SINOPSIS

advertisement
Rumusan Diskusi Ketahanan Pangan HA-IPB
”BLAK-BLAKAN SOAL KETAHANAN PANGAN”
Diselenggarakan oleh Himpunan Alumni IPB (HA-IPB)
dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
Jakarta, 3 Februari 2010
1. Persoalan pangan memang sangat penting dan harus terus kita pikirkan sekarang
dan pada masa-masa mendatang. Tidak sedikit para pemimpin bangsa yang
mengingatkan betapa pentingnya pangan dalam kehidupan umat manusia. Presiden
Soekarno ketika meletakkan batu pertama pembangunan kampus IPB pada tahun
1952 mengingatkan bahwa persoalan persediaan pangan bagi bangsa Indonesia
merupakan “soal hidup atau mati”. Jawaharial Nehru, salah satu pemimpin besar
India, juga pernah mengatakan: “Everything can wait, not agriculture. First of all,
obviously, we must have enough food. Secondly, other necessities ... “. Walaupun
banyak pemimpin di dunia telah mengingatkan pentingnya ketahanan pangan, tetapi
sayangnya berdasarkan data FAO yang terbaru, di dunia masih terdapat lebih dari 1
milyar penduduk (hampir 1/6 penduduk dunia) menghadapi masalah kekurangan
pangan dan kemiskinan. Kenaikan jumlah penduduk yang kekurangan pangan yang
signifikan dibandingkan tahun lalu (kenaikan sekitar 105 juta) dikarenakan krisis
kembar, yakni krisis finansial dan harga pangan yang meningkat tajam.
2. HA-IPB berpandangan bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan beras, tetapi
meliputi manajemen: (a) ketersediaan pangan, (b) akses pangan, (c) stabilitas (harga)
dan distribusi pangan, serta (d) utilitas dan keamanan pangan.
3. Dalam jangka pendek, peningkatan produksi pangan dan perbaikan sistem produksi
wajib menjadi prioritas utama strategi kebijakan pangan pemerintah. Manajemen stok
pangan dan stabilitasi harga pangan, terutama yang bersifat strategis, tetap perlu
menjadi prioritas. Upaya Indonesia untuk mulai memikirkan “feeding the world”
patut dihargai, tentunya tanpa melupakan manajemen cadangan pangan dalam negeri.
Upaya pengamanan stok pangan dalam negeri harus tetap menjadi prioritas kebijakan
ketahanan pangan Indonesia. Misalnya, surplus produksi beras baru dapat dikatakan
aman jika telah terbukti stabil di atas 3 juta ton secara riil dan berkelanjutan sepanjang
tahun, bukan sekadar 1 juta ton seperti perkiraan saat ini.
4. Pengendalian harga keseimbangan beras di dalam negeri tetap perlu menjadi
perhatian seluruh pengampu kepentingan, karena relatif tingginya harga beras pada
pembentukan laju inflasi nasional. Melonjaknya laju inflasi pada bulan Januari 2010
adalah pengalaman berharga dari manajemen stok pangan pokok yang juga sangat
berhubungan dengan tekanan permintaan beras dari kelompok rumah tangga miskin
dan menengah. Apabila penyaluran beras pada kelompok miskin cukup lancar, maka
rumah tangga miskin ini cukup mengandalkan pasokan beras dari beras subsidi (pada
Program Raskin). Namun, ketika penyaluran Raskin terhambat karena persoalan
birokrasi di tingkat pusat, kelompok miskin (dan menengah) justru terpaksa harus
membeli beras secara komersial. Pada siklus berikutnya, tambahan tekanan
permintaan beras ini – apalagi pada kondisi stok beras yang kritis – justru
menyebabkan lonjakan harga beras.
1
5. Peningkatan produksi dan produktivitas pangan lain seperti jagung dan kedelai juga
perlu menjadi prioritas, misalnya dengan memberikan keleluasaan bagi sektor swasta
untuk mulai bermitra dengan petani jagung dan kedelai. Penjaminan dan kepastian
harga adalah salah satu insentif untuk meningkatkan produksi dan produktivitas.
Akses terhadap teknologi baru, benih unggul, serta ketersediaan irigasi tidak akan
berlangsung seperti diharapkan manakala harga yang diterima petani tidak memadai.
Dua komoditas pangan ini (jagung dan kedelai) memiliki keterkaitan erat dengan
sektor industri manufaktur bidang pangan yang mampu menyerap tenaga kerja
banyak, serta dengan sektor pangan lain, seperti peternakan yang menghasilkan
sumber protein, gizi, energi dan vitamin.
6. Dukungan dan inisiatif pembiayaan dari pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat
(KUR), juga sangat perlu diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan sektor
pertanian umumnya. Catatan tentang pangsa penyerapan KUR di sektor pertanian
yang hanya 22 persen pada tahun 2009 tentu terlalu kecil untuk dibandingkan dengan
pangsa penyerapan KUR di sektor perdagangan yang mencapai 63 persen. Skema
pembiayaan dengan penjaminan kredit seperti KUR ini juga diharapkan dapat
mencegah penurunan kapasitas sistem produksi pangan dan industri secara umum.
7. Dalam hal manajemen input pertanian yang sangat strategis (seperti pupuk dan
benih), HA-IPB menuntut Pemerintah untuk memberikan kepastian hukum "property
rights" terhadap tanah yang dimiliki. Sertifikat tanah tidak hanya memberikan
kepastian untuk aman mengusahakannya tapi juga dapat digunakan untuk mengakses
kredit perbankan. Penggunaan pupuk sebagai input pertanian kini telah berubah,
dibandingkan dengan pada awal Revolusi Hijau dulu. Oleh karena itu, esensi subsidi
pupuk kini telah semakin berubah, bukan tentang adopsi teknologi baru, tapi lebih
kepada strategi pemihakan dan langkah afirmatif manajemen risiko bagi petani
miskin. Ketersediaan pupuk harus dipastikan mencukupi kebutuhan bahkan dapat
diekspor. Bila ketersediaan pupuk mencukupi dan distribusinya dapat dijaga
kelancarannya, maka persoalan pupuk mudah-mudahan tinggal menjadi sejarah.
8. Untuk tercapainya hal tersebut, pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib
memperbaiki aransemen kelembagaan dari sistem produksi, distribusi, sistem harga,
dan mekanisme subsidi pupuk. Tidak hanya untuk pupuk, namun juga untuk input
lainnya yang hingga saat ini masih perlu diberikan kebijakan imperative, upaya-upaya
seperti ini merupakan keharusan. Dan semua ini mensyaratkan suatu policy leadership
yang berwibawa, sistem akuntabilitas, responsibilitas dan kualitas governansi yang
lebih baik.
9. Dalam jangka menengah-panjang. Peningkatan produksi, produktivitas dan nilai
tambah pangan strategis dalam jangka menengah-panjang perlu lebih banyak
berbasiskan aplikasi teknologi baru, varietas baru, termasuk benih hibrida dan produk
bioteknologi yang dihasilkan yang semuanya melalui proses panjang. Indonesia perlu
lebih banyak mengutamakan kemitraaan yang setara antar stakeholders (publicprivate partnership) antara sektor swasta, pemerintah, perguruan tinggi dan elemen
masyarakat madani dalam mengelola sistem nilai tambah (value chain system) yang
menciptakan pertumbuhan berkualitas, tidak hanya mengedepankan aspek
pertumbuhan tetapi juga pemerataan.
2
10. Strategi diversifikasi pangan harus dilakukan secara lebih serius, untuk
mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras, yang saat ini sangat tinggi dan
sering mempengaruhi tekanan permintaan terhadap beras. Langkah awal dapat
dimulai dengan pengembangan sumber pangan lokal, eksotik, bernilai ekonomi tinggi,
mengandung protein, vitamin dan bergizi baik. Kampanye ”makan ikan” dan ”minum
susu” akan mampu memperbaiki kecukupan protein, energi dan vitamin, yang dapat
saja mengurangi tekanan konsumsi terhadap bahan karbohidrat seperti beras yang
sangat sensitif secara ekonomi dan politik. Kemudian, pengindustrian pangan lokal
harus memperoleh dukungan kebijakan yang memadai, mulai dari skema pembiayaan,
insentif perpajakan, dan kemudahan lainnya.
11. Last but not the least, peningkatan daya saing, produksi dan produktivitas pangan
tidak hanya ditentukan oleh persoalan “on farm” saja, tetapi juga persoalan-persoalan
“beyond farm gate” yang sering kali malah lebih penting dibandingkan persoalanpersoalan yang terjadi di tingkat “on farm”. Mengingat faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi, produktivitas dan daya saing tersebut bersifat multi dimensi,
maka kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkannya tidak dapat ditangani secara
parsial, tetapi harus terintegrasi dengan skema kebijakan makroekonomi dan
kelembagaan publik yang lebih luas. Kebijakan yang holistik ini memerlukan
semangat konvergensi nasional. Konvergensi nasional memiliki arti sebagai upaya
mengarahkan seluruh energi bangsa yang mencakup potensi pikiran, kekuatan dan
waktu untuk mewujudkan satu cita-cita, satu tujuan dari seluruh stake holders
pembangunan pertanian dan industri pangan yang lebih berdaya saing, berkeadilan,
berkedaulatan dan berkelanjutan.
3
Download