hubungan antara tingkat pendidikan dan status sosial dengan

advertisement
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN
STATUS SOSIAL DENGAN PARTISIPASI KEPALA
KELUARGA DALAM PEMBANGUNAN
DI DUSUN GROGOLAN, TEGALGIRI,
NOGOSARI, BOYOLALI
Skripsi
Oeh :
Dwi Sulistya Ningsih
NIM K 8402005
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripisi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji
Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Pembimbing I
Pembimbing II
DR. Zaini Rohmad. M.Pd
NIP.195811171986011001
Drs. H. MH. Sukarno. M.Pd
NIP: 1951060199031001
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima
untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Pada hari
: Kamis
Tanggal
: 28 Januari 2010
Tim Penguji Skripsi:
Ketua
:Drs. Slamet Subagya. M.Pd
NIP:195211261981031002
Sekretaris
:Dra. Hj. Siti Chotidjah. M.Pd
NIP. 194812141980032001
Anggota I
:DR. Zaini Rohmad. M.Pd
NIP.195811171986011001
Anggota II
Drs. H. MH. Sukarno. M.Pd
NIP: 195106011979031001
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Prof.DR.H. M.Furqon Hidayatullah,M.Pd
NIP196007271987021001
Tanda Tangan
….…..……….
……..…........
.……………
.……………..
ABSTRAK
Dwi Sulistya Ningsih. NIM K 8402005. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan
Dan Status Sosial Dengan Partisipasi Kepala Keluarga Dalam Pembangunan
Di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali. Skripsi. Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.Januari. 2010
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui
hubungan tingkat pendidikan dengan partisipasi kepala keluarga dalam
pembangunan. (2) Untuk mengetahui hubungan antara status sosial dengan
partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan. (3) Untuk mengetahui hubungan
antara tingkat pendidikan dan status sosial dengan partisipasi kepala keluarga
dalam pembangunan..
Penelitian akan dilaksanakan pada kepala keluarga di Dusun Grogolan,
Tegalgiri, Nogosari, Boyolali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
deskriptif kuantitatif. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi seluruh kepala
keluarga di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali sebanyak 105 KK.
Jadi sampel dalam penelitian ini adalah 32 KK. Teknik sampling yang digunakan
dalam penelitian ini adalah propotional stratified random sampling. Teknik
analisis data dengan menggunakan analisis regresi (anareg).
Hasil penelitian ini adalah: (1) Ada hubungan yang signifikan antar tingkat
pendidikan dengan partisipasi kepala keluarga. Hal ini terbukti dari hasil analisis
korelasi diperoleh r xly = 0,524 dan p=0,002 dimana p kurang yaitu 0,002 = 0,01
<0,50 dengan Sumbangan Efektif (SE) sebesar 36,456% dan Sumbangan Relatif
(SR) : 71,514%. (2) Ada hubungan yang signifikan antara status sosial dengan
partisipasi kepala keluarga. Hal ini terbukti dari hasil analisis korelasi diperoleh
rx2y = 0,478 dan p =0,004 dimana p lebih kecil dari 0,01 yaitu 0,004< 0,01 dengan
Sumbangan Efektif (SE) sebesar 14,521% dan Sumbangan Relatif (SR) : 28,486
%. (3) Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan status sosial
secare bersama dengan partisipasi kepala keluarga Hal ini terbukti dari hasil
analisis korelasi yaitu memperoleh rx12y = 0,714 dan p =0,000 dimana p lebih
kurang dari 0,05 yaitu 0,1<0,05.dengan Sumbangan Efektif total (SB) sebesar
50,978%
ABSTRACT
Dwi Sulistya Ningsih NIM K. 8402005. The Correlation between the
level of education and their social status with the participation from the
family leader of building in Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali. Thesis
education faculty and education knowledge University of Sebelas Maret Surakarta
January 2010.
The purpose of this research are :1)Too know the correlation of education
level with the family leader participation on the building, 2)To know the
correlation between social status with the family leader participation on the
building,3)To know the correlation between education level and social status with
the family leader participation on the building.
This research will be held on family leader in Grogolan, Tegalgiri,
Nogosari, Boyolali. This research use the descriptive kuantitatif method. The
population are all of the family leader in Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali
for about 105 KK. As the sample are 32 KK. The sampling teknik that used is
proportional stratified random sampling. The data analyzing technique is regress
analyzing. (Anareg)
The result of this a signification : (1)There is signification correlation
between education level and participation of the family leader proved from the
correlation analyzing result get rxy = 0,524 and p = 0,002, where less those 0,002
= 0,01< 0,50 with Effective Contributed 36,456% and Relative Contributed :
71,514%. (2). There is signification correlation between social and participation
of the family leader proved from the correlation analyzing result snows rx2y =
0,478 and p = 0,004 where p less from 0,01 those, 0,004 < 0,01 with Contributed
effective :14,521 % and Contributed Relative : 28,486%. (3) There is a
signification correlation between level of education and social status with the
participation of the family leader proved by the result of correlation analyzing
those are rx12Y = 0,714 and p = 0,000 where p for abut 0,05 those 0,1 <0,05 with
total Effective contributed: 56,978%
MOTTO
Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.
Dan mereka itulah yang beruntung.
(QS. Ali Imron : 104)
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan keudukanmu
(QS. Muhammad : 7)
Sesungguhnya pekerjaan itu lebih banyak dari waktu yang tersedia
(Hasan Al Bana)
PERSEMBAHAN
Karya ini saya persembahkan untuk:
1. Ibu dan Bapak yang selalu sabar membimbing dan mencurahkan kasih
sayang serta berdoa dengan tulus ikhlas
2. Kakak Siti dan adik Yuli
tercinta atas motivasi-motivasi mereka dan
celotehan ponakan Naura sayang.
3. Komunitas Tarbiyah dimanapun kau berada yang telah memberikan arti
hidup
4. Almamater
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Alhamdulillahirabbil’alamin atas rahmat dan
hidayah Allah SWT peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini untuk memenuhi
persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Pendidikan
Sosiologi-Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
Peneliti menyadari bahwa dala menyelesaikan skripsi ini dengan bantuan
bantuan dan petunjuk dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini
dengan tulus peneliti menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
yang terhormat:
1. Prof. Dr.H.M.Furqon Hidayatullah, M.Pd,
Dekan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Drs. Syaiful Bachri, M.Pd Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS Surakarta
3. Drs. H. MH. Sukarno, M.Pd Ketua Program Studi Pendidikan SosiologiAntropologi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan UNS Surakarta .
4. DR. Zaini Rohmad. M.Pd, selaku pembimbing I yang telah memberikan ijin
dan dengan penuh kesabaran memberikan bimbingan
dan arahan dalam
penyusunan skripsi.
5.
Drs. H. MH. Sukarno, M.Pd selaku pembimbing II yang telah memberikan
ijin dan dengan penuh kesabaran membimbing dan mengarahkan penyusunan
skripsi.
6. Drs. Slamet Subagya. M.Pd selaku Penasehat Akademis yang selalu
memberikan dorongan dalam menyelesaikan kewajiban akademis.
7. Kepala Desa Tegalgiri, Bapak H. Mujiono yang telah memberikan ijin untuk
mengadakan penelitian di Desa Tegalgiri.
8. Warga Dusun Grogolan, Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten
Boyolali yang telah memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian
ini.
9. Semua teman-teman angkatan 2002 Sosiologi-Antropologi untuk kebersamaan
dan keceriaannya selama ini.
10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Dengan segala kemampuan yang ada, peneliti telah berusaha semaksimal
mungkin menyusun skripsi ini dengan sebaik-baiknya, namun skripsi ini jauh dari
sempurna. Terima kasih kepada semua pembaca yang telah meluangkan waktu
untuk membaca skripsi ini. Peneliti akan menerima segala saran dan kritik yang
membangun dari pembaca.
Surakarta,
Januari 2010
Dwi Sulistya Ningsih
DAFTAR ISI
JUDUL............................................................................................................. i
PENGAJUAN................ .................................................................................. ii
PERSETUJUAN... ........................................................................................... iv
PENGESAHAN ............................................................................................... v
ABSTRAK............ ........................................................................................... vi
MOTTO... ........................................................................................................ viii
PERSEMBAHAN............................................................................................ ix
KATA PENGANTAR... .................................................................................. x
DAFTAR ISI.................................................................................................... xii
DAFTAR TABEL............................................................................................ xii
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xiii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan ............................................................. 1
B. Identifikasi masalah ............................................................................. 2
C. Pembatasan Masalah ........................................................................... 3
D. Perumusan Masalah ............................................................................ 4
E. Tujuan Penelitian ................................................................................. 4
F. Manfaat Penelitian .............................................................................. 5
BAB II : LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka ................................................................................. 6
1. Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan ................... 6
a. Pengertian partisipasi… ........................................................... 6
b. Jenis-jenis partisipasi.. ............................................................. 9
c. Faktor yang mendorong partisipasi…...................................... 12
d. Manfaat partisipasi…............................................................... 13
e. Strategi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat desa....... 15
f. Pegertian pembangunan masyarakat........................................ 17
g. Cara pengukuran partisipasi kepala keluarga dalam
pembangunan…… ................................................................... 18
2. Tingkat Pendidikan ....................................................................... 20
a. Pengertian pendidikan.............................................................. 20
b. Pengaruh pendidikan................................................................ 22
c. Jenis-jenis pendidikan.. ............................................................ 23
d. Tingkat Pendidikan.. ................................................................ 27
e. Pengklasifikasian tingkat pendidikan kepala keluarga.. .......... 29
f. Teori tigkat pendidikan dengan partisipasi masyarakat dalam
pembangunan.. ......................................................................... 29
g. Cara pengukuran tingkat pendidikan masyarakat.. .................. 30
3. Status Sosial ................................................................................... 31
a. Pengertian status sosial ............................................................ 31
b. Jenis-jenis status sosial............................................................. 32
c. Faktor Penentu Status Sosial.................................................... 34
d. Hubungan Status Sosial dengan Partisipasi ............................. 36
e. Cara Pengukuran Status Sosial ................................................ 36
B. Hasil Penelitian Yang Relevan ........................................................... 37
C. Kerangka Berfikir ................................................................................ 38
D. Hipotesis............................................................................................... 40
BAB III : METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian ................................................................................ 41
B. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................. 45
C. Populasi dan Sampel ........................................................................... 46
D. Teknik Pengumpulan Data................................................................... 52
E. Teknik Analisis Data ........................................................................... 64
BAB IV : HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data....................................................................................... 70
1. Deskripsi Data Umum.................................................................... 70
a. Lokasi Penelitian...................................................................... 70
b. Kondisi Demografi Penelitian.................................................. 70
2. Data Penelitian Khusus ..................................................................
75
B. Pengujian Persyaratan Analisa ...............................................................
80
3. Uji Normalitas Data .....................................................................
80
2
Uji Linearitas..................................................................................
81
C. Hasil Uji Hipotesis ................................................................................
82
D. Sumbangan Masing-Masing Variabel...................................................
87
E. Pembahasan Hasil Penelitian.................................................................
88
BAB V : KESIMPULAN, IMPLIKASI, SARAN
A. Kesimpulan ..........................................................................................
92
B. Implikasi...............................................................................................
93
C. Saran ...................................................................................................
93
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................
95
LAMPIRAN....................................................................................................
98
BIODATA PENELITI..................................................................................... 136
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Prestise Pekerjaan di Indonesia.......................................................... 34
Tabel 2. Jadwal Penelitian................ ............................................................... 46
Tabel 3. Rincian Perhitungan Sampel.............................................................. 51
Tabel 4. Jumlah Persebaran Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Dusun
Grogolan, 2009..................................................................................... 70
Tabel 5.Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian, Dusun Grogolan,
2009...................................................................................................... 71
Tabel 6. Persebaran Kepala Keluarga Dusun Grogolan, 2009... ..................... 72
Tabel 7. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Masyarakat Di
Dusun Grogolan, 2009........ ................................................................. 73
Tabel 8. Sarana dan Prasarana Dusun Grogolan, 2009.................................... 74
Tabel 9. Organisasi Dusun Grogolan, 2009..................................................... 74
Daftar 10. Sebaran Frekuensi Tingkat Pendidikan .......... ............................... 75
Tabel 11. Sebaran Frekuensi Satatus Sosial..................................................... 77
Tabel 12. Sebaran Frekuensi Partisipasi.. ........................................................ 78
Daftar 13. Rangkuman Uji Normalitas Data ................................................... 80
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Berfikir ……………………………………………….
40
Gambar 2. Histogram Data Variabel X1 …………………………………….
76
Gambar 3. Histogram Data Variabel X2 …………………………………….
77
Gambar 4. Histogram Data Variabel Y ………………………………………
79
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Kisi-kisi Angket Variabel Tingkat Pendidikan…..…………….
98
Lampiran 2. Kisi-kisi Angket Variabel Status Sosial……………………….
99
Lampiran 3. Kisi-kisi Angket Variabel Partisipasi dalam Pembangunan….
101
Lampiran 4 Surat Pengantar Angket………………………………………... 103
Lampiran 5 Petunjuk Pengisian Angket…………………………………...... 104
Lampiran 6 Item Pertanyaan………...……………………………………... 105
Lampiran 7 Sebaran Frekuensi dan Histogram..……………………………... 110
Lampiran 8 Uji Normalitas Sebaran…..……………………………………... 116
Lampiran 9 Uji Linearitas………..…………………………………………... 120
Lampiran10.Analisis Regresi………………………………………………...
122
Lampiran11.Analisis Kesahihan Butir..……………………………………... 125
Lampiran12.Uji Keterandalan………………………………………………... 127
Lampiran13.Tabel Skor Uji coba angket Status Sosial……………………... 129
Lampiran14.Tabel Skor Uji coba angket Partisipasi………………………...
130
Lampiran15.Surat Permohonan Izin Menyusun Skripsi…………………...
131
Lampiran16.Surat Keterangan telah mengadakan Penelitian dari Pihak Kepala
DesaTegalgiri……………..………….……………..................
135
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejak lahir manusia sudah menerima pendidikan hingga sepanjang hayat
hidupnya (life long education). Pendidikan merupakan hal yang mampu
menghasilkan serta meningkatkan kualitas manusia. Hal yang mempengaruhi
adalah kesadaran manusia tentang arti pentingnya suatu pendidikan untuk
meningkatkan kemampuan, potensi serta sumber daya manusia secara
menyeluruh, karena manusia merupakan pelaku dan pelaksana perubahan maupun
perkembangan ilmu pengetahuan
individu
dan teknologi. Pendidikan mempersiapkan
- individu untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian luhur, cerdas, terampil, serta mempunyai
rasa tanggung jawab sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial.
Pendidikan formal di sekolah bertujuan untuk mempersiapkan peserta
didik agar memiliki pengetahuan, budi pekerti maupun keterampilan sesuai
dengan jenjang pendidikan yang ditempuhnya sehingga mampu mengembangkan
kepribadiannya secara optimal. Pendidikan juga menghapkan peserta didik pada
umumnya mengalami kemajuan hidup. Dalam hal ini kemajuan berarti mencapai
derajat / kedudukan yang lebih tinggi serta mendapat prestise yang lebih baik dari
masyarakat, sehingga akan semakin tinggi pula kedudukannya di dalam
masyarakat.
Dalam masyarakat terdapat prestise-prestise tertentu yang menjadikan
seseorang ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi dari pada yang lain.
Kedudukan ini akan melekat pada diri individu secara otomatis baik yang
diperoleh
dari
keturunan
maupun
karena
usaha-usaha
yang
sudah
dilakukan.Kedudukan tersebut yang dinamakan status. Status seseorang akan
menentukan bagaimana ia berperan dalam masyarakat.
Masyarakat memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada seseorang
yang sering terlibat dalam aktivitas – aktivitas kepentingan masyarakat umum
sehingga anggota masyarakat yang lain akan semakin mengenal mereka dan akan
lebih sering dicari karena dibutuhkan pikiran, tenaga, maupun hartanya untuk
kepentingan masyarakat secara umum. Hal ini yang kemudian akan menjadikan
kedudukan seseorang tersebut menjadi semakin penting di dalam masyarakat.
Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat
yang adil, makmur dan merata materiil maupun spirituil berdasarkan Pancasila
dan UUD 1945.Hal ini sesuai dengan Visi Pemerintah daerah Boyolali periode
2005 – 2010 (2007 : 2) yaitu: ‘Terwujudnya sistem pemerintahan daerah
Kabupaten Boyolali yang lebih efektif, lebih bersih dan berwibawa, serta lebih
demokratis dan konstitusional sehingga mampu meningkatkan pelayanan dan
kesejahteraan masyarakat, kemandirian, dan daya saing dalam rangka ketahanan
daerah”
Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan tersebut masyarakat
merupakan subjek sekaligus objek pembangunan artinya keterlibatan masyarakat
sejak dari perencanaan, proses, penerimaan hasil sampai evaluasi. Besar kecilnya
partisipasi masyarakat dalam semua program akan sangat penting bagi
keberlangsungan pembangunan. Partisipasi yang dimaksud disini bukan hanya
keterlibatan mereka dalam mendukung pembangunan fisik desa, dalam bentuk
bantuan dana dan materi saja.Partisipasi yang dimaksud disini adalah partisipasi
dalam arti yang lebih luas lagi, yaitu
pembangunan fisik yang dimulai dari
partisipasi dalam bentuk ide atau gagasan. Selama ini hanya elite atau tokoh
masyarakat saja yang menguasai partisipasi pembangunan dalam bentuk ide atau
gagasan karena sebagian besar masyarakat merasa tidak mampu.
Seorang kepala keluarga mempunyai kedudukan yang penting dalam
masyarakat. Ia menjadi representasi dari keluarganya, yang akan menentukan
kedudukan keluarganya ditengah-tengah masyarakat dimana keluarga tersebut
tinggal.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang :Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dan Status Sosial
dengan Partisipasi Kepala keluarga dalam Pembangunan di Dusun Grogolan,
Tegalgiri, Nogosari, Boyolali”
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka dapat diidentifikasi
permasalahan sebagai berikut :
1. Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan rendahnya pengetahuan, sikap
dan perilaku sehingga menyebabkan rendahnya status seseorang dalam
masyarakat.
2. Masih ada masyarakat yang menempuh pendidikan hanya sekedar mencari
ijazah atau gelar untuk meningkatkan statusnya dalam masyarakat sehingga
kurang memperhatikan kualitas pendidikan.
3. Rendahnya partisipasi kepala keluarga
dalam masyarakat karena tingkat
percaya diri yang rendah.
4. Pemerintah belum mengoptimalkan masyarakat sebagai subjek pendidikan.
5. Partisipasi masyarakat umum yang masih rendah dalam memberikan
sumbangan dalam bentuk ide atau gagasan, karena yang menguasai hanya
tokoh masyarakat saja sedangkan mereka hanya berpartisipasi dalam
pembangunan fisik desa.
6. Banyak masyarakat yang masih menjunjung tinggi status yang diperoleh dari
warisan keluarga sehingga hanya mengandalkan keturunan dan tidak
bersemangat dalam mengejar status yang lebih tinggi.
C. Pembatasan Masalah
Agar permasalahan dalam penelitian ini mudah dimengerti dan dapat
dijawab dengan jelas serta tidak menimbulkan salah tafsir maka penulis memberi
batasan dalam penelitian ini. Penelitian ini hanya terbatas pada masalah tingkat
pendidikan,status sosial dan partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan.
Untuk memperjelas pembatasan masalah ini peneliti memberikan penjelasan
istilah sebagai berikut :
1. Partisipasi Kepala keluarga dalam Pembangunan
Partisipasi adalah pengambilan bagian atau keikutsertaan setiap kepala
keluarga sebagai bagian dari anggota masyarakat dalam kegiatan bersama
mulai dari perencanaan, proses dan pemanfaatan hasil, yang mengikutsertakan
pikiran, tenaga, waktu, harta untuk membantu keberhasilan setiap program
pembangunan sesuai dengan kemampuan setiap individu tanpa mengorbankan
kepentingan diri sendiri.
2. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah tahapan pendidikan yang
ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan
dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan yaitu jenjang pendidikan formal
terakhir yang telah dicapai oleh kepala keluarga di Dusun Grogolan, Tegalgiri,
Nogosari, Boyolali dengan klasifikasi : pendidikan dasar ( SD, SMP dan atau
yang sederajat), Pendidikan menengah (SMA, SMK dan atau yang sederajat ),
dan Pendidikan Tinggi (Diploma, Sarjana, Pasca sarjana, Doktor).
3. Status Sosial
Kedudukan yang melekat dalam diri kepala keluarga sebagai anggota
masyarakat dipandang secara objektif dari masyarakat lain yang bersangkutan
yang sebanding dengan usaha untuk mencapainya.
D. Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan pertanyaan penelitian mengenai ruang
lingkup permasalahan yang akan diteliti, sehingga dengan perumusan masalah
yang jelas dapat memberikan jalan yang lebih mudah dalam memecahkan
permasalahan. Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi, dan pembatasan
masalah tersebut diatas maka rumusan penelitian ini sebagai berikut :
1. Apakah ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan
partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan?
2. Apakah ada hubungan yang signifikan antara status sosial dengan partisipasi
kepala keluarga dalam pembangunan?
3. Apakah ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan status
sosial
secara bersama
dengan
partisipasi
pembangunan?
E. Tujuan Penelitian
kepala keluarga
dalam
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan partisipasi kepala
keluarga dalam pembangunan.
2. Untuk mengetahui hubungan antara status sosial dengan partisipasi kepala
keluarga dalam pembangunan.
3. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan status sosial
secara bersama dengan partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis :
a. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
bagi perkembangan khasanah ilmu pengetahuan pada umumnya.
b. Dapat digunakan sebagai bahan informasi ada tidaknya hubungan antara
tingkat pendidikan dan status sosial dengan partisipasi kepala keluarga
dalam pembangunan .
2. Manfaat Praktis :
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada kepala
keluarga akan pentingnya pendidikan dan status sosial bagi partisipasi
mereka dalam pembangunan.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada pemerintah di
Dusun
Grogolan,
Tegalgiri,
Nogosari,
Boyolali
dalam
rangka
meningkatkan partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan
c. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masuukan pada peneliti untuk
meneliti lebih lanjut pada anggota keluarga yang lain pada masyarakat
lain.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
Di dalam penelitian kuantitatif, landasan teori memiliki peranan yang
sangat penting, karena sebagai upaya dalam merumuskan hipotesis penelitian
yang nantinya akan diuji di lapangan. Tinjauan pustaka ini akan membahas
tentang partisipasi dalam pembangunan, tingkat pendidikan, dan status sosial
kepala keluarga sebagai permasalahan atau variabel dalam penelitian ini.
1. Partisipasi Kepala Keluarga dalam Pembangunan
a. Pengertian partisipasi
Semua pembangunan menyangkut dan ditujukan untuk masyarakat,
karena masyarakat merupakan subjek sekaligus objek dari pembangunan. Sebagai
subjek pembangunan berarti masyarakat harus ikut berperan aktif dalam kegiatankegiatan yang berhubungan dengan pembangunan, sedangkan sebagai objek
pembangunan berarti masyarakat menjadi sasaran utama dari hasil pembangunan
karena
tujuan
kesejahteraan
pembangunan
masyarakat.
yang
Berhasil
utama
atau
adalah
tidaknya
untuk
meningkatkan
pembangunan
sangat
bergantung pada peran aktif masyarakat. Dengan demikian partisipasi masyarakat
merupakan hal yang penting dalam pelaksanaan pembangunan.
Secara harfiah partisipasi dapat diartikan sebagai pengambilan bagian.
Innabroto Bhattacharyyo dalam Taliziduhu ( 1987 : 102) mengartikan partisipasi
sebagai pengambilan bagian dalam kegiatan bersama. Dalam buku yang sama
pendapat tersebut dilengkapi oleh Mubyanto, yang mendefinisikan partisipasi
sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai dengan
kemampuan setiap orang tanpa mengorbankan kepentingan diri sendiri. Hal yang
senada juga diungkapkan oleh Bormby dalam Totok Mardikanto (1998 : 101)
yang mengartikan partisipasi sebagai tindakan untuk mengambil bagian dari suatu
kegiatan dengan maksud untuk memperoleh manfaat. Dalam partisipasi harus ada
keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan bersama dimana
orang tersebut berpartisipasi. Vembriarto (1984:28) mengartikan partisipasi sosial
sebagai suatu keanggotaan dan peranan didalam kelompok – kelompok sosial dan
aktivitas – aktivitas yang bersifat kultural.
Dari beberapa pengertian tersebut partisipasi dapat diartikan sebagai
tindakan seseorang untuk melibatkan dirinya didalam suatu kegiatan kelompok.
Keikutsertaan tersebut merupakan suatu bentuk pernyataan dari setiap individu
bahwa dirinya dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi kelompoknya
untuk mencapai tujuan bersama dalam suatu kegiatan.
“Penyediaan
infrastruktur
pada
dasarnya
merupakan
kewajiban
pemerintah, sebagai wujud pelayanan yang diberikan terhadap masyarakat. Pada
sisi lain, masyarakat berhak untuk ikut terlibat dalam penyediaan infrastruktur
agar
apa
yang
dibangun
sesuai
dengan
kebutuhan.”
(Muhammad
Taufiqullah.2008).Definisi lain diungkapkan oleh Moekijat (1984 : 104) “
Partisipasi adalah keterlibatan baik fisik maupun perasaan dari seseorang dalam
suatu kelompok untuk memberikan sumbangan kepada tujuan-tujuan kelompok
untuk memikul bagian tanggung jawab mereka.”
Dari pengertian di atas dapat penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan
suatu kegiatan atau proyek di dalam suatu masyarakat sangat mustahil dapat
berhasil tanpa adanya peran aktif masyarakat. Dengan kata lain bahwa partisipasi
merupakan keterlibatan dari seseorang atau kelompok untuk memberikan bantuan
dengan penuh tanggung jawab didalam suatu kegiatan atau proyek untuk
mencapai tujuan bersama.
Sedangkan menurut Bambang Hudayana (2003:29) , “ Partisipasi adalah
keterlibatan rakyat dalam proses pembuatan keputusan, dalam pelaksanaan
program pembangunan dan keterlibatan mereka dalam usaha mengevaluasi
program itu.”. Hal senada diungkapkan oleh Khairuddin H (1992 : 124) “
Partisipasi berarti mengambil bagian” .dalam hal ini mengambil bagian dalam
suatu tahap atau lebih dari suatu proses pembangunan
Dari kedua pengertian partisipasi tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan
bahwa partisipasi tidak hanya terlihat pada saat pelaksanaan pembangunan
saja.Untuk
mencapai
keberhasilan
pembangunan
diperlukan
partisipasi
masyarakat secara penuh pada semua tahap yaitu:
1) Tahap perencanaan
2) Tahap pelaksanaan
3) Tahap evaluasi
4) Tahap pemanfaatan hasil
T.B. Simatupang dalam Khairuddin H (1992 : 124) memberikan
beberapa rincian mengenai partisipasi antara lain:
1) Partisipasi berarti apa yang kita jalankan adalah bagian dari usaha bersama
yang kita jalankan adalah bagian dari bahu membahu dengan saudara
sebangsa dan setanah air untuk membangun masa depan bersama.
2) Partisipasi berarti pula sebagai kerja untuk mencapai tujuan bersama diantara
semua warga negara yang mempunyai latar belakang kepercayaan yang
beraneka ragam dalam negara pancasila kita, atau dasar hak dan kewajiban
yang sama untuk memberi sumbangan demi terbinanya masa depan yang baru
dari bangsa kita.
3) Partisipasi tidak hanya berarti mengambil bagian dalam pelaksanaan –
pelaksanaan pembangunan tapi pembangunan itu, nilai-nilai kemanusian dan
cita-cita mengenai keadilan sosial tetap dijunjung tinggi.
4) Partisipasi dalam pembangunan berarti mendorong ke arah pembangunan
yang serasi dengan martabat manusia .
Dari rincian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengambilan bagian
dari partisipasi bukan hanya dalam bentuk fisik saja tapi juga ikatan emosional
yang dijunjung tinggi antara anggota satu dengan yang lainnya. Dan mereka harus
berpedoman pada dasar dan landasan yang sama untuk mencapai tujuan bersama.
Pengertian partisipasi yang telah dirumuskan PBB dalam Y. Slamet
(1993:3) adalah, “ keterlibatan aktif dan bermakna dari massa penduduk pada
tingkatan – tingkatan yang berbeda. Setiap individu mempunyai kemampuan yang
berbeda – beda yang mungkin disebabkan oleh faktor perbedaan temperamen atau
kebiasan dan adanya faktor di luar kekuasaan individu misalnya cacat fisik.
Penelitian ini tidak akan membahas faktor yang kedua. Tingkatan perbedaan
tersebut menurut Y. Slamet (1993 : 3) antara lain :
1) Pembentukan keputusan untuk menentukan tujuan kemasyarakatan dan
pengalokasian sumber – sumber untuk mencapai tujuan tersebut.
2) Pelaksanaan program dan proyek secara suka rela.
3) Pemanfaatan hasil dari suatu program atau proyek.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud partisipasi dalam penelitian ini adalah pelibatan secara fisik maupun
non fisik dalam suatu kegiatan didalam suatu kelompok dengan cara
menyumbangkan pikiran, tenaga, uang, maupun harta benda dalam usaha-usaha
kearah pencapaian tujuan bersama.
Dengan demikian partisipasi merupakan hal yang penting dalam proses
pembangunan desa. Dengan adanya partisipasi warga tidak hanya sebagai
penonton saja, tetapi juga punya voice yang diperhatikan, akses dan kontrol dalam
pembangunan. Melalui partisipasi seorang individu menjadi warga publik, yang
mampu membedakan urusan pribadi dengan urusan masyarakat umum.Hal ini
berarti partisipasi menjadi ukuran kedewasaan dan kemandirian individu dalam
melihat batasan antara kepentingan pribadi dan umum. Partisipasi juga akan
membangkitkan rasa bangga terhadap keterlibatan dan menimbulkan rasa sayang
terhadap suatu program pembangunan sehingga menumbuhkan rasa tanggung
jawab dan kepemilikan (handarbeni).
b. Jenis – jenis Partisipasi
Tiap-tiap individu mempunyai kemampuan dan potensi yang berbedabeda. Hal ini menyebabkan partisipasi yang diberikan seseorang dalam proses
pembangunan akan berbeda-beda pula.Ada berbagai bentuk partisipasi yang dapat
diberikan individu atau warga masyarakat antara lain berupa sumbangan
pemikiran, tenaga fisik, maupun harta benda.Hal tersebut sesuai dengan
pernyataan Keith Davis yang dikutip oleh Santoso Sastro puetro (1988:16) yang
menyatakan bahwa jenis partisipasi yang dapat diberikan individu(warga) dapat
berupa pikiran, tenaga, pikiran dan tenaga, keahlian, barang dan uang.
Dusseldorp dalam Y. Slamet (1993 : 11) mengklasifikasikan partisipasi
berdasar pada sembilan dasar yaitu :
1) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada derajat kesukarelaan.
Ada dua bentuk partisipasi berdasarkan derajat kesukarelaan yaitu :
a) Partisipasi bebas yang akan terjadi bila individu melibatkan diri secara
suka rela didalam suatu kegiatan dalam suatu kegiatan partisipasi
tertentu. Partisipasi ini dibagi lagi dalam dua sub yaitu partisipasi
spontan yang terjadi bila seorang individu mulai berpartisipasi
berdasarkan keyakinan tanpa dipengaruhi melalui penyuluhan atau
ajakan orang lain atau lembaga, sedangkan yang kedua yaitu
Partisipasi terbujuk. Partisipasi ini akan terjadi bila seseorang
diyakinkan melalui program penyuluhan yang bisa berasal dari
pemerintahan, Bahkan suka rela diluar kemasyarakatan, atau orang –
orang yang tinggal disekitarnya.
b) Partisipasi terpaksa melalui hukum maupun terpaksa karena kondisi
sosial ekonomi.
2) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada cara keterlibatan.
Partisipasi ini juga dibedakan dalam beberapa bentuk yaitu :
a) Partisipasi langsung yang akan terjadi bila orang itu menampilkan
kegiatan tertentu didalam proses partisipasi, misalnya dalam pemilu.
b) Partisipasi tidak langsung terjadi bila seseorang mendelegasikan hak
partisipasinya berdasarkan pada keterlibatan didalam berbagai tahap
dalam proses pembangunan.
c) Partisipasi lengkap terjadi bila seseorang baik secara langsung maupun
tidak langsung terlibat dalam keseluruhan tahapan proses
pembangunan secara terencana yaitu (i) perumusan tujuan, (ii)
penelitian, (iii) persiapan rencana, (iv) penerimaan rencana, (v)
pelaksanaan, (vi) penilaian.
d) Partisipasi sebagian terjadi bila seseorang baik secara langsung
maupun tidak langsung tidak terlibat dalam keseluruhan tahapan
proses pembangunan secara terencana.
3) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada tingkatan organisasi
a) Partisipasi yang terorganisasi terjadi bila suatu struktur organisasi dan
seperangkat tata tertib dikembangkan atau sedang dalam proses
penyiapan.
b) Partisipasi yang tidak terorganisasi terjadi bila orang – orang yang
berpartisipasi hanya dalam tempo yang kadang – kadang saja, yang
umumnya karena keadaan yang gawat, misalnya saat terjadi musibah.
4) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada intensitas dan frekuensi
kegiatan.
a) Partisipasi intensif yang terjadi disitu ada frekuensi aktivitas yang
tinggi.
b) Partisipasi ekstensif yang terjadi bila pertemuan – pertemuan
diselenggarakan secara tidak teratur dan kegiatan – kegiatan atau
kejadian – kejadian (evenis) yang membutuhkan partisipasi dalam
interval waktu yang sangat panjang.
5) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada lingkup liputan kegiatan
a) Partisipasi tidak terbatas yaitu bila seluruh kekuatan yang
mempengaruhi komunitas tertentu dapat diawasi oleh dan dijadikan
sasaran kegiatan yang membutuhkan partisipasi anggota komunitas itu.
b) Partisipasi terbatas yang terjadi bila hanya sebagian kegiatan sosial,
politik, administratif, dan lingkungan fisik yang dapat dipengaruhi
melalui kegiatan partisipasi.
6) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada efektifitas.
a) Partisipasi efektif yaitu kegiatan partisipasi yang telah menghasilkan
perwujudan seluruh tujuan yang mengusahakan aktivitas partisipasi.
b) Partisipasi tidak efektif yang terjadi bila tidak satupun atau sejumlah
kecil saja dari tujuan – tujuan aktivitas yang direncanakan terwujud.
7) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada siapa saja yang terlibat.
Orang – orang yang dapat berpartisipasi dapat dibedakan sebagai berikut :
a) Anggota masyarakat setempat baik penduduk maupun pemimpin
setempat.
b) Pegawai pemerintah yang berasal dari penduduk dalam masyarakat
maupun bukan penduduk.
c) Orang – orang luar yaitu penduduk masyarakat maupun bukan
penduduk.
d) Wakil – wakil masyarakat yang terpilih.
8) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada gaya partisipasi
a) Pembangunan lokalitas.
b) Aksi social
Dari berbagai bentuk partisipasi di atas penulis sangat setuju ketika
pembangunan bertujuan menumbuhkan partisipasi bebas, lengkap, terorganisasi,
intensif tidak terbatas. Hal ini akan menjadikan semua warga masyarakat tanpa
terkecuali sadar untuk berperan aktif dalam pembangunan mulai dari perencanaan
program sampai pemeliharaan hasil. Dan ada hukum yang jelas yang mengatur
hak dan kewajiban setiap warga masyarakat dalam proses pembangunan tersebut.
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Taliziduhu Ndraha (1982 : 108): “
Partisipasi dibedakan menjadi dua, yaitu: partisipasi profesional yaitu partisipasi
yang dilakukan sepanjang proses dan partisipasi parsial adalah partisipasi yang
hanya dilakukan pada satu atau beberapa fase saja.” Berdasarkan uraian tersebut
dapat penulis simpulkan bahwa dalam kenyataan di masyarakat akan banyak
sekali tumbuh berbagai bentuk partisipasi Namun partisipasi yang paling cocok
dalam pembangunan adalah partisipasi profesional karena masyarakat akan selalu
terlibat dan ikut serta mulai dari awal perencanaan program, pelaksanaan, evaluasi
sampai pemanfaatan hasil dan pemeliharaan.
c. Faktor yang mendorong partisipasi
Setiap warga masyarakat mempunyai kesadaran yang berbeda-beda
untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Hal ini disesuaikan dengan kondisi latar
belakang setiap warga masyarakat tersebut. Untuk memperoleh partisipasi yang
maksimal dari masyarakat diperlukan berbagai macam dorongan.Menurut
margono yang dikutip oleh totok Mardikanto (1988 : 109 – 111) menjelaskan
bahwa untuk tumbuhnya partisipasi itu sendiri sebagai suatu kegiatan nyata
diperlukan adanya kesempatan, kemampuan dan kemauan. Hal tersebut
selanjutnya akan dijelaskan sebagai berikut:
1) Adanya kesempatan
Dalam
kenyataan banyak
program
pembangunan
yang kurang
memperoleh partisipasi dari masyarakat karena kurangnya kesempatan yang
diberikan kepada masyarakat untuk berpartisipasi. Dilain pihak kurangnya
informasi yang diberikan kepada masyarakat tentang kapan dan dalam bentuk apa
mereka dapat ikut berpartisipasi.
2) Adanya kemampuan untuk berpartisipasi
Kemampuan yang dimiliki masyarakat akan memberikan banyak
kesempatan bagi masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Masyarakat yang memiliki
kemampuan lebih akan memberikan sumbangan dalam suatu program
pembangunan yang sesuai dengan kemampuannya.
3) Adanya kemauan warga untuk berpartisipasi
Partisipasi kepala keluarga atas dasar inisiatif sendiri akan memberikan
hasil yang lebih baik dalam pembangunan. Kemauan masyarakat untuk ikut
berpartisipasi berasal dari kesadaran hati masyarakat bukan paksaan dari pihak
lain.
Berdasarkan pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa faktorfaktor tersebut tidak ada yang paling dominan, ketiganya saling mendukung untuk
dapat menumbuhkan partisipasi masyarakat secara maksimal. Kesadaran warga
sangat menentukan besar kecilnya partisipasi.
d. Manfaat partisipasi.
Partisipasi merupakan hal yang penting dalam proses pembangunan
desa. Dengan adanya partisipasi warga tidak hanya sebagai penonton, ataupun
penikmat hasil – hasil pembangunan saja, tetapi juga mempunyai voice yang
diperhatikan, akses dan kontrol dalam pembangunan. Sehingga rasa kepemilikan
terhadap hasil pembangunan akan lebih besar. Melalui partisipasi seorang
individu menjadi warga publik, mampu membedakan persoalan pribadi dengan
persoalan masyarakat. Dengan kata lain partisipasi menjadi ukuran kedewasaan
dan kemadirian individu (warga) masyarakat dalam melihat batasan antara
kepentingan publik dan privat. Partisipasi juga akan membangkitkan rasa bangga
terhadap keterlibatan dan menimbulkan rasa sayang terhadap suatu program
pembangunan sehingga menimbulkan rasa percaya diri dan tanggung jawab.
Partisipasi ini sangat bermanfaat bagi kemajuan desa maupun negara
secara umum. Dalam bidang pembangunan, partisipasi merupakan masukan bagi
usaha perbaikan kondisi dan taraf hidup masyarakat yang bersangkutan.
Pembangunan masyarakat juga sangat dipengaruhi oleh partisipasi dari
masyarakat, selain terkenal atau yang sudah ada di tengah – tengah masyarakat
yang bersangkutan. Suatu organisasi berlaku juga prinsip pertukaran dasar, yaitu
bahwa semakin banyak manfaat yang akan diperoleh suatu pihak dari pihak lain
melalui kegiatan tertentu, semakin kuat pihak tersebut akan terlibat dalam suatu
kegiatan .
Menurut Bambang Hudoyono (2003 : 29) manfaat partisipasi yaitu :
1) Partisipasi adalah perwujudan kedaulatan rakyat yang menempatkan mereka
sebagai awal dan tujuan pembangunan.
2) Partisipasi menimbulkan harga diri dan kemampuan prbadi untuk turut serta
dalam menentukan keputusan yang menyangkut masyarakat (memanusiakan
manusia)
3) Partisipasi adalah proses saling belajar bersama antara pemerintah dan
masyarakat,
sehingga
menimbulkan sikap arif.
bisa
saling
menghargai,
mempercayai,
dan
4) Partisipasi menciptakan suatu lingkaran umpan balik suatu informasi tentang
aspirasi, kebutuhan dan kondisi masyarakat.
5) Partisipasi merupakan cara paling efektif untuk mengembangkan kemampuan
masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi
kebutuhan.
6) Partisipasi bisa mencegah timbulnya pertentangan, konflik dan sikap – sikap
‘asal bunyi’.
7) Partisipasi dipandang sebagai pencerminan demokrasi.
Lebih lanjut Bambang Hudoyono (2003 : 30) juga mengemukakan
bahwa dalam hal kemanfaatanya partisipasi dapat dipahami dalam dua hal yaitu
pertama partisipasi sebagai sebuah alat dimana partisipasi ini dilihat sebagai
sebuah proses yang didalam proses itu rakyat dapat bekerja sama atau bergabung
dengan program pembangunan yang diperkenalkan oleh siapapun secara
eksternal. Partisipasi warga desa disponsori oleh perwakilan eksternal dan ia
dilihat sebagai sebuah teknik untuk membantu program desa. Model pendekatan
ini sering disebut sebagai pembangunan partisipasi. Kedua partisipasi sebagai
sebuah tujuan dimana partisipasi dilihat sebagai sebuah tujuan itu sendiri. Tujuan
ini dapat dinyatakan sebagai pemberdayaan masyarakat yang dipandang dari segi
perolehan keahlian, pengetahuan dan pengalaman mereka untuk mengambil
tanggung jawab yang lebih besar bagi pembangunan.
Dengan demikian
partisipasi merupakan instrument perubahan yang dapat membantu untuk
mengakhiri, menganalisis serta memberi rakyat miskin dengan dasar – dasar untuk
keterlibatan langsung dalam prakarsa pembangunan.
Midgley (1986) menyatakan bahwa partisipasi bukan hanya sekedar
salah satu tujuan dari pembangunan sosial tetapi merupakan bagian yang integral
dalam proses pembangunan sosial. Partisipasi masyarakat berarti eksistensi
manusia seutuhnya. Tuntutan akan partisipasi masyarakat semakin menggejala
seiring kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara. Kegagalan
pembangunan berperspektif modernisasi yang mengabaikan partisipasi negara
miskin (pemerintah dan masyarakat) menjadi momentum yang berharga dalam
tuntutan peningkatan partisipasi negara miskin, tentu saja termasuk di dalamnya
adalah masyarakat. Tuntutan ini semakin kuat seiring semakin kuatnya negara
menekan kebebasan masyarakat. Post-modernisme dapat dikatakan sebagai
bentuk perlawanan terhadap modernisme
yang dianggap telah
banyak
memberikan dampak negatif daripada positif bagi pembangunan di banyak negara
berkembang. Post-modernisme bukan hanya bentuk perlawanan melainkan
memberikan jawaban atau alternatif model yang dirasa lebih tepat. Postmodernisme merupakan model pembangunan alternatif yang ditawarkan oleh
kalangan ilmuan sosial dan LSM. Isu strategis yang diusung antara lain anti
kapitalisme, ekologi, feminisme, demokratisasi dan lain sebagainya. Modernisme
dianggap tidak mampu membawa isu-isu tersebut dalam proses pembangunan dan
bahkan dianggap telah menghalangi perkembangan isu strategis itu sendiri. Postmodernisme
dinyatakan
sebagai
model
pembangunan
alternatif
karena
memberikan penawaran konsep yang jauh berbeda dengan modernisme. Tekanan
utama yang dibawa oleh post-modernisme terbagi dalam tiga aspek, yaitu agen
pembangunan, metode dan tujuan pembangunan itu sendiri.
e. Strategi untuk meningkatkan partisipasi kepala keluarga
Betapapun partisipasi warga
merupakan prasarat dalam sistem
demokrasi dan pembangunan, namun tidak secara otomatis ia akan hadir tanpa
ada upaya – upaya yang dilakukan secara sistematik dan konsisten. Bambang
Hudoyono (2003 : 32) mengemukakan beberapa strategi yang diperlukan untuk
membangkitkan dan memperkuat partisipasi masyarakat desa, yaitu :
1) Mengeksplorasi nilai – nilai yang berkaitan dengan semangat partisipasi yaitu
kebersamaaan dan solidaritas (collectiveness and solidarity), Tanggung jawab
(responsibility), kesadaran kritis (critic consieness), sensitif perubahan, peka
terhadap lokalitas, dan keberpihakan atau komitmen terhadap kemarginalan.
2) Menghidupkan kembali institusi – institusi volunteer sebagai media
kewarganegaraan yang pernah hidup dan berfungsi.
3) Memfasilitasi terbentuknya asosiasi kewarganegaraan yang baru berbasiskan
kepentingan kelompok keagamaan, ekonomi, profesi, minat, politik maupun
aspek lain yang dapat dimanfaatkan sebagai arena interaksi terbuka.
4) Mengkampanyekan pentingnya kesadaran inklunsif
warga desa dalam
menyikapi sejumlah perbedaan yang ada.
5) Memperluas komunikasi publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat desa
untuk warga masyarakat desa untuk melakukan kontak sosial dan kerja sama.
Selain itu partisipasi warga masyarakat harus dibangun berdasarkan nilainilai ideal, yaitu :
1) Unsur kesadaran yang lahir dari dalam diri warga masyarakat desa secara
otentik untuk terlibat dalam proses politik dan pembangunan.
2) Penempatan diri warga sebagai subjek kebijakan pembangunan .
3) Pesan –pesan aktif yang sifatnya dialogis sehingga menjamin kesetaraan antar
warga.
4) Susunan kebersamaan (kolektif) antar warga sebagai bentuk jalinan solidaritas
sosial.
5) Pelembagaan dan berkelanjutan (institusionalization and substainability).
(Bambang Hudoyono, 2003 : 29);
Dari uraian diatas tersebut dapat penulis simpulkan bahwa partisipasi
kepala keluarga bersifat relatif kadang naik kadang turun dan besarnya partisipasi
setiap orang berbeda-beda.Oleh karena itu untuk meningkatkan kesejahteraan
warga masyarakat partisipasi ini harus senantiasaa dipupuk dan dikembangkan
terus oleh semua pihak.
Menurut Khairuddin H (1992 : 128) untuk menumbuhkan partisipasi
masyarakat desa perlu ditekankan bahwa:
1) Tidak ada perbedaan antara elit desa (petani kaya) dengan petani miskin
dalam ikut berpartisipasi.
2) Partisipasi masyarakat secara keseluruhan sangat menentukan keberhasilan
pembangunan masyarakat desa itu sendiri.
3) Para elit desa tidak perlu mengklaim bahwa keberhasilan pembangunan adalah
karena diri mereka. Seharusnya mereka memberi tahu kepada masyarakat
tanpa masyarakat para elit tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.
4) Masyarakat merasa ‘diorangkan’ dalam proses pembangunan tersebut.
Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa semua warga
masyarakat tanpa terkecuali dari pemimpin maupun warga biasa mempunyai
tanggung jawab untuk menumbuhkan dan menjaga partisipasi. Dan sebagai
pemimpin tidak perlu arogan tapi justru benar-benar menjadi pelayan masyarakat.
f. Pengertian Pembagunan masyarakat
Pembangunan merupakan suatu tuntutan yang tidak ditawar lagi bagi
setiap negara yang ingin mempertahankan eksistensi negaranya. Kenyataanya
cita-cita dan harapan suatu negara hanya dapat dijawab dengan langkah-langkah
pembangungan. Tingkat kemajuan dalam pembangunan akan berbanding lurus
dengan eksistensi suatu masyarakat.
Menurut Soerjono soekanto (2002 : 454) “Pembangunan merupakan suatu
proses perubahan disegala bidang kehidupan yang dilakukan secara sengaja
berdasarkan suatu rencana tertentu”. Sedangkan menurut Sondang P. Siagian
(2003:4) “Pembangunan sebagai satu usaha atau rangkaian usaha mewujudkan
pertumbuhan-pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang dilakukan secara
sadar oleh suatu bangsa, Negara dan pemerintah menuju moderenitas dalam
rangka pembinaan suatu bangsa”.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pembangunan adalah
rangkaian usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk menuju kearah
kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Pembangunan dilakukan dengan
mengerahkan segala aspek baik fisik maupun non fisik yang dijalankan secara
seimbang dalam mencapai moderenitas bangsa.
Sedangkan pembangunan menurut rumusan PBB diartikan sebagai
berikut:
Pembangunan adalah proses-proses dimana usaha-usaha dari orang-orang itu
sendiri disatukan dengan usaha-usaha pemerintah untuk memperbaiki
keadaan ekonomi, sosial, kultural masyarakat, menyatukan masyarakat-
masyarakat itu dalam kehidupan bangsa, dan memungkinkan masyarakat itu
menyumbangkan secara penuh bagi kemajuan nasional.
(Y. Slamet1993:4)
Pengertian Pembangunan di atas dapat diartikan sebagai proses perubahan
menuju kearah yang lebih baik atau menuju modernisasi, yaitu cara hidup yang
baru dan lebih baik dari sebelumnya, yang mampu menguasai lingkungan yang
mencakup seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara yang meliputi
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan.Dari pengertian
tersebut penulis juga menyimpulkan bahwa pembangunan mengandung unsurunsur sebagai berikut:
1) Tujuan pembinaan bangsa
2) Usaha atau proses
3) Peningkatan, kemajuan,, atau perubahan kearah kemajuan.
4) Dilakukan secara sadar atau sengaja.
5) Terencana.
6) Dilakukan secara bertahap dan terus menerus.
Pada dasarnya pembangunan dilaksanakan untuk memperbaiki keadaan
sekarang dengan memanfaatkan segala potensi yang ada secara optimal. Menurut
Petunjuk Pelaksanaan Dana Bantuan Pembangunan
Desa/Kelurahan(DPD/K)
tahun 2005, pembangunan desa meliputi bidang-bidang sebagai berikut:
1) Prasarana produksi, meliputi:
a) Irigasi: Bendungan, waduk, gorong-gorong,bak pembagi, saluran
irigasi, pompa air, talang air, dan pembangunan irigasi lainnya.
b) Pengawetan dan pelestarian tanah serta pengendalian banjir:
penghijauan, terasering.
c) Ketenagaan: Pelistrikan, kincir air.
2) Prasarana perhubungan desa, meliputi:
a) Jembatan desa
b) Jalan desa.
3) Prasarana pemasaran desa, meliputi:
a) Los pasar desa
b) Kios
c) Los desa
d) Lumbung desa
4) Prasarana sosial desa meliputi:
a) Balai desa
b) Tempat ibadah
c) Tempat pemandian umum
d) Kakus/WC umum
e) Taman kanak-kanak
f) Pos hansip.
Dengan demikian peneliti mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud
dengan pembangunan dalam penelitian ini adalah proses kegiatan dalam suatu
kesatuan kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaharui atau membuat
prasarana fisik desa. Pembangunan tersebut bersifat kongkret dan dapat dilihat,
yaitu berupa sarana dan prasarana yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan
dapat menunjang kehidupan dan kehidupan masyarakat.
g. Cara pengukuran partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan
Untuk mengukur partisipasi baik didalam organisasi formal maupun
organisasi informal dapat menggunakan skala chapin. Dalam penelitian ini untuk
mengukur partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan peneliti menggunakan
skala tiga seperti skala likert yang dimodifikasi. Hal tersebut sesuai pendapat Y.
Slamet (1993:85) yang menyatakan bahwa pengukuran partisipasi sosial baik
didalam organisasi formal maupun informal, banyak peneliti yang menggunakan
skala likert tanpa atau dengan perubahan atau modifikasi.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dibuat suatu indikator-indikator dari
variabel partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan masyarakat desa.
Indikator-indikator tersebut akan dijabarkan kedalam item-item. Setiap item diberi
bobot atau nilai yang sama. Dengan demikian idikator-indikator variabel
partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan desa akan diukur dari:
1) Partisipasi kepala keluarga dalam tahap perencanaan, hal ini meliputi:
a) Kehadiran kepala keluarga dalam setiap pertemuan
b) Keterlibatan kepala keluarga dalam memberikan usul dan saran atas
informasi mengenai pembangunan desa.
c) Sikap
kepala
keluarga
dalam
menerima
informasi
mengenai
pembangunan.
d) Kesediaan kepala keluarga dalam menerima hasil rapat.
2) Partisipasi kepala keluarga dalam tahap pelaksanaan, hal ini meliputi:
a) Keterlibatan kepala keluarga dalam pelaksanaan kegiatan operasional
pambangunan desa.
b) Keterlibatan kepala keluarga dalam memberikan bantuan baik berupa
uang, tenaga, dan material.
3) Partisipasi kepala keluarga dalam tahap pemanfaatan hasil, hal ini meliputi:
a) Rasa memiliki dari kepala keluarga terhadap hasil pembangunan.
b) Rasa tanggung jawab terhadap pemeliharaan hasil-hasil pembangunan.
2. Tingkat pendidikan
a. Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan unsur yang sangat penting bagi kemajuan
masyarakat, karena setiap orang akan melalui proses ini. Untuk memahami lebih
lanjut tentang pendidikan maka perlu dikemukakan pengertian tentang
pendidikan.
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.”
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan.Menurut Langeveld dalam Soedomo Hadi
(2003 : 17). “Pendidikan adalah mempengaruhi anak dalam usahanya untuk
membimbing anak agar menjadi dewasa.” Perbuatan membimbing tersebut
merupakan inti dari perbuatan mendidik yang tugasnya hanya membimbing saja,
kemudian pada suatu saat ia harus mengembalikan anak itu dalam masyarakat.
Dalam hal ini pendidikan merupakan tuntunan, bantuan , atau pengaruh yang
diberikan oleh orang yang bertanggung jawab kepada anak didik, sehingga
mencapai tingkat kedewasaan. Sedangkan Ki Hajar Dewantara (1997 : 14)
menyatakan bahwa, “ Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan
tumbuhnya budi pekerti.”
Dari beberapa pengertian pendidikan di atas dapat disimpulkan bahwa
dengan adanya pendidikan diharapkan manusia tidak hanya memperoleh
pengetahuan saja, tetapi juga memiliki tingkah laku yang sesuai dengan nilai –
nilai maupun norma – norma yang berlaku dalam masyarakat dan hal ini
dilakukan secara sadar oleh seluruh komponen pendukung pendidikan tersebut.
Menurut Driyarkara dalam Soedomo Hadi (2003 : 19), “Pendidikan
adalah pemanusiaan dan pembudayaan anak serta pelaksanaan nilai – nilai.”
Maksud dari kata pemanusiaan bahwa seorang peserta didik akan mampu
mengerti dirinya dan mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi serta dapat
menentukan sikap yang terbaik bagi dirinya maupun orang lain. Dengan kata lain,
bahwa peserta didik mampu beradaptasi dengan lingkungan dimana ia berada,
sedangkan pembudayaan merupakan suatu proses menuju arah terbentuknya
kemandirian dari peserta
didik. Selain itu dalam Undang – Undang Sistem
Pendidikan Nasional juga telah disebutkan mengenai definisi pendidikan:
“ Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual,
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara.” (Undang – undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20,
Tahun 2003, pasal 1 ayat 1 )
Dari beberapa definisi tentang pendidikan di atas dapat disimpulkan
bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan secara sadar (sengaja) dan teratur
yang berusaha untuk mencapai perubahan perilaku dalam mendewasakan peserta
didik. Pendidikan dilakukan oleh pendidik untuk membimbing peserta didik
dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, serta nilai-nilai sehingga mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendidikan merupakan salah satu
strategi penting dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.
b.Pengaruh Pendidikan
Setiap pendidikan yang berlangsung akan memberikan pengaruh yang
besar bagi setiap manusia, karena pendidikan itu memberikan dan menanamkan
pengetahuan, sikap dan keterampilan. Melalui peningkatan pengetahuan, sikap
dan keterampilan ini manusia akan menuju kearah kemajuan hidup, karena
pengetahuan, sikap dan keterampilan ini akan selalu dikaji dan dikembangkan
secara terus menerus baik melalui pendidikan sekolah maupun diluar sekolah.
Dengan demikian pendidikan akan memberikan arah dan tujuan perkembangan
yang tepat menuju kemajuan hidup.
Sondang
P.Siagian
menyatakan
bahwa
pendidikan
paling
tidak
memberikan pengaruh pada beberapa hal, sebagai berikut:
1) Semakin timbulnya kesadaran bernegara dan bermasyarakat pada
gilirannya memungkinkan mereka turut berperan secara aktif dalam
memikirkan dan memperbaiki nasib bangsanya.
2) Semakin timbulnya kesadaran untuk memenuhi kewajiban yang
terletak diatas pundaknya sebagai warga Negara yang bertanggung
jawab.
3) Semakin terbukanya pikiran dan akalnya untuk memperjuangkan
haknya.
4) Pandangan yang makin luas dan objektif dalamkehidupan
bermasyarakat.
5) Semakin meluasnya cakrawala pandangan dengan segala
konsekuensinya.
6) Meningkatnya kemampuan untuk menentukan pilihan dalam pemuasan
kebutuhan hidup yang tidak lagi semata-mata terbatas pada kebutuhan
pokok tetapi juga kebutuhan lainnya.
7) Meningkatnya kemampuan untuk memecahkan berbagai permasalahan
yang dihadapi, baik pada tingkat individu maupun tingkat sosial.
8) Pandangan yang semakin kritis terhadap hal-hal yang dilihat dan
dirasakan sebagai suatu hal yang berlangsung tidak sebagai mana
mestinya.
9) Keterbukaan terhadap ide baru dan pandangan yang menyangkut
berbagai segi kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
10) Keterbukaan pada pergeseran nilai-nilai sosial budaya baik yang
timbul karena faktor – faktor yang sifatnya endogen maupun sifatnya
eksogen. (Khairudin, 1992:106)
Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan
mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan seseorang. Pengaruh
pendidikan tersebut bersifat positif, dimana pedidikan bisa merubah perilaku
manusia kearah yamg lebih baik serta menjadikan manusia untuk bersikap lebih
dewasa dan bijaksana.Oleh karena itu pendidikan sangat penting bagi
perkembangan kehidupan seseorang menuju kearah lebih baik yang akan
mendorong pembangunan.
c. Jenis – jenis pendidikan
Pendidikan berlangsung seumur hidup dengan bentuk yang bermacam –
macam
dan sifat yang berbeda – beda. Seperti yang diungkapkan Philip H.
Choinks (1985 : 37) bahwa pendidikan dibagi menjadi tiga, yaitu pendidikan
formal, informal, dan non formal. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan masing –
masing :
1) Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah pendidikan yang dilakukan secara
teratur, bertingkat, dan mengikuti syarat – syarat yang jelas dan ketat disuatu
lembaga pendidikan (sekolah). Adapun ciri – ciri pendidikan ini adalah :
a) Berlangsung di sekolah atau lembaga formal.
b) Terdapat tingkatan yang jelas.
c) Murid harus mematuhi peraturan – peraturan yang ada di sekolah.
d) Guru harus memenuhi persyaratan dan ketentuan tertentu, misal : ijazah,
keahlian, dll.
e) Waktu dan tempat belajar teratur dan harus ditaati.
f) Ada kurikulum tertentu dan harus ditaati.
g) Ada evaluasi disetiap akhir program.
h) Berisi pendidikan teori maupun keterampilan.
Ciri yang menonjol dari pendidikan ini yang akan menjadi dasar dalam
penelitian ini adalah adanya jenjang pendidikan yang jelas. Dalam UU Sisdiknas
No 20 Tahun 2003, pasal 1 ayat 8 disebutkan bahwa “ Jenjang pendidikan adalah
tahapan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan
yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.” Adapun jenjang dalam
pendidikan sekolah antara lain :
a) Pendidikan dasar
Merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan
menengah. Dalam PP No.28 Tahun 1990 yang dikutip oleh Hadari Nawawi dan
Mimi Martini (1994 : 107) menyebutkan bahwa, “ Pendidikan dasar adalah
pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun, diselenggarakan selama enam
tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah lanjutan pertama atau satuan
pendidikan yang sederajat.” Sedangkan tujuan pendidikan dasar menurut Hadari
Nawawi (1994 : 108) adalah memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta
didik
untuk mengembangkan kehidupan sebagi pribadi, anggota masyarakat,
warga Negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik
untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga
Negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk
mengikuti pendidikan menengah.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan
pendidikan dasar bertujuan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta
memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan sebagai bekal
hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi
persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah umum maupun kejuruan.
Pendidikan dasar diselenggarakan selama sembilan tahun yang meliputi enam
tahun Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah serta bentuk lain yang
sederajat dan tiga tahun Sekolah Menengah Pertama (SMP) Madrasah
Tsanawiyah (MTS) dan atau pendidikan lain yang sederajat.
b) Pendidikan menengah
Merupakan lanjutan pendidikan dasar yang terdiri atas pendidikan
menengah umum dan kejuruan. Sekolah pendidikan menengah umum berbentuk
Sekolah Menengah Atas (SMA) dan pendidikan kejuruan berbentuk Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Kejuruan Aliyah
(MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
Dalam PP No. 29
Tahun 1990 dikemukakan bahwa, “ Pendidikan
menengah umum adalah pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang
mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan
siswa.
Sedangkan pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang
menengah yang mengutamakan pengembangan keterampilan
siswa untuk
melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. Tujuan pendidikan menengah
sesuai
dengan PP No. 29 Tahun 1990 adalah :
(1). Pendidikan menengah umum mengutamakan penyiapan siswa untuk
melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan yang tinggi.
(2). Pendidikan
menengah kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk
memasuki kerja professional.
Pendidikam menengah untuk melanjutkann dan meluaskan pendidikan
dasar yaitu menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan timbal balik dengan lingkungan sosial budaya dan alam sekitarnya
serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja maupun
pendidikan tinggi. Pendidikan ini diselenggarakan selama tiga tahun setelah
peserta didik menyelesaikan pendidikan dasarnya.
c) Pendidikan tinggi
Merupakan jenjang pendidikan setelah menengah. Menurut PP No. 30
Tahun 1990, “ Pendidikan tinggi adalah Pendidikan pada jenjang yang lebih
tinggi dari pada pendidikan menengah dijalur pendidikan sekolah.” Sedangkan
tujuan pendidikan tinggi adalah
(1). Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademik dan ataupun professional yang dapat menerapkan,
mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau
kesenian.
(2). Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau
kesenian serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf
kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional (Soedomo Hadi,
2003 : 141).
Dalam
UU Sistem Pendidikan Nasional ( 1992 : 170 – 171 )
disebutkan beberapa pengertian tingkatan satuan pendidikan tinggi antara lain:
a). Akademik adalah perguruan yang menyelenggarakan program pendidikan
professional dalam satu cabang ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian
tertentu.
(1). Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan program
pendidikan dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus.
(2). Sekolah Tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelengarakan program
pendidikan professional dan atau akademik dalam lingkup satu disiplin ilmu
pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu.
(3). Institut adalah perguruan tinggi yang disamping pendidikan akadermik dapat
pula menyelenggarakan pendidikan profesional dalam sejumlah disiplin ilmu
pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu.
2) Pendidikan informal
Pendidikan informal adalah suatu pendidikan yang diperoleh seseorang
dari pengalaman sehari – hari secara sadar maupun tidak sadar, sejak lahir
maupun sampai mati. Pendidikan ini dapat berlangsung dalam keluarga, tempat
kerja, atau dalam pergaulan sehari – hari. Ciri – ciri dari pendidikan ini adalah :
a) Berlangsung dalam keluarga, ditempat kerja maupun pergaulan sehari – hari.
b) Tidak terdapat adanya tingkatan, syarat maupun peraturan tertulis yang
mengikat sebagaimana pendidikan formal.
c) Tidak terencana atau terprogram.
d) Tidak ada program evaluasi tertulis.
3)Pendidikan non formal.
Pendidikan non formal adalah suatu pendidikan yang teratur dan
dilaksanakan secara sadar serta tidak terlalu mengikuti peraturan yang tetap dan
ketat. Ciri – ciri dari pendidikan ini adalah :
b) Dapat berlangsung di sekolah maupun diluar sekolah.
c) Ada tingkatan tetapi tidak tetap dan mengikat.
d) Tidak terdapat persayaratan yang ketat baik umur maupun pendidikan calon
murid.
e) Guru – gurunya disesuaikan dengan tersedianya sumber dana daerah yang
bersangkutan.
f) Waktu belajar dapat dibuat sedemikian rupa sesuai dengan kesepakatan tenaga
pengajar dan murid.
g) Kurikulum tidak baku, baik bahan maupun lama belajar.
h) Ada evaluasi tetapi tidak harus disertai dengan ujian.
Berdasarkan uraian jenis-jenis pendidikan tersebut dapat penulis
simpulkan dalam masyarakart terdapat tiga garis besar pendidikan dan ketiganya
sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia
Indonesia. Pendidikan yang dimaksudkan disini adalah pendidikan formal yang
dilaksanakan di Sekolah secara teratur, sistematis, mempunyai jenjang dan kurun
waktu tetentu, berlangsung dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi
berdasar aturan resmi yang telah ditetapkan.
d.Tingkat Pendidikan:
Menurut Soedomo Hadi (2003:139) “Tingkat pendidikan adalah tahap
pendidikan berkelanjutan yang didasarkan pada tingkat perkembangan anak
(peserta didik), dan keluasan bahan pengajaran”.Sedangkan menurut UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional (2003:3)Tingkat pendidikan atau jenjang
pendidikan adalah “Tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat
perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang akan
dikembangkan.".Dari dua pengertian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa
tingkat pendidikan seseorang akan disesuaikan dengan perkembangannya, tujuan,
dan kemampuannya.
Menurut Crow dan Crow yang dikutip oleh Soedomo Hadi (2003:139)
mengemukakan jenis dan tingkat persekolahan sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
Tingkat TK nol kecil di sebut Nursery Education
Tingkat nol besar disebut Infant Education
Tingkat pendidikan dasar disebut Elementary Education
Tingkat SMTP disebut Yunior High School.
Tingkat SMTA disebut Senior High School.
Sekolah tinggi khusus disebut College
Dari berbadai macam tingkatan pendidikan tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut:
1) Pendidikan pra sekolah
Pendidikan pra sekolah bertujuan membantu meletakkan dasar arah
perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang
diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannnya
dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
2) Pendidikan dasar
Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar
kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya secara pribadi,
anggota masyarakat, warga negara, dan anggota manusia serta mempersiapkan
peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.
3) Pendidikan menengah
Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan
pendidikan dasar serta mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota
masyarakat
yang mempunyai kemampuan untuk beinteraksi dengan
lingkungan disekitarnya.
4) Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan
pendidikan menengah yang
diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat
yang memiliki kemampuan akademik maupun kemampuan professional yang
dapat menerapkan, mengembangkan, serta menciptakan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa tingkat
pendidikan terdiri atas pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi.Tingkat pendidikan dan jenjang pendidikan
merupakan istilah yang sama untuk menyebut tingkat pendidikan yang telah
ditempuh seorang peserta didik sesuai dengan tujuan dan kemampuan yang akan
dikembangkan seseorang atau peserta didik. Tingkatan pendidikan ini sifatnya
berkelanjutan sehingga berjenjang. Tingkat/jenjang pendidikan formal terdiri atas
pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi.
Karena berbagai keterbatasan peneliti maka penelitian ini hanya akan
difokuskan pada pendidikan formal masyarakat yang bersangkutan saja. Karena
dalam pendidikan formal terdapat indikator dan ukuran yang sudah jelas. Dan
sebagian masyarakat akan menilai tingkat pendidikan seseorang dengan melihat
status pendidikan formal dari orang tersebut.
e. Pengklasifikasian tingkat pendidikan Kepala keluarga
Dalam penelitian ini tingkat pendidikan dikaitkan dengan sekolah atau
pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh kepala keluarga Dusun Grogolan,
Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.Tingkat pendidikan dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Pendidikan dasar, terdiri dari:
a) Sekolah Dasar (SD)
b) Sekolah Menengah Pertama (SMP)
2) Pendidikan menengah, terdiri dari:
a) Sekolah Menengah Atas (SMA)
b) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
3) Pendidikan Tinggi, terdiri dari:
a) Pendidikan Diploma 1, Diploma II, Diploma III
b) Pendidikan Sarjana (SI)
f. Teori Tingkat Pendidikan dengan Partisipasi kepala keluarga dalam
Pembangunan.
Menurut Siti Meichati yang dikutip oleh Khoirudin H (1992: 104)
menyatakan bahwa “Pendidikan merupakan usaha mengembangkan individu”.
Yang dimaksud usaha mengembangkan diri yaitu pendidikan merupakan suatu
cara pembentukan dan cara membantu individu baik dari segi biologis maupun
kerohanian. Hal ini berarti pendidikan adalah upaya untuk mengembangkan
kepribadian individu agar individu menjadi dewasa dan mampu untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu melalui pendidikan, kepala
keluarga dapat berpikir sistematis, memiliki wawasan yang luas, dan lebih kritis
dalam menghadapi segala persoalan..
Kepala keluarga yang mempunyai pendidikan tinggi akan dapat berpikir
untuk membuat hidupnya lebih maju, karena mereka tidak puas dengan kondisi
lingkungannya. Oleh karena itu kepala keluarga yang mempunyai pendidikan
tinggi akan memiliki kemampuan yang tinggi sehingga partisipasi mereka dalam
pembagunan juga akan lebih optimal.
g. Cara pengukuran Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan kepala keluarga adalah tahapan yang ditetapkan
berdasarkan tingkat perkembangan, tujuan dan kemampuan yang akan
dikembangkan. Yaitu merupakan jenjang pendidikan terakhgir yang sudah
ditempuh oleh kepala keluarga. Pengukuran tingkat pendidikan Kepala keluarga
dalam penelitian ini dengan menggunakan skala sembilan seperti skala trusthone
yang dimodifikasi. Berdasarkan uraian secara keseluruhan diatas dapat dibuat
indikator-indikator dari variabel tingkat pendidikan kepala keluarga.Indikatorindikator tersebut adalah:
1) Pendidikan rendah, yaitu SD dan SMP
2) Pendidikan menengah, yaitu SLTA
3) Pendidikan tinggi, yaitu D1, D2, D3, S1
Tingkat pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jenjang
pendidikan formal terakhir yang telah dicapai oleh kepala keluarga di Desa
Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali dengan klasifikasi : pendidikan dasar (
SD, SMP dan atau yang sederajat) (SMA, SMK dan atau yang sederajat ), dan
Pendidikan Tinggi (Diploma, Sarjana, Pasca sarjana, Doktor).
3. Status sosial
a. Pengertian status sosial
Menurut Hendropuspito (1989 : 103) istilah status berasal dari bahasa
latin “stare” yang berarti berdiri. Selanjutnya pengertian status disamakan dengan
istilah “kedudukan”. Jadi status seseorang adalah kedudukan atau posisi seseorang
dalam suatu kelompok sehubungan dengan
orang lain atau masyarakat di
sekelilingnya dimana ia tinggal dan disitulah ia bergantung pada orang – orang
disekitarnya.
Sedangkan
menurut
http://en.wikipedia.org/wiki/Social_status6
December 2009 at 02:49, : “Social status is the honor or prestige attached to one's
position in society (one's social position)” Artinya status sosial merupakan
kedukukan yang diberikan seseorang pada masyarakat dimana ia tinggal.
Astrid. S. Susanto (1999 : 75) mengartikan status sebagai “Kedudukan
seseorang yang dapat ditinjau terlepas dari individunya.” Sehingga status
merupakan kedudukan objektif yang memberi hak dan kewajiban kepada orang
yang menempati kedudukan tersebut. Hal yang senada diungkapkan M. Rusli
Karin (1990 : 97) yang mengartikan status sebagai kedudukan sosial adalah
“Tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang
– orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak – hak serta
kewajibannya.” Pengertian ini menunjukkan tempatnya sehubungan dengan
kerangka masyarakat secara menyeluruh. Untuk mengukur tinggi rendahnya status
seseorang harus dilihat dari masyarakat umum dimana ia tinggal, karena status
tidak bisa lepas dari orang lain.
Menurut Paul B Horton (1999 : 5) ” Status sosial atau kelas sosial dapat
di definisikan sebagai suatu strata (lapisan) orang-orang yang berkedudukan sama
dalam kontinum (rangkaian kesatuan)”. Sedangkan menurut Soejono soekanto
status sosial diartikan sebagai berikut:
”Status sosial diartikan sama dengan kedudukan sosial, status artinya
sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial,
sehubungan dengan kelompok-kelompok lainnya dalam kelompok
tersebut. Kedudukan sosial artinya adalah tempat seseorang secara
umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain dalam arti
lingkungan pergaulan, prestise, dan hak-hak istimewa serta
kewajibannya”.
Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kehidupan seharihari kadang kita tidak menyadari akan ada perbedaan status sosial secara otomatis
yang terjadi dalam masyarakat
dimana masyarakat secara otomatis akan
menenpatkan seseorang pada kedudukan tertentu berdasarkan hal-hal yang
dihargai dalam masyarakat yang bersangkutan. Dan mereka juga akan
memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukan/statusnya tersebut.
b. Jenis – jenis status sosial
Dalam masyarakat kedudukan seseorang bisa disebabkan dari beberapa
hal. Tergantung bagaimana kebudayaan setempat. Namun secara umum
kedudukan sosial atau status sosial dapat dilihat dari.kekayaan,/ekonomi,
pendidikan dan keturunan. Soerjono Soekanto (2002 : 240) membedakan status
menjadi tiga yaitu :
1) Ascribed Status yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa
memperhatikan perbedaan – perbedaan rohaniah dan kemampuan kedudukan
tersebut. Status ini sering dijumpai dalam masyarakat dengan sistem
stratifikasi tertutup (feodal).
2) Achieved status yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha –
usaha yang disengaja. Kedudukan ini bersifat terbuka pada siapa saja
tergantung dari kemampuan masing – masing orang dalam mengejar serta
mencapai tujuan – tujuannya,.
3) Assigned Status yaitu status yang didapatkan seseorang karena telah berjasa
dalam bidang tertentu atau telah memperjuangkan sesuatu untuk kepentingan
masyarakat.
Dalam mendapatkan status sosial ini tidak menutup kemungkinan satu
orang akan memiliki beberapa kedudukan sekaligus bahkan bisa jadi ketiga status
tersebut melekat pada seseorang secara bersamaan. Tapi biasanya masyarakat
hanya akan melihat kedudukan utama yang menonjol saja. Kedudukan yang
melekat pada seseorang dapat terlihat dari kehidupan sehari – harinya melalui ciri
– ciri tertentu yang dalam sosiologi dinamakan prestise symbol (status – symbol).
Warner dalam Poul B Horton (1999 : 6) membagi kelas sosial didalam
masyarakat menjadi 6 kelas antara lain:
1) Kelas sosial atas- lapisan atas (Upper-Upper class), mencakup keluargakeluarga kaya lama, yang telah lama berpengaruh dimasyarakat dan
mempunyai kekayaan yang begitu lama, sehingga orang-orang tidak lagi
bisa mengingat kapan keluarga itu memperoleh kekayaan.
2) Kelas sosial atas-lapisan bawah (lower – upper class) mungkin saja
memiliki jumlah uang yang sama dengan kelas atas, tetapi mereka belum
terlalu lama memilikinya. Dan keluarga mereka berpengaruh dalam
masyarakat.
3) Kelas sosial menengah lapisan atas ( Upper – midle class) Mencakup para
pengusaha dan orang-orang profesional yang berhasil, yang umumnya
memiliki latar belakang keluarga ’baik’ dengan penghasilan yang
menyenangkan.
4) Kelas Sosial menengah - lapisan bawah (Lower – midle class) meliputi
para juru tulis, pegawai kantor, dan orang-orang semi profesional serta
mungkin pula termasuk beberapa penyelia (supervisor) dan pengrajin
terkemuka.
5) Kelas sosial rendah lapisan atas ( upper-midle class) Terdiri atas sebagian
besar pekerja tetap yang sering disebut sebagai golongan pekerja oleh
orang-orang yang kurang senang menggunakan istilah ”kelas sosial
rendah” bagi para pekerja yang bertanggung jawab.
6) Kelas sosial rendah-lapisan bawah (lower-lower class) meliputi para
pekerja tidak tetap, pengangguran, buruh musiman dan orang-orang yang
hampir terus menerus tergantung pada tunjangan pengangguran.
Dari uraian tentang klasifikasi status sosial di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa orang mendapatkan status sosial ada dua macam yaitu status
yang didapatkan seseorang secara otomatis sejak dia lahir karena dari
keturunannya tanpa dia harus mengusahakannya atau berkorban terlebih dahulu
misalnya keturunan darah biru, bangsawan, harta kekayaan. Dan status yang
kedua adalah status sosial yang didapatkan seseorang karena usaha atau
pengorbanannya untuk mendapatkan status tersebut misalnya gelar doktor,
sarjana.
Sedangkan Abu Ahmad (1985 : 80) mengemukakan bahwa status
seseorang mempunyai dua aspek yaitu ;
1) Aspek fungsional yang juga disebut social role atau peranan sosial yang
terdiri dari kewajiban – kewajiban dan keharusan – keharusan karena
kedudukannya dalam sistem tertentu.
2) Aspek yang struktural yaitu status yang ditujukan oleh adanya hierarki atau
susunan lapisan sosiologi dari atas ke bawah, aspek ini sifatnya lebih stabil
dibanding aspek fungsional.
c. Faktor penentu status sosial
Dalam masyarakat ditemui perbedaan-perbedaan status sosial setiap
orang.ada yang berkedudukan tinggi ada pula yang berkedukukan rendah. Hal ini
sangat dipengaruhi oleh:
1) Pangkat/jabatan
Pangkat atau jabatan merupakan gelar yang didapatkan seseorang sesuai
dengan usahanya berkaitan dengan pekerjaan. Seorang pemangku jabatan
akan memiliki peranan yang berbeda dibandingkan dengan orang yang
tidak mempunyai jabatan apapun dalam masyarakat.
2) Prestise pekerjaan
Pekerjaan merupakan suatu unit kegiatan yang dilakukan seseorang atau
kelompok orang disuatu tempat untuk menghasilkan barang atau jasa.
Pekerjaan merupakan determinasi kelas sosial setelah penghasilan . Seseorang
dalam memilih pekerjaan akan selalu memilih pekerjaan yang dianggapnya
bagus karena suatu pekerjaan akan memilki prestise yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pekerjaan yang lain.Menurut Donald. J. Treiman (1984 :
393 – 394) membagi prestise pekerjaan di Indonesia sebagai berikut:
Tabel 1. prestise pekerjaan di Indonesia
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
Status pekerjaan
Tenaga ahli
Dokter
Profesor
Insinyur
Pengacara
Dosen
Guru SMA
Guru SMP
Guru STANDAR
Pilot
Wartawan
Seniman, musisi, pengarang
Perawat
Pemain film/penyanyi
Administrasi/manajer
MPR
DPR
Pemimpin partai politik
Kepala kantor pemerintahan
Presiden
Gubernur
Bupati
Camat dan kepala desa
Direktur
PNS golongan IV
PNS golongan III
PNS golongan II
PNS golongan I
Pegawai administrasi perusahaan
Tukang kebun dan office boy
Militer
Perwira tinggi
Perwira menengah
Perwira tingkat rendah
Anggota militer
Bisnis dan jasa
Pengusaha besar
Pengusaha kecil
Pedagang
Bengkel/tukang listrik
Sopir
Buruh pabrik
Pertanian
Nilai
87
84
83
80
74
64
57
43
62
58
56
41
38
82
66
55
79
74
63
50
71
67
57
49
43
38
49
25
73
63
44
38
58
51
45
32
36
27
20
63
38
39
40
41
Petani kaya
Petani sedang
Petani miskin
Buruh tani
47
38
20
18
Tabel di atas menunjukkan bahwa pekerjaan merupakan aspek penentu kelas
sosial seseorang. Oleh karena itu kedudukan seseorang dapat diketahui dari jenis
pekerjaannya. Dengan melihat jenis pekerjaan seseorang kita bisa tahu apakah
orang tersebut berstatus sosial rendah atau tinggi.Sehingga orang akan berlombalomba untuk mencari pekerjaan yang memiliki nilai status tinggi.
3) Keturunan
Orang yang dilahirkan dalam keluarga bangsawan secara otomatis akan
mewarisi darah biru dari nenek moyangnya. Oleh karena itu anak seorang raja
yang baru lahir akan langsung mendapat gelar sebagai putri mahkota atau
putra mahkota atau pangeran.
4) Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan dihargai sebagi penentu status sosial
seseorang dalam masyarakat.
d.Hubungan status sosial dengan partisipasi.
Kedudukan seseorang dalam masyarakat akan mempengaruhi kegiatan
dalam memenuhi hidupnya dan kedudukan ini mempengaruhi seseorang untuk
menuntut ilmu. Adapun peranan status sosial dalam masyarakat menurut Suryani
(1990 : 34) adalah”Dengan adanya perbedaan status sosial dalam masyarakat
memberikan kesempatan atau fasilitas hidup yang berbeda bagi masyarakat
seperti: keselamatan hidup, harta benda, standar hidup, kebebasan dan tingkah
laku” Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa status seseorang akan
berpengaruh pada peranan mereka yang berbeda dalam masyarakat dibangdingkan
dengan masyarakat yang memiliki status yang berbeda pula.
e. Cara pengukuran Status sosial
Skala yang digunakan untuk mengukur variabel status sosial adalah skala
lima seperti skala likert yang dimodifikasi. Berdasarkan uraian tentang status
sosial secara keseluruhan dapat dibuat indikator-indikator dari status sosial kepala
keluarga. Indikator-indikator ini akan dijabarkan ke dalam item-item. Setiap item
diberi bobot yang sama. Dengan demikian indikator variabel status sosial kepala
keluarga akan diukur dengan:
1) Dikenal oleh masyarakat luas, yang meliputi:
a) Intensitas undangan untuk menghadiri keperluan pribadi
b) Banyaknya masyarakat yang mengenal
c) Diundang dalam kegiatan-kegiatan masyarakat
d) Jumlah kehadiran orang yang diundang dalam acara pribadinya
2) Dihormati oleh masyarakat, yang meliputi:
a) Suaranya diperhitungkan oleh masyarakat
b) Penerimaan masyarakat akan kehadirannya
c) Kehilangan masyarakat ketika dia tidak hadir dalam kegiatan-kegiatan
d) Intensitas permintaan masyarakat untuk memintanya berbicara didepan
umum
e) Kepercayaan masyarakat untuk menyelesaikan permasalanya pribadinya
Dalam penelitian ini yang dimaksud status sosial adalah Kedudukan
yang melekat dalam diri kepala keluarga sebagai anggota masyarakat dipandang
secara objektif dari masyarakat lain yang bersangkutan yang sebanding dengan
usaha untuk mencapainya.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevaan degan penelitian ini adalah:
1. Hasil penelitian Skripsi oleh Siti Asfiah, dengan judul “Hubungan antara
kepemimpinan kepala desa dan tingkat pendidikan masyarakat dengan
partisipasi masyarakat dalam pembangunan fisik di Rw 04, Desa Pendem,
Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen“ menyimpulkan bahwa ada
hubungan antara tingkat pendidikan
masyarakat dengan partisipasi
masyarakat dalam pembangunan fisik di RW 04, Desa Pendem, Kecamatan
Sumber lawang, Kabupaten Sragen.Hal ini terbukti dari hasil sumbangan
relatif antara variabel kepemimpinan kepala desa (X1) dan tingkat pendidikan
masyarakat (X2) dengan partisipasi masyarakat dalam pembangunan fisik (Y)
sebesar 100,000% . sedangkan tingkat sumbangan efektif variabel
kepemimpinan kepala desa (X1) dan tingkat pendidikan masyarakat (X2)
dengan partisipasi masyarakat dalam pembangunan fisik (Y) sebesar 90,23%.
2. Hasil penelitian Skripsi oleh Nur Sufiyanti, dengan judul “Hubungan
Karakteristik Sosiologis Individu Dan Motivasi Belajar Dengan Prestasi
Belajar sosiologi Siswa SMA Negeri 1 Mojolaban“ menyimpulkan bahwa ada
hubungan antara karakteristik sosiologis individu dengan prestasi belajar
sosiologi, ada hubungan motivasi belajar dengan prestasi belajar Sosiologi,
ada hubungan antara karakteristik sosiologis individu dan motivasi belajar
secara bersama dengan prestasi belajar Sosiologi siswa SMA 1 Mojolaban
C. Kerangka Berpikir
Pembangunan desa merupakan salah satu usaha pemerintah dalam
pemerataan pembangunan bagi seluruh masyarakat baik di desa maupun kota,
sehingga tidak ada lagi ketimpangan antara laju perkembangan desa dan kota
terutama pembangunan sarana dan prasarana fisik desa.Dimana pembangunan ini
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan desa bisa berjalan baik apabila didukung oleh partisipasi
masyarakat, karena masyarakat merupakan perencana, pelaksana, pemanfaat
sekaligus pemelihara pembangunan itu sendiri. Dalam pembangunan masyarakat
desa
seorang kepala keluarga merupakan kunci penggerak dari pelaksanaan
pembangunan, karena ia merupakan representasi dari keluarganya.
Kemampuan kepala keluarga dalm mengelola pembangunan sangat
berkaitan dengan sumber daya kepala keluarga tersebut.Sedangkan kualitas
sumberdaya kepala keluarga akan sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya
tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya.Oleh karena itu, pendidikan
merupakan modal dalam pelaksanaan pembangunan. Sebagai modal dalam
pelaksanaan pembangunan, pendidikan memberikan pengetahuan dan wawasan
sehingga dapat menentukan pola pikir dan perilaku kepala keluarga yang menjadi
pengelola pembangunan. Adanya bekal pengetahuan tersebut akan membantu
mempermudah pemerintah dalam pelaksanaan progam pembangunan.Kepala
keluarga yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah memerima
program pemerintah, dan sebaliknya kepala keluarga dengan tingkat pendidikan
rendah akan lebih sulit menerima progam pembangunan. Oleh karena itu
partisipasi kepala keluarga berhubungan dengan tingkat pendidikan.
Status merupakan kedudukan
yang melekat dalam diri seseorang
sebagai anggota masyarakat yang dipandang secara obyektif dari anggota
masyarakat lain yang bersangkutan yang sebanding dengan usaha untuk
mencapainya. Status sangat penting bagi seseorang dalam keberlangsungan
hidupnya dimasyarakat yang bersangkutan, semakin tinggi tingkat status
seseorang ia akan semakin dihargai oleh orang lain.
Kepala keluarga yang memiliki status sosial tinggi kemungkinan besar
akan lebih dihargai masyarakat dibandingkan dengan kepala keluarga yang
memiliki status sosial rendah. Dengan kedudukanya yang tinggi ini mereka akan
dipilih menjadi penggerak dari pelaksanaan pembangunan karena mereka
mendapat kepercayaan dari masyarakat. Mereka akan terlibat lebih dalam
pembangunan, misalnya panitia pembangunan. Karena posisinya ini secara
otomatis mereka akan terlibat mulai dari perencanaan, pelaksanaa, pemanfaatan,
dan pemeliharaan. Dari kekdudukannya ini akan menuntut mereka untuk terus
berpartisipasi dalam program pembangunan.Sehingga partisipasi kepala keluarga
berhubungan dengan status sosial.
Dari uraian di atas peneliti dapat menggambarkan kerangka pemikiran
sebagai berikut :
Tingkat Pendidikan
X1
Y
Partisipasi kepala keluarga dalam
pembangunan
X1,X2
Status Sosial
X2
Keterangan:
X1
Y
X2
Y
X1, X2
Y
Gambar1. Kerangka pemikiran
D. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir tentang Hubungan Antara Tingkat
Pendidikan dan Status Sosial dengan Partisipasi kepala keluarga dalam
pembangunan masyarakat di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.
Maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan partisipasi
kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari,
Boyolali.
2. Ada hubungan yang signifikan antara status sosial dengan partisipasi kepala
keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari,
Boyolali.
3. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan status sosial
secara bersama dengan partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan di
Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.
BAB III BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan deskripsi data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan
maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan partisipasi
kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari,
Boyolali. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis data yang telah
dilakukan, dapat diketahui
r xly = 0,604 dan p = 0,000, dimana p lebih
kurang dari 0,01 yaitu 0,000< 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa kepala
keluarga yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan semakin banyak
pengetahuan, pengalaman sehingga meningkatkan partisipasinya dalam
pembangunan.
2. Ada hubungan yang signifikan antara status sosial dengan partisipasi kepala
keluarga dalam pembangunan pada masyarakat Dusun Grogolan, Tegalgiri,
Nogosari, Boyolali. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis data yang
telah dilakukan, dapat diketahui
rx2y = 0,569 dan p = 0,001, dimana p lebih
kurang dari 0,01 yaitu 0,001 < 0,01.Hal ini menunjukkan bahwa kepala
keluarga yang memiliki status sosial tinggi akan meningkatkan partisipasinya
dalam pembangunan karena mereka dituntut untuk menjadi motor/penggerak
dalam pembangunan.
3. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan status sosial
dengan partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan,
Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis data
yang telah dilakukan, dapat diketahui rx12y = 0,714 dan p = 0,000, serta F =
15,078,. Dimana p lebih kurang dari 0,05 yaitu 0,000 < 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan status sosial
kepala keluarga akan semakin tinggi pula tingkat partisipasinya dalam
pembangunan.
B. Implikasi
Berdasarkan hasil penelitian yamg telah diuraikan diatas, maka dapat
dikemukakan beberapa implikasi sebagai berikut:
1. Secara empiris antara tingkat pendidikan dengan partisipasi kepala keluarga
dalam pembangunan memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini dapat
memberikan gambaran yang baik bagi masyarakat yang masih menempuh
jenjang pendidikan untuk terus meningkatkan prestasinya dan melanjutkan
jenjang pendidikan seoptimal mungkin. Begitu pula bagi yang belum sekolah
maupun yang sudah tamat sekolah untu meneruskan jenjang pendidikannya.
Karena semakin tinggi tinggkat pendidikan seseorang semakin besar pula
sumbangannya dalam pembangunan.
2.Secara empiris antara status sosial dengan partisipasi masyarakat dalam
pembangunan memiliki hubungan yang siggnifikan. Hal ini dapat menjadi
dorongan bagi masyarakat untuk
meningkatkan status sosial mereka baik
melalui pendidikan, kedudukan, jabatan, harta kekayaan, prestasi maupun yang
lainnya dengan usaha yang halal.dan mempertahankan status sosialnya tersebut
dengan selalu besikap dan berperilaku yang sopan, rendah hati dan baik pada
semua masyarakat.
3.Secara empiris partisipasi masyarakat dalam pembangunan dapat dipengaruhi
oleh tingkat pendidikan dan status sosial. Oleh karena itu untuk meningkatkan
partisipasi sosial dapat ditempuh dengan terus meningkatkan jenjang pendidikan
masyarakat dan status sosialnya..
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan dan implikasi diatas, maka ada beberapa saran
yang perlu disampaikan yaitu:
1. Bagi Pemerintah
a. Pemerintah pusat maupun desa sebaiknya dalam menentukan kebijakan
dalam pembangunan, disarankan agar melibatkan semua ,lapisan
masyarakat baik dari tingkat pedidikan rendah maupun tinggi, status sosial
rendah maupun tinggi secara proporsional dan merata sehingga terjadi
dinamisasi masyarakat dan semua kepentingan akan terwakili.
b. Dalam
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan
disarankan agar pemerintah memprioritaskan pembangunan berdasarkan
masukan dari semua warga masyarakat
c. Dalam
mengadakan
proyek
pembangunan
sebaiknya
pemerintah
menggunakan model pembangunan partisipatif yaitu pembangunan yang
melibatkan masyarakat mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan,
evaluasi, sampai pemanfaatan hasil
d. Sebaiknya pemerintah mendorong masyarakat untuk terus meningkatkan
pendidikan dan status sosial mereka.melalui kegiatan penyuluhan,
pelatihan, peningkatan sarana dan prasarana, dll.
2. Bagi Kepala keluarga
a. Semua kepala keluarga hendaknya terus berlomba – lomba untuk
meningkatkan tingkat pendidikan dan status sosial mereka dan anggota
keluarga.
b. Disarankan agar kepala keluarga mendukung kebijakan pembangunan
pemerintah, dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan.
c. Untuk
ikut
serta
memberikan
masukan
terhadap
pelaksanaan
pembangunan
3. Bagi peneliti
Penelitian perlu dilaksanakan pada anggota keluarga yang lain selain kepala
keluarga dan dengan memperluas faktor-faktor lain yang berhubungan dengan
partisipasi masyarakat dalam pembangunan
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Deskripsi Data Umum
a. Lokasi Penelitian
Dusun Grogolan sebagai lokasi penelitian terletak dalam wilayah Kantor
Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali. Wilayah Dusun
Grogolan terbagi dalam 3 Rt yaitu Rt 1, Rt 2, Rt 3. Adapun batas-batas Dusun
Grogolan adalah sebagai berikut:
1) Batas Utara
: Wilayah Dusun Delen, Desa Keyongan
2) Batas Selatan
: Lahan persawahan Desa Tegalgiri
3) Batas Barat
: Wilayah Dusun Badan
4) Batas Timur
: Wilayah Dusun Grinting
b. Kondisi Demografi Penelitian
1) Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin
Jumlah penduduk Dusun Grogolan berdasarkan data monografi tahun
2009 seluruhnya berjumlah
396 orang, yang terdiri dari 182 orang berjenis
kelamin laki- laki dan 214 berjenis kelamin perempuan. Jumlah kepala keluarga
105 KK yang tersebar diseluiruh wilayah Dusun Grogolan.
Adapun persebaran jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur adalah
sebagai berikut:
Tabel 4 Jumlah Persebaran Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Dusun
Grogolan, 2009
No
Kelompok Umur
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
0-4
15
11
26
2
5 -9
14
17
31
3
10 – 14
11
9
20
4
15 – 19
16
15
31
5
20 – 24
14
19
33
6
25 – 29
20
23
43
7
30 – 39
40
47
87
8
40 – 49
9
9
18
9
50 – 59
28
30
58
10
60 +
17
34
51
182
214
396
Jumlah
Sumber : Monografi Dusun Grogolan 2009
Dari data di atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang paling
banyak adalah yang berusia 30 – 39 tahun yaitu sebanyak 87 orang. Jumlah
penduduk perempuan lebih banyak dari pada jumlah laki laki.Jumlah penduduk
perempuan adalah 182 dan laki-laki-laki 214 orang dan jumlah keseluruhan
adalah 396 orang.
2) Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian
Mata
pencaharian merupakan sumber penghasilan bagi kehidupan
manusia untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya.Oleh karena itu, dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya manusia harus melakukan pekerjaan sesuai
dengan kemampuannya masing-masing. Dengan pekerjaan yang dilakukan
mereka akan memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
Mata pencaharian penduduk di Dusun Grogolan ada beberapa sektor, baik
di sektor pemerintahan maupun swasta. Untuk kebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Dusun Grogolan, 2009
No
Mata Pencaharian
Jumlah (orang)
1
Petani
132
2
PNS
19
3
Karyawan swasta
15
4
Pedagang
23
5
Wiraswasta
2
6
Buruh
33
7
Pensiunan
4
Jumlah
200
Sumber : Monografi Dusun Grogolan, 2009
Dari Tabel di atas, dapat diketahui bahwa proporsi pekerja terbesar
penduduk Dusun Grogolan adalah tani, yaitu sebanyak 132 orang dari seluruh
jumlah penduduk yang memiliki mata pencaharian. Mata pencaharian yang paling
sedikit dikerjakan penduduk Dusun Grogolan adalah Wiraswasta yaitu 2 orang.
3) Jumlah Kepala keluarga
Dalam sebuah keluarga seorang kepala keluarga memiliki peranan penting
untuk membawa kedudukan keluarganya ditengah masyarakat. Ia merupakan
wakil dari keluarganya.Adapun peresebaran kepala keluarga di Dusun Grogolan
sebagai berikut:
Tabel 6 Persebaran kepala keluarga Dusun Grogolan 2009
No
Pendidikan
Rt 1
Rt 2
Rt 3
Jumlah
1
Tamat SD/sederajat
15
22
25
62
2
Tamat SMP/sederajat
4
7
8
19
3
Tamat SMA/sederajat
4
4
1
9
4
Tamat D1/sederajat
0
0
0
0
5
Tamat D2/sederajat
1
0
1
2
6
Tamat D3/sederajat
1
0
0
1
7
Tamat S1/sederajat
5
2
5
12
Jumlah
30
35
40
105
Sumber : Monografi Dusun Grogolan, 2009
Berdasarkan tebel diatas dapat dilihat kepala keluarga paling banyak terdapat pada
tingkat pendidikan SD yaitu 62 orang dan jumlah ini paling banyak dari kepala
keluarga di Rt 3 yaitu 25. dan yang paling sedikit jumlahnya adalah D3 yaitu 1.
Sedangkan yang tingkat pendidikan tertinggi yaitu S1 dengan jumlah 12 orang.
Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan kepala keluarga di Dusun
Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali masih rendah dan perlu ditingkatkan.
4) Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan
Pendidikan
merupakan
salah
satu
sarana
yang
penting
untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa Tingkat pendidikan mencerminkan status
penduduk karena tingkat pendidikan yang ada dalam mesyarakat merupakan
tolak ukur kualitas hidup dari masyarakat itu sendiri. Semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang, kualitas sumber daya manusianya akan semakin tinggi
pula.
Tabel 7 berikut menunjukkan jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan
masyarakat di Dusun Grogolan, 2009.
No
Pendidikan
Jumlah
1
Tamat SD/sederajat
99
2
Tamat SMP/sederajat
47
3
Tamat SMA/sederajat
55
4
Tamat D1/sederajat
4
5
Tamat D2/sederajat
1
6
Tamat D3/sederajat
6
7
Tamat S1/sederajat
26
Jumlah
238
Sumber: Data monografi Dusun Grogolan, 2009
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan warga di
Dusun Grogolan cukup bervariasi. Mayoritas penduduk tingkat pendidikannya
lulus SD/sederajat yaitu sebanyak 99 orang.
c. Potensi Dukuh Grogolan
Potensi merupakan kemampuan yang diaktifkan dalam pembangunan baik
itu potensi alam, manusia, maupun hasil karya manusia itu sendiri. Potensi desa
berkaitan dengan sumber daya manusia yang diperlukan
untuk keperluan
pembangunan guna mencapai kesejahteraan masyarakat dan Negara. Adapun
potensi yang ada di Dusun Grogolan antara lain:
1) Sarana dan prasarana
Sarana
dan prasana fisik merupakan salah satu faktor pendukung
pembangunan. Keberadaan sarana dan prasarana ini sangat dibutuhkan untuk
memperlancar proses pembangunan. Sarara dan prasarana yang ada di Dusun
Grogolan adalah sebagai berikut:
Tabel 8 Sarana dan Prasarana Dusun Grogolan, 2009
No
Jenis Sarana dan Prasarana
Jumlah (Unit)
1
Masjid
1
2
Mushola
2
3
Gedung TPA
1
4
Lumbung Desa
3
Jumlah
7
Sumber: Monografi Dusun Grogolan, 2009
Jumlah sarana prasarana Dusun Grogolan sarana paling banyak adalan
Lumbung Desa yaitu 3 buah.Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa Sarana dan
prasarana yang dimiliki Dusun grogolan masih sangat sedikit bila dibandingkan
dengan kebutuhan masyarakat. Selama ini kegiatan masih berpusat di Masjid atau
rumah penduduk.
2) Organisasi (Pekumpulan)
Organisasi atau perkumpulan keberadaannya sangat penting bagi
kemajuan pembangunan. Disini warga masyarakat dapat memunculkan atau
menggali dan melejitkan potensinya masing-masing. Hal ini akan meningkatkan
kualitas Sumber daya masyarakat.Organisasi yang dimiliki Dusun Grogolan
adalah sebagai berikut:
Tabel 9 Organisasi Dusun Grogolan, 2009
No
Jenis Organisasi
Jumlah (Unit)
1
Perkumpulan RT Bapak-bapak
3
2
Perkumpulan RT Ibu-ibu
3
3
Perkumpulan Tani ‘Subur’
1
4
Perkumpulan Ternak ‘Rojo koyo’
1
5
Perkumpulan Donatur TPA
1
6
Takmir Masjid
1
7
Karang taruna ‘Merpati Putih’
1
Jumlah
11
Sumber: Monografi Dusun Grogolan, 2009
2. Data Penelitian Khusus
Setelah melakukan uji coba dan telah diketahui validitas dan reliabilitas
angket selanjutnya dilakukan penelitian sesungguhnya. Jumlah sampel yang
digunakan adalah 32 orang di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.
Penelitian ini menyajikan data dari 3 variabel, yaitu: (1) tingkat pendidikan, (2)
status sosial, dan (3) partisipasi. Penyajian frekuensi data sebagai berikut:
a. Tingkat Pendidikan
Berdasarkan hasil perhitungan angket tentang tingkat pendidikan kepala
keluarga di Dusun Grogolan diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 10 Sebaran Frekuensi Tingkat Pendidikan
Interval
7,5 – 8,5
6,5 – 7,5
5,5 – 6,5
4,5 – 5,5
3,5 – 4,5
2,5 – 3,5
1,5 – 2,5
0,5 – 1,5
Total
Frekuensi
5
2
2
2
7
7
4
3
32
Frekuensi relatif (%)
15,63
6,25
6,25
6,25
21,88
21,88
12,50
9,38
100
Berdasarkan tabel sebaran frekuensi tingkat pendidikan dapat diketahui
bahwa data
tingkat pendidikan
yang tertinggi
frekuensinya
terletak pada
interval 3,5 – 4,5 dan 2,5 - 3,5 yaitu sebanyak 7 orang. Sedangkan frekuensi
terendah terletak pada interval 6,5 – 7,5, 5,5 – 6,5, dan 4,5 – 5,5 yaitu sebanyak 2
orang. Agar lebih jelas data tersebut akan digambarkan dalam bentuk histogram
sebagai berikut:
Distribusi Frekuensi Variabel Tingkat Pendidikan kepala
keluarga (X1)
8
7
7
7
Frekuensi
6
5
5
4
4
3
3
2
2
2
2
1
0
0,5 -1,5 1,5-2,5 2,5-3,5 3,5-4,5 4,5-5,5 5,5-6,5 6,5-7,5 7,5-8,5
Interval
Gambar.2 Histogram Frekuensi Variabel Tingkat Pendidikan kepala keluarga (X1)
Berdasarkan hasil distribusi frekuensi skor tingkat pendidikan diperoleh
hasil sebagai berikut (lihat lampiran 7 halaman 2) :
Mean
: 4,25
Median
: 3,79
Modus
: 2,00
Simpangan Baku
: 2,24
Simpangan rerata
: 1,83
Skor tertinggi
: 8,00
Skor terendah
: 1,00
Dari uraian
di atas menyatakan bahwa
tingkat pendidikan kepala
keluarga di Dusun Grogolan memiliki sifat yang heterogen hal ini dapat dilihat
dari rentangan nilai yang diperoleh yakni 8,00 – 1,00 dari uraian tersebut juga
menunjukkan bahwa tingkat pendidikan rendah, hal ini dapat dilihat dari data
yang diperoleh sebesar 7 responden berada pada interval 3,5 – 4,5 dan 2,5 - 3,5.
b. Status Sosial
Berdasarkan hasil perhitungan angket tentang status sosial
kepala
keluarga di Dusun Grogolan diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 11 Sebaran Frekuensi Status sosial
Interval
39,5 – 44,5
34,5 – 39,5
29,5 – 34,5
24,5 – 29,5
19,5 – 24,5
Total
Frekuensi
2
9
8
8
5
32
Frekuensi relatif (%)
6,25
28,13
25
25
15,63
100
Berdasarkan tabel sebaran frekuensi status sosial dapat diketahui bahwa
data status sosial yang tertinggi frekuensinya terletak pada interval 34,5 – 39,5
yaitu sebanyak 9 orang. Sedangkan frekuensi terendah terletak pada interval
39,5 – 44,5 yaitu sebanyak 2 orang.untuk lebih jelasnya bias dilihat dalam
histogram sebagai berikut:
Frekuensi
Distribusi Frekuensi Variabel Status Sosial kepala keluarga
(X2)
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
9
8
8
5
2
19,5-24,5
24,5-29,5
29,5-34,5
34,5-39,5
39,5-44,5
Interval
Gambar.3 Histogram Frekuensi Variabel Staus Sosial (X2)
Berdasarkan hasil distribusi frekuensi skor status sosial diperoleh hasil
sebagai berikut (lihat lampiran 7 halaman 3):
Mean
: 30,84
Median
: 31,38
Modus
: 37,00
Simpangan Baku
: 5,60
Simpangan rerata
: 4,62
Skor tertinggi
: 41
Skor terendah
: 20
Dari uraian di atas menyatakan bahwa status sosial kepala keluarga di
Dusun Grogolan
rentangan
memiliki sifat yang heterogen. Hal ini dapat dilihat dari
nilai yang diperoleh yakni 41 – 20, dari uraian
tersebut juga
menunjukkan bahwa status sosial rendah, hal ini dapat dilihat dari data yang
diperoleh sebesar 9 responden berada pada interval 33,5 – 44,5.
c. Partisipasi
Berdasarkan hasil perhitungan angket tentang partisipasi
kepala
keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 12 Sebaran Frekuensi Partisipasi
Interval
39,5 – 65,5
53,5 – 59,5
47,5 – 53,5
41,5 – 47,5
35,5 – 41,5
Total
Frekuensi
4
10
10
6
2
32
Frekuensi relatif (%)
12,50
31,25
31,25
18,75
6,25
100
Berdasarkan tabel sebaran frekuensi partisipasi dapat diketahui bahwa
data partisipasi yang tertinggi frekuensinya terletak pada interval 53,5 – 59,5
dan 47,5 – 53,5 yaitu sebanyak 10 orang. Sedangkan frekuensi terendah terletak
pada interval 35,5 – 41,5 yaitu sebanyak 2 orang. Untuk lebih jelasnya bisa
dilihat dalam histogram sebagai berikut:
Distribusi Frekuensi Variabel Partisipasi kepala keluarga
dalam pembangunan (Y)
12
10
10
10
Frekuensi
8
6
6
4
4
2
2
0
35,5-41,5
41,5-47,5
47,5-53,5
53,5-59,5
59,5-41,5
Interval
Gambar.3 Histogram Frekuensi Variabel Partisipasi Kepala Keluarga dalam
Pembangunan (Y)
Berdasarkan hasil distribusi frekuensi skor partisipasi kepala keluarga
dalam pembangunan di Dusun Grogolan diperoleh hasil sebagai berikut (lihat
lampiran 7 halaman 4):
Mean
: 51,41
Median
: 52,30
Modus
: 2,00
Simpangan Baku
: 6,7
Simpangan rerata
: 5,33
Skor tertinggi
: 36,00
Skor terendah
: 62,00
Dari uraian di atas menyatakan bahwa partisipasi kepala keluarga dalam
pembangunan di Dusun Grogolan memiliki sifat yang heterogen hal ini dapat
dilihat dari rentangan nilai yang diperoleh yakni 62 - 36 dari uraian tersebut juga
menunjukkan bahwa partisipasi rendah, hal ini dapat dilihat dari data yang
diperoleh sebesar 10 responden berada pada interval 53,5 – 59,5 dan 47,5 –
53,5.
B. Pengujian Persyaratan Analisa
1. Uji Normalitas Data
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan bantuan komputer Seri
Program Statistik (SPS-2000) edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih data
– data penting tingkat pendidikan, status sosial, dan partisipasi yang diperoleh
dari hasil penelitian kemudian diuji Normalitas dengan menggunakan rumus Chi
Kuadrat (X2). Adapun rangkuman uji normalitas data pada masing-masing
variabel disajikan pada tabel dibawah ini.
Tabel 13: Rangkuman uji normalitas data
No
Frekuensi
X2
p
Status
1
Tingkat pendidikan
6,726
0,347
Normal
2
Status sosial
4,064
0,907
Normal
3
Partisipasi
4,697
0,860
Normal
Berdasarkan tabel diatas maka normalitas distribusi data pada masingmasing variabel dapat djabarkan sebagai berikut:
a. Uji Normalitas variabel Tingkat Pendidikan (X1)
Berdasarkan tabel uji normalitas (Lihat lampiran 8 halaman 2) diperoleh
data sebagai berikut:
X2 = 6,726
p = 0,347
Menurut kaidah uji normalitas Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih Versi
IBM/IN adalah jika p>0,050 maka sebaran normal dan jika p < 0,050 maka
sebarannya tidak normal. Dalam penelitian ini p>0.050 yakni p = 0,347> 0,050
sehingga dapat diartikan bahwa sebaran data pada variabel tingkat pendidikan
memiliki status normal.
b. Uji normalitas variabel Status Sosial ( X2)
Berdasarkan tabel uji normalitas (Lihat lampiran 8 halaman 3) diperoleh
data sebagai berikut:
X2
= 4,064
P
= 0,907
Menurut kaidah uji normalitas Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardmingsih Versi
IBM/IN adalah jika p>0,050 maka sebaran normal dan jika p < 0,050 maka
sebarannya tidak normal. Dalam penelitian ini p>0.050 yakni p = 0,907> 0,050
sehingga dapat diartikan bahwa sebaran data pada variabel status sosial memiliki
status normal.
c. Uji normalitas variabel Partisipasi ( Y )
Berdasarkan tabel uji normalitas (Lihat lampiran 8 halaman 4) diperoleh
data sebagai berikut:
X2
= 4,697
P
= 0,860
Menurut kaidah uji normalitas Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardmingsih Versi
IBM/IN adalah jika p>0,050 maka sebaran normal dan jika p < 0,050 maka
sebarannya tidak normal. Dalam penelitian ini p>0.050 yakni p = 0,860> 0,050
sehingga dapat diartikan bahwa sebaran data pada variabel partisipasi memiliki
status normal.
2. Uji Linearitas
a. Uji Linearitas Variabel Tingkat Pendidikan (X1) Dengan Partisipasi (Y)
Berdasarkan hasil uji linearitas variabel tingkat pendidikan dan Partisipasi
(Lihat lampiran 9 halaman 2) dapat diperoleh hasil sebagai berikut:
F
= 0,003
P
= 0,954
Menurut kaidah uji linearitas Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardmingsih Versi
IBM/IN adalah apabila) p>0,050 maka korelasinya linear dan jika p < 0,050 maka
korelasinya tidak linear. Dalam penelitian ini p>0.050 yakni p = 0,954> 0,050
sehingga dapat diartikan bahwa variabel tingkat pendidikan dengan partisipasi
korelasinya linear, yang artinya apabila variabel tingkat pendidikan (X1) naik satu
peringkat, maka variabel Partisipasi (Y) juga akan naik satu peringkat.
b. Uji Linearitas Variabel Status Sosial (X2) Dengan Partisipasi (Y)
Berdasarkan hasil uji linearitas variabel tingkat pendidikan dan Partisipasi
(Lihat lampiran 9 halaman 2) dapat diperoleh hasil sebagai berikut:
F
= 3,322
P
= 0,075
Menurut kaidah uji linearitas Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardmingsih Versi
IBM/IN adalah jika p>0,050 maka korelasinya linear dan jika p < 0,050 maka
korelasinya tidak linear. Dalam penelitian ini p>0.050 yakni p = 0,075> 0,050
sehingga dapat diartikan bahwa variabel status sosial dengan partisipasi
korelasinya linear, yang artinya apabila variabel staus soaial (X2) naik satu
peringkat, maka variabel Partisipasi (Y) juga akan naik satu peringkat.
.
3. Hasil Uji Hipotesis
Dalam penelitaian ini ada dua jawaban sementara yaitu hipotesis nihil
(Ho) dan hipotesisi kerja (Ha). Ho adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada
hubungan antar variabel. Sedangkan Ha adalah hipotesis yang mcnyatakan ada
hubungan antar variabel. Setelah analisis data dilakukan, diperoleh hasil hipotesis
sebagai berikut:
1. Hipotesis pertama
Ho
: Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan (X1) dengan partisipasi (Y)
kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri,
Nogosari, Boyolali.
Ha : Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan (X1) dengan
partisipasi (Y) kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan,
Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.
Berdasarkan perhitungan koefisien korelasi sederhana tingkat pendidikan (X1)
dengan partisipasi (Y) diperoleh hasil sebagai berikut (Lihat lampiran 10):
r x ly
= 0,604
p
= 0,000
Dari perhitungan hasil analisis nilai probilitas antara pendidikan (X1)
dengan partisipasi (Y) adalah 0,000. Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan
SPS-2000 edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih apabila p< 0,05 maka
Hoditolak dan Ha diterima. Dalam penelitian ini p = 0,000 dimana 0,000<0,05.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Ho yang berbunyi tidak ada hubungan antara
tingkat pendidikan dan status sosial dengan partisipasi kepala keluarga dalam
pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.ditolak dan Ha
yang berbunyi ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan
status sosial dengan partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan di Dukuh
Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali diterima.
Hubungan antar variabel yang diuji signifikan. Antara tingkat pendidikan
(X1) dengan partisipasi (Y) terdapat hubungan positif (tidak ada tanda negatif
pada angka 0,604 dapat ditafsirkan semakin tinggi tingkat pendidikan akan
mempengaruhi partisipasi yang meningkat, demikian pula sebaliknya. Tanda
positif atau tanda negatif pada nilai rxly semata-mata menunjukkan arah
hubungan. Misal, jika rx1y hitung diperoleh negatif, bukan berarti lebih kecil dari
rxly tabel karena tidak ada rxlay tabel yang negatif. Angka r xly hitung negatif ditafsirkan
terjadi hubungan negatif kedua variabel yang diuji sepanjang angkanya lebih
besar dari rx1y tabel. Sedangkan besar rx1y menunjukkan kuatnya hubungan
antara variabel, secara statistik dimaksudkan bahwa perubahan variabel tingkat
pendidikan (X1) sebesar 1 SD (sandart deviasi) diikuti kenaikan variabel
partisipasi (Y) sebesar 0,604. angka r juga bisa digunakan untuk; menentukan
deteminasi (Prosentase yang menyumbangkan pengaruh X1 terhadap Y), artinya
seberapa besar determinasi variabel tingkat pendidikan (X1) terhadap partisipasi
(Y), yaitu dengan mengkuadratkan rxly.
2. hipotesis kedua
Ho
: Tidak ada hubungan antara status sosial (X2) dengan partisipasi (Y) kepala
keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari,
Boyolali.
Ha : Ada hubungan yang signifikan antara tingkat status sosial (X2) dengan
partisipasi (Y) kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan,
Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.
Berdasarkan perhitungan koefisien korelasi sederhana antara status sosial (X2)
dengan partisipasi (Y) diperoleh hasil sebagai berikut
rx2y =0,569
p
= 0,001
Dari perhitungan hasil analisis nilai probilitas antara pendidikan (X1)
dengan partisipasi (Y) adalah 0,000. Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan
SPS-2000 edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih apabila p< 0,05 maka Ho
ditolak dan Ha diterima. Dalam penelitian ini p = 0,000 dimana 0,000<0,05. Jadi
dapat disimpulkan bahwa Ho yang berbunyi tidak ada hubungan antara tingkat
pendidikan
dan status sosial dengan partisipasi kepala keluarga dalam
pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.ditolak dan Ha
yang berbunyi ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan
status sosial dengan partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun
Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali diterima.
Berdasarkan kepercayaan hubungan antara variabel yang diuji dapat
ditunjukkan dengan nlai p, namun perlu diperhatikan bahwa semakin besar angka
desimal p ditafsirkan semakin kecil keyakinan kebenaran hubungan dan
sebaliknya. Berdasarkan kaidah uji hipotesis menurut SPS edisi Sutrisno Hadi dan
Yuni Pamardiningsih versi IBM/IN yaitu bila p< 0,050 maka hasilnya sangat
signifikan. Hasil perhitungan dengan bantuan komputer menunjukkan p =0,001
yaitu 0,001 < 0,05 sehingga antar variabel yang diuji signifikan. Antara status
sosial (X2) dengan partisipasi (Y) terdapat hubungan positif ( tidak ada tanda
negatif pada angka 0,569 dapat ditafsirkan semakin tinggi status sosial akan
membuat partisipasi cenderung meningkat, demikian pula sebaliknya. Tanda
positif atau tanda negatif pada nilai rx2y semata-mata menunjukkan arah hubungan.
Misal, jika rx2y hitung diperoleh negatif, bukan berarti lebih kecil dari rx2y tabel
karena tidak ada rx2y tabel yang negatif. Angka rx2y hitung negatif ditafsirkan
terjadi hubungan negatif kedua variabel yang di uji sepanjang angkanya lebih
besar dari rx2y tabel. Sedangkan besar rx2y menunjukkan kuatnya hubungan antara
variabel, secara statistik aimaksudkan bahwa perubahan variabel status sosial (X2)
sebesar 1 SD (sandart deviasi) diikuti kenaikan variabel partisipasi (Y) sebesar
0,569. angka juga bisa digunakan untuk menentukan deteminasi (Prosentase yang
menyumbangkan pengaruh X2 terhadap Y), artinya seberapa besar determinasi
variabel status sosial (X2) terhadap partisipasi (Y), yaitu dengan mengkuadratkan
rx2y.
3. Hipotesis ketiga
Ho : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan (X1) dan status sosial dengan
partisipasi (Y) kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan,
Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.
Ha : Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan (X1) dan status
sosial secara bersama dengan partisipasi (Y) kepala keluarga dalam
pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.
Dari uji hipotesis (lihat lampiran 10)
rx12y
= 0,714
r x12 sesuaian
= 0,714
p
= 0,000
F
= 15,078
'
Berdasarkan kaidah uji hipotesis menurut SPS edisi Sutrisno Hadi dan
Yuni Pamardiningsih versi IBM/IN yaitu bila p < 0,05 maka hasilnya signifikan.
Hasil perhitungan dengan bantuan komputer menunjukkan p = 0,000 yaitu 0,000
< 0,05 sehingga antar variabel yang diuji memiliki hubungan yang signifikan
Hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa Ha yang berbunyi ada hubungan
yang signifikan antara tingkat pendidikan dan status sosial secara bersama dengan
partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri,
Nogosari, Boyolali.diterima dan Ho Yang berbunyi tidak ada hubungan antara
tingkat pendidikan dan status sosial dengan partisipasi kepala keluarga dalam
pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali ditolak,
maksudnya terdapat hubungan yang signifikan secara bersama-sama antara
tingkat pendidikan (X1) dan status sosial (X2) dengan patisipasi (Y). Determinasi
variabel tingkat pendidikan dan status sosial terhadap partisipasi sebesar 71,4%
sedangkan 28,6% merupakan faktor unik yang tidak bisa dijelaskan dalam
penelitian ini.Untuk menguji ada tidaknya pengaruh kedua variabel independen
terhadap variabel dependen dapat dilihat dari besarnya nilai F. dari uji korelasi
ganda diperoleh nilai F hitung = 15,078 dengan db pembilang =2 dan db penyebut
= 31 pada a =5% sehingga diperoleh F tabel sebesar 2,40 karena F hitung< tabel
yaitu (15,078 < 2,40). Maka Ha diterima dan Ho ditolak. Dapat disimpulkan
bahwa kedua variabel (X1 dan X2) secara bersama-sama saling berpengaruh
terhadap Y. Besarnya kepercayaan hubungan antara variabel yang diuji dapat
ditunjukkan dengan nilai p, namun perlu diperhatikan bahwa semakin kecil angka
desimal p ditafsirkan semakin besar keyakinan kebenaran hubungan dan
sebaliknya.
Antara tingkat pendidikan (X1) dan status sosial (X2) dengan partisipasi
(Y) terdapat hubungan positif (tidak ada tanda negatif pada angka 0,714 dapat
ditafsirkan
semakin
tinggi
tingkat
pendidikan
dan
status
sosial
akan
mempengaruhi peningkatan partisipasi. Tanda positif atau tanda negatif pada nilai
rx12y semata-mata menunjukkan arah hubungan. Misal, jika rx12y hitung diperoleh
negatif, bukan berarti lebih kecil dari rx12y tabe' karena tidak ada rx12y tabel yang
negatif, Angka rx12y hitung negatif ditafsirkan terjadi hubungan negatif kedua
variabel yang di uji sepanjang angkanya lebih besar dari rx12y tabel. Sedangkan
besar rx12y menunjukkan kuatnya hubungan antara variabel, secara statistik
dimaksudkan bahwa perubahan variabel tingkst pendidikan (Xi) dan status sosial
(X2) sebesar 1 SD (sandart deviasi ) diikuti kenaikan variabel partisipasi (Y)
sebesar 0,714. angka r juga bisa digunakan untuk menentukan deterninasi
(Prosentase yang menyumbangkan pengaruh X1 dan X2 terhadap Y), artinya
seberapa besar determinasi variabel pendidikan (X1) dan status sosial (X2)
terhadap partisipasi (Y), yaitu dengan mengkuadratkan r1x2y.
D. Sumbangan Masing - Masing variabel
Perhitungan
sumbangan
masing-masing
variabel
dengan
bantuan
komputer paket SPSS edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih versi IBM/IN
program analisis regresi model penuh. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui
sumbangan relatif (SR) dan sumbangan Efektif (SE) dari masing-masing prediktor
scbagai berikut (lihat lampiran 10):
a. Sumbangan Relatif (SR.)
1) Sumbangan relatif variabel tingkat pendidikan ( X1) terhadap partisipasi (Y)
sebesar 71,514%, artinya secara relatif variabel tingkat pendidikan (X1)
memberikan sumbangan sebesar 71,514 % bagi naik turunnya partisipasi
2) Sumbangan relatif variabel status sosial (X2) terhadap partisipasi (Y) sebesar
28,486 % artinya secara relatif variabel status sosial (X2) memberikan
sumbangan sebesar 28,486 % bagi naik turunnya partisipasi.
3) Sumbangan relatif total (SR) antara variabel tingkat pendidikan ( X1) dan
status sosial (X2) secara bersama-sama terhadap partisipasi (Y) atau SR
(X1+X2) adalah sebesar 100%
b. Sumbangan Efektif (SE)
1) Sumbangan efektif variabel tingkat pendidikan (Xl) terhadap partisipasi
(Y) seberasar 36,456%, artinya sumbangan efektif variabel pendidikan
(Xl) terhadap variasi naik turunnya partisipasi (Y) sebesar 36,456% sedang
sioianya (100%- 36,456%) adalah 63,544% disebabkan faktor lain di luar
faktor tingkat pendidikan. Dengan kata lain, perubahan partisipasi (Y)
ditentukan oleh tingkat pendidikan sebesar 36,456 % dan perubahan
partisipasi ( Y) yang sebesar 63,544% ditentukan variabel lain di luar
variabel tingkat pendidikan.
2) Sumbangan efektif variabel status sosial (X2) terhadap partisipasi (Y)
seberasar 14,521%, artinya sumbangan efektif variabel status sosial (X2)
terhadap variasi naik turunnya partisipasi (Y), sebesar 14,521% sedang
sisanya (100%- 14,521%) adalah 85,749% disebabkan faktor lain di luar
faklor status sosial. Dengan kata lain, perubahan partisipasi (Y) ditentukan
oleh status sosial 14,521% dan perubahan partisipasi (Y) yang sebesar
85,749% ditentukan variabel lain di luar variabel status sosial.
3) Sumbangan efektif (SB) variabel tingkat pendidikan (X1) dan status sosial
(X2) terhadap partisipasi (Y) sebesar 50,978% (SE total). Dari hasil
perhitungan total tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa tingkat
pendidikan (X1) dan status sosial (X2) secara bcrsama-sama memiliki
pengaruh yang nyata terhadap variasi naik turunnya partisipasi (Y) yaitu
sebesar 50,978%. Dengan kata lain, perubahan partisipasi ditentukan oleh
pendidikan (X1) dan status sosial (X2) secara bersama-sama sebesar
50,798%, sisanya (100%-50,798%) adalah 49,022% dijelaskan oleh
variabel unik lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
E. Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan dari tiaptiap variabel. Adapun variabel yang diteliti ada tiga yang terdiri dari dua variabel
independent yaitu:
X1 = Tingkat pendidikan kepala keluarga
X2 = Status sosial kepala keluarga
Dan satu variabel dependent, yaitu
Y = Partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan
Setelah dilakukan analisis data untuk pengujian hipotesis kemudian
dilakukan pembahasan hasil analisi data. Pembahasan hasil analisis data sebagai
berikut:
1. Hipotesis Minor
a.
Hubungan antara tingkat pendidikan (X1) dan partisipasi (Y)
Pada pengujian hipotesis telah dipaparkan bahwa koefisien korelasi
antar X1 dengan Y sebesar 0,604 dan p 0,000, sehingga hipotesis yang
berbunyi “Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan partisipasi
kepala keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri,
Nogosari, Boyolali” diterima.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa kepala
keluarga dalam pembangunan, semakin tinggi tingkat pendidikan kepala
keluarga, maka semakin tinggi partisipasinya dalam pembangunan,
sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan kepala keluarga, maka
semakin rendah tingkat partisipasinya. Hal ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Khoirudin H (1992: 104) menyatakan bahwa
“Pendidikan merupakan usaha mengembangkan individu”. Yang dimaksud
usaha mengembangkan diri yaitu pendidikan merupakan suatu cara
pembentukan dan cara membantu individu baik dari segi biologis maupun
kerohanian.
Hal
ini
berarti
pendidikan
adalah
upaya
untuk
mengembangkan kepribadian individu agar individu menjadi dewasa dan
mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu
melalui pendidikan masyarakat dapat berpikir sistematis, memiliki
wawasan yang luas, dan lebih kritis dalam menghadapi segala persoalan.
Dalam penelitian ini rata-rata tingkat pendidikan kepala keluarga tergolong
sedang serta mempunyai sumbangan relatif sebesar 71,514%
dan
sumbangan efektif sebesar 36,456%.
b.
Hubungan antara variabel status sosial (X2) dengan partisipasi(Y)
Pada pergujian hipotesis telah dipaparkan bahwa koefisien korelasi
antara X2 dengan Y sebesar 0,569 dan p 0,001 sehingga hipotesis yang
berbunyi “Ada hubungan antara status sosial dengan partisipasi kepala
keluarga dalam pembangunan di Dusun Grogolan, Tegalgiri, Nogosari,
Boyolali” dapat diterima.
Berdasarkan penelitian ini dapat dikatakan bahwa status sosial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap partispasi kepala keluarga , hal
ini mempunyai makna bahwa semakin tinggi status sosial kepala keluarga,
maka semakin
tinggi
tingkat
partisipasi
kepala keluarga
dalam
pembangunan, tetapi sebaliknya semakin rendah tingkat sosial kepala
keluarga, maka semakin rendah partisipasi kepala keluarga dalam
pembangunan. Status sosial membedakan lingkungan pergaulan, dan hakhak serta kewajiban dengan individu lainnya, semakin tinggi tingkat sosial
individu, maka kewajiban individu terhadap pembangunan semakin tinggi
pula, hal ini sesuai dengan pendapat M. Rusli Karin (1990 : 97) yang
mengartikan status sebagai kedudukan sosial adalah “Tempat seseorang
secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang – orang lain,
dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak – hak serta
kewajibannya.”.
Dalam penelitian ini rata-rata status sosial
kepala
keluarga tergolong sedang serta mempunyai sumbangan relatif sebesar
28,486% dan sumbangan efektif sebesar 14,521%.
2.
Hipotesis Mayor
Hubungan antara variabel Tingkat pendidikan (X1 ) dan Status Sosial
(X2 ) Secara bersama dengan Partisipasi (Y)
Pada pengujian hipotesis telah dipaparkan bahwa koeflsien korelasi
antar X1 dan X2 dengan Y sebesar 0,714, F= 15,078 dan p = 0,000
sehingga hipotesis yang berbunyi “Ada hubungan antara tingkat
pendidikan dan status sosial dengan partisipasi kepala keluarga” diterima.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan, bahwa
tingkat pendidikan dan status sosial sama-sama memberikan pengaruh
terhadap partisipasi pembangunan. “Karena semakin tinggi tingkat
pendidikan kepala keluarga maka semakin tinggi pula tingkat kesadaran
kepala keluarga dalam pembangunan. Kepala keluarga yang mempunyai
tingkat pendidikan tinggi mempunyai harapan dan keinginan hidup lebih
baik,
karena mereka tidak puas dengan kondisi lingkungannya. Oleh
karena itu kepala keluarga yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi akan
memiliki kemampuan yang tinggi sehingga partisipasi mereka dalam
pembagunan juga akan lebih optimal. Hal ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Sondang P.Siagian menyatakan bahwa pendidikan
paling tidak memberikan pengaruh pada beberapa hal, sebagai berikut:
”Semakin timbulnya kesadaran bernegara dan bermasyarakat pada
gilirannya memungkinkan mereka turut berperan secara aktif dalam
memikirkan dan memperbaiki nasib bangsanya”.
Demikian halnya dengan semakin tinggi status sosial kepala
keluarga, maka semakin tinggi kesadaran kepala keluarga untuk
berpartisipasi dalam pembangunan, lingkungan pergaulan, prestasi dan hak
kewajiban seseorang semakin tinggi mempunyai kewajiban moral untuk
sebagai panutan dalam masyarakat, sehingga seseorang yang mempunyai
status sosial yang lebih tinggi tentunya mempunyai peran yang lebih tinggi
dibanding dengan seseorang yang mempunyai status sosial yang rendah
dalam berpartisipasi pada pembangunan.
Peran yang lebih besar dalam pembangunan tersebut merupakan
konsekuensi logis dalam masyarakat, dimana seseorang yang mempunyai
status sosial lebih tinggi mempunyai keharusan untuk lebih berpartisipasi
dalam pembangunan, hal tersebut merupakan aspek fungsional.
Seperti
yang dikemukakan oleh Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi (2002 : 80)
yang menyatakan bahwa status seseorang mempunyai dua aspek yaitu: (1)
Aspek fungsional yang juga disebut social role atau peranan sosial yang
terdiri dari kewajiban – kewajiban dan keharusan – keharusan karena
kedudukannya dalam sistem tertentu, (2) Aspek yang struktural yaitu status
yang ditujukan oleh adanya hierarki atau susunan lapisan sosiologi dari
atas ke bawah, aspek ini sifatnya lebih stabil dibanding aspek fungsional.
Besarnya sumbangan efektif antara tingkat pendidikan dan status
sosial secara bersama-sama berperan penting dalam pembangunan.
Menunjukkan bahwa kepala keluarga yang mempunyai tingkat pendidikan
tinggi, dan status sosial tinggi secara langsung dijadikan oleh masyarakat
sebagai panutan dalam pembangunan, sehingga sudah seharusnya lapisan
masyarakat yang mempunyai pendidikan tinggi dan status sosial tinggi
mempunyai peran yang lebih besar terdahap pembangunan.
Kisi-Kisi Angket Tingkat Pendidikan
Konsep Variabel
Indikator
Deskriptor
Tingkat
pendidikan 1.Pendidikan dasar ( SD Penyelesaian
masyarakat
merupakan
dan SMP atau yang pendidikan
jenjang
pendidikan
sederajat)
pendidikan
masyarakat 2.Pendidikan
ditempuh.
menengah
yang telah ditempuh oleh
(SMA dan SMK atau
masyarakat sesuai dengan
yang sederajat)
kemampuan yang akan 3.Pendidikan Tinggi ( Ddikembangkan
masyarakat
oleh
1, D-2, D-3, S1, S2, S3)
jenjang
yang
telah
SURAT PENGANTAR
Kepada: Yth. Kepala Keluarga Dukuh Grogolan, Desa Tegalgiri
Di Tempat
Dengan hormat,
Ditengah kesibukan bapak saat ini perkenankanlah kami memohon
pengorbanan untuk mengisi angket yang kami lampirkan.
Angket ini dibuat dalam rangka penyusunan skripsi saya yang berjudul
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dan Status Sosial dengan Partisipasi kepala
keluarga dalam Pembangunan di Desa Grogolan, Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.
Untuk memperoleh data tentang tingkat pendidikan dan status sosial
dalam partisipasi kepala keluarga dalam pembangunan maka saya mengadakan
penelitian di Dukuh Grogolan, Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten
Boyolali. Oleh karena itu saya mengharapkan kesadaran dan keikhlasan bapak
untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan keadaan bapak yang sesungguhnya.
Jawaban bapak merupakan data yang sangat berharga dalam penelitian ini.
Atas kesadaran dan keikhlasan bapak saya mengucapkan terima kasih.
Boyolali, November 2009
Peneliti
Dwi Sulistya Ningsih
PETUNJUK PENGISIAN
1. Sebelum menjawab angket isikan terlebih dahulu identitas bapak pada
tempat yang telah disediakan.
2. Mohon
periksa
dan
baca
pertanyaan-pertanyaan
sebelum
bapak
menjawabnya.
3. Pilihlah salah satu jawaban dengan tanda silang (X) pada huruf jawaban
sesuai dengan keadaan anda.
4. Apabila bapak mau mengganti jawaban, coretlah dengan dua garis lurus
mendatar pada jawaban semula, kemudian berilah tanda silang (X) pada
jawaban yang bapak/ibu anggap benar.
Contoh:
Pilihan semula
:
A
B
C
D
Dibetulkan
:
A
B
C
D
5. Semua pertanyaan mohon dijawab
6. Mohon angket dijawab dengan jujur sesuai dengan keadaan yang
sesungguhnya.
7. Mohon teliti kembali jawaban bapak sebelum dikumpulkan pada peneliti.
8. Jawaban tersebut diisi langsung pada lembar ini.
SELAMAT MENGERJAKAN!
Identitas Responden :
Nama
:
Usia
:
DAFTAR PERTANYAAN
I. Tingkat Pendidikan
Pilihlah jenjang pendidikan terakhir yang telah bapak tempuh:
A. Tamat SD atau yang sederajat
B. Tamat SMP atau yang sederajat
C. Tamat SMA atau yang sederajat
D. Tamat D1
E. Tamat D2
F. Tamat D3
G. Tamat S1
H. Lainnya………………..
II. Status Sosial
1. Dari jumlah penduduk yang ada di desa berapa persen yang mengenal
Bapak?
A.> 85 %
B. 70 – 85 %
C. 55-70 %
D. < 50 %
2. Apakah Bapak sering diundang untuk menghadiri acara-acara hajatan
yang diadakan oleh salah satu warga?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
3. Apakah Bapak sering dimintai pendapat dalam menyelesaikan
permasalahan pribadi warga?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
4. Apakah pernah ada warga yang memberikan hadiah/bingkisan kepada
Bapak?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
5. Ketika ada acara salah satu warga masyarakat biasanya bapak diberi
tanggung jawab dimana?
A. Penanggung jawab acara secara keseluruhan
B. Di depan sebagai penerima tamu
B Urusan belakang
C. Tidak pernah diberi tanggung jawab khusus
6. Berapa persen kesanggupan warga masyarakat untuk menghadiri
undangan dari bapak?
A. > 85 %
B. 70 – 85 %
C. 55-70 %
D. < 50 %
7. Berapa persen jumlah kehadiran warga masyarakat untuk menghadiri
undangan Bapak?
A. > 85 %
B. 70 – 85 %
C. 55-70 %
D. < 50 %
8. Apakah Bapak pernah dipercaya untuk menyelesaikan permasalahan
pribadi dari salah satu warga
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
9. Apakah Bapak pernah diminta untuk berbicara didepan umum untuk
memberikan sambutan dalam acara yang diadakan dimasyarakat?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
10. Ketika keluarga Bapak ditimpa musibah bagaimana tanggapan
sebagian besar warga masyarakat?
A. Hampir semua ikut prihatin dan membantu menyelesaikan
permasalahan
B. Banyak yang ikut prihatin
C. Ada yang ikut prihatin
D. Tidak mau tahu
11. Ketika Bapak pergi dari desa untuk beberapa lama, bagaimana reaksi
warga masyarakat?
A. Merasa kehilangan dan berharap segera kembali
B. Merasa kehilangan
C. Tidak berpengaruh dengan aktivitas warga masyarakat
D. Merasa senang
III. Partisipasi
1.Bagaimana tanggapan bapak ketika diundang dalam rapat/pertemuan
rembug desa?
A. Selalu bersedia
B. Sering bersedia
C. Kadang kadanng bersedia
D. Tidak pernah bersedia
2.Bagaimana kehadiran Bapak dalam setiap rapat/musyawarah yang
diadakan
ditingkat
RT,
RW,
atau
desa
untuk
membahas
pembangunan?
A. Selalu hadir
B. Sering hadir
C. Kadang kadang hadir
D. Tidak pernah hadir
3.Bagaimana
tanggapan
Bapak
terhadap
permasalahan
dalam
musyawarah pembangunan?
A. Sangat mengerti
B. Mengerti
C. Cukup mengerti
D. Tidak mengerti
4.Apakah Bapak memberikan tanggapan atau saran dalam setiap
rapat/musyawarah yang membahas pembangunan ?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang kadang
D. Tidak pernah
5.Bagaimana tanggapan Bapak terhadap hasil keputusan musyawarah?
A. Menerima dengan senang hati
B. Bersedia menerima dengan terpaksa
C. Acuh tak acuh
D. Tidak mau menerima dan tidak mau melaksanakan
6.Apakah Bapak ikut serta dalam pengambilan keputusan?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang kadang
D. Tidak pernah
7.Bagaimana tanggapan bapak terhadap rencana pembangunan fisik di
desa yang direncanakan oleh pemerintah?
A. Menanggapi dengan senang hati
B. Menanggapi dengan positif
C. Menanggapi dengan negatif
D. Acuh tak acuh
8.
Berupa
apa,
bantuan
yang
biasa
diberikan
Bapak
dalam
pembangunan fisik desa?
A. Uang, tenaga, pemikiran
B. Uang, tenaga
C. Tenaga
D. Acuh tak acuh
9. Tingkatan ke berapa jumlah nominal sumbangan yang diberikan
Bapak dalam pelaksanaan pembangunan masyarakat desa?
A. Kelas I
B. Kelas II
C. Kelas III
D. Kelas IV
10. Apakah Bapak ikut menyumbangkan tenaga dalam pelaksanaan
pembangunan?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
11. Apakah Bapak juga menyumbangkan materiil dalam pelaksanaan
pembangunan?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
12. Apakah Bapak ikut bergotong royong membantu pelaksanaan
pembangunan desa?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
13. Apakah Bapak ikut dalam suatu kepanitiaan yang dibentuk dalam
rangka pembangunan?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
14. Apakah Bapak ikut memanfaatkan hasil pembangunan tersebut?
A. Selalu
B. Sering
C. Kadang-kadang
D. Tidak pernah
15. Bagaimana tanggapan Bapak terhadap manfaat hasil pembangunan
fisik?
A. Sangat bermanfaat
B. Bermanfaat
C. Cukup bermanfaat
D. Tidak bermanfaat
16. Apakah Bapak kesulitan memanfaatkan hasil pembangunan fisik?
A. Sangat kesulitan
B. Sulit
C. Cukup sulit
D. Tidak sulit
17. Bagaimana bentuk tanggung jawab Bapak dalam merawat hasil
pembanguna fisik?
A. Selalu merawat dengan baik
B. Sering merawat
C. Kadang-kadang merawat bila ada kerusakan
D. Dibiarkan saja
18. Bagaimana tanggapan Bapak apabila terdapat sedikit kerusakkan
pada hasil pembangunan fisik yang sudah terwujud?
A. Selalu peduli untuk memperbaiki
B. Sering peduli untuk memperbaiki
C. Kadang-kadang peduli untuk memperbaiki
D. Tidak mau tahu
DAFTAR PUSTAKA
Astrid. S. susanto. 1999. Pengantar Sosiolaogi dan Perubahan Sosial. Jakarta :
Putra Abardin.
Bambang Hudayana. 2003. Pembaharuan Pemerintahan Desa. Yogyakarta:
Institusi For Reseach.And Empowermen (IRE)
Burn B. Robert. 2000. Introduction To Reseach Method. London: Sage
publication.
Cholid Narbuko & Abu Ahmadi. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi
Aksara
Consuelo G. Sevilla, dkk 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI Press
Depdiknas. 2003. Undang – undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.
Friedman, John. 1991. Empowerment; The Politics of Alternative Development.
Cambridge. Blackwell.
Gujarati, Damodar N., 2006, Dasar-Dasar Ekonometrika, Jakarta: Erlangga.
Hadari Nawawi. 2000. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah
Mada Universitas Press
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
http://en.wikipedia.org/wiki/Social_status6 December 2009 at 02:49.
Imam Ghozali, 2001, Analisis Multivariate dengan program SPSS, Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Iqbal Hasan.2002. Pokok-Pokok Materi Statistik. Jakarta: Rieneke Cipta
Kartini Kartono.1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Banfun: Alumni
Khoiruddin H. 1992. Pembangunan Masyarakat.Yogyakarta: Liberty
Marzuki. 2002. Metode Riset. Yogyakarta: BFE-UII
Midgley, James. 1986. Community Participation, Social Development and The
State. London. Metheun.
Moleong, Lexi J. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Marzuki. 2002. Metodologi Reseach. Yogyakarta: Prasetyo Widya Pratama.
Masri Sisingarimbun dan Effendi S. 1980. Metodologi Survey. Jakarta. Pustaka
LP3ES.
Nasution. 2001. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasir.1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia
Paul Horton.1999. Pengantar Sosiologi 2. Jakarta:Erlangga
Pemerintah Kabupaten Boyolali. 2006. Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD) Kabupaten Boyolali 2007. Boyolali: Pemerintah Kabupaten
Boyolali
Saifudin Azwar. 1992. Realiabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Santoso Sastro Puetro. 1988. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Disiplin
dalam Pembangunan. Bandung: Alumni
Slameto. 2002. Belajar dan Faktor – faktor yang Mempngaruhi. Jakarta: Rieneka
Cipta.
Soerjono Soekanto. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Gravindo Persada.
Sodomo Hadi. 2003.Pengantar Pendidikan. Surakarta: UNS Press
Sondang P. Siagian. 2003 Administrasi Pembangunan: Konsep, Dimensi, da
Strateginya. Jakarta: Bumi Aksara
Slamet, Y. 1993. Pembangunan Masyarakat Berwawasan Partisipasi. Surakarta:
Sebelas Maret Universitas Press.
Slameto. 1988. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Bandung:
Remaja Rosdakarya
Sudjana. 2002. Metodologi Statistik. Bandung: Tarsito.
_____
1996. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi Bagi Peneliti. Bandung:
Tarsito
Sugiyono. 1999. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfa Beta.
Suharsini Arikunto. 2002. Manajemen Penelitin. Jakarta: Rieneka Cipta.
_______________ 2002. Prosedur PenelitianSuatu Pendekatan praktik. Jakarta:
Rieneka Cipta.
Sumadi Surya Brata. 2002. Prosedur Penelitian. Jakrta: Rieneka Cipta.
Supranto. 2000. Metode Penelitian Hukum Dan Statistik. Jakarta: Rieneke Cipta
Suryani. 1990. Buku Bahan Aja Sosiologi Keluarga. Surakarta: FKIP UNS
Sutrisno Hadi. 1995. Analisis Regresi. Yogyakarta: andi Offset.
___________ 2004. Dasar – dasar Metodologi Riset. Jilid 1 Yogyakarta: Andi
Offset.
___________ 2004. Dasar – dasar Metodologi Riset. Jilid 2 Yogyakarta: Andi
Offset.
___________ 2004. Dasar – dasar Metodologi Riset. Jilid 3 Yogyakarta: Andi
Offset.
Taliziduhu Ndraha. 1987. Pembangunan Masyarakat
Masyarakat Tinggal Landas). Jakarta: Bina Aksara
(Mempersiapkan
Totok Mardikanto.1998. Komunikasi Pembangunan. Surakarta: UNS Press
Treiman J. Donald. 1984. Occupational Prestige in Comparative Perspective.
London: Academic Press, INC
Undang-Undang RI N0 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional
Vembriarto, ST. 1984. Patologi Sosial. Yogyakarta: Yayasan Pendidikan
Paramita.
Winarno Surakhmad. 1994. Pengantar Penelitian ilmiah Dasar Metode Teknik.
Bandung: Tarsito.sss
Download