1 ANALISIS FAKTOR RESIKO PADA KEJADIAN

advertisement
ANALISIS FAKTOR RESIKO PADA KEJADIAN BERAT BADAN
LAHIR RENDAH Di KABUPATEN SUMENEP
Pipit Festy w¹
Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu kesehatan UMSurabaya
[email protected]
Abstrak
Bayi Berat Badan Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor yang
mengakibatkan kematian pada masa perinatal.Penelitian ini bertujuan mengetahui
faktor risiko pada kejadian Berat Badan Lahir rendah. Penelitian
ini
menggunakan disain kasus kontrol yang dilakukan pada 337 sampel ibu hamil
yang melahirkan
cukup bulan (37 bulan), kasus 209 ibu dan kontrol 128 ibu
yang memenuhi kriteria inklusi. Populasi adalah semua ibu hamil di wilayah
Puskesmas kota Sumenep. Data diperoleh dari Laporan Kohort ibu hamil selama
tahun 2009 sampai Maret tahun 2010. Untuk mengetahui faktor resiko kejadian
BBLR menggunakan metode Regresi Logistik. Variabel yang berhubungan secara
bermakna adalah Hemoglobin ibu, LILA ibu, Penambahan Berat badan selama
kehamilan, Pendidikan ibu. Hasil nilai Odds Rasio berturut turut adalah 3,366
pada HB ibu, 8,624 pada penambahan berat badan ibu, 4,346 pada pendidikan
dan 6,307 pada LILA, nilai tersebut dapat menyatakan risiko terhadap kejadian
berat badan lahir rendah.
Kata kunci: Berat Badan bayi Lahir Rendah.
Pendahuluan
Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan
tingkat kesehatan masyarakt.Keberhasilan pembangunan di suatu wilayah juga
dapat dilihat dari angka kematian bayi (AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH).
Di Indonesia angka kematian bayi dan angka kematian ibu adalah 35 per
1000 kelahiran hidup dan 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini sudah
menunjukkkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar
1
2
39 per 1000 kelahiran hidup. Meskipun demikian masih terdapat beberapa
wilayah yang masih menunjukkan anggka kematian bayi cukup tingi (BPS 2008).
Indikator lain meliputi kehamilan dini kurang dari 18 tahun (4,1 %), kehamilan
terlalu tua lebih dari 34 tahun (11 %), paritas lebih dari 3 (9,4 %) , anemia pada
ibu hamil ( 50,9 %) dan jarak persalinan yang terlalu dekat kurang dari 2 tahun
(5,2 %), Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm ( 29 %), Wanita Usia Subur
yang menderita Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang berisiko melahirkan Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR) (Depkes RI, 2008).
Kondisi kesehatan ibu ketika memasuki kehamilan belum seperti yang
diharapkan, ibu mengalami kekurangan gizi pada saat sebelum hamil dan hamil,
serta keadaan ekonomi yang rendah merupakan risiko untuk melahirkan BBLR.
BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa
memperhatikan umur kehamilan. BBLR merupakan salah satu faktor utama yang
berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal (Depkes, 2005). mengalami
kematian 6,5% kali lebih besar daripada bayi lahir dengan berat badan normal,
prevalensi BBLR 7,5 %. (yaitu sekitar 459.200 – 900.000 bayi setiap tahun)
(Saraswati,E, 2006).
Di Kabupaten Sumenep Propinsi Jawa Timur dilaporkan
prevalensi
BBLR dari tahun 2007 sampai dengan 2009 berturut-turut yaitu 3,8%, 4,2%, dan
4,6%. (Dinas Kesehatan Kota Sumenep, 2008). Tingginya angka BBLR bisa
mempengaruhi kualitas Sumber daya manusia di masa depan oleh karena itu
berbagai upaya perlu dilakukan untuk menurunkan angka BBLR (Setyowati,
Titiek,1996).Salah satu upaya yang dilakukan antara lain adalah peningkatan
program kesehatan ibu dan anak pada tingkat puskesmas meliputi kegiatan
promotif dan preventif yaitu perawatan selama masa kehamilan dan pemeriksaaan
rutin selama kehamilan sehingga dapat mendeteksi terjadinya penyulit selama
kehamilan.
3
Berdasarkan masalah-masalah yang berkaitan tersebut di atas maka penulis
tertarik melakukan penelitian tentang faktor resiko kejadian Berat badan lahir
rendah di Kabupaten sumenep tahun 2009 .
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahan dalam
penelitian ini adalah :
Apa faktor risiko pada
kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kabupaten
Sumenep?
Tujuan Penelitian
Mengetahui faktor risiko kejadian Berat Badan Lahir Rendah di
Kabupaten Sumenep.
Manfaat Penelitian
Memberikan informasi tentang faktor risiko kejadian Berat Badan Lahir rendah,
sehingga dapat memberikan masukan bagi Dinas Kesehatan setempat
Tinjauan Pustaka
Bayi Berat Badan Lahir Rendah
Definisi
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat
badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram, dahulu neonatus
dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram
disebut prematur.
Pengklasifikasian
Berat badan bayi saat dilahirkan sesuai kriteria WHO (Bobak,1999 ). Berat
badan saat ini dilahirkan dibagi dalam dua kelompok yaitu : bayi dengan berat
badan kurang dari 2500 gram (BBLR) dan bayi dengan BB minimal 2500 gram
(normal)
4
Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah
dapat dibagi menjadi 2 golongan :
1. Prematuritas murni yaitu bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37
minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan sesuai dengan
masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa
Kehamilan (NKB-SMK)
2. Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa kahamilan, dismatur dapat terjadi pada preaterm,
aterm, dan post aterm. Dismatur ini dapat juga Neonatus Kurang Bulan –
Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB-KMK), Neonatus Cukup Bulan – Kecil
Masa Kehamilan (NCB-KMK), Neonatus Lebih Bulan – Kecil Masa
Kehamilan (NLB-KMK).
2.3.1
Faktor Risiko Penyebab BBLR
Faktor-faktor penentu Berat Badan Lahir meliputi (Kartiaji,1999)
1. Faktor intrinsik yaitu jenis kelamin, genetika, suku bangsa, dan pertumbuhan
placenta.
2. Faktor ibu yang meliputi
a. Faktor biologi yaitu umur, paritas, tinggi badan, berat badan pra hamil,
pertambahan berat badan selama kehamilan, LILA
b. Faktor lingkungan yaitu taraf sosial ekonomi, jarak antar kehamilan,
penyakit infeksi, kegiatan fisik, perawatan kesehatan, pendidikan,
kebiasaan merokok, atau minum alkohol, dan ketinggian tempat tinggal.
METODE PENELITIAN
Penelitian dengan desain kasus kontrol ini dilakukan terhadap sumber data
sekunder BBLR Dinas Kesehatan Kota Sumenep, berupa kartu pemeriksaan
kehamilan, dan laporan kohort ibu hamil.
Populasi pada penelitian ini adalah semua bayi yang lahir pada bulan
Januari
tahun 2009 s/d maret tahun 2010, sumber data sekunder
dari Dinas
5
Kesehatan Kota Kabupaten Sumenep dan tercatat pada Laporan kohort ibu hamil
pada 5 puskesmas yaitu Puskesmas Batang-batang, Puskesmas Kangayan,
Puskesmas Moncek,
Puskesmas Pragaan, Puskesmas Guluk - Guluk di
Kabupaten Sumenep.
Kasus adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (kurang dari 2500 gram
sesuai dengan kriteria ). Kontrol adalah bayi dengan lahir lebih 2500 gram.Kasus
dan kontrol disesuaikan dengan lokasi dan waktu.Kriteria eksklusi adalah ibu
yang tidak kontak dengan petugas kesehatan.
Basar sampel 337 ibu yang terdiri dari 209 kasus dan 128 kontrol.
Cara pengambilan sampel kasus dan sampel kontrol diperoleh dari laporan
bulanan persalinan dari Dinas kesehatan Sumenep dibuat daftar kejadian BBLR
dan bukan BBLR pada tahun 2009 s/d Maret 2010.Kemudian di pilih 5
Puskesmas dengan kejadian terbanyak. Penelusuran kejadian BBLR dengan data
yang lengkap digunakan sebagai data penelitian.Terdapat 209 kasus dan 128
kontrol.Untuk mendapatkan data peneliti dibantu oleh bidan desa yang kemudian
dilakukan pengambilan data melalui kohort ibu hamil.
Variabel dan Pengkasifikasi Data
Sebagai variabel dependen dalam penelitian ini adalah Berat Badan Lahir
Rendah (Y), sedangkan variabel independen adalah :
1. Umur ibu (X1)
2. Pendidikan Ibu (X2)
3. Status Pekerjaan ibu (X3)
4. Jumlah anak (X4)
5. Jarak Kelahiran (X5)
6. Kadar Hb ibu (X6)
7. Ukuran LILA ibu (X7)
8. Kenaikan Berat Badan ibu (X8)
9. Tinggi Badan ibu (X9)
Pengolahan dan Tahapan Analisis Data
6
Pengolahan data
Analisis data
yang digunakan adalah dengan metode regresi logistik
dengan bantuan program komputer.Analisis data dilakukan secara berjenjang,
yaiyu analisis univariatuntuk melihat gambaran distribusi frekwensi kejadian
BBLR dan bukan BBLR , bivariat untuk mengetahui kemungkinan variabel yang
masuk model dan multivariat menggunakan regresi logistik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Hasil Penelitian
Data sampel tentang Berat Badan Bayi Lahir pada 5 puskesmas di kota
Sumenep selama penelitian sejumlah 337 balita yang terdiri dari 209 (62%) bayi
dengan berat badan bayi normal atau lebih 2500 gram, dan 128 (38%) bayi
memiliki berat kurang dari 2500 gram.
Tabel 1. Distribusi Kasus dan Kontrol Menurut karakteristik ibu
Karakteristik Kategori
Kasus
Kasus
Control
Control
ibu
F
%
F
%
<35
112
87,5
194
92,8
>35
16
12,5
15
7,2
119
93
113
54,1
Umur ibu
Pendidikan
SD
ibu
>SD
9
7
96
45,9
Status
Tidak
119
93
113
54,1
pekerjaan
Bekerja
9
7
96
45,9
<4
113
88,2
201
96,2
anak
4
15
11,8
8
3,8
Jarak
<2th
50
39,1
97
46,4
2th
78
60,9
112
53,6
66
51,6
23
11
ibu
Jumlah
kelahiran
Kadar HB
<11 gr%
7
LILA
11 gr%
62
48,4
186
89
<23,5 cm
70
54,7
28
13,4
58
45,3
181
86,6
23,5 cm
Kenaikan
<9kg
120
93,8
88
42,1
Berat
>9kg
8
6,3
121
57,9
<145cm
14
10,9
21
10
145cm
114
89,1
188
90
badan
TB
Karakteristik ibu berdasarkan distribusi berat badan lahir:
Sebagian besar ibu hamil (232) adalah berpendidikan
113 orang ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan
sekolah dasar sebanyak
2500 gram.
Sebagian ibu bekerja 232 orang, sedangkan ibu yang melahirkan bayi dengan
berat badan < 2500 gram adalah ibu status bekerja yaitu 119 orang (51,2%)
Sebagian ibu yang melahirkan bayi dengan Berat Badan < 2500 gram adalah ibu
dengan hemoglobin < 11 g% sejumlah 66 0rang atau , sedangkan untuk bayi
dengan berat badan
haemoglobin
2500 gram sebagian besar di lahirkan
11 g% adalah 186 ibu atau 75%
Sebagian besar bayi dengan Berat badan
ukuran LILA
ibu dengan
2500 gram dilahirkan ibu dengan
23,5 cm adalah atau 181 ibu, sedangkan bayi dengan berat badan
< 2500 gram sebagian dilahirkan ibu dengan ukuran LILA < 23,5 cm adalah 70
orang atau (71,4%)
Sebagian besar yaitu 208
ibu mengalami peningkatan berat badan selama
kehamilan kurang dari 9 kg . Bayi dengan berat badan kurang 2500 gram
dilahirkan oleh ibu yang memiliki penambahan berat kurang dari 9 kg sebesar
120 orang(57,6%).
8
Pada analsis multivariate menggunakan regresi logistik dilakukan uji
secara simultan untuk melihat adanya pengaruh antara variabel prediksi dengan
variabel respon.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah dari 9 variabel hanya 4 variabel saja
menjadi variabel prediksi yaitu pendidikan ibu, LILA ibu, HB ibu, penambahan
berat badan ibu.
Tabel 2.
Faktor risiko pada kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Wilayah
Puskesmas di Kabupaten Sumenep tahun 2009
No
Variabel
B
S.E
Wald
Df
Sig
Exp(B)
1.
Pendidikan ( SD)
1,469 ,483
9,266
1
,002
4,346
2.
HB (<11g%)
1,224 ,338
12,906
1
,000
3,366
3.
LILA(< 23,5 cm)
1,842 ,345
28,455
1
,000
6,307
4.
Penambahan berat badan
2,155 ,436
24,383
1
,000
8,624
-4,183 ,564
55,080
1
,000
,015
(< 9 kg)
5.
Constanta
Dari tabel juga dapat dilihat bahwa model regresi logistik yang didapatkan adalah
sebagai berikut;
1
P(BBLR)
1 + exp
-4,,183+1.469pendidikan( SD) +1.224HB( 11g%)+1.842LILA( 23,5 cm) +2.155P enambahanBB( 9 kg)
Berdasarkan nilai Exp B dapat diketahui nilai Odds Rasio adalah;
1. Jika ibu berpendidikan
Sekolah Dasar maka kecenderungan untuk
mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 4,346 kali
dibandingkan berpendidikan > Sekolah Dasar dengan asumsi variabel lainnya
konstan.
2.
Jika hamoglobin ibu < 11 gram% maka kecenderungan untuk mempunyai
bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 3,366 kali dibandingkan
hamoglobin ibu
11 gram % dengan asumsi variabel lainnya konstan.
9
3. Jika LILA ibu < 23,5 cm maka kecenderungan untuk mempunyai bayi berat
badan lahir rendah akan berlipat 6,307 kali dibandingkan LILA ibu
23,5 cm
dengan asumsi variabel lainnya konstan.
4. Jika penambahan berat badan
ibu < 9 kg maka kecenderungan untuk
mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 8,624 kali
dibandingkan penambahan berat badan ibu
9 kg dengan asumsi variabel
lainnya konstan.
Penambahan berat badan ibu normal adalah berkisar 9 kg- 12 kg. dimana
pada trimester I pertambahan 1 kg ,trimester II sekitar 3 Kg dan Trimester III 5-6
kg. Penambahan berat badan berpengaruh pada berat bayi baru lahir. Sehingga
dapat diasumsikan penambahan yang sesuai berkontribusi terhadap berat badan
bayi sehingga menentukan bayi tergolong dalam berat badan kurang dari 2500
gram atau berat badan bayi lebih dari 2500 gram.
LILA merupakan indikator status gisi ibu hamil. Lila diasumsikan ukuran
yang tidak terpengaruh dengan berat badan ibu dan bayi dalam kandungan.
Di Indonesia batas ambang LILA normal adalah 23,5 cm sebelum
kehamilan berisiko menderita Kekurangan Energi Kalori. Ibu hamil dengan
ukuran LILA kurang 23,5 cm berisiko menderita Kekurangan Energi Kronis
(KEK) yang dapat menyebabkan prematuritas dan risiko Berat Badan Bayi
Rendah. KEK berdampak negatif terhadap ibu hamil dan janin yang dikandung
berupa peningkatan kematian ibu, sedangkan bayi BBLR berisiko kematian dan
gangguan tumbuh kembang. Kematian bayi merupakan indikator status kesehatan
masyarakat yang penting berhubungan dengan anak sebagai investasi bangsa. Ibu
hamil yang KEK sebaiknya mendapatkan makanan tambahan dan peyuluhan yang
berkualitas.
Kadar HB ibu hamil normal adalah 11 g/dl , kadar HB ini tergantung pada
asupan nutrisi ibu selama hamil. HB kurang dari 11 g/dl berisiko menderita
anemia zat besi yang dapat berakibat pada terjadinya kelahiran dengan berat
badan lahir rendah. Anemia pada ibu hamil dapat mengakibatkan kekurangan
suplai oksigen ke jaringan sehingga mengganggu pertumbuhan janin. Untuk itu
10
ibu hamil yang menderita anemia perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius.
Petugas kesehatan hendaknya memeriksa HB sedini mungkin.
Tingkat pendidikan ibu mengambarkan pengetahuan kesehatan. Seseorang
yang memiliki pendidikan tinggi mempunyai kemungkinan pengetahuan
tentang kesehatan juga tinggi, karena makin mudah memperoleh informasi
yang didapatkan tentang kesehatan lebih banyak dibandinkan dengan yang
berpendidikan rendah.Sebaliknya pendidikan yang kurang menghambat
perkembangan
seseorang terhadap
nilai
nilai
yang baru
di
kenal
(Notoadmojo,2007) . Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, semakin tinggi
pula pengetahuan kesehatan. Pendidikan yang tinggi memudahkan seseorang
menerima informasi lebih banyak dibandingkan dengan pendidikan rendah.
Pengetahuan kesehatan yang tinggi menunjang perilaku hidup sehat dalam
pemenuhan gizi ibu selama kehamilan.Oleh karena itu perlu dilakukan
pendidikan kesehatan oleh tenaga kesehatan.Pendidikan kesehatan pada
hakekatnya merupakan suatu usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan
kepada masyarakat, kelompok, atau individu.Dengan harapan bahwa dengan
adanya pesan tersebut masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang
pentingnya asupan nutrisi selama kehamilan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka
dapat diambil beberapa simpulan antara lain faktor risiko kejadian berat badan
lahir rendah di lima Wilayah Puskesmas Kabupaten Sumenep adalah penambahan
berat badan, LILA ibu, pendidikan ibu dan HB ibu.
1. Jika ibu berpendidikan
Sekolah Dasar maka kecenderungan untuk
mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 4,346 kali
dibandingkan berpendidikan > Sekolah Dasar.
2.
Jika hamoglobin ibu < 11 gram% maka kecenderungan untuk mempunyai
bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 3,366 kali dibandingkan
hamoglobin ibu
11 gram % .
11
3. Jika LILA ibu < 23,5 cm maka kecenderungan untuk mempunyai bayi berat
badan lahir rendah akan berlipat 6,307 kali dibandingkan LILA ibu
23,5 cm
4. Jika penambahan berat badan ibu < 9 kg maka kecenderungan
untuk mempunyai bayi berat badan lahir rendah akan berlipat 8,624 kali
dibandingkan penambahan berat badan ibu
9 kg
Saran
1. Peningkatan pelayanan kesehatan melalui program KIA pada tingkat
Puskesmas dalam hal penyuluhan antenatal care, deteksi Kekurangan
Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil.
2.
Melakukan studi lanjut tentang aspek budaya mempengaruhi ibu
dalam perawatan masa kehamilan terhadap kejadian BBLR.
DAFTAR PUSTAKA
Agresti A, (1996) An Introduction to Categorical Data Analysis, John Wiley and
Sons, USA
Bobak., (1999) Maternal Nursing Care Plans, Mosby Company
Breiman L., J.H Friedman ,R.A Olshen ,C.J. Stone. (1993) Classification And
Regression Trees, New York : Chapman And Hall.
Departemen Kesehatan RI, (2005) Profil Kesehatan Indonesia 2005, Pusat Data
dan informasi, Heath Statistic, Jakarta:Depkes RI
Departemen Kesehatan RI, (2008) Profil Kesehatan Indonesia 2007, Pusat Data
dan Informasi, Health Statistic. Jakarta: Depkes RI.
Dinas Kesehatan Kota Sumenep, (2008) Profil Dinas Kesehatan Kota Sumenep
2008, Dinas Kesehatan Kota Sumenep.
Turhayati ER, (2006) Hubungan Pertambahan Berat Badan Selama Kehamilan
dengan Berat Lahir Bayi di Sukaraja Bogor Tahun 2001-2003, Jurnal
Kesehatan Masyarakat V0l 1,N0. 3, Desember 2006, hal 140-143.
Wiknjosastro H, ( 1999) Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono FKUI,
Jakarta.
12
Hermiyanti S, ( 2005) Kesehatan Neonatal di Indonesia,. Jakarta: Lokakarya
Nasional Kesehatan Neonatal.
Hosmer, DW dan S Lemeshow., (2000) Applied Logistic Regression, second
Edition, John Wiley and Sons.
Kartiaji, (1999) Berat Badan Lahir Rendah dan Penanganannya, Pustaka Utama,
Bandung
Lewis dan J Roger, (2000) An Introduction to Classification and Regression Trees
(CART) Analysis. Presented at the 2000.
Luknis Sabrani, (2000) Modul Biostatistik & Statistik Kesehatan, FKUI, Jakarta,
Manuaba, Ida Bagus, (1998) Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan, dan Keluarga
Berencana, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Pratisto A, (2009) Statistik Menjadi Mudah dengan SPSS 17, PT Alex Media
Komutindo, Jakarta
Priyatno, Duwi, (2009) SPSS untuk Analisis Korelasi, Regresi, dan Multivariate,
Gava Media, Yogyakarta
Rogayah, Hanifah, (2005) Faktor Resiko Ibu Hamil yang mempengaruhi BBLR
FKM-Unair Surabaya.
Rustam Mochtar, (1998) Patologi Kebidanan, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Saraswati, E, (2006) Faktor Kesehatan Reproduksi Ibu Hamil dan Hubungannya
dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah di Kota Sukabumi
Tahun 2005-2006, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1, No. 3.,
Desember 2006, hal 106-110.
Saraswati, E, (1998) Resiko ibu Hamil Kurang EnergiKronis (KEK) dan Anemia
untuk melahirkan Bayi dengan BBLR. Penelitian Gizi dan Makanan jilid
21: 27
Setyowati Titiek (1996) Faktor-faktor yang mempengaruhi BBLR, Depkes RI,
Jakarta.
Siciliano R., dan F Mola (2000) Multivariate data analisis and modeling through
classification and regression trees Computational Statistics dan data
analisis, Elsevier.
Sudjana, (2002) Teknik Analisis Regresi dan Korelasi Bagi Para Peneliti,
Penerbit Tarsito, Bandung
13
Sudjana, (2005) Metoda Statistika, Penerbit Tarsito, Bandung
Suharjon B (2008) Analisis Regresi Terapan Dengan SPSS, Graha Ilmu,
Yogyakarta
Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi., (1998) Faktor-faktor yang
mempengaruhi BBLR, Ikatan Ahli Gizi, Jakarta.
Download