Sistem Hukum Indonesi

advertisement

SUATU KESATUAN YANG TERDIRI DARI BAGIANBAGIAN YANG SALING BERHUBUNGAN SATU SAMA
LAIN, SECARA FUNGSIONAL, SALING TERGANTUNG

DIBATASI DALAM SUATU LINGKUNGAN

PERUBAHAN SUATU BAGIAN BERAKIBAT PADA
BAGIAN YANAG LAIN

MEMBENTUK SUATU KESATUAN KERJA

UNTUK MENCAPAI TUJUAN

KESELURUHAN ATURAN DAN PROSEDUR YANG
SPESIFIK, YANG KARENA ITU DAPAT DIBEDAKAN
CIRI-CIRINYA DARI KAEDAH-KAEDAH SOSIAL
YANG LAIN

PADA UMUMNYA, DAN KEMUDIAN DARI PADA ITU
YANG SECARA RELATIF KONSISTEN DITERAPKAN
OLEH SUATU STRUKTUR OTORITAS YANG
PROFESIONAL

GUNA MENGONTROL PROSES-PROSES SOSIAL
YANG TERJADI DALAM MASYARAKAT
SISTEM HUKUM
3 BAGIAN/KOMPONEN
I.
KOMPONEN STRUKTURAL
BERGERAK DI DALAM SUATU MEKANISME

LEMBAGA PEMBUAT UNDANG-UNDANG

PENGADILAN

PENEGAK HUKUM

BADAN YANG BERWENANG MENERAPKAN HUKUM
II. KOMPONEN SUBSTANSI
HASIL NYATA DARI SISTEM HUKUM
HUKUM IN CONCRETO
(KAIDAH HUKUM INDIVIDUAL)
KEPUTS. KASUS ,YURISPRUDENSI
HUKUM IN ABSTRACTO
(KAIDAH HUKUM UMUM)
DASAR HK INDIVIDU BAGI
SIAPA SAJA
III. KOMPONEN BUDAYA HUKUM
SIKAP PUBLIK /WARGA MASYARAKAT BESERTA NILAINILAI YANG DIPEGANG

HUKUM KELUARGA

HUKUM WARIS
ELEMEN SISTEM HUKUM
1.
SEPERANGKAT KAEDAH/ ATURAN TINGKAH- LAKU
2.
TATA CARA PENERAPAN
3.
TATA CARA MENYELESAIKAN SENGKETA
4.
TATA CARA UNTUK PEMBUATAN HUKUM ATAU
PERUBAHAN HUKUM

SISTEM HUKUM MERUPAKAN SISTEM PERTANGGAAN
KAEDAH

SUATU HUKUM YANG TINGKATNYA LEBIH RENDAH HARUS
BERDASAR PADA HUKUM YANG LEBIH TINGGI SIFATNYA

BERSUMBER PADA NORMA DASAR YANG DISEBUT
GRUNDNORM

TEORI : STUFENBAU
UKURAN UNTUK SISTEM HUKUM
8 ASAS PRINCIPLES OF LEGALITY
1. MENGANDUNG ATURAN-ATURAN
2. PERATURAN HARUS DIUMUMKAN
3.TIDAK BOLEH ADA PERATURAN YANG BERLAKU SURUT
4. DISUSUN DALAM RUMUSAN YANG BISA DIMENGERTI
5. TIDAK BOLEH MENGANDUNG PERATURAN YANG
BERTENTANGAN SATU SAMA LAIN
6.
TIDAK BOLEH MENGANDUNG TUNTUTAN YANG
MELEBIHI APA YANG DAPAT DILAKUKAN
7.
TIDAK BOLEH ADA KEBIASAAN UNTUK SERING
MENGUBAH-UBAH PERATURAN SEHINGGA
MENYEBABKAN SEORANG KEHILANGAN
ORIENTASI
8.
HARUS ADA KECOCOKAN ANTARA PERATURAN
YANG DIUNDANGKAN DENGAN
PELAKSANAANNYA SEHARI-HARI
1.

SISTEM HUKUM EROPA KONTINENTAL
BERKEMBANG DI NEGARA -NEGARA EROPA
DARATAN

SERING DISEBUT SEBAGAI "CIVIL LAW"

BERASAL DARI KODIFIKASI HUKUM YANG BERLAKU
DI KEKAISARAN ROMAWI MASA PEMERINTAHAN
KAISAR YUSTINIANUS ABAD VI S.M.

KUMPULAN PERATURAN HUKUMNYA DISEBUT
"CORPUS JURIS CIVILIS"

DIANUT, DIJADIKAN DASAR PERUMUSAN NEGARANEGARA : JERMAN, BELANDA, PERANCIS, ITALIA,
AMERIKA LATIN, ASIA, INDONESIA
(DJAMALI,1996 : HAL 68-74)
HUKUM
MEMPEROLEH KEKUATAN MENGIKAT, KARENA
DIWUJUDKAN DALAM PERATURAN-PERATURAN YANG
BERBENTUK UNDANG-UNDANG DAN TERSUSUN SECARA
SISTEMATIK DI DALAM KODIFIKASI ATAU KOMPILASI
TERTENTU
TUJUAN
HUKUM: KEPASTIAN HUKUM (NILAI UTAMA)
HANYA DAPAT DIWUJUDKAN KALAU TINDAKAN-
TINDAKAN HUKUM MANUSIA DI DALAM PERGAULAN
HIDUP DIATUR DENGAN PERATURAN HUKUM TERTULIS

HAKIM TIDAK DAPAT LELUASA MENCIPTAKAN HUKUM
YANG MEMPUNYAI KEKUATAN MENGIKAT

HAKIM BERFUNGSI MENETAPKAN DAN MENAFSIRKAN
PERATURAN DALAM BATAS-BATAS WEWENANGNYA
2. SISTEM HUKUM ANGLO-SAXON
 SISTEM
HUKUM ANGLO SAXON = SISTEM HUKUM
ANGLO AMERIKA
 ASAL:
DARI INGGRIS ABAD XI, SERING DISEBUT
SEBAGAI SISTEM " COMMON LAW" DAN SISTEM
"UNWRITTEN LAW". TAPI TIDAK SEPENUHNYA BENAR,
DIKENAL JUGA ADANYA SUMBER-SUMBER HUKUM
TERTULIS (STATUTES)
 MERUPAKAN
SISTEM HUKUM POSITIF DI AMERIKA
UTARA, KANADA, BEBERAPA NEGARA ASIA, INGGRIS,
AUSTRALIA, AMERIKA SERIKAT
 SUMBER
HUKUM : PUTUSAN-PUTUSAN HAKIM DAN ATAU
PENGADILAN, MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM.
 PRINSIP-
PRINSIP DAN KAEDAH HUKUM DIBENTUK DAN
MENJADI KAEDAH YANG MENGIKAT UMUM.
 SUMBER-SUMBER
HUKUM, SEPERTI PUTUSAN HAKIM,
KEBIASAAN, PERATURAN TERTULIS, UNDANG-UNDANG, DAN
PERATURAN ADMINISTRASI NEGARA TIDAK TERSUSUN
SECARA SISTEMATIK DALAM HIERARKI TERTENTU
PERANAN
HAKIM BERFUNGSI TIDAK HANYA SEBAGAI PIHAK
YANG BERTUGAS MENETAPKAN DAN MENAFSIRKAN
PERATURAN HUKUM SAJA, JUGA MEMBENTUK SELURUH
TATA KEHIDUPAN MASYARAKAT
HAKIM
MEMPUNYAI WEWENANG SANGAT LUAS UNTUK
MENAFSIRKAN PERATURAN HUKUM YANG BERLAKU DAN
MENCIPTAKAN PRINSIP-PRINSIP HUKUM BARU
HUKUM
BARU AKAN MENJADI PEGANGAN BAGI HAKIMHAKIM LAIN UNTUK MEMUTUSKAN PERKARA SEJENIS
THE DOCTRINE OF PRECEDENT/
STARE DECISIS
 HUKUM
YANG SUDAH ADA DI DALAM PUTUSAN
HAKIM LAIN DARI PERKARA SEJENIS SEBELUMNYA
HAKIM HARUS MENDASARKAN PADA PRINSIP
SEBELUMNYA (PRESEDEN)

BILA BELUM ADA PUTUSAN TERDAHULU, HAKIM
DALAM MEMUTUSAKAN PERKARA SESEORANG
DAPAT MENETAPKAN PUTUSAN BARU BERDASAR
KAN NILAI-NILAI KEADILAN, KEBENARAN AKAL
SEHAT

KARENA BERKEMBANG DARI PUTUSAN HAKIM
UNTUK SUATU PERKARA ATAU KASUS, MAKA SISTEM
INI SERING DISEBUT SEBAGAI CASE LAW
3. SISTEM HUKUM ADAT
 SISTEM HUKUM ADAT HANYA DALAM KEHIDUPAN
SOSIAL DI INDONESIA

ISTILAHNYA BERASAL DARI BAHASA BELANDA
"ADATRECHT", OLEH SNOUCK HURGRONJE
 PENGERTIAN HUKUM ADAT MENGANDUNG
MAKNA: HUKUM INDONESIA DAN KESUSILAAN
MASYARA KAT MERUPAKAN HUKUM ADAT
 BERSUMBER PADA PERATURAN-PERATURAN
HUKUM TIDAK TERTULIS YANG TUMBUH
BERKEMBANG DAN DIPERTAHANKAN DNG
KESADARAN HUKUM MASYARAKATNYA
BERSIFAT TRADISIONAL DENGAN BERPANGKAL KEPADA
KEHENDAK NENEK MOYANG
DAPAT BERUBAH TERGANTUNG DARI PENGARUH
KEJADIAN DAN KEADAAN HIDUP YANG SILIH BERGANTI
PEMUKA ADAT BERPERAN MELAKSANAKAN SISTEM
HUKUM ADAT. PENGARUHNYA BESAR, PEMIMPIN YANG
DISEGANI, MENJAGA KEUTUHAN HIDUP SEJAHTERA
PEMUKA
ADAT DIANGGAP SBG ORANG YANG
PALING MAMPU MENJALANKAN DAN MEMELIHARA
PERATURAN, SELALU DITAATI MASYARAKATNYA
BERDASARKAN KEPERCAYAAN PADA NENEK MOYANG
PERANAN
INI DAPAT MENGUBAH HUKUM ADAT
SESUAI KEBUTUHAN MASYARAKAT TANPA MENGHAPUS
KEPERCAYAAN DAN KEHENDAK SUCI NENEK MOYANG
4.SISTEM HUKUM ISLAM
DIANUT OLEH MASYARAKAT ARAB, BERKEMBANG DI ASIA,
AFRIKA, EROPA DAN AMERIKA SECARA INDIVIDUAL/
KELOMPOK
BERSUMBER HUKUM PADA : QURAN, SUNAH NABI, IJMA DAN
QIYAS
DASAR HUKUM: MENGATUR SEGI PEMBANGUNAN, POLITIK,
SOSIAL, EKONOMI DAN BUDAYA

SISTEM HUKUM DALAM HUKUM FIKH TERDIRI DARI
DUA HUKUM POKOK YAITU HUKUM ROHANIAH
DISEBUT IBADAT. HUKUM DUNIAWI TERDIRI DARI :

MUAMALAT TATA TERTIB HUKUM ANTAR MANUSIA
(JUAL BELI, HK. TANAH, HAK MILIK DLL)

NIKAH YAITU MEMBENTUK KELUARGA

JINAYAT YAITU HUKUM PIDANA, ANCAMAN
HUKUMAN TERHADAP HUKUM ALLAH DAN
KEJAHATAN
1. SUBYEK HUKUM

SETIAP PIHAK YANG MENJADI PENDUKUNG

HAK DAN KEWAJIBAN
BERUPA:
1.1. PRIBADI KODRATI
1.2. PRIBADI HUKUM
1.3. PEJABAT/TOKOH
2. HAK DAN KEWAJIBAN
HAK :
SUATU KEBOLEHAN UNTUK MELAKUKAN SESUATU
/ TIDAK MELAKUKAN SESUATU.
WEWENANG YANG DIBERIKAN OLEH HUKUM
PADA SUBYEK HUKUM.
KEWAJIBAN : TUGAS YANG DIBEBANKAN OLEH HUKUM
PADA SUBYEK HUKUM.
PALING PENTING KEWAJIBAN UNTUK TIDAK
MENYALAH GUNAKAN HAK.
ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN TERDAPAT HUBUNGAN
KORELATIF
HAK DIBATASI KEWAJIBAN
KEWAJIBAN : TUGAS YANG DIBEBANKAN OLEH HUKUM
PADA SUBYEK HUKUM
3. PERISTIWA HUKUM
 PERISTIWA YANG MEMBAWA AKIBAT HUKUM
 KEJADIAN YANG MENIMBULKAN/ MENGHAPUSKAN
HAK/KEWAJIBAN
 PERISTIWA SOSIAL BERSEGI HUKUM
PERISTIWA HUKUM DAPAT
BERUPA :
1.
PERILAKU DALAM HUKUM: SIKAP TINDAK YANG
MEMPUNYAI AKIBAT HUKUM
1. PERILAKU MENURUT HUKUM
1.1. SEPIHAK
1.2. JAMAK PIHAK
1.3. SEREMPAK
2. PERILAKU YANG BERTENTANGAN DENGAN
MELANGGAR HUKUM
3. ZAAKWARNEMING
2. KEJADIAN MISALNYA : KELAHIRAN
3. KEADAAN, YANG TIDAK DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN
4. HUBUNGAN HUKUM
MERUPAKAN HUBUNGAN-HUBUNGAN DALAM
HUKUM, SEBAGAI IKATAN HAK DAN KEWAJIBAN
ANTAR SUBYEK HUKUM
5. OBYEK HUKUM
YAITU SEGALA SESUATU MENJADI OBYEK DARI
HUBUNGAN HUKUM. ADAKALANYA OBYEK HUKUM
DINAMAKAN BENDA, YANG DIBEDAKAN :
A. BENDA YG BERWUJUD DAN YG TIDAK
BERWUJUD
B. BENDA YG BERGERAK DAN BENDA TDK
BERGERAK
 YUDHO, WINARNO DAN AGUS BROTOSUSILO,
1986. MATERI POKOK SISTEM HUKUM INDONESIA.
PAJA 3131, MODUL 1-6. JAKARTA : KARUNIKA
DAN
UNIV TERBUKA
 DJAMALI, R. ABDOEL, 1993. PENGANTAR HUKUM
INDONESIA. ED.2., CET 3. JAKARTA: RAJA
GRAFINDO PERSADA.
Tertulis
 Tidak tertulis : hukum adat, hukum
kebiasaan






MPR berwenang mengubah dan menetapkan
UUD (pasal 7 ayat 1)
DPR memegang kekuasaan membentuk UU (pasal
20 ayat 1)
Setiap rancangan UU dibahas oleh DPR dan
Presiden untuk mendapat persetujuan besama
(pasal 20 ayat 2)
Presiden berhak mengajukan RUU kepada DPR
(pasal 5 ayat 1)
Dalah hal ihwal kepentingan yang memaksa
Presiden berhak menetapkan PP sebagai
pengganti UU (pasal 22 ayat 1)
Hukum Publik :
Hukum yang melindungi kepentingan
umum/ negara
 Hukum Privat :
Hukum yang melindungi kepentingan
privat/ perorangan. Misalnya : jual beli,
sewa menyewa.

Hukum pidana adalah bagian dari
hukum publik
 Hukum internasional dapat bersifat
publik maupun privat
 Hukum tentang Negara adalah bagian
dari hukum publik

Hukum privat sama dengan hukum
perdata dalam arti luas.
 Kitab UU Hukum Dagang (KUHD) dan Kitab
UU Hukum Perdata (KUHP – Burgerlijk
Wetboek) adalah hasil kodifikasi hukum
perdata Eropa yang pada waktu ini
berlaku di Indonesia.
 Kodifikasi adalah membukukan hukum ke
dalam kitab UU secara sistematis dan
lengkap.
 Hukum bisnis/ hukum ekonomi :
berkembang pada masa Orde Baru
dengan rujukan sebagian besar kepada

Hukum Indonesia dapat dibagi atas :
1.
Hukum adat/ hukum kebiasaan
2.
Hukum perdata dan hukum dagang Eropa
3.
Hukum acara perdata
4.
Hukum pidana
5.
Hukum acara pidana
6.
Hukum tata negara
7.
Hukum administrasi negara
8.
Hukum internasional
9.
Hukum Islam (?)
(Bachsan Mustafa)
Masih berlaku peraturan-peraturan hukum
jaman Hindia Belanda melalui Pasal II
Aturan Peralihan UUD 1945 : “Segala
peraturan perundang-undangan yang ada
masih tetap berlaku selama belum
diadakan yang baru menurut UUD ini.”
 Beberapa peraturan perundang-undangan
dari tatanan hukum pada zaman Belanda
yang belum diganti dengan yang baru,
adalah Pasal 163 dan 131 IS (indische Staats
Regeling)

I.
1.
2.
3.
Berdasarkan pasal 163 I.S. penduduk Hindia
Belanda dibagi dalam 3 golongan :
Semua warga negara Belanda;
Semua yang tidak disebut pada nomor satu di
atas yang berasal dari Eropa;
a. Semua warga negara Jepang;
b. Semua orang yang berasal dari tempat lain
yang tidak termasuk ke dalam no 1 dan no 2 di
tanah asalnya mempunyai hukum keluarga yang
dalam asasnya bersamaan dengan hukum
keluarga Eropa. Anak dari nomor 2 dan nomor 3
yang dilahirkan di Indonesia secara sah atau
menurut UU yang diakui dan turunan mereka
selanjutnya.
II.
III.
Golongan Timur Asing berdasarkan Pasal
163 (4) adalah mereka yang tidak
termasuk ke dalam golongan bumiputera
dan golongan Eropa, yaitu orang-orang
India, Pakistan, Arab, Cina dan
sebagainya.
Golongan Bumiputera (Indonesia Asli)
berdasarkan pasa 161 (3) adalah orangorang Indonesia Asli yang turun temurun
menjadi penghuni dan bangsa
Indonesia.
Termasuk ke dalam Golongan
Bumiputera adalah :
1. Mereka yang termasuk pribumi yang
tidak pindah ke golongan lain
2. Mereka yang tadinya termasuk ke
dalam golongan lain tapi telah
meleburkan diri ke dalam golongan
bumiputera.

Berdasarkan pasal 131 ayat 29 :
Untuk golongan Eropa berlaku Hukum
Perdata dan Hukum Dagang Eropa
seluruhnya tanpa kecuali.
2. Berdasarkan pasal 131 ayat 26 :
Untuk golongan Bumiputera berlaku hukum
perdata adat yang sinonim dengan
hukum yang tidak tertulis
1.
III.
a.
b.
Berdasarkan Staatsblad 1917 – 129
Golongan Timur Asing China
Golongan Timur Asing Bukan China.
Hukum perdata berlaku untuk golongan Timur
Asing China adalah hukum perdata dan
hukum dagang Eropa seluruhnya, kecuali
mengenai kongsi dan adopsi,masih
berlaku hukum adat golongan Timur
Asing China.

Hukum perdata yang berlaku untuk
golongan Timur Asing bukan China yakni
orang-orang India, Pakistan, Arab, Parsi
dan sebagainya berlaku hukum perdata
dan hukum dagang Eropa, kecuali
hukum keluarga dan hukum waris tanpa
surat wasiat masih berlaku huum adat
mereka masing-masing.
Download