LAMPIRAN Gambar 1. Potongan sagital rektum dengan viscera

advertisement
LAMPIRAN
Gambar 1. Potongan sagital rektum dengan viscera didekatnya. a. Laki-laki b.
Wanita.7
Gambar 2. Rektum. a.anterior view dan supply pembuluh darahnya, b. Lateral
view menunjukkan lapisan peritoneum yang menyelubungi.5
Gambar 3. Canalis analis dan sphincter anal.7
Gambar 4. Recto-sigmoid index normal . Rasio antara diameter terlebar rektum
(RR’) dan diameter terlebar sigmoid (SS’) adalah lebih besar atau sama dengan 1.
B. Recto-sigmoid index yang abnormal : Hirschsprung’s disease. Rasio tampak
lebih kecil dari 1. 17
Transanalpullthrough sebelum anastomosis
Gambar 5. Berbagai metode pembedahan transabdominal dan transanal pada
hirschsprung’s disease.11
Gambar 6. Foto babygram tanggal 5 Juni 2013, 09.44 wib.
Gambar 7. Foto babygram tanggal 5 Juni 2013, 13.33 wib.
Gambar 8. Foto barium enema, tanggal 10 Juni 2013.
Gambar 9. Barium enema pada Hirschsprung’ disease. A. Foto abdominal pada
usia 5 hari menunjukkan distensi usus dengan udara usus memenuhi cavum
pelvis. B. Pada foto lateral rectum tampak lebih kecil dibandingkan bagian lain
dari kolon di proksimalnya, dan terdapat zona transisi antarabagian usus yang
nondilated (N) dan dilated(D). C. Foto postevakuasi lateral menunjukkan rectum
bukan merupakan bagian colon yang paling terdilatasi. Zona transisi (panah)
antara bagian yang tidak terdistensi, distal colon yang aganglionik, dan bagian
yang terdilatasi, colon ganglionik proksimal. Rectum tampak tidak terdistensi.19
Gambar 10. Foto dari water soluble contrast enema pada neonatus dengan HD
menunjukkan adanya zona transisi rektosigmoid (panah), tampak adanya
kontraksi yang irreguler dan irregularitas mukosa (panah terbuka). 24
Gambar 11. Lokasi stoma yang tidak tepat pada Hirschsprung’s disease.11
Tabel 1 . Sindrom dan abnormalitas gen yang dihungkan dengan HD. 11
Tabel 2: Gejala pada Hirschsprung’s Disease.1
Tabel 3: Sensitivitas, spesifisitas, dan nilai prediksi gambaran klinis dan
radiologis dan manometri pada diagnosis HD.14
Tabel 4. Metode pembedahan pada Hirschsprung’s Disease dan komplikasi yang
menyertainya. 10
No Metode
1
Swenson’s
pull-through
(1948)
Teknik
Pemotongsn seluruh segmen aganglionik
usus hingga 1 cm dari linea dentata
posterior dan 2cm pada linea dentata
anterior. Lalu dilakukan colo-anal
anastomosis dari luar.
Pemotongan di belakang rektum untuk
meminimalkan kerusakan nervus pelvis
dan membetuk kanal. Usus yang
ganglionik ditarik hingga 1 cm di atas
linea dentata dan dilakukan side-to-side
anastomosis.
2
Duhamel’s
pull-through
(1956)
3
Soave’s
endorectal
pull-through
(1964)
Kolon yang direseksi disambungkan
dengan bagian submukosa sekitar 1 cm
dari linea dentata. Usus yang ganlionik
ditarik dan disambungkan dengan
mukosa anus.
4
Transanal
endorectal
pull-through
Dengan circumferential hook retractor ,
dimungkinkan diseksi luas dari bawah ke
cavum peritoneum, membuang usus yang
aganglionik lalu dilakukan anastomosis
Komplikasi
Kerusakan nervus
pelvis dan struktur
di anterior usus (
vasdeferen,bladder,
atau vagina)
Anterior
blind
pouch
(kantong
buntu di bagian
anterior)
dapat
memicu timbulnya
fecaloma
dan
obstruksi berulang.
Otot aganglionik
yang tersisa dapat
menimbulkan
obstruksi
atau
konstipasi
atau
abses.
?
Tabel 5. Sensitivitas dan spesifistas kriteria radiologis.24
Tabel 6. Interpretasi hasil skoring HD dengan kriteria radiologis.24
Tabel 7. Kriteria untuk ultra short segment HD berdasarkan simtom, pemeriksaan fisik,
radiologis, dan histopatologis. 26
Download