studi penilaian kemampuan guru melalui video

advertisement
RINGKASAN
LAPORAN PENELITIAN
STUDI PENILAIAN KEMAMPUAN GURU
MELALUI VIDEO
(dengan Memanfaatkan Data PIRLS)
Suhardjono
Waras Kamdi
Imam Agus Basuki
PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2009
1
Latar Belakang
Meskipun membaca merupakan hal yang sangat esensial dalam
kehidupan modern, tetapi kondisi di lapangan menunjukkan hal lain.
Kemampuan membaca siswa sekolah memiliki kecenderungan rendah.
Salah satu penelitian yang mengungkap lemahnya kemampuan siswa,
dalam hal ini siswa kelas IV SD/MI, adalah penelitian PIRLS. PIRLS
(Progress in International Reading Literacy Study) adalah studi
internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia
yang disponsori oleh The International Association for The Evaluation
Achievement (IEA). Hasil studi itu menunjukkan bahwa (rata-rata) anak
Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di
dunia (IEA, 2007).
Lemahnya kemampuan membaca siswa SD/MI patut diduga
karena lemahnya pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya
pembelajaran membaca. Lemahnya pembelajaran membaca patut diduga
karena kemampuan guru dan kondisi sekolah. Sejalan dengan hal
tersebut, penilaian terhadap kemampuan guru di kelas perlu mendapat
perhatian khusus. Untuk itu, perlu dilakukan penelaahan secara khusus
(melalui video) untuk mengungkap kemampuan guru-membaca di kelas.
Studi penilaian kemampuan guru melalui video ini merupakan
salah satu upaya untuk memperoleh gambaran utuh kemampuan guru
dalam pembelajaran, termasuk informasi tentang kelemahan dan
kekurangan guru dalam kegiatan bejar mengajar di kelas. Melalui
rekaman video analisis akan dapat dilakukan secara akurat dan cermat.
Lemahnya kemampuan membaca pemahaman versi PIRLS juga
patut diduga karena penggunaan tes yang bersifat internasional. Kalau
ternyata teks yang digunakan demikian kondisinya, lemahnya
kemampuan membaca siswa sangat bisa dimaklumi. Untuk memperoleh
gambaran yang sebenarnya tentang kemampuan membaca siswa
diperlukan tes yang didasarkan bacaan berlatar Indonesia. Untuk itu,
pendeskripsikan kemampuan membaca siswa berdasarkan tes PIRLS
dan tes yang berlatar Indonesia perlu dilakukan.
Lemahnya kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV
juga patut diduga karena kondisi sekolah yang bersangkutan. Kondisi
sekolah yang dimaksud meliputi kondisi sarana-prasarana, jumlah siswa
dalam sekolah dan dalam kelas, akses ke sekolah, dan prestasi sekolah.
2
Kondisi tersebut menjadikan sekolah tertentu menjadi sekolah papan
atas atau sekolah papan bawah. Kondisi tersebut tentu akan berpengaruh
pada kemampuan siswa dalam membaca pemahaman.
Rumusan Tujuan
Sejalan dengan uraian di atas, tujuan umum penelitian ini adalah
untuk mendeskripsikan kemampuan guru dalam membelajarkan
membaca pemahaman di kelas IV SD/MI. Secara rinci, tujuan penelitian
ini dapat dipaparkan sebagai berikut.
1) Mendeskripsikan karakteristik SD/MI yang menjadi subjek penelitian
ini.
2) Mengembangkan model penilaian kemampuan guru melalui rekaman
video dalam melaksanakan pembelajaran membaca pemahaman
bahasa Indonesia bagi siswa kelas IV SD/MI.
3) Mendeskripsikan kemampuan guru dalam membelajarkan membaca
pemahaman di kelas IV SD/MI.
4) Mendeskripsikan faktor-faktor yang diduga memengaruhi
kemampuan guru dalam membelajarkan membaca pemahaman.
5) Mendeskripsikan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV
SD/MI.
6) Mendeskripsikan faktor-faktor yang diduga memengaruhi
kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SD/MI.
7) Mendeskripsikan pengaruh kemampuan guru dalam membelajarkan
membaca pemahaman terhadap kemampuan membaca pemahaman
siswa kelas IV SD/MI.
3
Metode Penelitian
Sesuai dengan tujuan utama penelitian ini, yakni mendapatkan
informasi tentang kemampuan guru dalam membelajarkan membaca
pemahaman dan memperoleh informasi tentang kemampuan membaca
pemahaman siswa kelas IV SD/MI, maka penelitian ini dirancang
menggunakan pendekatan deskriptif.
Secara garis besar, penelitian ini diawali dengan kajian teoretis
model pembelajaran membaca pemahaman yang ideal. Model
pembelajaran membaca yang ideal tersebut, kemudian dimanfaatkan
untuk mengembangkan format penilaian kemampuan guru dalam
membelajarkan membaca pemahaman. Format penilaian tersebut
dimanfaatkan untuk menilai kemampuan guru dalam membelajarkan
membaca pemahaman berdasarkan rekaman video. Hasil penilaian
kemampuan guru tersebut dihubungkan dengan pendidikan guru,
pengalaman guru, dan kemampuan membaca pemahaman siswa.
Kemampuan membaca pemahaman siswa dideskripsikan
berdasarkan hasil tes membaca yang dikembangkan tim peneliti dan tes
PIRLS. Kemampuan membaca tersebut kemudian dihubungkan dengan
kebiasaan berbahasa, kebiasaan membaca, dan kondisi sekolah.
Sumber data penelitian ini adalah guru bahasa Indonesia, siswa
kelas IV, dan kepala sekolah dari 12 sekolah yang menjadi sampel
PIRLS. Sekolah dipilih berdasarkan pertimbangan keterjangkauan,
kecukupan dana, serta kesediaan dan kesiapan sekolah. Sekolah yang
menjadi subjek penelitian ini adalah (1) SDN Pejaten Timur 05 PG,
Jakarta Selatan; (2) SDN Karang Anyar 04 PT, Jakarta Pusat; (3) SDN
Cigadung 1, Bandung; (4) SD Panorama, Bandung; (5) SDN Kampung
Sewu, Surakarta; (6) SDN Klecosatu 07, Surakarta; (7) MI Ma’Arif
Selak, Magelang; (8) SDN Beseran, Magelang; (9) SDN Bobang 02,
Kediri; (10) SDN Banaran 2, Kediri; (11) SD Bina Taruna 3, Medan;
dan (12) SDN 101990 Namorambe, Delitua. Dengan demikian,
penelitian ini bersifat survei.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa alat
perekam video, format penilaian kemampuan guru, tes membaca
pemahaman, kuesioner/angket, dan lembar pengamatan. Format
penilaian kemampuan guru adalah format penilaian yang terdiri atas
kolom-kolom yang dapat memandu penilai memberikan skor terhadap
4
penampilan guru (dalam DVD) dalam membelajarkan membaca
pemahaman. Dari skor tersebut akan diketahui kualitas guru dalam
melaksanakan aktivitas pembelajaran membaca, yang terpilah atas
penilaian prapembelajaran, saat pembelajaran, dan pascapembelajaran.
Tes membaca pemahaman yang digunakan dalam penelitian ini terpilah
menjadi dua, yaitu tes membaca versi lokal dan tes membaca versi
PIRLS. Tes PIRLS tersebut pernah digunakan secara nasional pada
tahun 2006. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner siswa, guru,
dan kepala sekolah.Selain itu, digunakan juga lembar pengamatan yang
dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi sekolah dan kondisi
pembelajaran di kelas. Hasil pengamatan ini sekedar sebagai data
pelengkap.
Analisis data dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
pengodean, transfer rekaman, penskoran tes, pencatatan dan penabelan,
serta penghitungan statistik. Rekaman pembelajaran diskor oleh tiga
orang secara terpisah, yaitu dua orang tim peneliti dan satu orang selain
tim peneliti (widyaiswara). Penskoran dilakukan dengan panduan format
penilaian. Hasil penskoran dirata-rata untuk menentukan skor akhir yang
dipakai untuk menentukan kualitas guru dalam membelajarkan
membaca. Analisis statistik dilakukan untuk mencari (1) gambaran
kemampuan mengajar dan kemampuan membaca, (2) hubungan
kemampuan mengajar terhadap kemampuan membaca, dan (3) uji beda
kemampuan membaca berdasarkan berbagai hal.
Hasil
Karakteristik Sekolah Subjek Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah-sekolah subjek
penelitian ini merupakan sekolah-sekolah kelompok menengah ke
bawah di tingkat kabupaten/kota. Berdasarkan gambaran capaian
prestasi sekolah, guru, dan siswa tampak bahwa capaian prestasi
masing-masing sekolah bukanlah prestasi yang menampakkan habitus
sekolah, bukan prestasi yang menunjukkan hasil kerja kolektif sekolah,
bukan pula prestasi yang dipegang secara terus menerus sebagai dampak
dari keunggulan sekolah, tetapi lebih cenderung merujuk pada prestasi
kebetulan dan “biasa saja”. Gambaran ini menguatkan gambaran posisi
5
sekolah subjek yang termasuk dalam kategori kelompok menengah ke
bawah.
Model Penilaian Kemampuan Guru
Model penilaian kemampuan guru yang dikembangkan berupa
seperangkat format untuk menilai kemampuan guru dalam
membelajarkan membaca pemahaman. Model penilaian tersebut
dikembangkan berdasarkan kajian teori membaca pemahaman yang
dikemas dalam langkah strategis guru dalam membelajarkan membaca
pemahaman secara ideal. Secara umum ada tiga tahapan pokok dalam
pembelajaran membaca yang dinilai, yakni tahap permulaan
(prainstruksional), tahap pengajaran (instruksional), dan tahap penilaian
dan tindak lanjut. Tahapan prainstruksional (persiapan sebelum
mengajar-inti dimulai) meliputi kegiatan memeriksa kehadiran siswa,
mengecek kondisi kelas, mengecek peralatan yang tersedia, dan
mengadakan appersepsi, serta mengembangkan sikap positif terhadap
belajar membaca. Kegiatan pada tahap instruksional (saat-saat mengajar)
meliputi inti mengajar dan membuat kesimpulan. Inti mengajar dapat
dipilah menjadi tiga, yaitu tahap pramembaca, tahap membaca, dan
pascamembaca. Tahap evaluasi berupa asesmen dan tindak lanjut yang
dapat berupa pengayaan (enrichment) atau perbaikan (remedial) dalam
bentuk diskusi kelompok informal, penyusunan ikhtisar, pemberian PR,
dan lain-lain.
Kemampuan Guru Membelajarkan Membaca
Paparan kemampuan guru dalam membelajarkan membaca
pemahaman dipilah menjadi empat, yaitu (1) langkah guru
membelajarkan membaca, (2) ketepatan pembelajaran membaca, (3)
penggunaan waktu dalam pembelajaran membaca, (4) hasil penilaian
kemampuan guru dalam membelajarkan membaca pemahaman.
Dilihat dari segi langkah-langkah yang dilakukan guru dalam
pembelajaran membaca dapat dikatakan bahwa langkah guru masih
bersifat konvensional: baca-tulis-kumpulkan, baca-kerjakan-kumpulkan,
baca-ceritakan-tulis, dan baca-tulis-bacakan. Dari segi ketepatan
pembelajaran, pembelajaran yang dilakukan guru termasuk cukup tepat,
meskipun banyak hal yang terasa janggal sehingga perlu dibenahi.
Sebagian besar guru (91,67%) telah memberikan kesempatan membaca
kepada siswa dalam waktu yang memadai dan sisanya (8,33%) tidak
6
memberi kesempatan membaca, tetapi justru memberi kesempatan
menyimak bacaan guru. Kesempatan membaca diberikan guru dalam
bentuk yang bervariasi: membaca dalam hati, siswa bergantian
membaca, seorang siswa membacakan dan siswa lainnya membaca teks,
dan siswa membaca keras bersama-sama.
Paparan penggunaan waktu pembelajaran diarahkan pada
pemanfaatan waktu untuk melakukan setiap kegiatan pokok
pembelajaran membaca: prabaca, saat baca, dan pascabaca. Hasil
peneliti terhadap pemanfaatan waktu adalah sebagai berikut.
Kegiatan prabaca kurang mendapat perhatian guru dalam
pembelajaran membaca. Hal itu ditunjukkan dari minimnya waktu yang
digunakan untuk kegiatan itu. Hampir semua guru (91,67%)
memanfaatkan waktu kurang dari 2.30 menit untuk prabaca. Padahal,
aktivitas prabaca merupakan hal yang sangat penting untuk menyiapkan
siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran membaca. Aktivitas
pascabaca mendapat porsi waktu terbesar dalam pembelajaran. Semua
guru memanfaatkan waktu lebih dari 50% untuk kegiatan pascabaca.
Penggunaan waktu pascabaca merentang dari 28.50 menit sampai
dengan 73.30 menit, dengan rata-rata 46.40 menit. Aktivitas yang
dilakukan siswa pascabaca adalah menulis isi bacaan, menceritakan isi
bacaan, atau menjawab soal.
Persentase rata-rata kemampuan guru dalam tahap
prainstruksional adalah 29,67% dari yang diidealkan; tahap instruksional
adalah 49,55% dari yang diidealkan; dan tahap evaluasi dan tindak lanjut
adalah 24,75% dari yang diidealkan. Persentase rata-rata kemampuan
guru dalam pembelajaran secara keseluruhan adalah 42,84% dari yang
diidealkan; dengan rentangan 33,34% sampai dengan 55,41%. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam
membelajarkan membaca pemahaman cukup rendah. Kemampuan
paling rendah terjadi pada tahap evaluasi dan tindak lanjut. Tahap
prainstruksional juga kurang mendapat perhatian guru.
Faktor yang Memengaruhi Kemampuan Guru
Faktor-faktor yang patut diduga berpengaruh terhadap
kemampuan guru dalam membelajarkan membaca adalah faktor (1)
7
pendidikan, (2) pengalaman mengajar, (3) pengalaman mengajarkan BI,
dan (4) stutus guru di kelas.
Jenjang pendidikan dimiliki guru subjek adalah SLTA
(33,33%), D II (33,33%), dan Sarjana (33,33%). Skor rata-rata
kemampuan guru mengajar adalah 29,75 untuk SLTA, 34,25 untuk D II,
dan 38,83 untuk sarjana. Skor maksimal kemampuan guru adalah 80.
Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan skor pada jenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Akan tetapi, hasil uji beda menunjukkan
tidak adanya perbedaan dengan angka signifikansi 0,101 > 0,05. Hal itu
berarti jenjang pendidikan tidak membedakan secara signifikan terhadap
kemampuan guru dalam membelajarkan membaca.
Pengalaman guru subjek dalam mengajar (mengajarkan apa
saja) merentang mulai 4 tahun sampai dengan 29 tahun. Berdasarkan
pengalaman mengajar, guru subjek penelitian dipilah menjadi tiga, yaitu
kelompok guru baru (3 orang), kelompok guru sedang (2 orang), dan
kelompok guru lama (7 orang). Hasil uji beda ketiga kelompok tersebut
menunjukkan angka signifikansi 0,566. Hal itu berarti lama mengajar
tidak membedakan kemampuan mengajar guru.
Pengalaman guru dalam membelajarkan bahasa Indonesia
merentang mulai 3 tahun sampai dengan 29 tahun. Berdasarkan
pengalaman mengajarkan bahasa Indonesia, guru subjek penelitian
dipilah menjadi tiga, yaitu kelompok guru baru (5 orang), kelompok
guru sedang (2 orang), dan kelompok guru lama (5 orang). Hasil analisis
uji beda antarkelompok menunjukkan taraf signifikansi 0,083 > 0,05.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengalaman mengajarkan
bahasa Indonesia tidak bisa membedakan kemampuan guru dalam
membelajarkan membaca. Meskipun tidak ada perbedaan kemampuan
mengajar, tetapi ada peningkatan skor kemampuan mengajar
berdasarkan lama mengajarkan BI: 29,87 untuk guru baru, 35,67 untuk
guru yang memiliki pengalaman sedang; dan 38,13 untuk guru lama.
Status guru dalam kelas dibedakan atas guru kelas dan guru
mata pelajaran. Sebagian besar (66,67%) guru yang menjadi subjek
penelitian berstatus sebagai guru kelas, sedangkan sisanya (33,33%)
berstatus sebagai guru mata pelajaran. Skor rata-rata kemampuan
mengajar guru adalah 29,17 untuk guru mata pelajaran dan 36,83 untuk
guru kelas. Kemampuan guru kelas lebih tinggi dibandingkan dengan
8
kemampuan guru mata pelajaran. Hasil uji beda anova antarkelompok
menunjukkan angka signifikansi 0,033 < 0,05. Hal itu berarti
kemampuan guru dalam membelajarkan membaca pemahaman antara
kelompok guru kelas dan kelompok guru mata pelajaran berbeda secara
signifikan.
Kemampuan Siswa Memahami Bacaan
Kemampuan siswa memahami isi bacaan didasarkan tes
membaca pemahaman. Dalam penelitian ini tes membaca pemahaman
dipilah menjadi dua, yaitu tes lokal dan tes PIRLS. Persentase rata-rata
kemampuan memahami bacaan berdasar tes lokal adalah 35,64%,
sedangkan kemampuan memahami bacaan berdasar tes PIRLS adalah
33,27%. Kedua jenis tes tersebut berkorelasi positif secara signifikan.
Faktor yang Memengaruhi Kemampuan Membaca Siswa
Faktor-faktor yang diduga dapat memengaruhi pemahaman
siswa dalam membaca dapat dipilah menjadi dua, yaitu faktor diri siswa
dan faktor di luar diri siswa. Faktor diri siswa yang diduga memengaruhi
pemahaman siswa dalam membaca adalah faktor kebiasaan berbahasa
Indonesia dan faktor kebiasaan membaca, sedangkan faktor di luar diri
siswa adalah faktor sekolah.
Kebiasaan berbahasa Indonesia diduga dapat memengaruhi
kemampuan membaca pemahaman. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa persentase kemampuan memahami bacaan siswa kelas IV yang
memiliki kebiasaan berbahasa Indonesia adalah 32,11%; sedangkan
siswa yang memiliki kebiasaan berbahasa lain (selain bahasa Indonesia)
adalah 38,23%. Hasil analisis uji beda menunjukkan ada perbedaan skor
kemampuan membaca siswa yang terbiasa berbahasa Indonesia dan skor
siswa yang terbiasa berbahasa selain bahasa Indonesia (0,000 < 0,05).
Kebiasaan membaca di rumah diduga dapat memengaruhi
kemampuan membaca pemahaman. Dalam penelitian ini kebiasaan
membaca dibedakan atas (1) setiap hari membaca, (2) sering membaca,
(3) jarang membaca, dan (4) tidak pernah membaca. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa skor kemampuan membaca berdasarkan jenjang
kebiasaan membaca di rumah tidak berbeda secara signifikan.
Keberadaan sekolah memungkin menjadi salah satu faktor
penentu kemampuan membaca. Keberadaan sekolah yang dimaksud
9
mencakup berbagai hal yang melingkupi sekolah, antara lain kondisi
ruang belajar, kondisi sarana belajar, kondisi prasarana belajar, kondisi
lingkungan sekolah, metode mengajar, dan kondisi guru sebagai
pengajar. Setiap sekolah dibandingkan dengan sekolah lain. Hasil uji
beda menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas IV dalam memahami
bacaan tidak berbeda antarsekolah.
Pengaruh Kemampuan Guru Mengajarkan Membaca terhadap
Kemampuan Membaca Siswa
Pengaruh kemampuan guru mengajarkan membaca terhadap
kemampuan membaca siswa kelas IV dipilah menjadi lima, yaitu (1)
pengaruh kemampuan guru mengajarkan membaca (berkelompok)
terhadap kemampuan membaca siswa, (2) pengaruh pendidikan guru
terhadap kemampuan membaca siswa, (3) pengaruh pengalaman
mengajar (umum) guru terhadap kemampuan membaca siswa, (4)
pengaruh pengalaman guru mengajarkan bahasa Indonesia terhadap
kemampuan membaca siswa, dan (5) pengaruh status guru dalam kelas
terhadap kemampuan membaca siswa.
Kemampuan guru mengajarkan membaca dikelompokkan
menjadi tiga: tinggi, sedang, dan rendah. Skor kemampuan membaca
siswa yang diajar oleh tiga kelompok guru tersebut dibandingkan untuk
mengetahui perbedaan skor. Hasil uji beda menunjukkan bahwa
kemampuan guru dalam membelajarkan membaca pemahaman
berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam memahami bacaan.
Pendidikan guru diprediksi dapat memengaruhi kemampuan
guru yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kemampuan siswanya.
Pendidikan guru yang menjadi subjek penelitian ini dipilah menjadi tiga,
yaitu SLTA, D II, dan sarjana. Hasil uji beda kemampuan membaca
siswa antarkelompok menunjukkan ketiga kelompok tersebut memiliki
kemampuan yang berbeda secara signifikan sehingga dapat disimpulkan
bahwa jenjang pendidikan guru berpengaruh terhadap kemampuan siswa
dalam membaca pemahaman.
Berdasarkan lama mengajar (mengajar apa saja), guru
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) kelompok guru yang memiliki
pengalaman sangat lama, (2) kelompok guru yang memiliki pengalaman
10
sedang, dan (3) kelompok guru yang memiliki pengalaman sedikit. Hasil
uji beda kemampuan membaca siswa yang diajar oleh tiga kelompok
guru tersebut menunjukkan bahwa pengalaman mengajar guru
berpengaruh terhadap kemampuan membaca siswa.
Berdasarkan lama mengajarkan bahasa Indonesia, guru
dikelompokkan menjadi tiga: (1) kelompok guru yang memiliki
pengalaman sangat lama, (2) kelompok guru yang memiliki pengalaman
sedang, dan (3) kelompok guru yang memiliki pengalaman sedikit. Hasil
uji beda kemampuan membaca siswa yang diajar ketiga kelompok
tersebut menunjukkan bahwa pengalaman guru mengajarkan bahasa
Indonesia berpengaruh terhadap kemampuan membaca siswa.
Simpulan
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas
kemampuan guru kelas IV SD/MI dalam membelajarkan membaca
pemahaman relatif lemah. Secara rinci hasil penelitian ini dapat
dipaparkan sebagai berikut.
1)
2)
3)
4)
Karakteristik sekolah subjek penelitian ini sangat beragam: SD-MI,
kota-desa, negeri-swasta, banyak-sedikit siswa, baik-buruk gedung,
dan sebagainya. Kondisi sekolah secara umum termasuk kategori
menengah ke bawah.
Model penilaian kemampuan guru yang dikembangkan berbentuk
format penilaian kemampuan guru yang secara khusus dirancang
untuk menilai kemampuan guru dalam membelajarkan membaca
pemahaman melalui video. Ada tiga tahap pembelajaran yang
dinilai, yaitu tahap prainstruksional, instruksional, serta tahap
evaluasi dan tindak lanjut. Masing-masing tahap terdiri atas
sejumlah aspek dan indikator penilaian.
Kemampuan guru kelas IV dalam membelajarkan membaca
pemahaman relatif rendah, hanya mencapai 42,85% dari
kemampuan ideal. Kemampuan setiap tahap pembelajaran adalah
sebagai berikut: tahap prainstruksional 29,67% dari ideal, tahap
instruksional 49,55% dari ideal, dan tahap evaluasi 24,75% dari
ideal.
Faktor-faktor yang diduga memengaruhi kemampuan guru dalam
membelajarkan membaca adalah faktor pendidikan, pengalaman
11
5)
6)
7)
mengajar, pengalaman mengajarkan membaca, dan status guru.
Jenjang pendidikan, pengalaman mengajar, dan pengalaman
mengajarkan bahasa Indonesia tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap kemampuan mengajar, sedangkan status guru dalam kelas
berpengaruh terhadap kemampuan mengajar.
Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SD/MI
tergolong rendah, baik menggunakan tes lokal maupun tes PIRLS.
Kemampuan membaca pemahaman siswa hanya mencapai 35,64%
untuk tes lokal dan 33,27% untuk tes PIRLS. Skor tes lokal
berkorelasi secara signifikan dengan tes PIRLS (r 0,673).
Faktor-faktor yang diduga memengaruhi kemampuan membaca
pemahaman siswa kelas IV adalah faktor kebiasaan berbicara
berbahasa Indonesia, kebiasaan membaca di rumah, dan faktor
keadaan sekolah. Faktor kebiasaan berbahasa berpengaruh
signifikan terhadap kemampuan membaca (sig 0,000 < 0,05),
sedangkan kebiasaan membaca dan kondisi sekolah tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan membaca
siswa.
Kemampuan, pendidikan, pengalaman guru dalam membelajarkan
membaca berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan
membaca pemahaman siswa kelas IV, sedangkan status guru di
kelas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan
membaca siswa kelas IV.
Daftar Pustaka
BSNP. (2006). Standar Isi. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.
Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Keterampilan Dasar untuk
Hidup. Literasi Membaca, Matematika, & Sains. Laporan Program
for International Student's Assessment. Jakarta: Pusat Penilaian
Pendidikan.
Depdiknas. (2003). Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta:
Balitbang Depdiknas.
Entwistle, Noel. (1980). Styles of Learning and Teaching. New York: John
Willy & Son.
12
Fokus CM 31. (2008). Mengenal Tipe Gaya Belajar. Jakarta: Wikipedia
[Online].
(http://lead.sabda.org/mengenal_tipe_gaya_belajar_0,
diakses 16 Sepember 208).
Gagne, Robert M. (1992). Principle of Intructio. San Diego: Harcout Baree
Jovanovic College Publishers.
Hasanah, M. 2006. Pembelajaran Kemampuan Berbahasa Indonesia
Berdasarkan Cerita Fiksi Kontemporer Anak-anak untuk Kelas 5
Sekolah Dasar. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: PPs Universitas
Negeri Malang.
Hidayah, Nurul. (2007). Analisis Preposisi dalam Karangan Siswa Kelas IV
SD Negeri Kasin Kota Malang Tahun Ajaran 2006/2007. Skripsi.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Komisi Nasional Pendidikan. (2001). Menuju Pendidikan yang Bermutu dan
Merata. Departemen Pendidikan Nasional.
Mulyani dan Syaodih, N. (2007). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Nasution, S. (1984). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar.
Jakarta: Bina Aksara.
Rahim, Farida. (2007). Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta:
Bumi Aksara.
Rahmat, J. (1998). Psikologi Komunikasi Intra Personal. Bandung: Rosda
Karya.
Subyakto-Nababan, S.U. (1993). Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
Suwignyo, A. (2000). Style Learning. Jakarta: Blogsome [Online].
(http://agussuwignyo.blogsome.com/2007/09/17/artikel-artikelteaching-and-learning-styles/, diakses 18 September 2008).
Suyono. 2005. Pembinaan Perilaku Berliterasi Siswa Berbasis Kegiatan
Ilmiah: Pengembangan Program, Strategi, dan Perangkat
Pendukungnya untuk SMA. Disertasi tidak diterbitkan. Malang:
PPs Universitas Negeri Malang.
Syafi’ie, Imam. (1999). Pengajaran Membaca di Kelas-Kelas Awal Sekolah
Dasar. Pidato pengukuhan guru besar. Malang:Universitas Negeri
Malang.
13
Download