Jaksa

advertisement
KEJAKSAAN AGUNG RI
KEJAKSAAN AGUNG RI = KEJAKSAAN RI ?
www.kejaksaan.go.id
TERMINOLOGI HUKUM
DALAM BAHASA INGGRIS






ATTORNEY GENERAL’S OFFICE
PUBLIC PROSECUTION SERVICE
SUPREME PEOPLE’S PROCURATORATE OFFICE
STATE ATTORNEY OFFICE
SOLICITOR GENERAL
CROWN SOLICITOR
TERMINOLOGI HUKUM
BAHASA BELANDA
 Officier van Justitie
 Openbaare Ministrie
 Magistraat
SEJARAH ADHYAKSA
 Majapahit: Dhyaksa, Adhyaksa, Dharma
Adhyaksa
 Mataram: Jaksa/Jeksa
 Cirebon: Jaksa Pepitu
ERA HINDIA BELANDA
 Nederland Indies:
Jaksa Agung pada
Mahkamah Agung, Jaksa pada Pengadilan
Tinggi, Jaksa pada Pada Pengadilan Negeri
 Magistraat dan Hulp Magistraat
 Openbaar Ministrie
 Oficier van Justitie
 RV, HIR, RBG
ERA PENDUDKAN JEPANG
 Undang-Undang pemerintah zaman pendudukan tentara Jepang
No. 1/1942, yang kemudian diganti oleh Osamu Seirei No.3/1942,
No.2/1944 dan No.49/1944. Eksistensi kejaksaan itu berada pada
semua jenjang pengadilan, yakni sejak Saikoo Hoooin
(pengadilan agung), Koootooo Hooin (pengadilan tinggi) dan
Tihooo Hooin (pengadilan negeri). Pada masa itu, secara resmi
digariskan bahwa Kejaksaan memiliki kekuasaan untuk:
 Mencari (menyidik) kejahatan dan pelanggaran
 Menuntut Perkara
 Menjalankan putusan pengadilan dalam perkara kriminal.
 Mengurus pekerjaan lain yang wajib dilakukan menurut hukum
 HIR untuk semua golongan
ERA KEMERDEKAAN
 Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, yang diperjelas
oleh Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 1945.
Isinya mengamanatkan bahwa sebelum Negara R.I.
membentuk badan-badan dan peraturan negaranya
sendiri sesuai dengan ketentuan Undang-Undang
Dasar, maka segala badan dan peraturan yang ada
masih langsung berlaku.
 Kejaksaan seperti zaman hindia Belanda minus RV
ERA ORDE LAMA
 UU No. 15 Tahun 1961 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Kejaksaan RI
 Departemen Kejaksaan
 Kejaksaan Republik Indonesia sebagai alat
Negara penegak hukum dalam menyelesaikan
revolusi sebagai alat revolusi yang terutama
bertugas sebagai penuntut umum
ERA ORDE BARU
 UU No. 5 Tahun 1991
 Kejaksaan Republik Indonesia yang
adalah lembaga pemerintahan yang
melaksanakan kekuasaan negara di
bidang penuntutan serta kewenangan
lain berdasarkan undang-undang
 Jaksa Agung pejabat setingkat Menteri
dan anggota Kabinet
ERA REFORMASI
 UU NO. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI
 Kejaksaan Republik Indonesia yang adalah
lembaga pemerintahan yang melaksanakan
kekuasaan negara di bidang penuntutan serta
kewenangan lain berdasarkan undang-undang
dilaksanakan secara merdeka dan secara satu
dan tidak terpisahkan
 Jaksa Agung pejabat setingkat Menteri
INSTITUSI LEGAL
KEJAKSAAN NEGERI = PENGADILAN NEGRI?
KEJAKSAAN TINGGI = PENGADILAN TINGGI?
KEJAKSAAN AGUNG = MAHKAMAH AGUNG?
STRUKTUR ORGANISASI
VISI DAN MISI
KEJAKSAAN
Instruksi Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: INS-002/A/JA/1/2005
tentang Perencanaan Stratejik dan Rencana Kinerja Kejaksaan RI
tahun 2005

Visi :Mewujudkan Kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum yang
melaksanakan tugasnya secara independen dengan menjunjung tinggi
HAM dalam negara hukum berdasarkan Pancasila
 Misi



Menyatukan tata pikir, tata laku dan tata kerja dalam penegakan
hukum
Optimalisasi pemberantasan KKN dan penuntasan pelanggaran HAM
Menyesuaikan sistem dan tata laksana pelayanan dan penegakan
hukum dengan mengingat norma keagamaan, kesesuliaan,
kesopanan dengan memperhatikan rasa keadilan dan nilai-nilai
kemanusiaan dalam masyarakat
LOGO KEJAKSAAN
Kepja No. 074/1978 dan Perja No. 018/A/J.A/08/2008

Bintang bersudut tiga
Bintang adalah salah satu benda alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang tinggi
letaknya dan memancarkan cahaya abadi. Sedangkan jumlah tiga buah
merupakan pantulan dari Trapsila Adhyaksa sebagai landasan kejiwaan warga
Adyaksa yang harus dihayati dan diamalkan.
Pedang
Senjata pedang melambangkan kebenaran, senjata untuk membasmi
kemungkaran/kebathilan dan kejahatan.
Timbangan
Timbangan adalah lambang keadilan, keadilan yang diperoleh melalui
keseimbangan antara suratan dan siratan rasa.
Padi dan Kapas
Padi dan kapas melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran yang menjadi
dambaan masyarakat.
LOGO KEJAKSAAN
(lanjutan)

Seloka ”Satya Adi Wicaksana”
Merupakan Trapsila Adhyaksa yang menjadi landasan jiwa dan raihan cita-cita
setiap warga Adhyaksa dan mempunyai arti serta makna:
 Satya : Kesetiaan yang bersumber pada rasa jujur, baik terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, terhadap diri pribadi dan keluarga maupun kepada sesama
manusia.
 Adi : kesempurnaan dalam bertugas dan yang berunsur utama,
bertanggungjawab baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap keluarga
dan terhadap sesama manusia.
 Wicaksana : Bijaksana dalam tutur-kata dan tingkah laku, khususnya dalam
penerapan kekuasaan dan kewenangannya.
Makna tata warna
Warna kuning diartikan luhur, keluhuran makna yang dikandung dalam
gambar/lukisan, keluhuran yang dijadikan cita-cita.
Warna hijau diberi arti tekun, ketekunan yang menjadi landasan
pengejaran/pengraihan cita-cita.
INDEPENDENSI
KEJAKSAAN
 Eksekutif atau Yudikatif?
 Magistrate: Sitting Magistrate (rechter/zittende
magistratuur) and Standing Magistrate (officier van
justitie/staande magistratuur)
 People vs John Doe, State vs Jane Doe
WEWENANG KEJAKSAAN
 Di bidang pidana
 Di bidang perdata dan tata usaha negara
 Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman
umum
 Di samping tugas dan wewenang tersebut
dalam Undang-Undang Kejaksaan dapat
diserahi
tugas
dan wewenang lain
berdasarkan undang-undang.
DI BIDANG PIDANA, KEJAKSAAN
MEMPUNYAI TUGAS DAN
WEWENANG:
 melakukan penuntutan;
 melaksanakan penetapan hakim dan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap;
 melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan
putusan
pidana
bersyarat,
putusan
pidana
pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat;
 melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu
berdasarkan undang- undang;
 melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat
melakukan
pemeriksaan
tambahan
sebelum
dilimpahkan
ke
pengadilan
yang
dalam
pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik.
DI BIDANG
PERDATA DAN TATA USAHA
NEGARA
 Kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak
baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan
atas nama negara atau pemerintah.
 Konsep Government’s Law Office
 Solicitor General
 Public Trust Doctrine
DALAM BIDANG KETERTIBAN DAN
KETENTERAMAN UMUM, KEJAKSAAN
TURUT MENYELENGGARAKAN
KEGIATAN:








Peningkatan kesadaran hukum masyarakat;
Pengamanan kebijakan penegakan hukum;
Pengawasan peredaran barang cetakan;
Pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan
masyarakat dan negara;
Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama;
Penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal.
Kejaksaan dapat meminta kepada hakim untuk menempatkan
seorang terdakwa di rumah sakit, tempat perawatan jiwa, atau
tempat lain yang layak karena yang bersangkutan tidak mampu
berdiri sendiri atau disebabkan oleh hal-hal yang dapat
membahayakan orang lain, lingkungan, atau dirinya sendiri
Kejaksaan dapat memberikan pertimbangan dalam bidang hukum
kepada instansi pemerintah lainnya.
DI SAMPING TUGAS DAN WEWENANG
TERSEBUT DALAM UNDANG-UNDANG
KEJAKSAAN RI, KEJAKSAAN DAPAT DISERAHI
TUGAS DAN WEWENANG LAIN BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG.
 Penyidik Tindak Pidana asal (Tindak Pidana Korupsi) sebagai
Penyidik Tindak Pidana Pencucian Uang (UU Tipikor dan UU
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang)
 Membubarkan Perseroan Terbatas (UU PT)
 Permohonan Kepailitan (UU Kepailitan)
 Intelijen Penegakan Hukum (UU Intelijen Negara)
PIMPINAN




KETUA KEJAKSAAN AGUNG RI?
KEPALA KEJAKSAAN RI?
KEPALA KEJAKSAAN AGUNG RI?
KETUA KEJAKSAAN AGUNG RI?

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA RI – KETUA MAHKAMAH AGUNG
JAKSA AGUNG
REPUBLIK INDONESIA
JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA
PEJABAT NEGARA
POSISI JAKSA AGUNG
 Procureur Generaal
 Advocat Generaal
 Parket Generaal
 Setingkat Menteri
 Setingkat Wakil Perdana Menteri
 Setingkat Perdana Menteri
JAKSA AGUNG, WAKIL JAKSA
AGUNG DAN JAKSA AGUNG MUDA
 Jaksa Agung adalah pimpinan dan penanggung jawab
tertinggi kejaksaan yang memimpin, mengendalikan
pelaksanaan tugas, dan wewenang kejaksaan.
 Jaksa Agung dibantu oleh seorang Wakil Jaksa Agung
dan beberapa orang Jaksa Agung Muda.
 Jaksa Agung adalah pejabat negara.
 Jaksa Agung diangkat dan diberhentikan oleh Presiden
WAKIL JAKSA AGUNG RI
(lanjutan)
 Jaksa Agung dan Wakil Jaksa Agung merupakan satu
kesatuan unsur pimpinan.
JAKSA AGUNG MUDA
(lanjutan)
 Jaksa Agung Muda adalah unsur pembantu pimpinan
(bidang Pembinaan, Pidana Umum, Pidana Khusus,
Bidang Intelijen, Bidang Pengawasan, Bidang Perdata
dan Tata Usaha Negara)
LARANGAN RANGKAP
JAKSA AGUNG
Jaksa Agung dilarang merangkap menjadi:








Pejabat negara lain atau penyelenggara negara menurut peraturan
perundang- undangan;
Advokat;
Wali, kurator/pengampu, dan/atau pejabat yang terkait dalam perkara
yang sedang diperiksa olehnya;
Pengusaha, pengurus atau karyawan badan usaha milik negara/daerah,
atau badan usaha swasta;
Notaris, notaris pengganti, atau pejabat pembuat akta tanah;
Arbiter, badan atau panitia penyelesaian sengketa yang dibentuk
berdasarkan peraturan perundang-undangan;
Pejabat lembaga berbentuk komisi yang dibentuk berdasarkan undangundang; atau
Pejabat pada jabatan lainnya yang ditentukan berdasarkan undangundang.
PEMBERHENTIAN
JAKSA AGUNG
Jaksa Agung diberhentikan dengan hormat
dari jabatannya karena:





meninggal dunia;
permintaan sendiri;
sakit jasmani atau rohani terus menerus;
berakhir masa jabatannya;
tidak lagi memenuhi salah satu syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21 (larangan rangkap jabatan)
PEMBERHENTIAN JAKSA AGUNG
(lanjutan)
 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
49/PUU-VIII/2010
TUGAS DAN WEWENANG
JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang:
 Menetapkan serta mengendalikan kebijakan penegakan hukum
dan keadilan dalam ruang lingkup tugas dan wewenang
kejaksaan;
 Mengefektifkan proses penegakan hukum yang diberikan oleh
undang-undang;
 Mengesampingkan perkara demi kepentingan umum;
 Mengajukan kasasi demi kepentingan hukum kepada Mahkamah
Agung dalam perkara pidana, perdata, dan tata usaha negara;
 Dapat mengajukan pertimbangan teknis hukum kepada
Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi perkara pidana;
 Mencegah atau menangkal orang tertentu untuk masuk atau
keluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena
keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
TUGAS DAN WEWENANG JAKSA AGUNG
(lanjutan)







Jaksa Agung memberikan izin kepada tersangka atau terdakwa untuk
berobat atau menjalani perawatan di rumah sakit dalam negeri, kecuali
dalam keadaan tertentu dapat dilakukan perawatan di luar negeri.
Penanggungjawab tertinggi Penuntutan
Melarang beredarnya barang cetakan yang dianggap dapat menggangu
ketertiban umum (dicabut MK)
Jaksa Agung sebagai penyidik dan penuntut umum, mengangkat penyidik
ham ad hoc dan penuntut umum ad hoc (UU Pengadilan HAM)
Membentuk Tim Gabungan untuk Tindak Pidana Korupsi yang sulit
pembuktiannya (UU Tipikor)
Jaksa Agung mengkoordinasikan dan mengendalikan penyelidikan,
penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang dilakukan
bersama-sama oleh orang yang tunduk pada Peradilan Umum dan
Peradilan Militer (UU Tipikor)
Karena jabatan memberikan pendapat terhadap perkara Kasasi yang
belum diputus (UU MA)
JABATAN JAKSA
 FUNGSIONAL
 STRUKTURAL
 PEGAWAI NEGERI SIPIL
JAKSA
 Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi
wewenang
oleh
undang-undang
untuk
bertindak sebagai penuntut umum dan
pelaksana putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap serta
wewenang lain berdasarkan undang-undang.
SYARAT JAKSA
Syarat-syarat untuk dapat diangkat menjadi jaksa:
 Warga Negara Indonesia (WNI);
 Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
 Setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
 Berijazah paling rendah Sarjana Hukum (S.H.);
 Berumur paling rendah 25 (dua puluh lima) tahun dan paling tinggi
35 (tiga puluh lima) tahun;
 Sehat jasmani dan rohani;
 Berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela; dan
 Pegawai Negeri Sipil (PNS).
 Untuk dapat diangkat menjadi jaksa, harus lulus Pendidikan dan
Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ).
SUMPAH JAKSA
Saya bersumpah/berjanji:
 bahwa saya akan setia kepada dan mempertahankan negara
kesatuan Republik Indonesia, serta mengamalkan Pancasila
sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, serta melaksanakan peraturan perundangundangan yang berlaku bagi negara Republik Indonesia;
 bahwa saya senantiasa menjunjung tinggi dan akan menegakkan
hukum, kebenaran dan keadilan, serta senantiasa menjalankan
tugas dan wewenang dalam jabatan saya ini dengan sungguhsungguh, saksama, obyektif, jujur, berani, profesional, adil, tidak
membeda-bedakan jabatan, suku, agama, ras, jender, dan
golongan tertentu dan akan melaksanakan kewajiban saya
dengan sebaik-baiknya, serta bertanggung jawab sepenuhnya
kepada Tuhan Yang Esa, masyarakat, bangsa, dan negara.
SUMPAH JAKSA
(lanjutan)
 bahwa saya senantiasa akan menolak atau tidak menerima atau
tidak mau dipengaruhi oleh campur tangan siapa pun juga dan
saya akan tetap teguh melaksanakan tugas dan wewenang saya
yang diamanatkan undang-undang kepada saya.
 bahwa saya dengan sungguh-sungguh, untuk melaksanakan
tugas ini, langsung atau tidak langsung, dengan menggunakan
nama atau cara apa pun juga, tidak memberikan atau menjanjikan
sesuatu apapun kepada siapa pun juga.
 bahwa saya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu
dalam tugas ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung atau
tidak langsung dari siapa pun juga suatu janji atau pemberian“.
JABATAN PADA
KEJAKSAN RI








PEJABAT NEGARA
PEJABAT FUNGSIONAL
PEJABAT STRUKTURAL
PEGAWAI TATA USAHA
PEGAWAI NEGERI SIPIL
PEJABAT FUNGSIONAL NON JAKSA
PEGAWAI DIPERBANTUKAN
DIHENTIKAN SEMENTARA DARI JABATAN
JAKSA
 TENAGA AHLI/STAF KHUSUS
JAKSA






JAKSA PENYELIDIK
JAKSA PENYIDIK
JAKSA PENELITI
JAKSA PENUNTUT UMUM
JAKSA EKSEKUTOR
JAKSA PENGACARA NEGARA (UU Tipikor)
WEWENANG JAKSA




Sebagaimana KUHAP
Pembatalan Hak Merek
Pembatalan Hak Paten
Pembatalan Perkawinan
TANGGUNGJAWAB
JAKSA
 Profesi
 Yuridis
 Pegawai Negeri Sipil
TANGGUNG JAWAB
JAKSA SEBAGAI PNS
 PP No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin
PNS
 PP No. 37 Tahun 2004 tentang Larangan
PNS sebagai anggota Partai Politik
 PP No 42 Tahun 2004 tentang
Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik
PNS
TANGGUNG JAWAB
JAKSA SECARA YURIDIS




Profesional dan Proporsional
Berhati nurani
Optimalisasi
Rechtmatig dan Doelmatig
KODE ETIK
 Kode Etik (Etika Organisasi)
 Kode Perilaku (Etika Pegawai)
 Kode Praktis (Etika Profesi)
KODE ETIK
 Keputusan
Jaksa
Agung
Nomor
030/JA/03/1988
tentang
Penyempurnaan
Doktrin Kejaksaan Tri Krama Adhyaksa jo
Keputusan Jaksa Agung Nomor 52/JA/08/1979
tentang Doktrin Kejaksaan Tri Krama
Adhyaksa.
 Tri Krama Adhyaksa yaitu sebagai pedoman
yang menjiwai setiap warga Kejaksaan
Republik Indonesia dan terwujudlah dalam
sikap mental yang terpuji, yakni:
KODE ETIK
(lanjutan)
 Satya; setia dan taat serta melaksanakan
sepenuhnya perwujudan nilai-nilai Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 45 serta
peraturan
perundang-undangan
Negara
sebagai warga Negara Kesatuan Republik
Indonesia, abdi negara dan abdi masyarakat.
 Adhi: jujur, berdisiplin dan bertanggung
jawab.
 Wicaksana: bijaksana dan berperilaku terpuji
KODE PERILAKU
 Kode Perilaku, yaitu Peraturan Jaksa Agung
067/A/JA/7/2007 tentang Kode Perilaku Jaksa
Nomor
1. Jaksa adalah Pejabat Fungsional yang diberi wewenang oleh
undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan
pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang;
2. Kode Perilaku Jaksa adalah serangkaian norma sebagai pedoman
untuk mengatur perilaku Jaksa dalam menjalankan jabatan
profesi, menjaga kehormatan dan martabat profesinya serta
menjaga hubungan kerjasama dengan penegak hukum lainnya;
KODE PERILAKU
(lanjutan)
3. Pejabat yang berwenang menjatuhkan tindakan administratif
adalah Pejabat yang karena jabatannya mempunyai wewenang
untuk memeriksa dan menjatuhkan tindakan administratif kepada
Jaksa yang melakukan pelanggaran Kode Perilaku Jaksa;
4. Sidang pemeriksaan Kode Perilaku Jaksa adalah serangkaian
tindakan yang dilakukan oleh pejabat yang berwenang
memberikan tindakan administratif terhadap Jaksa yang diduga
melakukan pelanggaran Kode Perilaku Jaksa.
5. Tindakan administratif adalah tindakan yang dijatuhkan terhadap
Jaksa yang melakukan pelanggaran Kode Perilaku Jaksa.
6. Yang dimaksud dengan perkara meliputi perkara pidana, perkara
perdata dan tata usaha negara maupun kasus-kasus lainnya.
KODE PRAKTIS
Peraturan Jaksa Agung Nomor 066/A/JA/7/2007 tentang Standar
Minimum Profesi Jaksa.
Standar Minimum Profesi Jaksa meliputi :
A. Pengetahuan
 Seorang jaksa dituntut untuk memiliki kemampuan menerapkan
pengetahuan dalam melaksanakan tugasnya, minimal meliputi :
 Ketentuan hukum pidana materiil dan formil;
 Ketentuan hukum perdata materiil dan formil;
 Ketentuan hukum tata usaha negara materiil dan formil;
 Ketentuan intelijen kejaksaan;
 Ketentuan hukum adat di tempat penugasan;
 Ketentuan Hak Asasi Manusia (HAM), baik nasional maupun
instrumen HAM internasional yang sudah diratifikasi oleh
Indonesia;
KODE PRAKTIS
(lanjutan)





Peraturan perundang- undangan tingkat nasional dan daerah;
Konvensi Internasional yang relevan dengan tugas jaksa;
Manajemen umum dan Kejaksaan;
Etika hukum;
Disiplin ilmu lainnya yang menunjang pelaksanaan tugas, fungsi,
dan wewenang;
 Pengetahuan tentang perkembangan ilmu hukum, dan praktik
hukum nasional maupun
B.



Keahlian
Seorang jaksa dituntut untuk memiliki keahlian, yang meliputi :
Penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris;
Mengoperasikan komputer.
ORGANISASI INDUK
 JAKSA PADA ORGANISASI INDUK
 JAKSA DI LUAR ORGANISASI INDUK
PENUNTUT UMUM
 Penuntut Umum adalah jaksa yang diberi
wewenang untuk melakukan penuntutan dan
melaksanakan penetapan hakim (KUHAP dan
UU Kejaksaan RI)
PENUNTUT UMUM
(lanjutan)
 Penuntut Umum Ad Hoc (UU Pengadilan HAM)
Untuk dapat diangkat menjadi penuntut umum ad hoc harus
memenuhi syarat :
a. Warga negara RI;
b. berumur sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun dan
paling tinggi 65 (enampuluh lima) tahun;
c. berpendidikan sarjana hukum dan berpengalaman sebagai
penuntut umum;
d. sehat jasmani dan rohani;
e. berwibawa, jujur, adil, dan berkelakukan tidak tercela;
f. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; dan
g. memiliki pengetahuan dan kepedulian di bidang hak asasi
manusia
PENUNTUT UMUM
(lanjutan)
 Penuntut Umum pada KPK: Penuntut adalah Penuntut Umum
pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang diangkat dan
diberhentikan oleh KomisiPemberantasan Korupsi. Penuntut
adalah Jaksa Penuntut Umum (UU KPK)
 Pimpinan KPK adalah Penyidik dan Penuntut Umum (UU KPK)
PENUNTUT UMUM
(lanjutan)
 Polisi/penyidik sebagai Penuntut Umum untuk Tipiring:
penyidik atas kuasa penuntut umum, dalam waktu tiga hari sejak
berita acara pemeriksaan selesai dibuat, menghadapkan terdakwa
beserta barang bukti, saksi, ahli dan atau juru bahasa ke sidang
pengadilan.
PENUNTUT UMUM
(lanjutan)
 Oditur Militer :Oditur Jenderal dalam melaksanakan tugas di
bidang teknis penuntutan bertanggung jawab kepada Jaksa
Agung Republik Indonesia selaku penuntut umum tertinggi di
Negara Republik Indonesia melalui Panglima, sedangkan dalam
pelaksanaan tugas pembinaan Oditurat bertanggung jawab
kepada Panglima
EEN EN ONDEELBARHEID
 JAKSA SATU DAN TIDAK TERPISAHPISAHKAN
 SINGLE PROSECUTION SYSTEM
 DOMINUS LITIS
ORGANISASI PROFESI
 PERSATUAN JAKSA INDONESIA (PJI)
 INTERNATIONAL ASSOCIATION OF PROSECUTOR
(IAP)
 KELUARGA BESAR PURNA ADHYAKSA (KBPA)
 INTERNATIONAL ASSOCIATION OF ANTI
CORRUPTION AUTHORITIES (IAACA)
KERJASAMA INTERNASIONAL
KEJAKSAAN/JAKSA AGUNG
 China - ASEAN Prosecutors General Conference (Kejaksaan RI
sebagai anggota)
 China – ASEM Prosecutors General Conference (Kejaksaan RI
sebagai RI)
 Eurojust (mitra kerja Kejaksaan dengan Kejaksaan se Uni Eropa)
 Proposal Asiajust (Kejaksaan RI sebagai focal point Indonesia)
PEMBERHENTIAN JAKSA




Hormat
Tidak dengan Hormat
Sementara
PP No.20 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Pemberhentian Jaksa jo UU Kejaksaan
RI
PEMBERHENTIAN
DENGAN HORMAT
Jaksa diberhentikan dengan hormat dari
jabatannya karena:





permintaan sendiri;
sakit jasmani atau rohani terus-menerus;
telah mencapai usia 62 (enam puluh dua) tahun;
meninggal dunia;
tidak cakap dalam menjalankan tugas
PEMBERHENTIAN
TIDAK DENGAN HORMAT
Jaksa diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatannya dengan
alasan:
 dipidana karena bersalah melakukan tindak pidana kejahatan,
berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap;
 terus menerus melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas/
pekerjaannya;
 melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11;
 melanggar sumpah atau janji jabatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10; atau
 melakukan perbuatan tercela.
 Pengusulan pemberhentian tidak dengan hormat dengan alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e
dilakukan setelah jaksa yang bersangkutan diberi kesempatan
secukupnya untuk membela diri di hadapan Majelis Kehormatan Jaksa
PEMBERHENTIAN
SEMENTARA
 Sebelum diberhentikan dengan hormat
 Otomatis: penangkapan dilanjutkan
dengan penahanan
 Penuntutan tidak ditahan: dihentikan
sementara
LARANGAN RANGKAP
BAGI JAKSA
 Pengusaha, pengurus atau karyawan
badan usaha milik negara/daerah, atau
badan usaha swasta
 Advokat
 Anggota partai politik (sebagai PNS)
PENGAWASAN JAKSA
 INTERNAL
 EKSTERNAL
PENGAWASAN INTERNAL

Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2010 Tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kejaksaan RI disebutkan dalam pasal 27 bahwa lingkup bidang
pengawasan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian
pelaksanaan pengawasan atas kinerja dan keuangan intern Kejaksaan,
serta pelaksanaan pengawasan untuk tujuan tertentu atas penugasan
Jaksa Agung Peraturan Presiden Nomor 38 tahun 2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan Republik Indonesia

Sedangkan menurut Inpres Nomor 15 tahun 1983 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengawasan terdapat 2 (dua) bentuk pengawasan yaitu: 1).
Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan / atasan masing-masing
satuan organisasi / satuan kerja terhadap bawahannya atau yang biasa
disebut pengawasan melekat (Waskat); dan 2). Pengawasan yang
dilakukan oleh aparat pengawasan fungsional yang bersangkutan atau
pengawasan fungsional (Wasnal).
PENGAWASAN MELEKAT
Pejabat Waskat

Tingkat Kejaksaan Agung :
 Jaksa Agung Republik Indonesia;
 Pejabat Eselon I;
 Pejabat Eselon II;
 Pejabat Eselon III;
 Pejabat Eselon IV.
Tingkat Kejaksaan Tinggi :
 Kepala Kejaksaan Tinggi dan Wakil
Kepala Kejaksaan Tinggi;
 Pejabat Eselon III;
 Pejabat Eselon IV;
 Pejabat Eselon V.
Tingkat Kejaksaan Negeri :
 Kepala Kejaksaan Negeri;
 Pejabat Eselon IV
 Pejabat Eselon V.
Sasaran Waskat berdasarkan Inpres
nomor 1 tahun 1989 adalah meningkatkan
disiplin serta prestasi kerja serta
pencapaian sasaran pelaksanaan tugas,
menekan
hingga
sekecil
mungkin
penyalahgunaan wewenang dan menekan
hingga sekecil mungkin kebocoran serta
pemborosan keuangan negara dan segala
bentuk pungutan liar. Secara umum
pelaksanaan
pengawasan
melekat
meliputi
kegiatan
pemantauan,
pengamatan,
pemeriksaan,
mengidentifikasi dan menganalisis gejalagejala peyimpangan, perumusan tindak
lanjut yang tepat, permintaan laporan
pelaksanaan
tugas
dari
bawahan,
pemberian penilaian atas hasil kerja
bawahan dan melakukan pembinaan
terhadap bawahan serta
menjalin
kerjasama dengan aparat pengawasan
fungsional
MEKANISME
PENGAWASAN MELEKAT
PENGAWASAN FUNGSIONAL
Bentuk-bentuk pengawasan fungsional berdasarkan PERJA Nomor : PER038/A/JA/12/2009 Tanggal 21 Desember 2009 adalah sebagai berikut:
 Pengawasan di belakang meja (Buril), yang dilakukan atas surat-surat
dan sumber informasi lainnya dengan memperhatikan kecepatan,
ketepatan pengiriman dan format materi laporan, kemudian hasil
penelitiannya dituangkan kedalam bentuk telaahan untuk diteruskan
kepada pimpinan.
 Inspeksi Umum, dilaksanakan berdasarkan Program Kerja Pengawasan
Tahunan (PKPT) dan Program Kerja Pemeriksaan (PKP) yang telah
ditetapkan. Hasil temuan inspeksi umum mengenai hal-hal penting dan
menarik disampaikan kepada satuan kerja yang bersangkutan disertai
pokok-pokok petunjuk penertiban serta harus segera dilaporkan Pimpinan
inspeksi kepada atasan langsung.
 Inspeksi khusus, dilaksanakan untuk melakukan pengawasan terhadap
seluruh kegiatan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi
Kejaksaan RI yang didanai APBN, pengamanan aset negara, keandalan
pelaporan keuangan dan ketaatan terhadap peraturan perundangundangan kerja telah dilaksanakan.
PENGAWASAN FUNGSIONAL
(lanjutan)



Inspeksi
Pimpinan,
dilaksanakan
untuk
menilai,
memotivasi
kepemimpinan pimpinan satuan kerja, dan pelaksanaan pengawasan di
daerah. Inspeksi diakhiri dengan memberikan pengarahan dan petunjuk
penertiban atas hasil inspeksi.
Inspeksi Kasus dan pelaporan, dilaksanakan berdasarkan adanya
dugaan (yang telah diteliti dan ditelaah) penyimpangan atau perbuatan
tercela yang diperoleh dari hasil temuan pengawasan melekat laporan
pengaduan masyarakat yang diterima oleh Pejabat Pengawasan
Fungsional Kejaksaan. Terhadap terlapor dan saksi-saksi dilakukan
pemeriksaan yang dituangkan kedalam berita acara pemeriksaan. Jangka
waktu pelaksanaan inspeksi kasus itu sendiri dilakukan paling lama 30
(tigapuluh) hari kerja, setelah itu pimpinan inspeksi kasus menyampaikan
laporan hasil pemeriksaan disertai berita acara pemeriksaan dan buktibukti pendukung.
Pemantauan, adalah mengecek kembali apakah suatu tindak lanjut
pengawasan ditempat satuan
MEKANISME LAPORAN PENGADUAN
MAJELIS
KEHORMATAN JAKSA





Kep JA : No. 17/A/JA/01/2004 tentang Majelis Kehormatan Jaksa
Majelis Kehormatan Jaksa adalah Satuan Organisasi yang
keanggotaannya ditetapkan oleh Jaksa Agung Republik Indonesia, tugas
dan fungsinya sebagaimana diatur dalam Keputusan Jaksa Agung
Republik Indonesia.
Pemeriksaan adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh Majelis
Kehormatan Jaksa terhadap laporan Hasil Pemeriksaan Jaksa Agung
Muda Pengawasan dan Dokumen pendukungnya atau terhadap Jaksa
yang akan diberhentikan sementara dari jabatannya.
Pemberhentian Jaksa adalah pemberhentian Pegawai Negeri Sipil dari
Jabatan Fungsional Jaksa.
Pembelaan diri adalah pengajuan keberatan dari Jaksa yang diusulkan
untuk diberhentikan atau diberhentikan sementara dari jabatannya baik
secara tertulis maupun secara lisan dihadapan Majelis Kehormatan
Jaksa.
PEJABAT
PENGAWAS FUNGSIONAL
 Tingkat Kejaksaan Agung
 Tingkat Kejaksaan Tinggi
 Tingkat Kejaksaan Negeri









Jaksa Agung RI
Wakil Jaksa Agung RI
Jaksa Agung Muda Pengawasan
(JAM WAS)
Sekretaris JAM WAS
Inspektur
Inspektur Muda;
Kepala Bagian pada JAM WAS
Pemeriksa
Jaksa Fungsional pada JAM
WAS





Kepala Kejaksaan Tinggi;
Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi;
Asisten Pengawasan
Pemeriksa
Jaksa Fungsional pada Asisten
Pengawasan.


Kepala Kejaksaan Negeri;
Pemeriksa
PENGAWASAN
EKSTERNAL
 Masyarakat
 E-Govt;KIP; Quick Win; Simkari II;
www.kejaksaan.go.id
 Mitra kerja dengan Komisi III DPR
 UKP4
 Komisi Kejaksaan RI
KOMISI KEJAKSAAN RI
 Jl. Rambai No. 1 A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp. (021) 7264253, Faks. (021) 7265308
PO.Box : 6108/JKS.GN 12060
 Website : www.komisi-kejaksaan.go.id
TUGAS KOMISI
KEJAKSAAN RI
Komisi Kejaksaan mempunyai tugas :
a. Melakukan pengawasan, pemantauan dan penilaian terhadap
kinerja dan perilaku Jaksa dan/atau pegawai Kejaksaan dalam
melaksanakan tugas dan wewenangnya yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan dan kode etik;
b. Melakukan pengawasan, pemantauan dan penilaian terhadap
perilaku Jaksa dan/atau pegawai Kejaksaan baik di dalam
maupun di luar tugas kedinasan; dan
c. Melakukan pemantauan dan penilaian atas kondisi organisasi,
tata kerja, kelengkapan sarana dan prasarana, serta sumber daya
manusia di lingkungan Kejaksaan.
WEWENANG KOMISI
KEJAKSAAM RI
 Komisi Kejaksaan berwenang:
a. menerima dan menindaklanjuti laporan atau pengaduan masyarakat
tentang kinerja dan perilaku Jaksa dan/atau pegawai Kejaksaan dalam
menjalankan tugas dan wewenangnya;
b. meneruskan laporan atau pengaduan masyarakat kepada Jaksa Agung
untuk ditindaklanjuti oleh aparat pengawas internal Kejaksaan;
c. meminta tindak lanjut pemeriksaan dari Jaksa Agung terkait laporan
masyarakat tentang kinerja dan perilaku Jaksa dan/atau pegawai
Kejaksaan;
d. melakukan pemeriksaan ulang atau pemeriksaan tambahan atas
pemeriksaan yang telah dilakukan oleh aparat pengawas internal
Kejaksaan;
e. mengambil alih pemeriksaan yang telah dilakukan oleh aparat pengawas
internal Kejaksaan; dan
f. mengusulkan pembentukan Majelis Kode Perilaku Jaksa.
REKOMENDASI KOMISI
KEJAKSAAN RI
Komisi
Kejaksaan
rekomendasi berupa:
dapat
menyampaikan
a. penyempurnaan organisasi dan tata kerja serta peningkatan
kinerja Kejaksaan;
b. pemberian penghargaan kepada Jaksa dan/atau pegawai
Kejaksaan yang berprestasi dalam melaksanakan tugas
kedinasannya; dan/atau
c. pemberian sanksi terhadap Jaksa dan/atau pegawai Kejaksaan
sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan sebagaimana
dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010
tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, Kode Etik, dan/atau
peraturan perundang-undangan.
HAK KOMISI KEJAKSAAN
Komisi Kejaksaan:
a. berhak mengikuti gelar perkara terhadap kasus-kasus
yang menarik perhatian publik yang dipimpin oleh
Jaksa Agung;
b. berhak mengikuti gelar perkara terhadap kasus-kasus
dan/atau perkara yang dilaporkan masyarakat kepada
Komisi Kejaksaaan;
c. dapat diangkat menjadi anggota dalam Majelis Kode
Perilaku Jaksa.
FORUM KOORDINASI
 Forum Mahkamah Agung RI, Kementerian
Hukum dan HAM, Kejaksaan RI dan Kepolisian
Negara RI;
 Rapat Koordinasi Terbatas Tingkat Menteri
Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan
 Sidang Kabinet Terbatas bidang Politik,
Hukum, dan Kemanan
STANDAR
PERLINDUNGAN
PROFESI JAKSA
 UN Guidelines on the Role of Prosecutor
 International Association of Prosecutor:
Standard Protection of Prosecutors
UN GUIDELINES
RULE OF PROSECUTOR






Kuallifikasi, seleksi dan pelatihan
Status dan kondisi pelaksanaan tugas
Kebebasan berekspresi dan berorganisasi
Peranan dalam Peradilan Pidana
Fungsi diskresi
Penghentian penuntutan
IAP STANDARD
PROTECTION OF
PROSECUTORS
1.States should take all necessary measures to ensure that public prosecutors,
together with their families, are physically protected by the appropriate state
authorities when their personal security is threatened as a result of the proper
discharge of their functions.
2. In particular, states should provide any necessary security at the workplace, which
includes the courthouse, the public prosecutor’s office and other places where the
public prosecutor exercises official functions, and if necessary should also provide
protection for public prosecutors and their families at home or when travelling.
3. Where security measures are determined to be necessary, states should take all
steps to provide that necessary protection including engaging the police or security
guards. Where it is required, states should also provide the workplace and homes of
prosecutors with appropriate security devices and systems and should provide
prosecutors and their families with appropriate personal protection devices.
4. An appropriate state authority should be given the responsibility to assess the
security risk both to prosecutors generally and to specific prosecutors as well as their
families and to keep all assessments under review at reasonable intervals or when
circumstances change.
IAP STANDARD PROTECTION OF PROSECUTORS
(lanjutan 1)
5.An appropriate state authority should be given the responsibility to provide public
prosecutors and their families with information, training and advice concerning
personal safety.
6. Where the police, the prosecution authority, or any other state authority has
information concerning specific threats or security risks to public prosecutors or their
families they should advise the prosecutor and the prosecutor’s family of that threat
or risk. In such a case an appropriate state authority should carry out an assessment
of that threat or risk and provide all necessary security for the prosecutor and the
prosecutor’s family and advise them concerning any steps they should take to take
care of their own security.
7. Where public prosecutors become aware of specific threats or risks to themselves or
their families they should inform the appropriate state authorities.
8. Where public prosecutors or their families are subjected to violence or threats of
violence, or are harassed, stalked, intimidated or coerced in any manner, or
subjected to any form of inappropriate surveillance, states shall ensure
IAP STANDARD PROTECTION OF PROSECUTORS
(lanjutan 2)
(i) that such incidents are fully investigated,
(ii) that the prosecutor is informed concerning the outcome of the investigations,
(iii) that steps are taken to prevent any recurrence of the incidents and, where
appropriate, to bring criminal charges, and,
(iv)that the prosecutor and his or her family receive any necessary counselling or
psychologicalsupport.
9. In the cases referred to in paragraph 8 the prosecutionauthority should consider
whether there are any other measures of assistance which might be adopted, for
example by deploying additional prosecutors to assist the public prosecutor
concerned.
10. States should consider providing compensation for death or injury caused to public
prosecutors or their families arising from an attack by a person whose motive for the
attack is related to the proper exercise by the prosecutor of his or her functions.
Where measures adopted to counter a threat or a risk cause serious disruption to the
lives of prosecutors or their families compensation should also be considered.
IAP STANDARD PROTECTION OF PROSECUTORS
(lanjutan 3)
11. States and state authorities should take such steps as are practicable to prevent
personal information concerning public prosecutors or their families becoming known
to third parties where this would be inappropriate.
12.States should take special care to assess any security risks and to take appropriate
measures of protection where public prosecutors are likely to be particularly
vulnerable owing to the nature of their work, for example where prosecutors work on
cases concerning terrorism, organised crime, war crimes, crimes against humanity,
the seizure of criminal assets or crimes committed by persons in authority within the
state.
13. Measures for the protection of prosecutors and their families should also be
applied for the benefit of other persons who work for prosecutors or prosecuting
authorities and their families where this is reasonably necessary for their security
and protection.
14. States should designate the particular authorities charged with performing the
duties and functions referred to in this Declaration and should inform public
prosecutors and their families which authorities have been designated for any
particular purpose.
Download