Ketidakpastian, Dampak, dan Dilema Kebijakan

advertisement
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
Tatanan Kota Pantai
Yang Berkelanjutan :
Mencari Kerangka Analisis Untuk Kasus
Pengelolaan Dampak Kenaikan Muka Air Laut
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 44
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
TATANAN KOTA PANTAI YANG BERKELANJUTAN :
Mencari Kerangka Analisis untuk Kasus Pengelolaan Dampak Kenaikan
Muka Air Laut1
Oleh:
B. Kombaitan2
Pengantar : Bahasan akan dimulai dengan beberapa pemahaman umum tentang pemanasan
global serta beberapa kontroversi yang menyertainya akhir-akhir ini. Pada bagian kedua dicoba
untuk mencari kerangka analisis dalam kasus pengelolaan dampak kenaikan muka air laut untuk
melihat aspek sustainability dari kota atau kawasan pantai. Bagian akhir mencoba menyajikan
beberapa rekomendasi terbatas.
1. Ketidakpastian, Dampak, dan Dilema Kebijakan dalam Pemanasan Global
Pengembangan kebijakan lingkungan hidup diakui sebagai tugas yang amat menantang.
Kadangkala cakupan dari isyu-isyu di seputarnya belum dipahami betul serta bahkan dampak
masa depan dari penyebabnya belumlah dimengerti dengan baik.
Pemanasan Global ( PG ) merupakan salah satu isyu yang terkait dengan hal di atas. Isyu
PG diperumit lagi dengan (1) masih dipertanyakan apakah PG sebenarnya merupakan masalah
sehingga kita tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk mengambil tindakan pengelolaan nyata
atau tidak; dan (2) kebijakan nasional yang diambil oleh suatu negara belum tentu cukup atau
bahkan tidak signifikan dalam menyelesaikan persoalan ini secara global.
Berbagai pokok bahasan terkini di seputar isyu PG telah banyak dibahas. Jain dan Urban (
1998 ) misalnya memberikan contoh uraian saintifik yang komprehensif tentang ini. Paling tidak
enam pokok bahasan disajikan mereka.
(1) Ketidakpastian yang melingkupi keprihatinan akan PG ini.
(2) Dampak dari PG terhadap Lingkungan
(3) Kontribusi Gas Rumah Kaca (GRK/GHGs) dan Sumbernya
(4) Dilema Kebijakan
(5) Perangkat Evaluasi Tindakan Pengelolaan yang akan ditempuh
(6) Strategi Adaptasi dan Pilihan Kebijakan
Berikut sedikit penjelasan mereka untuk keempat pokok bahasan pertama ( dengan tam-bahan
dari berbagai sumber lainnya ).
Makalah ( draft ) untuk Seminar “Dampak Kenaikan Muka Air Laut pada Kota-kota Pantai di Indonesia”, Puslitbang
Permukiman Departemen Kimpraswil dan Building Research Institute - Jepang, Bandung, 19-20 Maret 2001.
2 Staf Pengajar Jurusan Teknik Planologi FTSP ITB.
1
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 45
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
1.1. Ketidakpastian
Ketidakpatian ini mencakup (1) apakah memang akan terjadi ( that it will happen ); (2) kapan
terjadinya ( when it will happen ); dan (3) berapa besar bahayanya ( how severe it might be ).
Walaupun komunitas keilmuan sepakat akan prediksi tentang peningkatan emisi CO2 sebesar
50% pada tahun 2015 jika tidak ada upaya pelaksanaan tindakan nyata untuk membatasinya,
namun belum dipunyai suatu informasi saintifik yang cukup untuk memprediksi secara konfiden
bagaimana iklim seputar bumi akan merespon kenaikan ini.
Lewat pemanfaatan model General Circulation Models ( GCMs ), model yang oleh kalangan
pakar terkait saat ini dipercayai sebagai teknik terbaik untuk mensimulasikan perubahan iklim
akibat dampak dari peningkatan konsentrasi GRK, komunitas ini nampaknya sepakat bahwa suhu
global akan naik akibat peningkatan konsentrasi di atas tersebut. IPCC ( Intergovernmental Panel
on Climate Change ) secara bertahap meng-indikasikan adanya konsensus di antara anggota
panel dalam berbagai hal :
(1) pada tahun 1990 dinyatakan dalam dokumen “Scientific Assessment of Climate Change”
bahwa karena ketidaklengkapan pemahaman akan dampak dari awan, laut, dan lapisan es
kutub terhadap iklim bumi membuat prediksi awal mereka tentang kenaikan suhu rerata
global ( yakni akan naik sebesar 0,2-0,5C per dekade hingga 1C lebih tinggi pada tahun
2025 dan 3C lebih tinggi pada 2100 ) menjadi sangat tidak pasti dalam hal (a) waktu
(timing); (b) besaran (magnitude); dan (3) perubahan regional.
(2) kemudian pada tahun 1997 mereka sepakat bahwa setiap penggandaan ( a doubling )
dari atmospheric CO2 akan menaikkan suhu rerata permukaan bumi sebesar 1,5-4,5C.
Hasil studi memperlihatkan bahwa pemanasan nampaknya akan lebih lebih cepat terjadi di
atas daratan ketimbang di laut terbuka. Laut yang lebih dingin ini kemudian akan
menyerap panas tambahan yang terjadi sehingga menurunkan panas atmosfir.
Perlambatan yang dihasilkan oleh laut ini dengan demikian tidak akan membuat bumi akan
menjadi lebih panas secara penuh 1,5-4,5C walaupun konsentrasi CO2 akan mengalami
berlipat ganda 2x atau lebih. dan GRK lainnya akan menambah pemanasan tersebut.
Prediksi lanjut adalah suatu pemanasan sebesar 1,0-3,5C akan terjadi pada 2100.
(3) Terakhir baru saja dokumen IPCC Working Group 1 ( IPCC Working Group 2; 2001 )
mengatakan bahwa diproyeksikan untuk range skenario yang ada akan terjadi kenaikan
suhu rerata permukaan terhadap keadaan 1990 sebesar 1,4-5,8C sampai tahun 2100
dengan keragaman berbeda secara regional.
Tidak semua pakar sepakat bahwa akan terjadi kenaikan suhu rerata global bila konsentrasi
GRK meningkat. Ada yang menyatakan bahwa justru pendinginan global yang akan terjadi akibat
menebalnya lapisan awan saat konsentrasi GRK meningkat. Ada pula yang menyatakan bahwa
debu dan asaplah penyebab utama perubahan iklim dan bukan CO2. Lainnya menyatakan
aktivitas matahari ( misalnya siklus magnetiknya ) dan peningkatan GRK sebenarnya tidak punya
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 46
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
pengaruh terhadap semakin panasnya bumi. Juga pemanasan yang terjadi dalam beberapa abad
yang lalu lebih diakibatkan oleh siklus panas bumi yang lahir dari Little Ice Age yang terjadi pada
abad 16 dan 17; secara global suhu pada troposfir bagian bawah telah menunjukkan
kecenderungan yang menurun sejak 1979.
Akar dari perbedaan pendapat tentang persisnya bagaimana kenaikan konsentrasi GRK itu
akan mengubah iklim global di atas sebenarnya adalah pada :
(1) karakter ketidakpastian yang melekat pada teknik permodelan yang digunakan saat ini.
Suhu global dalam model tersebut didasarkan pada sejumlah cakupan parameter yang
pada saat ini tidak semuanya telah dimengerti secara baik. Dengan demikian tidak
mungkin untuk memasukkannya secara akurat semuanya ke dalam permodelan. Jelas
model yang berbeda akan menghasilkan hasil prediksi yang berbeda pula; yang
kemudian akan mengarah ke ketidakpastian dan ketidaksepakatan antarpakar.
(2) peran dari laut. Laut berperan sebagai media penyerap panas tambahan dan kemudian
kemampuan untuk melambatkan dan mengoffset suhu tinggi. Juga laut merupakan
elemen utama dalam siklus hidrologi yang mempengaruhi presipitasi. Interaksi antara
laut dengan atmosfir dalam mengatur sirkulasi atmosfir dianggap merupakan hal pokok
kedua setelah gerak rotasi bumi. Namun banyak dari perilaku laut seperti kupling lautatmosfir dan sirkulasi laut justru masih sulit dipahami serta sulit dimodelkan secara
akurat.
(3) peran atmosfir sendiri, tutupan es, dan vegetasi.
Selama masih ada mekanisme iklim belum dipahami betul, prediksi tepat tentang suhu
global juga tidaklah memungkinkan.
1.2. Dampak
Isyu terpenting disini adalah ketidakyakinan dalam prediksi akan sebaran regional dari
peningkatan misalnya 3C dari suhu global walaupun proyeksi tentatif dapatlah dilakukan.
Kawasan tropis mungkin akan mengalami dampak kenaikan relatif lebih kecil dengan penurunan
curah hujan pada daerah kering dan kenaikan curah hujan pada daerah lembab. Kawasan
berlintang besar ( high latitude ) akan mengalami kenaikan suhu lebih besar. Summer yang kering
akan lebih sering terjadi di kawasan berlintang tengah di Northern Hemisphere, dan oleh karena
ekspansi air laut dan mencairnya es kutub, muka air laut mungkin akan naik sekitar 20-140 cm.
Secara regional, mungkin akan terjadi perubahan pola suhu, hujan, angin, dan curah hujan. Angin
ribut tropis akan semakin sering terjadi dan berbahaya, di kawasan pantai banjir akan lebih sering
melanda.
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 47
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
a. Dampak terhadap lingkungan alami
Perubahan cuaca akan memberi dampak terhadap pertanian, kehutanan, dan ekosistem alami.
Beberapa kawasan pertanian dan hutan akan kehilangan produktivitasnya, lainnya malah
meningkat membuat pola produksi bahan makanan dan perkayuan bergeser. Pergeseran ini akan
menyebabkan perubahan ekonomi wilayah yang cukup berarti, intra- dan antarnegara. Ancaman
sediaan bahan makanan beberapa negara akan mengubah pola perdagangan antar wilayah,
sebaran keuntungan akan berbeda-beda. Kegiatan wisata juga akan banyak terpengaruh,
keuntungan positif dan negatif akan terlihat antarwilayah geografis.
Di beberapa belahan wilayah nampaknya dampak pemanasan mulai dirasakan sebagai
isyu nyata, sedangkan di belahan lainnya tingkat keprihatinan akan masalah ini masih tak terukur.
IPCC (2001) menjelaskan bahwa perubahan iklim regional, terutama kenaikan suhu, yang terjadi
akhir-akhir ini telah mempengaruhi sistem fisik dan biologis di beberapa kawasan.
b. Dampak terhadap muka air laut
Terlepas dari ketidakpastian di atas, setiap pemanasan terhadap lingkungan global akan
berakibat kepada sejumlah kenaikan muka air laut ( kemal ). Kemal akibat ekspansi air laut dan
mencairnya wilayah kutub dapatlah dikatakan merupakan penyebab kerusakan
terbesar dan
termahal dari gejala PG ini. Selama abad ke-20 telah terjadi kenaikan suhu rerata permukaan
sebesar 0,6 ± 0,2C ( IPCC Working Group 2; 2001 ) dan kemudian telah terjadi kemal sebesar 1025 cm dan diperkirakan pada abad ke-21 ini akan terus mengalami percepatan (Nicholls dan Klein;
2001). Berdasarkan kecen-derungan yang ada saja, dengan hanya melihat penyebab dari GRK
saja, diprediksikan bahwa pg kemungkinan besar akan menaikkan mal setinggi 15 cm pada 2050
dan 34 cm pada 2100. Ada 10% kemungkinan malah mal naik setinggi 30 cm pada 2050 dan 65
cm di 2100. Kemudian ada 1% kemungkinan mal akan naik 1 m pada 100 tahun yad ( sekitar 2095
). Dengan kenaikan suhu rerata permukaan terhadap keadaan 1990 sebesar 1,4-5,8C sampai
tahun 2100 sesuai proyeksi di depan tadi maka akan terjadi kemal sebesar 9-88 cm saat itu ( IPCC
Working Group 2; 2001 ).
Sebagai ilustrasi dampak kerusakan, kemal sebesar 1 meter akan menghasilkan kehilangan
lahan daratan sebesar 5-10 ribu mil² di AS dan mempengaruhi kawasan pantai sepanjang 19.000
mil. Jika hal ini terjadi maka struktur binaan di kawasan pantai tersebut bersama-sama dengan
sistem perangkutan, tenaga listrik, tata air, dan drainase pendukungnya pasti akan mengalami
kerusakan parah.
c. Dampak terhadap manusia
Dampak langsung terhadap manusia akan berupa kematian ( diperkirakan sebesar 8 juta jiwa
pada periode 2000-2020 jika tak ada upaya yang serius dalam menangani produksi GRK ).
Bentuk-bentuknya adalah seperti sakit dan kematian akibat gelombang panas, polusi udara, cuaca
ekstrim, penyakit infeksi dari nyamuk, penyakit yang bersumber dari pemanfaataan air,
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 48
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
menurunnya sediaan air bersih, dan menurunnya sediaan bahan makanan. IPCC ( 2001 )
melaporkan bahwa telah terlihat adanya indikasi pendahuluan akan eksistensi beberapa dampak
nyata terhadap sistem social dn ekonomi wilayah akibat meningkatnya flood and droughts di
beberapa kawasan.
1.3. Kontribusi GRK dan Sumbernya
Setiap dari GRK akan memberikan kontribusi yang berbeda terhadap efek rumah kaca
(ERK) dan dirilis oleh aktivitas yang sangat beragam.
Perbedaan kontribusi ini lebih disebabkan oleh kekuatan absorbsi, atmospheric residence
time, massa molekular, dan periode waktu kajian dampak. Sebagai contoh, sebuah studi tentang
potensi pg grk utama mengestimasikan bahwa potensi CH4, N2O, CFC-11, dan CFC-12
dibandingkan dengan CO2 adalah berturut sebesar 63, 270, 4500, dan 7100 kali dalam periode
kajian 20 tahun. Dengan perkataan lain, walaupun konsentrasi CFC di atmosfir misalnya relatif
kecil namun sumbangannya terhadap pg adalah signifikan.
Besar konsentrasi CO2 pada tahun 1990 adalah sekitar 353 ppmv dan menurut World
Resources 1996-97 (WRI, UNEP, UNDP, dan World Bank; 1996) pada pada 1993-4 adalah sekitar
360 ppmv, kira-kira jumlah ini adalah 28% lebih besar dari keadaan ketika awal Revolusi Industri (
pra-industri 1750-1800 sekitar 280 ppmv ) dengan laju tumbuh sebesar 0,4% per tahun yang
identik dengan 1,5 ppmv per tahun. Saat ini pada tingkat global CO2 menjadi penyumbang
terbesar terjadinya pg yakni sebesar 55%, diikuti oleh CFCs 24%, metana CH4 15%, serta N2O
6%.
Sumber GRK berasal dari aktivitas manusia yakni pembakaran bahan bakar fosil,
pemanfaatan gas sintetik untuk industri, dan deforestrasi ( kepunahan hutan ).
Komunitas pakar sepakat bahwa tingkatan CO2 mengalami peningkatan 20% dari abad
lalu, dan juga disepakati bahwa suhu global ( mean ) naik sebesar 0,3-0,6C pada periode yang
sama.
Menurut World Resources 1996-97 pada tahun 1992 jumlah CO2 pada tingkat global yang
dirilis berjumlah 26,4 milyar metrik-ton per tahun dimana 84% di antaranya berasal dari kegiatan
industri. Laju tumbuh dalam 20 tahun terakhir adalah 38%, sedangkan proyeksi pada skenario
pertumbuhan moderat tetap menunjukkan angka laju tumbuh 30-40% pada tahun 2010 dan pada
skenario robus 93% pada 2020.
Dengan gambaran kenaikan emisi seperti ini, diprediksikan konsentrasi CO2 akan
mencapai 700 ppmv pada 2100. Untuk menstabilisasikannya pada tingkatan yang ada sekarang
maka dibutuhkan pengurangan sebesar 60-85% dari emisi CO2 yang ada sekarang dan emisi ini
tetap dipertahankan pada tingkatan reduksi tersebut sampai abad mendatang.
Angka tahun 1992 dari WR 1996-67 tadi menunjukkan peran setiap negara. AS menjadi
penyumbang terbesar, 20% ( sekitar 4,8 milyar metrik-ton ), disusul Cina 11,9%, Rusia 9,4%, dan
Jepang 5%. Penggambaran dengan menggunakan indikator yang lebih baik lewat jumlah emisi per
kapita tetap menunjukkan peran AS sebagai yang tertinggi.
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 49
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
Untuk kasus Indonesia, angka pada tahun 1992 ini mendudukkan posisi Indonesia pada
negara ke-23 terbesar dengan jumlah emisi sebesar 0,18 milyar metrik-ton. Studi yang sama
sebelumnya, WR 1992-93 yang dikutip oleh World Bank ( 1994 ) menun-jukkan peran Indonesia
pada tahun 1989 sebesar 1,6-1,7% dengan jumlah sebesar sekitar 85 juta ton pada tahun 1990.
Diprediksikan angka ini pada tahun 2020 sudah menjadi 860 juta ton.
Dilihat dari penyebabnya jumlah emisi GRK Indonesia ini sekitar 76% disebabkan karena
perubahan tata guna lahan ( terutama deforestasi ), kemudian 12% karena penggunaan energi (
termasuk pembakaran gas ) dan 8,5% emisi metana (terutama pada pertanian tanaman pangan
padi basah ), serta 3,6% akibat pemanfaatan CFC. Angka global menunjukkan pola yang berbeda
dimana sebagai penyumbang terbesar adalah penggunaan energi sebesar 57,3%, kemudian
perubahan tata guna lahan sebesar 16,8%; pemanfaatan CFC sebesar 15,3%, dan emisi metana
10,6%.
1.4. Dilemma Kebijaksanaan
Jika memang waktu dan besar dari PG tidak dapat diprediksi secara akurat maka wajar
jika seseorang menyarankan untuk menunda tindakan pengelolaan sampai informasi yang lebih
pasti tersedia dan menghindari komitmen yang terlalu besar terhadap keprihatinan yang tak
berdasar. Beberapa tindakan pengelolaan amat bergantung kepada teknologi yang tidak begitu
saja dapat disediakan tanpa persiapan waktu dan dana.
Namun persoalan ini memang tidaklah sesederhana itu. Pertama terlihat adanya time-lag
yang sangat signifikan, dalam orde dekade hingga abad, antara pengemisian gas dengan
dihasilkannya dampak perubahan iklim. Kedua, kecuali metana, semua GRK berdiam cukup lama
di udara, sekitar 50-200 tahun dan terus berakumulasi ketimbang menghabis. Ketiga, respons dari
iklim tidak terjadi secara langsung begitu gas terakumulasi dan atau saat tingkat emisi berkurang.
Jadi, jika kita memilih untuk menunda dengan harapan akan diperoleh pelajaran bagaimana
menindaklanjuti persoalan ini, akumulasi gas terus menghasilkan dampak perubahan iklim yang
terus bertambah di masa depan, yang tidak secara penuh terasa dalam beberapa dekade. Selain
itu, tingkat ketidakpastian terhadap dampak PG bertambah seiring dengan pertambahan tingkat
pemanasan. Walaupun beberapa skenario yang terbatas dan tidak pasti dapat disusun untuk
memprediksi dampak dari kenaikan suhu sebesar 3C, suhu yang lebih besar dari itu berada di
luar dari kondisi bumi yang diketahui saat ini sehingga potensi dampak dari kenaikan suhu yang
lebih tinggi pun sama sekali tak diketahui.
Membicarakan prospek dari PG membawa kita kepada pilihan mendasar akan kedua
keputusan berikut : (1) ambil tindakan sekarang, baik yang menyangkut tindakan pengelolaan yang
bersifat pencegahan terjadinya perubahan iklim tersebut maupun yang bersifat adaptasi jika
ternyata untuk mengubah hal-hal yang sudah tidak mungkin dicegah lagi; atau (2) menunda
tindakan sampai permasalahannya dapat dimengerti dengan baik atau sampai perubahan iklim
benar-benar telah terjadi. Ini sepenuhnya adalah masalah membandingkan antara biaya sekarang
versus keuntungan masa datang. Apakah kita akan menggunakan sumberdaya yang ada saat ini
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 50
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
dengan risiko tanpa manfaat sedikitpun, atau kita akan menghematnya dengan risiko dana yang
dibutuhkan untuk menanggulanginya cukup besar dan malah mungkin akan melampaui
kemampuan adaptasi kita ??
Negara yang pro kepada penundaan mengatakan bahwa tidak berdasar untuk membiayai
tindakan pengelolaan tadi yang pada akhirnya tak berguna sama sekali atau akan tidak efisien dan
efektif karena sedikitnya informasi. Jika ternyata nanti dampak perubahan iklim adalah kecil atau
cukup mudah dikelola maka manfaat akan rendah. Jika pemahaman terhadap permasalahan yang
ada rendah untuk memastikan bahwa tidandakan pengelolaan akan efektif, maka biaya dari
tindakan sekarang akan tidak layak. Tindakan adaptasi sebaiknya dilakukan ketika dampak
tersebut telah terlihat. Tindakan pencegahan mendatangkan biaya yang tanpa adanya jaminan
kepastian akan adanya keuntungan di masa depan.
Kelompok kontra penundaan ( ambil tindakan sejak sekarang ) mendasarkan dirinya pada
keuntungan akibat menghindari atau membatasi keadaan serba tak tahu di masa depan.
Membayar ongkos tak diketahui saat ini lebih baik daripada melawan ketidaktahuan dan ongkos
yang bisa lebih besar masa datang. Tindakan langsung akan membatasi kerugian yang lebih
besar, tindakan menunda akan menciptakan ketidaksanggupan untuk menyelesaikan persoalan
masa depan. Memulai sejak awal proses panjang desain dan implementasi kebijaksanaan akan
menghasilkan kebijakan tindakan yang tepat-waktu pada saatnya nanti. Jika kita menunggu kita
mungkin tak akan punya waktu untuk melahirkan kebijakan yang efektif pada saat perubahan iklim
nyata terjadi.
Hal lain adalah kontroversi tentang “siapa yang akan membayar keuntungan ini” ? Apakah
negara industri maju penghasil CO2 terbesar membayar biaya pengendalian CO2 di negara
sedang
berkembang
??
Haruskah
negara
sedang
berkembang
menurunkan
tingkat
industrialisasinya dan pertumbuhan penduduknya untuk mencegah pertumbuhan lanjut dari emisi
CO2. Kesepakatan tentang ini sangatlah samar.
Beberapa pakar ekonomi percaya bahwa adalah sangat lebih murah jika negara maju
mentransfer modalnya ke negara sedang berkembang untuk secara langsung mengendalikan
emisi CO2 di situ ketimbang melakukan hal dengan hasil yang setara di negaranya. Terlepas dari
justifikasi ekonomis yang ada, pilihan tindakan ini membawa isyu kebijakan publik yang cukup
rumit. Amat sedikit negara maju yang bersedia untuk mengambil prakarsa seperti ini untuk sesuatu
returns yang tidak terukur dan tidak terjamin. Kyoto Protocol 1997 yang telah menghasilkan
keputusan tentang upaya untuk menuju ke stabilisasi CO2 ternyata oleh pemerintahan George C.
Bush ditentang (Kompas, 18 Maret 2001). Sampai dengan sudah lebih banyak diketahui tentang
dampak perubahan iklim, kemanfaatan dan momentum untuk international compliance dari Kyoto
Protocol tidaklah akan eksis.
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 51
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
2. Mencari Kerangka Analisis untuk Pembangunan Kota Pantai yang Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan dan kemudian (pembangunan) kota yang berkelanjutan
mempunyai ragam pengertian yang meluas. Haughton dan Hunter (1994) misalnya menawarkan
definisi sebagai berikut :
A sustainable city is one in which its people and bussiness continuously endeavour
to improve their natural, built and cultural environments at neighbourhood and
regional levels, whilst working in ways which always support the goal of global
sustainable development.
Dalam kerangka ini ada 3 prinsip dasar pembangunan berkelanjutan yang menurut mereka
perlu diikuti : (1) inter-generational equity; (2) social justice; dan (3) transfrontier responsibility.
Suatu definisi kerja untuk operasionalisasi penataan ruang kota bagi jenjang rencana tertentu
ditawarkan oleh Kombaitan (1997) sebagai berikut :
pengembangan aktivitas budidaya perkotaan ( human/activity system ) sedemikian
sehingga perubahan kualitas media lingkungan dan sumberdaya alami ( natural
and environmental system ) masih dapat diterima oleh receptors atau jika melewati
ambang maka semua tindakan pengelolaan ( management measures ) yang
diusulkan untuk membawa ke tingkatan kualitas yang masih dapat diterima adalah
layak secara ekonomis.
Dengan mencoba menggunakan definisi kerja ini maka suatu kerangka analisis dibutuhkan untuk
menelaah aspek sustainability dari kota/permukiman/kawasan pantai itu.
Jika diasumsikan bahwa ERK nyata terjadi dan peningkatan konsentrasi GRK akan
menaikkan suhu global dan kemudian berdampak kepada kenaikan muka air laut, maka telah
disebutkan secara sepintas di depan bahwa dibutuhkan tindakan pengelolaan pada kawasan yang
rentan terhadapnya, Ada dua tindakan pengelolaan yang biasanya dikenal :
(1) tindakan mitigasi, yang bersifat pencegahan terjadinya perubahan iklim tersebut; dan
(2) tindakan adaptasi, berupa persiapan untuk hidup dengan bahaya jika ternyata
pencegahan tidak dapat dilakukan lagi.
Untuk tindakan mitigasi, kerangka analisis untuk mengenali tindakan pengelolaannya sudah
sangat dikenal. Sebagai contoh lihat misalnya kerangka analisis yang dikembangkan dari
Hufschmidt; 1983, lihat Gambar 1. Terutama untuk produsen CO2 utama pada skala kota yakni
aktivitas budidaya industri dan transportasi, ragam tindakan pengelolaan yang dihasilkannyapun
sudah banyak yang dilaksanakan dan atau diikhtiarkan untuk dilaksanakan ( untuk contoh kasus
aktivitas transportasi perkotaan, lihat misalnya Kombaitan; 1996 ). Kerangka analisis seperti ini
dapat berlaku untuk semua macam kota, termasuk kota pantai tentunya.
Untuk tindakan adaptasi, pengembangannya masih sangat terbatas untuk skala kota cq. kotakota pantai. Di dalam konteks untuk melakukan kajian dampak perubahan iklim dan mengenali
strategi adaptasi, UNEP dan Vrije Universiteit Amsterdam mencoba mengembangkan beberapa
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 52
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
metoda ( Feenstra et al, ed.; 1998 ) untuk berbagai elemen sistem manusia. Secara lebih spesifik
Nicholls dan Klein ( 2001 ) juga menambahkan khususnya untuk yang berkaitan dengan dampak
kenaikan muka air laut pada kawasan pantai, lihat Gambar 2. Dalam konteks ketidakpastian dan
dilema kebijakan di depan tadi mereka menganggap pendekatan pengelolaan adaptasi ini sangat
berpotensi untuk menangani permasalahan ini. Karakter perubahan iklim yang umumnya akan
lebih banyak memberi gangguan terhadap tekanan permasalahan yang ada sekarang ketimbang
menciptakan permasalahan baru, akan lebih tepat untuk mendekati pengenalan tindakan adaptasi
lewat persoalan dan tekanan yang ada sekarang.
Metoda “adaptasi N-K” ini berfokus kepada kajian kerentanan ( vulnerability assessment ) dari
suatu kawasan pantai dalam menerima dampak kenaikan muka air laut dan faktor-faktor
perubahan iklim lainnya. Kajiannya secara langsung memasukkan “anticipated impacts” dan
“available adaptation options”. Dengan menggunakan pendekatan sistem, maka 2 buah subsistem, subsistem alami dan subsistem sosial-ekonom, yang saling berinteraksi. Pendampakan
awal terjadi pada subsistem alami ( dampak biogeofisik ) dimana “kerentanan alami” kawasan
pantai terhadapnya akan ditentukan oleh keadaan susceptibility, resilience, dan resistance
kawasan tersebut. Kapasitas untuk adaptasi mandiri/“autonomous” ( atau sering disebut sebagai
“penyesuaian spontan” ) akan sangat bergantung kepada konsep yang pertama ini. Sistem
manusia juga ikut mempengaruhi sistem alami ini. Kemudian paralel dengan konsep di atas,
“kerentanan sosial-ekonomi” ditentukan oleh “potensi dampak” dan kemampuan masyarakat
secara teknikal, kelembagaan, ekonomi dan kultural untuk menahan dampak ini ( mirip konsep
dose-response dalam kerangka analisis mitigasi di atas). Tindakan adaptasi terencana/”planned”
kemudian berasosiasi dengan kerentanan sosial-ekonomi ini.
Jika tindakan pengelolaan adaptasi ini dapat dihasilkan darinya, metoda ini dapat merupakan
kerangka analisis yang baik dalam mengaplikasikan konsep keberlanjutan di atas. Suatu
kombinasi dengan kerangka analisis tindakan mitigasi akan merupakan potensi yang baik dalam
mengenali upaya menuju kearah itu.
3. Rekomendasi
Mungkin pada tahap awal ini suatu pengujicobaan pemakaian metoda ini untuk melihat
tingkatan dan macam upaya penyesuaian yang perlu dilakukan untuk karakteristik “urban” dan
tipikal kota-kota kita perlu semakin sering dilakukan. Seminar hari ini merupakan suatu awal yang
baik untuk mengenal beberapa teknik dan contoh kasus dalam upaya penyesuaian ini, mungkin.
Lebih lanjut tantangan terbesar bagi pemerintah kota sekarang ini adalah pemaduan hasil
pengenalan tindakan pengelolaan ini kedalam perangkat-perangkat perencanaan pembangunan
kota dan implementasi serta pengendalian pelaksanaannya. Dengan prinsip good governance kita
harapkan proses pemaduan ini akan berjalan secara lebih baik. Jika keberlanjutan ingin menjadi
sebuah visi pembangunan kota, maka diperlukan suatu set indikator kinerja yang terkait dengan
pencapaian keadaan keberlanjutan itu secara periodik. Ini tentu sebuah persoalan baru lagi.
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 53
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
Gambar 1 : Kerangka Analisis untuk Tindakan Mitigasi
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 54
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
Gambar 2 Metoda Adaptasi N-K bagi Kerangka Analisis Tindakan Adaptasi ??
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 55
Proceeding - Studi Dampak Timbal Balik Antar Pembangunan Kota dan Perumahan di Indonesia dan Lingkungan Global
Bahan Bacaan :
1. Feenstra, J. F. et al., ed. (1998), Handbook on Methods for Climate Change Impact
Assessment and Adaptation Strategies, UNEP dan Vrije Universitet Amsterdam.
2. Haughton, G. dan Hunter, C. (1994), Sustainable Cities, Regional Studies Association, London.
3. Hufschmidt, M. M. et al. (1983), Environment, Natural System, and Development : An
Economic Valuation Guide
4. IPCC (2001), Climate Change 2001 : Impacts, Adaptation, and Vulnerability, Summary for
Policy
Makers,
Working
Group
2
3rd
Assessment
Report,
Draft.,
http://www.usgcrp.gov/ipcc/html/specrep.html
5. Jain, R.K. dan Urban, L.V. (1998), “Global Warming : Uncertainties, Effects, and Policy
Options”, Environmental Engineering and Policy, Vol.1 No.2, hal. 87-95.
6. Kombaitan, B ( 1997 ), Pembangunan Kota Berkelanjutan : Kasus Kota Manado, Bahan
Kursus Urban Management Program, Badan DikLat Departemen Dalam Negeri.
7. Kombaitan, B ( 1996 ), A Discussion Paper on Jakarta, Makalah Sajian untuk Preparatory
Meeting on Greenhouse Gas Mitigation and Sustainable Transportation in Four Asian Cities :
Bangkok, Beijing, Delhi, and Jakarta, TERI dan GTZ, New Delhi, 16-17 Mei 1996.
8. Kompas, 18 Maret 2001.
9. Nicholls, R.J. dan Klein, R.J.T. (2001), Adaptation Frameworks for Sea-Level Rise Impacts,
http://www.usgcrp.gov/ipcc/html/specrep.html
10. World Bank (1994), INDONESIA : Environment and Development,
Study, Washington DC.
A World Bank Contry
11. WRI, UNEP, UNDP, dan World Bank (1996), World Resources 1996-97 : A Guide to the Global
Environment, the Urban Environment, Oxford University Press, New York.
12. Yanagi, M., Munesue, Y. dan Kawashima, Y. (2001), “original papers: Equity Rules for Burden
Sharing in the Mitigation Process of Climate Change”, Environmental Engineering and Policy,
Vol. 2 No. 3, hal. 105-111.
Tatanan Kota Pantai yang Berkelanjutan
halaman - 56
Download