Penerapan Strategi Inkuiri Melalui Eksperimen Untuk Meningkatkan

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Strategi Inkuiri
Istilah inkuiri berasal dari bahasa inggris inquiry, yang secara
harafiah adalah the process of investigating a problem. Strategi inkuiri
merupakan suatu cara yang diterapkan dalam proses pembelajaran yang
lebih menekankan pada pengembangan kemampuan pemecahan masalah
yang terbatas pada disiplin ilmu. Menurut Sanjaya, (2010: 196) yang
menyatakan
bahwa,
strategi
inkuiri
adalah
rangkaian
kegiatan
pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan
analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah
yang dipertanyakan.
Melalui
strategi
ini
guru
akan
membantu
mengembangkan keterampilan dan sikap percaya diri siswanya dalam
memecahkan masalah yang dihadapinya. Inkuiri merupakan strategi yang
berpusat pada siswa, yang mengharuskan siswa untuk berfikir secara kritis
terhadap suatu maslah yang telah dihadapinya.
Strategi inkuiri merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan
guru untuk mengajar di depan kelas ( Roestiyah, 2001: 75). Strategi inkuiri
adalah strategi pembelajaran yang dalam penyampaian bahan pelajarannya
tidak dalam bentuknya yang final, tidak langsung. Artinya, dalam
penyampaian strategi inkuiri peserta didik sendirilah yang diberi peluang
untuk mencari (menyelidiki/meneliti) dan memecahkan sendiri jawaban
(permasalahan) dengan mempergunakan teknik pemecahan masalah.
Sementara itu, guru hanya sebagai fasilitator atau pengarah yang harus
memberikan informasi yang relevan. Untuk mendapatkan hasil pemecahan
jawaban atas permasalahan, maka dibuat kelompok kecil untuk
mempermudah jalannya penemuan. Sehingga dalam kegiatan ini, siswa
dituntut untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik
7
8
menyadari masalah, mengajukan pertanyaan, selanjutnya menghimpun
informasi sebelum mengambil keputusan.
Menurut Gulo ( Trianto, 2007: 135) menyatakan strategi inkuiri
berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal
seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara
sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan
sendiri penemuannya dengan rasa percaya diri. Sehingga inkuiri dapat
dikatakan sebagai suatu kegiatan yang menekankan kemampuan berfikir
siswa dan melibatkan siswa secara penuh untuk dapat menemukan sesuatu
yang baik. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa,
strategi inkuiri adalah sebuah strategi yang berpusat pada siswa yang
menuntut tingkat pemikiran yang tinggi, karena harus dapat memecahkan
masalah yang telah dihadapi sehingga dapat menimbulkan suatu
penemuan-penemuan baru.
Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran
inkuiri oleh Sanjaya (2010: 196-197) adalah sebagi berikut:
1. Strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar
Artinya menekankan siswa kepada aktivitas siswa secara
maksimal dalam proses pembelajaran. siswa tidak hanya berperan
sebagai penerima pelajaran melalui penjelassan guru secara verbal,
tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi
pelajaran itu sendiri.
2. Seluruh aktivitas syang dilakuakn siswa diarahkan untuk mencari dan
menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan.
Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri,
dengan demikian strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru
bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan
motivator belajar siswa. aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan
degan tanya jawab antara guru dengan siswa. oleh sebab itu
kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan
syarat utama dalam melakukan inkuiri.
9
Sund Throwbridge (Hamruni, 2012: 144) mengemukakan delapan
macam model pembelajaran inkuiri, akan tetapi yang sering digunakan
hanya tiga macam model yaitu:
a. Inkuiri terbimbing ( guide inquiry )
Pada inkuiri terbimbing pelaksanaan penyelidikan dilakukan siswa
berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan umumnya
berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang membimbing.
b. Inkuiri bebas ( free inquiry )
Pada inkuirri bebas siswa melakukan penelitian sendiri bagaikan
seorang ilmuan. Masalah dirumuskan sendiri, eksperimen dilakukan
sendiri, dan kesimpulan konsep diperoleh sendiri.
c. Inkuiri bebas yang dimodifikasi ( modified free inquiry )
Pada inkuiri ini guru memberikan permasalahan dan kemudahan siswa
diminta
memecahkan
masalah
tersebut
melalui
pengamatan,
eksplorasi, prosedur penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan inkuiri terbimbing.
Dimana guru hanya sebagai fasilitator yang membangkitkan semangat
siswa untuk melakukan sebuah penemuan.
Strategi inkuiri dapat dilaksanakan, apabila memenuhi syarat-syarat
berikut:
1. Guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk
diajukan dikelas dan sesuai dengan nalar siswa SD.
2. Guru harus terampil menumbuhkan motivasi
belajar dan
menciptakan situasi belajar yang menyenangkan.
3. Fasilitas dan sumber belajar cukup.
4. Adanya kebebasan siswa mengemukakan pendapat, berkarya serta
berdiskusi.
5. Adanya partisipasi siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran
6. Tidak banyak campur tangan dan interverensi terhadap siswa.
10
Sanjaya, (2010: 199) mengungkapkan dalam penggunaan
strategi inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan
oleh setiap guru, diantaranya:
a. Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah mengembangkan
kemampuan berpikir. Tidak sebatas penguasaan materi tetapi
sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sendiri.
b. Prinsip interaksi
Guru tidak menempatkan diri sebagai sumber belajar tetapi
sebagai
pengatur
interaksi
agar
siswa
mengembangkan
kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
c. Prinsip bertanya
Guru berperan sebagai penanya karena kemampuan siswa untuk
menjawab pertanyaan merupakan sebagian proses dari berpikir.
d. Prinsip untuk berpikir
Belajar bukan sekedar mengingat fakta tetapi proses berpikir
(learning how to think ), yakni proses mengembangkan potensi
seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan.
e. Prinsip keterbukaan
Tugas guru dalah sebagai fasilitator yang memberikan ruang
untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan
hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis
yang diajurkannya.
Untuk menciptakan kondisi yang demikian, peran guru
sangat menentukan keberhasilan strategi inkuiri. Guru tidak lagi
sebagi pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi.
Oleh karena itu peran guru dalam menerapkan strategi inkuiri
(Trianto, 2011: 136) adalah sebagai berikut:
11
a. Motivator, guru memberi rangsangan agar siswa aktif
dan bergairah berfikir.
b. Fasilitator, guru menunjukkan jalan keluar jika siswa
mengalami kesulitan.
c. Penanya, guru menyadarkan siswa dari kekeliruan yang
mereka buat.
d. Administrator,
guru
bertanggung jawab
terhadap
seluruh kegiatan kelas.
e. Pengarah, guru memimpin kegiatan siswa untuk
mencapai tujuan yang diharapkan.
f. Manager, guru mengelola sumber belajar, waktu, dan
organisasi kelas.
g. Rewarder, guru memberi penghargaan pada prestasi
yang dicapai siswa.
Ada 5 tahap dalam melaksanakan strategi inkuiri, yakni: (1)
perumusan
masalah
harus
dipecahkan
oleh
siswa;
(2)
menetapkan jawaban sementara atau hipotesis; (3) siswa mencari
informasi, data fakta
yang diperlukan untuk menjawab
permasalahan/ hipotesis; (4) menarik kesimpulan jawaban atau
generalisasi; (5) mengaplikasikan kesimpulan/ generalisasi dalam
situasi baru.
a) Langkah-langkah pembelajaran dengan strategi inkuiri, antara lain:
1) Siswa dikumpulkan dalam tiap kelompok, yang dalam
kelompok itu terdapat ketua kelompok.
2) Guru mengajukan pertanyaan dalam bentuk LKS
3) Siswa melakukan diskusi dan percobaan dengan bimbingan
guru
4) Keterangan-keterangan yang terkumpul dari hasil percobaan
diolah atau diklarifikasikan dalam laporan kerja kelompok.
5) Laporan hasil diskusi kelompok
6) Tanggapan siswa dari kelompok lain.
12
7) Guru memberikan penegasan dan penguatan terhadap hasil
diskusi siswa dan menarik kesimpulan umum.
Dalam
Sanjaya
(2010:202)
dan
Hamruni
(2012:138)
menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri dilakukan dengan
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina
suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang
dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
(a) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang
diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
(b) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan
oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan
langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai
dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai
dengan merumuskan kesimpulan
(c) Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal
ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar
siswa.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah yang membawa
siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki.
Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang
siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam
rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong
untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban
itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh
karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh
pengalaman
yang
sangat
berharga
sebagai
mengembangkan mental melalui proses berpikir.
upaya
13
3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan
yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji
kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru
untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis)
pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai
pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat
merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan
berbagai
perkiraan
kemungkinan
jawaban
dari
suatu
permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi
yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan
proses mental yang sangat penting dalam pengembangan
intelektual.
Proses
pemgumpulan
data
bukan
hanya
memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi
juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan
potensi berpikirnya.
5. Menguji hipotesis
Menguji
hipotesis
adalah
menentukan
jawaban
yang
dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang
diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis
juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional.
Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya
berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh
data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan
temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
14
Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru
mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
b) Kelebihan dan kelemahan strategi inkuiri
1. Kelebihan strategi inkuiri
Adapun kelebihan strategi inkuiri ini menurut Roestiyah
(2001: 76-77) adalah:
1) Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept”
pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang
konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
2) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada
situasi proses belajar yang baru.
3) Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatifnya
sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka.
4) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan
hipotesisnya sendiri.
5) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
6) Situasi proses belajar menjadi merangsang.
7) Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
8) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
9) Siswa dapat menghindari dari cara-cara belajar yang
tradisional.
10) Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya
sehingga
mereka
dapat
mengasimilasi
dan
mengakomodasi informasi.
2. Adapun kekurangan dari pembelajaran menggunakan
strategi inkuiri adalah
(1) Sulit mengontrol kegiatan keberhasilan siswa
(2) Sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentur
dengan kebiasaan siswa mengajar.
15
(3) Kadang-kadang
dalam
mengimplementasikannya
memerlukan waktu yang panjang sehingga sering kali
terjadi kesulitan pada guru untuk menyesuaikannya
dengan waktu yang ditentukan.
(4) Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh
kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, strategi
pembelajaran inkuiri akan sulit diimplementasikan
2.1.2
Eksperimen
Menurut Roestiyah (2001: 80) eksperimen adalah suatu cara
mengajar dimana siswa melakukan suatu percobaan tentang suatu hal
mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya kemudian hasil
pengamatan itu disampaikan di kelas dan dievaluasi oleh guru. Sedangkan
menurut Sumantri ( 1998:157) dapat diartikan sebagai cara belajar
mengajar yang melibatkan siswa secara aktif dengan mengalami dan
membuktikan sendiri proses dan hasil percobaan itu.
Menurut
Rusyan
(1993:
110)
menangaburkan
pengertian
eksperimen dengan kerja laboratorium, meskipun kedua pengertian ini
mengandung prinsip yang hampir sama , namun berbeda dalam
konotasinya.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diuraikan, dapat
disimpulkan bahwa eksperimen adalah suatu cara mengajar yang efektif
dengan melakukan percobaan yang dilakukan secara perorangan atau
kelompok yang dilakukan secara mandiri dengan mengikuti suatu proses
mengamati suatu objek menganalisis membuktikan dan menarik
kesimpulan
sendiri
tentang
objek
yang
dipelajarinya
sehingga
menimbulkan siswa aktif dalam melaksanakan sebuah kegiatan.
a. Tujuan menggunakan eksperimen
1) Mengajar bagaimana menarik kesimpulan dari berbagai fakta,
informasi, atau data yang berhasil dikumpulkan melalui
pengamatan terhadap proses percobaan.
16
2) Mengajar bagaimana menarik kesimpulan dari fakta yang
terdapat padahasil eksperimen melalui percobaan yang sama.
3) Melatih siswa merancang mempersiapkan, melaksanakan
melaksanakan dan melaporkan hasil percobaan.
4) Melatih siswa menggunakan logika induktif untuk menarik
kesimpulan dari fakta, informasi atau data yang terkumpul
melalui percobaan
b. Kelebihan Menggunakan Eksperimen
1) Eksperimen ini dapat membuat siswa lebih percaya akan
kebenaran atau kesimpulan bebrdasarkan percobaan yang
dilakukan dari pada hanya menerima kata dari guru atau buku.
2) Siswa dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi
eksplorasi (menjelajahi) ilmu dan teknologi, suatu sikap yang
dituntut dari seorang ilmuan.
3) Dengan menggunakan eksperimen ini, dapat menemukan
sesuatu dari hasil percobaannya sehingga dapat bermanfaat
bagi kesejahteraan hidup manusia.
4) Dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa.
5) Dapat membina kebiasaan belajar kelompok maupun individu
c. Kelemahan Menggunakan Eksperimen
1) Kurangnya alat untuk melakukan percobaan sehingga tidak
semua siswa melakukan percobaan.
2) Memerlukan waktu yang cukup lama.
2.1.3 Hasil Belajar
Sudjana (2011: 22) menyatakan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima
pengalaman belajarnya. Hasil belajar juga dapat diartikan dari sebuah
kemampuan yang telah dimiliki oleh seorang individu terutama siswa
setelah mengalami kegiatan pembelajaran.
17
Menurut Agus Suprijono (2012: 5), hasil belajar adalah pola-pola
perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan
ketrampilan. Sedangkan menurut Hamzah B. Uno (2007:213), hasil belajar
adalah perubahan perilaku yang relatif menetap dalam diri seseorang
sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya. Suatu
perubahan yang relatif menetap atau bertambah itu dapat disebut dengan
hasil belajar, karena bisa disebakan oleh interaksi antara individu dan
lingkungan disekitarnya.
Benyamin S. Bloom (Gay, 1985: 72-76; Gagne dan Berliner, 1984:
57-60) dalam Anni, Tri Catharina (2004: 6) mengusulkan tiga taksonomi
yang disebut dengan ranah belajar, yaitu:
a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir. Ada
enam jrenjang dalam ranah ini, antara lain: pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Ranah Afektif
Pada ranah afektif berhubungan dengan minat, perhatian, sikap,
emosi, penghargaan, proses interalisasi dan pembentukan
karakteristik diri. Ada lima jenjang penerimaan pada ranah ini,
yaitu:
penerimaan,
penanggapan,
penghargaan,
pengorganisasian, dan penjati diri.
c. Ranah Psikomotor
Pada ranah ini berhungungan dengan kemampuan gerak atau
manipulasi yang bukan disebabkan oleh kematangan biologis.
Kemampuan gerak atau manipulasi tersebut dikendalikan oleh
kematangan psikologis.
Pencapaian hasil belajar yang optimal dipengaruhi oleh banyak
faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern (Slameto, 2010):
1.
Faktor Intern
18
Faktor intern adalah faktor yang mempengaruhi hasil belajar
siswa yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor intern terbagi
menjadi tiga, yaitu faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor
kelelahan.
a) Faktor Jasmaniah
Faktor jasmaniah yang mempengaruhi hasil belajar siswa
terdiri dari dua, yaitu faktor kesehatan dan cacat tubuh.
1) Faktor Kesehatan
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatannya
terganggu,
selain
itu
juga
akan
cepat
lelah,
kurang
bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badan lemah, dan
kelainan– kelainan fungsi alat indera lainnya.
2) Faktor Cacat Tubuh
Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi hasil belajar,
siswa yang cacat maka belajarnya juga akan terganggu. Jika hal
ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan
khusus.
b) Faktor Psikologis
Yang termasuk dalam faktor psikologis adalah sebagai
berikut:
1) Intelegensi
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis
yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke
dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui
atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif,
mengetahui
relasi
dan
mempelajarinya
dengan
cepat.
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar.
Dalam situasi yang sama siswa yang mempunyai tingkat
19
intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada siswa yang
mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.
2) Perhatian
Untuk menjamin hasil belajar yang baik, siswa harus
mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. jika
bahan pelajaran tidak menjadi perhatian, maka timbullah
kebosanan sehingga siswa tidak suka lagi belajar
3) Minat
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila
bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat
siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik – baiknya
karena tidak ada daya tarik baginya.
4) Bakat
Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai
bakatnya, maka hasil belajar lebih baik karena ia belajar dan
pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dan pada akhirnya akan
mencapai hasil belajar yang memuaskan.
5) Motif
Dalam proses belajar mengajar, haruslah diperhatikan apa
yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik
atau
padanya
mempunyai
motif
untuk
berpikir
dan
memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan
kegiatan yang menunjang belajarnya.
6) Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam
pertumbuhan seseorang, dimana alat–alat tubuhnya sudah siap
untuk melaksanakan kecakapan baru. Belajar akan lebih
berhasil jika anak siap (matang). Jadi, kemajuan untuk
memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan siswa.
20
7) Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberikan respon
atau bereaksi. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses
belajar, jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan,
maka hasil belajarnya akan lebih baik.
c) Faktor Kelelahan
Faktor kelelahan ada dua, yaitu kelelahan jasmani dan
kelelahan rohani. Kelelahan jasmani dapat terlihat dengan lemah
lunglainya
tubuh
dan
timbulnya
kecenderungan
untuk
membaringkan tubuh. Sedangkan kelemahan rohani dapat dilihat
dengan adanya kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk
menghasilkan sesuatu hilang.
2.
Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang mempengaruhi hasil belajar
siswa yang berasal dari luar diri siswa, yaitu faktor keluarga, faktor
sekolah, dan faktor masyarakat.
a) Faktor Keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga
berupa: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga,
suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
1) Cara Orang Tua Mendidik
Orang tua
yang tidak memperhatikan pendidikan
anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap belajar anakanak mereka, tidak memperhatikan sama sekali kepentingan
dan kebutuhan anak dalam belajar, tidak menyediakan
kelengkapan
belajar
anak,
dan
lain–lain
yang
dapat
menyebabkan anak tidak/kurang dalam belajar.
2) Relasi Antar Anggota Keluarga
Wujud relasi itu misalnya, apakah hubungan dalam
keluarga penuh kasih sayang dan pengertian, ataukah diliputi
oleh kebencian, sikap yang terlalu keras, bersikap acuh tak
21
acuh.
Demi
kelancaran
dan
keberhasilan
anak,
perlu
diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga.
3) Suasana Rumah Tangga
Suasana rumah yang tegang, ribut, sering cekcok,
pertengkaran antaranggota keluarga atau dengan keluarga lain
menyebakan anak bosan dirumah, suka keluar rumah,
akibatnya anak malas belajar.
4) Keadaan Ekonomi Keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan
keberhasilan belajar anak. Anak yang sedang belajar, selain
harus terpenuhi kebutuhan pokoknya seperti makan, pakaian,
perlindungan, kesehatan, juga membutuhkan fasilitas belajar
seperti ruang belajar, alat–alat tulis, buku – buku, penerangan
dan lain-lain. Fasilitas tersebut hanya dapat terpenuhi jika
keluarga memilki cukup uang.
b) Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang meliputi keberhasilan belajar siswa,
meliputi: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa
relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu
sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, gedung sekolah, dan
metode mengajar guru
c) Faktor Masyarakat
Faktor masyarakat yang mempengaruhi hasil belajar siswa
meliputi: kesiapan siswa dalam masyarakat, media massa, teman
bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa
setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran yang ditujukan
dengan nilai tes yang telah diberikan. Karena hasil belajar merupakan
sebuah aspek yang tidak bisa dipisahkan degan kegiatan belajar. Karena
kegiatan belajar merupakan proses yang berakhir dengan hasil. Untuk
22
mengetahui hasil belajar seseorang maka dapat dilihat dengan
mengadakan evaluasi. Hasil belajar juga bisa dilihat dari nilai raport
yang telah diberikan pada akhir tiap semester.
2.1.4 Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam
Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah
(scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan
bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting
kecakapan hidup. Sehingga pembelajaran IPA di sekolah dapat meberikan
pengalaman belajar yang langsung melalui keterampilan proses dan sikap
ilmiah (Permendiknas No.22 Tahun 2006).
Pembelajaran IPA
pada hakikatnya adalah proses interaksi antar
peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke
arah yang lebih baik. Pengetahuan alam artinya pengetahuan tentang alam
semesta dengan segala isinya. Adapun “pengetahuan” itu sendiri artinya
segala seauatu yang diketahui oleh manusia. Jadi secara singkat IPA adalah
pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala
isinya (Kaligis dan Hendro, 1991: 3).
Berdasarkan dari pengertian diatas, IPA merupakan suatu ilmu yang
mempelajari tentang alam sekitar beserta isinya. Dengan demikian, IPA
mempelajari semua benda yang ada di alam, peristiwa yang terjadi di alam
serta gejala-gejala yang dapat muncul di alam sekitar. IPA juga merupakan
suatu pengetahuan yang bersifat objektif tentang alam yang ada di sekitar
beserta isinya.
Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut (Permendiknas No.22 Tahun 2006).
a. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA
yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
23
c. Mengembangkan rasa ingin tahu, siskap positif, dan kesadaran tentang
adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,
teknologi dan masyarakat.
d. Mengembangkan keterampilam proses untuk menyelidiki alam sekitar,
memecahkan masalah dan membuat keputusan.
e. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara,
menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala
keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
g. Memperolah bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai
dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI menurut Depdiknas
meliputi aspek-aspek berikut (Permendiknas No.22 Tahun 2006):
a. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan,
tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan.
b. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan
gas.
c. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik,
cahaya dan pesawat sederhana.
d. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-
benda langit lainnya.
Di dalam pembelajaran IPA banyak sekali materi yang dapat diajarkan
dan dipelajari oleh siswa. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pokok
bahasan mengenai perubahan lingkungan fisik dan pengaruh terhadap daratan.
Berikiut ini merupakan SK dan KD IPA pada pokok bahasan perubahan
lingkungan fisik dan pengaruh terhadap pada kelas 4 semester II
24
Standart Kompetensi (SK)
10.
Memahami
Kompetensi Dasar (KD)
perubahan 10.1
mendeskripsikan
berbagai
lingkungan fisik dan pengaruh penyebab perubahan lingkungan
terhadap daratan
fisik
10.2
menjelaskan
perubahan
pengaruh
lingkungan
fisik
terhadap daratan.
10.3
mendeskripsikan
cara
pencegahan kerusakan kerusakan
lingkungan.
2.1.5
Tinjauan Pokok Bahasan
a. Penyebab perubahan lingkungan
1. Faktor angin
Angin adalah udara yang bergerak. Udara yang bergerak
dari yang rapat ke yang renggang. Angin bermanfaat bagi
manusia, tetapi angin juga dapat menyebabkan kerusakan
lingkungan.
a). Pengaruh angin yang merugikan
Pengaruh angin dapat menyebabkan debu-debu yang
berupa butiran tanah menjadi terkikis. Lapisan tanah
bagian atas lama-kelamaan menjadi berpindah ketempat
lain. Sehingga terjadi pengikisan tanah atau erosi.
b). Pengaruh angin yang menguntungkan
Angin dapat bermanfaat sebagai sumber energi. Dapat
menggerakkan kincir angin,putaran kincir angin dapat
menggerakkan turbin pada generator. Generator yang
bekerja menghasilkan energi listrik.
2. Faktor hujan
25
Hujan lebat dapat mengakibatkan derasnya air, air yang
deras akan mengikis tanah lapisan atas. Bila pengikisan
terjadi terus menerus akan mengakibatkan tanah menjadi
tandus. Jika hujan jatuh didaerah yang tidak ditumbuhi
pepohonan dapat mengakibatkan banjir. Tidak ada
pepohonan yang berfungsi untuk menahan air.
3. Cahaya matahari
Matahari merupakan sumber energi terbesar didunia.
Semua makhluk Tuhan memerlukan sinar matahari untuk
bertahan hidup.
4. Gelombang air laut
Gelombang air laut juga dapat menyebabkan terjadinya
abrasi. Abrasi adalah erosi yang disebabkan air laut.
Gelombang laut juga mengakibatkan pelapukan disekitar
pantai.
b. Mencegah erosi, abrasi, banjir, dan longsor
1. Mencegah erosi
Erosi merupakan salah satu penyebab berkurangbya
kesuburan tanah. Akibat yang ditimbulkan adalah
hilangbya lapisan tanah subur sehingga terjadi daerah
gersang. Adapun cara menahan erosi didaerah terbuka,
yaitu sebagai berikut:
a).
Membuat
bendungan
di
aliran
sungai
untuk
menghambat derasnya aliran sungai, serta menjaga aliran
air hujan.
b). Membuat sengkedan atau terasering dilereng-lereng.
c). Menanam tanaman jenis rumput-rumputan atau pohon
yang mempunyai akar yang kuat.
2. Mencegah Abrasi
Abrasi adalah pengikisan pantai oleh air laut. Cara
pencegahan abrasi, yaitu dengan memecah gelombang
26
laut sebelum sampai ke pantai. Adapun cara yang bisa
dilakukan adalah:
a)
Pemecahan gelombang laut secara alam dan berupa
barisan karang laut.
b). Pantai dapat dilindungi dari abrasi dengan menanam
tumbuhan ditepi yang disebut tumbuhan pantai.
3. Mencegah banjir dan longsor
a. Mencegah banjir
Banjir dapat dicegah dengan cara sebagai berikut:
1) Melestarikan hutan
2) Membuat sengkedan atau terasering
3) Membuat bendungan untuk menampung air
4) Tidak membuang sampah diselokan atau sungai
b. Mencegah tanah longsor
Tanah longsor serinhg kali terjadi pada musim
hujan. Mencegah terjadinya tanah longsor antara
lain dengan cara menanami lereng bukit dan gunung
dengan tanaman yang akarnya kuat dan dapat
menahan tanah.
2.2 Kajian Yang Relevan
Penelitian yang dilakukan Agus Aris tahun 2012 dalam skripsinya
yang berjudul “ Penerapan Metode Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Ilmu Pengetahuan Alam Pada Siswa Kelas Iv Semester 2 Sdn 3 Tunggak
Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan Tahun Ajaran 2011/2012. Hasil
penelitiannya
menunjukkan
bahwa
hasil
belajar
siswa
mengalami
peningkatan. Pada pra siklus nilai rata-rata kelas 58,5 dan ketuntasan 40%.
Pada siklus I rata-rata kelas meningkat menjadi 72, dengan ketuntasan 70%,
pada siklus II menjadi 82 dengan ketuntasan 90%. Dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran IPA berlangsung dengan aktif, siswa saling berinteraksi.
27
Selain itu, penelitian juga dilakukan oleh Siti Munfangati pada tahun
2012 dengan judul “ Upaya Penerapan Metode Eksperimen Dengan
Memanfaatkan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Hasil Belajatr Materi Gaya
Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Krengseng Kecamatan Gringsing Kabupaten
Batang Semester 2 Tahin Ajaran 2011/2012”.Hasil penelitian menunjukkan
bahwa dengan Penerapan Metode Eksperimen dengan Memanfaatkan Alat
Peraga dapat meningkatkan Hasil Belajar siswa. Hal ini terlihat pada
ketuntasan pada hasil belajar pada pra siklu, siklus 1 dan siklus 2 adalah 6
siswa ( 33% ), 11 siswa ( 94,5% ), 18 siswa ( 100% ). Rata-rata pada kegiatan
pra siklus, siklus 1 dan siklua 2 adalah : 63,70,77. Skor maksimal pada pra
siklus, siklus 1 dan siklus 2 adalah : 80,80,100, sedangkan skor minimal pada
pra siklus, siklus1, siklus 2 adalah : 50,60,65.
Kajian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Siti
Maemunah
dengan
judul
“Penggunaan
Pendekatan
Inkuiri
untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Afektif dan Kognitif Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas V SD Negeri Bansari Semester II Tahun Ajaran 2011 / 2012”. Hasil
yang diperoleh dalam penelitian ini terjadi peningkatan hasil dan keaktifan
belajar siswa yang signifikan dengan nilai KKM yang ditentukan yaitu 71.
Pada kondisi awal pra siklus, hasil dan keaktifan belajar peserta didik
termasuk dalam kategori rendah yang ditunjukkan dengan rata-rata nilai 66,78,
sedangkan pada pembelajaran siklus I, keaktifan dan hasil belajar siswa
meningkat kategori tinggi yang ditunjukkan dengan rata-rata nilai 81,99
dengan pencapaian ketuntasan belajar sebanyak 85,19 %. Selanjutnya pada
siklus II, terjadi peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa yang
ditunjukkan dengan rata-rata 84,73 dengan pencapaian ketuntasan 100 %.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan inkuiri
dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V Mata Pelajaran
IPA SD N Bansari dengan adanya perbandingan peningkatan ketuntasan siswa
dari siklus I sampai siklus II yaitu sebanyak 14,81 %
28
Dari beberapa kajian diatas, dapat disimpulkan bahwa melalui strategi
inkuiri dan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPA kelas IV.
2.3 Kerangka Berpikir
Kemampuan yang dimiliki antar siswa itu berbeda-beda, jika dalam
proses pembelajaran disampaikan secara konvensional, atau belum inovatif,
maka siswa akan mengalami tingkat kebosanan yang tinggi. Dari kebosanan
itulah maka sulit untuk memahami materi pelajaran yang seharusnya dipelajari
dan menyebabkan hasil yang rendah.
Hal tersebut bisa diatasi dengan cara menumbuhkan ketertarikan siswa
dalam mengikuti pembelajaran. Sehingga memungkinkan meningkatnya hasil
belajar siswa. Salah satunya penggunaan strategi pembelajaran inkuiri melalui
eksperimen. Dengan menerapkan strategi ini, maka siswa dituntut untuk aktif
dalam pembelajaran, sehingga kebosanan akan berkurang, didukung dengan
melakukan eksperimen atau percobaan, akan semakin mengurangi tingkat
kebosanan siswa. Sehingga dengan ketertarikan siswa dalam mengikuti
pembelajaran, maka hasilnya akan meningkat dan melebihi KKM yang telah
ditentukan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut:
29
Proses
pembelajaran
belum
inovatif,
Hasil belajar IPA
siswa rendah, masih
banyak nilai kurang
dari 70, atau
dibawah KKM
Siswa merasa bosan
dan belum aktif dalam
melaksanakan
kegiatan pembelajaran
Langkah-langkah strategi inkuiri
melalui eksperimen
Penerapan strategi inkuiri
melalui eksperimen dalam
pembelajaran IPA
1. Guru melakukan orientasi sebelum pembelajaran
2. Membentuk kelompok secara heterogen 1
kelompok terdiri dari 5 siswa
3. Guru merumuskan masalah
4. Siswa merumuskan hipotesis
5. Siswa mengumpulkan data melalui percobaan
6. Siswa menguji hipotesis yang telah diajukan
7. Siswa merumuskan kesimpulan hasil
pembelajaran.
8. Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok
didepan kelas
Siswa aktif dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran, sehingga
pembelajaran lebih bermakna
Gambar 1.1 Bagan kerangka berpikir
Hasil belajar IPA siswa
meningkat, banyak siswa
memperoleh nilai ≥ 70.
30
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penellitian ini dapat dirumuskan yakni:
1. Ada peningkatan dari penerapan strategi inkuiri melalui eksperimen
terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas 4 SDN
Kemambang 02. Strategi inkuiri melalui eksperimen dikatakan
berhasil, jika hasil belajar dari peserta didik meningkat.
2. Ada perubahan proses pembelajaran dengan menerapkan strategi
inkuiri melalui eksperimen pada mata pelajaran IPA kelas 4 SDN
Kemambang 02.
Download