Modul Pancasila [TM9]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Perbandingan Ideologi Pancasila
dengan Ideologi lain
(Perbandingan Ideologi Pancasila dengan
Ideologi liberalism)
Modul
8
Perkuliahan di
Universitas Mercu Buana
Fakultas
Program Studi
MKCU
Manajemen
Tatap Muka
9
Kode MK
Disusun Oleh
MK
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Abstract
Kompetensi
Setelah perkualiahan ini
mahasiswa diharapan dapat
menganalisis Pancasila dalam
perbandingan dengan ideologi lain
Setelah pembahasan dalam modul
ini diharapkan mahasiswa dapat
memahami dan menganalisis
Pancasila dalam perbandingan
dengan ideologi lain
-
Pancasila dan Liberalisme
Pancasila dengan Fasisme
Pancasila dengan Komunis
A. Perbandingan Ideologi Pancasila dengan Ideologi liberalism
Politik liberalisme berpengaruh terhadap perkembangan paham demokrasi dan nasionalisme atas
bangsa-bangsa di dunia. Setiap individu mempunyai hak untuk menjalankan kepentingan yang
diwujudkan dalam sistem demokrasi liberal sehingga melahirkan fungsi parlemen sebagai lembaga
pemerintahan rakyat. Seterusnya, pemilihan umum dilakukan untuk memilih para anggota parlemen,
dan setiap orang berhak memberikan satu suara. Dalam pemilu sering terjadi persaingan mencari
kekuasaan politik. Masuknya seseorang menjadi anggota parlemen otomatis akan berpengaruh
terhadap penetapan undang-undang atau jatuh bangunnya sebuah kabinet.
Bagi bangsa yang sedang terjajah, liberalisme sejalan dengan pertumbuhan paham
nasionalisme yang sama-sama menginginkan terbentuknya negara yang berpemerintahan sendiri.
Kesadaran tersebut tumbuh karena setiap bangsa memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dalam bidang agama, penerapan paham liberalisme berarti bahwa setiap individu bebas
memilih dan menentukan agamanya sendiri. Hal ini sangat berbeda, misalnya situasi pada masa
sebelum terjadinya Reformasi Gereja masyarakat Eropa diwajibkan untuk memeluk agama yang
dianut rajanya. Selain itu, liberalisme di bidang agama ini menghendaki adanya kebebasan berfikir
individu. Artinya, individu mempunyai hak untuk mengungkapkan ekspresinya dan bukan berdasar
atas kehendak gereja. Gejala tersebut pada akhirnya melahirkan Reformasi Gereja yang kemudian
memunculkan agama baru, yaitu Kristen Protestan.
Di bidang pers, politik liberalis memungkinkan seorang wartawan bebas memuat berita apa pun yang
ia ketahui, sementara para sastrawan bebas mengeluarkan pendapat dan ungkapan hatinya.
Masyarakat umum berhak membaca dan menilai sendiri tulisan-tulisan para wartawan dan sastrawan
tersebut. Demikian artikel yang menjelaskan definisi, ciri-ciri dan perkembangan paham liberalisme
di dunia.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah:
a. Apabila sekumpulan warganegara atau disuatu daerah merasa pemerintahan tidak
memperhatikan mereka maka mereka berhak untuk membentuk suatu Negara baru atau untuk
memisah dengan Negara tersebut dan menyatu dengan Negara lain dengan syarat penduduk di
daerah tersebut menyetujui dan Negara yang akan di jadikan Negara baru mereka juga
menerima mereka.
b. seorang wartawan/pers bebas memuat suatu berita baik itu berita yang berbau porno maupun
berita-berita yang bohong sebagai contoh di AmerikaSerikat ada seorang yang memuat beritaberita bohong seperti mengabarkan tentang hidup kembali raja pop dunia yaitu micheal
Jackson dan banyak lagi dimuat hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan dan situs web itu
sangat popular dinegaranya dan bahkan di Indonesia juga sering membuka situs itu dengan
tidak disengaja maupun disengaja dan membaca berita bohong tersebut,namun dalam Negara
tersebut tidak pernah membatasi apa yang mereka muat tersebut.
‘13
83
PENDIDIKAN PANCASILA
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Mengenai konsep liberalisme, dapat kita tarik beberapa pokok pemikiran yang terkandung di
dalamnya, sebagai berikut:
1. inti pemikiran : kebebasan individu
2. perkembangan : berkembang sebagai respons terhadap pola kekuasaan negara yang absolut,
pada tumbuhnya negara otoriter yang disertai dengan pembatasan ketat melalui berbagai
undang-undang dan peraturan terhadap warganegara.
3. landasan pemikirannya adalah bahwa menusia pada hakikatnya adalah baik dan berbudipekerti, tanpa harus diadakannya pola-pola pengaturan yang ketat dan bersifat memaksa
terhadapnya.
4. system pemerintahan (harus): demokrasi.
Sedangkan ciri-ciri Ideologi Liberalisme adalah:
1. Negara sebagai penjaga malam . Rakyat atau warganya mempunyai kebebasan untuk berbuat
atau bertindak apa saja asal tidak melanggar tata tertib hukum .
2. Kepentingan dan hak warganegara lebih diutamakan daripada kepentingan Negara . Negara
didirikan untuk menjamin kebebasan dan kepentingan warga Negara.
3. Negara tidak mencampuri urusan agama . Agama menjadi urusan pribadi setiap warganegaranya
.Negara terpisah dengan agama . Warganegara bebas beragama , tetapi bebas juga tidak
beragama.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari:
a. Seorang warga Negara bebas melakukan hubungan intim dengan syarat mereka telah berumur
18 tahun keatas(karena orang tersebut dianggap sudah dewasa setelah berumur 18 tahun).
b. Seorang warga Negara di perbolehkan memakai/menyimpan senjata berbahaya seperti pistol
dengan tujuan untuk berjaga jaga/untuk melindungi diri mereka.terkecuali mereka berada di
dalam tempat keramayan seperti di pesawat terbang(bandara),didalam kereta api,dll.
c. Seorang warganegara bebas untuk berkreasi sesuai dengan kemauan meraka walaupun hal itu
jika di Indonesia tergolong perbuatan yang sangat dilarang, sebagai contoh seseorang
membuat website tentang video2 porno online yang sangat banyak kita temui di situs-situs
luar negri seperti Negara amerika, namun hal tersebut di Negara mereka tidak dilarang karena
menurut pandangan Negara pekerjaan tersebut tidak melanggar undang-undang dan tidak
pernah yang merasa rugi dengan adanya situs tersebut.
Periode 1950-1959 disebut periode pemerintahan demokrasi liberal. Sistem parlementer dengan
banyak partai politik memberi nuansa baru sebagaimana terjadi di dunia Barat. Ketidakpuasan dan
gerakan kedaerahan cukup kuat pada periode ini, seperti PRRI dan Permesta pada tahun 1957
(Bourchier dalam Dodo dan Endah (ed), 2010: 40). Keadaan tersebut mengakibatkan perubahan yang
begitu signifikan dalam kehidupan bernegara. Pada 1950-1960 partai-partai Islam sebagai hasil
‘13
84
PENDIDIKAN PANCASILA
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pemilihan umum 1955 muncul sebagai kekuatan Islam, yaitu Masyumi, NU dan PSII, yang
sebenarnya merupakan kekuatan Islam di Parlemen tetapi tidak dimanfaatkan dalam bentuk koalisi.
Meski PKI menduduki empat besar dalam Pemilu 1955, tetapi secara ideologis belum merapat pada
pemerintah. Mengenai Pancasila itu dalam posisi yang tidak ada perubahan, artinya Pancasila adalah
dasar Negara Republik Indonesia meski dengan konstitusi 1950 (Feith dalam Dodo dan Endah (ed.),
2010: 40). Indonesia tidak menerima liberalisme dikarenakan individualisme Barat yang
mengutamakan kebebasan makhluknya, sedangkan paham integralistik yang kita anut memandang
manusia sebagai individu dan sekaligus juga makhluk sosial (Alfian dalam Oesman dan Alfian, 1990:
201). Negara demokrasi model Barat lazimnya bersifat sekuler, dan hal ini tidak dikehendaki oleh
segenap elemen bangsa Indonesia (Kaelan, 2012: 254). Hal tersebut diperkuat dengan pendapat
Kaelan yang menyebutkan bahwa negara liberal memberi kebebasan kepada warganya untuk
memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Namun dalam
negara liberal diberikan kebebasan untuk tidak percaya terhadap Tuhan atau atheis, bahkan negara
liberal memberi kebebasan warganya untuk menilai dan mengkritik agama. Berdasarkan pandangan
tersebut, hampir dapat dipastikan bahwa sistem negara liberal membedakan dan memisahkan antara
negara dan agama atau bersifat sekuler (Kaelan, 2000: 231). Berbeda dengan Pancasila, dengan
rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa telah memberikan sifat yang khas kepada negara Indonesia, yaitu
bukan merupakan negara sekuler yang memisah-misahkan agama dengan negara (Kaelan, 2000: 220).
Tentang rahasia negara-negara liberal, Soerjono Poespowardojo mengatakan bahwa kekuatan
liberalism terletak dalam menampilkan individu yang memiliki martabat transenden dan bermodalkan
kebendaan pribadi. Sedangkan kelemahannya terletak dalam pengingkaran terhadap dimensi sosialnya
sehingga tersingkir tanggung jawab pribadi terhadap kepentingan umum (Soeprapto dalam Nurdin,
2002: 40-41). Karena alasan-alasan seperti itulah antara lain kenapa Indonesia tidak cocok
menggunakan ideologi liberalisme.
B. Perbandingan Ideologi Pancasila dengan Ideologi sosialisme
Sejarah umat manusia memberikan suatu bukti secara jelas bahwa abad XX terjadi suatu persaingan
yang ketat antara ideologi liberal kapitalistik yang dimotori oleh Amerika Serikat dan ideologi
komunis yang dipimpin oleh Uni Soviet. Persaingan tersebut berkembang menjadi perang dingin,
dan dunia terpecah menjadi blok barat dan blok timur.
Mengantisipasi situasi tersebut, pada tahun 1955 beberapa pemimpin Negara Asia dan Afrika, yang
dimotori Bung Karno, menyelenggarakan konferensi negara-negara yang tidak terlibat blok barat atau
blok timur di Bandung dan melahirkan organisasi negara-negara non-blok. Tujuan organisasi ini
adalah menuntut terciptanya dunia yang adil sejahtera dan damai. Apabila kita cermati maka tujuan
tersebut tiada lain adalah tujuan yang ingin diwujudkan oleh Pancasila.
Sebagai langkah lebih lanjut dari perjuangan negara non-blok tersebut, pada tahun 1960-an Bung
Karno berpidato di depan PBB, dengan menawarkan suatu ideologi yang diharapkan dapat
memberikan keadilan dan kedamaian dunia. Ideologi tersebut adalah Pancasila, yang oleh bung Karno
‘13
85
PENDIDIKAN PANCASILA
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
disebut sebagai hogere optrekking dari Declaration of Independence USA dan Manifesto Partai
Komunis yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels.
Ternyata memasuki tahun 1990-an ideologi komunis mengalami kemerosotan yang luar biasa, atau
mungkin suatu kehancuran, hal ini disebabkan oleh sifat tertutupnya ideologi yang tidak mungkin
bertahan di era globalisasi. Sementara ini ideologi liberalisme yang memiliki ciri kebebasan dan
kesetaraan masih dapat bertahan serta tersebar di se-antero dunia. Namun perlu dicatat bahwa
masuknya liberalisme di beberapa negara berkembang menimbulkan kesukaran tersendiri, seperti
terjadinya kebebasan yang tidak terkendali. Sekularisme yang biasanya menyertai faham liberal ini di
beberapa negara berkembang yang berorientasi pada agama tertentu menjadi penghalang. Oleh karena
itu Pancasila yang merupakan ideologi terbuka dan memberikan peluang untuk beribadah sesuai
dengan agama masing-masing memberikan suatu solusi terhadap permasalahan tersebut.
Hal-hal pokok yang terkandung dalam Sosialisme, adalah:
a. inti pemikiran : kolektifitas (kebersamaan) (gotong royong)
b. filsafatnya : pemerataan dan kesederajatan bahwa pengaturan agar setiap orang
diperlakukan sama dan ada pemerataan dalm berbagai hal (pemerataan kesempatan kerja,
pemerataan kesempatan berusaha,dll)
c. landasan pemikiran : bahwa masyarakat dan juga negara adalah suatu pola kehidupan
bersama. Manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri, dan manusia akan lebih baik serta
layak kehidupannya jika ada kerja sama melalui fungsi yang dilaksanakan oleh Negara.
d. sistem pemerintahan (boleh): demokrasi, otoriter
Sosialisme sebagai suatu ideologi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mementingkan kekuasaan dari kepentingan Negara
2) Kepentingan Negara lebih diutamakan daripada kepentingan warga Negara.
3) Kebebasan atau kepentingan warga negara dikalahkan untuk kepentingan Negara
4) Kehidupan agama juga terpisah dengan Negara .warga negara bebas beragama , bebas
tidak beragama dan bebas pula untuk propaganda (anti-agama) .
Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah:
a. Apabila seorang warga Negara merasa tidak yakin akan semua agama karena mereka lebih
meyakini kepercayaan mereka bebas untuk tidak beragama karena disini Negara tidak
mengurus seorang warga Negara untuk harus memiliki satu agama.
b. Apabila dalam ada suatu warga Negara yang keadaannya terpuruk karena kemiskinan dan
mereka menderita penyakit parah Negara bisa menolong dengan program berobat gratis
tapi Negara tersebut akan mempertimbangkan apakah ada kepentingan Negara yang lebih
dianggap penting untuk mengeluarkan dana,jika ada maka Negara akan di utamakan
terlebih dahulu setelah itu baru suatu warga Negara.
Sedangkan ideologi Pancasila adalah:
‘13
86
PENDIDIKAN PANCASILA
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1)
Hubungan antara warga Negara dengan Negara adalah seimbang Artimya, tidak
mengutamakan Negara tetapi juga tidak mengutamakan warganegara.
2)
Kepentingan Negara dan warganegara sama-sama di pentingkan.
3)
Agama erat hubungannya dengan Negara. Setiap warganegara dijamin pula kebebasannya
untuk memilih salah satu agama yang ada dan di akui oleh pemerintah.Setiap orang harus
beragama, tetapi agama yang dipilih di serahkan kepada masing-masing warganegara. Atheis
atau tidak mengaku adanya tuhan tidak diperbolehkan.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari:
a. Seorang warga Negara di Indonesia harus memiliki agama sesuai dengan agama yang telah
di akui oleh pemerintah.
b. Setiap warganegara diberikan jaminan keamanan dan hak untuk hidup tentram dengan
syarat setiap warganegara tersebut juga harus memenuhi apa yang telah di programkan atau
peraturan-peraturan pemerintah seperti setiap warganegara wajib untuk membayar pajak
bumi dan bangaunan.
Ideologi Pancasila memiliki arti bahwa pancasila adalah penjelmaan filsafat pancasila itu sendiri.
Maka pancasila sebagai ideologi negara dalam arti cita-cita negara, atau cita-cita yang menjadi basis
bagi suatu teori atau sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia pada hakikatnya
merupakan asas kerokhanian, yakni asas yang memiliki derajat tertinggi sebagai nilai hidup
kebangsaan dan kenegaraan.
Maka dengan demikian Pancasila yang merupakan asas kerokhanian harus menjadi pandangan dunia,
pandangan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan,
dilestarikan, diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban.
Gelombang komunisme abad kedua puluh ini, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran Partai Bolshevik di
Rusia. Gerakan-gerakan komunisme international yang tumbuh sampai sekarang boleh dikatakan
merupakan perkembangan dari Partai Bolshevik yang didirikan oleh Lenin, yaitu:
1.
inti pemikiran: perjuangan kelas dan penghapusan kelas-kelas dimasyarakat, sehingga negara
hanya sasaran antara.
2.
landasan pemikiran : a. penolakan situasi dan kondisi masa lampau, baik secara tegas ataupun
tidak, b. analisa yang cendrung negatif terhadap situasi dan kondisi yang ada, c. berisi resep
perbaikan untuk masa depan dan, d. rencana-rencana tindakan jangka pendek yang
memungkinkan terwujudnya tujuan-tujuan yang berbeda-beda.
3.
system pemerintahan (hanya): otoriter/totaliter/dictator.
Dalam periode 1945-1950 kedudukan Pancasila sebagai dasar negara sudah kuat. Namun, ada
berbagai faktor internal dan eksternal yang memberi nuansa tersendiri terhadap kedudukan Pancasila.
Faktor eksternal mendorong bangsa Indonesia untuk menfokuskan diriterhadap agresi asing apakah
pihak Sekutu atau NICA yang merasa masih memiliki Indonesia sebagai jajahannya. Di pihak lain,
‘13
87
PENDIDIKAN PANCASILA
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
terjadi pergumulan yang secara internal sudah merongrong Pancasila sebagai dasar negara, untuk
diarahkan ke ideologi tertentu, yaitu gerakan DI/TII yang akan mengubah Republik Indonesia menjadi
negara Islam dan Pemberontakan PKI yang ingin mengubah RI menjadi negara komunis (Marwati
Djoned Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 1982/83 kemudian dikutip oleh Pranoto dalam
Dodo dan Endah (ed.), 2010: 39).
Pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden untuk kembali ke
UUD 1945, berarti kembali ke Pancasila. Pada suatu kesempatan, Dr. Johanes Leimena pernah
mengatakan, “Salah satu factor lain yang selalu dipandang sebagai sumber krisis yang paling
berbahaya adalah komunisme. Dalam situasi di mana kemiskinan memegang peranan dan dalam hal
satu golongan saja menikmati kekayaan alam, komunisme dapat diterima dan mendapat tempat yang
subur di tengahtengah masyarakat”. Oleh karena itu, menurut Dr. Johanes Leimena, harus ada usahausaha yang lebih keras untuk meningkatkan kemakmuran di daerah pedesaan. Cara lain memberantas
komunisme ialah mempelajari ajaran-ajaran komunisme
agar tidak dijebak oleh rayuan-rayuan
komunisme.
Selain itu, ideologi komunis juga tidak menghormati manusia sebagai makhluk individu. Prestasi
dan hak milik individu tidak diakui. Ideologi komunis bersifat totaliter, karena tidak membuka pintu
sedikit pun terhadap alam pikiran lain. Ideologi semacam ini bersifat otoriter dengan menuntut
penganutnya bersikap dogmatis, suatu ideology yang bersifat tertutup. Berbeda dengan Pancasila yang
bersifat terbuka, Pancasila memberikan kemungkinan dan bahkan menuntut sikap kritis dan rasional.
Pancasila bersifat dinamis, yang mampu memberikan jawaban atas tantangan yang berbeda-beda
dalam zaman sekarang (Poespowardojo, 1989: 203-204). Pelarangan penyebaran ideologi komunis
ditegaskan dalam Tap MPR No. XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran PKI, pernyataan sebagai
organisasi terlarang di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan
larangan
setiap
kegiatan
untuk menyebarkan
atau
mengembangkan
faham atau
ajaran
komunisme/marxisme dan leninisme yang diperkuat dengan Tap MPR No. IX/MPR/1978 dan Tap
MPR No VIII/MPR/1983.
C.
Perbandingan Ideologi Pancasila dengan Ideologi fasisme
Fasisme merupakan sebuah bentuk ideologi nasionalis yang radikal dan otoritarian. Paham ini
berkembang luas di Eropa pada kurun waktu di antara dua Perang Dunia. Dengan kekalahan blok
Faxis dalam PD II, fasisme menjadi istilah dengan konotasi negatif untuk berbagai rezim otoriter.
Kaum fasis meyakini bahwa suatu kebangsaan adalah komunitas organik yang membutuhkan
kepemimpinan kuat, perasaan memiliki identitas yang tunggal, disamping itu juga percaya bahwa
kekerasan dan perang melawan musuh bersama diperlukan untuk menjaga vitalitas bangsa tetap kuat.
Mereka memperjuangkan dibentuknya negara satu-partai dan menolak oposisi dalam bentuk apapun.
Kaum fasis merupakan penentang paling kuat prinsip-prinsip utama Pencerahan Eropa berikut
berbagai ideologi yang mengikutinya baik liberalisme dan sistem pasar bebasnya, maupun sosialisme.
‘13
88
PENDIDIKAN PANCASILA
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Fasisme menolak pembagian sosial berdasarkan kelas ekonomi ataupun suatu perjuangan berbasis
kelas. Mereka yakin bahwa paham mereka (fasisme) adalah suatu gerakan yang akan mengakhiri
konflik kelas demi menyatukan seluruh bangsa. Model ekonomi fasis disebut sebagai “jalan ketiga”
antara kapitalisme dan komunisme melalui semacam korporatisme, dimana hak milik pribadi dijamin
selama tidak berlawanan dengan dan bersifat melayani negara / bangsa.
Asal mula ideologi fasis berasal dari gerakan nasionalis-sindikalis pada masa Perang Dunia I
(‘sindikalisme’ adalah salah satu gerakan sosialis kaum buruh di Eropa). Beberapa aspek paling
mendasar fasisme adalah :
1) Nasionalisme Fasisme melihat perjuangan bangsa dan ras adalah mendasar bagi masyarakat,
dan menolak konsep perjuangan kelas kaum Marxis. Benito Mussolini (pemimpin fasis
Italia) menyatakan bahwa : “Bangsa bukan sekedar teritori, melainkan sesuatu yang
spiritual. Suatu bangsa itu hebat apabila ia berhasil mewujudkan spirit itu menjadi kekuatan”
2) Ekspansi imperialis sebagai dasar politik luar negeri, karena percaya bahwa perang dan
ekspansi adalah bukti ketangguhan bangsa
3) Otoritarianisme. Kaum fasis mengidealkan negara totaliter – meliputi semua aspek nilai
dalam masyarakat – dan kepemimpinan yg kuat. Kultus terhadap pemimpin lazim terjadi di
negara2 fasis seperti pemberian gelar il duce bagi Mussolini dan fuhrer bagi diktator Nazi,
Adolf Hitler,
4) Darwinisme sosial. Kaum fasis umumnya mengadopsi pandangan darwinis sosial tentang
‘seleksi alamiah’ dari ras dan bangsa. Kekuatan suatu bangsa teruji melalui perang dan
bahwa bangsa harus mengeliminasi unsur2 degeneratif (yang melemahkan atau membawa
kemerosotan) dalam dirinya. Berdasarkan doktrin ini, secara khusus kaum Nazi melihat
bangsa Yahudi sebagai parasit dalam peradaban bangsa Jerman Aria.
5) Intervensi sosial dalam bentuk indoktrinasi secara massif untuk menanamkan ideologi negara,
pengendalian populasi dan program ‘penyehatan’ ras melalui eugenika, pelegalan aborsi
dalam kasus kelahiran yg cacat, dan ‘pembasmian’ orang2 cacat dan berpenyakit melalui
euthanasia.
Lahirnya fasisme dilatarbelakangi oleh perubahan yang terjadi pasca Perang Dunia I seperti :
a)
Runtuhnya negara-negara dinastik yg masih bertahan (kecuali Inggris)
b)
Revolusi Bolshevik (komunis) di Rusia, 1917
c)
Kehancuran ekonomi sebagai akibat perang, khususnya bagi negara-negara yang kalah.
d)
Adanya kekecewaan di negara-negara yang kalah perang (khususnya Jerman) dalam
mematuhi syarat-syarat perdamaian.
Pusat gerakan fasis adalah partai fasis Italia (Benito Mussolini) dan Partai Sosialis Nasional Jerman
(Nazi / Adolf Hitler), kemudian menyebar ke berbagai negara lain .
Hitler mengungkapkan pemikirannya tentang konsep negara yg ideal dan pemikiran anti-Yahudinya
dalam buku ‘Mein Kampf’ (Perjuanganku). Ia sempat ditahan karena mencoba melakukan kudeta
‘13
89
PENDIDIKAN PANCASILA
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
(1923), akan tetapi akhirnya berhasil menjadi kanselir Jerman (1933). Negara-negara fasis
mengadakan aliansi (khusunya Jerman, Italia dan Jepang), dan melakukan ekspansi militer. Penganut
fasisme lainnya adalah Francisco Franco dari Spanyol yg berhasil berkuasa setelah perang saudara
(1936-1939). Ekspansi militer kaum fasis secara langsung menyebabkan Perang Dunia II di Eropa
(1939-45) dan di Asia-Pasifik (1941-45). Selama peperangan terjadi pemusnahan massal terhadap
warga Yahudi (holocaust), yang masih diperdebatkan skala dan dampaknya (Catatan : penyangkalan
holocaust melihat kasus ini sebagai mitos pembenaran bagi berdirinya negara Yahudi di Palestina).
Perang Dunia II dimulai dengan adanya penyerbuan tentara Nazi Jerman ke Polandia (1 September
1939) yg disusul pernyataan perang oleh Inggris dan Perancis terhadap Jerman. Pada 3 tahun pertama
peperangan, aliansi Jerman-Italia unggul dan berhasil menguasai sebagian besar daratan Eropa,
kecuali kepulauan Inggris. Pada awalnya antara pemimpin blok fasis (Hitler) dan kubu komunis
(Stalin) mengadakan kesepakatan untuk tidak saling menyerang (Pakta non-agresi, Agustus 1939).
Kemudian setelah Uni Soviet menyerang negara2 Skandinavia dan Eropa Timur terjadi perpecahan
dalam aliansi tsb. Pada Juni 1941, Hitler mengumumkan perang terhadap Uni Soviet dan menyerbu
daratan Rusia. Perang di Rusia merupakan salah satu titik balik peperangan di Eropa dan awal
kekalahan Jerman.
Perang di Eropa kemudian menjadi berskala global ketika Jepang menyerang pangkalan AS di Pearl
Harbor (7 Desember 1941), sehingga di samping membuka front baru di Asia-Pasifik, AS juga terlibat
peperangan di Eropa. Keterlibatan AS segera mengubah jalannya perang menjadi menguntungkan
pihak sekutu. Setelah Jerman mulai kalah dalam peperangan di Eropa, pada Juni 1944 diadakan
serangan umum oleh tentara sekutu terhadap Normandia (Perancis), yg merupakan awal dari
pembebasan Eropa dari pendudukan Jerman. Jerman akhirnya bertekuk lutut setelah ibukotanya
direbut dan Hitler melakukan bunuh diri di ruang bawah tanah (30 April 1945). Perang di Asia-Pasifik
berakhir dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima & Nagasaki yang menyebabkan menyerahnya
Jepang (Agustus 1945).
Perbandingan fasis dengan Pancasila adalah dimana ideologi fasis kekuasaan dipegang oleh
pemerintah yang dapat berupa koalisi sipil, militer, atau partai yang berkuasa saat itu,
rakyat
diperintah dengan intimidasi agar patuh terhadap Negara dan pemerintah mengatur segala yang boleh
maupun tidak boleh dilakukan oleh rakyatnya. Sedangkan Pancasila adalah Nilai-nilai dan cita-cita
digali dari kekayaan adat istiadat, budaya dan religius masyarakatnya, Menerima reformasi, penguasa
bertanggung jawab pada masyarakat sebagai pengemban amanah rakyat, mengakomodasi nilai-nilai
dan cita-cita yang bersifat menyeluruh tanpa berpihak pada golongan tertentu atau melakukan
transformasi sosial secara besar-besaran menuju bentuk tertentu, negara mengakomodasi berbagai
idealisme yang berkembang dalam masyarakat yang bersifat majemuk.
Daftar Pustaka
Pancasila. 2014. Ghalia Indonesia. Pendidikan Pancasila, 2015. Ghraha Ilmu
‘13
90
PENDIDIKAN PANCASILA
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download