POLA KOMUNIKASI ORANG TUA TUNGGAL DALAM

advertisement
POLA KOMUNIKASI ORANG TUA TUNGGAL
DALAM MEMBENTUK KEMANDIRIAN ANAK
(Kasus di Kota Yogyakarta)
YUNI RETNOWATI
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Pola Komunikasi Orang Tua
Tunggal dalam Membentuk Kemandirian Anak (Kasus di Kota Yogyakarta)
adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada
perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbit kan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Maret 2007
Yuni Retnowati
NRP. P054040051
ABSTRAK
YUNI RETNOWATI. Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal dalam Membentuk
Kemandirian Anak (Kasus di Kota Yogyakarta). Dibimbing oleh AIDA
VITAYALA S. HUBEIS dan HADIYANTO
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengkaji pola komunikasi orang tua tunggal
dalam membentuk kemandirian anak; (2) Menganalisis hubungan antara
lingkungan dan karakteristik orang tua tunggal dengan pola komunikasi; (3)
Menganalisis hubungan antara lingkungan dan karakteristik orang tua tunggal
dengan kemandirian anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan
pengumpulan data menggunakan metode survey dengan cara menyebarkan
kuesioner kepada 25 orang tua tunggal yang ditentukan berdasarkan dokumen
Pengadilan Agama Yogyakarta, dan wawancara mendalam dengan 10 orang tua
tunggal. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa: (1) Pola komunikasi interaksi dan transaksi berperan dominan dalam
membentuk kemandirian anak melalui penanaman kesadaran untuk mandiri
kepada anak dan melatih anak mandiri; (2) Faktor lingkungan tidak ada
hubungannya dengan pola komunikasi tetapi karakteristik orang tua tunggal ada
hubungannya dengan pola komunikasi; (3) Faktor lingkungan dan karakteristik
orang tua tunggal ada hubungannya dengan kemandirian anak.
Kata-kata kunci : pola komunikasi, orang tua tunggal, kemandirian
ABSTRACT
YUNI RETNOWATI. The Communication Pattern of Single Parents in
Transforming Children’s Independency (Case in Yogyakarta City). Advised by
AIDA VITAYALA S. HUBEIS and HADIYANTO
The aims of this research are: (1) examining communication pattern of single
parents in transforming children’s independency; (2) analyzing the correlation
between surroundings and the characteristic of single parents to communication
pattern; (3) analyzing the correlation between surroundings and the
characteristic of single parents to children’s independency. This research
employed qualitative approach and survey method by collecting data through
questionnaire with 25 single parents who are determined by having legal
documents issuing by Yogyakarta Religious Court, in-depth interviewed with 10
single parents. Then, data is analyzed descriptively. The results of this research
showed that: (1) the interaction and transaction communication pattern played a
dominant role in transforming children’s independency by internalizing
consciousness to be independent and giving children some training; (2) there is
no correlation between surroundings factor and communication pattern but there
is correlation between the characteristic of single parents and communication
pattern; (3) there is correlation between surroundings factor and the
characteristic of single parents to children’s independency.
Key words : communication pattern, single parent, independency
POLA KOMUNIKASI ORANG TUA TUNGGAL
DALAM MEMBENTUK KEMANDIRIAN ANAK
(Kasus di Kota Yogyakarta)
YUNI RETNOWATI
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
Judul Tesis
: Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal dalam Membentuk
Kemandirian Anak (Kasus di Kota Yogyakarta)
Nama Mahasiswa
: Yuni Retnowati
NRP
: P054040051
Program Studi
: Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Hj. Aida Vitayala S. Hubeis
Ir. Hadiyanto, MS
Ketua
Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi
Komunikasi Pembangunan
Pertanian dan Pedesaan
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr. Ir. Sumardjo, MS
Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS
Tanggal Ujian : 26 Pebruari 2007
Tanggal Lulus :
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pati Jawa Tengah pada tanggal 18 Juni 1967 dari
pasangan H. Sutijono dan Hj. Siti Tjahjani. Penulis yang merupakan anak ke dua
dari dua bersaudara, pernah menikah dan dikaruniai satu orang anak bernama
Dara Giswa Adinipuspa yang lahir pada tanggal 6 Juli 1994, namun sejak Juli
2002 berstatus sebagai orang tua tunggal.
Pendidikan dasar hingga SMP ditempuh di Kabupaten Jepara, SMA
ditempuh di Kota Yogyakarta, lulus tahun 1986. Ta hun yang sama lulus seleksi
masuk IPB melalui Penelusuran Minat dan Ketrampilan (PMDK) tetapi setelah
setahun menempuh TPB (Tingkat Persiapan Bersama) ditinggalkan, kemudian
mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima pada
Program Studi Ilmu Komunikasi (S-1) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada, lulus tahun 1993. Tahun 2004, penulis diterima pada
Program Studi Komunikasi Pembanguna n Pertanian dan Pedesaan untuk Strata-2
(S-2) sekolah Pasca Sarjana IPB dengan biaya kuliah dari Beasiswa Program
Pasca Sarjana (BPPS Dikti) Departemen Pendidikan Nasional.
Penulis bekerja sebagai staf pengajar pada Program Studi Advertising
(Periklanan) Akademi Komunikasi Indonesia Yogyakarta sejak tahun 1994
sebagai dosen tidak tetap, kemudian menjadi dosen tetap sejak tahun 1997. Dari
tahun 1994 – 2000 menjadi dosen luar biasa pada Jurusan Advertising Program
D-3 Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah
Mada. Dari tahun 2000 – 2002 menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah
Penulisan Naskah Iklan pada Jurusan Advertising, Fakultas Ilmu Sosial dan
Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dari tahun 1999 – 2004 dipercaya
menjadi Ketua Program Studi Advertising Akademi Komunikasi Indonesia. Sejak
tahun 2005 berstatus sebagai Dosen Negeri Kopertis Wilayah V Yogyakarta yang
Dipekerjakan pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Penulis juga pernah bekerja
sebagai Copy Writer (penulis naskah iklan) di Artek Advertising Jakarta pada
tahun 1992, dan menjadi pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing di
Yogyakarta Indonesian Language Center - Wisma Bahasa Yogyakarta dari tahun
1993-2004.
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini
merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains (M.Si) dari
Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (KMP) Institut
Pertanian Bogor.
Penelitian ini berjudul “Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal dalam
Membentuk Kemandirian Anak (Kasus di Kota Yogyakarta).” Melalui penelitian
ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi keluarga orang tua tunggal agar
bisa mengembangkan pola komunikasi yang tepat untuk membentuk kemandirian
anak sehingga menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
Ibu Dr. Ir. Hj. Aida Vitayala S. Hubeis (Ketua Komisi Pembimbing) dan Bapak
Ir. Hadiyanto, MS (Anggota Komisi Pembimbing) yang dengan penuh kesabaran
telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan masukan dalam penulisan tesis
ini. Terima kasih juga kepada Bapak Dr. Ir. Basita Ginting Sugihen, MA selaku
penguji luar komisi yang telah memberikan masukan dan saran untuk perbaikan
tesis.
Penghargaan tulus dan terima kasih penulis sampaikan kepada kedua
orang tuaku, Bapak H. Sutijono dan Ibu Hj. Siti Tjahjani, Keluarga Pak Lik Abi
Kusno, serta anakku tercinta Dara Giswa Adinipuspa atas doa, dukungan dan
pengorbanannya selama ini. Tak lupa terima kasih juga penulis sampaikan kepada
semua responden penelitian ini, yaitu ibu tunggal yang telah bersedia memberikan
banyak informasi untuk kelengkapan data penelitian. Mbak Lia sekretaris KMP
atas semua bantuannya selama ini. Teman-teman KMP 2004, terutama Mince,
Tata, Ica, Dini, Pak Narso, Pak Bagyo, Mama Farah, dan Milki atas canda tawa,
bantuan, diskusi dan kebersamaan selama perkuliahan. Teman-teman TPB IPB
Angkatan 23, Iga, Ester, Dwi-Komti, Zainal, Kade, Nining dan Ufi, terima kasih
atas persahabatan, dukungan dan perhatian kalian. Rosa dan keluarga atas
bantuan, dan perhatian yang begitu besar terhadap kondisi kesehatan penulis.
Teman-teman di Pondok Alyesha, Eva, Susan, Dian, Pipit, Nita, dan Lily, atas
persaudaraan selama ini. Teman-teman di kampus AKINDO terutama Alm. Vivi
dan keluarga, Rofiq, Rama, Pipit dan Pak Muntaha atas motivasi, bantuan dan
dukungan moril hingga akhir masa studi di IPB. Ian, Agam, Andi, Ichan, Pak
Akrab, Heni, Pak Ponti dan Abi Jufri, atas kebaikan kalian di saat-saat sulit, hanya
Allah SWT yang bisa membalasnya.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dari tesis ini
yang memerlukan banyak perbaikan. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi
pengembangan ilmu komunikasi khususnya komunikasi keluarga.
Bogor, April 2007
Yuni Retnowati
© Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007
Hak cipta dilindungi
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa ijin tertulis dari
Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam
bentuk apa pun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL………………………………………………………….....
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………….
xii
xiii
xiv
PENDAHULUAN
Latar Belakang………………………………………………………….....
Rumusan Masalah…………………………………………………………
Tujuan Penelitian……………………………………………………….....
Kegunaan Penelitian……………………………………………………….
1
5
5
6
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi dan Perubahan Perilaku………………………………...........
Keluarga……………………………………………………………...........
Keluarga Orang Tua Tunggal……………………………………………...
Komunikasi dalam Keluarga Orang Tua Tunggal…………………...........
Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal..........................................................
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Komunikasi..................................
Kemandirian Anak.......................................................................................
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Anak...............................
Pola Komunikasi dalam Membentuk Kemandirian Anak...........................
7
8
13
19
22
32
36
39
41
KERANGKA PEMIKIRAN.............................................................................
43
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian......................................................................
Desain Penelitian.........................................................................................
Unit Penelitian.............................................................................................
Pengumpulan Data......................................................................................
Instrumentasi...............................................................................................
Analisis Data...............................................................................................
Validitas dan Reliabilitas............................................................................
Definisi Operasio nal...................................................................................
45
45
45
46
47
47
48
50
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Letak Geografis..........................................................................................
Penduduk....................................................................................................
Tingkat Pendidikan....................................................................................
Mata Pencaharia n.......................................................................................
Perceraian di Kota Yogyakarta..................................................................
Alasan Perceraian.......................................................................................
Karakteristik Laki- laki dan Perempuan yang Bercerai...............................
Jumlah Anak dari Keluarga Bercerai.........................................................
Karakteristik Anak dari Keluarga Bercerai................................................
53
53
54
55
55
56
57
58
58
Halaman
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden Orang Tua Tunggal..............................................
Karakteristik Responden Anak…………………………………………….
Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal…………………………………......
Hubungan Lingkungan dan Pola Komunikasi..............................................
Hubungan Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Pola Komunikasi…........
Kemandirian Anak…………………………………………………………
Pola Komunikasi dalam Membentuk Kemandirian Anak………………....
Hubungan Lingkungan dan Kemandirian Anak…………………………...
Hubungan Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Kemandirian Anak….....
60
61
62
65
68
74
75
77
82
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan......................................................................................................
Saran.............................................................................................................
88
89
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................
LAMPIRAN.......................................................................................................
90
95
xi
DAFTAR TABEL
Halaman
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
Penduduk Berdasarkan Status Perkawinan dan Jenis Kelamin di Kota
Yogyakarta, Tahun 2004...........................................................................
Angka Perceraian di Kota Yogyakarta Tahun 2001 – 2005 .....................
Jumlah Anak dari Keluarga Bercerai di Pengadilan Agama Yogyakarta,
Tahun 2001 – 2005...................................................................................
Karakteristik Anak dari Keluarga Bercerai di Pengadilan Agama
Yogyakarta Tahun 2001 – 2005................................................................
Pola Komunikasi pada Berbagai Situasi Komunikasi, Yogyakarta,
2006...........................................................................................................
Kecenderungan Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal.............................
Faktor Lingkungan dan Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal,
Yogyakarta, 2006......................................................................................
Faktor Lingkungan dan Kecenderungan Pola Komunikasi.......................
Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Pola Komunikasi, Yogyakarta,
2006...........................................................................................................
Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Kecenderungan Pola
Komunikasi................................................................................................
Distribusi Aspek Kemandirian Anak, Yogyakarta, 2006..........................
Pola Komunikasi dan Kemandirian Anak.................................................
Pola Komunikasi dan Kecenderungan Kemandirian Anak.......................
Pola Komunikasi dalam Membentuk Kemandirian Anak, Yogyakarta,
2006...........................................................................................................
Faktor Lingkungan dan Kemandirian Anak, Yogyakarta, 2006...............
Faktor Lingkungan dan Kecenderungan Kemandirian Anak....................
Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Kemandirian Anak, Yogyakarta,
2006...........................................................................................................
Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Kecenderungan Kemandirian
Anak..........................................................................................................
xii
54
56
58
59
62
63
65
68
69
73
74
75
76
77
78
81
82
86
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Komunikasi Sebagai Aksi, Reaksi dan Transaksi......................................
Model Komunikasi Shannon dan Weaver..................................................
Model Kedua Schramm..............................................................................
Model Ketiga Schramm.............................................................................
Model Komunikasi Konvergen..................................................................
Bagan Alur Kerangka Pemikiran...............................................................
xiii
23
26
27
28
31
44
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Alasan Cerai di Pengadilan Agama Kota Yogyakarta,
Tahun 2001 – 2005..................................................................................
Responden Orang Tua Tunggal yang Diwawancarai...............................
Karakteristik Laki- laki yang Bercerai di Pengadilan Agama Kota
Yogyakarta, Tahun 2001 – 2005...............................................................
Karakteristik Perempuan yang Bercerai di Pengadilan Agama Kota
Yogyakarta, Tahun 2001 – 2005...............................................................
Karakteristik Anak dan Hak Asuh Anak..................................................
Karakteristik Responden Orang Tua Tunggal, Yogyakarta, 2006............
Karakteristik Responden Anak dari Orang Tua Tunggal,
Yogyakarta, 2006......................................................................................
xiv
95
96
97
98
99
100
101
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Modernisasi membawa perubahan yang luas di bidang ekonomi, sosial dan
budaya. Di bidang ekonomi terlihat peran perempuan menjadi penting dalam
menjalankan fungsi sentral keluarga, sekaligus merupakan sumber daya ekonomi.
Peran mereka tidak terbatas hanya dalam pekerjaan domestik di rumah tangga
namun juga dalam sektor usaha ekonomi. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2001)
memperlihatkan bahwa 44,20 persen kepemilikan usaha mikro berada di tangan
perempuan sedangkan di sektor usaha skala besar mencapai 10,28 persen.
Meningkatnya
jumlah
perempuan
yang
bekerja
di
luar
rumah
menyebabkan kualitas dan kuantitas waktu bersama dengan anggota keluarga
menurun sehingga mempengaruhi fungsi keluarga dalam menyiapkan generasi
mendatang. Lembaga- lembaga di luar keluarga pelan-pelan mulai mengambil alih
fungsi keluarga. Fungsi perlindungan, religi, pendidikan dan rekreasi ya ng semula
dipenuhi oleh keluarga sekarang digantikan oleh polisi, tempat ibadah, sekolah
dan fasilitas hiburan komersial. Fungsi utama keluarga yang tetap bertahan adalah
fungsi pemenuhan kebutuhan emosional. Keluarga adalah satu-satunya lembaga
yang bisa memberikan kasih sayang.
Modernisasi juga berdampak pada terjadinya perubahan nilai sosial
budaya. Suami bukan satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga. Istri yang
bekerja tidak tergantung pada suami secara ekonomi sehingga tidak lagi terjebak
dalam perkawinan yang tidak berbahagia karena alasan ekonomi. Perubahan
sistem
nilai
dalam
masyarakat
mengurangi
tekanan
pada
perlunya
mempertahankan kelangsungan sebuah perkawinan. Dulu perceraian dianggap
tabu sehingga tidak sedikit perkawinan tetap dipertahankan meskipun sudah tidak
harmonis lagi. Saat ini masyarakat tidak lagi melihat perceraian sebagai sesuatu
yang memalukan dan harus dihindari. Masyarakat dapat memahami perceraian
sebagai salah satu langkah untuk menyelesaikan kemelut keluarga yang terjadi
antara pasangan suami istri.
Sejalan dengan berubahnya gaya hidup dan datangnya modernisasi angka
perceraian di seluruh dunia mengalami peningkatan. Di Amerika Serikat angka
2
perceraian meningkat dengan tajam sejak tahun 1960-an. Pada awal tahun 1970an satu dari setiap tiga perkawinan di Amerika berakhir dengan perceraian, di
Jerman Barat perbandingannya satu dari tujuh perkawinan, di Jepang satu dari
sepuluh. Angka perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun juga menunjukkan
peningkatan yaitu satu dari lima perkawinan. (Gunadi, 2006)
Perceraian menyebabkan struktur keluarga berubah menjadi tidak lengkap
dengan hilangnya salah satu figur orang tua. Bersamaan dengan fenomena ini
istilah single parent atau orang tua tunggal menjadi populer di kalangan
masyarakat. Istilah single parent lebih sering digunakan untuk menyebut ibu yang
berperan sebagai orang tua tunggal karena kebanyakan anak yang orang tuanya
bercerai berada dalam pengasuhan ibu.
Ketetapan dalam Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa di dalam
suatu perceraian hak asuh anak yang belum akil bhaliq berada di tangan ibu. Dari
segi budaya, masyarakat menganggap mengasuh anak adalah tugas dan kewajiban
ibu sedangkan mencari nafkah adalah tugas dan kewajiban ayah. Pertimbangan
lain yang mendasarinya adalah karena secara emosional anak-anak lebih dekat
dengan ibu. Kecuali bila ibu secara moral dianggap tidak layak mengasuh anak
maka hak asuh anak bisa dipindahkan ke pihak lain demi perkembangan jiwa
anak.
Keluarga tidak utuh memiliki pengaruh negatif bagi perkembangan anak.
Dalam masa perkembangan seorang anak membutuhkan suasana keluarga yang
hangat dan penuh kasih sayang. Di dalam keluarga yang tidak utuh kebutuhan ini
tidak didapatkan secara memuaskan. Anak yang diasuh oleh ibu tunggal
kehilangan figur ayah dalam keluarga. Hilangnya figur ayah akibat perceraian
mengakibatkan anak kehilangan tokoh identifikasi. Tokoh tempat anak belajar
bertingkah laku menjadi berkurang.
Figur ayah memberikan perlindungan, rasa aman dan kebanggaan pada
diri anak. Ketegasan seorang ayah memberikan pengaruh kuat dalam
menanamkan disiplin dan kepercayaan diri anak. Menurut Gottman dan DeClaire
(1998) keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak penting karena mempengaruhi
perkembanga n sosial anak. Anak-anak yang mendapatkan kehangatan dari ayah
sewaktu kanak-kanak cenderung mempunyai hubungan sosial yang lebih baik.
3
Konsep perkembangan sosial mengacu pada perilaku anak dalam
hubungannya dengan lingkungan sosial untuk mandiri dan dapat berinteraksi atau
menjadi manusia sosial. Kemandirian adalah salah satu komponen dari kecerdasan
emosional. Para ahli pendidikan dan psikolog berpendapat bahwa kemandirian
menentukan keberhasilan dalam kehidupan seseorang. Sikap mandiri yang berakar
kuat dalam diri seorang anak akan membuat anak tangguh, tidak mudah
diombang-ambingkan keadaan dan mampu memecahkan masalah tanpa bantuan
orang lain. Hal ini akan memberikan pengaruh yang berarti dalam kehidupan
seorang anak di masa mendatang. Anak yang memiliki sikap mandiri kelak akan
mampu bertahan dalam kehidupan yang penuh persaingan.
Pembentukan kemandirian dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan,
namun faktor yang paling berpengaruh adalah keluarga khususnya peranan orang
tua. Orang tua dapat mendorong anak untuk mandiri dengan mengajar dan
membimbing mereka melakukan rutinitas kecil sehari- hari. Dengan demikian
mereka merasa diberi kepercayaan sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan
mengurangi ketergantungannya.
Ibu yang berperan sebagai orang tua tunggal dianggap memiliki
keterbatasan dalam proses pembentukan kemandirian anak. Tidak adanya figur
ayah dalam keluarga membuat anak kurang disiplin dan kurang memiliki
kepercayaan diri. Ibu tunggal sering tidak konsisten dalam menjalankan
disiplinnya (Frankl, 1972). Di satu sisi diyakini bahwa kedisiplinan dan
kepercayaan diri merupakan dasar terbentuknya sikap mandiri anak.
Tidak semua anak dari ibu tunggal tumbuh menjadi anak yang tidak
mandiri. Ada juga kelompok anak yang mandiri. Kita bisa melihat beberapa
contoh dari kalangan selebriti Indonesia. Tiga diva Indonesia, Titi DJ, Krisdayanti
dan Ruth Sahanaya pada masa kecilnya adalah anak-anak yang dibesarkan oleh
ibu tunggal. Mereka tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan meraih keberhasilan
dalam kehidupannya. Regy Lawalata adalah contoh ibu tunggal yang berhasil.
Kedua anaknya, Oscar dan Mario dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh
setelah kedua orang tuanya bercerai namun mereka tumbuh menjadi anak yang
mandiri.
4
Perlakuan ibu terhadap anak dan faktor lingkungan memberikan pengaruh
yang berbeda terhadap kemandirian anak. Mianda (2002) berpendapat bahwa ibu
tunggal cenderung memberikan perlindungan yang berlebihan kepada anak
sehingga anak menjadi kurang percaya diri dan akhirnya menjadi kurang mandiri.
Perlakuan ibu terhadap anak bisa dilihat dari interaksi dan komunikasi
yang terjalin antara ibu dan anak yang berupa komunikasi antar pribadi. Bentuk
komunikasi ini dinilai paling ampuh untuk mengubah sikap, pendapat dan
perilaku seseorang. Umumnya komunikasi antar pribadi berlangsung secara tatapmuka sehingga memungkinkan terjadinya personal contact. Kasih sayang dan
kehangatan ibu menjadi dasar terbentuknya hubungan yang menyenangkan dalam
komunikasi. Suasana menyenangkan dan hangat menjadi dasar perkembangan
emosi yang stabil dan membentuk kepribadian yang percaya diri.
Komunikasi adalah salah satu faktor yang perlu diperhatikan orang tua
yang menginginkan anaknya mandiri. Melalui komunikasi, orang tua dapat
membentuk kemandirian anak. Bagaimana cara ibu tunggal berkomunikasi
dengan anak menentukan apakah anak tumbuh mandiri atau sebaliknya. Sikap
dan perilaku mandiri dapat berkembang baik melalui latihan dan dorongan orang
tua yang disampaikan melalui komunikasi.
Penelitian tentang kemandirian dilakukan oleh Djunanah (1999), Lukman
(2000) dan Dhamayanti (2006). Djunanah meneliti tentang pengaruh sikap
penerimaan orang tua dan kemandirian siswa SMU UII Yogyakarta. Hasil
penelitian Djunanah menemukan adanya hubunga n antara sikap penerimaan orang
tua dengan kemandirian siswa SMU. Lukman meneliti tentang kemandirian anak
asuh di Panti Asuhan Yatim Islam ditinjau dari konsep diri dan kompetensi
interpersonal. Penelitian Lukman menyimpulkan adanya hubungan antara konsep
diri dan kompetensi interpersonal dengan kemandirian anak asuh panti asuhan
yatim. Dhamayanti meneliti kemandirian anak usia 2,5 – 4 tahun ditinjau dari tipe
keluarga dan tipe prasekolah. Hasil penelitian menemukan bahwa prasekolah full
day lebih baik untuk merangsang anak dalam meningkatkan kemandirian,
sedangkan tipe keluarga tidak banyak berperan dalam perkembangan kemandirian
anak.
5
Mengingat kemandirian akan banyak memberikan dampak yang positif bagi
perkembangan individu, kemandirian diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai
kemampuannya . Berdasarkan pertimbangan bahwa jumlah orang tua tunggal di
Indonesia makin meningkat dan mengingat komunikasi bisa diarahkan untuk
mengubah sikap dan perilaku seseorang seperti halnya dalam membentuk
kemandirian anak maka penelitian ini perlu dilakukan.
Rumusan Masalah
Beberapa praduga menyatakan bahwa anak yang dibesarkan oleh ibu
tunggal dalam keluarga yang bercerai dianggap tidak mandiri. Kenyataan yang
ditemukan dalam kehidupan sehari- hari, tidak semua anak dari ibu tunggal
menunjukkan sikap dan perilaku tidak mandiri. Interaksi dan komunikasi antara
ibu tunggal dan anak menentukan seorang anak akan tumbuh menjadi anak
mandiri atau tidak. Berdasarkan hal tersebut maka permasalahan yang diteliti
adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pola komunikasi orang tua tunggal dalam membentuk
kemandirian anak?
2. Bagaimana hubungan antara lingkungan dan karakteristik orang tua
tunggal dengan pola komunikasi antara orang tua tunggal dan anak?
3. Bagaimana hubungan antara lingkungan dan karakteristik orang tua
tunggal dengan kemandirian anak?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mendeskripsikan pola
komunikasi orang tua tunggal dalam membentuk kemandirian anak. Dengan
mengacu pada permasalahan yang ada, maka tujuan khusus dari penelitian ini
adalah untuk :
1. Mengkaji pola komunikasi orang tua tunggal dalam membentuk
kemandirian anak.
2. Menganalisis hubungan antara lingkungan dan karakteristik orang tua
tunggal dengan pola komunikasi antara orang tua tunggal dan anak.
6
3. Menganalisis hubungan antara lingkungan dan karakteristik orang tua
tunggal dengan kemandirian anak.
Kegunaan Penelitian
Komunikasi antar-pribadi yang terjadi antara ibu dan anak bisa diarahkan
untuk mencapai tujuan tertentu. Kemandirian anak adalah tujuan pendidikan anak
dalam keluarga. Kemandirian bisa dibentuk melalui komunikasi antara ibu dan
anak. Orang tua bisa memilih pola komunikasi yang sesuai sebagai pedoman
dalam berkomunikasi dengan anak dan membentuk kemandirian anak. Sejalan
dengan hal tersebut maka hasil penelitian ini diharapkan :
1. Memberi masukan kepada masyarakat luas khususnya orang tua tunggal
dalam mengembangkan pola komunikasi yang sesuai untuk membentuk
kemandirian anak.
2. Memperkaya khasanah penelitian komunikasi keluarga.
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi dan Perubahan Perilaku
Komunikasi
Kita mengalami perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi (Mulyana,
2002). Hal ini sejalan dengan definisi komunikasi yang dinyatakan oleh Hovland,
Janis dan Kelly (1953) dalam Rakhmat (2001) yaitu proses di mana seseorang
(komunikator) menyampaikan stimuli (biasanya verbal) untuk mengubah perilaku
individu lain (audience).
Tujuan komunikasi menurut Effendy (2001) adalah mengubah sikap,
opini, perilaku dan masyarakat. Sedangkan cara kerja untuk menimbulkan
perubahan dalam diri seseorang bisa dilakukan: (1) menyampaikan informasi, (2)
mengajar atau memberikan instruksi, (3) membujuk/mendesak, dan (4) dialog
(Kincaid dan Schramm, 1987).
Perubahan Perilaku
Perubahan sikap dan perilaku memang tidak mudah dan perlu waktu lama
karena prosesnya kompleks dan menyangkut komponen kognitif, komponen
afektif dan komponen kecenderungan perilaku (Tarmud ji, 2002). Komunikasi
antar pribadi dianggap paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat dan
perilaku seseorang karena bersifat dialogis. Masing- masing pihak menyadari
dirinya sebagai pribadi yang dapat menerima dan juga dapat menyampaikan pesan
sehingga terjadi suatu dialog antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lainnya
(Effendy, 1996).
Behaviorisme melihat bahwa perilaku manusia dipelajari dengan
membentuk asosiasi, artinya perilaku manusia terjadi melalui kebiasaan, refleksi,
atau hubungan antara respon dan peneguhan yang memungkinkan dalam
lingkungan. Dengan demikian, pada dasarnya perilaku manusia lebih ditentukan
oleh lingkungan (Rakhmat, 2001).
Dukungan terhadap behaviorisme ditunjukkan dengan lahirnya Teori
Brofenbrenner (1979) yang menyatakan bahwa perilaku seseorang tidak berdiri
8
sendiri, melainkan merupakan dampak dari interaksi orang yang bersangkutan
dengan lingkungan di luarnya yang dibagi ke dalam beberapa lingkaran, yaitu :
1. Lingkaran pertama adalah yang paling dekat dengan pribadi anak, yaitu
lingkaran sistem mikro yang terdiri dari keluarga, sekolah, guru, tempat
penitip an anak, teman bermain, tetangga, rumah, tempat bermain dan
sebagainya yang sehari- hari ditemui oleh anak.
2. Lingkaran kedua adalah interaksi antar faktor- faktor di dalam sistem mikro
(hubungan orang tua- guru, orang tua-teman, antar teman, guru-teman) ya ng
dinamakannya sistem meso.
3. Di luar sistem mikro dan meso, ada lingkaran ketiga yang disebut sistem exo,
yaitu lingkaran lebih luar lagi, yang tidak langsung menyentuh pribadi anak,
akan tetapi masih besar pengaruhnya, seperti keluarga besar, polisi, dokter,
koran, televisi, dan sebagainya.
4. Akhirnya, lingkaran yang paling luar adalah sistem makro, yang terdiri dari
ideologi negara, pemerintah, tradisi, agama, hukum, adat, budaya dan
sebagainya..
Salah satu Teori Belajar yang dapat menjelaskan proses belajar seorang
individu melalui lingkungannya adalah Teori Belajar Sosial yang dikemukakan
oleh Bandura (1995). Senada dengan pandangan behaviorisme, Bandura
menyatakan bahwa manusia menciptakan atau membentuk suatu perilaku melalui
interaksi dengan lingkungan.
Menurut Bandura dan teori Brofenbrenner, salah satu lingkungan yang
paling berpengaruh terhadap proses belajar sosial seseorang adalah keluarga
melalui komunikasi interpersonal. Oleh karena itu, keluarga sebagai lingkungan
pertama bagi seorang anak, akan memegang peranan penting dalam proses belajar
sosial serta membentuk perilaku dan kepribadiannya.
Keluarga
Hakikat Keluarga
Secara tradisional keluarga diartikan sebagai dua atau lebih orang yang
dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang
memiliki tempat tinggal bersama. Galvin dan Brommel (1991) dalam Tubbs dan
9
Moss (2001) menyatakan bahwa keluarga adalah jaringan orang-orang yang
berbagi kehidupan mereka dalam jangka waktu yang lama, yang terikat oleh
perkawinan, darah atau komitmen, legal atau tidak, yang menganggap diri mereka
sebagai keluarga dan yang berbagi pengharapan-pengharapan masa depan
mengenai hubungan yang berkaitan.
Orang tua dan anak adalah jaringan yang terikat oleh hubungan darah.
Orang tua mempunyai harapan- harapan tertentu pada anak-anaknya. Mussen et al.
(1989) mengemukakan bahwa orang tua mempunyai tujuan khusus dan umum
untuk anak-anak mereka yang meliputi nilai moral, pengetahuan dan standar
perilaku yang harus dimiliki anak bila sudah dewasa. Orang tua mencoba berbagai
cara untuk mendorong anak mencapai tujuan tersebut. Orang tua menggunakan
diri sebagai panutan, memberi hukuman, menjelaskan harapan dan kepercayaan
kepada anak-anak untuk dapat memiliki lingkungan yang baik, mencarikan teman
sebaya dan sekolah untuk mencapai tujuan mereka.
Sebagai sebuah lembaga, keluarga mempunyai karakteristik dan fungsi
tertentu. Di antara fungsi keluarga adalah: (1) merawat anak-anak, (2)
menghasilkan pertumbuhan kepribadian agar anak berhasil dalam lingkungan
sosial, dan (3) memenuhi kebutuhan emosional setiap anggota keluarga (Day et
al., 1995) .
Vembrianto
(1993)
menyatakan
bahwa
fungsi
keluarga
adalah
memelihara, merawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar
mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Keluarga merupakan
institusi sosial yang bersifat universal dan multi fungsi. Fungsi sosialisasi,
pendidikan keagamaan, perlindungan, rekreasi dan kontrol sosial dilakukan oleh
keluarga namun karena proses industrialisasi, urbanisasi dan sekularisasi maka
keluarga dalam masyarakat modern kehilangan sebagian dari fungsi- fungsi
tersebut. Fungsi utama keluarga yang tetap melekat yaitu melindungi,
memelihara, sosialisasi dan memberikan suasana kemesraan bagi anggotanya.
Para ahli memandang keluarga sebagai suatu sistem yang menekankan
hubungan antar anggotanya. Virginia Satir dalam Tubbs dan Moss (2001)
membedakan sistem keluarga tertutup dengan sistem keluarga terbuka. Dalam
10
suatu sistem tertutup, komunikasi tidak langsung, tidak jelas, tidak spesifik, tidak
sebangun, mengganggu pertumbuhan, aturan-aturan tertutup dan usang, orangorang menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan mereka dengan aturan-aturan. Dalam
sistem yang terbuka, komunikasi langsung, spesifik, sebangun dan mendorong
pertumbuhan, aturan-aturan terbuka dan baru, berubah bila kebutuhan muncul.
Para peneliti telah mengembangkan model interaksi dalam keluarga yang
disebut circumplex model of family interaction untuk menjelaskan fungsi efektif
dan disfungsi dalam sistem keluarga. Model tersebut memiliki tiga elemen dasar,
yaitu kemampuan beradaptasi, kohesi dan komunikasi. Kemampuan beradaptasi
adalah kemampuan yang dimiliki sebuah keluarga untuk mengubah dan merespon
perubahan struktur tugas atau peran. Kohesi berkaitan dengan ikatan emosional
dan perasaan akan kebersamaan. Komunikasi merupakan penentu apakah suatu
keluarga
termasuk
kohesif
atau
adaptable,
dan
komunikasi
menjaga
keberlangsunga n keluarga sebagai suatu sistem (Beebe, 1999).
Berbagai perubahan dan tekanan yang terjadi dalam keluarga seperti
perkembangan yang terjadi pada anak-anak, kemunduran ekonomi dan perceraian
menuntut kemampuan keluarga untuk menyesuaikan diri. Keluarga yang sulit
menyesuaik an diri mereka dengan setiap perubahan yang terjadi dianggap kaku.
Bochner dan Eisenberg (1987) dalam Moss dan Tubbs (2001) memandang
kemampuan beradaptasi lebih penting daripada kohesi bagi berjalannya sebuah
keluarga.
Peran Keluarga dalam Perkembangan Anak
Perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu
faktor yang ada di dalam diri anak sendiri dan faktor lingkungan (Welis, 1994
dalam Kandoli, 2000). Lingkungan dibedakan menjadi lingkungan fisik dan
lingkungan sosial. Lingkungan
fis ik yaitu lingkungan yang berupa alam dan
benda ciptaan manusia. Lingkungan sosial adalah lingkungan yang berwujud
manusia yang merupakan masyarakat di mana mereka berinteraksi (Purnomo,
1990 dalam Kandoli, 2000).
Lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan meliputi keluarga,
sekolah dan masyarakat. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan
11
yang pertama karena di dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan
didikan dan bimbingan dan juga karena sebagian besar kehidupan anak adalah di
dalam keluarga sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak
adalah dalam keluarga (Hasbullah, 1999). Sedangkan menurut Amal (1990) dalam
masyarakat modern dan industrial sumber pengetahuan yang utama bagi anak
tidak lagi hanya keluarga tetapi juga sekolah (pendidikan formal), teman sebaya
(peer group), guru, buku dan media massa.
Keluarga merupakan wadah bagi seorang anak untuk mengenal segala
macam norma kehidupan. Peran keluarga adalah sebagai peletak dasar bagi pola
pengembangan kepribadia n yang dimiliki seseorang. Di dalam keluargalah kali
pertama anak-anak mendapat pengalaman yang akan digunakan sebagai bekal
hidupnya di kemudian hari melalui latihan fisik, sosial, mental, emosional dan
spiritual. Elkin dalam Dimmick (1987) berpendapat bahwa keluarga mempunyai
peran dominan dalam perkembangan ciri kepribadian dasar dan sikap-sikap serta
nilai- nilai sosial lainnya. Dengan demikian, keluarga mempunyai pengaruh yang
paling banyak terhadap perkembangan dan kehidupan sosial anak.
Sebagai lingkungan pertama tempat anak belajar bersosialisasi, keluarga
memiliki peran besar dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan
anak. Menurut Hurlock (1991) keluarga memberi sumbangan besar dalam
perkembangan anak, yaitu dalam hal: (1) memberi rasa aman karena menjadi
anggota yang stabil, (2) memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis, (3) sumber
kasih sayang dan penerimaan, (4) memberi contoh dan pengembangan pola
perilaku yang disetujui, (5) memberi bantuan pemecahan masalah, (6) memberi
bimbingan dan bantuan dalam mempelajari berbagai ketrampilan, (7) memberi
stimulus untuk memperoleh keberhasilan di sekolah dan kehidupan sosial, (8)
memberi bantuan dalam menetapkan aspirasi yang sesuai dengan minat dan
kemampuan, dan (9) sebagai sumber persahabatan hingga mereka mendapat
teman di luar rumah atau ketika tidak ada teman.
Menurut Ahmadi (1999) faktor-faktor keluarga yang mempengaruhi
perkembangan anak adalah: (1) keutuhan keluarga, berdasarkan beberapa
penelitian yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri sejak tahun 1938
ditemukan ada hubungan antara keluarga tidak utuh dengan gejala kenakalan pada
12
anak, (2) kondisi sosial ekonomi keluarga, berdasarkan penelitian eksperimental
yang dilakukan Prestel dan Hetzer di Jerman (Ahmadi, 1999) disimpulkan bahwa
kondisi sosial ekonomi yang sangat tinggi dan sangat rendah mempunyai
pengaruh terhadap perkembangan anak. Keluarga kaya mampu menyediakan
kebutuhan materiil bagi anak-anaknya tetapi tidak berarti anak-anak berkembang
dengan wajar. Keluarga miskin juga terlalu sibuk mencari nafkah sehingga
perhatian terhadap anak berkurang, (3) besar kecilnya keluarga, anak dari
keluarga besar lebih toleran karena sudah biasa bergaul dengan orang lain, (4)
status anak, berdasarkan penelitian tentang perkembangan sosial anak tunggal dan
anak yang bersaudara didapatkan hasil bahwa anak tunggal mengalami hambatan
dalam perkembangan sosial karena tidak biasa bergaul dengan anak-anak sebaya,
dan (5) pola asuh orang tua, makin otoriter orang tua makin berkurang
ketidaktaatan tetapi makin banyak timbul ciri pasif, kurang inisiatif, tidak dapat
merencanakan sesuatu, daya tahan berkurang dan penakut, sedangkan anak dari
orang tua demokratis menunjukkan ciri berinisiatif, tidak takut, lebih giat, lebih
bertujuan tetapi memberi kemungkinan berkembang sifat-sifat tidak taat dan tidak
mau menyesuaikan diri.
Zelditch dalam Gordon (1978) menyebutkan dua peran orang tua yaitu:
(1) instrumental, yang dilakukan oleh bapak/suami dalam kepemimpinan di
bidang ekonomi dan pembuatan keputusan sekaligus figur otoritas, dan (2)
ekspresif/emosional yang biasanya dijalankan ibu/istri dalam pengungkapan kasih
sayang, dukungan dan kedamaian. Kedua peran tersebut dijalankan oleh keluarga
yang juga merupakan institusi dasar dalam rangka membentuk individu
bertanggung jawab, mandiri, kreatif dan hormat melalui proses sosialisasi terus
menerus kepada anak-anaknya.
Orang tua bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan emosi anak.
Agar seorang anak dapat berkembang wajar secara psikososial, anak perlu
mendapat perhatian, pengertian, rasa aman, penghargaan dan penerimaan dari
kedua orang tuanya. Menurut Suwondo (1981) dalam Kandoli (2000) yang
pertama-tama bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan anak, baik
secara rohani, jasmani maupun sosial adalah orang tuanya. Sedangkan Gunarsa
(1990) menyatakan bahwa secara khusus ibu berperan penting dalam upaya
13
pemenuhan kebutuhan emosi anak melalui perhatian dan sikap dalam berinteraksi
serta berkomunikasi dengan anak karena ibu merupakan sosok yang dekat dengan
anak dan berperan sebagai pelindung dan pengasuh utama.
Keluarga Orang Tua Tunggal
Galvin dan Brommel dalam Arliss (1999) menunjukkan bahwa bentuk
keluarga telah berubah, yang salah satunya ditandai dengan meningkatnya jumlah
single parent family. Balson (1999) mengungkapkan bahwa peristiwa khas yang
menimpa keluarga ini berkaitan dengan emosi dan penyesuaian diri. Ditambahkan
oleh Ahmadi (1999), tidak hadirnya salah satu orang tua, karena kematian atau
perceraian, berpengaruh terhadap perkembangan anak. Berdasarkan penelitian
para psikolog, anak-anak dari keluarga yang tidak utuh memperoleh nilai
psikologis yang rendah terutama dalam hal fleksibilitas, penyesuaian diri,
pengertian akan orang dan situasi di luarnya, dan pengendalian diri.
Kebanyakan orang tua tunggal adalah perempuan sehingga riset
difokuskan pada tidak adanya ayah dalam keluarga. Meskipun orang tua tunggal
cenderung mempunyai banyak masalah seperti konflik antara tanggung jawab
pekerjaan dan rumah tangga, peran yang terlalu berat, tekanan karena harus
membuat keputusan sendiri, menemukan waktu yang cukup untuk anak dan
kehidupan pribadi mereka, kebutuhan fasilitas perawatan anak yang cukup dan
isolasi sosial, kita tidak bisa menganggap bahwa keluarga orang tua tunggal
adalah unit yang disfungsional. Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang
tua tunggal berfungsi secara efektif ( Nock, 1987).
Hubungan Orang Tua Tunggal dan Anak
Perceraian menghilangkan hak anak untuk mendapatkan pengasuhan dari
dua orang tua. Hak asuh yang diberikan kepada ibu berarti kurangnya interaksi
anak dengan ayahnya. Menurut Landis dalam Ihromi (1999) dampak lain dari
perceraian bila anak berada dalam pengasuhan dan perawatan ibu adalah
meningkatnya perasaan dekat anak dengan ibu serta menurunnya jarak emosional
terhadap ayah.
14
Untuk mengisi kekosongan model peran karena anak hanya tinggal dengan
satu orang tua, orang tua tunggal mencarikan tokoh pengganti yang bisa diambil
dari dalam atau luar keluarga. Lewat interaksi dengan tokoh pengganti itu, anak
bisa mempelajari hal-hal yang tidak didapatkan dari orang tuanya (Chairani dan
Nurachmi, 2002).
Para peneliti menemukan kecenderungan bahwa orang tua tunggal lebih
terbuka pada anak, dengan keseimbangan yang lebih besar, lebih sering
berinteraksi dan kohesi meningkat (Weiss dalam Nock, 1987).
DeWitt dalam Chairani dan Nurachmi (2002) menyatakan bahwa dalam
keadaan sulit sekalipun, orang tua tunggal tetap berusaha membantu anakanaknya menghadapi emosinya dengan menyediakan waktu bagi anak untuk
mengungkapkan perasaannya. Orang tua tunggal mengakui perasaan terluka
anaknya dan membiarkan anak menumpahkan amarahnya karena anak sedang
memerlukan dukungan lebih banyak dari sebelumnya. Jika anak masih terlalu
kecil, ibu akan memeluk untuk memberikan perasaan aman. Jika anak cukup
besar, orang tua bisa mengajak bicara sesuai daya tangkapnya tentang kondisi
keluarga. Orang tua bisa mengemukakan apa yang dirasakan dan apa saja
harapannya dan bagaimana anak bisa membantunya. Jika cara itu dilakukan bisa
menumbuhkan harga diri anak. Selain itu, anak bisa diajak bersama-sama
menunjukkan kepada masyarakat bahwa sekalipun keluarga tidak lengkap tetapi
bisa lebih baik dari keluarga yang utuh sehingga anak bisa belajar mensyukuri apa
yang diperoleh. Pada saat keadaan emosi anak masih labil orang tua berusaha
sedapat mungkin menciptakan suasana rumah yang stabil.
Berbeda dengan hal tersebut, beberapa penelitian di Amerika Serikat
menunjukkan bahwa orang tua tunggal tidak mengawasi anak-anaknya seperti
yang terjadi pada keluarga utuh. Surva i yang dilakukan terhadap para murid SMU
yang berasal dari keluarga orang tua tunggal melaporkan bahwa sedikit orang tua
tunggal yang mengetahui di mana anak berada sepulang sekolah dan bagaimana
anak bersekolah dibanding keluarga dengan dua orang tua. Perbedaan ini tampak
pada beberapa tingkat status sosial ekonomi ( Astone dan Mc. Lanahan dalam
Cherlin, 2002).
15
Menurut sejumlah psikolog, orang tua tunggal sering kali terjebak dengan
menjadikan anak sebagai mitra yang sama kedudukannya. Akhirnya, anak lakilaki terjebak menjadi lelakinya keluarga, anak perempuan menjadi ibu bagi adikadiknya. Fenomena ini biasanya terjadi secara alami, bukan karena pilihan sadar
dari orang tua. DeWitt dalam Chairani dan Nurachmi (2002) berpendapat bahwa
anak harus menyadari tanggung jawabnya pada keluarga adalah sebagai seorang
anak atau kakak. Anak membantu orang tua dalam kehidupan sehari- hari tetapi
mereka tidak menggantikan peran ayah atau ibu mereka yang hilang.
Orang tua tunggal memperluas jaringan pergaulan pertemanan yang bisa
memberikan dukungan tambahan untuk bantu membantu. Orang tua tunggal yang
didukung lingkungan seperti itu biasanya secara mental dan fisik merasa lebih
baik. Orang tua tunggal tidak perlu berambisi menjadi orang tua sempurna. Orang
tua bisa menunjukkan kepada anak bahwa pada saat-saat tertentu boleh saja kita
minta pertolongan seseorang (Chairani, 2002).
Rasa bersala h ibu atas perceraian mengakibatkan ibu berbuat banyak hal
untuk anak bahkan membiarkan kehidupannya dikontrol oleh anak-anaknya.
Penyesuaian yang dilakukan ibu sebagai orang tua tunggal akan menimbulkan
masalah jika ia merasa bertanggung jawab secara berlebihan terhadap anakanaknya. Para ibu sering berupaya untuk berperan sebagai ibu sekaligus sebagai
ayah dengan mengambil banyak tanggung jawab sehingga anak memikul sedikit
tanggung jawab (Balson, 1999). Menurut Clemes dan Bean (2001) seorang anak
yang bertindak tanpa tanggung jawab akan lebih banyak mengalami hukuman dan
kritik sehingga rasa harga dirinya merosot dan ia juga akan mengembangkan sikap
negatif terhadap kehidupan.
Permasalahan yang dihadapi Orang Tua Tunggal
Banyak masalah yang dihadapi ole h ibu sebagai orang tua tunggal.
Berdasarkan hasil penelitian di Amerika Serikat, masalah yang paling menonjol
adalah pendapatan rendah dan konflik yang berlanjut dengan mantan pasangan.
Rendahnya atau menurunnya pendapatan karena tidak ada bantuan dari ayah atau
dukungan keuangan lain membuat anak dari orang tua tunggal menghadapi resiko
putus sekolah Bahkan jika pendapatan orang tua turun hingga di bawah garis
16
kemiskinan maka anak lak- laki menunjukkan masalah penyimpangan perilaku
(Mc. Lanahan dan Sandetur dalam Cherlin, 2002).
Masalah lain yang muncul adalah menurunnya kemampuan sebagai orang
tua yang ditunjukkan dengan menurunnya emosi secara tajam, berkurangnya
hubungan yang menyenangkan antara anak dan orang tua, menurunnya perhatian
pada kebutuhan dan keinginan anak serta kurangnya komunikasi dan interaksi
dengan anak. Ibu sebagai pemegang hak asuh anak mengalami stress sehingga
menjadi sering marah, jengkel dan depresi. Kondisi ini menimbulkan beberapa
kesulitan terutama dalam memberikan dukungan emosional kepada anak yang
juga mengalami kesedihan akibat perceraian orang tua. Selain itu, orang tua
tunggal menjalankan pola pengasuhan yang kurang konsisten terutama dalam
penerapan disiplin kepada anak. Tahap ini oleh para psikolog disebut authoritative
parenting (Wallerstein dan Kelly dalam Cherlin, 2002).
Pengaruh Keluarga Orang Tua Tunggal terhadap Perkembangan Anak
Seorang ibu yang mempunyai posisi sebagai single parent harus
memegang dua peran sekaligus yaitu sebagai ibu yang harus mengasuh dan
mendidik anak juga menggantikan figur bapak yang harus mencari nafkah. Teori
pengasuhan ibu tunggal pada keluarga bercerai dan teori kesehatan mental dari
Frankl (1972) mengemukakan bahwa seorang ibu tunggal sering mengalami
ketimpangan dan kemiskinan dalam otoritas pengasuhan. Tidak adanya sosok
seorang ayah menyebabkan ibu tunggal sering tidak konsisten dalam menjalankan
disiplinnya. Hilangnya ayah sebagai sumber penghasilan keluarga menyebabkan
ibu tunggal harus bekerja di luar rumah. Peran ganda yang dimainkan itu pada
akhirnya tidak sesuai dengan waktu mengasuh anak, kondisi serta kemampuan
yang dimilikinya.
Tanpa disadari
semua
faktor
tersebut
menyebabkan
ketimpangan dalam pola pengasuhan sehingga berpengaruh terhadap kesehatan
mental seorang anak.
Kurangnya kehangatan dan perhatian yang diberikan oleh seorang ibu
tunggal kepada anak menyebabkan anak tidak memiliki rasa aman di dalam
dirinya. Kesibukan ibu bekerja membuat anak tidak mempunyai seorang ibu yang
bisa diajak bercakap-cakap ataupun bertukar pendapat. Anak seringkali merasa
17
takut menghadapi masa depan dan mudah putus asa. Anak juga merasa tidak
memiliki kebebasan dalam membuat pilihan penting serta mengalami kesulitankesulitan lain seperti pandangan negatif dari masyarakat sehubungan dengan
perceraian kedua orang tua mereka (Mianda, 2002).
Sering terjadi perbedaan pendapat mengenai dampak ibu bekerja terhadap
pengasuhan anak. Sebagian besar masyarakat sering beranggapan bahwa status
ibu bekerja selalu negatif akibatnya terhadap pengasuhan anak. Sedangkan yang
lain mengemukakan bahwa anak-anak dari ibu yang bekerja justru menjadi sangat
mandiri. Maccoby menyimpulkan dari beberapa penelitian bahwa bekerjanya ibu
bukan satu-satunya faktor penyebab terjadinya perkembangan negatif pada anak
(Amal, 1990).
Mianda (2002) mengemukakan bahwa keadaan yang timbul dari fenomena
single parent tersebut dapat berpengaruh secara timbal balik terhadap hubungan
ibu dengan anaknya maupun hubungan anak dengan ibu. Ibu yang memikul dua
peran mempunyai kasih sayang yang berlebihan kepada anaknya yang disertai
kekhawatiran yang juga berlebihan sehingga mendorongnya memberikan
perlindungan yang berlebihan (over protection). Ibu selalu ingin berbuat lebih
banyak untuk anaknya. Apalagi kondisi yang menimpa anak itu akhirnya
menimbulkan rasa kasihan ibu. Muncul ketakutan-ketakutan lainnya, seperti takut
kalau anaknya menjadi minder terhadap teman-teman sebayanya dan yang lebih
ekstrim adalah takut kalau anaknya dikucilkan oleh masyarakat atau lingkungan di
mana mereka tinggal. Dengan adanya perlindungan yang berlebihan dari ibu
mengakibatkan anak memiliki ketergantungan yang tinggi. Orang tua yang overprotective dan terlalu dominan menimbulkan rasa kurang percaya diri dan kurang
mandiri pada anak. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Stendler dalam Ahmadi
(1999) tentang sikap over protection dari orang tua yang menyebabkan anak
sangat tergantung pada orang tua. Berkaitan dengan fenomena orang tua tunggal,
Mianda (2002) menemukan kelompok anak dari orang tua tunggal yang berhasil
menjadi anak percaya diri, tahan banting, tidak cengeng dan mandiri adalah yang
dibesarkan oleh orang tua yang tidak over protection.
Satoto (1990) melihat interaksi ibu dan anak sebagai pola perilaku yang
mengikat ibu dan anak secara timbal balik dan stimuli keluarga mencakup
18
berbagai upaya keluarga yang secara langsung maupun tidak langsung
mempengaruhi
perkembangan
dan
pertumbuhan
anak.
Karyadi
(1988)
mengungkapkan bahwa peran ibu selaku pengasuh dan pendidik anak di dalam
keluarga dapat mempengaruhi perkembangan anak secara positif maupun negatif
karena dalam berinteraksi dengan anak sehari- hari ibu dapat memainkan berbagai
peran yang secara langsung akan berpengaruh pada anak.
Menurut Wahab (1980) seorang ibu merupakan pemeran utama dalam
proses pembentukan pribadi dan proses sosialisasi anak. Sedangkan Scanzoni dan
Scanzoni dalam Suleeman (1990) menganggap komunikasi ibu dan anak sebagai
indikator untuk mengukur komunikasi orang tua dan anak karena ibu diasumsikan
lebih banyak berada di rumah bersama anak-anak dari pada ayah. Ditambahkan
oleh Rutter (1984) bahwa untuk perkembangan anak yang normal dibutuhkan
pengasuhan ibu yang berkualitas. Satoto (1990) menegaskan bahwa faktor
eksternal yang paling kuat pengaruhnya terhadap tumbuh kembang anak adalah
interaksi ibu dan anak.
Sebagian besar sosiolog dan psikolog percaya bahwa dua orang tua
penting dalam keluarga dan berperan dalam perkembangan anak tetapi penelitian
menunjukkan bahwa satu orang tua cukup untuk mengasuh anak. Keluarga
dengan dua orang tua tidak menjamin anak-anak dapat menyesuaikan diri dengan
baik kepada lingkungannya, cukup bergaul, kreatif dan produktif seperti halnya
keluarga dengan satu orang tua tidak secara otomatis berarti sebaliknya. Beberapa
anak dari orang tua tunggal menerima perhatian yang lebih baik dari pada anakanak lain dari keluarga utuh (Saxton, 1987).
Masyarakat menggambarkan keluarga ideal adalah keluarga yang lengkap.
Anak-anak yang diasuh orang tua tunggal kehilangan pengalaman hidup dalam
suatu keluarga yang utuh. Anak dari keluarga tidak lengkap ini tidak selalu
bermasalah ataupun merasa bermasalah. Hanya saja mereka merasa dirinya
kurang dibandingkan teman-temannya dari keluarga lengkap (Chairani
dan
Nurachmi, 2002).
Anak dari orang tua tunggal dapat tumbuh sehat jasmani dan rohani, moril
dan materiil atas dukungan keluarga inti dan keluarga besar, juga lingkungan yang
menerima tetapi semua memerlukan proses. Menurut Duncan, keluarga dengan
19
orang tua tunggal selalu terfokus pada kelemahan dan masalah yang dihadapi.
Menurutnya, sebuah keluarga dengan orang tua tunggal sebenarnya bisa menjadi
sebuah keluarga yang efektif seperti keluarga dengan orang tua utuh asalkan
mereka tidak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya (Kompas,
2005).
Komunikasi dalam Keluarga Orang Tua Tunggal
Komunikasi memainkan peran utama dalam penentuan kualitas kehidupan
keluarga. Komunikasi dalam keluarga merupakan aspek penting karena setiap
anggota keluarga terikat satu sama lain melalui proses komunikasi. Keluarga
mengembangkan serangkaian pesan, perilaku dan harapan tertentu melalui proses
komunikasi (Suleeman, 1990).
Keluarga sebagai kelompok sosial yang terkecil dalam masyarakat
mempunyai ciri dan bentuk komunikasi yang berbeda dengan kelompok sosial
lainnya. Komunikasi dalam keluarga biasanya berbentuk komunikasi antar
persona (face to face communication) intinya merupakan komunikasi langsung di
mana masing- masing peserta komunikasi dapat memilih fungsi baik sebagai
komunikator maupun komunikan (Effendi,1993). Dalam komunikasi interpersonal
setiap anggota keluarga dapat dengan bebas mengungkapkan perasaan-perasaan
yang ada dalam diri mereka masing- masing (Suleeman, 1990).
Pace dalam Cangara (2004) membedakan komunikasi antar-pribadi
menjadi dua macam yaitu komunikasi diadik dan komunikasi kelompok kecil.
Komunikasi diadik adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang
dalam situasi tatap- muka yang dibedakan menjadi tiga bentuk , yaitu percakapan,
dialog dan wawancara. Percakapan berlangsung dalam situasi yang bersahabat
dan informal. Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam dan
lebih personal. Sedangkan Croskey memasukkan peralatan komunikasi seperti
telpon dan teleks sebagai saluran komunikasi antar pribadi sehingga timbul istilah
komunikasi antar-pribadi yang bermedia dan yang berlangsung tatap-muka.
Menurut DeVito (1997) keluarga dikategorikan dalam pola kesamaan di
mana masing- masing pihak berkedudukan sama, saling percaya dan masing-
20
masing pihak terbuka terhadap ide- ide, pendapat serta kepercayaan pada yang
lain. Kondisi semacam ini dapat menciptakan komunikasi dalam keluarga
seimbang dalam arti masing- masing pihak saling menempatkan diri sesuai dengan
peranannya.
Lawton (1982) dalam Kandoli (2000) mengemukakan bahwa hubungan
yang terjadi antara orang tua dan anak bukan merupakan proses yang searah
melainkan timbal balik karena perilaku anak dapat mempengaruhi perilaku orang
tua.
Fisher (1986) berpendapat bahwa proses komunikasi, termasuk juga yang
terjadi di dalam keluarga, dapat dipandang melalui empat perspektif dasar yaitu
mekanistis, psikologis, interaksional dan pragmatis. Perspektif pragmatis adalah
pendekatan yang paling sering diadopsi oleh para ahli yang mempelajari proses
komunikasi keluarga. Perspektif ini mempunyai pandangan holistik tentang
kegiatan komunikasi keluarga. Komponen individu dari suatu sistem saling
berhubungan dan mempengaruhi keseluruhan. Untuk mengetahui masalah dalam
sistem komunikasi keluarga maka tidak hanya memfokuskan pada satu atau dua
unsur melainkan pada seluruh bagian sistem yang menyebabkan disfungsi pola
komunikasi.
Menurut Jenkins (1995) sejumlah unsur dasar untuk menjelaskan
berfungsinya komunikasi dalam kehidupan keluarga meliputi: (1) pengertian
bersama, (2) pesan-pesan komunikasi, (3) pola komunikasi dan (4) proses
komunikasi.
Kebanyakan ahli di bidang keluarga melihat komunikasi sebaga i proses
membentuk dan menyusun keluarga dan hubungan interpersonal di antara orang
tua, anak, saudara dan anggota keluarga luas dibentuk dan dipertahankan (Jenkins,
1995). Pendapat Bateson et al. (1956) dalam Morton et al. (1976) juga telah
menegaskan bahwa komunikasi adalah usaha untuk menetapkan sebuah
hubungan. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam keluarga dimaksudkan
untuk berhubungan atau berinteraksi di antara anggota keluarga.
Selain untuk berhubungan, komunikasi dalam keluarga juga berperan
dalam kegiatan pengasuhan dan proses sosialisasi. Menurut Joewono (2002)
faktor yang mempengaruhi perkembangan perilaku anak dalam keluarga salah
21
satunya adalah pengasuhan yang dilakukan orang tua. Abhari (1998) menyatakan
bahwa
pengasuhan
pada
hakekatnya
adalah
upaya
memelihara
dan
mengembangkan segala potensi yang dimiliki anak sehingga tumbuh dan
berkembang secara optimal. Pertumbuhan dan perkembangan ini meliputi fisik,
mental dan emosional.
Kegiatan
pengasuhan
meliputi
cara
mendidik,
membimbing,
mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan
norma yang berlaku di dalam masyarakat pada umumnya. Menurut Etty (2003)
mendidik anak sesungguhnya mengantarkan mereka menjadi pribadi yang
mandiri.
Praktek pengasuhan merupakan masa penting dalam membentuk individu
matang dan dewasa yang di dalamnya mencakup proses sosialisasi. Keluarga amat
berperan dalam mensosialisasikan nilai-nilai kebaikan dan norma yang berlaku
atau yang diharapkan masyarakat kepada anak mereka. Melalui sosialisasi seorang
anak memperoleh nilai- nilai dan pengetahuan mengenai peran serta tingkah laku
sosial sehingga nantinya dapat mendukung kehidupannya dalam keluarga maupun
masyarakat. Sosialisasi merupakan suatu proses di mana seseorang mempengaruhi
orang lain karena adanya interaksi (Mc.Cleland, 1984). Salah satu cara untuk
melakukan sosialisasi terhadap anak di dalam keluarga adalah dengan
berkomunikasi. Melalui komunikasi antara orang tua dan anak, anak akan
mengetahui nilai-nilai mana yang dianggap baik dan nilai-nilai mana yang
dianggap tidak baik serta hal-hal mana yang harus dihindari (Suleeman, 1990).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa maksud dan tujuan komunikasi
dalam keluarga denga n anak-anak yang belum dewasa adalah untuk berinteraksi
atau berhubungan dalam kegiatan pengasuhan dan proses sosialisasi. Hasbullah
(1999) menyatakan bahwa orang tua perlu memiliki kemampuan komunikasi yang
baik dalam menjalankan tugasnya sebagai pengasuh dan pendidik bagi anakanaknya agar tercipta pola asuh dan pola didik yang dapat menjadikan anak
sebagai SDM yang potensial secara maksimal termasuk di dalamnya membentuk
kemandirian anak.
Komunikasi orang tua dengan anak merupakan upaya mengantarkan anak
menuju kesiapan memasuki dunia luar. Orang tua perlu mengarahkan
22
pembentukan perilaku anak sejak dini, termasuk membentuk kemandirian anak.
Dalam meraih tujuan ini maka iklim komunikasi dalam keluarga merupakan
kondisi prasyarat yang harus terpenuhi. Suasana di dalam keluarga yang
menyenangkan, hangat dengan suasana mendukung, terbuka, berpikir positif,
empati dan terjalinnya kerjasama akan membuat komunikasi dalam keluarga
berlangsung secara terbuka, rileks dan santun (Hasbullah, 1999).
Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal
DeVito (1997) mengartikan pola komunikasi orang tua dan anak sebagai
komunikasi antar pribadi antara orang tua dan anaknya, di mana masing- masing
dapat memilih fungsi baik sebagai komunikator maupun komunikan yang
mempunyai hubungan mantap dan jelas, artinya hampir tidak terhindarkan selalu
ada hubungan tertentu antara kedua orang tersebut.
Hubungan interpersonal terjadi melalui kejadian yang tidak disengaja
maupun pilihan hubungan yang disengaja. Hubungan antara orang tua dan anak
adalah suatu hubungan yang terjalin karena adanya hubungan darah sehingga bisa
dikategorikan sebagai hubungan yang disengaja.
Beebe (1999) mengungkapkan bahwa kepercayaan, keakraban dan
kekuasaan (power) merupakan unsur penting dalam hubungan interpersonal.
Kepercayaan adalah tingkat di mana kita merasa aman berbagi informasi dengan
orang lain. Keakraban adalah tingkat di mana kita bisa menjadi diri sendiri di
depan orang lain dan masih bisa diterima oleh mereka. Kekuasaan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi orang lain sesuai arahan kita, yaitu
mengarahkan orang lain untuk melakukan apa yang kita inginkan.
Millar (1973) dalam Millar dan Rogers
(1976) menyebut kekuasaan
sebagai kontrol dan sedikitnya dibedakan menjadi dua kontinum yaitu: rigidfleksible dan stable – unstable. Rigidity (kekakuan) merujuk pada kurangnya
pergantian pola transaksi sedangkan stability merujuk pada kemampuan untuk
meramalkan suatu pola. Makin sering seseorang menetapkan tindakan dalam
suatu sistem, pola kontrol makin kaku. Makin konsisten dalam waktu dan arah,
pola kontrol makin stabil. Sedangkan Ericson (1972) dalam Millar (1976)
23
menggunakan
istilah dominance-submission (kekuasaan–kepatuhan)
dalam
membedakan tipe transaksi. Sementara Wood (2004) berdasarkan teori interaksi
menyatakan bahwa komunikasi menentukan dan mencerminkan kekuatan
hubungan yang dibedakan menjadi symmetrical (mencerminkan kekuatan yang
sama) dan complementary (menunjukkan perbedaan tingkat kekuatan).
Berdasarkan struktur kekuasaan yang dinyatakan beberapa ahli di atas
maka kita bisa melihat arah komunikasi, apakah searah atau timbal balik. Di
samping itu juga bisa melihat adanya kesamaan atau perbedaan dalam kerangka
referensi dan bidang pengalaman yang menyebabkan perbedaan kekuatan
hubungan.
Menurut Sudjana (2000) ada tiga pola komunikasi yang dapat digunakan
untuk mengembangkan interaksi dinamis dalam upaya memunculkan penyadaran,
yaitu :
1. Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah
Komunikator berperan aktif sebagai pemberi aksi dan komunikan sebagai
penerima aksi. Bentuk ini adalah ceramah yang pada dasarnya adalah
komunikasi satu arah, atau komunikasi sebagai aksi.
2. Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah
Komunikator dan komunikan dapat berperan sama yakni pemberi aksi dan
penerima aksi. Keduanya dapat saling memberi dan saling menerima.
3. Komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi
Komunikasi tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara komunikator
dan komunikan tetapi juga dapat melibatkan interaksi dinamis antara
unsur-unsur komunikan la innya.
1
Komunikator
Komunikan
Komunikan
2
3
Komunikator
Komunikan
Komunikan
Komunikator
Komunikan
Komunikan
Gambar 1 Komunikasi sebagai aksi, interaksi dan transaksi
Sumber :(Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Sudjana, 2000)
24
Komunikasi antar-pribadi mirip dengan komunikasi dua arah atau ke
semua arah. Jika dalam pengertian komunikasi dua arah atau komunikasi ke
semua arah perhatian lebih ditekankan pada arah komunikasi maka dalam
komunikasi
antar-pribadi
lebih
memperhatikan
pribadi-pribadi
yang
berkomunikasi. Masing- masing pihak menyadari dirinya sebagai pribadi yang
dapat menerima dan juga dapat menyampaikan pesan sehingga terjadi suatu
dialog antar pribadi.
DeVito (1997) menjabarkan empat pola komunikasi umum untuk
menggambarkan hubungan interpersonal dalam keluarga, yaitu :
1. The equality pattern
Setiap orang berbagi secara sama dalam komunikasi transaksional
sehingga peran yang dimainkan oleh setiap orang adalah sama. Masingmasing pihak terbuka pada ide, opini dan kepercayaan dari pihak lain
berdasarkan pada self disclosure (penyingkapan diri ) yang seimbang.
Pola ini lebih banyak terdapat dalam teori dari pada prakteknya tetapi
sangat bagus untuk menguji komunikasi dalam hubungan primer.
2. The balanced split pattern
Kesetaraan hubungan dipertahankan tetapi setiap orang mempunyai
otoritas melebihi wilayah yang berbeda. Setiap orang dilihat sebagai ahli
dalam bidang-bidang yang berbeda. Dalam keluarga tradisional, seorang
ayah dianggap mempunyai keahlian di bidang bisnis dan politik
sedangkan ibu mempunyai keahlian dalam perawatan anak dan memasak.
3. The unbalanced split pattern
Salah
satu
pihak
mempunyai
keahlian
lebih
banyak
sehingga
mendominasi pihak yang lain. Kadang-kadang pihak dominan ini lebih
pintar atau lebih berpengetahuan tetapi dalam beberapa kasus pihak ini
mungkin secara fisik lebih menarik atau berpenghasilan lebih tinggi.
Pihak yang dominan ini mengontrol pihak lain, menuntut orang lain
melakukan apa yang diinginkannya dan jarang menanyakan pendapat
pihak lain. Sebaliknya pihak yang dikontrol akan bertanya dan mencari
pendapat dari orang lain yang dianggap mempunyai leadership dalam
pembuatan keputusan.
25
4. The monopoly pattern
Seseorang dilihat sebagai pihak yang otoriter. Orang ini memberikan
banyak ceramah dari pada berkomunikasi. Jarang sekali orang ini
meminta pertimbangan dari pihak lain karena dia akan menetapkan
keputusan akhir. Dia akan mengatur apa yang boleh dilakukan dan apa
yang tidak boleh. Pihak yang dikontrol akan meminta ijin dari pihak lain
untuk memberikan pendapat dan membuat keputusan. Pola komunikasi
ini terjadi dalam hubungan anak dengan orangtua yang sangat berkuasa
atau otoriter.
Keempat pola komunikasi yang ditawarkan DeVito tersebut tak jauh beda
dengan yang dinyatakan Sudjana. The equality pattern identik dengan komunikasi
transaksi. The balanced split pattern dan the unbalanced split pattern bisa
disejajarkan dengan komunikasi interaksi dengan pola kontrol yang berbeda yaitu
complementary. The monopoly pattern menunjukkan komunikasi searah atau
linier.
Komunikasi Linier
Model komunikasi linier dikembangkan oleh Claude Shannon dan Warren
Weaver. Berdasarkan paradigma lama, komunikasi bersifat satu arah atau linier
dengan tekanan pada sumber sebagai pelaku dominan yang mempengaruhi
khalayak dengan persuasi (Mulyana, 2001).
Salah satu ciri komunikasi linier adalah adanya penyandian yang dilakukan
pengirim pesan dan interpretasi oleh penerima serta antisipasi kemungkinan
adanya gangguan dalam proses komunikasi yang berlangsung. Konsep ini
memaknai komunikasi sebagai proses penyampaian pesan dari pengirim pesan
kepada penerima pesan melalui saluran tertentu untuk tujuan tertentu. Terjadi
transfer informasi yaitu pemahaman sempurna tentang apa yang dikatakan oleh
partisipan lain. Model komunikasi Shannon dan Weaver ditunjukkan pada
Gambar 2.
26
Information
Source
Transmiter
Message
Signal
Message
Sign
Received
Signal
Destination
Message
Noise
Source
Gambar 2 Model Komunikasi Shannon dan Weaver
Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi suatu sinyal yang sesuai
dengan saluran yang digunakan. Saluran (channel) adalah medium yang
mengirimkan sinyal (tanda) dari transmitter ke penerima (receiver). Dalam
percakapan, sumber informasi ini adalah otak, transmitter – nya adalah
mekanisme suara yang menghasilkan sinyal (kata-kata terucapkan), yang
ditransmisikan lewat udara (sebagai saluran). Penerima (receiver), yakni
mekanisme pendengaran, melakukan operasi yang sebaliknya yang dilakukan
transmitter dengan merekonstruksi pesan dari sinyal. Sasaran (destination) adalah
otak orang yang menjadi tujuan pesan itu (Severin dan Tankard dalam Mulyana,
2002)
Barlund dalam Fisher (1986) melukiskan bentuk komunikasi satu arah
sebagai situasi di mana para penerima diharapkan me ndengarkan dan tak
menyahut. Komunikasi merupakan transfer informasi yang berarti pemahaman
sempurna tentang apa yang dikatakan oleh partisipan lain. Kebersamaan adalah
usaha untuk meminimalkan distorsi dan kehilangan informasi.
Kritik terhadap model komunikasi linier ini dikemukakan oleh Kincaid
(1979) dalam Andulhak dan Anwas (2004) yang menyebut ada tujuh bias yang
mungkin terjadi, yaitu: (1) komunikasi linier cenderung bercirikan satu arah
secara vertikal, (2) cenderung sangat tergantung pada sumber pesan, (3) fokus
obyek komunikasi cenderung sederhana, (4) fokus hanya pada kemasan pesan dan
27
kurang mempedulikan waktu yang tepat, (5) terbatas pada fungsi persuasi, belum
menyentuh pada terjalinnya saling pengertian dan konsensus, (6) cenderung
terkonsentrasi pada efek psikologis individu, dan (7) cenderung mekanistis.
Komunikasi linier sering digunakan oleh orang tua, guru dan pemimpin
yang otoriter. Menurut Lewin, Muller dan Baldwin dalam Ahmadi (1999) anak
dari orang tua otoriter menunjukkan ciri-ciri pasif (sikap menunggu), takut,
cemas, mudah putus asa, kurang inisiatif, tidak dapat merencanakan sesuatu dan
daya tahan berkurang. Dengan kata lain anak yang tidak mandiri adalah produk
dari orang tua otoriter.
Komunikasi Interaksi
Komunikasi yang bercirikan hubungan relasional dan interaktif berasal
dari model cybernetics oleh Norbert Wiener yang kemudian dikembangkan lebih
lanjut oleh Wilbur Schramm. Salah satu ciri komunikasi relasional adalah
pentingnya peranan pengalaman (experience) dan faktor hubungan (relationship )
antara pengirim dan penerima dalam proses komunikasi. Bidang pengalaman akan
menentukan apakah pesan yang dikirim akan diterima oleh si penerima sesuai
dengan apa yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Schramm meyakini bila ada
perbedaan yang jauh dalam bidang pengalaman, akan mempengaruhi derajat
penerimaan pesan yang dikirimkan. Hal lain yang dikemukakan Schramm adalah
pentingnya umpan balik sehingga derajat relationship sebagai ciri komunikasi ini
akan tampak (Andulhak dan Anwas, 2004).
Field of experience
Field of experience
signal
Source
Encoder
Decoder Destination
Gambar 3 Model Kedua Schramm
Model kedua Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam
bidang pengalaman sumber dan sasaranlah yang sebenarnya dikomunikasikan,
28
karena bagian sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran (Mulyana,
2002).
Sumber dapat menyandi dan sasaran dapat menyandi balik pesan
berdasarkan pengalaman yang dimilikinya masing- masing. Bila kedua lingkaran
memiliki wilayah bersama yang besar, maka komunikasi mudah dilakukan.
Semakin besar wilayah tersebut, semakin miriplah bidang pengalaman (field of
experience) yang dimiliki kedua pihak yang berkomunikoderasi. Bila kedua
lingkaran itu tidak bertemu – artinya bila tidak ada pengalaman bersama – maka
komunikasi tidak berlangsung. Bila wilayah yang berimpit itu kecil – artinya bila
pengalaman sumber dan pengalaman sasaran sangat jauh berbeda – maka sangat
sulit untuk menyampaikan makna dari seseorang kepada orang lainnya (Mulyana,
2002).
Message
Encoder
Decoder
interpreter
interpreter
Decoder
Encoder
Message
Gambar 4 Model Ketiga Schramm
Model ketiga Schramm menganggap komunikasi sebagai interaksi dengan
kedua pihak yang menyandi, menafsirkan, menyandi-balik, mentransmisikan, dan
menerima sinyal. Kita melihat umpan balik dan lingkaran yang berkelanjutan
untuk berbagi informasi (Severin dan Tankard dalam Mulyana, 2002). Menurut
Schramm dalam Mulyana (2002) komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya
tiga unsur utama : sumber (source), pesan (message) dan sasaran (destination).
Cangara (2004) menyatakan bahwa dalam model komunikasi interaksi,
komunikator memberi respon timbal balik kepada komunikator lainnya. Proses
komunikasi melingkar dengan adanya mekanisme umpan balik yang saling
29
mempengaruhi antara sumber dan penerima. Dalam interaksi, individu selalu
melihat dirinya melalui persepsi orang lain. Pengertian bersama dicapai melalui
toleransi. Konsep diri tumbuh berdasarkan pandangan orang lain.
Model komunikasi interaksi Schramm dalam Mulyana (2002) menyatakan
bahwa terjadi interaksi sosial guna mengembangkan potensi diri dan kesamaan
makna dicapai melalui pengambilan peran (role taking). Diri berkembang melalui
interaksi dengan orang lain dimulai dengan lingkungan terdekat seperti keluarga
dan terus berlanjut ke lingkungan luas. Interaksi adalah variabel penting yang
menentukan perilaku manusia.
Stewart dalam Fisher (1986) memakai istilah interaksi untuk menyatakan
komunikasi dua arah. Interaksi menonjolkan keagungan dan nilai individu.
Perspektif interaksional tentang komunikasi manusia sering dinyatakan sebagai
komunikasi dialogis. Proses fundamental dalam dialog adalah konsep role taking
yang dalam istilah lain diartikan juga sebagai empati.
Pengertian bersama diperoleh dengan proses empati melalui pengambilan
peran yang aktif, mencari makna menurut pandangan orang lain dan berbagi
makna dengan orang lain. Sumber makna kebersamaan adalah saling pengertian
dan empati timbal balik. Kebersamaan tidak harus diartikan bahwa peran atau
status para komunikator itu setara. Kedua komunikator dapat secara bersama
memiliki definisi yang sama tentang situasi mereka sebagai suatu hubungan
peranan yang sangat komplementer di mana orang yang berada dalam peranan
yang lebih rendah menerima definisi itu dan berbagi dengan orang lain yang lebih
dominan (Fisher, 1986).
Bila komunikasi mempunyai pengaruh timbal balik maka akan
menghasilkan suatu interaksi. Hubungan orang tua dan anak saling mempengaruhi
satu sama lain dan tidak lepas dari adanya interaksi. Hubungan kedua belah pihak
dilandasi oleh nilai- nilai yang dimiliki oleh masing- masing individu.
Komunikasi Transaksi
Model komunikasi transaksi memberi tekanan pada proses dan fungsi
untuk berbagi dalam hal pengetahuan dan pengalaman. Komunikasi sebagai
proses di mana semua peserta ikut aktif secara dinamis dalam memenuhi fungsi
30
sosial sebagai anggota masyarakat (Cangara, 2004). Sedangkan Sereno dan
Bodaken (1975) melihat komunikasi sebagai kesatuan yang terdiri dari sistem
internal dan eksternal. Sistem internal adalah seluruh elemen atau stimuli yang
ada di dalam diri individu yang dibawa dalam situasi komunikasi, misalnya :
memori, harapan, sikap, ketakutan, nilai- nilai, kebencian dan pengalaman. Sistem
internal dibedakan menjadi
dua hal, yaitu : sikap dan kepribadian. Sistem
eksternal berupa petunjuk verbal dan non verbal.
Komponen komunikasi transaksi adalah persepsi, sistem, arti dan proses.
Persepsi merupakan pemrosesan terhadap stimuli internal dan eksternal. Sistem
melihat komunikasi sebagai keseluruhan yang terdiri dari sistem internal dan
eksternal. Arti diciptakan berdasarkan persepsi. Arti yang dimiliki komunikator
adalah hasil dari campuran stimuli internal dan eksternal. Komunikasi sebagai
proses dinamis yang menimbulkan perubahan pada pada para peserta komunikasi.
Seluruh komponen tersebut saling berhubungan dan dijalankan bersama dalam
setiap situasi komunikasi (Sereno dan Bodaken, 1975).
Model konvergensi dari Rogers dan Kincaid (1981) memandang
komunikasi sebagai proses transaksi di antara partisipan. Setiap partisipan
memberikan kontribusi pada transaksi tersebut yang artinya ada proses dialogis
yang terjadi sehingga menghasilkan mutual understanding (pengertian bersama).
Makna konvergen adalah the tendency for two or more individuals to move
toward one point, or for one individual to move toward another, and to unite in a
common interest or focus. Dengan demikian salah satu ciri model komunikasi
konvergen adalah komunikasi yang berlangsung secara multi arah di antara
penerima menuju ke suatu fokus atau minat yang dipahami bersama. Dalam
pandangan ini komunikasi berlangsung secara dinamis dan berkembang ke arah
pemahama n kolektif dan berkesinambungan (Andulhak dan Anwas, 2004).
Peirce dalam Andulhak dan Anwas (2004) menyatakan ada dua prinsip
dasar dalam pengembangan komunikasi konvergen. Pertama, informasi dalam
kadar tertentu bisa tidak tepat (imprecise) dan bercirikan ketidaktentuan
(uncertain). Kedua, komunikasi merupakan proses yang dinamis dan berlaku
sepanjang waktu.
31
Komunikasi konvergen dilakukan secara berkesinambungan melalui suatu
jejaring (network) dan didasarkan pada kaidah kolektivitas untuk memperoleh
kesamaan pengertian dalam realitas sosial. Model komunikasi konvergen
menyangkut tiga hal pokok, yaitu: (1) realitas psikologis, (2) realitas fisik, dan
(3) realitas sosial. (Rogers dalam Andulhak dan Anwas, 2004)
Realitas
Psikologis A
Realitas
Fisik
Realitas
Psikologis B
Interpretasi __ Pemahaman __ Informasi ___ Pemahaman ___ Interpretasi
Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan
Kolektif
Pengertian _ Keyakinan
Keyakinan__ Pengertian
Saling
Kesepakatan
Saling
Pengertian
Realitas Sosial (A & B)
Gambar 5 Model Komunikasi Konvergen
Ciri informasi dan saling pengertian merupakan komponen yang sangat
dominan dalam komunikasi konvergen. Pemrosesan informasi dilakukan melalui
tahapan pemahaman, interpretasi, pengertian dan kegiatan di antara peserta untuk
kemudian dicapai saling kesepahaman. Model ini merupakan suatu proses yang
dinamis ketika mempertimbangkan dua hal. Pertama, pentingnya proses
informasi. Kedua, perlunya saling pengertian di antara pihak yang melakukan
komunikasi. Komunikasi dipandang sebagai suatu proses yang melibatkan
partisipan untuk berbagi informasi agar diperoleh saling pengertian (mutual
understanding). Bila dua pihak telah melakukan suatu interaksi komunikasi
dengan berbagi informasi yang diperlukan, kemudian terjadi saling pengertian
32
maka derajat saling pengertian di antara keduanya digambarkan oleh irisan di
antara dua kelompok lingkaran. Semakin besar daerah irisan, semakin besar
lingkup saling pengertian telah dicapai. Sebaliknya, semakin kecil daerah irisan,
semakin sedikit lingkup saling pengertian telah dicapai (Andulhak dan Anwas,
2004). Komunikasi keluarga yang memanfaatkan model konvergen ini
memecahkan permasalahan secara bersama-sama di antara orang tua dan anak
sehingga melahirkan mutual understanding di antara orang tua dan anak, dan
permasalahan diharapkan dapat terpecahkan.
Komunikasi orang tua dan anak penting tidak hanya dari segi isi tapi juga
metode. Apa yang diketahui orang tua mungkin kurang penting dibandingkan
bagaimana mereka menyampaikannya. (Chafee et al. dalam Sheinkopf, 1973).
Setiap keluarga mengembangkan pola komunikasi orang tua dan anak secara
konsisten.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Komunikasi
Seorang komunikator dalam berkomunikasi membawa pengalaman,
kepercayaan, nilai-nilai dan sikap tertentu yang diperoleh dan dipelajari dari
interaksinya dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Pengalaman, kepercayaan,
nilai- nilai dan sikap yang dimiliki seseorang menentukan bagaimana cara
seseorang berkomunikasi.
Perspektif perbedaan individu memandang bahwa sikap dan organisasi
personal psikologis (dalam arti faktor- faktor yang ada dalam diri individu) akan
menentukan bagaimana individu memilih stimuli dari lingkungan dan bagaimana
ia memberi makna pada stimuli tersebut (Effendy,1996). Perspektif ini bisa
digunakan untuk menjelaskan bagaimana faktor individu (karakteristik) orang tua
menentukan pola komunikasi yang digunakannya.
Di samping faktor individu, faktor lingkungan juga tidak bisa diabaikan.
Karena anak berinteraksi dengan lingkungan sosial, yaitu sekolah, teman sebaya
dan media massa maka dalam berkomunikasi dengan anak, orang tua dipengaruhi
pula oleh lingkungan sosial tersebut. Hal ini diperkuat oleh pendapat Festinger
(1957) dalam Ramdhani (2006) bahwa perilaku manusia tergantung dari
pengetahuan, opini, apa yang dipercaya orang mengenai lingkungan dan mengenai
33
diri sendiri. Jadi perilaku orang tua tunggal dalam menggunakan suatu jenis pola
komunikasi ditentukan baik oleh faktor individu maupun faktor lingkungan.
Faktor Individu
Kelas sosial ekonomi ternyata mempengaruhi pola komunikasi antara
orang tua dengan anak. Temuan ini berasal dari penelitian sosiologis tentang
struktur keluarga dan pola sosialisasi di Taiwan. Kelas pekerja rendah menuntut
kepatuhan anak dengan cara otoriter. Sedangkan, kelas pekerja menengah lebih
menghargai kebebasan anak, bersedia memahami anak dan berpendapat bahwa
anak seharusnya belajar mengendalikan perilakunya (Olsen, 1974).
Hasil penelitian tersebut di atas menunjukkan bahwa pola sosialisasi yang
terjadi di dalam keluarga Taiwan dipengaruhi oleh kelas sosial ekonomi.
Berdasarkan asumsi bahwa komunikasi merupakan metode yang digunakan dalam
proses sosialisasi maka dari penelitian tersebut terlihat adanya praktik penggunaan
pola komunikasi tertentu, yaitu pola komunikasi linier digunakan oleh kelas sosial
ekonomi bawah sementara kelas ekonomi menengah menerapkan pola
komunikasi dua arah atau dialogis, baik interaksi maupun transaksi. Suleeman
dalam Ihromi (1990) menegaskan pula bahwa tingkat komunikasi orang tua dan
anak lebih rendah pada golongan bawah dari pada golongan menengah.
Miller dalam Gunarsa (1990) menyatakan bahwa keluarga dengan tingkat
sosial ekonomi rendah mempunyai nilai dan norma khusus yang berbeda dengan
nilai dan norma pada keluarga dengan tingkat sosial ekonomi menengah dan atas,
misalnya keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah umumnya kurang
memberi perhatian terhadap perilaku anak. Tidak ada penghargaan dan pujianpujian untuk perbuatan baik serta kurangnya latihan dan penanaman nilai moral.
Menurut Widjaja (1989) dalam Rahmah (2004) pendidikan ibu
berpengaruh terhadap sikap dan tingkah laku dalam menghadapi anak-anaknya.
Ibu yang berpendidikan tinggi akan bersikap lebih baik. Dengan demikian, ibu
yang berpendidikan tinggi tidak menerapkan hukuman fisik kepada anak-anaknya
yang merupakan kecenderungan dari orang tua otoriter. Ini berarti ibu
berpendidikan tinggi tidak menggunakan pola komunikasi linier
cenderung pada penggunaan pola komunikasi dua arah.
tetapi lebih
34
Kepadatan dalam keluarga berpengaruh besar terhadap hubungan antar
pribadi dan keluarga. Adanya perbedaan secara perorangan baik mengenai umur,
pendidikan, tugas, kegiatan dan tanggung jawab akan mempersulit proses
penyesuaian. Interaksi yang semakin majemuk akan menimbulkan kesulitan untuk
membina komunikasi yang baik dan akan mudah terbentuk salah komunikasi atau
miscommunication, karena itu kepadatan mengganggu pola dan corak hubungan
dalam keluarga sehingga muncul berbagai reaksi seperti otoriter, acuh tak acuh,
sikap bersaing dan tersisih yang pada dasarnya bisa menjadi sumber pencetus ke
arah munculnya kondisi tegang yang bisa berakibat lebih buruk lagi pada
perilakunya. (Gunarsa, 1990)
Hasil penelitian Kohn (1963) dalam Chilman (1988) menunjukkan bahwa
seseorang yang menghabiskan banyak waktu untuk bekerja secara rutin, berulang
dan diawasi secara ketat cenderung menilai konformitas sebagai hasil dari otoritas
eksternal. Orientasi nilai tersebut berpengaruh pada pola pengasuhan anak.
Mereka beranggapan bahwa anak-anak seharusnya patuh pada orang tua dan
orang tua memiliki kekuasaan untuk memaksakan kehendaknya kepada anak.
Sedangkan pada kelompok orang yang bekerja rata-rata delapan jam sehari
bersikap lebih terbuka dan lebih menghargai kebebasan anak.
Lamanya waktu bekerja menyebabkan sempitnya waktu bersama antara
orang tua dan anak sehingga hubungan mereka semakin berjarak dan semu. Halhal yang diutarakan dan dikomunikasikan adalah topik umum seperti berbicara
dengan orang-orang lainnya. Setiap anggota keluarga sibuk dengan urusan,
pikiran dan perasaannya masing- masing. Akhirnya, komunikasi yang tercipta di
dalam keluarga adalah komunikasi yang bersifat informatif dan superfisial (hanya
sebatas permukaan). Akibatnya, masing- masing pihak makin sulit mencapai
tingkat pemahaman yang dalam dan benar terhadap apa yang dialami, dirasakan,
dipikirkan, dibutuhkan dan dirindukan satu sama lain (Mutadin, 2002).
Keikutsertaan seseorang dalam kelompok mempengaruhi sikap dan
perilakunya. Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju
norma kelompok sebagai akibat tekanan kelompok baik yang nyata atau yang
dibayangkan (Kiesler dan Kie sler dalam Rakhmat, 2001). Konformitas ini secara
tidak disadari terjadi pada kalangan orang tua yang terlibat dengan berbagai
35
kegiatan sosial. Meskipun demikian, konformitas merupakan hasil interaksi antara
faktor- faktor situasional dan faktor- faktor personal. Faktor-faktor situasional yang
menentukan konformitas antara lain adalah konteks situasi, karakteristik sumber
pengaruh dan ukuran kelompok. Dengan demikian, pengaruh kelompok pada
perilaku komunikasi orang tua berbeda-beda bergantung pada kedua faktor
tersebut.
Faktor Lingkungan
Penelitian yang dilakukan Olsen (1974) di Taiwan menunjukkan
bagaimana pengaruh keluarga luas terhadap sikap dan perilaku ibu yang
berhubungan dengan proses sosialisasi di dalam keluarga. Dari penelitian ini
terlihat kecenderungan pola komunikasi yang digunakan oleh ibu dalam nuclear
family (keluarga inti) dan extended family.
Ibu dalam keluarga inti lebih menekankan pada autonomy dan self
reliance, lebih sering menggunakan metode disiplin dengan pendekatan agar anak
merasa bersalah atau malu. Sementara itu, ibu yang tinggal dengan tiga generasi
menggunakan lebih banyak hukuman, terutama hukuman fisik serta menekankan
ketaatan anak pada orang tua. Demikian juga yang terjadi pada ibu yang diawasi
secara ketat oleh ibu mertuanya. Dari sini terlihat bahwa kehadiran atau
keterlibatan keluarga luas dalam pengasuhan anak mempengaruhi pola
komunikasi ibu menjadi cenderung linier, yaitu menekankan hubungan orang tua
dan anak berpola dominan-submisif.
Teman sebaya memainkan peranan penting dalam perkembangan
psikologis dan sosial anak. Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial
pertama di mana anak belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan
anggota keluarganya. Kelompok teman sebaya ini berperan juga dalam
pembentukan perilaku anak. Interaksi dengan teman sebaya memberikan
kesempatan untuk belajar mengendalikan perilaku sosial, mengembangkan
ketrampilan dan minat yang sesuai dengan usia.
Tarmudji (2002) melihat bahwa peer group (kelompok teman sebaya)
berasal dari berbagai lingkungan keluarga sehingga berbeda dalam karakteristik
psikologis maupun sosial. Salah satu pengaruh yang mungkin dapat muncul dari
36
interaksi anak dengan teman sebaya adalah terjadinya perilaku agresif. Hal ini
terjadi apabila anak tidak terpenuhi kebutuhannya akan rasa aman, rasa sayang
dan harga diri. Oleh karena itu, ibu harus bisa memenuhi kebutuhan tersebut agar
tidak terjadi penyimpangan perilaku pada anak.
Mulyana (1999) menyatakan bahwa anak-anak mempunyai dorongan kuat
untuk berkomunikasi dan secara naluriah mampu memahami interaksi antar
pribadi karena menyadari bahwa komunikasi adalah sarana untuk membangun
hubungan. Oleh karena itu, ibu bisa mengajari anak untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya termasuk juga dengan teman sebaya melalui komunikasi
yang tepat. Bentuk komunikasi yang bisa mencapai tingkat empati optimal perlu
dikembangkan
sehingga
tidak
ada
kesulitan
bagi
kedua
pihak
untuk
mengkomunikasikan topik apapun
Rakhmat (2001) menyebutkan dua pengaruh media massa yaitu efek
prososial behavioral dan perilaku agresif. Salah satu perilaku prososial ialah
memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Buku,
majalah dan surat kabar mengajarkan kepada pembacanya berbagai keterampilan.
Keterampilan berkomunikasi bukan bawaan dari lahir melainkan
dipelajari. Agar terampil berkomunikasi dengan anak-anak,
ibu
harus
meningkatkan pengetahuan mereka dengan lebih banyak mengakses media massa
(Mulyana, 1999). Dengan demikian ibu memiliki kemampuan berkomunikasi
yang baik sehingga terjalin hubungan yang hangat dan menyenangkan dengan
anak.
Kemandirian Anak
Kartini dan Dali (1997) dalam Mutadin (2002)
mengatakan bahwa
kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri.
Secara singkat kemandirian mengandung pengertian suatu keadaan di mana
seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya, mampu
mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi,
memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya, dan bertanggung
jawab terhadap apa yang dilakukannya.
37
Berdasarkan pendapat beberapa ahli menurut Masrun et al.
dalam
Rahmah (2004) kemandirian mencakup pengertian dari berbagai istilah seperti
autonomy, independency dan self reliance. Autonomy adalah tendensi untuk
mencapai sesuatu, mengatasi sesuatu, bertindak secara efektif terhadap
lingkungan
dan
merencanakan
serta
mewujudkan
harapan- harapannya.
Independency merupakan perilaku yang aktivitasnya diarahkan pada diri sendiri,
tidak
mengharapkan
pengarahan
dari
orang
lain
dalam
menyelesaikan
masalahnya. Self reliance mempunyai ciri-ciri adanya kebutuhan yang menonjol
untuk memperoleh pengakuan orang lain, merasa mampu mengontrol tindakannya
sendiri dan penuh inisiatif.
Menurut Witkin dalam Anastasia (1986) orang yang mandiri memiliki
field dependency rendah (tidak tergantung) yaitu individu yang mampu secara
mandiri
membentuk
tanggapan-tanggapan,
mengorganisir
pengalamannya
berdasarkan hasil pemikiran yang analitis sehingga dalam kehidupan masyarakat
tidak mudah terpengaruh.
Hetherington dalam Spencer dan Kass (1976) dalam Rahmah (2004)
menyatakan bahwa kemandirian ditunjukkan dengan adanya kemampuan untuk
mengambil inisiatif, kemampuan untuk mengatasi masalah, penuh ketekunan,
memperoleh kepuasan dari usahanya serta berkeinginan mengerjakan sesuatu
tanpa bantuan orang lain.
Ciri-ciri sikap mandiri menurut beberapa ahli dalam Djunanah (1999)
yaitu: (1) memenuhi diri atau identitas diri, (2) memiliki kemampuan inisiatif, (3)
membuat pertimbangan sendiri dalam bertindak, (4) mencukupi kebutuhan
sendiri, (5) bertanggungjawab atas tindakannya, (6) mampu membebaskan diri
dari keterikatan yang tidak perlu, (7) dapat mengambil keputusan sendiri dalam
bentuk kemampuan memilih.
Sementara itu, Komar (1998) menyimpulkan bahwa kemandirian adalah
kemampuan seseorang untuk berada dalam suatu situasi yang memiliki ciri-ciri
percaya diri, mampu menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain, mampu
berpendapat sendiri, mempunyai tujuan hidup yang jelas dan tidak terpengaruh
oleh pendapat orang lain.
38
Robert Havighurst (1972) dalam Mutadin (2002) menambahkan bahwa
kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu :
Emosi , aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol emosi dan
tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua.
Ekonomi, aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengatur ekonomi
dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua.
Intelektual, aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengatasi
berbagai masalah yang dihadapi.
Sosial, aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengadakan
interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari
orang lain.
Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap responden bersuku Jawa,
Batak dan Bugis, Masrun (1989) dalam (Rahmah, 2004) menyimpulkan bahwa
aspek-aspek kemandirian dalam konteks Indonesia adalah: (1) bebas, tindakan
yang dilakukan atas kehendak sendiri bukan karena orang lain dan tidak
tergantung pada orang lain, (2) progresif dan ulet, adanya usaha untuk mengejar
prestasi, penuh ketekunan, merencanakan serta mewujudkan harapan- harapannya,
(3) inisiatif, kemampuan untuk berpikir dan bertindak secara rasional dan kreatif,
(4) pengendalian diri, mampu mengatasi masalah yang dihadapi dan mampu
mengendalikan tindakannya, dan (5) kemampuan diri (self esteem, self
confidence).
Kemandirian, seperti halnya kondisi psikolo gis yang lain, dapat
berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui
latihan yang dilakukan secara terus menerus dan dilakukan sejak dini. Latihan
tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja tugastugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Dengan latihan
terus menerus akan tumbuh sikap mandiri dalam diri anak yang pada gilirannya
dengan sikap mandiri tersebut seorang anak akan mampu menghadapi
permasalahan (Mutadin, 2002).
Menurut Erikson dalam Lie dan Prasasti (2004), pada usia 6-12 tahun,
anak
belajar
menjalankan
kehidupan
sehari- hari
secara
mandiri
dan
bertanggungjawab. Jika orangtua bisa membimbing dengan baik, anak menjadi
39
rajin dan bersemangat untuk melakukan kegiatan yang produktif bagi
kemajuannya sendiri.
Kemandirian anak dilihat dari aspek inisiatif ditunjukkan dengan adanya
kemampuan anak dalam mengatasi masalah yang dihadapi berkaitan dengan
tugas-tugas atau PR (Pekerjaan Rumah) dari sekolah dan hubungan dengan teman.
Selain itu, kemandirian anak dapat dilihat dari kemampuannya mengerjakan
sendiri beberapa hal seperti merawat tubuh (mandi, menggosok gigi), merapikan
dan membersihkan kamar, merapikan dan melipat pakaian, menata buku dan
perlengkapan sekolah, menyiapkan sarapannya sendiri, merapikan mainan
sesudah bermain, dan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga yang ringan
seperti mencuci piring dan gelasnya sendiri sesudah makan. Kemampuan
memutuskan dan memilih ditunjukkan oleh kemampuan anak memilih pakaian
yang sesuai untuknya, mengelola uang saku dan merawat binatang peliharaan
sebagai ungkapan perasaan kasih sayang, perhatian dan kepedulian (Lie dan
Prasasti, 2004).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Anak
Perkembangan kemandirian dapat bersumber dari dalam diri anak maupun
dari luar. Perkembangan kemandirian yang bersumber dari dalam diri anak
meliputi jenis kelamin, usia dan hereditas, sedangkan yang bersumber dari luar
adalah pembentukan oleh lingkungan, termasuk pola asuh orang tua dan proses
belajar mengajar di sekolah (Suyoto, 1982).
Menurut beberapa ahli dalam Rahmah (2004), faktor- faktor yang
mempengaruhi kemandirian adalah: intelegensia, pola asuh orang tua, jenis
kelamin, usia, status pekerjaan ibu, latar belakang budaya dan daerah asal, urutan
kelahiran, dan tingkat pendidikan ibu.
Makin tinggi intelegensia seseorang makin tinggi juga kemandiriannya.
Pola asuh demokratis paling mungkin menghasilkan anak yang mandiri.
Perbedaan perlakuan pada anak laki- laki dan anak perempuan juga mempengaruhi
kemandiriannya. Anak laki- laki dituntut oleh lingkungan sosial untuk lebih
mandiri. Perilaku ma ndiri juga meningkat sesuai dengan usia, semakin bertambah
40
usia seseorang maka perilaku mandirinya akan makin berkembang dan perilaku
tergantung akan berkurang. Anak yang ibunya bekerja mencari nafkah ternyata
lebih mandiri dibandingkan anak-anak yang mempunyai ibu yang tidak bekerja
(Rahmah, 2004).
Perkembangan kemandirian juga dipengaruhi latar belakang budaya dan
daerah asal. Tingkat kemandirian pada suatu kebudayaan berbeda dengan
kebudayaan yang lain. Perbedaan adat istiadat yang dianut oleh masing- masing
suku bisa menyebabkan perbedaan perkembangan kualitas kemandirian. Budaya
desa dan kota mempengaruhi perkembangan kepribadian. Anak yang berasal dari
desa kurang mandiri karena terikat lingkungan keluarga. Urutan kelahiran dalam
keluarga sangat berpengaruh terhadap terbentuknya sikap dan perilaku anak. Anak
sulung dituntut lebih mandiri dibandingkan anak-anak yang lahir kemudian.
Pendidikan ibu mempengaruhi sikap dan tingkah laku dalam menghadapi anakanaknya. Ibu yang berpendidikan bersikap lebih baik. Makin tinggi pendidikan
ibu akan mendorong kemandirian anak (Rahmah, 2004).
Hurlock
(1991)
menyebutkan
lima
faktor
yang
mempengaruhi
kemandirian, yaitu: (1) keluarga: misalnya perlakuan ibu terhadap anak, (2)
sekolah: perlakuan guru dan teman sebaya, (3) media komunikasi massa: misalnya
majalah, koran, televisi dan sebagainya, (4) agama: misalnya sikap terhadap
agama yang kuat, (5) pekerjaan atau tugas yang menuntut sikap pribadi tertentu.
Selanjutnya Hurlock menyebutkan bahwa melalui teman sebaya, anak
belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima dan
menolak pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga. Anak mempelajari pola
perilaku yang diterima oleh kelompoknya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk
mendapatkan pengakuan dan penerimaan oleh teman sebaya.
Penelitian Suyoto (1982) tentang pola asuh anak-anak remaja pada
berbagai kelas sosial di Yogyakarta menemukan bahwa kemandirian remaja
berkorelasi secara signifikan dengan variabel- variabel pendidikan, usia dan
tingkat interaksi orang tua.
Penelitian lain yang dilakukan di Amerika Serikat menemukan bahwa
ketika single mother tinggal dengan orang dewasa lain, terutama ibunya,
keduanya bisa menyediakan pengasuhan anak seperti pada keluarga dengan dua
41
orang tua ( Kellam, Ensminger dan Turner dalam Cherlin, 2002). Sementara
beberapa penelitian lain menunjukkan jika ada orang dewasa lain, seperti nenek
yang ada di rumah, anak nampaknya akan berperilaku lebih baik dan juga lebih
baik di sekolah. Hal ini disebabkab karena tugas mengawasi perilaku anak
mungkin lebih sulit dilakukan oleh satu orang tua (Cherlin, 2002).
Berbeda dengan temuan penelitian tersebut, penelitian Dhamayanti (2006)
terhadap kemandirian anak usia 2,5 – 4 tahun di Yogyakarta menyebutkan bahwa
faktor banyaknya keluarga tidak memberikan kontribusi terhadap kemandirian
anak. Tipe keluarga yaitu nuclear family dan extended family tidak banyak
berperan dalam perkembangan kemandirian anak. Sementara itu, Olsen (1974)
berpendapat
bahwa figur otoritas dari extended family yang berperan dalam
membentuk kemandirian anak dengan cara mempengaruhi pola pengasuhan yang
dilakukan oleh ibu.
Pola Komunikasi dalam Membentuk Kemandirian Anak
Dalam menanamkan kemandirian kepada anak, Mutadin (2002) menyarankan orang tua untuk mempertimbangkan: (1) komunikasi: berkomunikasi dengan
anak merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menghindari hal- hal yang
tidak diinginkan. Tentu saja komunikasi di sini harus bersifat dua arah, artinya
kedua belah pihak harus ma u saling mendengarkan pandangan satu dengan yang
lain. (2) kesempatan : orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak
untuk melakukan sendiri apa yang bisa dilakukannya. (3) tanggungjawab:
bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci
untuk menuju kemandirian. (4) konsistensi: konsistensi orangtua dalam
menerapkan disiplin dan menanamkan nilai- nilai sejak masa kanak-kanak di
dalam keluarga akan menjadi panutan bagi anak untuk dapat mengembangkan
kemandirian. Kemandian merupakan suatu sikap indivBBB
Menurut Kelman dalam Brigham (1991), pengaruh komunikasi kita pada
orang lain berupa tiga hal, yaitu internalisasi, identifikasi dan ketundukan.
Internalisasi terjadi bila individu menerima pengaruh dan bersedia memenuhi
permintaan karena hal tersebut sesuai dengan apa yang dipercayainya dan sistem
42
nilai yang dianutnya. Identifikasi terjadi bila individu meniru perilaku atau sikap
seseorang atau kelompok karena sikap tersebut sesuai dengan apa yang
dianggapnya sebagai bentuk hubungan yang diinginkannya. Ketundukan terjadi
bila individu menerima pengaruh dari orang lain atau kelompok lain karena ia
berharap memperoleh reaksi atau tanggapan positif dari pihak lain tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian Baumrind dan Bach dalam Wijaya (1986)
ditemukan bahwa orang tua yang demokratis akan menumbuhkan keyakinan dan
kepercayaan diri maupun mendorong tindakan-tindakan mandiri pada anak,
seperti membuat keputusan sendiri yang akan berakibat pada munculnya tingkah
laku mandiri yang bertanggungjawab bagi anak-anak mereka.
Orang tua demokratis menunjukkan penggunaan pola komunikasi dialogis.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Stewart dan Koch (1983) yang menjelaskan
bahwa orang tua demokratis memandang sama kewajiban dan hak antara orang
tua dan anak. Mereka selalu mendengarkan keluhan dan pendapat anak-anak,
memberikan alasan tindakannya kepada anak, mendorong anak bertindak secara
obyektif. Mereka tegas tetapi hangat dan penuh pengertian. Anak diakui
keberadaannya oleh orang tua serta dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kemandirian menentukan keberhasilan dalam kehidupan seseorang.
Kemandirian meliputi aspek emosi, ekonomi, intelektual dan sosial. Kemandirian
anak ditandai dengan kemampuan berinisiatif dan dapat mengambil keputusan
sendiri untuk mengatasi masalah yang dihadapi serta berkeinginan mengerjakan
sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Kemandirian tidak terbentuk begitu saja tetapi melalui proses yang
panjang. Secara umum, proses pembentukan dan pengembangan pribadi mandiri
sangat dipengaruhi oleh lingkungan individu bersangkutan, yaitu keluarga,
sekolah, teman sebaya maupun media massa.
Orang tua berperan sangat besar dalam pembentukan kemandirian anak.
Pola komunikasi tertentu bisa digunakan oleh orang tua untuk membentuk
kemandirian anak. Pola komunikasi orang tua dan anak diartikan sebagai
komunikasi antar pribadi antara anak dan orang tua. Komunikasi antar pribadi
dinilai cukup efektif untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang karena adanya
personal contact dan bersifat dialogis. Faktor individu orang tua dan faktor
lingkungan menentukan bagaimana orang tua tunggal memilih suatu jenis pola
komunikasi.
Pe nelitian ini dimulai dengan melihat karakteristik orang tua tunggal dan
faktor lingkungan. Karakteristik orang tua tunggal meliputi usia, jumlah anak,
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, lamanya waktu bekerja, lamanya melakukan
kegiatan sosial dan lamanya penggunaan media massa. Faktor lingkungan adalah
keluarga luas yaitu paman, bibi, kakek, nenek, dan saudara sepupu; sekolah yang
dibedakan menjadi sekolah negeri dan swasta; teman sebaya yang berinteraksi
dengan anak baik di sekolah maupun di lingkungan pergaulan yang lain seperti di
sekitar rumah dan di tempat anak melakukan kegiatan di luar sekolah; dan media
massa yang menjadi tempat anak mendapatkan informasi maupun hiburan.
Informasi tentang karakteristik orang tua tunggal berguna untuk melihat latar
belakang responden secara demografis dan juga memberikan gambaran tentang
aktivitas komunikasi responden yang ditunjukkan dengan partisipasi dalam
kegiatan sosial serta terpaan media (media exposure).
44
Selanjutnya akan dilihat bagaimana hubungan antara karakteristik orang
tua tunggal dan faktor lingkungan dengan pola komunikasi yang digunakan.
Untuk mengetahui pola komunikasi yang digunakan orang tua tunggal, maka
kategori pola komunikasi dilihat berdasarkan teknik komunikasi, hubungan
komunikator dan komunikan, arah komunikasi, pembentukan makna pesan dan
faktor pembentuk sikap atau perilaku. Berdasarkan kategori tersebut maka pola
komunikasi dapat terjadi linier, interaksi dan transaksi.
Kajian selanjutnya adalah mengenai pola komunikasi yang dapat
membentuk kemandirian anak. Kemudian akan dilihat hubungan antara
karakteristik orang tua tunggal dan faktor lingkungan dengan kemandirian anak.
Alur kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat di bawah ini :
KARAKTERISTIK
ORANG TUA TUNGGAL
-
Usia
Jumlah anak
Pendidikan
Pekerjaan
Pendapatan
Lamanya waktu bekerja
Lamanya melakukan kegiatan sosial
Lamanya penggunaan media massa
LINGKUNGAN
-
Keluarga Luas
Sekolah
Teman sebaya
Media massa
POLA KOMUNIKASI
ORANG TUA TUNGGAL
DAN ANAK
-
Linier
Interaksi
Transaksi
KEMANDIRIAN
-
Berinisiatif
Memutuskan sendiri
Mengerjakan sendiri
Gambar 6. Bagan Alur Kerangka Pemikiran
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kota Yogyakarta pada bulan Juli sampai
dengan bulan September 2006. Lokasi tersebut dipilih dengan pertimbangan
bahwa:
1. Kota Yogyakarta adalah kota pelajar dengan standar kompetensi akademis
cukup tinggi bagi siswa sekolah dasar dan menengah sehingga
kemandirian anak menjadi syarat penting agar anak berhasil dalam
pendidikannya.
2. Angka perceraian mengalami kenaikan dari tahun ke tahun dan tercatat
2313 kasus perceraian pada tahun 2005 (Kedaulatan Rakyat, 2006).
Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah survey dengan pendekatan
kualitatif, yaitu survey yang digunakan dalam penelitian deskriptif. Survai
bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang orang yang jumlahnya besar
dengan cara mewawancarai sejumlah kecil dari populasi (Nasution, 2003).
Berdasarkan sampel yang didapat diambil beberapa kasus yang ditindaklanjuti
dengan wawancara mendalam yang dimaksudkan untuk mengetahui faktor-faktor
yang terkait dengan fenomena komunikasi.
Peneliti
mencoba untuk mencermati secara mendalam fenomena-
fenomena komunikasi yang terjadi di dalam keluarga orang tua tunggal dengan
memfokuskan pada faktor- faktor yang menyebabkan orang tua tunggal
menggunakan sebuah pola komunikasi tertentu untuk membentuk kemandirian
anak-anaknya. Di samping itu peneliti juga mencoba mencermati pengaruh
lingkungan dan karakteristik individu orang tua tunggal terhadap kemandirian
anak.
Unit Penelitian
Penelitian ini tidak menggambarkan satu unit populasi tetapi membahas
unit orang tua tunggal beretnis Jawa yang tinggal di wilayah kota Yogyakarta.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini lebih difokuskan untuk mengumpulkan
46
data sebanyak mungkin. Pengambilan sampel berkaitan dengan bagaimana
memilih informan yang dapat memberikan informasi yang mantap dan terpercaya
mengenai elemen-elemen yang ada dalam fokus penelitian ini. Cara seperti ini
disebut purposive sample, yaitu berdasarkan apa yang diketahui tentang elemen
yang ada dalam fokus penelitian.
Unit penelitian ini adalah perempuan yang berstatus sebagai orang tua
tunggal berdasarkan data perceraian di Pengadilan Agama Kota Yogyakarta dari
tahun 2001 sampai 2005.
Untuk penelitian ini, sampel dipilih dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Perempuan yang berstatus sebagai orang tua tunggal karena alasan perceraian
dengan hak asuh anak berusia antara 7 – 12 tahun.
b. Perempuan yang berstatus sebagai orang tua tunggal yang bekerja.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara :
1. Studi Dokumen, dilakukan untuk mendapatkan data sekunder yaitu data-data
perceraian selama lima tahun terakhir di Pengadilan Agama Yogyakarta dan
data kependudukan dari Biro Pusat Statistik Kota Yogyakarta.
2. Kuesioner, diberikan kepada sampel sebanyak 25 orang tua tunggal dan anakanaknya
berdasarkan data perceraian lima tahun terakhir di Pengadilan
Agama Yogyakarta. Kuesioner terdiri dari dua bagian yaitu untuk orang tua
dan anak yang dimaksudkan untuk mengetahui pola komunikasi dan
kemandirian anak. Kategori pola komunikasi dan kemandirian anak
ditentukan dengan skoring jawaban kuesioner. Berdasarkan perbedaan
karakteristik orang tua tunggal, pola komunikasi dan kemandirian anak
kemudian terpilih 10 orang tua tunggal dan anaknya untuk mewakili kasus
penggunaan
pola
komunikasi
dalam
membentuk
kemandirian
anak.
Selanjutnya dilakukan observasi dan wawancara mendalam kepada mereka.
3. Observasi, dilakukan dengan cara mengadakan kunjungan ke rumah orang tua
tunggal kemudian melakukan percakapan ringan dengan orang tua tunggal dan
anak untuk mengetahui bagaimana interaksi dan komunikasi yang terjadi di
antara mereka dan keluarga luas.
47
4. Wawancara mendalam, dilakukan dengan responden orang tua tunggal, anak,
dan guru menggunakan tape recorder kemudian dic atat dalam catatan
penelitian. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pola
komunikasi
yang
digunakan
orang
tua
tunggal,
faktor-faktor
yang
mempengaruhi penggunaan pola komunikasi, tingkat kemandirian anak serta
faktor karakteristik orang tua dan lingkungan yang mempengaruhinya.
Instrumentasi
Pada metode penelitian atau analisis survey, instrumen penelitian yang
digunakan dua jenis, yaitu kuesioner dan wawancara. Untuk pengumpulan data
digunakan instrumen utama berupa kuesioner, yaitu daftar pertanyaan yang
relevan dengan peubah-peubah dan indikator yang diteliti.
Instrumen yang digunakan berupa daftar pertanyaan tertutup dan terbuka, yaitu :
1. Data umum responden yang meliputi: usia, pendidikan, pekerjaan,
pendapatan, jumlah anak, lamanya waktu bekerja.
2. Data perilaku komunikasi yang meliputi: lamanya penggunaan media
massa, lamanya melakukan kegiatan sosial.
3. Data pola komunikasi yang meliputi : linier, interaksi, transaksi.
4. Data
kemandirian
anak
yang
meliputi:
inisiatif,
kemampuan
memutuskan, kesediaan mengerjakan sendiri.
Analisis Data
Data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan teknik analisis
deskriptif kualitatif yang dimaksudkan untuk menjabarkan beberapa hasil
penelitian dari wawancara yang kemudian dianalisis secara kualitatif. Analisis
kualitatif disebut juga analisis non statistik yang dilakukan dengan cara membaca
tabel, grafik atau angka-angka yang tersedia kemudian melakukan uraian dan
penafsiran (Marsuki, 1983).
Menurut Moleong (2004) proses analisis data terdiri atas tiga tahap, yaitu
diawali dengan reduksi data, kemudian penyajian data dan terakhir penarikan
kesimpulan. Semua langkah tersebut dilakukan dalam penelitian ini sebagai
berikut :
48
1. Reduksi data, dilakukan dengan proses pemilihan data, penyederhanaan data,
pengabstrakan, dan pemindahan data kasar yang muncul dari catatan tertulis
di lapangan. Reduksi data ini berlangsung terus menerus selama penelitian
sampai laporan akhir lengkap tersusun.
2. Penyajian data, dilakukan dengan menginterpretasikan secara deskriptif
kutipan-kutipan hasil wawancara dengan orang tua tunggal, anak dan guru
untuk memudahkan melihat pola komunikasi dan faktor individu serta
lingkungan yang terkait dengan proses pembentukan kemandirian anak. Data
yang diperoleh dari kuesioner disajikan dalam bentuk tabel distribusi,
kecenderungan pola komunikasi, kecenderungan kemandirian anak, hubungan
karakteristik orang tua tunggal dan pola komunikasi, hubungan faktor
lingkungan dan pola komunikasi, hubungan karakteristik orang tua tunggal
dan kemandirian anak, hubungan faktor lingkungan dan kemandirian anak.
3. Penarikan kesimpulan dengan cara melakukan verifikasi terhadap penyajian
data penelitian guna memperoleh kebenaran data atau informasi yang valid
kemudian diinterpretasikan secara deskriptif dan ditarik suatu kesimpulan.
Validitas dan Reliabilitas
Kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) dalam penelitian
kualitatif memiliki dasar kepercayaan yang berbeda. Menurut Lincoln dan Guba
dalam Moleong (2004), ada empat keabsahan data yang diperlukan untuk teknik
pemeriksaan dalam menjamin keabsahan data hasil penelitian kualitatif, yaitu
derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan
(dependability), dan kepastian (confirmability). Keabsahan data dalam penelitian
ini dapat diterangkan sebagai berikut :
1. Kredibilitas
Kredibilitas ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat kepercayaan yang tinggi
dari hasil penelitian, yang dilakukan pada:
a). Ketekunan pengamatan, hal ini dilakukan peneliti dengan observasi terhadap
interaksi antara orang tua tunggal dan anak dan yang diikuti dengan
wawancara
49
mendalam untuk mendapatkan kejelasan informasi tentang pola komunikasi
yang digunakan orang tua tunggal, tingkat kemandirian anak, peran sekolah,
teman sebaya, keluarga luas dan media massa terhadap pola komunikasi
serta kemandirian anak.
b).Triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan
sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data tersebut. Triangulasi dilakukan dengan cara
yaitu triangulasi sumber, metode, dan teori. Patton dalam Moleong (2004)
mengartikan triangulasi dengan sumber adalah membandingkan dan
mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh
melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Ada lima
teknik yang bisa digunakan yaitu: (1) membandingkan data hasil
pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan apa ya ng
dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara
pribadi; (3) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang
situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu; (4)
membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai
pendapat dan pandangan orang lain; dan (5) membandingkan hasil
wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. Teknik triangulasi
yang digunakan di sini adalah membandingkan data yang diperoleh
melalui kuesioner dengan data hasil wawancara, membandingkan apa
yang dikatakan orang tua dengan apa yang dikatakan anak untuk
mendapatkan gambaran pola komunikasi dan kemandirian anak.
2. Tranferabilitas
Tranferabilitas dalam penelitian ini dengan cara menyajikan hasil penelitian
ini secara deskripsi dengan bahasa yang mudah dimengerti sesuai penulisan
ilmiah. Dalam penelitian ini tranferabilitas setiap data yang diperoleh
langsung ditabulasi dan dianalisis sehingga penulisan penelitian ini rinci dari
awal hinga akhir.
3. Dependabilitas
Dependabilitas dalam penelitian ini salah satu penilaiannya melakukan
pemeriksaan (audit) dependabilitas itu sendiri. Pengecekan atau penilaian
50
ketepatan peneliti dalam mengkonseptualisasikan apa yang diteliti merupakan
cerminan dari kemantapan dan ketepatan menurut standar reliabilitas
penelitian. Keseluruhan proses penelitian, baik dalam kegiatan pengumpulan
data, interpretasi temuan maupun dalam melaporkan hasil oleh peneliti
merupakan konsistensi yang akan semakin memenuhi standar dependabilitas.
Dalam penelitian ini pemeriksaan dilakukan oleh auditor independen, yaitu
pembimbing penelitian dengan memberikan masukan terhadap seluruh hasil
penelitian pada peneliti.
4. Konfirmabilitas
Konfirmabilitas pada penelitian ini lebih terfokus pada pemeriksaan kualitas
dan kepastian hasil penelitian, apakah benar berasal dari pengumpulan data di
lapangan. Pemeriksaan konfirmabilitas ini dilakukan dengan pemeriksaan
dependabilitas yang dilakukan peneliti dengan menghubungi informan jika
dirasakan ada hal-hal yang kurang lengkap.
Definisi Operasional
Definisi operasional adalah penjelasan pengertian tentang beberapa peubah
yang diukur yang terkait dengan penelitian yang dilakukan. Penelitian ini terdiri
dari empat kelompok peubah yang akan diteliti, yaitu: 1) karakteristik orang tua
tunggal, 2) lingkungan, 3) pola komunikasi orang tua tunggal dan anak, dan 4)
kemandirian anak.
1. Karakteristik Orang Tua Tunggal adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh orang tua
tunggal, meliputi :
a. Usia adalah jumlah tahun hidup orang tua tunggal pada saat dilakukan
wawancara penelitian.
b. Jumlah Anak adalah keseluruhan anak yang menjadi tanggungan orang tua
tunggal.
c. Pendidikan adalah pendidikan formal tertinggi yang pernah diselesaikan
oleh orang tua tunggal.
d. Pekerjaan adalah bentuk kegiatan utama mencari nafkah yang dilakukan
oleh orang tua tunggal sebagai sumber perolehan pendapatan.
51
e. Pendapatan adalah rata-rata perolehan per bulan yang diterima oleh orang
tua tunggal, baik berupa gaji atau sumber pendapatan lain di luar gaji.
f. Jumlah Anak adalah keseluruhan anak yang menjadi tanggungan orang tua
tunggal.
g. Lamanya waktu bekerja adalah rata-rata jumlah jam orang tua tunggal
bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga dan bekerja mencari nafkah .
h. Lamanya melakukan kegiatan sosial adalah jumlah jam orang tua tunggal
mengikuti kegiatan kemasyarakatan di luar pekerjaan pokoknya.
i.
Lamanya penggunaan media massa adalah kegiatan komunikasi yang
dilakukan orang tua tunggal dalam mencari dan menerima informasi
melalui media massa seperti surat kabar, majalah atau tabloid, TV, radio
dan internet.
2. Lingkungan adalah tempat anak berinteraksi dengan lingkungan sosial yang
terdiri dari :
a. Keluarga luas adalah orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengan
ayah dan ibu dari anak, yaitu kakek, nenek, paman, bibi, saudara sepupu.
Penelitian ini melihat interaksi anak dengan keluarga luas yang
dikategorikan menjadi (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi.
b. Sekolah adalah tempat anak menempuh pendidikan formal yang dibedakan
menjadi sekolah negeri dan sekolah swasta.
c. Teman sebaya (peer group) adalah teman yang berusia kurang lebih sama
dengan anak yaitu teman sekolah, teman sepermainan yang tinggal di sekitar
rumah dan teman yang dikenal di tempat anak melakukan kegiatan ekstra
baik di dalam maupun di luar sekolah. Penelitian ini melihat interaksi anak
dengan teman sebaya yang dikategorikan menjadi (1) rendah, (2) sedang,
dan (3) tinggi.
d. Media massa adalah sarana untuk memperoleh informasi dan hiburan yang
bisa diakses oleh semua orang secara cepat yang berupa media massa cetak
dan elektronik yaitu surat kabar, majalah, tabloid, radio dan televisi.
Penelitian ini melihat intensitas penggunaan media massa oleh anak yang
dikategorikan menjadi (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi.
52
3. Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal dan Anak adalah hubungan komunikasi
interpersonal antara orang tua tunggal dan anaknya yang dilihat berdasarkan
teknik komunikasi, hubungan komunikator dan komunikan, arah komunikasi,
pembentukan makna pesan, faktor pembentuk sikap dan perilaku. Semua item
pada variabel ini dituangkan dalam kuesioner dan dilakukan skoring untuk
dikategorikan menjadi pola komunikasi (a) linier, (b) interaksi, dan (c)
transaksi. Pola komunikasi ditetapkan dengan rata-rata skor sebagai berikut :
0 - < 1 = pola komunikasi linier, 1,5 - < 2,5 = pola komunikasi interaksi,
= 2,5 = pola komunikasi transaksi.
4. Kemandirian anak adalah kemampuan anak yang ditandai dengan ciri-ciri
sebagai berikut :
a. Berinisiatif : yang dilihat adalah apakah anak mempunyai inisiatif untuk
mengerjakan sesuatu untuk kepentingannya sendiri.
b. Memutuskan sendiri dan mampu memilih : yang dilihat adalah apakah
anak bisa memutuskan sendiri hal- hal yang menyangkut kepentingan
sendiri kemudian menentukan pilihan dengan tepat sesuai dengan keadaan
dirinya.
c. Mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain : yang dilihat adalah apakah
anak mau mengerjakan sesuatu yang bisa dilakukannya sendiri tanpa
bantuan orang lain.
Ketiga aspek kemandirian tersebut dituangkan dalam kuesioner dan
dilakukan skoring untuk dikategorikan menjadi (1) kurang mandiri, (2)
cukup mandiri, dan (3) sangat mandiri. Kemandirian anak ditetapkan
dengan rata-rata skor sebagai berikut : 0 - < 1 = kurang mandiri,
1,5 - < 2,5 = cukup mandiri, = 2,5 = sangat mandiri.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Letak Geografis
Secara administratif Kota Yogyakarta berada di bawah pemerintahan
Propinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) yang merupakan
propinsi
terkecil setelah Propinsi DKI Jakarta. Luas Propinsi DIY 3.185.80 km² atau
0,17 persen dari luas Indonesia. Luas Kota Yogyakarta 32,50 km² atau 1,02
persen dari luas Propinsi DIY. Kota Yogyakarta terdiri dari 14 kecamatan dan
45 kelurahan atau desa.
Kota Yogyakarta terletak di daerah dataran lereng aliran gunung
Merapi dan memiliki kemiringan lahan yang relatif datar (antara 0-2 %). Kota
Yogyakarta
merupakan salah-satu wilayah yang letaknya sangat strategis
dengan ketinggian rata-rata 114 m dari permukaan laut. Sebagian wilayah
dengan luas 1.657 ha terletak pada ketinggian kurang dari 100 m dan sisanya
1.593 ha berada pada ketinggian antara 100-199 m di atas permukaan air laut.
Curah hujan berkisar antara 1,88 mm – 39,85 mm per hari yang dipengaruhi
oleh musim kemarau dan musim hujan. Suhu udara rata-rata 26,93 °C dengan
kelembaban udara 49,2 – 95,1. Terdapat tiga sungai yang mengalir dari arah
utara ke selatan yaitu sungai Gajahwong yang mengalir di bagian timur kota,
sungai Code di bagian tengah dan sungai Winongo di bagian barat kota.
Batas wilayah Kota Yogyakarta adalah sebelah utara berbatasan
dengan Kabupaten Sleman, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten
Bantul, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul dan sebelah
timur berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo.
Penduduk
Kebanyakan pendud uk kota Yogyakarta bekerja di bidang jasa dan
perdagangan . Hal ini dikarenakan Kota Yogyakarta adalah daerah tujuan
wisata ke dua di Indonesia sesudah Bali. Banyak wisatawan mengunjungi
Yogyakarta baik wisatawan nusantara maupun wisatawan manca negara.
Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2004 penduduk Kota Yogyakarta
398.004 orang dengan kepadatan penduduk 12.246/km². Komposisi penduduk
54
didominasi usia dewasa
(20-24 tahun)
sebesar 16,26 persen dan lansia
berusia 60 tahun ke atas sebesar 18.13 persen, yang terdiri dari 7,98 persen
laki- laki dan 10,15 persen perempuan. Dari data ini nampak bahwa penduduk
Kota Yogyakarta mempunyai usia harapan hidup yang tinggi. Perempuan
mempunyai usia harapan hidup lebih tinggi dari pada laki- laki.
Tabel 1 menunjukkan jumlah penduduk berdasarkan status perkawinan
dan jenis kelamin. Jumlah laki- laki yang belum kawin lebih banyak dari pada
perempuan meskipun selisihnya hanya 6,85 persen. Prosentase laki- laki yang
menikah
tidak terlalu jauh bedanya dengan perempuan. Perbedaan sangat
besar terlihat pada jumlah perempuan yang cerai hidup, yaitu lebih dari tiga
kali jumlah laki- laki yang cerai hidup. Artinya, banyak perempuan yang
menggugat cerai suaminya. Berbagai faktor, seperti suami kurang bertanggung
jawab dan status istri yang bekerja nafkah, nampaknya mendorong keberanian
perempuan untuk menggugat cerai suaminya. Jumlah perempuan yang cerai
mati lima kali lebih banyak dari pada laki- laki. Hal ini nampaknya berkaitan
dengan usia harapan hidup perempuan yang lebih tinggi dari pada laki- laki.
Tabel 1. Penduduk Berdasarkan Status Perkawinan dan Jenis Kelamin di Kota
Yogyakarta, Tahun 2004
Status
Perkawinan
Laki-laki
n
Belum Kawin
87.280
Kawin
73.352
Cerai hidup
873
Cerai mati
2.919
Jumlah
164.424
Sumber : Susenas 2004
%
53,08
44,61
0,53
1,78
100
Perempuan
n
85.359
80.950
2.659
15.652
184.620
%
46,23
43,85
1,44
8,48
100
Jumlah
n
172.639
154.302
3.532
18.571
349.044
%
49,46
44,21
1,01
5,32
100
Tingkat Pendidikan
Penduduk
dengan tingkat pendidikan SLTA mempunyai prosentase
terbesar yaitu 37,53 persen, terdiri dari 19,08 persen laki- laki dan 18,45 persen
perempuan, sedangkan penduduk dengan tingkat pendidikan D3 hanya 3,87
persen, terdiri dari 1,86 persen laki- laki dan 2,01 persen perempuan, dan S1
sebanyak 7,27 persen yaitu 4,17 persen laki- laki dan 3,10 persen perempuan.
Secara umum pada tingkat pendidikan sesudah SLTP, prosentase laki- laki lebih
55
besar dibandingkan perempuan. Sedangkan pada tingkat pendidikan dasar, dari
SD hingga SMP, prosentase perempuan lebih besar dari pada laki- laki.
Gambaran tersebut di atas menunjukkan bahwa rata-rata tingkat
pendidikan tertinggi penduduk Kota Yogyakarta adalah SLTA meskipun di kota
ini banyak terdapat Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi
Swasta (PTS). Sementara itu, akses laki- laki terhadap pendidikan lebih besar
dibandingkan perempuan. Sebagian besar orang tua dari kalangan bawah lebih
mengutamakan anak laki- laki untuk me nempuh pendidikan tinggi karena kelak
akan menjadi kepala rumah tangga yang harus bertanggung jawab dan
menafkahi keluarga. Sedangkan anak perempuan tidak perlu bersekolah tinggi
karena kelak sesudah menikah tidak berperan sebagai pencari nafkah utama
dalam keluarga.
Mata Pencaharian
Kota Yogyakarta dikenal sebagai kota pariwisata, kota budaya, kota
pelajar dan pusat pemerintahan Propinsi DIY. Sumber mata pencaharian utama
penduduk yang terbanyak yaitu sebesar 52,01 persen adalah pada sektor jasa,
menyus ul kemudian 27,94 persen sektor perdagangan.
Perempuan lebih banyak bekerja di sektor jasa yaitu sebesar 50,58 persen,
sedangkan laki- laki 53,13 persen. Laki- laki yang bekerja di sektor perdagangan
sebanyak 22,92 persen, sedangkan perempuan 34,35 persen. Perempuan lebih
berperan di sektor
perdagangan. Di pasar-pasar besar dan sentra penjualan
cinderamata untuk wisatawan memang lebih banyak dijumpai pedagang
perempuan dibandingkan pedagang laki- laki..
Perceraian di Kota Yogyakarta
Perceraian adalah salah-satu penyebab terjadinya keluarga tidak utuh
dengan adanya hanya satu orang tua dalam keluarga yang kemudian lebih
dikenal dengan sebutan orang tua tunggal. Jumlah orang tua tunggal meningkat
seiring dengan meningkatnya jumlah perceraian dari tahun ke tahun.
Data perceraian di Kota Yogyakarta menunjukkan cerai gugat dari
tahun ke tahun selalu lebih banyak dari pada cerai talak dan jumlah terbesar
56
terjadi pada tahun 2002. Tabel 2 di bawah ini menunjukkan angka perceraian
lima tahun terakhir di kota Yogyakarta.
Tabel 2. Angka Perceraian di Kota Yogyakarta, Tahun 2001 – 2005
Tahun
Cerai Talak
Cerai Gugat
Jumlah
269
302
255
184
290
381
372
352
309
413
112
2001
70
2002
97
2003
125
2004
123
2005
Sumber : Pengadilan Agama Yogyakarta, 2005
Alasan Perceraian
Berdasarkan data dari Pengadilan Agama Kota Yogyakarta terdapat lima
penyebab perceraian, yaitu moral, meninggalkan kewajiban, terus- menerus
berselisih, murtad dan zina. Moral meliputi krisis akhlak, poligami tidak sehat
dan cemburu. Krisis akhlak adalah perilaku seperti berjudi, mabuk atau sering
keluar malam sehingga suami melupakan kewajiban sebagai kepala keluarga
yang seharusnya menjadi tokoh panutan dalam keluarganya.
Meninggalkan kewajiban disebabkan oleh kawin paksa, tidak memenuhi
kewajiban secara ekonomi, tidak bertanggungjawab, melakukan penganiayaan,
dihukum dan menderita cacat biologis. Kebanyakan alasan perceraian dalam
kategori ini adalah suami tidak bertanggungjawab, disusul kemudian oleh
meninggalkan kewajiban secara ekonomi.
Terus menerus berselisih disebabkan oleh pihak ke tiga dan tidak
harmonis. Dalam hal ini yang dimaksud sebagai pihak ke tiga adalah orang tua
atau keluarga yang ikut campur tangan dalam kehidupan perkawinan pasangan
suami istri dan juga hadirnya pria atau wanita lain yang mendorong terjadinya
perselingkuhan.
Dua alasan terbesar penyebab perceraian adalah suami tidak
bertanggung jawab (45%) dan rumah tangga tidak harmonis (17%).
Kebanyakan suami tidak bertanggungjawab secara ekonomi atau tidak
menafkahi is tri karena tidak mempunyai pekerjaan tetap (Lihat Lampiran 1).
57
Karakteristik Laki-laki dan Perempuan yang Bercerai
Karakteristik laki- laki dan perempuan yang bercerai di Pengadilan
Agama Yogyakarta dikelompokkan berdasarkan umur, pendidikan terakhir dan
jenis pekerjaan. Umur berkisar antara kurang dari 25 tahun sampai lebih dari 68
tahun, pendidikan dimulai dari yang but a huruf (tidak bersekolah) sampai
jenjang pendidikan S2, dan jenis pekerjaan ada beberapa macam termasuk
seniman, sopir dan Satpam (Lihat lampiran 3 dan 4)
Usia laki- laki dan perempuan yang bercerai rata-rata antara 25 sampai
46 tahun. Laki- laki yang bercerai pada usia 25-35 tahun sebesar 42,3 persen,
sedangkan yang berusia 36-46 tahun sebesar 37.8 persen. Sebagian besar
perempuan (48,1 %) bercerai pada usia antara 25 sampai 35 tahun, sedangkan
33,2 persen bercerai pada usia 36-46 tahun. Angka perceraian menurun pada
usia 47-57 tahun, pada laki- laki 11,1 persen dan pada perempuan 5,7 persen.
Angka perceraian pada usia kurang dari 25 tahun adalah 6,38 persen laki- laki
dan 12,2 persen perempuan
Sebagian besar laki- laki dan perempuan yang bercerai berpendid ikan
SMU yaitu 52,3 persen laki- laki dan 49,6 persen perempuan. Angka perceraian
menurun pada tingkat pendidikan S1, yaitu 1,3 persen laki- laki dan 2,4 persen
perempuan. Pada tingkat pendidikan yang lebih rendah yaitu SD terdapat 11,6
persen laki- laki dan 9,7 persen perempuan yang bercerai. Dari data ini terlihat
bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi keputusan bercerai. Pada tingkat
pendidikan menengah, yaitu SMU terjadi banyak perceraian, kemudian disusul
di bawahnya adalah pendidikan dasar setingkat SD sedangkan angka perceraian
paling kecil terjadi di tingkat pendidikan S1.
Sebagian besar laki- laki dan perempuan yang bercerai bekerja sebagai
karyawan swasta dan wiraswasta. Laki- laki dan perempuan yang bekerja sebagai
karyawan swasta masing- masing sebanyak 36,9 persen. Laki- laki wiraswasta
22,6 persen
sedangkan perempuan 22,2 persen. Laki- laki dan perempuan
bercerai yang berasal dari kalangan PNS tidak banyak jumlahnya, yaitu 3,34
persen laki- laki dan 4,22 persen perempuan. Buruh yang bercerai juga tidak
banyak jumlahnya yaitu laki- laki 8,4 persen dan perempuan 4,3 persen.
58
Jumlah yang lebih besar adalah laki- laki yang diceraikan istrinya karena
tidak bekerja yaitu 18 persen. Perempuan yang melakukan cerai gugat
kebanyakan adalah perempuan yang bekerja sedangkan perempuan yang tidak
bekerja (ibu rumah tangga) biasanya diceraikan oleh suaminya (cerai talak).
Rata-rata jumlah perempuan ibu rumah tangga yang bercerai antara tahun 2001
sampai 2005 sebesar 28,2 persen, sedangkan rata-rata jumlah perempuan
bekerja yang bercerai sebanyak 66,1 persen. Data ini menggambarkan bahwa
tanpa adanya kemampuan finansial, seperti yang terjadi pada ibu rumah tangga,
seorang perempuan akan selalu tergantung pada suami secara ekonomi
sehingga tidak mempunyai keberanian mengambil keputusan untuk menggugat
cerai suaminya.
Jumlah Anak dari Keluarga Bercerai
Pasangan suami istri yang bercerai rata-rata memiliki sejumlah anak
dari hasil perkawinannya. Kebanyakan keluarga yang bercerai mempunyai
satu anak. Sedikit di antara mereka yang memiliki lebih dari tiga anak.
Keputusan bercerai memerlukan banyak pertimbangan ketika ada lebih banyak
anak dalam keluarga.
Tabel 3. Jumlah Anak dari Keluarga yang Bercerai di Pengadilan Agama,
Yogyakarta, Tahun 2001 – 2005
Jumlah Anak
(Orang)
2001
2002
a. 1
42
33
b. 2
22
17
c. > 3
2
Sumber : Pengadilan Agama Yogyakarta, 2005
Tahun
2003
2004
2005
49
37
-
57
36
-
73
22
1
Karakteristik Anak dari Keluarga Bercerai
Karakteristik anak dari keluarga bercerai dikelompokkan berdasarkan
usia dan jenis kelamin. Jumlah yang terbesar, yaitu rata-rata 40,3 persen,
berada pada usia 5 sampai 10 tahun yang dari tahun ke tahun menunjukkan
peningkatan kecuali pada tahun 2002 dan 2004 terjadi penurunan sekitar satu
persen. sedangkan rata-rata 39,1 persen berusia kurang dari 5 tahun.
59
Sementara itu secara umum jika dilihat dari jenis kelamin, jumlah anak
laki- laki lebih banyak dibandingkan anak perempuan. Hanya pada tahun 2001
dan 2002, jumlah anak perempuan lebih banyak dari pada anak laki- laki.
Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan jumlah yang besar antara anak
laki- laki dan anak perempuan.
Tabel 4. Karakteristik Anak dari Keluarga Bercerai di Pengadilan Agama,
Yogyakarta, Tahun 2001 - 2005
Karakteristik
Anak
2001
n
%
2002
n %
A. Usia (tahun)
a. < 5
39
40,6 33
47,1
b. 5 - 10
35
36,5 25
35,7
c. 11 - 15
20
20,8 10
14,4
d. > 15
2
2,1
2
2,8
Jumlah
96
100 70
100
B. Jenis Kelamin
a. Laki-laki
46
47,9 34
48,6
b. Perempuan
50
52,1 36
51,4
Jumlah
96
100 70
100
Sumber : Pengadilan Agama Yogyakarta, 2005
Tahun
2003
n
%
n
2004
%
n
2005
%
44
55
25
8
132
33,3 42
41,7 53
18,9 30
6,1
7
100 132
31,8 55
40,2 61
22,7 10
5,3
3
100 129
42,6
47,3
7,8
2,3
100
75
57
132
56,8 77
43,2 55
100 132
58,3 70
41,7 59
100 129
54,3
45,7
100
Rata-rata jumlah anak yang berada dalam pengasuhan ibu adalah 89,7
persen sedangkan yang diasuh ayah 6,51 persen. Kebanyakan anak yang
diasuh ibu berusia di bawah 5 tahun (32,2 %) dan antara 5 sampai 10 tahun
(41,3 %) dan yang berusia antara 11 sampai 15 tahun 14,4 persen. Di sini jelas
terlihat lebih banyak anak berada dalam pengasuhan ibu terutama yang berusia
sampai 11 tahun (Lihat lampiran 5).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden Orang Tua Tunggal
Responden dalam penelitian ini adalah ibu sebagai orang tua tunggal dan
anaknya yang masing- masing berjumlah 25 orang yang bertempat tinggal di Kota
Yogyakarta. Karakteristik orang tua tunggal dalam penelitian ini meliputi usia,
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, lamanya bekerja, lamanya penggunaan media,
dan lamanya mengikuti kegiatan sosial.
Lampiran 6 memperlihatkan bahwa jumlah responden paling banyak
(48%) berusia antara 36-46 tahun, berpendidikan SMU (40 %), bekerja sebagai
karyawan swasta (44 %) dengan penghasilan kurang dari Rp. 1 juta (52 %). Lama
waktu bekerja di luar rumah berkisar antara 8–10 jam (72 %).
Jumlah responden yang menggunakan media lebih dari 7 jam dan antara 13 jam dalam seminggu adalah sama yaitu 28 persen. Rata-rata mereka lebih suka
membaca dari pada menonton televisi, yaitu 31,2 persen suka membaca surat
kabar sementara 20 persen suka menonton berita di televisi.
Lebih dari setengah jumlah responden menghabiskan 2-4 jam seminggu
untuk melakukan kegiatan sosial. Responden yang tidak mengikuti kegiatan sosial
hampir setengah dari jumlah responden yaitu 40 persen. Sedangkan jumlah
responden yang menghabiskan 5-7 jam seminggu untuk berkegiatan sosial hanya
sebanyak 8 persen.
Kegiatan sosial
yang paling banyak dilakukan oleh orang tua tunggal
adalah kegiatan di lingkungan sekitarnya yaitu PKK yang dilakukan secara rutin
sebulan sekali. Kegiatan lain yang juga banyak diminati oleh orang tua tunggal
adalah kegiatan rohani berupa
pengajian-pengajian. Sebanyak 16,2 persen
bergabung dengan supporting group yang dikoordinir oleh LSM perempuan
dengan tujuan memberikan bantuan dalam menghadapi masalah-masalah yang
terkait dengan perceraian, konflik dengan mantan pasangan dan pengasuhan anak.
Jenis bacaan yang paling digemari oleh orang tua tunggal adalah surat
kabar yang dimaksudkan untuk mendapatkan berita dan menambah wawasan.
Tabloid adalah jenis bacaan ke dua yang paling digemari. Selebihnya jenis bacaan
tergantung pada minat seperti filsafat, kesehatan, hobi dan sebagainya.
61
Jenis tontonan yang paling digemari adalah berita disusul kemudian dengan
infotainment, film dan sinetron. Jenis tontonan ini menunjukkan tujuan
penggunaan media massa adalah untuk mendapatkan informasi dan hiburan.
Karakteristik Responden Anak
Karakteristik responden anak ditunjukkan pada Lampiran 7 yang meliputi
jenis kelamin, usia, jumlah saudara, status sekolah dan lamanya penggunaan
media .
Responden anak diambil satu dari setiap keluarga karena di dalam keluarga
dengan dua anak atau lebih hanya ditemukan satu orang anak yang sesuai dengan
kriteria usia yang ditetapkan dalam penelitian ini, yaitu 7-12 tahun. Beberapa anak
berstatus sebagai anak sulung dengan adik berusia kurang dari 7 tahun, sedangkan
yang lain berstatus sebagai anak bungsu dengan kakak yang berusia lebih dari 12
tahun, bahkan ada yang sudah kuliah atau berkeluarga.
Kebanyakan responden anak berjenis kelamin perempuan dan berusia
antara 10 – 12 tahun. Sebagian besar responden (40 %) merupakan anak tunggal.
Jika dilihat dari sekolahnya, maka sebagian besar responden anak bersekolah di
SD, hanya ada tiga orang anak yang bersekolah di SMP dengan usia 12 tahun.
Jenis sekolah dibedakan menjadi sekolah negeri dan sekolah swasta. Jumlah
responden yang bersekolah di sekolah negeri tidak berbeda jauh dengan yang
bersekolah di sekolah swasta.
Selain bersekolah, anak-anak mengisi waktu luang dengan mengikuti
kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minat, ketersediaan waktu serta biaya.
Kegiatan Pramuka merupakan kegiatan wajib dari sekolah yang harus diikuti
anak-anak kelas 4-6 SD. Di luar kegiatan tersebut, kebanyakan anak mengikuti
kegiatan kesenian dan olah raga. Lebih banyak anak perempuan mengikuti
kegiatan kesenian sedangkan kegiatan olah raga lebih banyak diikuti anak lakilaki.
Jenis bacaan yang disukai baik oleh anak laki- laki maupun anak perempuan
adalah komik yang sering difilmkan sebagai film kartun di televisi, seperti Dora
Emon, Tsubasa, Scoby Doo dan Detektif Conan. Selain membaca komik, anak
perempuan juga suka membaca majalah anak.
62
Tontonan yang paling digemari baik oleh anak perempuan maupun anak
laki- laki adalah film kartun. Reality show seperti AFI (Akademi Fantasi Indosiar),
Indonesian Idol dan Pildacil (Pemilihan Dai Kecil) lebih digemari anak
perempuan. Lebih banyak anak perempuan menyukai sinetron dibandingkan anak
laki- laki. Sinetron yang ditonton anak bertema komedi dan kehidupan remaja.
Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal
Pola
komunikasi
yang digunakan oleh orang tua tunggal dapat
dikategorikan menjadi linier, interaksi dan transaksi. Beberapa situasi yang
dihadapi dalam kehidupan sehari- hari mendorong penggunaan pola komunikasi
yang berbeda. Dengan demikian satu orang tua tunggal dapat menggunakan lebih
dari satu pola komunikasi.
Tabel 5. Pola Komunikasi pada berbagai Situasi Komunikasi, Yogyakarta, 2006
Situasi Komunikasi
Pola Komunikasi
Interaksi
Transaksi
n
%
n
%
Linier
n
%
Jumlah
n
%
Menghadapi anak yang
mempunyai masalah
dengan teman.
2
8
17
68
6
24
25
100
Menghadapi anak yang
prestasi belajarnya
menurun.
2
8
15
60
8
32
25
100
Mengatur uang saku
anak.
3
12
9
36
13
52
25
100
Tidak bisa memenuhi
permintaan anak.
2
8
16
64
7
28
25
100
Mengajar anak
memanfaatkan waktu
4
16
9
36
12
48
25
100
Tabel 5 menunjukkan bahwa secara umum penggunaan pola komunikasi
interaksi lebih dominan dibandingkan penggunaan pola komunikasi linier maupun
pola komunikasi transaksi kecuali pada situasi pengaturan uang saku anak dan
pemanfaatan waktu luang anak penggunaan pola komunikasi transaksi lebih
dominan. Sementara itu, pola komunikasi interaksi paling banyak digunakan
63
ketika menghadapi anak yang bermasalah dengan teman, prestasi belajar anak
menurun dan jika orang tua tidak bisa memenuhi permintaan anak. Komunikasi
yang bersifat dua arah atau dialogis lebih tepat digunakan pada situasi tersebut
karena lewat komunikasi dua arah, orang tua bisa memberikan pengertian kepada
anak tentang situasi yang dihadapi.
Meskipun ditemukan variasi penggunaan beberapa pola komunikasi sesuai
dengan situasi yang dihadapi, secara umum bisa ditentukan kecenderungan
penggunaan pola komunikasi yang dominan berdasarkan jawaban kuesioner dan
hasil wawancara. Tabel 6 memperlihatkan sebaran pola komunikasi yang
digunakan oleh orang tua tunggal yang menjadi responden penelitian ini.
Tabel 6. Kecenderungan Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal
Pola Komunikasi
Linier
Interaksi
Transaksi
Jumlah
Jumlah
(25)
3
13
9
25
Persentase
(%)
12
52
36
100
Secara umum pola komunikasi interaksi paling dominan digunakan oleh
orang tua tunggal. Menurut Fisher (1986), pola komunikasi interaksi menekankan
pentingnya interaksi dalam pembentukan sikap atau perilaku. Konsep diri anak
terbentuk melalui interaksinya dengan lingkungan terdekatnya, terutama keluarga.
Dialog adalah suatu bentuk interaksi yang terjadi di antara peserta komunikasi.
Pola komunikasi interaksi ditandai dengan terjadinya dialog antara peserta
komunikasi yang berarti bersifat dua arah. Melalui dialog pula bisa dibentuk sikap
dan perilaku anak seperti yang terungkap dari wawancara dengan O3 yang
menyatakan bahwa anaknya bersedia melanjutkan mengikuti TPA (Taman
Pendidikan Al-Quran) setelah berdialog
dengan ibu seperti pernyataannya di
bawah ini.
“Dia ikut TPA dulu saya suruh. Biar pinter baca Al Quran. Banyak
temannya yang sudah berhenti dari TPA. Dia pengin nggak usah TPA lagi,
terus saya bilang kalau saya nggak bisa baca Quran, kalau bodoh semua
gimana? Apalagi dia cowok kan besok harus bisa membimbing, terus dia
bilang : O, ya, ya. Dia mau. Bangkit lagi. Kalau dibiarkan maunya cuma
sampai kelas empat.”
64
Pada pola komunikasi interaksi, anak dapat menyampaikan keinginan dan
pendapatnya secara terbuka sedangkan ibu memberikan reaksi positif kemudian
secara perlahan mengarahkan anak kepada satu pengertian yang diinginkan ibu
untuk dilakukan oleh anak. Dengan demikian terjadi dialog tidak setara yang
artinya ada salah-satu pihak yang lebih dominan yang dalam hal ini adalah orang
tua. Menurut DeVito (1997), pola komunikasi seperti ini disebut the unbalanced
split pattern karena ada salah satu pihak yang mendominasi pihak lain dan
menuntutnya agar melakukan apa yang diinginkannya.
Pola komunikasi transaksi menempati urutan kedua sebagai pola
komunikasi yang digunakan orang tua tunggal dalam penelitian ini. Salah satu ciri
pola komunikasi transaksi menurut
Cangara (2004) adalah semua peserta
komunikasi aktif. Orang tua dan anak mempunyai posisi sejajar dalam
menghadapi berbagai situasi. Anak diberi kesempatan untuk berperanserta dalam
memutuskan sesuatu dalam porsi yang seimbang dengan orang tua. Misalnya
dalam pengaturan uang saku anak diputuskan bersama oleh orang tua dan anak
dengan jumlah yang dianggap sesuai untuk anak. Persepsi anak dan orang tua
tentang jumlah uang saku yang sesuai tentu saja berbeda tetapi mereka harus
mencapai kesepakatan bersama mengenai hal itu. Situasi ini sesuai dengan model
konvergensi dari Rogers dan Kincaid (1981) yang memandang komunikasi
sebagai transaksi di antara partisipan yang akan menghasilkan pengertian
bersama.
Pola komunikasi linier ternyata masih digunakan orang tua sampai saat ini
meskipun tingkat penggunaannya oleh orang tua tunggal sedikit. Dari wawancara
dengan responden diketahui bahwa komunikasi linier dinilai sangat tepat untuk
mendisiplinkan anak dalam melakukan kegiatan sehari- hari. Teknik instruktif
digunakan untuk menyuruh anak melakukan kegiatan sehari- hari sedangkan untuk
menyuruh anak belajar secara teratur digunakan teknik persuasi dengan
menjelaskan bahwa anak yang pintar kelak akan mempunyai lebih banyak pilihan
dalam menentukan bidang pekerjaan yang akan ditekuni. Paksaan dan ancaman
hukuman ternyata juga digunakan oleh orang tua tunggal yang menggunakan pola
komunikasi linier seperti pengakuan O5 berikut ini :
65
“ Saya akan berusaha dengan berbagai cara supaya anak saya menuruti
keinginan saya. Kalau dia harus tidur siang, bagaimanapun caranya harus
tidur, kalau perlu dicubit. Kalau waktunya mandi, saya paksa dia mandi,
biasanya saya hitung satu sampai tiga sambil saya bawa sulak atau sapu.
Kalau sampai hitungan tiga dia belum juga mandi, sapu saya pukulkan ke
dinding dan dia akan lari masuk kamar mandi.”
Hubungan Lingkungan dan Pola Komunikasi
Penelitian
ini
melihat bagaimana
faktor
lingkungan menentukan
kecenderungan penggunaan suatu jenis pola komunikasi oleh orang tua tunggal.
Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif untuk memberikan penjelasan terhadap
fenomena- fenomena yang muncul di lapangan.
Tabel 7. Faktor Lingkungan dan Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal,
Yogyakarta, 2006
Faktor Lingkungan
Linier
n
%
Keluarga Luas
Interaksi rendah
Interaksi sedang
Interaksi tinggi
Jumlah
Sekolah
Negeri
Swasta
Jumlah
Teman Sebaya
Interaksi rendah
Interaksi sedang
Interaksi tinggi
Jumlah
Media massa
Intensitas rendah
Intensitas sedang
Intensitas tinggi
Jumlah
Pola Komunikasi
Interaksi Transaksi
n
%
n
%
Jumlah
n
%
1
1
1
3
4
4
4
12
3
6
4
13
12
24
16
52
4
5
9
16
20
36
4
11
10
25
16
44
40
100
3
3
12
12
8
5
13
32
20
52
5
4
9
20
16
36
13
12
25
52
48
100
1
1
1
3
4
4
4
12
6
7
13
24
28
52
4
5
9
16
20
36
1
11
13
25
4
44
52
100
3
3
12
12
1
2
10
13
4
8
40
52
9
9
36
36
1
2
22
25
4
8
88
100
Tabel 7 menunjukkan bahwa orang tua tunggal berinteraksi dengan keluarga
luas dalam tingkat yang berbeda tetapi sebagian besar (44 %) berinteraksi sedang.
Pola komunikasi linier digunakan pada semua tingkat interaksi secara merata,
pola komunikasi interaksi digunakan lebih banyak pada interaksi sedang,
sementara pada interaksi tinggi lebih banyak digunakan pola komunikasi
66
transaksi. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Olsen (1974) di Taiwan yang
menyatakan bahwa keterlibatan keluarga
luas
dalam
pengasuhan
anak
mempengaruhi orang tua menggunakan pola komunikasi linier.
Hasil wawancara dengan beberapa responden mengungkapkan bahwa pola
komunikasi interaksi dan transaksi digunakan untuk menjaga konsistensi pola
pengasuhan anak. Orang tua berdialog dengan anak mengenai perbedaan pola
asuh yang terjadi di dalam keluarga mereka dan keluarga luas. Dalam hal ini,
anak wajib mengikuti arahan dari orang tua sendiri dan mengabaikan arahan dari
keluarga luas jika hal tersebut bertentangan dengan ketentuan dari orang tua. Pola
komunikasi linier digunakan dengan tujuan supaya anak patuh dan mau mengikuti
petunjuk dari orang tua setelah mengalami pola asuh dan pola komunikasi dari
keluarga luas yang berbeda dengan yang digunakan oleh orang tua sendiri.
Pola komunikasi interaksi lebih banyak digunakan oleh orang tua tunggal
yang anaknya bersekolah di negeri. Dengan pola komunikasi ini anak tidak perlu
disuruh belajar karena kepada anak ditanamkan kesadaran bahwa belajar adalah
tugas seorang pelajar sehingga anak lebih bertanggungjawab dalam mengerjakan
tugas-tugas dan PR (Pekerjaan Rumah) dari sekolah.
Tingkat penggunaan pola komunikasi transaksi tidak berbeda jauh di
kalangan orang tua tunggal yang anaknya bersekolah di negeri dan swasta. Pola
komunikasi transaksi cenderung digunakan untuk menanamkan kesadaran kepada
anak tentang pentingnya belajar. Temuan me narik penelitian ini adalah pola
komunikasi linier hanya digunakan oleh orang tua tunggal yang anaknya
bersekolah di swasta. Berdasarkan pengamatan di lapangan, hal ini terjadi karena
sekolah swasta menerapkan standar prestasi akademis yang tinggi dan penerapan
disiplin yang ketat bagi para siswanya. Orang tua merasa khawatir jika anaknya
tidak bisa memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan oleh pihak sekolah
sehingga menggunakan pola komunikasi linier untuk menyuruh anaknya giat
belajar dan mematuhi peraturan sekolah.
Frekuensi penggunaan pola komunikasi interaksi dan transaksi oleh orang
tua tunggal nampak dominan pada interaksi sedang dan tinggi antara anak dengan
teman sebaya. Semakin sering anak berinteraksi dengan teman sebaya maka orang
tua harus memberi pengertian kepada anak agar tidak mengikuti sikap dan
67
perilaku teman yang kurang baik. Lewat dialog ditekankan bahwa setiap orang
mempunyai target dan tujuan hidup yang berbeda sehingga cara bersikap dan
berperilaku juga harus berbeda.
Berdasarkan pemahaman anak tentang berbagai ragam karakter teman
yang mungkin dijumpai mereka di dalam lingkungan pergaulannya, orang tua
mengharapkan mereka bisa memilih teman yang baik. Hal ini didasari oleh
pemahaman orang tua bahwa teman sebaya sangat mempengaruhi sikap dan
perilaku anak. Menurut Tarmudji (2002), pengaruh buruk yang mungkin muncul
sebagai hasil interaksi anak dengan teman sebaya adalah perilaku agresif. Tentu
saja orang tua tidak menginginkan pengaruh buruk tersebut terjadi pada anaknya.
Pada interaksi rendah dengan teman sebaya nampak hanya digunakan pola
komunikasi linier. Dari wawancara terungkap bahwa anak ternyata mempunyai
teman sebaya yang berperilaku kurang baik sehingga orang tua menyuruh anak
membatasi pergaulannya dengan teman tersebut.
Intensitas penggunaan media massa yang tinggi oleh anak ternyata
menunjukkan penggunaan ketiga pola komunikasi tetapi pola komunikasi
interaksi dan transaksi nampak lebih dominan. Menurut Rakhmat (2001), salah
satu pengaruh media massa adalah perilaku agresif. Sehubungan dengan hal
tersebut maka dalam menghadapi anak yang menggunakan media massa dalam
intensitas tinggi orang tua mengantisipasinya dengan komunikasi dua arah, yaitu
interaksi dan transaksi, yang dimaksudkan untuk me mberikan pengertian kepada
anak tentang isi pesan media massa yang bertemakan kekerasan dan meminta
anak supaya tidak menirunya. Sementara itu, pola komunikasi linier digunakan
untuk melarang anak menonton film kartun tertentu ya ng dinilai tidak mendidik.
Bahkan beberapa orang tua menetapkan jenis tontonan dan jenis bacaan yang
boleh ditonton dan dibaca oleh anak.
Sesudah mendapatkan gambaran distribusi frekuensi penggunaan pola
komunikasi berdasarkan faktor lingkungan, selanjutnya dilihat kecenderungan
penggunaan pola komunikasi secara umum berdasarkan faktor lingkungan anak
dengan menunjukkan rata-rata skor pola komunikasi.
68
Tabel 8. Faktor Lingkungan dan Kecenderungan Pola Komunikasi
Faktor Lingkungan
Nilai Rata-rata
Skor Pola Komunikasi
Kategori
Pola Komunikasi
Keluarga Luas
Interaksi rendah
1,7
Interaksi
Interaksi sedang
2,2
Interaksi
Interaksi tinggi
2,3
Interaksi
Sekolah
Negeri
2,2
Interaksi
Swasta
2,1
Interaksi
Teman Sebaya
Interaksi rendah
1.3
Linier
Interaksi sedang
2,2
Interaksi
Interaksi tinggi
2,2
Interaksi
Media massa
Intensitas rendah
2,4
Interaksi
Intensitas sedang
1,9
Interaksi
Intensitas tinggi
2,2
Interaksi
Catatan : Skor 0 - < 1 = Linier, 1,5 - < 2,5 = Interaksi, = 2,5 = Transaksi
Berdasarkan skor pola komunikasi pada semua faktor lingkungan maka
secara umum pada semua faktor lingkungan yang dihadapi anak terlihat
penggunaan pola komunikasi interaksi. Hanya pada satu orang anak yang
berinteraksi rendah dengan teman sebaya ditemukan penggunaan pola komunikasi
linier oleh orang tua tunggal. Dengan demikian faktor lingkungan anak
menyebabkan digunakannya pola komunikasi interaksi oleh orang tua tunggal.
Hal ini sejalan dengan pendapat Mulyana (1999) tentang bentuk komunikasi yang
bisa digunakan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yaitu bentuk
komunikasi yang bisa mencapai tingkat empati optimal. Menurut Fisher (1986),
pengertian bersama yang diperoleh melalui empati adalah ciri pola komunikasi
interaksi.
Hubungan Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Pola Komunikasi
Sikap dan faktor personal yang ada dalam diri seseorang atau karakteristik
individu menentukan pola komunikasi yang digunakan.
Penelitian ini
mendeskripsikan pengaruh karakteristik orang tua tunggal terhadap pola
komunikasi antara orang tua tunggal dan anak. Tabel 9 menunjukkan distribusi
pola komunikasi yang digunakan berdasarkan karakteristik orang tua tunggal.
69
Tabel 9. Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Pola Komunikasi, Yogyakarta,
2006
Karakteristik
Orang Tua Tunggal
A. Usia (tahun)
a. 30 - 35
b. 36 - 46
c. 47 - 57
Jumlah
B.Jumlah Anak (Orang)
a. 1
b. 2
c. 3
d. > 3
Jumlah
C. Pendidikan
a. SD
b. SMP
c. SMU
d. D1
e. D3
g. S1
h. S2
Jumlah
D. Pekerjaan
a. Karyawan Swasta
b. Wiraswasta
c. PNS
d. Buruh
Jumlah
E. Pendapatan (Rp)
a. < 1 juta
b. 1 - 2 juta
c. > 2 juta
Jumlah
F. Lama Waktu Bekerja
(Jam/hari)
a. < 8
b. 8 - 10
c. > 10
Jumlah
G. Lama Penggunaan
Media (Jam/minggu)
a. 1 - 3
b. 3 - 5
c. 5 - 7
d. > 7
Jumlah
Linier
n
%
Pola Komunikasi
Interaksi Transaksi
n
%
n
%
Jumlah
n
%
1
2
3
4
8
12
6
5
2
13
24
20
8
52
3
4
2
9
12
16
8
36
10
11
4
25
40
48
16
100
2
1
3
8
4
12
5
6
2
13
20
24
8
52
4
3
1
1
9
16
12
4
4
36
11
10
3
1
25
44
40
12
4
100
1
2
3
4
8
12
1
1
4
1
1
5
13
4
4
16
4
4
20
52
1
4
1
2
1
9
4
16
4
8
4
36
3
1
10
1
2
7
1
25
12
4
40
4
8
28
4
100
1
1
1
3
4
4
4
12
6
2
3
2
13
24
8
12
8
52
4
4
1
9
16
16
4
36
11
7
4
3
25
44
28
16
12
100
1
2
3
4
8
12
7
5
1
13
28
20
4
52
5
3
1
9
20
12
4
36
13
10
2
25
52
40
8
100
1
1
1
3
4
4
4
12
3
9
1
13
12
36
4
52
3
6
9
12
24
36
7
16
2
25
1
1
1
3
4
4
4
12
5
2
3
3
13
20
8
12
12
52
2
2
2
3
9
8
8
8
12
36
7
28
5
20
6
24
7
28
25 100
Berlanjut
28
64
8
100
70
Lanjutan
Karakteristik
Orang Tua Tunggal
Linier
n
%
H. Lama Kegiatan Sosial
(Jam/minggu)
a. Tidak ada
b. 2 - 4
c. 5 - 7
Jumlah
2
1
3
8
4
12
Pola Komunikasi
Interaksi Transaksi
n
%
n
%
6
6
1
13
24
24
4
52
2
6
1
9
8
24
4
36
Jumlah
n
%
10
13
2
25
40
52
8
100
Orang tua tunggal berusia 47-57 tahun terlihat hanya menggunakan
komunikasi dua arah yaitu interaksi dan transaksi sedangkan pada dua kelompok
usia di bawahnya masih terlihat digunakannya pola komunikasi linier. Dari
temuan ini nampak bahwa seiring dengan bertambahnya usia membuat orang tua
berkomunikasi secara lebih baik dengan anak-anaknya. Hal ini didasari oleh
pengalaman mereka dalam hal cara mengasuh anak, baik yang dialami sendiri
maupun dari melihat atau membaca informasi dari media massa tentang pola asuh
anak.
Hal tersebut terungkap dari wawancara dengan O1 dan O2 yang
menyatakan bahwa mereka dididik secara otoriter oleh orang tua sehingga tidak
ingin melakukan hal yang sama pada anak-anak mereka sekarang, karena itu
mereka
cenderung
menggunakan
pola
komunikasi
transaksi di
dalam
berkomunikasi dengan anak.
Hal menarik yang ditemukan di sini adalah orang tua tunggal dengan tiga
anak atau lebih menggunakan pola komunikasi interaksi dan transaksi. Hal ini
berbeda dengan pendapat Gunarsa (1991) yang menyatakan bahwa kepadatan di
dalam keluarga menimbulkan kesulitan berkomunikasi sehingga pola hubungan
menjadi otoriter yang berarti menunjukkan digunakannya pola komunikasi linier.
Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara dengan responden penelitian ini
ternyata mereka memiliki anak-anak yang sudah dewasa bahkan ada yang sudah
berkeluarga sehingga perhatian lebih banyak diarahkan kepada anak bungsu, yaitu
yang menjadi subjek penelitian ini sehingga bisa berkomunikasi lebih baik.
Ketiga jenis pola komunikasi digunakan oleh orang tua tunggal yang
berpendidikan SD dan SMU, tetapi mulai dari D1 hingga S2 hanya menggunakan
komunikasi dua arah yaitu D1 sampai S1 menggunakan komunikasi interaksi
71
sedangkan S2 menggunakan komunikasi transaksi. Hal ini menguatkan anggapan
Widjaja (1989) dalam Rahmah (2004) yang mengungkapkan bahwa ibu yang
berpendidikan akan bersikap lebih baik kepada anak termasuk juga dalam
berkomunikasi dengan anak yaitu cenderung menggunakan pola komunikasi dua
arah.
Pekerjaan dan pendapatan merupakan indikator untuk melihat kelas sosial
ekonomi seseorang. Hasil penelitian Olsen (1974) menunjukkan bahwa kelas
sosial ekonomi bawah cenderung menggunakan komunikasi linier sementara kelas
menengah menggunakan komunikasi dua arah. Data yang disajikan pada Tabel 9
menunjukkan bahwa pola komunikasi linier digunakan oleh semua jenis pekerjaan
kecuali PNS dan hanya pada orang tua tunggal berpenghasilan lebih dari dua juta
rupiah tidak ditemukan penggunaan pola komunikasi linier. Frekuensi
penggunaan pola komunikasi interaksi dan transaksi lebih sering ditemukan pada
kelas menengah meskipun pada kelas bawah juga ditemukan penggunaan pola
komunikasi ini. Dengan demikian komunikasi dua arah cenderung digunakan oleh
kelas sosial ekonomi menengah tetapi penggunaan pola komunikasi linier bukan
kecenderungan dari kelas bawah.
Lebih dari setengah jumlah responden bekerja antara delapan sampai
sepuluh jam sehari dan pada kelompok ini terlihat dominan penggunaan pola
komunikasi interaksi. Dengan jam kerja yang tidak terlalu lama memungkinkan
mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak mereka,
termasuk juga mendengarkan cerita dan keluh kesahnya.
Pola komunikasi linier dan interaksi digunakan oleh orang tua tunggal
yang bekerja lebih dari sepuluh jam sehari. Fakta ini berbeda dengan hasil
penelitian Kohn (1963) dalam Chilman (1988) yang menyatakan bahwa lamanya
waktu bekerja menyebabkan orang tua cenderung menuntut kepatuhan anak dan
memaksakan kehendak dengan pola komunikasi linier. Berdasarkan pengamatan
ternyata orang tua tunggal menggunakan pola komunikasi linier jika jam kerja
lama dan tidak mendapat bantuan dari keluarga luas dalam pengasuhan anak. Hal
ini bisa dimaklumi karena mereka sudah sangat lelah ketika sampai di rumah
sehingga dalam berkomunikasi dengan anak lebih sering menggunakan teknik
instruktif, infromatif dan persuasif yang merupakan ciri komunikasi linier.
72
Lama penggunaan media massa oleh orang tua tunggal sangat bervariasi.
Hampir sepertiga dari mereka menggunakan media massa lebih dari tujuh jam
seminggu. Jumlah yang sama juga menggunakan media massa antara satu sampai
tiga jam seminggu. Frekuensi penggunaan pola komunikasi interaksi terlihat
dominan pada
kelompok yang terakhir ini.
Hal ini tidak sejalan dengan
pernyataan Mulyana (1999) yang menyatakan bahwa keterampilan berkomunikasi
bisa diperoleh sebagai hasil dari akses terhadap media massa. Artinya, semakin
lama seseorang mengakses media massa maka akan semakin terampil dalam
berkomunikasi
yang
ditunjukkan
dengan
kecenderungan
menggunakan
komunikasi dua arah, yaitu interaksi dan transaksi. Ternyata yang ditemukan di
sini, orang tua tunggal yang menggunakan media massa antara satu atau tiga jam
seminggu, yang bisa dikategorikan rendah, justru menunjukkan penggunaan pola
komunikasi interaksi yang dominan. Hal ini terjadi
karena sebagian besar dari
mereka menyukai jenis tontonan berita dan jenis bacaan surat kabar, yang tentu
saja tidak berperan dalam peningkatan ketrampilan berkomunikasi melainkan
hanya sebagai sarana menambah wawasan dan pengetahuan.
Kegiatan sosial menjadi sarana bagi orang tua tunggal untuk berinteraksi
dengan komunitas di lingkungan sekitar maupun lingkungan profesi. Meskipun
demikian lebih dari sepertiga di antara mereka tidak mengikuti kegiatan sosial.
Padahal dengan mengikuti kegiatan sosial mereka bisa mendapatkan banyak
teman yang siap menampung keluh kesahnya dan memberi banyak nasehat
tentang pengasuhan anak. Alasan mereka tidak mengikuti kegiatan sosial adalah
karena jam kerja yang panjang dan mempunyai kesibukan mengurus anak,
terutama anak balita.
Dari data di atas terlihat dominan penggunaan pola komunikasi interaksi,
baik pada mereka yang mengikuti kegiatan sosial maupun yang tidak. Pola
komunikasi linier lebih banyak digunakan oleh mereka yang tidak mengikuti
kegiatan sosial sebaliknya tidak terlihat digunakan oleh mereka yang mengikuti
kegiatan sosial lebih lama, yaitu 5-7 jam seminggu. Kelihatannya partisipasi orang
tua tunggal dalam kegiatan sosial mendorong mereka menggunakan pola
komunikasi interaksi, tetapi lamanya mengikuti kegiatan sosial tidak menentukan
digunakannya pola komunikasi tertentu.
73
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana karakteristik orang tua tunggal
menentukan
digunakannya
suatu
pola
komunikasi
maka
ditunjukkan
kecenderungan pola komunikasi seperti pada Tabel 10.
Tabel 10. Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Kecenderungan Pola Komunikasi
Karakteristik Individu
Rata-rata Skor
Pola Komunikasi
Kategori
Pola Komunikasi
A. Usia (tahun)
a. 30 - 35
2,2
Interaksi
b. 36 - 46
2,1
Interaksi
c. 47 - 57
2,5
Transaksi
B.Jumlah anak (orang)
a. 1
2,2
Interaksi
b. 2
2,0
Interaksi
c. 3
2,3
Interaksi
d. > 3
3,0
Transaksi
C. Pendidikan
a. SD
2,1
Interaksi
b. SMP
1,8
Interaksi
c. SMU
2,2
Interaksi
d. D1
1,7
Interaksi
e. D3
2,4
Interaksi
f. S1
2,2
Interaksi
g. S2
2,9
Transaksi
D. Pekerjaan
a. Karyawan Swasta
2,2
Interaksi
b. Wiraswasta
2,3
Interaksi
c. PNS
2,2
Interaksi
d. Buruh
1,7
Interaksi
E. Pe ndapatan (Rp)
a. < 1 juta
2,2
Interaksi
b. 1 - 2 juta
2,1
Interaksi
c. > 2 juta
2,4
Interaksi
F. Lama Waktu Bekerja ( Jam/hari)
a. < 8
2,2
Interaksi
b. 8 - 10
2,2
Interaksi
c. > 10
1,6
Interaksi
G. Lama Penggunaan Media
(Jam/minggu)
a. 1- 3
2,0
Interaksi
b. 3 - 5
2,2
Interaksi
c. 5 - 7
2,2
Interaksi
d. > 7
2,3
Interaksi
H.Lama Kegiatan Sosial (Jam/minggu)
a. Tidak ada
2,1
Interaksi
b. 2 - 4
2,2
Interaksi
c. 5 - 7
2,4
Interaksi
Catatan : Skor 0 - < 1 = Linier, 1,5 - < 2,5 = Interaksi, = 2,5 = Transaksi
74
Dari Tabel 10 terlihat bahwa karakteristik orang tua tunggal yang
menentukan penggunaan pola komunikasi adalah usia, jumlah anak dan
pendidikan. Pola komunikasi transaksi digunakan oleh orang tua tunggal berusia
47-57 tahun, mempunyai anak lebih dari tiga orang dan berpendidikan S2. Pola
komunikasi interaksi terlihat dominan berdasarkan karakteristik orang tua tunggal.
Kemandirian Anak
Terbentuknya kemandirian anak adalah tujuan dari pendidikan yang
dilakukan oleh orang tua. Gambaran kemandirian anak dilihat berdasarkan aspek
inisiatif, kemampuan memutuskan (keputusan) dan kesediaan mengerjakan sendiri
(tindakan) sedangkan kategori tingkat kemandirian anak dibedakan menjadi
kurang mandiri, cukup mandiri dan sangat mandiri. Tabel 11 menyajikan
distribusi aspek kemandirian anak berdasarkan kategori tingkat kemandirian anak.
Tabel 11. Distribusi Aspek Kemandirian Anak, Yogyakarta, 2006
Kemandirian
Anak
Kurang mandiri
Cukup mandiri
Sangat mandiri
Jumlah
Aspek Kemandirian
Inisiatif
Keputusan
n
%
n
%
6
19
25
24
76
100
8
17
25
32
68
100
Tindakan
n
1
13
11
25
%
4
52
44
100
Tabel 11 menunjukkan bahwa sebagian besar anak sangat mandiri dalam
berinisiatif dan membuat keputusan, sedangkan pada aspek tindakan terlihat anak
cukup mandiri. Secara keseluruhan terlihat sebagian besar anak sangat mandiri.
Hanya ditemukan satu anak yang kurang mandiri dalam aspek tindakan, namun
dengan mempertimbangkan dua aspek lainnya maka secara umum anak tetap
dikategorikan cukup mandiri. Fakta bahwa semua anak mandiri sesuai dengan
pendapat Erikson dalam Lie dan Prasasti (2004) bahwa pada usia 6 – 12 tahun,
atau pada usia sekolah, anak memang seharusnya sudah mandiri.
75
Pola Komunikasi dalam Membentuk Kemandirian Anak
Hubungan pola komunikasi dan kemandirian anak diperlihatkan pada
Tabel 12. Terlihat penggunaan pola komunikasi
interaksi dan transaksi lebih
dominan dibandingkan pola komunikasi linier. Demikian pula halnya dengan
jumlah anak sangat mandiri terlihat lebih banyak dibandingkan jumlah anak
cukup mandiri.
Tabel 12. Pola Komunikasi dan Kemandirian Anak, Yogyakarta, 2006
Kemandirian Anak
Cukup mandiri
Sangat mandiri
Jumlah
Pola Komunikasi
Jumlah
Linier
Interaksi
Transaksi
n %
n
%
n
%
2
8
6
24
1
4
1
4
7
28
8
32
3 12
13
52
9
36
n
9
16
25
%
36
64
100
Tampak lebih banyak anak sangat mandiri pada penggunaan pola
komunikasi interaksi dan transaksi, sedangkan pada penggunaan pola komunikasi
linier ternyata lebih banyak anak yang cukup mandiri. Menurut Mutadin (2002),
komunikasi yang bisa membentuk kemandirian anak adalah komunikasi dua arah
karena kedua belah pihak, dalam hal ini orang tua tunggal dan anak, bisa saling
mendengarkan pendapat satu sama lain. Demikian juga hasil penelitian Baumrind
dan Bach dalam Wijaya (1986) menyatakan bahwa komunikasi dialogis
mendorong tindakan-tindakan mandiri pada anak.
Hasil penelitian ini
menunjukkan hal yang berbeda yaitu selain pola komunikasi interaksi dan
transaksi (dua arah) ternyata pola komunikasi linier (satu arah) juga bisa
membentuk kemandirian anak.
Kecenderungan kemandirian anak berdasarkan pola komunikasi yang
digunakan orang tua tunggal diperlihatkan pada Tabel 13. Ternyata hasilnya
sesuai denga n yang ditunjukkan pada Tabel 12, yaitu pola komunikasi interaksi
dan transaksi menghasilkan anak yang sangat mandiri sedangkan pola komunikasi
linier membuat anak cukup mandiri.
76
Tabel 13. Pola Komunikasi dan Kecenderungan Kemandirian Anak
Pola Komunikasi
Rata-rata Skor
Kemandirian Anak
Tingkat
Kemandirian Anak
Linier
2,3
Cukup mandiri
Interaksi
2,5
Sangat mandiri
Transaksi
2,5
Sangat mandiri
Catatan : Skor 0 - < 1 = Linier, 1,5 - < 2,5 = Interaksi, = 2,5 = Transaksi
Tabel 12 dan Tabel 13 menunjukkan bahwa pola komunikasi yang
digunakan orang tua tunggal memberikan pengaruh yang berbeda kepada anak.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Kelman dalam Brigham (1991) bahwa
pengaruh komunikasi pada orang lain adalah berupa internalisasi, identifikasi dan
ketundukan.
Pola komunikasi interaksi dan transaksi memberikan pengaruh berupa
internalisasi yaitu anak bersedia memenuhi keinginan dan harapan orang tua
karena hal tersebut dianggap sesuai untuknya. Dalam upaya membentuk
kemandirian anak maka orang tua tunggal menyampaikan harapan agar anak
belajar mandiri sejak kecil karena kemandirian menentukan keberhasilan
seseorang. Hal ini juga terungkap dari hasil wawancara dengan O2 yang
menyatakan sebagai berikut :
“ Saya jelaskan kepada anak bahwa nanti sesudah dia dewasa dan jadi
orang tua harus bisa mandiri, karena itu harus dari sekarang belajar
mandiri. Walaupun ada pembantu dia tidak suka main perintah atau minta
dilayani”
Pola komunikasi linier mempengaruhi ketundukan yaitu anak patuh kepada
orang tua karena mengharapkan reaksi positif dari orang tua. Anak mengikuti
kehendak atau instruksi dari orang tua karena tidak ingin dimarahi atau dihukum,
seperti nampak pada kejadian yang diceritakan O3 berikut ini :
“Kalau anak saya nggak mau membereskan mainan sesudah bermain, sudah
diingatkan berkali-kali masih begitu, ya saya beri hukuman. Sementara dia
nggak boleh main dulu. Mungkin dua atau tiga hari lagi baru boleh.”
Ketiga jenis pola komunikasi yang digunakan oleh orang tua tunggal
ternyata bisa membentuk kemandirian anak meskipun dalam tingkat yang berbeda
seperti yang disajikan pada Tabel 13. Selanjutnya Tabel 14 memperlihatkan cara
77
membentuk kemandirian anak melalui tiga pola komunikasi tersebut
yang
diperoleh berdasarkan pengamatan dan wawancara.
Tabel 14. Pola Komunikasi dalam Membentuk Kemandirian Anak, Yogyakarta,
2006
Pola Komunikasi
Cara Membentuk Kemandirian Anak
- Menyuruh anak patuh pada orang tua.
- Menyuruh anak mengerjakan sendiri apa yang bisa dilakukannya
- Mengungkapkan kesulitan kepada anak.
Linier
Interaksi
- Menumbuhkan rasa mampu pada diri anak.
- - Membiarkan anak membuat keputusan sendiri untuk hal-hal
yang menyangkut kepentingannya.
- Melatih anak bertanggungjawab.
- - Melibatkan anak dalam mengerjakan tugas-tugas di rumah.
- Menanamkan kesadaran untuk mandiri.
- Mengajarkan kedisiplinan.
- Mencontohkan dengan tindakan.
- Membiarkan anak belajar dari pengalaman.
- Membiarkan anak menentukan sikap dan perilakunya.
Transaksi
Hubungan Lingkungan dan Kemandirian Anak
Faktor yang mempengaruhi kemandirian anak berasal dari dalam diri anak
dan dari luar, yaitu lingkungan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi
kemandirian anak menurut Hurlock (1991) antara lain adalah keluarga, sekolah,
teman sebaya, dan media massa. Interaksi anak dengan anggota keluarga luas dan
teman sebaya mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak, termasuk
dalam hal kemandirian. Sekolah mengajarkan dan menerapkan kedisiplinan agar
anak bisa mandiri. Media massa berperan dalam proses sosialisasi dan penanaman
nilai- nilai
tertentu
termasuk
nilai-nilai
tentang
kemandirian.
Tabel 15
menunjukkan faktor lingkungan dan kemandirian anak.
Dari Tabel 15 terlihat bahwa anak sanga t mandiri paling banyak
ditemukan berinteraksi rendah dengan keluarga luas, yaitu 3 dari 4 anak. Hal ini
berbeda dengan hasil penelitian Dhamayanti (2006) yang menyatakan bahwa
faktor keluarga tidak mempengaruhi kemandirian anak. Sementara Olsen (1974)
berpendapat bahwa figur otoritas dari keluarga luas berperan membentuk
78
kemandirian anak dengan cara mempengaruhi pola pengasuhan yang dilakukan
ibu. Menurut Suyoto (1982), salah satu faktor pembentuk kemandirian anak
adalah pola asuh orang tua yaitu pola asuh demokratis akan menghasilkan anak
yang mandiri.
Tabel 15. Faktor Lingkungan dan Kemandirian Anak, Yogyakarta, 2006
Faktor Lingkungan
Keluarga Luas
Interaksi rendah
Interaksi sedang
Interaksi tinggi
Jumlah
Sekolah
Negeri
Swasta
Jumlah
Teman Sebaya
Interaksi rendah
Interaksi sedang
Interaksi tinggi
Jumlah
Media Massa
Interaksi rendah
Interaksi sedang
Interaksi tinggi
Jumlah
Kemandirian Anak
Cukup Mandiri
Sangat Mandiri
n
%
n
%
Jumlah
n
%
1
5
3
9
4
20
12
36
3
6
7
16
12
24
28
64
4
11
10
25
16
44
40
100
4
5
9
16
20
36
9
7
16
36
28
64
13
12
25
52
48
100
1
2
6
9
4
8
24
36
9
7
16
36
28
64
1
11
13
25
4
44
52
100
1
2
6
9
4
8
24
36
16
16
64
64
1
2
22
25
4
8
88
100
Interaksi rendah dengan keluarga luas memungkinkan ibu selaku orang tua
tunggal menerapkan pola asuhnya sendiri tanpa campur tangan pihak lain.
Artinya, ibu berperan utama dalam proses pembentukan pribadi dan proses
sosialisasi di dalam keluarga. Ibu juga bertanggung jawab penuh dalam
menanamkan kesadaran untuk mandiri kepada anak dan melatih kemandirian
anak. Disamping itu berdasarkan pengamatan nampak bahwa rendahnya interaksi
dengan keluarga luas mendorong anak untuk mandiri karena mereka tidak bisa
mengharapkan bantuan dari keluarga luas. Apalagi anak juga menyadari
kesibukan ibu yang harus membagi perhatian antara pekerjaan dan rumahtangga.
Pada interaksi tinggi dengan keluarga luas nampak bahwa keterlibatan
keluarga luas dalam pengasuhan anak menghambat proses kemandirian anak
sehingga anak menjadi kurang mandiri. Pada kasus ini ibu tunggal tidak bisa
79
menjaga konsistensi pola pengasuhan anak karena ada banyak pihak yang terlibat.
Hal ini sesuai dengan pendapat Wallerstein dan Kelly dalam Cherlin (2002) dan
Frankl (1972) yang menyatakan bahwa orang tua tunggal menjalankan pola
pengasuhan yang kurang konsisten. Anak mengalami kebingungan dan cenderung
mengikuti apa yang memberikan kesenangan atau kemudahan, misalnya
menerima bantuan dan dilayani oleh anggota keluarga luas serta mengabaikan
nasehat ibu untuk berusaha mandiri. Disamping itu anak juga cenderung
mengikuti petunjuk dan arahan dari anggota keluarga luas karena dianggap lebih
berpengalaman dari pada ibu.
Suyoto (1982)
menyatakan bahwa proses belajar mengajar di sekolah
mempengaruhi kemandirian anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih
banyak anak sangat mandiri ditemukan bersekolah di negeri. Sedangkan
wawancara dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa sekolah swasta
maupun sekolah negeri tidak secara langsung mengajarkan kemandirian. Lewat
pemberian tugas dan penerapan disiplin di sekolah secara tidak langsung
diharapkan anak dapat menjadi mandiri. Beberapa cara penerapan kedisiplinan
adalah pemberian sanksi terhadap pelanggaran aturan dan tata-tertib sekolah.
Setiap sekolah memiliki cara berbeda dalam pemberian sanksi tetapi tujuannya
sama yaitu agar anak bertindak ke arah yang lebih baik dan tidak mengulangi
kesalahannya.
Penerapan disiplin berlaku lebih ketat di sekolah swasta tetapi justru anakanak yang bersekolah di sekolah negeri rata-rata lebih mandiri dibandingkan
dengan anak-anak yang bersekolah di swasta. Pada umumnya penerapan disiplin
seharusnya berperan dalam membentuk kemandirian anak, tetapi tidak demikian
yang terjadi.
Beban pelajaran di sekolah negeri tidak sebanyak di sekolah swasta
sehingga anak-anak mempunyai lebih banyak waktu untuk bermain atau bersantai.
Kompetisi anak dalam meraih prestasi akademis di sekolah juga tidak seberat
yang terjadi di sekolah swasta. Hal ini membuat orang tua tidak perlu terlalu
banyak terlibat dalam kegiatan belajar anak di rumah. Anak tidak tergantung pada
orang tua untuk menyelesaikan tugas-tugas dari sekolah.
80
Para orang tua yang anaknya bersekolah di swasta banyak membantu anak
dalam hal-hal yang berkaitan dengan sekolah seperti menemani belajar dan
mengerjakan PR karena tidak ingin anak ketinggalan pelajaran. Mereka juga
menyiapkan peralatan sekolah dan seragam anak karena tidak ingin anak
mendapat hukuman. Selain itu, diakui pula bahwa mahalnya biaya pendidikan di
sekolah swasta mendorong mereka untuk memberikan banyak bantuan kepada
anak karena tidak ingin anak gagal di sekolah. Tampaknya para orang tua tunggal
kurang mempercayai kemampuan anak dalam mengatasi masalah belajar dan tatatertib sekolah sehingga anak menjadi kurang bertanggungjawab terhadap tugas
dan kewajibannya sebagai pelajar, dan hal inilah yang membuat tingkat
kemandirian mereka kurang dibandingkan anak-anak yang bersekolah di negeri.
Interaksi anak dengan teman sebaya menunjukkan adanya perbedaan pada
tingkat kemandiriannya. Pada interaksi rendah hanya ditemukan anak yang cukup
mandiri, pada interaksi sedang dan tinggi ditemukan lebih banyak anak yang
sangat mandiri. Hal ini menguatkan pendapat Hurlock (1991) yang menyebutkan
bahwa anak belajar mandiri melalui teman sebaya. Dengan demikian, tingkat
interaksi dengan teman sebaya menentukan tingkat kemandirian anak. Interaksi
anak dengan teman sebaya mempengaruhi proses pembentukan kemandirian
karena pada dasarnya seorang anak ingin menjadi sama dengan temannya melalui
proses imitasi dan identifikasi.
Salah satu pengaruh media massa menurut Rakhmat (2001) yaitu efek
prososial behavioral, di mana seseorang bisa memiliki keterampilan yang
bermanfaat bagi dirinya dan orang lain melalui media massa. Data pada Tabel 15
menunjukkan bahwa anak yang sangat mand iri hanya ditemukan pada intensitas
penggunaan media massa yang tinggi. Nampaknya intensitas penggunaan media
massa menentukan kemandirian anak melalui efek prososial behavioral.
Media massa memang tidak secara langsung mempengaruhi perubahan
perilaku tetapi diyakini adanya efek kognitif dari media massa. Dari efek kognitif
inilah yang akhirnya mendorong terjadinya perubahan sikap dan perilaku. Jenis
bacaan dan tontonan anak dengan tema yang beragam bisa jadi menumbuhkan
kesadaran pada diri anak untuk mand iri.
81
Beberapa jenis tontonan dan bacaan mengajarkan nilai- nilai tertentu kepada
anak seperti persahabatan dan kesetiakawanan. Media massa tidak secara
langsung mengajarkan kemandirian kepada anak tetapi bisa menanamkan
kesadaran untuk mandiri kepada anak lewat tema cerita dalam film maupun
bacaan namun orang tua perlu membantu menjelaskannya kepada anak karena
pesan yang disampaikan oleh sebuah cerita kadang-kadang sulit dipahami oleh
anak.
Selanjutnya untuk mengetahui faktor lingkungan yang menentukan
kemandirian anak, data pada Tabel 15 dibandingkan dengan data faktor
lingkungan dan kecenderungan kemandirian anak. Tabel 16 menunjukkan faktor
lingkungan dan kecenderungan kemandirian anak.
Tabel 16. Faktor Lingkungan dan Kecenderungan Kemandirian Anak
Faktor Lingkungan
Keluarga Luas
Interaksi rendah
Interaksi sedang
Interaksi tinggi
Rata-rata
Skor Kemandirian Anak
Tingkat
Kemandirian Anak
2,7
2,4
2,4
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Cukup mandiri
Berlanjut
Sekolah
Negeri
2,5
Swasta
2,4
Teman Sebaya
Interaksi rendah
2,2
Interaksi sedang
2,6
Interaksi tinggi
2,4
Media Massa
Intensitas rendah
2,1
Intensitas sedang
2,0
Intensitas tinggi
2,5
Catatan : Skor = 2,5 = sangat mandiri, 1,5 - < 2,5 = cukup mandiri
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Cukup mandiri
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Cukup mandiri
Cukup mandiri
Sangat mandiri
Tabel 16 memperkuat hasil yang diperoleh pada Tabel 15 karena ternyata
menunjukkan hal yang sama. Hasil yang didapat dari kecenderungan kemandirian
anak menunjukkan bahwa anak yang sangat mandiri ditemukan pada interaksi
rendah dengan keluarga luas, bersekolah di negeri, berinteraksi sedang dengan
teman sebaya dan menggunakan media massa dalam intensitas tinggi.
82
Hubungan Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Kemandirian Anak
Karakteristik orang tua tunggal diduga berperan dalam membentuk
kemandirian anak. Data usia, jumlah anak, pendidikan, pekerjaan, pendapatan,
lama waktu bekerja, lama penggunaan media dan lama mengikuti kegiatan sosial
mengungkapkan karakteristik orang tua tunggal dalam kaitannya dengan tingkat
kemand irian anak seperti ditunjukkan pada Tabel 17.
Tabel 17. Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Kemandirian Anak, Yogyakarta
2006
Karakteristik
Orang Tua Tunggal
A. Usia (tahun)
a. 30 - 35
b. 36 - 46
c. 47 - 57
Jumlah
B. Jumlah Anak (orang)
a. 1
b. 2
c. 3
d. > 3
Jumlah
C. Pendidikan
a. SD
b. SMP
c. SMU
d. D1
e. D3
f. S1
g. S2
Jumlah
D. Pekerjaan
a. Karyawan Swasta
b. Wiraswasta
c. PNS
d. Buruh
Jumlah
E. Pendapatan (Rp)
a. < 1 juta
b. 1 – 2 juta
c. > 2 juta
Jumlah
Kemandirian Anak
Cukup Mandiri
Sangat Mandiri
n
%
n
%
Jumlah
n
%
5
4
9
20
16
36
5
8
3
16
20
32
12
64
10
12
3
25
40
48
12
100
5
4
9
20
16
36
6
6
3
1
16
24
24
12
4
64
11
10
3
1
25
44
40
12
4
100
1
5
2
1
9
4
20
8
4
36
3
5
1
2
5
16
12
20
4
8
20
64
3
1
10
1
2
7
1
25
12
4
40
4
8
28
4
100
4
2
2
1
9
16
8
8
4
36
7
5
2
2
16
28
20
8
8
64
11
10
4
3
25
44
40
16
12
100
4
4
1
9
16
16
4
36
9
6
1
16
36
24
4
64
13
10
2
25
52
40
8
100
Berlanjut
83
Lanjutan
Karakteristik
Orang Tua Tunggal
Kemandirian Anak
Jumlah
Cukup Mandiri
Sangat Mandiri
n
%
n
%
n
%
F. Lama Waktu Bekerja
(Jam/hari)
a. < 8
b. 8 - 10
c. > 10
Jumlah
G. Lama Penggunaan
Media (Jam/minggu)
a. 1 - 3
b. 3 - 5
c. 5 - 7
d. > 7
Jumlah
H. Lama Kegiatan Sosial
(Jam/ minggu)
a. Tidak ada
b. 2 - 4
c. 5 - 7
Jumlah
3
6
9
12
24
36
4
10
2
16
16
40
8
64
7
16
2
25
28
64
8
100
2
1
4
2
9
8
4
16
8
36
5
4
2
5
16
20
16
8
20
64
7
5
6
7
25
28
20
24
28
100
6
2
1
9
24
8
4
36
4
11
16
44
10
13
40
55
16
64
25
100
Data pada Tabel 17 menunjukkan bahwa tingkat kemandirian anak
cenderung ada hubungannya dengan usia orang tua tunggal. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian Suyoto (1982) yang mengemukakan bahwa kemandirian anak
berhubungan dengan usia orang tua. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin
tua usia orang tua ternyata anaknya semakin mandiri. Hal ini dapat dilihat dari
jumlah anak sangat mandiri pada masing- masing kelompok usia. Pada orang tua
berusia 47-57 tahun ternyata semua anak sangat mandiri. Usia berkaitan dengan
pengalaman orang tua dalam mendidik anak sehingga mereka tahu bagaimana
cara yang tepat dalam membentuk kemandirian anak.
Menurut Ahmadi (1999), jumlah anak dalam keluarga mempengaruhi
perkembangan anak, yaitu anak pada keluarga besar lebih toleran yang berarti
mampu
mengendalikan
diri.
Menurut
Masrun dalam
Rahmah (2004),
pengendalian diri merupakan salah satu aspek kemandirian dalam konteks
Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa semua anak sangat mandiri pada
kelompok orang tua tunggal dengan tiga anak atau lebih. Dengan semakin
banyaknya anak di rumah maka tentu sulit bagi orang tua untuk memperhatikan
dan memberikan bantuan kepada setiap anak sehingga dengan sendirinya anak-
84
anak menjadi mandiri. Hal menarik yang ditemukan di sini ternyata sebagian
besar anak tunggal juga sangat mandiri. Temuan ini menunjukkan bahwa tidak
benar bahwa orang tua tunggal memanjakan anaknya seperti anggapan
kebanyakan orang selama ini. Seperti juga dinyatakan oleh O3 bahwa ia tidak
memanjakan anak, bahkan selalu menanamkan kesadaran kepada anak tentang
pentingnya mandiri sejak kecil.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dalam Rahmah (2004), pendidikan
ibu mempengaruhi sikap dan tingkah laku dalam menghadapi anak. Makin tinggi
pendidikan ibu akan mendorong kemandirian anak. Pendapat tersebut berbeda
dengan hasil penelitian ini, yaitu ibu tunggal berpendidikan SD justru anaknya
sangat mandiri sedangkan yang berpendidikan S2 anaknya cukup mandiri. Anakanak dari ibu tunggal berpendidikan Diploma juga sangat mandiri sementara pada
tingkat pendidikan SMU jumlah anak yang sangat mandiri dan cukup mandiri
ternyata sama dan pada tingkat pendidikan S1 terdapat lebih banyak anak yang
sangat mandiri. Mulai dari pendidikan Diploma hingga S2 tingkat kemandirian
anak terlihat menurun seperti terlihat pada Tabel 18.
Dilihat berdasarkan pekerjaan orang tua, ternyata sebagian besar anak
sangat mandiri, terutama anak dari karyawan swasta dan buruh. Hal ini
menguatkan pendapat
Amal (1990) dan beberapa ahli dalam Rahmah (2004)
yang menyatakan bahwa anak-anak dari ibu yang bekerja mencari nafkah justru
sangat mandiri dan lebih mandiri dibandingkan dari anak-anak dari ibu yang tidak
bekerja. Berdasarkan pengamatan ternyata anak lebih mandiri ketika orang tua
sibuk bekerja di luar rumah karena anak tidak bisa mengharapkan bantuan dari
orang tua.
Hasil penelitian Prestel dan Hetzer dalam Ahmadi (1999), menyimpulkan
bahwa kondisi sosial yang sangat tinggi dan sangat rendah mempunyai pengaruh
terhadap perkembangan anak. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak dari
orang tua tunggal berpenghasilan rendah (kurang dari 1 juta) dan tinggi (lebih dari
2 juta) cenderung sangat mandiri (Lihat Tabel 18). Pendapatan orang tua tunggal
terlihat berperan dalam menentukan kemandirian anak
Jika orang tua menghabiskan banyak waktu untuk bekerja maka frekuensi
berkomunikasi orang tua dengan anak berkurang. Sedangkan anak pada usia yang
85
masih muda membutuhkan banyak perhatian orang tua dan membutuhkan kualitas
komunikasi yang memuaskan. Keadaan ini bisa mempengaruhi perkembangan
anak ke arah negatif tetapi hasil penelitian ini menunjukkan lama waktu bekerja
orang tua ternyata mendorong terbentuknya kemandirian anak. Dari Tabel 17
terlihat semua anak dari orang tua tunggal yang bekerja lebih dari 10 jam sehari
ternyata sangat mandiri. Hal ini makin menguatkan pernyataan Amal (1990) yang
menyatakan bahwa anak-anak dari ibu yang bekerja justru sangat mandiri
Semakin lama orang tua tidak bersama anak, karena bekerja, membuat
anak semakin terdorong untuk mandiri karena harus berusaha mengatasi
masalahnya sendiri dan mengerjakan pekerjaan sendiri. Kemandirian anak
didorong oleh keadaan yang memang memaksa mereka untuk berinisiatif, berani
membuat keputusan dan bisa mengerjakan sendiri suatu pekerjaan tanpa bantuan
orang tua. Sedangkan pada anak yang orangtuanya bekerja kurang dari delapan
jam sehari mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan bantuan dari
orang tua. Hal ini makin menguatkan pernyataan Amal (1990) bahwa anak-anak
dari ibu yang bekerja justru sangat mandiri
Lamanya penggunaan media massa oleh orang tua tunggal tidak berperan
dalam menumbuhkan kemandirian anak. Jumlah anak sangat mandiri ternyata
sama pada intensitas penggunaan media massa rendah dan tinggi oleh orang tua
tunggal. Kebanyakan responden mengaku menggunakan media massa untuk
mendapatkan informasi tentang kejadian yang terjadi di sekitarnya (berita) dan
juga hiburan. Oleh karena itu lamanya orang tua menggunakan media tidak
memberikan tambahan pengetahuan tentang cara mendidik anak dan mengajarkan
kemandirian kepada anak.
Lamanya orang tua mengikuti kegiatan sosial menunjukkan lamanya
interaksi dan aktivitas komunikasi antara orang tua tunggal dan orang tua lain.
Kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman
tentang cara mendidik dan mengasuh anak. Ternyata jumlah anak yang sangat
mandiri ditemukan lebih banyak di kalangan orang tua tunggal yang mengikuti
kegiatan sosial antara 2-4 jam seminggu. Sedangkan di kalangan orang tua
tunggal yang menggunakan 5-7 jam seminggu untuk berkegiatan sosial ditemukan
jumlah yang sama antara anak yang sangat mandiri dan cukup mandiri. Artinya,
86
tidak ditemukan lebih banyak anak yang sangat mandiri pada kelompok ini.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa anak yang sangat mandiri ditemukan di
kalangan orang tua tunggal yang melakukan kegiatan sosial namun kemandirian
anak tidak ada hubungannya dengan lamanya orang tua tunggal melakukan
kegiatan sosial. Tabel 18 menyajikan gambaran kemandirian anak berdasarkan
karakteristik orang tua tunggal
Tabel 18. Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Kecenderungan Kemandirian Anak
Karakteristik
Orang Tua Tunggal
A. Usia (tahun)
a. 30 - 35
b. 36 - 46
c. 47 - 57
B. Jumlah Anak (orang)
a. 1
b. 2
c. 3
d. > 3
C. Pendidikan
a. SD
b. SMP
c. SMU
d. D1
e. D3
f. S1
g. S2
D. Pekerjaan
a. Karyawan Swasta
b. Wiraswasta
c. PNS
d. Buruh
E. Pendapatan (Rp)
a. < 1 juta
b. 1 - 2 juta
c. > 2 juta
F. Lama Waktu Bekerja (Jam/hari)
a. < 8
b. 8 - 10
c. > 10
G.Lama Penggunaan Media (Jam/minggu)
a. 1 - 3
b. 3 - 5
c. 5 - 7
d. > 7
Rata-rata
Skor
Kemandirian
Tingkat
Kemandirian
Anak
2,4
2,6
2,5
Cukup mandiri
Sangat mandiri
Sangat mandiri
2,5
2,4
2,7
2,5
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Sangat mandiri
Sangat mandiri
2,7
2,4
2,4
2,8
2,6
2,4
2,2
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Cukup mandiri
Sangat mandiri
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Cukup mandiri
2,5
2,4
2,4
2,6
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Cukup mandiri
Sangat mandiri
2,5
2,4
2,6
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Sangat mandiri
2,2
2,5
2,8
Cukup mandiri
Sangat mandiri
Sangat mandiri
2,5
2,5
2,3
2,5
Sangat mandiri
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Sangat mandiri
Berlanjut
87
Lanjutan
Karakteristik
Rata-rata
Tingkat
Orang Tua Tunggal
Skor Kemandirian
Kemandirian Anak
H. Lama Kegiatan Sosial
( Jam/minggu)
a. Tidak ada
2,3
Cukup mandiri
b. 2 - 4
2,6
Sangat mandiri
c. 5 - 7
2,5
Sangat mandiri
Catatan : Skor = 2,5 = sangat mandiri, 1,5 - < 2,5 = cukup mandiri
Faktor karakteristik orang tua tunggal yang ada hubungannya dengan
kemandirian anak adalah usia, jumlah anak, pendidikan, pekerjaan, pendapatan
dan lamanya waktu bekerja. Usia orang tua 36-46 tahun dan 47-57 tahun
menunjukkan kebanyakan anak yang sangat mandiri, sedangkan jumlah anak satu
orang dan tiga orang atau lebih cenderung membuat anak sangat mandiri. Faktor
pendidikan, pekerjaan dan pendapatan menunjukkan kelas sosial ekonomi, dan
ternyata pada kelas sosial ekonomi rendah ditemukan anak yang sangat mandiri.
Kesadaran anak untuk meringankan beban orang tua mendorong terbentuknya
kemandirian anak. Faktor lamanya waktu bekerja juga mendorong tumbuhnya
kemandirian anak yaitu semakin lama orang tua bekerja justru anak semakin
mandiri. Partisipasi orang tua tunggal dalam kegiatan sosial ada hubungannya
dengan kemandirian anak tetapi lamanya waktu mengikuti kegiatan sosial tidak
menentukan tingkat kemandirian anak.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan menghasilkan kesimpulan
sebagai berikut :
1. Secara umum pola komunikasi interaksi dan transaksi lebih berperan dominan
dalam membentuk kemandirian anak melalui penanaman kesadaran untuk
mandiri kepada anak dan melatih anak mandiri. Pola komunikasi linier juga
bisa membentuk kemandirian anak melalui efek komunikasi berupa
ketundukan sedangkan pola komunikasi interaksi dan transaksi melalui efek
internalisasi.
2. Faktor lingkungan
pada umumnya menyebabkan orang tua tunggal
menggunakan pola komunikasi interaksi. Sedangkan karakteristik orang tua
tunggal yang ada hubungannya dengan pola komunikasi adalah usia, jumlah
anak dan tingkat pendidikan. Makin tua usia, makin banyak jumlah anak dan
makin tinggi pendidikan orang tua tunggal makin cenderung menggunakan
pola komunikasi transaksi.
3. Faktor lingkungan yang ada hubungannya dengan kemandirian anak adalah
keluarga luas, sekolah, teman sebaya dan media massa. Interaksi rendah
dengan keluarga luas, sekolah negeri, interaksi sedang dengan teman sebaya
dan intensitas penggunaan media massa yang tinggi mendorong tumbuhnya
kemandirian anak. Sedangkan karakteristik orang tua tunggal yang berperan
dalam membentuk kemandirian anak adalah usia, jumlah anak, pendidikan,
pekerjaan, pendapatan, lama waktu bekerja. Makin tua usia orang tua tunggal
ternyata menyebabkan anak sangat mandiri. Jumlah anak sedikit atau banyak
berhubungan dengan kemandirian anak. Orang tua tungga l dengan satu orang
anak maupun tiga orang anak atau lebih ternyata anak-anak mereka sangat
mandiri. Pendidikan orang tua tunggal yang rendah, jenis pekerjaan di sektor
informal dengan gaji rendah, atau yang dikategorikan berstatus sosial ekonomi
rendah ternyata menyebabkan anak menjadi sangat mandiri. Makin lama
orang tua bekerja menyebabkan anak makin mandiri.
89
Saran
Berdasarkan temuan penelitian dan simpulan di atas maka disarankan
hal- hal berikut ini :
1. Orang tua tunggal perlu memperhatikan faktor usia dan kondisi emosional
anak dalam memilih pola komunikasi yang tepat dalam membentuk
kemandirian anak. Diharapkan dengan cara seperti ini pada diri anak akan
timbul kesadaran dan pengertian tentang pentingnya bersikap dan berperilaku
mandiri.
2. Orang tua tunggal hendaknya menggunakan pola komunikasi yang tepat untuk
mengurangi
pengaruh
buruk
keluarga
luas
dengan
memperhatikan
karakteristik dan kondisi emosional anak.
3. Pihak
sekolah
hendaknya
membantu
orang
tua
dalam
membentuk
kemandirian anak dengan cara yang tepat untuk anak, misalnya dengan
melatih anak bertanggungjawab dan menerapkan kedisiplinan kepada anak
selama mengikuti proses belajar mengajar dan kegiatan di lingkungan sekolah.
4. Media massa diharapkan lebih banyak menyajikan pesan-pesan ya ng bermuatan
pendidikan dan nilai- nilai moral yang baik sehingga secara tidak langsung ikut
berperan dalam membentuk perilaku anak, termasuk dalam membentuk
kemandirian anak.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ahmadi, A. 1999. Psikologi Sosial. Rineka Cipta. Jakarta.
Amal, S.H. 1990. “ Sosialisasi dalam Keluarga” dalam Ihromi, T.O. “Para Ibu
yang Berperan Tunggal dan yang Berperan Ganda.” FE. UI. Jakarta.
Anastasia, A. 1999. Psychological Testing 7th edition. Prentice Hall. Canada.
Arliss, 1999. Gender Communication. Mc.Graw. Hill Inc. Indiana University.
USA.
Balson, M. 1999. Becoming Better Parents Edisi ke-4. Terjemahan Sr. Alberta.
Grasindo. Jakarta
Bandura, A. 1995. Social Learning Theory. Prentice-Hall. New Jersey.
Beebe S.A., Beebe S.J., and Redmond, M.V., 1999. Interpersonal Communication
Relating To Others. Allyn and Bacon. USA.
Brigham, J.C. 1991. Social Psychology, 2nd. Harper Collins. New York.
Brofenbrenner, U.1979. The Ecology of Human Development. Harvard University
Press. Cambridge.
Cangara, H. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Chairani, N dan Nurachmi, W. 2003. Biarkan Anak Bicara. Republika. Jakarta.
Cherlin, A.J. 2002. Public and Private Families : An Introduction. Mc. Graw-Hill.
New York
Chilman, S.C. 1988. Troubled Relationships : Families in Trouble Series. Sage
Publications, California.
Clemes, H dan Bean, R. 2001. Melatih Anak Bertanggung Jawab. Terjemahan
Anton Adiwiyoto. Mitra Utama. Jakarta.
DeVito, J. A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Terjemahan Agus Maulana.
Profesional Books. Jakarta.
Effendy, O.U. 1996. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Citra Aditya Bakti.
Bandung.
Effendy, O.U. 2000. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Remaja Rosdakarya.
Bandung.
Etty, M. 2003. Menyiapkan Masa Depan Anak. Grasindo. Jakarta.
91
Fisher, B.A. 1986. Teori-teori Komunikasi. Terjemahan Soejono Trimo. Remadja
Karya. Bandung.
Frankl, V.E. 1972. Man’s Search For Meaning : An Introduction to Logotherapy.
Beacon Press. Boston.
Gordon, M. 1978. The American Family. Past, Present and Future. Random
House.
New York.
Gottman, J dan DeClaire, J. 1998. Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki
Kecerdasan Emosional. Terjemahan T. Hermaya. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Gunarsa, S.D. 1990. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. BPK Gunung Mulia.
Jakarta.
Hasbullah. 1999. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hurlock, E.B. 1991. Perkembangan Anak. Terjemahan M. Tjandrasa dan M.
Zarkasih. Erlangga. Jakarta.
Ihromi, T.O. 1999. Bunga Rampai Sosiologi. Obor Indonesia. Jakarta.
Jenkins, W.K. 1995. “Communication In Families” In Day, R.D., Gilbert, K.R.
dan Settles, B.H. “Research and Theory in Family Science. Cole.
California. USA.
Karyadi, L.D. 1987. Ilmu Kehidupan Keluarga. Jurusan Gizi Masyarakat dan
Sumber Daya Keluarga. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Kincaid, D.L. dan Schramm W. 1987. Asas-asas Komunikasi Antar Manusia.
LP3ES. Jakarta.
Lie, A dan Prasasti, S. 2004. 101 Cara Membina Kemandirian dan Tanggung
Jawab Anak. Elex Media Komputindo. Jakarta.
Marsuki. 1983. Metode Riset. FE – UII. Yogyakarta.
Mc Cleland, D. 1984. Motives, Personality and Society. Praeger. New York
Millar, F.E. dan Roger, L.E. 1976. “ A Relational approach to Interpersonal
Communication.” In Miller, G.R. “ Explorations In Interpersonal
Communication.” Sage Publications. Beverly Hills. London
Moleong, L.J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya. Bandung
Morton, T.L., Alexander, J.F., dan Altman, I. 1976. “Communication and
Relationship Definition.” In Miller, G.R. “ Explorations In Interpersonal
Communication.” Sage Publications. Beverly Hills. London.
92
Moss, S. dan Tubbs, S.L. 2001. Human Communication : Prinsip-Prinsip Dasar.
Remaja Rosdakarya. Bandung.
Mulyana, D. 1999. Dimensi- Dimensi Komunikasi. Alumni. Bandung
Mulyana, D. 2001. Pengantar Ilmu Komunikasi. Remaja Rosdakarya. Bandung
Mussen, P.H., Conger, J.J., Kagan, J. dan Huston, A.C. 1989. Perkembangan dan
Kepribadian Anak. Terjemahan F.X. Widianto G. Dan Gayatri A. Arcan.
Jakarta.
Nasution, S. 2003. Metode Research. Bumi Aksara. Jakarta.
Nock, S.L. 1987. Sociology of The Family. Prentice Hall. New Jersey.
Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi.
Bandung.
Remaja Rosdakarya.
Rogers, E.M. dan Kincaid, D.L. 1981. Communication Network toward a New
Paradigm for Research. Free Press. New York.
Rutter, M. 1984. Maternal Deprivation. Second Edition. Penguin Book. New
York.
Saxton, L. 1987. The Individual, Marriage dan The Family, Edisi 7. Wadsworth
Belmont. California.
Sereno, KK dan Bodaken, EM. 1975. Trans-Per Understanding Human
Communication. Houghton Mifflin. Boston. USA
Stewart dan Koch. 1983. Children Development Thought Adolescence. John
Wiley & Sons. Canada.
Sudjana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Agensindo.
Bandung
Suleeman, E. 1990. “Komunikasi dalam Keluarga.” dalam Ihromi, T.O. “Para
Ibu yang Berperan Tunggal dan yang Berperan Ganda.” FE. UI. Jakarta.
Vembrianto, S.T. 1993. Sosiologi Pendidikan. Gramedia. Jakarta.
Wood, J.T. 2004. Communication Theories In Action. Thomson Wadsworth.
Belmont. California. USA.
JURNAL/BULETIN
Andulhak, I dan Anwas, OM. 2004. Model Konvergensi dalam Komunikasi
Pembelajaran. J. Teknodik 14 : 57 - 60
93
Dhamayanti, L.S. 2006. Kemandirian Anak Usia 2,5 – 4 Tahun Ditinjau dari Tipe
Keluarga dan Tipe Pra Sekolah. J. Sosiosains. 19 : 42-52
Dimmick, J. 1976. Family Communication and TV
Journalism Quarterly 3 : 720
Program Choice. J.
Komar, M. 1998. Hubungan Antara Prestasi Belajar, Motivasi dan Kemandirian
Santri : Sebuah Survey di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta Selatan.
J. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas
Darma Persada. 1 : 30-45
Lukman, Muhammad. 2000. Kemandirian Anak Asuh di Panti Asuhan Yatim
Islam
Ditinjau dari Konsep Diri dan Kompetensi Interpersonal. J. Psikologika.10
:
57-74
Mianda N, Eriya. 2002. Peran Ibu Sebagai Single Parent. J. Interaksi. 01 : 45-50
Olsen, N.J. 1974. Family Structure and Socialization Patterns in Taiwan. J.
American Journal of Sociology. 6 : 1395 - 1417
Sheinkof, K.G. 1973. Family Communication Patterns and Anticipatory
Socialization. J. Journalism Quarterly 4 : 26-27
Tarmudji, T. 2002. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Agresivitas Remaja.
J. Pendidikan dan Kebudayaan 037 : 504-520
LAPORAN
BPS. 2001. Statistik Sosial Ekonomi 2001. Biro Pusat Statistik. Jakarta.
Djunanah.1999. Pengaruh Sikap Penerimaan Orang Tua dan Kemandirian Siswa
SMU UII Yogyakarta. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan).Lembaga
Penelitian Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta.
Wahab, S.A. 1980. Pengasuhan Anak pada Masyarakat Kota di Kota Malang .
Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Universitas Brawijaya. Malang.
Suyoto. 1982. Pola Asuhan Anak-anak Remaja Pada Berbagai Kelas Sosial di
DaerahYogyakarta. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). FIP – IKIP
Yogyakarta
INTERNET
Mutadin, Zainun. 2002. Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Pada
Remaja. http:// www. e-psikologi.com/remaja/250602.htm Diakses 20-112005
94
Gunadi, Paul. 2005. Yang Tak Tergantikan. http://www.telaga.org/artikel.php?
Diakses 10-2-2006
SKRIPSI/TESIS/DISERTASI
Abhari, N. 1998. Beberapa Aspek Pengasuhan Anak Pada Keluarga Ibu Bekerja
dan Ibu Tidak Bekerja di Kecamatan Panyingkiran Kabupaten Majalengka
Jabar. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Joewono. 2002. Parenting pada Ibu yang Bekerja Sebagai Profesional dengan
Anak Usia 8-10 tahun. Tesis. Universitas Indonesia. Jakarta.
Kandoli, LN. 2000. Pola Pengasuhan Anak dan Penanaman Konsep Gender
dalam Hubungannya dengan Tumbuh Kembang Anak pada Keluarga Etnik
Jawa dan Minahasa. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rahmah. 2004. Pengaruh Disiplin dan Lamanya Menetap di Pondok Pesantren
Terhadap Kognisi Sosial dan Kemandirian Remaja. Tesis. Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Ramdhani, M. 2006. Proses Belajar dan Tingkat Kecakapan Hidup Remaja
Pengrajin Sandal Desa Cikaret Kecamatan Bogor Selatan. Tesis. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Satoto. 1990. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Tesis. Universitas
Diponegoro. Semarang.
Wijaya, H. 1986. Hubungan Antara Asuhan Anak dan Ketergantungan
Kemandirian. Disertasi. Universitas Padjajaran. Bandung.
SURAT KABAR/MAJALAH
Kompas. 2005. “Menjadi Orang Tua Tunggal.” HU. Kompas. 9 Januari 2005.
(internet). http://www.kompas.co.id. Diakses 9-10-2005.
Kedaulatan Rakyat. 2006. “Peningkatan Angka Perceraian di DIY.”
HU. Kedaulatan Rakyat, 30 Januari 2006. (internet).
http://www.kedaulatan-rakyat.com/article.php?sid=42538.
Diakses12-2-2006
LAMPIRAN
95
Lampiran 1 :
Alasan Cerai di Pengadilan Agama Kota Yogyakarta Tahun 2001-2005
MORAL
MENINGGALKAN
POLIGAMI
TAHUN
KRISIS
TIDAK
AKHLAK
SEHAT
2001
13
2002
10
2003
17
2004
15
2005
-
-
CEMBURU
KAWIN
EKONOMI
PAKSA
TERUS MENERUS
BERSELISIH
KEWAJIBAN
TIDAK
PENGA-
TANGGUNG
NIAYAAN
DIHUKUM
GANGGUAN
TIDAK
BIOLOGIS
PIHAK KE-3
HARMONIS
MURTAD
ZINA
JUMLAH
2
45
117
4
-
304
2
18
116
5
1
290
5
35
91
5
-
266
-
26
144
4
1
309
-
165
3
4
340
JAWAB
1
3
6
107
4
-
1
1
135
-
-
-
-
5
107
-
1
-
3
5
108
2
-
-
-
-
168
-
-
-
CACAT
-
Sumber : Pengadilan Agama Kota Yogyakarta, 2005
2
-
1
-
96
Lampiran 2 :
Responden Orang Tua Tunggal yang Diwawancarai
Responden
Usia
(tahun)
Sanak
(orang)
Pendidikan
Pekerjaan
Pola
Komunikasi
O1
48
2
S1
Transaksi
O2
O3
40
36
3
1
SMU
S1
Karyawan
swasta
Wiraswasta
PNS
Tingkat
Kemandirian
Anak
Cukup mandiri
Transaksi
Interaksi
Sangat mandiri
Cukup mandiri
O4
35
2
S1
Interaksi
Cukup mandiri
O5
O6
34
39
2
1
SMU
SMU
Linier
Linier
Cukup mandiri
Cukup mandiri
O7
O8
O9
O10
41
42
40
39
2
2
2
2
SD
S1
S1
S1
Karyawan
swasta
Wiraswasta
Pemandu
wisata
Buruh
Wiraswasta
Wiraswasta
PNS
Linier
Transaksi
Interaksi
Interaksi
Sangat mandiri
Cukup mandiri
Cukup mandiri
Cukup mandiri
97
Lampiran 3 :
Karakteristik Laki-laki yang Bercerai di Pengadilan Agama Kota Yogyakarta
Tahun 2001-2005
Karakteristik
Laki-laki Bercerai
A.Usia (tahun)
a. < 25
b. 25-35
c. 36-46
d. 47-57
e. 58-68
f. >68
Tahun
2001
23
150
154
44
4
6
2002
2003
2004
2005
13
163
128
61
5
2
36
165
124
22
5
-
24
118
120
38
8
1
19
179
166
38
10
1
352
309
413
2
40
60
182
2
3
14
48
1
352
3
34
55
151
2
20
41
3
309
2
50
53
210
3
3
34
52
6
413
124
90
16
3
5
27
2
3
1
1
13
2
7
3
55
352
104
58
13
2
3
26
1
2
14
4
5
2
75
309
146
95
10
4
7
28
2
7
3
16
2
93
413
Jumlah
381
372
B. Pendidikan
a. Tidak sekolah
2
1
b. SD
50
41
c. SMP
40
47
d. SMU/SMK
226
189
e. D1
1
2
f. D2
1
1
g. D3
19
36
h. S1
41
55
j. S2
1
Jumlah
381
372
C. Pekerjaan
a. Karyawan swasta 159
144
b. Wiraswasta
78
95
c. PNS
11
10
d. ABRI
1
3
e. Pensiunan
11
5
e. Buruh
36
36
f. Seniman
1
g. Guru
3
2
h. Dosen
2
3
i. Dokter
1
j. Sopir
14
15
k. Satpam
2
l. Mahasiswa
4
10
m. Petani
3
l. Tidak Bekerja
62
42
Jumlah
381
372
Sumber : Pengadilan Agama Yogyakarta, 2005
98
Lampiran 4 :
Karakteristik Perempuan yang Bercerai di Pengadilan Agama Kota
Yogyakarta, Tahun 2001-2005
Karakteristik
Perempuan Bercerai
A.Usia (tahun)
a. < 25
b. 25-35
c. 36-46
d. 47-57
e. 58-68
f. >68
Jumlah
B. Pendidikan
a. Tidak sekolah
b. SD
c. SMP
d. SMU/SMK
e. D1
f. D2
g. D3
h. S1
i . S2
Tahun
2001
2002
2003
2004
2005
40
194
125
18
2
2
39
175
129
27
2
-
55
170
112
13
2
-
46
144
95
24
-
43
197
148
22
3
-
381
372
309
413
3
31
73
183
3
3
17
38
1
3
27
62
145
2
3
18
46
3
6
32
66
216
3
4
34
50
2
352
309
413
130
91
10
15
1
2
5
1
8
89
352
98
77
22
15
6
2
1
1
2
2
83
309
3
58
82
188
2
2
20
26
-
1
31
80
178
1
4
25
51
1
Jumlah
381
372
C. Pekerjaan
a. Karyawan swasta
143
131
b. Wiraswasta
72
98
c. PNS
13
14
d. Buruh
20
15
e. Pembantu
2
1
f. Guru
3
6
g. Dosen
3
4
h.. Dokter
i. Petani
1
1
j. Seniman
1
1
k. Pelajar/Mahasiswa
14
5
l. Ibu Rumah Tangga
109
96
Jumlah
381
372
Sumber : Pengadilan Agama Yogyakarta, 2005
352
158
111
17
13
1
2
1
1
3
106
413
99
Lampiran 5 :
Karakteristik Anak dan Hak Asuh Anak
Karakteristik Anak yang Diasuh Ibu
Tahun
Karakteristik Anak
A. Usia (tahun)
a. < 5
b. 5-10
c. 11-15
e. > 15
Jumlah
B. Jenis Kelamin
a. Laki-laki
b. Perempuan
2001
2002
2003
38
33
14
2
33
27
5
1
88
38
50
Jumlah
88
Sumber : Pengadilan Agama Yogyakarta, 2005
2004
2005
42
48
20
2
39
50
27
4
53
49
9
1
66
112
120
112
33
33
70
42
72
48
70
42
66
112
120
112
2004
2005
Karakteristik Anak yang Diasuh Bapak
Tahun
Karakteristik Anak
2001
2002
2003
A. Usia (tahun)
a. < 5
b. 5-10
c. 11-15
e. > 15
1
3
2
-
2
1
-
4
4
4
1
3
5
1
1
Jumlah
6
3
13
10
6
B. Jenis Kelamin
a. Laki-laki
b. Perempuan
4
2
3
5
5
3
3
10
6
Jumlah
6
Sumber : Pengadilan Agama Yogyakarta, 2005
3
3
10
13
3
3
-
Karakteristik Anak yang Boleh Memilih Hak Asuh
Tahun
Karakteristik Anak
2001
2002
2003
2004
2005
A. Usia (tahun)
a. 5 - 10
b. 11-15
c. > 15
4
-
1
-
2
5
2
1
4
6
Jumlah
4
1
7
2
11
B. Jenis Kelamin
a. Laki-laki
b. Perempuan
4
1
-
2
5
1
1
5
6
Jumlah
4
1
7
2
11
Sumber : Pengadilan Agama Yogyakarta, 2005
100
Lampiran 6 :
Karakteristik Responden Orang Tua Tunggal, Yogyakarta, 2006
Karakteristik Orang Tua Tunggal
A. Usia (tahun)
a. 30 - 35
b. 36 - 46
c. 47 - 57
B. Jumlah Anak (orang)
a. 1
b. 2
c. 3
d. > 3
C. Pendidikan
a. SD
b. SMP
c. SMU
d. D1
e. D3
f. S1
g. S2
D. Pekerjaan
a. Karyawan swasta
b. Wiraswasta
c. PNS
d. Buruh
E. Pendapatan (Rupiah)
a. < 1 juta
b. 1 - 2 juta
c. > 2 juta
F. Lama Waktu Bekerja Sehari
a. < 8 jam
b. 8 - 10 jam
c. > 10 jam
G. Lamanya Penggunaan Media Seminggu
a. 1 - 3 jam
b. 3 - 5 jam
c. 5 - 7 jam
d. > 7 jam
H. Lamanya Melakukan Kegiatan Sosial
Seminggu
a. Tidak ada
b. 2 - 4 jam
c. 5 - 7 jam
Jumlah
(Orang)
Persentase
(%)
10
11
4
40
44
16
12
10
2
1
48
40
8
4
3
1
10
1
2
7
1
12
4
40
4
8
28
4
10
8
4
3
44
32
16
12
13
10
2
52
40
8
6
17
2
24
68
8
7
5
6
7
28
20
24
28
10
13
2
40
52
8
101
Lampiran 7 :
Karakteristik Responden Anak dari Orang Tua Tunggal, Yogyakarta, 2006
Karakteristik Anak
A. Jenis Kelamin
a. Laki- laki
b. Perempuan
B. Usia (tahun)
a. 7 - 9
b. 10 - 12
C. Jumlah saudara
a. Tidak ada
b. 1
c. 2
d. > 2
D. Status Sekolah
a. Negeri
b. Swasta
E. Lama Penggunaan Media
Seminggu (Jam)
a. 1-3 jam
b. 3-5 jam
c. 5-7 jam
d. > 7 jam
Jumlah
(25)
Persentase
(%)
9
16
36
64
9
16
36
64
10
9
4
2
40
36
16
8
13
12
52
48
1
2
3
19
4
8
12
76
Download