REVITALISASI DAN RENKONTRUKSI PENDIDIKAN

advertisement
REVITALISASI DAN RENKONTRUKSI PENDIDIKAN
PROFESIONAL GURU
(Tantangan Undang-undang Guru dan Dosen)
Prof. Dr. H. Syaiful Anwar, M.Pd1
Abstract
Addressing a variety of educational pattern our teacher profession currently
questioning the point still low quality education a performance teach teacher even
though it has got an allowance and teach received from Governments is a key
requirement for LPTK to look back on what pattern and format of professional
teacher education as long as it is true and correct in the context fulfilling the
demands of Act No.14 in 2014 about teachers and professors that asserts the
teachers as a profession. This paper is the theme of revitalizing and reconstruction
challenges a teacher professional education law teachers and professors in hopes
can be input materials regulator education to design professional education patterns
of teachers back in the motherland a better future.
Keywords : Refitalisasi, reconstruction, education, profeional teacher
A. Pendahuluan
Peningkatan kualifikasi dan kompotensi guru merupakan salah satu
prioritas pemerintah saat ini, hal tersebut sebagai wujud realisasi undang-undang
guru dan dosen nomor 14 tahun 2005 yang mempersyaratkan guru untuk memiliki
kualifikasi minimal SI dan memiliki kompetensi mengajar yang dibuktikan dengan
kepemilikan sertifikasi sebagai pengajar.2
Pada saat ini guru di Indonesia berjumlah sebanyak 2.667.655 orang guru
(Depdiknas 2007). Dari jumlah tersebut baru 887.751 orang yang berkualifikasi SI
atau DIV. Disamping kualitas akademik guru, kondisi peningkatan kualifikasi
akademik guru, kondisi kekurangan guru juga masih banyak dialami sebagian besar
wilayah Indonesia pada berbagai jenjang pendidikan. Belum lagi ditambah kondisi
1
Guru Besar Ilmu pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan
Lampung
2
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen, Jakarta, Departemen
Pendidikan Nasional
akan banyaknya jumlah guru-guru yang purna pension di tahun 2015. Dengan
demikian, jumlah kebutuhan guru saat ini, maupun masa-masa mendatang
sangatlah dibutuhkan. Hal ini menjadi luar biasa mengingat kemampuan LPTK
yang ada di Indonesia pada saat ini sejumlah 278 LPTK (termasuk 32 LPTK
Negeri) belum mampu memenuhi jumlah guru yang dibutuhkan dalam waktu
segera. Dalam hal ini penerapan system pendidikan guru yang inovatif dan
fungsional menjadi pilihan yang tidak dapat ditawar-tawar.3 Tentu dalam konteks
ini peranan LPTK termasuk LPTK dibawah kemeterian Agama dalam hal ini
fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan lampung khususnya lebih
bersungguh-sungguh lagi dalam menata diri kelembagaannya untuk melakukan
berbagai trobosan dan inovasi-motivasi baru dalam memenuhi tuntutan dan kualitas
guru-guru di masa akan datang.
Salah satu issu yang mendesak untuk di respon oleh LPTK saat ini upaya
peningkatan kualitas pendidikan professional guru yang ada selama ini yang dinilai
belum bermutu dengan indikasi belum terwujudnya performance mengajar guru
yang professional, sebagaimana di inginkan oleh semangat tujuan Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3, bahwa tujuan khusus pendidikan profesi guru
adalah: “menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan peatihan peserta didik anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta melakukan penelitian.
Belum terwujudnya performance professional guru yang handal saat ini
tentu banyak faktor penyebabnya antara lain: mulai dari input, proses maupun out
put kependidikan di LPTK yang belum sepenuhnya berorintasi pada mutu, pada
bagian lain model pendidikan professional guru (guru dalam jabatan) baik melalui
format portopolio dan PLPG saat ini dinilai belum memberikan penguatan yang
3
Ishak Abdullah, dkk, Studi Implementasi Model Pendidikan Guru Berbasis ICT Untuk
Penngkatan Kualifikasi Dan Kompetensi Guru. Penelitian Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Bandung,
tahun 2010
2
berbarti bagi peningkatan kualitas dan kinerja professional guru di berbagai jenjang
dan tingkatan pendidikan yang ada. Hal ini antara lain model disain pendidikan
professional guru yang ada belum sepenuhnya mengacu pada pola pendidikan
professional guru yang baik berkualitas. Apa yang dilakukan masih bersifat tambal
sulam dan belum terintegral dengan prinsip-prinsip pemenuhan asas kompetensi
professional guru yang diharapkan. Karena itu merevitalisasi merekuntruksi
kembali model pendidikan profesional guru saat ini menjadi issu penting untuk
diketengahkan dalam tulisan ini.
B. Urgensi Repitalisasi dan rekontruksi pendidikan professional guru di
Indonesia
Merekonstruksi (merancang kembali) penddikan profesional guru saat ini
penting untuk dilakukan oleh LPTK khususnya LPTK tarbiyah dan keguruan
IAIN/UIN, mengingat ada dua alasan. Pertama memenuhi tuntutan Undangundang nomor 14 tahunn 2005 tentang guru dan dosen yang menegaskan guru
sebagai suatu profesi, kedua, memenuhi tuntutan peningkatan kualitas guru melalui
pengembangan pengetahuan materi ajar (conten knowledge) yang seimbang dengan
penguatan pengetahuan pedagogik (pedagogik knowliedge) dan pemberian praktek
mengajar dalam setting otentik.4
Re-Desain pendidikan professonal guru disini adalah mengacu pada asumsi
dasar bahwa menjadi guru professional adalah proses berkesinambungan yang
mengacu pada standar baku dengan penilaian kinerja secara terus menerus.
Pendidikan professional guru merupakan suatu keutuhan proses pendidikan guru
yang mencakup pendidikan akademik dan pendidikan profesi. Proses pendidikan
akademik dan pendidikan profesi yang dimaksud bermuara pada penguatan
pengetahuan dan keterampilan mengajar melalui tiga hal: (1) transfer pengetahuan
4
Universitas Pendidikan Indonesia, Redesain Pendidikan Profesional Guru, UPI Press hal
1-4, 2010. materi dalam tulisan ini sebagai besar menyadari dari buku panduan ketetapan senat
akademik Universitas pendidikan Indonesia dengan judul: Re Desain pendidikan profesional guru
terbitan tahun 2010 berlangsung secara kolaboratif di dalam komunitas profesional.
3
mengajar dalam stting otentik, (2) pemandu teori dan praktek belajar cara mengajar
(learning to Teach) dalam dan konteks latihan praktek (practice in practice)
berlangsung secara mkolaboratif di dalam komunitas professional.
Desain pendidikan profesional guru yang diinginkan kedepan yaitu
memadukan antara pengetahuan meteri ajar dan pengetahuan pedagogik secara
integral (utuh), tampa mempersoalkan pendekatan kankuren atau pendekatan
konsekutif dalam menyiapkan guru profesional.
Mengingat dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 mensyaratkan
seorang ingin menjadi guru harus berpendidikan SI/D.IV ditambah pendidikan
profesi, tampa membedakan latar belakang pendidikan atau nonkependidikan,
maka desain pendidikan profesi guru harus dirancang menjadi dua pola pendidikan
profesi guru yang berlatar belakang SI/D.IV kependidikan dan pola pendidikan
profesi guru non kependidikan.
Pola desain kependidikan profesi guru (PPG) bagi yang berlatar belakang
SI/DIV kependidikan menekankan pada keterpaduan subtansi pengetahuan materi
ajar dan paedagogik secara bertahap sejak awal mengikuti perkuliahan. Kemudian
setelah lulus SI yang bersangkutan akan mengikuti program PPG untuk
mendapatkan sertifikat mengajar melalui tes seleksi yang ketat yang dilakukan oleh
LPTK penyelenggara.
Sementara itu pola/desain pendidikan profesi guru yang berlatar belakang
non kependidikan, di mulai dengan matrikulasi yang dilakukan secara intensif
untuk memadukan pengetahuan materi ajar dan paedagogik serta pengenalan
proses pembelajaran yang diperkuat dengan perkuliahan dan prkatek dalam latihan
mengajar di laboraturium pembelajaran (microtecahing), setelah mengikuti
program matrikulasi mahasiswa/I calon guru tersebut kemudian mengikuti program
PPG yang diawali dengan seleksi ketat yang dilakukan oleh LPTK penyelenggara.
Kerangka untuk perbedaan model pendidikan profesi guru jalur lulusan SI
kependidikan dan SI Non Kependidikan dapat dilihat pada gambar berikut:
4
Pendidikan
Akademik S-I
Pendidikan
Pendidikan
Profesi
Pendidikan
Akademik S-I
Pendidikan
Pendidikan
Profesi
Pendidikan
Profesi
Pendidikan Profesi
Pembentukan dan
pengesahan
profesional secara
berkelanjutan berupa
latihan menerapkan
prangkat untuk
kompetensi akademik
yang dipersyaratkan
bagi guru secara
kontekstual atau
nonmateri. Dalam
praktek nyata yang
berlangsung dalam
setting yang otentik
Kompeten
si dalam
basline
yang sama
Gambar 1 Kerangka Untuk Model Pendidikan Profesi Guru
Dalam hal rekrutmen, lulusan SI/D.IV Nonpendidikan yang akan mengikuti
PPG harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) Prestasi akademik yang ditetapkan LPTK penyelenggara
b) Menguasai bahasa indonesia
c) Tes kependidikan dan rekam jejak kelakuan baik seperti tidak pernah terlibat
dalam penggunaan narkoba, geng motor, atau tindakan kejahatan lainnya.
d) Penguasaan pengetahuan tentang budaya wawasan kebudayaan
Sesuai dengan tuntutan profesi, materi dalam matrikulasi mahasiswa calon
guru berlatar belakang SI/D.IV non kependidikan menekankan aspek-aspek sebagai
berikut:
1)
2)
3)
4)
Penguasaan paedagogik umum dan paedagogik khusus bidang studi (general
and subjek specific paedagogy) untuk memperkuat pemahaman dan kohensi
konseptual-struktural kurikulum bidang studi
Latihan berbagai keterampilan dasar (basic skill) mengajar
Perencanaan pemerolehan pengetahuan dan penerapan keterampilan teknik
mengajar dalam setting otentik
Pemahaman dan pengenalan kode kehormatan kode etik guru
5
Agar cara guru tersebut memiliki tingkat pengetahuan dan keterampilan
mengajarnya yang terintegreted dan memiliki integritas kepribadian yang handal,
maka pola pengalaman praktek mengajar pendidikan profesi guru (PLPPG) harus
juga di rancang dan dilakukan
pembenahan tata kelola unti PLPPG, dengan
melakukan senergisitas kepada pihak-pihak terkait terutama sekolah/madrasah
sebagai obyek laboraturium pendidikan lapangan. Langkah-langkah yang harus
diprkatekkan dalam pelaksanaan PLPPG, sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan
pola PPL yang lazim dilaksanakan pada calon guru kelas reguler yang ada yaitu:
1) Pembekalan pra PPL/PLPPG di lakukan setelah mahasiswa memahami
persyaratan akademik yang ditetapkan LPTK penyelenggara
2) Melalkukan orientasi/observasi lapangan yang dilakukan untuk memperbaiki
gambaran awal lingkungan sekolah iklim pembelajaran, termasuk
pengembangan secara pembelajaran bodang studi (In-on-in)
3) Latihan mengajar di laboraturium pembelajaran (microteaching) dan penilaian
pra lapangan untuk memastikan kesiapan mental mahasiswa dan hal-hal lain
yang terbaik dengan proses pembelajaran bidang studi.
4) Praktek tersetruktur di sekolah-sekolah yang di tunjuk
5) Bimbingan dan supervisi klinis oleh dosen pembimbing lapangan (DPL) untuk
untuk memantau kegiata belajar mahasiswa dan
6) Evaluasi program penjamin mutu dan uji kompetensi profesional guru yang
dilakukan untuk menilai efektivitas program dan mengukur keberhasilan calon
guru dalam penerapan standar kompetensi profesional yang ditetapkan.
Untuk mendukung terselenggaranya program PLPG secara efektif dan
berkesinambungan kerjasama (MoU) dipihak sekolah madrasah yang bersifat
saling menguntungkan (win-win-solution). Dimana pihak LPTK dapat memberikan
aktivitas-aktivitas pelatihan, wrokshop dan program pelatihan penelitian tindakan
kelas (PTK) bagi guru-guru pamong, lebih dari itu pihak isntitusi dapat juga
mendorong bagi guru-guru pamong untuk dapat melanjutkan studi S-2 dan atau S3. Selain itu dalam rangka meningkatkan image lembaga penyelenggara PPG yang
kridebel LPTK perlu menyelenggarakan kelembagaanya melalaui berbagai
kebijakan berupa:
6
a) Pengembangan visi masa depan pendidikan guru yang jelas peserta didik
(dalam hal ini pembelajaran bersaramaperlu dipertimbangkan ) dan penignkatan
kualitas kerja dosen (quality of facukty work)
b) Pengembangan pembelajarana berbabsis penelitian
c) Peningkatan reputasi akademik, akreditasi dan kerjasama dalam
penyelenggaraan pendidikan profesi guru
d) Penguatan kelembagaan sekaligus kapibiitas manajemen untuk pengembangan
dan pengelolaan model-model pendidikan guru. 5
e) Penguatan perangkat lunak dan keras: berupa laburaturium berbasis it dan ciri
lainnya.
C. Kerangka Pikir Pengembangan Kurikulum PPG
Kerangka kurikulum PPG yang utuh dan ingin diwujudkan dalam rangka
ingin melahirkan tenaga-tenaga guru yang profesional tentulah dilandasi oleh dua
hal yaitu: pertama; bergulirnya kebijakan winder mandate bagi LPTK dari
tranformasi ke kelmbaga IAIN menadi UIN yang meniscayakan untuk membuka
program study umum dan atau non kependidikan yang berimplikasi pada LPTK
yang kini sedang akan digagas pembukaan program-program studi dan fakultas
umum non kependidikan yang tentu ini berimbas pada perubahan struktur
kurikulum ke lembagaan sesuai visi, misi dan tujuannya. Kedua, tuntutan undangundang nomor 14 tahun tahun 2005 yang mensyaratkan guru yang profesional
harus S-I tampa mempersoalkan latar belakang pendidikan atau non kependidikan.
Sekaitan dengan hal di atas maka perlu adanya kurikulum inti yang dapat menjadi
acuan semua LPTK terutama LPTK di lingkungan PTAI/kementerian agama
Republik Indonesia. Struktur dari isi kurikulum inti program studi pendidikan
menunjuk padabatang tubuh ilmu pendidikan yang mencakup unsur-unsur sebagai
berikut:
1) Pengetahuna materi ajar (konten knwolege)
5
Ibid, hal 4
7
2) Pengetahuan tentang metode pengajaran secara umum (general padagogical
knowladge) yang berlaku untuk semua bidang studi dan situasi, sperti psikologi
pembelajaran, problem solving dan sosiologi pendidikan.
3) Pengetahuan yang berkaitan dengan pendekatan dengan metode pemebelajaran
yang menyangkut bidang studi tertentu (content specfic paedagogical
knowladge)
4) Persyaratan tentang karakteristik peserta didik (knowladge of learner’s
charakteristies)
5) Pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan kurikulum (curiculum
knowledge)
6) Pengetahuan dan keterampilan memilih dan mengembangkan alat penilaian,
baik proses maupun hasil belajar peserta didik dan kemampuan peserta didik
menunjukkan apa yang bisa dilakukan berdasarkan apa yang diketahuinya
(assesment and evaluation)
7) Pengetahui tentang konteks kependidikan (knowledge of conteks of edicatioan)
dan
8) Pengetahuan dan keterampilan dalam emamanfaatkan teknologi informasi
dalam proses pemebelajaran (informasi tecnology)
Program pendidikan profesi guru (PPG) yang bertujuan yang menghasilkan
guru yang memimiliki kompetensi sebagaimana diamanatkan
dalam undang-
undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen serta peraturan menteri
pendidikan nasional (pemerintah, nomor 16 tahun 2007 tentang kualifikasi
akademik dan standar kompetensi guru profesional menghendaki LPTK untuk
memvitalisasi dan merekonstruksi ke ilmuan pendidikan guru yang harus tercermin
dalam struktur kurikulum pendidikan guru (PPG). Dengan demikian mahasiswa
yang berlatar belakang kependidikan yang berminat menjadi guru dapat diberi
ruang dan diterima menjadi calon guru setelah mereka selesai mengikuti program
S-I, dengan jalan mengikuti PPG yang diselenggarakan oleh LPTK.
8
Pengembangan kurikulum PPG, untuk melahirkan sosok utuh kompetensi guru
disini harus menegaskan bahwa kurikulum yang diabangun dapat mengembangkan
kompetensi guru yang diharapkan, sebagaimana yang dimanatkan dalam undangundang no 14 tahun 2005 dan peraturan nomor 19 tahun 2007 tentang standar
nasional pendidikan adalah kompetensi paedagogik, keperibadian sosial dan
profesional . untuk itu keempat kompetensi tersebut harus dimaknai sebagai suatu
keutuhan dan secara konseptual-struktur dapat mahirkan rancangan pengalaman
belajar yang luas dalam kurikulum untuk pendidikan profesi guru (PPG) 6
Secara ringkas kerangka pikir pengembangan kurikulum PPG kedepan
dapat dilihat pada sekematik dibawah ini:
UU No 14/2015
Permendiknas
No.16/2007
KOMETENSI
-PAEDAGOGIK
KEPERIBADIA
N
-SOSIAL
-PROFESIONAL
Struktur Program
Kompetensi
Profesional
Kompetensi yang
dikembangkan
melalui program
akademik
KOMETENSI
AKADEMIK
Pendidikan Profesi
PENDIDIKAN
AKADEMIK
PENGANUGRAHAN
S-I
(Sarjana
Pendidikan)
Gambar 2 Kerangka Kurikulum PPG7
Menunjuk pada skema kerangka kurikulum PPG diatas maka dapat
dijelaskan bahwa kompetensi pendidikan profesi guru harus mampu mewujudkan
pribadi utuh guru profesional yang memiliki karakteristik dalam bidang
6
7
Ibid, hal 24-25
Diadaktis Dari Sekematik Kerangka Pikir Pengembangan Kurikulum PPG UPI, Bandung
hal 26
9
kependidikan yang di cerminkan kedalam 4 kompetensi dengan karakteristiknya
masing-masing.
1. Kompetensi Paedagogik
Kompetensi paedagogik ini menyiaratkan bahwa seorang guru kedepan
tidak lagi di pahami hanya sekedar sebagai pengajar yang mentranfer ilmu
pengetahuan dan keterampilan kepada siswa-siswi, akan tetapi ia juga merupakan
pendidik dan pembimbing yang membantu siswa untuk mengembangkan segala
potensinya terutama terkait dengan kompetensi akademik maupun non akademik,
melalui peran ini, para guru secara sepesifik haruslah mejadi orang yang dapat
membawa siswa bisa belajar. Dengan demikian kompetensi paedagogik ini terkait
arah dengan kemampuan didaktis dengan metode yang harus dimiliki guru
sehingga dia dapat berperan sebagai pendidik dan pembimbing siswa yang baik.
Dengan standar kompetensi paedagogik diatas ditemukan endala 10 standar
ini kompetensi paedagogik yang menjadi inti latar keberhasilan kompetensi
paedagogik yaitu: (1) menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,
kultural, emosional dan intelektual, (2) menguasai teori-teori belajar dan prinsipprinsip pemelajaran yang mendidik, (3) mengembangkan kurikulum yang terkait
dengan
mata
pelajaran
atau
bidang
pengembangan
yang
diampu,
(4)
menyelenggarakan pembelajaran dengan medidik (5) memanfaatkan teknologi
informasi dengan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran, (6) memfasilitasi
pengembangan komptensi peserta didik untuk mengaktuaisasikan berbagai potensi
yang dimilikinya, (7)berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan
peserta didik, (8) menyelenggarakan penilain dan evaluasi proses dan hasil belajar,
(9) memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan kualitas
pembelajaran.
10
2. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi yang di tuntut dalam standar kompetensi kepribadian ini
meliputi: (1) bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan
nasional Indoneisa. Dalam hal ini guru tidak hanya belajar dan mentransfer ilmu
pengetahuan tapi yang lebih penting ke menjadi pemberi teladan nilai-nilai moral
yang dianut oleh masyarakat. Ia harus menjadi garis terdepan dalam teladan moral
yang tercermin dalam setiap prilaku dan cara kehidupannya, (2) pribadi yang jujur
dan berakhlak mulia dengan keteladanan bagi peserta didik dan masyarakat, (3)
pribadi yang mantap setabil, dewasa, arif dan berwibawa, (4) menunjukkan etos
kerja, tanggung jawab, rasa bangga menjadi guru, rasa percaya diri, (5) menjunjung
tinggi kode etik profesi guru.
3. Kompetensi Sosial
Kompetensi ini nampak dalam kemampuannya untuk berintraksi dan
hubungan dengan orang lain secara efektif/siswa, rekan guru, orang tua, kepala
sekolah dan masyarakt pada umumnya. Kemampuan dalam standar kompetensi ini
mencakup empat kompetensi utama yaitu; (1) bersikap inklusif dan bertindak
abjektif serta tidak diskriminatifnkarena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras,
kondisi fisik, latar belakang keluarga, status sosial ekonomi (2) berkomunikasi
secara efektif, empatik dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orang tua dan masyarakat, (3) beradaptasi di tempat bertugas diseluruh wilayah
republik Indonesia yang memiliki keberagaman sosial dan budaya; (4)
berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan
tulisan atau bentuk lain.
4. Kemampuan Profesional
Kompetensi profesional bermaitan dengan penguasaan terhadap struktur ke
ilmuan dari mata pelajaran yang di usul secara luas dan mendalam, sehingga dapat
membantu guru membimbing siswa untuk menguasai pengetahuan atau
11
keterampilan secara optimal. Secara spesifik kompetensi ini dijabarkan kedalam
lima kompetensi inti yaitu; (1) menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir
keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang di ampu; (2) menguasai standar
kompetensi, dan kompetensi dasar mata pelajaran atau bidang pengembangan yang
diampu; (3) pengembangan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif; (4)
mengembangkan keprefeionalan secara berkelanjutan dengan melakukan ke dalam
reflektif;
(5) memanfaatkan teknologi
informasi
dan komunikasi
untuk
berkomunikasi dan pengembangan diri; (8) dari uraian penjabaran masing-masing
kompetensi tersebut di atas ditambah dengan 2 kompetensi (kompetensi leadership
dan spritual) versi kementerian agama direktorat pendidikan islam maka akan
tergambar ruang lingkup dan spektrasi kurikulum PPG yang harus dirumuskan
secara komprehensip. Tentu saja hal ini mejadi agenda LPTK PTAI di seluruh
indonesia untuk bersama-sama duduk merumuskan kurikulum inti PPG dan
sekaligus menata ulang bagunan kurikulum dan tantangan Undang-Undang guru
dan Dosen yang edial.
D. Kesimpulan
Bertitik tolak dari diskripsi dan analisis dalam tulisan ini ada beberapa hal
yang dapat disimpulkan desain yaitu:
1. Tampilan kualitas guru kita saat ini belum sepenuhnya menjawab tuntutan dan
harapan undang-undang guru dan dosen yang ada hal ini disebabkan oleh
kelemahan pada pola rekrutmen input guru dimasing-masing LPTK masih
berorientasi pada pembenahan kuantitas dari pada kualitas.
2. Regulasi tentang peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru dan dosen saat ini
telah memunculkan secarcah harapan baru dari dunia pendidikan yaitu adanya
perbaikan kualitas SDM dalam pembangunan bangsa. Karena itu sudah
seharusnya hal ini disambut dengan baik oleh pihak lembaga penyelenggara
kependidikan khususnya dalam hal ini LPTK, untuk secara sungguh-sungguh
12
menata, membina dan mengembangkan instansi LPTK yang responsip dan
kompitabel dengan menata ulang visi, misi dan tujuan dan program kurikulum
pembelajrannya yang sesuai dengan tuntutan dan tantangan dunia global.
3. Upaya yang sangat mendesak yang harus dilakukan oleh LPTK penyelenggara
pendidikan profesi guru (PPG) saat ini yaitu merekontruksi dan meredesain
pola dan program kurikulum pembelajaran yang ada sesuai dengan visi, misi
perundang-undangan pendidikan tanah air saat ini.
Daftra Pustaka
Aziz Makfudin, (2013), Profesionalisme Jabatan Guru Di Era Globalisasi,
bandung, Rizoi Press.
Cicik Sutarsih, (2012), Etika Profesi, Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama
Dharma Kesuma, (2011), Pendidikan Karakter Kajian Teori Dan Praktek Di
Sekolah, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya
E.Mulyasa, (2009), Setandar Kompetensi Sertifikasi Guru, Bandung, TP. Remaja
Rosdakarya.
Ishah Abdullah dkk, (2010) Studi Implementasi Model Pendidikan Guru Berbasis
ICT Untuk Meningkatkan Kualifikasi Dan Kompetensi Guru Di
Indonesia Dan Malaysia (hasil penelitian), Bandung, Fakultas
Pendidikan UPI.
Ketetapan Senat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia, (2010), Redesain
Pendidikan Profesional Guru, Bandung, Universitas Pendidikan
Indonesia.
Sumaryo Kartadinata (2010) Isu-Isu Pendidikan Antara Terapan Dan Kenyataan,
Bandung, Upi Press
Unhar Suharsaputra (2011), Menjadi Guru Berkarakter, Yogyakarta, Paramitra
Publising.
Zubaidi (2011), Desain Pendidikan Karakter Konsepsi Dan Aplikasinya Dalam
Lembaga Pendidikan, Jakarta, Kencana Prenada Media Group.
13
Download