bab 2

advertisement
7
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
TINJAUAN TEORITIS
2.1.1 Definisi Akuntansi
Menurut AAA (American Accounting Association) dalam Soemarso (2004:3)
mendefinisikan akuntansi sebagai “Proses mengidentifikasikan, mengukur dan
melaporkan informasi ekonomi, untuk memungkinkan adanya penilaian dan
keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut”.
Menurut Suwardjono (2003:6), memberikan definisi akuntansi, akuntansi
adalah seperangkat pengetahuan dan fungsi yang berkepentingan dengan masalah
pengandaan, pengabsahan, pencatatan , pengklasifikasian, pemrosesan, peringkasan,
penganalisisan, penginterprestasian, dan penyajian secara sistematik informasi yang
dapat dipercaya dan berdaya guna transaksi dan kejadiaan yang bersifat keuangan
yang perlukan dalam pemperoleh dan pengoperasian suatu unit usaha dan yang
diperlukan untuk penyusunan laporan yang harus disampaikan untuk memenuhi
pertanggung jawaban pengurusan keuangan dan lainnya.
Menurut Martani (2012:4) menyatakan akuntansi sebagai suatu sistem dengan
input data informasi dan output berupa informasi akuntansi dan laporan keuangan
yang bermanfaat bagi pengguna internal maupun eksternal entitas.
Menurut Stice, dkk (2009:9), Akuntansi adalah suatu aktivitas jasa yang
bertujuan untuk menyediakan informasi yang berkuantitatif, terutama informasi
keuangan tentang entitas-entitas ekonomi, yang dimaksudkan untuk digunakan dalam
proses pengambilan keputusan dalam pembuatan pilihan-pilihan yang beralasan
diantara berbagai alternatif tindakan yang tersedia.
Definisi diatas beberapa hal yang penting yang perlu diperhatikan adalah:
1. Akuntansi menyediakan jasa yang sangat penting bagi lingkungan usaha saat
ini.
2. Akuntansi terutama menekankan pada informasi keuangan kuantitatif yang
digunakan bersama dengan evaluasi kualitatif dalam pengambilan keputusan.
3. Informasi akuntansi digunakan dalam mengambil keputusan tentang
bagaimana mengalokasikan sumber daya yang terbatas.
8
4. Meskipun para akuntansi lebih menekankan pada pelaporan kejadian yang
telah terjadi, informasi masa lalu ini dimasudkan untuk digunakan dalam
pengambilan keputusan ekonomi tentang masa depan
Menurut American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), dalam
mendifinisikan, Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah menyediakan
data kuantitatif, terutama yang mempunyai sifat keuangan, dari kesatuan usaha
ekonomi yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi
dalam memilih alternative-alternatif dari suatu keadaan. (Zaki Baridwan, 2008:1)
Menurut Romeny (2014:11) mendefinisikan akuntansi sebagai “ Akuntansi
adalah proses identifikasi pengumpulan dan penyimpanan data serta proses
pengembangan, pengukuran, dan komunikasi.
American institute of certified publik accounting (AICPA) dalam Sofyan
Syafri Harahap (2005:4) mendefinisikan akuntansi dengan pengertian sebagai berikut:
“Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan dan pengiktisaran dengan cara
tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umumnya
bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya”.
Abdul Halim (2002:6) memberikan definisi akuntansi yang diterjemahkan,
Akuntansi adalah suatu aktifitas jasa. Fungsinya adalah penyediaan informasi
kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, tentang satuansatuan ekonomi yang
dapat bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomis dalam menetapkan pilihanpilihan yang logis diantara berbagai tindakan alternatif.
Menurut Langenderfer dalam Mardiasmo (2002 : 160) mendefinisikan
akuntansi dengan pengertian sebagai berikut :
“Akuntansi merupakan suatu sistem pengukuran dan sistem komunikasi untuk
memberikan informasi ekonomi dan sosial atas suatu entitas yang dapat didefinisikan
sehingga memungkinkan pemakai untuk membuat pertimbangan dan keputusan
mengenai alokasi sumber daya yang optimal dan tingkat pencapaian tujuan
organisasi”.
2.1.1.1 Tujuan Akuntansi
Menurut Soemarso dalam buku akuntansi suatu pengantar (2017:3-4) menyatakan
bahwa “ Tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi (economic
9
information) dari suatu kesatuan ekonomi (economic entity) kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.
Menurut A Statement Of Basic Accounting Theory (ASOBAT) oleh Sofyan
Syafri Harahap dalam buku Teori Akuntansi (2013:122) merumuskan 4 Tujuan
akuntansi, sebagai berikut:
1. Membuat keputusan yang menyangkut penggunaan kekayaan yang terbatas
dan untuk menetapkan tujuan.
2. Mengarahkan dan mengontrol secara efektif Sumber Daya Manusia dan factor
produksi lainnya.
3. Memelihara dan melaporkan pengumuman terhadap kekayaan.
4. Membantu fungsi dan pengawasan social.
Tujuan akuntansi secara kualitatif meliputi beberapa hal berikut ini:
a. Memberikan informasi yang relevan.
b. Menyampaikan informasi yang telah diuji kebenaran dan validitasnya.
c. Informasi yang disampaikan dapat dimengerti oleh pihak-pihak yang
berkepentingan.
d. Menyampaikan laporan keuangan untuk kepentingan semua pihak yang
terkait dengan aktivitas perusahaan.
e. Memberikan informasi transaksi yang real time, atau sesegera mungkin.
f. Informasi yang disampaikan sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima
Umum (PABU) dan dapat dibandingkan.
g. Penyampaian laporan keuangan harus lengkap dan memenuhi standar
pengungkapan laporan keuangan.
Menurut Soemarso (2009:3-4) menyatakan, Tujuan akuntansi adalah
menyajikan informasi ekonomi (economic information) dari suatu kesatuan ekonomi
(economic entity) kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Untuk menghasilkan
informasi ekonomi, perusahaan perlu menciptakan suatu metode pencatatan,
penggolongan, analisis, dan pengendalian transaksi serta kegiatan-kegiatan
keuangan, kemudian melaporkan hasilnya.
Kegiatan akuntansi meliputi:
1. Pengidentifikasian dan pengukuran data yang relevan untuk suatu pengambilan
keputusan.
10
2. Pemrosesan data yang bersangkutan kemudian pelaporan informasi yang
dihasilkan.
3. Pengkomunikasian informasi kepada pemakai laporan.
2.1.1.2 Prinsip-prinsip Akuntansi
Prinsip-prinsip Akuntansi menurut Zaki Baridwan (2008:10-12) meliputi:
1. Prinsip Biaya Historis (Historical Cost Principle)
Prinsip ini menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat
aktiva, utang, modal, dan biaya. Yang dimaksud dengan harga perolehan harga
pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yang tersangkut dalam
transaksi. Harga perolehan ini harus terjadi dalam transaksi diantara dua belah
pihak yng bebas (arm’s length transaction). Harga pertukaran ini dapat terjadi
pada seluruh transaksi dengan pihak ekstern, baik yang menyangkut aktiva,
utang, modal atau transaksi lainnya.
2. Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)
Pendapatan adalah aliran masuk harta-harta (aktiva) yang timbul dari
penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu
periode tertentu. Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan
adalah jumlah kas atau ekuivakennya yang diterima dari transaksi penjualan
dengan pihak yang bebas. Istilah pendapatan dalam prinsip ini merupakan
istilah yang luas, di mana didalam pendapatan termasuk juga pendapatan
bunga, sewa, laba penjualan aktiva dan lain-lain. Batasan umum yang biasanya
digunakan adalah semua perubahan dalam jumlah bersih aktiva selain yang
berasal dari pemilik perusahaan.
3. Prinsip Mempetemukan (Matching Principle)
Yang dimaksud dengan prinsip mempertemukan adalah mempertemukan biaya
dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut. Prinsip ini berguna
untuk menentukan besarnya pendapatan bersih setiap periode. Karena biaya ini
harus dipertemukan dengan pendapatan maka pembebanan biaya sangat
tergantung pada saat pengakuan pendapatan. Apabila pengakuan suatu
pendapatan ditunda, maka pembebanan biayanya juga akan ditunda sampai
saat diakuinya pendapatan.
4. Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)
11
Pimpinan perusahaan bertanggung jawab terhadap laporan keuangan yang
disusunnya. Tujuan penyusunan laporan keuangan ini adalah untuk
menunjukkan keadaan keuangan dan hasil kegiatan perusahaan dalam suatu
periode akuntansi. Agar tujuan tersebut dapat dicapai, haruslah dipilih metodemetode dan prosedur-prosedur akuntansi yang paling sesuai dengan kebutuhan
dan tujuan perusahaan. Selain dari itu laporan keuangan suatu perusahaan
seringkali dibandingkan dengan laporan tahun sebelumnya, dengan tujuan
untuk mengetahui perkembangan yang telah dicapai. Agar laporan keuangan
dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka metode dan
prosedur-prosedu yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan
secara konsisten dari tahun ke tahun, sehingga bila terdapat perbedaan antara
suatu pos dalam dua periode, dapat segera diketahui bahwa perbedaan itu
bukan selisih akibat penggunaan metode yang berbeda.
5. Prinsip Pengungkapan Lengkap (Full Disclousure Principle)
Yang dimaksud dengan prinsip pengungkapan lengkap (full disclousure)
adalah menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan keuangan. Karena
informasi yang disajikan itu merupakan ringkasan dari transaksi-transaksi
dalam satu periode dan juga saldo-saldo dari rekening-rekening tertentu,
tidaklah mungkin untuk memasukkan semua informasi-informasi yang ada ke
dalam laporan keuangan.
Prinsip akuntansi menurut La midjan dan ahar susanto (2001:90) bahwa dalam
akuntansi terdapat peinsip-prinsip sebagaia berikut ini:
1. Menganalisis struktur organisasi.
2. Menganalisis semua transaksi pada perusahaan secara harian maupun secara
bulanan.
3. Kumpulan catatan sebagai akuntansi.
4. Menganalisis kegiatan internal vek (uji cob) struktur kegiatan perusahaan.
5. Menganalisis sebagai laporan akuntansi keuangan untuk pihak ekternal yang
harus disiapkan dari catatan transaksi.
Menurut waluyo (2016:41-42) menyatakan, prinsip-prinsip dasar akuntansi
komersial telah banyak dikemukakan para ahli, tetapi umumnya mengacu pada standar
akuntansi keuangan, yaitu dasar akural (accrual basis) dan kelangsungan usaha (going
12
concern). APB Statement No. 4 menyatakan terdapat Sembilan prinsip dasar
akuntansi.
1. Cost Principle
Prinsip biaya (cost principle) atau biaya (historical cost), yaitu dasar penilaian
untuk mencatat perolehan barang, jasa harga pokok, biaya, maupun ekuitas,
sehingga yang paling pokok adalah penilaian yang didasarkan harga
pertukaran pada tanggal perolehan.
2. Revenue Principle
Prinsip pendapatan (revenue principle) ini lebih menjelaskan tentang sifat dan
komponen, pengukuran, maupun pengakuan pendapatan sebagai salah satu
komponen penyusunan laporan laba rugi.
3. Matching Principle
Prinsip dasar pemadanan atau penandingan (matching) menjelaskan masalah
pengaturan pembebanan biaya pada periode yang sama dengan periode
pengakuan hasil, sehingga hasil akan diakui pada periode menurut prinsip
dasar pengakuan hasil, sedangkan biayanya dibebankan sesuai periode
tersebut.
4. Objectivity Principle
Masalah objektivitas (objectivity) mempunyai penafsiran yang berbeda.
Sebagai contoh objektivitas sebagai realitas yang disampingkan pihak ketiga
yang independen (misalnya laporan rekening Koran dari bank), objektivitas
dianggap sebagai hasil konsensus kelompok yang mengukur ataupun
objektivitas diukur dengan penentuan batas atau limit tertentu.
5. Consistency Principle
Pada prinsip konsistensi ini, prosedur dan prinsip akuntansi yang sama harus
diterapkan dalam periode yang bersangkutan, sehingga peristiwa ekonomis
yang sejenis akan dicatat dan dilaporkan secara konsisten. Oleh karena itu
laporan keuangan akan diperbandingkan.
6. Disclosure Principle
Prinsip pengungkapan penuh (full disclousure) mengharapkan laporan
keuangan dibentuk dan disajikan dari peristiwa ekonomi yang memengaruhi
perusahaan dalam suatu periode. Laporan keuangan diharapkan cukup
informatif sehingga para pengguna laporan keuangan dapat memperoleh
13
manfaat dari informasi keuangan tersebut. Penyajian laporan keuangan
tersebut haruslah lengkap (full), jujur (fair), dan memadai (adequate,
mencakup informasi minimal yang memang harus disajikan).
7. Conservatism Principle
Prinsip
ini
merupakan
prinsip
pengecualian.
Prinsip
konservatisme
(conservatism principle) umumnya digunakan untuk hal yang sifatnya tidak
menentu atau ditengah kondisi ketidak pastian. Tetapi dengan semakin
banyaknya pihak yang mengutamakan penyajian jujur (fair) dan dapat
diandalkan (reliable), prinsip kinservatisme semakin berkurang penekanannya.
8. Materiality Principle
Seperti prinsip konservatisme, prinsip materialitas juga termasuk dalam
pengecualian. Accountants International Study Group memberikan pengertian
materialitas sebagai “Persoalan pertimbangan profesional penting. Pos-pos
tertentu harus dianggap material bila pengetahuan tertentu dianggap secara
wajar menimbulkan pengaruh bagi pengguna laporan keuangan.” Menurut
APB Statement No. 4, prinsip materialitas mengandung arti bahwa laporan
keuangan harus menyangkut informasi yang dianggap penting (material)
dalam memengaruhi penilaian.
9. Uniformity and Comparability Principle
Prinsip ini menekankan pada keseragaman dan dapat diperbandingkan, yang
merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai dalam penyusunan prinsip
akuntansi.
2.1.1.3 Fungsi Akuntansi
Menurut American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) menyatakan,
akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah menyediakan data kuantitatif,
terutama yang mempunyai sifat keuangan, dari kesatuan usaha ekonomi dalam
memiliki alternatif-alternatif dari suatu keadaan.
Menurut Zaki Bardiwan (2008:4) menyatakan, Fungsi Akuntansi adalah
menyajikan data kuantitatif yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan, perlu
dijaga agar data yang disajikan mempunyai kualitas tertentu.
Fungsi akuntansi menurut Mulyadi (2001:20) menyatakan, fungsi akuntansi
sebagai berikut ini:
14
1. Untuk menyediakan informasi bagi pengelola kegiatan usaha baru.
2. Untuk meningkatkan informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah ada,
baik mengenai mutu, ketetapan penyajian, maupun struktur informasinya.
3. Untuk memperbaiki pengendalian akuntansi dan pengecekan internal yaitu
untuk memperbaiki tingkat keandalan informasi akuntansi dan untuk
menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggung jawaban dan pelindungan
kekayaan perusahaan.
4. Untuk mengurangi biaya klerikal dalam penyelenggaraan catatan akuntansi.
Fungsi akuntansi menurut prinsip akuntansi Indonesia (PAI) adalah untuk
memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumber ekonomi dan
kewajiban serta modal suatu perusahaan.
2.1.1.4 Pengertian Siklus Akuntansi
Soemarso (2009:110) menjelaskan bahwa Siklus akuntansi (accounting cycle) adalah
tahap-tahap kegiatan dalam proses pencatatan dan pelporan akuntansi, mulai dari
terjadinya transaksi sampai dengan dibuatnya laporan keuangan.
Menurut Indra Bastian (2007:76) menyatakan, bahwa siklus akuntansi adalah
suatu sistematika pencatatan transaksi keuangan, peringkasannya dan pelaporan
keuangan.
Menurut Abdul Halim (2007:43) menyatakan, Siklus akuntansi adalah suatu
tahapan yang ada dalam suatu sistem akuntansi.
Siklus
akuntansi
merupakan
proses
akuntansi
yang dimulai
dengan
menganalisis dan mencatat transaksi-transaksi ke dalam jurnal, dilanjutkan dengan
posting ayat jurnal ke akun buku besar, meringkas saldo-saldo buku besar ke dalam
neraca saldo, menganalisis data yang perlu disesuaikan, menyiapkan laporan
keuangan, membuat jurnal penutup, dan diakhiri dengan posting ayat jurnal penutup
(Carl, 2015).
Menurut Dina fitrina (2014:28) pengertian siklus akuntansi adalah gambaran
tahapan kegiatan akuntansi yang meliputi pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran
dan pelaporan yang dimulai saat terjadi sebuah transaksi dalam sebuah perusahaan.
Sedangkan menurut Rahman Pura (2013:18) menyatakan, siklus akuntansi
merupakan serangkaian kegiatan akuntansi yang dilakukan secara sistematika dimulai
dari pencatatan akuntansi sampai dengan penutupan pembukuan.
15
2.1.1.5 Tahap-tahap Siklus Akuntansi
Menurut Soemarso (2009:90), Tahap-tahap Akuntansi sebagai berikut:
1. Tahap Pencatatan meliputi:
a. Pembuatan atau menerima bukti transaksi.
b. Pencatatan dalam jurnal (buku harian).
c. Pemindah bukuan (posting) ke buku besar.
2. Tahap Pengikhtisaran
a. Pembuatan neraca saldo (trial balance).
b. Pembuatan neraca lajur dan jurnal penyusunan (adjustment).
c. Penyusunan laporan keuangan.
d. Pembuatan jurnal penutup (closing entries).
e. Pembuatan neraca saldo penutup (post closing trial balance).
f. Pembuatan jurnal balik (reversing enteries).
Menurut Hery (2014: 66-67) tahap-tahap dalam siklus akuntansi dapat
diurutkan sebagai berikut ini:
a. Mula-mula dokumen pendukung transaksi dianalisis dan informasi yang
terkandung dalam dokumen tersebut dicatat dalam jurnal.
b. Lalu data akuntansi yang ada dalam jurnal diposting ke buku besar.
c. Seluruh saldo akhir yang terdapat pada masing-masing buku besar akun
“didaftar” (dipindakan) ke neraca saldo untuk membuktikan kecocokan antara
keseluruhan nilai akun yang bersaldo normal debet dengan keseluruhan nilai
akun yang bersaldo normal kredit.
d. Menganalisis data penyesuaian dan membuat ayat jurnal penyesuaian.
e. Memposting data jurnal penyesuaian ke masing-masing buku besar akun yang
terkait.
f. Dengan menggunakan pilihan (optional) bantuan neraca lajur sebagai kertas
kerja (work sheet), neraca saldo setelah penyesuaian (adjusted trial balance)
dan laporan keuangan disiapkan.
g. Membuat ayat jurnal penutup (closing entries).
h. Memposting data jurnal penutup ke masing-masing buku besar akun yang
terkait.
i. Menyiapkan neraca saldo setelah penutup (post closing trial balance).
j. Membuat ayat jurnal pembalik (reversing entries).
16
Menurut Ani Rahmaniar dan Soegijianto (2016:21), siklus akuntansi disetiap
perusahaan memiliki beberapa tahapan, yaitu:
1. Tahap Pencatatan
Tahap ini dimulai dengan menyiapkan bukti transaksi, pencatatan transaksi
dalam jurnal sampai dengan pencatatan ke dalam buku besar (posting).
2. Tahap Pengikhtisaran
Tahap ini dimulai dengan pembuatan neraca saldo, lalu ayat jurnal
penyesuaian dengan atau tanpa neraca lajur disusun sebagai laporan keuangan.
2.1.1.6 Bagan Siklus Akuntansi
Soemarso (2004:90) menggambarkan siklus akuntansi sebagai berikut:
Gambar 2.1
Siklus Akuntansi
Sumber: Soemarso (2004:90)
Proses tersebut berjalan terus-menerus dan berulang kembali sehingga
merupakan suatu arus berputar (siklus). Tahap-tahap kegiatan mulai dari terjadinya
17
transaksi sampai dengan penyusunan laporan keuangan sehingga siap untuk
pencatatan transaksi periode berikutnya disebut siklus akuntansi (accounting cycle).
2.1.1.7 Macam-macam Siklus Akuntansi
Menurut Marshall dan Paul (2015:7-9) macam-macam siklus akuntansi antara lain
adalah:
1. Siklus Pendapatan (revenue cycle) adalah serangkaian aktivitas bisnis dan
operasi pemrosesan informasi terkait yang terus-menerus dengan menyediakan
barang dan jasa kepada pelanggan dan menerima kas sebagai pembayaran atas
penjualan tersebut. Dimana barang dan jasa dijual untuk mendapatkan uang
tunai atau janji untuk menerima uang tunai dimasa depan.
2. Siklus Pengeluaran (expenditure cycle) adalah serangkaian aktivitas bisnis dan
operasi pemrosesan informasi terkait yang terus-menerus berhubungan dengan
pembelian serta pembayaran barang dan jasa. Dimana perusahaan membeli
persediaan untuk dijual kembali atau bahan baku untuk digunakan dalam
memproduksi barang sebagai pertukaran uang tunai atau janji untuk membayar
uang tunai di masa depan.
3. Siklus Produksi (production cycle) adalah serangkaian aktivitas bisnis dan
operasipemrosesan informasi terkait yang terus-menerus berhubungan dengan
pembuatan produksi.
4. Siklus Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)/Penggajian (human
resources management (HRM)/payroll cycle adalah serangkaian aktivitas bisnis
dan operasi pengolahan data terkait yang terus-menerus berhubungan dengan
mengelola kemampuan pegawai secara efektif. Dimana karyawan dipekerjakan,
dilatih, dibeli kompensasi, dievaluasi, dipromosikan, dan diberhentikan.
Tugas-tugas yang lebih penting meliputi sebagai berikut:
1.
Merekrut dan mempekerjakan para pegawai baru.
2.
Pelatihan.
3.
Penugasan pekerjaan.
4.
Kompensasi (penggajian).
5.
Evaluasi kinerja.
6.
Mengeluarkan pegawai karena penghentian yang sukarela maupun tidak.
5. Siklus Pembiayaan (financing cycle)
18
Dimana perusahaan menjual sahamnya kepada investor dan meminjam uang,
kemudian investor akan dibayar dengan deviden dan bunga yang akan dibayar
atas pinjaman tersebut.
Menurut Tata Subrata (2004:65) macam-macam siklus akuntansi
dikelompokan menjadi 4 siklus aktivitas bisnis yang umum, yaitu:
a. Siklus pendapatan adalah kejadian-kejadian yang berkaitan dengan
pendistribusian barang dan jasa kepada pihak lain dan penagihan
pembayaran yang berkaitan.
b. Siklus pengeluaran adalah kejadian-kejadian yang berkaitan dengan
perolehan barang dan jasa dari pihak lain dan penetapan kewajiban yang
berkaitan.
c. Siklus
produksi
adalah
kejadian-kejadian
yang
berkaitan
dengan
transformasi sumber daya menjadi barang dan jasa.
d. Siklus keuangan adalah kejadian-kejadian yang berkaitan dengan perolehan
dan manajemen dana modal, termasuk kas.
2.1.2 Pengertian Laporan Keuangan
Menurut Zaki Baridwan (2008:17), Laporan keuangan merupakan ringkasan dari
suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan
yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.
Menurut
Belkaoui (2002:10), laporan keuangan merupakan suatu ikhtisar
keuangan yang menyediakan informasi yang mendasari kepuusan ekonomi.
Maksudnya adalah adanya hubungan langsung suatu relevansi informasi akuntansi dan
alokasi sumber daya secara efisien.
Sedangkan menurut Munawir (2002:5) menyatakan laporan keuangan sebagai
berikut ini:
“ Laporan Keuangan adalah dua faktor yang disusun akuntan pada akhir periode untuk
suatu perusahaan. Kedua daftar ini adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan
dan daftar pendapatan atau daftar rugi laba. Pada waktu akhir-akhir sudah menjadi
kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambahkan daftar ketiga yaitu daftar
surplus atau daftar laba yang tidak dibagikan (laba ditahan).
Menurut Sutrisno (2008:9), ”Laporan Keuangan adalah hasil dari proses
akuntansi yang meliputi dari dua laporan utama yaitu:
19
1. Neraca
2. Laporan laba rugi
Menurut Baridwan (2004:17) menyatakan, laporan keuangan adalah ringkasan
dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi
keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.
Pengertian laporan keuangan sesuai PSAK No. 1 (Revisi 2009) paragraph 9
adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu
entitas.(Waluyo, 2016:9)
Menurut Mamduh M.Hanif dan Abdul Halim, dalam buku analisis laporan
keuangan (2002:63) menyatakan, laporan keuangan adalah laporan yang diharapkan
bisa memberikan informasi mengenai perusahaan dan digabungkan dengan informasi
yang lain, seperti industri, kondisi ekonomi, bisa memberikan gambaran yang lebih
baik mengenai prospek dan resiko dari perusahaan.
Menurut Faid dan Siswanto (2011:2), yang dimaksud dengan lapaoran
keuangan adalah informasi yang diharapkan yang mampu memberikan bantuan
kepada pengguna untuk memberi keputusan ekonomi yang bersifat financial.
Sedangkan menurut Soemarso (2009:34), laporan keuangan adalah laporan
yang dirancang untuk para pembuat keputusan, terutama pihak diluar perusahaan,
mengenai posisi keuangan dan dari hasil perusahaan.
Menurut Munawar (2004:2), mengemukakan laporan keuangan sebagai berikut
“Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat
digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktifitas suatu
perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data atau aktifitas dari
perusahaan tersebut.
2.1.2.1 Tujuan Laporan Keuangan
Di dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) Nomor 1 dinyatakan
bahwa pelaporan keuangan harus menyajikan informasi yang : (Zaki Baridwan,
2008:2-3)
a. Berguna bagi investor dan kreditur yang ada dan yang potensial dan pemakai
lainnya dalam membuat keputusan untuk investasi, pemberian kredit dan
keputusan lainnya. Informasi yang dihasilkan itu harus memadai bagi mereka
yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kegiatan dan usaha
20
perusahaan dan peristiwa-peristiwa ekonomi, serta bermaksud untuk menelaah
informasi-informasi itu secara sungguh-sungguh.
b. Dapat membantu investor dan kreditur yang ada dan yang potensial dan
pemakai lainnya untuk menaksir jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari
penerimaan uang di masa yang akan dating yang berasal dari deviden atau
bunga dan dari penerimaan uang yang berasal dari penjualan, pelunasan, atau
jatuh temponya surat-surat berharga atau pinjaman-pinjaman. Oleh karena
rencana penerimaan dan pengeluaran uang seorang kreditur atau investor itu
berkaitan dengan cash flow dari perusahaan, pelaporan keuangan harus
menyajikan informasi untuk membantu investor, kreditur dan pihak-pihak
lainnya untuk memperkirakan jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari aliran
kas masuk (sesudah dikurangi kas keluar) dimasa dating perusahaan tersebut.
c. Menunjukkan sumber-sumber ekonomi dari suatu perusahaan, klaim atas
sumber-sumber tersebut (kewajiban perusahaan untuk mentransfer sumbersumber ke perusahaan lain dan kepemilik perusahaan), dan pengaruh dari
transaksi-transaksi,
kejadian-kejadian
dan
keadaan-keadaan
yang
mempengaruhi sumber-sumber dan klaim atas sumber-sumber tersebut.
Menurut Harahap (2001:133) menjelaskan tujuan laporan keuangan dengan
membagi menjadi dua yaitu:
1. Tujuan Umum
Menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi
keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima.
2. Tujuan Khusus
Memberikan informasi tentang kekayaan, kewajibab, kekayaan bersih,
proyeksi laba, perubahan kekayaan, serta informasi lainnya yang relevan.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2009:3), tujuan laporan keuangan adalah
menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan
posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai
dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Sedangkan menurut Fahmi (2011:28) menyatakan, tujuan utama dari laporan
keuangan adalah memberikan informasi keuangan yang mencakup perubahan dari
unsur-unsur laporan keuangan yang ditunjukan kepada pihak-pihak lain yang
21
berkepentingan dalam menilai kinerja keuangan terhadap perusahaan di samping
pihak manajemen perusahaan.
Menurut PSAK No. 1 (revisi 2009) paragraf 9, tujuan laporan keuangan adalah
memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas
entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar pengguna laporan keuangan dalam
pembuatan keputusan ekonomi.(Waluyo, 2016:9)
2.1.2.2 Karakteristik Laporan Keuangan
Menurut IAI (2002:7-12) dalam buku Zaki Bardiwan (2008: 5-7), Karakteristik kualitatif
merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi
pemakai. Terdapat empat karakteristik kualitatif pokok yaitu:
1.
Dapat Dipahami
Informasi yang berkualitas adalah informasi yang dengan mudah dan segera
dapat dipahami oleh pemakainya. Pemakaian informasi diasumsikan
mempunyai pengetahuan yang memadai aktivitas ekonomi dan bisnis,
akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang
wajar.
2. Relevan
Informasi mempunyai kualitas relevan bila dapat mempengaruhi keputusan
ekonomi pemaikai, yaitu dengan cara dapat berguna untuk mengevaluasi
peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan atau
mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu. Relevansi informasi
bermanfaat dalam peramalan (predictive) dan penegasan (confirmatory), yang
keduanya berkaitan satu sama lain.
3. Keandalan
Agar bermanfataan, informasi juga harus andal (reliable). Informasi memiliki
kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan
material, dan dapat diandalkan pemakaianya sebagai penyajian yang tulus atau
jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajukan atau yang secara
wajar diharapkan dapat disajikan.
4. Dapat Dibandingkan
Pemakaian harus dapat membandingkan laporan keuangan perusahaan antara
periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja
22
keuangan. Pemakai juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antara
perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan
posisi keuangan secara reletif. Oleh karenanya, pengukuran dan penyajian,
transaksi yang sama harus dilakukan secara konsisten.
2.1.2.3
Jenis-jenis Laporan Keuangan
Sedangkan laporan keuangan menurut Harahap (2008:52) merupakan bagian dari
proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan tersebut meliputi hal-hal sebagai
berikut:
1. Daftar neraca yang menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu
tanggal tertentu. Neraca menggambarkan posisi harta, hutang dan modal pada
taggal tertentu.
2. Perhitungan rugi laba yang menggunakan jumlah hasil, biaya, laba/rugi
perusahaan pada suatu periode tertentu. Laba menggambarkan hasil yang
diterima perusahaan selama suatu periode tertentu serta biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk mendapatkan hasil tersebut berserta labanya.
3. Laporan dan sumber pengguna dana. Disini dimuat sumber dana dan
pengeluarkan perusahaan selama satu periode dan bisa diartikan kas bisa juga
diartikan model kerja.
4. Laporan arus kas. Laporan ini merupakan ikhtisar arus kas masuk dan arus kas
keluar yang dalam format laporannya dibagi dalam kelompok-kelompok
kegiatan operasi, kegiatan investasi dan kegiatan pembiayaan.
5. Catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian
integral dari laporan keuangan.
Menurut Ani Rahmaniar dan Soegijanto (2016:108-109)
jenis-jenis laporan
keuangan terdiri dari:
a. Laporan laba rugi (income statement)
Laporan laba rugi adalah jenis keuangan yang dibuat setiap akhir periode
akuntansi dan berisi mengenai semua pendapatan (revenues) dan semua beban
(expenses) yang terjadi selama periode akuntansi.
b. Pendapatan
Pendapatan adalah merupakan aliran kas masuk dari hasil penjulan barang atau
jasa kepada konsumen.
23
c. Biaya
Biaya merupakan aliran kekayaan yang dikeluarkan atau kekayaan yang
melekat pada produk atau jasa yang diserahkan oleh perusahaan kepada
konsumen dalam rangka memperoleh pendapatan pada transaksi penjualan.
d. Laba
Laba adalah selisih bersih antara pendapatan dan biaya. Laba akan terjadi
apabila pendapatan lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
pendapatan tersebut. Pada umumnya laba laba merupakan tujuan didirikannya
suatu perusahaan.
e. Rugi
Rugi merupakan kebalikan dari laba, rugi timbul apabila dalam suatu periode
pendapatan yang diperoleh perusahaan lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan.
2.1.3 Pengertian Pengendalian Internal
Menurut Singleton (2007:28), mendefinisikan pengendalian internal sebagai suatu
proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen dan personel lain yang
didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan
berikut ini :
1. Keandalan pelaporan keuangan.
2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
3. Efektifitas dan efisiensi anggaran.
Menurut Mulyadi (2008:216) dalam bukunya Auditing, mendefinisikan
pengendalian internal adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris,
manajemen, dan personel lain, yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai
tentang pencapaian tujuan.
Sedangkan menurut Ardiyos (2010) dalam Kamus Besar Akuntansi,
pengendalian internal adalah suatu sistem yang direncanakan guna membantu
pimpinan perusahaan dalam pengendalian kelancaran operasional perusahaan
dengan mencegah kemungkinan terjadinya penyelewengan, mengurangi tingkat
kesalahan dan mendorong ditaatinya kebijaksanaan yang telah ditetapkan.
Menurut Hery (2009), pengendalian internal adalah seperangkat kebijakan dan
prosedur untuk melindungi aktiva atau kekayaan perusahaan dari segala bentuk
tindakan penyalah gunaan, menjamin tersedianya informasi akuntansi perusahaan
24
yang akurat, serta memastikan bahwa semua ketentuan (peraturan) hukum atau
undang-undang serta kebijakan manajemen telah dipatuhi atau dijalankan
sebagaimana mestinya oleh seluruh karyawan perusahaan.
Rahayu dan Suhayati (2009:221), menyatakan pengendalian internal adalah
suatu proses, yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel
lainnya dalam suatu entitas, yang dirancang untuk memberikan keyakinkan
memadai guna mencapai tujuan-tujuhan sebagai berikut:
1. Keandalan pelaporan keuangan
2. Menjaga kekayaan dan catatan organisasi
3. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan
4. Efektifitas dan efisien operasi
Menurut Krismiaji (2015:9), pengendalian internal adalah sebuah rencana
organisasi dan metode yang digunakan untuk menjaga atau melindungi aktiva,
menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya, memperbaiki efisiensi, dan
untuk mendorong ditaatinya kebijakan manajemen.
Menurut Hery (2016) menyatakan, pengendalian Internal adalah seperangkat
kebijakan dan prosedur untuk melindungi aset atau kekayaan perusahaan dari segala
bentuk tindakan penyalagunaan, menjamin tersediaanya informasi akuntansi
perusahaan yang akurat, serta memastikan bahwa semua ketentuan (peraturan)
hokum/undang-undang serta kebijakan manajemen telah dipatuhi atau dijalankan
sebagaimana mestinya oleh seluruh karyawan perusahaan.
Menurut Marshall dan Paul (2016:226) menyatakan, pengendalian internal
adalah sebuah proses karena ia menyebar ke seluruh aktivitas pengoperasian
perusahaan dan merupakan bagian integral dari aktivitas manajemen.
2.1.3.1 Tujuan Pengendalian Internal
Pengendalian internal mempunyai tujuan untuk mendapatkan data tepat dan dapat
dipercaya, melindungi harta atau aktiva perusahaan, dan meningkatkan efektivitas dari
seluruh anggota perusahaan sehingga perusahaan dapat berjalan sesuai dengan tujuan
yang ditetapkan.
Secara lengkap Arens dan Loebbecke (2003:272) mengemukakan tujuan
pengendalian intern sebagai berikut:
25
“ Management typically has the following three concern, or board objectives, in
designing on control system:
a. Reliability of financial reporting
b. Effeciency and effectiveness of operations
c. Compliance with applicable laws and regulations.”
Tujuan pengendalian internal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Keandalan Laporan Keuangan
Agar dapat menyelenggarakan operasi usahanya, manajemen memerlukan
informasi yang akurat. Oleh karena itu, dengan adanya pengendalian internal
diharapkan dapat menyediakan data yang dapat dipercaya, sebab dengan
adanya data atau catatan yang handal memungkinkan akan tersusunnya laporan
keuangan yang dapat diandalkan.
b. Efektivitas dan Efesiensi Operasi
Pengendalian
internal
dimaksudkan
untuk
menghindari
pengulangan
kerjasama yang tidak perlu dan pemborosan dalam seluruh aspek usaha serta
mencegah penggunaan sumber daya yang tidak efisien.
c. Kepatuhan terhadap Hukum dan Kepatuhan
Pengendalian internal dimaksudkan untuk memastikan bahwa segala peraturan
dan kebijakan yang telah ditetapkan manajemen untuk mencapai tujuan
perusahaan dapat ditaati oleh karyawan perusahaan.
Menurut Hery (2008:159), menyatakan bahwa tujuan dari pengendalian
internal adalah:
1. Penetapan tanggung jawab
2. Pemisahan tugas
3. Dokumentasi
4. Pengendalian fisik, mekanik dan elektronik
5. Pengecekan independen atau verifikasi internal
Pengendalian internal disusun berdasarkan tujuan untuk memberikan
keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai
dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia.
Manajemen merancang
sistem pengendalian internal yang efektif dengan empat tujuan pokok berikut ini:
(Mulyadi, 2001)
a. Menjaga harta kekayaan perusahaan
26
Bila sistem pengendalian intern berjalan dengan baik maka akan dapat
mengantisipasi terjadinya kecurangan, pemborosan, ketidakefisienan, dan
penyalahgunaan terhadap aktiva perusahaan.
b. Mengecek keakuratan data akuntansi
Keandalan data/informasi akuntansi digunakan oleh manajemen dalam
pengambilan keputusan untuk meningkatkan ketelitian dan dapat dipercayanya
data akuntansi.
c. Mendorong efisiensi
Kebijakan perusahaan
mampu memberikan manfaat
tertentu dengan
memantau setiap pengorbanan yang telah dikeluarkan guna mendapatkan hasil
yang sebaik-baiknya.
d. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen
Untuk mencapai tujuan perusahaan maka kebijakan, prosedur, sistem
pengendalian intern yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang
memadai bahwa kebijakan, prosedur yang ditetapkan perusahaan akan dipatuhi
oleh seluruh karyawan.
Menurut Singleton (2007:32), menyatakan bahwa tujuan utama dari
pengendalian internal adalah untuk:
1. Menjaga aktivitas perusahaan
2. Memastikan akurasi dan dapat diandalkan catatan dan informasi akuntansi
3. Mempromosikan efesiensi operasi perusahaan
4. Mengukur
kesesuaian
dengan
kebijakan
dan
prosedur
yang
telah
ditetapakanoleh manajemen.
Sedangkan merurut Hery (2016) dengan adanya atau penerapan sistem
pengendalian internal secara ketat makan diharapkan bahwa seluruh kegiatan
operasional perusahaan dapat berjalan dengan baik menuju tercapainya maksimalisasi
profit. Bahkan tidak hanya dari segi operasional saja yang akan berjalan dengan tertib
dan baik sesuai prosedur, akan tetapi dari segi finansial perusahan juga dapat lebih termonitor dengan baik. Pada dasarnya, faktor efesiensi dan efektifitas unit/perusahaan
merupakan dua hal yang juga merupakan sasaran dari diterapkannya pengendalian
internal, karena kalau pengendalian internal tidak berjalan sebagaimana yang
diharapkan, maka kemungkinan besar (hamper dapat dipastikan) akan timbul yang
27
namanya inefisiensi (pemborosan sumber daya), yang pada akhirnya tentu saja hal ini
hanya akan membebani tingkat profitabilitas (keuntungan) perusahaan.
Seperti yang telah disampaikan dalam paragaf diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa tujuan dari pengendalian internal tidak lain adalah untuk memberikan jaminan
yang memadai bahwa:
1. Ases yang dimiliki oleh perusahaan telah diamankan sebagaimana mestinya
dan hanya digunakan untuk perusahaan semata, bukan untuk kepentingan
individu
(perorangan)
oknum
karyawan
tertentu.
Dengan
demikian,
pengendalian internal diterapkan agar supaya seluruh aset perusahaan dapat
terlindung dengan baik dari tindakan penyelewengan, pencurian, dan
penyalahgunaan yang tidak sesuai dengan wewenangnya dan kepentingan
perusahaan.
2. Informasi akuntansi perusahaan tersedia secara akurat dan dapat diandalkan.
Ini dilakukan dengan cara memperkecil resiko baik atas salah saji laporan
keuangan yang disengaja (kecurangan) maupun yang tidak disengaja
(kelalaian).
3. Karyawan telah mentaati hukum dan peraturan.
Menurut Marshall dan Paul (2016:226) menyatakan, tujuan pengendalian
internal diantara lain:
a. Mengamankan aset mencegah atau mendeteksi perolehan, penggunaan, atau
penempatan yang tidak sah.
b. Mengelola catatan dengan detail yang baik untuk melaporkan aset perusahaan
secara akurat dan wajar.
c. Memberikan informasi yang akurat dan reliabel.
d. Menyiapkan laporan keuangan yang sesuai dengan kreteria yang ditetapkan.
e. Mendorong atau memperbaiki efesiensi operasional.
f. Mendorong ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang telah ditentukan.
g. Mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku.
2.1.3.2 Komponen Pengendalian Internal
Menurut Ardana, dkk (2016:76) menyatakan komponen pengendalian internal untuk
memahami pengertian pengendalian internal yang lebih komprehensif, COSO (dalam
28
concidine, et al, 2010) mengambarkan hubungan antara berbagai komponen
pengendalian berupa kontak bujur sangkar sebagaimana terlihat pada dimensi, yaitu:
Dimensi kesatu, tujuan dari pengendalian internal yaitu:
a. Pelaporan keuangan (financial reporting).
b. Operasi (operations).
c. Ketaatan (compliance).
Dimensi kedua, komponen-komponen pengendalian internal kontrol terdiri
dari lima komponen yaitu:
1. Lingkungan pengendalian (control environment).
2. Penaksiran resiko (risk asseement).
3. Aktivitas pengendalian (control activities).
4. Informasi dan komunikasi (information and communication).
5. Pemantauan (monitoring).
Dimensi ketiga dari pengendalian internal dilihat dari komponen entitas
(entity) yang terdiri dari:
1. Entitas berdasarkan fungsi, atau aktivita.
2. Entitas berdasarkan unit-unit dalam suatu organisasi.
Menurut Bodnar dan Hopwood (2006:219) menyatakan bahwa sistem
pengendalian internal mempunyai lima komponen yang tidak jauh beda dengan uraian
di atas, yaitu:
1. Lingkungan Pengendalian.
2. Proses penentuan Resiko.
3. Sistem informasi perusahaan dan proses bisnis terkaitan yang relevan
terhadap pelaporan keuangan dan komunikasi.
4. Prosedur pengendalian.
5. Pemantauan pengendalian.
Menurut Diana dan Setiawati (2011: 83-92) Lima komponen dalam model
pengendalian COSO adalah:
1. Lingkungan Pengendalian.
Lingkungan pengendalian suatu perusahaan mencakup seluruh sikap
manajemen
dan
karyawan
mengenai
pentinggnya
pengendalian.
Manajemen harus menekankan pentingnya pengendalian dan mendorong
dipatuhinya kebijakan pengendalian akan menciptakan lingkungan
29
pengendalian yang efektif. Lingkungan pengendalian yang lemah
kemungkinan besar diikuti dengan kelemahan dalam komponen
pengendalian internal yang lain.
2. Aktivitas Pengendalian.
Aktivitas pengendalian yang terkait dengan pelaporan keuangan antara
lain meliputi:
a. Desain Dokumen yang Baik dan Bernomor Urut Cetak
Desain dokumen yang baik adalah desain dokummen yang
sederhana sehingga meminimalkan
kemungkinan kesalahan
mengisi. Dokumen juga harus memuat tempat untuk tanda tangan
bagi mereka yang berwenang untuk mengotorisasi transaksi.
Dokumen juga perlu bernomor urut tercetak sebagai wujud
pertanggungjawaban penggunaan dokumen.
b.
Pemisahan Tugas
Terdapat tiga pekerjaan yang harus dipisahkan agar karyawan tidak
memiliiki
peluang
memalsukan
diantaranya
catatan
fungsi
untuk
mencuri
akuntansi.
penyimpanan
harta
Ketiga
harta
perusahaan
pekerjaan
contoh
dan
tersebut
pemegang
persediaan yang berwenang utuk mengisi buku cek, fungsi pencatat
dan fungsi otorisasi transaksi bisnis.
c. Otorisasi yang Memadai atas setiap Transaksi Bisnis
Otorisasi adalah pemberian wewenang dari manajer kepada
bawahanya untuk melakukan aktivitas atau untuk mengambil
keputusan tertentu.
d. Mengamankan Harta dan Catatan Perusahaan
Harta perusahaan meliputi kas, persediaan, peralatan dan bahkan
data dan informasi perusahaan. Bentuk pengamanan tersebut
seperti menciptakan pengawasan yang memadai.
e. Menciptakan adanya Pengecekan Independen atas Pekerjaan
Karyawan lain.
Pengecekan independen ini meliput membandingkan catatan
dengan aktual fisik.
3. Penaksiran Risiko
30
Organisasi harus menyadari dan waspada terhadap berbagai resiko yang
dihadapinya. Organisasi harus pula menetapkan mekanisme untuk
mengidentifikasi, menganalisis dan mengelola resiko-resiko terkait.
4. Informasi dan Komunikasi
Informasi harus diidentifikasi, diproses dan dikomunikasikan ke personil
yang tepat sehingga setiap orang dalam perusahaan dapat melaksanakan
tanggung jawab mereka dengan baik.
5. Pengawasan Kinerja
Kegiatan dalam pegawasan kinerja diantaraya, supervisi yang efektif,
akuntansi pertanggungjawaban dan pengauditan internal.
Menurut (Mulyadi, 2002) unsur-usur pengendalian terdiri dari lima unsur
berikut :
1. Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian menciptakan suasana pengndalian dalam suatu
organisasi dan mempengaruhi kesadaran personel organisasi tentang
pengendalian. Lingkungan pengendalian merupakan landasan untuk semua
unsur pengendalian internal, yang membentuk disiplin dan struktur. Berbagai
faktor yang membentuk lingkungan pengendalian internal suatu entitas antara
lain:
a. Nilai integritas dan etika
Nilai integritas dan etika bisnis dikomunikasikan oleh manajer melalui
personal behavior dan operational behavior. Melalui personal behavior
manajer mengkomunikasikan nilai integritas dan etika melalui tindakan
individual mereka, sehingga nilai-nilai tersebut dapat di amati oleh
karyawan entitas. Melalui opersional behavior, manajer mendisain sistem
yang digunakan untuk memnbentuk perilaku yang di inginkan, yang
berdasarkan nilai integritas dan etika.
b. Komitmen terhadap kompetensi
Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan manajemen atas
pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dari paduan antara
kecerdasan, pelatihan dan pengalaman yang dituntut dalam pengembangan
kompetensi.
c. Dewan komisaris dan komite audit
31
Hal-hal yang harus di komunikasikan kepada dewan komisaris atau
komite audit meliputi :
1. Kebijakan akuntansi yang di pilih manajemen
2. Proses yang digunaka manajemen dalam melakukan estimasi
3. Akibat adjustment yang di lakukan oleh auditor
4. Ketidak sepakatan antara auditor dan manajemen tentang penerapan
prinsip akuntansi
5. Kesulitan yang ditemukan oleh auditor dalam pelaksanaan audit.
d. Filosofi dan gaya operasi manajemen
Filosofi adalah seperangkat keyakian dasar yang menjadi parameter bagi
perusahaan dan karyawan, filosofi merupakan apa yang seharusnya di
kerjakan dan apa yang seharusnya tidak di kerjakan oleh perusahaan.
Sedangkan gaya operasi merupakan cerminan dari ide manajer tetang
bagaimana operasi suatu entitas harus dilaksanakan
e. Struktur organisasi
Struktur organisasi memberikan kerangka untuk perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian, dan pemantauan aktifitas entitas. Pengembangan struktur
organisasi suatu entitas mencakup pembagian wewenang dan pembebanan
tanggung jawab di dalam suatu organisasi dalam mencapai tujuan
organisasi.
f.
Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab.
Dengan pembagian wewenang yang jelas, organisasi akan dapat
mengalokasikan berbagai sumber daya yang di milikinya untuk mencapai
tujuan organisasi. Disamping itu pembagian wewenang yang jelas akan
memudahkan pertanggung jawaban konsumsi sumber daya
organisasi
dalam pencapaian tujuan organisasi.
g. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
Karyawan merupakan unsur penting dalam setiap pengendalian internal.
Jika perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, unsur
pengendalian yang lain dapat di kurangi sampai batas minimum dan
perusahaan tetap mampu menghasilkan pertanggung jawaban keuangan
yang di andalkan.
2. Penaksiran risiko
32
Penaksiran risiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi,
analisis, dan pengelolaan risiko entitas yang berkaitan dengan penyusunan
laporan keuangan, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di
indonesia. Sedangkan penaksiran risiko manajemen untuk tujuan pelaporan
keuangan adalah penaksiran risiko yang terkandung dalam asersi tertentu
dalam laporan keuangan dan desain serta implementasi aktivitas pengendalian
yang ditujukan untuk mengurangi risiko tersebut pada tingkat minimum,
dengan memperhitungkan biaya dan manfaat.
1. Informasi dan komunikasi
Sistem akuntansi diciptakan untuk mengidentifikasi, menarik, mengelola,
menganalisis, mencatat dan melaporkan transaksi suatu entitas, serta
menyelenggarakan pertanggung jawaban kekayaan dan utang entitas
tersebut. Sistem akuntansi yang efektif dapat memberikan keyakinan
memadai bahwa transaksi yang dicatat atau terjadi adalah:
a. Sah
b. Telah diotorisasi
c. Telah dicatat
d. Telah dinilai secara wajar
e. Telah digolongkan secara wajar
f. Telah dicatat dalam periode yang seharusnya.
g. Telah di masukkan kedalam buku pembantu dan telah di ringkas
dengan benar.
Komunikasi mencakup penyampaian informasi kepada semua
personel yang terlibat dalam pelaporan keuangan tentang bagaimana
aktifitas mereka berkaitan dengan pekerjaan orang lain baik yang berada di
dalam maupun di luar organisasi.
2. Aktivitas pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk
memberikan keyakinan bahwa petunjuk yang dibuat oleh manajemen di
laksanakan. Kebijakan dan prosedur ini memberikan keyakinan bahwa
tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan untuk mengurangi risiko dan
pencapaian tujuan entitas.
33
Aktivitas pengendalian yang relevan dengan audit atas lapora keuangan
dapat di golongkan dalam berbagai kelompok. Salah satu cara penggolongan
adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian pengelolaan informasi
2. Pemisahan fungsi yang memadai
3. Pengendalian fisik atas kekayaan dan catatan
4. Review atas kinerja
5. Pemantauan
Pemantauan adalah proses penilaian kualitas kinerja pngendalia internal
sepanjang waktu. Pemantauan dilakukan oleh personel yang seharusnya
melakukan pekerjaan tersebut, baik tahap desain maupun pengoperasian
pengendalian,
pada
waktu
yang
tepat,
untuk
menentukan
apakah
pengendalian internal beroperasi sebgaimana yang diharapkan, dan untuk
menentukan apakah pengendalian internal tersebut telah memerlukan
perubahan karena terjadinya perubahan keadaan.
Mulyadi (2008:164), menyatakan ada empat unsur pokok yang harus dipenuhi
untuk menciptakan pengendalian yang baik, yaitu:
a. Struktur Organisasi yang memisahkan tanggung jawab fugsional secara
tegas
b. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan
yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya
c. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit
organisasi
d. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.
2.1.3.3 Lingkungan Pengendalian Internal
Lingkungan pengendalian (control environment) adalah hal yang mendasar dalam
komponen pengendalian intern. Lingkungan pengendalian menciptakan suasana
pengendalian dalam suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran personel
organisasi tentang pengendalian. (Mulyadi, 2008:183), Lingkungan pengendalian
merupakan landasan untuk semua unsur pengendalian intern, yang membentuk
disiplin dan struktur dalam organisasi.
34
Menurut
Mulyadi
(2008:183),
faktor
yang
membentuk
lingkungan
pengendalian dalam suatu entitas antara lain, yaitu :
a. Nilai integritas dan etika
b. Komitmen terhadap kompetensi
c. Dewan komisaris dan komite audit
d. Filosofi dan gaya operasi manajemen
e. Struktur organisasi
f. Pembagian wewenang dan pembebanan tanggungjawab
g. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia.
Menurut Marshall dan Paul (2016:231-232), lingkungan pengendalian (internal
environment), atau budaya perusahaan, memengaruhi cara organisasi menetapkan
strategi dan tujuannya: membuat struktur aktivitas bisnis, dan mengidentifikasi,
menilai, serta merespons risiko. Ini adalah fondasi dari seluruh komponen ERM
lainnya.
Lingkungan
internal
yang lemah
atau tidak efisien
sering kali
menghasilkankerusakan didalam manajemen dan pengendalian resiko. Hal tersebut
secara esensial merupakan hal yang sama dengan lingkungan pengendalian pada
kerangka IC.
Sebuah pengendalian internal mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Filosofi manajemen, gaya pengoperasian, dan selera resiko.
b. Komitmen terhadap integritas, nilai-nilai etis, dan kompetensi.
c. Pengawasan pengendalian internal oleh dewan direksi.
d. Struktur organisasi.
e. Metode penetapan wewenang dan tanggung jawab.
f. Standar-standar sumber daya manusia yang menarik, mengembangkan, dan
mempertahankan individu yang kompeten.
g. Pengaruh eksternal.
Menurut Elder, Beasley dan Arens (2011:322), Lingkungan pengendalian
memiliki beberapa elemen penting diantaranya:
1. Integritas dan nilai–nilai etika.
2. Komitmen terhadap kompetensi.
3. Partisipasi dewan direksi dan komisaris atau komite audit.
4. Filosofi manajemen dan gaya operasi.
5. Struktur organisasi.
35
6. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia.
2.1.3.4 Penaksiran Resiko (risk assessment)
Menurut Hall Singleton (2007:29) dalam Nurmailiza (2010), Perusahaan harus
melakukan penilaian resiko (risk assessment) untuk mengidentifikasi, menganalisis
dan mengelola berbagai resiko yang berkaitan dengan laporan keuangan.
Menurut Mulyadi (2008:188), penaksiran risiko manajemen untuk tujuan
pelaporan keuangan dan desain serta implementasi aktivitas pengendalian yang
ditujukan untuk mengurangi risiko tersebut pada tingkat minimum dengan
mempertimbangkan biaya dan manfaat. Penaksiran risiko manajemen harus mencakup
pertimbangan khusus terhadap risiko yang dapat timbul dari perubahan keadaan,
seperti :
a.
Bidang baru bisnis atau transaksi yang memerlukan prosedur akuntansi
yang belum pernah dikenal.
b.
Perubahan standar akuntansi.
c.
Hukum dan peraturan baru.
d.
Perubahan yang berkaitan dengan revisi sistem dan teknologi baru yang
digunakan untuk pengolahan informasi.
e.
Pertumbuhan pesat entitas yang menuntut perubahan fungsi pengolahan
dan pelaporan informasi dan personel yang terlibat didalam fungsi tersebut.
Penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan analisis risiko–risiko yang
berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi serta menentukan tindakan yang
tepat untuk mengahadapi resiko–resiko tersebut (Kurniawan, 2012:112).
2.1.3.5 Kegiatan Pengendalian
Menurut Mulyadi (2008:189), Aktivitas pengendalian (control activities) adalah
kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memberikan keyakinan bahwa petunjuk
yang dibuat oleh manajemen telah dilaksanakan. Kebijakan dan prosedur ini
memberikan keyakinan bahwa tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan untuk
mengurangi risiko dalam pencapaian tujuan entitas.
Menurut Mulyadi (2008:189-195), aktivitas pengendalian dapat dikategorikan
dalam berbagai aktivitas diantaranya :
a. Otorisasi transaksi
36
b. Pemisahan tugas
c. Catatan akuntansi d. Pengendalian akses
e. Verifikasi independen
Sedangkan
menurut
Marshall
dan
Paul
(2016:241-242)
menyatakan,
pengendalian internal (control activities) adalah kebijakan, prosedur, dan aturan yang
memberikan jaminan memadai bahwa tujuan pengendalian telah dicapai dan direspon
resiko dilakukan.
Prosedur pengendalian dilakukan dalam katagori-katagori berikut:
2. Otorisasi transaksi dan aktivitas yang layak.
3. Pemisahan tugas.
4. Pengembangan proyek dan pengendalian akuisis (perolehan).
5. Mengubah pengendalian manajemen.
6. Mendesain dan menggunakan dokumen secara catatan.
7. Pengamanan aset, catatan dan data.
8. Pengecekan kinerja yang independen.
2.1.3.6 Monitoring (pemantauan)
Pemantauan (monitoring) adalah proses penilaian kualitas kinerja pengendalian intern
sepanjang waktu. Pemantauan dilaksanakan oleh personel yang semestinya melakukan
pekerjaan tersebut, baik pada tahap desain maupun pengoperasian pengendalian pada
waktu yang tepat, untuk menentukan apakah pengendalian intern beroperasi
sebagaimana yang diharapkan, dan untuk menentukan apakah pengendalian intern
tersebut telah memerlukan perubahan karena terjadinya perubahan keadaan. (Mulyadi,
2008:195)
Pengawasan atau monitoring merupakan komponen pengendalian internal yang
kelima, melibatkan proses yang berkelanjutan untuk menaksir kualitas pengendalian
internal dari waktu ke waktu serta untuk mengambil tindakan koreksi yang diperlukan
(Bodnar dan Hopwood, 2006:145).
2.1.3.7 Keterbatasan Pengendalian Internal
Menurut Mulyadi (2002:181) pengendalian internal setiap entitas memiliki
keterbatasan bawaan yaitu sebagai berikut:
a. Kesalahan dalam pertimbangan.
37
Manajemen dan personel lain dapat salah dalam mempertimbangkan
keputusan bisnis yang diambil karena tidak memadainya informasi,
keterbatasan waktu atau tekanan lain.
b. Gangguan.
Ganguan dapat terjadi karena personel keliru memahami perintah atau
membuat kesalahan karena kelalaian, tidak adanya perhatian atau kelelahan.
c.
Kolusi.
Kolusi dapat mengakibatkan bobolnya pengendalian internal yang dibangun
untuk
melindungi
entitas
dan
tidak
terdeteksinya
kecurangan
oleh
pengendalian internal yang telah dirancang.
d. Pengabaian oleh manajemen.
Manajemen dapat mengabaikan kebijaka atau prosedur yang telah di tetapka
untuk tujuan yang tidak sah.
e. Biaya lawan manfaat.
Biaya yang di perlukan untuk mengoperasikan pengendalia internal tidak boleh
melebihi manfaat yang diharapkan dari pengendalian internal tersebut, karena
biasanya tidak dilakukan pengukuran secara tepat baik biaya maupun manfaat oleh
karena itu manajemen harus memperkirakan dan mempertimbangkan secara
kuantitatif dan kualitatif dalam mengevaluasi biaya dan manfaat suatu pengendalian
internal.
Berdasarkan uraian diatas, bahwa keefektifan pengendalian internal tergantung
dari orang-orang yang melaksanakannya dan juga perlu dipertahankan manfaat yang
dihasilkan.
Menurut Hery (2016:170) menyatakan, sistem pengendalian internal
perusahaan pada umumnya dirancang untuk memberikan jaminan untuk memberikan
jaminan yang memadai bahwa aset perusahaan telah diamankan secara tepat dan
bahwa catatan akuntansi dapat diandalkan. Pada dasarnya konsep jaminan yang
memadai ini sangat terkait langsung dengan sebuah asumsi yang mengatakan bahwa
biaya yang dikeluarkan untuk membentuk/menerapkan prosedur pengendalian
seharusnya juga sampai melebihi manfaat yang diperkirakan akan timbul/dihasilkan
dari pelaksanaan prosedur pengendalian tersebut.
Faktor manusia adalah faktor yang sangat penting sekali dalam setiap
pelaksanaan sistem pengendalian internal. Sebuah sistem pengendalian yang baik akan
38
dapat menjadi tidak efektif oleh karena adanya karyawan yang kelelahan, ceroboh
atau bersikap acuh tak acuh. Demikian juga halnya dengan kolusi, dimana kolusi ini
akan dapat secara signifikan mengurangi keefektifan sebuah sistem dan mengeliminasi
poteksi yang ditawarkan dari pemisahan tugas.
2.1.4
Pengertian Persediaan
Menurut Stice dkk (2009:571), menyatakan persediaan adalah istilah yang diberikan
untuk aktiva yang akan dijual dalam kegiatan normal perusahaan atau aktiva yang
dimasukkan secara langsung atau tidak langsung ke dalam barang yang akan
diproduksi dan kemudian dijual.
Persediaan Menurut Standar Akuntansi Keuangan dalam Ikantan Akuntansi
Indonesia, (2002:141-143) didefinisikan sebagai berikut:
a. Dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
b. Dalam proses produksi untuk dijual.
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam
proses produksi atau pemberian jasa.
Persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan
dagang maksud untuk dijual dalam satu periode usaha yang normal, termasuk barang
yang dalam pengerjaan / proses produksi menunggu masa penggunaannya pada proses
produksi (Prasetyo, 2006:65).
Menurut Rudianto (2008:236), Persediaan adalah sejumlah barang jadi, bahan
baku, bahan dalam proses yang dimiliki perusahaan dagang dengan tujuan untuk
dijual atau diproses lebih lanjut”. Kesimpulannya adalah bahwa persediaan merupakan
suatu istilah yang menunjukkan segala sesuatu dari sumber daya yang ada dalam suatu
proses yang bertujuan untuk mengantisipasi terhadap segala kemungkinan yang terjadi
lebih baik karena adanya permintaan maupun ada masalah lain.
Pontoh (2013:312), menyatakan dalam pengukurannya sebuah persediaan
harus diukur berdasarkan biaya maupun nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah.
Dimana, biaya perolehan sebuah persediaan (biaya persediaan), akan meliputi semua
biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada
dalam kondisi dan lokasi saat ini. Persediaan adalah barang yang dibeli dan disimpan
untuk dijual kembali dan diukur berdasarkan biaya maupun nilai realisasi neto, mana
yang lebih rendah.
39
Wibowo dan Abubakar (2003:166) persediaan pada perusahaan dagang adalah
barang-barang yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan.
Persediaan pada perusahaan manufaktur terbagi atas barang jadi (Fineshed goods)
barang dalam proses (goods in proces) dan bahan baku (Raw material).
Jusup (2001:99) Persediaan barang dagang adalah elemen yang sangat penting
dalam penentuan harga pokok penjualan pada perusahaan dagang eceran walaupun
perusahaan dagang partai besar. Berdasarkan dari definisi diatas dapat disimpulkan
bahwa, definisi dari persediaan adalah proses pencatatan, pengidentivikasian buktibukti transaksi masuk dan keluar barang yang dimiliki oleh perusahaan.
Zaki Bardiwan (2004:4), persediaan barang dagang adalah untuk menunjukkan
barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi
barang-barang yang akan dijual.
Sedangkan menurut Rangkuti (2004:2) persediaan merupakan bahan-bahan,
bagian yang disediakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam
perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yang
disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap waktu.
2.1.4.1 Fungsi Persediaan
Persediaan yang dimiliki perusahaan bertujuan untuk menjaga kelancaran usaha. Bagi
perusahaan dagang persediaan barang dagang memungkinkan perusahaan untuk
memenuhi permintaan pembeli. Sedangkan bagi perusahaan industri, persediaan
bahan baku dan barang dalam proses bertujuan untuk memperlancar kegiatan
produksi, sedangkan persediaan barang jadi ditujukan untuk memenuhi kebutuan
pasar.
Menurut Siagian (2006) fungsi persediaan terbagi atas empat jenis yaitu:
Fungsi Pemisah Wilayah, Fungsi Decoupling, Fungsi Penyeimbang dengan
Permintaan, dan Fugsi Penyangga.
Persediaan meliputi beberapa fungsi penting bagi perusahaan, yaitu (Rangkuti,
2004:15) :
1. Agar dapat memenuhi permintaan yang diantisipasi
2. Untuk menyeimbangkan produksi dengan distribusi
3. Untuk memperoleh keuntungan dari potongan kuantitas, karena membeli
dalam jumlah yang banyak ada diskon
40
4. Untuk hedging dari inflasi dan perubahan harga
5. Untuk menghindari kekurangan persediaan yang dapat terjadi karena cuaca,
kekurangan pasokan, mutu, dan ketidak tepatan pengiriman
6. Untuk menjaga kelangsungan operasi dengan cara persediaan dalam proses.
Biaya persediaan terdiri dari seluruh pengeluaran, baik yang langsung maupun
tidak langsung, yang berhubungan dengan pembelian, persiapan dan
penempatan persediaan untuk dijual. Biaya persediaan bahan baku atau barang
yang diperoleh untuk dijual kembali, biaya termasuk harga pembelian,
pengiriman, penerimaan, penyimpanan dan seluruh biaya yang terjadi sampai
barang siap untuk dijual.
2.1.4.2 Jenis-Jenis Persediaan
Santoso ( 2010:240), menyatakan bahwa pengelompokkan persediaan juga didasarkan
pada jenis persediaannya yaitu:
a. Bagi perusahaan dagang (merchandise enterprise) dimana persediaan
merupakan barang yang langsung diperdagangkan tanpa mengalami proses
lanjutan.
b. Sedangkan pada perusahaan industri dimana persediaan bahan baku
memerlukan proses lebih lanjut agar siap dijual dalam bentuk barang jadi
(finished goods), maka persediaan dikelompokkan sebagai berikut:
1. Bahan baku (raw materials) yaitu bahan baku yang akan diproses lebih
lanjut dalam proses produksi.
2. Barang dalam proses (work in process/goods in process) yaitu bahan baku
yang sedang diproses dimana nilainya merupakan akumulasi biaya
overhead (factory overhead cost).
3. Barang jadi (finished goods) yaitu barang jadi yang berasal dari barang
yang telah selesai diproses dan telah siap untuk dijual sesuai dengan
tujuannya.
4. Bahan pembantu (factory/manufacturing supplies) yaitu bahan pembantu
yang dibutuhkan dalam proses produksi namun tidak secara langsung dapat
dilihat secara fisik pada produksi yang dihasilkan.
Indrajit dan Djokopranoto (2007:8) mengklasifikasikan persediaan sebagai
berikut:
41
1. Persediaan barang dagang
2. Persediaan manufaktur
3. Persediaan rupa-rupa
Menurut Stice, dkk (2009:572), menyatakan persediaan dalam manufaktur
dikatagorikan menjadi tiga katagori yaitu:
1. Persediaan bahan baku adalah barang-barang yang dibeli untuk digunakan
dalam proses produksi.
2. Persediaan barang dalam proses adalah barang yang terdiri dari bahan-bahan
yang telah diproses namun masih membutuhkan pengerjaan lebih lanjut
sebelum dijual.
Persediaan ini terdiri dari tiga komponen biaya yaitu:
a. Bahan baku langsung, yaitu bahan baku yang secara langsung dapat
diidentifikasi dalam barang yang diproduksi.
b. Tenaga kerja langsung, yaitu biaya tenaga kerja yang secara langsung
dapat diidentifikasi dengan barang yang diproduksi.
c. Oberhead pabrik, yaitu bagian dari overhead pabrik yang dibebankan atas
barang yang diproduksi.
3. Persediaan barang jadi adalah barang yang sudah selesai diproduksi selain
bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.
2.1.4.3 Metode Pencatatan Persediaan
Jumlah pembelian dalam suatu periode selalu diakumulasikan dalam sistem akuntansi.
Angka harga pokok penjualan dan persediaan akhir dapat ditentukan dalam
menggunakan salah satu dari sistem persediaan perpetual dan periodik. Menurut Libby
dan Short (2008:334) sebagai berikut:
a. Dalam sistem persediaan perpetual perusahaan memiliki detail catatan untuk
setiap persediaan yang dimiliki.
Catatan tersebut memuat:
1.
Unit dan biaya persediaan awal.
2.
Unit dan biaya setiap pembelian.
3.
Unit dan harga pokok penjualan untuk setiap penjualan.
4.
Unit dan biaya persediaan yang ada di tangan pada setiap waktu.
42
b. Dalam sistem persediaan periodik, tidak ada catatan persediaan. Pada setiap
akhir periode perusahaan mesti melakukan perhitungan fisik persediaan untuk
menentukan jumlah persediaan yang masih dimiliki.
Menurut Zaki Baridwan (2004:4), menyatakan metode akuntansi persediaan
dapat dipisahkan menjadi 2 yaitu:
a. Metode Fisik adalah metode pencatatan persediaan yang tidak mengikuti
mutasi persediaan sehingga untuk mengetahui jumlah persediaan pada
suatu saat tertentu harus diadakan perhitungan fisik atas persediaan barang
(Stock Opname)
b. Metode buku (Perpetual) adalah metode pencatatan persediaan yang
mengikuti mutasi persediaan, baik kuantitasnya maupun harga pokoknya.
Oleh karena itu jumlah persediaan barang setiap saat dapat diketahui dari
rekening persediaan.
2.1.4.4 Kegunaan Persediaan
Menurut Suyadi (2009:74), persediaan yang diadakan mulai dari yang berbentuk
bahan mentah, barang setengah jadi sampai dengan barang jadi bertujuan untuk
sebagai berikut:
a. Menghilangkan risiko keterlambatan datangnya atau bahan yang dibutuhkan.
b. Mengurangi risiko penerimaan bahan baku yang dipesan tetapi tidak sesuai
dengan pesanan sehingga harus dikembalikan.
c. Menyimpan barang/bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat
digunakan seandainyapun barang/bahan itu tidak tersedia di pasaran
d. Mempertahankan stabilitas proses produksi perusahaan atau menjamin
kelancaran proses produksi.
e. Upaya penggunaan mesin yang optimal, karena terhindar dari terhentinya
operasi produksi karena ketidakadaan persediaan.
f. Memberikan pelayanan kepada pelanggan secara lebih baik. Barang cukup
tersedia di pasaran, agar ada setiap waktu diperlukan. Khusus untuk barang
yang dipesan, barang dapat selesai pada waktunya sesuai dengan yang
dijanjikan.
Dengan demikian, persediaan dimiliki oleh perusahaan mempunyai arti
penting bagi kelangsungan kegiatan perusahaan dalam mencapai tujuan perolehan laba
43
usaha. Dengan jumlah persediaan yang memadai, maka kelancaran operasional untuk
menghasilkan produk jadi akan lebih terjamin dan perusahaan dapat mengopotimalkan
perolehan laba usaha seperti yang ditargetkan.
2.1.5 Pengendalian Internal atas Persediaan Barang Dagang
Pengendalian internal atas persediaan barang dagang mutlak diperlukan mengingat
aset ini tergolong cukup lancar. Kalau tidak berbicara mengenai pengendalian internal
atas persediaan, sesungguhnya ada dua tujuan utama diterapkannya pengendalian
internal tersebut, yaitu untuk mengamankan atau mencegah aset perusahaan
(persediaan) dari tindakan pencurian, penyelewengan, penyalah gunaan, dan
kerusakan, serta menjamin keakuratan (ketepatan) penyajian persediaan dalam laporan
keuangan. Di dalamnya, termasuk pengendalian internal atas keabsahan transaksi
pembelian dan penjualan barang dagang.
Pengendalian internal atas persediaan seharusnya dimulai pada saat barang
diterima (yang dibeli dari pemasok). Laporan penerimaan barang yang bernomor urut
tercetak seharusnya disiapkan oleh bagian penerimaan untuk penetapan tanggung
jawab awal oleh persediaan. Untuk memastikan bahwa barang yang diterima sesuai
apa yang telah dipesan, maka setiap laporan penerimaan barang harus dicocokkan
dengan formulir pesanan pembelian yang asli. Harga barang yang dipesan, seperti
yang tertera dalam formulir pesanan pembelian, seharusnya dicocokkan dengan harga
yang tercantum dalam faktur tagihan (invoice). Hery (2016)
Menurut Midjan dan Susanto (2001:155) pengendalian internal persediaan
barang dagang adalah semua metode dan tindakan yang digunakan untuk
mengamankan persediaan sejak dari kedatangan, menerima, menyimpan, dan
mengeluarkannya, baik fisik maupun kualitas dan pencapaiannya terutama penentuan
dan peraturan jumah persediaan.
Menurut Henry Simamora (2000:288), tujuan pengendalian internal atas
persediaan adalah untuk memastikan bahwa persediaan diamankan dan dilaporkan
secara benar dalam laporan keuangan.Pengendalian internal ini dapat bersifat
preventif maupun detektif, Pengendalian preventif dirancang untuk mencegah terjadi
kesalahan sedang pengendalian detektif dirancang untuk mendeteksi setiap kesalahan
setelah terjadi.
44
Pengendalian atas persediaan haruslah bermula segera setelah persediaan
diterima. Laporan penerimaan yang bernomer urut harus diisi oleh bagian
penerimaan barang perusahaan dalam upaya menegakkan akuntabilitas pertama
terhadap persediaan, untuk memastikan bahwa persediaan yang diterima adalah yang
dipesan setiap laporan penerimaan barang harus direkonsiliasikan dengan pesanan
pembelian, disamping itu harga persediaan yang dipesan haruslah dibandingkan
dengan harga yang ditagih oleh penjual kepada perusahaan.
Pengendalian internal untuk mengamankan persediaan meliputi pengembangan
dan penerapan langkah-langkah keamanan untuk mencegah kerusakan persediaan
atau pencurian oleh karyawan, pemisahan karyawan yang menjaga persediaan
dengan yang membuat catatan-catatan akuntansimerupakan pemisahan tugas.
2.1.6 Tujuan Pengendalian Internal atas Persediaan Barang Dagang
Secara umum telah disebutkan bahwa tujuan pengendalian internal dalam suatu
perusahaan adalah untuk memberikan kepastian yang layak kepada manajemen bahwa
tujuan tertentu dari perusahaan akan tercapai. Menurut Arens, dkk (2003:272) terdapat
enam rincian yang harus dipenuhi oleh pengendalian internal untuk mencegah
terjadinya kesalahan dalam junal dan catatan perusahaan:
1. Recorded transaction are exist (existence).
2. Existing transaction are recorded (completeness).
3. Recorded transaction are stated at the correct amount (accuracy).
4. Transaction are property classified (classification).
5. Transaction are recorded on the correct dates (timing).
6. Recorded transaction are properly included in the master file and correctly
summarized (posting and summarization).
Tujuan pengendalian internal persediaan barang dagang adalah:
1. Transaksi benar-benar terjadi dan dilaksanakan (eksistensi).
Menyatakan bahwa transaksi yang dicatat adalah transaksi yang benar-benar
terjadi dalam perusahaan.
2. Transaksi
yang terjadi diidentifikasikan dan dicatat secara lengkap
(kelengkapan) menyatakan, bahwa transaksi telah dicatat dengan lengkap
sehingga dapat mencegah terjadinya kehilangan transaksi dari catatan.
3. Transaksi yang terjadi telah dicatat dengan benar (akurasi)
45
Menyatakan bahwa transaksi telah dicatat dengan benar yang tujuannya
menyangkut keakuratan informasi untuk transaksi akuntansi.
4. Transaksi yang terjadi diklarifikasikan dengan benar ( klasifikasi)
Menyatakan bahwa transaksi yang terjadi diklarifikasikan pada perkiraan yang
benar.
5. Transaksi yang terjadi dicatat pada waktu yang tepat (ketepatan waktu)
Menyatakan bahwa transaksi dicatat pada waktu yang tepat, sehingga laporan
keuangan yang dihasilakan benar-benar bermanfaat.
6. Transaksi dimasukkan ke dalam catatan tambahan dan diikhtisarkan dengan
benar (posting dan pengikhtisaran)
Menyatakan bahwa setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan dicatat
dengan tepat ke dalam catatan tambahan dan diikhtisarkan dengan benar.
Menurut Krismiaji (2015:09) fungsi dari SIA yang dirancang dengan baik
adalah untuk memberikan pengawasan dan pengendalian yang memadai untuk
menjamin bahwa tujuan berikut ini tercapai:
1. Semua transaksi telah diotorisasi secara tepat.
2. Semua transaksi yang dicatat adalah valid (benar-benar terjadi).
3. Semau transaksi yang vaild dan telah diotorisasi telah dicatat.
4. Semau transaksi telah dicatat secara akurat.
5. Semua aktiva (kas, persediaan, data) dilindungi dari kemungkinan hilang atau
dicuri.
6. Aktivitas bisnis dilaksanakan secara efisien dan efektif.
2.1.7 Syarat-syarat keefektifan pengendalian internal pengelolaan Persediaan
Barang.
Pengelolaan persediaan barang adalah hal yang sangat penting karena persediaan
adalah aset utama dalam sebuah bisnis retail, semakin baik pengelolaan barang pada
sebuah bisnis akan meminimalkan resiko kerugian yang sebagian besar disebabkan
oleh persediaan barangnya. Adapun syarat-syarat pengelolaan persediaan barang yang
efektif adalah sebagai berikut (Willson dan Campbell, 1997):
a. Penetapan tanggung jawab dan kewenangan yang jelas terhadap persediaan.
46
Tanggung jawab merupakan pekerjaan dan kewajiban yang harus dijalankan
oleh seseorang dengan maksimal, dan disertai wewenang atau hak untuk
membuat keputusan.
b.
Sasaran dan kebijakan yang dirumuskan dengan baik
Karyawan yang bertugas melaksanakan keinginan pemimpinan harus
memahami dengan jelas aturan-aturan yang akan menjadi pedoman dalam
menjalankan tugas dari pemimpin agar sesuai dengan apa yang di harapkan
oleh pemimpin
c. Fasilitas pergudangan dan penanganan yang memadai
Fasilitas dan pengamanan pergudangan yang memadai sangatlah penting, agar
persediaan terlepas dari risiko-resiko yang akan menimbulkan kerugian seperti
pencurian barang rusak
d.
Klasifikasi dan identifikasi persediaan secara layak
Dalam penetapan anggaran dan pengendalian serta keyakinan bahwa
persediaan telah dicatat sebagaimana mestinya harus dilakukan klasifikasi dan
identifikasi sediaan barang.
e. Standarisasi dan simplikasi persediaan.
Tujuan dari standarisasi adalah untuk mengurangi banyaknya unsur atau jenis
barang. Dengan adanya pengurangan dalam jenis atau unsur persediaan akan
mempermudah pengendalian internal persediaan barangnya.
f. Catatan dan laporan yang cukup
Catatan-catatan persediaan harus berisi informasi serta dokumen-dokumen
yang memadai untuk memenuhi kebutuhan para staf yang berhubungan dengan
persediaan barang dagang.
g. Tenaga kerja yang memuaskan
Tenaga kerja yang berkualitas atau memuaskan akan menimbulkan tercapainya
pengelolaan sediaan barang yang baik, karena pengolaan sediaan tidak hanya
dicapai melalui penetapan prosedur dan catatan pembukuan melainkan
diperoleh juga melalui tindakan sumber daya manusianya. Selain ketujuh
syarat keefektifan di atas pengendalian internal persediaan barang juga harus
sesuai dengan unsur-unsur pengendalian internal.
2.1.8 Pengelolaan Persediaan Barang Dagang yang Efektif
47
Pengelolaan persediaan barang dagang merupakan aktivitas yaaang selalu melekat
pada persediaan barang dagang, karena melalui pengelolaan persediaan barang dagang
yang efektif, akan mendapatkan pendapatan yang maksimal bagi perusahaan. Menurut
Willson dan Campbell yang di alihbahasakan oleh Tjintjin Fenix Tjendera (1997, 428)
pengelolaan persediaan secara luas adalah:
“Secara luas fungsi pengelolaaan persediaan meliputi pengarahan arus dan
penanganan barang wajar mulai dari penerimaan sampai pergudangan dan
penyimpanan, menjadi barang dalam pengolahan dan barang jadi, sampai
berada ditangan pelanggan.”
Dalam perusahaan dagang secara luas fungsi pengelolaan persediaan meliputi
pengarahan arus dan penanganan barang secara wajar mulai dari penerimaan sampai
pergudangan dan penyimpanan, sampai berada ditangan pelanggan.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur
pengelolaan barang dagang terdiri dari:
1. Prosedur pesanan pembelian persediaan barang dagang.
2. Prosedur penerimaan persediaan barang dagang.
3. Prosedur penyimpanan persediaan barang dagang.
4. Prosedur pengeluaran persediaan barang dagang.
5. Prosedur pencatatan persediaan barang dagang.
6. Prosedur penilaian persediaan barang dagang.
7. Prosedur pengendalian persediaan barang dagang.
Berikut ini akan dijelaskan:
1. Prosedur Pesanan Pembelian Persediaan Barang Dagang
Biasanya dilakukan oleh departemen pembelian yang dipimpin oleh kepala
pembelian umum. Dalam keadaan apapun, prosedur sistematis harus
inyatakan dalam bentuk tertulis untuk menetapkan tanggung jawab dan
untuk memberi informasi yang lengkap mengenai penggunaan seluruh
barang yang dipesan dan diterima.
Menurut Willson dan Campbell yang dialih bahasakan oleh Tjintjin
Fenix Tjendera (1997, 428) mengungkapkan bahwa:
“Perencanaan persediaan berhubungan dengan penentuan komposisi
persediaan, penentuan waktu dan penjadwalan, serta lokasi untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan perusahaan yang diproyeksikan.”
48
Persediaan pengertian di atas, perencanaan persediaan barang dagang meliputi:
a. Penentuan komposisi persediaan barang dagang.
b. Penentuan waktu dan penjadwalan suatu pembelian persediaaan
barang.
c. Lokasi atau pihak yang dapat memenuhi kebutuhan persediaan barang
dagang.
2. Prosedur Penerimaan Persediaan Barang Dagang
Kegiatan dalam prosedur penerimaan persediaan barang dagang adalah
penanganan fisik atas persediaan barang dagang yang terima dan
mengirimkannya kepada bagian gudang. Jenis dan kuantitas
barang yang
diterima harus diverifikasi secara hati-hati. Verifikasi ini dalam perusahaan
besar dilakukan dua kali, pertama pada waktu barang diterima oleh bagian
penerimaaan, dan kedua pada waktu barang diterima oleh bagian gudang untuk
disimpan.
Menurut Usry dan Hammer yang dialihbahasakan oleh Alfonsus Sirait
dan Herman Wibowo (1997:213) aktivitas yang dilakukan oleh departemen
penerimaan meliputi:
1. Menurunkan muatan dan membuka kemasan barang yang masuk
2. Mengecek jumlah yang diterima dan membandingkan terhadap
jumlah yang tertera dalam formulir yang disampaikan pihak
pengirim.
3. Mengamati kesesuaian antara barang yang diterima dengan uraian
tertulis dalam pesanan pembelian.
4. Menyiapkan laporan penerimaan
5. Memberitahu perbedaan-perbedaan yang ditemukan terhadap
departemen pembelian.
6. Menyiapkan pemeriksaan bila diperlukan.
7. Memberitahu departemen pengangkutan dan pembelian mengenai
segala kerusakan yang ada dalam perkerjaan.
8. Mengirim barang yang telah diterima ke lokasi pabrik yang tepat.
Secara naratif prosedur penerimaan persediaan barang dagang adalah
sebagai berikut:
49
Apabila barang telah tiba dari pemasok bersama surat pengantar barang,
maka oleh bagian penerimaan diperiksa mengenai:
a. Asli dikirim ke bagian pembelian
b. Tembusan pertama dikirim kepada bagian yang membutuhkan
persediaan barang dagang tersebut.
c. Tembusan kedua dikirim ke bagian akuntansi untuk dicatat pada kartu
persediaan (stock card). Kolom diterima mengenai kuantum.
d. Tembusan ketiga dikirim kebagian gudang bersama barangnya.
e. Tembusan keempat sebagai arsip pada bagian penerimaan.
Surat penerimaan (receiving report) berisi:
1. Nama, jenis, banyak, kualitas barang yang diterima
2. Nama order pembelian yang dibuka.
3. Tanggal penerimaan
4. Sebutkan sesuai tindakanya dengan order pembelian
3. Prosedur Penyimpanan Persediaan Barang Daganag
Prosedur penyimpanan barang dimulai dari penerimaan barang dari
departemen penerimaan yang dilampiri dengan selembar laporan penerimaan
yang diteruskan kegudang. Tujuan penyimpanan barang di gudang adalah
untuk mencegah dan mengurangi kerugian yang timbul akibat pencurangan
dan kerusakan barang. Yang bertanggung jawab disini adalah kepala gudang,
artinya barang harus disimpan dalam gudang agar tetap terjaga baik
kualitasnya maupun kuantitasnya.
4.
Prosedur Pengeluaran Persediaan Barang Dagang
Kepala gudang sebagai pejabat bagian penyimpanan biasanya menerima
instruksi tertulis yang didalamnya tercantum ketentuan mengenai pengeluaran
barang yaitu bahwa barang hanya boleh dikeluarkan berdasarkan instruksi dari
pejabat yang berwenang atau berdasarkan bon permintaan barang dari bagian
yang memerlukan barang dagang tersebut. Kepala gudang bertanggung jawab
atas pelaksanaan pengeluaran barang maupun kelengkapan dokumen yang
menyertainya.
Surat permintaan barang merupakan dokumen permintaan barang yang
ditunjukan kepada bagian gudang agar mengeluarkan dan mengangkat barang
ketempat yang telah ditentukan dan menyerahkan kepada personel yang
50
mengajukan dengan prosedur yang sesuai. Bagian gudang kemudian
mengeluarkan bukti pengeluaran barang yang didistribusikan kepada bagian
akuntansi, bagian yang meminta pengeluaran barang, serta arsip untuk bagian
gudang sendiri.
5.
Prosedur Pencatatan Persediaan Barang Dagang
Menurut Horngren, dkk (2002:359) persediaan dapat dicatat dengan dua cara
yaitu:
1. Perpertual Inventory System
Pada sistem ini pembelian barang dagang untuk dijual kembali atau bahan
baku
untuk
diproduksi
didebet
pada
perkiraan
persediaan.
Biaya
pengangkutan, pengembalian barang, dan potongan pembelian dicatat pada
perkiraan persediaan, harga pokok barang diperoleh untuk setiap penjualan
dengan mendebit perkiraan harga pokok barang dan mengkredit persediaan.
Perkiraan harga pokok barang diperlukan untuk mengakumulasikan cost dari
barang yang dijual. Saldo dari perkiraan persediaan pada akhir tahun akan
menunjukan nilai persediaan akhir yang dimiliki. Perpetual inventory system
menyediakan catatan yang kontinyu dari saldo perkiraan persediaan dan harga
pokok barang.
Adapun ayat jurnal untuk metode perpetual adalah:
a. Aktivitas pembelian
Dr. Persediaan barang dagang
Cr.
Rp. XXX
Kas hutang dagang
Rp.XXX
b. Aktivitas Penjualan
Dr. Harga pokok barang yang dijual
Cr.
Rp. XXX
Persediaan barang dagang
Dr. Kas/Piutang dagang
Cr. Penjualan
Rp.XXX
Rp. XXX
Rp. XXX
2. Periode Inventory System
Pada sistem ini, pembelian yang terjadi didebit leperkiraan pembelian. Jadi,
dengan menggunakan sistem ini perkiraan persediaan tidak akan terpengaruh
atau tetap sampai akhir periode akuntansi karena tidak akan terjual yang
berhubungan dengan perkiraan persediaan saat terjadi pembelian dan penjualan.
Pada akhir periode akuntansi seluruh persediaan yang ada dihitung dan nilainya
51
ditetapkan sebesar cost dimana nilai ini akan dimaksukkan sebagai jumlah
persediaan akhir yang ada. Harga pokok barang yang dijual pada akhir periode
ditentukan dengan cara, persediaan awal ditambah pembeliaan dikurangi
persediaan akhir. Adapun ayat jurnak untuk metode periodic adalah:
1. Aktivitas pembelian
Dr. Pembelian barang dagang
Cr.
Rp. XXX
Kas/Hutang dagang
Rp. XXX
2. Aktivitas penjualan
Dr. Kas/Piutang dagang
Cr.
Rp.XXX
Penjualan
Rp. XXX
6. Prosedur penelian persediaan barang dagang
Metode penilaian persediaan barang dagang yang biasa dipergunakan perusahaan
adalah:
a.
FIFO (First In First Out)
Berdasarkan asumsi ini harga pokok yang harus dibebankan sebagai harga
pokok
barang yang dijual adalah himpunan harga pokok yang berasal dari
pembelian pembelian yang paling awal, dengan demikian nilai persediaan akan
berasal dari himpunan harga pokok yang yang berasal dari pembelianpembelian terakhir. Menurut metode FIFO dalam (Hermawan, 2008), ketika
terjadi penjualan maka harga perolehan barang yang lebih dahulu dibeli akan
perhitungkan lebih awal.
b.
LIFO (Last In First Out)
Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa himpunan harga pokok yang
terakhir akan dibebankan sebagai harga barang yang dijual, dengan demikian
nilai persediaan yang akan disajikan pada neraca merupakan himpunan cost
yang berasal dari pembelian-pembelian yang pertama.
c.
Average cost
Metode ini didasarkan pada suatu asumsi bahwa nilai persediaan akhir
perupakan himpunan harga pokok rata-rata dari persediaan itu sendiri,
sehingga baik nilai persediaan maupun harga pokok barang yang dijual selalu
akan mempunyai bagian yang sama terhadap harga pokok yang terhimpun dari
persediaan tersebut.
52
Dalam sistem persediaan terus-menerus, asumsi ini dikenal dengan
istilah metode rata-rata bergerak (moving averge method) karena harga pokok
perunit akan selalu berubah setiap terjadi mutasi dalam persediaan. Sedangkan
berdasarkan sistem rata-rata tertimbang (weighted average cost method)
karena untuk mendapatkan harga pokok perunit, maka persediaan awal serta
pembelian-pembelian haruslah dijumlahkan dan jumlah himpunan harga pokok
secara keseluruhan dibagi dengan jumlah himpunan unit persediaan secara
keseluruhan. Nilai persediaan diperoleh dengan mengalihkan jumlah unit
terhadap harga pokok rata-rata tertimbang perunit. Kadang-kadang dalam
physical system metode ini juga dikenal dengan istilah meode rata-rata
sederhana (simple average method). Metode rata-rata tertimbang berbeda
dengan metode rata-rata sederhana, karena pada metode ini harga pokok
perunit yang merupakan himpunan harga pokok dari persediaan awal
ditambahkan terhadap pembelian-pembelian dan dibagi jumlah unit pesediaan
yang merupakan himpunan harga pokok tanpa memperhatikan jumlah unit
secara keseluruhan.
d. Identifikasi Khusus
Dalam metode ini penilaian persediaan dilakukan berdasarkan identifikasi
barang masing-masing, karena itu dalam praktik penerapan metode ini tidak
mudah dilakukan dan apabila ditinjau dari segi pengelolaannyapun biasanya
manfaat yang didapat lebih kecil daripada pengorbanan yang harus dilakukan
untuk melakukan penilaian itu sendiri, karena itu menurut biaya yang relatif
lebih besar dibandingkan metode lainnya, juga metode ini menuntut waktu
yang lebih banyak.
7. Prosedur pengendalian persediaan barang dagang
Jadi pengendalian persediaan barang dagang meliputi:
a. Penentuan kuantitas persediaan barang dagang yang mencukupi kebutuhan
untuk proses penjualan.
b. Perlindungan fisik terhadap persediaan barang dagang.
2.2
KAJIAN-KAJIAN TERDAHULU (LITERATURE REVIEW)
Menurut Srijantri Seredei dan Treesje Runtu (2015), melakukan penelitia dengan judul
evaluasi penerapan pengendalian intern atas persediaan barang dagangan pada pt.
53
Suramando (distributor farmasi dan general supplier) di manado menyimpulkan
bahwa, pengendalian intern terhadap persediaan barang dagangan pada PT Suramando
berjalan cukup efektif. Pembagian tugas diterapkan kesetiap bagian sehingga tidak
ada penggandaan tugas. Pemeriksaan yang dilakukan setiap hari, pengawasan secara
fisik atas persediaan dan catatan/dokumen, serta adanya petugas keamanan dan
kamera CCTV menjaga barang dari adanya kerusakan maupun penyelewengan.
Pemantauan terhadap persediaan bukan hanya dilakukan oleh pihak internal saja tetapi
dilakukan oleh pihak eksternal yakni oleh BPOM. Sehingga kualitas dari persediaan
barang dagangan selalu dalam keadaan baik.
Sedangkan Aprilia Makisurat,dkk mengambil judul penelitian penerapan sistem
pengendalian intern untuk persediaan barang dagangan pada CV. Multi media persada
manado, mengambil kesimpulan bahwa:
1. Sistem informasi akuntansi atas prosedur penerimaan, penyimpanan dan
pengeluaran barang dagangan sudah efektif karena dijalankan sesuai dengan
komponen sistem informasi akuntansi yang ada. Lingkungan pengendalian pada
CV. Multi Media Persada Manado dapat disimpulkan sudah baik, karena struktur
organisasi yang ada berjalan secara fungsional. Penilaian resiko yang dilakukan
oleh perusahaan sudah baik, sebab pengantisipasian yang dilakukan oleh
perusahaan dalam menangani setiap resiko yang mungkin. Aktivitas pengendalian
akan prosedur penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran barang dagangan yang
dilakukan sudah cukup memadai, sebab dokumen-dokumen yang ada diarsipkan
secara sistematis dan terkomputerisasi dengan baik serta pemeriksaan yang
independen terhadap perusahaan dilakukan hanya setiap 4 bulan sekali.
2. CV. Multi Media Persada Manado memiliki sistem informasi yang baik, karena
setiap pencatatan transaksi akuntansi pada perusahaan dilakukan secara
terkomputerisasi sehingga proses pengolahan datanya lebih cepat dan tingkat
akurasinya tinggi. Namun kelemahannya, tidak adanya catatan manual yang dapat
digunakan oleh perusahaan dalam mengantisipasi apabila terjadi kegagalan dalam
sistem komputerisasi yang selalu digunakan oleh perusahaan. Kegiatan
pengawasan setiap prosedur yang ada sudah cukup baik, karena diawasi oleh
kepala gudang yang melakukan pemeriksaan dan penghitungan kembali barang
dagangan serta memiliki tim audit yang ditugaskan untuk melakukan
54
penghitungan fisik dan penelusuran dari dokumen dan laporan yang terkait, tanpa
melibatkan bagian Gudang dan bagian Finance.
Widya Tamodia (2013), mengambil judul evaluasi penerapan sistem
pengendalian intern untuk persediaan barang dagangan pada PT Laris Manis
Utama cabang manado. Berdasarkan pada hasil pembahasan sebelumnya maka
dapat penulis simpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Penerapan sistem pengendalian persediaan barang daganggan pada PT
Laris Manis Utama‚ belum ada keseragaman dalam penulisan nama
barang, kesalahan menulis nama/merk/size pada barang yang keluar dan
kesalahan mengeluarkan barang dari gudang.
2. Sistem pengendalian persediaan barang daganggan telah efektif, karena
penerimaan dan penyimpanan barang, pencatatan, dan otorisasi dilakukan
oleh fungsi yang berbeda.
2.3
LATAR BELAKANG INSTITUSI
1. Sejarah Singkat Perusahaan
PT Multi Welindo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang plate
penyambungan tiang pancang serta importasi mesin-mesin produksi beton pracetak.
PT Multi Welindo berkedudukan di Jl. Raya prancis pergudangan 8 Blok FC
Jatimulya Kosambi, Tangerang. Didirikan berdasarkan Akta Notaris Darmawan
Tjoa, S.H..S.E, Nomor 31 bertanggal 21 Agustus 2007, Notaris di Jakarta. Akta
pendirian tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Haka
Asasi Manusia Repubik Indonesia dengan surat keputusan Nomor: W7-10237
HT.01.01. Tahun 2007 tanggal 17 September 2007. Bergerak sejak tahun 2007
dalam produksi Plate Penyambungan tiang pancang serta importasi mesin-mesin
produksi beton pracetak.
PT Multi Welindo saat ini merupakan pemain terbesar dalam bidang produksi
plate penyambungan tiang pancang di Indonesia. Selama lebih dari tiga dekade,
kami telah membangun pengetahuan dan pengalaman yang sulit tertandingi, hingga
mampu menghantarkan kami menjadi pemasok plate penyambungan tiang pancang
yang terpercaya karena hasil produksi plate penyambungan yang memiliki kualitas
terbaik dengan harga yang kompetitif. Begitu pula untuk produk mesin-mesin beton
pracetak. Dengan berkembang kegiatan usaha semakin meningkat dari tahun
55
ketahun, menunjukkan bahwa permintaan atas plate penyambungan tiang pancang
dan importasi mesin-mesin produksi beton pracetak semakin berkembang dan maju.
Untuk itu, manajemen melakukan tambaha investasi baik dari segi modal usaha
maupun dari penambahan aset seperti mesin produksi, kapasitas produksi,
memperluas wilayah pemasaran dan menambah jumlah produksi sesuai dengan
tingkat permintaan pasar.
Guna menunjang kelancaran kegiatan usaha, manajemen melakukan kerja
sama dengan relasi seperti perbankan, pemerintah, maupun lembaga lainnya yang
dapat menunjang kegiatan perusahaan. Wilayah pemasaran yang dilakukan
perusahaan tidak hanya di wilayah Tangerang, akan tetapi juga di luar kota sesuai
dengan kebutuhan dan permintaan dari relasi seperti Palembang, Padang, Medan,
Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan lain sebagainya. Sementara itu,
manajemen
secara
berkesinambungan
terus
melakukan
inovasi
dan
mengembangkan varian produk-produk untuk kebutuhan plate penyambungan tiang
pancang dan mesin-mesin beton pracetak yang dibutuhkan baik untuk kebutuhan
industri maupun kebutuhan pribadi. Di sisi lain, manajemen terus mengikuti
perkembangan pasar dan kebutuhan konsumen yang terus berkembang dari waktu
ke waktu, untuk itu manajemen melakukan evaluasi dan kajian secara periodik
yaitu enam bulan sekali sehingga kondisi dapat membuat perusahaan melakukan
penyesuaian bila diperlukan sehingga mampu bertahan dan bersaing dengan para
kompetitornya.
2.3.1 Visi Dan Misi pada PT Multi Welindo
1. Visi Perusahaan
Mempertahankan posisi sebagai pimpinan pasar sebagai produsen plat
penyambungan tiang pancang serta pemasok mesin-mesin produksi beton
pracetak terbesar, sembari berusaha mengembangkan potensi pasar ekspor.
2. Misi Perusahaan
Membantu membangun Indonesia melalui penyediaan tiang pancang yang
berkualitas berserta layanan pendukungnya guna mendukung kontruksi
bangunan tinggi serta proyek infrastruktur yang berkualitas.
2.3.2 Struktur Organisasi Perusahaan
56
Struktur organisasi perusahaan adalah posisi jabatan yang ada yang memiliki tugas
dan fungsi yang berbeda, di bawah ini adalah struktur organisasi PT Multi Welindo
yang berada di Tangerang adalah sebagai berikut:
57
Direktur Utama
Sekertaris
Manager
Manager
Manager
Manager
Marketing
Fin.Acc & Tax
HRD & Affair
Pembelian
Supervisor
Marketing
ADM
Marketing
Staff
Staff
Bagian
Spv
Acc
Legal
Purchace
Staff
Bagian
Finance
Affair
Kasir
Boy/Girl
Staff
sales
A/R
ADM
Sales
Staff
Staff
Purchasing
Office
Marketing
Supervisor
Adm
Staff
Purchasing
Bagian
Adm Gaji
Security
A/P
ADM
Sales
Staff
Tax
Sumber : PT Multi Welindo, 2018
Gambar IV.1 Struktur organisasi PT Multi Welindo.
58
Berikut ini diuraikan secara garis besar uraian tugas dari struktur organisasi di
atas sebagai berikut:
1. Direktur Utama, tugasnya adalah:
a. Melakukan pengawasan terhadap kelancaran kegiatan operasional
berdasarkan
kebijakan yang telah ditetapkan dalam RUPS.
b. Membina hubungan kerja sama dengan customer dan supplier
perusahaan untuk kepentingan perusahaan.
c. Melakukan koordinasi kerja dengan para manager agar kegiatan
operasional berjalan lancar.
d. Membuat laporan pertanggungjawaban kepada komisaris.
2. Sekretaris, tugasnya adalah:
a. Mengatur jadwal pertemuan antara dirut dengan relasi bisnis sesuai
dengan jadwal yang telah ditetapkan.
b. Membuat surat atau dokumen resmi terkait dengan kegiatan dirut atas
nama perusahaan dengan relasi bisnis.
c. Mengarsip semua dokumen resmi dan membuat notulen rapat yang
telah dilakukan baik internal maupun untuk urusan eksternal
perusahaan.
3. Manager marketing, tugasnya adalah:
a. Membuat rencana pemasaran atas produk perusahaan baik untuk
jangka pendek dan jangka panjang yang harus dicapai.
b. Melakukan kerja sama dengan relasi bisnis dalam kegiatan pemasaran
produk perusahaan.
c. buat laporan penjualan atas kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh
bawahan dan disampaikan kepada direktur utama.
d. Order dari pelanggan
4. Supervisor marketing, tugasnya adalah:
a. Memantau kegiatan pemasaran produk agar dapat dikenal dan diterima
oleh relasi.
b. Melakukan kunjungan kepada relasi atau mitra kerja untuk kegiatan
marketing produk perusahaan.
c. Membuat laporan bulanan atas kegiatan marketing kepada manager
marketing.
59
5. Supervisor penjualan (sales), tugasnya adalah:
a. Memasarkan produk kepada tempat-tempat yang telah ditetapkan agar
produk cepat dijual.
b. Membuat laporan penjualan produk mingguan dan bulanan kepada
manager marketing.
6. Manager finance, accounting dan tax, tugasnya adalah:
a. Melakukan pengawasan secara menyeluruh atas transaksi keuangan,
pembukuan dan perpajakan perusahan.
b. Membuat kebijakan terkait dengan prosedur akuntansi, perpajakan dan
keuangan perusahaan agar dapat berjalan dengan lancar.
c. Membuat laporan pertanggungjawaban atas departemen terkait kepada
dirut.
7. Staf accounting dan finance, tugasnya adalah:
a. Melakukan pencatatan atas transaksi keuangan perusahaan pada
program akuntansi setiap bulan sesuai dengan prosedur yang berlaku.
b. Membuat laporan mingguan dan bulanan atas transaksi keuangan
dalam laporan laba rugi dan neraca.
c. Bagian finance, melakukan pembayaran dan penerimaan kas atas
transaksi keuangan yang terjadi selama satu bulan.
d. Membuat laporan atas mutasi kas mingguan dan pengeluran serta
penerimaan giro.
8. Kasir, tugasnya adalah:
a. Mencatat transaksi pengeluaran dan penerimaan uang setiap hari pada
buku kas harian.
b. Meneliti terlebih dahulu atas transaksi pembayaran dan penerimaan
kas yang terjadi sesuai dengan prosedur yang berlaku.
c. Membuat laporan harian atas mutasi kas dalam buku kas harian.
9. Staf Account receivable dan staff account payable , tugasnya adalah
sebagai beikut:
a. Melakukan pencatatan atas transaksi penjualan secara kredit yang
menimbulkan piutang usaha di buku pembantu piutang dan buku besar
piutang.
60
b. Membuat laporan atas mutasi piutang secara mingguan dan bulanan
kepada manajer terkait.
c. Melakukan pencatatan hutang yang timbul dari transaksi pembelian
secara kredit dan dokumen pendukung sebagai keabsahan transaksi
tersebut.
d. Melakukan pengawasan atas mutasi hutang mingguan dan bulanan
yang terjadi.
e. Membuat laporan mutasi hutang atas transaksi pembelian kredit dan
pelunasan hutang yang telah dilakukan baik mingguan maupun
bulanan.
10. Staff perpajakan, tugasnya adalah:
a. Melakukan perhitungan PPh pasal 21 atas penghasilan karyawan dan
buruh setiap bulan.
b. Membayar pajak ke kantor kas atau bank persepsi sesuai dengan
kewajiban perpajakan yang berlaku.
c. Melaporkan pajak yang telah dibayar ke KPP setempat sesuai dengan
kewajiban perpajakan perusahaan.
11. Manager HRD dan affair, tugasnya adalah:
a. Melakukan pengawasan atas kegiatan berkaitan dengan karyawan
dalam melaksanakan tugasnya.
b. Membuat peraturan terkait dengan karyawan baik dari disiplin waktu
berkaitan dengan kepentingan karyawan dan perusahaan.
c. Memberikan penilaian dan hukuman pada karyawan yang melanggar
peraturan.
d. Membina hubungan kerja sama dengan lembaga swasta atau
pemerintah terkait dengan karyawan.
e. Membuat laporan pertanggung jawaban kepada dirut.
12. Staf legal dan affair, tugasnya adalah:
a. Mengurusi segala urusan perusahaan dengan karyawan terkait dengan
masalah peraturan dan undang-undang ketenagakerjaan.
b. Melakukan pencegahan atas kejadian-kejadian yang dilarang sesuai
dengan peraturan perusahaan.
61
c. Melakukan kerja sama dengan pihak luar sehubungan dengan
kepentingan perusahaan seperti perusahaan penyediaan tenaga kerja.
13. Staf administrasi penggajian, tugasnya adalah:
a. Melakukan perhitungan ulang atas absensi karyawan dan buruh selama
satu bulan.
b. Melakukan sosialisasi peraturan perusahaan kepada karyawan agar
diketahui perubahan terbaru.
c. Membuat laporan atas absensi karyawan selama satu bulan kepada
manajer HRD.
14. Security dan office girl & boy, tugasnya adalah:
a. Melakukan
pengamanan
atas
setiap
tamu
yang
berkunjung
keperusahaan guna kelancaran kegiatan usaha.
b. Memantau lingkungan kerja perusahaan agar tetap aman dan kondusif
dalam kegiatan usahanya.
c. Mencatat setiap tamu yang datang dan kepentingan apa dalam buku
tamu.
d. Melakukan pembersihan atas inventaris kantor perusahaan agar tetap
dapat digunakan.
15. Manager pembelian, tugasnya adalah:
a. Melakukan kerja sama dengan supplier untuk membeli kebutuhan
perusahaan baik terkait dengan kebutuhan pabrik dan keperluan
kantor.
b. Membina kerja sama dengan supplier atas pemasokan barang yang
dibutuhkan perusahaan.
c. Membuat laporan pembelian sebagai pertanggung jawaban kepada
dirut.
16. Supervisor pembelian, tugasnya adalah:
a. Memeriksa barang yang dibeli dari supplier apakah sesuai dengan
order pembelian dan spesifikasi yang ditetapkan.
b. Melakukan koordinasi dengan bawahan dalam kegiatan pembelian
kepentingan pabrikasi dan kepentingan kantor agar dapat berjalan
lancar.
62
c. Membuat laporan atas kegiatan yang dilakukan disampaikan kepada
manager pembelian.
17. Staf pembelian, tugasnya adalah:
a. Melakukan order pembelian barang sesuai dengan surat pesanan
barang dari departemen terkait.
b. Melakukan negosiasi kepada supplier tentang syarat pembayaran,
harga beli dan kondisi barang yang diinginkan.
c. Membuat laporan kegiatan pembelian mingguan dan bulanan kepada
manager pembelian.
2.4 KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka pikir merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana
seseorang menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang
dianggap penting untuk masalah. Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut.
63
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
PT MULTI WELINDO
PT. MULTI WELINDO
Pengendalian Internal
Sesuai Teori
Pengendalian Internal
PT Multi Welindo
Evaluasi dan Analisis
Perbandingan
Hasil Evaluasi dan Analisis
Efektifitas Pengendalian Internal
Saran dan Rekomendasi untuk
PT Multi Welindo
Sumber : Penulis (2014)
Download