Berkenalan Dengan Ekologi Perairan

advertisement
Berkenalan Dengan Ekologi Perairan
Kategori : Ekologi
Ekologi perairan merupakan cabang ilmu mengenai lingkungan yang fokus mempelajari
interaksi atau hubungan timbal balik antara organisme di perairan dengan
lingkungannya. Lingkungan sangat berpengaruh sebab ia memegang peranan dalam
menciptakan kenyamana hidup organisme di perairan. Faktor-faktor yang ada di
lingkungan adalah faktor fisika mencakup kecerahan, suhu, arus dan lain-lain. Faktor
kimia antara lain pH, Do, sementara itu faktor biologi antara lain sifat plankton, substrat
dan masih banyak lagi lainnya. Seseorang yang mempelajari ekologi perairan diharapkan
bisa dan mampu mengidentifikasi hubungan timbal balik lingkungan dan organisme di
perairan.
Ekologi perairan ini mencakup banyak lingkup antara lain ekologi perairan tawar, ekologi
perairan laut, ekologi perairan kolam, ekologi perairan tambak dan semua ekosistem yang
melibatkan air sebagai komponen abiotik. Di dalam ekosistem perairan baik itu tawar,
pesisir maupun lautan, ada beragam jasad hidup atau biotik juga abiotik yang tak bisa
dipisahkan satu sama lainnya. Mereka saling terkait dan memungkinkan terjadinya
pertukaran zat atau energi di antara kedua komponen tersebut. Hampir 70% bumi ini
merupakan wilayah perairan, dengan demikian, mempelajari ekologi perairan adalah hal
yang sangat penting sebab dengan mengidentifikasi komponen abiotik dan biotik tersebut
manusia bisa memperoleh manfaat yang optimal dari perairan tersebut.
Ekologi
Perairan
Tawar
Salah satu bagian dari ekologi perairan adalah air tawar. Hanya sekitar 3% permukaan
wilayah bumi yang merupakan air tawar. Sebagian besar terdapat pada area yang beku di
dalam glesier juga es yang tenggelam di dalam akuafer. Sementara Perairan tawar
didominasi oleh perairan pedalaman. Sementara itu sisanya, terdapat pada wilayah dabau,
sungai, kolam dan lain-lain. Salah satu ciri ekologi perairan tawar adalah kadar garam
yang sangat rendah. Dalam konteks ekosistem, perairan ini dibagi ke dalam dua bagian
yakni air tawar mengalir atau lotik dan air tawar diam atau lentik.
Ekologi Perairan Estuari
Contoh lain dari ekologi perairan adalah estuari. Ekologi estuari merupakan wilayah atau
habitat berupa percampuran di antara air sungai juga lautan. Ia juga sering dikenal
dengan nama perairan muara. Dengan demikian biasa disimpulkan bahwa air yang ada di
wilayah ini memiliki salinitas yang jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan perairan
laut terbuka. Perairan estuari didominasi oleh organisme (baik flora maupun fauna) yang
bisa beradaptasi dengan kondisi di wilayah tersebut. Estuari ini hanya dihuni oleh
beberapa spesies dengan demikian tingkat keanekaragamannya sangat rendah.
Ekologi perairan estuari akan fokus pada pengaruh air pasang dan juga surut sebab kedua
hal tersebut memang mempengaruhi kehidupan organisme di wilayah ini. Adapun yang
termasuk ke dalam kajian ekologi estuari adalah wilayah muara sungai, rawa pasang
surut, telik yang ada di pantai, serta badan air yang berada di area belakang pantai pasir.
Adapun biota yang hidup di wilayah estuari ini adalah percampuran antara endemik,
yakni organisme yang berasal dari perairan tawar dan juga perairan laut. Saat air tawar
dan air laut bercampur maka organisme keduanya juga akan bercampur. Estuari
merupakan tempat terbaik untuk memijah beberapa hewan seperti kepiting, udang, tiram
dan masih banyak lagi lainnya.
A. EKOLOGI PERAIRAN
Menurut Ernest haeckel (1869)
Oikos : rumah (tempat tinggal)
Logos : ilmu pengetahuan
Jadi ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik atau interaksi antara
mahluk hiup dengan lingkungannya.
Tingkatan organisme mahluk hidup:
Protoplasma-> sel-> jaringan-> organ-> sistem organ-> organisme-> populasi-> komunitas->
ekosistem
Ekosistem perairan dibagi menjadi dua:
lingkungan abiotik : fisika & kimia
lingkungan biotik : tumbuhan, hewan, dan bakteri
pengertian lingkungan:
adalah semua unsur dan kekuatan-kekuatan diluar mahluk hidup yang mempengaruhi
kehidupan organisme tersebut. (baik buruknya lingkungan abiotik akan mempengaruhi
lingkungan biotik).
Yang dibutuhkan oleh tumbuhan adalah: air, cahaya matahari, mineral, C02, (air sebagai
pelarut yang baik / universal sulfent, sehinggga mudah tercemar atau terkontaminasi)
PEMBAGIAN EKOLOGI:
1. Menurut bidang kajiannya:
- Autoteknologi: yang mempelajari suatu spesies atau jenis organisme yang berinteraksi
dengan lingkungannya. Biasanya ditentukan oleh aspek tempat hidupnya, adaptasi terhadap
lingkungannya, sifat parasitis/non parasitis.
- Sin teknologi: ekologi yng mengkaji sekelompok atau kelompok organisme sebagai satu
kesatuan yang saling berinteraksi dalam suatu daerah tertentu. Contohnya ekologi populasi,
ekologi komunitas, ekologi ekosistem.. 9akan terjadi rantai makanan, dan rantai energi)
2. Menurut habitat (tempat tinggal)
3. Menurut taksonominya.
a. Tumbuhan, hewan dan mikroba.
ASAS ASAS EKOLOGI:
Ekosistem terbagi menjadi tiga:
a. Tumbuahn/ekosistem/autotrof
b. Hewan/konsumen/togotrof
c. Dekomposer/sapropof(bakteri dan jamur)
Sapropof adalah organisme yang dapat mensintesa bahan organik menjadi bahan anorganik
. contoh proses fotositesis: 6CO₂+6H₂OàC6H12O6+6O₂
Saprotof (dekomposer ) mempunyai 3 fungsi:
a. Mineralisasi bahan-bahan organik dari organisme yang telah mati
b. Menghasilkan makanan utuk organisme lain.
c. Menghasilkan zat kimia yang disebut hormon lingkungan
B. ORGANISME DALAM AIR/PERAIRAN
1. Plankton dibagi menjadi dua yaitu fitoplankton dan zooplankton
Zooplankton dibagi mnjadi 2 yaitu haloplankton: plakton yang mulai dari menetas sampai
mati menjadi plankton, sedangkan mesoplankton yaitu organisme yang menjadi plankton
saat masih menjadi larva saja.
- Netplankton adalah plankton yang tertangkap dengan planktonet nomor 25
- Nanoplankton: plankton yag lolos dengan planktonet no 25
2. Neuston: adalah organisme yang hidup dipermukaan atas atau permukaa air.
3. Peryphyton (teritip/sesil): organisme baik tumbuhan atau hewan yang hidupnya
menempel pada benda lain hidup atau mati (contoh lumut dan tiram)
4. Benthos ; organisme baik hewan atau tumbuhan yang hidup didasar permukaan (kerang
siput) epibentik: tanah dasar. Inbentik: dalam tanah
5. Nekton (ikan): semua organisme yang aktif bergerak dalam air.
6. Makrofita:
- Daun jauh diatas permukaan air , batang sebagian di air dan sebagian diatas air, akar
didalam permukaaan tanah (bakau )
- Akar didalam perairan, sehingga mengambil unsur hara dari perairan tersebut
- Akar dibawah permukaan air, sedangkan daun diatas permukaan air. Contoh teratai
- Tanaman yang daunya seperti jarum , contoh hidrilla
- Akar didalam tanah, daun didalam perairan, daunya lebar, contoh padang lamun
Adaptasi: penyesuaian diri terhadap lingkunganya.
a. Adaptasi genetis: menururn dari nenek moyangnya(permanen)
b. Adaptasi somats: bersifat sementara (contoh: katak dan udang)
Ekologi perairan lotik:
1. Perairan tawar:
- menggenang (lentik): danau, rawa, waduk, kolam
- mengalir (lotik): sungai.
3 hal yang membedakan sungai dengan perairan yag lain adalah:
1. Disungai , arus merupakan faktor pengendali dan faktor pembatas utama.
2. Proses pertukaran air dan tanah disungai relatif lebih intensif yang mengakibatkan
ekosistem disungai lebih terbuka dan metabolisme komunitasnya bersifat heterotropik.
3. O₂ disungai lebih seragam dan sangat sedikit/sama sekali tidak ada stratifiksasi suhu.
Peran arus :
a. Sebagai suplai oksigen
b. Sebagai pengangkut bahan-bahan makanan bagi organisme lain.
c. Menyebarkan partikel-partikel unsur penting ketempat lain.
Ø keceptan arus: dalam satu sungai ditentukan oleh perbedaaan tinggi tempat serta luas
sungai tersebut.
Ø Sungai yang besar dan dalam berarus lemah sehingga megakiatkan kondisi air yag
menggenang
Ø Kecepatan arus dipengaruhi oleh:
o kecurahan gradient permukaaan
o halus atau kasarnya dasar sungai
o kedalaman dan lebar sungai.
Pertukaran tanah dan air
Allochtonous: konsumen yang hidup berasal dari detrisius yang hanyut dari daerah teresrial
yang kesungai sebagai Alochtonous. Contoh ; banjir, gunuung, meletus didaratan yang
meembuat magma kesungai.
Autochtonous: Semua yang berasal dari dalam perairan itu sendiri . contoh: Tsunami,
gunung meletus, dilaut.
Besar kecilnya oksigen yang msauk kedalam prairan yaitu:
a. dangkalnya ir
b. air yang slalu bergerak
c. luas permukaan
beberapa cara adaptasi dari organisme sungai.
Ø Bertaut scara permanen pada substrat yang kokoh.
a. Algae epipelic yaitu alga yang hidup pada lumpur
b. Algae epilethic
c. Algae epiphytic
Ø Jenis hewan porifera (spons) hewan berpori
a. Melekat dengan alat pelekat atau kait . contoh larva sungilium, diphtera, triptofera hidup
pada pukulan arus yang kuat (air terjun) dan punya alat perekat.
b. Melekat dengan bagian bawah tubuh (siput dan cacing pita )
c. Bentuk tubuh yangsesuai dengn habitatnya .
· Daerah bentos: betuk tubuh seperti bulat telur (memposisikan dengan arah arus , bagian
kepala lebar. Psterior menyempit.
d. Bentuk tubuh yang pipih unutk melindungi diri dengan berlindung dibwah batu
e. Rheotaksis positif: melawan arus
f. Thigmotaksis : senuhan atau hubungan .(merapatkan idri pada suatu permukaan,.
C. EKOSISTEM ESTUARIA
Estuaria : pertemuan dari air laut dan air tawar (muara sungai) , habitatnya yaitu peralihan
dari darat dan laut.
· Sangat dipengaruhi oleh pasang surut dan banyak sedikitnya air tawar dan airlaut yang
masuk, shingga tidak stabil.
Macam-macam Estuaria:
a. Berdasarkan hidrologi (kondisi airnya)
Ø Estuaria berstratifikasi ganda (estuaria bajigaram, estuaria positif)
Air sungai lebih dominan daripada pasang surut, bisaanya pada muara sungai. Air tawar
dilapisan atas, sedangkan air laut dilapisan bawah.
Ø Estuaria berstratifiksi moderat (estuaria campuran sebagian)
Aliran air sungai seimbang ddengan masuknya air laut turbuleni pasang surut secara
berkala , sehingga profil sainitas tidak terlampui curam, karena sebagian energi diserap
dalam proses percampuran vertikal pengdukan. Pengadukan disebabkan oleh perbedaan
suhu dn perbedaan salinitas.
Ø Estuaria campuran sempurna ( estuaria homogen vertikal, negatif )
Pasang surut dominan dan kuat pengdukan sangat kuat, sehingga salinitas sangat tinggi
seperti disamudra.
b. Berdasarkan geomorfologi.
Ø Lembah sungai tenggelam atau estuaria dataran pesisir.
Kondisi relatif rendah dan datar (naik menggenangi lembah sungai)
Ø Tipe fjord
Lekuk-lekuk diwilayah pesisir membentuk huruf U akibat adanya pengikisan lempenganlempengan es.
Ø Esturia bentukan perintang.
Merupakan bagian-bagian yang dangkal, sehingga bagian dasar estuari tidak tertutup oleh
sederetan pulau yang letaknya sejajr dengan garis pantai, sehigga terjadi hubungan
langsung dngan laut terbuka.
Ø Estuari bentukan tektonik/lempeng.
Karena terangkatnya atau menurunya dasar laut pesisir yang sering kali diikuti dengan
masuknya air tawar dalam jumlah yang banyak.
Ø Estuari delta sungai (dataran yang terbentuk di muara sungai..)
Karena adanya sedimentasi (depososo sedimen) lumpur, maka disitu akan terbentuk teluk,
selat, rawa dan payau.
· Teluk: dseimentasi di pinggir
· Selat: sedimentasi ditengah.
FAKTOR LINGKUNGAN:
a. Faktor fisika
Ø Suhu cepat panas dan cepat dingin.
Ø Salinitas sangat dipengaruhi oleh pasang surut, musim , topografi dan jumla air tawar.
Ø Substrat (dasar perairan) di estuari lumpur mempunyai ciri khas, yaitu sangat halus.
Lumpur dibedakan menjadi 3, yaitu lumpur koloid, lumpur partikuler, dan lumpur
tersuspensi.
Ø Kekruhan sangat tinggi, namun mendekti wilayah estuari semakin rendah. Alat untuk
mengukur yaitu turbinity meter.
Ø Ombak; kedangkalan dan semopitnya area mengurangi kebesaran ombak.
b. Faktor kimia
Ø Oksigen. Tergantung suhu dan salinitas, semakin tinggi uhu dan salinitas maka oksigen
semakin rendah.
Ø Unsur hara. Tinggi Ndan P N bisa 10X lebih besar.
Ø 3 faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya unsur hara diperairan :
· Adanya sedimentasi alami, dari tanah liat dan mineral (montmorilonite, dan kaolinite)
· Karena adanya proses biodiposisi, sehngga bnyak organisme yang filter finder.
· Adanya sirkulasi air secara vertikal , karena perbedaan salinitas dan terperangkapnya
unsur hara.
c. Faktor biologi (ada 5 jenis ikan diwilayah estuari)
1. Jenis ikaN air tawar yang Eurihalin/ toleran terhadap salinitas (ikan nila, ikan mujair).
2. Ikan estuaria :ikan yang memang hidup diwilayah estuaria sebagai penghuni tetap.
3. Jenis jenis ikan anadromus dan catadromus (estuari sebagai jalan masuk).
4. Jenis ikan air laut yang secara berkala ke wilayah estuari sebagia siklus hidupya,
(udang”an dan bandeng).
5. Kelompok ikan pengunjung tidak tetap.
D. EKOLOGI PERAIRAN LENTIK
Siklus terjadinya mata air:
Penguapan àawanàhujanàairàlononàair infiltrasiàmata air.
Ekosistem perairan tawar:
Ø Perairan terbuka:
a. Mengalir: sungai
b. Menggenang: - buatan: waduk
_ alami: danau dan rawa.
Ø Perairan tertutup:
a. Kolam
b. Tambak
Bentuk-bentuk perairan darat:
- Rivers and stream
- Ponds and lakes
- Wetlands
Ciri-ciri habitat air tawar:
- Variasi temperatur dan suhu rendah
- Salinitas rendah
- Penetrasi cahaya kurang
- Terpengaruh cuaca dan iklim setempat
- Tumbuhan mikroskopis (algae) dan fitoplankton sebagai produsen utama.
Faktor yang membedakan antara air yang menggenang dan air yang mengalir:
- Adanya arus
- Pertukaran tanah dan air lebih intensif daripada sungai
- Kadar O2 lebih tinggi pada air mengalir
- Pencampuran suhu dan kadar zat lebiih merata à tidak ada stratifikasi thermal.
Peran arus
- Membuat kehidupan kolam dan air mengalir berbeda
- Mengatur perbedaan dibebrapa temoat dari air mengalir
- Kecepatan arus ditentukan oleh:
· Kemiringan
· Kekasaran
· Kedalaman
· Kelebaran
Perairan lentik:
@ Bentuk ekologi perairan lentik dimana arus tidak memegang peranan utama.
- Ada tidaknya penetrasi cahaya
- Perbedaan temperatur perairan
Metalimnion : perairan tengah
Epilimnion: perairan permukaan
Hipolimnion: perairan dasar
- Berdasrkna kelompok organisme:
· Dalam rantai makanan
· Berdasarkan cara hidupnya
Distribusi perairan lentik:
- Zona litoral , produser utamanya tanaman berakar dan tidak berakar , konsummenya larva
san serangga air(platehelminthes, rotifera dll)
- Zona limnetik, produsen utamanya fitoplankton dan tumbuhan air.
DANAU
Ø Periaran lentik alami
Ø Waduk: buatan
Ø Asal kejadian danau:
· Danau tektonik: karena gempa bumi (danau towati, danau diatas, danau dibawah, dll)
· Danau vulcanik; karena gunung meletus (danau rawa, danau tiga warna, danau segoro
anakan, dll_)
· Danau tekto-vulcanik: karena gempa dan letusan (danau toba, danau maninjau, danau
kerinci, dll)
fungsi dan manfaaat danau:
- Sebagia air baku untuk penduduk
- Pertanian
- Irigasi
- Perkanan
- Sumber daya tenaga listrik
- Pengendali air banjir
- Sebagai sumber plasma nutfah
- Resevoir alam
- Memelihara unsur mikro
- Sarana pendidikan, rekreasi dan wisata
Morfometrik perairanàmenetukan karakteristik danau dengan perairan lentik lain.
- Tepi perairanà pada danau terjal (daerah litoral sedikit, dan keanekaragaman sedikit)
- Kedalaman sampai 500m , bagian tengah terdlam. Memungkinkan terjadinya stratifikasi
dalam kolam air
Ø Daerah tangkapan airà semakin luas daerah, maka semakin banyak masaa air yang
tertampung
Ø Jumah telukà air menjai tenang, biota air tumbuh optimal
Ø Masa simpanan air à
Ø Pengluaran air ada diatas kualitas air dan unsur hara.
http://harry-vht.blogspot.com/2013/05/pengertian-ekologi-perairan-dan-materi.html
http://harry-vht.blogspot.com/2013/05/pengertian-ekologi-perairan-dan-materi.htm
harry-vht.blogspot.com
EKOLOGI PERAIRAN
Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikos yang
artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun
interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya (lihat Gambar 6. 1).
EKOLOGI PERAIRAN
Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem
dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan
oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914).
Ekologi adalah cabang ilmu biologi yangbanyak memanfaatkan informasi dari
berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi
untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di
antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama
guna meningkatkan produktivitas.
Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan
lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang
terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.
Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada
komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi
berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai
komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain
suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah
makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi
juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup,
yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan
merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Faktor Biotik
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi,
baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai
produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan
sebagai dekomposer.
Gbr. Tingkatan
Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang
Organisasi
meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer.
Makhluk Hidup
Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam
ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi
membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan. Secara
lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup adalah
sebagai berikut. Perhatikan Gambar.
A. Individu
Individu merupakan organisme tunggal seperti : seekor tikus, seekor kucing,
sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia. Dalam
mempertahankan hidup, seti jenis dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang
kritis. Misalnya, seekor hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan
diri terhadap musuh alaminya, serta memelihara anaknya. Untuk mengatasi
masalah tersebut, organisme harus memiliki struktur khusus seperti : duri, sayap,
kantung, atau tanduk. Hewan juga memperlihatkan tingkah laku tertentu, seperti
membuat sarang atau melakukan migrasi yang jauh untuk mencari makanan.
Struktur dan tingkah laku demikian disebut adaptasi. Perhatikan Gambar 6.4.
Ada bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu:
adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.
1. Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan
hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.
a. Gigi-gigi khusus
Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring
besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung
pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya. Lihat Gambar 6.5.
b. Moncong
Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika
Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain
yang merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil
tak bergigi dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari
sarangnya. Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yangdapat
dijulurkan jauh keluar mulut untuk menangkap serangga. Lihat Gambar 6.6.
c. Paruh
Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan
ujungnya tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya. Perhatikan
Gambar 6.7
d. Daun
Tumbuhan insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar,
memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga
dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki
tumbuhan insektivora, serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini
memperoleh unsur yang diperlukan.
e. Akar
Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang,berfungsi untuk menyerap air yang
terdapat jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk
bernapas. (LihatGambar 6.9).
2. Adaptasi fsiologi
Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk
mempertahankan hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.
a. Kelenjar bau
Musang dapat mensekresikan bau busukdengan cara menyemprotkan cairan
melalui sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri
dari musuhnya.
b. Kantong tinta
Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh
datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat
melihat kedudukan cumi-cumi dan gurita. (LihatGambar 6.1 0).
c. Mimikri pada kadal
Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan
warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa
suhu serta keadaan sekitarnya. Lihat Gambar 6.11.
3. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku.
Contohnya sebagai berikut :
a. Pura-pura tidur atau mati
Beberapa hewan berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini
sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.
b. Migrasi
Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang
sesuai untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang
berumur empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat
Amerika Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan
mengeluarkan sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa
biasanya mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar.
Setelah menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut.
Perhatikan Gambar 6.12.
B. Populasi
Kumpulan individu sejenis yang hidup padasuatu daerah dan waktu tertentu
disebut populasi Misalnya, populasi pohon kelapa dikelurahan Tegakan pada tahun
1989 berjumlah 2552 batang.
Ukuran populasi berubah sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam populasi ini
disebut dinamika populasi. Perubahan ini dapat dihitung dengan menggunakan
rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan perubahan
dalam populasi. Misalnya, tahun 1980 populasi Pinus di Tawangmangu ada 700
batang. Kemudian pada tahun 1990 dihitung lagi ada 500 batang pohon Pinus.
Dari fakta tersebut kita lihat bahwa selama 10 tahun terjadi pengurangan pohon
pinus sebanyak 200 batang pohon. Untuk mengetahui kecepatan perubahan maka
kita membagi jumlah batang pohon yangberkurang dengan lamanya waktu
perubahan terjadi :
700 - 500 = 200batang
1990-1980
10 tahun
= 20 batang/tahun
Dari rumus hitungan di atas kita dapatkan kesimpulan bahwa rata-rata
berkurangnya pohon tiap tahun adalah 20 batang. Akan tetapi, perlu diingat
bahwa penyebab kecepatan rata-rata dinamika populasi ada berbagai hal. Dari
alam mungkin disebabkan oleh bencana alam, kebakaran, serangan penyakit,
sedangkan dari manusia misalnya karena tebang pilih. Namun, pada dasarnya
populasi mempunyai karakteristik yang khas untuk kelompoknya yang tidak
dimiliki oleh masing-masing individu anggotanya. Karakteristik iniantara lain :
kepadatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas),
potensi biotik, penyebaran umur, dan bentuk pertumbuhan. Natalitas
danmortalitas merupakan penentu utama pertumbuhan populasi.
Dinamika populasi dapat juga disebabkan imigrasi dan emigrasi. Hal ini khusus
untuk organisme yang dapat bergerak, misalnyahewan dan manusia. Imigrasi
adalahperpindahan satu atau lebih organisme kedaerah lain atau peristiwa
didatanginya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme; didaerah yang
didatangi sudah terdapat kelompok dari jenisnya. Imigrasi ini akan meningkatkan
populasi.
Emigrasi adalah peristiwa ditinggalkannya suatu daerah oleh satu atau lebih
organisme, sehingga populasi akan menurun. Secara garis besar, imigrasi dan
natalitas akan meningkatkan jumlah populasi, sedangkan mortalitas dan emigrasi
akan menurunkan jumlah populasi. Populasi hewan atau tumbuhan dapat
berubah, namun perubahan tidak selalu menyolok. Pertambahan atau penurunan
populasi dapat menyolok bila ada gangguan drastis dari lingkungannya, misalnya
adanya penyakit, bencana alam, dan wabah hama.
C. Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu
dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.
Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan
dengan individu dan populasi.
Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara
komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
D. Ekosistem
Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini
menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun
ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora,
dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).
Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor
fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.
a. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang
diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat
hidup pada kisaran suhu tertentu.
b. Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari
menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan
oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.
c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan
hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan,
perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan
sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan
tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air
diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.
d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda
menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga
menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama
tumbuhan.
e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut,
karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang
berbeda.
f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam
penyebaran biji tumbuhan tertentu.
g. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula.
Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di
permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu
saja.
Interaksi antarkomponen ekologi dapatmerupakan interaksi
antarorganisme,antarpopulasi, dan antarkomunitas.
A. Interaksi antar organisme
Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap
individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain
jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi
lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.
Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang
kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.
a. Netral
Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama
yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak,
disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.
b. Predasi
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini
sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator
juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan
mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.
c. Parasitisme
Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah
satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari
hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya.
contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu
dengan pohon inang. Perhatikan Gambar 6.15
d. Komensalisme
Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies
dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu
spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek
dengan pohon yang ditumpanginya.
e. Mutualisme
Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang
saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup
pada bintil akar kacang-kacangan.
B. Interaksi Antarpopulasi
Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara
langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya.Contoh interaksi antarpopulasi
adalah sebagai berikut.
Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu
menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di
sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan
ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati
dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan
antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat
kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang
diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di
padang rumput.
C. Interaksi Antar Komunitas
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama
dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai.
Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi,
belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang,
zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah
terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan
peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.
Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan
organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat
kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang
berbeda misalnya laut dan darat. Lihat Gambar 6.16.
D. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem.
Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran
energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga
struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat
mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya
keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini
tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem
untuk mencapai keseimbangan baru.
Adanya perubahan-perubahan pada populasi mendorong perubahan pada
komunitas. Perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan ekosistem berubah.
Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan ekosistem.
Keadaan ini merupakan klimaks dari ekosistem. Apabila pada kondisi seimbang
datang gangguan dariluar, kesimbangan ini dapat berubah, dan perubahan yang
terjadi akan selalu mendorong terbentuknya keseimbangan baru.
Rangkaian perubahan mulai dari ekosistem tanaman perintis sampai mencapai
ekosistem klimaks disebut suksesi. Terjadinya suksesi dapat kita amati pada
daerah yang baru saja mengalami letusan gunung berapi. Rangkaian suksesinya
sebagai berikut.
Mula-mula daerah tersebut gersang dan tandus. Setelah beberapa saat tanah akan
ditumbuhi oleh tumbuhan perintis, misalnya lumut kerak. Tumbuhan perintis ini
akan menggemburkan tanah, sehingga tanah dapat ditumbuhi rumput-rumputan
yang tahan kekeringan. Setelah rumput-rumput ini tumbuh dengan suburnya,
tanah akan makin gembur karena akar-akar rumput dapat menembus dan
melapukan tanah, juga karena rumput yang mati akan mengundang datangnya
dekomposer (pengurai) untuk menguraikan sisa tumbuhan yang mati. Dengan
semakin subur dan gemburnya tanah maka biji-biji semak yang terbawa dari luar
daerah itu akan tumbuh, sehingga proses pelapukkan akan semakin banyak.
Dengan makin gemburnya tanah, pohon-pohon akan mulai tumbuh. Kehadiran
pohon-pohon akan mendesak kehidupan rumput dan semak sehingga akhirnya
tanah akan didominasi oleh pepohonan. Sejalan dengan perubahan vegetasi,
hewan-hewan yang menghuni daerah tersebut juga mengalami perubahan
tergantung pada perubahan jenis vegetasi yang ada. Ada hewan yang datang dan
ada hewan yang pergi. Komunitas klimaks yang terbentuk dapat berupa
komunitas yang homogen, tapi dapat juga komunitas yang heterogen. Contoh
komunitas klimaks homogen adalah hutan pinus, hutan jati. Contoh komunitas
klimaks yang heterogen misalnya hutan hujan tropis.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
LAPORAN PRAKTIKUM
KAJIAN EKOLOGI PARIWISATA MUSEUM KARST INDONESIA,
GOA GONG DAN PANTAI TELENG RIA
Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas Praktikum
Mata kuliah Ekologi Pariwisata
Arif Ardwiantoro
Disusun oleh:
M0409009
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Obyek wisata merupakan penghasil devisa non-migas yang kini banyak dikembangkan
di berbagai daerah. Obyek wisata yang paling berkembang adalah obyek wisata yang
menonjolkan keindahan alam, seni dan budaya. Obyek wisata ini oleh Pemerintah telah diakui
sebagai penghasil devisa terbesar dari sektor non-migas. Mengingat keindahan alam menjadi
daya tarik yang kuat bagi wisatawan, potensi ini menarik untuk digarap (Pamulardi, 2006).
Di era otonomi daerah, pemerintah daerah mempunyai kewenangan yang luas dalam
mengkreasi dan lebih inovatif dalam kegiatan pembangunan di daerahnya. Seiring dengan hal
tersebut, daerah berusaha untuk mengembangkan potensi sumber daya daerah untuk kepentingan
pembangunan ekonomi di daerahnya. Sumber daya daerah yang didalamnya termasuk potensi
sumber daya pariwisata merupakan salah satu modal dasar pembangunan daerah, karena itu
pemanfaatannya harus direncanakan dan dilaksanakan, serta dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang dengan memperhatikan sistem
pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) (Anonim1, 2009).
Kabupaten Wonogiri dan Pacitan merupakan daerah yang memiliki kondisi geografis
berupa daerah berbatu kapur serta terdapat banyak goa dan pantai. Keberadaan berbatu, goa serta
pantai memiliki potensi untuk dikembangkan dari segi wisata.
Kawasan karst di Wonogiri dan Pacitan memiiki ciri khas banyak memiliki gua-gua
berstalaktit dan stalakmit yang menarik. Keberadaan gua-gua ini menyimpan kisah perjalanan
kehidupan manusia sejak zaman prasejarah hingga zaman kerajaan. Selanjutnya cerita ini
berkembang di masyarakat dan menjadi sumber sejarah. Cerita rakyat ini sangat menarik untuk
digali sebagai bahan pendidikan dan penanaman nilai-nilai positif bagi generasi penerus.
Sehingga Keberadaan Museum Karst Indonesia di Pracimantoro serta Goa Gong Pacitan dapat
memberikan edukasi tentang kars di Indonesia. Objek wisata alam lain di Pacitan yaitu Pantai
Teleng Ria yang menyajikan panorama pantai yang indah. Keberadaan dari ketiga objek wisata
ini menarik untuk dikaji dari segi ekologi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang akan dikaji adalah :
1. Bagaimana kajian ekologi dalam bidang pariwisata pada Museum Karst Indonesia, Goa
Gong, dan Pantai Teleng Ria?
2. Permasalahan apa saja yang terdapat di Museum Karst Indonesia, Goa Gong, dan Pantai
Teleng Ria yang dapat menjadi hambatan dalam pengembangan sebagai obyek wisata
berbasis ekologi?
3. Bagaimana upaya penanganan permasalahan yang ada sehingga pengembangan Museum
Karst Indonesia, Goa Gong, dan Pantai Teleng Ria sebagai objek ekowisata berbasis
ekologi lebih optimal?
4. Bagaimanakah analisis SWOT dari Museum Karst Indonesia, Goa Gong, dan Pantai
Teleng Ria terhadap perkembangan ekopariwisata ?
C. Tujuan
1. Melakukan kajian ekologi dalam bidang pariwisata pada Museum Karst Indonesia, Goa
Gong, dan Pantai Teleng Ria.
2. Memahami permasalahan di Museum Karst Indonesia, Goa Gong, dan Pantai Teleng Ria
yang berhubungan pengelolaan pariwisata.
3. Dapat menemukan upaya penanganan masalah yang ada sehingga pengembangan
Museum Karst Indonesia, Goa Gong, dan Pantai Teleng Ria sebagai objek ekowisata
lebih optimal.
4.
Memahami hasil analisis SWOT Museum Karst Indonesia, Goa Gong, dan Pantai Teleng Ria
sebagai tempat ekopariwisata.
D. Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari praktikum ini adalah:
1. Bagi pembaca atau masyarakat umum: menambah informasi seputar objek wisata
Museum Karst Indonesia, Goa Gong, dan Pantai Teleng Ria sehingga dapat dijadikan
tujuan utama berwisata.
2. Bagi pihak pengelola atau pemerintah setempat: dapat mengetahui potensi yang dimiliki
Museum Karst Indonesia, Goa Gong, dan Pantai Teleng Ria serta memahami
permasalahan yang ada sehingga dapat dilakukan upaya pengembangan secara optimal
dan menyeluruh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pariwisata dan Ekowisata
Kodyat (1983) menyatakan bahwa pariwisata merupakan perjalanan dari suatu tempat
ketempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebagai usaha mencari
keseimbangan atau keserasian dan kebahagian dengan lingkungan dalam dimensi sosial, budaya,
alam dan ilmu. Selanjutnya Burkart (1987) menjelaskan pariwisata sebagai suatu trasformasi
orang untuk sementara dan dalam waktu jangka pendek ketujuan-tujuan di luar tempat mereka
biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di tempat-tempat
tujuan itu. Sedangkan Wahab (1985) menjelaskan pariwisata adalah salah satu jenis industri baru
yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja,
peningkatan penghasilan, standart hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya.
Sebagai sektor yang kompleks, pariwisata juga meliputi industri-industri klasik seperti kerajinan
tangan dan cindera mata, penginapan, transportasi secara ekonomi juga dipandang sebagai
industri.
Selain itu pariwisata juga disebut sebagai industri yang mulai berkembang di Indonesia
sejak tahun 1969, ketika disadari bahwa industri pariwisata merupakan usaha yang dapat
memberikan keuntungan pada pengusahanya. Sehubungan dengan itu Pemerintah Republik
Indonesia sejak dini mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1969 tanggal 6 Agustus
1969, menyatakan bahwa usaha pengembangan pariwisata di Indonesia bersifat suatu
pengembangan industri pariwisata dan merupakan bagian dari usaha pengembangan dan
pembangunan serta kesejahteraan masyarakat dan negara (Yoeti, 2002).
Ekowisata adalah kegiatan perjalanan wisata yang dikemas secar profesional, terlatih,
dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangkan
warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi
sumberdaya alam dan lingkungan (Nugroho, 2006). Ekowisata merupakan suatu konsep yang
mengkombinasikan kepentingan industri kepariwisataan dengan para pencinta lingkungan. Para
pencinta lingkungan menyatakan bahwa perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup hanya
dapat tercapai dengan melibatkan orang-orang yang tinggal dan mengantungkan hidupnya pada
daerah yang akan dikembangkan menjadi suatu kawasan wisata dan menjadikan mereka partner
dalam upaya pengembangan wisata tersebut. Metode ini diperkenalkan oleh Presiden World
Wild Fund (WWF) pada konfrensi tahunan ke-40 Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA)
(Heidi, 2001).
Ekowisata merupakan kegiatan wisata yang menarik perhatian besar terhadap
kelestarian sumber daya alam dan lingkungan sebagai salah satu isu utama dalam kehidupan
manusia, baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Hal ini akan terus berlangsung, terutama
didorong oleh dua aspek, yaitu: (1) ketergantungan manusia terhadap sumber daya alam dan
lingkungannya makin tinggi, (2) keberpihakan masyarakat kepada lingkungan makin meningkat.
Kondisi ini telah mendorong lahirnya berbagai kebijakan yang mengharuskan berbagai
komponen untuk secara bersama-sama melakukan berbagai perlindungan terhadap sumber daya
dan lingkungan dalam bentuk kerjasama yang integratif.

Museum Karst Indonesia Pracimantoro
Istilah karst aslinya dari kata krst yang berasal dari bahasa Yugoslavia yang dipakai
untuk menyebut semua kawasan batugamping yang telah mengalami pelarutan (Worosuprojo,
2010). Museum Karst Indonesia Terletak di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro,
Kabupaten Wonogiri sekitar 30 km timur Kota Wonosari dan 60 km barat Pacitan. Kawasan
karstt di Wonogiri dinilai memilik keistimewaan tersendiri, yakni karstnya ada di permukaan dan
ada yang di dalam. Sehingga kawasan Karst ini layak untuk dilengkapi dengan museum.
Museum yang dibangun di Pracimantoro Wonogiri ini menggambarkan khasanah karst dengan
keunikan goa-goa di Pracimantoro. Di dalam bangunan museum ini tersimpan banyak koleksi
atau benda dan informasi yang berhubungan dengan karst.

Goa Gong Pacitan
Merupakan salah satu goa yang terletak di Kabupaten pacitan, tepatnya tepatnya di
Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, 37 Km kearah barat Kota
Pacitan. Goa ini dikelilingi oleh sederetan dunung diantaranya Gunung Manyar di sebelah utara,
Gunung Gede di sebelah timur, Gunung Karang Pulut di sebelah selatan serta Gunung Gugrah di
sebelah barat. Gua ini merupakan gua horizontal dengan panjang sekitar 256 meter. Goa gong
memiliki stalaktit dan stalagmit yang beranekaragam bentuknya. Salah satu penunjang Goa Gong
adalah adanya tetesan air pada langit-langit goa. Dari tetesan air inilah terbentuk stalaktit dan
stalagmit di dalam goa (Harris & Levey, 1975). Selain itu, Goa Gong juga terdapat batuan kapur
yang berdiri tegak di dasar berusia ratusan tahun. Menurut beberapa peneliti dan wisatawan
mancanegara, gua ini merupakan gua dengan stalaktit dan stalagmit yang paling indah di Asia
Tenggara.

Pantai Teleng Ria Pacitan
Pantai Teleng Ria terletak berjarak 3,5 km dari pusat kota Pacitan. Pantai meiliki
panjang pasir putih sekitar 3 km. Pantai Teleng Ria Memiliki pasir putih dan panorama yang
indah serta Pantai yang dikelilingi oleh gunung limo. Berbagai fasilitas pendukung yang
disediakan di Pantai Teleng Ria antara lain ada: Watch Tower, kolam renang, taman bermain,
sebuah panggung untuk acara budaya untuk Bonggo Budoyo dan area berkemah, daerah
penangkapan, hotel, dan tempat makan dengan menu makanan tradisional Pacitan.Pantai Teleng
Ria ini juga dijadikankan untuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sehingga pengunjung dapat
membeli ikan segar yang baru di tangkap oleh para nelayan (Anonim2, 2011).

Analisis SWOT
Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan
strategi perusahaan. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu
berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan
demikian perencana strategis (strategic planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis
(kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini (Rangkuti, 1997).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 Juni 2012. terdapat tiga lokasi pada praktikum ini
yaitu: Museum Karst Indonesia di Pracimantoro, Wonogiri; Goa Gong Pacitan dan Pantai Teleng
Ria Pacitan.
B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: alat tulis yang meliputi bolpoin,
kertas, papan jalan, kuosioner serta alat dokumentasi berupa kamera.
C. Cara Kerja
Metode yang digunakan dalam praktikum ini yaitu metode kuosioner. Responden diberi lembar
kuosioner dan menjawab sesuai pertanyaan yang diajukan dalam kuosioner.
Pada Museum Karst Indonesia di Pracimantoro, terdapat 9 responden yang dijadikan sebagai
narasumber yang meliputi: 1 responden dari pengelola Museum Karst Indonesia (Ibu Nining), 3
responden dari masyarakat sekitar lokasi Museum Karst Indonesia (Ibu Ngatiani, Bapak Slamet
dan Bapak Ardhianu Setiawan) serta 5 responden berasal dari pengunjung Museum Karst
Indonesia (Bapak Ijuk, Ari Winanto, Cellin, Suratno dan Sri Sutati).
Pada Goa Gong Pacitan, terdapat 9 responden yang dijadikan sebagai narasumber yang meliputi:
1 responden dari pengelola Goa Gong Pacitan (Bapak Suyitno), 3 responden dari masyarakat
sekitar lokasi Goa Gong Pacitan (Ibu Parni, Ibu Satiyem dan Ibu Surasmi) serta 5 responden
berasal dari pengunjung Goa Gong Pacitan (Endang, Sumiyati, Ratna, Harti dan Martinah).
Pada Pantai Teleng Ria Pacitan, terdapat 8 responden yang dijadikan sebagai narasumber yang
meliputi: 1 responden dari pengelola Pantai Teleng Ria Pacitan (Bapak Rimbono), 2 responden
dari masyarakat sekitar lokasi Pantai Teleng Ria Pacitan (Ibu Musyarofah dan Bapak Budi) serta
5 responden berasal dari pengunjung Pantai Teleng Ria Pacitan (Ambar, Heni, Agus Susanto,
Joko dan Dewi).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Museum Karst Indonesia Pracimantoro, Wonogiri
a

Kuosioner tentang pengelolaan museum
Yang menjadi pengelola utama kawasan objek wisata Museum Karst Indonesia adalah
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta
Pemerintah Kabupaten Wonogiri.

Terkait pengelolaan wisata Museum Karst Indonesia, menurut pihak pengelola setempat
pengelolaannya telah diatur dengan baik dengan adanya kerjasama antar tiga instasi yaitu dari
Departemen Energi Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah
Kabupaten Wonogiri.

Terkait masalah tata ruang, kawasan wisata Museum Karst Indonesia sangat strategis, hal ini
dibuktikan bahwa kawasan Museum Karst Indonesia Pracimantoro terletak di antara tiga jalur
yaitu jalur Jogja, jalur Pacitan dan jalur Wonogiri. Namun tata letak ruang museum karst adalah
di daerah pegunungan karst yang memiliki kontur permukaan tanah yang tidak rata.

Permasalahan lingkungan yang ditemui di kawasan Museum Karst Indonesia yaitu terkait area
untuk berdagang yang kurang tertata dengan rapi. Selain itu juga penyediaan tempat sampah
yang kurang memadai.
b
Kuosioner untuk masyarakat sekitar museum

Mata pencaharian utama dari masyarakat di sekitar museum yaitu sebagai penambang gamping,
pengolah batuan karstt, penggali batu kapur, pencari kayu bakar serta petani.

Dengan adanya Museum Karst Indonesia, masyarakat sekitar memanfaatkannya dengan
membuka peluang usaha seperti warung / kios, rumah makan serta penginapan.

Peran serta masyarakat sekitar terhadap pengelolaan Museum Karst Indonesia adalah ikut serta
dalam menjaga keamanan. Masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam pengelolaan museum,
khususnya pemuda-pemudi yang diberdayakan sebagai tenaga office boy, secuirity serta
karyawan.

Harapan masyarakat dengan keberadaan Museum Karst Indonesia adalah pengunjung semakin
ramai sehingga sumber penghasilan masyarakat sekitar meningkat, masyarakat lebih
dibedayakan, serta dengan keberadaan museum ini dapat menjadi wisata edukasi bagi pelajar
serta masyarakat umum

Pesan untuk pengelola Museum Karst Indonesia atau Pemerintah Kabupaten Wonogiri terkait
pengembangan Museum Karst Indonesia adalah adanya peningkatan mutu dan pengiklanan,
adanya pengawasan pemerintah terhadap pengembangan museum serta peningkatan sarana dan
prasarana.
Tabel kuosioner terkait kepuasan pengunjung
Keterangan point pengamatan:
1. wahana wisata yang disedikan
5. tempat pembelian souvenir dan kuliner
2. kebersihan area wisata
6. akesibilitas menuju tempat wisata
3. area parkir
7. panorama alam yang ada
4. fasilitas (musholla, kamar mandi, dll.)
2. Goa Gong Pacitan
Kuosioner tentang pengelolaan goa

Yang menjadi pengelola utama kawasan objek wisata Goa Gong Pacitan adalah Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta Pemerintah
Kabupaten Wonogiri.

Terkait pengelolaan wisata Goa Gong Pacitan, menurut pihak pengelola setempat
pengelolaannya telah diatur dengan baik dengan adanya kerjasama antar tiga instasi yaitu dari
Departemen Energi Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah
Kabupaten Wonogiri.

Terkait masalah tata ruang, kawasan wisata Goa Gong Pacitan sangat strategis, hal ini
dibuktikan bahwa kawasan Museum Karstt Indonesia Pracimantoro terletak di antara tiga jalur
yaitu jalur Jogja, jalur Pacitan dan jalur Wonogiri. Namun tata letak ruang museum karst adalah
di daerah pegunungan karst yang memiliki kontur permukaan tanah yang tidak rata.

Permasalahan lingkungan yang ditemui di kawasan Goa Gong Pacitan yaitu terkait area untuk
berdagang yang kurang tertata dengan rapi.selain itu juga penyediaan tempat sampah yang
kurang memadai.
Kuosioner untuk masyarakat sekitar goa

Mata pencaharian utama dari masyarakat di sekitar Goa Gong Pacitan yaitu sebagai penambang
gamping, pengolah batuan karstt, penggali batu kapur, pencari kayu bakar serta petani.

Dengan adanya Goa Gong Pacitan, masyarakat sekitar memanfaatkannya dengan membuka
peluang usaha seperti warung / kios, rumah makan serta penginapan.

Peran serta masyarakat sekitar terhadap pengelolaan Goa Gong Pacitan adalah ikut serta dalam
menjaga keamanan. Masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam pengelolaan museum, khususnya
pemuda-pemudi yang diberdayakan sebagai tenaga office boy, secuirity serta karyawan.

Harapan masyarakat dengan keberadaan Goa Gong Pacitan pengunjung semakin ramai sehingga
sumber penghasilan masyarakat sekitar meningkat, masyarakat lebih dibedayakan, serta dengan
keberadaan museum ini dapat menjadi wisata edukasi bagi pelajar serta masyarakat umum

Pesan untuk pengelola Goa Gong Pacitan atau Pemerintah Kabupaten Pacitan terkait
pengembangan Goa Gong Pacitan adalah adanya peningkatan mutu dan pengiklanan, adanya
pengawasan pemerintah terhadap pengembangan museum serta peningkatan sarana dan
prasarana.
Tabel kuosioner terkait kepuasan pengunjung
Keterangan point pengamatan:
1. wahana wisata yang disedikan
5. tempat pembelian souvenir dan kuliner
2. kebersihan area wisata
6. akesibilitas menuju tempat wisata
3. area parkir
7. panorama alam yang ada
4. fasilitas (musholla, kamar mandi, dll.)
3
Pantai Teleng Ria Pacitan
a
Kuosioner tentang pengelolaan pantai

Yang menjadi pengelola utama kawasan objek wisata Pantai Teleng Ria adalah Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta Pemerintah
Kabupaten Wonogiri.

Terkait pengelolaan wisata Pantai Teleng Ria, menurut pihak pengelola setempat
pengelolaannya telah diatur dengan baik dengan adanya kerjasama antar tiga instasi yaitu dari
Departemen Energi Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah
Kabupaten Wonogiri.

Terkait masalah tata ruang, kawasan wisata Pantai Teleng Ria sangat strategis, hal ini
dibuktikan bahwa kawasan Museum Karstt Indonesia Pracimantoro terletak di antara tiga jalur
yaitu jalur Jogja, jalur Pacitan dan jalur Wonogiri. Namun tata letak ruang museum karst adalah
di daerah pegunungan karst yang memiliki kontur permukaan tanah yang tidak rata.

Permasalahan lingkungan yang ditemui di kawasan Pantai Teleng Ria yaitu terkait area untuk
berdagang yang kurang tertata dengan rapi.selain itu juga penyediaan tempat sampah yang
kurang memadai.
b. Kuosioner untuk masyarakat sekitar pantai

Mata pencaharian utama dari masyarakat di sekitar pantai yaitu sebagai penambang gamping,
pengolah batuan karstt, penggali batu kapur, pencari kayu bakar serta petani.

Dengan adanya Pantai Teleng Ria Pacitan, masyarakat sekitar memanfaatkannya dengan
membuka peluang usaha seperti warung / kios, rumah makan serta penginapan.

Peran serta masyarakat sekitar terhadap pengelolaan Pantai Teleng Ria Pacitan adalah ikut serta
dalam menjaga keamanan. Masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam pengelolaan museum,
khususnya pemuda-pemudi yang diberdayakan sebagai tenaga office boy, secuirity serta
karyawan.

Harapan masyarakat dengan keberadaan Pantai Teleng Ria Pacitan adalah pengunjung semakin
ramai sehingga sumber penghasilan masyarakat sekitar meningkat, masyarakat lebih
dibedayakan, serta dengan keberadaan museum ini dapat menjadi wisata edukasi bagi pelajar
serta masyarakat umum

Pesan untuk pengelola Pantai Teleng Ria Pacitan atau Pemerintah Kabupaten Pacitan terkait
pengembangan Pantai Teleng Ria Pacitan adalah adalah adanya peningkatan mutu dan
pengiklanan, adanya pengawasan pemerintah terhadap pengembangan museum serta
peningkatan sarana dan prasarana.
c.
Tabel kuosioner terkait kepuasan pengunjung
Keterangan point pengamatan:
1. wahana wisata yang disedikan
5. tempat pembelian souvenir dan kuliner
2. kebersihan area wisata
6. akesibilitas menuju tempat wisata
3. area parkir
7. panorama alam yang ada
4. fasilitas (musholla, kamar mandi, dll.)
B. Pembahasan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menganalisis objek wisata Museum Karst Indonesia, Goa
Gong serta Pantai Teleng Ria dengan analisis SWOT. Metode yang dipakai dalam praktikum ini
adalah metode kuosioner. Responden diberi lembar kuosioner dan menjawab sesuai pertanyaan
yang diajukan dalam kuosioner. Terdapat 3 kategori responden dalam praktikum ini yaitu dari
pihak pengelola, masyarakat sekitar serta pihak pengunjung.
1. Museum Karst Indonesia
Museum Karst Indonesia Terletak di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro,
Kabupaten Wonogiri. Museum ini berjarak 30 km dari Kota Wonosari dan 60 km dari Kota
Pacitan.
Sejarah berdirinya Museum Karst Indonesia berawal pada tanggal 6 Desember 2004 di
Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ketika Presiden Republik Indonesia Susilo
Bambang Yudhoyono menetapkan Kawasan Karst Gunung Sewu dan Gembong Selatan sebagai
Kawasan Eco Karst. Selanjutnya pada akhir tahun 2005 Presiden mengeluarkan Instruksi
Presiden Nomor 16 tentang Kebijakan Pembangunan dan Kebudayaan dan Pariwisata,
diantaranya menginstruksikan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk
mengembangkan kawasan karst sebagai daya tarik wisata. Berdasarkan hal tersebut pada tahun
2008 Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Geologi bersama-sama dengan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah membuat
kesepakatan bersama yang pada prinsipnya bersepakat untuk secara bersama-sama mewujudkan
terbangunnya Museum Karst Indonesia.
Pada tanggal 2 Juli 2008 Museum Karst Indonesia dibangun dan diresmikan pada
tanggal 30 Juni 2009 oleh Presiden Republik Indonesia di Sragen bersamaan dengan peresmian
Technopark.Museum Karst Indonesia. Untuk pengembangan museum, dilakukan kerjasama
antar empat instasi yaitu dari Departemen Energi Sumber Daya Mineral, Badan Geologi,
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri. Bentuk kerjasama dari
para stakeholder ini adalah Departemen Energi Sumber Daya Mineral sebagai pemilik dari
Museum Karst Indonesia, pengelolaan museum dibantu oleh Badan Geologi dari Museum
Geologi Bandung. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertanggungjawab dalam penyediaan
fasilitas di luar museum seperti jalan, masjid, pos penjagaan dan selter di belakang Museum.
Sedangkan Pemerintah Kabupaten Wonogiri sebagai penyedia tanah atau lahan.
Museum Karst Indonesia memiliki 3 lantai utama. Sebelum memasuki Museum Karst
Indonesia, akan dijumpai halaman yang luas di depan gedung Museum Karst Indonesia, di
sebelah kanan gedung terdapat menara pandang, mushola dan ruang pertemuan. Di sebelah kiri
berjajar pedagang dan akses jalan menuju goa-goa disekitar Museum Karst. Pada lobi museum
terdapat poster yang menggambarkan filososfi dari Hasta Brata yang berupa 8 wejangan yang
harus dilaksanakan oleh seseorang yang hidup di dunia agar memperoleh kesempurnaan budi.
Hal ini merupakan filosofi yang berkembang di Masyarakat Jawa khususnya muatan lokal dari
Kabupaten Wonogiri. Setelah melewati lobi, akan dijumpai denah isi museum pada kiri-kanan
tangga serta ornamen bentukan replika stalaktit dan stalakmit.
Pada lantai 1 divisualisasikan panel poster dan koleksi dengan tema Karst Untuk Ilmu
Pengetahuan “Karst for Science” yang didahului dengan panel poster mengenai kronologi
pembangunan Museum Karst. Pada lantai dasar ditampilkan kondisi sosial budaya di kawasan
karst dengan tema Karst Untuk Kehidupan ”Karst for Life“, disini akan dapat dilihat diorama
karst, maket-maket kawasan karst, serta kehidupan sosial budaya masa lalu dan masa kini. Pada
lantai atas merupakan ruangan serba guna dan dapat digunakan sebagai ruang rapat, presentasi
dan pemuataran film yang dilengkapi dengan tata suara, proyektor dan layar.
Kawasan karst adalah daerah yang terdiri atas batuan kapur yang berpori sehingga air di
permukaan tanah selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah. Permukaan tanah biasanya
selalu gundul karena kurangnya kehidupan tumbuh-tumbuhan atau tanaman (vegetasi). Air yang
merembes ke dalam rongga-rongga tanah membentuk stalaktit dan stalakmit di dalam loronglorong gua. Bahkan tak sedikit air mengalir menuju ke dalam gua dan membentuk aliran sungai
bawah tanah. Batuan kapur berasal dari sisa-sisa rumah binatang kerang yang hidup di laut. Pada
jutaan tahun yang lampau, daratan yang berbatu kapur telah mengalami pengangkatan dari dasar
laut. Pada zaman es tersebut bentuk permukaan bumi mengalami perubahan. Hal ini disebabkan
oleh tenaga endogen (dari dalam bumi) dan tenaga eksogen (dari luar bumi). Peristiwa ini
diperkirakan terjadi pada zaman Neosen, sekitar 20 juta tahun yang lampau. Ketika air hujan
melarutkan karbon dioksida dari udara maka akan terbentuk asam karbonat yang menyerang batu
kapur. Asam itu mengukir permukaan membentuk selokan dan membentuk rongga di mana arus
mengalir melalui batu kapur di bawah tanah. Proses itu memerlukan waktu ribuan tahun. Air
yang merembes melalui batu kapur mengandung kalsium karbonat yang terlarut di dalamnya.
Pada saat air menetes dari atap suatu rongga, kalsium karbonat mengendap dan membentuk
batuan stalaktit yang tergantung menyerupai es di atas atap dan stalakmit yang berdiri seperti
puncak menara kecil di bawahnya (Haikal,2007).
Untuk menganalisa data-data yang diperoleh dari Museum Karst Indonesia, Goa Gong
serta Pantai Teleng Ria dapat digunakan analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity,
Threat). Analisa data ini yaitu menjelaskan mengenai kekuatan, kelemahan, peluang, serta
ancaman dari objek wisata yang bersangkutan.
1.
Strength (Kekuatan): Kekuatan adalah sumber daya, ketrampilan atau keunggulan lain
yang relatif terhadap pesaing dan kebutuhan yang hendak dilayani. Kekuatan merupakan suatu
kompetensi yang berbeda (destintive competence) yang memberi perusahaan suatu keunggulan
komparatif (comparative advantage). Kekuatan berkaitan dengan sumber daya, aksesibilitas,
fasilitas, dan faktor-faktor lain.
Museum Karst Indonesia meiliki kekuatan ditinjau dari beberapa faktor yaitu:

Dari faktor alam, keunggulan yang dimiliki yaitu dari panorama karst yang indah. Kawasan
karst juga memiliki banyak gua yang mewakili jenis-jenis gua di dunia, dimana museum karst
dikelilingi oleh setidaknya 7 gua, diantaranya: Gua Merico, Gua Sonyo Ruri, Gua Bunder, Gua
Gilap, Gua Sodong, dan Gua Tembus.

Dari segi edukasi, museum ini menyimpan kisah perjalanan kehidupan manusia sejak zaman
prasejarah hingga zaman kerajaan sehingga dalam penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para
ahli memberikan hasil yang kaya. Disebut kaya karena hasil penelitian tersebut bukan hanya
mengenai ilmu Geologi atau lingkungan saja, namun juga memberikan hasil penelitian mengenai
sejarah masa lalu yang terjadi di kawasan tersebut yang menyangkut peradaban masyarakat
indonesia khususnya jawa. Adanya Museum Karst Indonesia serta kawasan karst disekitarnya
juga memungkinkan dilakukan riset-riset terkait karst yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan.

Dari faktor geografis, objek wisata Museum Karst Indonesia terbilang cukup strategis karena
berada diantara jalur Yogyakarta, Jawa Tengah (Wonogiri) maupun Jawa Timur (Pacitan).

Dari segi fasilitas, sarana dan prasarana yang berada di Museum Karst Indonesia tebilang
lengkap. Hal ini dapat dilihat dengan adanya menara pandang, panel poster, replika-replika karst,
mushola, ruang pertemuan, ruang rapat dan presentasi, ruang pemuataran film yang dilengkapi
dengan tata suara, proyektor dan layar, dan lain-lain
2. Weakness (Kelemahan): Kelemahan merupakan keterbatasan/kekurangan dalam sumber
daya, ketrampilan dan kemampuan yang secara serius menghalangi kinerja efektif suatu usaha.
Adapun kelemahan dari Museum Karst Indonesia yaitu dari segi aksesibitas. Akses untuk
menuju Museum Karst Indonesia terbilang sangat sulit. Hal ini dikarenakan tidak ada
transportasi umum yang menuju ke lokasi museum, sehingga pengunjung yang ingin menuju
museum harus menggunakan kendaraan pribadi atau travel. Aksesibitas ini terkait dengan
kondisi jalan. Kondisi jalan menuju museum yang dapat dikatakan buruk (dengan kontur jalan
yang tidak rata karena tersusun atas batuan karst) dapat mempengaruhi minat wisatawan yang
ingin berkunjung kesana. Selain itu juga promosi yang dilakukan oleh pengelola masih kurang
maksimal untuk meningkatkan jumlah pengunjung ke Museum Karst Indonesia.
Permasalahan lain berdasarkan kuosioer yang dapat menjadi kelemahan dari objek wisata ini
yaitu terkait area untuk berdagang yang kurang tertata dengan rapi serta penyediaan tempat
sampah yang kurang memadai sehingga menjadi kelemahan ditinjau dari ketertiban dan
kebersihan.
Terkait dengan permasalahan aksesibilitas, maka upaya pemecahan masalah yang dapat
ditawarkan yaitu perlu adanya koordinasi dengan pihak-pihak terkait (seperti Dinas Perhubungan
dan Dinas Pekerjaan Umum) untuk perbaikan akses jalan serta pengadaan trayek umum yang
menuju ke Museum Karst Indonesia. Terkait masalah area berdagang dan tempat sampah, solusi
yang dapat ditawarkan yaitu dengan menyediakan area khusus bagi para pedagang dan
pengadaan tempat sampah di tiap-tiap titik lokasi museum yang ramai pengunjung.
3. Opportunities (Peluang): suatu peluang merupakan situasi utama yang menguntungkan
dalam lingkungan usaha. Kecenderungan-kecenderungan utama adalah salah satu dari peluang
identifikasi dari segmen usaha yang sebelumnya terlewatkan, perubahan-perubahan dalam
keadaan bersaing atau peraturan dan perubahan teknologi yang diperbaiki dapat menunjukkan
peluang bagi unit usaha.
Objek wisata Museum Karst Indonesia meiliki peluang untuk dikembangkan secara optimal
mengingat karst merupakan daerah yang memiiki kondisi geografis unik dengan panorama alam
seperti batuan karst serta gua dengan stalaktit dan stalagmit yang memiliki daya tarik tersendiri.
Selain itu Museum Karst Indonesia juga berpeluang untuk dikembangkan menjadi objek wisata
edukatif secara optimal mengingat banyak kawasan karst serta gua-gua yang berpotensi untuk
dijadikan objek penelitian.
4
Threats (Ancaman): merupakan rintangan-rintangan utama bagi posisi sekarang atau yang
diinginkan dari perusahaan. Masuknya pesaing baru, perumbuhan pasar yang lambat, daya tawar
pembeli dan pemasok utama yang meningkat, perubahan teknologi dan peraturan yang baru atau
yang direvisi dapat menjadikan ancaman bagi keberhasilan suatu perusahaan.
Ancaman dari Museum Karst Indonesia yaitu adanya kompetisi dengan obyek wisata lain
mengingat Museum Karst Indonesia hanya berupa replika dari kawasan karst. Selain itu,
ancaman juga dapat dialami oleh warga di sekitar Museum Karst. Karena mereka hidup di atas
tanah karst, ancaman kekeringan / krisis air dapat terjadi. Tercatat terdapat sekitar 109 telaga
alam di Wonogiri dengan jumah luas sekitar 117,5 ha. Namun beberapa dari telaga tersebut
merupakan telaga musiman, sehingga ketika berada di musim kemarau, telaga-telaga tersebut
mengalami kekeringan.
BAB V
PENUTUP
mpulan
n
Museum Karst Indonesia Terletak di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro,
Kabupaten Wonogiri. Museum ini berisi replika-replika batuan karst, ornamen bentukan replika
stalaktit dan stalakmit, panel poster dan koleksi dengan tema Karst Untuk Ilmu Pengetahuan
“Karst for Science”, diorama karst, maket-maket kawasan karst, serta kehidupan sosial budaya
masa lalu dan masa kini.
Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan
strategi usaha. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats).
Adapun kekuatan dari Museum Karst Indonesia yaitu panorama karst yang indah yang
menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, konten-konten yang terdapat dalam museum dapat
menambah pengetahuan pengunjung mengenai karst. Kelemahan dari Museum Karst Indonesia
adalah terkait aksesibilitas jalan, usaha promosi, permasalahan ketertiban dan kebrsihan. Solusi
yang dapat ditawarkan yaitu koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Peluang dari objek wisata
Museum Karst Indonesia adalah berpeluang untuk dikembangkan menjadi objek wisata edukatif
secara optimal mengingat banyak kawasan karst serta gua-gua yang berpotensi untuk dijadikan
objek penelitian. Sedangkan ancaman dari Museum Karst Indonesia yaitu adanya kompetisi
dengan obyek wisata lain mengingat Museum Karst Indonesia hanya berupa replika dari
kawasan karst.
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Anonim1, 2009. Potensi Desa Wisata di Jawa Timur. Surabaya: Balai Penelitian dan Pengembangan
Propinsi Jawa Timur
Anonim2. 2011. Pantai Teleng Ria. wisataindonesia.com diakses pada 8 Juni 2012
Burkart. 1987. The Management of Tourism. Jakarta: Penerbit PT. Erlangga
F Rangkuti. 1997. Analisis SWOT Teknik membedah Kasus Bisnis. Jakarta : Penerbit PT. Gramedia
Pustaka Utama
Haikal. 2007. Geological of Karst. Surabaya : Intan Sari Palapa.
Heidi Dahles. 2001. Tourism, Heritage and National Culture in Java: Dilemmas of A Local Community.
London: Curzon Press
H Kodyat. 1983. Pariwisata Indonesia. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama
Iwan Nugroho. 2006. Ekowisata. Malang: Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas
Widyagama
Suratman Worosuprojo. 2010. Karstt Sebagai Asset Daerah Kabuaten Gunung Kidul. Jogjakarta: Fakultas
Geografi UGM
William Harris & Judith S. Levey. 1975. The New Columbia Encyclopedia. New York: Columbia
University Press
Oka Yoeti. 2002. Perencanaan Strategis Pemasaran Daerah Tujuan Wisata (DTW). Jakarta: Pradnya
Paramita
Download