5265

advertisement
ARTIKEL
PENGELOLAAN NYERI PADA Tn. T DENGAN POST ORIF (OPEN REDUCTION INTERNAL FIXATION)
INDIKASI FRAKTUR CRURIS DEXTRA DI RUANG ANGGREK
RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI
Oleh :
INDAH RAHAYU
0132722
AKADEMI KEPERAWATAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
2016
PENGELOLAAN NYERI PADA Tn. T DENGAN POST ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
INDIKASI FRAKTUR CRURIS DEXTRA DI RUANG ANGGREK
RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI
Indah Rahayu1, Joyo Minardo2, Maksum3
123
Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo Ungaran
ABSTRAK
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat
subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan
hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya.
Secara klinis, nyeri adalah keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya rasa
ketidakyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan. Tujuan penulisan ini adalah
untuk memberikan sumbangan pengetahuan tentang pengeloaan nyeri pada pasien post ORIF
(Open Reduction Internal Fixation) dengan indikasi Fraktur Cruris Dextra di RSUD Pandan Arang
Boyolali.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik autoanamnesa dan
aulloanamnesa. Pengelolaan nyeri pada Tn. T dilakukan selama 2 hari. Metode yang digunakan
adalah memberikan pengelolaan berupa perawatan pasien dalam mengurangi nyeri, dengan cara
mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, memberikan kompres hangat (buli-buli hangat), dan
pemberian obat analgetik.
Hasil pengelolaan didapatkan sesuai dengan kriteria hasil nyeri berkurang, skala nyeri 4,
wajah pasien tidak meringis kesakitan, pasien tampak tenang dan rileks, kemudian pendelegasian
ke perawat ruangan untuk mengetahuai adanya komplikasi lain.
Saran bagi perawat agar lebih banyak mempelajari tentang penatalaksanaan dalam
pengurangan nyeri pada pasien fraktur cruris post ORIF
Kata kunci
Kepustakaan
: Pengelolaan Nyeri, Fraktur Cruris
: 5 (2006 – 2016)
1
Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo
ABSTRACT
Pain is a condition in the form of an unpleasant feeling. It is highly subjective because of
the feeling of pain is different for each person in terms of scale or level, and the only person who
can explain or evaluate the pain he endured. Clinically, pain is a condition in which individuals
experience and to report any great discomfort or unpleasant sensations. The purpose of this
paper is to contribute knowledge about the management of pain in patients post ORIF (Open
Reduction Internal Fixation) with an indication of Fraktur cruris Dextra in hospitals Pandan Arang
Boyolali.
The technique of collecting data was conducted by using autoanamnesa and
allowanamnesa technique. The pain management in Mr. G was conducted for 2 days. The method
used is to give management in the for patient treatment in reducing pain by teaching breath
relaxation technique.
The result obtained from the management in accordance with criteria for pain decreased,
pain scale 5, no arimace face in patient, patient seemed calm, and nurse delegation other
complication.
It is suggested to the nurse in order to learn more about management in reducing pain in
patient with cruris fracture post ORIF.
Keyword : Pain management, Cruris Fracture
Literature : 5 (2006-2016)
LATAR BELAKANG
Menurut Mansjoer (2000) dalam
Jitowiyono Sugeng & Weni Kristiyanasari
(2012:15) fraktur atau patah tulang adalah
terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan
oleh rudapaksa. Sedangkan menurut
Brunner & Suddarth (2014:250) fraktur
adalah gangguan komplet atau tak komplet
pada kontinuitas struktur tulang dan
didefinisikan sesuai dengan jenis dan
keluasannya.
Menurut
Noor
Zairin
(2016:541) fraktur cruris atau tibia-fibula
adalah terputusnya hubungan tulang tibia
dan fibula.
Fraktur merupakan suatu kondisi
dimana terjadi diintegritas tulang. Penyebab
terbanyak Fraktur adalah kecelakaan, baik
itu kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas
dan sebagainya. Tetapi fraktur juga bisa
terjadi akibat faktor lain seperti proses
degeneratif dan patologi (Depkes RI, 2005).
Menurut Depkes RI 2011, dari sekian banyak
kasus fraktur di indonesia, fraktur pada
ekstremitas bawah akibat kecelakaan
memiliki prevalensi yang paling tinggi
diantara fraktur lainnya yaitu sekitar 46,2%.
Dari 45.987 orang dengan kasus fraktur
ekstremitas bawah akibat kecelakaan,
19.629 orang mengalami fraktur pada tulang
femur, 14.027 orang mengalami fraktur
cruris, 3.775 orang mengalami fraktur
tibia,970 orang mengalami fraktur pada
tulang-tulang kecil di kaki dan 336 orang
mengalami fraktur fibula. Walaupun peran
fibula dalam pergerakan ektremitas bawah
sangat sedikit, tetapi terjadinya fraktur pada
fibula tetap saja dapat menimbulkan adanya
gangguan aktifitas fungsional tungkai dan
kaki.
Penanganan pada pasien fraktur di
Rumah Sakit dapat dilakukan dengan poses
pembedahan. Menurut Smeltzer & Bare
(2000) Prosedur pembedahan yang sering
dilakukan pada pasien fraktur ekstremistas
meliputi: reduksi terbuka dengan fiksasi
interna (ORIF), fiksasi eksterna, dan graft
tulang.
Menurut Maslow dalam Potter dan
Perry (2006), nyeri masuk kedalam
kebutuhan keselamatan dan rasa aman.
Mempertahankan
keselamatan
fisik
melibatkan keadaan mengurangi atau
mengeluarkan ancaman pada tubuh atau
kehidupan.
Memenuhi
kebutuhan
keselamatan fisik kadang mengambil
prioritas lebih dahulu di atas pemenuhan
kebutuhan fisiologis.
2
Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo
Menurut catatan medis RSUD Pandan
Arang Boyolali, jumlah pasien fraktur cruris
pada tahun 2014 terdapat 19 kasus dengan 7
pasien perempuan dan 12 pasien laki-laki.
Kemudian pada tahun 2015 terdapat kasus
sebanyak 11 kasus dengan 1 pasien
perempuan dan 10 pasien laki-laki. Dapat
disimpulkan bahwa fraktur cruris banyak
terjadi pada pasien laki-laki. Sedangkan pada
bulan Oktober 2015 – bulan Maret 2016
terdapat 1 kasus. Dari data diatas dapat
disimpulkan bahwa angka kejadian fraktur
cruris paling tinggi pada tahun 2014.
PEMBAHASAN
Pengkajian keperawatan merupakan
tahap awal dan landasan dalam proses
keperawatan, untuk itu diperlukan keahlian
untuk melakukan observasi, komunikasi,
wawancara, dan pemeriksaan fisik yang
sangat penting untuk menyelesaikan fase
proses
keperawatan
dan
tindakan
keperawatan yang tepat (Muttaqin, 2008).
Pengkajian dilakukan pada hari Rabu, 13
April 2016 di Ruang Anggrek RSUD Pandan
Arang
Boyolali
dengan
metode
autoanamnesa
dan
allowanamnesa.
Identitas Tn. T usia 55 tahun dan bertempat
tinggal di Klaten. Tn. T bersuku Jawa dan
beragama Islam dengan diagnosa medis
Fraktur Cruris. Keluhan utama saat dikaji,
Klien mengatakan terasa nyeri pada kaki
kanan bekas operasi (post operasi). Pada
saat dilakukan pengkajian riwayat penyakit
sekarang didapatkan data jika Tn. T
mengatakan sekitar 2 bulan yang lalu ia
menghindari anjing mengunakan sepeda
motor
kemudian
pasien
mengalami
kecelakaan dan mengakibatkan patah tulang
atau fraktur pada kaki kanan. Kemudian oleh
keluarganya
dibawa
ke
sangkal
putung/terapi tradisional. Selama 2 bulan
terakhir pasien merakan jika tidak ada
perkembangan pada kakinya dan merasakan
nyeri pada kakinya dan pada tanggal 9 April
2016 pasien dan keluarga memutuskan
untuk periksa ke RSUD Pandan Arang
Boyolali melalui Unit Gawat Darurat.
Kemudian dilakukan foto radiologi yang
hasilnya ada patah tulang di bagian cruris
dextra. Oleh dokter dianjurkan untuk
operasi. Pasien belum pernah melakukan
operasi sebelumnya. Pasien dan keluarga
menyangupi operasi dan pada tanggal 12
April 2016 pasien menjalankan operasi dan
kini dirawat di ruang Anggrek. Selanjutnya
penulis melakukan pemeriksaan fisik. Data
yang diperoleh penulis adalah Kaki kanan
fraktur, post orif, belum bisa bergerak hanya
jari kaki yang bisa bergerak, tidak ada kebas
atau kesemutan. Dengan tanda-tanda vital
Tn. T adalah tekanan darah 120/70 mmHg,
nadi 88 x/menit, RR 22 x/menit dan suhu
36,8⁰C. Pada pemeriksaan fisik Sistem
Muskuloskeletal terdapat balutan post
operasi pada ekstremitas bawah dextra,
METODE PENGELOLAAN PENGKAJIAN
Pengkajian atau tahap pengumpulan
data merupakan dasar manajemen asuhan
keperawatan yang kegiatannya ditujukan
untuk mengumpulkan informasi mengenai
klien. Informasi tersebut akan menunjukkan
kebutuhan dan masalah kesehatan serta
asuhan yang dibutuhkan klien terutama
dalam kasus ini adalah dalam melakukan
pengelolaan nyeri pada pasien fraktur.
Pengkajian ini diawalai dengan pengumpulan
data melalui anamnesa meliputi Nama, jenis
kelamin, umur, agama, alamat, tanggal
masuk rumah sakit, diagnosa medis,
pekerjaan, nama penanggu jawab, alamat,
dan hubungan dengan klien.
Setelah itu melakukan pemeriksaan
fisik secara menyeluruh yang meliputi
inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi,
pemeriksaa foto rontgsen. Dalam analisis
data yang perlu ditekankan dalam rangka
untuk diperiksa sekitar riwayat kesehatan
yang bertujuan untuk menentukan keadaan
sejahtera dan penyakit yang diderita pasien.
(Menurut Wijaya, 2013).
HASIL
Untuk mengatasi masalah tersebut
implementasi dilakukan adalah ajarkan
teknik relaksasi nafas dalam, kemudian
berikan kompres hangat (buli-buli hangat),
setelah itu berikan posisi yang nyaman,
selanjutnya kolaborasi dalam pemberian
terapi obat analgetik, kemudian kaji ulang
nyeri dan karakteristik nyeri, dan monitor
tanda-tanda vital.
3
Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo
pasien tampak lemah, muka pasien tampak
menahan nyeri (meringis menahan nyeri), P:
nyeri timbul saat bergerak, Q: nyeri terasa
cekot-cekot/terasa panas, R: pada kaki
kanan, S: Skala nyeri 7, T: Nyeri terasa terus
menerus .
Diagnosa
keperawatan
adalah
diagnosa keperawatan adalah pernyataan
yang menjelaskan status kesehatan, baik
aktual
maupun
potensial.
Perawat
menggunakan proses keperawatan dalam
mengindentifikasi dan menyitesis data klinis
serta menentukan intervensi keperawatan
untuk mengurangi, menghilangkan, atau
mencegah masalah kesehatan klien yang
menjadi tanggung jawabnya (Muttaqin,
2008).). Diagnosa utama yang diambil
penulis adalah Nyeri berhubungan dengan
terputusnya jaringan (post ORIF). Penulis
mengangkat diagnosa ini sebagai prioritas
utama karena masalah tersebut membuat
klien tidak nyaman dan bila masalah
tersebut tidak segera diatasi maka akan
menyebabkan penderitaan dan mengganggu
psikologi individu. Menurut Maslow dalam
Potter dan Perry (2006), nyeri merupakan
kebutuhan urutan kedua pada keselamatan
dan keamanan dimana mempertahankan
keselamatan fisik, melibatkan keadaan,
mengurangi ancaman tubuh seperti infeksi
dan jatuh dari tempat tidur. Karena
bagaimanapun orang akan terancam
kesejahteraan fisik dan emosinya. Apabila
masalah tidak segera diatasi maka
berdampak
pada
kondisi
kesehatan
kenyaman klien. Oleh karena itu melakukan
rencana tindakan keperawatan.
Intervensi adalah kategori dari
perilaku keperawatan dimana tujuan yang
berpusat pada klien dan hasil yang
diperkirakan, ditetapkan dan intervensi
keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan
tersebut. Selama perencanaan, dibuat
prioritas. Selain berkolaborasi dengan klien
dan keluarganya, perawat berkonsul kepada
anggota tim perawat kesehatan lainnya,
menelaah literature yang berkaitan,
memodifikasi asuhan, dan mencatat
informasi yang relevan tentang kebutuhan
perawatan kesehatan klien dan pelaksaan
klinik (Potter & Perry, 2006). Intervensi yang
ditetapkan penulis untuk menyelesaikan
masalah klien yaitu ajarkan teknik relaksasi
nafas dalam, kemudian berikan kompres
hangat (buli-buli hangat), setelah itu berikan
posisi yang nyaman, selanjutnya kolaborasi
dalam pemberian terapi obat analgetik,
kemudian kaji ulang nyeri dan karakteristik
nyeri, dan monitor tanda-tanda vital.
Implementasi
merupakan
tahap
keempat dari proses keperawatan. Tahap ini
muncul jika perencanaan yang dibuat
diaplikasikan pada klien. Tindakan yang
dilakukan mungkin sama, mungkin saja
berbeda dengan urutan yang dibuat pada
perencanaan. Pada hari Rabu, 13 Apil 2016
pukul 08.30 WIB memonitor TTV, hasilnya
tekanan darah klien 120/70 mmHg, nadi
klien 88 x/menit Setelah itu pada jam 09.00
WIB penulis melakukan pengkajian nyeri
secara komperhensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, dan kualitas
nyeri pada klien. Pada jam 09.30 WIB
mengajarkan teknik relaksasi napas dalam,
kemudian memberikan kompres hangat
(buli-buli hangat) dan pada pukul 16.00 WIB
memberikan injeksi obat melalui selang IV.
Implementasi kedua dilakukan hari Kamis, 14
April 2016
pukul 07.00 WIB penulis
memonitor TTV, dengan hasil hasilnya
tekanan darah klien 120/70 mmHg, nadi
klien 80 x/menit. Kemudian mengkaji ulang
skala dan karakteristik nyeri.
Pada hari Kamis, 14 April 2016 pukul
13.00 WIB penulis melakukan evaluasi dan
didapatkan data subjektif yaitu klien
mengatakan nyeri berkurang, P: bila saat
bergerak, Q: nyeri terasa sengkringsengkring, R: nyeri terasa pada kaki kanan
post operasi, S: nyeri yang dirasakan skala 4,
T: nyeri hilang timbul. Data objektif klien
tampak tenang, tidak cemas, rilek danwajah
tidak meringis.
Kesimpulan
Setelah
diberikan
asuhan
keperawatan selama 2 hari, masalah nyeri
pada Tn. T teratasi. Hal ini didapatkan dari
hasil evaluasi dimana skala nyeri berkurang
dan pasien tenang.
4
Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo
Saran
Muttaqin , Arif.(2008). Buku Ajar Asuhan
Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem imunologi.
Potter, P.A ., & Perry, A.G. (2006). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan. Edisi 4.
Jilid 2. Jakarta: EGC.
Smeltser, S.C. & Bare. B. G. (2014). Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 12.
Jakarta: Salemba Medika.
Bagi perawat ruangan dan anggota
medis lain, diharapkan agar lebih banyak
mempelajari
tentang
penatalaksanaan
dalam pengurangan nyeri pada pasien
fraktur cruris post ORIF.
Bagi Instansi RSUD Pandan Arang
Boyolali, diharapkan untuk memfasilitasi
mahasiswa dalam pengambilan data untuk
mencari gambaran awal.
DAFTAR PUSTAKA
Burnner & Suddarth. 2014. Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Jitowiyono, Sugeng. Dan Kristiyanasari,
Weni. (2012). Asuhan Keperawatan
Post Operasi. Yogyakarta: Nuha
Medika.
5
Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo
Download