BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemeriksaan laboratorium klinik bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosa penyakit, memantau terapi, dan juga sebagai skrining terhadap penyakit tertentu. Hasil yang didapat dalam pemeriksaan laboratorium klinik harus akurat atau dapat menggambarkan kondisi sebenarnya pada penderita. Ada tiga tahap pemeriksaan yang harus diperhatikan dalam menjaga mutu laboratorium yakni pra analitik, analitik dan pasca analitik. Ketiga tahapan ini, saling berhubungan antara satu dengan yang lain dalam menunjang hasil pemeriksaan yang akurat. Masing–masing tahapan memberikan kontribusi kesalahan yang berbeda, tetapi yang memiliki kontribusi kesalahan yang paling besar yakni tahap pra analitik sebesar 61% (Mengko R, 2013). Tahap pra analitik adalah semua proses yang terjadi sebelum sampel diproses dalam autoanalyzer. Termasuk permintaan tes-tes yang tidak tepat, tulisan tangan tidak terbaca pada formulir permintaan, mempersiapkan pasien, menerima spesimen, memberi identitas spesimen, pengambilan sampel yang tidak benar, penundaan transportasi, dan kesalahan pengolahan sampel. Tahap analitik yaitu tahap mulai kalibrasi peralatan laboratorium, sampai dengan menguji ketelitianketepatan dan uji spesimen. Tahap pasca analitik yaitu tahap mulai dari mencatat hasil pemeriksaan, interpretasi hasil sampai dengan pelaporan. Pada tahapan pra analitik inilah yang menentukan apakah akan diperoleh sampel yang baik untuk pemeriksaan laboratorium tersebut, sehingga fase ini sangat berpengaruh terhadap kualitas sampel walaupun tidak dapat dinyatakan secara kuantitas. (Hasan, 2017). Sampel yang buruk akan memberikan hasil pemeriksaan laboratorium yang tidak valid. Ada beberapa alasan yang dapat menyebabkan sampel menjadi tidak layak untuk diperiksa. Alasan yang paling sering menyebabkan ditolaknya sampel pemeriksaan adalah sampel yang membeku untuk tes hematologi dan koagulasi, volume sampel yang tidak mencukupi untuk tes koagulasi, hemolisis, ikterus dan lipemia pada serum dan plasma yang dapat menyebabkan interferensi pada pemeriksaan laboratorium (Hasan, 2017). Pada penanganan dan pengelolaan sampel ada beberapa hal yang harus diperhatikan khususnya untuk pemeriksaan kreatinin darah. Salah satu penanganan dan pengelolaan sampel yaitu pada saat pemprosesan spesimen, untuk mendapatkan serum dengan cepat, darah mesti disentrifus dalam 1 jam setelah pengambilan darah. Bila sentrifugasi dilakukan setelah 2 jam dapat menyebabkan perubahan nilai seperti glukosa, kalium, fosfor, kreatinin, SGOT dan SGPT. Selain itu, suhu reaksi > 30°C menyebabkan peningkatan nilai kreatinin karena efek dari zat mengganggu (Hasan, 2017). Penggunaan alat analitik modern saat ini sangat membantu dalam pemeriksaan laboratorium dengan hasil yang akurat. Pemantapan mutu internal dan eksternal yang dilakukan dengan baik diharapkan dapat mengurangi kesalahan pada proses analitik. Adanya hasil tes yang tidak tepat dalam pemeriksaan hemostasis dapat disebabkan oleh keadaan diluar pemeriksaan itu sendiri terutama dalam proses pre analitik. Keadaan yang dapat menyebabkan kesalahan misalnya dari penanganan sampel yang tidak tepat, atau dari proses pengambilan sampel itu sendiri. Pada keadaan ini maka hasil tes tidak menggambarkan keadaan sampel sesuai keadaan klinis pasien tersebut secara akurat (Adiyanti, 2014). Pada makalah ini akan dibahas tentang salah satu tahap praanalitik yaitu pengambilan spesimen darah. B. Tujuan Mengko R, 2013. Instrumen Laboratorium Klinik. ITB : Bandung Adiyanti, Sri Sutyo. 2014. Preanalitik Pemeriksaan Hemostatis. Departemen Patologi Klinik. Fakultas kedokteran UI. Hasan, Zulfikar Ali. 2017. Variasi Perlakuan Penanganan Sampel Serum dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Pemeriksaan Kreatinin Darah. JST Kesehatan. Vol. 7 No. 1 : 72 – 78. Universitas Hasanuddin