomi gaster ..................................................................
2.1.2 Histologi gaster .................................................................
2.1.3 Fisiologi gaster ..................................................................
2.1.4 Pertahanan mukosa gaster .................................................
2.1.5 Kerusakan gaster ...............................................................
2.1.6 Faktor yang mempengaruhi kerusakan gaster ...................
2.2 Perforasi tukak gaster .................................................................
2.2.1 Definisi ..............................................................................
2.2.2 Etiologi ..............................................................................
2.2.3 Epidemiologi .....................................................................
2.2.4 Patofisiologi ......................................................................
2.2.5 Manifestasi klinis ..............................................................
2.2.6 Pemeriksaan penunjang.....................................................
2.2.7 Penatalaksanaan ................................................................
2.2.8 Prognosis ...........................................................................
2
2
2
3
5
6
7
9
10
11
11
11
12
13
14
15
17
BAB III
KESIMPULAN............................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 20
iii
BAB I
PENDAHULUAN
Perforasi tukak gaster adalah penyakit yang disebabkan oleh komplikasi serius
dari penyakit tukak lambung. Tukak lambung merupakan luka yang terjadi pada
lapisan lambung akibat terkikisnya lapisan dinding lambung, yang juga bisa terjadi
pada dinding duodenum. Perforasi dalam bentuk apapun yang mengenai saluran cerna
merupakan kasus kegawatdaruratan bedah.
Setiap tahunnya dilaporkan 4 miliyar orang di seluruh dunia menderita
penyakit tukak gaster. 10% - 14% kasus diantaranya mengalami komplikasi dari
tukak gaster dan 2% - 14% tukak akan mengalami perforasi. Perforasi tukak gaster
merupakan kasus yang jarang, namun dapat mengancam nyawa. Angka mortalitasnya
berkisar dari 19% - 40%.
Penyebab utama bisa karena pemakaian OAINS, steroids, merokok, infeksi
Helicobacter Pylori (H. Pylori) dan diet tinggi garam. Semua faktor ini dapat
mempengaruhi sekresi asam di dalam mukosa lambung. Sulit untuk dapat
menentukan fakor penyebab pada pasien, dan perforasi tukak gaster mungkin
disebabkan oleh beberapa faktor.
Kecederaan berkaitan usus yang disebabkan oleh endoskopi (endoscopyassociated bowel injuries) jarang menyebabkan terjadinya perforasi. Contohnya,
dilaporkan
perforasi
yang
berkaitan
dengan
endoscopy
retrograde
cholangiopancreatography (ERCP) terjadi pada 1% pasien.
Tatalaksana dari perforasi tukak gaster bisa dilakukan secara konservatif, atau
dilakukan pembedahan. Bila terlambat ditangani, perforasi bisa menyeybabkan
peritonitis yang bisa mengancam nyawa.
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Gaster
2.1.1 Anatomi gaster
Gaster merupakan bagian dari traktus gastrointestinal pertama yang berada di
intra abdominal, terletak di antara esophagus dan duodenum. Terletak pada daerah
epigastrium dan meluas ke hipokondrium kiri, berbentuk seperti huruf “J”. Seluruh
organ lambung terdapat di dalam rongga peritoneum dan ditutupi oleh omentum.
Gaster terbagi atas 4 daerah secara anatomik, yaitu : pars cardiaca bagian
gaster gaster yang berhubungan dengan esofagus dimana didalamnya terdapat ostium
cardiacum. Fundus gaster bagian yang berbentik seperti kubah yang berlokasi pada
bagian kiri dari kardia dan meluas ke superior melebihi tinggi pada bagian
gastroesofageal junction. Korpus gaster merupakan 2/3 bagian dari lambung dan
berada di bawah fundus sampai ke bagian paling bawah yang melengkung ke kanan
membentik huruf “J”. Pars pilori teridiri dari dua bagunan yaitu anthrum pyloricum
dan pylorus. Didalam anthrum pyloricum terdapat canalis pyloricus dan didalam
pylorus terdapat ostium pyloricum yang dikelilingi m. Sphincter pyloricus.
Gambar 1. Anatomi gaster
2
2.1.2 Histologi gaster
Gaster terdiri dari beberapa lapisan, yaitu tunika mukosa (epitel, lamina
propria, muskularis mukosa), submokosa, tunika muskularis, dan tunika serosa.
Gambar 2. Gstroesofageal junction
Mukosa gaster dilapisi oleh epitel kolumner simpleks non goblet, peralihan
jenis sel yang sangat nyata terdapat pada celah gastroesofageal, yaitu dari epitel
skuamous simpleks menjadi epitel kolumner simpleks.
Mukosa gaster yang kosong mengadakan lipatan – lipatan yang memanjang,
atau rugae, dan akan menjadi rata jika gaster dalam keadaan penuh, sehingga
permukaan relatif licin. Namun bila diamati lebih dekat tampak alur pola sempit
saling behubungan yang membatasi daerah – daerah cembung berdiameter 2 – 4 mm.
Bila daerah ini diamati dengan pembesaran, masing – masing ditandai dengan banyak
sekali foveola gastrika dangkal. Pada gambaran histologik, foveola itu tampak sebagai
invaginasi tubuler epitel permukaan, yang merupakan sebagian besar dari mukosa.
Mukosa gaster biasanya ditutupi oleh lapisan mukus pelumas yang melindungi epitel
terhadap abrasi oleh makanan.
Lamina proposa terdiri atas anyaman longgar serta retikuler dan kolagen dan
sedikit sekali elastin. Selain fibroblast, anyaman fibrosa ini mengandung limfosit,
eosinophil, sel mast dan beberapa sel plasma. Disini terdapat banyak kelenjar.
Umumnya terdapat kumpulan kecil – kecil jaringan limfoid.
Submukosa adalah lapisan jaringan ikat padat yang cukup tebal dengan berkas
serat kolagen kasar dengan banyak serat elastin. Terdapat banyak sel – sel limfosit,
eosinophil, sel mast dan sel plasma. Sedikit sel adiposa terdapat disini. Pada lapisan
3
ini pula terdapat banyak arteriol, sebuah pleksus venosus dan jaringan limfe. Tidak
dijumpai adanya kelenjar.
Gambar 3. Gaster dan lapisan ototnya
Otot dinding lambung dikatakan terdiri dari tiga lapisana otot yaitu oblique,
sirkuler, dan longitudinal, namun lapisan – lapisan ini saling menyatu pada bidang
temunya dan tidak jelas batas – batasnya. Kontraksi muskularis diatus dengan amat
tepat oleh pleksus saraf otonom di antara lapis – lapis ini.
Tunika serosa merupakan lapisan yang melapisi gaster.
Kelenjar gaster dibagi menjadi tiga zona, yaitu kelenjar kardiaka, kelenjar
oksintik, dan kelenjar pilorus. Kelenjar kardiaka berbentuk tubular panjang yang
muncul dari foveola dangkal dalam zona sempit (1 – 3 cm) di sekitar batas antara
esofagus dan gaster. Kebanyakan dari kelenjar kardiaka menghasilkan gastrin, sebuah
hormon polipeptida yang merangsang aktivitas sekresi kelenjar dalam korpus, dan
mempengaruhi motilitas gaster.
Kelenjar oksintik merupakan kelenjar fundus dan korpus yang menghasilkan
sebagian besar getah gaster. Satu sampai tujuh kelenjar muncul dari satu foveola.
Kelenjar oksintik meluas ke bawah. Menempati sebagian besar ketebalan mukosa.
Kelenjar oksintik memiliki tiga tipe utama sel, yaitu sel zimogenik (chief cell), sel
parietal, dan sel mukus (neck cell). Sel zimogenik mensekresi pepsinogen yang akan
diubah menjadi pepsin pada keadaan asam. Sel parietal mensekresikan asam
hidroklorida (HCl) dan faktor intrinsik. Sedangkan sel mukus berfungsi untuk
mensekresi mukus.
4
Kelenjar pilorus menempati 4 – 5 cm gaster bagian distal. Di daerah ini,
foveola gastrika lebih dalam dari pada di bagian korpus gaster, menjulur ke bawah
sampai setengah tebal mukosa. Kelenjar pilorus memiliki lumen lebih besar dan lebih
bercabang dan berkelok dari pada kelenjar oksintik. Jenis sel utama adalah sel
penggetah-mukus yang mirip dengan sel mukus dari kelenjar oksintik. Selain mukus,
sel – sel ini mensekresi enzim lisozim yang secara efektif menghancurkan bakteri.
2.1.3 Fisiologi gaster
Gaster merupakan organ yang berfungsi sebagai reservoar, alat untuk
mencerna makanan secara mekanik, dan kimiawi. Makanan yang ditelan mengalami
homogenisasi lebih lanjut oleh kontraksi otot dinding gaster, dan secara kimiawi
diolah oleh asam dan enzim yang disekresi oleh mukosa lambung. Saat makanan
sudah menjadi kental, sedikit demi sedikit mendesak masuk ke dalam duodenum.
Gaster memiliki fungsi motorik serta fungsi pencernaan dan sekresi. Fungsi
motorik meliputi fungsi menampung dan mencampur makanan serta pengosongan
lambung, sedangkan fungsi pencernaan dan sekresi meliputi pencernaan protein,
sintesis dan pelepasan gastrin, sekresi faktor intrinsik, sekresi mukus, serta sekresi
bikarbonat.
Fungsi penyimpanan gaster yaitu ketika makanan masuk ke dalam gaster,
makanan membentuk lingkaran konsentris makanan dibagian oral gaster, makanan
yang paling baru terletak paling dekat dengan dinding luar gaster. Normalnya, bila
makanan meregangkan gaster, “reflex vasocagal” dari gaster ke batang otak dan
kemudian kembali ke lambung akan mengurangi tonus di dalam dinding otot korpus
gaster sehingga dinding menonjol keluar secara progresif, menampung jumlah
makanan yang makin lama makin banyak sampai suatu batas saat gaster berelaksasi
sempurna, yaitu 0,8 – 1,5 liter. Tekanan dalam gaster akan tetap rendah sampai batas
ini dicapai.
Sekresi gaster dikendalikan oleh mekanisme neural dan humoral. Komponen
saraf adalah refleks otonom lokal yang melibatkan neuron – neuron kolinergik dan
impuls – impuls dari susunan saraf pusat melalui saraf vagus.
Aktivitas sekresi gaster sangat ditingkatkan pada awal makan saat kemo dan
mekanoreseptor dalam rongga mulut dirangsang oleh pengunyahan dan pengecapan
makanan. Impuls aferen dan reseptor ini menuju ke otak dan diteruskan ke serat
5
eferen dalam saraf vagus yang bekerja langsung pada sel – sel oksintik untuk
meningkatkan sekresi asam.
Bersamaan waktu neuron dalam pleksus saraf intrinsik terangsang oleh eferen
vagus, membangkitkan impuls yang menginduksi sel-G untuk membebaskan gastrin,
yang memiliki efek stimulasi kuat pada sel – sel oksintik. Ada bukti bahwa
pembebasan gastrin dapat distimulasi oleh peptida dan produk asam amino dari
pencernaan oleh kafein, dan oleh konsentrasi rendah alkohol yang masuk bersama
makanan.
Hormon – hormon dasar atau neurotransmitter yang secara langsung
merangsang sekresi kelenjar gaster adalah histamin, asetilkolon, dan gastrin. Sekresi
asam lambung dirangsang oleh histamin melalui reseptor H2, asetilkolin melalui
reseptor muskarinik M1, dan oleh gastrin melalui reseptor gastrin di membran sel
parietal. Reseptop H2 meningkatkan AMP siklik intrasel sedangkan reseptor
muskarinik dan reseptor gastrin menimbulkan efek melalui peningkatan kadar Ca2+
bebas intrasel. Proses – proses intrasel saling berinteraksi sehingga pengaktifan salah
satu jenis reseptor akan memperkuat respon reseptor lain terhadap rangsangan.
2.1.4 Pertahanan mukosa gaster
Mukus lambung penting dalam pertahanan mukosa dan dalam mencegah
ulserasi peptik. Mukus lambung disekresi oleh sel mukosa pada epitel mukosa gaster
dan kelenjar gaster. Sekresi mukus dirangsang oleh iritasi mekanis atau kimiawi dan
oleh rangsangan kolinergik. Mukus lambung terdapat dalam dua fase, yaitu cairan
lambung pada fase terlarut dan sebagai lapisan jeli mukus yang tidak larut, dengan
tebal sekitar 0.2 mm yang melapisi permukaan mukosa lambung. Normalnya gel
mukus disekreisi secara terus menerus oleh sel epitel mukosa lambung dan secara
kontinyu dilarutkan oleh pepsin yang disekresi ke dalam lumen lambung. Ketebalan
jeli meningkat dengan adanya prostaglandin dan berkurang dengan adanyna obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).
Permukaan lumen dan sambungan interseluler yang ketat dari sel epitel gaster
memberikan barier mukosa lambung yang hampir secara keseluruhan impermeable
terhadap difusi baik ion – ion hidrogen dari luman pada keadaan normalnya. Barier
ini menjadi komponen penting dari resistensi mukosa terhadap jejas asam peptic.
Barier ini dapat terputus oleh asam empedu, salisilat, etanol, zat kimia, dan asam
asam lemah organik, sehingga memungkinkan terjadinya difusi balik ion – ion
6
hidrogen dari lumen ke dalam jaringan gaster. Hal ini dapat menyebabkan jejas sel,
pelepasan histamin dari sel mast, rangsangan sekresi asam yang lebih lanjut,
kerusakan pembuluh darah kecil, perdarahan mukosa, dan erosi atau ulserasi.
Penurunan aliran darah mukosa lambung, yang disertai oleh difusi balik ion hidrogen
dari lumen, penting dalam menimbulkan kerusakan lambung.
Seseorang yang mendapatkan terapi kortikosteroid, maka pertahanan alami
yang mencegah erosi akan melemah sehingga mengakibatkan tukak peptik.
Mekanisme lain, glukokortikoid mempengaruhi reaksi inflamasi dengan menurunkan
prostaglandin.
Prostaglandin yang banyak ditemukan pada mukosa lambung memiliki peran utama
dalam pertahanan sel epitel lambung dan dalam menghasilkan mukus bikarbonat yang
berfungsi dalam pertahanan mukosa dalam mencegang tukak lambung.
2.1.5 Kerusakan gaster
Gastritis merupakan proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submmukosa
gaster yang dapat mengakibatkan kurangnya produksi asam, enzim, dan mukus.
Secara histopatologi dapat dibuktikan adanya infiltrasi sel – sel radang pada daerah
tersebut.
Gastritis dapat bersifat akut dan kronik. Gastritis akut merupakan inflamasi
akut mukosa gaster pada sebagian besar kasus merupakan penyakit ringan dan
sembuh sempurna. Salah satu bentuk gastritis akut yang manifestasi klinisnya dapat
berbentuk penyakit yang berat adalah gastritis erosif, yaitu jenis gastritis yang tidak
menyebabkan peradangan yang signifikan tetapi dapat menyebabkan pelepasan
lapisan gaster. Penyebab umum gastritis erosif adalah penggunaan obat – obatan
jangka panjang OAINS seperti aspirin dan ibuprofen. Penyebab lainnya dapat
disebabkan oleh alkohol, kokain, dan radiasi.
Efek iritasi obat terhadap mukosa lambung pada tiap individu berbeda – beda,
tergantung dosis pemakaian. Obat – obat lain yang mempunyai efek iritasi antara lain
digitalis, yodium, kafein, cinchophen, phenylbutazon, dan antibiotika yang
mempunyai spectrum luas. Gambaran mikroskopis gastritis akut yaitu mukosa
lambung edema sedang dan hiperemik serta dapat disetai perdaraan dan erosi. Pada
keadaan ringan epitel tampak utuh, lamina propria mengandung leukosit neutrofil.
Pada keadaan berat, terjadi gastritis akut hemoragik atau gastritis erosi, permukaan
7
mukosa mengelupas disertai perdarahan dalam lamina propria dan infiltrasi sel radang
leukosit polimorphonuklear.
Gastritis kronik terdiri dari gastritis kronik atrofik dan gastritis kronik
hipertrophica.
Gastritis kronik atrofik mempunyai gambaran hampir selalu khas, yaitu
adanya atrofik progresif dan irreversible mukosa lambung. Dalam hal ini, ditemukan
dua bentuk pada penduduk dengan anemia perniciosa dan tanpa anemia perniciosa.
Gastritis kronik atrofik mempunyai gambaran adanya atrofik progresif dan
irreversible mukosa lambung. Kelenjar mukosa atrofik, sebagian hilang atau hampir
seluruhnya hilang. Infiltrasi radang ditemukan pada lamina propia pada mukosa yang
menipis, berupa limfosit, kadang leukosit PMN dan sel plasma serta eosinofil.
Gastritis kronik hipertrophica memiliki gambaran mikroskopik berupa
penebalan anthrum pylorus disertai lipatan yang menonjol atau berbentuk papil. Hal
ini member kesan bahwa dinding lambung menebal. Pada membrana mukosa terdapat
sel yang mensekresi mukus lebih menonjol dan papil-papil yang dibentuk oleh folikel
limfoid serta kelompok limfosit di daerah sub mukosa. Kelenjar pada mukosa
lambung mengalami dilatasi dan proliferasi epitel.
Ulkus peptik kronik sering ditemukan pad aperbatasa mukosa. Terdapat
kecenderungan bahwa ulserasi sering timbul pada tempat dimana asam dan pepsin
mula – mula mengadakan kontak dengan mukoas yang rentan.
Ulserasi dapat timbul akibat destruksi atau hilangnya barrier mukosa atau
hilangnya intergritas epitel permukaan. Kombinasi asam dan empedu akan merusak
epitel, meningkatkan permeabilitas mukosa.
Tukak peptik yaitu tukak lambung dan tukak duodenum merupakan penyakit
yang masih banyak ditemukan di klinik. Tukak peptik dapat digolongkan dalam dua
bentuk, yaitu tukak peptik akut dan tukak peptik kronik.
Tukak peptik akut berhubungan dengan luka bakar hebat, perdarahan serebral,
pengobatan steroid, tumor hipofise, uremia, dan iritasi bahan kimia. Lokalisasi tukak
umumnya bersifat multiple, dapat ditemukan pada permukaan mukosa lambung dan
kadang pada mukosa duodenum. Tukak lambung umumnya satu atau lebih, kecil, dan
pada mukosa lambung. Tukak lambung dapat menembus ke dalam mukosa tetapi tak
menembus lapisan muskularis mukosa, disertai sebukan sel radang ringan dan tidak
ditemukan perubahan vaskularisasi dan fibrosis.
8
Tukak peptik kronik sering berbentuk soliter yang terjadi pada permukaan
mukosa saluran cerna, merupakan aksi progresif dari asam lambung. Tukak peptik
kronik 98 – 99% terjadi pada lambung dan duodenum.
Tukak peptik kronik memperlihatkan bahwa pada daerah lesi tampak
permukaan dasar tukak terdapat jaringan granulasi serta radang non spesifik, dasar
tukak berupa jaringan ikat tebal, mengandung pembuluh darah end-artery, sel radang
kronik dan jaringan ikat yang menyebar luas. Akibatnya, seluruh jaringan otot diganti
jaringan ikat dan dapat menyebar sampai peritoneum, epitel tepi tukak pada proses
penyembuhan mengalami proliferasi tetapi bagian superfisial sampai muskularis
mukosa masih tersisa.
2.1.6 Faktor yang mempengaruhi kerusakan gaster
1. Infeksi
Infeksi Helicobacter pylori sudah merupakan masalah global, termasuk di
Indonesia karena sudah terbukti paling banyak menginfeksi gaster. Sampai saat ini
masih belum jelas proses penularannya serta patomekanisme infeksi kuman ini pada
berbagai keadaan patologis saluran cerna bagian atas. Infeksi Helicobacter pylori
sering terjadi pada masa kanak-kanak dan dapat bertahan seumur hidup jika tidak
dilakukan perawatan.
Pada tukak peptik infeksi Helicobacter pylori merupakan faktor etiologi yang utama
sedangkan untuk kanker lambung termasuk karsinogen tipe 1, yang definitif. Infeksi
Helicobacter pylori pada saluran cerna bagian atas mempunyai variasi klinis yang
luas, mulai dari kelompok asimtomatik sampai tukak peptik, bahkan dihubungkan
dengan keganasan di lambung seperti adenokarsinoma tipe intestinal atau mucosal
associated lymphoid tissue (MALT) Limfoma.
2. Konsumsi obat berlebihan
Penyakit gastritis akut salah satu penyebabnya adalah karena penggunaan
obat-obatan. Pada penderita yang sering menggunakan OAINS termasuk aspirin,
sering kali mengalami perubahan mukosa gaster dan pendarahan. Efek iritasi obat
terhadap mukosa gaster pada tiap individu 20 umumnya berlainan, tergantung dari
dosis pemakaian.
Obat – obatan lain yang berpengaruh terhadap perubahan mukosa gaster yaitu
digitalis, iodium, antibiotik spectrum luas dan lain-lain. Pathogenesis yang dihasilkan
9
berupa radang akibat iritasi mukosa. Penggunaan kortikosteroid dosis tinggi dan
penggunaan berulang juga dapat meningkatkan pembentukan ulkus.
3. Diet
Makan makanan yang pedas, asam, gorengan, atau berlemak dapat
menyebabkan iritasi pada gaster. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk
menghindari makanan – makanan tersebut.
4. Usia
Semakin tua seseorang maka semakin besar kemungkinan terinfeksi
Helicobacter pylori. Pada orang tua terjadi penipisan lapisan lambung dan produksi
mukus yang berkurang seiring dengan penambahan umur.
5. Rokok dan alkohol
Sakit maag atau gastritis lebih banyak dijumpai pada perokok, dibandingkan
dengan yang bukan perokok seperti yang dikatakan oleh Harrison. Merokok
mengakibatkan penurunan tekanan pada ujung bawah dan atas lambung sehingga
mempercepat terjadinya sakit maag. Pencernaan protein terhambat bagi perokok,
merokok juga mengurangi rasa lapar dan nafsu makan.
2.2
Perforasi Tukak Gaster
2.2.1 Definisi
Perforasi tukak gaster adalah penyakit yang disebabkan oleh komplikasi serius
dari
penyakit
tukak
lambung.
Tukak
lambung
merupakan
luka yang terjadi pada lapisan lambung akibat terkikisnya lapisan dinding
lambung, yang juga bisa terjadi pada dinding duodenum (bagian pertama usus kecil).
Perforasi gastrointestinal merupakan suatu bentuk penetrasi yang komplek
dari dinding lambung, usus halus, usus besar akibat dari bocornya isi dari usus ke
dalam rongga perut. Perforasi dalam bentuk apapun yang mengenai saluran cerna
merupakan suatu kasus kegawatdaruratan bedah.
10
Adapun tipe perforasi dikategorikan atas 4 tipe yaitu;
 Tipe 1 (primary) : berada pada kurvatura minor diantara fundus dan antrum
gaster, biasanya pada usia tua dan berhubungan dengan hiposekresi asam
lambung. Tipe 1 merupakan tipe yang paling sering terjadi (Haile T. Debas).
 Tipe 2 : merupakan kombinasi ulkus gaster dan ulkus duodenal yang berada
pada kurvatura minor dan duodenal.
 Tipe 3 : berada pada prepilorik
 Tipe 4 : berada pada juxtaesofageal dimana berada lebih tinggi dari kurvatura
minor dekat dengan gastroesofageal junction.
2.2.2 Etiologi
 Perforasi non-trauma :

Spontan pada bayi baru lahir yang terimplikasi syok dan stress ulcer.

Komplikasi akut dari ulkus gaster yang bisa disebabkan oleh; infeksi H.
Pylori, obat obatan (OAINS, kortikosteroid), gaya hidup, stress psikologis.

Ingesti aspirin, anti inflamasi non steroid, dan steroid : terutama pada
pasien usia lanjut.
 Perforasi trauma (tajam atau tumpul) :

Trauma iatrogenik setelah pemasangan pipa nasogastrik saat endoskopi.

Luka penetrasi ke dada bagian bawah atau abdomen

Trauma tumpul pada gaster : trauma seperti ini lebih umum pada anak
daripada dewasa dan termasuk trauma yang berhubungan dengan
pemasangan alat, cedera gagang kemudi sepeda, dan sindrom sabuk
pengaman.
2.2.3 Epidemiologi
Pada orang dewasa, perforasi ulkus gaster adalah penyebab umum dari
morbiditas dan mortalitas akut abdomen sampai sekitar 30 tahun lalu. Angka kejadian
menurun secara paralel dengan penurunan umum dari prevalensi ulkus peptik. Ulkus
duodenum 2 – 3 kali lebih sering dari perforasi ulkus gaster.
Setiap tahunnya, dilaporkan 4 miliyar orang di seluruh dunia menderita
penyakit tukak gaster. 10% - 20% kasus diantaranya menderita komplikasi dari tukak
11
gaster dan 2% - 14% tukak akan mengalami perforasi. Perforasi tukak gaster
merupakan kasus yang jarang terjadi, namun dapat mengancam nyawa.
Angka
mortalitasnya mencapai dari 10% - 40%.
2.2.4 Patofisiolgi
Perforasi merupakan komplikasi dari penyakit tukak gaster yang dimana
terjadi bila adanya gangguan ketidakseimbangan antara faktor defensif (mucusbicarbonate layer, prostaglandins, cellular regeneration, mucosal blood flow) dan
agresif (hydrochloric acid, pepsin, ethanol, bile salts, drugs).
Patologi dapat dibagi dalam 3 kategori;
1. H. Pylori positive
H. Pylori hidup di lapisan dalam mukosa terutama mukosa antrum
menyebabkan kelemahan pada sistem pertahanan mukosa dengan mengurangi
ketebalan lapisan mukosan dengan melepaskan berbagai macam enzim seperti urease,
lipase, protease, dan posfolipase dan mengeluarkan berbagai macam sitotoksin yang
dapat menyebabkan vakuolisasi sel – sel epitel. Urease dapat memecah urea dalam
lambung menjadi amonia yang toksik terhadap sel – sel epitel, sedangkan protease
dan fosfolpase A2 menekan sekresi mukus yang menyebabkan daya tahan mukosa
menurun, lalu merusak lapisan kaya lipid pada apikal sel epitel dan melalui kerusakan
sel – sel ini asam lambung berdifusi balik menyebabkan nekrosis yang lebih luas
sehingga terjadi tukak gaster.
2. H. Pylori negative and non-NSAID associated
Ulkus juga dapat timbul tanpa adanya infeksi H. Pylori dan konsumsi NSAID.
Contohnya Zollinger-Ellison syndrome, Cushing’s ulcer, dan high-dose upper
abdominal radiotherapy merupakan idopatic ulcers.
3. NSAID associated
Ulkus akibat NSAID timbul disebabkan oleh terjadinya supresi pembentukan
prostaglandin pada gaster. Prostaglandin berperan penting dalam mempertahankan
integritas mukus gaster.
Cyclo-oxygenase (COX 1 dan COX 2) inhibitor diduga yang menyebabkan
ulkus gaster. Perlekatan neutrofil diketahui dapat menyebabkan kerusakan pada
mukosa dengan meningkatkan kadar radikal bebas, produksi protease, dan penurunan
aliran darah kapiler. NSAID dapat menginhibit Nitric oxide (NO) dan hydrogen
sulphide (H2S), yang dimana NO dan H2S sangat berperan dalam menjaga integritas
12
mukosa gaster. Peran NO dan H2S dalam menjaga integritas adalah meningkatkan
aliran darah ke mukosa, menstimulasi sekresi mukosa, dan menginhibit perlengketan
neutrofil.
Gambar 4. NSAID drugs induced mucosal injury
2.2.5 Manifestasi klinis
Secara umum, nyeri abdomen yang disebabkan oleh perforasi ulkus peptikum
terjadi sangat mendadak pada abdomen bagian atas. Sebagian besar pasien
menunjukkan gejala yang jelas. Secara umum episode dari perforsi ulkus peptikum
dibagi menjadi tiga fase :
a. Peritonitis kimia. Pada saat awal perforasi menimbulkan peritonitis kimia, dengan
atau tanpa kontaminasi mikroorganisme. Bocornya isi gastroduodenum biasanya
terjadi difuse tetapi dapat pula terlokalisir pada abdomen bagian atas dengan
adanya adhesi dari omentum.
b. Fase intermediate. Setelah 6 – 12 jam pasien dapat menunjukkan penurunan gejala
nyerinya. Hal ini mungkin disebabkan oleh dilusi dari cairan gastroduodenum
dengan adanya eksudat peritoneal.
13
c. Fase infeksi abdomen. Jika pasien belum dilakukan operasi, setelah 12 – 24 jam
akan terjadi infeksi intraabdomen.
Nyeri perut hebat yang makin meningkat dengan adanya pergerakan disertai
nausea, vomitus, pada keadaan lanjut disertai demam dan mengigil. Perforasi gaster
akan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang mengalami perforasi akan tampak
kesakitan hebat, seperti ditikam di perut. Nyeri ini timbul mendadak, terutama
dirasakan di daerah epigastrium karena rangsang peritoneum oleh asam lambung,
empedu dan/atau enzim pankreas. Cairan lambung akan mengalir ke kelok parakolika
kanan, menimbulkan nyeri perut kanan bawah, kemudian menyebar ke seluruh perut
menimbulkan nyeri seluruh perut. Pada awal perforasi, belum ada infeksi bakteria,
fase ini disebut fase peritonitis kimia. Adanya nyeri di bahu menunjukkan adanya
rangsangan peritoneum di permukaan bawah diafragma. Reaksi peritoneum berupa
pengenceran zat asam yang merangsang itu akan mengurangi keluhan untuk
sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria.
Rangsangan peritoneum
menimbulkan nyeri tekan dan defans muskuler. Pekak hati bisa hilang karena adanya
udara bebas di bawah diafragma. Peristaltis usus menurun sampai menghilang akibat
kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakteria, suhu badan
penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi, dan penderita tampak letargik
karena syok toksik.
Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri pada setiap
gerakan yang menyebabkan pergeseran peritoneum dengan peritoneum. Nyeri
subjektif
dirasakan
waktu
penderita
bergerak,
seperti
berjalan,
bernapas,
menggerakkan badan, batuk, dan mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri ketika
digerakkan seperti pada saat palpasi, tekanan dilepaskan, colok dubur, tes psoas, dan
tes obturator.
2.2.6 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dari perforasi gastrointestinal yang cepat dan dapat
diandalkan adalah pemeriksaan radiologi, sangat penting
karena seringkali
dibutuhkan tindakan pembedahan yang segera. Radiologist memainkan peranan
penting dalam hal membantu ahli bedah untuk memilih prosedur diagnosis dan
memutuskan pasien dioperasi atau tidak. Deteksi dari pneumoperitoneum yang
minimal pada pasien akut abdomen yang disebabkan oleh perforasi gastrointestinal
merupakan
tugas
utama
yang
sangat
penting.
Seorang
radiologist
yang
berpengalaman dengan menggunakan tehnik radiologis dapat mendeteksi udara bebas
14
minimal 1 ml. Tehnik yang paling sering digunakan adalah foto rongent abdomen
posisi tegak dan left lateral decubitus (LLD).
Meskipun pada saat ini penggunaan tehnik diagnostik yang modern
meningkat, pemeriksaan rongent masih merupakan pemeriksaan pertama yang
penting dan masih merupakan tantangan bagi radiologist. Rongent masih merupakan
pemeriksaan yang mudah, murah dan tersedia serta cepat dalam melihat adanya udara
bebas. Kualitas film dan posisi pasien sangat penting. Setiap pasien memerlukan
posisi yang adekuat sekitar 10 menit sebelum dilakukan rongent, sehingga udara
dapat mencapai posisi tertinggi dari abdomen.
2.2.7 Penatalaksanaan
Ide awal untuk penatalaksanaan konservatif berawal dari Crisp 1843 dimana
dia menyatakan bahwa perforasi gaster akan menutup sendiri dengan adanya adhesi
dengan jaringan sekitar untuk mencegah kebocoran dari gaster ke rongga peritoneum.
Alasan-alasan dilakukannya terapi konservativ pada pasien dengan perforasi gaster
adalah :

Peritonitis tidak menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan kemampuan
peritoneum untuk melokalisir dan menyerap kontaminan.

Pada perforasi gastroduodenal, kavum peritoneum masih steril sampai dengan 12
jam karena jumlah bakteri yang minimal pada traktus gastrointestinal bagian atas.

Seringkali, setelah membuka cavum peritoneum untuk pembedahan pada perforasi
ulkus peptikum, ternyata didapatkan bahwa perforasi telah ditutupi oleh plug
omentum dibawah hepar.
Metode Taylor untuk penatalaksanaan konservatif diperkenalkan pertama kali
tahun 1946, hal ini berdasarkan teori dekompressi gaster yang efektif dan drainase
kontinyu akan meningkatkan kemampuan penyembuhan. Hal ini memungkinkan
terapi dengan cara aspirasi nasogastrik, antibiotik, pemberian terapi cairan dan triple
terapi H. Pylori.
Johan Mikulicz-Radecki (1850-1905) adalah ahli bedah pertama yang
melakukan operasi penutupan perforasi ulkus peptikum dengan prosedur penutupan
perforasi yang simple. Dikatakan bahwa setiap dokter yang menghadapi perforasi
gaster harus melakukan operasi laparatomi, mencari perforasi, dan mencegah
inflamasi dengan cara membersihkan rongga abdomen dengan hati-hati.
15
Manajemen konservatif pada perforasi ulkus peptikum adalah pemberian
cairan intravena, antibiotik intravena (Cefotaxim dan Metronidazole) dan omeprazole
intravena. Pemasangan NGT no 18 dengan suction berkala. Penempatan tube pada
distal kurvatura mayor sangat penting. Pencatatan input dan output setiap 2 jam,
dicatat denyut nadi, tekanan darah, dan temperatur. Abdomen dievaluasi untuk
distensi, nyeri, dan peristaltik. Selama 2 -3 hari pertama pasien dipuasakan. Terapi
konservativ dihentikan bila pasien tidak menunjukkan perbaikan dengan peningkatan
denyut nadi, demam, distensi abdomen atau nyeri setelah 12 jam terapi. Pemberian
cairan melalui NGT dilakukan pada hari ke 4 -5. Pasien secara hati-hati diamati
adanya tanda-tanda peritonitis. Jika dapat ditoleransi dengan baik maka NGT dilepas
dan mulai diberikan makanan cair.
Saat ini, pembedahan untuk penyakit ulkus pepikum terbatas pada penanganan
komplikasinya seperti perforasi, perdarahan dll. Pada perforasi gaster, terapi
konservatif dapat dilakukan pada beberapa kasus. Jika diperlukan tindakan
laparatomi, penutupan yang simple sudah cukup untuk kebanyakan kasus, dan
pembedahan ulkus peptikum definitif tidak lagi dibutuhkan untuk pasien-pasien
tersebut.
Operasi untuk perforasi gaster dapat dilakukan secara laparaskopi dan
pembedahan terbuka dengan hasil yang sama, dilaporkan sedikit komplikasi dari
teknik laparaskopi berupa infeksi luka operasi. Saat ini metode laparaskopi lebih
sering dilakukan.
Tujuan dari terapi bedah adalah :

Koreksi masalah anatomi yang mendasari

Koreksi penyebab peritonitis

Membuang setiap material asing di rongga peritoneum yang dapat
menghambat fungsi leukosit dan mendorong pertumbuhan bakteri (seperti
darah, makanan, sekresi lambung)
Pre-operatif
1. Koreksi ketidakseimbangan cairan atau elektrolit. Ganti kehilangan cairan
ekstraseluler dengan cairan yang mempunyai komposisi elektrolit sama seperti
plasma
2. Antibiotik sistemik seperti ampisilin, gentamisin, dan metronidazol
3. Pasang kateter urin untuk menghitung output cairan
16
4. Analgetik seperti morfin, dengan dosis kecil, dianjurkan secara continous
infusion
Intra-operatif
Manajemen operasi tergantung kepada kausa dari perforasi. Semua materi
nekrosis dan cairan yang terkontaminasi harus dibuang dan diteruskan dengan lavase
dengan antibiotik (tetrasiklin 1mg.mL).
Beberapa metode pembedahan untuk terapi perforasi ulkus peptikum,
diantaranta:

Omenplasty simple

Penjahitan perforasai dengan bvagotomy, biasanya vagotomy perforasi gaster
proksimal (PGV)

Trunkal vagotomy dengan gastroenteric anastomosis jika terjadi stenosis

Eksisi tepi perforasi tanpa vagotomy (pada pasien dengan risiko tinggi)

Gastrektomi parsial pada pasien dengan risiko operasi yang rendah
Post-operatif
1. Menggantikan cairan secara intravena (tujuannya adalah untuk menjaga volume
intravaskular dan hidrasi pasien. Dimonitor dengan perhitungan output urin)
2. Drainase nasogastric
3. Antibiotik (tujuan pemberian antibiotik pada post operasi adalah untuk mencapai
kadar antibiotik pada tempat infeksi yang melebihi konsentrasi inhibisi
minimum
pertumbuhan patogen. Pada infeksi
intra abdomen, fungsi
gastrointestinal sering terhambat. Oleh karena itu, pemberian antibiotik secara
oral tidak efektif dan dianjurkan pemberian secara intravena)
4. Analgesik
2.2.8 Prognosis
Banyak sistem skoring yang digunakan untuk menilai prognosis mortalitas dan
morbiditas pda perforasi ulkus peptikum. Semua sistem skoring seperti Boeys skor,
mannheim peritonitis index (MPI), American society of Anesthesiologist score, Acute
Physiology and Chronic Health Evaluation (APACHE II) telah digunakan untuk
memprediksi angka mortalitas perforasi gaster pre-operatif.
Apabila tindakan operasi dan pemberian antibiotik berspektrum luas cepat
dilakukan maka prognosisnya dubia ad bonam. Sedangkan bila diagnosis, tindakan,
17
dan pemberian antibiotik terlambat dilakukan maka prognosisnya menjadi dubia ad
malam.
Hasil terapi meningkat dengan diagnosis dan penatalaksanaan dini.
Faktor-faktor berikut akan meningkatkan resiko kematian :
 Usia lanjut
 Adanya penyakit yang mendasari sebelumnya
 Malnutrisi
 Timbulnya komplikasi
18
BAB III
KESIMPULAN
Perforasi tukak gaster adalah penyakit yang disebabkan oleh komplikasi serius
dari penyakit tukak lambung. Tukak lambung merupakan luka yang terjadi pada
lapisan lambung akubat terkikisnya lapisan dinding lambung, yang jugas bisa terjadi
pada dinding duodenum. Perforasi dalam bentuk apapun yang mengenai saluran cerna
merupakan kasus kegawatdaruratan bedah.
Penyebab utama bisa karena pemakaian OAINS, steroids, merokok, infeksi
Helicobacter Pylori (H. Pylori) dan diet tinggi garam. Semua faktor ini dapat
mempengaruhi sekresi asam di dalam mukosa lambung. Sulit untuk dapat
menentukan fakor penyebab pada pasien, dan perforasi tukak gaster mungkin
disebabkan oleh beberapa faktor.
Kecederaan berkaitan usus yang disebabkan oleh endoskopi (endoscopyassociated bowel injuries) jarang menyebabkan terjadinya perforasi. Contohnya,
dilaporkan
perforasi
yang
berkaitan
dengan
endoscopy
retrograde
cholangiopancreatography (ERCP) terjadi pada 1% pasien.
Pasien menunjukan gejala klinis seperti nyeri abdomen yang disebabkan oleh
perforasi ulkus gaster terjadi sangat mendadak pada abdomen bagian atas. Sebagian
besar pasien menunjukkan gejala yang jelas. Bila sudah terjadi komplikasi peritonitis
bakteri bisa menimbulkan gejala sistemik seperti suhu badan penderita akan naik dan
terjadi takikardia, hipotensi, dan penderita tampak letargik karena syok toksik.
Untuk
mencegah
terjadinya
komplikasi
peritonitis
harus
dilakukan
penatalaksanaan segera, konservatif maupun tindakan pembedahan. Tatalaksana
konservatif berupa pemberian cairan intravena, antibiotik intravena (Cefotaxim dan
Metronidazole) dan omeprazole intravena dan pemasangan NGT no 18 dengan
suction berkala. Jika diperlukan tindakan pembedahan, dilakukan laparatomi,
penutupan yang simple sudah cukup untuk kebanyakan kasus.
19
DAFTAR PUSTAKA
1. Pieter, John, editor : Sjamsuhidajat,R. dan De Jong, Wim, Bab 31 : Lambung
dan Duodenum,
Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC : Jakarta, 2004. Hal.
541-59.
2. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga, Jilid 2, editor : Mansjoer, Arif.,
Suprohalta.,
Wardhani,
Wahyu
Ika.,
Setiowulan,
Wiwiek.,
Fakultas
Kedokteran UI, Media Aesculapius, Jakarta : 2000
3. Sylvia A.Price, Lorraine M. Wilson, Patofisiologi Konsep Klinis prosesproses penyakit volume 1, Edisi 6, EGC : Jakarta, 2006
4. http://www.medcyclopaedia.com/library/topics/volume_vii/g/gastric_rupture
Gharehbaghy, Manizheh M., Rafeey, Mandana., Acute Gastric Perforation in
Neonatal Period
5. Thorsen K, Soreide JA, Kvaliy JT, Glomsaker T, Soreide K. Epidemiology of
Perforated Peptic Ulcer: Age- and gender adjusted analysis of inceidence and
mortality. World J Gastroenterol. 2013 Jan 21; 19(3_: 347-354
6. Gisbert JP, Legido J, Garcia-Sanz I, Pajare JM. Helicobacter Pylory and
Perforated peptic ulcer prevelance of the infection and role of non-steroidal
anti inflammatory drugs. Dig Liver Dis. 2004 Feb; 36(2): 116-20
7.
Chey WD, Wong BC. American College of Gastroenterology guideline on the
management of Helicobacter pylori infection. Am J Gastroenterol. 2007 Aug.
102(8):1808-25.
8.
Pietroiusti A, Luzzi I, Gomez MJ, et al. Helicobacter pylori duodenal
colonization is a strong risk factor for the development of duodenal
ulcer. Aliment Pharmacol Ther. 2005 Apr 1. 21 (7):909-15.
9.
Donovan AJ, Berne TV, Donovan JA. Perforated duodenal ulcer: an
alternative therapeutic plan. Arch Surg. 1998 Nov. 133(11):1166-71.
10.
Berne TV, Donovan AJ. Nonoperative treatment of perforated duodenal
ulcer. Arch Surg. 1989 Jul. 124(7):830-2.
11.
Wong CW, Chung PH, Tam PK, Wong KK. Laparoscopic versus open
operation for perforated peptic ulcer in pediatric patients: A 10-year
experience. J Pediatr Surg. 2015 Dec. 50 (12):2038-40.
20
Download