3729 - UPT Perpustakaan Universitas Ngudi Waluyo

advertisement
Hubungan Paritas dan Usia Terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa
Tahun 2013
The Correlation between Parity and Age toward Post-partum Hemorrhage at Ambarawa
Public Hospital in 2013
Siti Nur hidayati, Fitria Primi astuti, S.SiT., M.Kes, Isfaizah, S.SiT
Program studi DIII Kebidanan [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang : Perdarahan post partum merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas
perinatal di seluruh dunia. Faktor predisposisi dari perdarahan post partum yaitu usia, paritas,
umur kehamilan, partus lama, riwayat perdarahan pasca persalinan sebelumnya. Angka kejadian
perdarahan post partum di RSUD Ambarawa Tahun 2013 sebanyak 70 (28,69%).
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paritas dan usia terhadap
kejadian perdarahan post partum.
Metode : Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian Deskripsi korelatif dan menggunakan
pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 841 ibu yang bersalin. Tehnik
pengambilan sampel menggunakan tehnik simple random sampling yang memenuhi kriteria
inklusi penelitian sejumlah 89 responden.
Hasil : penelitian menunjukkan bahwa analisis univariat sebagian besar primipara sebanyak 40
responden (44,9%), usia tidak beresiko yaitu sebanyak 76 responden (85,4%), ibu tidak
mengalami perdarahan postpartum sejumlah 67 orang (75,3%). Analisis bivariat menggunakan
uji Chi- Square didapatkan p-value = 0,000 < α (0,05) menunjukkan ada hubungan antara paritas
dengan perdarahan postpartum. Uji Fisher Exact didapat p-value = 0,000 < α (0,05)
menunjukkan ada hubungan antara usia dengan perdarahan postpartum.
Simpulan : Diharapkan tenaga kesehatan memperhatikan ibu hamil yang beresiko tinggi untuk
melakukan kunjungan ANC lebih rutin agar dapat mencegah terjadinya kelainan dan komplikasi
selama persalinan khususnya perdarahan post partum.
Kata kunci : Paritas, usia, perdarahan post partum
Kepustakaan : 27 (2001 – 2012)
ABSTRACT
Background: Postpartum hemorrhage is the leading mainwide cause of perinatal morbidity and
mortality. The in the world predisposing factors of postpartum hemorrhage are age, parity,
gestational age, prolonged labor and a history of previous postpartum hemorrhage. The
incidences of postpartum hemorrhage at Ambarawa Public Hospital in 2013 were70 incidences
(28.69%).
Purpose: This study aims to find the correlation between parity and age toward the incidences of
postpartum hemorrhage.
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
1
Method: This was a descriptive-correlative study with cross sectional approach. The population
in this study was 841 postpartum mothers. The sampling technique used simple random sampling
technique that met the inclusion criteria as many as 89 respondents.
Result: The results of univariate analysis indicated that most respondents, 40 respondents
(44.9%) were primipara, and 76 respondents (85.4%) were not a risk age, 67 (75.3%)
respondents did not experience postpartum haemorrhage. The bivariate analysis by using ChiSquare test obtained p-value of 0.000 <α (0.05), that indicated that there were correlation
between parity and postpartum hemorrhage. The result of Fisher Exact test obtained p-value of
0.000 <α (0.05), that indicated that there were correlation between age and postpartum
hemorrhage.
Conclusion: The health professionals are expected to pay more attention to high-risk pregnant
women to do ANC visit more regularly in order to prevent the incidence of abnormalities and
complications during delivery, especially post partum hemorrhage.
Keywords
: Parity, Age, Post-partum hemorrhage
Bibliographies : 27 (2001 – 2012)
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kesehatan ibu merupakan salah satu
perhatian dari World Health Organisation
(WHO) karena Angka Kematian Ibu (AKI)
merupakan salah satu indikator utama
derajat kesehatan suatu negara. Tahun 2012,
sebanyak 99 % kematian ibu akibat masalah
persalinan atau kelahiran terjadi di negaranegara berkembang seperti negara Indonesia
(WHO, 2012).
Menurut Survey Demografi Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2012, rata-rata Angka
Kematian Ibu (AKI) di Indonesia tercatat
mencapai 359/100.000 kelahiran hidup.
Rata-rata kematian ini jauh melonjak
dibanding hasil SDKI 2007 yang mencapai
228/100.000 kelahiran hidup. Angka
tersebut masih tertinggi diantara negaranegara ASEAN, jika dibandingkan dengan
negara seperti Singapura (3/100.000
kelahiran hidup), Malaysia (5/100.000
kelahiran hidup), Thailand (8/100.000
kelahiran hidup), serta Vietnam (50/100.000
kelahiran hidup). Sedangkan untuk Provinsi
Jawa Tengah Angka Kematian Ibu (AKI)
pada Tahun 2011 yaitu 116,01/100.000
kelahiran hidup dan mengalami kenaikan
pada Tahun 2012 yaitu 116,34/100.000
kelahiran hidup (Dinkes Jateng, 2012).
Perdarahan postpartum merupakan
perdarahan yang melebihi 500 ml setelah
bayi lahir dan telah menyebabkan perubahan
tanda vital (seperti kesadaran menurun,
pucat, berkeringat dingin, sesak nafas, serta
tensi < 90 mmHg dan nadi > 100 x/menit).
Walaupun seorang perempuan bertahan
hidup setelah mengalami pendarahan setelah
persalinan, namun ia akan menderita akibat
kekurangan darah yang berat (anemia berat)
dan akan mengalami masalah kesehatan
yang berkepanjangan. Sedangkan faktorfaktor yang mempengaruhi
perdarahan
postpartum meliputi beberapa aspek seperti
usia, paritas, umur kehamilan, riwayat
operasi saesar, jenis persalinan, lokasi
persalinan, riwayat penyakit, dan lain-lain
(Wiknjosastro, 2010).
Paritas sangat berpengaruh terhadap
kejadian
perdarahan
postpartum
dikarenakan
pada
wanita
dengan
multiparitas maka kontraksi berkurang
karena elastisitas uterus. Ibu yang sudah
berkali-kali melahirkan anak, keadaan
uterusnya akan mengalami perubahan dalam
hal keelastisitasan. Semakin elastis dan
besar ukuran uterus tersebut maka kontraksi
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
2
tersebut akan semakin lambat sehingga
perdarahan pun terjadi. Uterus yang telah
melahirkan
banyak
anak
cenderung
bekerja tidak efisien dalam semua kala
persalinan (Mochtar, 2005).
Paritas tinggi mempunyai risiko
terjadinya peningkatan jumlah darah pada
kala III dan IV. Jumlah paritas yang
mempunyai risiko terjadi peningkatan
jumlah darah pada kala III dan IV adalah
diatas 5 (grandemultigravida). Hal ini
disebabkan oleh karena adanya gangguan
elastisitas otot-otot uterus akibat berulangulang mengalami peregangan karena
kehamilan sehingga terjadi gangguan otototot uterus untuk berkontraksi sesaat setelah
kelahiran bayi
yang mengakibatkan
timbulnya perdarahan (Fauziyah, 2012).
Usia mempunyai pengaruh terhadap
kemungkinan terjadinya peningkatan jumlah
darah pada kala III dan IV. Risiko terjadinya
perdarahan postpartum pada umur lebih dari
35 tahun. Kematian maternal akibat
perdarahan postpartum lebih banyak pada
umur lebih dari 35 tahun (Fauziyah, 2012).
Kehamilan diumur kurang dari 20
tahun dan diatas 35 tahun dapat
menyebabkan anemia, karena diumur
kurang dari 20 tahun secara biologis belum
optimal,
emosinya
cenderung
labil,
mentalnya belum matang sehingga mudah
mengalami
keguncangan
yang
mengakibatkan
kurangnya
perhatian
terhadap pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi
selama kehamilannya. Sedangkan pada
umur lebih dari 35 tahun terkait dengan
kemunduran dan penurunan daya tahan
tubuh serta berbagai penyakit kronis yang
menyebabkan anemia. Pengaruh anemia
adalah kontraksi uterus yang lemah pada
saat persalinan dan setelah persalinan, dan
juga plasenta lebih lekat karena kompensasi
anemia yang berakibat sukar lepas, sehingga
dari keadaan tersebut dapat menimbulkan
terjadinya
perdarahan
postpartum
(Wiknjosastro, 2002).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan
yang dilakukan di RSUD Ambarawa
Semarang didapatkan data jumlah ibu
bersalin pada bulan Januari - Mei 2013
sebanyak 244 orang. Dari 244 persalinan
tersebut terdapat 70 (28,69%) ibu bersalin
mengalami perdarahan postpartum, 120
(49,19%) ibu bersalin dengan pervaginam
spontan, 3 (1,22%) ibu bersalin dengan
gawat janin, 3 (1,22%) ibu bersalin multipel,
48 (19,68%) ibu bersalin dengan partus
macet. Sedangkan pada Tahun 2012
sebanyak 42 ibu yang mengalami
perdarahan postpartum, ini mengalami
kenaikan dibandingkan dengan perdarahan
postpartum pada Tahun 2013. Berdasarkan
data tersebut diketahui bahwa usia ibu yang
mengalami perdarahan post partum sebagian
besar berusia antara 20-35 tahun yaitu
sebanyak 42 (60%) dan ibu yang berusia
kurang dari 20 tahun sebanyak 23 (32,85%)
serta ibu yang berusia lebih dari 35 tahun
sebanyak 5 (7,15%). Hal tersebut
menunjukkan adanya kesenjangan antara
teori menurut Wiknjosastro (2002) dengan
kejadian dilahan penelitian. Berdasarkan
teori yang ada usia yang beresiko terhadap
kejadian perdarahan post partum adalah usia
dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun akan
tetapi dalam studi pendahuluan didapatkan
data bahwa usia antara 20-35 tahun juga
mengalami kejadian perdarahan post
partum. Selain itu berdasarkan data studi
pendahuluan tentang paritas sebagai salah
satu penyebab kejadian perdarahan post
partum didapatkan data bahwa 30 (42,85%)
merupakan kehamilan pertama dan 28
(40%) hamil yang kedua serta 12 (17,15%)
mempunyai paritas diatas 3. Berdasarkan
data tersebut menunjukkan bahwa umur dan
paritas merupakan penyebab terbanyak
persalinan dengan perdarahan post partum.
Berdasarkan uraian diatas, maka
penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tentang “ Hubungan Paritas, dan Usia
Terhadap Perdarahan Postpartum di RSUD
Ambarawa Tahun 2013”.
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
3
Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan paritas dan
usia terhadap perdarahan postpartum di
RSUD Ambarawa Tahun 2013
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran paritas
terhadap perdarahan post partum di
RSUD Ambarawa Tahun 2013
b. Untuk mengetahui gambaran usia
terhadap perdarahan post partum di
RSUD Ambarawa Tahun 2013
c. Untuk
mengetahui
gambaran
perdarahan post partum di RSUD
Ambarawa Tahun 2013
d. Untuk mengetahui hubungan paritas
terhadap kejadian perdarahan post
partum di RSUD Ambarawa Tahun
2013
e. Untuk mengetahui hubungan usia
terhadap
kejadian
perdarahan
postpartum di RSUD Ambarawa
Tahun 2013
Manfaat Penulisan
1. Bagi RSUD Ambarawa
Sebagai
bahan
masukan
untuk
mengetahui tentang hubungan paritas
dan
usia
terhadap
perdarahan
postpartum di RSUD Ambarawa Tahun
2013.
2. Bagi Institusi STIKES Ngudi Waluyo
Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa
tentang hubungan paritas dan usia
terhadap perdarahan postpartum di
RSUD Ambarawa Tahun 2013.
3. Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk menambah
pengetahuan, wawasan peneliti dan
mampu mengaplikasikan metodologi
penelitian kebidanan sebagai mini riset
yang telah didapat tentang hubungan
paritas dan usia terhadap perdarahan
postpartum di RSUD Ambarawa Tahun
2013.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan
adalah
analitik
korelasi
dengan
menggunakan pendekatan cross sectional.
variabel independennya adalah paritas dan
usia dan variabel dependennya adalah
perdarahan
post
partum.
Penelitian
dilakukan pada tanggal 26 – 28 Juni 2014.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua
ibu yang bersalin di RSUD Ambarawa pada
Bulan Januari 2013 - Mei 2014 sejumlah
841 orang. Kriteria inklusi dalam penelitian
ini adalah data yang lengkap dari rekam
medis ibu postpartum di RSUD Ambarawa
periode 1 Januari 2013 – 31 Mei tahun 2014
dan ibu yang mengalami perdarahan
postpartum berdasarkan paritas dan usia.
Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah
data register yang tidak lengkap. Alat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
adalah dengan menggunakan register yang
digunakan untuk memperoleh data tentang
paritas, umur, kejadian perdarahan post
partum pada ibu bersalin di RSUD
Ambarawa pada Tahun 2013. Analisis
univariat digunakan distribusi frekuensi
untuk menggambarkan paritas, usia dan
kejadian perdarahan post partum. Analisis
bivariat dengan uji chi-square.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Univariat
1. Paritas
Tabel 4.1 Distribusi
Frekuensi
Berdasarkan Paritas Ibu
Bersalin
di
RSUD
Ambarawa 2013
Paritas
Frekuensi Persentase (%)
Primipara
40
Multipara
27
Grandemulti 22
para
44,9
30,3
24,7
Jumlah
100,0
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
89
4
Berdasarkan tabel 4.1,
dapat diketahui bahwa dari 89
responden ibu bersalin di RSUD
Ambarawa, sebagian besar paritas
responden
dalam
kategori
primipara yaitu sebanyak 40
responden (44,9%) dibandingkan
dengan paritas responden dalam
kategori multipara yaitu sebanyak
27 responden (30,3%) ataupun
grande multipara sejumlah 22
responden (24,7%).
2. Usia
Tabel 4.2 Distribusi
Frekuensi
Berdasarkan Usia Ibu
Bersalin
di
RSUD
Ambarawa 2013
Usia
Frekuensi
Beresiko
Tidak
beresiko
Jumlah
13
76
Persentase
(%)
14,6
85,4
89
100,0
Berdasarkan tabel 4.2,
dapat diketahui bahwa dari 89
responden ibu bersalin di RSUD
Ambarawa,
sebagian
besar
responden usia tidak beresiko yaitu
sebanyak 76 responden (85,4%)
dibandingkan dengan responden
usia beresiko yaitu sebanyak 13
responden (14,6%).
Paritas
Primipara
Multipara
Grande
multipara
Jumlah
Perdarahan Postpartum
Tidak
Perdarahan
Perdarahan
F
%
f
%
2
5,0 38 95,0
1
3,7 26 96,3
19
86,4 3
13,6
22
68,2 67
75,3
3. Perdarahan Postpartum
Tabel 4.3 Distribusi
Frekuensi
Berdasarkan
Perdarahan Postpartum
pada Ibu Bersalin di
RSUD Ambarawa 2013
Perdarahan
Frekuensi Persentase
Postpartum
(%)
Perdarahan
22
24,7
Tidak Perdarahan 67
75,3
Jumlah
89
100,0
Berdasarkan tabel 4.3,
dapat diketahui bahwa dari 89
responden ibu bersalin di RSUD
Ambarawa, sebagian besar ibu
tidak
mengalami
perdarahan
postpartum, sejumlah 67 orang
(75,3%),
sedangkan
yang
mengalami perdarahan postpartum
sejumlah 22 orang (24,7%).
B. Analisis Bivariat
Analisis bivariat pada bagian
digunakan untuk menyajikan hubungan
paritas dan usia terhadap perdarahan
postpartum di RSUD Ambarawa. Untuk
mengetahui hubungan ini digunakan uji
Chi Square dimana hasilnya disajikan
berikut ini.
1. Hubungan
Paritas
dengan
Perdarahan Postpartum
Tabel 4.4 Hubungan Paritas dengan
Perdarahan
Postpartum
pada Ibu Bersalin di
RSUD Ambarawa 2013
Total
f
40
27
22
%
100
100
100
χ²
P-value
59,692
0,000
89 100
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
5
Berdasarkan tabel 4.4, dapat
sebanyak 19 responden (86,4%)
diketahui
bahwa
responden
dibandingkan dengan responden
primipara sebagian besar yaitu
tidak mengalami perdarahan yaitu
sebanyak 38 responden (95,0%)
sebanyak 3 responden (13,6%).
tidak mengalami perdarahan post
Berdasarkan uji Chi Square
partum dibandingkan dengan yang
didapat χ² hitung sebesar 59,692
mengalami perdarahan post partum
dengan p-value 0,000. Oleh karena
yaitu sebanyak 2 responden (5,0%).
p-value = 0,000 < α (0,05),
Responden yang memiliki paritas
disimpulkan bahwa ada hubungan
dalam kategori multipara sebagian
yang signifikan antara paritas dengan
besar tidak mengalami perdarahan
perdarahan postpartum pada ibu
post partum yaitu sebanyak 26
bersalin di RSUD Ambarawa.
responden (96,3%) dibandingkan
2. Hubungan Usia dengan Perdarahan
dengan yang mengalami perdarahan
Postpartum
post partum yaitu sebanyak 1
Tabel 4.5 Hubungan Usia dengan
responden
(3,7%).
Responden
Perdarahan
Postpartum
dengan paritas dalam kategori grande
pada Ibu Bersalin di
multipara sebagian besar mengalami
RSUD Ambarawa 2013
perdarahan post partum yaitu
Perdarahan Postpartum
Total
Tidak
Usia
Perdarahan
P-value
Perdarahan
f
%
f
%
f %
Beresiko
11
84,6 2
15,4 13 100 0,000
Tidak beresiko
11
14,5 65 85,5 76 100
Jumlah
22
68,2 67 75,3 89 100
Berdasarkan uji Fisher Exact
Berdasarkan tabel 4.5, dapat
didapat p-value 0,000. Oleh karena
diketahui bahwa responden yang
p-value = 0,000 < α (0,05),
memiliki usia dalam kategori
disimpulkan bahwa ada hubungan
beresiko sebagian besar terjadi
yang signifikan antara usia dengan
perdarahan post partum yaitu
perdarahan postpartum pada ibu
sebanyak 11 responden (84,6%)
bersalin di RSUD Ambarawa.
dibandingkan dengan responden
dengan kategori beresiko tidak
Pembahasan
terjadi perdarahan post partum yaitu
A. Analisis Univariat
sebanyak 2 responden (15,4%).
1. Paritas Responden
Responden yang memiliki usia
Kategori primipara yaitu
dalam kategori tidak beresiko
sebanyak 40 responden (44,9%).
sebagian
besar
tidak
terjadi
Primipara merupakan wanita yang
perdarahan post partum yaitu
telah melahirkan bayi aterm
sebanyak 65 responden (85,5%)
sebanyak satu kali. Wanita
dibandingkan dengan responden
primipara, sebagian mereka belum
dengan kategori usia tidak beresiko
mempersiapkan
diri
untuk
terjadi perdarahan post partum yaitu
menghadapi persalinan. Padahal
sebanyak 11 responden (14,5%).
resiko pada kelahiran bayi pertama
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
6
2.
masih cukup tinggi dan masih sulit
dihindari. Kemungkinan besar pada
primipara lebih sering terjadi
penyulit kehamilan seperti partus
lama, perdarahan pervaginam,
ketuban pecah dini dll, sehingga
harus dilakukan rujukan ke rumah
sakit.
Pada
multipara
yaitu
sebanyak 27 responden (30,3%).
Multipara adalah wanita yang telah
melahirkan anak lebih dari satu
kali. Paritas 2-3 merupakan paritas
paling aman ditinjau dari sudut
maternal. Pada wanita multipara,
mereka
memiliki
pengalaman
tersendiri dalam melahirkan dan
bersalin
yang
mempengaruhi
pendekatannya
dalam
mempersiapkan diri menghadapi
persalinan kali ini (Bobak, 2004).
Pada grande multipara
sejumlah 22 responden (24,7%).
Menurut Maimunah (2005) grande
multipara adalah wanita yang telah
melahirkan 5 orang anak atau lebih
dan biasanya mengalami penyulit
dalam kehamilan dan persalinan
Hal ini disebabkan oleh karena
adanya gangguan elastisitas otototot uterus akibat berulang-ulang
mengalami peregangan karena
kehamilan
sehingga
terjadi
gangguan otot-otot uterus untuk
berkontraksi
sesaat
setelah
kelahiran bayi yang mengakibatkan
timbulnya perdarahan.
Usia Responden
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa
terdapat
sebagian besar responden usia tidak
beresiko (20 - 35) yaitu sebanyak
76 responden (85,4%), Ini memang
wajar karena usia 20-35 tahun
merupakan usia-usia reproduksi,
dan usia ini juga dikatakan
merupakan usia reproduksi aman
karena belum terjadi komplikasi
dan juga sesuai untuk seorang
wanita untuk melahirkan dan
mengurus anak. Dengan cukup
umur ini ibu lebih siap dengan
segala masalah yang timbul dalam
merawat dan mendidik anak serta
merencanakan jumlah anak yang
dilahirkan. Menurut Varney (2008)
hal ini mungkin dikarenakan saat
terbaik bagi seorang perempuan
untuk hamil adalah saat usia 20-35
tahun. Sel telur sudah diproduksi
sejak dilahirkan namun baru terjadi
ovulasi ketika masa pubertas, sel
telur yang keluar hanya satu setiap
bulannya, ini menunjukkan adanya
unsur seleksi yang terjadi hingga
diasumsikan sel telur yang berhasil
keluar adalah sel telur yang unggul
oleh karena itu semakin lanjut usia
maka kualitas sel telur sudah
berkurang hingga berakibat juga
menurunkan kualitas keturunan
yang dihasilkan sehingga hamil
pada usia tersebut mempunyai
kemungkinan lebih besar untuk
terjadi gejala dan tanda penyulit.
Berdasarkan hasil penelitian
terdapat responden usia beresiko
yaitu sebanyak 13 responden
(14,6%).
Sesuai
pendapat
Wiknjosastro (2002), kehamilan
diumur kurang dari 20 tahun dan
diatas 35 tahun dapat menyebabkan
anemia, karena diumur kurang dari
20 tahun secara biologis belum
optimal, emosinya cenderung labil,
mentalnya belum matang sehingga
mudah mengalami keguncangan
yang mengakibatkan kurangnya
perhatian terhadap pemenuhan
kebutuhan zat-zat gizi selama
kehamilannya. Sedangkan pada
umur lebih dari 35 tahun terkait
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
7
3.
dengan kemunduran dan penurunan
daya tahan tubuh serta berbagai
penyakit kronis yang menyebabkan
anemia. Pengaruh anemia adalah
kontraksi uterus yang lemah pada
saat
persalinan
dan
setelah
persalinan, dan juga plasenta lebih
lekat karena kompensasi anemia
yang berakibat sukar lepas,
sehingga dari keadaan tersebut
dapat menimbulkan terjadinya
perdarahan postpartum.
Kejadian perdarahan
Menurut
Wiknjosastro
(2010) perdarahan postpartum
adalah perdarahan yang melebihi
500 ml setelah bayi lahir. Pada
praktisnya tidak perlu mengukur
jumlah
perdarahan
sampai
sebanyak itu sebab menghentikan
perdarahan
lebih
dini
akan
memberikan prognosis lebih baik.
Pada umumnya bila terdapat
perdarahan yang lebih dari normal,
apalagi
telah
menyebabkan
perubahan tanda vital (seperti
kesadaran
menurun,
pucat,
berkeringat dingin, sesak napas,
serta tensi < 90 mmHg dan nadi >
100/menit),
maka penanganan
harus segera dilakukan.
Sebagian besar ibu tidak
mengalami perdarahan postpartum
sejumlah 67 orang (75,3%). Hal ini
kemungkinan ibu bersalin secara
aktif mempersiapkan diri untuk
menghadapi
persalinan
dan
menginginkan persalinan yang
sempurna.
Mereka
banyak
membaca buku, menghadiri kelas
hamil dan berkomunikasi dengan
wanita
lain
(ibu,
saudara
perempuan dan teman) atau sudah
memiliki pengalaman hamil dan
bersalin sehingga mempengaruhi
pendekatannya
dalam
mempersiapkan diri menghadapi
persalinan
agar
persalinannya
normal tidak terjadi gejala dan
tanda penyulit.
Responden yang mengalami
perdarahan postpartum sejumlah 22
orang (24,7%). Sesuai pendapat
Nugroho (2010) bahwa faktor
predisposisi
perdarahan
post
partum meliputi grandemultipara,
uterus
yang
terlalu
regang
(hidramion, hamil ganda, anak
besar), kelelahan akibat partus
lama, penggunaan oksitosin yang
berlebihan
dalam
persalinan
(induksi
partus),
riwayat
perdarahan
pasca
persalinan
sebelumnya atau riwayat plasenta
manual.
Perdarahan post
partum
banyak terjadi pada kehamilan
maternal beresiko tinggi jika terlalu
banyak anak. Usia kurang dari 20
tahun dan lebih dari 35 tahun,
jumlah anak lebih dari 4 anak,
riwayat terdahulu, serta jarak
kehamilannya kurang dari 2 tahun
dan anemia (Cahyono, 2005).
B. Analisis Bivariat
1. Hubungan
paritas
terhadap
perdarahan post partum pada ibu
bersalin di RSUD Ambarawa tahun
2013.
Berdasarkan
dari
hasil
penelitian ini dapat diketahui dari uji
Chi Square dengan menghubungkan
antara paritas ibu dengan kejadian
perdarahan post partum di RSUD
Ambarawa Tahun 2013 diperoleh χ²
hitung sebesar 59,692 dengan pvalue 0,000. Oleh karena p-value =
0,000 < α (0,05), maka H0 ditolak
disimpulkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara paritas dengan
perdarahan postpartum pada ibu
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
8
bersalin di RSUD Ambarawa Tahun
2013. Sesuai pendapat Nugroho
(2010) bahwa faktor predisposisi
perdarahan post partum meliputi
grande multipara, uterus yang terlalu
regang (hidramion, hamil ganda,
anak besar), kelelahan akibat partus
lama, penggunaan oksitosin yang
berlebihan dalam persalinan (induksi
partus), riwayat perdarahan pasca
persalinan sebelumnya atau riwayat
plasenta manual.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa dari 89 ibu bersalin paling
banyak terjadi perdarahan post
partum yaitu sebanyak 19 responden
ibu grande multipara (86,4%)
dibandingkan
responden
yang
memiliki paritas dalam kategori
primipara
yaitu
sebanyak
2
responden (5,0%) dan multipara
yaitu sebanyak 1 responden (3,7%).
Sesuai pendapat Fauziyah (2012) hal
ini dikarenakan paritas tinggi
mempunyai
risiko
terjadinya
peningkatan jumlah darah pada kala
III dan IV. Jumlah paritas yang
mempunyai
risiko
terjadi
peningkatan jumlah darah pada kala
III dan IV adalah diatas 5
(grandemultigravida).
Hal
ini
disebabkan oleh karena adanya
gangguan elastisitas otot-otot uterus
akibat berulang-ulang mengalami
peregangan
karena
kehamilan
sehingga terjadi gangguan otot-otot
uterus untuk berkontraksi sesaat
setelah
kelahiran
bayi
yang
mengakibatkan
timbulnya
perdarahan. Perdarahan post partum
banyak terjadi pada kehamilan
maternal beresiko tinggi jika terlalu
banyak anak. Usia kurang dari 20
tahun dan lebih dari 35 tahun, jumlah
anak lebih dari 4 anak, serta jarak
kehamilannya kurang dari 2 tahun
dan anemia. Paritas memiliki peran
yang besar pada kejadian perdarahan
post
partum
terutama
pada
grandemultipara.
Resiko
pada
kelahiran bayi pertama masih cukup
tinggi dan masih sulit dihindari.
Kemudian resiko ini menurun pada
paritas 2 dan 3 serta meningkat lagi
setelah paritas 4 dan seterusnya.
Sehubungan dengan keadaan tersebut
dilaporkan
kejadian
terendah
dijumpai pada paritas 2 dan 3
(Cahyono, 2005).
Pada
wanita
primipara
kejadian perdarahan post partum
lebih banyak disebabkan karena
adanya laserasi jalan lahir. Laserasi
jalan lahir merupakan penyebab
kedua tersering dari perdarahan post
partum. Perdarahan post partum
dengan uterus yang berkontraksi baik
biasanya disebabkan oleh robekan
servik atau vagina sesuai dengan
pendapat
Wiknjosastro
(2005).
Sedangkan pada wanita multipara
kemungkinan kejadian perdarahan
post partum disebabkan karena
uterus
yang
terlalu
regang
(hidramion, hamil ganda, anak
besar), kelelahan akibat partus lama,
penggunaan
oksitosin
yang
berlebihan dalam persalinan (induksi
partus), riwayat perdarahan pasca
persalinan sebelumnya atau riwayat
plasenta
manual.
Pada
grandemultigravida
hal
ini
disebabkan oleh karena adanya
gangguan elastisitas otot-otot uterus
akibat berulang-ulang mengalami
peregangan
karena
kehamilan
sehingga terjadi gangguan otot-otot
uterus untuk berkontraksi sesaat
setelah
kelahiran
bayi
yang
mengakibatkan
timbulnya
perdarahan.
Berdasarkan hasil penelitian
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
9
diketahui bahwa dari 89 responden
yang memiliki paritas dalam kategori
primipara sebagian besar yaitu
sebanyak 38 responden (95,0%)
tidak mengalami perdarahan post
partum, responden yang memiliki
paritas dalam kategori multipara
tidak mengalami perdarahan post
partum yaitu sebanyak 26 responden
(96,3%), responden dalam kategori
grande multipara tidak mengalami
perdarahan yaitu sebanyak 3
responden
(13,6%).
Hal
ini
dikarenakan pada wanita primipara,
mereka secara aktif mempersiapkan
diri untuk menghadapi persalinan
dan menginginkan persalinan yang
sempurna. Sesuai pendapat Bobak
(2004) pada wanita primipara
mereka banyak membaca buku,
menghadiri
kelas
hamil
dan
berkomunikasi dengan wanita lain
(ibu, saudara perempuan dan teman).
Pada wanita multipara karena
mereka sudah memiliki pengalaman
hamil
dan
bersalin
sehingga
mempengaruhi pendekatannya dalam
mempersiapkan diri menghadapi
persalinan
agar
persalinannya
normal. Hasil penelitian juga
menunjukkan dari yang tidak terjadi
perdarahan pada wanita grande
multipara
yaitu
sebanyak
3
responden (13,6%). Hal ini mungkin
dikarenakan pada wanita grande
multipara beberapa dari mereka
kondisinya masih baik dan tidak
menunjukkan gejala dan tanda
penyulit.
2. Hubungan usia terhadap perdarahan
post partum pada ibu bersalin di
RSUD Ambarawa tahun 2013.
Berdasarkan
dari
hasil
penelitian ini dapat diketahui dari uji
Fisher Exact didapat p-value 0,000.
Oleh karena p-value = 0,000 < α
(0,05), disimpulkan bahwa ada
hubungan yang signifikan antara usia
dengan perdarahan postpartum pada
ibu bersalin di RSUD Ambarawa
Tahun 2013. Sesuai pendapat
Fauziyah (2012) bahwa faktor
predisposisi perdarahan post partum
meliputi paritas, usia , uterus yang
terlalu regang (hidramion, hamil
ganda,
anak
besar),
riwayat
perdarahan
pasca
persalinan
sebelumnya.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa dari 89 ibu bersalin dapat
diketahui yang memiliki usia dalam
kategori beresiko sebagian besar
terjadi perdarahan post partum yaitu
sebanyak 11 responden (84,6%),
responden dengan kategori usia tidak
beresiko terjadi perdarahan post
partum yaitu sebanyak 11 responden
(14,5%). Sesuai pendapat Fauziyah
(2012) umur mempunyai pengaruh
terhadap kemungkinan terjadinya
peningkatan jumlah darah pada kala
III dan IV. Kematian maternal akibat
perdarahan postpartum lebih banyak
pada umur lebih dari 35 tahun.
Kehamilan diumur kurang dari 20
tahun dan diatas 35 tahun dapat
menyebabkan anemia, karena diumur
kurang dari 20 tahun secara biologis
belum optimal, emosinya cenderung
labil, mentalnya belum matang
sehingga
mudah
mengalami
keguncangan yang mengakibatkan
kurangnya
perhatian
terhadap
pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi
selama kehamilannya. Sedangkan
pada umur lebih dari 35 tahun terkait
dengan kemunduran dan penurunan
daya tahan tubuh serta berbagai
penyakit kronis yang menyebabkan
anemia. Pengaruh anemia adalah
kontraksi uterus yang lemah pada
saat
persalinan
dan
setelah
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
10
persalinan, dan juga plasenta lebih
lekat karena kompensasi anemia
yang berakibat sukar lepas, sehingga
dari
keadaan
tersebut
dapat
menimbulkan terjadinya perdarahan
postpartum.
Sedangkan pada usia tidak
beresiko terjadi perdarahan post
partum yaitu sebanyak 11 responden
(14,5%). Kemungkinan sebagian
mereka belum mempersiapkan diri
untuk
menghadapi
persalinan.
Padahal resiko pada kelahiran bayi
masih cukup tinggi dan masih sulit
dihindari. Bisa juga pada usia
beresiko dan usia tidak beresiko akan
terjadi penyulit kehamilan seperti
partus lama, perdarahan pervaginam,
ketuban pecah dini dll, sehingga
harus dilakukan rujukan ke rumah
sakit. Hal tersebut menunjukkan
adanya kesenjangan antara teori
dengan kejadian dilahan penelitian.
Berdasarkan
teori
Cunningham
(2006) pada usia <20 tahun
merupakan resiko tinggi kehamilan
yang mengancam keselamatan ibu
dan bayi, hal ini disebabkan pada
usia muda organ-organ reproduksi
dan fungsi fisiologisnya belum
optimal dan secara psokologis belum
tercapainya emosi dan kejiwaan yang
cukup dewasa sehingga akan
berpengaruh terhadap penerimaan
kehamilannya yang akhirnya akan
berdampak pada pemeliharaan dan
perkembangan
bayi
yang
dikandungnya. Sedangkan pada ibu
yang tua, terutama pada ibu hamil
dengan usia lebih dari 35 tahun
merupakan resiko tinggi pula untuk
hamil karena akan menimbulkan
komplikasi pada kehamilan dan
merugikan perkembangan janin
selama periode kandungan. Secara
umum hal ini karena adanya
kemunduran fungsi fisiologis dari
sistem tubuh.
SIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Gambaran paritas pada ibu bersalin di
RSUD Ambarawa Tahun 2013 yaitu
sebagian besar paritas responden dalam
kategori primipara yaitu sebanyak 40
responden (44,9%).
2. Gambaran usia pada ibu bersalin di
RSUD Ambarawa Tahun 2013 yaitu
sebagian besar usia tidak beresiko yaitu
sebanyak 76 responden (85,4%).
3. Gambaran perdarahan post partum pada
ibu bersalin di RSUD Ambarawa Tahun
2013 yaitu sebagian besar ibu tidak
mengalami
perdarahan
postpartum
sejumlah 67 orang (75,3%).
4. Ada hubungan antara paritas dengan
kejadian perdarahan post partum di
RSUD Ambarawa Tahun 2013 dengan
p-value = 0,000 < α (0,05).
5. Ada hubungan antara usia dengan
kejadian perdarahan post partum di
RSUD Ambarawa Tahun 2013 dengan
p-value = 0,000 < α (0,05).
Saran
1. Bagi tenaga kesehatan
Bagi tenaga kesehatan disarankan untuk
lebih memperhatikan ibu hamil yang
anemia lebih diberikan tindakan
penanganan anemia sehingga tidak akan
terjad perdarahan post partum.
2. Bagi peneliti selanjutnya
Bagi peneliti lain yang melakukan
penelitian serupa pada saat penelitian
diharapkan juga mempertimbangkan
faktor resiko perdarahan post partum
yang lain pada ibu bersalin sehingga
dapat mengembangkan persalinan yang
aman.
3. Bagi responden
Diharapkan para ibu lebih
banyak mencari informasi tentang
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
11
perawatan kehamilan supaya persalinan
dapat berjalan dengan lancar dan tidak
mengalami komplikasi saat persalinan.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, JI. 2004. Keperawatan Maternitas.
Jakarta : EGC
Fauziyah, Yulia. 2012. Obstetri Patologi.
Yogyakarta : Nuha medika.
Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta
Kedokteran
Jilid 1. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia :
Media Aesculapius.
Manuaba, dkk. 2010. Pengantar Kuliah
Obstetri. Jakarta : EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Varney, Helen. 2008. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan Vol 1 . Jakarta : EGC
Wiknjosastro, H. 2010. Ilmu Kebidanan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono
Hubungan Paritas dan Usia terhadap Perdarahan Post Partum di RSUD Ambarawa tahun 2013
12
Download