pemakaian suplementasi vitamin c melalui pakan

advertisement
PEMAKAIAN SUPLEMENTASI VITAMIN C MELALUI PAKAN
BUATAN TERHADAP KETAHANAN STRES DAN KINERJA
PERTUMBUHAN PADA BENIH IKAN HIAS RAINBOW PRAECOX
Melanotaenia praecox
ANNISA DWI UTAMI
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
8
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
PEMAKAIAN
BUATAN
SUPLEMENTASI
TERHADAP
VITAMIN
KETAHANAN
C
MELALUI
STRES
DAN
PAKAN
KINERJA
PERTUMBUHAN PADA BENIH IKAN HIAS RAINBOW PRAECOX
Melanotaenia praecox
adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal
atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari
penyusun lain telah disebutkan dalam teks dan tercantum dalam Daftar Pustaka di
bagian akhir skripsi ini.
Bogor, September 2012
ANNISA DWI UTAMI
C14080055
9
ABSTRAK
ANNISA DWI UTAMI. Pemakaian Suplementasi Vitamin C Melalui Pakan
Buatan Terhadap Ketahanan Stres dan Kinerja Pertumbuhan pada Benih Ikan Hias
Rainbow Praecox Melanotaenia praecox. Dibimbing oleh NUR BAMBANG
PRIYO UTOMO dan TUTIK KADARINI.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai jenis ikan hias, di
antaranya adalah berbagai jenis ikan pelangi dari Irian seperti ikan hias rainbow
praecox. Dengan sistem yang berbasis bisnis serta untuk meningkatkan
ketersediaan ikan, maka akuakultur perkotaan menggunakan sistem intensif, yaitu
dengan menggunakan padat tebar ikan yang cukup tinggi yang ditunjang melalui
pemberian pakan dan perbaikan kualitas air. Masalah dari padat tebar tinggi
adalah kualitas air menjadi kurang baik serta keadaan ikan yang dapat mudah
stres, sehingga kelangsungan hidup ikan selama pemeliharaan pun menjadi
rendah. Untuk mengatasi permasalahan yang muncul dalam kegiatan budidaya
ikan hias air tawar, khusunya ikan hias rainbow praecox, maka perlu penambahan
suatu unsur yang dapat membantu mengurangi stres, sehingga dapat
meningkatkan kinerja pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Unsur yang dapat
membantu mengurangi stres dapat dilakukan dengan penambahan vitamin C pada
pakan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kebutuhan dosis vitamin C
yang optimal untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada benih ikan
rainbow praecox. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian dan
Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan
dari tanggal 20 April sampai 30 Mei 2012. Ikan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah ikan rainbow praecox, dengan bobot rata-rata 0,21 ± 0,01 g dan panjang
rata-rata 0,25 ± 0,01 cm yang dipelihara dalam wadah baskom (diameter 40 cm)
dengan waktu pemeliharaan 40 hari. Rancangan perlakuan adalah rancangan acak
lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan (vitamin C 0 mg/kg pakan, 50
mg/kg pakan, 100 mg/kg pakan, 150 mg/kg pakan dan 200 mg/kg pakan) dan tiga
kali ulangan. Setiap baskom diisi air sebanyak lima liter dengan kepadatan lima
ekor/liter. Ikan diberi pakan buatan tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore hari)
berupa pasta dengan protein 40% sebanyak 15% biomassa. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dengan dosis 200 mg/kg pakan
adalah yang terbaik dapat mengurangi tingkat stres pada ikan rainbow praecox
dengan nilai glukosa 0,22 mg/100ml dan kelangsungan hidup 100%, tetapi tidak
memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik untuk semua perlakuan.
Kata kunci: vitamin C, kelangsungan hidup, ikan rainbow praecox
10
ABSTRACT
ANNISA DWI UTAMI. Usage of Supplementation Vitamin C with Feed
commercial Against the Resistance to Temperature Stres and the Growth
Performance on Seed Ornamental Fish Rainbow Praecox Melanotaenia praecox.
Guided by NUR BAMBANG PRIYO UTOMO and TUTIK KADARINI.
Indonesia is a rich country in various types of ornamental fish, including
the various types rainbow from Irian such as praecox rainbow fish. With a
business-based systems as well as to increase the availability of fish, then urban
aquaculture uses an intensive system, there are by using high stocking density of
fish that is high enough to be supported by the provision of feed and water quality
improvement. The problem of high stocking density is a poor water quality and
condition of fish that can be easily stressed, so that the survival of fish during
maintenance is low. To overcome the problems that arise in the activities of
cultivation of freshwater ornamental fish, especially rainbow fish praecox, it is
necessary the addition of an element that can help reduce stress, thereby
enhancing growth performance and survival. Elements that can help reduce the
stress to do with the addition of vitamin C in the feed. This research was
conducted to determine the need for the optimal dose of vitamin C for the growth
and survival of seed praecox rainbow fish. The research was conducted at the
Research and Development of Ornamental Fish Aquaculture, Depok, West Java.
The research was conducted from April 20 to May 30, 2012. Fish used in this
experiment were praecox rainbow fish, with an average weight of 0.21 ± 0.01 g
and average length of 0.25 + 0.01 cm were kept in a container basin (diameter 40
cm) with a maintenance of 40 days. The design of the treatment is completely
randomized design (CRD) which consists of five treatments (vitamin C 0 mg / kg
of feed, 50 mg / kg feed, 100 mg / kg feed, 150 mg / kg feed and 200 mg / kg of
feed) and three times replications. Each basin filled with water as much as five
liters at a density of five fish / liter. Fish were fed a commercial three times a day
(morning, afternoon, and evening) in the form of a pasta with 40% protein by 15%
biomass. The results showed that the addition of vitamin C at a dose of 200 mg /
kg of feed is the best to reduce stres levels of praecox rainbow fish with glucose
values 0.22 mg/100ml and survival 100%, but does not give effect to the specific
growth rate for all treatment.
Key words: vitamin C, survival, praecox rainbow fish
11
PEMAKAIAN SUPLEMENTASI VITAMIN C MELALUI PAKAN
BUATAN TERHADAP KETAHANAN STRES DAN KINERJA
PERTUMBUHAN PADA BENIH IKAN HIAS RAINBOW PRAECOX
Melanotaenia praecox
ANNISA DWI UTAMI
SKRIPSI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada
Program Studi Teknologi & Manajemen Perikanan Budidaya
Departemen Budidaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
12
Judul Skripsi
: Pemakaian Suplementasi Vitamin C Melalui Pakan Buatan
Terhadap Ketahanan Stres dan Kinerja Pertumbuhan pada
Benih Ikan Hias Rainbow Praecox Melanotaenia praecox
Nama Mahasiswa
: Annisa Dwi Utami
Nomor Pokok
: C14080055
Disetujui
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Nur Bambang Priyo Utomo
NIP. 19650814 199303 1 005
Ir. Tutik Kadarini, M.Si
NIP. 19601202 198603 2 001
Diketahui
Ketua Departemen Budidaya Perairan
Dr. Sukenda
NIP 19671013 199302 1 001
Tanggal Lulus:
13
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas segala
limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian sampai
penulisan skripsi yang berjudul “Pemakaian Suplementasi Vitamin C Melalui
Pakan Buatan Terhadap Ketahanan Stres dan Kinerja Pertumbuhan pada Benih
Ikan Hias Rainbow Praecox Melanotaenia praecox”. Penelitian ini dilaksanakan
pada bulan April-Mei 2012 bertempat di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan
Hias Depok, Jawa Barat. Skripsi ini merupakan suatu tulisan ilmiah yang dibuat
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Selesainya penulisan karya ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan
dorongan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Nur Bambang Priyo Utomo selaku
pembimbing I dan Ibu Ir. Tutik Kadarini, M.Si selaku pembimbing II yang dengan
sabar memberikan motivasi, curahan pemikiran, dan mendidik selama penyusun
menjalani penelitian dan dalam menyelesaikan skripsi ini. Bapak Ir. Dadang
Shafruddin, M.Si selaku Dosen Penguji pada pelaksanaan Ujian Akhir Skripsi.
Bapak Drs. Agus Oman Sudrajat, M.Si selaku Pembimbing Akademik yang telah
memberikan banyak motivasi kepada penyusun. Ayah dan Ibu tercinta atas doa,
dukungan dan motivasinya kepada penyusun, membantu penyusun baik dalam
moril maupun materil. Serta teman-teman di Program Studi Teknologi dan
Manajemen Perikanan Budidaya. Serta semua pihak yang telah membantu baik
moril maupun materil dan tidak sempat penulis sebutkan satu persatu.
Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang
memerlukan.
Bogor, September 2012
Annisa Dwi Utami
14
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penyusun lahir di Jakarta pada 26 April 1990 sebagai anak kedua dari dua
bersaudara, dari pasangan H. Irhan dan Hj. Diah Setiawati. Penyusun memulai
pendidikan di TK Teratai, kemudian melanjutkan di SDN Pitara 2 Depok dan
lulus pada tahun ajaran 2002, kemudian melanjutkan pendidikan di SLTPN 2
Depok dan lulus pada tahun ajaran 2005.
Pada tahun yang sama penyusun diterima menjadi siswa SMUN 2 Depok
dan lulus pada tahun ajaran 2008. Penyusun diterima menjadi mahasiswa Progam
Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur Undangan
Seleksi Masuk IPB (USMI).
Penyusun pernah mengikuti magang di PT. Semata pada tahun 2011 dan
melakukan praktik lapang di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH), Depok
pada tahun 2011.
Selama di IPB penyusun pernah menjadi asisten mata kuliah Nutrisi
(2012) dan penulis pernah aktif menjadi panitia Orientasi Mahasiswa Baru
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (OMBAK) 2010 sebagai divisi medis.
Untuk menyelesaikan studinya di Fakultas Peikanan dan Ilmu Kelautan,
penyusun menulis skripsi yang berjudul “Pemakaian Suplementasi Vitamin C
Melalui Pakan Buatan Terhadap Ketahanan Stres dan Kinerja Pertumbuhan pada
Benih Ikan Hias Rainbow Praecox Melanotaenia praecox”.
15
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ....................................................................................
ii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................
iii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................
iv
I. PENDAHULUAN ................................................................................
1
1.1 Latar belakang……………………………………………………
1
1.2 Tujuan…………………………………………………………….
2
II. BAHAN DAN METODE ...................................................................
3
2.1 Prosedur penelitian.........................................................................
3
2.1.1 Bahan dan alat……………………………………………….
3
2.1.2 Persiapan wadah pemeliharaan..............................................
3
2.1.3 Ikan uji .................................................................................
3
2.1.4 Rancangan pakan perlakuan .................................................
3
2.1.5 Tahap pemeliharaan ikan dan pengumpulan data ................
4
2.2 Uji stres .........................................................................................
5
2.3 Analisis proksimat .......................................................................
5
2.4 Analisis kadar glukosa……………………………………………
5
2.5 Analisis data………………………………………………………
6
2.5.1 Jumlah konsumsi pakan……………………………………..
6
2.5.2 Laju pertumbuhan spesifik……………………..……………
6
2.5.3 Efisiensi pakan………………………………………………
7
2.5.4 Kelangsungan hidup…………………………………………
7
III. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................
8
3.1 Hasil .............................................................................................
8
3.2 Pembahasan ..................................................................................
12
IV. KESIMPULAN ..................................................................................
18
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................
19
LAMPIRAN ..............................................................................................
21
i
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Komposisi pakan perlakuan..................................................................
4
2. Hasil analisis proksimat pakan buatan…..............................................
4
3. Jumlah kematian ikan rainbow praecox dengan uji stres suhu
4
dingin....................................................................................................
11
Kualitas air selama pemeliharaan……………………………………..
11
ii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Jumlah konsumsi pakan ikan rainbow praecox…………………….
8
2. Laju pertumbuhan spesifik ikan rainbow praecox.............................
9
3. Efisiensi pakan ikan rainbow praecox...............................................
9
4. Kelangsungan hidup ikan rainbow praecox.......................................
10
5. Uji glukosa ikan rainbow praecox.....................................................
10
iii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Hasil analisis proksimat pakan komersil (% bobot kering)...............
21
2. Hasil analisis kualitas air hari pertama ...........................................
21
3. Hasil analisis kualitas air selama pemeliharaan (hari-20)..................
21
4. Hasil analisis kualitas air selama pemeliharaan (hari-40)..................
21
5. Prosedur analisis proksimat...............................................................
21
6. Prosedur pengukuran uji glukosa tubuh berdasarkan metode
24
Wedemeyer-Yasutake........................................................................
7 Parameter selama 40 hari pemeliharaan ikan rainbow praecox…….
25
7.1 Jumlah konsumsi pakan ikan rainbow praecox………………...
25
7.2 Laju pertumbuhan spesifik ikan rainbow praecox…………...…
25
7.3 Efisiensi pakan ikan rainbow praecox………………………….
26
7.4 Kelangsungan hidup ikan rainbow praecox……………….……
26
iv
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan hias merupakan salah satu komoditas ekspor yang menghasilkan
devisa bagi negara. Menurut beberapa sumber bahwa ekspor ikan hias Indonesia
dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami kenaikan rata-rata 20% per tahun,
yang umumnya dari ikan hias air tawar (Djamhuriyah, 2011). Indonesia kaya akan
berbagai jenis ikan hias, diantaranya adalah berbagai jenis ikan pelangi dari Irian
yang memiliki bentuk dan warna tubuh yang indah dan dikenal sebagai ikan hias
yang memiliki nilai ekonomi. Menurut Hidayat (2005) ikan pelangi dari Irian
mengalamai eksploitasi yang cukup tinggi dan menurut Djamhuriyah (2011)
elama ini untuk memenuhi kebutuhan ikan hias (spesies-spesies endemik
Indonesia) umumnya mengandalkan hasil tangkapan dari alam, apabila hal
tersebut berlangsung terus menerus maka dapat menimbulkan dampak negatif
terhadap kelestarian biota itu sendiri.
Salah satu jenis ikan rainbow dari Irian adalah ikan rainbow praecox
Melanotaenia praecox, ikan ini merupakan salah satu jenis ikan hias endemik.
Ikan ini ditemukan di daerah Iritoi dan Dabra pada pertengahan sungai
Membramo Irian (Allen, 1995). Ukuran tubuh ikan rainbow praecox relatif kecil,
sekitar 5-8 cm dan bentuk tubuh individu jantan lebih memipih, warna tubuh
keperak-perakan dan memantulkan warna biru ketika bergerak, serta memiliki
sirip jingga yang menyala, sedangkan untuk individu betina memiliki warna tubuh
yang sama dengan jantan, namun sirip pada betina berwarna kuning.
Tindakan untuk menjaga kelestarian ikan rainbow praecox yaitu dengan
melakukan kegiatan budidaya di luar habitat asalnya. Pada saat ini, ikan rainbow
praecox sudah dikenal oleh petani ikan dan proses budidayanya juga telah
dikuasai. Namun dalam usaha budidaya ikan rainbow praecox mengalami
beberapa kendala, seperti rendahnya laju pertumbuhan dan tingkat kematian yang
tinggi serta belum memberikan hasil yang memuaskan baik dari segi kualitas dan
kuantitasnya, maka perlu diupayakan penerapan teknologi yang tepat dan terarah
yang dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas di luar habitatnya.
1
Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan yang muncul dalam
kegiatan budidaya ikan hias air tawar, khususnya ikan hias rainbow praecox yaitu
perlunya penambahan suatu unsur yang dapat membantu mengurangi stres
sehingga dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan kinerja pertubuhan.
Vitamin berperan sangat penting untuk menjaga agar proses-proses yang
terjadi di dalam tubuh ikan tetap berlangsung dengan baik. Vitamin harus selalu
didatangkan melalui pakan sebab tubuh ikan tidak dapat membuatnya. Vitamin C
berperan menormalkan fungsi kekebalan mengurangi stres dan mempercepat
penyembuhan luka pada ikan. Defisiensi vitamin C pada ikan dapat menyebabkan
lordosis atau skoliosis dengan tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang
rendah dan mengakibatkan kerusakan filamen insang seperti pada ikan brook trout
(Tucker dan Halver, 1984) dalam (Sunarto, 2008). Menurut (Lovell, 1989) dalam
(Sunarto, 2008) kebutuhan vitamin C pada ikan untuk mendapatkan pertumbuhan
yang optimal sangat bervariasi tergantung pada spesies dan umur atau ukuran
ikan, laju pertumbuhan, lingkungan dan fungsi metabolisme.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kebutuhan vitamin C yang
optimal untuk mengurangi tingkat stres terhadap pertumbuhan dan kelangsungan
hidup pada benih ikan hias rainbow praecox.
2
II. BAHAN DAN METODE
2.1 Prosedur Penelitian
Penelitian ini meliputi tahap bahan dan alat, persiapan wadah
pemeliharaan, ikan uji, rancangan pakan perlakuan, dan tahap pemeliharaan ikan
serta pengumpulan data.
2.1.1 Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah ikan rainbow precox, pakan pasta
vitamin C 0 mg/kg pakan, pakan pasta vitamin C 50 mg/kg pakan, pakan pasta
vitamin C 100 mg/kg pakan, pakan pasta vitamin C 150 mg/kg pakan, pakan pasta
vitamin C 200 mg/kg pakan.
Alat-alat yang digunakan adalah timbangan digital, penggaris, alat tulis,
baskom sebagai wadah pemeliharaan dan perlengkapannya, serta seperangkat alat
aerasi.
2.1.2. Persiapan Wadah Pemeliharaan
Wadah pemeliharaan yang digunakan berupa baskom yang memiliki
diameter 40 cm dengan daya tampung air sebanyak 11 liter. Langkah pertama
yang dilakukan dalam persiapan wadah pemeliharaan yaitu dengan membersihkan
baskom dengan cara dicuci dengan air sabun, kemudian baskom dijemur dengan
panas matahari sampai kering. Setelah baskom kering, baskom diurutkan
berdasarkan perlakuan dan ulangannya serta dilakukan pemasangan aerasi pada
setiap baskom.
2.1.3 Ikan Uji
Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan rainbow praecox.
dengan panjang rata-rata 2,51 ± 0,01 cm dan bobot rata-rata 0,21 ± 0,01 g. Ikan
ditebar sebanyak 25 ekor per baskom. Sebelum dipelihara selama 40 hari, ikan
diadaptasikan terlebih dahulu dengan kondisi wadah penelitian selama 3 hari.
2.1.4 Rancangan Pakan Perlakuan
Penelitian dilakukan dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Rancangan
perlakuan yang digunakan pada penelitian ini adalah pakan perlakuan (pakan
buatan) dengan penambahan vitamin C dengan kadar vitamin C 0 mg/kg pakan,
3
50mg/kg pakan, 100 mg/kg pakan, 150 mg/kg pakan dan 200 mg/kg pakan.
Komposisi pakan perlakuan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi pakan perlakuan
Pakan
No
Jenis bahan
A(%)
B(%)
C(%)
D(%)
E(%)
1
Pakan buatan
99
98,995
98,99
98,985
98,98
2
Binder (CMC)
1
1
1
1
1
3
Vitamin C
0
0,005
0,01
0,015
0,02
Pakan yang diberikan pada ikan rainbow praecox sebagai pakan uji adalah
pakan buatan jenis pasta. Pakan perlakuan (pakan buatan) selanjutnya di analisis
komposisi proksimatnya untuk mengetahui kandungan nutrien pakan. Hasil
Analisis proksimat pakan buatan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil analisis proksimat pakan buatan
perlakuan
Protein
proksimat (% bobot kering)
Lemak
Abu
Serat kasar
Kadar air
BETN
Pakan buatan
40,1376
1,4009
14,8320
19,8672
16,3450
7,4173
2.1.5 Tahap Pemeliharaan Ikan dan Pengumpulan Data
Pemeliharaan ikan rainbow praecox dilakukan dengan menggunakan
baskom yang berdiameter 40 cm dan berjumlah 20 buah. Baskom tempat
pemeliharaan, diisi air sebanyak 5 liter pada media pemeliharaan benih ikan
rainbow praecox. Air yang digunakan berasal dari tandon, kemudian air disimpan
dalam wadah ember yang telah diberi aerasi selama 24 jam. Ikan uji yang
digunakan dalam penelitian ini berasal dari pasar parung.
Sebelum ikan diberi perlakuan, ikan diadaptasikan terlebih dahulu pada
media pemeliharaan selama tiga hari dan diberi pakan buatan secara at satiation.
Setelah ikan diadaptasikan selama tiga hari, ikan dipuasakan selama 24 jam,
kemudian ikan ditimbang dan diukur panjang tubuhnya.
Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari dengan pemberian pakan
menggunakan feeding rate (FR) 15% sebanyak tiga kali sehari, yaitu pada pukul
08.00, 12.00, dan 16.00 dengan pakan yang sesuai dengan perlakuan masingmasing. Selama pemeliharaan, sampling ikan dilakukan selama 10 hari sekali
4
untuk mengetahui penambahan bobot dan panjang pada pertumbuhan ikan pada
masing-masing perlakuan.
Pengamatan kualitas air seperti suhu dan pH dilakukan setiap hari.
Sedangkan untuk DO, alkalinitas, kesadahan, dan amoniak, pengamatan dilakukan
sebanyak tiga kali selama pemeliharaan, yakni pada awal, tengah dan akhir
pemeliharaan. Parameter kualitas air yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui
kondisi air selama pemeliharaan dalam keadaan baik atau tidak. Dalam
pemeliharaan ikan rainbow praecox dilakukan penambahan kerang (dua buah) dan
karang (dua buah) pada setiap media pemeliharaan. Penambahan kerang dan
karang bertujuan untuk meningkatkan nilai pH pada media pemeliharaan
2.2 Uji Stres
Uji stres dilakukan selama 1 jam dan diamati setiap 5 menit sekali. Uji
stres dilakukan dengan penurunan suhu menggunakan es batu dengan kisaran
suhu yang digunakan sebesar 15 oC - 16 oC. Dalam uji stres kepadatan ikan dalam
wadah berjumlah 5 ekor/liter dan jumlah ikan yang digunakan dalam uji stres
berjumlah 15 ekor.
2.3 Analisis Proksimat
Analisis proksimat yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kandungan nutrisi pada pakan buatan. Analisis proksimat yang
dilakukan berdasarkan prosedur (Takeuchi,1988). Prosedur analisis proksimat
yang diuji meliputi analisis kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar abu dan
kadar serat kasar. Prosedur analisis proksimat dapat dilihat pada Lampiran 5.
2.4 Analisis Kadar Glukosa
Analisis kadar glukosa pada tubuh ikan rainbow praecox dilakukan untuk
mengetahui tingkat stres pada ikan selama masa pemeliharaan. Stres
menyebabkan produksi berlebih pada kortisol, kortisol adalah suatu hormon yang
melawan efek insulin dan menyebabkan kadar gula darah tinggi (Nugroho, 2010).
Prosedurnya dapat dilihat pada Lampiran 6.
5
2.5 Analisis Data
Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan Ms. Excel 2007 dan SPSS
17.0. Data yang diolah menggunakan Ms. Excel 2007 berupa parameter jumlah
konsumsi pakan, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, kelangsungan hidup,
uji stres dan uji glukosa. Analisis data kinerja jumlah konsumsi pakan, laju
pertumbuhan harian, efisiensi pakan, dan kelangsungan hidup dilakukan dengan
Analisis statistik menggunakan SPSS 17.0 yang meliputi Analisis Ragam
(ANOVA) dengan uji F pada selang kepercayaan 95%. Analisis ini digunakan
untuk menentukan ada atau tidaknya pengaruh perlakuan terhadap kinerja jumlah
konsumsi pakan, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, dan kelangsungan
hidup pada ikan rainbow praecox. Apabila berpengaruh nyata, untuk melihat
perbedaan antar perlakuan (penggunaan vitamin C) akan diuji menggunakan uji
Lanjut Tukey. Selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.
2.5.1 Jumlah Konsumsi Pakan
Jumlah konsumsi pakan diketahui dengan cara menghitung selisih jumlah
pakan yang diberikan di awal dengan jumlah pakan yang tersisa di akhir dari masa
pemeliharaan (Talbot, 1985 dalam Nurfadhillah, 2010).
2.5.2 Laju Pertumbuhan Spesifik
Laju pertumbuhan spesifik ikan uji dihitung berdasarkan rumus berikut
(Huissman, 1976 dalam Sunarto, 2008):
α (%) =
−
×
%
Keterangan :
Wt = Bobot akhir penelitian (g)
Wo = Bobot awal penelitian (g)
t
= Waktu penelitian (hari)
α
= Laju pertumbuhan spesifik
6
2.5.3 Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan (EP) dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut
(Takeuchi, 1988 dalam Sunarto, 2008):
(%) =
(
+ )−
× 100%
Keterangan :
EP = Efisiensi pakan (%)
Wt = Bobot akhir rata-rata (g)
Wo = Bobot awal rata-rata (g)
D = Berat ikan yang mati (g)
F = Jumlah makanan yang diberikan selama pemeliharaan (g)
2.5.4 Kelangsungan Hidup
Tingkat Kelangsungan hidup benih ikan rainbow dihitung menurut
(Effendi, 2002 dalam Sunarto, 2008), yaitu:
( %) =
× 100%
Keterangan :
SR = Kelangsungan hidup ikan (%)
Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir percobaan
No = Jumlah ikan pada awal percobaan
7
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1 Jumlah Konsumsi Pakan
Perbedaan pemberian dosis vitamin C mempengaruhi jumlah konsumsi
pakan (P<0,05) yaitu semakin tinggi dosis vitamin C, maka jumlah konsumsi
pakan semakin tinggi, tetapi pada perlakuan dosis vitamin C 200 mg/kg pakan
mengalami penurunan. Perlakuan dosis vitamin C 0 mg/kg pakan berbeda nyata
terhadap perlakuan dosis vitamin C 50,100,150 dan 200 mg/kg pakan. Sementara
itu, antara perlakuan dosis vitamin C 50,100, 150 dan 200 mg/kg pakan tidak
berbeda nyata. Perlakuan dosis vitamin C 150 mg/kg pakan memberikan jumlah
konsumsi pakan tertinggi sebesar 34,80 + 1,10 g (Gambar 1 dan Lampiran 7.1).
40.00
JKP (g)
30.00
33,50
33,60
34,80
34,40
b
b
b
b
29,57
20.00
10.00
a
0.00
A (Vitamin C B (Vitamin C C (Vitamin C D (Vitamin C E (Vitamin C
0 mg/Kg
50 mg/kg 100 mg/kg 150 mg/kg 200 mg/kg
pakan)
pakan)
pakan)
pakan)
pakan)
Perlakuan
Gambar 1. Jumlah konsumsi pakan ikan rainbow praecox
3.1.2 Laju Pertumbuhan Spesifik
Hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan
benih rainbow praecox dengan pemberian dosis vitamin C 0, 50, 100, 150, dan
200 mg/kg pakan memiliki laju pertumbuhan yang rendah. Masing-masing
perlakuan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap laju pertumbuhan
spesifik. Laju pertumbuhan spesifik untuk masing-masing perlakuan adalah
sebesar 0,50%, 0,63%, 0,63%, 0,84%, 0,89% (Gambar 2 dan Lampiran 7.2).
8
LPS (%)
1.00
0.90
0.80
0.70
0.60
0.50
0.40
0.30
0.20
0.10
0.00
0,89
0,84
0,63
0,63
a
a
0,50
a
a
a
A (Vitamin C B (Vitamin C C (Vitamin C D (Vitamin C E (Vitamin C
200 mg/kg
150 mg/kg
100 mg/kg
50 mg/kg
0 mg/Kg
pakan)
pakan)
pakan)
pakan)
pakan)
Perlakuan
Gambar 2. Laju pertumbuhan spesifik rainbow praecox
3.1.3 Efisiensi Pakan
Hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan
benih rainbow praecox dengan pemberian dosis vitamin C 0, 50, 100, 150, dan
200 mg/kg pakan memiliki efisiensi pakan yang rendah. Masing-masing
perlakuan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi pakan.
Efisiensi pakan untuk masing-masing perlakuan adalah sebesar 4,03%, 4,47%,
EP (%)
4,54%, 5,86%, 6,65% (Gambar 3 dan Lampiran 7.3).
8.00
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00
6,65
5,86
4,03
a
4,47
4,54
a
a
a
a
C (Vitamin C
100 mg/kg
pakan)
D (Vitamin C
150 mg/kg
pakan)
E (Vitamin C
200 mg/kg
pakan)
A (Vitamin C 0 B (Vitamin C
mg/Kg pakan)
50 mg/kg
pakan)
Perlakuan
Gambar 3. Efisiensi pakan ikan rainbow praecox
3.1.4 Kelangsungan Hidup
Perbedaan pemberian dosis vitamin C mempengaruhi kelangsungan hidup
(P<0,05) yaitu semakin tinggi dosis vitamin C, maka kelangsungan hidup semakin
tinggi. Perlakuan dosis vitamin C 0 mg/kg pakan berbeda nyata terhadap
perlakuan dosis vitamin C 150 dan 200 mg/kg pakan. Sedangkan untuk perlakuan
dosis vitamin C 50 dan 100 mg/kg pakan tidak berbeda nyata terhadap perlakuan
9
dosis vitamin C 0, 150 dan 200 mg/kg pakan. Perlakuan dosis vitamin C 200
mg/kg pakan memberikan jumlah konsumsi pakan tertinggi sebesar 100 + 0,00 %
SR (%)
(Gambar 4 dan Lampiran 7.4).
100.00
90.00
80.00
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
82,67
a
93,33
94,67
98,67
100,00
ab
ab
b
b
A (Vitamin C B (Vitamin C C (Vitamin C D (Vitamin C E (Vitamin C
0 mg/Kg
50 mg/kg
100 mg/kg
150 mg/kg
200 mg/kg
pakan)
pakan)
pakan)
pakan)
pakan)
Perlakuan
Gambar 4. Kelangsungan hidup ikan rainbow praecox
3.1.5 Uji Glukosa
Hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan
benih Ikan Rainbow Praecox bahwa nilai glukosa pada tubuh ikan rainbow
tertinggi terdapat pada perlakuan A sebesar 1.69 mg/100ml, sedangkan nilai
glukosa pada tubuh ikan rainbow terendah berada pada perlakuan E 0.22
mg/100ml. Nilai kadar glukosa pada tubuh ikan rainbow praecox setelah
pemeliharaan bila diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah yaitu berada pada
perlakuan A (1,69 mg/100ml), B (0,86 mg/100ml), C (0,85 mg/100ml), D (0,68
mg/100ml) dan E (0,22 mg/100ml).
Uji Glukosa (mg/100 ml)
2.00
1,69
1.50
1.00
0,86
0,85
0,68
0.50
0,22
0.00
A (Vitamin C B (Vitamin C C (Vitamin C D (Vitamin C E (Vitamin C
0 mg/Kg
50 mg/kg
100 mg/kg
150 mg/kg
200 mg/kg
pakan)
pakan)
pakan)
pakan)
pakan)
Perlakuan
Gambar 5. Uji glukosa ikan rainbow praecox
10
3.1.6 Uji Stres
Tabel 3. Jumlah kematian ikan rainbow praecox dengan uji stres suhu dingin
Vitamin C
(mg/kg
pakan)
Jumlah
ikan mati
(ekor)
Jumlah ikan mati pada menit ke5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
0
0
0
0
1
1
3
0
1
1
3
2
0
12
50
0
0
0
0
2
2
4
2
0
1
0
0
11
100
0
0
0
0
0
0
2
0
2
1
1
3
9
150
0
0
0
0
0
2
0
0
0
1
2
1
6
200
0
0
0
0
0
0
1
0
0
2
0
2
5
Berdasarkan data pada Tabel 3 dapat diketahui dalam uji stres pada benih
ikan rainbow praecox dengan menggunakan suhu rendah, pada perlakuan vitamin
C 0 mg/kg pakan terdapat 12 ekor ikan rainbow yang mati dan merupakan jumlah
tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, sedangkan terendah terdapat pada
perlakuan vitamin C 200 mg/kg pakan dengan jumlah yang mati 5 ekor. Semakin
tinggi dosis vitamin C yang digunakan pada perlakuan, semakin berkurang jumlah
benih ikan rainbow yang mati dalam uji stres.
3.1.7 Kualitas Air
Kualitas air ikan rainbow praecox selama 40 hari masa pemeliharaan
disajikan pada Tabel 4. Pada tabel tersebut suhu media pemeliharaan berkisar
antara 25,40 – 27,40 °C. Kandungan oksigen terlarut berkisar antara 4,57 - 5,61
ppm. Nilai pH selama pemeliharan berkisar antara 6,69 - 7,55. Nilai alkalinitas
media pemeliharaan ikan rainbow berkisar antara 22,66 – 50,97 ppm.
Tabel 4. Kisaran kualitas air penelitian ikan rainbow praecox dengan dosis A
(Vitamin C 0 mg/kg pakan), B (Vitamin C 50 mg/kg pakan), C (Vitamin C 100
mg/kg pakan), D (Vitamin C 150 mg/kg pakan), dan E (Vitamin C 200 mg/kg
pakan).
Tabel 4. Kualitas air selama pemeliharaan
Parameter
Perlakuan
Nilai
Suhu ( °C )
A
B
C
D
E
25,55 - 27,00
25,40 - 26,70
25,55 - 27,00
25,70 - 27,30
25,85 - 27,40
Kisaran Optimal
24 0C – 27 0C
(Nasution, 2000)
11
Tabel 4. Lanjutan
Parameter
Perlakuan
Nilai
pH
A
7,22 – 7,55
B
7,37 - 7,45
C
D
E
7,29 - 7,40
7,15 - 7,50
6,69 - 7,55
A
B
C
D
E
5,16 - 5,29
5,43
5,31 - 5,47
5,44 - 5,61
4,57 - 5,14
A
B
C
D
E
22,66 - 50,97
22,66 - 50,97
22,66 - 50,97
22,66 - 39,65
33,98 - 50,97
A
B
C
D
E
43,89 - 53,90
45,43 - 63,14
52,36 - 71,61
44,66 - 61,60
43,89 - 61,60
A
B
C
D
E
0,01 - 0,04
0,01 - 0,05
0,03 - 0,05
0,02 - 0,08
0,03 - 0,06
A
B
C
D
E
0,03 - 0,06
0,05 - 0,08
0,12 - 0,13
0,05 - 0,13
0,08
DO
Alkalinitas (ppm)
Kesadahan
NH3 (ppm)
NO2 (ppm)
Kisaran Optimal
6–8
(Nasution, 2000)
> 5ppm
(Tappin, 2010)
50 – 200 ppm
(Tappin, 2010)
50 – 250 ppm
(Tappin, 2010)
< 0,2 ppm
(Effendi, 2003)
3.2 Pembahasan
Dalam penelitian ini dilakukan suatu rekayasa melalui pakan terhadap
benih ikan rainbow praecox dengan penambahan vitamin C yang berbeda dosis
terhadap masing-masing perlakuan. Dosis vitamin C yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu A (0 mg/kg pakan), B (50 mg/kg pakan), C (100 mg/kg
pakan), D (150 mg/kg pakan) dan E (200 mg/kg pakan).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama 40 hari,
memperlihatkan bahwa penambahan vitamin C yang berbeda dosis pada tiap
12
perlakuan memberikan nilai jumlah konsumsi pakan yang berbeda pula. Pada
Gambar 1 terlihat bahwa perlakuan dosis vitamin C 0 mg/kg pakan berbeda nyata
terhadap perlakuan dosis vitamin C 50, 100, 150 dan 200 mg/kg pakan. Hal ini
dapat diketahui bahwa penambahan vitamin C secara tidak langsung dapat
meningkatkan nafsu makan pada ikan. Sesuai menurut Siregar (2009), Vitamin
merupakan senyawa organik yang berperan penting dalam proses metabolisme
makanan dan fisiologi ikan. Walaupun vitamin C ini bukan sebagai sumber tenaga
tetapi vitamin C dibutuhkan sebagai katalisator terjadinya metabolisme di dalam
tubuh.
Namun, bila dilihat dari laju pertumbuhan harian pada pemeliharaan benih
ikan rainbow praecox pada Gambar 2, penambahan pemberian vitamin C tidak
memberikan pengaruh yang berbeda. Vitamin C dapat diketahui berfungsi dalam
meningkatkan laju pertumbuhan ikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Lovell
(1989) dalam Sunarto (2008) bahwa vitamin C berfungsi untuk meningkatkan
pertumbuhan normal, mencegah kelainan bentuk tulang, kesehatan benih atau
mengurangi stres, mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan pertahanan
atau kekebalan tubuh melawan infeksi bakteri.
Laju pertumbuhan spesifik pada benih ikan rainbow praecox yang diberi
perlakuan penambahan vitamin C melalui pakan tidak memberikan pengaruh yang
berbeda terhadap perlakuan yang tidak diberi penambahan vitamin C, hal ini dapat
dikarenakan lama pemeliharaan dalam penelitian ini yang kurang cukup untuk
melihat secara signifikan perbedaan laju pertumbuhan spesifik dan dalam
penelitian ini, pemeliharaan benih ikan rainbow praecox dilakukan selama empat
puluh hari. Pertumbuhan ikan rainbow praecox mencapai penambahan sekitar 3
cm selama pemeliharaan enam bulan (Tappin, 2010).
Nilai efisiensi pakan selama pemeliharaan benih ikan rainbow praecox,
dapat dilihat pada Gambar 3, dimana penambahan pemberian vitamin C tidak
memberikan pengaruh yang berbeda. Nilai efisiensi pakan berkaitan dengan
jumlah konsumsi pakan dan laju pertumbuhan spesifik. Penambahan vitamin C
tidak memberikan nilai yang berbeda terhadap nilai laju pertumbuhan spesifik, hal
ini dapat menjadi penyebab pemberian vitamin C pada penelitian ini tidak
memberikan pengaruh terhadap nilai efisiensi pakan. Penambahan vitamin C yang
13
tidak memberikan pengaruh terhadap efisiensi pakan dapat dikarenakan lama
pemeliharaan dalam penelitian ini yang kurang optimal, sehingga belum dapat
melihat perbedaan nilai yang signifikan pada nilai laju pertumbuhan spesifik,
sehingga pada akhirnya mempengaruhi nilai efisiensi pakan. Nilai efisiensi pakan
yang didapatkan pun relatif rendah, hal ini diduga dapat disebabkan kadar vitamin
C yang diberikan belum optimal. Sesuai dengan pendapat Sunarto (2008) untuk
memacu pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan yang tinggi diperlukan
vitamin C yang optimal dalam pakan dan kekurangan vitamin C dapat
menyebabkan efisiensi pemanfaatan pakan rendah.
Data kelangsungan hidup pada ikan hias rainbow praecox dapat dilihat
pada Gambar 4, dimana penambahan pemberian vitamin C memberikan pengaruh
terhadap kelangsungan hidup benih ikan rainbow praecox. Nilai kelangsungan
hidup tertinggi terdapat pada perlakuan dosis vitamin C 200 mg/kg pakan dengan
nilai rata-rata 100%. ikan rainbow praecox merupakan ikan hias yang cukup
sensitif terhadap lingkungan yang kurang baik. Berdasarkan ciri perairan tempat
asalnya, sebagian besar spesies ikan rainbow hidupnya di daerah danau, dan dapat
diduga bahwa ikan rainbow sangat peka terhadap oksigen rendah, kekeruhan dan
perubahan suhu (Nasution, 2000).
Dalam penelitian ini, pemeliharaan ikan rainbow dilakukan dalam wadah
baskom, dimana air pada wadah pemeliharaan tidak mengalir serta kepadatan ikan
yang cukup tinggi. Kepadatan dalam penelitian ini yaitu 5 ekor/liter, hal ini dapat
dikatakan padat karena bila dilihat dari penelitian Savoetra (2012) dimana dalam
pemeliharaan larva ikan rainbow kurumoi berumur 15 hari dilakukan dengan
kepadatan 5 ekor/liter. Dengan kepadatan yang cukup tinggi ini, maka dapat
memacu tingkat stres ikan rainbow praecox dimana pada habitat aslinya berada
pada lingkungan air mengalir serta kepadatan yang rendah. Berdasarkan data
kelangsungan hidup yang diperoleh dalam penelitian ini, dapat diketahui bahwa
vitamin C memberikan peran yang baik untuk kelangsungan hidup ikan rainbow,
hal ini sesuai dengan pendapat (Ikeda, 1991) dalam (Yeniche, 2003) bahwa
vitamin C berperan menormalkan fungsi kekebalan, mengurangi stres dan
mempercepat penyembuhan pada luka.
14
Selama penelitian terjadi kualitas air yang dihasilkan masih layak untuk
kegiatan pembesaran ikan rainbow praecox. Kandungan oksigen terlarut dalam
wadah ikan rainbow praecox selama pemeliharaan berkisar antara 4,57 - 5,61 ppm
(Tabel 4). Kandungan oksigen membantu di dalam proses oksidasi bahan buangan
serta pembakaran makanan untuk menghasilkan energi bagi kehidupan dan
pertumbuhan benih ikan rainbow praecox. Kandungan oksigen terlarut yang
didapatkan sampai akhir pemeliharan masih berada pada kisaran nilai yang baik
untuk kehidupan dan pertumbuhan benih ikan rainbow praecox dengan derajat
kelangsungan hidup yang masih diatas 70%.
Semakin tinggi suhu, maka laju metabolisme semakin tinggi. Suhu media
pemeliharaan selama penelitian berkisar antara 25,40 – 27,40 °C (Tabel 4)
sehingga masih dapat ditoleransi oleh ikan rainbow praecox dimana menurut
Nasution (2000), suhu yang optimal untuk pertumbuhan ikan rainbow praecox
yaitu 24 0C – 27 0C .
Nilai pH selama pemeliharaan berkisar antara 6,69 - 7,55 (Tabel 4).
Selama masa pemeliharaan tersebut terdapat kecenderunagan turunnya nilai pH.
Penurunan nilai dapat pH disebabkan oleh peningkatan CO2 akibat respirasi.
Tetapi untuk mengatasinya, selama pemeliharaan setiap wadah pemeliharaan
ditambahkan kerang dan karang untuk meningkatkan nilai pH. Nilai pH dalam
penelitian ini masih dalam kisaran toleransi ikan rainbow praecox, dimana
menurut Nasution (2000) nilai pH yang baik untuk ikan rainbow praecox adalah
6-8.
Setelah pemeliharaan selama 40 hari dengan penambahan vitamin C yang
berbeda dosis pada benih ikan rainbow praecox, dilakukan uji nilai glukosa pada
tubuh ikan rainbow praecox pada setiap perlakuan. Nilai uji glukosa pada tubuh
ikan rainbow praecox dapat dilihat pada Gambar 5, dimana nilai kadar glukosa
tertinggi terdapat pada perlakuan A dengan nilai 1,69 mg/100 ml sedangkan nilai
terendah terdapat pada perlakuan E dengan nilai 0,22 mg/100 ml. Bila diurutkan
nilai glukosa dari yang tertinggi hingga terendah yaitu berada pada perlakuan A
(1,69 mg/100ml), B (0,86 mg/100ml), C (0,85 mg/100ml), D (0,68 mg/100ml)
dan E (0,22 mg/100ml). Nilai glukosa pada tubuh ikan rainbow praecox dari
setiap perlakuan, membuktikan bahwa vitamin C dapat mengurangi stres pada
15
ikan. Stres merupakan respon fisiologis yang terjadi pada saat hewan berusaha
mempertahankan kondisi tubuhnya dari kondisi lingkungan dan stres dapat berasal
dari perubahan lingkungan dan respon organisme lain (Subyakto, 2000) dalam
(Sunarto, 2008).
Mekanisme terjadinya perubahan kadar glukosa darah selama stres dimulai
dari diterimanya informasi penyebab faktor stres oleh organ reseptor. Selanjutnya,
informasi tersebut disampaikan ke otak bagian hipotalamus melalui sistem syaraf.
Kemudian hipotalamus memerintahkan sel kromafin untuk mensekresikan
hormon katekolamin melalui serabut syaraf simpatik. Ketersediaan vitamin C
yang cukup dalam tubuh dimanfaatkan untuk digunakan dalam proses sintesis
katekholamin. Adanya katekolamin ini akan mengaktivasi enzim - enzim yang
terlibat dalam katabolisme simpanan glikogen, sehingga kadar glukosa darah
mengalami peningkatan.
Pada
saat
yang
bersamaan
hipotalamus
otak
mensekresikan CRF (corticoid releasing factor) yang meregulasi kelenjer pituitari
untuk mensekresikan ACTH (adreno corticotropic hormone). Hormon tersebut
akan direspon oleh sel interenal dengan mensekresikan kortisol. kortisol adalah
suatu hormon yang melawan efek insulin dan menyebabkan kadar gula darah
tinggi, jika seseorang mengalami stress berat yang dihasilkan dalam tubuhnya,
maka kortisol yang dihasilkan akan semakin banyak, ini akan mengurangi
sensifitas tubuh terhadap insulin. Kortisol merupakan musuh dari insulin sehingga
membuat glukosa lebih sulit untuk memasuki sel dan meningkatkan gula dalam
darah (Watkins, 2010) dalam (Nugroho, 2010).
Selain melakukan uji kadar glukosa pada tubuh ikan di akhir
pemeliharaan, dilakukan juga uji stres untuk mengetahui pengaruh daya tahan
pada ikan rainbow praecox yang diberi perlakuan penambahan vitamin C yang
berbeda dosis. Uji stres dilakukan dengan menurunkan suhu pada media
pemeliharaan dengan kisaran suhu 15 – 16 0C dan kepadatan lima ekor/liter. Pada
uji stres ini menggunakan suhu rendah dengan kisaran suhu 15 – 16 0C karena
menurut Nasution (2000) suhu yang optimal untuk kehidupan ikan rainbow
praecox yaitu 24 0C – 27 0C. Hasil uji stres pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa
kematian didapatkan pada perlakuan A (pemberian vitamin C 0 mg/kg pakan)
yaitu kematian ikan berjumlah 12 ekor, sedangkan jumlah kematian terendah
16
didapatkan pada perlakuan E dengan dosis vitamin C (200 mg/kg pakan) tertinggi,
kematian pada perlakuan E berjumlah 5 ekor. Berdasarkan jumlah angka kematian
dalam uji stres yang terdapat pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa vitamin C
memberikan peran yang baik terhadap ketahanan ikan rainbow praecox dalam
kondisi yang tidak optimal.
Perubahan suhu lingkungan (guncangan suhu dingin) akan menyebabkan
stres yang menginduksi pada tingginya tingkat glukosa darah, selanjutnya
menganggu pertumbuhan bahkan mematikan. Kebutuhan energi dari glukosa
untuk menangani stres dapat terpenuhi apabila glukosa dalam darah dapat segera
masuk ke dalam sel target. Keberhasilan pasok glukosa ke dalam sel ditentukan
oleh kinerja insulin. Sedangkan selama stres terjadi inaktivasi insulin sehingga
menutup penggunaan glukosa oleh sel (Wendelaar, 1997) dalam (Hastuti, 2003).
Selanjutnya apabila ketersediaan vitamin dalam tubuh optimal maka pada kondisi
lingkungan yang tidak baik proses sintesis katekolamin dapat berlangsung dengan
baik, sehingga ikan mampu bertahan dari perubahan fisiologis dalam tubuhnya
atau tidak terjadi stres.
17
IV. KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dengan dosis
200 mg/kg pakan adalah yang terbaik dapat mengurangi tingkat stres pada ikan
rainbow praecox dengan nilai glukosa 0,22 mg/100ml dan kelangsungan hidup
100%, tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik
untuk semua perlakuan.
18
DAFTAR PUSTAKA
Djamhuriyah, S.S., Haryani, G.S., 2011. Sistem Pengelolaan Habitat Ikan Hias
Endemik Indonesia, di dalam: Prosiding Seminar Nasional Hari
Lingkungan Hidup, ISBN 978-602-19161-0-0.
Hastuti. 2003. Respon Glukosa Darah Ikan Gurami (Osphronemus gouramy,
LAC.) Terhadap Stres Perubahan Suhu Lingkungan. Jurnal Akuakultur
Indonesia 2(2), 73-77.
Hidayat, S., Djamhuriyah, S., 2005. Kekerabatan Beberapa Spesies Ikan Pelangi
irian (Famili Melanotaenidae) Berdasarkan Karyotipe. Jurnal lktiologi
lndonesia, Volume 5, Nomor l.
Irwan. 2002. Pengaruh Kadar α-Starch Pakan yang Berbeda terhadap Kadar
Glukosa Darah Ikan Gurame (Osphronemus gouramy, Lac). [Skripsi].
Jurusan Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor.
Liviawaty, E., Afrianto, E., 2005. Pakan Ikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Lukman. 2005. Uji Pemeliharaan Ikan Pelangi Irian (Melanotaenia boesmani) Di
Dalam Sistem Resirkulasi. Jurnal lktiologi Indonesia, Volune 5, Nomor 1.
Nurfadhillah. 2010. Pemakaian Hasil Fermentasi Daun Mata Lele Azolla sp.
sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Nila (Oreochromis sp.). [Skripsi].
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Nasution, S.H. 2000. Ikan Hias Air Tawar Rainbow. Bogor: Penebar Swadaya.
Nugroho, S.A. 2010. Hubungan Antara Tingkat Stres Terhadap Kadar Gula Darah
Penderita Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo I
Kabupaten Sukoharjo. [Skripsi]. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Savoetra, R.A. 2012. Pengaruh Jumlah Pemberian Moina sp. Terhadap
Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Rainbow Kurumoi
(Melanotaenia parva). [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Universitas Padjadjaran.
Sunarto. 2008. Pengaruh Pemberian Vitamin C Ascorbic Acid Terhadap Kinerja
Pertumbuhan dan Respon Imun Ikan Betok Anabas testudineus Bloch.
Jurnal Akuakultur Indonesia 7(2), 151–157.
Siregar, Y. I. 2009. Pengaruh Vitamin C terhadap Peningkatan Hemoglobin (Hb)
Darah dan Kelulushidupan Benih Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes
altivelis). Jurnal Natur Indonesia 12(1), 75-81.
19
Takeuchi, T. 1988. Laboratory work chemical evaluation of dietary nutrients. In
Watanabe, T (ed.). Fish Nutrition and Mariculture. Departement of
Aquatic Bioscience. Tokyo University of Fisheries.
Tappin R.A. 2010. Rainbow Fishes. Australia: Art Publication.
Yeniche. 2003. Akumulasi Vitamin C dalam Tubuh Daphnia Sp Yang Diperkaya
dengan L-Ascorbyl-2-Magnesium Phosphate Pada Dosis Yang Berbeda.
[Skripsi]. Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
20
LAMPIRAN
1
Lampiran 1. Hasil analisis proksimat pakan komersil (% bobot kering)
perlakuan
Pakan komersil
proksimat (% bobot kering)
Protein
Lemak
Abu
Serat kasar
Kadar air
BETN
40,1376
1,4009
16,3450
7,4173
14,8320
19,8672
Lampiran 2. Hasil analisis kualitas air hari pertama
Parameter
Perlakuan
Media pemeliharaan
o
Suhu ( C)
pH
DO
(mg/l)
Alkalinitas
(ppm)
Kesadahan
NH3
(ppm)
NO2
(ppm)
26,7
8,1
8,07
45,31
40,04
0,085
0,02
Lampiran 3. Hasil analisis kualitas air selama pemeliharaan (Hari 20)
Parameter
suhu (ºC)
pH
DO (mg/l)
Alkalinitas (ppm)
Kesadahan
NH3 (ppm)
NO2 (ppm)
A
27
7,55
5,16
50,97
43,89
0,04
0,03
B
26,7
7,45
5,43
50,97
45,43
0,05
0,05
C
27
7,4
5,47
50,98
52,36
0,05
0,12
D
27,3
7,5
5,43
39,65
44,66
0,08
0,05
E
27,4
7,55
5,14
50,97
43,89
0,06
0,08
Lampiran 4. Hasil analisis kualitas air selama pemeliharaan (Hari 40)
Parameter
A
B
C
D
E
suhu (ºC)
pH
DO (mg/l)
Alkalinitas (ppm)
25,55
7,22
5,29
22,66
25,4
7,37
5,43
22,66
25,55
7,29
5,31
22,66
25,7
7,15
5,61
22,66
25,85
6,69
4,57
33,98
Kesadahan
NH3 (ppm)
NO2 (ppm)
53,9
0,01
0,06
63,14
0,01
0,08
71,61
0,03
0,13
61,6
0,02
0,13
61,6
0,03
0,82
Lampiran 5. Prosedur analisis proksimat (Takeuchi, 1988)
A. Kadar Protein (metode Kjedahl)
1. Sampel ditimbang seberat 0,5-1,0 gram dan dimasukkan ke dalam labu
kjedahl,
2. Katalis berupa K2SO4,5H2O dengan rasio 9 : 1 ditimbang sebanyak 3 gram
dan dimasukkan ke dalam labu kjedahl,
3. Selanjutnya ditambahkan 10 ml H2SO4 pekat ke dalam labu tersebut dan
kemudian labu dipanaskan selama 3-4 jam sampai cairan dalam labu
berwarna hijau,
21
4. Lalu larutan didinginkan, lalu ditambahkan air destilata 30 ml, Kemudian
masukkan larutan tersebut ke dalam labu takar dan diencerkan dengan
akuades sampai larutan tersebut mencapai volume 100 ml (larutan A),
5. Labu erlenmeyer diisi 10 ml H2SO4 0,05 N dan ditambahkan 2-3 tetes
indikator methylen blue atau methyl red (larutan B),
6. Larutan A diambil sebanyak 5 ml dan ditambahkan 10 ml NaOH 30%
yang dimasukkan ke dalam labu kjedahl, Lalu dilakukan pemanasan dan
kondensasi selama 10 menit mulai saat tetesan pertama pada larutan B,
7. Larutan dalam labu erlenmeyer dititrasi dengan 0,05 N larutan NaOH
sampai terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi hijau tua,
8. Kadar protein (%)
=
0,0007 * x (Vb-Vs) x F x 6,25** x 20 x 100 %
Keterangan :
S
Vs
= ml 0,05 N nitran NaOH untuk sampel
Vb
= ml 0,05 N nitran NaOH untuk blanko
F
= faktor koreksi dari 0,05 N larutan NaOH
S
= bobot sampel (gram)
*
= setiap ml 0,05 N NaOH ekuivalen dengan 0,0007 gram nitrogen
**
= faktor nitrogen
B. Kadar Lemak (metode ether ekstraksi Sochlet)
1. Labu ekstraksi dipanaskan pada suhu 1100C selama satu jam, kemudian
didinginkan selama 30 menit dalam eksikator dan ditimbang bobot labu
tersebut (A),
2. Kemudian dimasukkan petroleum benzen sebanyak 150-250 ml ke dalam
labu reaksi,
3. Bahan ditimbang sebanyak 5 g (a), dimasukkan ke dalam selongsong,
kemudian selongsong dimasukkan ke dalam sochlet serta diletakkan
pemberat di atasnya,
4. Labu ekstraksi yang telah dihubungkan dengan sochlet di atas hotplate
dengan air mendidih pada suhu 1000C didiamkan sampai cairan yang
merendam bahan dalam sochlet menjadi bening,
22
5. Setelah larutan petroleum benzen bening, labu ekstraksi dilepaskan dari
rangkaian dan tetap dipanaskan hingga petroleum benzen menguap semua,
6. Labu dan lemak tersisa dipanaskan dalam oven selama 16-60 menit,
dieksikator dan ditimbang (B),
7. Kadar Lemak (%)
= B – A x 100 %
a
C. Kadar Air
1. Timbang sampel sebanyak X gram, lalu masukkan ke dalam cawan (Y),
2. Masukkan cawan ke dalam oven dengan suhu 1100C selama 2-3 jam,
3. Dinginkan cawan ke dalam eksikator selama 30 menit, lalu ditimbang (Z),
4. Panaskan lagi dalam oven dengan suhu yang sama selama 1-1,5 jam,
5. Dinginkan lagi cawan ke dalam eksikator selam 30 menit, lalu ditimbang,
6. Kadar air (%) =
D. Kadar Abu
1.
Z – Y x 100 %
X
Cawan porselen dipanaskan pada suhu 105 0C selama 1 jam ke dalam
oven, lalu cawan porselin dikeluarkan dan disimpan dalam desikator
selama 30 menit dan selanjutnya ditimbang (X1), Cawan porselen
dipanaskan seperti prosedur nomor 1, lalu ditimbang,
2.
Sampel sebanyak 1-2 gram ditimbang (A), lalu dimasukkan ke dalam
cawan porselen,
3.
Cawan dan bahan dipanaskan di dalam tanur dengan suhu 600 0C, lalu
didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang (X2)
X2 – X1 x 100 %
4.
Kadar Abu (%) =
A
E. Serat Kasar
1. Kertas saring dipanaskan dalam oven 1100C selama satu jam, lalu
didinginkan dalam desikator selama 30 menit, dan ditimbang (X1)
2. Bahan ditimbang 0,5 gram (A), lalau dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
250 ml dan ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N, kemudian dipanaskan selama
30 menit di atas hotplate, setelah 30 menit ditambahakan 25 ml NaOH 1,5
N kemudian dipanaskan kembali di atas hotplate,
23
3. Kertas saring yang telah dipanaskan sebelumnya dihubungkan dengan
vacuum pump, kemudian larutan yang sebelumnya dipanaskan di atas
hotplate disaring dan dilakukan pembilasan secara berurutan, yaitu :1, 50
ml air panas, 2, 50 ml H2SO4, 3, 50 ml air panas, 4, 25 ml aceton
4. Cawan porselen dipanaskan pada suhu 105-110 0C selama satu jam dan
didinginkan,
5. Kertas saring hasil penyaringan dimasukkan ke dalam cawan porselen,
6. Kemudian cawan dan kertas saring dipanaskan pada suhu 105-110 0C
selama satu jam, didinginkan dalam desikator 30 menit, dan ditimbang
(X2), kemudian dipanaskan dalam tanur pada suhu 600
0
C hingga
berwarna putih, didinginkan dan ditimbang (X3),
7. Kadar Serat Kasar = X2 - X1 - X3 x 100 %
A
Lampiran 6. Prosedur pengukuran uji glukosa tubuh berdasarkan metode
Wedemeyer-Yasutake (Wedemeyer dan Yasutake, 1981) dalam
(Irwan, 2002)

Pembuatan gula standar
Sebanyak 100 mg glukosa dilarutkan dalam akuades menjadi 100 ml,
Kemudian diukur absorbannya dengan spektrofotometer dengan panjang
gelombang 635nm (abs stanndar).

Persiapan sampel
Karena sampel berupa tubuh ikan, maka sebelumnya dilakukan uji
glikogen (pengganti plasma darah), Kemudian plasma diambil sebanyak 0,05 ml
lalu ditambahkan 3,5 ml campuran acetic acid glacial dan O-Toluidin dengan
perbandingan 47:3, Campuran tersebut dipanaskan dalam water bath 100 0C
selama 10 menit, Kemudian diukur dengan spektrofotometer dengan panjang
gelombang 635 nm (abs sampel), Glukosa darah dihitung dengan rumus
(
/100
)=
/
×
Keterangan:
Au = Abs Sampel
Cs = Konsentrasi sampel
Abs = Absorbansi Standar
24
Lampiran 7. Jumlah konsumsi pakan (JKP), laju pertumbuhan spesifik
(LPS), efisiensi pakan (EP), survival rate (SR) selama 40 hari
pemeliharaan Ikan Rainbow Praecox.
Lampiran 7.1 Jumlah Konsumsi Pakan
Ulangan
Perlakuan A
1
2
3
Rata-rata
Standar Deviasi
6,00
7,70
7,70
29,57
1,97
Jumlah Konsumsi Pakan (%)
Perlakuan B
Perlakuan C
Perlakuan D
Perlakuan E
9,40
9,90
7,00
33,50
1,55
8,80
7,90
8,70
33,60
0,62
8,70
9,00
9,40
34,80
1,10
7,80
9,20
8,70
34,40
1,47
Jumlah
df
Kuadrat Tengah
F hitung
F tabel,
6,515
,008
TABEL ANOVA
Kuadrat
Jumlah
Konsumsi
Pakan
Antara kelompok
52,343
4
13,086
Dalam kelompok
20,087
10
2,009
Total
72,429
14
Uji Lanjut (Tukey)
Pasangan untuk α = 0,05
1
2
N
Perlakuan
Vitamin C 0 mg/kg pakan
3
Vitamin C 50 mg/kg pakan
3
33,5
Vitamin C 100 mg/kg pakan
3
33,6
Vitamin C 150 mg/kg pakan
3
34,8
Vitamin C 200 mg/kg pakan
3
34,4
29,57
Sig,
1
0,791
Keterangan: Kelompok yang homogen terdapat dalam kolom yang sama
Lampiran 7.2 Laju Pertumbuhan Spesifik
Ulangan
Perlakuan A
1
2
3
Rata-rata
Standar Deviasi
0,67
0,44
0,41
0,50
0,14
Laju Pertumbuhan Spesifik Individu (%)
Perlakuan B
Perlakuan C
Perlakuan D
0,90
0,65
0,33
0,63
0,29
0,91
0,60
0,38
0,63
0,27
0,86
0,91
0,75
0,84
0,05
Perlakuan E
0,92
0,92
0,83
0,89
0,08
25
TABEL ANOVA
Jumlah Kuadrat
df
Kuadrat
F hitung
F tabel,
2,127
,152
Tengah
Laju
Pertumbuhan
Antara kelompok
,310
4
,078
Dalam kelompok
,364
10
,036
Total
,674
14
Spesifik
Lampiran 7.3 Efisiensi Pakan
Ulangan
Efisiensi Pakan (%)
Perlakuan C
Perlakuan D
Perlakuan A
Perlakuan B
1
5,49
6,62
6,29
5,96
7,19
2
3,65
4,36
4,64
6,68
6,87
3
2,94
4,03
1,32
2,43
4,47
2,09
2,71
4,54
1,79
4,94
5,86
0,87
5,89
6,65
0,68
Rata-rata
Standar Deviasi
Perlakuan E
TABEL ANOVA
Jumlah Kuadrat
df
Kuadrat
F hitung
F tabel,
1,716
,222
Tengah
Efisiensi
Pakan
Antara kelompok
14,504
4
3,626
Dalam kelompok
21,128
10
2,113
Total
35,632
14
Lampiran 7.4 Kelangsungan Hidup ikan Rainbow Praecox
Survival Rate (%)
Ulangan
Perlakuan A
Perlakuan B
Perlakuan C
Perlakuan D
Perlakuan E
1
76
96
100
100
100
2
92
96
92
100
100
3
80
88
92
96
100
Rata-rata
82,67
93,33
94,67
98,67
100,00
Standar Deviasi
8,33
4,62
4,62
2,31
0,00
26
TABEL ANOVA
Jumlah Kuadrat
df
Kuadrat
F hitung
F tabel,
5,977
,010
Tengah
Kelangsungan Antara kelompok
hidup
561,067
4
140,267
Dalam kelompok
234,667
10
23,467
Total
795,733
14
Uji Lanjut (Tukey)
Pasangan untuk α = 0,05
N
1
2
Perlakuan
Vitamin C 0 mg/kg pakan
3
82,6667
Vitamin C 50 mg/kg pakan
Vitamin C 100 mg/kg pakan
Vitamin C 150 mg/kg pakan
3
3
3
93,3333
94,6667
93,3333
94,6667
98,6667
Vitamin C 200 mg/kg pakan
3
0,074
0,483
Sig,
100
Keterangan: Kelompok yang homogen terdapat dalam kolom yang sama
27
Download