diagnosis penyakit infeksi: perspektif mikrobiologi

advertisement
DIAGNOSIS PENYAKIT INFEKSI: PERSPEKTIF MIKROBIOLOGI
Cucunawangsihl
I
Departemen Milcrobiologi, Fakultas Kedokteran (Jniversitas Pelita Harapan
ABSTRACT
Microbiological examination is a series of work consisting of three phases, which is preanalytic, analytic and post-analytic. Pre-onalytic phase is a critical information step to confirm
the microorganism is responsible for infectious disease. The microbiolog,, laboratory needs a
specimen that has been appropriately selected, collected, and transportedfor analysis. A poorly
collected specimen will be led to the growth of commensal microorganisms/contaminants, and
failure to recover important microorgonism. Specimen wos also collected prior to
administration of antibiotics because it may cause the /lora changes, and leading to potentially
misleading culture results. Analytical phase zs o procedures identification consisting of
morphologic and culture identification, serology analysis, molecular examination, and
antimicrobial susceptibiliQ. Reporting result is part of post-analytical phose in microbiolog,,
examination. The microbiology result should be reported accurately, significant, ond clinically
relevant. The microbiology laboratory is an integral part of the healthcare team, so frequent
communication between clinician and microbiologist is required to get the best outcomes for
patients.
Katu kunci: microbiology
-
specimen
-
culture result
ABSTRAK
Pemeriksaan mikrobiologi merupakan rangkaian kerj a yang terdiri dart tiga tahap, yaitu praanalitik, analitik dan pasca-analitik. Fase pra-analitlk adalah langkah informasi penting untuk
mengkonfirmasi mikroorganisme bertanggung jawab untuk penyakit menular. Laboratorium
mikrobiologi membutuhkan spesimen yang telah tepat dipilih, dikumpulkan, diangkut dan
untuk analisis. Sebuah spesimen dikumpulkan buruk akan menyebabkan pertumbuhan
mikroorganisme komensal/kontaminan, dan kegagalan untuk memulihkan mikroorganisme
penting. Spesimen juga dikumpulkan sebelum pemberian antibiotik karena dapat menyebabkan
perubahan flora, dan menyebabkan berpotensi menyesatkan hasil kultur. Fase analisis adalah
identifikasi prosedur yang terdiri dari morfologi dan identifikasi budaya, analisis serologi,
pemeriksaan molekuler, dan kerentanan antimikroba. Hasil Pelaporan merupakan bagran dari
fase pasca-analitis dalam pemeriksaan mikrobiologi. Hasil mikrobiologi harus dilaporkan secara
akurat, signifikan, dan relevan secara klinis. Laboratorium mikrobiologi merupakan bagian
integral dari tim kesehatan, sehingga komunikasi sering antara klinisi dan ahli mikrobiologi
diperlukan untuk mendapatkan hasil terbaik bagi pasien.
Kata kunci: mikrobiologi
- specimen * hasil kultur
PENDAHULUAN
Dengan demikian terdapat proses interaksi
Dalam memahami penyakit infeksi terdapat
tiga faktor pendukung yang berperan, yaitu
pejamu, lingkungan, dan agen yang menjadi
diperlukan pula faktor esensial berupa waktu
dan tempat untuk dapat menimbulkan suatu
drantara ketiga unsur pendukung tersebut. Juga
faktor penyebab penyakit.
penyakit. Agen penyebab infeksi dapat
diklasifikasikan menjadi bakteri, jamur,
parasit, dan virus.
Cucunawangsin 1Q;
Faculty of Medicine Universitas Pelita
Harapan
Jl. Boulevard Jend.Sudirman, Lippo Karawaci, Tangerang,
Indo nesia. T el: + 62 -21-542 I 0 1 3 0 ; F ax: + 62 -21 -54210133 ;
Email: [email protected]
34
Deteksi adanya mikroorganisme
sebagai
penyebab melalui pemeriksaan mikrobiologi
seperti pewarnaan ataupun kultur akan sangat
membantu klinis dalam menetapkan diagnosis
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
MEDICINUS . Vol. 4 No. 6 Februan2014
- Mei 2014
penyakit infeksi, dan terapi
antibiotika
empiris.3 Pemeriksaan kultur bertujuan untuk
menentukan apakah suatu mikroorganisme
yang ditemukan bertanggungjawab menjadi
penyebab infeksi atau hanya merupakan
kolonisasi saja. Hasil
pemeriksaan
mikrobiologi, terutama kultur akan menjadi
tidak representatif bilamana terjadi
kontaminasi flora normal yang didapat selama
pengumpulan spesimen ke laboratorium.
Pengelolaan spesimen menjadi hal penting
karena proses pengumpulan, pengiriman, dan
penyimpanan yang baik akan _menghasilkan
hasil pemeriks aan yafig akurat.a'5 Pengelolaan
spesimen
yang tidak adekuat
dapat
memberikan hasil negatif atau positif palsu
oleh karena agen biologi yang ditemukan
bukan merupakan penyebab tetapi hanya
kolonisasi/kontaminasi saj a. Klinisi dan tenaga
medis lainnya mempunyai tanggung jawab
dalam pengumpulan dan pengiriman spesimen
ke laboratorium. Validitas hasil pemeriksaan
sangat bergantung pada pengelolaan spesimen
yang akurat dan komprehensif.o
tangan higienis sebelum proses
Cuci
pengambilan spesimen dan tehnik septikantiseptik menjadi komponen penting pada
tatalaksana spesimen mikrobiologi karena
mampu menghilangkan flora normal dan
kontaminasi disekitar lokasi pengambilan
sebesar g}o .s'6 Pengiriman dan perymp anan
yang berkepanj angan pada suhu kamar akan
meningkatkan pula jumlah mikroorganisme
kontaminan pada spesimen. Kontaminasi pada
spesimen steril, seperti darah, cairan
cerebrospinal akan menyesatkan hasil
pemeriksaan dan penggunaan antibiotika
sebagai terapi serta mendorong timbulnya
Mul t idru g- Res is t ant Or ganis ms (MDRO).
KLASIFIKASI BAKTERI
Nomenklatur bakteri menggunakan 2 (dua)
nama yang terdiri dari nama genus dan
epitheton
specificum,
misalnya
Staphylococcus aureus. Berdasarkan sifat
struktural yang terdiri dari bentuk/morfologi,
besar, cara pergerakan, dan reaksinya terhadap
pewarnaan Gram, maka bakteri terbagi
menjadi golongan besar yaitu bakteri Gram
positif dan Gram negatif. Adapun pembagian
tersebut dapat dilihat pada gambar ! dan 2.e
Menurut bentuk/morfologi selnya, maka
bakteri terbagi menjadi kokus, batang, spiral,
dan vibrio/koma.
am postrve
bacilli
Carynehacterium
Clostridium
Listeria
Bacillus
Staphylococcus
catalase *
,
aureuS
Streptococcus
ratalase -
coaEulase
*agulase +
5.
/\/\
,/\
,/\
epidermis
Nnuobipcin
sensitive
-
p-hemnlytic
Iclear]
/\
5. saprophytirus
pytrg€nE5 agalactiae
Group 4., i:roup E,
tlovobiEein
resistant
bacitrsein bacitracin
sensitiva resistarft
y-hemolytic
l
u-hemolytic
{green}
I
i
E nteroreccus
E. faecelis,
E. faecium
pneumoniae ViridanE
optochin
mutans, sanguis
sensitive,
bilesaluble,
caFsule
+l
optochin
resistant,
not bilB soluhle.
ns
Gambar 1. Klasifikasi bakteri Gram positif
Sumber: http://en.academic.ru/pictures/enwiki/71lGram Positive Classification.svg
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
35
DIAGNOSIS PENYAKIT INFEKSI
f,ampyfu$a*turfttrm
ftrfrser&gnnmnfioeCIe
ilefsser*amendrryfidm
fampyfu&a,cnerlel'lmr'
EertunelhspEsrdekttrE pampertr*sir
Eflrdehfl.frFerft,Eft
firrcelhsp"
lkraxefkcaBrrHJs
Esclkrictuaaoli
FmrrrseJja fubrensir
f*aemupfiilJrm in#ue nzae
Leguofl eJIE pne rmrqphiltra
I*efisotn.c
FasFm-e#amrdfffiida
hrprfo#
Pse rdomonss ae.rr4rrilrnsa
Yerriniapestis
frlefur*floCIrrtofa
Hle&rrcJfiapner*nonk
Gambar 2. Klasifikasi bakteri Gram (-)
Sumber: Diadaptasi dari Lippincott's Illustrated Reviews Microbiology, 2nd
pengobatan tidak dapat ditunda, maka
spesimen diambil 1 (satu) jam sebelum
pemberian antibiotika berikutnya.
KETENTUAN UMUM
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam proses pengambilan spesimen
mikrobiologi, yaitu
:
1. Mengikuti pedoman Standard
pemeriks aan daruh yang berasal dari lokasi
Isolation Precaution guna mencegah
kejadian penularan infeksi. Tindakan
yang tepat dan jumlah yang ditampung
masker, kacamata khusus.
3.
Mengunakan tehnik non-touch yang sesuai
dengan prosedur aseptik bilamana
melakukan pengambilan spesimen dari
bagian tubuh tertentu, seperti kateter,
cairan serebrosptnal, darah, dan lainnya.
adequat.
6.
Semua spesimen harus diberi label dan
formulir yangj elas untuk mengidentifikasi
asal/sumber spesimen. Pada formulir
permintaan dapat dituliskan informasi
klinis yang dapat menunjang interpretasi
hasil pemeriksaan, seperti diagnosis, terapi
antimikroba. Disert akan pula label barcode
guna membantu Jejak
audit.6'10
Spesimen harus ditempatkan dalam wadah
Memberikan label identitas pada wadah
spesimen berupa nama pasien, tanggal
steril yang mempunyai tutup ulir untuk
menghindari kontaminasi ataupun
tanggal pengambilan, jenis specimen,
tumpahan. Semua wadah spesimen harus
dikirimkan memakai kantung plastik
khusus berkantung dua terpisah sebagai
alat transport sehingga kertas formulir
tidak terkontaminasi dengan spesimen.5'lo
Pada pemeriksaan kultur darah, maka
spesimen darah yang diambil akan
ditempatkan pada botol kultur darah yang
sesuai dengan permintaan klinisi
(
aerob/an aer ob Ij amur I pe di atrik).
4. Sebaiknya melakukan pengambilan
spesimen sebelum memulai
pengobatanlterapi antibiotika. Bilamana
36
Melakukan inform consent yang jelas
kepada pasien guna mendapatkan bahan
and
pencegahan yang dapat dilakukan yakni
menggunakan baju khusus, sarung tangan,
2.
5.
laht, no. MR,
bangsal/departemen,
lokasi pengambilan spesimen, serta waktu
pengambilan.
PENGELOLAN SPESIMEN
Pengelolaan spesimen mikrobiologi yang
meliputi pemilihan, pengambilan, pengiriman,
dan penyimp anan merupakan tahap praanalitik pada siklus diagnostik. Tahap ini
sangat penting dan kritikal karena pengelolaan
spesimen yang baik akan mernberikan hasil
pemeriksaan yang akurat. Pengelolaan yang
tidak tepat akan memberikan hasil negatif
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
MEDICINUS . Vol. 4 No. 6 Febru ari 2014 - Mei 2014
palsu/positif palsu dimana mikroorganisme
yang ditemukan bukan merupakan penyebab.
Hal ini disebabkan spesimen mikrobiologi
merupakan mikroorganisme hidup yang
bermultiplikasi atau cepat mati. Spesimen ini
menjadi tidak representatif bilamana terjadi
kontaminasi dengan flora normal atal
komensal yang bermultiplikasi
melakukan tehnik aseptik sebelum
penggambilan spesimen. Menghindari
kontaminasi dengan flora normal melalui
tehnik pengumpulan spesimen yang benar
dan tepat.
5.
selama
pengumpulan, pengiriman, atau pengiriman ke
laboratorium.
Mengirimkan spesimen ke laboratorium
secepat mungkin atat menggunakan
sistem transport yang sesuai dan tepat
untuk menghindari kematian bakteri dalam
perjalanan.
Sebagai contoh, Klebsiella pneumonia yang
dikenali sebagai penyebab pneumonia, tumbuh
pada sputum patien dengan tanda dan gejala
klinis pneumonia. Akan tetapi kuman ini juga
dikenal sebagai flora normal yang
berkolonisasi di nasofaring. Bilamana
pengambilan sputum tidak adekuat dan
didominasi dengan saliva, maka Klebsiella
pneumonia yang tumbuh mungkin tidak dapat
mewakilinya sebagai penyebab pneumonia.
Dengan demikian terapi antibiotika yang
PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGI
Pada tahap analitik yang
merupakan
pelaksanaan pemeriksaan mikrobiologi
mempunyai beberapa macam metode
pemeriksaan, yakni (1) identifikasi
morfologi/mikroskopis ; (2) kultur, identifi kasi,
dan uji sensitifitas antibiotika; (3) uji serologi;
dan (4) biomolekuler.
diberikan menjadi tidak tepat.
Terdapat beberapa hal mendasar yang harus
diperhatikan saat pengambilan specimen.
1.
Mengambil spesimen dari lokasi yang
tepat dan pada fase aktif
untuk
meningkatkan peluang didapatkannya
mikroorganisme penyebab. Spesimen yang
diambil dari daerah lesi/eksudat/drainase
yang sangat mungkin mengandung
mikroorganisme penyebab (contoh:
indurasi luka/lesi, dasar luka bukan
Identifikasi mikroorganisme yang dilakukan
melalui pengamatan mikroskopis
mempunyai beber apa manfaat, y allrri
1. Mengetahui jumlah dan persentase
leukosit PMN yang membantu
menentukan kualitas dan validitas
spesimen.
2.
Menyediakan
informasi du gaan
mikroorganisme yang menjadi penyebab
dalam waktu yang cepat. Mengetahui pula
apakah mikroorganisme penyebab tersebut
adalah mono-microbiol ata:u polymicrobial.
3.
Pemeriksaan langsung pewarnaan juga
dapat memberikan informasi bakteri
penyebab adalah aerob atau anaerob,
sehingga klinisi dapat dengan cepat
memberikan terapi antibiotika kepada
permukaan, sputum bukan saliva).
2.
Waktu pengambilan spesimen tepat dan
dilakukan sebelum terapi antibiotika
dimulai. Pengetahuan akan perjalanan dan
patofisiologi proses penyakit infeksi dapat
membantu dan menentukan waktu yang
paling tepat untuk
melakukan
pengambilan spesimen. Sebagai contoh,
bakterimia pada demam tifoid akan dapat
terdeteksi dengan baik bilamana spesimen
pasien. Pada kasus tertentu
diambil pada minggu pertama dari
Mengambil spesimen dalam jumlah yang
cukup untuk memenuhi permintaan jenis
pemeriksaan. Jumlah spesimen yang
terlalu sedikit dapat memberikan hasil
negatif palsu.
4.
gonorrhoe yang disebabkan
sesuai dengan yang disarankan oleh
laboratorium mikrobiologi. Selalu
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
oleh
Neissheria gonorrhoeoe.
4.
Mengetahui kemurnian
pembiakan
pemeriksaan
Menggunakan alat dan bahan yang tepat,
dapat
ditegakkan diagnosis mikrobiologi dengan
akurasi yang cukup tinggt, yaitu 70-90%.
Sebagai contoh, kasus tetanus yang
disebabkan oleh Clostridium tetani, kasus
perj alanan penyakitnya.
3.
langsung
:
sebelum
lebih
isolat
hasil
melakukan
lanjut, sperti
identifikasi dan uji sensitifitas antibiotika.
Pengamatan mikroskopis langsung dapat
dilakukan dengan tehnik
pewarnaan
37
DIAGNOSIS PENYAKIT INFEKSI
ataupun sedian basah. Hasil yang baik
akan didapat btlamana sedian apus yang
dibuat mengunakan metode
tetesan
gantung, karena mikroorganisme, dalam
hal ini bakteri
dapat diamati dalam
keadaan utuh. Terdapat beberapa macam
tehnik pewarnaan, yaitu (1) pewarnaan
Gram untuk melihat morfologi dan reaksi
terhadap warna; (2) pewarnaantahan asam
(acid fast) yang khusus dilakukan pada
bakteri Mycobacterium spp. dan Nocardia
spp.; (3) Pewarnaan Neisser atau Albert
untuk melihat
metakromatik pada
digunakan
C oryneb ac ter
ium dipht eriae
granula
bakteri
.
Pembiakan spesimen pada media perbenihan
dilakukan untuk mendapatkan identifikasi
bakteri penyebab dan dilanjutkan dengan uji
sensitifitas terhadap antibiotika. Perbedaan
karakteristik dan pola pertumbuhan koloni
yang khas pada media perbenihan digunakan
untuk menentukan identitas bakteri dengan
berpedoman pada "Bergey's Manual of
Determinative Bacteriology". Uji aktivitas
biokimia merupakan langkah selanjutnya pada
tahap analitik untuk mendapatkan spesies dari
mikroorganisme yang sedang dianalisis.
Uji
kepekaan terhadap antimikroba dilakukan
pada isolat yang diduga menjadi penyebab
infeksi. Determinasi kepekaan isolat terhadap
antimikroba dilakukan dengan2 (dta) metode.
Medote difusi cakram "Kirby-Bauer"
(Standard Single
Disc Method)
akan
intravascular catheter infection oleh karena
CVC sangat rentan terkontaminasi flora
kulit/komensal dan sangat mungkin menjadi
sumber bakterimia.3'5'16 Demikian halnya
dengan urin yang merupakan media yang baik
bagi perkembangbiakan mikroorganisme.
FLORA NORMAL
Mikroorganisme yang ditemukan dalam tubuh
manusia hidup secara transient yang berarti
bertempat tinggal sementara atat indigenous
yang hidup menetap dalam jangka waktu yang
lama." Terjadi interaksi antara pejamu dengan
mikroorganisme yang hidup dalam tubuh
manusia, akan tetapi tidak menyebabkan sakit.
Hal ini ditentukan oleh keseimbangan antara
sistem imun pejamu dengan virulensi
mikroorganisme.
Mikroorganisme atat yang disebut dengan
flora normal yang terdapat dalam tubuh
manusia mampu bersifat komensal atat
suai dengan s ifat hidup ny a, tr ansient
atau indigenous. Mereka akan menyebabkan
sakit pada pejamu bilamana berada atau hidup
pato gen
se
pada tempat yang tidak semestinya serta
adanya faktor predisposisi. Pemberian
antibiotika dosis tinggi ataupun jangka
panjang akan menyebabkan musnahnya flora
normal dan menimbulnya pertumbuhan bakteri
Gram negatif yang berlebihan.
memberikan hasil sensitive, intermed rate, atau
resisten. Metode dilusi tabung (Tube Dilution
Method) dapat memberikan hasil konsentrasi
PELAPORAN DAN INTERPRETASI
hambat minimal (Kll}i{)l Minimum Inhibitoty
Concentration (MIC).
pelaporan dan interpretasi hasil pemeriksaan
Tehnik semikuantitatif atau penghitungan
jumlah koloni bakteri dilakukan pada kultur
urin, dan intravascular catheter (CVC).
Penghitungan koloni dilakukan untuk
membantu menegakkan
38
diagnosis
HASIL
Tahap post-analitik terdiri
dari
mikrobiologi. Pelaporan hasil kultur
mikrobiologi dan uji sensitifitas terhadap
antibiotika harus secepatnya dilakukan. Hasil
kultur darah, cairan cerebrospinal, dan cairan
tubuh steril lainnya yang positif wajib
dilaporkan secepatnya kepada klinisi yang
merawat pasien.
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
MEDICINUS . Vol. 4 No. 6 Februari2014
- Mei 2014
Tabel 1. Interpretasi Hasil Kultur Sputum
Interpretation of Sputum Culture: Observation of Lentinol and Lucksl8
1.
2.
Using the Bartlett system
3.
4.
WBC and Neutrophyl
5.
Chest x-ray:26,50 of purulent sputum samples showing no radiologic or clinical
evidences for pneumonia
of sputum samples with evidences of pneumonia were not deeply expectorated,
again more reflective of oral secretion
40Yo
Only l0,8yo of patient producing non-purulent sputa had pneumonia;
Only 56,80 patient with pneumonia produced purulent sputum
Sebagai contoh, hasil kultur
daruh
menunjukkan pertumbuhan Staphylococcus
epidermidis. Diketahui bahwa bakteri ini
adalah flora normal kulit manusia, perlu
dilakukan analisis apakah bakteri yang
ditemukan ini merupakan penyebab atau
kolonisasr yang didapat pada saat proses
pengambilan specimen. Interpretasi hasil
kultur darah sangat dipengaruhi oleh jumlah
darah yang diambil dan dikirimkan ke
laboratorium. Bilamana Staphylococcus
epidermidzs tersebut tumbuh pada 1 (satu) set
kultur darah dan 2 (satu) set kultur darah yang
diambil, maka peran S.epidermidis ini akan
berperan kontaminan sebesar 95% dan hanya
2% berpeluang menjadi penyebab. Tehnik
yang dapat diterapkan pada hasil kultur
sputum adalah dengan menggunakan kriteria
dari Lentinol dan Lucks yang dilihat pada
tabel 1. Sistem Barlett menilai kualitas
spesimen sputum melalui pengamatan
langsung mikroskopis. Kualitas sputum yang
baik akan memberikan hasil kultur yang lebih
representatif. Hal lain yang perlu diperhatikan
adalah flora normal saluran nafas atas terutama
pada sutum yang diambil dengan metode
dibatukkan. Keberadaan flora normal sebagai
penyebab atau yang berpotensi
sebagai
penyebab dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2.Patogen Potensial Pada Hasil Kultur Sputum
Specimen
Potential Pathogens
Commensal Flora
Streptococcus grup A (S.pyogenes)
Staphylococcus spp.
Streptoco ccus pneumoniae
u-hemolityc streptococci
Predominant S.aureus
Gram (-) bacilli
H.influenzae
Neissheria spp.
l'{ e i s s her
Respiratory Tract
i
a menin gitidis /gono rrh
oea
e
Enterococcus spp.
Predominant Enterobacteriace ae
Corynebacterium spp.
Predominant Pseudomonas spp. and
other Gram (-) bacilli non fermenter
(Shigella spp.; Salmonella spp.; Proteus spp.)
Bacillus spp.
Corynebacterium diphteriae
Yeast
Bordetella pertusis
Anaerobes
Legionella
Haemophillus spp.
Mycobacterium
Micrococcus spp.
Nocardia
Stomatococcus spp.
Predomin ant Mor axel I a c at arrh al is
Predominant Yeast
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
39
DIAGNOSIS PENYAKIT INFEKS!
Demikian halnya dengan hasil kultur lainnya,
seperti pus, cairan serebrospinal, atalu cairan
tubuh steril lainnya, sangatlah penting
memperhatikan dan menilai mikroorganisme
yang berhasil dibiakkan berasal dari flora
normal atau komensal lingkungan. Secara
umum bakteri Gram positif kokus merupakan
flora normal kulit, sedangkan bakteri Gram
negatif basil selain enterobacteriaceae adalah
komensal lingkungan.
KESIMPULAN
Ahli mikrobiologi memegang peranan penting
dalam menentukan suatu mikroorganisme
menjadi penyebab atau hanya kolonisasi.
Sangat diperlukan adanya komunikasi atalu
intera ksi antara klinisi dengan ahli
mikrobiologi. Interpretasi hasil pemeriksaan
mikrobiologi bergantung pada pemilihan,
proses pengambilan, dan pengiriman spesimen
ke laboratorium. Disisi lain, gejala dan tanda
kllinis merupakan hal utama yang tidak dapat
ditinggalkan pada saat melakukan interpretasi
hasil. Untuk itu diperlukan komunikasi yang
baik antara ahli mikrobiologi dengan klinisi
yang merawat pasien.
DAFTAR PUSTAKA
1. Gordis L. The Dynomic of Disease Transmission.
Dalam: Epidemiology, ed.3. Elsevier. 2004; 15-
55.
2.
Budiarto E., Anggraeni D. Konsep Epidemiologi. Dalam: Pengantar Epidemiologi. EGC. 2003;
t2-2t.
3.
Winn WC Jr, Allen SD, Janda WM, Koneman EW, Procop GW, and Schreckenberger PC, et al.
Koneman's Color Atlas and Textbook of Diagnostic Microbiology. Ed.6. Lippincott Williams and
Wilkins. USA. 2006.
4.
National Committe for Clinical Laboratory Standards. Application of a quality system model for
laboratory services: Approved guideline. 2012.
5.
Henry D. Isenberg. Clinical Microbiology Procedures Handbook. 2nded.2004. American Society
for Microbiology, Wahington, USA.
6.
J Michael
7
.
8.
9.
Miller. A Guide to Specimen Management in Clinical Microbiology. 2"ded. 1999.
Talagas ME, Bliziotis IA, Kasiakou SR, Samonis G, Athanassopoulou P, and Michalopoulos A.
Outcome of infections due to Pan-Drug Resistant (PDR) Gram-negative bacteria. BMC Infectious
Disease, 2005 (5): 2a. DOI 10. 1 1 861147 l-2334-5-24.
CDC. Management of Multidrug-Resistant Organisms in healthcare setting.2006.
Chatim A. Klasifikasi dan Taksonomi Kuman. Dalam: Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Bina
Rupa Akasara. 1994; 1-9.
10. Ntusi N, Aubin
L, Oliver S, Whitelaw A, Mendelson M. Guideline for the optimal use of blood
culture. SAMJ 2010,100 (12): 839-843
III JW, Bell LM, Baumgart S, D'Angio CT, Harris MC. Distinguish sepsis from bloob
culture contamination in young infants with blood cultures growing coagulase-negative
Staphylococci. Pediatrics 1990, 86 (2): 157
11. St Geme
12. John Hopkins Medical Microbiology. Specimen Collection Guidelines: Update 612013.
A. Dasar Pemeriksaan Kuman-Kuman Aerob, Mikroaerofilik dan Aerob. Dalam: Buku
Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Binarupa Aksara. 1994; 52-56.
13. Rahim
40
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
MEDICINUS ' Vol. 4 No. 6 Februari2014
- Mei 2014
14. Rosa Y, Karuniawati A. Uji Kepekaan Mikroorganisme Terhadap Antimikroba. Dalam: Penuntun
Praktikum Mikrobiologi Kedokteran. Badan Penerbit FKUI. 2012;37 -44
15. CLSI. Antimicrobial Susceptibility Testing Standard. 2012
16. Raad I, Hanna HA, Alakech B, Chatzinikolaou C, Johnson MM, and Tarrand J. Differential Time
to Positivity: A Useful Method for Diagnosing Catheter-Related Bloodstream Infections. Annals
of Internal Medicin e 2004, 1 a0 ( 1 ): 18-26 .
17. Weinstein MP, Reller LP, Murphy JR, et al. The clinical significance of positive blood cultures:
comprehensive analysis of 500 episodes of bacterimia and fungimia in adults. Reviews
*
Infectious Diseases. 1983, 5: 35-53.
A
of
18. Lentino J.R., Lucks D.A. Nonvalue of sputum culture in the management of lower respiratory
tract infections. J Clin Microbiol 1981 ;25 :7 58-62
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
41
Download