Uploaded by eda_soeharjono

UTS Strategi Tingkat Korporat-Kino Group

advertisement
Strategi Tingkat Korporat
UTS 1: Perusahaan Multibusiness
Kino Group
Oleh:
Program Magister Management Eksekutif
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN PPM
JAKARTA
2019
Bab 1
Kino Group
Gambaran Umum Kino Group
Tujuan dari perusahan dibuat adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan bagi pemilik
perusahaan. Untuk memaksimalkan nilai perusahaan, perusahaan harus memiliki kelebihan
dalam pasar. Salah satu kelebihan yang bisa dibuat oleh perusahaan adalah memiliki strategi
yang tepat.
Cara membuat strategi untuk perusahaan dengan melakukan diversifikasi. Salah satu cara
diversifikasi yang dilakukan adalah membuat perusahaan multi business. Perusahaan multi
bisnis adalah perusahaan yang memiliki dan mengelola lebih dari satu bisnis (Chandler, 1982,
Collis dan Montgomery, 1998). Perusahaan induk bukan saja menagih kontribusi dan
perusahaan anak, tetapi membuat rancangan pertumbuhan nilai kelompok bisnis berdasar
desain portfolio bisnis yang kompleks.
Di tugas ini, akan dibahas tentang perusahaan multi bisnis, kenapa terjadi diversivikasi
,bagaimana pola pengasuhannya dan apakah portfolio dan pola pengasuhannya baik.
Perusahaan multibisnis yang diambil adalah PT. Kino Indonesia Tbk. Perusahaan ini didirikan
pada tahun 1991. PT. Kino Indonesia Tbk diawali dengan mendirikan PT. Duta Lestari
Sentratama sebagai distributor pada tahun 1991. Tetapi pada saat krisis moneter tahun 1997,
terjadi kemunduran karena sebagai perusahaan distributor mereka harus bergantung pada
produk dari perusahaan lain dan tidak bisa melakukan distribusi untuk produk lain. Oleh karena
itu mulai melakukan diversifikasi dengan menciptakan produk sendiri berdasar PT. Kino Food
Indonesia. Produk yang diciptakan adalah permen Kino. Permen soft candy dengan rasa kopi.
Setelah berhasil dengan produk tersebut. PT. Kino Food Indonesia berpikir untuk melakukan
diversifikasi bisnis lain. Kemudian dilakukan diversifikasi untuk menghasilkan produk perawatan
tubuh dengan mendirikan PT. Kino Indonesia.Tbk (dulunya disebut PT Kinocare Era
Kosmestindo). Dan dilakukan diversifikasi lagi ke business unit lain .Salah satu point penting
dalam Kino Group adalah mendapat izin untuk mendapatkan lisensi dari WenKen Group
Singapura untuk memproduksi, mendistribusikan, dan memasarkan secara resmi merek Cap
Kaki Tiga di Indonesia sejak tahun 2011.
Visi Menjadi perusahaan ternama di Indonesia yang berlandaskan ide & inovasi dan terus
bergerak untuk menjadi perusahaan yang mendunia tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal. Misi
Memperluas pasar melalui pengembangan produk yang didorong oleh semangat untuk
berinovasi. PT. Kino Indonesia Tbk. menyadari bahwa kepuasan tidak hanya sampai disitu,
kesuksesan hari ini harus menjadi motivasi untuk semakin berprestasi di masa depan. Mottonya
adalah “Innovate Today” berarti harus terus kreatif dan inovatif untuk menjadi pemimpin dalam
industri kebutuhan konsumen.
Berdasar visi misi dan motto yang di terima oleh PT. Kinno: inovasi. Hal tersebut membuat PT.
Kino Indonesia melakukan diversifikasi. Di awalnya setelah lesu bisnis distributor. Harry Sanusi
sebagai pendiri perusahaan melakukan banting setir dari distributor ke produsen. Sebagai
produsen memproduksi permen, kemudian merambah ke minuman dan perawatan tubuh
sebagai integrasi horisontal. Integrasi vertical juga dilakukan dengan memastikan selalu
dibangun anak perusahaan untuk distributor dan service tambahan. Mulai dari 2015 keatas,
induk perusahan melakukan strategi diversifikasi konglomerasi diversifikasi dengan cara
melakukan akuisisi. Dengan cara akuisisi perusahaan dengan Rista Group terkait business unit
kosmetik dan Morinaga, partnership dengan Wah Kong Corporation Sdn. Bhd., Malaysia untuk
membentuk perusahaan yang bergerak di bidang makanan hewan.
Budaya perusahaan yang dimiliki Kino adalah





Winner
Quick and smart decision
Teamwork
Our job is our soul
Good company image
Untuk perusahan Kino alasan melakukan diversifikasi adalah untuk peningkatan nilai berdasar
kekuatan yang ekonomis untuk restrukturisasi bisnis.. Setelah perusahan pertamanya PT. Duta
Lestari Sentratama mengalami kemunduran karena krisis moneter. Maka Kino melakukan
diversifikasi dengan memproduksi permen dengan membangun PT. Kino Food Indonesia..
Setelah itu perusahaan anak berikutnya yang dimiliki berdasar alasan yang sama untuk
peningkatan nilai. Maksud dari hal diatas adalah untuk memastikan terjadi pengembangan
bisnis dengan memperbanyak business unit yang dimiliki. Sehingga bisa tetap bertahan dan
memaksimalkan nilai untuk shareholder.
Sekarang PT. Kino Indonesia Tbk memiliki 19 merek dengan 16 kategori produk dimana
beberapa diantaranya berhasil mendapatkan pengakuan sebagai merek yang menjadi pilihan
utama para konsumen. PT Kino Indonesia Tbk. Memiliki 5 business unit; makanan, minuman,
farmasi, makanan hewan dan perawatan tubuh. Untuk business unit distribusi dan trading ecommerce dilakukan untuk memberikan support terhadap 5 business unit diatas.
Tahun
1991
1997
1999
2003
2004
2013
2013
2016
2016
2017
2017
2018
2018
2018
2019
Perusahaan
PT. Duta Lestari sentrama
PT. Kino Food indonesia (dulu PT. Kino Sentra Industrindo)
PT. Kino Indonesia Tbk (perusahan induk)
Kino Care (M) Sdn. Bhd.
Kino consumer Phillipine inc.
Kino International Pte. Ltd.
Kino Vietnam co Ltd.
PT. Ristra Klinik Indonesia
PT. Ristra laboratoris Indonesia
PT. Kino ecom solusindo
PT. Kino Malee Indonesia
PT. Kino Pet World Indonesia
PT. Kino Pet World Marketing Indonesia
Malee Kino Co. Ltd.
Kino Care Consumer (Cambodia) Co. Ltd.
Business unit
Distributor
Makanan
perawatan tubuh
perawatan tubuh
Distributor
Supporting service
Distributor
Kosmetik
Kosmetik
Distributor
Minuman
Makanan Hewan
Makanan Hewan
Trading
perawatan tubuh
Perseroan memiliki 8 Entitas Anak secara langsung, 5 Entitas Anak secara tidak langsung, dan
2 Entitas Asosiasi.
Laporan Keungan per business unit
Dalam Milyart
Tahun 2018
Business unit
Pendapatan Dalam % Laba kotor Dalam %
Perawatan tubuh
1801.48
49.9%
1029.85
63%
Minuman
1528.38
42.3%
592.89
36%
Makanan
250.67
6.9%
2.49
0%
Farmasi***
23.4
0.6%
16.88
1%
makanan hewan*
4.19
0.1%
1.12
0%
Distribusi dan research**
3.58
0.1%
0
0%
Total
3611.7
100.0%
1643.22
100.0%
*Business unit makanan hewan berdiri pada tahun 2018
**Distribusi dan research business unit untuk mendukung business unit yang lain. Diakui
sebagai cost center.
***Busines unit Farmasi diakuisisi pada tahun 2016.
Bab 2
Teori
Definisi Strategi
menurut Porter (2008), strategi adalah alat yang penting untuk mencapai keunggulan bersaing.
Menurut Kaplan dan Norton(1996), strategi adalah seperangkat hipotesis suatu model dalam
hubungan cause dan effect.
Menurut Siagian (2004), Strategi adalah serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang
dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi
dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut.
3 Tingkatan Strategi Bisnis (3 Level of Business Strategy)
Strategi dalam suatu perusahaan terbagi dari 3 tingkatan yaitu strategi di tingkat Korporate
(Corporate Level Strategy), Strategi di tingkat unit bisnis (Business Unit Level Strategy) dan
strategi di tingkat fungsional (Functional Level strategy).
Berikut penjelasan singkat dari 3 level strategi bisnis di atas:
1. Strategi Korporasi (Corporate Level Strategy)
Strategi korporasi adalah strategi yang mencakup seluruh ruang lingkup terutama dalam
menentukan tujuan dan sasaran suatu perusahaan. Strategi ini diperlukan untuk menentukan
bisnis apa yang harus atau ingin dimiliki oleh perusahaan seperti jenis produk yang akan
diproduksi dan dimana produk tersebut harus dipasarkan. Strategi korporasi juga menentukan
arah yang akan dituju oleh perusahaan dan peran setiap unit bisnis dalam perusahaan untuk
mencapai arah tersebut.
Dalam menentukan strategi korporasi harus menetapkan :


Visi dan Misi Perusahaan
Visi adalah pernyataan yang menggambarkan tujuan dan kondisi dimasa depan yang
ingin dicapai oleh perusahaan dalam jangka menengah atau jangka panjang. Misi
adalah pernyataan tentang apa yang harus dikerjakan oleh perusahaan untuk
mewujudkan visi tersebut.
Obyektif atau Tujuan Perusahaan
Obyektif Perusahaan atau Tujuan Perusahaan yang ditentukan adalah alat yang
mendasari semua perencanaan dan kegiatan strategis dan berfungsi sebagai dasar
untuk membuat kebijakan dan mengevaluasi kinerja.
Disebabkan perusahan yang diambil adalah perusahan ang memiliki multi business (Kino
Group),maka strategi yang dibahas lebih lanjut adalah strategi korporasi yang akan dijelaskan
lebih jauh di bawah.
2. Strategi Unit Bisnis (Unit Business Level Strategy)
Strategi di Tingkat Unit Bisnis adalah strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan dari setiap
unit bisnis seperti unit bisnis layanan, produk, divisi ataupun anak perusahaan. Strategi ini
dijalankan oleh masing-masing unit bisnis namun harus bersinergi dan mendukung strategi
korporasi yang telah ditetapkan oleh perusahaan induk. Strategi di tingkat unit bisnis penting
untuk mengetahui unit bisnis mana yang unggul dan unit bisnis mana yang perlu ditingkatkan
lagi.
Dalam menentukan strategi unit bisnis harus melakukan:

Perbedaan perusahan dengan competitor.
Dengan menggunakan analisa SWOT memungkinkan untuk meninjau lingkungan
persaingan dan posisi perusahaan serta strategi yang tepat.

Menetapkan Obyektif (Tujuan) dan tindakan-tindakan yang mendukung strategi di
tingkat unit bisnis dan strategi di tingkat korporasi.
3. Strategi Fungsional (Functional Level Strategy)
Strategi di Tingkat Fungsional adalah strategi yang dirumuskan secara spesifik pada area
fungsional tertentu untuk mendukung strategi unit bisnis. Area fungsional ini meliputi
departemen-departemen yang terdapat di unit bisnis. Strategi Fungsional dibuat oleh kepala
departemen , dengan tujuan departemen menjalankan elemen strategis yang ditetapkan serta
memastikan komponen-komponen di fungsional ini membantu mendukung strategi di tingkat
unit bisnis maupun strategi di tingkat korporasi.
Dalam menentukan strategi fungsional harus melakukan :



Memahami setiap perincian proyek dan pengukurannya.
Strategi fungsional selaras dengan strategi di tingkat unit bisnis dan strategi di tingkat
korporasi.
Mengukur hanya data berkepentingan yang menentukan pencapaian terhadap sasaran
dan tujuan utama.
Strategi korporat
Strategi korporat adalah strategi yang menyatakan dimana perusahaan bersaing bukan
bagaimana perusahaan bersaing dalam industry tertentu. Analisa strategi tingkat korporat
menghasilkan keputusan yang melibatkan bisnis yang akan ditambah, bisnis yang akan
dipertahankan, bisnis yang akan ditekankan, bisnis yang akan dikurangi perhatiannya dan
bisnis yang akan di divestasi (dijual) (Anthony dan Govinjar, 2004).
Strategi korporat menurut Collis dan Montgomery (2005) adalah cara perusahaan menilai
melalui konfigurasi dan koordinasi pada aktifitas di beberapa pasarnya.
Definisi ini mempunyai tiga aspek penting yaitu:
1. Penciptaan nilai(value creation)
Penekanan pada penciptaan nilai yang merupakan tujuan dari strategi korporat.
2. konfigurasi (configuration)
fokus pada konfigurasi yaitu scope beberapa pasar perusahaan, termasuk didalamnya
produk, geografi, batasan vertikal.
3. koordinasi (coordination).
Bagaimana perusahaan melakukan implementasi dan formuka strategi korporat.
Biasanya strategi korporat dibuat oleh kantor pusat. Sehingga untuk menyesuaikan dengan
strategi korporat, perushaan harus menciptkan nilai untuk memberikan alasan keberasaan
sebagai entities business. Caranya dengan mengembangkan nilai dalam unit business, melalui
peningkatan kemampuan untuk memberikan kepuasan terhadap konsumen.
Strategi korporat kemudian digambarkan pada pemahaman strategi bisnis dan lebih
memfokuskan pada hubungan perusahaan induk dan semua bagian dalam perusahaan secara
khusus apakah unit bisnis diciptakan membuat perusahaan lebih baik atau lebih buruk (Collis
dan Montgomery,2005).
Jadi tugas utama sebuah kantor pusat yaitu menentukan portofolio bisnis yang hendak dimiliki
melalui proses penyertaan modal yang terlihat pada jumlah dan jenis unit usaha yang hendak
dibangun dan melakukan intervensi manajemen terhadap unit usaha yang dimiliki untuk
membantu penciptaan kekayaan lebih besar. Ketika korporat berhasil mejalankan kedua tugas
pokok tersebut dikatakan korporat berhasil membangun keunggulan asuhan (parenting
advantage).
Sumber daya perusahaan merupakan modal dasar dalam melakukan aktivitas bisnis, hal
tersebut meliputi aset, keahlian dan kapabilitas dari suatu perusahaan. Sumber daya
menentukan bagaimana perusahaan dapat menciptakan corporate advantage pada level unit
bisnis yang dapat digunakan sebagai pembeda dengan perusahaan lain.
Bisnis dalam segitiga tersebut merupakan industri dimana perusahaan beroperasi. Pemilihan
bidang industri sebagai lahan bisnis perusahaan sangat mempengaruhi seberapa besar
keuntungan yang akan dicapai perusahaan dikemudian hari. Hal ini karena prediksi keuntungan
yang akan didapat perusahaan sangat bergantung sektor mana perusahaan tersebut
bergerak.Apabila kita lihat dari ketiga sisi segitiga yaitu resources, businesses, dan organization
merupakan fondasi dari strategi korporat.
Ketepatan harmonisasi seluruh elemen dalam segitiga korporasi di atas diharapkan dapat
menciptakan nilai aktivitas pasar yang beragam. Nilai yang diciptakan itulah kemudian
berkembang menjadi keunggulan perusahaan yang menjadi dasar bagi perusahaan dalam
mengembangkan unit bisnis yang dikelola.
Pola Bertumbuh Perusahaan Multibisnis
Perusahaan multi bisnis merupakan satu perusahaan yang mempunyai satu produk yang
sangat sukses di pasar,dimana operasionalisasi perusahaan dikendalikan dengan struktur
fungsional (Chandler, 1982). Kemudian perusahaan melakukan diversifikasi dengan memasuki
wilayah yang berbeda atau melakukan divisionalisasi geografis, dan/atau meningkatkan jenis
produk yang ditawarkan atau melakukan divisionalisasi produk (Chandler, 1982).
Selanjutnya, menurut Chandler (1982), setelah sukses dengan suatu produk, maka strategi
bertumbuh yang dipilih perusahaan adalah integrasi horisontal. Pengertiannya adalah terus
bertumbuh melalui perluasan bisnisnya saat ini,dengan masih mempertahankan struktur
produk-pasar yang sama dengan saat ini. Hal tersebut dilakukan dengan meluaskan geografis,
dari satu wilayah ke wilayah lain. Selanjutnya, perluasan wilayah biasanya diikuti dengan
perluasan produk dan perluasan pasar.
Setelah bertumbuh secara horisontal tidak memberikan manfaat yang signifikan, umumnya
perusahaan akan bertumbuh melalui integrasi vertikal. Tujuannya untuk mengendalikan
kegiatan-kegiatan atau sumber daya yang sangat sigfikan bagi kreasi nilai. Ada dua macam
integrasi vertikal, ke arah hulu mendekati pemasok atau integrasi vertikal ke belakang
(backward vertical integration)dan ke arah hilir mendekati konsumen atau integrasi vertikal ke
depan(forward vertical integration) (Chandler, 1962).
Pertumbuhan phase berikutnya adalah strategi diversifikasi. Sifat diversifikasi bisnis bisa
berhubungan atau memasuki bidang-bidang bisnis yang berkaitan dengan bisnis inti, bisa pula
tidak berkaitan. Jenis terakhir ini biasa disebut sebagai konglomerasi (Carpenter dan Sanders,
2007). Menurut Wheelen & Hunger (2018), perusahaan multibisnis bertumbuh dengan pola
terkonsentrasi (concentration) dengan memasuki bisnis-bisnis yang masih
berhubungan,dan/atau diversifikasi konglomerat (conglomerate diversification) dengan
memasuki bisnis-bisnis yang berbeda dengan bisnis intinya.
Alasan untuk melakukan diversifikasi
Perusahan banyak melakukan diversifikasi dengan alasan: (berdasar Slamet,n.a)
Peningkatan nilai
o Lingkup ekonomis
 Berbagi aktivitas
 Transfer komponenini
o Kekuatan pasar
 Menutup kemungkinan bagi pesaing melalui perusahaan multipoint
 Integrasi vertical
o
Kekuatan yang ekonomis
 Alokasi model dinamis yang efisient
 Pengurangan risiko antar bisnis
 Restrukturisasi bisnis
Motif nilai netral
o Insentif pajak
o Regulasi anti-trust
o Arus kas masa datang, yang tidak menentu
o Pengurangan risiko perusahaan
o Diversifikasi risiko pekerjaan manajerial
o Peningkatan kompetensi manajerial
Kreasi Nilai oleh Perusahaan Induk
Perusahaan multi bisnis terdiri dari perusahaan induk dan perusahan anak. Berdasar Goold,
dkk (1994) yang dimaksud dengan perusahaan induk adalah perusahaan yang tidak secara
langsung mengelola bisnis. Usaha pengelolaan perusahan multibisnis berasal dari berbagai
kesulitan untuk menerapkan strategi pada setiap tingkatan organisasi. Analisa strategi tingkat
korporat menghasilkan keputusan yang membuat bisnis dikurangi, dipertahanakan, ditambah
(Anthony dan Govindarajan, 2007). Bisa dibilang perusahaan induk yang menentukan strategi
korporat, perusahaan anak menentukan strategi bisnis.
Lebih lanjut, ditegaskan pula bahwa strategi korporat adalah apa yang dilakukan perusahaan
induk untuk menciptakan nilai (value creation) dalam perusahaan multibisnis (Collis dan
Montgomery, 1998, Goold, dkk., 1994: 42). Dimana kreasi nilai disini didefinisikan sebagai
kreasi kelebihan dan diatas harapan minimal para pemangku kepentingan keberadaan
perusahaan multibisnis (Goold, dkk., 1994: 39).
Berdasar Goold, dkk (1994), terdapat empat kemungkinan perusahaan induk melakukan kreasi
nilai dalam perusahaan multibisnis.
A. standalone influence
perusahaan induk mempengaruhi masing-masing perusahaan anak melalui kepemilikan penuh,
penyusunan dan penerapan strategi bisnis. Jadi kreasi nilai disini terjadi karena perusahaan
induk menerapkan pengendalian yang ketat atas kinerja perusahaan-perusahaan anak yang
diberi tanggung jawab atas laba.
B. linkage influence,
perusahaan induk mempengaruhi seluruh perusahaan anak melalui pengendalian ketat atas
hubungan antar unit bisnis. Ditambahkan oleh Kanter (Goolds dan Luchs, 1996) kreasi nilai
dalam linkage influence terjadi karena perusahan induk memasikan ada sintergi yang terjadi
antara perusahaan yang dimiliki agar nilai yang diciptakan lebih dari value total konsolidasi
perusahan anak.
C. Control Function and services
kreasi nilai dalam perusahaan multibisnis.perusahaan induk melalui pemusatan berbagai
kegiatan fungsional dan pelayanan (centralised functions and services).
D. corporate development
Perusahaan induk melakukan kreasi nilai melalui penetapan portofolio bisnis (corporate
development).
Kesesuaian Pengasuhan
Perusahaan induk memiliki kekuasaan lebih dibandingkan perusahan anak. Tetapi jika tidak
ada kesesuaian pengasuhan (parenting fit) antara perusahaan induk dan perusahaan anak,
kreasi nilai bisa menghancurkan nilai.
Kesesuaian pengasuhan ditentukan oleh karakteristik perusahaan induk dan karakteristik
perusahaan anak. Karakteristik perusahaan induk terdiri dari lima faktor, yaitu peta mental;
struktur, sistem, dan proses; berbagai fungsi, jasa terpusat dan sumber daya tertentu; sumber
daya manusia; dan kontrak desentralisasi. Sedangkan karakteristik perusahaan anak terdiri dari
tiga faktor: definisi bisnis; peluang pengasuhan; dan faktor-faktor sukses kritis. Perusahan induk
melakukan identifikasi bisnis apa yang masuk ke dalam portfolio, pendekatan kepada unit bisnis
agar kinerja menjdai lebih baik.
Analisa yang digunakan terdiri dari 4 komponen utama untuk melakukan penelitian tingkat
kesesuaian yang dipetakan dalan parenting fit matrix(Campbell, dkk 1995), yaitu:
Critical Success Faktor, merupakan keseluruhan faktor sukses dari unit bisnis yang
membantu meningkatkan kinerja dan menciptakan keunggulan bersaing.
Parenting Opportunities, merupakan kemampuan atau potensi yang terdapat pada unit
bisnis dan memungkinkan corporate untuk meningkatkan kinerja serta menciptakan
nilai tambah bagi unit bisnis melalui pengaruh dan peranannya. Parenting
opportunities dapat diidentifikasikan dengan melakukan penelusuran melalui
beberapa faktor yaitu size dan age; management; common capabilities; business
definition; predictable error; external relation; major changer; special experties;dan
lingkage.
Parenting Characteristic, merupakan salah satu karakter parenting yang menjadi
keunggulan bersaing perusahaan sehingga memberikan kemungkinan bagi upaya penciptaan
nilai kepada unit bisnis. Parenting characteristic dapat dikelompokkan
dalam lima kategori, yaitu the mental maps that guide parent managers; the
corporate structure, management system and process; the central function, service,
and resource; the decentralization contract between parents and business; dan the
nature, experience and skill of manager in the parent organization.
Parenting Fit Matrix, merupakan pemetaan unit bisnis yang membantu
menggambarkan posisi seluruh unit bisnis dalam portofolio bisnis dari suatu
perusahaan, dimana setiap posisi tersebut mempunyai implikasi strategi yang berbeda
bagi perkembangan strategi dimasa yang akan datang.
Kecocokan karakteristik perusahaan induk dan anak anaknya dipetakan dalam sebuah petak
kualitatif yang dinamakan matriks kesesuaian pengasuhan (parenting fit matrix) yang
dikembangkan oleh Campbell, dkk.(1995).
Matriks tersebut dibentuk oleh sumbu horisontal yang merefleksikan derajat kesesuaian antara
peluang pengasuhan dan karakteristik pengasuhan dan sumbu vertikal yang merefleksikan
derajat ketidaksesuaian antara faktor sukses kritis anak perusahaan dengan karakteristik
pengasuhan.
Hasil pemetaan dapat menempatkan perusahaan-perusahaan anak ke dalam lima daerah, yaitu
1. Heartland Business, kawasan bisnis inti tersebut memiliki peluang bagi peningkatan
yang dilakukan oleh induk, dan faktor-faktor penting kesuksesannya diketahui dengan
baik oleh induk.
2. Edge of Heartland Business, pada kawasan bisnis ini, beberapa karakteristik induk
bersesuaian dengan karakteristik bisnis tersebut, sedangkan sebagian lagi
tidakbersesuaian.
3. Ballast Business, banyak memiliki kesesuaian dengan induk perusahaan, tetapi
peluangnya kecil untuk ditingkatkan oleh induk.
4. Allien Territory Business memiliki peluang yang kecil untuk ditingkatkan oleh
perusahaan, dan terdapat suatu ketidaksesuaian antara karakterstik induk denganfaktorfaktor penting kesuksesan unit bisnis perusahaan.
5. Value Trap Business, memiliki kesesuaian dengan peluang induk, tetapi mereka
memiliki ketidaksesuaian dengan pengertian induk akan faktor-faktor penting
kesuksesan unit.
Atau bisa dengan menggunakan Porter’s tiga essential test :
Untuk memastikan bahwa perusahaan melakukan diversifikasi yang menciptakan value jangka
panjang untuk pemegang saham, Michael Porter telah menyusun tiga tes, yang harus dipenuhi
sepenuhnya:
1. Test daya tarik


Tujuan untuk memastikan bahwa diversifikasi diarahkan ke industri yang menarik.
Menilai faktor-faktor dalam lima kekuatan Porter untuk menentukan apakah ada sesuatu
yang menarik karena perusahaan terkadang membayar terlalu banyak untuk masuk
kedalam market.
2. Test Biaya masuk


Memastikan biaya masuk tidak menghabiskan semua keuntungan di masa.
Test ini cenderung bertindak sebagai faktor penentu untuk diversifikasi.
3. Test Lebih baik


Unit bisnis baru harus mendapatkan keunggulan kompetitif dengan berhubungan
dengan perusahan induk.
Jika tidak sesuai dengan portofolio perusahaan, maka perusahaan harus melanjutkan
dengan diversifikasi meskipun murah. Juga perlu memiliki sinergi untuk berbagi sumber
daya dan kemampuan untuk jangka panjang.
Bab III
Analisa dan Sintesis perusahaan
Dari teori yang diberikan di atas dan penjelasan tentang PT. Kinno Indonesia Tbk., pertanyaan
yang diajukan “Apakah ada parenting fit antara perusahaan induk dan anak anaknya di
perusahaan multi bisnis?”
Data yang didapatkan adalah data sekunder berdasar laporan tahunan PT. Kinno Indonesia
Tbk. Dan article yang beredar tentang hal yang dilakukan oleh Perusahaan induk dan
perusahaan anak.
Karakteristik perusahaan Induk
Karakteristik perusahaan induk terdiri dari lima faktor, yaitu peta mental; struktur, sistem, dan
proses; berbagai fungsi, jasa terpusat dan sumber daya tertentu; sumber daya manusia; dan
kontrak desentralisasi.
1. Peta mental
Value yang memandu pemimpin perusahaan induk untuk mengambil tindakan.
Hal tersebut bisa dilihat pada visi dan misi, Visi Menjadi perusahaan ternama di Indonesia
yang berlandaskan ide & inovasi dan terus bergerak untuk menjadi perusahaan yang mendunia
tanpa meninggalkan nilai-nilai local. Bisa dilihat dari keinginan perusahaan untuk terus
melakukan inovasi dengan memastikan selalu memprioritaskan produksi barang dari sumber
daya alam Indonesia dan bekerja sama dengan perusahaan international untuk mendapatkan
pasar international. Pada RUPS 2018, leader perusahaan mengatakan bahwa mereka akan
melakukan berekspansi ke kawasan regional Asia Tenggara. Salah satu caranya adalah
dengan menambah expansi mesin yang digunakan. Hal tersebut juga dilakukan untuk
menembus pencapaian maturity market di segmen personal care. Selain itu , Kino membuktikan
visi yang dipegang dengan membuat Kino Youth Innovator, sebagai ajang kompetisi antara
mahasiswa seluruh Indonesia untuk mengedepankan sumber daya lokal (local heritage) yang
sangat kaya dan unggul untuk memenangkan kompetisi pasar.
2. Struktur, system dan pengasuhan
Struktur organisasi yang dimiliki perusahaan Kino terdiri dari President Direktur yang
mengepalai wakil direktur dan direktur tiap divisi. Dimana direktur per tiap divisi tersebut
mengepalai manager per tiap divisi. Sistem yang dilakukan disesuaikan dengan peraturan yang
diberlakukan disesuaikan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Negara Indonesia.
Dan mendukung moto perusahaan untuk terus berinovasi.
Seperti kebanyakan perusahan dalam group di Indonesia. Untuk keputusan didalam
perusahaan induk dan perusahaan anak, dewan direktur dari perusahaan Induk sebagai
pengambil keputusan. Dengan keadaan seperti itu, akan membuat system kerja top-down atau
atas-bawah antara atasan dan bawahan juga antara perusahaan induk kepada perusahaan
anak.
3. Kegiatan Functional,jasa pendukung dan sumber daya
terihat pada jasa pendukung dan fungsi management di kendalikan oleh perusahaan induk. Dan
perusahan induk memastikan bahwa antara perusahaan anak saling memberikan sinergi
manfaat.
4. Kontrak desentralisasi antara perusahaan induk dan perusahaan anak
terlihat pada karakteristik transparant (keterbukaan) yang dimiliki oleh perusahan induk
sehingga dapat diketahui batasan otoritas dan pembagian tugas serta pendelegasian
wewenang kepada manajemen perusahaan anak. Seperti disebutkan diatas bahwa
management di Kino Group adalah top-down termasuk antara perusahan induk dan
perusahaan anak.Banyak rangkap jabatan antara direktur di perusahaan induk menjadi
presiden direktur di perusahaan anak. Sehingga bisa dibilang otorisas hampir dipegang
sepenuhnya oleh perusahaan induk kecuali untuk operational rutin.
5. Sumber daya manusia
dalam perusahaan induk terlihat dari karakteristik emphaty (empati),pengalaman dan
kemampuan eksekutif. Bisa terlihat bahwa eksekutif di perusahaan induk diberikan training
untuk lebih baik menciptakan strategi perusahaan induk dan perusahaan anak. Selain itu,
eksekutif tersebut memiliki pendidikan formal yang berkualitas dan tidak jarang memiliki
pendidikan di tingkat pasca sarjana. Karakteristik tesebut mampu menciptakan nilai lebih untuk
perusahaan anak dan terlihat kapabilitas dan kompetensi dari perusahaan induk dalam
menjalankan perannya.
Karakteristik perusahaan Anak
Karakteristik perusahaan anak bisa dilihat dari definisi bisnis, peluang pengasuhan dan faktor
sukses kritis.
Definisi bisnis dari perusahaan anak adalah
Perusahaan
PT. Duta Lestari sentrama
PT. Kino Food indonesia dulu (PT. Kino Sentra Industrindo)
Kino Care (M) Sdn. Bhd.
Kino consumer Phillipine inc.
Kino International Pte. Ltd.
Kino Vietnam co Ltd.
PT. Ristra Klinik Indonesia
PT. Ristra laboratoris Indonesia
PT. Kino ecom solusindo
PT. Kino Malee Indonesia
PT. Kino Pet World Indonesia
PT. Kino Pet World Marketing Indonesia
Malee Kino Co. Ltd.
Kino Care Consumer (Cambodia) Co. Ltd.
Business unit
Distributor
Makanan
perawatan tubuh
Distributor
Supporting service
Distributor
Kosmetik
Kosmetik
Distributor
Minuman
Makanan Hewan
Makanan Hewan
Trading
perawatan tubuh
Peluang pengasuhan untuk 14 perusahaan anaknya adalah



Koneksi hubungan antara sesama perusahaan anak dan dengan perusahaan induk
yang akan memberikan sinergi untuk saling memanfaatkan service yang di produksi.
Investasi dana, perusahaan induk dapat memberikan investasi dana kepada
perusahaan anak untuk meningkatkan operational ataupun ekspansi.
Dukungan manajemen, perusahaan induk bisa membantu untuk mengelola kegiatan
fungsional seperti SDM, Purchasing, teknologi informasi dan memberikan keputusan
untuk strategi bisnis.
Faktor sukses kritis yang diberikan untuk perusahaan induk dari perusahaan anak kurang lebih
sama. Disebabkan perusahaan anak terdiri dari diversifikasi produk dan service, sehingga
faktor sukses kritis yang bisa diberikan dari perusahaan anak ke perusahaan induk kurang lebih
sama. Faktor sukses kritis yang diberikan untuk PT. Kino Indonesia Tbk adalah:
Business
Perusahaan
unit
PT. Duta Lestari sentrama
Distributor
PT. Kino Food indonesia dulu (PT. Kino
Sentra Industrindo)
Makanan
Kino Care (M) Sdn. Bhd.
Distributor
Kino consumer Phillipine inc.
Kino International Pte. Ltd.
Distributor
Supporting
service
Kino Vietnam co Ltd.
Distributor
PT. Ristra Klinik Indonesia
Kosmetik
PT. Ristra laboratoris indonesia
PT. Kino ecom solusindo
Kosmetik
Distributor
PT. Kino Malee Indonesia
PT. Kino Pet World Indonesia
PT. Kino Pet World Marketing
Indonesia
Minuman
Makanan
Hewan
Makanan
Hewan
Malee Kino Co. Ltd.
Kino Care Consumer (Cambodia) Co.
Ltd.
Trading
perawatan
tubuh
Faktor sukses kritis
Kualitas jasa, citra, inovasi
kualitas produk, efisiansi biaya,
teknologi
Kualitas jasa, citra,
inovasi,jejaring,lokasi
Kualitas jasa, citra,
inovasi,jejaring,lokasi
Kualitas jasa, citra,
inovasi,jejaring,lokasi
Kualitas jasa, citra,
inovasi,jejaring,lokasi
kualitas produk, efisiansi biaya,
teknologi, inovasi, jejaring
kualitas produk, efisiansi biaya,
teknologi, inovasi, jejaring
Kualitas jasa, citra, inovasi
kualitas produk, efisiansi biaya,
teknologi, inovasi, jejaring
kualitas produk, efisiansi biaya,
teknologi, inovasi, jejaring
kualitas produk, efisiansi biaya,
teknologi, inovasi, jejaring
Kualitas jasa, citra,
inovasi,jejaring,lokasi
Kualitas jasa, citra,
inovasi,jejaring,lokasi
Kesesuaian pengasuhan dan kreasi nilai
Kreasi nilai akan terjadi bila terjadi kecocokan antara kemampuan dan sumber daya
perusahaan induk dengan kebutuhan dan peluang di perusahaan anak. (Campbell dan Goold,
1995). Berikut kreasi nilai yang terjadi di Kino group dalam bentuk matrix kesesuaian
pengasuhan.
Matriks Kesesuaian Pengasuhan
Dimensi Matriks Kino Group dibentuk oleh sumbu horisontal yang merefleksikan derajat
kesesuaian antara peluang pengasuhan dan karakteristik pengasuhan dan sumbu vertikal yang
merefleksikan derajat ketidaksesuaian antara faktor sukses kritis anak perusahaan dengan
karakteristik pengasuhan.
1
3
2
4
5
6
8
7
10
9
11
12
14
15
13
1= PT. Kino Food indonesia dulu (PT. Kino Sentra Industrindo)
2= PT. Kino Malee Indonesia
3= Kino Care Consumer(Cambodia) Co Ltd
4= Malee Kino Co. Ltd.
5= PT. Duta Lestari sentrama
6= Kino Care (M) Sdn. Bhd.
7= Kino consumer Phillipine inc.
8= Kino International Pte. Ltd.
9= Kino Vietnam co Ltd.
10= PT. Kino ecom solusindo
11= PT. Ristra Klinik Indonesia
12= PT. Ristra laboratoris indonesia
13= PT. Kino Pet World Indonesia
14= PT. Kino Pet World Marketing Indonesia
Perusahan perusahaan anak di dalam daerah heartland adalah perusahaan yang faktor bisnis
strategis dimengerti oleh perusahaan induk. Sehingga bisa gampang di beri masukan.
Perusaha perusahan ini adalah perusahan yang berada di Indonesia dan sama seperti
perusahan induk menghasilkan produksi untuk consumer. Perusahaan seperti Perusahaan Kino
Food Indonesia dan Kino Malee Indonesia yang menghasilkan makanan dan minuman.
Perusahan yang masuk ke dalam edge heartland adalah perusahan anak yang masih memiliki
kesamaan dengan perusahaan induk. Sehinga perusahan induk masih memahami dan masih
bisa memberikan strategi business. Hal ini terdiri dari perusahan makanan dan minuman yang
ada di luar negeri.
Semua perusahaan distributor, trading dan system support masuk ke dalam daerah ballast.
Karena Perusahaan induk tidak memiliki peluang pengasuhan untuk menciptakan kreasi nilai
yang lebih besar. Tetapi tidak terjadi penghancuran nilai. Hal tersebut terjadi karena
perusahaan induk sudah memiliki perusahan distribusi tersebut terutama Duta lestari senjaya
sudah lama dan mengerti kompetensi perusahaan perusahaan tersebut. Perusaha Distributir,
trading dan system support tersebut juga memberikan benefit untuk menunjang perusahan ada
di dalam daerah Heartland dan edge heartland.
Untuk posisi alien territory, dimasukan PT. Kino Pet world Indonesia dan PT. Kino Pet World
Marketing Indonesia. Hal tersebut disebabkan perusahaan ini baru dan bisnis makanan hewan
adalah baru untuk perusahan dalam negeri Indonesia. Sehingga harus berhati hati dalam
menentukan strategi dibandingkan dengan perusahan anak lainnya.
Kreasi Nilai
Dalam keadaan sekarang, ternyata perusahaan induk menunjukan cara kreasi nilai yang sama.
Perusahaan induk menerapkan prinsip stand-alone influence, perusahan induk mempengaruhi
anak perusahan dengan kepemilikan penih, penyusunan dan penyerapan strategi bisnis. Kreasi
nilai terjadi karena perusaan induk menerapkan pengendalian yang ketat atas kinerja
perusahan perusahaan anak yang diberi tanggung jawap atas laba. Juga terdapat pola linkage
influence, dimana perusahan induk mempengaruhi perusahaan anak yang bersifat pendukung
melalui pengendalian ketat atas hubunganan antara unit bisnis. Kreasi nilai juga dilakukan
dengan menetapkan portfolio bisnis (corporate development) dan melakukan diverseifikasi
untuk menciptakan nilai sebesar besarnya.
Kesimpulan dan saran
Alasan Kino group melakukan diversifikasi adalah untuk peningkatan nilai berdasar kekuatan
yang ekonomis untuk restrukturisasi bisnis.. Setelah perusahan pertamanya PT. Duta Lestari
Sentratama mengalami kemunduran karena krisis moneter. Maka Kino melakukan diversifikasi
dengan memproduksi permen dengan membangun PT. Kino Food Indonesia.. Setelah itu
perusahaan anak berikutnya yang dimiliki berdasar alasan yang sama untuk peningkatan nilai.
Maksud dari hal diatas adalah untuk memastikan terjadi pengembangan bisnis dengan
memperbanyak business unit yang dimiliki. Sehingga bisa tetap bertahan dan memaksimalkan
nilai untuk shareholder.
Untuk Kino Group bisa diambil kesimpulan bahwa perusahaan yang paling besar berperan
sebagai perusahaan induk karena itu PT. Kino Indonesia tbk yang memproduksi perawatan
tubuh menjadi perusahan induk walaupun bukan perusahan pertama yang dibangun oleh Kino
Group. Dan diversifikasi yang dilakukan adalah pertumbuhan dengan pola yang tidak
berhubungan dari perusahan yang bergerak di bidang distribusi ke produksi makanan. Tetapi
setelah itu dilakukan pertumbuhan dengan pola perluasan bisnis yang terhubung contoh dari
produksi makanan ke produksi perawatan tubuh dan minuman. Setelah itu melakukan
perluasan bisnis dengan cara konglomerasi.
Berdasar matrix kesesuaian pengasuhan bisa terlihat bahwa ada beberapa perusahaan anak
yang berada di Ballats dan alien territory. Hal ini menunjukan peluang pengasuhan anak
berbeda beda tetapi kreasi nilai yang terjadi di Kino group ada 2 pola prinsip stand-alone
influence, perusahan induk mempengaruhi anak perusahan dengan kepemilikan penih,
penyusunan dan penyerapan strategi bisnis. Kreasi nilai terjadi karena perusaan induk
menetapkan pengaturan penuh terhadap anak perusahaan yang memproduksi barang.. Juga
terdapat pola linkage influence, dimana perusahan induk mempengaruhi perusahaan anak yang
bersifat pendukung melalui sinergi antara perusahaan anak. Maksudnya dengan mencocokan
untuk perusahaan distribusi milik Kino Group digunakan oleh perusahan yang produksi barang
sebagai distributor utamanya. Kreasi nilai juga dilakukan dengan menetapkan portfolio bisnis
(corporate development) dan melakukan diverseifikasi untuk menciptakan nilai sebesar
besarnya.
Untuk mengetahui portfolio bisnis Kino baik atau tidak bisa dilihat dari:
Berdasar Campbell(2014), Portfolio yang baik terdiri dari business logic, adding value dan
capital market logic. Business logic adalah apakah industry yang dimasuki menarik dan
perusahaan kita memiliki competitive advantage di industry tersebut. Adding value adalah
apakah perusahaan anak memberikan sinergi ke perusahaan anak lainnya dan perusahaan
induk dan capital market logic adalah apakah perusahaan yang mau dimiliki berada dalam
keadaan market tinggi atau rendah dalam keadaaan sekarang.
Disebabkan Kino tidak berada dalam keadaan berusaha membeli atau menjual perusahaan
anak. Maka di exclude capital market logic. Dan data yang dimiliki tidak cukup untuk melihat
business logic. Maka berdasar adding value bisa dibilang portfolio Kino adalah baik. Karena
semua perusahan distribusi, ecommerce, system support yang dimiliki Kino adalah untuk
menunjang perusahaan produksi makanan, minuman, makanan hewan,perawatan kulit yang
dimiliki Kino. Sehingga bisa dibilang antara perusahaan induk dan perusahaan anak saling
terjadi sinergi value. Dan menambahkan value perusahaan secara konsolidasi.
Bab IV
Daftar Pustaka
Anthony, Robert N. & Govinjar, V. (2004). Management Control System,11th Ed. New
York: McGraw-Hill.
Astiwahyuni, Fitri. (2017). Kesesuaian Pengasuhan (Parenting Fit) PT. Professional Development Abadi
Jaya pada Kelompok Bisnis PT. GA Link Group. Tesis Master Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta
Balaban, R. & P. Rotschild. (2002). Mapping Value Growth in Complex Portofolios. Journal
of Business Strategy.
Baskoro, Bobby Boris. (2013). Analisis Portofolio Bisnis PT. Multimedia Nusantara. Tesis
Master Universitas Gadjah Mada.
Campbell, Andrew., Alexander, Marcus., Whitehead, Jo., Goold, Michael. (2014). Strategy
for the Corporate Level. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Carpenter, M.A. & Sanders, W.G. (2007). Strategic Management, A Dynamic Perspective:
Concepts & Cases (2nd Edition). Upper Saddle River, NJ: Pearson Education.
Chandler, A.D. (1982). Strategy and Structure. Cambridge: MIT Publications
Chandler, Alfred. (1962). Strategy and Structure: Chapters In The History Of American Industrial
Enterprice.
Collis, D.J. & C.A. Montgomery (1998). Creating Corporate Advantage.
Harvard Business Review.
Desler, Gary. (2006). Strategi Multi Bisnis. Jakarta: Indeks.
Goold, M., A. Campbell, & A. Alexander. (1994). Corporate-Level Strategy: Creating Value in the
Multibusiness Company. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Kaplan, Robert and David Norton. 1996. The Balanced Scorecard: Translating Strategy into Action.
Boston: Harvard Business Review Press.
Laporan Tahunan Annual Report 2018 PT Kino Indonesia.Tbk http://www.Kino.co.id/wpcontent/uploads/2019/04/Laporan-Tahunan-Annual-Report-2018-PT-Kino-Indonesia-Tbk.pdf
Munir, Ningky. (2010). Kesesuaian Pengasuhan (Parenting Fit) di Perusahaan Multibisnis:
Studi Kasus Kelompok Transportasi. Journal of Business Strategy and Execution
Vol.2
Porter, Michael,E. (2008). Strategi Bersaing(Competitive Strategy), Tanggerang: Karisma publishing
group
Siagian, Sondang P. (2004). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Slamet, Giarti. n.d. “Strategi Tingkat Perusahaan Sebagai Upaya Dalam Menciptakan Nilai Perusahaan.”
Wheelen, T. L., Hunger, J. D., Hoffman, A.N., and Barnford.( 2018). Concept in Strategic Management
Upper Saddle River, N.J: Prentice Hall.
Download