Document

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang mengutamakan sektor pertanian
dalam mewujudkan pembangunan nasional. Pembangunan merupakan suatu usaha
untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik, dimana usaha tersebut dilakukan
secara terus-menerus. Pengembangan pembangunan nasional membutuhkan
sumber daya alam berupa lahan pertanian bagi para petani di Indonesia. Lahan
pertanian dialokasikan para petani sebagai tempat mata pencaharian untuk
meningkatkan pendapatan mereka. Pendapatan rumah tangga petani dijadikan
sebagai indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan ekonomi petani.
Kesejahteraan ekonomi petani dipengaruhi oleh total pengeluaran rumah tangga
dalam kurun waktu tertentu. Pengeluaran rumah tangga petani dengan tingkat
kesejahteraan ekonomi rumah tangga memiliki hubungan negatif. Oleh karena itu,
jika total pengeluaran petani semakin menurun maka semakin membaik pula
kesejahteraan ekonomi rumah tangga.
Kegiatan konsumsi individu biasanya diturunkan dari perilaku individu yang
rasional yaitu memaksimumkan kepuasan dengan sejumlah kendala, selanjutnya
perilaku secara agregat akan menurunkan fungsi permintaan rumahtangga.
Pendapatan rumahtangga sebagai pendapatan penuh (full income) terdiri dari
pendapatan usahatani pokok, upah dan pendapatan bukan dari aktivitas kerja
(seperti dari transfer, hasil sewa, warisan dan lain-lain Masalah yang kompleks
dalam rumahtangga petani dan persoalan yang dihadapinya menjadi hal yang
1
menarik untuk diteliti, dengan kata lain, perilaku rumahtangga petani dapat dibagi
tiga kelompok utama, yaitu sebagai petani sawit, alokasi tenaga kerja dan secara
khusus dengan mengkaji aktifitas ekonomi anggota keluarga petani kelapa sawit
maka dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku ekonomi
mereka dalam memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki untuk memenuhi semua
kebutuhan keluarga.
Berdasarkan luasnya potensi tanaman kelapa khusus nya kelapa sawit di
Kabupaten Bangka dan peranannya dalam menggerakkan aktivitas ekonomi serta
nilai tambah dalam negeri maka tampaknya akan semakin menuntut dukungan
pengembangan industri kelapa sawit sebagai prasyarat.
Pada kenyataannya, pola pengeluaran penduduk di perkotaan dengan
dipedesaan menunjukkan pola terbalik. Di pedesaan, pengeluaran para petani
cenderung digunakan untuk pangan sedangkan pengeluaran penduduk diperkotaan
ke non-pangan. penduduk di Desa Riau Silip Kecamatan Belinyu Kabupaten
Bangka bergantung pada sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
dan sebagian lagi mempunyai mata pencarian lain di sektor non-pertanian, seperti
kuli bangunan, supir dan lain-lain. Sebagian besar penduduk memanfaatkan lahan
mereka untuk ditanami kebun sawit karena usaha ini dirasa cukup menjanjikan bagi
para petani. Alasanya, usaha kelapa sawit dinilai dapat meningkatkan pendapatan
mereka.
Desa riau silip Kabupaten Bangka selain kaya akan potensi dari perkebunan
kelapa sawit, juga memiliki potensi yang dapat membantu meningkatkan
perekonomian. Perkebunan kelapa sawit di Desa Riau Silip Bangka memiliki
2
prospek yang masih cerah di masa yang akan datang untuk di kembangkan
mengingat ekspor yang semakin meningkat tiap tahunnya. Kelapa sawit masih tetap
menjadi salah satu usaha tani di Desa Riau Silip Bangka, sejak masa kolonial hingga
era reformasi dewasa ini. Prospek pasar bagi olahan kelapa sawit cukup
menjanjikan, karena permintaan dari tahun-ketahun mengalami peningkatan yang
cukup besar. Karena itu, sebagai negara tropis yang masih memiliki lahan yang
cukup luas, Desa Riau Silip Bangka berpeluang besar untuk mengembangkan
perkebunan kelapa sawit.
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas dan
selain itu, peneliti juga mewawancara buruh tani dan karyawan PT Gunung
Pelawan Lestari, penulis merasa tertarik untuk melihat lebih jauh bagaimana
kondisi kehidupan sosial ekonomi keluarga petani yang dirumahkan dan strategi
apa yang dilakukan, untuk itu penulis mengangkat judul sebagai berikut “Coping
Strategies Buruh Tani Kelapa Sawit PT Gunung Pelawan Lestari Dalam Memenuhi
Kebutuhan Rumah Tangga di Desa Riau Silip Kecamatan Belinyu Kabupaten
Bangka Induk”.
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, masalah pokok penelitian ini dapat di
identifikasikan sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat kebutuhan sosial dan ekonomi buruh tani yang bekerja
di PT Gunung Pelawan Lestari desa Riau silip?
2. Bagaimana Coping strategies yang dilakukan buruh tani kelapa sawit
dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga di desa Riau silip?
3
C.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian strategi buruh tani kelapa sawit dalam
memenuhi kebutuhan rumah tangga sebagai berikut:
a. Mendiskripsikan tingkat kebutuhan sosial dan ekonomi dalam buruh tani
di PT Gunung Pelawan Lestari desa Riau Silip?
b. Mendiskripsikan Coping strategies untuk pemecahan masalah untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga?
2. Kegunaan Penelitian
Segala bentuk penelitian ilmiah fenomena sosial, dirancang untuk
kesempurnaan suatu deskripsi permasalahan sosial. Penelitian dibutuhkan
untuk memberi manfaat yang signifikan dalam suatu kehidupan sosial. Maka
dari itu kegunaan atau manfaat dari penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut :
a. Teoritis
Secara teoritis kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan
sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pekerjaan sosial terutama
di PT Gunung Pelawan Lestari Desa Riau Silip Kec. Belinyu Kab. Bangka
Induk
b. Praktis
Secara praktis kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan
masukan sebagai pemecahan masalah-masalah dan saran kepada
masyarakat, para buruh tani kelapa sawit dan pemerintah yang terkait,
4
sehingga mereka dapat memahami hal yang berkaitan strategi petani sawit
dalam mengelola penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga
di Desa Riau Silip Kec. Belinyu Kab. Bangka Induk.
D. Kerangka Konseptual
Kesejahteraan sosial mencakup semua tindakan dan proses secara langsung
yang mencakup tindakan dan pencegahan masalah sosial, pengembangan sumber
daya manusia dan peningkatan kualitas hidup. Masalah yang dihadapi oleh anak
pengambil koin merupakan salah satu permasalahan kesejahteraan karena meliputi
keadaan sosial, ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan dasar yang belum dicapai
secara maksimal karena keterbatasan sistem sumber yang dituju dan kemampuan
terbatas yang dimilikinya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 bahwa “ kesejahteraan
sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga
negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat
melaksanakan fungsi sosialnya “.
Pekerjaan sosial merupakan suatu profesi pelayanan kepada manusia
(individu,
kelompok
dan
masyarakat)
dalam
memberikan
pelayanan
profesionalnya, pekerjaan sosial dilandasi oleh pengetahuan-pengetahuan dan
keterampilan-keterampilan ilmiah mengenai human relation (relasi antar manusia).
Oleh sebab itu, relasi antar manusia merupakan inti dari profesi pekerjaan sosial.
Menurut Zastrow (Soeharto, 2009 :1) menyatakan bahwa pekerjaan sosial adalah :
Aktivitas profesional untuk menolong individu, kelompok, dan masyarakat
dalam meningkatkan atau memperbaiki kapasitas mereka agar berfungsi
5
sosial dan menciptakan kondisi-kondisi masyarakat yang kondusif untuk
mencapai tujuan tersebut.
Definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan sosial adalah keadaan
saat individu merasakan situasi terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan hidupnya
secara fisik, psikis, dan sosial untuk melakukan perannya dalam keluarga maupun
masyarakat yang sesuai dengan tugas perkembangannya. Sedangkan pekerja sosial
adalah
sebuah
profesi
keterampilan-keterampilan
yang memberikan
untuk
pengetahuan-pengetahuan
mengembalikan
keberfungsian
dan
individu,
kelompok atau masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Tujuannya untuk
mencapai kehidupan yang sejahtera dalam memenuhi kebutuhan pokoknya seperti
sandang, pangan, papan, kesehatan dan juga relasi-relasi sosial maupun lingkungan
tempat di mana individu itu tinggal.
Masalah sosial tersebut merupakan kondisi – kondisi yang tidak
menyenangkan yang berdampak buruk dan mengakibatkan situasi – situasi sosial
atau permasalahan – permasalah sosial yang bisa mengganggu dan merugikan
banyak orang. Masalah sosial menurut Soetarso (Huraerah, 2011 : 8) dalam buku
Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat : Model dan Strategi
Pembangunan Berbasis Kerakyatan yaitu:
masalah sosial terbentuk oleh kombinasi – kombinasi faktor internal yang
yang berasal dari dalam diri orang (ketidakmampuan, kecacatan, gangguan
jiwa dan sebagainya) dan faktor – faktor eksternal yang berasal dari
lingkungan sosial ( keluarga, sekolah, lingkungan tetangga,lingkungan kerja
dan sebagainya.
Dari definisi di atas bisa diambil kesimpulan jika masalah buruh tani kelapa
sawit merupakan saluh satu fenomena yang bisa dijadikan suatu alat penelitian.
6
Karena persoalan yang dihadapi oleh buruh tani sangatlah kompleks. Ini
menyebabkan bagaimana ketahanan mereka dalam menghadapi persoalanpersoalan di dalam kehidupan mereka. Untuk itu, perlu yang namanya coping
strategies untuk menjadi alternatif pemecahan masalah yang terjadi pada buruh tani
kelapa sawit.
Buruh tani adalah istilah bagi orang yang sehari-harinya bekerja mengolah
lahan pertanian dengan bercocok tanam, kegiatan bercocok tanam yang dilakukan
adalah menanam berbagai jenis tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga sehari-hari. Dalam mengelolah lahan pertanian mereka menggunakan
peralatan-peralatan yang sederhana sehingga peralatan yang modern.
Mosher (1 969: 100) mengemukakan pendapat bahwa energi matahari
menimpa permukaan bumi dimana-mana dengan atau tanpa manusia. Dimana saja
terdapat suhu yang tepat serta air yang cukup , maka tumbuhlah tumbuhantumbuhan dan hiduplah hewan , manusialah yang dating mengendalikan keadaan
ini , ia mengecap kegunaan dari hasil tanaman dan hewan, ia mengubah tanamantanaman dan hewan serta sifat tanah supaya lebih berguna baginya, dan manusia
yang melakukan ini disebut petani.
Mosher (1969:101) membagi petani dalam dua golongan, yaitu pertanian
primitive dan pertanian modern. Pertanian primitif diartikan sebagai petani yang
bekerja mengikuti metode-metode yang berasal dari orang-orang tua dan tidak
menerima pemberitahuan (inovasi). Mereka yang mengharapkan bantuan alam
untuk mengelola pertaniannya. Sedangkan pertanian modern diartikan sebagai yang
menguasai pertumbuhan tanaman dan aktif mencari metode-metode baru serta
7
dapat menerima pembaruan (inovasi) dalam bidang pertanian. Petani macam inilah
yang dapat berkembang dalam rangka menunjang ekonomi baik dibidang pertanian.
Sedangkan koentrjaraningrat (1980:70-71) memberikan pendapat bahwa : “Petani
itu, rakyat pedesaan yang hidup dari pertanian dengan teknologi lama, tetapi
merasakan diri bagian bawah dari suatu kebudayaan yang lebih besar, dengan suatu
bagian atas yang dianggap lebih halus dan beradab dalam masyarakat kota. Sistem
ekonomi dalam masyarakat petani itu berdasarkan pertanian (bercocok tanam,
pertenakan, perikanan) yang menghasilkan pangan dengan teknologi yang
sederhana dan dengan ketentuan produksi yang tidak berspesialisasi. Sejarah
pertanian telah mencatat bahwa pola pertanian masyarakat petani awal adalah
pertanian sub sistem. Mereka menanam berbagai jenis tanaman pangan sebatas
untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Perkembangan kultur pertanian
berikutnya adalah terbentuknya komunitas-komunitas kecil yang menyerupai desa
dalam bentuk dan struktur yang sederhana. Bentuk pertaniannya masih berupa
sistem berladang, masyarakatnya tidak bersifat menetap karena berpindah-pindah
mengikuti ladang yang baru. Perubahan yang cukup penting adalah berlangsung
ketika pergeseran kebutuhan keluarga petani, Satu bentuk interaksi sosial-ekonomi
yang lebih berkembang terjalin dengan lahirnya uang. Kelebihan hasil pertanian
mulai dijual kepada orang yang membutuhkan. Pertanian pun bergeser dari corak
subsisten ke pembentukan petani yang mulai mengenal sistem pasar tetapi sebagai
masih menjalankan sistem pengolahan lahan yang bersifat tradisional.
Soetomo (1997: 21-22) menyatakan bahwa manusia mengawali dan
mempertahankan hidupnya dengan cara berburu dan meramu. Sejak lahirnya, kira-
8
kira satu juta tahun yang lalu, manusia memburu binatang sekaligus mengumpulkan
tumbuh-tumbuhan atau akar-akaran sebagai kemungkinan untuk melanjutkan hidup
mereka. Pergeseran mata pencaharian hidup manusia hingga pada aktivitas
bercocok tanam yang terjadi kira-kira sepuluh ribu tahun yang lalu menjadi satu
tahap revolusi kebudayaan yang pesat dalam sejarah hidup manusia.
Secara sederhana, Malinowski (Sjairin, 2002 :1-2) Menyatakan bahwa
kebutuhan hidup manusia itu dapat di bagi pada tiga kategori besar yaitu:
a. Kebutuhan alamiah-biologi (manusia harus makan dan minum untuk
menjaga kestabilan temperatur tubuhnya agar tetap berfungsi dalam
hubungan harmonis secara menyeluruh dengan organ-organ tubuh
lainnya).
b. Kebutuhan kejiwaan (manusa membutuhkan perasaan tenang yang jauh
dari perasaan takut, keterpencilan, gelisah, dan lain-lain).
c. Kebutuhan sosial (manusia membutuhkan hubungan untuk dapat
melangsungkan keturunan untuk tidak merasa dikucilkan, dapat
melangsungkan keturunan, untuk tidak merasa dikucilkan, dapat belajar
mengenai kebudayaannya, untuk dapat mempertahakan diri dari serangan
musuh dan lain-lain).
Sedangkan Steward (Hardesty, 1977: 42). menjelaskan kajiannya mengenai
hubungan timbal balik atau hubungan resiprokal antara kebudayaan dan
lingkungan. Steward percaya bahwa beberapa unsur dari kebudayaan lebih
perkatian erat dengan lingkungan dibandingkan dengan unsur kebudayaan yang
lain. Analisis ekologi bisa digunakan untuk menjelaskan hubungan lintas budaya
9
yang sama yang disebut kebudayaan inti (core culture). Kebudayaan inti dari terdiri
dari sektor ekonomi masyarakat yang mempengaruhi segala aktivitas masyarakat
sebagai hasil dari:
1. Hubungan timbal balik antara lingkungan dan eksploitasi produksi
ekonomi.
2. Hubungan antara pola prilaku dan eksploitasi teknlogi.
3. Pola prilaku yang mempengaruhi sektor kebudayaan lain.
Maksud dari analisis Steward tersebut adalah bahwa ketika lingkungan
mengalami perubahan, maka unsur kebudayaan yang paling mudah berubah adalah
sektor ekonomi dan teknologi karena berkaitan erat dengan lingkungan.
Pandangan ini di pertegas oleh Ralp Linton (Koentjaraningrat, 1990:88) yang
membagi unsur kebudayaan yang mudah berubah dan sukar berubah ke dalam dua
istilah yaitu: covert culture (bagian inti kebudayaan atau kebudayaan yang sukar
berubah) dan overt culture (bagian kulit kebudayaan atau kebudayaan yang mudah
berubah). Adapun yang masuk ke dalam covert culture adalah: sistem nilai budaya,
keyakinan keagamaan yang dianggap keramat, beberapa adat yang sudah dipelajari
sangat dini dalam proses sosialisasi individu warga masyarakat. Sedangkan yang
termasuk dalam overt culture adalah kebudayaan fisik, seperti ilmu pengetahuan,
teknologi, ekonomi, tata cara, gaya hidup, serta alat-alat atau benda yang berguna.
Hardesty (1977: 45-46) melihat bahwa manusia selalu berupaya untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan alam sekitarnya yang bersifat dinamik
tersebut, baik secara biologis/genetik dan varian budaya yang dianggap sebagai
jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalah lingkungan. Adaptasi juga
10
merupakan suatu proses yang dinamik karena baik organisme maupun lingkungan
sendiri tidak ada yang bersifat konstan/tetap. Daya tahap hidup populasi tidak
bekerja secara pasif dalam menghadapi kondisi lingkungan tertentu, melainkan
memberikan ruang bagi individu dan populasi untuk bekerja secara aktif
memodifikasi perilaku mereka dalam rangka memelihara kondisi tertentu,
menanggulangi
resiko
tertentu
pada
suatu
kondisi
yang
baru,
atau
mengimprovisiasi kondisi yang ada.
Soetomo (2006:20) Dalam rangka mewujudkan proses pemanfaatan sumber
daya, maka yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk melakukan identifikasi
sumber daya, kemuddian memanfaatan dan mengelolanya dengan baik. Dengan
demikian, berdasarkan pandangan tersebut, identifikasi sumber daya merupakan
salah satu langkah yang strategis dalam proses pembangungan masyarakat. Oleh
sebab itu, identifikasi sumber daya juga dapat berfungsi untuk mengangkat sumber
daya yang masih terpendam ke atas permukaan realitas sosial, sehingga dapata
segera dimanfaatkan dalam rangka pengkatan taraf hidup
Berdasarkan konsepsi ini, Moser (Suharto, 2002: 13) membuat kerangka
analisis yang disebut “The Asset Vulnerability Framework”. Kerangka ini meliputi
berbagai pengelolaan aset yang dapat digunakan untuk melakukan penyusuian atau
pengembangan strategi tertentu dalam mempertahankan kelangsungan hidup
seperti:
1. Aset tenaga kerja (labour asset), misalnya meningkatkan keterlibatan
wanita dan anak dalam keluarga untuk bekerja membantu ekonomi rumah
tangga.
11
2. Aset modal manusia (human capital asset), misalnya manfaat status
kesehatan yang dapat menentukan kapasitas orang atau bekerja atau
keterampilan dan pendidikan yang menentukan umpan balik atau hasil
kerja (return) terhadap tenaga yang di keluarkannya.
3. Aset produktif (productive asset), misalnya menggunakan rumah, sawah,
ternak, tanaman untuk keperluan hidupnya.
4. Aset relasi rumah tangga atau keluarga (Household relation asset),
misalnya memanfaatkan jaringan dan dukungan dari sistem keluarga
besar, kelompok etnis, migrasi tenaga kerja dan mekanisme “uang
kiriman” (remittances).
5. Aset modal sosial (sosial capital aset), misalnya memanfaatkan lembagalembaga sosial lokal, arisan dan memberi kredit dalam proses dan sistem
perekonomian keluarga.
Kesadaran akan pentingnya penanganan kemiskinan lokal yang berkelanjutan
yang menekankan pada penguatan solusi-solusi yang ditemukan oleh orang yang
bersangkutan semakin mengemukakan. Pendekatan ini lebih memfokuskan pada
pengidentifikasian “ apa yang dimiliki orang miskin” ketimbang “apa yang tidak
dimiliki orang miskin” yang menjadi sasaran pengkajian.
Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukan bahwa orang miskin adalah
manajer seperangkat aset yang ada diseputar diri dan lingkungannya. Sebagaimana
ditunjukan oleh studi Suharto (2002a:69):
12
“There is growing body of literature documenting that people who live in
conditons which put their principal soure of livelihood at recurrent theat will
adopt strategic adaptation to minimize risk. The ways in which people plan
strategically such coping berhaviour critically determine their chances of
survival as well as future economic wel-being”.
Keadaan diatas terutama terjadi pada orang miskin yang hidup di Negara yang
tidak menerapkan sistem Negara kesejahteraan (welfare state) yang dapat
melindungi dan menjamin kehidupan dasar warganya terhadap kondisi-kondisi
yang memburuk yang tidak mampu ditangani oleh dirinya sendiri. Kelangsungan
hidup individu dalam situasi ini seringkali tergantung pada keluarga yang secara
bersama-sama dengan jaringan sosial membantu para anggotanya dengan
pemberian bantuan keuangan, tempat tinggal dan bantuan-bantuan mendesak
lainnya.
Dalam konteks ini, maka orang miskin bukan saja dilihat sebagai orang yang
memiliki “kondisi miskin”, melainkan pula memiliki seperangkat pengetahuan dan
keterampilan yang sering digunakannya dalam mengatasi berbagai permasalahan
sosial ekonomi seputar kemiskinannya. Dalam literatur, kemampuan atau cara-cara
seperti itu disebut sebagai strategi penanganan (coping strategies).
Usaha yang dilakukan individu untuk mencari jalan keluar dari suatu
permasalahan agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan – perubahan yang
terjadi dapat dikatakan sebagai coping strategies. Coping atau upaya mengatasi
masalah yang dilakukan seseorang dalam menghadapi permasalahan yang dapat
diwujudkan dalam berbagai cara, tergantung dari kemampuan dan aksesibilitas
13
seseorang tersebut terhadap sumber dukungan lainnya. Coping dapat diartikan
sebagai hal yang paling mendasar dan fundamental yang digunakan individu,
kelompok dan masyarakat untuk mengatasi tantangan . Menurut Kartini Kartono &
Gulo (2003:97), menggambarkan cope dan strategy sebagai :
Copea adalah menangani suatu masalah menurut suatu cara, sering
kali dengan cara menghindari, melarikan diri, mengurangi kesulitan dan
bahaya yang timbul. Sedangkan strategy adalah prosedur yang diterima dan
dipakai dalam suatu upaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, seperti
pemecahan suatu masalah atau suat metode umum untuk memecahkan
permasalahan-permasalahan.
Definisi di atas menjelaskan bahwa arti dasar dari kata coping strategy
adalah upaya-upaya yang cenderung berupa tindakan negatif untuk lepas dari
permasalahan yang tengah dihadapi oleh seorang dengan mencari cara-cara yang
dianggap baik dan benar.
Pengertian coping menurut lazarus & folkman (1984:141) mengungkapkan:
“copyng as consultantly changing cognitive and behavioral efforts to manage
specific external and/or internal demands that are appraised as taxing or exceeding
the Resources of the person”.
Coping adalah proses mengelola tuntutan internal dan eksternal yang
ditafsir sebagai beban karena di luar kemampuan individu. Pernyataan tersebut
menjelaskan bahwa coping merupakan suatu proses dimana individu mencoba
untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan ( baik itu tuntutan yang
berasal dari dalam diri maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan
sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi atau
masalah.
14
Sudrajat (2006) mengemukakan bahwa coping strategi adalah upaya
penanggulangan masalah yang dilakukan oleh perorangan, kelompok, atau
komunitas melalui mekanisme tertentu agar dapat mencapai kenyataan yang
menyenangkan atau lebih baik. Pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
seseorang dapat melakukan upaya dalam menyelesaikan masalahnya dengan
menggunakan suatu mekanisme yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh
individu tersebut untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi dalam
kehidupannya.
Selanjutnya Suharto (2003: 23-24) menyatakan strategi bertahan hidup
(coping strategies) dalam mengatasi goncangan dan tekanan ekonomi dapat
dilakukan dengan berbagai cara. Cara-cara tersebut dapat dikelompokan menjadi
tiga katagori yaitu:
1. Strategi aktif, yaitu strategi yang mengoptimalkan segala potensi keluarga
untuk misalnya melakukan aktivitasnya sendiri, memperpanjang jam
kerja, memanfaatkan sumber atau tanaman liar dilingkugan sekitarnya dan
sebagainya
2. Strategi pasif, yaitu mengurangi pengeluaran keluarga misalnya
pengeluaran sandang, pangan, pendidikan, dan sebagainya.
3. Strategi jaringan, misalnya menjalin relasi, baik formal maupun informal
dengan lingkungan sosialnya, dan lingkungan kelembagaan misalnya :
meminjam uang tetangga mengutang diwarung, memanfaatkan program
kemiskinan, meminjam uang ke rentenir, atau bank dan sebagainya.
15
Hal itu telah terjadi dalam masyarakat Petani Rakyat yang terdapat pada Desa
Riau Silip Kec. Belinyu, yang melakukan berbagai cara maupun strategi untuk
mengatasi fluktuasi harga Kelapa Sawit yang mempengarui kegiatan-kegiatan
ekonomis keluarga, sosial dan budaya mereka. Untuk itu, perlulah kiranya untu
mengkaji lebih dalam lagi bagaimana sebenarnya bentuk strategi yang mereka
lakukan dalam mencukupi kebutuhan-kebutuhan dan menjaga kelangsungan
hidupnya, akan diintrepetasikan dalam penelitian ini.
Dalam mendeskripsikan permasalah ini, Studi Antropologi Sosial Budaya,
sangat berperan penting dalam mengintrepetasikan penelitian ini, karena kedua
bidang ilmu pengetahuan ini berusaha melihat permasalahan manusia dalam
hubungannya dengan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.
E. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah jenis metode studi kasus
yaitu “studi kasus, yang digali adalah entitas tunggal atau fenomena (kasus) dari
suatu masa tertentu dan aktifitas (bisa berupa program, kejadian, proses institusi,
atau kelompok sosial) serta mengumpulkan detail informasi berbagai prosedur
pengumpulan data selama kasus itu terjadi” (Afifudin 2012:86).
Dalam penelitian studi kasus terdapat dua pendapat yang dapat dipergunakan
untuk memahami kasus sebagai masalah yang penting untuk diteliti.Pertama
sebagai kejadian tunggal yang berpisah atau berbeda secara diskriminatif dengan
tingkah laku dan tradisi pada umumnya, sehingga kasus tersebut dipandang sebagai
penyimpanganan atau deviasi sosial.Kedua, kasus yang merupakan tradisi normatif
16
yang bukan sekadar gejala, melainkan trade mark dari keadaan masyarakat tertentu,
yang dikategorikan sebagai kebudayaan.
Dalam penelitian studi kasus terdapat pendapat yang dapat dipergunakan
untuk memahami kasus sebagai masalah yang penting untuk diteliti.Pertama, kasus
sebagai kejadian tunggal yang berpisah atau berbeda secara diskriminatif dengan
tingkah laku dan tradisi pada umumnya, sehingga kasus tersebut dipandang sebagai
penyimpangan atau devisi sosial. Kedua, kasus yang merupakan tradisi normatif
yng bukan sekedar gejala, melainkan sebagai trade mark dari keadaan masyarakat
tertentu, yang dikategorikan sebagai kebudayaan (Afifudin, 2012:86).
1.
Subjek Penelitian
Subjek yang akan diteliti disebut informan. Menurut Alwasilah (2012:102)
Informan adalah “Pemilihan sample bukan saja diterapkan pada manusia sebagai
informan, melainkan juga pada latar (setting), kejadian dan proses”. Peneliti
menggunakan teknik purposive sampling dalam penelitian ini. Menurut Patton
(1990) yang dikutip oleh Alwasilah, (2012:103) bahwa:
purposive sampling, yakni jurus agar manusia, latar, dan kejadian
tertentu (unik, khusus, tersendiri, aneh, nyeleneh) betul-betul diupayakan
terpilih (tersertakan) untuk memberikan informasi penting yang tidak
mungkin diperbolehkan melalui jurus lain.
Menurut Maxwell (1996) yang dikutip oleh Alwasilah, (2012 : 103)
menyebutkan bahwa terdapat empat tujuan dari pemilihan sample secara purposif
sebagai berikut :
1) Karena kekhasan atau kerepresentatifan dari latar, individu, atau kegiatan.
2) Demi heterogenitas dalam populasi.
17
3) Mengkaji kasus-kasus yang kritis terhadap (mementahkan) teori-teori
yang ada.
4) Mencari perbandingan-perbandingan untuk mencerahkan alasan-alasan
perbedaan antara latar, kejadian, atau individu.
Demikian penarikan informan dengan menggunakan purposive sampling
peneliti mencari informan yang sesuai dengan kriteria proses penelitian yaitu buruh
tani kelapa sawit di PT. Gunung Pelawan Lestari Desa Riau Silip Kecamatan
Belinyu Kabupaten Bangka Induk.
F. Sumber dan Jenis Data
1. Sumber Data
Bahan penunjang suatu penelitian, dibutuhkan data agar hasil penelitian
lebih akurat sesuai dengan fenomena sosial yang nyata. Menurut Alwasilah
(2012:105), sumber data tidak ada persamaan atau hubungan deduktif antara
pertanyaan penelitian dan metode pengumpulan data. Sumber data berupa survei,
eksperimen, dokumen, arsip dan lainnya. Sumber data yang dikumpulkan dalam
penelitian ini, terdiri dari :
1.
Data primer, yaitu sumber data yang terdiri dari kata-kata dan tindakan yang
diamati atau diwawancarai, diperoleh secara langsung dari para informan
penelitian menggunakan pedoman wawancara mendalam (indepth interview).
Buruh tani kelapa sawit adalah orang yang dimintai keterangan untuk
memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.
2.
Data sekunder, yaitu sumber data tambahan, diantaranya :
18
a) Sumber tertulis dibagi atas buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dan
dokumen resmi.
b) Pengamatan keadaan fisik lokasi penelitian (Di Desa Riau Silip).
2.
Jenis Data
Berdasarkan sumber data yang telah diuraikan di atas, maka dapat
diidentifikasikan jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ilmiah ini. Jenis
data akan diuraikan berdasarkan identifikasi masalah dan konsep penelitian agar
mampu mendeskripsikan permasalahan yang diteliti, yaitu sebagai berikut :
Tabel 1.1
Informasi Yang Dibutuhkan
No Informasi Yang Dibutuhkan
1
Tingkat kebutuhan sosial
dan ekonomi
2
Coping strategi yang
dilakukan buruh tani
Informan
Buruh Tani
Jumlah Informan
6 orang
G. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Instrumen buruh tani dalam situasi yang tidak ditentukan, dimana peneliti
memasuki
lingkungan buruh tani sehingga tidak mengetahui apa yang tidak
diketahui, peneliti harus mengandalkan teknik-teknik penelitian, seperti :
a.
Wawancara mendalam, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara
mengajukan pertanyaan secara langsung dan mendalam kepada informan.
Pewawancara tidak perlu memberikan pertanyaan secara urut dan
19
menggunakan kata-kata yang tidak akademis, yang dapat dimengerti atau
disesuaikan dengan kemampuan informan.
b.
Observasi non partisipan, adalah teknik pengumpulan data dengan tidak
melakukan pengamatan langsung kepada objek yang akan diteliti dengan
melibatkan diri ke dalam kegiatan yang dilaksanakan.
c.
Studi dokumen yaitu sumber tertulis
atau tercetak yang mempunyai
keterangan-keterangan dipilih, disusun, atau untuk disebarkan seperti
peraturan perundang-undangan, sumber dari arsip, dan dokumen resmi.
Teknik-teknik di atas merupakan teknik yang akan digunakan peneliti
untuk mempelajari dan mendeskripsikan secara mendalam tentang coping
strategies buruh tani kelapa sawit dengan beberapa permasalahan yang
dihadapinya.
3.
Analisis Data
Penelitian ini dapat diolah dengan menganalisis data-data di lapangan secara
istiqomah (konsisten dan berulang). Menurut Alwasilah (2012 : 113), bahwa
“analisis data kualitatif merupakan tahapan pengumpulan data terpadu oleh fokus
yang jelas, sehingga observasi dan interview selanjutnya terfokus, menyempit dan
menukik dalam”. Tahapan analisis data yang digunakan sebagai berikut :
A. Menulis memo, berupa catatan lapangan dan hasil interview dalam
penelitian.
B. Koding, berupa pemberian kode secara konsisten untuk fenomena yang
sama.
20
C. Kategorisasi, temuan-temuan yang dikategorikan berdasarkan teori yang
telah ada.
D. Kontekstualisasi, berupa studi kasus, profil, beberapa jenis analisis
wawancara, analisis naratif, dan analisis makna etnografis.
E. Pajangan (Display), berupa matriks atau tabel, jejaring (network) atau peta
konsep, flowcart, diagram, dan berbagi untuk representasi visual lainnya.
F. Arsip analitis (Analytic Files), berupa arsip pertanyaan interview, arsip
informan, dan arsip tempat atau latar.
Analisis data peneliti laksanakan selama penelitian dan dilakukan secara
terus menerus dari awal sampai akhir penelitian agar dapat menyusun hasil
penelitian tentang perempuan rawan sosial ekonomi di pemukiman kumuh
Kelurahan Jamika Kota Bandung.
B.
Keabsahan Data
Memeriksa keabsahan data dalam suatu penelitian yang akan digunakan
dalam karya ilmiah ini, maka yang perlu dilakukan oleh peneliti adalah dengan
teknik triangulasi. Menurut Alwasilah (2012:106): “Triangulasi ini menguntungkan
peneliti dalam dua hal, yaitu (1) mengurangi resiko terbatasnya kesimpulan pada
metode dan sumber data tertentu, dan (2) meningkatkan vadilitas kesimpulan
sehingga lebih merambah pada ranah yang lebih luas”.
Penelitian ini, pengumpulan data menggunakan berbagai metode sehingga
dapat diperoleh data-data tentang perempuan rawan sosial ekonomi yang pasti, atau
peneliti melakukan penyilangan informasi yang diperoleh dari sumber (keluarga,
teman, dan lingkungan sekitar) sehingga pada akhirnya hanya data yang absah yang
digunakan untuk mencapai hasil penelitian ini. Menurut Cohen & Manion (1994)
yang dikutip oleh Alwasilah (2012 : 106 ) ada enam macam cara triangulasi dalam
penelitian ini, yaitu :
21
a.
Time triangulation, yaitu peneliti melalukan observasi mendalam dengan
melihat langsung kondisi perempuan rawan sosial ekonomi sehari-hari dalam
aktivitasnya untuk pengumpulan data yang kongkrit.
b.
Space triangulation, yaitu lingkungan di Kelurahan Jamika menjadi lokasi
yang peneliti ambil dalam proses pengumpulan data tentang perempuan rawan
sosial ekonomi.
c.
Combined levels of triangulation, yaitu menambah atau memperkaya data-data
penelitian tentang perempuan rawan sosial ekonomi sampai mantap sekali.
d.
Theoretical triangulation, yaitu mencocokkan dengan teori coping pada
perempuan rawan sosial ekonomi terdahulu.
e.
Investigator triangulation, yaitu melakukan wawancara mendalam dengan
perempuan rawan sosial ekonomi.
Methodological triangulation, yaitu mengumpulkan data tentang perempuan rawan
sosial ekonomi dengan metode interview, observasi dan wawancara mendalam
serta metode yang lain pada teknik dasar studi lapangan
I. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian akan dilakukan di PT Gunung Pelawan Lestari Desa riau
Silip Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka Induk.Peneliti memilih lokasi tersebut
sebagai wadah melakukan proses penelitian.
22
2. Waktu Penelitian
Tabel 1.2
Waktu Penelitian
No
Jenis Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
2015
Sptmb
Okt
Tahap Pra Lapangan
1
Penjajakan
2
Studi Literatur
3
Penyusunan Proposal
4
Seminar Proposal
23
2016
nov
dsmb
jan
Feb
Mar
5
Penyusunan Pedoman
Wawancara
Tahap Pekerjaan Lapangan
6
Pengumpulan Data
7
Pengolahan & Analisis Data
Tahap Penyusunan Laporan Akhir
8
Bimbingan Penulisan
9
Pengesahan Hasil Penelitian
Akhir
10
Sidang Laporan Akhir
Sumber Tabel : Hasil Penelitian 2015-2016
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Tinjauan Tentang Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan sosial merupakan suatu konsep yang mempunyai arti yang
sangat luas.
Kesejahteraan sosial dapat diartikan sebagai suatu kondisi atau
keadaan terpenuhinya segala bentuk kebutuhan hidup,kesejahteraan sosial dalam
arti yang sangat luas mencakup berbagai tindakan yang dilakukan oleh manusia
untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik.
1. Pengertian Kesejahteraan Sosial
Kehidupan yang didambakan oleh semua manusia di dunia ini adalah
kesejahteraan. Baik yang tinggal di kota maupun yang di desa, semua
24
mendambakan kehidupan yang sejahtera. Sejahtera lahir dan bathin. Namun, dalam
perjalanannya, kehidupan yang dijalani oleh manusia tak selamanya dalam kondisi
sejahtera. Pasang surut kehidupan ini membuat manusia selalu berusaha untuk
mencari cara agar tetap sejahtera. Mulai dari pekerjaan kasar seperti buruh atau
sejenisnya, sampai pekerjaan kantoran yang bisa sampai ratusan juta gajinya
dilakoni oleh manusia. Jangankan yang halal, yang harampun rela dilakukan demi
kesejahteraan hidup.
Secara umum, istilah kesejahteran sosial sering diartikan sebagai kondisi
sejahtera (konsepsi pertama), yaitu suatu keadaan terpenuhinya segala bentuk
kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat mendasar seperti makanan, pakaian,
perumahan, pendidikan dan perwatan kesehatan. Pengertian kesejahteraan sosial
juga menunjuk pada segenap aktifitas pengorganisasian dan pendistribusian
pelayanan sosial bagi kelompok masyarakat, terutama kelompok yang kurang
beruntung (disadvantage groups). Penyelenggaraan berbagai skema perlindungan
sosial (social protection) baik yang bersifat formal maupun informal adalah contoh
aktivitas kesejahteraan sosial (Suharto, 2009).
Kesejahteraan sosial dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, aman sentosa, terhindar dari suatu bahaya
serta sehat wal’afiat. Salah satu konsep dari kesejahteraan sosial tersebut adalah
pemenuhan terhadap kebutuhan dasar manusia, dimana kebutuhan dasar tersebut
tidak hanya terdiri dari kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan, tetapi
pendidikan dan kesehatan juga merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus di
penuhi sehingga manusia dapat berada dalam keadaan sejahtera di dalam
25
kehidupannya. Seperti yang telah diungkapkan oleh Walter A. Friedlander
(Fahrudin, 2012:9) mengenai konsep kesejahteraan sosial yaitu:
Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisasi dari usaha-usaha
sosial dan lembaga-lembaga yang ditujukan untuk membantu individu
maupun kelompok dalam mencapaik standar hidup dan kesehatan yang
memuaskan, serta untuk mencapai relasi perseorangan dan sosial dengan
relasi-relasi pribadi dan sosial yang dapat memungkinkan mereka
mengembangkan kemampuan-kemampuan mereka secara penuh, serta untuk
mempertinggi kesejahteraan mereka selaras dengan kebutuhan-kebutuhan
keluarga dan masyarakat.
Definisi di atas menunjukkan bahwa kesejahteraan sosial merupakan suatu
sistem yang terorganisir dalam suatu lembaga dan pelayanan sosial sebagai suatu
usaha yang bertujuan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dengan cara
meningkatkan kemampuan individu dan kelompok baik dalam memecahkan
masalahnya maupun dalam memenuhi kebutuhannya. Sedangkan definisi
Kesejahteraan Sosial menurut Huraerah (2003:153) yaitu: “Kesejahteraan Sosial
adalah suatu kegiatan atau sekumpulan kegiatan yang ditujukan untuk membantu
orang – orang yang bermasalah”.
Definisi Kesejahteraan sosial menurut Huraerah di atas bahwa Kesejahteraan
Sosial merupakan suatu kegiatan atau sekumpulan kegiatan yang bertujuan untuk
membantu mengatasi masalah sosial serta dapat meningkatkan kualitas hidup
masyarakat. Konsep kesejahteraan sosial di Indonesia juga telah lama dikenal
dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Undang – undang RI nomor 6 tahun 1974
(Suharto, 2010:2) tentang ketentuan - ketentuan pokok kesejahteraan sosial yaitu:
Kesejahteraan sosial adalah Suatu kehidupan dan penghidupan sosial,
material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan,
dan ketentraman lahir batin, yang memungkinkan bagi setiap warga Negara
untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan - kebutuhan jasmaniah,
rohaniah dan sosial yang sebaik - baiknya bagi diri sendiri, keluarga, serta
26
masyarakat dengan menjujung tinggi hak - hak atau kewajiban manusia sesuai
dengan pancasila.
Definisi kesejahteraan sosial menurut undang – undang di atas dapat
diartikan bahwa kesejahteraan sosial adalah suatu keadaan individu, keluarga
maupun masyarakat (warga Negara)
yang aman,
tentram,
damai dimana
terpenuhinya kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan serta kebutuhan
kesehatan, sosial dan pendidikan.
2. Tujuan Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan Sosial bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup individu,
keluarga maupun masyarakat. Menurut Fahrudin (2010 : 10) tujuan
dari
kesejahteraan sosial sebagai berikut:
a. Untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dalam arti tercapainya standar
kehidupan pokok seperti sandang, perumahan, pangan, kesehatan dan
relasi - relasi sosial yang harmonis dengan lingkungannya.
b. Untuk mencapai penyesuaian diri yang baik khususnya dengan masyarakat
di lingkungannya, misalnya dengan menggali sumber – sumber,
meningkatkan, dan mengembangkan taraf hidup yang memuaskan.
Tujuan kesejahteraan sosial menurut Fahrudin di atas yaitu upaya – upaya
yang dilakukan oleh individu, kelompok atau masyarakat dalam memenuhi suatu
kebutuhan – kebutuhan pokok seperti sandang, perumahan, pangan, kesehatan dan
relasi sosial serta upaya untuk meningkatakan dan mengembangkan taraf hidup
individu, keluarga maupun masyarakat agar kehidupannya dapat memuaskan.
Menurut Schneiderman (Fahrudin,2012:10) mengemukakan tiga tujuan utama dari
sistem kesejahteraan sosial yaitu: “Pemeliharaan sistem, pengawasan sistem, dan
perubahan sistem”. Dari ketiga tujuan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Pemeliharaan Sistem
27
Pemeliharaan dan menjaga keseimbangan atau kelangsungan keberadaan
nilai-nilai dan norma sosial serta aturan-aturan kemasyarakatan dalam masyarakat.
termasuk hal-hal yang bertalian dengan definisi makna dan tujuan hidup: motivasi
bagi kelangsungan hidup seseorang dalam perorangan, kelompok ataupun di
masyarakat. Kegiatan sistem kesejahteraan sosial untuk mencapai tujuan semacam
itu meliputi kegiatan yang diadakan untuk sosialisasi terhadap norma-noma yang
dapat diterima, peningkatan pengetahuan dan kemampuan untuk mempergunakan
sumber-sumber dan kesempatan yang tersedia dalam masyarakat melalui
pemberian informasi, nasihat dan bimbingan, seperti penggunaan sistem rujukan,
fasilitas pendidikan, kesehatan dan bantuan sosial lainnya.
b.
Pengawasan Sistem
Melakukan pengawasan secara efektif terhadap perilaku yang tidak sesuai
atau menyimpang dari nilai-nilai sosial. Kegiatan-kegiatan kesejahteraan sosial
untuk mencapai tujuan semacam itu meliputi fungsi-fungsi pemeliharaan berupa
kompensasi, sosialisasi, peningkatan kemampuan menjangkau fasilitas-fasilitas
yang ada bagi golongan masyarakat yang memperlihatkan penyimpangan tingkah
laku.
c.
Perubahan Sistem
Mengadakan perubahan ke arah berkembangnya suatu sistem yang lebih
efektif bagi anggota masyarakat (Effendi, 1982; Zastrow, 1982). Dalam
mengadakan perubahan itu sistem kesejahteraan sosial merupakan instrument untuk
menyisihkan hambatan terhadap partisipasi sepenuhnya dan adil bagi anggota
masyarakat dalam pengambilan keputusan pembagian sumber - sumber secara
28
lebih pantas dan adil; dan terhadap penggunaan struktur kesempatan yang tersedia
sacara adil pula.
3. Fungsi Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan sosial memiliki fungsi yang bertujuan untuk menghilangkan
dan mengurangi tekanan - tekanan yang diakibatkan terjadinya perubahan perubahan sosio-ekonomi, menghindarkan terjadinya konsekuensi - konsekuensi
sosial yang negatif akibat pembangunan serta mampu menciptakan kondisi yang
mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurut Friedlander
dan Apte (Fahrudin, 2012:2) fungsi kesejahteraan sosial adalah sebagai barikut:
a. Fungsi Pencegahan (Preventive).
Kesejahteraan sosial ditujukan untuk memperkuat individu,
keluarga, dan masyarakat suapaya terhindar dari masalah-masalah sosial
baru. Dalam masyarakat transisi, upaya pencegahan ditekankan pada
kegiatan-kegiatan untuk membantu menciptakan pola-pola baru dalam
hubungan sosial serta lembaga-lembaga sosial baru.
b. Fungsi Penyembuhan (Curative).
Kesejahteraan sosial ditujukan untuk menghilangkan kondisikondisi ketidakmampuan fisik, emosional, dan sosial agar orang yang
mengalami masalah tersebut dapat berfungsi kembali secara wajar dalam
masyarakat. Dalam fungsi ini juga tercakup dengan fungsi pemulihan atau
rehabilitasi
c. Fungsi Pengembangan (Development).
Kesejahteraan sosial berfungsi untuk memberikan sumbangan
langsung ataupun tidak langsung dalam proses pembangunan atau
pengembangan tatanan dan sumber-sumber daya sosial dalam masyarakat.
d. Fungsi Penunjang (Supportive).
Fungsi ini mencakup kegiatan-kegiatan untuk membantu mencapai
tujuan sektor atau bidang pelayanan sosial yang lain.
Pekerjaan sosial sebagai proses pertolongan manusia bukan sesuatu yang
mudah, sebab konotasi istilah pekerjaan sosial beraneka macam dan bersifat
dinamis, artinya definisi pekerjaan sosial bersifat relatif, baik tempat, waktu
29
maupun sudut pandang/tinjauannya dan mengalami perubahan sesuai dengan
perkembangan masyarakat.
B.
Tinjauan Tentang Usaha Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan sosial sebagai suatu aktivitas disebut sebagai usaha
kesejahteraan sosial. Usaha kesejahteraan sosial pada umumnya hanya disebut
sebagai pelayanan sosial, karena terdapat kegiatan seperti upaya – upaya untuk
memberikan pertolongan atau pelayanan – pelayanan guna memenuhi kebutuhan
seseorang. Akan lebih jelasnya definisi usaha kesejahteraan sosial di jelaskan di
bawah ini.
Membahas teori konstruksi sosial (social construction), tentu tidak bisa
terlepaskan dari bangunan teoretik yang telah dikemukakan oleh Peter L. Berger
dan Thomas Luckmann. Peter L. Berger merupakan sosiolog dari New School
forSocial Reserach, New York, Sementara Thomas Luckman adalah sosiolog dari
University of Frankfurt. Teori konstruksi sosial, sejatinya dirumuskan kedua
akademisi ini sebagai suatu kajian teoretis dan sistematis mengenai sosiologi
pengetahuan.
Istilah konstruksi atas realitas sosial (social construction of reality) menjadi
terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui
bukunya yang berjudul The Social Construction of Reality: A Treatise inthe
Sociological of Knowledge (1966). Ia menggambarkan proses sosial melalui
tindakan dan interaksinya, dimana individu menciptakan secara terus menerussuatu
realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.
30
Asal usul konstruksi sosial dari filsafat konstruktivisme yang dimulai dari
gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Menurut Von Glaserfeld, pengertian
konstruktif kognitif muncul pada abad ini dalam tulisan Mark Baldwin yang secara
luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun, apabila ditelusuri,
sebenarnya gagasan-gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya telah dimulai oleh
Giambatissta Vico, seorang epistemolog dari italia, ia adalah cikal bakal
konstruktivisme (Suparno dalam Bungin, 2008:13)
Dalam aliran filsafat, gagasan konstruktivisme telah muncul sejak sokrates
menemukan jiwa dalam tubuh manusia, sejak Plato menemukan akal budi dan ide.
Gagasan tersebut semakin lebih konkret lagi setelah Aristoteles mengenalkan
istilah, informasi, relasi, individu, substansi, materi, esensi dan sebagainya. Ia
mengatakan bahwa, manusia adalah makhluk sosial, setiap pernyataan harus
dibuktikan kebenarannya, bahwa kunci pengetahuan adalah logika dan dasar
pengetahuan adalah fakta (Bertens dalam Bungin, 2008:13). Aristoteles pulalah
yang telah memperkenalkan ucapannya ‘Cogoto, ergo sum’ atau ‘saya berfikir
karena itu saya ada’ (Tom Sorell dalam Bungin, 2008:13). Kata-kata Aristoteles
yang terkenal itu menjadi dasar yang kuat bagi perkembangan gagasan-gagasan
konstruktivisme sampai saat ini.
Berger dan Luckman (Bungin, 2008:14) mulai menjelaskan realitas sosial
dengan memisahkan pemahaman ‘kenyataan dan pengetahuan’. Realitas diartikan
sebagai kualitas yang terdapat di dalam realitas-realitas yang diakui sebagai
memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak kita sendiri.
31
Pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata (real)
dan memiliki karakteristik yang spesifik.
Berger dan Luckman (Bungin, 2008:15) mengatakan terjadi dialektika
antara indivdu menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan individu.
Proses dialektika ini terjadi melalui eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.
Proses dialektis tersebut mempunyai tiga tahapan; Berger menyebutnya sebagai
momen. Ada tiga tahap peristiwa. Pertama, eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan
atau ekspresi diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun
fisik. Ini sudah menjadi sifat dasar dari manusia, ia akan selalu mencurahkan diri
ke tempat dimana ia berada. Manusia tidak dapat kita mengerti sebagai ketertutupan
yang lepas dari dunia luarnya. Manusia berusaha menangkap dirinya, dalam proses
inilah dihasilkan suatu dunia dengan kata lain, manusia menemukan dirinya sendiri
dalam suatu dunia. Kedua, objektivasi, yaitu hasil yang telah dicapai baik mental
maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Hasil itu menghasilkan
realitas objektif yang bisa jadi akan menghadapi si penghasil itu sendiri sebagai
suatu faktisitas yang berada di luar dan berlainan dari manusia yang
menghasilkannya. Lewat proses objektivasi ini, masyarakat menjadi suatu realitas
suigeneris. Hasil dari eksternalisasi kebudayaan itu misalnya, manusia menciptakan
alat demi kemudahan hidupnya atau kebudayaan non-materiil dalam bentuk bahasa.
Baik alat tadi maupun bahasa adalah kegiatan ekternalisasi manusia ketika
berhadapan dengan dunia, ia adalah hasil dari kegiatan manusia.
Setelah dihasilkan, baik benda atau bahasa sebagai produk eksternalisasi
tersebut menjadi realitas yang objektif. Bahkan ia dapat menghadapi manusia
32
sebagai penghasil dari produk kebudayaan. Kebudayaan yang telah berstatus
sebagai realitas objektif, ada diluar kesadaran manusia, ada “di sana” bagi setiap
orang. Realitas objektif itu berbeda dengan kenyataan subjektif perorangan. Ia
menjadi kenyataan empiris yang bisa dialami oleh setiap orang.
Ketiga, internalisasi. Proses internalisasi lebih merupakan penyerapan
kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif
individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Berbagai macam unsur dari dunia
yang telah terobjektifkan tersebut akan ditangkap sebagai gejala realitas diluar
kesadarannya, sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui
internalisasi, manusia menjadi hasil dari masyarakat. Bagi Berger, realitas itu tidak
dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi
sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi. Dengan pemahaman semacam ini, realitas
berwajah ganda/plural. Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda
atas suatu realitas. Setiap orang yang mempunyai pengalaman, preferensi,
pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan
menafsirkan realitas sosial itu dengan konstruksinya masing-masing.
1. Pengertian Usaha Kesejahteraan Sosial
Perhatian pemerintah dan masyarakat secara umum terhadap perlunya standar
kehidupan yang lebih baik,
telah mendorong terbentuknya berbagai usaha
kesejahteraan sosial. Isbandi (2005 : 86) mendefinisikan usaha kesejahteraan sosial
adalah "Suatu program ataupun kegiatan yang didesain secara konkrit untuk
menjawab masalah, kebutuhan masyarakat ataupun meningkatkan taraf hidup
masyarakat”.
33
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.6 Tahun 1974, UsahaUsaha Kesejahteraan sosial adalah semua upaya, program, dan kegiatan yang
ditujukan
untuk
mewujudkan,
membina,
memelihara,
memulihkan
dan
mengembangkan kesejahteraan sosial (Sumarnonugroho, 1987:39).
Usaha kesejahteraan sosial itu sendiri dapat ditujukan pada individu,
keluarga,
kelompok kelompok dalam komunitas,
ataupun komunitas secara
keseluruhan. Dari hal di atas, dapat dilihat bahwa kesejahteraan sosial sebagai
suatu kondisi kehidupan yang diharapkan masyarakat tidak dapat terwujud bila
tidak dikembangkan usaha kesejahteraan sosial baik oleh pihak pemerintah,
organisasi non pemerintah, maupun dunia usaha. Karena itu berjalan atau tidaknya
suatu usaha kesejahteraan sosial sangat dipengaruhi oleh organisasi yang
menyediakan usaha kesejahteraan sosial tersebut.
Organisasi yang menyediakan layanan sosial(usaha kesejahteraan sosial)
dalam perspektif yang lebih luas seringkali disebut dengan nama organisasi
pelayanan masyarakat. Dalam kaitannya dengan apa yang menjadi motivasi dari
suatu organisasi pelayanan masyarakat mengadakan usaha kesejahteraan sosial
Schneiderman (lsbandi, 2005 : 87) menyatakan tiga tujuan dari suatu organisasi
pelayanan masyarakat menyediakan UKS :
1.
Tujuan kemanusiaan dan keadilan
Tujuan ini bersumber dari gagasan ideal demokratis tentang keadilan sosial,
dan hal ini berasal dari keyakinan bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk
mengembangkan potensi diri yang mereka miliki. Meskipun kadangkala potensi
tersebut oleh adanya hambatan fisik, sosial, ekonomi, kejiwaan ataupun berbagai
34
faktor lainnya. Usaha kesejahteraan sosial menjadikan mereka sebagai kelompok
sasaran dalam upaya menjembatani kelangkaan sumber daya yang mereka miliki.
2.
Tujuan yang terkait dengar pengendalian sosial
Tujuan ini berkembang berdasarkan pemahaman bahwa kelompok yang tidak
diuntungkan, kekurangan, atupun tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya akan dapat
melakukan serangan atau menjadi ancaman bagi kelompok masyarakat yang sudah
mapan.
Karena itu kelompok masyarakat yang sudah mapan berupaya
mengamankan diri mereka dari sesuatu yang dapat mengancam kehidupan.
pemilikan maupun stabilitas yang sudah berjalan.
3.
Tujuan yang terkait dengan pembangunan ekonomi
Tujuan pembangunan ekonomi memprioritaskan pada program-program
yang direncanakan untuk meningkatkan produksi barang dan jasa, serta berbagai
sumber daya yang dapat menunjang serta memberikan sumbangan pada
pembangunan ekonomi.
Usaha kesejahteraan sosial mengacu pada program, pelayanan, dan berbagai
kegiatan
yang
secara
konkret
berusaha
menjawab
kebutuhan
ataupun
masalahmasalah yang dihadapi anggota masyarakat. Usaha kesejahteraan sosial
dapat diarahkan pada individu, keluarga, kelompok atau komunitas. Beberapa
contoh dari Usaha kesehjateraan sosial yang searah dengan tujuan pembangunan
ekonomi adalah:
a. Beberapa tipe unit usaha kesejahteraan sosial yang secara langsung memberikan
sumbangan terhadap peningkatan produktifitas individu, kelompok ataupun
35
masyarakat contohnya adalah pelayanan konseling pada generasi muda dan lainlain.
b. Jenis usaha kesejahteraan sosial yang berupaya untuk mencegah atau
meminimalisir hambatan (beban) yang dapat dihadapi oleh para pekerja ( yang
masih produktif).
c. Jenis usaha kesejahteraan sosial yang memfokuskan pada pencegahan dampak
negatif urbanisasi dan industrialisasi pada kehidupan keluarga dan masyarakat atau
membantu mereka agar dapat mengidentifikasi dan mengembangkan “pemimpin”
dari suatu komunitas lokal.
Beberapa karakteristik usaha kesejahteraan sosial
1. Menanggapi kebutuhan manusia.
2. Usaha kesejahteraan sosial diorganisir guna menanggapi kompleksitas
masyarakat perkotaan yang modern.
3. Kesejahteraan sosial mengarah ke spesialisasi, sehingga lembaga kesejahteraan
sosialnya juga menjadi tersepesialisasi.
4. Usaha kesejahteraan sosial menjadi sangat luas (Adi,1994:6-10).
C.
Tinjauan tentang Masalah Sosial
Kehidupan manusia pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dari permasalahan
sosial. Hal ini dikarenakan masalah sosial terwujud sebagai hasil dari kebudayaan
manusia itu sendiri dan akibat dari hubungan dengan manusia lainnya. Masalah –
masalah sosial yang dihadapi masyarakat tidaklah sama antara yang satu dengan
yang lainnya, karena setiap individu memiliki porsinya masing – masing.
1. Pengertian Masalah Sosial
36
Masalah sosial dipandang sebagai situasi tertentu yang tidak sesuai dengan
nilai - nilai yang dianut sebagian besar orang yang setuju bahwa tindakan harus
dilakukan untuk mengubah situasi itu. Masalah sosial bisa juga diartikan sebagai
Kondisi yang dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai sesuatu
yang tidak diharapkan. Definisi masalah sosial menurut Kartini Kartono (Huraerah,
2011:4) yaitu:
a. Semua bentuk tingkah laku yang melanggar atau memperkosa adat –
istiadat masyarakat ( dan adat isitadat tersebut diperlukan untuk menjamin
kesejahteraan hidup bersama).
b. Situasi sosial yang dianggap oleh sebagaian besar dari warga masyarakat
sebagai mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya dan merugikan orang
banyak.
Definisi diatas menjelaskan bahwa masalah sosial merupakan kondisi –
kondisi yang tidak menyenangkan dan pembangunan yang berdampak buruk bisa
mengakibatkan situasi – situasi sosial atau permasalahan – permasalah sosial yang
bisa mengganggu dan merugikan banyak orang. Menurut Parillo yang dikutip
Soetomo (Huraerah, 2011 : 5) untuk dapat memahami pengertian masalah sosial
perlu memperhatikan 4 komponen, yaitu:
a. Masalah itu bertahan untuk suatu periode tertentu.
b. Dirasakan dapat meryebabkan berbagai kerugian fisik atau mental, baik
pada individu maupun masyarakat.
c. Merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai atau standar sosial dari satu
atas beberapa sendi kehidupan masyarakat.
d. Menimbulkan kebutuhan akan pemecahan.
Komponen – komponen tersebut saling keterkaitan diantara satu dengan yang
lainnya, yang pertama masalah sosial bertahan diwaktu tertentu, dirasakan banyak
orang,
menimbulkan kerugian,
dan barulah membutuhkan solusi untuk
37
memecahkan masalah sosial tersebut. menurut Soetarso penyebab timbulnya
masalah sosial (Huraerah, 2011:8) yaitu:
Masalah sosial terbentuk oleh kombinasi – kombinasi faktor internal
yang yang berasal dari dalam diri orang (ketidakmampuan, kecacatan,
gangguan jiwa dan sebagainya) dan faktor – faktor eksternal yang berasal dari
lingkungan sosial ( keluarga, sekolah, lingkungan tetangga,lingkungan kerja
dan sebagainya.
Definisi diatas menjelaskan bahwa masalah sosial terjadi akibat faktor –
faktor dari dalam (internal) dan luar (eksternal). Faktor dari dalam ini kondisi –
kondisi yang terjadi pada diri sendiri seperti ketidakmampuaan, gangguan dan
sebagainya. Sedangkan, Faktor dari luar salah satu contohnya seperti pembangunan
yang berdampak besar pada masyarakat.
2. Karakteristik Masalah Sosial
Masalah sosial timbul dari kekurangan - kekurangan dalam diri manusia atau
kelompok sosial yang bersumber pada faktor - faktor ekonomis, biologis
biopsikologis
dan
kebudayaan.
Horton
dan
Leslie
(Suharto,2007:57)
mendefinisikan bahwa: “masalah sosial adalah Sebagai suatu kondisi yang
dirasakan banyak tidak menyenangkan serta menuntut pemecahan melalui aksi
sosial secara kolektit". Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa masalah sosial
merupakan keadaan yang tidak diinginkan oleh siapapun dan keadaan tersebut
banyak tidak menyenangkannya serta perlu tindakan – tindakan untukpemecahan
suatu permasalahan tersebut. Masalah sosial memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.
Kondisi yang dirasakan banyak orang.
Suatu masalah baru dapat dikatakan sebagai masalah sosial apabila
kondisinya dirasakan oleh banyak orang. Namun demikian, tidak ada batasan
38
mengenai berapa jumlah orang yang harus merasakan masalah tersebut. Jika suatu
masalah mendapat perhatian dan menjadi perbincangan lebih dari satu orang,
masalah tersebut adalah masalah sosial.
b.
Kondisi yang dinilai tidak menyenangkan.
Seseorang cenderung mengulangi sesuatu yang menyenangkan dan
menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. Orang senantiasa menghindari
masalah, karena masalah selalu tidak menyenangkan. Penilaian masyarakat sangat
penting dalam menentukan suatu kondisi sebagai masalah sosial. Ukuran baik atau
buruk sangat bergantung pada nilai dan norma yang dianut masyarakat.
c.
Kondisi yang menuntut pemecahan masalah.
Suatu kondisi yang tidak menyenangkan senantiasa menuntut pemecahan.
Bila seseorang merasa lapar, akan segera dicarinya rumah makan, bila sakit , ia
akan segera pergi ke dokter atau membeli obat. Pada umumnya suatu kondisi
dianggap perlu dipecahkan jika masyarakat merasa bahwa kondisi tersebut memang
dapat dipecahkan.
d.
Pemecahan tersebut harus dilakukan melalui aksi secara kolektif
Masalah sosial berbeda dengan masalah individual. Masalah individual dapat
diatasi secara perorangan atau satu per satu, tetapi masalah sosial hanya dapat
diatasi melakui rekayasa sosial,
seperti aksi sosial,
kebijakan sosial atau
perencanaan sosial, karena penyebab dan akibatnya bersifat multidimensional dan
menyangkut banyak orang.
D.
Tinjauan Tentang Pekerjaan Sosial
39
Pekerjaan sosial dapat dikatakan suatu perbuatan baik untuk orang lain atau
tindakan – tindakan untuk membantu orang lain. Sebagai contoh,misalnya memberi
sumbangan kepada korban bencana,memberi uang kepada pengemis, menolong
orang yang sedang sakit, dan kegiatan – kegiatan seperti itu sudah dikatakan
pekerjaan sosial,akan tetapi pekerjaan sosial yang awam. Pekerjaan sosial awam
beda dengan pekerjaan sosial profesi.
1. Pengertian Pekerjaan Sosial
Pekerjaan sosial sebagai proses pertolongan manusia bersifat dinamis, artinya
pekerjaan sosial itu relatif, baik waktu, tempat ataupun situasi - situasi maupun
sudut pandang dan dapat mengalami perubahan sesuai dengan sudut perkembangan
masyarakat. Pekerjaan sosial menurut studi kurikulum yang diseponsori oleh the
Council on Social Work Education (Fahrudi,2012:59) yaitu :
Pekerjaan sosial berusaha untuk meningkatkan keberfungsian sosial
individu, secara sendiri-sendiri atau dengan kelompok dengan kegiatankegiatan yang dipusatkan pada hubungan-hubungan sosial mereka yang
merupakan interaksi antara orang dan lingkungannya. Kegiatan – kegiatan ini
dapat dikelompokan menjadi tiga fungsi: pemulihan kemampuan yang
terganggu, penyediaan sumber – sumber individu dan sosial, dan pencegahan
disfungsi sosial.
Definisi pekerjaan sosial diatas dapat disimpulkan bahwa pekerjaan sosial
merupakan usaha untuk meningkatkan keberfungsian sosial individu maupun
kelompok dengan memusatkan hubungan sosial yang merupakan interaksi antara
orang dengan lingkungan sosialnya. Pekerjaan sosial pada prinsipnya membantu
individu maupun kelompok yang mengalami masalah dalam menjalankan tugas –
tugas kehidupan maupun pelaksanaan fungsi sosialnya. Pekerjaan sosial menurut
Soetarso (Huraerah, 2011:39) yaitu:
40
Pekerjaan sosial sebagai suatu profesi pemberian bantuan yang
dilaksanakan melalui pengembangan interaksi timbal balik yang saling
menguntungkan antara orang dan lingkungan sosialnya untuk memperbaiki
kualitas kehidupan dan penghidupan orang tersebut sebagai suatu kesatuan
harmonis yang berlandaskan hak asasi manusia dan keadilan sosial.
Soetarso menyatakan bahwa pekerjaan sosial merupakan suatu profesi untuk
memberikan bantuan dengan memberikan pengembangan - pengembangan
interaksi timbal balik antara individu maupun kelompok dengan lingkungan
sosialnya, yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas kehidupan dan penghidupan
individu atau kelompok dan dapat mengembalikan keberfungsian sosial individu
maupun kelompok tersebut.
Definisi pekerjaan sosial yang telah dijelaskan di atas dengan jelas
mengemukakan bahwa fokus pekerjaan sosial yaitu mengembalikan keberfungsian
sosial. Pekerjaan sosial berusaha untuk memperbaiki, mempertahkan atau
meningkatkan keberfungsian sosial orang, kelompok atau masyarakat.
2. Pekerjaan Sosial sebagai Profesi
Pekerja sosial didefinisikan sebagai orang yang memiliki kewenangan
keahlian dalam menyelenggarakan berbagai pelayanan sosial. (Budhi Wibhawa,
2010: 52). Pekerja sosial adalah seseorang yang mempunyai kompetensi
profesional dalam pekerjaan sosial yang diperolehnya melalui pendidikan formal
atau pengalaman praktek di bidang pekerjaan sosial/kesejahteraan sosial yang
diakui secara resmi oleh pemerintah dan melaksanakan tugas profesional pekerjaan
sosial (Kepmensos No. 10/HUK/2007).
Konsep relawan dan pekerjaan sosial di dunia Pekerjaan Sosial dan Ilmu
Kesejahteraan Sosial bukanlah hal yang baru. Konsep relawan di Indonesia sering
41
digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bergelut di bidang pekerjaan
sosial padahal mereka bukan berasal dari pendidikan pekerjaan sosial dan ilmu
kesejahteraan sosial. Sedangkan konsep pekerjaan sosial digunakan untuk
menggambarkan seseorang yang bergelut di bidang pekerjaan sosial yang berasal
dari pendidikan pekerjaan sosial dan ilmu kesejahteraan sosial. Dari pemaparan
tersebut kita harus mengetahui apa itu profesi dan profesi pekerjaan sosial.
Kata profesi dalam kehidupan sehari – hari sering disalah gunakan,tidak
setiap pekerjaan yang menghasilkan uang disebut profesi. Kesalahan penggunaan
kata profesi dalam kehidupan sehari – hari yaitu misalnya digunakan untuk sopir
angkutan, pedang, bahkan pekerja seks komersial. Dari pernyataan tersebut jelas
bahwa seseorang yang bergelut di bidang kesejahteraan sosial tetapi mereka bukan
berasal dari pendidikan pekerjaan sosial dan ilmu kesejahteraan sosial bukan lah
sebagai profesi, karena profesi menurut Oxford Advanced Learner’s Dictionari
(Fahrudin,2012:63) profesi adalah “Pekerjaan pekerjaan yang dibayar, khususnya
yang memiliki pendidikan dan pelatihan lanjut”.
Konsep diatas menjelaskan bahwa profesi itu merupakan pekerjaan yang
memerlukan pelatihan lanjut dan berlandaskan pendidikan dibidangnya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa seorang profesi pekerjaan sosial merupakan orang yang
memiliki pendidikan pekerjaan sosial dan ilmu kesejahteraan sosial. Undangundang RI No. 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial bab 1 pasal 1 ayat 4
bahwa definisi pekerjaan sosial adalah:
Pekerja sosial profesional adalah seseorang yang bekerja, baik di
lembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi
pekerjaan sosial, dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh
42
melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman praktek praktek pekerjaan
sosial untuk menjalankan tugas – tugas pelayanan dan penganan sosial.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pekeerjaan sosial
sebagai profesi yaitu suatu profesi yang di dapatkan melalui pendidikan di bidang
pekerjaan sosial dan ilmu kesejahteraan sosial yang bertujuan untuk membantu
mengembalikan keberfungsian sosial individu,kelompok, maupun masyarakat.
3. Fokus Intervensi Pekerjaan Sosial
Pekerjaan sosial bertujuan untuk membantu individu,kelompok,maupun
masyarakat dalam mencegah dan memecahkan maslah-masalah sosial yang mereka
hadapi guna memulihkan dan mengkatkan kemampuan untuk menjalankan fungsi
sosial mereka. Menurut Jusman iskandar (1993) dalam buku Beberapa Keahlian
Penting dalam Pekerjaan Sosial, intervensi pekerjaan sosial adalah:
Fokus intervensi pekerjaan sosial berhubungan dengan kemampuan
pekerjaan sosial untuk memusatkan perhatiannya baik terhadap usaha klien
melihat aspek penting dari situasi tersebut, maupun memegang teguh
beberapa kesimpulan dari fokus tersebut atau kemajuan yang telah dicapai.
Hal ini berarti pula sewaktu-waktu tertentu, pekerjaan sosial harus dapat
memahami satu aspek masalah yang harus diteliti dan satu alternatif untuk
pemecahannya.
Pernyataan di atas menyatakan bahwa fokus intervensi pekerjaan sosial yaitu
mengembalikan keberfungsian sosial individu,kelompok, maupun masyarakat
dengan pekerja sosial harus dapat memahami dari aspek masalah yang akan diteliti
sehingga dapat memudahkan didalam menentukan alternatif pemecahan secara
relafan. Berkaitan dengan fokus intervensi pekerjaan sosial tersebut, Siporin
(Iskandar, 1993:65) tahap – tahap intervensi pekerjaan sosial sebagai berikut:
a.
Tahap Engagemen, Intake dan Kontark
43
Bertemu dengan klien untuk bertukar informasi yang dibutuhkan, jenis
pelayanan apa yang bisa diberikan untuk klien dalam pemecahan masalah,
lalu akan terjadi saling mengenal dan kemudian terciptalah kontrak.
b.
Tahap Assesmant
Merupakan proses penggalian dan pemahaman masalah yang dihadapi
klien. Dengan demikian akan terlihat bentuk masalah, faktor penyebab dan
akibat serta pengaruh masalah.
c.
Tahap Planing
Rencana proses penyusunan pemecahan masalah yang dihadapi klien.
Rencanan tersebut meliputi tujuan pemecahan masalah, sasaran serta cara
memecahkan masalah.
d.
Tahap Intervention
Tahap pelaksanaan pemecahan masalah, dalam pelaksanaan kegiatan
ini klien diharapkan mengikuti proses pemecahan masalah secara aktif.
e.
Tahap Evaluasi
Merupakan tahap pengevaluasian terhadap kegiatan intervensi yang
telah dilakukan, hal ini dimaksudkan untuk melihat tingkat keberhasilan,
hambatan yang dialami oleh klien.
f.
Tahap terminasi
Merupakan tahap pengakhiran atau pemmutusan kegiatan intervensi,
hal ini dilakukan bila tujuan intervensi telah tercapai atau permintaan klien
sendiri atau karena faktor-faktor tertentu.
44
Berdasarkan uraian metode-metode sekerja sosial di atas, dapat disimpulkan
bahwa metode pekerjaan sosial menggunakan ilmu pengetahuan ilmiah untuk
mencapai tujuannya yaitu : penyesuaian yang lebih baik antara klien dan
lingkungannya. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui cara-cara memobilisasi
kemampuan individu, kelompok dan sumber-sumber dalam masyarakat yang
memiliki tujuan meningkatkan kesejahteraan sosial.
E.
Tinjauan Tentang Copyng Strategies
Suatu tingkah laku dimana individu melakukan interaksi dengan lingkungan
sekitarnya dengan tujuan menyelesaikan tugas atau masalah dan mengatasi
tuntutan-tuntutan dalam situasi yang menekan dan menegangkan. Permasalahan di
atas disebut dengan coping.
1. Pengertian Copyng Strategies
Strategi pengatasan masalah atau dikenal dengan istilah coping berasal dari
kata to cope yang dalam bahasa inggris indonesia ( Echols & Shadily, 1990 ) berarti
: “Menangulangi, mengatasi dan menguasai”. Strategi pengatasan masalah juga
digambarkan sebagai cara seseorang mengatasi tuntutan-tuntutan yang dirasa
menekan, sehingga dia harus melakukan penyeimbangan dalam usaha untuk
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan (Safarino, 1990). Pendapat ini dikuatkan
oleh Pearlin & Schooler (dalam Taylor, 1995) yang menyatakan bahwa startegi
pengatasan masalah atau koping adalah “bentuk perilaku individu untuk melindungi
diri dari tekanan-tekanan psikologis yang ditimbulkan oleh problematika
pengalaman hidup”.
45
Selanjutnya, strategi ‘coping’ menunjukkan pada berbagai upaya baik
mental maupun perilaku untuk mengatasi, mentoleransi, mengurangi, atau
meminimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan
perkatan lain strategi ‘coping’ merupakan suatu proses dimana individu berusaha
untuk menangani dan mengatasi situasi stres yang menekan akibat dari masalah
yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun
perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.
Pada umumnya pelaksanaan tugas dalam lingkungan kerja selalu
mengandung permasalahan dan tantangan. Masalah dan tantangan ini sering kali
menimbulkan stres yang bisa mengganggu individu didalam mencapai tujuan.
Menurut Smet (1994) reaksi individu dalam menghadapi kondisi lingkungan yang
penuh masalah berupaya untuk menyeimbangkan dirinya dengan lingkungannya.
Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu agar tercipta keseimbangan ini
disebut coping. Upaya - upaya yang dapat dilakukan individu untuk menguasai,
mentoleransi,
mengurangi,
atau
meminimalkan
dampak
kejadian
yang
menimbulkan stres khususnya didalam lingkungan kerja dapat diistilahkan sebagai
strategi coping.
Menurut Skinner (dalam Sarafino, 2006) strategi problem focused coping
meliputi planfull problem solving, direct action, assistance seeking dan information
seeking, sedangkan strategi emotional focused coping meliputi avoidance, denial,
selfcriticism dan positive reappraisal. Taylor (2009) mengatakan bahwa selama
melakukan proses strategi coping, individu melakukan penilaian terhadap usaha
46
yang dilakukan, apakah usaha yang dilakukan mengurangi tekanan emosional yang
dialami atau usaha tersebut mengatasi masalah yang dihadapi.
Strategi coping yang dilakukan oleh individu didalam menghadapi masalah
yang timbul di lingkungan kerja membuat individu merasa lebih nyaman, senang,
puas dalam bekerja dan dapat mengembangkan rasa memiliki terhadap perusahaan
(Kondalkar, 2009). Vein Heskett, Sasser & Schlesinger (1997) menyatakan bahwa
perasaan yang baik terhadap pekerjaannya berarti individu merasa senang
melakukan pekerjaan yang akan mengarah pada lingkungan pekerjaan yang
produktif. Perasaan karyawan terhadap pekerjaan, kerabat, dan organisasi yang
mengarah pada pertumbuhan dan keuntungan organisasi didefinisikan sebagai
kualitas kehidupan bekerja. Islam & Siengthai (2009) menambahkan bahwa kondisi
kerja yang menyenangkan, keadaan yang menguntungkan bagi karyawan dan
kesejahteraan karyawan dapat meningkatkan kualitas kehidupan bekerja.
Menurut Suharto (2003:25), coping strategies adalah “seperangkat
kemampuan atau cara-cara yang sering digunakan dalam mengatasi berbagai
masalah sosial ekonomi”. Dari pengertian-pengertian di atas, dapat dirumuskan
bahwa seseorang yang mempunyai masalah dalam pemecahannya mereka harus
memiliki kemampuan atau suatu cara yang dapat memecahkan masalah yang
dialaminya, sehingga mereka mampu mengatasi permasalahan sosial ekonomi yang
mereka hadapi. Kemampuan yang dimaksudkan disini adalah kemampuan yang
dimiliki oleh individu tersebut walaupun terbatas, misalnya keterampilan yang
mereka miliki sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang berguna untuk memenuhi
kebutuhannya. Dalam penelitian ini bahwa yang dimaksud dengan strategi ‘coping’
47
adalah upaya wanita rawan sosial ekonomi untuk mempertahankan kehidupan
keluarga dengan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
walaupun terbatas.
Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sudrajat (2006) bahwa ‘coping’
strategi adalah “upaya penanggulangan masalah yang dilakukan oleh perorangan,
kelompok, atau komunitas melalui mekanisme tertentu agar dapat mencapai
kenyataan yang menyenangkan atau lebih baik”. Dari pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa seseorang dapat melakukan upaya dalam menyelesaikan
masalahnya dengan menggunakan suatu mekanisme yang sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki oleh individu tersebut untuk mencapai keadaan yang
lebih baik lagi dalam kehidupannya. Mekanisme yang dimaksud adalah suatu cara
yang terencana dan tersusun dengan baik sehingga dalam melakukan suatu proses
pemecahan masalahnya dapat berjalan lancar dan berhasil.
Suharto (2003) menyatakan bahwa istilah lain yang juga memiliki
pengertian yang sama dengan strategi penanganan adalah coping mechanism,
survival strategies, household strategies, dan livehold diversification (mekanisme
pertahaan diri, strategi untuk bertahan hidup, strategi keluarga dan kanekaragaman
mata pencaharian).
Selanjutnya Moser (dalam Suharto, 2003) menambahkan bahwa strategi
penanganan ini pada dasarnya merupakan manajemen portofolio asset yang ia
istilahkan dengan nama asset portofolio management. Berdasarkan konsepsi ini,
Moser merumuskan suatu kerangka analisis yang disebut “The Asset Vulnerability
Frame Work”. Kerangka ini meliputi berbagai asset sebagai berikut:
48
a. Asset tenaga kerja (labor asset),misalnya meningkatkan keterlibatan
wanita dan anak-anak dalam keluarga untuk bekerja membangun ekonomi
rumah tangga
b. Asset modal manusia (human capital asset), misalnya status kesehatan
yang dapat menentukan kapasitas orang untuk bekerja atau keterampilan
dan pendidikan yang menentukan kembalian atau hasil kerja (return)
terhadap tenaga yang dikeluarkan.
c. Asset produktif (productive asset)misalnya rumah, swah, termasuk ternak
dan tanaman.
d. Asset relasi rumah tangga atau keluarga (household relation asset),
misalnya jaringan dan dukungan dari keluarga besar, kelompok etnis,
migrasi jarigan, dan mekanisme “uang kiriman” (remittances)
e. Asset modal usaha (social capital asset), misalnya lembaga-lembaga sosial
lokal, arisan, dan pinjaman kredit informal.
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa strategi
‘coping’ adalah suatu pertahanan diri dari wanita rawan sosial ekonomi untuk bisa
tetap bertahan hidup dengan asset-asset yang mereka miliki walaupun terbatas. Dari
semua asset yang telah dikemukakan di atas bahwa wanita rawan sosial ekonomi
memiliki kesemua asset tersebut, akan tetapi asset yang mereka miliki tersebut
belum maksimal dipergunakan. Dalam menjaga kesehatan tubuh yang merupakan
asset modal utama manusia, mereka berusaha maksimal agar kesehatannya terjaga.
Dukungan serta keterlibatan keluarga yang merupakan asset tenaga kerja dan asset
rumah tangga digunakan agar semua keluarga terlibat dalam menigkatkan dan
49
membangun sosial ekonomi keluarga, sehingga tidak tergantung pada satu orang
saja. Sedangkan asset produktif yaitu perumahan dan asset modal usaha yaitu
lembaga-lembaga sosial, dapat mereka gunakan secara maksimal untuk membantu
setiap kebutuhan yang diperlukan.
2. Jenis Copyng Strategies
Menurut Lazarus dan Folkman dalam Edi Suharto (2002) ada dua coping
strategies yang bisa digunakan oleh individu yaitu:
a) Problem solving focused coping, yaitu dimana individu secara aktif mencari
menyelesaikan masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang
menimbulkan stress.
b) Emotion focused coping, yaitu dimana individu melibatkan usaha-usaha
untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak
yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau yang penuh dengan tekanan.
Penggolongan jenis coping seperti dikemukakan di atas dalam literatur
tentang coping juga dikenal dua copyng strategies yaitu active & avoidant copyng
strategies. Active coping merupakan strategies yang dirancang untuk mengubah
cara pandang individu terhadap sumber stres, sementara avoidant coping
merupakan strategi yang dilakukan individu untuk menjauhkan diri dari sumber
stres dengan cara melakukan suatu aktivitas atau menarik diri dari suatu kegiatan
atau situasi yang berpotensi menimbulkan stres. Apa yang dilakukan individu pada
avoidant coping strategies sebenarnya merupakan suatu bentuk mekanisme
pertahanan diri yang sebenarnya dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu
karena cepat atau lambat permasalahan yang ada harus diselesaikan oleh yang
bersangkutan. Permasalahan akan semakin menjadi lebih rumit jika mekanisme
pertahanan diri tersebut justru menuntut kebutuhan energi dan menambah kepekaan
terhadap ancaman.
50
3. Faktor yang mempengaruhi Copyng Strategies
Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh
sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik / energi, keterampilan
memecahkan masalah, keterampilan sosial dan dukungan sosial dan materi. Faktorfaktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Kesehatan Fisik
Kesehatan merupakan hal yang penting karena selama dalam usaha
mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup
besar.
b) Keyakinan atau pandangan positif
Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting
seperti keyakinan akan nasib yang mengerahkan individu pada penilaian
ketidakberdayaan yang akan menurunkan kemampuan coping strategi.
c) Keterampilan memecahkan masalah
Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi,
menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk
menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif
tersebut sehubung dengan hasil yang ingin dicapai dan pada akhirnya
melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.
d) Keterampilan sosial
51
Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan
bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang
berlaku dimasyarakat.
e) Dukungan sosial
Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi
dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota
keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitar.
f) Materi
Dukungan ini meliputi sember daya berupa uang, barang-barang atau
layanan yang biasanya dapat dibeli.
Tinjauan di atas dapat diasumsikan bahwa setiap orang sering
menggunakannya untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai
ruang lingkup kehidupan sehari-hari. Faktor yang menentukan strategi mana yang
paling banyak dan sering digunakan sangat tergantung pada kepribadian seseorang
dan sejauh mana tingkat stress dari suatu kondisi atau masalah yang dialami.
F. Tinjauan Tentang kebutuhan Dasar
Setiap makhluk hidup mempunyai kebutuhan, tidak terkecuali manusia.
Manusia mempunyai kebutuhan yang beragam. Namun, pada hakikatnya setiap
manusia mempunyai kebutuhan dasar yang sama. Kebutuhan tersebut bersifat
manusiawi dan menjadi syarat untuk keberlangsungan hidup manusia. Siapapun
orangnya pasti memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar (Asmadi, 2008).
Kegagalan pemenuhan kebutuhan dasar menimbulkan kondisi yang tidak
seimbang, sehingga diperlukan bantuan terhadap pemenuhannya kebutuhan dasar
52
tersebut. Disinilah pentingnya peranan perawat sebagai profesi kesehatan dimana
salah satu tujuan pelayananan keperawatan adalah membantu klien dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya. Jenis-jenis kebutuhan dasar manusia yang menjadi
lingkup pelayanan keperawatan bersifat holistik yang mencakup kebutuhan
biologis, psikologis, sosial, dan spiritual (Asmadi , 2008).
Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen. Setiap orang pada
dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, akan tetapi karena terdapat perbedaan
budaya,
maka
kebutuhan
tersebutpun
ikut
berbeda.
Dalam
memenuhi
kebutuhannya, manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada. Lalu jika
gagal memenuhi kebutuhannya, manusia akan berpikir lebih keras dan bergerak
untuk berusaha mendapatkannya (Hidayat, 2000).
Manusia
mempunyai
kebutuhan
dasar
(kebutuhan
pokok)
untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya. Walaupun setiap individu mempunyai
karakteristik yang unik, kebutuhan dasarnya sama. Perbedaannya hanya dalam
pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.
Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki 5 tingkat kebutuhan hidup yang
akan selalu berusaha untuk dipenuhi sepanjang masa hidupnya. 5 tingkatan yang
dapat membedakan setiap manusia dari sisi kesejahteraan hidupnya, teori yang telah
resmi diakui dalam dunia psikologi. Kebutuhan tersebut berjenjang dari yang paling
mendesak hingga yang akan muncul dengan sendirinya saat kebutuhan sebelumnya
telah dipenuhi.
5 tingkat kebutuhan dasar menurut teori maseow adalah sebagi berikut :
1. Kebutuhan fisiologis
53
Contohnya adalah, sandang pangan, papan dan kebutuhan biologis
seperti buang air besar, makan, minum, tidur dan seksual.
2. Kebutuhan keamanan dan keselamatan
Contohnya seperti : bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas
dari sakit dan bebas teror
3. Kebutuhan sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan
cinta dari lawan jenis dan lain-lain
4. Kebutuhan penghargaan
Dalam kategori ini menjadi 2 jenis eksternal dan internal, pada sub
eksternal meliputi :pujian, piagam, tanda jasa dan hadiah. Sedangkan pada
sub internal pribadi tingkatan ini tidak memerlukan pujian atau penghargaan
dari orang lain untuk merasakan kepuasan dalam hidupnya.
5. Kebutuhan aktualisasi diri Merupakan kebutuhan tingkatan tertinggi pada
diri manusia.
Dalam hidup ini setiap orang pastilah memilki tujuan – tujuan yang hendak
dicapai. Mereka yang sekolah memiliki target agar dapat nilai baik dan lulus dengan
baik, mereka yang berusaha juga memiliki target agar usahanya lancar dan
menghasilkan keuntungan, dan mereka yang bekerja berharap dapat menempati
posisi yang strategis dan mendapatkan gaji yang memadai. Namun tidak semua
keinginan itu dapat terwujud sesuai dengan apa yang diharapkan.
G. Tinjauan tentang Buruh Tani
54
Buruh dapat diartikan sebagai semua orang yang bekerja dan terdaftar
namanya di perusahaan serta menerima gaji atau upah secara langsung dari
perusahaan tempat dia bekerja, baik yang aktif bekerja maupun yang sedang cuti
izin dengan perusahaan, sedang mengikuti training, berstatus buruh tetap, kontrak,
harian lepas maupun borongan. Pengertian lainnya, buruh adalah orang yang
senang hati melakukan usaha, kerja-keras, berjerih payah untuk menghasilkan
produk atau barang. Buruh adalah pemilik jasa dan orang yang melahirkan
karya.Buruh bukanlah orang yang tergelincir pada lilitan ekonomi dan tunduk
dalam suatu pekerjaan, tetapi orang yang mengaktifkan diri, berjalan terus dan aktif
memenuhi kegiatan produksi. Buruh memiliki sifat yang memberikan dan berunsur
membangun, mencipta dan menghidupkan
Dalam penelitian ini buruh harian lepas yang dimaksud adalah pekerja lepas
di bidang pertanian karena mereka hanya bekerja disektor pertanian. Sehingga
mereka lebih tepat dikatakan buruh tani. Buruh tani dalam pengertian yang
sesungguhnya memperoleh penghasilan terutama dari bekerja yang mengambil
upah untuk para pemilik tanah atau para petani penyewa tanah. Sebagian besar dari
mereka atas dasar jangka pendek, dipekerjakan dan dilepas dari hari ke hari.
Disamping itu melakukan pekerjaan yang diupah, buruh harian itu juga melakukan
perdagangan kecil kecilan, menjual pisang, rokok dan hasil pertanian secara
kecilkecilan, menjualnya berdasarkan komisi dan kadang-kadang ada juga dari
mereka yang menanami sebidang tanah kehutanan dengan perjanjian (Sajogyo,
1995: 112)
55
Dalam tingkah lakunya terhadap orang-orang yang diluar dari kelompoknya,
buruh tani biasa menyerah saja pada nasibnya, ia ingin memperbaiki keadaannya,
tetapi ia tidak tahu caranya, karena itu ia menyerah saja. Kelompok ini biasanya
curiga terhadap segala sesuatu yang datang dari luar lingkungannya. Akan tetapi
sekalipun kedengarannya bertentangan, pada akhirnya buruh tani itu paling percaya
kepada pertimbangan para majikan mereka. Tentu saja kepercayaan itu ada
batasnya, tetapi dalam berhubungan dengan mereka, sekurang-kurangnya buruh itu
tahu di mana mereka berdiri. Dalam beberapa keadaan pendapat para majikan itu
sangat menentukan, sedangkan pendapat orang-orang yang berusaha menjadi
pemimpin buruh tani dalam perjuangan mereka untuk memperbaiki kondisi hidup,
tidak diterima. Terbukti bahwa pendapat mereka kurang diperhatikan dibandingkan
dengan pendapat majikan. Tidak ada jawaban atau badan pemerintahan yang
benarbenar memberikan perhatiannya, baik langsung maupun tidak langsung,
kepada buruh tani dan nasibnya. Buruh tani hidup dari hari ke hari saja dan tidak
memperhatikan rencana masa depan misalnya dengan menabung.
Mengenai definisi formal dari istilah “petani” tampaknya tak bisa dibantah
lagi bahwa ada perbedaan tertentu tidak saja antara pengarang-pengarang
terkemuka, tetapi juga berbagai variasi yang penting dari seorang penulis dalam
jangka waktu yang relatif singkat. Dengan perkataan lain, situasinya demikian
membingungkan hingga pertama-tama kita tak akan lebih buruk kalaupun kita salah
dalam mencoba memberikan sumbangan, dan kedua, kekisruhan itu sendiri
merupakan pertanda tak langsung bahwa suatu yang drastis maupun fundamental
mungkin saja salah.
56
Koentjaraningrat(1980:193-194). Hubungan manusia dengan lingkungannya
selalu dijembatani oleh pola-pola kehidupan. Manusia di dalam kelompok ataupun
masyarakat selalu mempunyai kebudayaan. Dengan kebudayaan yang dimilikinya,
mereka tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungannya, tetapi juga mampu
mengubah arah lingkungan menjadi sesuatu yang berarti dengan kehidupan seharihari. Kebudayaan itu sendiri dapat berupa keseluruhan sistem gagasan, tindakan
dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik
diri manusia dengan belajar Sementara itu Tylor (Fedyani, 2005;82) mengartikan
kebudayaan sebagai penjumlahan total apa yang dicapai oleh individu dari
masyarakatnya berupa keyakinan-keyakinan, adat-istiadat, norma-norma artistik
sebagai warisan dari masa lampau. Artinya, kebudayaan itu mencakup totalitas dari
pengalaman manusia.
Soetomo (2006:20) Dalam rangka mewujudkan proses pemanfaatan sumber
daya, maka yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk melakukan identifikasi
sumber daya, kemudian memanfaatkan dan mengelolanya dengan baik. Dengan
demikian, berdasarkan pandangan tersebut, identifikasi sumber daya merupakan
salah satu langkah yang strategis dalam proses pembangunan masyarakat. Oleh
sebab itu, identifikasi sumber daya juga dapat berfungsi untuk mengangkat sumber
daya yang masih terpendam ke atas permukaan realitas sosial, sehingga dapat
segera dimanfaatkan dalam rangka peningkatan taraf hidup .
Berdasarkan konsepsi ini, Moser (Suharto, 2002: 13) membuat kerangka
analisis yang disebut “The Asset Vulnerability Framework”. Kerangka ini meliputi
berbagai pengelolaan aset yang dapat digunakan untuk melakukan penyusuian atau
57
pengembangan strategi tertentu dalam mempertahankan kelangsungan hidup
seperti:
6. Aset tenaga kerja (labour asset), misalnya meningkatkan keterlibatan
wanita dan anak dalam keluarga untuk bekerja membantu ekonomi rumah
tangga.
7. Aset modal manusia (human capital asset), misalnya manfaat status
kesehatan yang dapat menentukan kapasitas orang atau bekerja atau
keterampilan dan pendidikan yang menentukan umpan balik atau hasil
kerja (return) terhadap tenaga yang di keluarkannya.
8. Aset produktif (productive asset), misalnya menggunakan rumah, sawah,
ternak, tanaman untuk keperluan hidupnya.
9. Aset relasi rumah tangga atau keluarga (Household relation asset),
misalnya memanfaatkan jaringan dan dukungan dari sistem keluarga
besar, kelompok etnis, migrasi tenaga kerja dan mekanisme “uang
kiriman” (remittances).
10. Aset modal sosial (sosial capital aset), misalnya memanfaatkan lembagalembaga sosial lokal, arisan dan memberi kredit dalam proses dan sistem
perekonomian keluarga.
Suharto (2002a:68) Dewasa ini dalam mengkaji dan menangani kemiskinan,
perspektif kemiskinan yang bersifat multidimensional dan dinamis muncul sebagai
salah satu isu sentral dalam prioritas pembangunan. Munculnya isu ini tidak saja
telah melahirkan perubahan pada fokus pengkajian kemiskinan, terutama yang
menyangkut kerangka konseptual dan metodologi pengukuran kemiskinan,
melainkan pula telah melahirkan tantangan bagi para pembuat kebijakan untuk
merekonstruksi keefektifan program-program pengentasan kemiskinan.
58
Kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk
hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar (alasan) bagi setiap individu
untuk berusaha. Pada dasarnya, manusia bekerja mempunyai tujuan tertentu, yaitu
memenuhi kebutuhan. Kebutuhan tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Selama
hidup
manusia
membutuhkan
bermacam-macam
kebutuhan.
Seperti: makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, keamanan, dan kesehatan.
G. Gaya Hidup
Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam
aktivitas, minat, dan opininya Sedangkan menurut Assael (1984), gaya hidup
menggambarkan
“keseluruhan
diri
seseorang”
dalam
berinteraksi
denganlingkungannya (Kotler, 2002). Sedangkan menurut Assael (1984), gaya
hidup adalah“A mode of living that is identified by how people spend their time
(activities), whatthey consider important in their environment (interest), and what
they think ofthemselves and the world around them (opinions)”. Menurut Minor
dan Mowen(2002), gaya hidup adalah menunjukkan bagaimana orang hidup,
bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu.
Selain itu, gaya hidup menurut Suratno dan Rismiati (2001) adalah pola hidup
seseorang dalam dunia kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan,
minat dan pendapat yang bersangkutan. Gaya hidup mencerminkan keseluruhan
pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan. Maka dari itu dapat disimpulkan
bahwa gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan,
minat dan pendapatnya dalam membelanjakan uangnya dan bagaimana
mengalokasikan waktu.
59
Gaya hidup diartikan dalam WHO 1998 yaitu life style is a way of
livingbased on identifiable patterns of behaviour which are determined by the
interplaybetween an individual’s personal characteristics, social interactions,
andsocioeconomicand
environmental
living
condition.Pola
pola
perilaku
(behavioral patterns) akan selalu berbeda dalam situasi ataulingkungan sosial yang
berbeda, dan senantiasa berubah, tidak ada yang menetap(fixed). Gaya hidup
individu, yang dicirikan dengan pola perilaku individu, akanmemberi dampak pada
kesehatan individu dan selanjutnya pada kesehatan orang lain.
Dalam “kesehatan” gaya hidup seseorang dapat diubah dengan cara
memberdayakanindividu agar merubah gaya hidupnya, tetapi merubahnya bukan
pada si individu saja,tetapi juga merubah lingkungan sosial dan kondisi kehidupan
yang mempengaruhipola perilakunya. Harus disadari bahwa tidak ada aturan
ketentuan baku tentang gayahidup yang “sama dan cocok” yang berlaku untuk
semua orang. Budaya, pendapatan,struktur keluarga, umur, kemampuan fisik,
lingkungan rumah dan lingkungan tempatkerja, menciptakan berbagai “gaya” dan
kondisi kehidupan lebih menarik, dapatditerapkan dan diterima (Ari, 2010).
Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang mengenakannya
danmenggambarkan seberapa besar nilai moral orang tersebut dalam masyarakat
disekitarnya. Atau juga, gaya hidup adalah suatu seni yang dibudayakan oleh
setiap orang. Gaya hidup juga sangat berkaitan erat dengan perkembangan zaman
dan teknologi. Semakin bertambahnya zaman dan semakin canggihnya teknologi,
maka semakin berkembang luas pula penerapan gaya hidup oleh manusia dalam
kehidupan sehari-hari. Dalam arti lain, gaya hidup dapat memberikan pengaruh
60
positif atau negatif bagi yang menjalankannya, tergantung pada bagaimana orang
tersebut menjalaninya. Dewasa ini, gaya hidup sering disalahgunakan oleh sebagian
besar remaja. Apalagi para remaja yang berada dalam kota Metropolitan. Mereka
cenderung bergaya hidup dengan mengikuti mode masa kini. Tentu saja, mode yang
mereka tiru adalah mode dari orang barat. Jika mereka dapat memfilter dengan baik
dan tepat, maka pengaruhnya juga akan positif. Namun sebaliknya, jika tidak pintar
dalam memfilter mode dari orang barat tersebut, maka akan berpengaruh negatif
bagi mereka sendiri (Siti Nurhasanah, 2009).
Gaya hidup menurut Kotler (2002:192)adalah pola hidup seseorang di dunia
yang iekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup
menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan
lingkungannya.Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi
dan berinteraksi di dunia. Menurut Assael (1984,252), gaya hidup adalah “A mode
of living that is identified by how people spend their time (activities), what they
consider important in their environment (interest), and what they think of
themselves and the world around them (opinions)”.
Secara umum dapat diartikan sebagai suatu gaya hidup yang dikenali
dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya (aktivitas), apa yang penting
orang pertimbangkan pada lingkungan (minat), dan apa yang orang pikirkan tentang
diri sendiri dan dunia di sekitar (opini). Sedangkan menurut Minor dan Mowen
(2002:282), gaya hidup adalah menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana
membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu. Selain itu, gaya
hidup menurut Suratno dan Rismiati (2001:174) adalah pola hidup seseorang dalam
61
dunia kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat
yang bersangkutan. Gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi yang
berinteraksi dengan lingkungan.
Dari berbagai di atas dapat disimpulkan bahwa gaya hidup adalah pola
hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapatnya dalam
membelanjakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu. Faktor-faktor
utama pembentuk gaya hidup dapat dibagi menjadi dua yaitu secara demografis dan
psikografis. Faktor demografis misalnya berdasarkan tingkat pendidikan, usia,
tingkat penghasilan dan jenis kelamin, sedangkan faktor psikografis lebih kompleks
karena indikator penyusunnya dari karakteristik konsumen.
Psikografik (Psychographic) adalah ilmu tentang pengukuran dan
pengelompokkan gaya hidup konsumen (Kotler, 2002:193). Sedangkan psikografik
menurut Sumarwan (2003:58), adalah suatu instrumen untuk mengukur gaya hidup,
yang memberikan pengukuran kuantitatif dan bisa dipakai untuk menganalisis data
yang sangat besar. Analisis psikografik biasanya dipakai untuk melihat segmen
pasar. Analisis psikografik sering juga diartikan sebagai suatu riset konsumen yang
menggambarkan segmen konsumen dalam hal kehidupan, pekerjaan dan aktivitas
lainnya. Psikografik berarti menggambarkan (graph) psikologis konsumen (psyco).
Psikografik adalah pengukuran kuantitatifgaya hidup, kepribadian dan
demografik konsumen. Psikografik sering diartikansebagai pengukuran AIO
(activity, interest, opinions), yaitu pengukuran kegiatan, minat dan pendapat
konsumen. Psikografik memuat beberapa pernyataan yang menggambarkan
kegiatan, minat dan pendapat konsumen. Pendekatan psikografik sering dipakai
62
produsen dalam mempromosikan produknya, seperti yang dinyatakan oleh Kotler
bahwa psikografik senantiasa menjadi metodologi yang valid dan bernilai bagi
banyak pemasar (2002:193). Solomon dalam Sumarwan (2003:59) menjelaskan
studi psikografik dalam beberapa bentuk seperti diuraikan berikut.
1. Profil gaya hidup (a lifestyle profile), yang menganalisis beberapa
karakteristik yang membedakan antara pemakai dan bukan pemakai suatu
produk.
2. Profil produk spesifik (a product-specific profile) yang
mengidentifikasi kelompok sasaran kemudian membuat profil konsumen
tersebut berdasarkan dimensi produk yang relevan.
3. Studi yang menggunakan kepribadian ciri sebagai faktor yang
menjelaskan, menganalisis kaitan beberapa variabel dengan kepribadian
ciri, misalnya kepribadian ciri yang mana yang sangat terkait dengan
konsumen yang sangat memperhatikan masalah lingkungan.
4. Segmentasi gaya hidup (a general lifestyle segmentation), membuat
pengelompokkan responden berdasarkan kesamaan preferensinya.
5. Segmentasi produk spesifik, adalah studi yang mengelompokkan
konsumen berdasarkan kesamaan produk yang dikonsumsinya.
Orang-orang yang berasal dari sub-budaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang
sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup adalah pola hidup
seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya
hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan
lingkungannya. Pemasar mencari hubungan antara produknya dengan kelompok
63
gaya hidup konsumen. Contohnya, perusahaan penghasil komputer mungkin
menemukan bahwa sebagian besar pembeli komputer berorientasi pada pencapaian
prestasi. Dengan demikian, pemasar dapat dengan lebih jelas mengarahkan
mereknya ke gaya hidup orang yang berprestasi
Lifestyle atau gaya hidup ini awalnya diciptakan oleh psikolog Austria
Alfred Adler tahun 1929. Lebih luas saat ini arti kata tanggal dari 1961. Dalam
sosiologi, gaya hidup adalah cara seseorang hidup. Sebuah gaya hidup bundel
merupakan karakteristik perilaku yang masuk akal untuk kedua orang lain dan diri
sendiri dalam suatu waktu dan tempat, termasuk hubungan sosial, konsumsi,
hiburan, dan berpakaian. Perilaku dan praktek dalam "gaya hidup" adalah campuran
kebiasaan, cara-cara konvensional dalam melakukan sesuatu, dan beralasan
tindakan. Sebuah gaya hidup biasanya juga mencerminkan sikap individu, nilainilai atau pandangan dunia. Oleh karena itu, gaya hidup adalah sarana untuk
menempa suatu kesadaran diri untuk menciptakan budaya dan simbol-simbol yang
beresonansi dengan identitas pribadi. Tidak semua aspek dari gaya hidup
sepenuhnya voluntaristik. Sekitarnya sosial dan sistem teknis dapat membatasi
pilihan gaya hidup yang tersedia bagi individu dan simbol-simbol ia / dia dapat
proyek untuk orang lain dan diri sendiri.
Garis antara identitas pribadi dan perbuatan-perbuatan sehari-hari sinyal
bahwa gaya hidup tertentu menjadi buram dalam masyarakat modern. Sebagai
contoh, "gaya hidup hijau" berarti memegang keyakinan dan terlibat dalam aktivitas
yang mengkonsumsi sumber daya yang lebih sedikit dan kurang menghasilkan
limbah berbahaya (yaitu yang lebih kecil karbon), dan menurunkan suatu kesadaran
64
diri dari memegang kepercayaan ini dan terlibat dalam kegiatan ini. Beberapa
komentator berpendapat bahwa, dalam modernitas, landasan dari konstruksi gaya
hidup adalah perilaku konsumsi, yang menawarkan kemungkinan untuk
menciptakan dan diri individualize lebih lanjut dengan produk atau layanan berbeda
sinyal bahwa cara hidup yang berbeda.
65
Download