Bagaimana kita umat Islam akan memulai akhlak membela

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Pendidikan
Agama Islam
Kesalehan Sosial
Fakultas
Program Studi
Teknik Elektro
Pendidikan Agama
Islam
Modul
08
Kode MK
Disusun Oleh
90002
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Abstract
Kompetensi
Allah menciptakan manusia dalam
bergolong-golongan sehingga seorang
muslim harus mampu beradaptasi
dalam kehidupan sosial antar sesama
manusia lainnya
Mahasiswa mampu menjelaskan
pengertian Kesalehan Sosial dan
mampu mencontoh teladan Rosul
mengenai kehidupan sosial yang Islami
Pengantar
Manusia sejak lahir membutuhkan orang lain, oleh sebab itu manusia perlu
bersosialisasi dengan orang lain dalam hidup bermasyarakat. Hidup bersosial dengan
masyarakat seringkali membuat kita harus waspada dan menahan diri. Hal ini karena hidup
dengan sejumlah orang lain yang masing-masing mempunyai keinginan, keyakinan dan
pendapatnya berbeda-beda. Tak bisa dipungkiri hidup bermasyarakat akan senantiasa
menemui berbagai gesekan. Gesekan-gesekan kecil itu bisa saja berubah menjadi sebuah
bencana yang dahsyat bila tak ada saling dan saling memberikan nasihat. Harus ada saling
pengertian diantara individu masyarakat. Hal inilah yang mendasari mengapa kita perlu
memahami dan mengimplementasikan Kesalehan sosial yaitu bagaimana kita harus
berhubungan dengan orang lain dalam masyarakat berdasarkan ajaran Islam.
Terkait dengan hidup sosial bersama orang lain, sabda Rasulullah SAW yang
diriwayatkan oleh Ibnu Uma r.a.:
“Seorang mu’min yang bergaul dengan masyarakat dan sabar atas rintangan mereka, lebih
baik dari pada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat (menyendiri) serta tidak sabar
atas rintangan mereka.” ( HR.Ibnu Umar r.a )
Dengan demikian sebagai manusia kita tak bisa hidup menyendiri. Adalah suatu
sunatullah bila akhirnya setiap individu itu hidup berkumpul dengan individu lain dalam
sebuah komunitas yang dinamakan masyarakat. Sesuai dengan sabda Rasul tadi, bahwa
kita harus bisa bersabar atas rintangan yang dibuat oleh individu lain. Dan berusaha untuk
memberikan nasihat, bila tak menghendaki kerusakan.
Dalam pandangan Islam, sebuah masyarakat adalah kumpulan individu yang
berinteraksi secara terus menerus, yang memiliki satu pemikiran, satu perasaan dan
dibawah aturan yang sama. Sehingga antara mereka akan terjalin hubungan yang harmonis.
Bila ada sebagian anggota masyarakat yang menderita, serta merta individu-individu yang
lain menolongnya dengan sekuat tenaga. Begitupun ketika ada salah seorang anggota
masyarakat yang melakukan tindak kriminal serta merta individu yang lain menegur dan
menasihatinya dan negara berhak memberikan sanksi bila itu menyebabkan teraniayanya
individu lain.
Masyarakat bukan hanya kumpulan individu semata yang tak memiliki aturan. Yang
bebas berbuat apa saja semau mereka. Jelas hal ini tidak diajarkan oleh Rasulullah.
2016
2
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Ukhuwah yang benar dan baik justru adalah saling memberikan nasihat kebaikan. Terkait
dengan hidup sosial bermasyarakat ini, Allah berfirman:
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasihati dalam mentaati kebenaran dan saling
menasihati dalam kesabaran”. (QS Al’Ashr: 1-3)
Terkait dengan kehidupan sosial bermasyarakat, akhlak yang bagaimana yang harus
dilakukan oleh umat Islam sehingga tercipta kehidupan sosial yang sehat? Pada bab ini
akan dibahas tentang akhlak sosial Islami yang terdiri dari akhlak saling menyayangi,
beramal sholeh, berlaku adil, menghormati sesama, menjaga persaudaraan, menegakkan
kebenaran, tolong menolong dan bermusyawarah.
Delapan Kesalehan Sosial
1.
Akhlak Saling Menyayangi
Banyak peristiwa pada akhir-akhir ini yang menunjukkan semakin hilangnya akhlak
saling menyayangi diantara anggota masyarakat. Perkelahian antar kampung dibeberapa
propinsi, perampokan dan pembunuhan, pembakan hutan dan penyiksaan hewan, bahkan
ada penyiksaan terhadap anak-anak dan sesama umat muslim.
Rasul bersabda:
“Diriwayatkan dari Abu Musa r.a. sesungguhnya dia telah mendengarkan Rasulullah SAW
bersabda: “Tidaklah kamu sekalian termasuk beriman sebelum kamu saling menyayangi”.
Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, kami sudah saling menyayangi”.Beliau menjawab,
“Yang dimaksudkan bukanlah berkasih-kasihan hanya dengan salah seorang diantara
kawan-kawan saja, tetapi berkasih sayanglah kepada umum”.
Yang dapat kita pahami dari sabda Rasulullah, Bahwa setiap orang yang beriman harus
saling menyayangi, tidak hanya sesama teman, tetapi kasih sayang kepada hal-hal yang
bersifat umum, terhadap keluarga dan bahkan terhadap alam. Berikut ini adalah tauladan
kasih sayang yang disampaikan Rasul.
a) Kasih sayang terhadap sesama muslim
Setiap muslim atau umat Islam diharapkan saling menyayangi. Sesama umat harus saling
berbagi dan menerima dengan niat ikhlas, sehingga dapat mencapai kebahagiaan bersama.
2016
3
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Janganlah kita acuh terhadap sesama muslim, sehingga ada muslim lain menderita baik
secara lahir maupun batin. Rasul bersabda:
“Aku tidak dapat memberikan pembantu untukmu (Fatimah r.a) sedangkan aku mebiarkan
para ahli shuffah mengikat perutnya karena menahan lapar sebab aku tidak mempunyai
nafkah untuk mereka. Oleh karena itu, aku menjual para tawanan dan membeli nafkah
kepada para ahli shuffah itu”.
b) Kasih sayang terhadap orang musrik
Toleransi antar umat beragama, pada saat ini masih merupakan hal penting dalam
kehidupan bersosial di Indonesia, karena di negara kita banyak perbedaan baik dalam
keyakinan, ekonomi, sosial maupun budaya. Persitiwa-peristiwa yang berwujud kekerasan
masih terjadi dalam hubungan antar agama atau suku. Bagaimana akhlak kita terhadap
orang yang bukan muslim atau umat Islam? Rasul memberikan teladan sebagai berikut:
Tsumamah bin Atsal yang sudah masuk Islam bersumpah untuk tidak mengirim gandum
kepada orang Quraisy tanpa seijin Rasul, karena orang Quraisy pernah memboikot dan
mengurung kaum muslim di Mekah. Orang Quraisy kemudian mengirim surat kepada Rasul,
dan Rasul akhirnya mengirim surat kepada Tsumamah untuk mengirim gandum bagi orang
Quraisy. Sifat kasih sayang Rasul lebih tinggi dari pada segala bentuk sifat permusuhan.
Rasul memberikan contoh kepada kita untuk tidak membalas perbuatan jahat dengan
kejahatan pula. Akhlak Rasul untuk menyayangi lebih tinggi dari bentuk sifat permusuhan.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita membina hubungan baik dalam kaitan sosial terhadap
orang musrik atau orang yang berbeda keyakinan.
c) Kasih sayang terhadap anak-anak
Anak-anak adalah amanah bagi orang tua dan masyarakat pada umumnya. Terhadap anakanak tersebut, haruslah kita berikan kasih sayang yang cukup dan bekal ilmu supaya dapat
berkembang secara maksimal. Tugas orang tua untuk membimbing dan memberikan
pengawasan yang cukup. Rasul memberikan teladan sebagai berikut:
Al-Aqra bin Harits melihat Rasul mencium Al-Hasan, lalu berkata “Wahai Rasul, aku
mempunyai sepuluh anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka”. Rasul bersabda “Aku
tidak akan mengangkat engkau sebagai pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih
sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya tidak akan
disayangi”.
2016
4
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
d) Kasih sayang terhadap alam
Banyak contoh kecil, bahwa kita sekarang kurang menyayangi alam. Membuang sampah
sembarangan yang berakibat polusi dan banjir. Menebang pohon sembarangan yang
berakibat banjir. Rasul memberikan teladan yang baik seperti menanam pohon dan tidak
menebang
pohon
sembarangan,
mengolah
tanah,
menjaga
kebersihan,
menjaga
sumberdaya alam dengan memanfaatkan secukupnya tidak berlebihan. Rasul bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa jalla melaknat orang yang menyiksa hewan dan memotong
anggota badannya”.
Yang dapat kita pahami, kita harus memberikan kasih sayang kepada hewan atau alam
keseluruhannya dan tidak merusak alam seperti memotong anggota badan hewan,
tumbuhan dan tidak serakah dalam mengambil sumberdaya alam.
2.
Beramal Sholeh
Beramal sholeh dapat diartikan berbuat baik/kebajikan, memberi sumbangan atau
bantuan kepada orang miskin. Amal sholeh juga dapat berarti melakukan sesuatu yang baik
seperti memberi nasehat, bekerja untuk kepentingan masyarakat dan mengajarkan suatu
ilmu. Beramal sholeh merupakan wujud akhlak sosial dalam rangka mewujudkan kepedulian
sosial, sehingga seseorang berbuat baik terhadap orang lain.
Terkait dengan anjuran agar kita beramal bagi orang yang tidak mampu, Allah
berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah dijalan Allah sebagian rejeki yang telah kami
berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak
ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah
orang-orang yang zalim” (QS Al-Baqarah: 254).
Dari ayat tadi, Allah memerintahkan kepada kita untuk mengeluarkan sebagian rejeki
yang kita terima kejalan Allah seperti menyantuni anak yatim dan fakir miskin, memberi
makan musafir dan menegakkan agama Allah. Allah-pun sangat tidak menyukai umat Islam
yang kikir, seperti firman-Nya:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan
Allah, maka beritahukanlah mereka akan siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas
perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan
2016
5
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
punggung mereka, lalu dikatakan kepada mereka, “inilah harta bendamu yang kamu simpan
untuk dirimu sendiri, maka rasakan sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu” (QS AtTaubah: 34-35).
Bagaimana kita mulai melakukan kegiatan amal sholeh mulai saat ini?Pertama,
memulai dengan amal sedekah wajib berupa zakat baik zakat mal dan fitrah. Zakat mal atau
harta bagi yang sudah mempunyai harta diatas nizab, atau kita dapat lebih mudah
menghitung dengan memberikan 2,5 % dari apa saja yang kita terima. Zakat fitrah kita
berikan saat akan hari raya Idul Fitri sebanyak 3.1 liter beras. Kedua, kita melakukan amal
sedekah atau amal sunah kepada istri, anak, pembantu bahkan kepada alam, seperti
memberikan makan kepada binatang dan memelihara tanaman, dan ketiga, kita melakukan
amal sedekah berupa tolong menolong kepada sesama manusia dalam bentuk
mendamaikan orang yang bermusuhan secara adil, menolong orang yang membutuhkan
pertolongan, membersihkan lingkungan dan jalan, dan mengerjakan sholat dengan baik.
3.
Saling Menghormati
Dalam
kehidupan
bersosial,
kita
juga
membutuhkan
akhlak
untuk
saling
menghormati.Saling menghormati adalah sikap sosial yang mendasar dan luas. Sikap sosial
ini lebih banyak tampil dalam wujud yang kelihatan, dan umumnya bersifat langsung, dalam
setiap perjumpaan kita satu sama lain. Tanpa sikap ini kehidupan kita terasa hambar,
diwarnai ketegangan karena masing-masing hanya mengutamakan kepentingan sendiri dan
mengabaikan kepentingan orang lain.
Terkait dengan sikap saling menghormati, Allah berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan
diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka
mengucapkan kata-kata yang baik” (QS 25:63).
Dari ayat diatas, Allah memerintahkan kita untuk saling menghormati dalam bentuk
saling menyapa, berlaku rendah hati dan berkata-kata dengan baik.Mengapa Allah
memerintahkan kita untuk saling menghormati? Jawabannya adalah karena sikap ini
merupakan kekhasan kita sebagai manusia yang mampu menghormati dan pantas
dihormati. Dalam menghormati, sebenarnya kita menunjukkan keunggulan kita sebagai
manusia. Penghormatan kepada manusia sebenarnya juga tertuju sebagai penghormatan
kepada Allah SWT. Kesadaran akan hal ini diharapkan dapat menggerakkan dan
memudahkan kita untuk dengan tulus mau memberi penghormatan kepada sesama disetiap
kesempatan.
2016
6
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Beberapa manfaat bila kita menerapkan sikap menghormati kepada orang lain yaitu:
orang lain akan senang dengan kita, bahkan akan timbul dorongan dihatinya untuk mau
dekat dengan kita. Kita dapat memperoleh simpati orang karena orang tersebut
mendapatkan sikap yang berkenan dihatinya dari kita.
4.
Berlaku Adil
Keadilan diartikan sebagai sikap berpihak pada yang benar, tidak memihak salah
satunya, dan tidak berat sebelah. Dengan kata lain yang dimaksud adil disini ialah
memberikan hak kepada yang berhak tanpa membeda-bedakan antara orang-orang yang
berhak itu, dan melakukan tindakan kepada orang yang salah sesuai dengan kejahatannya
dan kelalaiannya, tanpa mempersukarnya atau bersikap pilih kasih kepadanya.
Mengapa kita harus berlaku adil? Karena dalam kehidupan sosial, kita suatu saat
akan dimintai untuk mendamaikan dua belah pihak yang berselisih, seperti perselisihan
dalam keluarga, masyarakat bahkan dalam bernegara. Oleh sebab itu, dalam upaya menjadi
pendamai, kita harus berbuat adil. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kita
berbuat adil diantaranya adalah:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada
kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia
memberi pengajaran kepadamu agar kamu mendapat pelajaran” (QS An-Nahl: 90).
“Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah perkara itu diantara
mereka dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil” (QS AlMaidah:42).
Melakukan kebajikan yaitu berbuat baik dan mentaati aturan hukum yang berlaku,
adil dalam hal ini tidak melanggar peraturan yang dapat merugikan orang lain, seperti
menerobos lampu merah, atau korupsi. Adil juga menghendaki kita menghilangkan sikap
permusuhan, mencari musuh dan membuat perselisihan atau keonaran baik di dalam
keluarga, kampus, masyarakat dan Negara.
5.
Menjaga Persaudaraan
Menjaga persaudaraan dapat diartikan membuat hubungan persahabatan atau
pertemanan menjadi sangat karib, seperti layaknya saudara (adik dan kakak yang seayah
dan seibu).Pada persaudaraan tersebut dapat dibagi menjadi 3 yaitu persaudaraan karena
keturunan, karena kepentingan dunia dan karena se-akidah.
2016
7
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Persaudaraan baik karena keturunan, kepentingan dunia maupun akidah harus terus
dipupuk dan dikembangkan, sehingga terjalin rasa senasib dan sepenanggungan. Dalam
realitas sosial masyarakat, kita menyadari bahwa banyak ragam manusia yang ada seperti
status sosial, pendidikan, tingkat ekonomi dan profesi, oleh sebab itu untuk meningkatkan
persaudaraan harus ada kebutuhan untuk saling membantu, saling menunjang, saling
melengkapi dan saling menguatkan, sehingga satu sama lain menjadi kekuatan yang kokoh.
Terkait dengan menjaga persaudaraan, Allah berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.Dan
berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekatdan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba
sahayamu.Sesungguhnya
Allah
tidak
menyukai
orang-orang
yang
sombong
dan
membangga-banggakan diri”. (QS An-Nisa: 36).
Apa manfaat bagi kita dan masyarakat terhadap terbinanya rasa persaudaraan ini?
Rasa persaudaraan paling tidak memberikan manfaat untuk: tetap terpeliharanya rasa
persaudaraan dan persatuan, saling mencintai dan bekerjasama satu sama lain, saling
memperkuat dan meneguhkan kedudukan satu sama lain, menimbulkan rasa damai dan
menciptakan kemakmuran dan memperoleh pahala, kemuliaan dan keridhaan dari Allah
SWT.
6.
Berani Membela Kebenaran
Berani membela kebenaran berarti keteguhan dalam menghadapi bahaya atau
sesuatu yang membahayakan dalam rangka menegakkan kebenaran berdasarkan
ketentuan Allah SWT.Berani membela kebenaran juga dapat diartikan merasa takut pada
beberapa hal yang memang harus ditakuti yaitu hal-hal yang jahat dan jelek seperti
kejahatan, criminal dan kejelekan seperti aib, dan kemiskinan.
Bagaimana seseorang dikatakan berani membela kebenaran? Seseorang yang
dikatakan berani membela adalah orang yang takut akan aib yang dapat menjatuhkan harga
diri, dengan demikian orang tersebut akan menjauhkan dari perbuatan yang dapat merusak
harga diri, seperti korupsi, berjinah, menipu dan lain-lain. Sedangkan pengecut adalah orang
yang tidak takut terhadap aib dan tidak mempunyai rasa malu terhadap kejelekan yang
diperbuat, seperti pencuri yang bangga karena polisi tidak tahu, koruptor yang bangga
dengan harta korupsinya dan seorang lelaki yang bangga bahwa selingkuhnya tidak
diketahui orang lain. Terkait dengan berani membela kebenaran ini, Rasul Bersabda:
2016
8
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
“Barang siapa yang terbunuh karena membela harta bendanya, maka matinya itu syahid,
barang siapa yang terbunuh karena membela darahnya (membela diri) maka matinya itu
syahid, barang siapa yang terbunuh karena membela agamanya, matinya itu syahid, dan
barang siapa yang terbunuh karena membela keluarganya, matinya syahid”.
Bagaimana kita umat Islam akan memulai akhlak membela kebenaran ini? Pertama,
kita bisa memulai dengan berani mengemukakan pendapat
baik dalam keluarga,
masyarakat dan pemerintah terkait dengan kejahatan dan kejelekan seperti akidah yang
rusak, akal pikiran yang sesat, hati yang buta dan akhlak yang buruk. Kita harus berani
menyampaikan kebenaran yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul, dan terhadap
kebenaran ini, kita berani mengemukakannya, sehingga keluarga, masyarakat dan negara
mau mendengarkan dan melaksanakannya.Kedua, kita harus berani dalam peperangan baik
perang membela agama, perang terhadap kejahatan dan kejelekan.Berani dalam hal ini juga
menyangkut usaha fisik seperti membela orang yang lemah, berani mengejar penjahat dan
bekerjasama
dengan
aparat,
serta
berusaha
mengurangi
tingkat
korupsi,
dan
kemaksiatan.Tindakan berani ini juga diharapkan untuk menjaga masyarakat dalam kondisi
tertib dan aman, namun juga harus dihindarkan dari rasa takabur atau sombong.
7.
Tolong Menolong
Tolong menolong dapat diartikan saling bantu membantu, meminta bantuan dan
memberikan bantuan. Tolong menolong merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan manusia, karena pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendirian. Sejak lahir
manusia membutuhkan bantuan orang lain, begitupula saat dewasa dan bekerja, bahkan
saat mati, manusia membutuhkan orang lain karena manusia tidak dapat menguburkan
dirinya sendiri.
Kehidupan bersosial dan bermasyarakat akan dapat mandiri dan kuat apabila ada
kerjasama dan tolong menolong diantara anggota masyarakat khususnya umat Islam.
Dalam agama Islam, kerjasama dan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan demi
kemajuan dan kesejahteraan masyarakat sangat dianjurkan oleh Allah, sebagaimana
firmannya:
“Saling tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, dan jangan
kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan” (QS Al-Maidah:2).
“dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi
penolong bagi sebagian lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari
yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah
2016
9
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dan Rosulnya.Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana”.
Dari kedua ayat tersebut, apa yang dapat kita pelajari dan lakukan? Pertama, umat
Islam harus saling tolong menolong dalam hal kebaikan, dan dilarang membuat
persekongkolan dalam perbuatan jelek.Kedua, bidang kerjasama dalam kegiatan tolong
menolong adalah luas, seperti mendirikan sembahyang dan zakat.
8.
Musyawarah
Musyawarah dapat diartikan rapat atau berunding untuk memperoleh keputusan atau
petunjuk yang terbaik.Manusia dan umat Islam dari awal penciptaannya sudah beraneka
ragam.Dalam hal banyaknya perbedaan ini, maka bagaimana mereka dapat menyatukan
pendapat untuk mencari keputusan yang terbaik?Maka jawabannya adalah melalui
musyawarah.
Islam menjadikan musyawarah sebagai suatu cara atau aturan dalam rangka
meneliti dan memeriksa pendapat agar diperoleh keputusan atau petunjuk yang terbaik.
Islam juga menjamin kebebasan berpendapat bagi tiap orang selama pendapat itu tidak
bertentangan dengan akidah dan ibadah. Terkait dengan akhlak musyawarah, Allah
berfirman :
“Maka
disebabkan rahmat
dari
Allah-lah kamu
berlaku
lemah lembut
terhadap
mereka.Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri
dari sekelilingmu.Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohon ampunkan bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (urusan politik, ekonomi, dan lainlain).Kemudian apabila kamu telah membuatkan tekad, bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (QS AliImran:159).
Bagaimana umat Islam memulai untuk melaksanakan akhlak musyawarah? Pertama,
kita harus mulai berani mengemukakan pendapat yang benar dan menjadi pendengar yang
baik bagi pendapatyang dikemukakan orang lain. Kedua, kita harus mulai berani berdiskusi
dan adu argumentasi tentang sesuatu yang dimusyawarahkan dengan berbekal ilmu
pengetahuan yang cukup memadai.Ketiga, kita harus mulai berani menerima keputusan
bersama dan secara konsekuen mentaati keputusan yang telah dibuat.
2016
10
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
Al-Huffiy, A.M. 2000, Keteladanan Akhlak Nabi Muhammad SAW. Pustaka Setia. Bandung.
Azra, A. 2005. Jaringan Ulama:Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII&XVII
Prenada Media. Jakarta
Chapra, Umer.2000. Islam dan Tantangan Ekonomi. Gema Insani Press. Jakarta
Rasjid S.2000. Fikih Islam. Sinar Baru Agresindo. Bandung
Srijanti, Purwanto dan Wahyudi P. 2007. Etika Membangun masyarakat Islam Modern.
Graha Ilmu
2016
11
Pendidikan Agama Islam
Alimudin, S.Pd.I, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download