1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Mengacu

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Mengacu pada prinsip good goovernance bahwa pemerintah, baik itu
pemerintah pusat maupun daerah harus menyajikan laporan keuangan yang
transparan dan akuntable. Hal ini didasarkan pada amanat Pasal 23 UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang menjelaskan bahwa
Undang-undang Tentang Keuangan Negara perlu menjabarkan aturan pokok
yang
telah
ditetapkan
dalam
Undang-Undang
Dasar
tersebut
agar
mencerminkan asas-asas best practices. Asas-asas best practices tersebut
antara
lain
akuntabilitas
berorientasi
pada
hasil;
profesionalitas;
proporsionalitas; keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara; dan
pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri.
Implementasi penyelenggaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, Pasal
17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 20 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003
Tentang Keuangan Negara tentang penyusunan dan penetapan APBD yang
dijabarkan dalam bentuk pelaksanaan program dan kegiatan yang tercantum
dalam APBN/APBD setiap tahunnya. Dan pada Undang – Undang No 15
Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara yang tercantum pada Pasal 1 dan Pasal 2 tentang bagaimana
prosedur jalannya suatu pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK )
serta laporan dari pertanggung jawaban yang harus di pertanggung jawabkan.
1
2
Tujuan pencerminan asas-asas tersebut agar semua yang dilaporkan
bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, termasuk aset tetap berupa
Barang Milik Daerah (BMD). Barang Milik Daerah (BMD) merupakan seluruh
barang yang cara perolehannya dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara/Daerah (APBN/APBD) atau barang yang diperoleh dari
perolehan lainnya yang sah. Hal ini dijelaskan lebih lanjut dalam Pasal 1 Ayat
(2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang
Milik Negara/Daerah yang menjelaskan bahwa Barang Milik/Kekayaan Negara
BM/KN yakni barang bergerak/barang tidak bergerak yang dimiliki/dikuasai
oleh instansi pemerintah yang sebagian atau seluruhnya dibeli atas beban
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah ataupun dengan perolehan
lainnya yang sah, yang tidak termasuk dalam kekayaan Negara yang
dipisahkan (dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara) dan kekayaan
pemerintah daerah. 1Barang Milik Daerah tersebut merupakan asset negara
dimana pengelolaannya tidak hanya terhadap proses administrasinya saja,
melainkan juga harus memperhatikan efisiensi, efektifitas, dan menciptakan
nilai tambah dalam pengelolaan asset tersebut.
Dalam Pemendagri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah yang dimaksud dengan dengan barang milik
daerah adalah semua kekayaan daerah baik yang dibeli atau diperoleh atas
beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun yang berasal dari
perolehan lain yang sah baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak
1
Solihin Dadang. 2001. Kamus Otonomi Daerah Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan.
Jakarta. hlm. 17
3
beserta bagian-bagiannya ataupun yang merupakan satuan tertentu yang dapat
dinilai, dihitung, diukur, atau ditimbang termasuk hewan dan tumbuhtumbuhan. Dimana pengelolaan barang milik Negara/daerah dilaksanakan
berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi dan keterbukaan,
efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai.
Jika mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun
2007Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, Peraturan
Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Pengeloaan Barang Milik
Negara/Daerah, serta Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, yang menjelaskan bahwa yang
disebut dengan barang milik daerah yaitu:
1. Barang milik daerah yang meliputi :
a. Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD; dan
b. Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah;
2. Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Barang yang diperoleh dari hibah atau sumbangan atau yang sejenis;
b. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
c. Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau
d. Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
Secara Yuridis-Normatif, aset negara terbagi atas tiga sub-aset negara
yaitu:
4
1. Barang Milik Negara yang dikelola sendiri oleh pemerintah, misalnya
tanah dan bangunan Kementerian/Lembaga, mobil milik Kementerian/
Lembaga
2. Kekayaan negara yang dipisahkan dan dikelola oleh pihak lain, misalnya
penyertaan modal negara berupa saham di BUMN, atau kekayaan awal
di berbagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang dinyatakan
sebagai kekayaan terpisah berdasarkan Undang - Undang pendiriannya
3. Kekayaan yang dikuasai negara berupa kekayaan potensial terkait
dengan bumi, air, udara dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya yang dikuasai negara selaku organisasi tertinggi, misalnya
tambang, batu bara, minyak, panas bumi, aset nasionalisasi eks-asing,
dan cagar budaya.
Pengelolaan aset Daerah ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Dalam prakteknya, banyak kendala yang terjadi, antara lain tenaga SDM untuk
menyajikan laporan
keuangan belum cukup banyak, kebijakan untuk
pengelolaan aset yang belum
mengakomodir semua hal yang diperlukan,
penguasaan dan pemeliharaan aset agar tidak hilang, rusak, atau dicuri, dan
sebagainya. Meskipun belum sempurna seperti yang diharapkan, tetapi
penataannya harus dimulai karena aset pemerintah adalah kekayaan yang harus
dipelihara, diamankan, dan dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai amanah
yang harus diemban untuk masyarakat sebagai stakeholders.
Dalam hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan antara inventarisasi,
pembukuan, dan pelaporan mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap
5
pengamanan aset daerah. Secara umum, barang adalah bagian dari kekayaan
yang merupakan satuan tertentu yang dapat dinilai/dihitung/diukur/ditimbang
dan dinilai, termasuk uang dan surat berharga. Adapun pada Peraturan Daerah
Badung Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah pada
Pasal 1 Ayat 5 adalah Barang milik daerah adalah semua barang yang dibeli
atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Kabupaten Badung atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.Sementara itu
ada hal penting yang harus dipahami dalam pengelolaan barang milik daerah,
yakni pertanggung jawaban atas Barang Milik Daerah karena ketika
pemerintah diwajibkan menyampaikan pertanggung jawaban atas pelaksanaan
APBD dalam bentuk laporan keuangan yang disusun melalui suatu proses
akuntansi atas transaksi keuangan, aset, hutang, ekuitas dana, pendapatan dan
belanja, termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungan. Informasi Barang
Milik Daerah memberikan sumbangan yang signifikan di dalam laporan
keuangan (neraca) yaitu berkaitan dengan pos-pos persediaan, aset tetap,
maupun aset lainnya.
Pemerintah daerah wajib melakukan pengamanan terhadap Barang
Milik Daerah.Pengamanan tersebut meliputi pengamanan fisik, pengamanan
administratif dibutuhkan sistem penatausahaan yang dapat menciptakan
pengendalian (controlling) atas Badan Milik Daerah. Selain berfungsi sebagai
alat kontrol, sistem penata usahaan tersebut juga harus dapat memenuhi
kebutuhan
manajemen
pemerintah
didalam
perencanaan
pengadaan,
6
pengembangan, pemeliharaan, maupun penghapusan (disposal) yang tertera
pada Pasal 4 Peraturan Daerah Badung Nomor 1 Tahun 2009.
Dalam kenyataannya, faktor utama penyebab adanya penyimpangan
dalam permasalahan aset barang yaitu dalam hal pengadaan sering kali terjadi
praktek korupsi/nepotisme yang dimana pejabat daerah, dimana dalam hal
pengadaan aset barang milik daerahserta kelalaian dan kurangnya kesadaran
pejabat pemerintah akan pentingnya menjaga aset barang yang telah
dikuasainya. Pejabat pemerintah merasa aset barang milik pemerintah seperti
milik barang pribadi, sehingga sering di jumpai dimana-mana contoh kecil
kendaraan dinas sering digunakan diluar kegiatan institusi kepemerintahan.
Sehingga hal tersebut bisa membuka peluang terancamnya keamanan aset yang
telah dikuasainya.Contohnya terjadinya tindak pidana dan yang menjadi
korban adalah barang milik pemerintah. Disisi lain, pada saat melakukan
inventarisasi barang maka akan jelas barang menjadi tidak valid sehingga pada
saat pemeriksaan pembukuan inventarisasi barang, tim Badan Pengawas
Keuangan selalu saja mendapatkan temuan-temuan baru, ini menunjukan
bahwa masih lemahnya pengamanan aset barang milik daerah.
Pemerintah KabupatenBadung memiliki beberapa aset yang secara riil
akan diketahui bagaimana pola pengelolaan dan pengamanannya melalui
penelitian ini. Sebagaimana daerah-daerah lainnya, barang/aset yang dimiliki
oleh Pemerintah KabupatenBadung di antaranya adalah rumah dinas,
kendaraan dinas, Tanah dan/atau bangunan, serta Modal Daerah. Dalam
penelitian ini akan lebih difokuskan pada kendaraan dinas dan inventarisasi di
7
kantor Pemerintahan Kabupaten Badung, karena aset ini tidak dapat
sembarangan
bisa
dipindahtangankan
atau
dihapus
tanpa
memenuhi
persyaratan yang telah diatur dalam hukum yang mengatur tentang aset/barang
milik negara/daerah.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas,
penulis akan memberikan pembahasan mengenai “Pertanggung Jawaban
Hukum Terhadap Tata Pengelolaan Aset Barang Milik Negara/Daerah Oleh
Pejabat di Kantor Pemerintahan Kabupaten Badung”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka
permasalahan yang akan dibahas didalam penulisan laporan ini adalah:
1. Bagaimana pertanggungjawaban hukum dakam hal pengadaan
pada
kepemilikan aset barang milik pemerintah di Kantor Pemerintahan
Kabupaten Badung ?
2. Bagaimana penegakan hukum terhadap tata pengelolaan aset barang milik
Negara/ Daerah apabila ada yang dihilangkan oleh pejabat pemerintah di
Kantor Pemerintahan Kabupaten Badung ?
1.3. Ruang Lingkup Masalah
Meluasnya permasalahan dalam suatu penelitian akan memberikan
informasi yang tidak fokus pada apa yang diteliti, oleh karena itu perlu adanya
pembatasan ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas nantinya.
8
Pembatasan yang dimaksud hanya terkait pengaturan dan penerapan hukum
mengenai kepemilikan aset barang milik pemerintah oleh pejabat pemerintah.
1.4. Orisinalitas Penelitian
Penelitian ini berdasarkan pada pemikiran, penelitian, dan pemaparan
hasil yang asli dilakukan dan disusun oleh penulis, sehingga orisinalitas
penelitiannya terjamin. Meskipun terdapat uraian yang menyerupai dengan
judul penelitian lain, namun dalam penelitian ini lebih memfokuskan
pembahasan terkait dengan peraturan dan penerapan hukum kepemilikan aset
barang
milik pemerintah di Kantor Pemerintahan Kabupaten Badung
Bagian Pengelola Aset Daerah. Terdapat penelitian terdahulu yang digunakan
sebagai acuan oleh penulis sebagaimana tersaji pada Tabel 1.1 berikut,
Tabel 1.1 Daftar Penelitian Sejenis
No
Judul
Penulis
1.
Pertanggungjawaban
Hijriah
Hukum Administrasi
Maulani
pertanggungjawaban
Pada Yayasan
Syaputri
Hukum Administrasi pada
Pendidikan Duluwo
(Mahasiswi
Yayasan Pendidikan
Limo Lo Pohalaa
Fakultas
Duluwo Limo Lo Pohalaa
Atas Aset Daerah
Hukum,
atas pengelolaan aset
Kabupaten
Universitas
daerah Kabupaten
Gorontalo
Hasanuddin
Gorontalo?
Makasar),
Rumusan Masalah
1. Sejauh mana
2. Bagaimana status atas aset
Tahun
daerah dalam pengelolaan
2013.
Yayasan Pendidikan
9
Duluwo Limo Lo Pohalaa
atas pengelolaan aset
daerah Kabupaten
Gorontalo?
2.
Pelaksanaan
Febri Tri
1. Mengapa perlu dilakukan
Penghapusan Barang
Fransiska
tindakan penghapusan
Milik Daerah
(Mahasiswa
barang milik daerah?
Berdasarkan
Fakultas
Peraturan Menteri
Hukum,
penghapusan barang milik
Dalam Negeri Nomor
Universitas
daerah di lingkungan
17 Tahun 2007
Brawijaya
Pemerintahan Kota
Tentang Pedoman
Malang),
Malang ?
Teknis Pengelolaan
Tahun 2014
2. Bagaimana pelaksanaan
Barang Milik Daerah
(Studi di Badan
.
Pengelolaan
Keuangan dan Aset
Daerah Kota
Malang)
Tabel 1.2. Daftar Penelitian Penulis
No
1.
Judul Skripsi
Penulis
Rumusan Masalah
Penerapan
(Mahasiswa
Hukum
Fakultas
Terhadap
Hukum
Pengelolaan Aset
Universitas
Barang Milik
Udayana),
1. Bagaimana pertanggung
jawaban hukum pada
kepemilikan aset barang milik
pemerintah di Kantor
Pemerintahan
KabupatenBadung?
Daerah Oleh
Tahun
Pejabat di
2014.
Kantor
2. Bagaimana penegakan
hukum terhadap tata
pengelolaan aset barang milik
Negara/ Daerah apabila ada
yang dihilangkan oleh
10
Pemerintahan
Kabupaten
Badung
pejabatpemerintah..di...Kantor
Pemerintah…KabupatenBadu
ng?
Sebagaimana tabulasi tersebut, penulis mengambil topik Penerapan
Hukum Terhadap Pengelolaan Aset Barang Milik Daerah Oleh Pejabat di
Kantor Pemerintahan Kabupaten Badung untuk mengetahui dengan jelas
terkait kepemilikan aset barang di Kantor Pemerintahan Kabupaten Badung.
1.5. Tujuan Penelitian
Penelitian yang baik dan dapat dimenegerti oleh pembaca adalah
penelitian yang memiliki tujuan sehingga mampu memenuhi target yang
diinginkan. Tujuan umum dan khusus sebagaimana poin-poin berikut.
1.5.1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini sebagai proses dari penyelesaian
standar kelulusan tugas akhir skripsi Fakultas Hukum Program Ekstensi.
1.5.2. Tujuan Khusus
Mengacu pada rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya,
maka tujuan khusus dari penelitian ini antara lain:
1. Untuk mengetahui dan memahami manajemen kepemilikan aset barang
milik pemerintah oleh pejabat ditinjau dari hukum kepemilikan aset
negara/daerah.
11
2. Untuk mengetahui dan memahami aplikasi hukum oleh pejabat terhadap
aset barang milik pemerintah yang dihilangkan sehingga perlu dilakukan
manajemen kepemilikan aset barang tersebut.
1.6. Manfaat Penelitian
1.6.1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat dalam
bidang Hukum Pemerintahan dan menjadi referensi bagi Pemerintah
KabupatenBadung khususnya bagian Pengelola Aset Daerah.
1.6.2. Manfaat Praktis
Diharapkan dapat memberi sumbangan kepada masyarakat umum,
masyarakat dikalangan Perguruan Tinggi, khususnya mengenai penerapan
hukum terhadap aset barang milik pemerintah yang dihilangkan oleh pejabat
pemerintah.
1.7. Landasan Teoritis
1.7.1
Teori Negara Hukum
Konsep negara hukum Indonesia menurut M. Yamin sudah lama ada
beribu-ribu tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI 1945 yang menjadi
sumber hukum secara tertulis dalam Republik Indonesia.Istilah negara hukum
jauh lebih muda daripada pengertian negara hukum yang dikenal dalam
negara-negara Indonesia seperti Sriwijaya, Majapahit, Melayu, Minangkabau,
dan Mataram.Hasil penyelidikan ini menolak pendapat seolah-olah pengertian
12
negarah hukum semata-mata bersumber atau berasal dari hukum Eropa
Barat.Tidak demikian halnya, melainkan pengertian negara hukum telah
dikenal dengan baik dalam perkembangan peradaban yang sesuai dengan
kepribadian bangsa Indonesia.2Hukum adalah suatu aturan. Dalam suatu aturan
harus berpedoman pada norma – norma yang telah diatur dalam peraturan
tertulis berupa Undang-undang, dimana suatu aturan akan dapat membatasi
tingkah laku seseorang yang hidup di negara hukum. Hukum mampu mengatur
dan mengarahkan suatu negara menuju kepada best practices dengan beberapa
asas yang perlu diterapkan, sebagaimana diatur dalam amanat Pasal 23C
Undang-Undang Dasar 1945 tentang Keuangan Negara. Asas-asas best
practices yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar tersebut antara lain
akuntabilitas berorientasi pada
hasil;
profesionalitas; proporsionalitas;
keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara; dan pemeriksaan keuangan
oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri.Implementasi asas-asas tersebut
sebagaimana diatur dalam Pasal 16-20 UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang
penyusunan dan penetapan APBD yang dijabarkan dalam bentuk pelaksanaan
program tahunan.Hal ini dimaksudkan agar semua yang dilaporkan dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, terutama aset tetap berupa Barang
Milik Daerah (BMD).
Barang milik daerah menurut Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 2014
tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, Pasal 1 ayat (2) adalah
semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan
2
Wheare, K.C. 2003. Konstitusi-Konstitusi Modern. Surabaya: Pustaka Evreka. hlm. 35
13
Belanja Daerah atau perolehan lainnya yang sah. Untuk aset yang sudah lama
dan tidak dapat digunakan secara optimal lagi oleh pemerintah daerah, aset
tersebut dapat dilakukan penghapusan, selain itu secara ekonomis lebih
menguntungkan bagi daerah apabila dihapus, karena biaya operasional dan
pemeliharaannya lebih besar dari manfaat yang diperoleh. Namun dalam
pelaksanaan penghapusan dan pemindahtanganan, masih terdapat penghapusan
dan pemindahtanganan yang tidak sesuai dengan mekanisme yang berlaku
karena pelaksanaannya tidak berdasarkan peraturan yang berlaku dan dapat
menimbulkan kemungkinan adanya penyalahgunaan wewenang ataupun
tindakan untuk menguntungkan diri sendiri yang akan merugikan daerah.
Pengelolaan barang (aset) daerah menurut Peraturan Pemerintah No.27
Tahun 2014 Pasal 3 ayat (2) mencakup 12 hal yaitu
1. Perencanaan kebutuhan dan penganggaran
2. Pengadaan
3. Penggunaan
4. Pemanfaatan
5. Pengamanan dan pemeliharaan
6. Penilaian
7. Pemindahtanganan
8. Pemusnahan
9. Penghapusan
10. Penatausahaan
11. Pembinaan, pengawasan dan pengendalian
14
Pengelolaan aset
adalah dengan melakukan penghapusan dan
pemindahtanganan. Penghapusan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 27
Tahun 2014, Pasal 1 ayat (23) adalah tindakan menghapus Barang Milik
Negara/Daerah dari daftar barang dengan menerbitkan keputusan dari pejabat
yang berwenang untuk membebaskan Pengelola Barang, Penggunaan Barang,
dan/atau Kuasa Pengguna Barang dari tanggung jawab administrasi dan fisik
atas barang yang berada dalam penguasaannya. Sedangkan Pemindahtanganan
menurut Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014, Pasal 1 ayat (17) adalah
pengalihan kepemilikan Barang Milik Negara/Daerah.
Barang Milik Daerah (BMD) yang akan dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (APBN/APBD) atau barang yang
diperoleh dari perolehan lainnya yang sah dan diatur lebih lanjut dalam pasal 1
Ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014. Dalam aturan tersebut
dijelaskan bahwa Barang Milik/Kekayaan Negara BM/KN yakni barang
bergerak/barang tidak bergerak yang dimiliki/dikuasai oleh instansi pemerintah
yang sebagian atau seluruhnya dibeli atas beban Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara/Daerah ataupun dengan perolehan lainnya yang sah, yang tidak
termasuk dalam kekayaan Negara yang dipisahkan (dikelola oleh Badan Usaha
Milik Negara) dan kekayaan pemerintah daerah 3.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007Tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, Peraturan Pemerintah
Nomor 38 Tahun 2008, serta Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun
3
Solihin Dadang. 2001. Kamus Otonomi Daerah Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan.
Jakarta. hlm. 17
15
2014Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, menjelaskan bahwa
yang disebut sebagai barang milik daerah adalah semua barang yang dibeli atau
diperoleh atas beban APBN atau APBD atau berasal dari perolehan lain dengan
rincian sebagi berikut,
a. Barang yang diperoleh dari hibah atau sumbangan atau yang sejenis;
b. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
c. Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau
d. Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
Dengan pengertian tersebut, jelas cakupannya sangat luas dan merupakan
pengertian yang mendasar, sebagaimana pula pengertian yang dianut dalam
KUHPerdata, yaitu benda terdiri atas benda berwujud dan tidak berwujud,
sebagaimana yang tersurat pula dalam Pasal 499 KUHPerdata bahwa oleh
Undang-Undang yang diartikan dengan zaken adalah semua benda dan hak yang
dapat dijadikan objek hak milik. Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Badung
Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah, Barang Milik
Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
1.7.2 Kewenangan
Kewenangan
merupakan
faktor
penting
dalam
sumber
dayaimplementasi kebijakan. Kewenangan yang dimiliki oleh sumber
dayamanusia adalah kewenangan setiap pelaksana untuk melakukan hal-hal
yangberkaitan
dengan
apa
yang
diamanatkan
dalam
suatu
16
kebijakan.Kewenangan tersebut bervariasi dari program ke program dan
dalambentuk
yang
berbeda-beda,
seperti
kewenangan
menuntut
di
pengadilan,kewenangan memerintah pegawai yang lain, menarik dana dari
program,menyediakan dana, staf dan bantuan teknis kepada tingkatan
pemerintahanyang lebih rendah, membeli barang dan jasa, dan lain-lain
(Edward III,1980:66). Kewenangan yang dimiliki oleh pihak pelaksana
kebijakan dapatberupa kewenangan untuk mengatur pihak lain tidak tercantum
secaraeksplisit dalam kebijakan itu sendiri.Pemberian kewenangan kepada
pelaksana kebijakan akan mengurangiresistensi/penolakan yang mungkin
timbul dari pelaksana kebijakan.Sebaliknya, kewenangan akan mendorong
keterlibatan dan partisipasi parapelaksana implementasi kebijakan.
Badan hukum adalah kumpulan orang, yaitu semua yang di dalam
kehidupan masyarakat sesuai dengan ketentuan undang-undang dapat bertindak
sebagaimana manusia, yang memiliki hak-hak dan kewenangan-kewenangan,
seperti
kumpulan
orang,
perseroan
terbatas,
perusahaan
perkapalan,
perhimpunan, yayasan, dan sebagainya. Dalam kepustakaan hukum dikenal ada
beberapa unsur dari badan hukum, yaitu:
a. Perkumpulan orang (organisasi teratur)
b. Dapat melakukan perbuatan hukum dalam hubungan-hubungan hukum
c. Adanya harta kekayaan yang terpisah
d. Memiliki kepentingan sendiri
e. Memiliki pengurus
f. Memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban
17
g. Dapat digugat di depan pengadilan
Berdasarkan hukum publik negara, provinsi, dan kabupaten, badan
hukum adalah kumpulan dari badan-badan hukum yang tindakan hukumnya
dijalankan oleh pemerintah.Ketika pemerintah bertindak di lapangan
keperdataan dan tunduk pada peraturan hukum perdata, pemerintah bertindak
sebagai wakil dari badan hukum, bukan wakil dari jabatan. Oleh karena itu,
kedudukan pemerintah dalam pergaulan hukum privat, tidak memiliki
kedudukan yang istimewa, dan dapat menjadi pihak dalam sengketa
keperdataan dengan kedudukan yang sama dengan seseorang atau badan
hukum perdata dalam peradilan umum.
Organ dan badan hukum dapat dibedakan dengan tegas.Pada wilayah
kabupaten terdapat organ-organ seperti DPRD, pemerintahan harian, dan
bupati/walikota, namun tetap badan hukumnya adalah badan umum kabupaten.
Dengan kata lain, pembuatan keputusan yang bersifat privat bagi Kabupaten
dilakukan oleh Dewan, atau berdasarkan delegasi, oleh pemerintah harian.
Dalam upaya administratif atau peradilan administrasi, gugatan ditujukan
terhadap organ yang membuat keputusan tersebut. Organ inilah yang menjadi
pihak dalam proses hukum. Sementara dalam hal keperdataan, badan hukumlah
yang menjadi pihak, misalnya pada kabupaten, bupati tampil bertindak untuk
mewakili badan hukum yaitu kabupaten.Berdasarkan keterangan tersebut
tampak bahwa tindakan hukum pemerintah di bidang keperdataan adalah
sebagai wakil dari badan hukum, yang tunduk dan diatur dengan hukum
perdata.Dengan demikian, kedudukan pemerintah dalam hukum privat adalah
18
sebagai wakil dari badan hukum keperdataan.Pejabat Pemerintah sebagai
pengguna barang, memiliki kuasa untuk kepentingan penyelenggaraan tugas
pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya.Berdasarkan keterangan diatas
dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hukum bisa diterapkan dimana saja, baik
di dalam institusi pemerintahan sekalipun. Dalam hal ini hukum akan
diterapkan dalam lingkup pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab atas
perlindungan barang milik daerah tersebut.
Pengguna barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan
barang milik negara/daerah.Dalam pelaksanaannya, Pejabat Pengguna Barang
menunjuk Kuasa Pengguna Barang yaitu kepala satuan kerja atau pejabat yang
ditunjuk untuk menggunakan barang yang berada dalam penguasaannya
dengan sebaik-baiknya. Pengguna barang milik daerah berwenang dan
bertanggungjawab :
1. Mengajukan rencana kebutuhan BMD bagi satuan kerja perangkat
daerah yang dipimpinnya
2. Mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan
penggunaan BMD yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lain
yang sah
3. Melakukan pencatatan dan inventarisasi BMD yang berada dalam
penguasaannya
4. Menggunakan BMD yang berada dalam penguasaannya untuk
kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja
perangkat daerah yang dipimpinnya
19
5. Mengamankan
dan
memelihara
BMD
yang
berada
dalam
penguasaannya
6. Mengajukan usul pemindahtanganan BMD berupa tanah dan/atau
bangunan yang tidak memerlukan persetujuan DPRD dan BMD selain
tanah dan/atau bangunan
7. Menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk
kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja
perangkat daerah yang dipimpinnya kepada gubernur/bupati/walikota
melalui pengelola barang
8. Melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan BMD yang
ada dalam penguasaannya
9. Menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran
(LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada
dalam penguasaannya kepada pengelola barang.
1.7.3
Konsep Pertanggung Jawaban Hukum
Pertanggungjawaban Hukum Administrasi
Pertanggungjawaban perbuatan pemerintah muncul akibat adanya 2 hal,
yaitu adanya kewenangan dan adanya hak dan kewajiban.Kewenangan hak dan
kewajiban
tersebut
merupakan
perbuatan
dipertanggungjawabkan.Pertanggungjawaban
pemerintah
pemerintah
yang
tersebut
harus
berupa
pertanggungjawaban hukum (pidana, perdata dan administrasi negara).
Pertanggungjawaban berasal dari kata tanggung jawab, yang berarti keadaan
wajib menanggung segala sesuatunya.Dalam kamus hukum ada dua istilah
20
menunjuk pada pertanggungjawaban, yakni liability (the state of being liable) dan
responsibility (the state or fact being responsible).Liability merupakan istilah
hukum yang luas (a broad legal term) yang di dalamnya mengandung makna
bahwa menunjuk pada makna yanh paling komprehensif, meliputi hampir setiap
karakter risiko atau tanggung jawab, yang pasti, yang bergantung, atau yang
mungkin.Liability
didefinisikan
kewajiban.Sementara
dipertanggungjawabkan
itu
atas
menunjuk
responsibility
suatu
semua
karakter
berarti
hal
kewajiban,
dan
hak
yang
termasuk
dan
dapat
putusan,
keterampilan, kemampuan, dan kecakapan.Responsibility juga berarti kewajiban
bertanggung jawab atas undang-undang yang dilaksanakan dan memperbaiki atau
sebaliknya memberi ganti rugi atas kerusakan apapun yang telah ditimbulkannya.
Dalam negara hukum, setiap tindakan pemerintahan harus berdasarkan atas
hukum, karena dalam negara terdapat prinsip wetmatigheid van bestuur atau asas
legalitas. Asas ini menentukan bahwa tanpa adanya dasar wewenang yang
diberikan oleh suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka segala
macam aparat pemerintah tidak akan mewakili wewenang yang dapat
mempengaruhi atau mengubah keadaan atau posisi hukum warga masyarakatnya.
Oppen Hein mengatakan “ Hukum Administrasi Negara adalah sebagai
suatugabungan
ketentuan-ketentuan
yang
mengikat
badan-badan
yang
tinggimaupun rendah apabila badan-badan itu menggunakan wewenangnya
yangtelah diberikan kepadanya oleh Hukum Tata Negara.” Selain itu, Logemann
mengatakan “ Hukum Administrasi Negara adalah seperangkatdari norma-norma
21
yang menguji hubungan Hukum Istimewa yang diadakanuntuk memungkinkan
para pejabat administrasi Negara melakukan tugasmereka yang khusus.”4
Pemerintahan adalah berkenaan dengan sistem, fungsi, cara perbuatan,
kegiatan, urusan atau tindakan memerintah yang dilakukan atau diselenggarakan
atau dilaksanakan oleh pemerintah dalam arti luas (semua Lembaga Negara)
maupun dalam arti sempit (presiden beserta jajaran atau aparatnya). Aksekutif
adalah cabang kekuasaan Negara yang melaksanakan kebijakan publik
(kenegaraan dan atau pemerintahan) melalui peraturan perundang-undangan yang
telah ditetapkan oleh lembaga legislatif.
Tindakan pemerintahan memiliki beberapa unsur yaitu sebagai berikut:
1) Perbuatan itu dilakukan oleh aparat Pemerintah dalam
kedudukannya sebagai penguasa mauoun sebagai alat perlengkapan
pemerintahan dengan prakarsa dan tanggung jawab sendiri;
2) Perbuatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menjalankan fungsi
pemerintahan;
3) Perbuatan tersebut dimaksudkan sebagai sarana untuk menimbulkan
akibat hukum di bidang hukum administrasi;
4) Perbuatan yang bersangkutan dilakukan dalam rangka pemeliharaan
kepentingan negara dan rakyat.
Pertanggungjawaban berasal dari tanggung jawab, yang berarti keadaan
wajib menanggung segala sesuatunya. Tanggung jawab Pemerintahan adalah
kewajiban penataan hukum dari negara atau pemerintah atau pejabat lain yang
4
JHA.Logemann, Het Staatrecht van Indonesia, Yayasan Gajah Mada.hlm.20
22
menjalankan fungsi pemerintahan sebagai akibat adanya suatu keberatan, gugatan,
judicial review, yang diajukan oleh seseorang, masyarakat, badan hukum perdata
baik melalui penyelesaian pengadilan atau di luar pengadilan untuk pemenuhan
berupa:
1) Pembayaran sejumlah uang (subsidi, ganti rugi, tunjangan, dsb)
2) Menerbitkan atau membatalkan/mencabut suatu keputusan atau
peraturan
3) Tindakan-tindakan lain yang merupakan pemenuhan kewajibannya,
misalnya untuk melakukan pengawasan yang lebih efektif dan
efisien, mencegah adanya bahaya bagi manusia maupun lingkungan,
melindungi harta benda warga, mengelola dan memelihara sarana
dan
prasarana
umum,
mengenakan
sanksi
terhadap
suatu
pelanggaran dan sebagainya.
1.8. Metode Penelitian
1.8.1
Jenis Penelitian
Penelitian
yang
dilakukan
berdasarkan
pada
metode
yuridis
empiris.Metode ini mengaitkan kajian-kajian permasalahan atau dasar hukum
yang berlaku dengan praktek di masyarakat.Hal yang diteliti dalam penelitian
ini adalah bagaimana aplikasi hukum dan aturan yang sudah dibuat
sebelumnya terkait kepemilikan aset barang milik pemerintah oleh pejabat
pemerintah.
23
1.8.2
Jenis Pendekatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan fakta dan pendekatan
perundang-undangan (The Statute Approach).Pendekatan fakta, dilakukan
dengan mengamati secara langsung fakta yang ada di Kantor Pemerintahan
KabupatenBadung terkait aplikasi hukum dan peraturan tentang kepemilikan
aset barang milik pemerintah oleh pejabat pemerintah.Data yang diperoleh
tersebut untuk selanjutnya dibahas dengan kajian-kajian berdasarkan teori-teori
hukum
dan
kemudian
disambung
dengan
pendekatan
perundang-
undangan.Sedangkan pendekatan peraturan perundang-undangann (The Statute
Approach)
yaitu
pendekatan
dengan
menggunakan
legislasi
dan
regulasi.5Dalam penelitian ini pendekatan perundang-undangan dilakukan
dengan mengkaji peraturan perundang-undangan yang terkait dengan
permasalahan yang diangkat, yaitu Undang-undang tentang Pengelolaan
Barang Milik Daerah.
1.8.3
Sifat Penelitian
Penelitian
ini
bersifat
deskriptif,
yang
ditunjukkan
dengan
penggambaran secara efisien dan khusus sifat-sifat individu, kondisi, gejala
atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, atau
untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala
lain dalam masyarakat. Penelitian ini menggambarkan tentang penerapan
hukum terhadap permasalahan kepemilikan aset barang milik pemerintah oleh
pejabat pemerintah.
5
Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, hlm. 97.
24
1.8.4 Sumber Data
Dalam penulisan laporan ini pada umumnya dibedakan antara data
yang diperoleh secara langsung dari masyarakat yang dinamakan data primer
(data dasar) dan diperoleh dari bahan-bahan pustaka yang dinamakan data
sekunder.
1. Data Primer
Untuk mendapatkan data primer dilakukan penelitian lapangan, yaitu
dengan cara melakukan penelitian langsung ke lapangan yaitu pada
Kantor Pemerintahan Kabupaten Badung di Bagian Pengelolaan Aset
Daerah.
2. Data Sekunder
Untuk mendapatkan data sekunder dilakukan penelitian kepustakaan, yaitu
pengumpulan data yang diperoleh dari UUD Pasal 23, UU No. 17 Tahun
2003 Pasal 16-20tentang Keuangan Negara, UU No. 15 Tahun 2004 Pasal
1 dan Pasal 2tentang Pemeriksaan, Pengelolaan, dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara, Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 2014 Pasal 1 Ayat
(2) tentang Barang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN), Peraturan
Pemerintah No.27 Tahun 2014 Pasal 3 Ayat (2) tentang Pengelolaan
barang (aset) daerah, Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 2014 Pasal 1
Ayat (23) tentang Penghapusan barang (aset) daerah, Peraturan
Pemerintah No.27 Tahun 2014 Pasal 1 Ayat (17) tentang pengalihan
barang (aset) daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008,
Pemendagri
Nomor
17
Tahun
2007,
dan
Peraturan
Daerah
25
KabupatenBadung Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan Barang
Milik Daerah serta literatur-literatur guna menemukan teori yang relevan
dengan permasalahan yang akan dibahas serta menggunakan undangundang yang berkaitan dengan rumusan masalah yang akan dibahas.
1.8.5 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah melalui
wawancara. Wawancara adalah proses interaksi dan komunikasi serta cara
untuk memperoleh informasi dengan menanyakan langsung kepada yang akan
diwawancarai. Wawancara ini dilakukan dengan Kepala Bagian Pengelola Aset
Daerah.
1.8.6 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Adapun keseluruhan data yang diperoleh sudah terkumpul baik melalui
studi kepustakaan ataupun wawancara, kemudian mengolah dan menganalisis
secara deskriptif kualitatifyakni merupakan suatu penelitian eksplorasi dan
memainkan peranan yang amat penting untuk menciptakan suatu hipotesis
maupun pemahaman orang tentang berbagai variabel sosial6 dan selanjutnya data
yang telah rampung akan dipaparkan dengan disertai analisis yang sesuai dengan
teori yang terdapat pada buku-buku literature dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, guna mendapatkan kesimpulan sebagai akhir dari penulisan usulan
penelitian ini.
6
Bungin, M.Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan
Ilmu Sosial lainnya. JakartaPrenada Media Group.Jakarta. hlm 69.
Download