BAB 2 TINJAUAN TEORETIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Pengertian

advertisement
BAB 2
TINJAUAN TEORETIS
2.1
Tinjauan Teoretis
2.1.1
Pengertian Sistem
Suatu sistem terdiri dari struktur dan proses. Struktur sistem merupakan
suatu unsur-unsur yang membentuk sistem tersebut, sedangkan proses sistem ini
menjelaskan cara kerja setiap unsur dalam mencapai tujuan sistem. Dan setiap
sistem merupakan bagian dari berbagai sistem yang lebih kecil, yang disebut sub
sistem.
Halim et al (2003:3), sistem adalah suatu kegiatan yang telah ditentukan
caranya dan bisanya dilakukan berulang-ulang. Mulyadi (2001:5)mendefinisikan
sistem adalah suatu jaringan prosedur yang dibuat menuruut pola yang terpadu
untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan.
Dari beberapa definisi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa suatu sistem pada
dasarnya adalah sekelompok unsur-unsur yang erat berhubungan satu dengan yang
lainnya, yang bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dari berbagai
uraian diatas dapat dirinci lebih lanjut pengertian umum mengenai suatu sistem
yaitu:
1.setiap sistem terdiri dari unsur-unsur, unsur-unsur tersebut merupakan bagian
terpadu sistem yang bersangkutan, unsur sistem tersebut bekerja sama untuk
mencapai tujuan sistem.
2. Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar setiap sistem
yang dibuat untuk menangani sesuatu yang berulang kali atau secara rutin terjadi.
Sistem diciptakan untuk memudahkan dan membantu manajemen mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
2.1.2
Pengertian Akuntansi Pertanggungjawaban
akuntansi pertanggung jawaban merupakan istilah yang digunakan dalam
menjelaskan akuntansi perencanaan serta pengukuran dan evaluasi kinerja
organisasi sepanjang garis pertannggungjawaban. garis pertanggungjawaban ini
meliputi pendapatan serta biaya-biaya yang diakumulasikan dan dilaporkan oleh
pusat pertanggungjawaban. Pusat pertanggungjawaban merupakan bagian dalam
orgaanisasi yang diakumulsikan secara menyeluruh untuk kepentingan pencatatan.
Dapat diasumsikan bahwa seseorang pada pusat pertanggungjawaban mempunyai
pengendalian terhadap seluruh catatan-catatan tersebut.
Beberapa definisi akuntansi pertanggungjawaban telah banyak ditulis oleh para ahli
dalam bidang akuntansi pertanggungjawaban.
Hansen dan mowen(2005:16) akuntansi pertanggung jawaban (responsibility
accounting) system yang mengukur berbagai hasil yang dicapai oleh setiap pusat
pertanggung jawaban menurut informasi yang dibutuhkan oleh para manajer
mengoperasikan pusat pertanggung jawaban mereka.
Ikhsan dan Ishak (2005:139) akuntansi pertanggung jawaban adalah jawaban
akuntansi manajemen terhadap pengetahuan umum bahwa masalah-masalah bisnis
dapat dikendalikan seefektif mungkin dengan mengendalikan orang-orang yang
bertanggung jawab untuk menjalankan operasi tersebut.
Warindrani (2006:122), akuntansi pertanggung jawaban merupakan suatu
system yang mengukur hasil-hasil dari suatu pusat pertanggung jawaban
memainkan peranan penting dalam mengukur kegiatan dan hasil suatu pusat
pertanggung jawaban.
Dari ketiga pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa akuntansi
pertanggung jawaban adalah suatu system yang di buat sedemikian rupa dengan
tujuan untuk mengukur sejauh manajer pusat pertanggung jawban dapat
mengendalikan pendapat, biaya, laba dan investasi yang berada di bawah
wewenangnya.
2.1.3
Pengertian Sistem Akuntansi Pertanggung Jawaban
Nafarin,M (2004:14) mendefinisikan system akuntansi pertanggung jawaban
adalah suatu system akuntansi yang di pola lebih dahulu sesuai dengan tanggung
jawab dari setiap bagian dalam organisasi. Sistem akuntansi pertanggung jawaban
merupakan system akuntansi yang di kaitkan dengan pusat pengambilan keputusan
dalam struktur organisasi untuk memudahkan pengendalian biaya yang merupakan
tanggung jawab pusat pertanggung jawaban yang bersangkutan. Dalam system
akuntansi pertanggung jawaban pengumpulan dan pelaporan biaya di lakukan
untuk tiap tingkatan manajemen kemudian tiap pusat pertanggung jawaban
tersebut bertanggung jawab atas biaya yang berada di bawah pengendaliannya
biaya tersebut di pusat biayanya. Setelah semua biaya dan jenis biaya di kumpulkan
sesuai dengan pusat-pusat biaya kemudian di buat rekapitulasi sebagai dasar
pembuatan laporan kepada pejabat yang bersangkutan. Laporan ini juga sebagai
alat untuk menilai prestasi pusat pertanggung jawaban.
Jadi system akuntansi pertanggung jawaban akan menghasilkan informasi
bagi manajer puncak mengenai hasil pelaksanaan wewenang dari manajer pada
tingkat yang lebih rendah, sehingga system akuntansi pertanggung jawaban akan
menghasilkan informasi bagi manajer puncak mengenai hasil pelaksanaan
wewenang dari manajer pada tingkat yang lebih rendah, sehingga system akuntansi
pertanggung jawaban akan lebih efektif bila di terapkann untuk mengendalikan
beberapa unit-unit kegiatan dalam perusahaan.
2.1.4
Konsep Akuntansi Pertanggung Jawaban
Sistem
akuntansi
pertanggung
jawaban
tradisional
menghubungkan
informasi akuntansi manajemen dengan wewewang yang di miliki oleh manajer.
Wewenang didelegasikan dari manajer atas ke manajer di bawahnya, dan
pendelegasikan
wewenang
ini
menuntut
manajer
di
bawahnya
untuk
mempertanggung jawabkanpelaksanaan wewenang kepada manajer atasnya.
Dengan demikian , tanggung jawab timbul sebagai akibat adanya pendelegasian
wewenang dari suatu tingkat manajemenyang lebih tinggi ke tingkat manajemen
yang lebih rendah.
Untuk dapat dapat di mintai pertanggung jawaban, manajer tingkat yang
lebih bawah harus mengetahui dengan jelas wewenang apa yang di delegasikan
kepadanya oleh atasannya. Manajemen tingkat lebih rendah berkewajiban
mempertanggung jawabankan pelaksanaan wewenang tersebut kepada manajer atas
ke bawah, sedangkan tanggung jawab mengalir dari tingkat manajer bawah ke
atasannya. Oleh karena itu, timbul kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi
untuk menilai pertanggung jawaban pelaksanaan wewenang.
Menurut Mulyadi (2001:166) informasi akuntansi pertanggung jawaban merupakan
keluaran dari system akuntansi pertanggung jawaban tradisional memiliki beberapa
karakteristik yaitu :
(1) Adanya identifikasi pusat pertanggung jawaban
Sistem akuntansi pertanggung jawaban tradisional mengidentifikasikan pusat
pertanggung jawaban sebagai unti organisasi seperti departemen, keluarga produk,
tim kerja, atau individu. Apapun satuan pusat pertanggung jawaban yang di
bentuk, system akuntansi pertanggung jawaban tradisional membebankan tanggung
jawaban dalam satuan uang (seperti biaya)
(2) Standar sebagai tolak ukur kinerja
Sistem akuntansi pertanggung jawaban menghendaki di tetapkannya standar
sebagai dasar untuk menyusun anggaran.
(3) Kinerja manajer di ukur dengan membandingkan realisasi dan anggaran
Informasi
akuntansi
pertanggung
jawaban
menyajikan
informasi
biaya
sesungguhnya dan informasi biaya yang di anggarkan kepada setiap manajer yang
bertanggung jawab, untuk memungkinkan setiap manajer mempertanggung
jawabkan pelaksanaan anggaran mereka dan memungkinkan mereka untuk
memantau pelaksanaan anggaran mereka.
2.1.5
Manfaat Akuntansi Pertanggungjawaban
Setiap unit organisasi merupakan pusat pertanggungjawaban maka setiap
pimpinan pusat pertanggungjawaban akan memberikan informasi baik berupa
anggaran maupun laporan manajemen. Adapun yang menjadi manfaat informasi
akuntansi pertanggungjawaban adalah informasi akuntansi pertanggungjawaban
yang berupa informasi yang akan datang bermanfaat untuk penyusunan anggaran,
sedangkan informasi masa lalu bermanfaat sebagai penilai kinerja manajer pusat
pertanggungjawaban dan alat pemotivasi manajer (Mulyadi, 2001: 174-175).
Akuntansi pertanggungjawaban sangat diperlukan dan bermanfaat bagi
perusahaan besar yang kegiatan usahanya memerlukan pembagian tugas dan
tanggung jawab.
Manfaat akuntansi pertanggungjawaban menurut Soekarno (2002: 35)
adalah:
1.
Mutu berbagai keputusan lebih baik, sebab dibuat oleh pimpinan yang berada
di tempat terjadinya isu-isu yang relevan.
2.
Berkurangnya beban manajemen puncak sehingga bisa lebih memfokuskan
pada konsep pengendalian manajemen yang lebih strategis.
3.
Bagi pimpinan pusat pertanggungjawaban, pendelegasian wewenang dapat
dimanfaatkan untuk pengembangan inovasi dan kreativitasnya.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat informasi
akuntansi pertanggungjawaban adalah sebagai berikut (Soekarno, 2002: 38):
1.
Sebagai dasar penyusunan anggaran
Proses penyusunan anggaran pada dasarnya merupakan proses penetapan
peran (role setting) dalam usaha pencapaian sasaran perusahaan. Dalam proses
penyusunan
melaksanakan
anggaran
sebagian
ditetapkan
aktivitas
siapa
yang
pencapaian
akan
sasaran
berperan
dalam
perusahaan
dan
ditetapkan pula sumber daya yang disediakan bagi pemegang peran tersebut
untuk memungkinkan pelaksanaan perannya. Sumber daya yang disediakan
untuk memungkinkan manajer berperan dalam usaha pencapaian sasaran
perusahaan tersebut diukur dengan satuan moneter standar yang berupa
informasi akuntansi.
2.
Alat penilai kinerja manajer pusat pertanggungjawaban
Informasi akuntansi pertanggungjawaban merupakan informasi yang penting
dalam proses perencanaan dan pengendalian aktivitas organisasi karena
informasi tersebut menekankan hubungan antara informasi dengan manajer
yang bertanggung jawab terhadap perencanaan dan realisasinya. Pengendalian
dapat dilakukan dengan cara memberikan peran bagi setiap manajer untuk
merencanakan pendapatan dan/ atau biaya yang menjadi tanggung jawabnya,
dan kemudian menyajikan informasi realisasi pendapatan dan/ atau biaya
tersebut menurut manajer yang bertanggung jawab mencerminkan skor (score)
yang dibuat oleh setiap manajer dalam menggunakan berbagai sumber daya
untuk melaksanakan peran manajer tersebut dalam mencapai sasaran
perusahaan.
3.
Untuk memotivasi manajer
Motivasi adalah proses prakarsa dilakukannya suatu tindakan secara sadar dan
bertujuan. Pemotivasi adalah sesuatu yang digunakan untuk mendorong
timbulnya prakarsa seseorang untuk melaksanakan tindakan secara sadar dan
bertujuan. Dalam sistem penghargaan perusahaan, informasi akuntansi
merupakan bagian yang penting, maka informasi akuntansi ini akan berdampak
terhadap motivasi manajer melalui dua jalur berikut ini:
a.
Menimbulkan pengaruh langsung terhadap motivasi manajer dengan
mempengaruhi
kemungkinan
usaha
diberi
penghargaan.
Struktur
penghargaan sebagian didasarkan atas informasi akuntansi, maka manajer
akan berkeyakinan bahwa prestasinya yang diukur dengan informasi
akuntansi pertanggungjawaban akan diberi penghargaan yang sebagian
besar didasarkan pada informasi akuntansi.
b.
Informasi pertanggungjawaban berdampak terhadap motivasi melalui nilai
penghargaan. Informasi akuntansi pertanggungjawaban digunakan untuk
mengukur prestasi manajer. Jika struktur penghargaan sebagian besar
didasarkan pada informasi akuntansi, manajer akan memperoleh kepuasan.
2.1.6
Hubungan Pengendalian Manajemen dengan Akuntansi Pertanggung
Jawaban
Pada dasarnya fungsi pengendalian adalah untuk melakukan pengukuran
dan perbaikan performance report sehingga dapat di ketahui apakah terjadi
penyimpangan dari tujuan dan rencana yang telah di tetapkan perusahaan
sebelumnya. Jika di ketahui terdapat penyimpangan maka segera akan di lakukan
tindakan perbaikan. Jadi fungsi pengendalian bagi manajerr adalah menjaga agar
semua kegiatan akuntansi Pertanggung jawaban dalam hal ini adalah memberikan
informasi kepada manajemen mengenai prestasi kerja manajemen masing-masing
bidang. Proses pengendalian terdiri dari tiga tahap yaitu :
1. Penyusunan program dan anggaran
Merupakan bagian dari tahap perencanaan bagi penganut akuntansi pertanggung
jawaban, tahap perencanaan adalah mengarah dan menyusun anggaran pada tiap
tingkat pertanggung jawaban yang ada.
2. Pelaksanaan dan Pengukuran
Dalam Proses atau tahap pelaksanaan ini meliputi kegiatan dan pengumpulan
realisasi prestasi. Tahap ini dalam akuntansi pertanggung jawaban menurut pusat
pertanggung jawaban untuk bekerja sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah di
tetapkan. Dalam pelaksanaan tugasnya, pusat-pusat pertanggung jawaban di batasi
dengan program dan anggaran.
3. Pelaporan dan analisa
Dari pelaksanaan atau aktivitas yang dilakukan oleh pusat-pusat pertanggung
jawaban dilakukan evaluasi. Tahap evaluasi ini menyangkut tindakan koreksi serta
tindakan lanjutan. Akuntansi pertanggung jawaban menyediakan informasi
kepadda manajemen berupa performance report. Dengan adanya performance report ini
prestasi pusat pertanggung jawaban dapat di nilai.
2.1.7
Tipe-Tipe Pusat Pertanggung Jawaban
Suatu organisasi di bagi menjadi bagian tertentu yang di sebut pusat
pertanggung jawaban. Pusat pertanggung jawaban adalah satu unit organisasi yang
di pimpin oleh seorang manajer pertanggung jawaban. Umumnya sebuah
perusahaan terdiri dari beberapa pusat pertanggung jawaban yang masing- masing
di tunjukan dalam satu kotak dalam bagan struktur organisasi. Pusat pertanggung
jawaban ini membentuk satu hierarki. Tingkatan terendah aalah pusat pertanggung
jawaban untuk unit. Seksi, bagian atau unit organisasi kecil lainnya. Sedangkan
tingkat yang lbih tinggi adalah departemen, unit usaha, atau devisi.
Suatu saat pertanggung jawaban dapat di pandang sebagai suatu system yang
mengolah masukan menjadi keluaran. Masukan suatu pusat pertanggung jawaban
yang di ukur dalam satuan uang di sebut dengan biaya, sedangkan keluaran suatu
pertanggung jawaban yang di nyatakan dalam satuan uang di sebut dengan
pendapatan. Tipe-tipe pusat pertanggung jawaban di bagi menjadi empat yaitu :
(1) Pusat Biaya
Menurut Mulyadi (2001:426), pusat biaya adalah pusat pertanggung jawaban yang
manajernya di ukur prestasi atas dasar biayanya (nilai masukan). Setiap pusat
pertanggung jawaban mengkonsumsi masukan dan menghasilkan keluaran. Dalam
pusat biaya, keluarannya tidak dapat di ukur secara kuantitatif atau kemungkinan
manajer pusat biaya tersebut tidak dapat bertanggung jawab atas keluaran pusat
biaya tersebut. Menurut Abdul Halim et al (2000:74) secara umum pusat biaya di
bedakan menjadi dua pusat biaya yaitu:
(a) Pusat biaya Teknik atau pusat biaya standar (standard or engineered expenses
center)
Pusat biaya teknik adalah pusat biaya yang sebagian besar biayanya mempunyai
hubungan fisik yang erat dengan output yang di hasilkan. Contoh pusat biaya
teknik adalah departemen produksi. Manajer pusat biaya teknik akan di ukur
efisiensi dan efektifitasnya. Efisiensi di ukur dengan membandingkan antara biaya
standar dengan biaya sesungguhnya, jika biaya sesungguhnya lebih kecil daripada
biaya standar maka dikatakan efisien. Sedangkan efektif tidaknya suatu pusat biaya
teknik di ukur atas dasar kuantitas produk yang di targetkan dengan tingkat
kualitas dan waktu tertentu.
(b)Pusat Biaya Kebijakan (discretionary expense center)
Pusat biaya kebijakan adalah pusat biaya yang sebagian besar biaya yang terjadi
tidak mempunyai hubungan yang erat dengan output yang di hasilkan. Contoh
pusat biaya kebijakan adalah unit administrative dan unit pendukung lain (seperti
departemen akuntansi, departemen hubungan industrial dan departemen hubungan
masyarakat), dan departemen penelitian dan pengembangan, serta departemen
pemasaran. Proses pengendalian dalam pusat biaya kebijakan di mulai dengan
pembuatananggaran biaya yang di setujui oleh manajemen pusat. Anggaran biaya
ini merupakan batas atass pengeluaran biaya yang dapat di lakukan oleh manajer
pusat biaya yang bersangkutan. Anggaran biaya ini merupakan tolak ukur
efisisensi, namun untuk memberikan pedoman agar biaya sesungguhnya tidak
melebihi jumlah yang telah di setujui.
(2) Pusat Pendapatan
Menurut Abdul Halim et al (2007:74), pusat pendapatan (revenue center)
merupakan pusat pertanggung jawaban dimana outputnya di ukur dalam unit
moneter, tetapi tidak di hubungkan dengan inputnya. Kinerja keuangan pusat
pendapatan di ukur atas dasar pendapatan yang di peroleh, yaitu perkalian antara
unit yang di jual dengan harga jualnya. Penentuan tentang keberhasilan pendapatan
yang sesungguhnya di peroleh dengan pendapatan yang di anggarkan.
(3) Pusat Laba
Menurut Mulyadi (2001:427), pusat laba adalah pusat pertanggung jawaban yang
manajernya di beri wewenang untuk mengendalikan pendapatan dan biaya pusat
pertanggung jawaban. Laba adalah selisih antara pendapatan dan biaya. Untuk
pengukuran kinerja manajer pusat laba, pendapatan yang di gunakan sebagai
komponen perhitungan laba tidak selalu harus berasal dari penjualan produk atau
jasa kepada pihak luar perusahaan. Menurut Abdul Halim et al (2000:95) Ada dua
cara pengukuran tingkat profitabilitas pusat laba yaitu:
(a) Mengukur kinerja manajemen (management performance)
Seberapa baiknya seorang manajer dalam memimpin unit atau pusat
pertanggung jawaban, sehingga prestasi manajer di ukur sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawab. Pengukuran seperti ini biasa di gunakan
untuk pencernaan koordinasi dan pengawas aktivitas harian dari pusat laba
bersangkutan.
(b) Mengukur kinerja ekonomi (economic performance)pusat laba
Sejauh mana pusat laba sebagai unit kegiatan ekonomi dapat mencapai atau
memenuhi anggaran labanya.
(4) Pusat Investasi
Menurut Abdul Halim et al (2000:126), pusat investasi adalah pusat pertanggung
jawaban yang di ukur prestasinya atas dasar laba yang di peroleh di bandingkan
dengan investasi yang di gunakan. Pengukuran prestasi suatu pusat investasi di
maksudkan untuk mengetahui sejauh mana pusat investasi tersebut dapat di
hasilkan kembaliannya yang memuaskan, bagi unit usaha dan bagi perusahaan
secara keseluruhan.
2.1.8
Unsur-unsur Akuntansi pertanggung jawaban
1. Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah bagan yang menggambarkan bagian-bagian yang
ada dalam sebuah organisasi sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing bagian.
Macfoedz (1996:33), Struktur organisasi merupakan bagan yang menggambarkan
bagian-bagian yang ada dalam suatu organisasi, dimana di dalamnya terdapat
pendelegasian tugas, wewenang dan tanggung jawab. Dalam penerpan akuntansi
pertanggung jawaban perlu suatu struktur organisai yang menerapkan secara jelas
garis besar wewenang (authority) dan pertanggung jawaban (responsibility) dari
semua tingkatan manajemen serta terdiri darimpusat-pusat pertanggung jawaban.
Ada tiga Struktur organisasi yang bias di gunakan oleh perusahaan dengan
menyesuaikan tujuan yang akan di capai yaitu :
1) Struktur organisasi fungsional
Yaitu struktur organisasi berdasarkan fungsi yang memisahkan tugas dan tanggung
jawab sesuai dengan fungsi perusahaan. Ada dua fungsi pokok perusahaan dalam
rangka pengendalian yaitu:
a) Fungsi garis, yang di pimpin oleh manajer yang bertugas langsung dalam
pencapaian laba perusahaan .
b) Fungsi staf, yang di pimpin oleh manajer yang tugasnya membantu
bagian-bagian dari fungsi garis.
Struktur organisasi fungsional cocok di gunakan untuk perusahaan yang memiliki
satu atau dua produk sejenis yang di produksi secara besar-besaran. Organisasi
fungsional mempunyai beberapa kebaikan sebagai berikut :
a) Karyawan anggota suatu fungsi (bagian) akan menjadi spesialis di
bidangnya yang di tanganinya karena secara terus menerus menangani
hal yang sama.
b) Perlatan yang di gunakan bias di efektifkan semaksimal mungkin.
c) Para manajer menengah tidak lepas kendali sehingga merugikan
perusahaan secara keseluruhan.
Kelemahan dari struktur organisasi adalah :
a) Sulitnya membebankan tanggung jawab atas pencapaian tujuan (laba)
perusahaan.
b) Pimpinan pusat harus membuat semua keputusan yang akan di jalankan
oleh manajer tingkat menengah dan manajer tingkat bawah.
c) Sulit melakukan pengendalian atas seluruh organisasi.
direktur
produksi
penjualan
Keuangan
personalia
Gambar 1
Struktur organisasi fungsional
Sumber: Supriyono (2000:203)
2) Struktur Organisasi Divisional
Dalam struktur organisasi ini pemisahan bagian-bagian berdasarkan jenis produk
yang di buat atau bidang usaha. Sifat dari pengendaliannya adalah senantiasa yaitu
tiap devisi di beri hak untuk beroperasi dan pengambilan keputusan tertentu yang
menyangkut masalah pencapaian laba maksimal.
1) Struktur organisasi matrik
Struktur organisasi matriks membagi organisasi menjadi dua kelompok bagian.
Pertama, bagian yang mempunyai tugas fungsional dan kedua, bagian yang
pembagiannya di dasarkan proyek dan manajer fungsi.
direktur
Direktur Divisi A
Direktur Divisi B
Direktur Divisi C
Manajer Produksi
Manajer Produksi
Manajer Produksi
Manajer
pemasaran
Manajer
pemasaran
Manajer
pemasaran
Gambar 2
Struktur Organisasi Divisional
Sumber: Supriyono (2000:203)
Direktur
Direktur Proyek
Direktur Fungsional
Fungsi A
Fungsi X
Fungsi B
Fungsi Y
Fungsi C
Fungsi Z
Gambar 3
Struktur Organisasi Matrik
Sumber: Supriyono (2000:203)
2. Anggaran
Pengertian anggaran menurut Nafarin (2004:12)”Anggaran adalah suatu
rencana keuangan periodic yang di susun berdasarkan program yang telah di
sahkan”. Anggaran merupakan suatu rencana kegiatan jangka panjang yang di
tetapkan dalam proses penyusunan program (programming). Dan menurut Abdul
Halim et al (2000:172), anggaran merupakan rencana yang di ungkapkan secara
kuantitatif dalam unit moneter untuk periode satu tahun.
Dari ketiga pengertian tersebut, dapat di simpulkan bahwa anggaran
mempunyai peran penting dalam keseluruhan tugas manajer, di mana anggaran di
susun oleh manajer pada semua tingkatan manajemen secara kuantitatif yang
berfungsi sebagai alat perencanaan, mengkoordinasi kegiatan, mengimplementasi
rencasa dan mengkomunikasikan evaluasi dan mengesahkan tindakan-tindakan di
dalam mencapai tujuan organisasi. Maka anggaran harus di susun untuk setiap
peringkat manajemen yang di bebani tanggung jawab atas pendapatan dan biaya
tersebut. Melalui laporan prestasi, anggaran setiap pusat pertanggung jawabandi
bandingkan dengan realisasi sehingga dapat di tentutkan prestasi manajer pusat
pertanggung jawaban.
Menurut Mulyadi (2001:490), anggaran mempunyai karakteristik sebagai
berikut :
a) Anggaran di nyatakan dalam satuan moneter dan satuan selain keuangan.
b) Anggaran umumnya mencakup jangka waktu satu tahun
c) Anggaran berisi komitmen atau kesanggupan manajemen, yang berarti
bahwa para manajer setujui untuk mencapai sasaran yang telah di tetapkan
dalam anggaran.
d) Usulan anggaran di telaah oleh pihak yang berwenang lebih tinggi dari
penyusun anggaran.
e) Sekali di setujui, anggaran hanya dapat di ubah di bawah kondisi ertentu.
f) Secara berkala, kinerja keuangan sesungguhnya di bandingkan dengan
anggaran dan selisihnya dan di jelaskan.
Menurut Abdul Halim et al (2000:174), penyusunan anggaran mempunyai empat
sasaran pokok yaitu anggaran yang berguna untuk :
a) Memperjelas rencana strategis
b) Membantu koordinasi kegiatan beberapa bagian dari suatu organisasi.
c) Melimpahkan tanggung jawab kepada manajer, untuk memberikan otorisasi
jumlah yang di ijinkan untuk di keluarkan dan menginformasikan kinerja
yang di harapkan.
d) Memperoleh kesepakatan bahwa anggaran merupakan dasar penilaian
kinerja manajer.
Menurut Nafarin (2004:15), anggaran mempunyai banyak manfaat antara lain :
a) Segala kegiatan dapat terarah pada pencapaian tujuan bersama.
b) Dapat di gunakan sebagai alat menilai kelebihan dan keuangan pegawai
c) Dapat memotivasi pegawai
d) Menimbulkan rasa tanggung jawab pada pegawai
e) Menghindari pemborosan dan pembayaran yang kurang perlu
f) Sumber daya, seperti tenaga kerja, peralatan dan dana dapat bermanfaat
seefisien mungkin.
g) Alat pendidikan bagi para manajer.
Berdasarkan kegunaan dan bermanfaat anggaran di atas, maka dapat di
ambil kesimpulan bahwa anggaran mempunyai fungsi-fungsi yaitu fungsi
perencanaan, fungsi komunikasi, fungsi motivasi, fungsi pengendalian, fungsi
evaluasi dan fungsi pendidikan.
Menurut Mulyadi (2000:502), anggaran mempunyai beberapa fungsi sebagai
berikut :
a) Anggaran merupakan hasil akhir proses penyusunan rencana kerja.
b) Anggaran merupakan rencana formal aktivitas-aktivitas yang akan di
laksanakan organisasi di masa yang akan datang.
c) Anggaran berfungsi sebagai tolak ukur yang di capai sebagai pembanding
hasil actual.
d) Anggaran berfungsi sebagai alat komunikasi intern yang menghubungkan
berbagai unit organisasi dan menghubungkan manajer bawah dengan
manajer atas
e) Anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian yang memungkinkan
manajemen menunjuk yang kuat dan lemah bagi organisasi.
f) Anggaran berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi dan memotivasi
manajer dan karyawan agar senantiasa bertindak secara efektif dan efisien
sesuai dengan tujuan organisasi.
3. Penggolongan Biaya
Pemisahan biaya menjadi terkendali dan tidak terkendali bagi seseorang
sejak penetapan budget adalah sangat penting agar tidak terjadi tanggung jawab
ganda terhadap biaya tertentu dan agar setiap pemimpin pusat biaya dapat
mengetahui dengan jelas batas-batas tanggung jawabnya
Menurut Kamarudin (2006:36), biaya terkendali (controllable cost) adalah
biaya yang pada tingkat manajemen tertentu atau secara langsung dapat di
pengaruhi manajer tertentu.
Hariadi (2002:279), biaya yang dapat di kendalikan adalah biaya yang di atur
secara langsung pada tingkat pimpinan tertentu atau dapat di pengaruhi secara
signifikan oleh seseorang dalam jangka waktu tertentu.
Dari kedua pengertian di atas, dapat di simpulkan bahwa biaya terkendali
adalah biaya yang dapat di kendalikan oleh manajer tertentu karena manajer
tersebut mempunyai andil dalam menentukan jumlah suatu biaya.
Sedangkan biaya tak terkendali adalah biaya yang bukan tanggung jawab
dan tidak dapat di pengaruhi pusat (center) tertentu. Umumya biaya terkendali
adalah biaya variable dan biaya langsung tapi tidak semua biaya variable dan biaya
langsung merupakan biaya terkendali tergantung kondisinya. Untuk menentukan
dengan jelas biaya terkendali dan tidak terkendali tidak mudah tetapi ada petunjuk
yang dapat di ikuti yaitu :
a) Jika seseorang mempunyai wewenang dalam pemilihan dan penggunanaan
suatu jasa, maka ia harus di bebani tanggung jawab atas besarnya biaya
tersebut.
b) Jika seseorang melalui tindakannya sendiri mempunya andil yang signifikan
dalam menentukan jumlah suatu biaya, maka pejabat tersebut pantas di
bebani tanggung jawab atas besarnya biaya tersebut.
c) Jika seseorang tidak dapat mempengaruhi besarnya suatu biaya tetapi
manajemen menginginkan pejabat tersebut di serahi tanggung jawab atas
biaya tersebut maka ia dapat membantu mempengaruhi biaya tersebut.
Untuk mengubah biaya tidak terkendali menjadi biaya terkendali dapat di lakukan
dengan dua cara yaitu:
(1) Mengubah dasar pembebanan biaya (mengubah biaya alokasi menjadi biaya
langsung).
Biaya alokasi dapat di ubah menjadi biaya terkendali dengan mengubah cara
sehingga biaya yang di alokasikan tersebut di pengaruhi oleh tindakan yang di
lakukan oleh manajer pusat pertanggung jawaban. Contoh : biaya listrik semula
merupakan biaya tak terkendali dapat di ubah menjadi biaya terkendali dengan cara
memasang alat pengatur sehingga dengan adanya alat pengatur tersebut manajer
tersebut dapat mengatur sendiri biaya listriknya
(2) Mengubah fokus tanggung jawab biaya
Mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab manajemen puncak kepada
manajemen yang ada di bawahnya. Kondisi ini dapat dilakukan dengan aman, jika
perusahaan tersebut memiliki system akuntansi manajemen yang baik untuk
mengendalikan kinerja bawahannya.
4. Sistem Pelaporan dan Kode Rekening
Pengumpulan dan pelaporan biaya dalam system akuntansi pertanggung
jawaban harus menggunakan klasifikasi dan kode rekening yang sesuai dengan
konsep pertanggung jawaban dalam organisasi. Dengan kata lain bahwa klasifikasi
dank ode rekening harus di susun sedemikian rupa sehingga selain mampu
menunjukkan
jenis
biaya
atau
penghasilan
yang
terjadi,
memungkinkan
pengumpulan biaya terkendali dan tidak terkendali pada masing-masing pusat
pertanggung jawaban atau kontribusi penghasilan masing-masing produk dan
dapat mengidentifikasi pula kode tingkat pimpinan manajemen yang bertanggung
jawab.
Dalam pemberian kode rekening buku besar, di gunakan metode kelompok
yaitu untuk tiap rekening buku besar di beri kode dengan jumlah angka yang tetap
dan kedudukan tiap-tiap angka dalam kode tersebut mempunyai arti masingmasing. Pemberian kode rekening yang di susun menurut kelompok adalah di
dasarkan pada klasifikasi rekening yang akan di sajikan dalam laporan keuangan.
Jumlah angka untuk tiap kelompok harus sama khusus untuk kelompok rekening
nominal, agar biaya maupun penghasilan memenuhi konsep akuntansi pertanggung
jawaban, kode rekening harus dapat menunjukan tingkatan manajemen dimana
biaya atau penghasilan tertentu terjadi, pejabat yang bertanggung jawab dan
menyangkut jenis biaya yabg terjadi. Setiap tingkatan manajemen dalam struktur
organisasi dapat merupakan pusat biaya, pusat penghasilan dan pusat investasi
Posisi angka dalam kode rekening biaya akuntansi pertanggung jawaban
terbagi dua yaitu kelompok pertama menunjukan kode jenis biaya dan
penghasilanyang di golongkan sesuai dengan obyek pengeluaran atau penerimaan.
Tempat terjadinya biaya, penghasilan dan investasi di kaitkan dengan pusat-pusat
pertanggung jawaban pada berbagai tingkatan manajemen dalam organisasi.
X
X
X
X
XX
Kelompok Biaya
Pusat Biaya Manajer
Pusat Biaya Kepala Bagian
Pusat Biaya Bagian Seksi
Jenis biaya
Gambar 4
Menunjukan Tempat Terjadinya Biaya
Sumber: Mulyadi, 2001. Akuntansi Manajemen; Konsep, Manfaat dan Rekayasa.
Edisi Ketiga. Jakarta: Salemba Empat.
rekening dibagi menjadi 6 kelompok dan diberi kode rekening sebagai berikut:
1. Aktiva
2. Hutang
3. Modal
4. Pendapatan
5. Biaya
6. Pendapatan dan biaya lain-lain
2.1.9
Penilaian Kinerja Manajemen
1. Pengertian Penilaian Kinerja
Pengertian penilaian kinerja menurut Anderson dan Sollenberg (1993:5)
“Performance evaluation is comparing actual performance whit plants and providing
feedback for future planning and control.”
Menurut Siegel et al. yang dikutip oleh Mulyadi (2001:415) “Penilaian kinerja adalah
penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagan organisasi
dan karyawan berdasarkan sasaran, standard an criteria yang telah di tetapkan
sebelumnya.”
Kesimpulan dari kedua pengertian tersebut diatas bahwa penilain kinerja
manajemen adalah menilai atau mengevaluasi perilaku manuisa atas pelaksanaan
wewenang dan tanggung jawabnya dalam suatu organisasi. Apabila informasi
akuntansi yang digunakan sebagai landasan evaluasi kinerja maka informasi
akuntansii yang memenuhi kebutuhan tersebut adalah informasi akuntansi
manajemen yang berkaitan dengan individu yang mempunyai tanggung jawab
tertentu dalam organisasi.
Metode dan eknik yang digunakan dalam mengukur tindakan dan perilaku
yang dihubungkan dengan suatu evaluasi kinerja juga akan mempengaruhi
motivasi dari anggota organisasi. Lingkungan kerja yang baik dapat meningkatkan
produktivitas dan sebaliknya lingkungan kerja yang bururk akan menghasilkan
semangat kerja yang rendah serta menurunkan motivasi dalam memenuhi rencana
yang telah di tetapkan.
2. Tujuan dan Manfaat Penilain Kinerja
Tujuan penilain kinerja menurut Mulyadi (2001:416) adalah untuk
memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi
standar perilaku yang telah di tetapkan sebelumnya, agar memperoleh hasil yang di
inginkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal
yang di tuamngkan dalam anggaran. Penilaian kinerja di lakukan unttuk menekan
perilaku yang tidak semestinya dan utnuk merangsang perilaku dan menegakkan
perilaku yang semestinya diingini melalu umpan balik hasil kinerja.
Manfaat yang akan diperoleh evaluasi kinerja bagi manajemen, Mulyadi (2001:416)
adalah untuk:
1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui
pemotivasian karayawan secara maksimal.
2. Membantu
pengambilan
keputusan
yang
bersangkutan
dengan
karyawan, seperti promosi, transfer dan pemberhentian.
3. Menidentifikasi kebutuhna pelatihan dan pengembangan karyawan
untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan
karyawan.
4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan
mereka menilai kinerja mereka.
5. Menyediakn suatu dasar bagi distribusi penghargaan.
3. Tahap-Tahap Penilaian Kinerja
Menurut Mulyadi (2001:420) penilain kinerja manajemen dapat dilaksanakan
dalam dua tahapan utama, sebagai berikut :
1. Tahapan persiapan, terdiri dari tiga tahap :
a. Penentuan daerah pertanggung jawaban dan manajer yang bertanggung
jawab.
b. Penetapan kriteria yang dipakai untuk mengukur kinerja.
c. Pengukuran kinerja yang sesungguhnya
2. Tahap penilaian, terdiri dari tiga tahap :
a. Pembandingan kinerja sesungguhnya dengan suatu sasaran yang telah di
tetapkan sebelumnya.
b. Penentuan
penyebab
timbulnya
penyimpangan
kinerja
yang
sesungguhnya dari yang di tetapkan dalam standar.
c. Penegakan perilaku yang di inginkan dan tindakan yang digunakan
untuk mencegah perilaku yang tidak di inginkan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat di katakana bahwa hasil dari
penilaian kinerja dapat digunakan mengidentifikasi kelemahan karyawan dan untuk
mengantisipasi keahlian dan ketrampilan yang dituntut dalam pekerjaan sehingg
akan memotivasi karyawan dalam berusaha secara maksimal untuk mencapai
sasaran yang telah di tetapkan dalam organisasi.
2.2
Rerangka Pemikiran
Sistem Akuntansi Pertanggungjawaban
Pusat Pertanggungjawaban
Pusat Pendapatan
Pusat biaya
Struktur Organisasi
Klasifikasi
Pendapatan dan
biaya serta Kode
Rekening
Anggaran
Laporan Pertanggungjawaban
Penilaian Kinerja
Gambar 5
Skema Kerangka Pemikiran
Berikut ini adalah uraian singkat rerangka pemikiran diatas:
1. Sistem
akuntansi
pertanggungjawaban
mengarah
kepada
pusat
pertanggungjawaban dimana pusat pertanggungjawaban berkewajiban
untuk menyusun laporan sesuai dengan tanggung jawab dan wewenang,
dalam hal ini pusat pertanggungjawaban yang digunakan yaitu pusat
pendapatan dan pusat biaya.
2. Pusat pertanggungjawaban mengarah kepada struktur organisasi dan
pengklasifikasian pendapatan dan biaya serta kode rekening.lalu dilakukan
kodefikasi pada struktur organisasi.
3. Penyusunan anggaran dilakukan setelah pengkodefikasian.
4. Laporan pertanggungjawaban masing-masing pusat pertanggungjawaban
yang berisi tentang anggaran dengan realisasi digunakan untuk penilian
kinerja.
5. Penilaian kinerja dilakukan untuk mengetahui prestasi kinerja masingmasing pusat pertanggungjawaban apakah sudah sesuai dengan tanggung
jawab dan wewenangnya dalam struktur organisasi.
2.3
Penelitian Terdahulu
Rusman,R(2010) “Akuntansi pertanggungjawaban pada PT. Asuransi Jiwa
Bersama Bumiputera 1912 kantor wilayah asper Banda Aceh”. Bertujuan
untukmenguraikan
secara
ilmiah
mengenai
penerapan
konsep
akuntansi
pertanggungjawaban sebagai alat pengendalian biaya pada PT. Asuransi Jiwa
Bersama Bumiputera 1912 kantor wilayah asper Banda Aceh. Dari hasil penelitian
pada PT. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 kantor wilayah asper Banda Aceh
perusahaan tersebut telah menerapkan akuntansi pertanggungjawaban dengan
cukup baik, hal ini dapat diketahui dengan terpenuhinya syarat-syarat dan
karakteristik
dari
pusat
pertanggungjawaban.
Selain
itu
perusahaan
juga
menjalankan pengendalian biaya dengn baik.
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada saat ini dengan penelitian
sebelumnya mempunyai perbedaan yaitu pada penelitian sebelumnya menguraikan
konsep akuntasi pertanggungjawaban sebagai alat pengendalian biaya. Sedangkan
penelitian saat ini yaitu dimana akuntansi pertanggungjawaban digunakan sebagai
penilaian kinerja manajemen. Persamaan adalah sama-sama membahas akuntansi
pertanggungjawaban salah satunya masalah pemisahan biaya terkendali dengan
biaya tak terkendali dan masalah kode rekening.
Rumengan,G (2013) “ Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Dengan
Anggaran Sebagai Alat Pengendalian Biaya di Hotel Quality Manado “. Bertujuan
untuk mengetahui penerapan akuntansi pertanggungjawaban dengan anggaran
sebagai alat pengendalian biaya di Hotel Quality Manado.
Perbedaan yang mendasar dari penelitian saat ini dengan penelitian
sebelumnya yaitu menilai kinerja manajer pusat pendapatan yang diterapkan telah
efektif dengan membandingkan antara anggaran dan aktualnya. Sedangkan
penelitian saat ini menilai kinerja manajer dengan membandingkan antara anggaran
dan realisasinya
Download