6 BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH 2.1 Kondisi

advertisement
BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH
2.1 Kondisi Geografis, Administratif dan Kondisi Fisik
Kota Bima berada di bagian timur Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan posisi
geografis terletak antara 118°41’ – 118°48’ Bujur Timur dan 8°30’ – 8°20’ Lintang Selatan.
Batas administratif wilayah Kota Bima terdiri dari:
Sebelah Utara
: Berbatasan dengan Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima
Sebelah Timur
: Berbatasan dengan Kecamatan Wawo Kabupaten Bima
Sebelah Selatan
: Berbatasan dengan Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima
Sebelah Barat
: Berbatasan dengan Teluk Bima
Wilayah Kota Bima sebagian besar tanahnya berada pada kemiringan 0–2% yaitu dengan
kemiringan sebesar 18,33% dari luas wilayah, untuk kemiringan tanah antara 3–15% mempunyai luas
24,28% dari luas wilayah. Sedangkan lahan dengan kemiringan 16–40% seluas 23,76% dan lahan dengan
kemiringan lebih dari 40% sebesar 33,63%.
Berdasarkan ketinggian wilayah dari permukaan laut, Kecamatan RasanaE Barat memiliki ketinggian
1-4 meter dpl, dimana wilayah tertinggi berada di kelurahan Sarae dan terendah berada di Kelurahan Dara
dan Tanjung. RasanaE Timur memiliki ketinggian 5-200 meter dpl, dimana wilayah tertinggi terdapat di
Kelurahan Oi Fo’o dan Lelamese (170-200 meter dpl) dan terendah adalah Kelurahan Kumbe.
Kecamatan Raba memiliki ketinggian wilayah 6-200 meter dpl, dengan wilayah tertinggi di Kelurahan
Nitu dan terendah di Kelurahan Rite dan Penaraga (6 – 8 meter).
Kecamatan Mpunda memiliki ketinggian 10 – 23 meter dpl, wilayah tertinggi terdapat di Kelurahan
Sambinae dan Panggi dan terendah terdapat di Kelurahan Penatoi dan Lewirato. Kecamatan Asakota,
dengan ketinggian wilayah 2-6 meter dpl, wilayah terendah sebagian besar Kelurahan Melayu.
Wilayah Kota Bima memiliki kedalaman efektif antara 30-60 cm, yakni sebesar 61,77 Ha, dengan
sebaran terbesar di Kecamatan RasanaE Timur, Asakota dan Raba. Sedangkan kedalaman efektif antara 030 cm seluas 4.227,16 Ha atau 19,46% merupakan daerah lembah dan pinggiran pantai yang tersebar di
Kecamatan Asakota sebesar 1.262,23 Ha, RasanaE Barat 84,80 Ha, Mpunda 296,68 Ha, Kecamatan Raba
dengan luas 1.772,45 Ha dan Kecamatan RasanaE Timur dengan luas 811,00 Ha.
Kondisi Kota Bima adalah beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata 122,86 mm dan hari hujan
rata-rata 9,58 hari/bulan yang dihitung berdasarkan data 4 (empat) tahun terakhir. Puncak hari dan curah
hujan terjadi sekitar Bulan Desember-Januari dengan temperatur berkisar 27,50 C sampai dengan 34,50 C.
Matahari bersinar terik sepanjang musim dengan rata-rata intensitas penyinaran tertinggi pada Bulan Juni.
Beberapa lokasi di wilayah pesisir kota Bima yang memiliki kerawanan terhadap gelombang pasang
surut karena memiliki tingkat ketinggian antara 0-1 meter dari permukaan laut dan tingkat kemiringan lahan
yang sangat landai sehingga menyulitkan dalam pengaturan drainase. Wilayah tersebut antara lain:
lingkungan Binabaru yang berada di Kelurahan Dara (625 jiwa/155 kk), lingkungan sarata yang berada di
kelurahan Paruga (1.246 jiwa/312 kk), kelurahan Tanjung (6.105 jiwa/1.416 kk), kelurahan Melayu (6.135
jiwa/1130 kk) dan kelurahan Kolo (4.548 jiwa/1.112 kk).
Kota Bima dilalui oleh 7 (tujuh) sungai, 3 (tiga) diantaranya merupakan sungai besar, yaitu: Sungai
Padolo, Sungai Romo, Sungai Jatiwangi/Melayu. Untuk itu dapat dikatakan bahwa Kota Bima memiliki
potensi air permukaan yang cukup baik untuk kegiatan rumah tangga maupun untuk irigasi. Hampir
keseluruhan sungai yang ada mengaliri daerah irigasi dengan luas total 1.054 Ha. Adapun daerah aliran
sungai yang ada di Kota Bima terlihat pada tabel 2.1
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
6
Tabel 2.1
Daerah Aliran Sungai (DAS) Di Wilayah Kota Bima
1
DAS Lampe (Padolo)
75
Debit
(liter /dtk)
-
2
DAS Dodu
24
-
130
3
DAS Nungga
44
40
241
50
No
Nama Daerah Aliran Sungai (DAS)
Luas (Ha)
Luas Daerah Irigasi
Baku (Ha)
260
4
DAS Kendo
22,5
-
5
DAS Ntobo
24
-
147
6
DAS Jatiwangi (Melayu)
24
-
225
7
DAS Romo
2,6
-
-
Sumber Data: Kota Bima Dalam Angka 2010
Sumber air bersih di Kota Bima dikelola oleh PDAM dengan sumber air dari Sori Nungga yang
terletak di Kelurahan Nungga, lebih kurang 7,5 km dari Kota Raba–Bima dengan kapasitas debit sebesar 40
liter/detik. Selain sumber air yang diperoleh dari Sori Nungga, sumber air lainnya adalah sumber Oi Si’i yang
terletak di Selatan Kelurahan Rontu, lebih kurang 5 km dari Kota Bima dengan kapasitas debit air sebesar 2,5
liter/detik. Sedangkan sumur bor terletak di Jatiwangi dengan kapasitas 10 liter/detik, Penaraga dengan
kapasitas 10 liter /detik dan Sadia dengan kapasitas 10 liter/detik.
Sebagai daerah pesisir, wilayah administratif Kota Bima terdiri atas wilayah perairan sebesar 188,02
km2 dan wilayah daratan dengan luas sebesar 222,25 km2. Pada awal pembentukan Kota Bima, secara
adminsitratif, wilayah adminsitratif Kota Bima terbagi atas 3 (tiga) Kecamatan dan 25 (dua puluh lima)
Kelurahan. Sejak mengalami pemekaran wilayah kecamatan dan kelurahan pada tahun 2008 lalu, wilayah
Kota Bima terbagi menjadi 5 (lima) Kecamatan dan 38 (tiga puluh delapan) Kelurahan. Nama kecamatan,
luas wilayah dan jumlah kelurahan pada tiap kecamatan di Kota Bima terlihat pada tabel 2.2 dan peta 2.1.
Tabel 2.2
Nama, Luas Wilayah per Kecamatan dan Jumlah Kelurahan
Luas Wilayah
No
1
2
3
4
5
Nama Kecamatan
Jumlah Kelurahan
Rasanae Barat
Mpunda
Raba
Asakota
Rasanae Timur
Jumlah
6
10
11
4
7
38
(Ha)
(%) thd Total
1.014
1.528
6.373
6.903
6.407
22.225
4.56
6.88
28.67
31.06
28.83
100
Sumber Data : Kota Bima Dalam Angka Tahun 2010
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
7
8
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
2.2. Kondisi Demografi
Jumlah penduduk Kota Bima hingga tahun 2010 tercatat sebesar 142.579 jiwa dengan pertumbuhan
rata-rata 3,85% per tahun yang dihitung dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir. Penyebaran penduduk
Kota Bima kurang merata dimana konsentrasi penduduk berada di pusat- pusat kegiatan ekonomi dan
pemerintahan. Konsentrasi jumlah penduduk paling banyak berada di Kecamatan Raba (34.845 jiwa), diikuti
Mpunda (32.498 jiwa), RasanaE Barat (31.126 jiwa), Asakota (27.905 jiwa) dan RasanaE Timur (16.205 jiwa).
Jika dilihat dari tingkat kepadatan, terlihat bahwa posisi ini agak berbeda dimana kepadatan tertinggi berada
di Kecamatan Rasanae Barat (3.070 jiwa/Km2), diikuti Mpunda (2.127 jiwa/Km2), Raba (547 jiwa/Km2),
Asakota (404 jiwa/Km2), dan terakhir Rasana’e Timur (253 jiwa/Km2). Proyeksi penduduk kota Bima hingga
tahun 2016 dilakukan dengan menggunakan metode perhitungan aritmathic (model linear) setelah dihitung
terlebih dahulu rata-rata pertumbuhannya 5 tahun terakhir. Dengan menggunakan model ini diasumsikan
bahwa laju pertumbuhan penduduk tiap tahunnya tetap. Model ini dapat digunakan untuk proyeksi jangka 5
tahun. Jumlah, kepadatan dan proyeksi penduduk Kota Bima 5 (lima) tahun kedepan terlihat pada tabel 2.3.
Tabel 2.3
Jumlah dan Kepadatan Penduduk saat ini dan Proyeksinya untuk 5 Tahun
Penduduk Kota Bima
Tahun 2010
Jumlah
(Jiwa)
Kepadatan
(Jiwa/Km2)
Rata- rata
Pertumbu
han Tahun
2005-2010
(%)
RasanaE Barat
31,126
3,070
Mpunda
32,498
2,127
3
Raba
34,845
4
Asakota
5
RasanaE Timur
N
o
Nama Kecamatan
1
2
Total
Proyeksi Penduduk (jiwa)
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2.91%
32,324
33,569
34,861
36,203
37,597
39,045
8.84%
33,749
35,049
36,398
37,799
39,254
40,766
547
1.03%
36,187
37,580
39,027
40,529
42,089
43,710
27,905
404
5.96%
28,979
30,095
31,254
32,457
33,707
35,004
16,205
253
0.46%
16,829
17,477
18,150
18,848
19,574
20,328
142,579
642
3.85%
148,068
153,769 159,689 165,837 172,222 178,852
Sumber : Kota Bima Dalam Angka dan Hasil Perhitungan
2.3 Keuangan dan Perekonomian Daerah
Realisasi pendapatan dalam APBD Kota Bima dalam kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami
peningkatan yang signifikan yakni sebesar 55,87% terutama yang bersumber dari lain-lain pendapatan yang
sah, diikuti dana perimbangan dan terakhir dari PAD. Mengikuti peningkatan pendapatan tersebut, anggaran
belanja daerah juga mengalami peningkatan sebesar 85,65% baik untuk belanja tidak langsung maupun
belanja langsung. Belanja tidak langsung yang merupakan representasi dari kesejahteraan pegawai dan
bantuan langsung kepada masyarakat (bantuan hibah dan bantuan sosial) mengalami peningkatan sebesar
100% sedangkan belanja langsung yang dipruntukkan belanja pembangunan mengalami peningkatan
sebesar 73,3%.
Realisasi pendapatan dalam APBD Kota Bima dalam kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami
peningkatan yang signifikan yakni sebesar 55,87% terutama yang bersumber dari lain-lain pendapatan yang
sah, diikuti dana perimbangan dan terakhir dari PAD. Mengikuti peningkatan pendapatan tersebut, anggaran
belanja daerah juga mengalami peningkatan sebesar 85,65% baik untuk belanja tidak langsung maupun
belanja langsung. Belanja tidak langsung yang merupakan representasi dari kesejahteraan pegawai dan
bantuan langsung kepada masyarakat (bantuan hibah dan bantuan sosial) mengalami peningkatan sebesar
100% sedangkan belanja langsung yang dipruntukkan belanja pembangunan mengalami peningkatan
sebesar 73,3%.
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
9
Realisasi APBD antara tahun 2007–2010 mengalami surplus, sedangkan pada tahun 2011
mengalami defisit sebesar Rp.1.896.523.415,00 yang diseimbangkan dengan anggaran yang bersumber dari
SILPA dalam penerimaan pembiayaan.
Jika dilihat lebih rinci mengenai investasi sektor sanitasi dalam APBD Kota Bima untuk kurun waktu
5 tahun terakhir diketahui bahwa investasi belanja pembangunan pada sektor ini cukup fluktuatif dari tahun
ke tahun baik jumlah maupun proporsinya terhadap total belanja APBD. Pada tahun 2008 nilai investasi pada
sektor sanitasi sebesar Rp.7.652.283.510,00 (2,35% dari total belanja APBD), pada tahun 2009 nilai investasi
ini menurun cukup tajam menjadi sebesar Rp.4.895.337.100,00 (hanya 1,33% dari total belanja APBD),
sedikit mengalami peningkatan pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 5.750.269.680,00 (1,47% dari total
belanja APBD), sedikit mengalami peningkatan pada tahun 2011 menjadi sebesar Rp.5.858.673.500,00
(akan tetapi proporsi turun menjadi sebesar 1,27%). Terakhir pada tahun 2012 meningkat cukup pesat
menjadi sebesar Rp.14.061.578.160,00 (2,95% dari total belanja APBD).
Tabel 2.4
Ringkasan Realisasi APBD 5 Tahun Terakhir (Juta Rp.)
No
Anggaran
A
Pendapatan
1
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
2
3
2007
2008
2009
2010
2011
4.886,732
6.271,131
6.868,003
8.423,778
11.377,528
Dana Perimbangan (Transfer)
264.553,793
307.277,132
300.437,056
306.355,999
323.303,113
Lain-lain Pendapatan yang Sah
12.066,937
16.532,782
41.229,875
74.577,438
103.591,745
281.507,464
330.081,046
348.534,934
389.357,217
438.272,387
Jumlah Pendapatan
B
Belanja
1
Belanja Tidak Langsung
129.455,223
181.809,075
199.269,427
238.494,658
253.183,691
2
Belanja Langsung
107.950,714
129.122,989
127.996,451
126.291,470
186.985,219
237.405,938
310.932,064
327.265,878
364.786,129
440.168,911
44.101,526
19.148,981
21.269,055
24.571,088
(1.896,523)
Jumlah Belanja
Surplus/(Defisit) Anggaran
Sumber: LKPJ Walikota Bima Tahun 2007 s/d 2011
Belanja modal sektor sanitasi perkapita tiap tahunnya di kota Bima jika dibandingkan dengan
standar rata-rata “World Helath Organization” (WHO), yakni Rp.47.000,00 perkapita per tahun juga mengikuti
mengalami tren yang fluktuatif. Pada tahun 2008 nilai belanja modal sector sanitasi perkapita pertahun diatas
standar WHO yakni sebesar Rp.58.935,00. Pada kurun waktu tahun 2009-2011 turun hingga dibawah
standar WHO menjadi masing-masing sebesar Rp.37.004,00 pada tahun 2009, Rp.40.330,00 pada tahun
2010 dan Rp.39.567,00 pada tahun 2011. Terakhir mengalami peningkatan sangat tinggi hingga diatas
standar WHO, yakni menjadi sebesar Rp.91.446,00 pada tahun 2012.
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
10
Tabel 2.5
Ringkasan Anggaran Sanitasi dan Belanja Modal Sanitasi
per Penduduk 5 Tahun Terakhir
No
A
Sub Sektor/SKPD
2008
2009
2010
2011
2012
Air Limbah
1. DPU Pengairan
-
-
-
-
-
2.328,700
2.890,294
2.171,541
2.606,981
2.798,170
3. KLH (Juta Rp.)
714,700
300,476
280,090
433,000
344,880
4. Kimtaru (Juta Rp.)
103,528
206,451
300,063
1.491,936
3.851,754
B
Persampahan (Juta Rp.)
740,625
461,775
903,900
1.118,941
1.353,590
C
Drainase (Juta Rp.)
3.591,200
935,000
1.950,665
-
5.424,730
173,531
101,342
144,011
207,816
288,454
7.652,284
4.895,337
5.750,270
5.858,674
14.061,578
-
-
-
-
-
325.606,502
368.117,267
389.951,150
462.890,464
476.021,490
2,35%
1,33%
1,47%
1,27%
2,95%
129.843
132.292
142.579
148.068 *
153.769 *
58.935
37.004
40.330
39.567
91.446
2. PU-CK (Juta Rp.)
D
E
F
Aspek PHBS (Pelatihan, Sosialisasi,
Komunikasi, Pendampingan) (Juta Rp.)
Total Belanja Modal Sanitasi (A s/d D)
(Juta Rp.)
Total Belanja Modal Sanitasi dari APBD
Murni (Bukan Pendamping) (Juta Rp.)
G
Total Belanja APBD (Juta Rp.)
H
Proporsi Belanja Modal Sanitasi terhadap
Belanja Total (9:10 x 100%)
I
Jumlah Penduduk
J
Belanja Modal Sanitasi per Penduduk (E:I)
Sumber: APBD Kota Bima Tahun 2008 s/d 2012 dan hasil perhitungan
Kondisi fiskal Kota Bima dijelaskan melalui indikator kapasitas fiskal dan Realisasi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Bima. Indeks kapasitas fiskal Kota Bima menurut Peraturan Menteri
Keuangan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir mengalami penurunan. Dimulai dengan nilai indeks
sebesar 1,0375 pada tahun 2007 dan 2008 termasuk dalam kategori tinggi menjadi 0,5758 pada tahun 2009
dan 0,7293 pada tahun 2010 termasuk dalam kategori sedang. Indeks ini kemudian menurun menjadi 0,3646
yang memasukkannya dalam kategori rendah. Dalam peraturan menteri keuangan mengenai peta kapasitas
fiskal tersebut tidak disebutkan nilai komponen penyusun perhitungan kapasitas fiskal. Akan tetapi, dapat
diperkirakan penurunan nilai indeks kapasitas fiskal ini terjadi karena beberapa kemungkinan yang perlu
diteliti lebih lanjut, antara lain:
a. Jumlah Penduduk Miskin yang meningkat.
b. Jumlah pendapatan yang tidak meningkat secara signifikan dimana Kota Bima masih sangat bergantung
secara fiskal kepada pusat sedangkan pertambahan Dana Alokasi Umum tiap tahunnya terbatas.
c. Adanya pergeseran pada proporsi struktur belanja pegawai dibandingkan belanja lainnya dimana
proporsi belanja pegawai mengalami peningkatan secara signifikan.
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
11
Tabel 2.6
Data Mengenai Ruang Fiskal Kota Bima 5 Tahun Terakhir
No
Tahun
Indeks Kapasitas Fiskal
Kategori
1
2
3
4
5
2007
2008
2009
2010
2011
1,0375
1,0375
0,5758
0,7293
0,3646
Tinggi
Tinggi
Sedang
Sedang
Rendah
Sumber: Peraturan Menteri Keuangan
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan fiskal Kota Bima sangat terbatas khususnya
untuk melaksanakan investasi dibidang infrastruktur. Dengan demikian peran serta pendanaan dari
pemerintah pusat dan propinsi serta sektor swasta dan bantuan dari donor sangat diharapkan pada masa
yang akan datang.
Besaran PDRB Kota Bima pada tahun 2010 dihitung atas dasar harga konstan (constant price)
tahun dasar 2000 adalah sebesar Rp.460,826 milyar pada tahun 2010, mengalami peningkatan dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya yaitu masing-masing Rp.435,911 milyar pada tahun 2009, Rp.409,786 milyar tahun
2008, Rp.392,259,42 milyar tahun 2007, dan Rp.370,172,3 milyar tahun 2006. Dengan demikian
pertumbuhan ekonomi Kota Bima pada tahun 2006 sampai dengan 2010 mengalami kenaikan dan
penurunan yang fluktuatif antara 4 – 6,5 persen.
Tabel 2.7
Data Perekonomian Umum Daerah 5 Tahun Terakhir
No
Deskripsi
2006
2007
2008
2009
2010
370.172,30
392.259,42
409.786,16
435.911,17
460.826,40
2.937.060
3.079.612
3.156.013
3.295.068
3.232.078
-
-
-
-
890.775*
1
PDRB Harga Konstan (Juta Rp.)
2
Pendapatan Perkapita Kota Bima (Rp.)
3
Upah Minimum Regional Kota Bima (Rp.)
4
Inflasi (%)
6,74
7,62
9,16
7,97
6,67
5
Pertumbuhan Ekonomi (%)
4,74
5,97
4,47
6,38
5,72
Sumber Data : Kota Bima Dalam Angka
* merupakan Nilai Upah Minimum Regional (UMR) Provinsi NTB
Menarik untuk diperhatikan bahwa pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi kota Bima berada pada
titik terendah sedangkan tingkat inflasi berada pada titik tertinggi dalam kurun 5 tahun terakhir. Hal ini dapat
menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Bima pada tahun 2008 yang cukup rendah dipengaruhi oleh
tingginya angka inflasi yang merupakan dampak langsung dari kenaikan BBM pada 24 Mei 2008.
PDRB per kapita atas dasar harga konstan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun
2006 sebesar Rp. 2.937.060,00 mengalami peningkatan sebesar 4,83% menjadi Rp. 3.079.612,00 pada
tahun 2007, 2,5% menjadi Rp. 3.156.013,00 pada tahun 2008 dan 4,4% menjadi Rp. 3.295.068,00 pada
tahun 2009, akan tetapi mengalami penurunan 1,91% menjadi Rp. 3.232.078,00 pada tahun 2010. Hal ini
kemungkinan disebabkan menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi di saat pertumbuhan penduduk terus
mengalami peningkatan pada tahun 2010.
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
12
Perekonomian Kota Bima hingga tahun 2010 masih didominasi oleh kelompok tersier (kelompok
sektor jasa) serperti, Sektor jasa-jasa; Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran; Sektor Angkutan dan
Komunikasi; dan Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dengan kontribusi pada tahun 2010
sebesar 72,41 persen. Sementara sektor primer yang terdiri dari Sektor Pertanian dan Sektor Pertambangan
& Penggalian mempunyai peranan sebesar 17,14 persen, dan sektor sekunder yang terdiri dari Sektor
Industri; Sektor Listrik dan Air Bersih; dan Sektor Konstruksi pada tahun 2010 hanya berperan sebesar 10,45
persen.
Hal ini menunjukkan bahwa arah pertumbuhan dan kegiatan ekonomi di Kota Bima telah
menunjukkan pada ciri perkotaan dimana serktor non pertanian, utamanya sektor perdagangan dan jasa
telah mendominasi.
2.4 Tata Ruang Wilayah
Tujuan penataan ruang wilayah Kota Bima adalah untuk mewujudkan ruang wilayah kota yang
aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan dalam rangka mendorong perkembangan wilayah kota sebagai
kawasan pengembangan perdagangan dan jasa, serta pendidikan.
Disamping tujuan umum tersebut, penataan ruang wilayah Kota Bima juga memiliki beberapa tujuan
khusus yaitu : a) Mendorong pertumbuhan Kota Bima sebagai pusat kegiatan wilayah di bagian timur Pulau
Sumbawa melalui pengalokasian ruang secara efektif dan efisien bagi kegiatan perdagangan dan jasa,
pendidikan, pariwisata dan industri; b) Menciptakan keseimbangan alokasi pola ruang untuk peningkatan
pelayanan perkotaan melalui penyediaan sarana dan prasarana wilayah yang baik dan berwawasan
lingkungan; c) Menetapkan pengelolaan kawasan lindung dan pengembangan kawasan budidaya yang dapat
menjamin keberlanjutan lingkungan perkotaan yang sehat dan pemanfaatan sumber daya alam perkotaan
yang terkendali; d) Menetapkan kawasan-kawasan strategis kota yang mampu menjamin berlangsungnya
fungsi lindung terhadap lingkungan maupun kawasan yang dapat menjadi mesin penggerak laju
pertumbuhan ekonomi wilayah; dan d) Merumuskan arahan pemanfaatan ruang maupun ketentuan
pengendalian pemanfaatan ruang yang dapat dijadikan pedoman bagi seluruh stakeholder pembangunan di
Kota Bima dalam memanfaatkan potensi ruang dan lahan yang ada.
Dalam rangka mewujudkan tujuan penataan ruang, kebijakan penataan ruang wilayah kota meliputi:
a. Penetapan dan pengembangan pusat-pusat pelayanan kota secara merata sesuai dengan hirarki
pelayanannya.
b. Pengembangan sistem jaringan dan infrastruktur lintas wilayah dalam sistem perkotaan wilayah kota,
wilayah provinsi, dan nasional.
c. Peningkatan kualitas pelayanan sistem jaringan transportasi untuk meningkatkan aksesibilitas wilayah
serta fungsi dan keterkaitan antar pusat pelayanan secara optimal.
d. Pengembangan kualitas dan jangkuan pelayanan sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan
telekomunikasi, sistem jaringan sumber daya air, sistem prasarana penyediaan air minum kota, sistem
pengelolaan air limbah kota, sistem persampahan kota, sistem drainase kota, penyediaan prasarana dan
sarana jaringan pejalan kaki, dan jalur evakuasi bencana.
e. Pelestarian fungsi lingkungan hidup secara berkesinambungan dan mendukung perkembangan wilayah
kota.
f. Pencegahan dampak negatif yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup akibat dari
pemanfaatan ruang.
g. Penetapan kawasan ruang terbuka hijau minimal 30 % (tiga puluh persen) dari luas wilayah kota.
h. Perlindungan kawasan cagar budaya dan aktivitas yang memiliki nilai histroris dan spiritual.
i. Pengembangan mitigasi dan adaptasi kawasan rawan bencana.
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
13
j.
pengembangan kawasan permukiman, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan perkantoran, kawasan
industri, kawasan pariwisata, kawasan ruang terbuka non hijau, kawasan ruang dan jalur evakuasi
bencana, kawasan sektor informal, kawasan pendidikan, kawasan kesehatan, kawasan peribadatan,
kawasan pertahanan dan keamanan, kawasan pertanian, kawasan perikanan, dan kawasan
pertambangan.
k. Pengendalian perkembangan kegiatan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung
lingkungan.
l. Pengembangan keterpaduan pengelolaan kawasan strategis nasional dan kawasan strategis provinsi di
wilayah kota.
Berdasarkan kebijakan penataan ruang yang diuraikan diatas, berbagai permasalahan yang menjadi
perhatian khusus untuk mewujudkan kebijakan dimaksud, antara lain daerah rawan bencana.
Daerah yang berpotensi banjir di wilayah Kota Bima teridentifikasi pada daerah-daerah di sepanjang
aliran sungai. Bencana banjir di Kota Bima selalu terjadi setiap tahunnya pada musim hujan. Banjir bandang
pernah terjadi pada musim penghujan tahun 2006 tepatnya 5 April 2006 yang meliputi seluruh kecamatan di
Kota Bima. Bencana banjir selain disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, juga disebabkan oleh gundulnya
kawasan hutan yang mengintari wilayah Kota Bima. Disamping itu juga dakibatkan oleh adanya banjir
kiriman dari wilayah Kabupaten Bima terutama di sebelah timur dan sebelah utara. Bencana banjir juga
disebabkan oleh masih kurang baiknya sistem drainase perkotaan. Daerah-daerah di wilayah kota Bima yang
berpotensi terjadi banjir yaitu : a) Kecamatan Rasanae Barat meliputi Kelurahan Tanjung, Paruga, SaraE,
NaE, dan Dara. b) Kecamatan Mpunda meliputi Kelurahan Monggonao, Penatoi, Lewirato, Sadia, dan Santi.
c) Kecamatan Raba meliputi Keluarahan Penaraga, dan Rontu. d) Kecamatan Asakota meliputi Kelurahan
Melayu, Jatiwangi, Jatibaru, dan Kolo. f) Kecamatan Rasanae Timur meliputi Kelurahan Kumbe, Lampe,
Kodo, dan Dodu.
Mengingat wilayah Kota Bima juga memiliki kawasan perairan laut, maka kawasan pesisir pantai
yang berada di kecamatan Rasanae Barat dan Kecamatan Asakota berpotensi dilanda gelombang pasang.
Gelombang pasang yang melanda wilayah pesisir kota Bima, lebih banyak dikarenakan pasang surut dan
terjadinya angin topan/angin badai yang melanda perairan Kota Bima. Wilayah pesisir pantai bagian barat
(kecamatan Asakota dan kecamatan Rasanae Barat) terlanda bencana.
Abrasi pantai terjadi karena tergerusnya pantai oleh gelombang atau ombak yang menerus. Hal ini
dikarenakan pantai tidak memiliki infrastruktur penahan gelombang, sehingga mempercepat proses terjadinya
abrasi pantai. Infrastruktur dimaksud tidak hanya pemecah gelombang, tetapi dapat juga berupa kawasan
hutan mangrove yang keberadaannya di wilayah kota Bima semakin berkurang. Kawasan yang rawan abrasi
pantai adalah wilayah pesisir pantai bagian utara dan barat kota Bima. Salah satu dampak abrasi pantai
adalah terjadinya intrusi air laut yang dapat mempengaruhi kondisi air tanah di wilayah daratan.
2.5 Sosial dan Budaya
Kemajuan pendidikan di Kota Bima cukup menggembirakan, pelaksanaan program pembangunan
pendidikan di daerah ini telah berkembang diberbagai jenis dan jenjang pendidikan. Dengan dilaksanakannya
program pembangunan, pelayanan pendidikan telah dapat menjangkau ke semua wilayah.
Gambaran keadaan fasilitas dan prasarana pendidikan di Kota Bima dapat diuraikan bahwa jumlah
SD dan MI sebanyak 87 sekolah dengan total siswa SD/MI seluruhnya sebanyak 18.004 siswa. Rata-rata
setiap tahunnya dapat menampung siswa baru tingkat I sebanyak 3.124 siswa, dan meluluskan sebanyak
2.337 siswa.
Kemampuan fasilitas pendidikan untuk menampung sejumlah siswa SD/MI tersebut, tersedia ruang
kelas sebanyak 704 ruangan, dengan rincian 533 ruangan memiliki kondisi baik, 122 ruangan dengan kondisi
rusak ringan, dan 49 ruangan dengan kondisi rusak berat, dengan jumlah rombongan belajar sebanyak 686
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
14
sehingga terdapat shift sebesar 1 kali. Guru yang mengajar di SD/MI yaitu sebanyak 2089 orang guru,
dengan rincian sebanyak 1.633 orang guru (78,17%) adalah layak mengajar, 267 orang (12,80%) semi layak,
dan 189 orang (9,03%) tidak layak mengajar. Untuk menunjang kegiatan belajar di SD dan MI terdapat
fasilitas perpustakaan sebanyak 44 buah. Selain itu terdapat pula perpustakaan sebanyak 40 buah
perpustakaan sekolah di tingkat SD/MI.
Berdasarkan data yang ada pada tahun 2010/2011, jumlah SMP dan MTs di Kota Bima sebanyak 26
sekolah dengan jumlah siswa seluruhnya sebanyak 8.796 orang siswa, setiap tahunnya rata-rata bisa
menampung siswa baru Tk I sebanyak 2.861 orang siswa, dan meluluskan sebanyak 2.520 orang siswa.
Falitas pendidikan untuk menampung sejumlah siswa tingkat SMP/MTs tersebut tersedia ruang
kelas, dengan rincian 219 memiliki kondisi baik, 25 dengan kondisi rusak ringan, dan 15 kondisi rusak berat,
dengan jumlah kelas sebanyak 259.
Tenaga pengajar yang mengajar di SMP dan MTs sebanyak 881 orang diantaranya: yaitu sebanyak
734 orang ( 83.32 %) adalah layak mengajar, 59 orang ( 6.74 %) semi layak mengajar, dan 88 orang ( 9.94%
) tidak layak mengajar. Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di SMP dan MTs terdapat fasilitas
perpustakaan sebanyak 22 buah, Ruang UKS sebanyak 14 buah dan laboratorium sebanyak 36 buah.
Tahun 2010/2011, jumlah SMA, SMK dan MA sebanyak 26 sekolah, dengan jumlah siswa
seluruhnya sebanyak 11.866 orang, dan setiap tahunnya rata-rata bisa menampung siswa baru tingkat I
sebanyak 4.260 orang, serta meluluskan sebanyak 3.232 orang.
Ketersedian Falitas pendidikan untuk menampung sejumlah siswa tingkat SMA/SMK/MA tersebut,
tersedia ruang kelas sebanyak 308 ruangan, dengan rincian 248 ruang kondisi baik, 45 ruang kondisi rusak
ringan dan 15 kondisi rusak berat dengan jumlah kelas sebesar 345 kelas sehingga terdapat shift 1 kali. Guru
yang mengajar di SMA, SMK, dan MA sebanyak 1.209 orang, dengan rincian layak mengajar 863 orang
(71,38%), semi layak mengajar 242 orang (20,02 %), dan tidak layak mengajar 104 orang ( 8,60 %). Sarana
penunjang kegiatan belajar mengajar di SMA, SMK dan MA terdapat fasilitas perpustakaan sebanyak 24
buah, ruang UKS sebanyak 13 buah, laboratorium sebanyak 59 buah, ruang ketrampilan sebanyak 3 buah,
ruang BP sebanyak 21 ruangan, ruang serbaguna sebanyak 13 ruangan, bengkel sebanyak 6 buah, ruang
praktek sebanyak 5 ruangan.
Tabel 2.8.
Fasilitas Pendidikan Negeri dan Swasta
Tk. SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA di Kota Bima
Jumlah Sarana Pendidikan
No.
Kecamatan
Umum
Agama
SD
SLTP
SMA
SMK
MI
MTs
MA
1
RasanaE Barat
15
4
3
1
2
2
3
2
RasanaE Timur
15
4
1
0
1
0
0
3
Asakota
17
3
1
2
0
1
0
4
Mpunda
13
3
4
2
3
3
2
5
Raba
21
5
5
1
1
1
1
81
19
14
6
7
7
6
Jumlah
Sumber :
Profil Pendidikan Kota Bima 2011
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
15
Keheterogenitas suatu masyarakat dalam suatu daerah memiliki keunggulan komperatif serta
berkorelasi positif terhadap pembangunan daerah. Keanekaragaman tingkat sosial, pekerjaan, tingkat
pendapatan serta agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat justru membantu terbentuknya ide dan
kreasi baru, serta menjadi nilai tambah yang terakumulasi dalam terciptanya inovasi-inovasi baru dalam
dinamika kehidupan masyarakat.
Adat istiadat yang masih sampai sekarang hidup di kalangan masyarakat adalah masih
menghormati mereka yang lebih tua darinya, rasa tenggang rasa, masih patuh pada orang yang sangat
dihormati dan tidak mudah diprovokasi.
Keadaan kesehatan masyarakat di Kota Bima dapat digambarkan bahwa gizi masyarakat pada
umumnya bervariasi yaitu ada yang baik, kurang baik atau buruk dengan rincian 75% baik, 25% kurang, dan
0% buruk dengan angka harapan hidup 55 tahun, yang didukung oleh puskesmas induk sebanyak 5 buah,
puskesmas pembantu 16 buah, puskesmas keliling 6 buah, polindes 26 buah, posyandu 148 buah dan
rumah sakit sebanyak 1 buah serta laboratorium klinik 3 buah. Jumlah puskesmas terhadap kecamatan
adalah 100%, bila setiap kecamatan diharuskan memiliki 1 puskesmas, maka tidak ada Kecamatan di
wilayah Kota Bima yang belum memiliki puskesmas.
Mata pencaharian memiliki hubungan yang erat terhadap tingkat pendapatan seseorang. Di Kota
Bima, sektor jasa kemasyarakatan dan lainnya (PNS dan lainnya) menjadi profesi masyarakat terbanyak
yakni sebesar 27,95% dari angkatan kerja, sektor Perdagangan Besar/Eceran/ Rumah Makan dan Hotel
menempati urutan kedua yaitu sebesar 23,35% dari angkatan kerja, sektor pertanian/kehutanan/perburuan
dan perikanaan sebesar 15,87%, sektor angkutan/penggudangan dan komunikasi sebesar 14,15%, industri
pengolahan sebesar 9,20%, dan bangunan sebesar 4,65% serta profesi lain dengan persentasenya masingmasing dibawah 4%. Jumlah Penduduk Miskin Per Kecamatan di Kota Bima dapat dilihat pada tabel 2.9 dan
pada tabel 2.10 dijelaskan Jumlah Rumah Per Kecamatan di Kota Bima.
Tabel 2.9
Jumlah Penduduk Miskin Per Kecamatan
Nama Kecamtan
Jumlah keluarga miskin (KK)
Raba
4861
Asakota
3447
Mpunda
2916
Rasanae Timur
2359
Rasanae Barat
3600
Sumber : Kecamatan Dalam Angka Tahun 2010
Tabel 2.10
Jumlah Rumah Per Kecamatan
Nama Kecamatan
Jumlah rumah (unit)
Raba
8.876
Asakota
5.784
Mpunda
5.987
Rasanae Timur
4.568
Rasanae Barat
7.365
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Bima Tahun 2011
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
16
2.6
Kelembagaan Pemerintah Daerah
Secara institusi dan kelembagaan, Pemerintah Kota Bima terdiri lembaga eksekutif berkedudukan
sebagai pelaksana roda pemerintahan yang dibantu oleh Sekretaris Daerah yang membawahi 2 sekretariat,
15 dinas, 8 badan dan 3 kantor Pelayanan, 5 kantor kecamatan dan 38 kantor kelurahan, serta lembaga
legislatif yang berkedudukan sebagai pengawas jalannya roda pemerintahan daerah yang terdiri dari
berbagai fraksi dengan anggota berdasarkan hasil pemilihan umum legislatif. Gambar 2.1 disajikan struktur
organisasi Pemerintah Daerah Kota Bima.
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
17
Gambar 2.1 : Struktur Organisasi Pemerintah Daerah Kota Bima
Walikota/Wakil
DPRD Kota
Walikota
SEKRETARIAT
DAERAH
Perda Nomor 2 Tahun 2010
STAF AHLI
- Bid. Hukum & Politik;
- Bid. Pemerintahan;
- Bid. Pembangunan;.
- Bid. Kemasyarakatan &
SDM;
- Bid. Ekonomi & Keuangan
Asisten Pemerintahan
& Kesra
Asisten Perekonomian &
Pembangunan
Asisten Administrasi Umum
- Bag.Adm. Pem. Umum
- Bag. Kesra
- Bag. Hukum
- Bag.Adm. Pembangunan
- Bag. Ekonomi & SDA
- Bag.Organisasi
- Bag. Umum &
Perlengkapan
- Bag. Humas & Protokol
DINAS-DINAS DAERAH
PERDA NOMOR 3 TAHUN 2010
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga;
Dinas Kesehatan;
Dinas sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi;
Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika;
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil;
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata;
Dinas Pekerjaan Umum;
Dinas Tata Kota dan Perumahan;
Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman;
Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan;
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan;
Dinas Kelautan dan Perikanan;
Dinas Kehutanan dan Perkebunan;
Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan
Asset Daerah;
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
LEMBAGA TEKNIS DAERAH
PERDA NOMOR 4 TAHUN 2010
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah;
Inspektorat;
Badan Lingkungan Hidup;
Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan
Masyarakat;
Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan;
Kantor Arsip dan Perpustakaan;
Badan Pemberdayaan Masyarakat dan
Pemerintahan Kelurahan;
Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga
Berencana;
Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan;
Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu;
Satuan Polisi pamong Praja.
SEKRETARIAT DPRD
Perda Nomor 2 Tahun 2010
a. Bagian Hukum dan
Persidangan;
b. Bagian Keuangan;
c. Bagian Humas dan Protokol;
d. Bagian Umum
LEMBAGA LAIN SEBAGAI BAGIAN
DARI PERANGKAT DAERAH
PERDA NOMOR 5 TAHUN 2010
a.
KECAMATAN
Perda Nomor 5 TAHUN
2008
Badan Penanggulangan Bencana Daerah
KELURAHAN
Perda Nmr 5 TAHUN 2008
18
Ringkasan tabel Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang memiliki keterkaitan tugas pokok
dan fungsi (tupoksi) langsung ataupun tidak langsung dalam pembangunan sanitasi di Kota Bima
berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2,3,4 dan nomor 5 Tahun 2008 sebagaimana telah dirubah dengan
Peraturan Daerah Nomor 2 dan 3 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Bima
dan Peraturan Daerah Nomor 4 dan 5 Tahun 2010 tentang Lembaga Teknis Daerah Kota Bima dan Lembaga
Lain Sebagai Bagian Dari Perangkat Daerah.
Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima 2012
19
Download