hari doa sedunia untuk panggilan ke-50

advertisement
HARI DOA SEDUNIA
UNTUK PANGGILAN KE-50
21 April 2013
Buku ini terdiri dari :
1. Pesan Paus Benediktus XVI
2. Homili : Tuhanlah Gembalaku
3. Kekudusan Hakekat Panggilan Imam
4. Perayaan Ekaristi dan Ibadat Sabda Tanpa Imam
5. Bahan Temu Bina Iman Anak Misioner
6. Berdoa Mohon Panggilan
Jakarta, Maret 2013
Biro Nasional
Karya Kepausan Indonesia
Jl. Cut Meutia 10
Jakarta – 10340
1
Pesan Bapa Suci
Pada Hari Doa Sedunia untuk Panggilan
ke-50
Hari Minggu Paskah IV
21 April 2013
Panggilan Sebagai Suatu Tanda
Harapan Berdasarkan Iman
2
Pesan Paus Benediktus XVI
Pada Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ke-50
Saudara-saudari yang terkasih.
Pada kesempatan Hari Doa Sedunia Untuk
Panggilan Ke-50, yang dirayakan pada tanggal 21
April 2013, Hari Minggu IV Paskah, saya ingin mengajak Anda semua untuk merenungkan tema:
“Panggilan Sebagai Suatu Tanda Harapan Berdasarkan Iman”, yang kebetulan terjadi dalam
Tahun Iman, yang menandai tahun ke-50 dimulainya
Konsili Vatikan II. Ketika Konsili Vatikan II sedang
berlangsung, Hamba Allah, Paus Paulus VI, menyatakan hari itu sebagai hari doa seluruh dunia kepada
Allah Bapa, memohon kepada-Nya agar selalu mengutus para pelayan bagi Gereja-Nya (bdk. Mat.9:38).
“Hal memiliki jumlah imam yang cukup”, demikian
pernyataan Paus pada waktu itu, “berdampak langsung pada seluruh umat beriman: bukan semata-mata
karena mereka bergantung pada jumlah imam tersebut terkait dengan masalah rohani umat Kristen di
masa depan, melainkan karena persoalan ini menjadi indikator yang tepat dan tak dapat dihindari tentang dinamika kehidupan iman dan kasih dari setiap
jemaat paroki dan keuskupan, sekaligus menjadi
bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Di mana dapat ditemukan banyak panggilan
imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang
yang menghayati Injil dengan tulus” (Paus Paulus
VI, Pesan Radio, 11 April 1964).
3
Selama beberapa dekade, berbagai jemaat
Kristen di seluruh dunia berkumpul setiap tahunnya
pada Hari Minggu IV Paskah, mereka bersatu dalam
doa, memohon kepada Tuhan anugerah panggilan
suci dan minta sekali lagi, sebagai bahan renungan
bagi semua orang, betapa mendesak kebutuhan untuk menanggapi panggilan Illahi tersebut. Sungguh,
peristiwa tahunan ini begitu penting dan meneguhkan
suatu komitmen yang kuat untuk menempatkan betapa semakin pentingnya panggilan imam dan hidup
bakti di tengah spiritualitas, doa dan karya pastoral
umat beriman.
Harapan adalah penantian terhadap sesuatu
yang positif di masa yang akan datang, namun pada
saat yang sama harus dapat menopang keberadaan
kita saat ini, yang sering kali ditandai oleh aneka
ketidak-puasan dan kegagalan. Lantas didasarkan
pada apakah harapan tersebut? Kalau menengok
sejarah umat Israel, sebagaimana dikisahkan dalam
Perjanjian Lama, kita melihat suatu hal yang
selalu muncul secara konstan, khususnya pada masamasa sulit seperti pada Masa Pembuangan, khususnya
suatu hal yang ditemukan dalam tulisan-tulisan para
Nabi, yaitu kenangan akan janji-janji Allah kepada
para bapa bangsa: suatu kenangan yang mengajak
kita untuk mengikuti teladan sikap Abraham, sebagaimana diperingatkan oleh Santo Paulus, “percaya,
meskipun tidak ada dasar untuk berharap, bahwa
dia akan menjadi ‘bapa banyak bangsa’, menurut
apa yang telah dikatakan, ‘Demikianlah banyaknya
nanti keturunanmu’” (Rom.4:18). Suatu kebenaran
yang menghibur dan menerangi, yang muncul dalam
seluruh sejarah keselamatan, tidak lain adalah ke4
setiaan Allah terhadap perjanjian yang telah Dia buat,
membaharuinya bila manusia melanggarnya melalui
ketidak-setiaan dan dosa mereka, sejak zaman Air
Bah (bdk. Kej. 8: 21-22) hingga zaman Keluaran
dan perjalanan melalui padang gurun (bdk. Bil. 9:7).
Kesetiaan yang sama tersebut telah membawa Allah kepada meterai perjanjian baru dan kekal dengan
manusia, melalui darah Putera-Nya, yang telah wafat
dan bangkit kembali demi keselamatan kita.
Setiap saat, khususnya pada saat-saat yang
paling sulit, kesetiaan Tuhan selalu menjadi kekuatan pengendali yang sejati sejarah keselamatan,
yang membangkitkan hati pria dan wanita dan meneguhkan mereka dalam harapan bahwa pada suatu
hari nanti akan mencapai “tanah terjanji”. Di sinilah
kita menemukan dasar yang pasti dari setiap harapan:
Allah tidak pernah meninggalkan kita dan Dia selalu benar terhadap Sabda-Nya. Karena alasan inilah,
maka dalam setiap situasi, baik yang menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan, kita dapat
menghidupi suatu harapan yang teguh dan bersama
dengan pemazmur berdoa: “Hanya pada Allah saja
kiranya aku tenang; sebab dari pada-Nyalah harapanku” (Mzm. 62:6). Oleh karena itu, memiliki harapan berarti sama dengan percaya kepada Tuhan yang
adalah setia, yang selalu memelihara perjanjian-Nya.
Dengan demikian, iman dan harapan berkaitan erat.
“Harapan” adalah sebuah kata kunci dalam iman
alkitabiah, sehingga dalam perikop-perikop tertentu,
kata “iman” dan “harapan” nampak jelas digunakan secara bergantian. Dengan cara ini pula, maka
Surat Ibrani menampilkan hubungan yang langsung antara “pengakuan akan harapan yang teguh”
5
(10:23) dengan “kepenuhan iman” (10:22). Hal
yang sama, ketika Surat Pertama Rasul Petrus mendesak orang-orang Kristen agar selalu siap untuk menyambut “logos” – arti dan alasan – harapan mereka
(bdk. 3:15), “harapan” adalah sama dengan “iman”
(Spe Salvi, 2).
Saudara-saudari yang terkasih, apa sebenarnya kesetiaan Tuhan itu dan kepada siapakah kita
meletakkan harapan yang kokoh tak tergoyahkan
itu? Tidak lain adalah Kasih-Nya. Dia, Bapa, mencurahkan Kasih-Nya ke dalam lubuk hati kita yang
terdalam melalui Roh Kudus (bdk. Rom. 5:5). Dan
Kasih Allah tersebut dinyatakan secara penuh dalam
diri Yesus Kristus, yang terlibat dalam keberadaan
kita dan menuntut suatu jawaban dalam arti apa yang
dapat dilakukan oleh setiap individu dalam hidupnya
sebagai pria maupun wanita dan apa yang dapat dia
persembahkan untuk menghayati Kasih Allah tersebut secara penuh. Kasih Allah kadang-kadang hadir
melalui cara-cara yang tidak pernah dibayangkan
oleh seseorang sebelumnya, tetapi selalu dapat menjangkau orang-orang yang memang mau dijumpai
oleh Kasih Allah tersebut. Harapan semacam itu
dipelihara dengan kepastian ini, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan Kasih Allah kepada kita”
(1 Yoh. 4:16). Kasih Allah yang begitu dalam dan
menuntut ini, Kasih Allah yang meresap secara sempurna di bawah permukaan, memberi kita keberanian. Kasih Allah ini memberi kita harapan dalam
peziarahan hidup kita dan di masa yang akan datang.
Kasih Allah yang membuat kita percaya dalam diri
kita, dalam sejarah dan dalam diri orang-orang lain.
Saya ingin berbicara secara khusus kepada kaum
6
muda dan saya katakan sekali lagi kepadamu: “Akan
menjadi apakah hidupmu kalau tanpa Kasih Allah?
Allah memelihara pria dan wanita sejak penciptaan
hingga akhir zaman, ketika Dia akan membawa
rencana keselamatan sampai kepada kepenuhannya.
Di dalam Tuhan yang bangkit, kita memiliki harapan
yang pasti” (Sambutan kepada kaum muda Keuskupan San Marino, Montefeltro, 19 Juni 2011).
Sebagaimana telah Dia lakukan selama hidupNya di dunia, demikian juga saat ini Yesus yang telah
bangkit berjalan menyusuri lorong-lorong kehidupan kita dan melihat kita yang tenggelam dalam berbagai aktivitas dengan segala keinginan dan kebutuhan kita. Di tengah situasi lingkungan kehidupan kita,
Dia terus berbicara kepada kita: Dia memanggil kita
agar kita menghayati kehidupan bersama dengan Dia,
karena hanya Dia-lah yang mampu memuaskan
dahaga akan harapan tersebut. Dia tinggal di
tengah komunitas para murid, yaitu Gereja, dan
hingga hari ini Dia masih memanggil orang-orang
untuk mengikuti Diri-Nya. Panggilan dapat muncul
setiap saat. Hari ini juga Yesus terus-menerus berkata:
“Datanglah ke mari, ikutilah Aku” (Mrk. 10:21).
Menerima undangan-Nya berarti tidak lagi memilih
jalan kita sendiri. Mengikuti Dia berarti membenamkan kehendak kita ke dalam kehendak Yesus, sungguh-sungguh mengistimewakan Dia, membanggakan
Dia dalam setiap bidang kehidupan: dalam keluarga,
dalam pekerjaan, dalam kepentingan-kepentingan
pribadi dan dalam diri kita sendiri. Ini berarti menyerahkan hidup kita kepada-Nya, hidup dalam
kemesraan bersama dengan Dia dan melalui Dia,
kita memasuki persekutuan dengan Bapa dalam
7
Roh Kudus, dan dengan demikian juga – konseuensinya – bersama dengan saudara dan saudari sekalian. Persekutuan hidup bersama Yesus adalah
suatu “pengaturan” (setting) istimewa di mana dalam
persekutuan tersebut, kita boleh mengalami harapan dan dalam harapan tersebut, hidup kita menjadi
penuh dan bebas.
Panggilan imamat dan hidup bakti lahir dari
pengalaman personal perjumpaan dengan Kristus,
berkat dialog dengan Dia secara rahasia dan tulus,
yang berarti memasuki ke dalam kehendak-Nya. Oleh
karena itu sangatlah perlu tumbuh dalam pengalaman
iman, mengenal suatu relasi yang mendalam dengan
Yesus, memberi perhatian secara rohani terhadap
suara-Nya yang hanya bisa diperdengarkan dalam
lubuk hati kita. Proses ini, yang memungkinkan kita
dapat menaggapi panggilan Allah secara positif, sangat mungkin terjadi dalam jemaat-jemaat Kristen
di mana iman dihayati secara intens, di mana kesaksian yang baik diberikan oleh mereka yang menyandarkan diri kepada Injil, di sanalah hadir makna
perutusan yang kuat, yang menghantar orang untuk
mempersembahkan diri secara total demi Kerajaan
Allah, yang dihidupi dengan penerimaan sakramensakramen, khususnya Sakramen Ekaristi dan hidup
doa yang kuat. Poin yang terakhir ini, “di satu sisi
harus menjadi sesuatu yang sangat personal, suatu
perjumpaan yang mesra antara diriku dengan Allah.
Tetapi di sisi lain, harus secara terus-menerus dibimbing dan diterangi oleh doa-doa Gereja dan oleh doadoa para kudus, dan oleh doa liturgis sebagaimana
telah berulang kali Tuhan Yesus ajarkan bagaimana
kita harus berdoa secara benar” (Spe Salvi, 34).
8
Doa yang mendalam dan terus-menerus akan
menghasilkan pertumbuhan iman jemaat Kristiani,
menghasilkan suatu kepastian yang secara terusmenerus diperbaharui bahwa Allah tidak pernah
meninggalkan umat-Nya, sebaliknya Dia sanantiasa meneguhkan umat-Nya dengan membangkitkan
aneka panggilan khusus – panggilan imamat dan
hidup bakti – agar mereka menjadi tanda harapan
bagi dunia. Sesungguhnya, para imam dan kaum
religius dipanggil untuk menyerahkan dirinya secara
total tanpa syarat bagi umat Allah, dalam pelayanan
kasih demi Injil dan Gereja, suatu pelayanan yang
dapat meneguhkan harapan yang berasal hanya dari
keterbukaan diri kepada Yang Illahi. Oleh karena itu,
dengan bantuan para saksi iman dan semangat kerasulan mereka, mereka dapat memeneruskan, khususnya
kepada gererasi muda, suatu keinginan yang kuat
untuk menanggapi Kristus yang memanggil mereka
secara tulus dan tanpa halangan untuk mengikuti Dia
secara lebih erat. Kapan saja seorang murid Yesus
menerima panggilan Illahi untuk membaktikan dirinya bagi pelayanan imamat atau hidup bakti, itu
berarti dia memberi suatu kesaksian tentang salah
satu hasil buah yang paling matang dari jemaat Kristen, yang membantu kita untuk melihat dengan iman
dan harapan secara istimewa masa depan Gereja dan
komitmennya terhadap tugas penginjilan. Tugas ini
memerlukan para pekerja yang baru untuk mewartakan Injil, untuk merayakan Ekaristi dan Sakramen
Rekonsiliasi. Jadi, semoga ada banyak imam yang
komit, yang mengerti bagaimana harus mendampingi
anak-anak muda sebagai “sahabat dalam perjalanan”,
membantu mereka dalam hidup yang penuh dengan
9
penderitaan dan kesukaran, membantu mereka
mengenal Kristus sebagai Jalan, Kebenaran dan
Hidup (bdk. Yoh. 14:6), sembari mengatakan kepada mereka bahwa dengan kekuatan Injil, sungguh
betapa indahnya melayani Allah, jemaat Kristiani,
dan melayani saudara-saudari. Semoga ada imamimam yang menghasilkan buah secara melimpah
berkat komitmen mereka yang penuh antusias, yang
berarti menujukkan kematangan hidup mereka,
karena didasarkan pada iman akan Kristus yang lebih
dahulu telah mengasihi kita (bdk. 1 Yoh. 4:19).
Demikian juga, saya berharap bahwa anakanak muda, yang telah dipenuhi oleh pelbagai pilihan
tidak penting, akan mampu menggali suatu keinginan terhadap apa yang sungguh-sungguh berharga,
demi tujuan-tujuan yang mulia, pilihan-pilihan yang
radikal, pelayanan demi banyak orang dalam mengikuti Yesus. Yang terkasih anak-anak muda, janganlah takut mengikuti Dia dan berjalan menyusuri
jalan-jalan kasih yang menuntut suatu keberanian
dan komitmen yang tulus. Dengan cara tersebut,
kamu akan senang melayani, kamu akan menjadi
saksi suatu suka-cita yang tidak bisa diberikan oleh
dunia, kamu akan menjadi nyala yang hidup dari
kasih yang kekal-abadi dan tak terpermanai, kamu
akan belajar “memberi suatu pengharapan yang ada
padamu” (1 Pet. 3:15)!
Dari Vatikan, 6 Oktober 2012
10
11
Homili
Minggu Paskah IV C/2013
Kis 13:14.43-52 Why 7:9.14b-17 Yoh 10:27-30
Tuhanlah Gembalaku
PENGANTAR
Dalam Injil Yohanes (Yoh 21:15-19), hari
Minggu yang lalu, sebelum Yesus mengangat Petrus untuk
melanjutkan tugas-Nya sebagai Gembala, Ia ingin mengetahui kesungguhan kasihnya kepada diri-Nya. Pada
dasarnya Yesus mau menegaskan, bahwa kepemimpinan apapun, yang diungkapkan secara simbolis dalam
bentuk penggembalaan kawanan domba, harus berlandaskan pada kasih. Gembala yang baik adalah gembala
yang mengasihi dombanya, seperti Kristus yang mengasihi domba-domba-Nya, sampai Ia rela mengorbarkan hidup-Nya bagi mereka. Injil hari ini menerangkan
maksud apa sebenarnya bersikap dan berbuat sebagai
gembala.
HOMILI
Sejak dalam Perjanjian Lama tokoh-tokoh pemimpin Israel digambarkan sebagai gembala. Misalnya
leluhur mereka seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Juga
pemimpin bangsa, misalnya Musa dan Daud. Dalam
Mazmur yang disukai orang didoakan: “Tuhanlah gembalaku” (Mzm 23). Kemudian dalam Perjanjian Baru
Yesus sendiri meneruskan gambaran tentang gembala itu
pada diri-Nya sendiri (lih. Yoh 10:1-21).
Dalam Injil pendek hari ini (Yoh 10:27-30)
dikemukakan dua ciri khas Yesus sebagai Gembala. Pertama : gembala dan domba saling mengenal.
12
“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, Aku
mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku”.
Dengan demikian ada hubungan erat antar mereka.
Kedua: gembala memberikan hidupnya kepada
mereka dan demi mereka! Tiada orang atau apapun lainnya bisa memisahkan mereka. Dombadomba merasa aman, mereka adalah sasaran kasih dan
keprihatinan gembalanya, bukan sekadar sebagai hal-hal
yang harus diurus dan dipelihara belaka. Segala perhatian gembala tertuju kepada kawanan dombanya.
Apa pesan Injil hari ini kepada kita?
Dalam Injil hari ini kita diperkuat iman kepercayaan kita! Kita percaya akan kasih Allah Bapa kita
sebagai Gembala Agung, seperti terbukti dalam diri Yesus
Putera-Nya! Apa pun dan bagaimana pun keadaan kita,
dengan segala kelemahan dan kekekurangannya, Allah
Bapa dan Putera-Nya adalah Gembala kita, yang selalu
bisa dipercaya sepenuhnya.
Kiranya ajaran dan pesan, yang disampaikan Yesus di dalam Injil Yohanes hari ini, dapat kita
pahami dalam khotbah Paus Benediktus XVI dalam Misa
Peresmian Jabatan Pelayanan Penggembalaannya sebagai
Wakil Kristus, di Roma tgl. 24 April 2005. Dalam homilinya sebagai Wakil Kristus seperti Petrus, Paus berkata:
“Salah satu ciri dasar seorang gembala ialah
mengasihi umat yang dipercayakan kepadanya,
sama seperti ia mengasihi Kristus, yang dilayaninya.
‘Gembalakan domba domba-Ku‘, kata Kristus kepada
Petrus. Dan sekarang ini Kristus mengatakannya pula
kepadaku. Menggembalakan berarti mengasihi, dan
mengasihi juga berarti bersedia menderita. Mengasihi
berarti memberikan kepada domba apa yang sungguh
baik, santapan kebenaran Allah, Sabda Allah, santapan
kehadiran-Nya, yang diberikan-Nya kepada kita dalam
Sakramen Mahakudus”.
13
Paus Benediktus XVI selanjutnya mengatakan, bahwa perumpamaan tentang gembala
itu adalah gambaran tentang Kristus dan Gereja
serta masyarakat. Umat manusia di dunia ini
sering tidak tahu arah hidupnya, bagaikan domba yang
hilang di tengah padang gurun. Putera Allah tak mau
melihat dan membiarkan umat manusia hilang
terlantar. Maka Ia meninggalkan kemuliaan-Nya
di Surga dan turun ke bumi mencari manusia yang
hilang, sampai Ia rela diadili dan mati di salib. Itulah
gambaran gembala yang baik!
Pengembalaan semacam inilah yang harus
merupakan cita-cita setiap gembala. Imam dalam
Gereja Katolik disebut pastor, karena gembala dalam
bahasa Latin adalah “pastor”. Tetapi model gembala yang baik bukan hanya berlaku bagi imam atau
pastor, dalam arti yang dikenal umat. Menjadi
gembala yang baik berlaku bagi setiap orang yang
berperan sebagai pemimpin, pendamping, “leader”,
pembesar, termasuk kepala rumah tangga! Kebesaran pembesar adalah kasih dan pelayanannya!
Pada akhir homilinya Paus Benediktus XVI
berkata: “Doakan saya, supaya makin mengenal dan
mengasihi domba-domba Kristus dengan semakin
baik. Doakan saya, supaya saya tidak melarikan
diri karena takut terhadap serigala yang menyerang
domba-domba Kristus. Mari kita saling mendoakan”.
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
www.imankatolik.or.id
14
15
Kekudusan Hakekat
Panggilan Imam
Imam berasal dari umat dan untuk umat, maka
kesuburan panggilan imamat tergantung dari kwalitas
kehidupan umat Allah atau keluarga-keluarga Katolik
sebagai tempat munculnya benih-benih panggilan maupun
pemekaran benih panggilan.
Kami berharap kepada segenap umat, khususnya
keluarga-keluarga katolik untuk mendukung promosi
panggilan imam. Salah satu ciri khas kepribadian yang
hendaknya diusahakan adalah ‘to man/woman with/for
others’, pribadi yang peka akan kebutuhan sesamanya.
Kami percaya pada masa kini adanya gerakan atau paguyuban doa bersama untuk mendukung panggilan imam.
Namun kami juga berharap kepada keluarga-keluarga
Katolik untuk dengan rela dan bangga jika satu atau dua
anaknya yang terbaik terpanggil untuk menjadi imam,
bruder atau suster. Hendaknya jangan terjadi: kita berdoa bagi suburnya panggilan, namun anak saya yang baik
ingin menjadi imam, bruder atau suster dilarang.
Mereka yang telah terpanggil menjadi imam,
bruder atau suster, hendaknya juga berpartisipasi dalam
promosi panggilan. Cara utama dan pertama-tama untuk
promosi panggilan adalah kesaksian hidup terpanggil.
Maka baiklah secara khusus kami ingatkan rekan-rekan
imam untuk merenungkan dan menghayati ajaran ini,
yaitu “Panggilan imam itu pada hakekatnya panggilan untuk kekudusan, dalam corak yang sesuai dengan Sakramen
Tahbisan. Kekudusan berarti bermesraan dengan Allah,
16
mengikuti Kristus yang miskin, murni dan rendah hati.
Kekudusan itu cintakasih tanpa syarat terhadap jiwajiwa, dan penyerahan diri sendiri untuk mereka dan demi
kesejahteraan mereka yang sejati. Kekudusan berarti
mengasihi Gereja yang suci dan menghendaki kita menjadi
suci, karena itulah misi yang dipercayakan oleh Kristus
kepadanya. Anda masing-masing harus menjadi kudus
pula untuk membantu saudara-saudari Anda menempuh panggilan mereka menuju kesucian” (Paus Yohanes
Paulus II: Anjuran Apostolik, Pastores Davo Vobis,
25 Maret 1992, no 33)
“Saudara-saudaraku yang terkasih, sekarang kita
adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan
kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus
menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia,
sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah
suci.” (1Yoh 3:2-3)
Yang dimaksudkan dengan ‘anak-anak Allah’ tidak
lain adalah kita semua yang sungguh mempersembahkan
atau membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, yang
senantiasa menaruh pengaharapan kepada-Nya maupun “menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci”.
Maka marilah kita sebagai umat beriman, entah keyakinan atau agamanya apapun, kami ajak untuk bekerjasama
mengusahakan kesucian hidup kita, bermesraan dengan
Allah kapan pun dan dimana pun dalam hidup seharihari. Secara khusus bagi umat Katolik yang memiliki
pelindung santo atau santa, kami harapkan hidup dan
bertindak meneladan santo atau santa yang menjadi
pelindungnya.
Ketika kita dilahirkan di dunia ini masing-masing
dari kita kiranya dilahirkan dalam keadaan suci adanya,
dan memang begitu. Kita tumbuh berkembang menjadi
17
dewasa. Namun seiring dengan pertambahan usia, ternyata kesucian tersebut terus mengalami erosi. Maka jika
di dalam diri kita ada apa yang baik, mulia, suci, benar
dan seterusnya, kiranya sungguh merupakan anugerah
Allah. Marilah kita renungkan atau refleksikan kutipan
ini, yaitu bahwa “keselamatan tidak ada di dalam siapa
pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit
ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia
yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12).
Menaruh pengharapan kepada Allah berarti juga
mendambakan selamat dari Allah. Jika kita sungguh mendambakan selamat baik lahir maupun batin, fisik maupun
spiritual, hendaknya kita senantiasa setia melaksanakan
atau menghayati Sabda-Nya sebagaimana tertulis di dalam
Kitab Suci. Cukup menarik bahwa kitab itu disebut suci,
yang berarti isinya memang suci dan siapapun yang melaksanakan isi kitab suci berarti berusaha untuk menjadi
suci. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita
semua untuk rajin dan setia membaca dan merenungkan
sabda-sabda yang tertulis di dalam Kitab Suci.
“Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah
menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku. Batu
yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN,
suatu perbuatan ajaib di mata kita. Diberkatilah dia yang
datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu
dari dalam rumah TUHAN.” (Mzm 118:21-23.26)
Ig. Sumaryo, SJ
18
19
HARI DOA SEDUNIA
UNTUK PANGGILAN
KE-50
21 APRIL 2013
PERAYAAN EKARISTI
DAN
IBADAT SABDA TANPA IMAM
TEMA :
Panggilan Sebagai Suatu
Tanda Harapan Berdasarkan Iman
20
PERAYAAN EKARISTI
DAN
IBADAT SABDA TANPA IMAM
PERSIAPAN
Dibawakan oleh pemandu acara orang dewasa atau seorang
anak remaja.
Saudara-saudari, umat beriman terkasih,
Memiliki harapan berarti sama dengan percaya
kepada Tuhan yang adalah setia, yang selalu memelihara perjanjian-Nya. Iman dan harapan berkaitan
erat. “Harapan” adalah sebuah kata kunci dalam iman.
Hari ini adalah Hari Minggu IV dalam masa
Paskah, yang dikenal sebagai Hari Minggu Gembala
Baik. Selain itu, bahwa hari ini juga Gereja merayakan Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ke-50. Paus
Benediktus XVI mengajak seluruh umat beriman
Katolik untuk merenungkan tema : “Panggilan Sebagai Suatu Tanda Harapan Berdasarkan Iman”. Pada
kesempatan hari ini, secara bersama-sama kita berdoa mohon panggilan khusus dan berdoa bagi mereka yang terpanggil sebagai imam, bruder, dan suster.
21
Saudara-saudari terkasih,
Dalam Injil yang akan kita dengar hari ini
Yesus berkata, ”Domba-domba-Ku mendengarkan
suara-Ku; Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku” (Yoh 10 : 27).
Suara Yesus yang lembut dan memikat membuat
banyak orang datang dan ingin mendengarkan
suara-Nya. Yesus menjadi seorang Gembala yang
berwibawa, lemah-lembut dan penuh kasih, sehingga
domba-domba-Nya tertarik untuk mendengarkan
suara-Nya dan mengikuti-Nya dengan setia.
Pada Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ke-50
ini, marilah kita mendengarkan suara Sang Gembala
Agung seraya berdoa mohon panggilan, agar melalui
Sabda yang kita dengarkan hari ini, semakin banyak
orang yang berani menyerahkan diri untuk mengikuti jejak Gembala Agung kita. Dalam doa kita berharap agar tumbuh benih-benih panggilan, karena
Dia yang memanggil adalah Cinta.
Mari kita menyiapkan hati untuk memulai perayaan suci ini dengan menyanyikan lagu
pembuka : ...
22
RITUS PEMBUKA
Perarakan Masuk
Barisan Imam, Biarawan-biarawati, Misionaris dan Petugas liturgi
lain berarak menuju altar diiringi lagu pembuka. Dapat disertakan barisan anak-anak/remaja dengan me genakan busana seperti
Uskup, Imam atau Suster.
Pengantar (oleh Imam/Pemimpin Ibadat)
Saudara-saudara terkasih,
Hari Minggu Paskah ke-4, Gereja menetapkan dan merayakan sebagai Hari Doa Sedunia untuk
Panggilan. Pada Hari ini, Bapa Suci Paus Benediktus
XVI, mengundang kita semua, secara pribadi, maupun bersama-sama dalam keluarga, Komunitas Basis Gerejawi, Paroki dan Keuskupan, untuk berdoa
mohon panggilan khusus. Kita berdoa bagi anakanak, remaja dan juga kaum muda semoga ada banyak dari mereka yang bersedia menjawab panggilan
Tuhan secara khusus.
Paus Benediktus XVI, secara khusus mempertanyakan tentang makna kehidupan kepada kaum
muda, beliau mengatakan: “Akan menjadi apakah
hidupmu kalau tanpa Kasih Allah?”. Semoga pertanyaan Bapa Suci ini dapat menjadi bahan refleksi bagi
kita semua. Karena kita tahu bahwa, “Allah memelihara pria dan wanita sejak penciptaan hingga akhir
zaman, ketika Dia akan membawa rencana keselamatan sampai kepada kepenuhannya. Di dalam
Tuhan yang bangkit, kita memiliki harapan yang
pasti” (Sambutan kepada kaum muda Keuskupan San
Marino, Montefeltro, 19 Juni 2011).
23
Tobat
I = Imam P = Pemimpin Ibadat
I/P Tuhan Yesus Kristus,
Engkau berkata: ”Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka”
Tuhan, kasihanilah kami
U Tuhan, kasihanilah kami.
I/P Tuhan Yesus Kristus,
Engkau berkata : ”Aku memberikan hidup yang
kekal kepada mereka dan mereka tidak akan binasa.”
Kristus, kasihanilah kami.
U Kristus kasihanilah kami.
I/P Tuhan Yesus Kristus, Gembala Baik.
Engkau berkata : ”Aku dan Bapa adalah satu.”
Tuhan, kasihanilah kami.
U Tuhan, kasihanilah kami.
I/P Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani
kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita
ke hidup yang kekal.
U Amin.
24
Doa Pembuka
I/P Marilah kita berdoa :
Allah, Bapa kami Yang Mahabaik,
Engkau telah mengutus Yesus Putra-Mu untuk
menjadi gembala kami.
Dia mengenal kami, mencintai kami, bahkan telah memberikan hidup-Nya sendiri
untuk keselamatan kami. Semoga kami
mampu meneladani hidup-Nya untuk melaksanakan karya perutusan Gereja dan berani
memberikan diri kami demi kesejahteraan
hidup saudara-saudari kami yang sangat
memerlukan pelayanan kasih kami. Kami
berdoa juga untuk anak-anak, remaja dan kaum
muda, semoga mereka membuka hati dan
berani menjawab panggilan-Mu secara khusus.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu,
Tuhan kami...
U Amin.
25
LITURGI SABDA
Bacaan I : Kis 13 : 14. 43 – 52
Kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain
Pada suatu hari Paulus dan Barnabas melanjutkan perjalanan dari Perga, lalu tiba di Antiokhia di
Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah
ibadat, lalu duduk di situ. Setelah selesai ibadat,
banyak orang Yahudi dan penganut agama Yahudi
yang takut akan Allah mengikuti Paulus dan Barnabas. Kedua rasul itu lalu mengajar dan menasehati
mereka supaya tetap hidup di dalam kasih karunia
Allah.
Pada hari Sabat berikutnya berkumpul lah
hampir seluruh kota itu untuk mendengar Firman
Allah. Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat
orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati,
dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang
dikatakan Paulus. Tetapi dengan berani Paulus dan
Barnabas berkata, ”Memang kepada kamulah Firman Allah harus diberitakan lebih dahulu!. Tetapi
kamu menolaknya, dan menganggap dirimu tidak
layak beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Sebab inilah yang
diperintahkan kepada kami : Aku telah menentukan
engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang
tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa
keselamatan sampai ke ujung bumi.” Mendengar itu,
bergembiralah semua orang yang tidak mengenal
Allah, dan mereka memuliakan Firman Tuhan. Dan
semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup
yang kekal, menjadi percaya. Lalu Firman Tuhan
26
disiarkan di seluruh daerah itu. Tetapi orang-orang
Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesar-pembesar di
kota itu.
Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu
kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu,
lalu pergi ke Ikonium. Dan murid-murid di Antiokhia penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus.
L : Demikianlah sabda Tuhan
U : Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Antarbacaan – Mzm 100 :2.3.5; R : 3c
Ref : Kita ini umat-Nya dan kawanan domba
gembalaan-Nya.
• Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita,
datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!
• Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah;
Dialah yang menjadikan kita, dan punya
Dia-lah kita;
kita ini umat-Nya dan kawanan domba
gembalaan-Nya.
• Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk
selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun
temurun.
27
Bacaan II : Why 7:9. 14b-17
Anak Domba akan menggembalakan mereka,
dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan
Aku, Yohanes, mendapat penglihatan sebagai
berikut: Nampaklah suatu kumpulan besar orang
banyak yang tidak terhitung banyaknya, dari segala
bangsa dan suku, kaum dan bahasa. Mereka berdiri
di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem
di tangan mereka. Lalu seorang dari antara tua-tua itu
berkata kepadaku, ”Mereka ini adalah orang-orang
yang keluar dari kesusahan besar. Mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam
darah Anak Domba. Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan siang malam melayani Dia di
Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu
akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.
Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi;
matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah
takhta itu akan menggembalakan mereka, dan akan
menuntun mereka ke air kehidupan. Dan Allah akan
menghapus segala air mata dari mata mereka.”
L : Demikianlah Sabda Tuhan
U : Syukur kepada Allah
28
Alleluya dan Bait Pengantar Injil
Alleluia, Alleluia
Akulah gembala yang baik, sabda Tuhan.
Aku mengenal domba-domba-Ku,
dan domba-domba-Ku mengenal Aku.
Alleluia, Alleluia
Bacaan Injil : Yoh 10 : 27 – 30
Aku memberikan hidup yang kekal
kepada domba-domba-Ku
Pada suatu hari Yesus berkata kepada orangorang Farisi, ”Domba-domba-Ku mendengarkan
suara-Ku; Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku. Aku memberikan hidup yang kekal kepada
mereka, dan mereka pasti tidak akan binasa sampai
selama-lamanya, dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku yang memberikan mereka kepada-Ku lebih besar daripada siapa
pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka
dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.”
L : Demikianlah Injil Tuhan.
U : Terpujilah Kristus.
Homili
• Pengkhotbah dapat melihat pokok permenungan dari :
Pesan Paus, pesan Injil, semangat dan nilai-nilai misioner
Serikat St. Petrus Rasul dari pendirinya Jeanne Bigard,
dan renungan yang disiapkan.
29
• Khotbah dapat berbentuk dialog/wawancara dan kesaksian
dari imam, bruder, frater, suster, keluarga yang anaknya
diutus menjadi misionaris.
Doa Umat
Imam/Pemimpin :
Allah Bapa Yang Mahakasih,
Yesus, Putra-Mu bersabda, ”Domba-domba-Ku
mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka,
dan mereka mengikut Aku”. Ya Bapa, bantulah kami
untuk senantiasa mendengarkan suara Putra-Mu
terkasih, karena Ia akan membimbing kami pada
jalan kebenaran dan keselamatan. Kini kami
datang kepada-Mu untuk menyampaikan doa-doa
permohonan kami dengan pengantaraan-Nya.
1. Bagi Sri Paus, para uskup dan para imam,
Semoga Sri Paus, para uskup, para imam, para
gembala yang Engkau pilih menjadi gembalagembala yang baik, yang mengenal dombadombanya, serta melayani dengan kasih tanpa
pamrih.
Marilah kita mohon...
2. Bagi pemimpin negara dan bangsa di dunia,
Semoga para pemimpin negara dan bangsa di
dunia selalu menghargai dan mendengarkan
suara jeritan kaum tertindas dan memperjuangkan nilai-nilai kehidupan yang adil, rukun dan
damai bagi semua umat manusia.
Marilah kita mohon...
3. Bagi para misionaris,
Semoga para misionaris, para imam, biarawanbiarawati, awam, petugas pastoral dengan penuh
30
setia untuk menyuarakan
kebenaran dan
keadilan serta mampu membimbing umat-Mu
pada jalan kebenaran dan keselamatan.
Marilah kita mohon...
4. Bagi anak-anak misioner,
Semoga para misionaris cilik sanggup mendengarkan suara-Mu dan berani menjawab panggilan-Mu
untuk menjadi imam, bruder dan suster. Bantulah
orangtua, para pendamping untuk setia membimbing para misionaris cilik, semoga apa yang mereka
taburkan dalam hati anak-anak bisa tumbuh subur
dan menghasilkan buah berlimpah.
Marilah kita mohon...
5. Bagi umat yang hadir dalam perayaan ini,
Semoga kami umat-Mu yang hadir dalam
perjamuan suci (ibadat) ini, siap menanggapi
panggilan dan perutusan-Mu untuk memberikan hidup bagi sesama kami yang sangat memerlukan bantuan cinta kami.
Marilah kita mohon…
Imam/Pemimpin
Allah Bapa Yang Mahakasih,
Terimalah doa-doa permohonan yang kami panjatkan kepada-Mu dengan penuh iman. Semoga kami
mendengarkan suara-Mu yang penuh kasih sehingga
kami pun dapat menjadi saksi-saksi cinta-Mu, untuk
menyuarakan kebenaran dan keselamatan dalam
kehidupan ini. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara
kami.
U : Amin.
31
LITURGI EKARISTI
Persiapan Persembahan
Persiapan persembahan diawali dengan kolekte. Wakilwakil umat/anak-anak dan remaja mengantar kepada Imam
bahan-bahan persembahan: roti dan anggur, hasil karya
tangan dan usaha manusia. Kolekte Hari Doa untuk Panggilan akan diserahkan ke Roma untuk membantu calon imam
pribumi di seluruh dunia, terlebih seminari-seminari yang
sangat membutuhkan.
Doa Persembahan
Imam /Pemimpin:
Allah Bapa, sumber kebahagian hidup kami,
Di altar suci ini, kami menaruh persembahan
karya tangan kami yang sederhana sebagai
ungkapan syukur dan pujian kami bagi-Mu. Baruilah seluruh hidup, panggilan dan perutusan kami
agar menjadi tanda yang menghidupkan dan menyelamatkan banyak orang.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U : Amin
Doa Sesudah Komuni
Iman/Pemimpin :
I : Marilah berdoa :
Allah Bapa Yang Mahakudus, kami bersyukur
kepada-Mu atas Yesus Putera-Mu, yang telah
mengorbankan hidup-Nya demi kebahagiaan
kami. Semoga Roh-Nya menghimpun kami menjadi satu umat, menjadi Gereja-Mu, yang memancarkan cahaya pembebasan bagi semua orang di
dunia, sampai saatnya Engkau menjadi segalanya
bagi semua orang. Demi Kristus.....
U : Amin
32
RITUS PENUTUP
Amanat Pengutusan
• Imam/Pemimpin menyampaikan ucapan Proficiat,
Selamat Berbahagia kepada seluruh umat, sambil mengajak umat untuk terus berdoa dan berharap akan tumbuhnya panggilan-panggilan pribumi.
• Juga mengingatkan umat akan keluhuran panggilan
kristiani untuk melayani misi Gereja dengan memberikan hidup yang berlimpah bagi banyak orang.
Perarakan Keluar
Di depan pintu Gereja atau di tempat yang disiapkan umat
dapat memberikan salam kepada imam, biarawan-biarawati,
misionaris yang hadir sebagai tanda dukungan terhadap
panggilan mereka dan mengetuk hati kaum muda , remaja
dan anak-anak untuk memilih jalan panggilan khusus ini.
33
34
Bahan Temu Bina Iman Anak
Domba-Ku Mendengarkan
Suara-Ku
PEMBUKA
1. Lagu Pembuka
Dengar Dia Panggil Nama Saya (HPN 28)
2. Tanda Salib (✝)
Gaya SEKAMI
3. Pengantar
Hari ini adalah Hari Minggu Paskah
ke-4, kita merayakan Hari Doa Sedunia untuk
Panggilan atau sering disebut dengan Minggu
“Gembala Baik.” Pertemuan kita kali ini bertemakan : “Domba-Ku Mendengarkan SuaraKu” (Yoh 10:27).
Pada kesempatan ini pula, kita akan berdoa
bagi anak-anak, remaja dan kaum muda. Semoga
diantara mereka ada yang dipanggil secara khusus menjadi imam, biarawan-biarawati. Kita juga
berdoa bagi mereka yang sudah terpanggil men jadi
imam, frater, bruder dan suster. Semoga mereka
semua tetap setia pada panggilan mereka
masing-masing.
35
4. Doa Pembuka
Yesus Gembala Yang Baik, kami bersyukur kepada-Mu, karena Engkau telah memanggil kami. Bantulah kami untuk senantiasa
mendengarkan suara-Mu dan mengikuti Engkau
dengan setia. Jadikanlah kami anak-anak-Mu
yang patuh pada orangtua, dan mendengarkan
nasihat-nasihat mereka. Semua ini kami mohon
dengan perantaraan Kristus Tuhan dan Gembala
kami. Amin.
PENDALAMAN MATERI
1. Permainan “Domba dan Gembala”
Seorang anak dipilih untuk menjadi gembala
sedangkan anak yang lain menjadi domba.
Mata gembala ditutup dengan selembar kain,
sedangkan para domba berjongkok di tempat
yang berbeda-beda.
Gembala berusaha mencari domba-dombanya.
Sementara domba-domba harus mengembik.
Gembala harus menangkap salah satu domba
dan menyebutkan nama domba itu dengan
benar. Bila tidak tertebak, gembala harus mencari domba yang lain.
2. Refleksi Permainan
1. Bagaimana kesanmu terhadap permainan tadi?
Mengapa?
2. Apa yang kamu rasakan saat menjadi gembala?
(ditujukan kepada anak yang menjadi gembala)
Sulitkah mengenal suara temanmu tadi?
3. Bagaimana perasaanmu (domba-domba) saat
•
•
•
•
36
temanmu dapat menyebut namamu dengan benar?
(ditujukan pada anak yang tertebak namanya oleh
gembala).
4. Bagaimana perasaanmu (domba-domba) saat
temanmu salah menyebut namamu? (ditujukan
pada anak yang tidak tertebak namanya).
3. Lagu
Tuhan Engkau Gembala Kami (HPN N0.385).
4. Pembacaan Injil: Yoh 10 : 27 – 30
Dibaca secara berganti-gantian antara anak putra
dan putri.
Aku memberikan hidup yang kekal
kepada domba-domba-Ku
Yoh 10 : 27 – 30
Pada suatu hari Yesus berkata kepada orangorang Farisi, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka, dan
mereka mengikut Aku. Aku memberikan hidup
yang kekal kepada mereka,
28.
dan mereka pasti tidak akan binasa sampai
selama-lamanya, dan seorang pun tidak akan
merebut mereka dari tangan-Ku.
29.
Bapa-Ku yang memberikan mereka kepadaKu lebih besar daripada siapapun, dan seorang
pun tidak dapat merebut mereka dari tangan
Bapa.
30.
Aku dan Bapa adalah satu.
L : Demikianlah Injil Tuhan
U : Terpujilah Kristus
27.
37
5. Tanya Jawab
a. Siapakah yang dimaksudkan dengan ”dombadomba” dalam bacaan tadi? (kita umat-Nya).
b. Siapakah ”gembala” domba-domba itu?
(Tuhan Yesus).
c. Bagaimana hubungan Yesus dengan dombadomba-Nya? (Akrab, dekat; Yesus mengenal
domba-domba-Nya).
d. Apa yang Yesus berikan bagi domba-dombaNya? (hidup kekal).
e. Bagaimana sikap domba pada Gembala-Nya?
(domba mau mengikuti Gembalanya).
f. Perlukah domba berterima kasih kepada
gembala? (Perlu) Mengapa? (Karena Gembala
menjaga domba-Nya dengan baik dan memberikan hidup kekal). Bagaimana caranya?
(”Setia” mengikuti Yesus Sang Gembala baik).
6. Peneguhan
Yesus mengatakan, “Domba-domba-Ku
mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal
mereka dan mereka mengikut Aku.” (Yoh 19:27).
Yesus adalah figur Gembala yang baik. Ia mengenal, menjaga, memperhatikan, dan mencintai domba-domba-Nya, dan tidak membiarkan
domba-Nya tersesat, bahkan hilang. Gembala
yang baik berani mengorbankan diri-Nya demi
domba-domba-Nya.
Begitu pula sebaliknya, domba-dombaNya mengenal dan mendengarkan suara-Nya,
serta mengikuti-Nya.
Yesus adalah contoh Gembala yang baik
38
dan kita adalah domba-domba-Nya. Kita harus
menuruti apa yang diajarkan oleh Gembala kita,
Yesus Kristus. Yesus sang Gembala telah memberikan teladan bagi kita umat-Nya.
Sikap yang perlu kita tampilkan sebagai domba-domba-Nya adalah sikap percaya
dan setia kepada-Nya. Kita harus belajar untuk
mendengarkan suara-Nya dan mengikuti-Nya.
Saat ini kita semua diundang untuk mengikuti sang Gembala, karena Ia akan menuntun kita
semua pada jalan kebenaran dan keselamatan.
PERAYAAN IMAN
1. Doa : Tuhanlah Gembalaku (Mzm 23)
Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membaringkan aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
aku tidak takut bahaya,
sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu,
itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku,
di hadapan lawanku;
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;
pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku,
seumur hidupku;
dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.
Amin.
39
2. Doa Permohonan
1. Bagi Anak-anak, Remaja dan Kaum muda
Semoga banyak anak-anak, remaja dan kaum muda
mampu mendengarkan suara-Mu yang lembut, dan
pada akhirnya mereka berani menjawab panggilanMu secara khusus serta meneladani Engkau sebagai
Gembala yang baik.
Marilah kita mohon...
2. Bagi para Pastor, Suster, Bruder dan Frater.
Ya Tuhan, kami berdoa untuk para Pastor, Suster,
Bruder, dan Frater. Berilah mereka kesehatan serta
iman yang kuat agar dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik, terutama menuntun kami umatnya.
Marilah kita mohon ...
3. Bagi Orangtua kami
Ya Tuhan, kami bangga mempunyai ayah dan ibu
yang menyayangi kami. Semoga mereka semua dapat melakukan tugas pokoknya yakni memperhatikan anak-anaknya.
Marilah kita mohon ...
4. Bagi kami Anak Misioner
Ya Tuhan, semoga kami Anak Misioner giat dalam
usaha kami sehari-hari sebagai tanda kami mengikuti-Mu. Bantulah kami agar selalu mendengarkan
suara-Mu dan tetap setia kepada-Mu.
Marilah kita mohon ...
3. Doa :
Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan
4. Kolekte/Derma :
diiringi lagu ”Aku Datang Pada-Mu”
40
PENUTUP
1. Tugas Perutusan
2. Doa Penutup
Ya Bapa, kami berterima kasih kepada-Mu, karena
Engkau telah mengutus Putera-Mu menjadi Gembala
kami. Bantulah kami agar kami boleh menjadi domba
yang baik di tengah keluarga dan di tengah teman-teman
kami di mana saja kami berada. Demi Kristus Tuhan
kami. Amin.
3. Pengumuman
4. Tanda Salib (gaya SEKAMI)
5. Lagu Penutup :
Tuhan adalah Gembalaku (HPN No. 114).
41
Berdoa Mohon Panggilan
Pada kesempatan Hari Doa Sedunia untuk
Panggilan ini, semua umat beriman bersatu dalam
doa untuk panggilan imamat, untuk hidup bakti, dan
untuk pelayanan misioner. Oleh karena itu, kewajiban
kita yang utama adalah berdoa kepada “Tuan yang
empunya panenan” bagi mereka yang akan dan telah
mengikuti Kristus dari dekat dalam imamat dan hidup
religius, dan juga bagi mereka yang terus-menerus dipanggil dalam belaskasih-Nya untuk pelayanan misi
Gereja Universal.
Untuk itu marilah kita berdoa:
42
Ya Yesus Putera Allah,
Engkau lah yang diutus oleh Bapa
kepada umat manusia
di segala penjuru bumi,
Kami berseru kepada-Mu melalui Maria,
Bunda-Mu dan Bunda kami,
Semoga Gereja tak berkekurangan panggilan,
terutama untuk mengabdikan diri secara khusus
demi Kerajaan-Mu.
Ya Yesus,
Engkaulah satu-satunya Penyelamat bagi umat manusia,
Kami berdoa untuk saudara-saudari kami
yang telah menjawab “ya” atas panggilan-Mu
dalam imamat, hidup bakti dan misi.
Semoga hidup mereka diperbaharui dari hari ke hari
menjadi Injil yang hidup.
Tuhan yang berbelas kasih dan kudus,
utuslah senantiasa
Para pekerja yang baru ke ladang panenan Kerajaan-Mu!
Bantulah mereka yang Kaupanggil
untuk mengikuti-Mu di Zaman kami ini,
Semoga dengan mengkontemplasikan wajah-Mu,
mereka dengan gembira menanggapi misi agung
yang Kau percayakan kepada mereka
demi kebaikan umat-Mu,
dan kebahagiaan semua manusia
Engkaulah Allah yang hidup dan berkuasa
bersama Bapa dan Roh Kudus
kini dan sepanjang masa.
Amin.
43
44
Download