BAB II STANDAR PENILAIAN KEMAMPUAN DAN

advertisement
23
BAB II
STANDAR PENILAIAN KEMAMPUAN DAN KEPATUTAN DIREKSI
DI INDUSTRI KEUANGAN BANK
A. Pengaturan dan Pengawasan Bank oleh Otoritas Jasa Keuangan
1. Latar belakang pembentukan Otoritas Jasa Keuangan
Saat ini perekonomian nasional yang mampu tumbuh secara stabil dan
berkelanjutan, menciptakan kesempatan kerja yang luas dan seimbang di semua
sektor perekonomian, serta memberikan kesejahteraan secara adil kepada seluruh
rakyat Indonesia maka program pembangunan ekonomi nasional harus
dilaksanakan secara komprehensif dan menyentuh ke seluruh sektor riil dari
perekonomian masyarakat Indoensia. Salah satu komponen penting dalam sistem
perekonomian nasional dimaksud adalah sistem keuangan dan seluruh kegiatan
jasa keuangan yang menjalankan fungsi intermediasi bagi berbagai kegiatan
produktif di dalam perekonomian nasional. 8
Awal pembentukan OJK berawal dari adanya keresahan dari beberapa
pihak dalam hal fungsi pengawasan Bank Indonesia. Ada tiga hal yang melatar
belakangi pembentukan OJK, yaitu perkembangan industri sektor jasa keuangan
di Indonesia, permasalahan lintas sektoral industri jasa keuangan, dan amanat
UUBI. Pasal 34 UUBI merupakan respons dari krisis Asia yang terjadi pada 1997-
8
Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia (Jakarta: Prenada Media Group,
2013), hlm 214.
Universitas Sumatera Utara
24
1998 yang berdampak sangat berat terhadap Indonesia, khususnya sektor
perbankan. 9
Krisis pada 1997-1998 yang melanda Indonesia mengakibatkan banyaknya
bank yang mengalami koleps sehingga banyak yang mempertanyakan
pengawasan Bank Indonesia terhadap bank-bank. Kelemahan kelembagaan dan
pengaturan yang tidak mendukung diharapkan dapat diperbaiki sehingga tercipta
kerangka sistem keuangan yang lebih tangguh. Reformasi di bidang hukum
perbankan diharapkan menjadi obat penyembuh krisis dan sekaligus menciptakan
penangkal dalam pemikiran pemasalahan-pemasalahan di masa depan.
Ide awal pembentukan OJK yang sebenarnya adalah hasil kompromi untuk
menghindari jalan buntu pembahasan undnag-undang tentang bank Indonesia oleh
Dewan Perwakilan Rakyat. Pada awal pemerintahan Presiden Habibie, pemerintah
mengajukan Rancangan UUBI (selanjutnya yang memberikan independensi
kepada bank sentral. Rancangan Undang-Undang ini di samping memberikan
independensi, juga mengeluarkan fungsi pengawasan perbankan dari Bank
Indonesia. Ide pemisahan fungsi pengawasan dari bank sentral ini datang dari
Helmut Schlesinger, mantan Gubernur Bundesbank (bank sentral Jerman) yang
pada waktu penyusunan rancangan UUBI bertindak sebagai konsultan.
Mengambil pola bank sentral Jerman yang tidak mengawasi bank.
Otoritas Jasa Keuangan adalah sebuah lembaga pengawas jasa keuangan
seperti industri perbankan, pasar modal, reksadana, perusahaan pembiayaan, dana
pensiun dan asuransi yang sudah harus terbentuk pada tahun 2010. Keberadaan
9
Andrian Sutedi, Aspek Hukum Otoritas Jasa Keuangan (Jakarta:JAS, 2014), hlm 36
Universitas Sumatera Utara
25
OJK ini sebagai suatu lembaga pengawas sektor keuangan di Indonesia perlu
untuk diperhatikan, karena harus dipersiapkan dengan baik segala hal untuk
mendukung keberadaan OJK tersebut. 10
Pasal 1 UU OJK, OJK, adalah lembaga yang independen dan bebas dari
campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang
pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud
dalam undang-undang ini. “ Dengan kata lain, dapat diartikan bahwa OJK adalah
sebuah lembaga pengawasan jasa keuangan seperti industri perbankan, pasar
modal, reksadana, perusahaan pembiayaan, dana pensiun dan asuransi. Pada
dasarnya UU OJK ini hanya mengatur mengenai pengorganisasian dan tata
pelaksanaan kegiatan keuangan dari lembaga yang memiliki kekuasaan didalam
pengaturan dan pengawasan terhadap sektor jasa keuangan. Oleh karena itu,
dengan dibentuknya OJK diharapkan dapat mencapai mekanisme koordinasi yang
lebih efektif didalam penanganan masalah-masalah yang timbul didalam sistem
keuangan. Dengan demikian dapat lebih menjamin tercapainya stabilitas sistem
keuangan dan adanya pengaturan dan pengawasan yang lebih terintegrasi.
2. Tujuan dibentuknya Otoritas Jasa Keuangan
Sejak lama, pembentukan lembaga OJK ini diamanatkan oleh UUBI,
sudah menghadapi berbagai kontroversi mengenai sudah tepatkah pemindahan
fungsi pengawasan perbankan yang semula ditangani oleh Bank Indonesia.
10
Siti Sundari, Laporan Kompendium Hukum Bidang Perbankan (Jakarta: Kementrian
Hukum dan HAM RI , 2011), hal. 44.
Universitas Sumatera Utara
26
a. Untuk mencapainya, Bank Indonesia dalam melaksanakan kebijakan
moneter
secara
berkelanjutan,
konsisten,
dan
transparan
dengan
mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.
b. Mengatasi kompleksitas keuangan global dari ancaman krisis.
c. Menciptakan satu otoritas yang lebih kuat dengan memiliki sumber daya
manusia dan ahli yang mencukupi. 11
Sebagaimana diketahui bahwa krisis yang melanda di tahun 1998 telah
membuat sistem keuangan Indonesia porak poranda. Sejak itu maka lahirlah
kesepakatan untuk membentuk OJK yang menurut undang-undang tersebut harus
terbentuk pada tahun 2002. Meskipun OJK berdasarkan kesepakatan dan
diamanatkan oleh UU, nyatanya sampai dengan 2002 draft pembentukan OJK
belum ada, sampai akhirnya UUBI yang menyatakan tugas BI adalah mencapai
dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga yang independen dan bebas
dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang
pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud
dalam undang-undang ini. OJK berkedudukan di ibu kota Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan
pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa
keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaksanakan tugas pengaturan dan
pengawasan terhadap:
11
Riyanikusuma.Wordpress.Com/2013/02/14/Otoritas-Jasa-Keuangan (diakses tanggal
10 Maret 2015).
Universitas Sumatera Utara
27
a. Kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan;
b. Kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal; dan
c. Kegiatan jasa keuangan di sektor perasuransian, dana pensiun, lembaga
pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya.
Untuk melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sektor
Perbankan OJK mempunyai wewenang:
a. Pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan bank yang meliputi:
1) Perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran
dasar, rencana kerja, kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya
manusia, merger, konsolidasi dan akuisisi bank, serta pencabutan izin
usaha bank; dan
2) Kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana,
produk hibridasi, dan aktivitas di bidang jasa;
b. Pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank yang meliputi:
1) Likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset, rasio kecukupan
modal minimum, batas maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman
terhadap simpanan, dan pencadangan bank;
2) Laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank;
3) Sistem informasi debitur;
4) Pengujian kredit (credit testing); dan
5) Standar akuntansi bank;
c. Pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank, meliputi:
1) Manajemen risiko;
Universitas Sumatera Utara
28
2) Tata kelola bank;
3) Prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian uang; dan
4) Pencegahan pembiayaan terorisme dan kejahatan perbankan; dan
d. Pemeriksaan bank.
Untuk melaksanakan tugas pengaturan, OJK mempunyai wewenang:
1) Menetapkan peraturan pelaksanaan undang-undang ini;
2) Menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
3) Menetapkan peraturan dan keputusan OJK;
4) Menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan;
5) Menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK;
6) Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis
terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu;
7) Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter
pada Lembaga Jasa Keuangan;
8) Menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola,
memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan kewajiban; dan
9) Menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa
keuangan
Adapun maksud dari pembentukan OJK menurut beberapa ahli/pakar
perbankan adalah sebagai berikut:
Universitas Sumatera Utara
29
a. Menkeu Agus Matroardojo
Pembentukan OJK diperlukan guna mengatasi kompleksitas keuangan
global dari ancaman krisis. Di sisi lain, pembentukan OJK merupakan
komitmen pemerintah dalam reformasi sektor keuangan di Indonesia
b. Fuad Rahmany
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menghilangkan penyalahgunaan
kekuasaan (abuse of power) yang selama ini cenderung muncul. Sebab
didalam OJK, fungsi pengawasan dan pengaturan dibuat terpisah
c. Darmin Nasution
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah untuk mencari efesiensi di sektor
perbankan,
pasar
modal
dan
lembaga
keuangan.
Sebab
suatu
perekonomian yang kuat, stabil dan berdaya saing membutuhkan
dukungan dari sektor keuangan.
d. Deputi Gubernur BI Miliaman D Hadad:
Terdapat empat pilar sektor keuangan global yang menjadi agenda OJK.
Pertama, kerangka kebijakan yang kuat untuk menanggulangi krisis.
Kedua, persiapan resolusi terhadap lembaga-lembaga keuangan yang
ditengarai bisa berdampak sistemik. Ketiga lembaga keuangan membuat
surat wasiat jika terjadi kebangkrutan sewaktu-waktu dan keempat
transparansi yang harus dijaga.
3. Status Otoritas Jasa Keuangan
Menurut ketentuan Pasal 2 ayat (2) UU OJK dikatakan bahwa, OJK adalah
lembaga yang indepeden dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas
Universitas Sumatera Utara
30
dari campur tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur
dalam undang-undang ini. 12 Bagian penjelasan UU OJK disebutkan bahwa, OJK
dalam menjalankan tugasnya dan kedudukannya berada diluar pemerintah. Jadi
seharusnya tidak terpengaruh oleh pemerintah. 13 Berdasarkan penjelasan diatas
menunjukkan bahwa status kelembagaan OJK adalah lembaga yang independen
dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, sehingga secara yuridis bebas dari
campur tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam
UU OJK.
Independensi OJK tercermin dalam kepemimpinan OJK. Secara orang
perorangan, pimpinan OJK memiliki kepastian masa jabatan dan tidak dapat
diberhentikan kecuali memenuhi alasan yang secara tegas diatur dalam UU OJK.
Di samping itu, untuk mendapatkan pimpinan OJK yang tepat dalam UU OJK
diatur juga mekanisme seleksi yang transparan, akuntabel dan melibatkan
partisipasi publik melalui suatu panitia seleksi yang unsur-unsurnya terdiri atas
pemerintah, Bank Indonesia dan masyarakat sektor jasa keuangan.
4. Dasar pembentukan Otoritas Jasa Keuangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah suatu unifikasi pengaturan dan
pengawasan sektor jasa keuangan, dimana sebelumnya kewenangan pengaturan
dan pengawasan dilaksanakan oleh kementerian Keuangan, Bank Indonesia dan
Badan Pengawas Pasar Modal. 14
12
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Pasal 2 ayat
13
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Pasal 2
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014),
(1)
14
hlm. 325
Universitas Sumatera Utara
31
Pembentukan OJK didasarkan kepada tiga landasan yaitu :
1. Landasan filosofis
Mewujudkan perekonomian nasional yang mampu tumbuh dengan stabil dan
berkelanjutan, menciptakan kesempatan kerja yang luas dan seimbanh
disemua sektor perekonomian serta memberikan kesejahteraan secara adil
kepada seluruh rakyat Indonesia.
2. Landasan yuridis
Undang-Undang Bank Indonesia
3. Landasan sosiologis
a. Globalisasi dalam sistem keuangan dan pesatnya kemajuan di bidang
teknologi dan informasi serta inovasi financial telah menciptakan sistem
keuangan yang sangat kompleks, dinamis, dan saling terkait antar
subsektor keuangan baik dalam hal produk maupun kelembagaan.
b. Adanya lembaga jasa keuangan yang memiliki hubungan kepemilikan di
berbagai sub sektor keuangan menambah kompleksitas transaksi dan
interaksi antar lembaga jasa keuangan di dalam sistem keuangan.
c. Banyaknya permasalahan lintas sektoral disektor jasa keuangan yang
meliputi tindakan moral hazard belum optimalnya perlindungan konsumen
jasa keuangan dan terganggunya stabilitas sistem keuangan.
B. Peranan Direksi di Industri Perbankan
Direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab
penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan
Universitas Sumatera Utara
32
maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili perseroan, baik di dalam maupun di
luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. 15 Persyaratan
Pengangkatan Direksi, antara lain : direksi diangkat oleh RUPS, direksi perseroan
terdiri atas 1 (satu) orang anggota direksi atau lebih, yang dapat diangkat menjadi
anggota Direksi adalah orang perseorangan yang cakap melakukan perbuatan
hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau dihukum karena merugikan negara
dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum pengangkatan.
Direksi dalam menjalankan perseroan memiliki, tugas-tugas, yaitu : 16
1.
Direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan
tugas pengurusan perseroan dengan tetap memperhatikan keseimbangan.
kepentingan seluruh pihak yang berkepentingan dengan aktivitas perseroan.
2.
Direksi wajib tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, anggaran dasar dan keputusan RUPS dan memastikan seluruh
aktivitas perseroan telah sesuai dengan ketentuan peraturan-peraturan
perundang-undangan yang berlaku, anggaran dasar, keputusan RUPS serta
peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh perseroan.
3.
Direksi dalam memimpin dan mengurus perseroan semata-mata hanya untuk
kepentingan dan tujuan perseroan dan senantiasa berusaha meningkatkan
efisiensi dan efektivitas perseroan.
4.
Direksi senantiasa memelihara dan mengurus kekayaan perseroan secara
amanah dan transparan. Untuk itu direksi mengembangkan sistem
15
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pasal 1
Myrizal-76.Blogspot.Com/2011/08/Tugas-Kewajiban-Kewenangan-Serta.Html
(diakses tanggal 10 Maret 2015).
16
Universitas Sumatera Utara
33
pengendalian internal dan sistem manajemen resiko secara terstruktural dan
komprehensif.
5.
Direksi akan menghindari kondisi dimana tugas dan kepentingan perseroan
berbenturan dengan kepentingan pribadi.
Masa tugas direksi habis apabila: 17
1.
Anggota direksi dapat diberhentikan sewaktu-waktu berdasarkan keputusan
RUPS dengan menyebutkan alasannya.
2.
Jangka waktu masa tugas direksi diatur dalam anggaran dasar atau akte
pendirian.
3.
Jika diberhentikan sementara waktu sebelum masa tugasnya oleh
RUPS/Komisaris maka dalam jangka waktu 30 hari diadakan RUPS untuk
memberi kesempatan direksi tersebut membela diri. Apabila dalam jangka
waktu 30 hari tidak ada RUPS maka pemberhentian sementara batal demi
hukum.
17
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Universitas Sumatera Utara
34
4.
Pemberhentian anggota direksi berlaku sejak:
a. ditutupnya RUPS apabila anggota direksi diberhentikan sewaktu-waktu
b. tanggal keputusan untuk memberhentikan anggota direksi
c. tanggal lain yang ditetapkan dalam RUPS
Kewajiban direksi di dalam perseroan, yaitu : 18
1.
Direksi wajib bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk
kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam
maupun di luar pengadilan. Sebagai organ yang wajib bertanggungjawab,
Direksi mempertanggungjawabkan kepengurusan itu kepada RUPS.
2.
Direksi wajib membuat dan memelihara daftar pemegang saham, risalah
RUPS dan risalah rapat direksi, menyelenggarakan pembukuan Perseroan;
melaporkan kepemilikan sahamnya dan keluarga yang dimiliki pada
perseroan atau perseroan lain.
3.
Direksi wajib menyiapkan laporan tahunan (termasuk pertanggung jawaban
tahunan) untuk RUPS.
4.
Direksi wajib memberikan keterangan kepada RUPS mengenai segala
sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan perseroan.
5.
Direksi menyelenggarakan RUPS tahunan atau RUPS lain yang dianggap
perlu (termasuk melakukan pemanggilan dan lain-lain).
6.
Direksi wajib meminta persetujuan RUPS untuk mengalihkan atau
menjadikan jaminan sebagian besar atau seluruh kekayaan Perseroan.
18
Ibid
Universitas Sumatera Utara
35
7.
Direksi wajib menyiapkan rencana penggabungan, peleburan atau
pengambilalihan untuk diajukan kepada RUPS.
Direksi memiliki peranan, yaitu :
Direksi berperan untuk mengusulkan kepada RUPS :
a. Perubahan anggaran dasar
b. Pembelian kembali saham dan pengalihan saham tersebut kepada pihak
lain
c. Penambahan modal
d. Pengurangan modal
e. Penggunaan laba dan pembagian deviden
f. Pembubaran perseroan
6.
Direksi berwenang untuk mengatur dan menyelenggarakan kegiatan usaha
perseroan
7.
Direksi berwenang mengelola kekayaan perseroan
8.
Direksi berwenang mewakili perseroan di dalam dan di luar pengadilan
9.
Direksi berwenang untuk mendapatkan gaji dan tunjangan lainnya sesuai
anggaran dasar/akte pendirian
10. Direksi berwenang untuk membela diri dalam forum RUPS jika Direksi
telah diberhentikan untuk sementara waktu oleh RUPS/Komisaris
11. Direksi berwenang untuk mengajukan usul kepada Pengadilan Negeri agar
perseroan dinyatakan pailit setelah didahului dengan persetujuan RUPS
Universitas Sumatera Utara
36
Pertanggungjawaban pribadi direksi
1. Setiap anggota direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian
perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan
tugasnya.
2. Dalam hal direksi terdiri atas 2 (dua) anggota direksi atau lebih, tanggung
jawab berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota direksi.
3. Anggota direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian apabila
dapat membuktikan:
a.
Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk
kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan;
c. Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak
langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan
d. Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya
kerugian tersebut
C. Alasan perlunya dilakukan Penilaian Kemampuan dan Kepatutan di
Industri Keuangan Bank
Meningkatkan kepercayaan dan perlindungan kepada masyarakat terhadap
industri perbankan, perlu dipastikan bahwa pengelolaan bank dilakukan oleh
pihak yang mampu dan patut Penilaian Kemampuan dan Kepatutan sehingga
pengelolaan bank dilakukan sesuai dengan tata kelola yang baik (good
Governance).
Universitas Sumatera Utara
37
Secara sederhana pelaksanaan Penilaian Kemampuan dan Kepatutan
dimaksud untuk 19 :
1. Untuk mengetahui kemampuan dan kepatutan (calon) manajemen perusahaan
yang bersangkutan, secara detail dapat dipertanggung jawabkan.
2. Untuk memantau pencapaian goals dan proses perusahaan (bank) secara
keseluruhan, baik aspek legal maupun aspek financial.
3. Untuk memberi motivasi kepada para (calon) manajemen untuk melaksanakan
tugas, kewajiban serta wewenang dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku serta pengaturan perusahaan
bank bersangkutan.
4. Untuk mendorong dan mendukung pengembangan perusahaan bank
secaraberkesinambungan dalam dunia bisnis yang telah memasuki pasar
terintegrasi ini (globalisasi), yang pada akhirnya akan bermuara pada kinerja
yang semakin baik dari waktu kewaktu secara berkesinambungan.
Prosedur pelaksanaan Penilaian Kemampuan dan Kepatutan Bank
Indonesia sebagai bank sentral mempunyai 3 (tiga) bidang tugas yang telah diatur
dalam Pasal 8 UU Bank Indonesia, yaitu :
4. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter.
5. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.
6. Mengatur dan mengawasi bank.
Konsekuensi dari pasal ini adalah Bank Indonesia diberikan wewenang
untuk mengatur hal-hal yang dapat menunjang terlaksananya tugas-tugas tersebut.
19
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
38
Tujuan dari pengaturan dan pengawasan bank diarahkan untuk mengoptimalkan
fungsi perbankan Indonesia sebagai 20 :
1. Lembaga
kepercayaan
masyarakat
dalam
kaitanya
sebagai
lembaga
penghimpun dan penyalur dana.
2. Pelaksanaan kebijakan moneter.
3. Lembaga yang ikut berperan dalam membantu pertumbuhan ekonomi serta
pemerataan agar tercipta sistem perbankan yang sehat, baik sistem perbankan
menyeluruh
maupun individual, dan maupun memelihara kepentingan
masyarakat dengan baik, berkembang secara wajar dan bermanfaat bagi
perekonomian nasional.
Fungsi kepatutan adalah serangkaian tindakan atau langkah-langkah yang
bersifat ex-ante (preventif) untuk memastikan bahwa kebijakan, ketentuan, sistem,
dan prosedur, serta kegiatan usaha yang dilakukan oleh bank telah sesuai dengan
ketentuan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta
memastikan kepatuhan bank terhadap komitmen yang dibuat oleh Bank kepada
Bank Indonesia dan/atau otoritas pengawas lain yang berwenang. 21
Hasil Penilaian Kemampuan dan Kepatutan masih dibedakan antara
penanggung
jawab,
pemrakarsa,
pemutus
dan
pelaksana,
serta
yang
mengetahuinya. Artinya, dalam setiap penyimpangan yang berakibat pada
kerugian perusahaan, maka akan dicari penanggung jawab, pemrakarsa, pemutus
dan pelaksananya, karena tidak menutup kemungkinan adanya pejabat yang
20
N. Ferry dan Sugiarto, Manajemen Risiko Perbankan, Dalam Konteks Kesepakatan
Basel dan Peraturan Bank Indonesia (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2006), hal. 62.
21
http://www.bankina.co.id/admin/modul/laporan/pdf_file/300513232215.pdf (diakses
tanggal 1 Maret 2015).
Universitas Sumatera Utara
39
menutup-nutupi penyimpangan tersebut. Hal inilah yang menentukan berat atau
ringannya kesalahan dan akan sangat berpengaruh pada tingkat penilaian. Kriteria
pelaku yang terlibat antara lain pelaku, pelaksana, dan pihak yang hanya
mengetahui. Pelaku yaitu orang yang secara langsung melakukan atau turut
melakukan perbuatan rekayasa dan atau praktik-praktik perbankan yang
menyimpang dari undang-undang dan ketentuan perbankan; perbuatan yang dapat
dikategorikan tidak memenuhi komitmen yang disepakati dengan Bank Indonesia
dan atau pemerintah.
Perkembangan industri perbankan yang dinamis membutuhkan pemilik
yang selain memiliki integritas juga memiliki komitmen dan kemampuan yang
tinggi dalam mendukung pengembangan operasional bank yang sehat. Selain itu
dalam pengelolaan bank diperlukan sumber daya manusia yang memiliki
integritas yang tinggi, berkualitas dan memiliki reputasi keuangan yang baik.
Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan proses uji kemampuan dan
kepatutan terhadap calon pemilik dan calon pengelola bank melalui penelitian
administratif yang lebih efektif dan proses wawancara yang lebih efisien, dengan
tetap memperhatikan pemenuhan persyaratan yang ditetapkan. Selanjutnya
sebagai pelaksanaan tugas pengawasan bank oleh Bank Indonesia secara
berkesinambungan, terhadap pihak–pihak yang telah mendapat persetujuan dari
Bank Indonesia, dilakukan penilaian kembali atas kemampuan dan kepatutannya
sebagai pemilik dan pengelola bank.
Melindungi industri bank dari pihak-pihak yang diindikasikan tidak
memenuhi persyaratan kemampuan dan kepatutan, penilaian kembali dilakukan
Universitas Sumatera Utara
40
melalui proses yang lebih singkat dan transparan tanpa mengabaikan azas
keadilan bagi pihak yang diuji. Tujuan uji kemampuan dan kepatutan adalah agar
industri perbankan senantiasa dimiliki dan dikelola oleh pihak-pihak yang
memenuhi persyaratan maka sudah menjadi keharusan untuk tidak memberikan
ruang bagi pihak yang melakukan tindakan yang diindikasikan tidak memenuhi
persyaratan kemampuan dan kepatutan.
Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan ketentuan yang berkaitan dengan
pengenaan sanksi yang lebih tegas dan dapat memberikan efek jera terhadap pihak
yang tidak mampu dan tidak patut dalam memiliki dan mengelola bank. Bank
Indonesia sebagai Bank sentral mempunyai 3 (tiga) bidang tugas yang telah diatur
dalam Pasal 8 UUBI, yaitu :
1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter.
2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.
3. Mengatur dan mengawasi bank.
Konsekuensi dari pasal ini adalah Bank Indonesia diberikan wewenang
untuk mengatur hal-hal yang dapat menunjang terlaksananya tugas-tugas tersebut.
Tujuan dari pengaturan dan pengawasan Bank diarahkan untuk
mengoptimalkan fungsi perbankan Indonesia sebagai 22 :
1. Lembaga kepercayaan masyarakat dalam kaitanya sebagai lembaga
penghimpun dan penyalur dana.
2. Pelaksanaan kebijakan moneter.
22
N. Ferry dan Sugiarto, Manajemen Risiko Perbankan, Dalam Konteks Kesepakatan
Basel dan Peraturan Bank Indonesia (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2006), hlm. 62
Universitas Sumatera Utara
41
3. Lembaga yang ikut berperan dalam membantu pertumbuhan ekonomi serta
pemerataan agar tercipta sistem perbankan yang sehat, baik sistem perbankan
menyeluruh
maupun individual, dan maupun memelihara kepentingan
masyarakat dengan baik, berkembang secara wajar dan bermanfaat bagi
perekonomian nasional.
Pengertian pelaku disini adalah termasuk pemutus, pemrakarsa atau
penanggungjawab. Pelaksana adalah orang yang telah melakukan suatu perbuatan
berdasarkan instruksi, tekanan, tipu daya, atau pemberian kompensasi dari pihak
lain, seperti pihak yang menandatangani suatu dokumen, pihak yang melakukan
atau turut serta melakukan eksekusi/tindakan, dan pihak yang turut menyetujui
suatu keputusan. Sedangkan pihak yang hanya mengetahui adalah orang yang
turut serta mengetahui atau terlibat dalam suatu perbuatan yang dilakukan oleh
pihak lain karena jabatannya, misalnya sebagai pihak yang mengetahui melalui
pengesahannya dalam suatu dokumen.
Penetapan hasil akhir Penilaian Kemampuan dan Kepatutan dilakukan
dengan cara menjumlahkan hasil penilaian faktor integritas dan faktor
kompetensi. Predikat lulus diberikan dengan hasil penilaian akhir sebesar 0 (nol).
Predikat lulus bersyarat, dengan hasil penilaian akhir sebesar 1 (satu) sampai
dengan 19 (sembilan betas), dan predikat tidak lulus dengan penilaian akhir sebsar
20 (dua puluh) atau Iebih.
Universitas Sumatera Utara
42
D. Faktor-Faktor dalam Penilaian Kemampuan dan Kepatutan Industri
Keuangan Bank
Faktor kemampuan meliputi
1. Pengetahuan yang memadai dan relevan dengan jabatannya;
2. Pemahaman tentang peraturan perundang-undangan di bidang perusahaan
pembiayaan dan peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan
dengan perusahaan pembiayaan;
3. Pengalaman di bidang perusahaan pembiayaan dan/atau bidang lainnya yang
relevan dengan jabatannya; dan
4. Kemampuan
pengembangan
untuk
melakukan
perusahaan
pengelolaan
pembiayaan
strategis
yang
dalam
sehat,
rangka
termasuk
perluasan/ekspansi maupun inovasi terhadap kegiatan usaha di bidang
perusahaan pembiayaan.
Faktor kepatutan meliputi
1. Memiliki akhlak dan moral yang baik;
2. Tidak pernah melakukan praktik-praktik tercela di bidang usaha perusahaan
pembiayaan dan/atau jasa keuangan lainnya;
3. Tidak pernah melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan di
bidang perusahaan pembiayaan dan/atau jasa keuangan lainnya;
4. Tidak pernah dihukum karena tindak pidana kejahatan;
5. Tidak pernah dinyatakan pailit atau dinyatakan bersalah yang mengakibatkan
suatu perseroan atau perusahaan dinyatakan pailit berdasarkan putusan
pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
Universitas Sumatera Utara
43
6. Tidak pernah melanggar komitmen yang telah disepakati dengan instansi
pembina dan pengawas perusahaan pembiayaan; dan
7. Tidak pernah memberikan keuntungan dan/atau manfaat lainnya secara tidak
wajar kepada pemegang saham, direksi, komisaris, pegawai dan/atau pihak
lainnya yang dapat merugikan atau mengurangi keuntungan nasabah dan/atau
perusahaan pembiayaan;
8. Tidak pernah melanggar prinsip kehati-hatian di bidang perusahaan
pembiayaan;
9. Tidak pernah melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kewenangannya
atau diluar kewenangannya; dan
10. Tidak pernah dinyatakan tidak mampu menjalankan kewenangan sebagai
anggota direksi atau dewan komisaris.
Ruang lingkup Penilaian Kemampuan dan Kepatutan bagi direksi
disebutkan dalam Pasal 17 PBI No.12/23/PBI2010 meliputi faktor integritas,
kompetensi, dan faktor keuangan. Ruang lingkup tersebut berbeda bagi calon dan
telah menduduki jabatannya.
Adapun persyaratan integritas terhadap calon direksi dan dewan komisaris
berdasarkan Pasal 18 PBI No.12/23/PBI/2010 adalah :
1. Memiliki akhlak dan moral yang baik, antara lain dijulukan dengan sikap
mematuhi ketentuan yang berlaku, termasuk tidak pernah dihukum karena
terbukti melakukan tindak pidana tertentu dalam waktu 20 (dua puluh) tahun
terakhir sebelum dicalonkan.
Universitas Sumatera Utara
44
2. Memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
3. Memiliki komitmen terhadap pengembangan operasional bank yang sehat.
4. Tidak termasuk dalam DTL.
5. Memiliki komitmen untuk tidak akan melakukan dan/atau mengulangi
perbuatan dan/atau tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dan Pasal
28 PBI No.12/23/PBI/2010, bagi calon yang pernah memiliki predikat tidak
lulus dalam uji kemampuan dan kepatutan dan telah menjalani masa sanksi.
Sedangkan persyaratan kompetensi bagi calon direksi dan dewan
Komisaris berdasarkan Pasal 19 PBI No.12/23/PBI/2010 untuk memastikan :
1. Bagi calon anggota dewan komisaris memiliki :
a. Pengetahuan di bidang perbankan yang memadai dan relevan dengan
jabatannya.
b. Pengalaman di bidang perbankan dan/atau bidang keuangan.
2. Bagi calon direksi memiliki :
a. Pengetahuan di bidang perbankan yang memadai dan relevan dengan
jabatannya.
b. Pengalaman dan keahlian dibidang perbankan dan/atau bidang keuangan.
c. Kemampuan untuk melakukan pengelolaan strategis dalam rangka
pengembangan bank yang sehat.
Penilaian kemampuan dan kepatutan terhadap calon Pemegang Saham
Pengendali dan calon pengurus bank dilakukan melalui penelitian administratif
(meliputi penelitian dokumen persyaratan administratif, track record serta
Universitas Sumatera Utara
45
penelitian reputasi keuangan) dan wawancara Pasal 8 ayat (1) dan Pasal 20 ayat
(1) PBI No.12/23/PBI/2010 untuk menilai apakah yang bersangkutan memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan atau tidak.
Persyaratan yang dimaksud bagi calon Pemegang Saham Pengendali yaitu
memenuhi persyaratan integritas dan kelayakan keuangan Pasal 4 PBI
No.12/23/PBI/2010. Persyaratan integritas antara lain memiliki akhlak dan moral
yang baik, memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perundang-undangan
yang berlaku, memiliki komitmen yang tinggi terhadap pengembangan
operasional bank yang sehat, dan tidak termasuk dalam Daftar Tidak Lulus (Pasal
5 PBI No.12/23/PBI/2010). 23
Syarat kelayakan keuangan meliputi persyaratan kemampuan keuangan,
tidak termasuk dalam daftar kredit macet, tidak pernah dinyatakan pailit atau
dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit dalam jangka
waktu 5 (lima) tahun sebelum dicalonkan, bersedia untuk mengatasi kesulitan
permodalan dan likuiditas yang dihadapi Bank dalam menjalankan kegiatan
usahanya, dan tidak memiliki hutang yang jatuh tempo dan bermasalah.
Persyaratan yang dinilai pada calon pengurus bank antara lain (Pasal 15 PBI
No.12/23/PBI/2010):
1. Integritas;
2. Kompetensi;
3. Reputasi keuangan.
Persyaratan integritas meliputi:
23
Pasal 4 PBI No.12/23/PBI/2010
Universitas Sumatera Utara
46
1. Akhlak dan moral yang baik;
2. Memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang
berlaku, memiliki komitmen yang tinggi terhadap pengembangan operasional
Bank yang sehat
3. Tidak termasuk dalam daftar tidak lulus. Persyaratan kompetensi bagi calon
komisaris antara lain memiliki pengetahuan di bidang perbankan yang
memadai dan relevan dengan jabatannya, dan atau pengalaman di bidang
perbankan.
Sedangkan bagi calon direksi:
1. Memiliki pengetahuan di bidang perbankan;
2. Pengalaman dan keahlian di bidang perbankan dan atau bidang keuangan
3. Kemampuan
untuk
melakukan
pengelolaan
strategis
dalam
rangka
pengembangan bank yang sehat.
Mayoritas anggota direksi wajib berpengalaman dalam operasional Bank
sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebagai pejabat eksekutif pada bank.
Persyaratan reputasi keuangan juga harus dipenuhi antara lain, tidak termasuk
dalam daftar kredit macet, dan tidak pernah dinyatakan bersalah menyebabkan
suatu perseroan dinyatakan pailit, dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum
dicalonkan.
Bank yang merupakan lembaga intermediary, menerima dana dari pihak
ketiga yaitu nasabah yang memberikan kepercayaannya dalam pengelolaan
dananya. Namun, kenyataannya masih saja ada orang-orang “nakal” yang
menyalahgunakan kepercayaan ini. Penyelewengan dana merupakan masalah
Universitas Sumatera Utara
47
yang sering timbul. Permasalahan inilah yang menjadi perhatian khusus Bank
Indonesia sebagai bank sentral dalam pengawasan perbankan Indonesia.
Kegiatan bank tidak terlepas dari menerima dana dari pihak ketiga yaitu
nasabah melalui tabungan/deposito atau pun yang lainnya. Dana tersebut nantinya
akan disalurkan kembali dalam bentuk kredit. Namun, yang terjadi adalah masih
saja terdapat penyelewengan. Ini mengurangi kepercayaan masyarakat untuk
memberikan dananya dalam bentuk simpanan maupun deposito. Bank Indonesia
mengeluarkan kembali peraturan mengenai Penilaian Kemampuan dan Kepatutan
bagi direksi bank perkreditan rakyat, demi untuk meningkatkan kepercayaan dan
perlindungan masyarakat terhadap industri perbankan.
Perbedaan tersebut secara garis besar terdiri dari beberapa aspek berikut:
1. Penambahan obyek uji kemampuan dan kepatutan.
Hal tersebut meliputi : calon direksi sebelum menjalankan fungsi dan
tugasnya; calon direksi dan sudah tidak menjabat sebagai calon direksi dan
pejabat eksekutif.
2. Penyederhanaan proses uji kemampuan dan kepatutan terhadap calon direksi,
dan pejabat eksekutif yang sedang menjabat (existing):
a. Pengumpulan bukti tidak harus melalui pemeriksaan khusus namun dapat
dilakukan melalui pengawasan aktif (pemeriksaan), pengawasan pasif atau
sumber lainnya.
b. Pengurangan penyampaian tanggapan dari pihak yang dinilai atas hasil
sementara dari semula 2 kali menjadi hanya sekali.
Universitas Sumatera Utara
48
Penyederhanaan langkah–langkah penilaian dari 10 tahap menjadi 4 tahap
yaitu:
1) Klarifikasi temuan dan bukti kepada pihak yang dinilai.
2) Penetapan dan penyampaian hasil sementara uji kemampuan dan
kepatutan.
3) Tanggapan dari pihak yang dinilai atas hasil penilaian sementara.
4) Penetapan & pemberitahuan hasil akhir uji kemampuan dan kepatutan.
3. Predikat hasil uji kemampuan dan kepatutan hanya ada dua yaitu lulus dan
tidak lulus
4. Pengetatan sanksi dan konsekuensi bagi pihak yang dinyatakan tidak lulus.
Pihak-pihak yang ditetapkan predikat tidak lulus dilarang menjadi:
a. Anggota dewan komisaris, anggota direksi, atau pejabat eksekutif pada
industri perbankan.
b. Pengenaan jangka waktu larangan terhadap pihak-pihak yang ditetapkan
predikat Tidak Lulus sebagaimana yang diatur dalam Pasal 45 ayat (2)
peraturan ini ditetapkan:
1) selama jangka waktu 3 tahun:
2) selama jangka waktu lima tahun
3) selama jangka waktu 20 tahun
5. Pengaturan Penilaian Kemampuan dan Kepatutan bagi bank dalam
penyelamatan/penanganan LPS.
Pasal 63 ayat (1) peraturan ini mengatur bahwa Dalam rangka penanganan
atau penyelamatan BPR, terhadap LPS tidak dilakukan Penilaian kemampuan
Universitas Sumatera Utara
49
dan kepatutan selaku calon direksi. Namun calon direksi yang akan diangkat
LPS wajib mengikuti Penilaian Kemampuan dan Kepatutan.
6. Perluasan obyek Penilaian Kemampuan dan Kepatutan terhadap pihak-pihak
yang sudah tidak menjadi Pemegang Saham Pengendali (Pemegang Saham
Pengendali) BPR atau sudah tidak menjabat sebagai anggota dewan komisaris,
anggota direksi, dan pejabat eksekutif di BPR.
Pihak-pihak yang telah ditetapkan predikat tidak lulus dapat kembali
menjadi pemegang saham pengendali, anggota dewan komisaris, anggota direksi,
dan pejabat eksekutif apabila jangka waktu sanksi telah dilalui dan telah menjalani
Penilaian Kemampuan dan Kepatutan dan ditetapkan Lulus.
Penilaian Kemampuan dan Kepatutan dilakukan terhadap faktor
kemampuan dan kepatutan sebagaimana tercantum UU OJK dalam Lampiran IV
Peraturan ini: 24
E. Pengaturan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011
Mengenai Penilaian Kemampuan dan Kepatutan Industri Keuangan
Bank.
Penilaian kemampuan dan kepatutan yang dilakukan terhadap pihak yang
dicalonkan sebagai pihak utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2)
huruf a meliputi:
1. Pihak yang akan menjadi anggota direksi, anggota dewan komisaris, anggota
dewan pengawas syariah, atau anggota badan perwakilan anggota;
2. Pihak yang akan menjadi pemegang saham pengendali;
3. Pihak yang akan menjadi tenaga ahli; dan
24
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
50
4. Pihak yang akan menjadi tenaga kerja asing
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berfungsi menyelenggarakan sistem
pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di
dalam sektor jasa keuangan. OJK melaksanakan tugas pengaturan dan
pengawasan terhadap:
b. Kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan;
c. Kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal; dan
d. Kegiatan jasa keuangan di sektor perasuransian, dana pensiun, lembaga
pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya
Untuk melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sektor
perbankan OJK mempunyai wewenang antara lain :
Pasal 8
Untuk melaksanakan tugas pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
6, OJK mempunyai wewenang:
a. Menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini;
b. Menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
c. Menetapkan peraturan dan keputusan OJK;
d. Menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan;
e. Menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK;
f. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis
terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu;
g. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola status pada
Lembaga Jasa Keuangan;
Universitas Sumatera Utara
51
h. Menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola,
memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan kewajiban; dan
i. Menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.
Pasal 9
Untuk melaksanakan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6, OJK mempunyai wewenang:
a. Menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa
keuangan;
b. Mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala
Eksekutif;
c. Melakukan
pengawasan,
pemeriksaan,
penyidikan,
perlindungan
Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku,
dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam
peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
d. Memberikan perintah tertulis kepada Lembag Jasa Keuangan dan/atau
pihak tertentu;
e. Melakukan penunjukan pengelola status;
f. Menetapkan penggunaan pengelola status;
g. Menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan
pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa
keuangan; dan
h. Memberikan dan/atau mencabut:
Universitas Sumatera Utara
52
1) Izin usaha;
2) Izin orang perorangan;
3) Efektifnya pernyataan pendaftaran;
4) Surat tanda terdaftar;
5) Persetujuan melakukan kegiatan usaha;
6) Pengesahan;
7) Persetujuan atau penetapan pembubaran; dan
8) Penetapan lain, sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan di sektor jasa keuangan.
Universitas Sumatera Utara
Download