Uploaded by Adheas Sahry Ramadhan

K3 Mikroorganisme Adheas

advertisement
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Kesehatan dan
Keselamatan Kerja di Laboratorium Mikroorganisme
Program Studi Analis Kesehatan
DISUSUN OLEH
Adheas Sahry Ramadhan (18308016)
POLITEKNIK PIKSI GANESHA
2018/2019
LEMBAR
PENILAIAN TUGAS
MAKALAH INI TELAH DI PERIKSA
Di Bandung tanggal:……………………………………………..
Dengan nilai angka :…………………………………………….
Dosen mata kuliah,
Septiyani Endang Yunitasari , S.HUM., M.SC
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpakhan
Rahmat, Taufik serta Hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ini dengan baik dan lancar.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah kami Ibu
Septiyani Endang Yunitasari , S.HUM., M.SC yang telah membantu kami dalam proses
penyelesaian makalah yang bertemakan “Kecelakaan di Laboratorium, serta
penanganannya”.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, kurang lebihnya mohon maaf apabila
masih ada kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini, atas perhatiannya kami
ucapkan terima kasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Bandung, 28 Desember 2018
Penyusun
i
Daftar Isi
Bab I .............................................................................................................................................................. 1
Pendahuluan .............................................................................................................................................. 1
Bab III ........................................................................................................................................................... 2
Kajian Teori .............................................................................................................................................. 2
Bab III ........................................................................................................................................................... 3
Pembahasan............................................................................................................................................... 3
Laboratorium Mikrobiologi ........................................................................................................... 3
2. Klasifikasi laboratorium mikrobiologi .............................................................................................. 4
3. Tata cara penggunaan alat-alat di laboratorium, yaitu: ..................................................................... 4
4. Standart Operasional Praktek Di Laboratorium Mikrobiologi .......................................................... 7
Penanganan Limbah Pabrik .................................................................................................................. 8
Bab IV ........................................................................................................................................................... 9
Penutup ..................................................................................................................................................... 9
Kesimpulan ........................................................................................................................................... 9
Saran ..................................................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka ............................................................................................................................................. 10
ii
Bab I
Pendahuluan
Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa, dosen, peneliti dan sebagainya, melakukan
percobaan. Percobaan yang dilakukan menggunakan berbagai bahan kimia, peralatan gelas dan
instrumentasi khusus yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan bila dilakukan dengan cara yang
tidak tepat. Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian atau kecerobohan kerja, ini dapat membuat
orang tersebut cedera, dan bahkan bagi orang disekitarnya. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan
dambaan bagi setiap individu yang sadar akan kepentingan kesehatan, keamanan dan kenyamanan kerja.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Mikroorganisme lab bekerja
2. Apa yang harus dperhatikan dalam lab mikroorganisme
3. Bagaimana tata cara penggunaan alat-alat di lab mikroorganisme
4. Bagaimana penanganan limbah pabrik
C. Tujuan Masalah
1. Menjelaskan tentang lab mikroorganisme
2. Yang harus di perhatikan sebelum melakukan praktikum di lab mikroorganisme
3. Menjelaskan tata cara penggunaan alat-alat di lab mikroorganisme
4. Menjelaskan penanganan limbah pabrik
5. Dan sebagai pelengkap tugas mata kuliah Keselamatan & kesehatan kerja
1
Bab III
Kajian Teori
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme yang tidak dapat dilihat
dengan mata telanjang untuk meneliti apa saja yang terkandung di dalam mikroorganisme. Dalam
meneliti mikroorganisme diperlukan teknik atau cara – cara khusus untuk mempelajarinya serta untuk
bekerja pada skala laboratorium untuk meneliti mikroorganisme baik sifat maupun karakteristiknya, tentu
diperlukan adanya pengenalan alat yang akan digunakan serta mengetahui cara penggunaan alat – alat
yang berhubungan dengan penelitian unutk memudahkan dalam melakukan penelitian.
Alat – alat yang digunakan dalam penelitian harus dalam keadaan steril atau bebas dari kuman, bakteri,
virus dan jamur. Perlu adanya pengetahuan tentang cara – cara atau teknik sterilisasi. Hal ini dilakukan
karena alat – alat yang digunakan memiliki teknik sterilisasi yang berbeda.
Laboratorium, seperti layaknya tempat bekerja harus dapat memberikan kenyamanan, kesehatan
dan keamanan kepada semua orang yang bekerja didalamnya, termasuk pengelola laboratorium itu
sendiri. Untuk itu, perlu studi kelayakan mengenai perencanaan dalam merancang laboratorium kimia
yang meliputi adanya prosedur pengoperasian baku yang memerhatikan kesehatan dan keselamatan kerja
( K3 ) dilaboratorium, adanya ventilasi dan perlengkapan pelindung yang berfungsi baik, adanya penataan
dan pengelolaan bahan kimia dan peralatan laboratorium, serta adanya prosedur pengolahan limbah
laboratorium.
Sebelum melakukan praktikum, terlebih dahulu kita harus mengenal atau mengetahui tentang
alat-alat yang digunakan dalam melakukan praktikum tersebut. Hal ini berguna untuk mempermudah kita
dalam melaksanakan percobaan, sehingga resiko kecelakaan di laboratorium dapat ditanggulangi.
Kebersihan dan kesempurnaan alat sangat penting untuk bekerja di laboratorium. Alat yang kelihatan
secara kasat mata, belum tentu bersih, tergantung pada pemahaman seorang analis mengenai apa artinya
bersih. Alat kaca seperti gelas piala atau erlenmeyer paling baik dibersihkan dengan sabun atau deterjen
sintetik. Pipet, buret, dan labu volumetrik mungkin memerlukan larutan deterjen panas untuk bisa bersih
benar .
2
Bab III
Pembahasan
Laboratorium Mikrobiologi
Laboratorium mikrobiologi awalnya digunakan sebagai sarana penunjang diagnosis,
semakin majunya ilmu pengetahuan maka fungsi laboratorium semakin meningkat, tidak
hanya untuk diagnosis tetapi mencakup bidang pelayanan, pendidikan, penelitian bahkan
dibidang perlindungan tanaman laboratorium mikrobiologi diperlukan dalam pengembangan agens
pengendali hayati (APH) untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Dalam mengembangkan APH dilaboratorium diperlukan prinsip -prinsip keamanan dan
keselamatan kerja, mengingat bekerja dengan mikroorganisme juga mempunyai resiko yang sama
bahayanya dengan penggunaan bahan kimia maupun radioaktif.Dalam beberapa studi kasus
dilaboratorium ada sekitar 20% dari seluruh kasus yang terjadi di laboratorium terjadi
dikarenakan terinfeksi olehmikroorganisme -mikroorganisme yang merugikan, oleh karena
itu dalam bekerja di laboratorium perlu berhati -hati dan diperlukan prosedur standar
dan peralatan standar yang dapat menjamin keamanan dan keselamatan personil laboratorium.
Da l a m J o u r n a l C l i n i c a l M i c r o b i o l o g y , p e r n a h d i l a p o r k a n b a h w a
j a m u r Beauveriab a s s i a n a dapat menginfeksi tubuh manusia dan menimbulkan gatal gatal, korengan serta kulit melepuh. Meskipun kasus ini jarang terjadi,akan tetapi personil
di laboratorium perlu mengantisipasi dengan menerapkan standart keamanan dan keselamatan kerja di
laboratorium mikrobiologi kususnyadalampengembangan APH.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu melakukan praktikum di laboratorium
bakteriologi, yaitu:
1.
Melindungi petugas/ Praktikan
 Hindari penyebaran percikan bahan infeksi dari spesimen (mis : saat penanaman /pembakaran dengan
sengkelit
 Tempatkan spesimen pada wadah yang tahan bocor
 Dekontaminasi permukaan meja dengan dekontaminan yang sesuai
 Cuci tangan pada saat yang tepat dengan sabun/desinfektan, jangan menyentuh mulut, hidung dan
mata saat bekerja
 Jangan makan/minum/merokok saat bekerja
 Gunakan jas praktikum saat bekerja
 Hindari luka/tertusuk pada saat bekerja (lakukan segala sesuatu dengan hati-hati)
2.
Melakukan sterilisasi yang cukup sebelum mencuci alat/membuang sisa spesimen
3.
Menyediakan tempat tersendiri untuk peralatan yang digunakan dan telah terkontaminasi dengan bakteri
4.
Menyediakan tempat untuk sampah terkontaminasi dan tidak terkontaminasi
5.
Gunakan sarung tangan dengan tepat
3
2. Klasifikasi laboratorium mikrobiologi
berdasarkan resiko infeksi, mikroorganisme diklasifikasikan ke dalam 4 (empat) kategori :
1. Kategori resiko 1 : tidak menimbulkan resiko / resiko sangat rendah (individu, masyarakat), tidak
menyebabkan penyakit (manusia/ternak).
2. Kategori resiko 2 : menimbulkan resiko sedang (individu), resiko rendah (masyarakat), dapat
menimbulkan sakit akan tetapi tidak menimbulkan bahaya yang serius. Infeksi yang terjadi dapat
dicegah dan resiko penyebaran terbatas.
3. Kategori resiko 3 : menimbulkan resiko tinggi (individu), resiko rendah (masyarakat), dapat
menimbulkan sakit serius tetapi tidak menyebar, tersedia tindakan pencegahan dan pengobatan
efektif.
4. Kategori resiko 4 : menimbulkan resiko tinggi (individu, masyarakat), dapat menimbulkan sakit
serius, sangat menular dan belum tersedia tindakan pencegahan dan pengobatan yang efektif.
Berdasarkan tingkat keamanan biologis laboraturium diklasifikasikan sebagai berikut:
1. laboratorium tingkat keamanan biologis I : menyelenggarakan kegiatan dengan kelompok
mikroorganisme kategori resiko 1.
2. Laboraturium tingkat keamanan biologis II : menyelenggarakan kegiatan dengan kelompok
mikroorganisme kategori resiko 2.
3. Laboraturium tingkat keamanan biologis III : menyelenggarakan kegiatan dengan kelompok
mikroorganisme kategori resiko 3.
4. Laboraturium tingkat keamanan biologis IV : menyelenggarakan kegiatan dengan kelompok
mikroorganisme kategori resiko 4.
Berdasarkan kategori diatas maka laboraturium mikrobiologi untuk pengembangan APH dapat
digolongkan ke dalam kelompok laboratorium tingkat keamanan biologis I dan II,tergantung dari jenis
mikroorganisme yang dikembangkan
3. Tata cara penggunaan alat-alat di laboratorium, yaitu:
1.
Cara menggunakan pipet dan alat bantu pipet
 Hindari memipet dengan mulut, gunakan alat bantu, masukkan sumbat kapas untuk mengurangi
kontaminasi.
 Jangan mencampur bahan infeksi dengan menghisap/meniup pipet
 Jangan mengeluarkan cairan dari dalam pipet secara paksa
 Gunakan kapas yang telah diberi disinfektan bila ada tetesan spesimen yang jatuh di meja, kemudian
kapas di buang di tempat khusus untuk diautoclave
4
 Rendam pipet habis pakai di disinfektan 18-24 jam
2.
Cara menggunakan jarum suntik (kecelakaan penggunaan jarum suntik penyebab umum infeksi yang
terjadi di laboratorium dan fasilitas kesehatan lain)
 Hindari gerakan cepat dan tergesa-gesa saat memegang jarum suntik
 Gunakan sarung tangan
 Buang kelebihan udara, cairan, gelembung secara vertikal ke kapas yang telah ada desinfektan
 Jangan membengkokkan atau memindahkan jarum dengan tangan
 Buang jarum suntik pada tempat khusus sebelum steril
3.
Cara pembukaan wadah
Pembukaan wadah botol atau cawan petri dan tabung biakan, memiliki potensi terinfeksi, karena tak
terlihat dapat menimbulkan aerosol atau kontaminasi pada kulit atau daerah kerja. Pembukaan wadah di
tempat kerja sering dilakukan, bila tidak hati-hati, bahan terinfeksi yang ada dalam wadah dapat
menularkan secara langsung atau jatuh ke tempat kerja. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk
menghindari resiko terinfeksi adalah sebagai berikut :
Buka tutup wadah di tempat kerja dengan hati-hati agar isi dalam wadah tidak terpencar ke luar.
Gunakan jas lab. dan sarung tangan.
Hindari aerosol.
Spesimen yang bocor atau pecah hanya dibuka di dalam Safety Cabinet.




4.
5.
6.
Penerimaan spesimen di Laboratorium
 Laboratorium mempunyai loket khusus penerimaan spesimen. Jika jumlah spesimen tidak
banyak, maka tempat pemeriksaan spesimen dapat dilakukan pada meja khusus dalam areal
laboratorium.
 Spesimen harus di tempatkan dalam wadah yang tertutup rapat untuk mencegah
tumpahnya/bocornya spesimen.
 Wadah harus dapat didisinfeksi atau diautoklaf.
 Wadah terbuat dari bahan tidak mudah pecah/bocor.
 Wadah diberi label tentang identitas spesimen.
 Wadah diletakkan pada baki khusus yang terbuat dari logam atau plastik yang dapat didisinfeksi
atau diautoklaf ulang.
 Baki harus didisinfeksi / diautoklaf secara teratur setiap hari.
 Jika mungkin, wadah diletakkan di atas baki dalam posisi berdiri.
Petugas pembawa spesimen dalam Laboratorium
 Mengenakan jas laboratorium yang tertutup rapat pada bagian depan saat membawa spesimen.
 Membawa spesimen di atas kaki
 Mencuci tangan dengan disinfektan jika terkena tumpahan/percikan dari spesimen.
 Jika spesimen bocor / tumpah di atas baki, dekontaminasi baki dan sisa spesimen diautoklaf.
 Lapor pada petugas/panitia keamanan kerja laboratorium jika terluka saat bekerja.
Tindakan khusus terhadap darah dan cairan tubuh
5
Tindakan di bawah ini dibuat untuk melindungi petugas laboratrorium terhadap infeksi yang
ditularkan melalui darah seperti Virus hepatitis B, HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan lain-lain.
a.
Mengambil, melabel dan membawa spesimen

Gunakan sarung tangan

Hanya petugas lab yang boleh melakukan pengambilan darah.

Setelah pengambilan darah, lepaskan jarum dari sempritnya dengan alat khusus yang sekaligus
merupakan wadah penyimpanan jarum habis pakai. Pindahkan darah ke dalam tabung spesimen
dengan hari-hati dan tutup rapat mulut tabung spesimen. Jarum suntik habis pakai sebaiknya
dibakar dalam alat insinerasi. Jika fasilitas insinerasi tidak tersedia, jarum suntik dan sempritnya
diautoklaf dalam kantong yang terpisah.

Tabung spesimen dan formulir permintaan harus diberi label BAHAYA INFEKSI.
 Masukkan tabung ke dalam kantung plastik untuk dibawa ke laboratorium. Formulir permintaan
dibawa secara terpisah.
b.
c.
Membuka tabung spesimen dan mengambil sampel
 Buka tabung spesimen dalam kabinet keamanan biologis Kelas I dan Kelas II.
 Gunakan sarung tangan
 Untuk mencegah percikan, buka sumbat tabung setelah dibungkus kain kasa.
Kaca dan benda tajam
 Jika mungkin, gunakan alat terbuat dari plastik sebagai pengganti kaca/gelas. Bahan kaca/gelas dapat
dipakai jika terbuat dari borosilikat.
 Sedapat mungkin, hindari penggunaan alat suntik selain untuk mengambil darah.
d.
Sediaan darah pada kaca objek
 Pegang kaca objek dengan forsep.
e.
Peralatan otomatis
 Sebaiknya gunakan alat yang tertutup (enclosed type)
 Cairan yang keluar dari alat/effalut harus dikumpulkan dalam tabung/wadah tertutup atau
dibuang ke dalam sistem pembuangan limbah.
 Jika memungkinkan, alirkan hipoklorit atau glutaraldehid ke dalam alat disinfektan hanya
pada keadaan tertentu.
f.
Melakukan sentrifus
o Gunakan tabung sentrifus yang mempunyai tutup
o Gunakan selongsong/rotor yang dilengkapi penutup.
g.
Jaringan
o Fiksasi jaringan dengan formalin. Spesimen berukuran kecil, seperti dari biopsi jarum, dapat difiksasi
dan didekontaminasi dalam waktu kurang lebih 2 jam, tetapi spesimen berukuran besar membutuhkan
waktu beberapa hari.
o Setelah melakukan potong beku (frozensection), alat (cryotome) haru didekontaminasi.
6
7.
Kecelakaan di Laboratorium
Di laboratorium mikrobiologi, infeksi bakteri merupakan resiko yang sering terjadi sebagai penyebab
penularan utama pada petugas pemeriksa laboratorium.
Oleh sebab itu perlu diupayakan tindakan pencegahan dengan urutan prioritas sebagai berikut :
a. Perlindungan petugas pemeriksa
§ Batasi kontaminasi
§ Dekontaminasi pegawai
§ Dekontaminasi areal yang berhubungan
b. Dekontaminasi kulit
detergen tidak boleh digunakan, perawatan harus dilakukan dengan tidak merusak kulit
c. Dekontaminasi mata
dilakukan dengan perawatan air untuk mencegah penyebaran kontaminasi dari satu area ke area lainnya.
d. Dekontaminasi pakaian
Pakaian yang terkontaminasi harus dipindahkan secepatnya dan diletakkan pada wadah tertentu. Harus
dipindahkan dari lokasi tumpahan sampai kontaminasi dapat termonitor.
e. Dekontaminasi daerah kerja
Daerah yang terkena tumpahan termasuk wadah yang rusak dengan disinfektan. Diamkan 10 menit.
Bersihkan dengan tissue atau lap dengan menggunakan sarung tangan. Dianjurkan disinfektan yang
digunakan adalah Hypochlorite. Bila terjadi kecelakaan diruang kerja laboratorium, batasi orang yang
masuk di daerah tersebut sampai dilakukan monitor terhadap kontaminasi oleh petugas. Kotak peralatan
P3K yang lengkap harus tersedia di laboratorium dan diletakkan di tempat yang diketahui oleh semua staf
laboratorium. Sebaiknya kotak peralatan tersebut disertai dengan petunjuk lengkap tentang pertolongan
pada kecelakaan, terpotong/tersengat, luka bakar, keracunan, shock/collapse serta terbaca oleh semua
staff.
4. Standart Operasional Praktek Di Laboratorium Mikrobiologi
Selain peralatan pendukung laboratorium, juga dierlukan standar operasional dalam praktek di
laboratorium mikrobiologi. Standar operasional tersebut harus dilakukan oleh setiap personil tanpa
terkecuali. Aturan-aturan standar keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium sebagai berikut:
a. mencuci tangan dengan menggunakan sabun dsinfektan ketika memasuki dan meninggalkan ruangan
labor
b. tidak diperbolehkan menyimpan, meletakkan makanan,minuman di labor,tidak boleh meroko di daerah
labor
c. di dalam lokasi labor sebaiknya menggenakan jas labor berlengan panjang dengan kancing di bagian
depan agar mudah dibuka
d. sebaiknya dalam laboratorium menggunakan sepatu khusus, disesuaikan dengan kondisi labor
e.singkirikan barang-barang yang tidak diperlukan dari area kerja
f.bersihkan area kerja dengan menggunakan alkohol sebelum maupun setelah kerja
g. pemberian label pada media/isolat/dll harus secara jelas agar tidak terjadi kekeliruan.
7
h. botol-botol reagen, botol kultur (isolat) harus tertutup rapat dan jangan dibuka klau tidak diperlukan.
i. peralatan inokulasi disterilisasi terlebih dulu dengan api bursen sebelum dan sesudah digunakan
j. perlakukan semua mikrooganisme sebagai pathogen yang berpotensi (beresiko bagi kesehatan) dan
digunakan cara pelindungan yang sesuai
k. gunakan
penyakit
sarung tangan apabila bekerja dengan mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan
l. sterilisasi seluruh bahan dan perlatan laboraturium
m. jangan pernah menggunakan pipet dengan mulut
n. pertimbangkan selalu setiap bahaya yang ada,autoclave terlebih dahulu cairan sisa culture yang tidak
terpakai ebelum membuangnya
o. buang semua materi limbah padat kedalam kantong dan di autoclave sebelum kemudian dibuang
ketempat sampah
p. kenali letak alat-alat keselamatan di laboratorium (p3k, shower, pemadam api)
q. laporkan setiap terjadi kecelakaan sekecil apapun di laboratorium (zat kimi,culture/isolat tumpah rusak)
Penanganan Limbah Pabrik
Cara penangan limbah di laboratorium mikrobiologi dilakukan dengan cara disterilisasi. Hampir semua
tindakan yang dilakukan dalam diagnosa mikrobilogi, sterilisasi sangat diutamakan baik alat-alat yang
dipakai maupun medianya. Bila penanaman spesimen dalam media, petri, ose maupun media yang
digunakan tidak steril, maka sangat tidak mungkin untuk membedakan apakah kuman yang berhasil
diisolasi tersebut berasal dari penderita atau merupakan hasil kontaminasi dari alat-alat atau media yang
digunakan.
Suatu alat atau bahan dikatakan steril bila alat/bahan tersebut bebas dari mikroba baik dalam
bentuk vegetatif maupun sopra. Tindakan untuk membebaskan alat atau media dari jasad renik disebut
sterilisasi. Ada beberapa cara sterilisasi, untuk pemilihannya tergantung dari bahan/alat yang akan
disterilkan. Secara garis besar sterilisasi dapat dibagi sebagai berikut :
A.
Pemanasan
B.
Filtrasi
C.
Penyinaran dengan sinar gelombang pendek (radiasi)
D.
Kimia (khemis)
8
Bab IV
Penutup
Kesimpulan
Laboratorium mikrobiologi awalnya digunakan sebagai sarana penunjang diagnosis, semakin
majunya ilmu pengetahuan maka fungsi laboratorium semakin meningkat, tidak hanya untuk
diagnosis tetapi mencakup bidang pelayanan, pen didikan, penelitian bahkan dibidang
perlindungan tanaman laboratorium mikrobiologi diperlukan dalam pengembangan agens pengendali
hayati (APH) untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Selain peralatan pendukung laboratorium, juga dierlukan standar operasional dalam praktek di laboratorium
mikrobiologi. Standar operasional tersebut harus dilakukan oleh setiap personil tanpa terkecuali.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu melakukan praktikum di laboratorium
bakteriologi, yaitu:
1. Melindungi petugas/praktikan
2. Melakukan sterilisasi yang cukup sebelum mencuci alat/membuang sisa spesimen
3. Menyediakan tempat tersendiri untuk peralatan yang digunakan dan telah terkontaminasi dengan bakteri
4. Menyediakan tempat untuk sampah terkontaminasi dan tidak terkontaminasi
5. Gunakan sarung tangan dengan tepat
Tata cara penggunaan alat-alat di laboratorium
1. Cara menggunakan pipet & alat bantu pipet
2. Cara menggunakan jarum suntik (kecelakaan penggunaan jarum suntik penyebab umum infeksi yang
terjadi di laboratorium dan fasilitas kesehatan lain)
3. Cara pembukaan wadah
4. Penerimaan spesimen di laboratorium
5. Petugas pembawa spesimen di dalam laboratorium
6. Tindakan khusus terhadap darah dan cairan tubuh
7. kecelakaan di laboratorium
Saran
Disarankan kepada praktikan, dosen dan peneliti agar dapat mematuhi prosedur keselamatan kerja di
laboratorium dan harus mempelajari pengantar kecelakaan kerja supaya dapat meminimalisir dan dapat
menangani apabila terjadi kecelakaan di laboratorium.
9
Daftar Pustaka
Notoatmojo,Soekidjo. 2007. Kesehatan masyarakat: ilmu dan seni. Rineka Cipta: Bandung
Fahmi, Irfan, 2016. Dasar-dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Jakarta: KENCANA
https://www.safetyshoe.com/
https://www.academia.edu/
10
Download