pengaruh pembelajaran kontekstual berbantuan

advertisement
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN
MEDIA BENDA ASLI TERHADAP HASIL BELAJAR IPA
SISWA KELAS V SD SEMESTER I DI GUGUS
KOLONEL I GUSTI NGURAH RAI
DENPASAR
Kadek Cahya Ningsih1, I Ketut Ardana2, I Komang Ngurah Wiyasa3
1,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail : [email protected], [email protected],
[email protected] 3
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang
belajar menggunakan pembelajaran kontekstual berbantuan media benda asli dengan siswa yang
belajar menggunakan pembelajaran konvensional. Desain penelitian ini adalah the nonequivalent control
group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD se-Gugus Kolonel I Gusti Ngurah
Rai yakni sebanyak 16 kelas. Dengan menggunakan teknik random sampling, diperoleh kelas VB SD
Negeri 4 Ubung sebagai kelompok kontrol dan kelas V SD Negeri 2 Ubung sebagai kelompok
eksperimen. Data hasil belajar IPA dikumpulkan menggunakan tes pilihan ganda. Data yang diperoleh
dianalisis menggunakan teknik statistik parametris yakni uji-t. Hasil analisis data menunjukkan bahwa
rata-rata hasil belajar IPA pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan rata-rata hasil belajar
IPA pada kelompok kontrol. Ini berarti pembelajaran kontekstual berbantuan media benda asli
berpengaruh positif terhadap hasil belajar IPA pada siswa kelas V Semester I SD se-Gugus Kolonel I
Gusti Ngurah Rai Tahun Pelajaran 2013/2014.
Kata-kata kunci : pembelajaran kontekstual, media benda asli, hasil belajar, dan IPA.
Abstract
This study aimed to determine significant differences in students achievement IPA between students who
learn to use contextual teaching learning which assist by original media with students who learn using
conventional learning. This research design is the nonequivalent control group design. The population of
this research consisted of 16 class in the fifth grade elementary Gugus Kolonel I Gusti Ngurah Rai.
Using a random sampling technique, the sampel of this reasearch is Vb class of SD Negeri 4 Ubung as
control groups, dan V SD Negeri 2 Ubung as experiment groups. Data collection method students
achievement IPA of using multiple-choice tests. Data were analyzed using parametric statistical
techniques namely t-test. The results of the data analysis showed that there mean students achievement
IPA of experiment groups are highest between mean students achievement IPA of control groups. This is
means contextual teaching learning which assist by original media positively significant effect on students
achievement IPA in the fifth grade elementary Gugus Kolonel I Gusti Ngurah Rai Academic Years
2013/2014.
Keywords : contextual teaching, original media, students achievement, and IPA.
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
PENDAHULUAN
Pendidikan yang ada di Indonesia
ternyata
telah
mengalami
banyak
perubahan. Perubahan-perubahan tersebut
terjadi karena telah dilakukan berbagai
usaha
pembaharuan
dalam
dunia
pendidikan. Akibat pembaharuan tersebut
pendidikan semakin mengalami kemajuan.
Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka
dewasa ini pendidikan di sekolah-sekolah
telah menunjukkan perkembangan yang
sangat pesat (Ali, 2009). Perkembangan itu
terjadi
karena
terdorong
adanya
pembaharuan tersebut, contohnya seperti
pembaharuan
kurikulum,
pendekatan
pembelajaran,
metode
pembelajaran,
rancangan
rencana
pelaksanaan
pembelajaran,
serta
mediamedia
pembelajaran
yang
akan
dapat
memudahkan guru dalam pembelajaran.
Pada hakekatnya pendidikan meliputi
beberapa kegiatan pembelajaran. Kegiatan
pembelajaran adalah suatu proses interaksi
atau hubungan timbal balik antara guru dan
siswa dalam pembelajaran. Guru sebagai
salah satu komponen dalam pembelajaran
merupakan pemegang peranan yang
sangat penting. Sehubungan dengan
fungsinya
sebagai
pendidik
dan
pembimbing maka diperlukan adanya
berbagai peranan dari guru. Menurut
Sanjaya (2008 : 14) peranan guru adalah
memberikan
bimbingan
agar
siswa
berkembang
sesuai
dengan
tugas
perkembangannya, melatih keterampilan
siswa, memotivasi siswa dan membentuk
siswa yang kreatif.
Guna mencapai tujuan pendidikan
dalam undang-undang nomor 2 Tahun
1989 secara maksirnal yaitu menciptakan
manusia Indonesia yang terdidik yang
beriman dan bertaqwa, sehat jasmani dan
rohani,
memiliki
pengetahuan
dan
keterampilan, kepribadian yang mantap dan
mandiri serta mempunyai tanggung jawab
kemasyarakatan
dan
kebangsaan,
diharapkan guru memiliki pembelajaran
yang kontekstual yang sesuai dengan
konsep-konsep mata pelajaran yang akan
disampaikan (Soedijarto, 2008) . Dari hasil
observasi yang sudah dilakukan di Gugus
Kolonel
I
Gusti
Ngurah
Rai
,
ketidakberhasilan siswa dalam suatu mata
pelajaran dipengaruhi oleh pendekatan
pembelajaran yang digunakan oleh guru.
Pembelajaran
konvensional
yang
digunakan di gugus Kolonel I Gusti Ngurah
Rai yaitu dengan metode ceramah, tanyajawab dan penugasan. Pembelajaran
konvensional merupakan pembelajaran
yang biasa diterapkan guru dalam
melaksanakan
pembelajaran
(Ridwan,
2008). Dengan perkataan lain guru lebih
sering menggunakan cara penyampaian
informasi secara langsung kepada siswa
dengan mengikuti urutan materi dalam
kurikulum secara ketat. Penggunaan
pembelajaran ini siswa tidak perlu mencari
dan menemukan sendiri fakta-fakta, konsep
dan prinsip karena telah disajikan secara
jelas oleh guru. Kegiatan pembelajaran
konvensional cenderung berpusat kepada
guru. Guru aktif memberikan penjelasan
atau informasi pembelajaran secara
terperinci tentang materi pembelajaran.
Di Sekolah Dasar (SD), seperti yang
telah diatur dalam Permendiknas No.22
Tahun 2006 disebutkan bahwa kurikulum
SD/MI memuat 8 mata pelajaran inti. Salah
satu mata pelajaran tersebut adalah
pendidikan IPA. Kata Ilmu Pengetahuan
Alam merupakan terjemahan kata – kata
dalam bahasa inggris yaitu “natural
science”, secara singkat sering disebut
“science”.
Natural
artinya
alamiah,
berhubungan dengan alam atau bersangkut
paut dengan alam. Science artinya ilmu
pengetahuan. Jadi, Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) secara artiah dapat disebut sebagai
ilmu tentang alam ini, ilmu yang
mempelajari peristiwa – peristiwa yang
terjadi di alam ini (Hadiat, 1976 : 3).
Pendidikan IPA menekankan pada
pemberian
pengalaman
untuk
mengembangkan kemampuan siswa agar
mampu menjelajahi dan memahami
lingkungan
alam
secara
ilmiah.
Kemampuan ini akan terwujud apabila
pendidikan IPA berhasil menumbuhkan
kemampuan berpikir alamiah, logis, kritis,
kreatif dan berinisiatif terhadap perubahan
dan pembangunan.
Dalam meningkatkan hasil belajar
harus dengan adanya interaksi antara
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
pendidik dengan peserta didik (Dimyati dan
Mudjiono,
2002).
Sedangkan
dalam
meningkatkan hasil belajar IPA guru harus
memberikan kesempatan penuh kepada
siswa untuk berpikir ilmiah dan kreatif.
Untuk itu siswa diharapkan belajar melalui
pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki
sebelumnya
sehingga
siswa
dapat
memanfaatkan
pengalaman
nyatanya
dalam
kegiatan
pembelajaran
yang
menjadikan kegiatan pembelajaran menjadi
lebih bermakna. Belajar bermakna yang
dimaksud adalah belajar yang dapat
menumbuhkan motivasi siswa untuk
belajar, karena adanya keterkaitan antara
pengalaman dengan konsep yang akan
dipelajari (Hidayat, dkk, 2007). Melalui
belajar yang berasal dari pengalaman
sehari-hari
siswa
membangun
pengetahuannya sendiri mengenai konsep
dalam
pembelajaran
IPA.
Hal
ini
mencerminkan
pembelajaran
dengan
menggunakan pandangan konstruktivistik
pada
pembelajaran
IPA.
Dalam
pembelajaran IPA, selain mengajak siswa
untuk berpikir ilmiah dan memanfaatkan
serta mengaitkan pengalaman nyatanya
dengan apa yang akan mereka pelajari
alangkah bagusnya apabila didukung
dengan
media–media
pembelajaran.
Melalui penggunaan media pembelajaran
akan dapat memperlancar pembelajaran,
sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai.
Media
pembelajaran
juga
berperan
dalam
mengoptimalkan
pembelajaran.
Penggunaan
media
pembelajaran
dapat
menciptakan
pembelajaran
yang
menarik
dan
memudahkan siswa memahami materi
yang disampaikan. Media pembelajaran
yang dapat digunakan dalam pelajaran IPA
adalah media benda asli (nyata). Menurut
Ibrahim, dkk (1992:3) menyatakan bahwa
media benda asli termasuk media atau
sumber belajar yang secara spesifik
dikembangkan sebagai komponen sistem
intruksional untuk mempermudah radar
belajar yang formal dan direncanakan. Hal
tersebut disebabkan karena media benda
asli memungkinkan adanya interaksi
langsung antara siswa dengan apa yang
dipelajari, serta apa yang ada dilingkungan
sekitarnya. Sehingga siswa akan lebih
mudah memahami apa yang sedang
dipelajarinya.
Kenyataan yang terjadi di sekolah
dasar khususnya di gugus Kolonel I Gusti
Ngurah Rai Tahun Pelajaran 2013/2014
siswa
masih
belajar
menggunakan
pembelajaran konvensional berupa metode
ceramah, tanya-jawab dan penugasan.
Dengan
menggunakan
pembelajaran
konvensional ini hasil belajar siswa belum
optimal, hal ini disebabkan karena belum
terlaksana dengan baik pembelajaran
konvensional tersebut di kelas. Maka,
diperlukan
pendekatan
pembelajaran
inovatif demi menciptakan hasil belajar
siswa secara optimal. Pembelajaran inovatif
ini dengan menggunakan pembelajaran
kontekstual
untuk
mengantisipasi
rendahnya hasil belajar siswa khususnya
pada mata pelajaran IPA siswa kelas V SD
Semester I di Gugus Kolonel I Gusti Ngurah
Rai. Pembelajaran kontekstual sangat
berbeda
dengan
pembelajaran
konvensional. Pembelajaran kontekstual
(contextual teaching and learning) adalah
pendekatan pembelajaran yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sehari – hari (Trianto,
2009 : 107).
Dalam penerapannya di kelas,
pembelajaran
kontekstual
tetap
memperhatikan tujuh komponen pokok
pembelajaran
yang
efektif,
yaitu
konstruktivisme
(constructivism),
menemukan
(inquiry),
bertanya
(questioning),
masyarakat
belajar
(learningcommunity),
pemodelan
(modeling),
refleksi
(reflection)
dan
penilaian autentik (authenticassessment)
(Rusman, 2010 : 193). Pendekatan
pembelajaran kontekstual mengharapkan
siswa dapat belajar dalam situasi nyata
lingkungan
siswa
sehingga
siswa
memperoleh membentuk suatu konsep
baru yang bermanfaat bagi kehidupannya..
Pembelajaran dengan konteks keseharian
siswa dalam pembelajaran kontekstual
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
diharapkan menghasilkan dasar – dasar
pengetahuan
sehingga
siswa
dapat
menyelesaikan permasalahan di dalam
kehidupan sehari-hari. Jadi, pemanfaatan
pembelajaran
kontekstual
akan
menciptakan peserta yang aktif, dan
bertanggung jawab terhadap belajarnya.
Penerapan pembelajaran kontekstual akan
mengajak siswa untuk belajar dalam dunia
nyata dan memotivasi siswa untuk
membentuk hubungan antara pengetahuan
dan aplikasinya dengan kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga, warga Negara
dan pekerja.
Untuk itu diperlukan suatu upaya
dalam
rangka
meningkatkan
mutu
pendidikan
dan
pembelajaran
salah
satunya adalah dengan memilih strategi
atau cara dalam menyampaikan materi
pelajaran agar diperoleh peningkatan hasil
belajar siswa salah satunya dalam mata
pelajaran
IPA.
Sudjana
(2006:24)
mengemukakan hasil belajar adalah
kemampuan – kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya. Misalnya dengan membimbing
siswa untuk bersama-sama terlibat aktif
dalam
pembelajaran dan mampu
membantu siswa berkembang sesuai
dengan taraf intelektualnya akan lebih
menguatkan pemahaman siswa terhadap
konsep-konsep yang diajarkan. Sehingga
nilai rata-rata mata pelajaran IPA yang
diharapkan oleh guru dapat meningkat.
Pembelajaran kontekstual berbantuan
media benda asli dilakukan dengan
mempelajarkan siswa sesuai dengan
kehidupan nyata siswa sehari-hari dibatu
dengan
media
pembelajaran
terkait
kehidupannya. Pembelajaran kontekstual
berbantuan media benda asli ini akan
membuat siswa tertarik dalam belajar
sehingga tujuan penelitian dapat tercapai
secara optimal. Tujuan penelitian ini adalah
untuk
mengetahui
perbedaan
yang
signifikan hasil belajar IPA antara siswa
yang
belajar
dengan
pembelajaran
kontekstual berbantuan media benda asli
dengan siswa yang belajar dengan
pembelajaran konvensional pada siswa
kelas V SD semester I di Gugus Kolonel I
Gusti Ngurah Rai
Pelajaran 2013/201.
Denpasar
Tahun
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimen semu dengan rancangan
penelitian nonequivalent control group
design. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah metode tes untuk
mengukur hasil belajar kognitif. Tes yang
digunakan dalam bentuk pilihan ganda
biasa. Tes yang digunakan telah diuji
validitas, daya beda, tingkat kesukaran dan
reliabilitas perangkat tesnya. Berdasarkan
uji validitas dari 50 soal yang diuji diperoleh
43 soal yang valid dan 7 soal yang tidak
valid. Soal yang dipakai adalah 40 soal
yang setelah daya bedanya diperoleh 3
soal kriteria kurang baik, 17 soal cukup
baik, dan 23 soal baik. soal-soal ini
memenuhi kriteria soal mudah 9 soal, sukar
9 soal dan sedang 22 soal. Uji reliabilitas
perangkat tes yang dilakukan menunjukkan
perangkat tes adalah reliabel. Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa
kelas V SD Gugus Kolonel I Gusti Ngurah
Rai Denpasar Tahun Ajaran 2012/2013
yang berjumlah 16 kelas yang terdiri dari
532 orang siswa. Berdasarkan hasil random
sampling diperoleh 2 kelas sebagai sampel
penelitian yaitu kelas VB SD Negeri 4
Ubung dan kelas V satu SD Negeri 2
Ubung Denpasar Tahun Ajaran 2012/2013.
Kedua kelas ini dirandomisasi untuk
menentukan kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol, berdasarkan randomisasi
yang dilakukan tersebut diperoleh kelas VB
SD Negeri 4 Ubung sebagai kelompok
kontrol dan kelas V satu SD Negeri 2
Ubung sebagai kelompok eksperimen.
Penelitian ini menggunakan 2 variabel yaitu
variabel bebas dan variabel terikat. Variabel
bebas
pada
penelitian
ini
adalah
pendekatan kontekstual berbantuan media
benda asli, sedangkan variabel terikat pada
penelitian ini adalah hasil belajar IPA. Hasil
belajar IPA pada penelitian ini diukur pada
ranah kognitif saja. Pada penelitian ini
menggunakan teknik statistik parametrik
yaitu analisis data uji-t (t-test) dengan
menggunakan rumus polled varians
berbantuan
Microsoft
Office
Excel.
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
Sugiyono (2009: 210) yang menyatakan
bahwa, “Statistik parametris memerlukan
terpenuhinya banyak asumsi. Asusmsi yang
utama adalah data yang akan dianalis
harus berdistribusi normal. Selanjutnya
dalam penggunaan salah satu test
mengharuskan data dua kelompok atau
lebih
yang
diuji
harus
homogen”.
Sehubungan dengan persyaratan tersebut,
sebelum melakukan uji-t dilakukan uji
normalitas sebaran data menggunakan
rumus chi kuadrat dan uji homogenitas
varian antar kelompok menggunakan rumus
Uji-F.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi umum hasil penelitian ini
memaparkan tentang rata-rata skor (M),
dan standar deviasi (SD) hasil belajar IPA
siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 2 dan
4 Ubung yang diperoleh dari tes pilihan
ganda dengan 4 pilihan jawaban. Dari data
tes hasil belajar dengan 40 butir soal yang
dilakukan setelah 6 kali perlakuan, tes
diberikan tanggal 5 Juli 2013. Banyak siswa
pada kelompok eksperimen (siswa kelas V
Sekolah Dasar Negeri 2 Ubung) 46 siswa
dan kelompok kontrol (siswa kelas V
Sekolah Dasar Negeri 4 Ubung) 43 siswa.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
hasil belajar IPA yang dicapai siswa yang
belajar dengan pembelajaran kontekstual
berbantuan media benda asli berbeda
dengan siswa yang belajar dengan
pembelajaran
konvensional.
Secara
deskriptif, kelompok belajar yang belajar
dengan
pembelajaran
kontekstual
berbantuan media benda asli yaitu Sekolah
Dasar Negeri 2 Ubung (kelompok
eksperimen) memiliki skor rerata hasil
belajar IPA sebesar 84,52 sedangkan
kelompok
yang
belajar
dengan
pembelajaran Konvensional yaitu Sekolah
Dasar Negeri 4 Ubung (kelompok kontrol)
memiliki skor rerata hasil belajar IPA
sebesar 74,93. Secara umum kelompok
belajar
yang
dibelajarkan
dengan
pendekatan kontekstual berbantuan media
benda asli mempunyai rata-rata yang lebih
tinggi dibandingkan kelompok siswa yang
dibelajarkan menggunakan pembelajaran
konvensional.
Untuk menguji hipotesis dalam
penelitian ini dilakukan analisis data berupa
uji t (t-test) menggunakan rumus polled
varians. Tetapi sebelum melakukan uji-t
diperlukan 2 syarat yang harus dipenuhi
yaitu data berdistribusi normal dan
homogenitas varian.
Analisis normalitas data dilakukan
pada dua kelompok yaitu kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Uji
normalitas dilakukan untuk menyelidiki
bahwa fo (frekuensi observasi) dari gejala
yang diselidiki tidak menyimpang secara
signifikan dari fe (frekuensi empirik) dalam
distribusi normal teoretik dengan ketentuan
H0 : fo = fe dan H1 : fo ≠ fe. Uji normalitas data
terhadap hasil belajar IPA siswa dilakukan
dengan rumus chi-kuadrat.
Berdasarkan analisis yang dilakukan
hasil
uji
normalitas
sebaran
data
menggunakan
rumus
chi-kuadrat
menunjukkan hasil belajar IPA siswa
kelompok eksperimen pada taraf signifikan
5% dan dk= 5 memiliki X2 tabel =11,07 dan
X2hitung=8,04 ini berarti bahwa X2hitung < X2
tabel maka hasil belajar IPA pada kelompok
eksperimen
berdistribusi
normal.
Sedangkan, pada hasil belajar IPA siswa
dikelompok kontrol pada taraf signifikan 5%
dan dk = 5 memiliki X2 tabel = 11,07 dan
X2hitung = 6,34, ini berarti bahwa X2hitung < X2
tabel maka data hasil belajar IPA kelompok
kontrol
juga
berdistribusi
normal.
Berdasarkan uji normalitas sebaran data
terbukti bahwa hasil belajar IPA siswa
kelompok eksperimen maupun kelompok
kontrol berdistribusi normal.
Setelah hasil belajar IPA kedua
kelompok dinyatakan berdistribusi normal
dilakukan uji homogenitas varian antar
kelompok. Uji homogenitas varian antar
kelompok menggunakan Uji-F pada derajat
kebebasan 5% dan db= (42,45) kriteria
homogen jika Fhitung < Ftabel, sebaliknya jika
Fhitung Ftabel maka sampel tidak homogen.
Hasil uji homogenitas varian antar
kelompok menunjukkan dengan taraf
signifikasn 5% dan db=(42,45) diketahui
Ftabel =1,65 dan Fhitung hasil belajar IPA
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
adalah 1,11. Ini berarti, Fhitung < Ftabel,
sehingga
hasil
belajar
IPA
siswa
dikategorikan homogen.
Berdasarkan hasil uji prasyarat yang
telah dilakukan diperoleh bahwa data hasil
belajar IPA kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol berdistribusi normal dan
homogen. Sehingga, pengujian hipotesis
dengan menggunakan uji-t dapat dilakukan.
Pengujian hipotesis menggunakan uji-t
pada taraf signifikan ( ) 5% dengan derajat
kebebasan dk = (n1 + n2 – 2) akan
mengikuti
kriteria
H0
ditolak
jika
t hitung
ttabel , sebaliknya Ha ditolak jika
.
Hipotesis nol adalah tidak terdapat
perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA
antara kelompok siswa yang belajar dengan
pembelajaran
kontekstual
berbantuan
media benda asli dengan kelompok siswa
yang
belajar
dengan
pembelajaran
konvensional pada siswa kelas V SD
Gugus Kolonel I Gusti Ngurah Rai
Denpasar tahun pelajaran 2013/2014.
Sedangkan hipotesis alternatif adalah
terdapat perbedaan yang signifikan hasil
belajar IPA antara kelompok siswa yang
belajar dengan pembelajaran kontekstual
berbantuan media benda asli dengan
kelompok siswa yang belajar dengan
pembelajaran konvensional pada siswa
kelas V SD Gugus Kolonel I Gusti Ngurah
Rai Denpasar tahun pelajaran 2013/2014.
Dari
hasil
perhitungan
uji-t
menggunakan rumus polled varians
diperoleh disajikan hasil pada Tabel 1.
Tabel 1. Tabel Uji Hipotesis Penelitian antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Kelompok Penelitian
Hasil belajar IPA
kelompok kontrol dan
eksperimen
thitung
13,852
Berdasarkan tabel 1 di atas, pada taraf
signifikan 5% dan db=87, diperoleh nilai
ttabel =2,000 dan nilat thitung sebesar 13,852.
Karena nilai thitung lebih dari nilai ttabel (13,852
>2,000), maka hipotesis nol (H0) ditolak. Ini
berarti, terdapat perbedaan yang signifikan
hasil belajar IPA antara kelompok siswa
yang
belajar
dengan
pembelajaran
kontekstual berbantuan media benda asli
dengan kelompok siswa yang belajar
dengan pembelajaran konvensional pada
siswa kelas V SD Gugus Kolonel I Gusti
Ngurah Rai Denpasar tahun pelajaran
2013/2014.
Dalam penelitian ini kedua kelompok
yang dijadikan sampel penelitian sudah diuji
kesetaraannya dan diperoleh kedua
kelompok dinyatakan setara. Hal ini
menunjukkan bahwa sebelum diberikan
perlakukan pada kelompok eksperimen,
kedua kelompok mempunyai kemampuan
awal yang sama sehingga kelompok
ttabel
2.000
Status
H0 ditolak
eksperimen dapat diberikan perlakuan
pendekatan pembelajaran kontekstrual
berbantuan media benda asli dan kelompok
kontrol tetap dibelajarkan menggunakan
pembelajaran konvensional. Pembelajaran
memberikan
6x
pembelajaran
baik
dikelompok eksperimen maupun kelompok
kontrol dan diakhiri dengan pemberian posttest untuk mengetahui hasil belajar IPA
siswa. Secara deskriptif, kelompok yang
belajar dengan pembelajaran kontekstual
berbantuan media benda asli yaitu Sekolah
Dasar Negeri 2 Ubung diperoleh nilai ratarata hasil belajar sebesar 84,52 sedangkan
kelompok
yang
belajar
dengan
pembelajaran konvensional yaitu Sekolah
Dasar Negeri 4 Ubung memiliki nilai ratarata hasil belajar sebesar 74,93. Dilihat dari
nilai rata-rata hasil belajar IPA siswa
kelompok eksperimen memiliki rata-rata
hasil belajar IPA yang lebih tinggi
dibandingkan nilai rata-rata hasil belajar
IPA kelompok kontrol. Tetapi, hal tersebut
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
belum bisa menyatakan bahwa perlakuan
pembelajaran menggunakan pendekatan
kontekstual berbantuan media benda asli
memberikan pengaruh terhadap hasil
belajar IPA. Maka perlu dilakukan pengujian
hipotesis yang lebih lanjut. Hipotesis
alternatif yang diuji adalah terdapat
perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA
antara kelompok siswa yang belajar dengan
pembelajaran
kontekstual
berbantuan
media benda asli dengan kelompok siswa
yang
belajar
dengan
pembelajaran
konvensional pada siswa kelas V SD
Gugus Kolonel I Gusti Ngurah Rai
Denpasar tahun pelajaran 2013/2014.
Berdasarkan hasil uji t yang
menyatakan bahwa pada taraf signifikan
5% dan db=87, diperoleh nilai ttabel =2,000
dan nilat thitung sebesar 13,852. Karena nilai
thitung lebih dari nilai ttabel (13,852 >2,000)
maka hipotesis alternatif diterima, dan
dapat dinyatakan terdapat perbedaan yang
signifikan hasil belajar IPA antara kelompok
siswa yang belajar dengan pembelajaran
kontekstual berbantuan media benda asli
dengan kelompok siswa yang belajar
dengan pembelajaran konvensional pada
siswa kelas V SD Gugus Kolonel I Gusti
Ngurah Rai Denpasar tahun pelajaran
2013/2014.
Perbedaan yang signifikan hasil
belajar antara siswa yang belajar dengan
pembelajaran
kontekstual
berbantuan
media benda asli dengan siswa yang
belajar dengan pembelajaran konvensional
dapat disebabkan adanya perbedaan
langkah– langkah pembelajaran, sumber
belajar dan metode ajar dari kedua
pembelajaran.
Langkah
langkah
pembelajaran
pada
Pembelajaran
kontekstual berbantuan media benda asli
sangat
jelas
dan
konsisten
yaiu;
kontruktivisme (Constructivism), bertanya
(Questioning),
menemukan
(Inquiry),
masyarakat belajar (Learning Community),
pemodelan (Modeling), refleksi atau umpan
balik (reflection) dan penilaian sebenarnya
(Authentic Assessment), yang diselaraskan
dengan bantuan media benda asli. Hal
tersebut sesuai dengan kurikulum tingkat
satuan pendidikan yang lebih banyak
mengarah pada aktivitas belajar siswa
dalam memenuhi kepentingan pencapaian
proses dan hasil belajar. Sedangkan
pembelajaran
konvensional
tidak
menggunakan
langkah
–
langkah
pembelajaran yang konsisten, yang hanya
menyesuaikan dengan keinginan guru pada
saat membelajarkan siswa, sehingga siswa
cenderung hanya sebagai pelaku belajar
yang pasif.
Hasil penelitian ini telah membuktikan
hipotesis yang diajukan, yaitu terdapat
perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA
siswa antara kelompok yang belajar dengan
pembelajaran
kontekstual
berbantuan
media benda asli dengan kelompok yang
belajar dengan pembelajaran konvensional
pada kelas V SD semester I di Gugus
Kolonel I Gusti Ngurah Rai Denpasar
Tahun
Pelajaran
2013/2014.
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Indriapsari (2012) yang
menyatakan bahwa terdapat perbedaan
hasil belajar IPA antara siswa yang belajar
menggunakan pendekatan pembelajaran
kontekstual dengan siswa yang belajar
menggunakan pembelajaran konvensional
pada siswa kelas IV SD Negeri SeKecamatan
Tasikmadu
Kabupaten
Karanganyar Tahun Ajaran 2012.
Berdasarkan seluruh temuan yang
diperoleh melalui analisis uji-t serta hasil
penelitian yang mendukung, maka dapat
diberikan justifikasi bahwa pendekatan
kontekstual berbantuan media benda asli
memang memberikan pengaruh yang lebih
baik daripada pembelajaran konvensional
dalam pencapaian hasil belajar IPA yang
optimal. Alasan yang dapat dijadikan dasar
penentu bahwa pendekatan kontekstual
berbantuan media benda asli lebih baik
dalam menciptakan hasil belajar yang
maksimal
dibandingkan
pembelajaran
konvensional adalah beranjak dari teoretik
komparatif antara pendekatan kontekstual
berbantuan media benda asli dengan
pembelajaran konvensional. Pembelajaran
kontekstual adalah dalah konsep belajar
yang membantu guru mengaitkan antara
materi pembelajaran dengan situasi dunia
nyata siswa, dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
dalam kehidupan mereka sehari – hari
(Muslich, 2009 : 41).
Media benda asli adalah media atau
sumber belajar yang secara spesifik
dikembangkan sebagai komponen sistem
intruksional untuk mempermudah radar
belajar yang formal dan direncanakan
Ibrahim, dkk (1992:3). Media benda asli
memiliki kelebihan atau keunggulan.
Kelebihan tersebut lain: (1) dapat
membantu guru dalam menjelaskan
sesuatu
kepada
siswa,
(2)
dapat
memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mempelajari situasi yang nyata, dan
(3) dapat melatih keterampilan siswa
menggunakan
alat
indera
(Rusyan,
1993:199).
Pembelajaran konvensional lebih
ditekankan
pada
kebebasan
dalam
keteraturan, artinya guru bebas mendesain
pembelajaran tetapi tetap wajib mengikuti
alur pembelajaran yang telah ditetapkan
dalam PERMENDIKNAS No.41 yaitu
eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.
Pembelajaran konvensional ini dalam
prakteknya kurang menekankan interaksi
yang baik yang seimbang antara siswa dan
antara siswa dengan gurunya. Aktivitas
siswa
dalam
pembelajaran
kurang
dioptimalkan, siswa kurang dilatih untuk
mendeskripsikan sendiri pengetahuan yang
telah dimilikinya serta siswa kurang dilatih
untuk menjadi pemimpin diskusi yang
mampu bertanggungjawab. Secara garis
besar kegiatan pembelajaran ini meliputi (1)
kegiatan pendahuluan yang terdiri dari
absensi, apersepsi, penyampaian tujuan
pembelajaran dan memotivasi siswa, (2)
kegiatan inti yang terdiri dari eksplorasi,
elaborasi dan konfirmasi, (3) kegiatan
penutup yang terdiri dari kegiatan
menyimpulkan
hasil
pembelajaran,
penilaian, refleksi, umpan balik dan tindak
lanjut. Proses apersepsi dan elaborasi juga
kurang memberikan aktivitas belajar yang
menyenangkan bagi siswa sehingga pada
pembelajaran IPA tercipta suasana yang
kurang kondusif dan mengakibatkan
pemahaman dan ingatan siswa terhadap
suatu konsep kurang optimal.
Beberapa kendala yang ditemui
selama pembelajaran dalam penelitian ini
untuk menguji pengaruh pendekatan
kontekstual berbantuan media benda asli
terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V
semester 1 di gugus Kolonel I Gusti Ngurah
Rai tahun pelajaran 2013/2014 sebagai
berikut.
Pertama, daya dukung sekolah
berupa penyedian fasilitas dan media
pembelajaran kurang memadai, sehingga
peneliti berupaya menciptakan mediamedia benda asli sesuai materi yang akan
disajikan.
Kedua, penyiapan media benda asli
yang sesuai dengan materi pembelajaran
yang mempermudah siswa memahami
materi memerlukan banyak pertimbangan
sehingga hal ini memerlukan masukan dari
pada guru di SD Negeri 2 Ubung dan SD
Negeri 4 Ubung.
Ketiga, pelaksanaan diskusi dan
pengerjaan tugas keompok yang diberikan
pada masing-masing kelompok terkadang
masih didominasi oleh beberapa orang
siswa saja, sedangkan siswa lainnya hanya
memperhatikan temannya bekerja saja.
Untuk menanggulangi masalah ini, peneliti
melakukan penilaian secara otentik selama
pembelajaran yang telah diinformasikan
kepada
siswa
sebelumnya.
Dengan
demikian,
siswa
diharapkan
dapat
memotivasi diri untuk melaksanakan
kegiatan diskusi dengan baik.
Keempat, siswa belum terbiasa dalam
melaksanakan kegiatan presentasi di depan
kelas. Mereka terlihat masih saling tunjuk
dengan siswa lain untuk menjadi penyaji
yang memaparkan hasil diskusi kelompok.
Untuk mengatasi permsalahan ini, peneliti
memberikan tindakan tegas kepada siswa
yang tidak mau mempresentasikan hasil
kerjanya dengan meminta salah satu
anggota kelompok bersangkutan untuk
maju ke depan dan memaparkan hasil
diskusi kelompoknya.
Berbagai temuan dan kendala dalam
penelitian ini memiliki implikasi sebagai
berikut. Pertama, mengelompokkan siswa
dalam pembelajaran perlu dilakukan karena
dapat melatih siswa berpartisifasi aktif
untuk memecahkan suatu permasalahan.
Kedua,
pemberian
tugas
sebelum
pembelajaran terkait materi yang dibahas di
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
kelas perlu dilakukan untuk melatih siswa
agar terbiasa dalam mempersiapkan diri
sebelum pembelajaran di kelas. Ketiga,
pendekatan kontekstual berbantuan media
benda asli dapat digunakan sebagai salah
satu alternatif pendekatan pembelajaran
untuk mengoptimalkan hasil belajar IPA
siswa.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilaksanakan maka dapat disimpulan
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
hasil belajar IPA antara kelompok siswa
yang
belajar
dengan
pembelajaran
kontekstual berbantuan media benda asli
dengan kelompok siswa yang belajar
dengan pembelajaran konvensional kelas V
SD semester I di Gugus Kolonel I Gusti
Ngurah Rai Denpasar Tahun Pelajaran
2013/2014.
Hasil
penelitian
yang
menunjukkan thitung lebih besar dari pada
ttabel yaitu 13,582 > 2,000 dan didukung oleh
perbedaan skor rata – rata yang diperoleh
antara siswa yang mendapat perlakuan
(treatment)
pembelajaran
kontekstual
berbantuan media benda asli yaitu 84,52
dan
siswa
yang
belajar
dengan
pembelajaran konvensional yaitu 74,93 oleh
karena itu hipotesis alternatif diterima. Hal
ini
berarti,
pendekatan
kontekstual
berbantuan media benda asli berpengaruh
terhadap hasil belajar IPA pada siswa kelas
V SD semester 1 di gugus Kolonel I Gusti
Ngurah Rai Denpasar Tahun Pelajaran
2013/2014.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka
dapat dikemukakan beberapa saran
kepada siswa, guru, sekolah dan instansi
terkait sebagai berikut, (1) kepada siswa,
diharapkan siswa lebih termotivasi untuk
belajar
karena
dengan
pendekatan
kontekstual ini siswa diberikan kesempatan
dan berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya sebagai sumber belajar, (2)
kepada guru, diharapkan guru menerapkan
pendekatan pembelajaran kontekstual
berbantuan media benda asli pada
pembelajaran IPA karena telah terbukti
bahwa pendekatan kontekstual berbantuan
media benda asli berpengaruh terhadap
hasil belajar IPA, (3) kepada sekolah
diharapkan terus memperikan dukungan
kepada
guru
yang
melaksanakan
pembelajaran menggunakan pendekatan
pembelajaran inovatif seperti pendekatan
kontekstual, (4) kepada instansi terkait
diharapkan terus melaksanakan kebijakankebijakan pemerintah tentang pendekatan
pembelajaran yang inovatif demi tercapai
hasil belajar yang optimal.
DAFTAR RUJUKAN
Ali, Muhammad. 2009. Pendidikan untuk
Pembangunan Nasional. Jakarta:
Grasindo
Dimyati & Mudjiono. 2002. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Hadiat. 1976. Metodologi Ilmu Pengetahuan
Alam. Jakarta : Depdikbud.
Hidayat, dkk. 2007. Ilmu dan Aplikasi
Pendidikan. Jakarta: Grasindo
Ibrahim,dkk. 1992/ 1993. Perencanaan
Pembelajaran Depdikbud.
Indriapsari,Titis.2012.
Pengaruh
Penggunaan Model Pembelajaran
Kontekstual Terhadap Hasil Belajar
Ipa Siswa Kelas IV SD Negeri SeKecamatan Tasikmadu Kabupaten
Karanganyar Tahun Ajaran 2012.
Surakarta:
Universitas
Sebelas
Maret
Muslich, Masnur. 2009. Pembelajaran
Berbasis
Komptensi
dan
Kontekstual. Jakarta : Bumi Aksara.
Ridwan. 2008. “Ketercapaian Prestasi
Belajar”.
Tersedia
pada
http://ridwan202.
wordpress.com/2008/05/03/ketercap
aian-prestasi-belajar/. Diakses pada
tanggal 20 November 2012.
Rusman.
2010.
Model
–
model
Pembelajaran. Bandung : Rajawali
Pers.
Rusyan, T. 1993. Pendidikan Dalam Proses
Pembelajaran.
Bandung:
Bina
Budaya.
Sanjaya ,Wina. 2008. Kurikulum dan
Pembelajarn
.Jakarta:
Prenada
Media Group.
Soedijarto 2008. Landasan dan Arah
Pendidikan Nasional Kita. Jakarta:
Gramedika
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)
Sugiyono.
2009.
Metode
Penelitian
Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D). Bandung:
Alfabeta
Trianto.
2009.
Mendesain
Model
Pembelajaran Inovatif-Progresif :
Konsep,
Landasan
dan
Implementasinya pada Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jakarta : Kencana.
Download