Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Manajemen
Mengingat bahwa faktor manusia sangat dibutuhkan dalam perusahaan
maka muncul suatu ilmu manajemen yang mempelajari masalah-masalah
ketenagakerjaan atau kepegawaian yang disebut dengan Manajemen Sumber Daya
Manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat lepas dari kehidupan
berkelompok, baik secara langsung maupun tidak langsung manusia harus selalu
berhubungan dengan orang lain, baik hubungan fisik, biologis, maupun sosial.
Hal-hal tersebut dapat menimbulkan kerja sama yang kemudian melahirkan
berbagai bentuk organisasi, baik organisasi formal maupun informal. Organisasi
merupakan suatu sistem sosial yang terdiri dari berbagai individu yang memiliki
berbagai macam tingkah laku, harapan, motivasi dan pandangan yang berbeda
dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Dibawah ini
beberapa definisi tentang manajemen yang dikemukakan oleh para ahli
diantaranya adalah :
Menurut George R. Terry and Leislie W. Rue dalam buku Dasar-Dasar Manajemen
(2003:1) menyatakan bahwa “ Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja,
yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah
tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata.”
Menurut George R. Terry dalam buku Prinsip-Prinsip Manajemen (2003:10)
berpendapat bahwa “ Manajemen mencakup kegiatan untuk mencapai tujuan,
dilakukan oleh individu-individu yang menyumbangkan upayanya yang terbaik melalui
tindakan-tindakan yang telah di tetapkan sebelumnya .”
Menurut Robbins Coulter dalam terjemahan bukunya Manajemen (2004:8)
pengertian manajemen adalah sebagai berikut “ Manajemen adalah proses
mengkoordinasi dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan
secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain .”
Menurut M. Manullang dalam bukunya Dasar-Dasar Manajemen (2004:5)
mengemukakan
“Manajemen
adalah
seni
dan
ilmu
perencanaaan,
pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan sumber daya untuk
mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.” Marihot Tua Efendi Hariandja dalam
bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia (2005:2) menyatakan bahwa “
Manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan
kegiatan-kegiatan
pengadaan,
pengembangan,
pemberian
kompensasi,
pengintegrasian, pemeliharaan, dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai
tujuan organisasi, dan masyarakat.”
Menurut Sofjan Assauri dalam bukunya, Manajemen Produksi dan Operasi
(2004:12), yaitu “ Manajemen adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk
mencapai tujuan dengan mengunakan atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan
orang lain ”.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah
ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumbersumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu
sehingga dapat bekerja secara maksimal dalam usaha mencapai tujuan
perusahaan.
2.2
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian dari ilmu manajemen,
yang berarti merupakan suatu usaha untuk mengarahkan dan mengelola sumber
daya manusia di dalam suatu organisasi agar mampu berfikir dan bertindak
sebagaimana yang diharapkan organisasi. Organisasi yang maju tentu dihasilkan
oleh personil atau karyawan yang dapat mengelola organisasi tersebut ke arah
kemajuan yang diinginkan organisasi, sebaliknya tidak sedikit organisasi yang
hancur dan gagal karena ketidakmampuannya dalam mengelola sumber daya
manusia.
Sumber daya manusia sangat berperan besar bagi kesuksesan suatu
organisasi. Banyak organisasi menyadari bahwa unsur manusia dalam suatu
organisasi dapat memberikan keunggulan bersaing. Mereka membuat sasaran,
strategi, inovasi dan mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu sumber daya
manusia merupakan salah satu unsur vital dalam suatu organisasi.
Pengertian sumber daya manusia menurut T. Hani Handoko (1996;6)
”Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan,
pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan
pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai tujuan individu, organisasi
dan masyarakat”.
Sementara menurut Hasibuan (2001;10) manajemen sumber daya manusia
adalah “ Ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif
dan efisien, membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat
“ Sedangkan menurut Simamora (2004;4) manajemen sumber daya manusia
adalah, pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa, dan
pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok karyawan, juga
menyangkut desain dan implementasi sistem perencanaan, penyusunan karyawan,
pengembangan karyawan, pengelolaan karir, evaluasi kinerja, kompensasi
karyawan dan hubungan ketenagakerjaan yang baik”.
Menurut Edwin B. Fillipo yang dikutip oleh Soedarmayanti (2001:5)
menyatakan bahwa MSDM adalah “Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian
kompensasi, pengintregrasian,pemeliharaan dan pelepasan sumber daya manusia
agar tercapainya tujuan individu, organisasi dan masyarakat”.
Menurut Hadari Nawawi (2003:42), mengemukakan bahwa MSDM adalah
“Proses mendayagunakan manusia sebagai tenaga kerja secara manusiawi agar
potensi fisik dan psikis yang dimiliki berfungsi maksimal bagi tercapainya tujuan
perusahaan”. Sedangkan pendapat lain menurut M.Manullang (2004:198), adalah
“Manajemen Sumber Daya Manusia adalah seni dan ilmu pengadaan,
pengembangan dan pemanfaatan SDM sehingga tujuan perusahaan dapat
direalisasikan secara daya guna dan kegairahan kerja dari semua kerja”.
Dari beberapa pengertian para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
manajemen sumber daya manusia sebenarnya merupakan serangkaian kegiatan
perekrutan, pengembangan, pemeliharaan, serta merupakan sebuah ilmu dan seni
mengatur sebuah pemanfaatan sumber daya manusia yang dikelola secara
profesional guna mencapai tujuan individu maupun organisasi secara terprogram
dan terpadu serta dilaksanakan secara efektif dan efisien agar menghasilkan
sumber daya manusia yang produktif dan berkualitas serta mempunyai etos kerja
dan loyalitas yang tinggi.
2.3
Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia adalah faktor sentral dalam suatu organisasi atau
perusahaan, perusahaan dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan
manusia dan dalam pelaksanaannya misi tersebut dikelola oleh manusia. Jadi
manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan perusahaan.
Manajemen Sumber daya manusia berarti mengurus Sumber Daya Manusia
berdasarkan visi perusahaan agar tujuan dan sasaran perusahaan dapat dicapai
secara optimum.
Fungsi-fungsi Manajemen Sumber daya Manusia berdasarkan pendapat
Malayu S.P Hasibuan (2001:21), yaitu sebagai berikut :
1.
Tugas dan fungsi manajerial, terdiri dari:
a.
Planning ( Perencanaan )
Perencanaan berarti menetapkan terlebih dahulu apa yang akan
dilakukan dan merupakan fungsi terpenting diantara semua fungsi
manajemen.
b.
Organizing ( Pengorganisasian )
Pengorganisasian dapat dikatakan sebagai proses penciptaan hubungan
antara berbagai fungsi, personalia, dan faktor-faktor fisik agar semua
pekerjaan yang dilakukan dapat bermanfaat serta terarah pada satu
tujuan. Mengorganisasikan berarti membagi pekerjaan diantara para
individu dan kelompok serta mengkoordinasikan aktifitas mereka, agar
setiap individu dapat mengetahui secara jelas apa yang menjadi tugas
sehingga mereka dapat bekerja benar.
c.
Directing ( Pengarahan )
Dalam bekerja, setiap individu mempunyai perbedaan fisik dan mental,
nilai-nilai individual sesuai dengan keadaan sosial ekonomi mereka.
Tugas manajer adalah menyelaraskan tujuan perusahaan dengan tujuan
individu agar tidak terjadi konflik dalam perusahaan. Untuk itu
diperlukan pengarahan, dalam bentuk tindakan yang mengusahakan
agar semua anggota organisasi melakukan kegiatan yang sudah
ditentukan sehingga tujuan perusahaan pun tercapai.
d.
Controling ( Pengendalian )
Fungsi terakhir dari manajemen adalah pengendalian. Pengendalian
merupakan aktivitas untuk mengkoreksi adanya penyimpanganpenyimpangan dan hasil yang telah dicapai, dibandingkan dengan
rencana kerja telah ditetapkan sebelumnya.
2.
Tugas dan Fungsi operasional, terdiri dari :
a.
Pengadaan ( Procurement )
Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, oreantasi, dan
induksi untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Pengadaan yang baik akan membantu terwujudnya tujuan
perusahaan.
b.
Pengembangan ( Development )
Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis
konseptual, dan moral pegawai melalui pendidikan dan pelatihan.
Pendidikan dan pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan
kebutuhan pekerjaan masa kini ataupun masa yang akan datang.
Pengembangan
pegawai
dilaksanakan
untuk
meningkatkan
keterampilan melalui program pelatihan dan pengembangan yang tepat
agar pegawai dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik.
c.
Kompensasi ( Compensation )
Kompensasi adalah pemberian jasa langsung ( Direct ) dan tidak
langsung (indirect ), uang atau barang kepada pegawai sebagai imbalan
balas jasa yang diberikan kepada perusahaan. Prinsip kompensasi
adalah adil dan layak. Adil maksudnya sesuai dengan prestasi kerj yang
diberikan pegawai untuk perusahaan, sedangkan layak diartikan dapat
memenuhi primernya serta berpedoman pada batas upah minimum
pemerintah dan berdasarkan internal dan eksternal konsitensinya.
d.
Pengintregrasian ( Intregration )
Pengintregrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
perusahaan dan kebutuhan pegawai, agar terciptanya kerja sama yang
baik dan saling menguntungkan. Perusahaan memperoleh laba dan
pegawai mendapatkan kebutuhan dari hasil kerjanya.
e.
Pemeliharaan ( Maintenance )
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan
kondisi fisik, mental, dan loyalitas pegawai, agar mereka tetap mau
bekerja sama sampai pensiun. Pemeliharaan yang baik dilakukan
dengan program kesejahteraan yang berdasarkan kebutuhan sebagian
besar karyawan serta berpedoman kepada internal dan eksternal.
f.
Kedisiplinan ( Discipline )
Kedisiplinan merupakan fungsi MSDM yang terpenting dan kunci
terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang baik sulit terwujudnya
tujuan perusahaan. Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk
mentaati peraturan perusahaan dan norma-norma sosial.
g.
Pemberhentian ( Separation )
Pemberhentian adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu
perusahaan. Pemberhentian disebabkan oleh keinginan pegawai,
keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun dan sebab-sebab
lainnya.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut
diarahkan pada pemaksimalan dan pemanfaatan karyawan dalam merealisasikan
pencapaian tujuan dengan memperhatikan keinginan dari karyawan.
2.4
Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber
daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk
mencapai suatu tujuan tertentu. Manajemen terdiri dari enam unsur (6M) yaitu :
Men, Money, Methods, Materials, Machine, dan Markets. Unsur manusia
berrkembang menjadi suatu bidang ilmu manajemen yang disebut Manajemen
Sumber Daya Manusia yang merupakan terjemahan dari Man Power Manajement.
Manajemen yang mengatur unsur manusia ada yang menyebutnya Manajemen
Kepegawaian dan Manajemen Personalia (Personal Management).
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu bidang manajemen yang
mempelajari hubungan dan peranan manusia dalam organisasi perusahaan. Unsur
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah manusia yang merupakan tenaga kerja
pada perusahaan. Dengan demikian fokus yang dipelajari Manajemen Sumber
Daya Manusia ini hanyalah masalah yang berhubungan dengan tenaga kerja
manusia saja. Manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan
organisasi, karena manusia menjadi perencana, pelaku dan penentu terwujud
tujuan organisasi. Tujuan tersebut tidak mungkin terwujud, tanpa peran aktif
karyawan bagaimanapun canggihnya alat-alat yang dimiliki perusahaan tersebut.
Alat-alat canggih yang dimiliki perusahaan tidak ada manfaatnya bagi perusahaan
jika peran aktif karyawan tidak diikutsertakan.
Menurut Dr. Suwanto (2001: 2) Peranan MSDM diakui sangat menentukan
bagi terwujudnya tujuan. Tetapi untuk mengatur unsur manusia ini sangat sulit
dan rumit, karena manusia mempunyai fikiran, perasaan, keinginan, status dan
sebagainya yang tidak bisa diatur sepenuhnya oleh organisasi seperti mesin, uang
atau material tetapi harus diatur oleh teori-teori manajemen yang memfokuskan
mengenai pengaturan peran manusia dalam mewujudkan tujuan yang optimal.
Tenaga kerja manusia selain mampu, cakap dan terampil, juga tidak kalah
pentingnya keamanan dan kesungguhan mereka untuk bekerja efektif dan efisien.
Kemampuan dan kecakapan kurang berarti bila tidak diikuti moral kerja dan
kedisiplinan pegawai dalam mewujudkan tujuan.
Peranan manajemen sumber daya manusia diakui sangat menentukan bagi
terwujudnya tujuan, tetapi untuk
memimpin unsur manusia sulit dan rumit.
Tenaga kerja manusia selain mampu, cakap, dan terampil, juga tidak kalah
pentingnya kemauan dan kesungguhan mereka untuk bekerja efektif dan efisien.
Kemampuan dan kecakapan kurang berarti jika tidak diikuti moral kerja dan
kedisiplinan karyawan dalam mewujudkan tujuan.
2.5
Penilaian Kinerja
Salah satu lingkungan kerja yang menyenangkan sangat penting untuk
mendorong tingkat kinerja karyawan yang paling produktif. Dalam interaksi
sehari-hari, antara atasan dan bawahan, berbagai asumsi dan harapan lain muncul.
Ketika atasan dan bawahan membentuk serangkaian asumsi dan harapan mereka
sendiri yang sering agak berbeda, perbedaan-perbedaan ini yang akhirnya
berpengaruh pada tingkat kinerja.
Menurut Rivai & Basri (2004: 14) Kinerja adalah hasil seseorang secara
keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas, seperti standar
hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu
dan telah disepakati bersama.
Menurut Rivai & Basri (2004:16) Apabila dikaitkan dengan performance
sebagai kata benda (noun), maka pengertian performance atau kinerja adalah hasil
kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu
perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam
upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal, tidak melanggar hukum dan
tidak bertentangan dengan moral dan etika.
Penilaian kinerja sendiri memiliki beberapa pengertian yaitu:
1.
Suatu sistem formal dan terstruktur yang mengukur, menilai, dan
mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, perilaku, dan
hasil, termasuk tingkat ketidakhadiran. Fokusnya adalah untuk mengetahui
seberapa produktif seorang karyawan dan apakah ia bisa berkinerja sama
atau lebih efektif pada masa yang akan datang, sehingga karyawan,
organisasi, dan masyarakat semuanya memperoleh manfaat. (Schuler &
Jackson, 1996:3)
2.
Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan merupakan salah satu tolak ukur
kerja individu. Menurut Robbins (1996) yang dikutip oleh Rivai dan Basri
dalam bukunya yang berjudul performance apprasial, pada halaman 15
menyatakan bahwa ada tiga kriteria dalam melakukan penilaian kinerja
individu yaitu:
(a) tugas individu.
(b) perilaku individu.
(c) ciri individu.
Menurut Sjafri Mangkuprawira dalam bukunya Manajemen Sumber Daya
Manusia Strategik (2004:223) mengemukakan “Penilaian kinerja merupakan
proses yang dilakukan perusahaan dalam mengevaluasi kinerja pekerjaan
seorang”.
Menurut Siswanto Sastrohadiwiryo dalam bukunya Manajemen Tenaga
Kerja Indonesia (2003:231) mengemukakan “Penilaian kinerja adalah suatu
kegiatan yang dilakukan manajemen atau penyelia penilai untuk menilai kinerja
tenaga kerja dengan cara membandingkan kinerja atas kinerja dengan uraian atau
deskripsi pekerjaan dalam suatu periode tertentu biasanya setiap akhir tahun ”.
Sedangkan menurut H. Hadari Nawawi dalam bukunya Manajemen
Sumber Daya Manusia untuk bisnis yang kompetifif (2005:236) mengemukakan :
1.
Penilaian kinerja adalah secara sistematis (teratur) tentang relevansi antara
tugas-tugas yang diberikan dengan pelaksanaannya oleh seorang pekerja.”
Dari pengertian diatas jelas bahwa yang diskripsikan adalah tugas-tugas
yang telah dilaksanakan oleh seorang pekerja untuk suatu tenggang waktu
tertentu. Tugas yang dilaksanakan mengacu pada tugas-tugas yang
diperintahkan atau dinyatakan sebagai tanggung jawab yang dipercayakan
dalam jabatannya.
2.
Penilaian Kinerja adalah usaha mengidentifikasi, mengukur (menilai) dan
mengelola (manajemen) pekerjaan yang dilaksanakan oleh para pekerja
(SDM) di lingkungan suatu organisasi atau perusahaan.
Maksudnya,
mengidentifikasi
pekerjaan
yang
dilaksanakan
dan
mendiskripsikan segala sesuatu yang dikerjakan selama tenggang waktu
tertentu, kemudian mengukur (menilai) pelaksanaan pekerjaan yang
dilaksanakan seorang pekerja, dengan ukuran tertentu. Hasil pengukuran itu
kemudian dipergunakan sebagai masukan untuk mengelola para pekerja
dalam melaksanakan pekerjaannya yang telah dinilai.
Dari beberapa pengertian kinerja di atas maka dapat disimpulkan bahwa
kinerja adalah suatu prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan
tugas atau pekerjaannya, sesuai dengan standar kriteria yang ditetapkan dalam
pekerjaan itu. Prestasi yang dicapai ini akan menghasilkan suatu kepuasan kerja
yang nantinya akan berpengaruh pada tingkat imbalan. Suatu kinerja individu
dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dan kemampuan.
2.6
Manfaat Penilaian Kinerja
Menurut Rivai & Basri ( 2004 : 55 ) Manfaat penilaian kinerja bagi semua
pihak adalah agar bagi mereka mengetahui manfaat yang dapat mereka harapkan.
Pihak-pihak yang berkepentingan dalam penilaian adalah:
(1)
Orang yang dinilai (karyawan)
(2)
Penilai (atasan, supervisor, pimpinan, manager, konsultan)
(3)
Perusahaan.
Menurut Rivai & Basri ( 2004 : 58 ) Manfaat bagi karyawan yang dinilai
bagi karyawan yang dinilai, keuntungan pelaksanaan penilaian kinerja adalah
antara lain:
a.
Meningkatkan motivasi.
b.
Meningkatkan kepuasan hidup.
c.
Adanya kejelasan standard hasil yang diterapkan mereka.
d.
Umpan balik dari kinerja lalu yang kurang akurat dan konstruktif.
e.
Pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan menjadi lebih besar.
f.
Pengembangan tantang pengetahuan dan kelemahan menjadi lebih besar,
membangun kekuatan dan mengurangi kelemahan semaksimal mungkin.
g.
Adanya kesempatan untuk berkomunikasi ke atas .
h.
Peningkatan pengertian tentang nilai pribadi.
i.
Kesempatan untuk mendiskusikan permasalahan pekerjaan dan bagaimana
mereka mengatasinya.
j.
Suatu pemahaman jelas dari apa yang diharapkan dan apa yang perlu untuk
dilaksanakan untuk mencapai harapan tersebut.
k.
Adanya pandangan yang lebih jelas tentang konteks pekerjaan.
l.
Kesempatan untuk mendiskusikan cita-cita dan bimbingan apa pun
dorongan atau pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi cita-cita
karyawan.
m.
Meningkatkan hubungan yang harmonis dan aktif dengan atasan.
Menurut
Rivai
&
Basri
(2004:60)
Manfaat
bagi
penilai
(supervisor/manager) Bagi penilai, manfaat pelaksanaan kinerja adalah :
a.
Kesempatan untuk mengukur dan mengidentifikasikan kecenderungan
kinerja karyawan untuk perbaikan manajeman selanjutnya.
b.
Kesempatan untuk mengembangkan suatu pandangan umum tentang
pekerjaan individu dan departemen yang lengkap
c.
Memberikan peluang untuk mengembangkan sistem pengawasan baik untuk
pekerjaan manajer sendiri, maupun pekerjaan dari bawahannya.
d.
Identifikasi gagasan untuk peningkatan tentang nilai pribadi.
e.
Peningkatan kepuasan kerja .
f.
Pemahaman yang lebih baik terhadap karyawan, tentang rasa takut, rasa
grogi, harapan, dan aspirasi mereka.
g.
Menigkatkan kepuasan kerja baik terhadap karyawan dari para manajer
maupun dari para karyawan.
h.
Kesempatan untuk menjelaskan tujuan dan prioritas penilai dengan
memberikan pandangan yang lebih baik terhadap bagaimana mereka dapat
memberikan kontribusi yang lebih besar kepada perusahaan.
i.
Meningkatkan rasa harga diri yang kuat diantara manajer dan juga para
karyawan, karena telah berhasil mendekatkan ide dari karyawan dengan ide
para manajer.
j.
Sebagai media untuk mengurangi kesenjangan antara sasaran individu
dengan sasaran kelompok atau sasaran departemen SDM atau sasaran
perusahaan.
k.
Kesempatan bagi para manajer untuk menjelaskan pada karyawan apa yang
sebenarnya diinginkan oleh perusahaan dari para karyawan sehingga para
karyawan dapat mengukur dirinya, menempatkan dirinya, dan berjaya sesuai
dengan harapan dari manajer.
l.
Sebagai media untuk menigkatkan interpersonal relationship atau hubungan
antara pribadi antara karyawan dan manajer.
m.
Dapat sebagai sarana menimgkatkan motivasi karyawan dengan lebih
memusatkan perhatian kepada mereka secara pribadi.
n.
Merupakan kesempatan berharga bagi manajer agar dapat menilai kembali
apa yang telah dilakukan sehingga ada kemungkinan merevisi target atau
menyusun prioritas kembali.
o.
Bisa mengidentifikasikan kesempatan untuk rotasi atau perubahan tugas
karyawan.
Menurut Rivai & Basri (2004:62) Manfaat bagi perusahaan antara lain:
a.
Perbaikan seluruh simpul unit-unit yang ada dalam perusahaan karena:
1)
Komunikasi menjadi lebih efektif mengenai tujuan perusahaan dan nilai
budaya perusahaan
2)
Peningkatan rasa kebersamaan dan loyalitas
3)
Peningkatan kemampuan dan kemauan manajer untuk menggunakan
keterampilan
dan
keahlian
memimpinnya
untuk memotivasi
karyawan dan mengembangkan kemauan dan keterampilan karyawan
b.
Meningkatkan pandangan secara luas menyangkut tugas yang dilakukan
oleh masing-masing karyawan.
c.
Meningkatkan kualitas komunikasi.
d.
Meningkatkan motivasi karyawan secara keseluruhan.
e.
Meningkatkan
keharmonisan
hubungan
dalam
pencapaian
tujuan
perusahaan.
f.
Peningkatan segi pengawasan melekat dari setiap kegiatan yang dilakukan
oleh setiap karyawan.
g.
Harapan dan pandangan jangka panjang dapat dikembangkan.
h.
Untuk mengenali lebih jelas pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan.
i.
Kemampuan menemu kenali setiap permasalahan.
j.
Sebagai sarana penyampaian pesan bahwa karyawan itu dihargai oleh
perusahaan.
2.7
Proses Penilaian Kinerja
Menurut Dessler dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia
(2001:5) terdiri tiga langkah, yaitu :
1.
Mendefinisikan pekerjaan, yang berarti memastikan bahwa anda dan
bawahan anda sepakat tentang tugas-tugasnya dan jabatan.
2.
Menilai kinerja, yang berarti membandingkan kinerja aktual bawahan anda
dengan standar-standar yang telah ditetapkan yang mencangkup beberapa
jenis penilaian.
3.
Memberikan umpan balik, disini kinerja dan kemajuan bahwa dibahas dan
rencana-rencana dibuat untuk perkembangan apa saja yang dimaksud.
2.8
Syarat-syarat Penilaian Kinerja
Menurut Rivai & Basri (2004:120) Pelaksanaan penilaian kinerja dalam
perusahaan dapat tercapai sesuai sesuai tujuan yang diinginkan, maka diperlukan
syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam suatu sistem penilaian kinerja :
1.
Relevansi
Suatu sistem penilaian kinerja hanya mengukur hal-hal yang berhubungan
atau berkaitan langsung (relevan) pada perilaku dan sikap yang menentukan
keberhasilan menyelesaikan suatu pekerjaan dalam suatu jabatan tertentu.
2.
Akseptabel
Suatu sistem penilaian kinerja harus dapat diterima dan dimengerti baik oleh
penilai maupun yang dinilai dalam hubungannya dengan kesuksesan dari
pelaksanaan pekerjaan dalam organisasi.
3.
Reliabilitas
Sistem penilaian kinerja harus dapat dipercaya serta mempunyai alat ukur
yang dapat diandalkan, konsisten dan stabil. Artinya, apabila alat ukur
tersebut memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi jika digunakan oleh
penilaian lain uantuk mengukur objek yang sama, maka akan memberikan
hasil penilaian yang sama pula.
4.
Praktis
Syarat ini menghendaki agar suatu sistem penilaian kinerja harus praktis dan
mudah dilaksanakan, handal, dan memberikan informasi tentang perilaku
yang kritikal yang menentukan keberhasilan dalam pelaksanaan pekerjaan.
Sehingga sistem penilaian dapat mendukung secara langsung untuk
tercapainya tujuan organisasi.
2.9
Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam Penilaian Kinerja
Terjalinnya suatu sistem penilaian kinerja yang baik sangat bergantung pada
persiapan yang benar-benar sesuai sehingga dapat memberikan suatu gambaran
yang akurat mengenai kinerja karyawan untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut
Rivai & Basri (2004:136) Sistem penilaiannya harus memenuhi standar
pelaksanaan penilaian kinerja seperti :
1.
Maksud dan tujuan penilaian
Perusahaan harus dapat menjelaskan maksud dan tujuan penilaian serta
penggunaan teknik dengan harapan bahwa dengan penggunaan teknik-teknik
tersebut maksud dan tujuan dari penilain kinerja dapat tercapai.
2.
Penilai
Pada umumnya yang melakukan penilaian adalah atasan langsung yang
dianggap paling mengenali sikap, prilaku, ketentuan, loyalitas, pengetahuan,
keterampilan serta kemampuan para karyawan bawahannya. Selain itu
penilaian juga atasan yang lebih yang masih berhubungan dengan
pengelolaan sumber daya manusia bagi seluruh organisasi. Para penialai
harus memahami secara mendalam segala prosedur mekanisme penggunaan
instumen penilaian tertentu sehingga objektivitas terjamin.
2.10 Metode Penilaian Kinerja
Menurut T. Hani Handoko (2001:150) Metode penilaian kinerja
diorientasikan pada
masa depan karena penilaian-penilaian yang berorientasi
masa depan memusatkan pada prestasi kerja di waktu yang akan datang melalui
penilaian potensi karyawan atau penetapan sasaran-sasaran prestasi kerja di masa
mendatang. Metode penilaian kinerja yang dugunakan :
1.
Penilaian Diri
Metode ini berguna bila tujuannya adalah untuk melanjutkan pengembangan
diri. Bila karyawan menilai dirinya, perilaku defensip cenderung tidak
terjadi, sehingga upaya perbaikan diri juga cenderung dilaksanakan.
2.
Penilaian Psikologis
Penilaian ini pada umumnya terdiri dari wawancara mendalam, tes-tes
psikologi, diskusi dengan atasan langsung, dan review evaluasi-evaluasi
lainnya. Penilaian psikologis, biasanya dilakukan oleh para psikolog,
terutama digunakan untuk menilai potensi karyawan di waktu yang akan
datang.
3.
Pendekatan Management By Objectives ( MBO )
Pendekatan MBO adalah bahwa setiap karyawan secara bersama
menetapkan tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran pelaksanaan kerja di waktu
yang akan datang.
4.
Teknik Pusat Penilaian
Teknik pusat penilaian adalah suatu bentuk penilaian karyawan yang
distandarisasikan dimana tergantung pada berbagai tipe penilaian dari
penilai. Penilaian bisa meliputi wawancara mendalam, tes-tes psikologi,
diskusi kelompok, simulasi, dan sebagainya untuk mengevaluasi potensi
karyawan di waktu yang akan datang.
Menurut Gary Dessler (2006:328) Metode penilaian kinerja terdiri dari
beberapa metode dengan penilaian yang berbeda, seperti :
1.
Metode Skala Peringkat Grafis
Skala peringkat grafis adalah teknik penilaian yang paling sederhana dan
paling populer.
2.
Metode Peringkat Alternasi
Metode peringkat alternasi adalah membuat peringkat karyawan dari yang
terbaik sampai terburuk berdasarkan ciri tertentu adalah pilihan lain karena
biasanya lebih mudah untuk membedakan antara karyawan terburuk dan
terbaik.
3.
Metode Perbandingan berpasangan
Metode perbandingan berpasangan adalah membantu membuat metode
penilaian
menjadi
lebih
tepat
karena
dapat
memasangkan
dan
membandingkan setiap bawahan dengan bawahan lainnya berdasarkan
kualitas kerja dan kuantitas kerja.
4.
Metode Distribusi kekuatan
Metode ini menempatkan persentase dugaan awal penilaian ke dalam
kategori kinerja dengan membuat penilaian pada sebuah kurva.
5.
Metode Kejadian Kritis
Metode ini menyimpan catatan tentang contoh-contoh hal baik yang tidak
umum atau hal buruk yang tidak dikehendaki atas perilaku karyawan yang
berhubungan dengan pekerjaan dan meninjau catatan itu dengan karyawan
pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
6.
Skala Peringkat Standar perilaku
Metode penilaian yang menggunakan kombinasi antara narasi kejadian
penting dan penilaian kuantitaif dengan patokan skala kuantitaif dan contoh
naratif dari kinerja baik dan buruk.
7.
Manajemen Tujuan (Management by objectives-MBO)
Melibatkan penetapan tujuan-tujuan terukur yang spesifik dengan setiap
karyawan, kemudian secara berkala melakukan peninjauan kembali terhadap
kemajuan yang telah dibuat.
Menurut Ambar Teguh Sulistiyani & Rosidah (2003 : 282) Metode
penilaian kinerja terdiri dari beberapa metode dengan dasar penilaian yang
berbeda, seperti yang akan dijelaskan berikut ini penilaian kinerja berorientasi
masa lalu dengan kelebihannya adalah dalam hal perlakuan terhadap kinerja yang
telah terjadi sampai
derajat ternentu
masih dapat diukur. Sedangkan
kelemahannya adalah bahwa teknik-teknik penilaiannya mencangkup antara lain :
a.
Skala Peringkat
Metode ini merupakan metode tertua dan paling banyak digunakan dalam
penilaian kinerja. Cara penggunaannya ialah :
1.
Pada lembaran penilaian terdapat kolom-kolom yang berisikan faktorfaktor yang dinilai seperti kesetiaan, prakarsa, kerajinan, ketekunan,
sikap, kerjasama, kepemimpinan, kejujuran, ketelitian, kecermatan, dan
kerapihan.
2.
Pada kolom lain dari lembaran penilaian terdapat kategori penilaian
yang diisi oleh penilai yang dinyatakan dengan amat baik, baik, cukup,
kurang,
dan
sangat
kurang.
Kelebihannya
adalah
mudah
mempersiapkannya dan dapat digunakan untuk menilai banyak
karyawan
sekaligus.
Sedangkan
kelemahannya
terletak
pada
subyektivitas penilai, nilai yang diberikan dapat diartikan dengan cara
yang berbeda. Selain itu faktor-faktor yang dinilai belum tentu
berkaitan langsung dengan tugas pekerjaan seseorang.
b.
Checlist
Pada metode ini formulir isian mengandung nama karyawan yang dinilai
bagian karyawan bekerja, nama, dan jabatan penilai. Kelebihan metode ini
adalah pemberian bobot yang berbeda untuk berbagai faktor dari satu jenis
pekerjaan ke pekerjaan yang lain, selain itu penilaian benar-benar terkait
dengan
tugas
dan
pekerjaan
seseorang.
Kelemahannya
adalah
kecenderungan penilai yang bersifat subjektif, interprestasi yang tidak tepat
tentang faktor yang dinilai dan cara pembobotan yang kurang tepat.
c.
Critical Insiden
Peristiwa tertentu yang terjadi dalam rangka pelaksanaan tugas seseorang
karyawan yang menggambarkan perilaku karyawan yang bersangkutan, baik
yang sifatnya positif maupun negatif. Berbagai peristiwa tersebut harus
dicatat oleh penilai secara kontinue selama periode evaluasi terhadap setiap
karyawan yang dinilai. Kelebihannya adalah peristiwa kritis sangat bergunu
dalam memberikan umpan balik kepada karyawan dan mengurangi
kesalahan kesan terakhir. Kelemahannya yaitu penilai hanya mencatat
insiden yang baru saja terjadi dengan rapi dan lengkap karena masih segar
dalam ingatan penilai yang bersangkutan yang biasanya dilakukan apabila
masa penilaian sudah dekat.
d.
Evaluasi Lapangan
Penggunaan metode ini meletakkan tanggung jawab utama dalam
melakukan penilaian pada para ahli itu turut kelapangan melakukan
penilaian atas kinerja para karyawan. Hasil penilaian yang telah dilakukan
kemudian disampaikan kepada atasan langsung karyawan yang dinilai untuk
diteliti, diubah atau disetujui dan kepada karyawan yang bersangkutan
sendiri untuk dibicarakan.
Menurut Werther dan Davis (1996:350) banyak metode dalam penilaian
kinerja yang bisa dipergunakan, namun secara garis besar dibagi menjadi dua
jenis, yaitu:
1.
Penilaian kinerja yang berorientasi pada masa lalu
adalah penilaian kinerja atas kinerja seseorang dari pekerjaan yang telah
dilakukannya. Kelebihannya adalah jelas dan mudah diukur, terutama secara
kuantitatif. Kekurangannya adalah kinerja yang diukur tidak dapat diubah
sehingga kadang-kadang justru salah menunjukkan seberapa besar potensi
yang dimiliki oleh seseorang. Selain itu, metode ini kadang-kadang sangat
subyektif dan banyak biasnya.
2.
Penilaian kinerja yang berorientasi ke masa depan
adalah penilaian kinerja dengan menilai seberapa besar potensi pegawai dan
mampu untuk menetapkan kinerja yang diharapkan pada masa datang.
Metode ini juga kadang-kadang masih menggunakan past method. Catatan
kinerja juga masih digunakan sebagai acuan untuk menetapkan kinerja yang
diharapkan. Kekurangan dari metode ini adalah keakuratannya, karena tidak
ada yang bisa memastikan 100% bagaimana kinerja seseorang pada masa
datang.
Berbagai metode dan teknik penilaian pada teknik penilaian pada dasarnya
mempunyai sasaran yang sama yaitu menilai karyawan dalam meniti karirrnya
dan juga bermanfaat bagi orang untuk kepentingan yang berkaitan dengan
karyawan.
2.11 Unsur-unsur Penilaian Kinerja
Dalam proses penilaian kinerja terdapat unsur-unsur yang mempengaruhi
efektifitas kinerja, sehingga unsur-unsur Penilaian Kinerja ini dapat memberikan
gambaran mengenai Penilaian Kinerja.
Menurut Malayu S.P Hasibuan dalam bukunya Manajemen Sumber Daya
Manusia (2000:197). Unsur-unsur yang dinilai dari kinerja :
1.
Kinerja
Penilai menilai hasil kerja baik kualitas maupun kualitas maupun kuantitas
yang dapat dihasilkan oleh karyawan tersebut berdasarkan uraian
pekerjaannya.
2.
Kejujuran
Penilai menilai kejujuran dalam melaksanakan tugas-tugasnya memenuhi
perjanjian baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain seperti
kepada bawahannya.
3.
Kedisiplinan
Penilai menilai disiplin karyawan dalam mematuhi peraturan-peraturan yang
ada mengajukan pekerjaannya sesuai dengan intruksi yang diberikan
kepadanya.
4.
Kesetiaan
Kesetiaan dicerminkan oleh kesediaan karyawannya menjaga dan membela
organisasi didalam maupun diluar pekerjaannya.
5.
Kreatifitas
Kemampuan
karyawan
dalam
mengembangkan
kreatifitas
untuk
menyelesaikan pekerjaannya, sehingga berkerja lebih berdaya guna.
6.
Kerjasama
Kesediaan karyawan berpartisipasi dan berkerja sama dengan karyawan lain
sehingga pekerjaan akan lebih baik.
7.
Kepemimpinan
Kemampuan untuk memimpin, mempengaruhi, mempunyai pribadi yang
kuat, dihormati, berwibawa dan dapat memotivasi orang lain atau
bawahannya untuk berkerja secara efektif.
8.
Kepribadian
Sikap,
perilaku,
kesopanan,
disukai,
memberikan
kesan
yang
menyenangkan, memperhatikan sikap yang baik, dan penampilan simpatik
secara wajar dari karyawan tersebut.
9.
Prakarsa
Kemampuan berpikir yang rasional dan berdasarkan inisiatif sendiri untuk
menganalisa,
menilai,
menciptakan,
memberikan
alasan,
mendapat
kesimpulan dan membuat kesimpulan bagi penyelesaian masalah yang
dihadapi.
10.
Kecakapan
Kecakapan karyawan dalam menyatakan dan menjelaskan semua yang
terlibat didalam penyusunan kebijakan karyawan perusahaan.
11.
Tanggung Jawab
Kejadian karyawan dalam mempertanggung jawabkan kebijakan pekerjaan
dan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang digunakan, perilaku serta hasil
kerja dari bawahannya.
2.12 Masalah-masalah dalam Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja karyawan yang dilakukan dengan adil diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas karyawan. Karyawan yang tidak berprestasi baik
akan memperoleh umpan balik dan diharapkan akan meningkatkan kinerjanya.
Namun kadang cara penilaian kinerja karyawan tidak memperbaiki kondisi dan
dapat memunculkan masalah-masalah berikutnya.
Menurut Hj. Ike Kusdyah Rachmawati (2007:125) dalam pelaksanaan
penilaian kinerja karyawan biasanya terdapat masalah-masalah yang dapat
menyebabkan penilaian kinerja menjadi tidak sesuai, masalah-masalah dalam
penilaian kinerja adalah sebagai berikut :
1.
Kesalahan karena kesan sesaat ( halo effect)
Yaitu bahwa opini seseorang mengenai orang lain berpengaruh terhadap
penilaianya yang dilakukannya, baik dalam arti positif maupun negatif hal
tersebut dapat merugikan karyawan atau bahkan perusahaan.
2.
Kesalahan Kecenderungan berada ditengah (central tendency)
Yaitu dengan memberikan nilai yang agak merata bagi para bawahan yang
dinilainya. Dapat dipastikan bahwa cara demikian sangat tidak adil yang
berprestasi tinggi akan merasa diperlakukan tidak adil dan dirugikan,
sedangkan yang berprestasi rendah memperoleh penghargaan yang tidak
wajar.
3.
Kesalahan karena bersikap lunak dan murah hati ( leniency)
Penilaian cenderung beranggapan bahwa mereka harus berlaku baik
terhadap para bawahan merasa sehingga memberikan nilai tinggi kepada
semua bawahan, tindakan seperti itu pada akhirnya merugikan orang.
4.
Kesalahan bersikap keras dan pelit (strickness)
Yaitu dengan memberikan nilai rendah kepada bawahan, padahal sangat
mungkin ada bawahan yang mampu berprestasi sangat memuaskan dan
sebagian lagi menunjukan kinerja yang tidak memuaskan.
5.
Prasangka pribadi
Yaitu faktor-faktor yang membentuk prasangka pribadi terhadap seseorang
atau kelompok bisa mengubah penilaian, antara lain : faktor senioritas,
kesukuan, agama, kesamaan kelompok atau status sosial.
6.
Pengaruh kesan terakhir
Yaitu menggunakan ukuran-ukuran prestasi kerja subjektif, penilaian sangat
dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan karyawan yang paling akhir. Kegiatankegiatan terakhir baik atau buruk cenderung lebih diingat oleh penilai.
Berbagai masalah diatas dapat dikurangi melalui pemberian latihan bagi
para penilai, umpan balik, dan pemilihan teknik-teknik penilaian prestasi kerja
secara tepat.
Download