bab iv hasil pengamatan dan pembahasan

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI ANALITIK (BM-3202)
PEMBUATAN TEMPE GEMBOES DARI AMPAS TAHU
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Isolasi dan Identifikasi Mikroba Tempe Gemboes
Mikroba yang berperan dalam pembuatan tempe gemboes diisolasi dari sampel tempe gemboes asli
Jawa Tengah. Mikroba tersebut ditumbuhkan pada medium PDA dan diinkubasi selama 2x24 jam.
Berikut ini komposisi medium PDA. Komposisi medium PDA dapat dilihat dari tabel 3.1
Tabel 3.1 Komposisi medium PDA (Cappucino, 2005)
kandungan
Jumlah
Ekstrak kentang 200 gram
Glukosa
10 gram
agar
15 gram
Akuades
1L
Sampel dicuplik dari tempe gemboes sebanyak kurang lebih 1 x 1 cm2 kemudian diionokulasi pada PDA
dengan metode tanam dan diinkubasi pada suhu ruang selama 2 x 24 jam. Setelah diinkubasi, terdapat
miselium yang tumbuh dan beberapa koloni tunggal bakteri pada PDA. Sampel miselium kemudian
diamati secara mikroskopis dengan pewarna lactophenol cotton blue. Sampel bakteri yang diperoleh
juga diamati dengan metode pewarnaan gram.
Sampel fungi yang diduga merupakan jenis Rhizopus Sp, kemudian di kultur ulang pada medium PDA di
tabung reaksi selama 2 x 24 jam untuk mendapatkan isolat murni. Isolat murni yang diperoleh
ditumbuhkan pada medium PDA pada tabung roux selama 2 x 24 jam untuk memperoleh spora dan
miselium yang lebih banyak. Spora yang dihasilkan dibuat suspensi dengan melarutkannya di campuran
NaCl 0,85% dan tween. Suspensi spora yang diperoleh kemudian digunakan pada proses pembuatan
tempe gemboes selanjutnya.
3.2. Perlakuan Variasi Pembungkus Tempe Gemboes
Alur kerja perlakuan variasi pembungkus tempe gemboes diilustrasikan pada diagram di bawah ini.
•dicuci
•dikukus
•ditambahkan
inokulum
(suspensi spora)
substrat ampas
tahu
substrat dan
inokulum
•dibungkus
dengan variasi
plastik, daun
pisang, daun
jati, dan kertas
nasi
•diinkubasi 2 x
24 jam
•diukur pH, biomassa
kering setiap 8 jam
•uji kadar protein di
akhir inkubasi
•uji toksisitas
•uji konfirmasi
mikroba
tempe gemboes
Gambar 3.1 alur kerja variasi pembungkus tempe gemboes
3.2.1. Substrat Ampas Tahu
Substrat ampas tahu diperoleh secara langsung dalam keadaan segar dari pabrik tahu X di daerah Dago.
Substrat kemudian direndam dan dicuci dalam air bersih selama 30 menit dengan perbandingan 1 kg
substrat : 2 liter air bersih. Setelah direndam, rendaman ampas tahu disaring dan diperas menggunakan
kain saring hingga benar-benar kering. Ampas tahu yang telah kering kemudian dikukus selama 30
menit. Ampas tahu yang telah dikukus kemudian ditiriskan dan didinginkan secara alami pada wadah
yang berpermukaan luas. Selanjutnya suspensi spora / inokulum diinokulasikan (tidak secara aseptis)
pada ampas tahu yang telah dingin secara merata.
3.2.2. Substrat dan Inokulum
Substrat ampas tahu yang telah ditambahkan inokulum kemudian dibungkus dengan ukuran yang
disesuaikan; dengan empat variasi pembungkus, yakni daun pisang, daun jati, kertas nasi, dan plastik.
ampas tahu yang telah ditambahkan inokulum dan dibungkus kemudian diinkubasi selama 2 x 24 jam
pada suhu ruang. Selain membuat substrat ampas tahu dengan perlakuan penambahan inokulum,
dilakukan juga pembuatan substrat ampas tahu yang tidak ditambahkan inokulum, yakni substrat
kontrol dengan variasi pembungkus yang sama dengan substrat perlakuan.
3.2.3. Tempe gemboes
Selama masa inkubasi, setiap 8 jam, substrat ampas tahu yang telah ditambahkan inokulum diamati
perubahan pH dan biomassa keringnya. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH dan
dilakukan pada setiap perlakuan variasi pembungkus. Pengukuran biomassa kering dilakukan dengan
mengeringkan ampas tahu pada incubator 55oC selama 24 jam terlebih dahulu sebelum ditimbang
menggunakan neraca analitik. Setelah 2 x 24 jam, akan terbentuk jalinan miselium di antara partikel
ampas tahu sehingga menyerupai tempe. Saat itulah tempe gemboes telah berhasil dibuat. Tempe yang
berhasil dibuat kemudian diuji keberadaan proteinnya dengan metode Lowry. Selain itu, juga dilakukan
uji toksisitas pada tempe gemboes dan uji konfirmasi mikroba yang berperan.
Uji Toksisitas
Uji toksisitas dilakukan dengan menginokulasi sampel tempe gemboes dari berbagai varian pembungkus
ke medium NA yang telah diinokulasikan bakteri uji. Bila terdapat zona hambat pada medum tersebut,
maka diasumsikan tempe gemboes mengandung senyawa kimia penghambat fisiologis aktif. Bakteri uji
yang digunakan adalah Escherechia.coli, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Bacillus
cereus. Keempat bakteri uii diinokulasi terlebih dahulu pada medium NA dengan metode spread secara
terpisah. Kemudian sampel tempe gemboes diinokulasikan pada setiap medium yang sudah terinokulasi
masing-masing sampel bakteri. Setelah itu, diinkubasi selama 2 x 24 jam dan diamati ada atau tidaknya
zona hambat yang terbentuk.
UJi Konfirmasi MIkroba
Uji konfirmasi mikroba dilakukan dengan mnginokulasi sampel tempe gemboes pada medium MEA agar
dan Czapek agar. Cuplikan tempe gemboes sebanyak 1 x 1 cm2 diinokulasikan pada pertengahan
medium Czapek dan MEA agar dengan metode tanam. Setelah itu, diinkubasi selama 2 x 24 jam pada
suhu kamar (25oC). setelah 2 x 24 jam, diamati mikroba yang tumbuh pada medium tersebut, mikroba
yang tumbuh merupakan fungi bermiselium. Fungi tersebut kemudian diamati secara mikroskopis.
UJi Keberadaan Protein
Keberadaan protein pada tempe gemboes diuji dengan metode Lowry.
Uji Organoleptik
Uji organoleptik meliputi pengujian rasa, aroma, dan warna. Uji ini melibatkan 30 responden di kalangan
mahasiswa SITH ITB.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Isolasi dan Identifikasi Mikroba Tempe Gemboes
Hasil identifikasi morfologi isolat mikroba yang diperoleh dari tempe gemboes asli Jawa Tengah
menunjukkan bahwa mikroba yang berperan dalam pembentukan tempe gemboes adalah fungi dari
kelompok Rhizopus Sp. Mikroba lain yang teridentifikasi adalah bakteri jenis gram negatif berbentuk
basil. Hasil pengamatn dapat dilihat di tabel 4.1
Tabel 4.1 Isolasi Miroba Tempe Gemboes
Keterangan Umum :
Tanggal Perlakuan
Tanggal Pengamatan
Medium
Sampel
Deskripsi
17 Februari 2010
17 Februari 2010
PDA
Tempe gembus
Isolasi dilakukan dengan
metode tanam. Tempe gembus
dari Kota X.
17 Februari 2010
18 Februari 2010
PDA
Tempe gemboes
Terdapat dua jenis mikroba, yaitu bakteri
(lingkaran merah) dan jamur (lingkaran biru)
Tabel 4.2 hasil Identifikasi Mikroba Tempe Gemboes
Hasil identifikasi terhadap mikroba 1 (jamur)
Keterangan umum :
Tanggal Pengamatan
Reagen
Perbesaran
Deskripsi
20 Februari 2010
Lactophenol cotton blue
400 x
Dilihat dari morfologinya, jamur tersebut
merupakan jamur Rhizopus sp.
Tabel 4.3 Hasil Identifikasi Mikroba Tempe Gemboes
Hasil identifikasi terhadap mikroba 2 (bakteri)
Keterangan umum :
Tanggal Pengamatan
Pewarnaan
Perbesaran
Deskripsi
20 Februari 2010
Gram
1000 x
Koloni bakteri berbentuk basil pendek dan
merupakan bakteri Gram negatif.
Meskipun terdapat bakteri yang terisolasi dari tempe gemboes, fungi merupakan mikroba yang dominan
terdapat pada tempe gemboes. Hal tersebut disebabkan karena fungi berperan besar dalam
pembentukan tekstur tempe yang padat. Ampas tahu yang berbentuk bubuk direkatkan satu sama lain
oleh bantuan jalinan miselium dari fungi tersebut.
Isolat fungi yang diperoleh dibandingkan dengan literatur, dan fungi tersebut serupa dengan fungi jenis
Rhizopus Sp. Hal tersebut didasarkan pada morfologi yang serupa antara isolat fungi yang diperoleh dan
morfologi Rhizopus Sp pada literatur. Berikut ini perbandingan antara morfologi literatur dan isolat
fungi.
Gambar 4.1. Perbandingan morfologi isolate fungi tempe gemboes
Isolat fungi dari tempe gemboes
Morfologi fungi (Madigan, 2008)
Rhizopus ditemukan sebagai mikroba dominan yang berperan dalam pembentukan tempe gemboes.
Aktivitas enzim protease dan lipase yang dimiliki fungi tersebut diasumsikan sebagai penyebab utama
dominasi Rhizopus pada tempe gemboes. Rhizopus memiliki enzim lipase dan protease yang mampu
menguraikan asam lemak dan protein pada substrat menjadi asam lemak esensial rantai pendek dan
asam amino esensial Selain itu, Rhizopus mampu memanfaatkan isoflavon pada kedelai menjadi
aglukanase yang memilki aktivitas antioksidan (Handajani et al . , 2001). Hal tersebut yang membuat
Rhizopus mendominasi substrat ampas tahu.
Fungi yang diperoleh kemudian disubkultur pada medium PDA dalam tabung reaksi dan tabung roux
selama 4x24 jam pada suhu inkubasi 25oC. Diperoleh hasil pengamtan sesuai dengan gambar 4.2
Subkultur ke-1
Deskripsi : fungi menghasilkan spora berwarna
hitam
Subkultur ke-2
Deskripsi : jamur memproduksi spora berwarna
hitam
Gambar 4.2 hasil subkultur Fungi dominan pada tempe gemboes
4.2. Perlakuan Variasi Pembungkus Tempe Gemboes
Spora yang dihasilkan dari subkultur fungi pada tabung roux, dibuat suspensi. Suspensi spora dibuat
dengan cara melarutkan spora pada NaCl 0,85% yang dicampur tween. Campuran larutan tersebut
berfungsi sebagai cairan fisiologis yang mampu menjaga fisiologis spora, tetapi tidak menginisiasi
germinasi. Tween berguna sebagai surfaktan NaCl supaya spora dapat tercampur dengan baik pada
larutan tersebut.
Ampas tahu yang telah direndam, dikeringkan, dan dikukus kemudian diinokulasikan spora Rhizopus
yang telah dibuat sebelumnya. Substrat ampas tahu yang telah diinokulasikan spora Rhizopus kemudian
dibungkus dengan empat variasi pembungkus; yakni daun pisang, daun jati, plastic, dan kertas
pembungkus makanan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada gambar 4.3.
Gambar 4.3. hasil pengamatan variasi pembungkus tempe gemboes
variasi
Inkubasi 1x24 jam
Setelah 2x24 jam
Daun pisang
Terbentuk sedikit miselia
yang meliputi ampas tahu
Daun jati
Kertas pembungkus
Telah terbentuk miselia
yang merekatkan ampas
tahu
Terbentuk sedikit miselia
yang meliputi ampas tahu
Telah terbentuk miselia
yang merekatkan ampas
tahu
Terbentuk sedikit miselia
yang meliputi ampas tahu
Telah terbentuk miselia
yang merekatkan ampas
tahu
plastik
Secara umum, variasi pembungkus tempe gemboes memberikan hasil yang serupa. Tetapi tiap variasi
memberikan kualitas hasil yang berbeda, terutama pada rasa, tekstur, aroma, dan stabilitas mutu
tempe. Tiap variasi diukur pH dan berat kering setiap 6 jam; dan di akhir pengamatan diukur kadar
protein dengan metode Lowry, uji organoleptik, uji toksisitas, dan uji konfirmasi mikroba.
4.2.1 Pengukuran pH dan Berat Kering
kertas nasi
8
6
4
pH
2
berat kering
0
0
20
40
60
waktu (jam)
Variasi pembungkus kertas nasi menghasilkan pH dan berat kering yang stabil. pH tempe gemboes
cenderung stabil berkisar antara 5-6. Pada awal pengamatan, pH tempe gemboes adalah 5 dan naik
pada penagamtan 20 jam hingga 50 jam, hal tersebut disebabkan oleh aktivitas katabolisme protein oleh
enzim protease Rhizopus. Protease menguraikan protein menjadi asam amino yang memberikan sifat
basa akibat penguraian lebih lanjut menjadi ammonia dalam kadar sedikit. Di akhir inkubasi, pH kembali
menurun menjadi 5 kemungkinan disebabkan oleh aktivitas Rhizopus yang menurun karena telah
memasuki fasa stasioner. Penumpukan sel mati pada fasa kematian kemungkinan dapat menurunkan pH
kemungkinan karena karbohidrat penyusun komponen sel difermentasi menjadi asam dalam kadar
sedikit.
Berat kering tempe gemboes cenderung stabil di sekitar 5 gram, tetapi mengalami penurunan pada saat
pengamatan pada jam ke-20. Kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh pemanasan yang terlalu lama
atau penimbangan berat yang kurang akurat. Kestabilan berat kering tempe gemboes disebabkan
karena tidak adanya penambahan massa tempe gemboes secara signifikan. Di akhir pengamatan, berat
kering tempe gemboes meningkat disebabkan oleh penambahan massa dari miselium Rhizopus yang
merekatkan substrat ampas tahu.
daun jati
8
6
4
pH
2
berat kering
0
0
20
40
60
waktu (jam)
Tempe gemboes dengan variasi pembungkus daun jati mengalami perubahan pH yang signifikan pada
waktu inkubasi jam ke-10 hingga 30, dan mulai mneurun pada jam ke-40 hingga 60. Perubahan pH pada
waktu inkubasi 10 jam kemungkinan disebabkan oleh aktivitas protease Rhizobium yang mengurai
protein menjadi asam amino. Asam amino kemungkinan diurai lebih lanjut menjadi ammonia yang
dapat memberikan sifat basa. Penurunan pH pada masa inkubasi selanjutnya kemungkinan disebabkan
oleh pertumbuhan Rhizobium yang memasuki fasa stasioner dan menurunnya kemampuan enzim
protease. Selain itu, mikroflora normal pada daun jati kemungkinan turut memfermentasi karbohidrat
penyusun sel Rhizobium menjadi asam.
Berat kering tempe gemboes meningkat secara signifikan di tiap tahap waktu inkubasi. Hal tersebut
disebabkan penambahan massa yang berasal dari pertumbuhan miselium yang merekatkan substrat
tempe gemboes.
plastik
7
pH I
6
5
4
Biomassa (g)
Inokulum(I)
Akhir
3
2
1
0
0
2
4
6
8
Tempe gemboes dengan variasi pembungkus plastik mempunyai pH yang berubah sejak waktu inkubasi
jam ke-10 hingga 30 dan menurun pada akhir waktu inkubasi. Hal tersebut disebabkan oleh aktivitas
protease Rhizobium yang meningkat pada fase log (jam ke-10 hingga 30) sehingga menghasilkan
ammonia pada asam amino yang bersifat basa; dan aktivitas protease menurun di akhir waktu inkubasi
(fase kematian) sehingga pH kembali menurun akibat fermentasi karbohidrat penyusun sel Rhizobium
oleh bakteri pada plastik. plastic yang digunakan tidak sterilisasi sebelunya, akibatnya terkandung
mikroba selain Rhizobium (termasuk bakteri pemfermentasi) yang cukup banyak.
Peningkatan massa tempe gemboes disebabkan oleh penambahan miselium yang merekatkan ampas
tahu. Penurunan massa pada beberapa waktu inkubasi kemungkinan disebabkan oleh kesalahan teknis
praktikan.
daun pisang
8
6
4
pH
2
biomassa kering
0
0
20
40
60
waktu (jam)
Tempe gemboes dengan variasi pembungkus daun pisang mempunyai pH yang berubah sejak waktu
inkubasi jam ke-10 hingga 30 dan menurun pada akhir waktu inkubasi. Hal tersebut disebabkan oleh
aktivitas protease Rhizobium yang meningkat pada fase log (jam ke-10 hingga 30) sehingga
menghasilkan ammonia pada asam amino yang bersifat basa; dan aktivitas protease menurun di akhir
waktu inkubasi (fase kematian) sehingga pH kembali menurun akibat fermentasi karbohidrat penyusun
sel Rhizobium oleh mikroflora normal pada daun pisang.
Peningkatan massa tempe gemboes disebabkan oleh penambahan massa miselium yang meliputi
substrat ampas tahu. Massa miselium bertambah seiring dengan pertumbuhannya dan tidak berkurang
di akhir waktu inkubasi meskipun mengalami fasa kematian.
Data pengamatan pH dan berat kering tempe gemboes ditampilkan pada grafik tersebut. Berdasarkan
hasil pengamatan dan pembahasan tiap perlakuan, diasumsikan ba
4.3. Uji Toksisitas
Hasil uji toksisitas ditampilkan pada gambar 4.8 dibawah ini.
Gambar 4.8. uji toksisitas isolat tempe gemboes pada pengamatan 1x24 jam (kiri) dan 2x24 jam(kanan)
Uji toksisitas yang dilakukan menggunakan bakteri uji, yakni Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa,
Bacillus cereus, dan Staphylococcus aureus. Pemilihan keempat bakteri tersebut berdasarkan
representasi mikroba gram positif dan gram negative. Apabila tempe gemboes memiliki zat fisiologis
aktif, maka akan terbentuk zona hambat atau zona pertumbuhan yang signifikan dari keempat mikroba
uji. Hasil memberikan fakta bhawa sampel tempe gemboes tidak memberikan zat fisiologis penghambat
pertumbuhan pada medium yang telah diinokulasikan keempat bakteri uji. Hal tersebut dimungkin
karena tempe gemboes yang dibuat berasal dari substrat ampas tahu yang bersih, sehingga gidak
memberikan substrat yang bisa menghasilka toksin. Selain itu, Rhizopus tidak menghasilkan senyawa
toksin dalam menguraikan protein pada proses pembuatan tempe.
4.4. Uji Konfirmasi Mikroba
Sampel tempe gemboes yang diinokulasikan pada medium Czapek dan MEA agar mengahsilkan isolate
fungi Rhizopus, sesuai dengan hasil isolasi sebelumnya. Digunakan medium Czapek agar dan MEA karena
kedua medium tersebut bersifat diferensial untuk mikroba yang bermiselium, yakni jenis fungi terutama
yang berasal dari tanah (Guller, 2008). Medium tersebut digunakan selain untuk mengkonfirmasi
mikroba uji, juga untuk mendeteksi keberadaan mikroba pencemar dari tanah.
4.5. Uji Keberadaan Protein
4.6. Uji Organoleptik
Uji organoleptik dilakukan dengan 30 responden yang mencoba tester tempe gemboes. Tidak ada
jumlah yang signifikan terhadap aroma, rasa, dan tekstur yang dibentuk oleh keempat variasi
pembungkus. Artinya, keseluruhan variasi pembungkus menghasilkan kualitas rasa, aroma, dan tekstur
yang serupa. Tetapi kelompok kami memilih daun pisang dan kertas pemungkus nasi sebagai
pembungkus, Karena memberikan hasil yang stabil dan mudah diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA
Roswanjaya, YP. 2006. Pembuatan Kecap yang Menghasilkan Isoflavon Faktor-2. (6,7,4’ Trihidroksi
Isoflavon dari Bahan Dasar Tempe. [Thesis] Bandung : Institut Teknologi Bandung
Sulchan Mohammad, W Endang Nur. 2007. Nilai Gizi dan Asam Amino Tempe Gemboes serta
Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Tikus. Majalah kedokteran Indonesia 57(3). Maret, 2007. [online]
http://nurhidayat.lecture.ub.ac.id/2009/04/tahapan-proses-pembuatan-tempe/comment-page-1/ [10
Mei 2010]
Handajani Sri. 2001. Indigenous mucunal Tempe as Nutritional Food. Asia Pacific J Clin Nutr 10(3): 222–
225.p.2001. [online] http://apjcn.nhri.org.tw/server/APJCN/Volume10/vol10.3/Hand.pdf 10 Mei 2010
Guler P, Ozkaya EG. 2008. Morphological development of Morchella conica mycelium on different
agar
media.
Journal
of
Environmental
Biology.
http://www.jeb.co.in/journal_issues/200907_jul09/paper_22.pdf 10 Mei 2010
30(4).
[online]
Download