Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Coping Stress 2.1.1 Definisi coping

advertisement
Bab 2
Tinjauan Pustaka
2.1
Coping Stress
2.1.1 Definisi coping stress
Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan coping sebagai berikut:
“Constantly changing cognitive and behavioral efforts to manage specific
external and/or internal demands that are appraised as taxing or exceeding the
resources of the person.”(p. 141)
Berdasarkan pengertian di atas, coping diartikan sebagai tingkah laku dan
cara pandang yang secara konstan berubah untuk mengatur tuntutan internal
dan/atau eksternal spesifik yang dinilai membebani atau melebihi dari sumber
daya dari seseorang.
Definisi yang dijelaskan oleh Lazarus dan Folkman (1984) memberikan
batasan mengenai coping, yaitu pertama bahwa coping tidak berorientasi pada
trait melainkan berorientasi pada proses. Orientasi proses ini didasarkan dengan
pernyataan “perubahan secara konstan dan tuntutan dan konflik yang spesifik”.
Kedua adalah definisi tersebut menekankan perbedaan antara coping dengan
tingkah laku adaptif yang otomatis dengan membatasi coping pada tuntutan yang
dinilai membebani ataupun melebihi sumber daya seseorang. Maka dari itu,
segala bentuk tingkah laku maupun ataupun pemikiran yang tidak membutuhkan
usaha tidak termasuk sebagai coping. Ketiga adalah pernyataan bahwa coping
merupakan “usaha untuk mengatur” yang memperjelas bahwa segala tindakan
dan pemikiran seseorang dalam menghadapi situasi yang dinilai melebihi
sumber daya dinilai sebagai coping, terlepas dari hasil baik atau buruknya usaha
coping tersebut. Terakhir, dengan menggunakan kata “manage”, coping
dihindarkan untuk disamakan dengan “mastery” atau penguasaan. Dalam hal ini
“manage” dapat diartikan sebagai mengurangi, menghindari, menoleransi, dan
menerima kondisi yang mengakibatkan stress maupun mencoba untuk
menguasai lingkungannya.
Definisi diatas sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh Safarino &
Smith (2010) bahwa coping adalah proses yang dilakukan oleh individu dalam
mengatasi perbedaan yang ada antara tuntutan situasi dan sumber daya yang
dimiliki.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa coping adalah
suatu proses perubahan perilaku yang secara konstan berubah untuk mangatur
antara tuntutan situasi yang berlebihan dengan sumber daya yang dimiliki oleh
seseorang.
2.1.2 Jenis coping stress
Dalam menghadapi masalah ataupun kondisi yang mengakibatkan stress,
setiap individu dapat melakukan coping yang berbeda-beda berdasarkan pada
kondisi yang dihadapi. Lazarus dan Folkman (1984) membagi jenis coping
berdasarkan pada kegunaannya. Jenis coping tersebut adalah:
a. Problem-focused coping merupakan jenis coping melalui usaha yang
menggunakan tindakan langsung untuk menyelesaikan atau mengurangi
masalah yang mengakibatkan stress (Lazarus dan Folkman, 1984).
Problem-focused coping mirip dengan strategi yang digunakan dalam
pemecahan masalah. Usaha yang dilakukan lebih diarahkan pada
mendefinisikan masalah, menghasilkan solusi alternatif,
mempertimbangkan manfaat dari solusi alternatif, memilih satu dari
solusi alternatif yang ada, dan menjalankan solusi tersebut. Dalam
problem-focused coping ini terdapat dua orientasi dalam mengatasi
masalah yaitu orientasi pada lingkungan dan orientasi pada diri sendiri.
Orientasi pada lingkungan merupakan usaha dengan strategi mengubah
tekanan lingkungan, hambatan, sumber, perosedur, dan lainnya.
Orientasi pada diri sendiri diarahkan dengan usaha perubahan motivasi
atau kognitif seperti mengurangi keterlibatan ego, mengembangkan
standar perilaku baru, atau belajar keterampilan dan prosedur baru
(Lazarus dan Folkman, 1984).
b. Emotion-focused coping merupakan coping melalui usaha dengan cara
mengontrol atau mengurangi emosi dan perasaan negatif yang muncul
dari permasalahan yang mengakibatkan stress (Lazarus dan Folkman,
1984). Emotion-focused coping mengarahkan proses kognitif untuk
mengurangi tekanan emosional dengan menggunakan strategi
menghindari, meminimalisasi, menjauhi dan perhatian selektif terhadap
kejadian negatif. Menurut Lazarus dan Folkman (1984), individu
biasanya menggunakan emotion-focused coping untuk mempertahankan
harapan dan optimisme, untuk menyangkal fakta dan implikasi dari
masalah yang ada, menolak untuk mengakui yang terburuk, untuk
bertindak seolah-olah apa yang terjadi tidak menjadi masalah, dan
lainnya.
2.1.3 Faktor yang mempengaruhi coping stress
Menurut Lazarus dan Folkman (1984), terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi coping yaitu faktor individu dan faktor situasi.
Faktor individu yang mempengaruhi coping meliputi:
a. Komitmen
Definisi komitmen dalam faktor ini mengandung komponen kognitf yang
mengarahkan pada pilihan, nilai, dan/atau tujuan. Komitmen juga
menyatakan sesuatu yang penting dan berarti untuk individu. Komitmen
dapat mengarahkan individu untuk melakukan tindakan tertentu dalam
menghadapi keadaan stress. Selain itu, komitmen juga menentukan
tingkat kerentanan terhadap stress. Semakin tinggi komitmen individu
dalam area tertentu, maka akan semakin tinggi pula kerentanan individu
dalam menghadapi stress dalam area tersebut.
b. Keyakinan
Keyakinan adalah konfigurasi kognitif dari budaya dan pembentukan
pribadi. Keyakinan menentukan fakta yang diyakini dan pemahaman
makna dari fakta yang ada.Terdapat dua kategori keyakinan, yaitu
keyakinan yang berhubungan dengan kontrol personal dan keyakinan
eksistensial. Keyakinan tentang kontrol personal merupakan keyakinan
individu mengenai kemampuan yang ia miliki dalam menghadapi
permasalahnya. Keyakinan eksistensial merupakan keyakinan atau
kepercayaan pada Tuhan, takdir, atau yang berhubungan dengan alam.
Keyakinan digunakan individu untuk mengevaluasi apa yang sedang
terjadi.
Faktor situasi yang mempengaruhi coping meliputi:
a. Kebaruan atau novelty
Individu yang menghadapi suatu keadaan yang baru dan tidak memiliki
pengalaman keadaan yang sama sebelumnya, maka individu cenderung
tidak siap dalam melakukan coping.
b. Predictability
Jika keadaan yang akan muncul dapat diprediksi sebelumnya atau
memiliki tanda-tanda muncul yang akan mengancam, maka individu
dapat mempersiapkan diri dan akan lebih kuat dalam menghadapi
keadaan tersebut
c. Event uncertainity
Faktor ini mempengaruhi coping ketika terjadi ketidakpastian atas
munculnya suatu keadaan. Ketika terjadi ketidakpastian keadaan,
individu akan lebih cepat merasa stress yang akan berdampak pada
proses coping yang tidak diantisipasi sebelumnya.
2.1.4 Sumber coping stress
Menurut Lazarus dan Folkman (1984), dalam melakukan coping seseorang
individu bergantung pada sumber daya tersedia yang dapat digunakan atau juga
terdapat sumber daya yang menghambat individu dalam melakukan coping.
Sumber daya tersebut, yaitu sebagai berikut:
a. Kesehatan dan energi
Sumber ini merupakan sumber yang paling relevan diantara semua
sumber daya yang ada dalam menghadapi stress. Orang yang sakit dan
kelelahan akan mengerahkan energi yang lebih sedikit untuk melakukan
coping dibandingkan dengan orang yang sehat. Physical well-being
memainkan peranan penting dalam menghadapi masalah dan dalam
kejadian stress dituntut mobilasasi yang tinggi.
b. Keyakinan positif
Memandang secara positif pada diri sendiri dapat dijadikan sebagi sumber
psikologis yang penting untuk melakukan coping. Keyakinan dapat
dijadikan sebagai dasar dari pengharapan dan hal tersebut akan menjadi
penopang dalam menghadapi kondisi yang sulit. Ada beberapa keyakinan
yang dapat menghambat coping. Contohnya adalah ketika seseorang
yakin bahwa ia mendapat hukuman dari Tuhan, maka mereka akan
menerima keadaan tersebut dan tidak berbuat apa apa untuk mengatasi
permasalahannya.
c. Kemampuan penyelesaian masalah
Kemampuan ini meliputi kemampuan mencari informasi, menganalisis
situasi dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah agar dapat
menguraikan langkah-langkah alternatif, mempertimbangkan langkahlangkah yang akan dilakukan, memilih dan mengimplementasikan
langkah yang akan diterapkan. Secara umum, kemampuan ini ditunjukkan
dalam tindakan yang spesifik seperti menghadapi permasalahan tentang
moral, situasi yang mendadak, dll. Kemampuan ini bersumber dari
pengalaman, pengetahuan, kemampuan kognitif, dan kapasitas untuk
mengontrol diri individu.
d. Kemampuan sosial
Kemampuan sosial merupakan sumber yang penting dalam coping karena
peran fungsi sosial dalam adaptasi individu. Kemampuan ini ditujukan
untuk berkomunikasi dan berperilaku dengan orang lain dalam cara yang
efektif dan tepat secara sosial, kemampuan sosial juga memfasilitasi
untuk berkoordinasi dengan orang lain untuk menyelesaikan masalah,
meningkatkan kemungkinan untuk saling mendukung, dan memberikan
individu kontrol yang lebih dalam interaksi sosial.
e. Dukungan sosial
Memiliki dukungan dari orang lain secara emosional, informasional
dan/atau dukungan secara nyata akan menjadi sumber coping berguna
dalam menghadapi situasi stress.
f.
Kemampuan materi
Kemampuan ini merujuk pada uang dan barang & jasa yang dapat dibeli
oleh uang. Individu yang memiliki sumber ekonomi yang lebih akan
memiliki pilihan coping yang lebih banyak dalam segala kondisi stress.
2.2
Resiliensi
2.2.1 Definisi resiliensi
Newman (2005) dalam APA’s Resilience Initiative mendefinisikan resiliensi
sebagai berikut:
“Resilience is the human ability to adapt in the face of tragedy, trauma,
adversity, hardship, and ongoing significant life stressor.”
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat didefinisikan bahwa resiliensi adalah
kemampuan seseorang untuk beradaptasi saat menghadapi tragedi, trauma,
kesulitan, dan stressor dalam hidup yang bersifat signifikan.
Definisi lainnya dikemukakan oleh Hermann et al. (2011), yakni resiliensi
dipahami sebagai adaptasi positif atau kemampuan untuk mempertahankan atau
mendapatkan kembali kesehatan mentalnya setelah mengalami kesulitan.
Herman et al. (2011) mengungkapkan bahwa resiliensi merupakan kemampuan
yang proses yang dinamis dan berkembang sepanjang kehidupan manusia dan
dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Connor dan Davidson (2003) mengemukakan bahwa resiliensi merupakan
suatu perwujudan kualitas personal dari individu untuk dapat bangkit dan
berkembang ketika menghadapi kesulitan. Connor dan Davison (2003)
melakukan analisa faktor yang terkait dengan resiliensi yaitu kompetensi pribadi
dan keuletan, toleransi pada pengaruh negatif dan stress, penerimaan positif
pada perubahan dan hubungan yang aman, kontrol, dan pengaruh spiritual.
Berdasarkan penjelasan tersebut, resiliensi dapat didefinisikan sebagai
kemampuan invidu untuk beradaptasi dan bertahan dalam menghadapi
pengalaman hidup yang sulit ataupun traumatis dan dapat bangkit kembali dari
pengalaman sulit tersebut.
2.2.2 Faktor resiliensi
Menurut Jackson dan Watkin (2004), terdapat tujuh faktor yang
mempengaruhi untuk mengembangkan kemampuan resiliensi. Faktor tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Emotion regulation (regulasi emosi) adalah kemampuan untuk mengatur
perasaan atau emosi internal individu agar dapat tetap bertahan dengan
efektif walaupun berada di bawah tekanan. Orang yang resilien biasanya
mengembangkan kemampuan yang membantu mereka untuk dapat
mengontrol emosi, perhatian/fokus, dan perilaku mereka.
b. Impulse control adalah kemampuan untuk mengatur ekspresi perilaku yang
mucul dari impuls emosi dan pikiran, hal ini juga termasuk dengan
kemampuan untuk menunda munculnya perasaan senang. Faktor impulse
control ini berkorelasi dengan faktor emotion regulation.
c. Causal analysis adalah kemampuan untuk mengidentifikasi secara akurat
dari penyebab suatu kesulitan. Individu yang resilien mampu untuk keluar
dari cara pemikiran yang biasa dilakukan untuk mengidentifikasi
kemungkinan penyebab dan hingga solusi yang memungkinkan.
d. Self-efficacy adalah perasaan bahwa keberadaan individu di dunia “efektif”,
kepercayaan bahwa individu dapat menyelesaikan masalah dan menjadi
sukses atau berhasil. Individu yang resilien percaya pada diri sendiri dan
yang pada akhirnya dapat membangun percaya diri orang lain pada diri
individu tersebut, serta menempatkan diri mereka pada baris yang lebih
memiliki kesempatan dan sukses.
e. Realistic optimism adalah kemampuan untuk tetap positif terhadap masa
depan dan tetap realistis terhadap rencana masa depan tersebut. Faktor ini
berhubungan dengan self-esteem, tetapi lebih memiliki hubungan sebab
akibat dengan self-efficacy dan akurasi.
f.
Empati adalah kemampuan untuk membaca isyarat dari perilaku orang lain
untuk memahami keadaan psikologis dan emosional mereka hingga dapat
membangun hubungan yang lebih baik. Individu resilien dapat membaca
isyarat non-verbal dari orang lain untuk membantu membangun hubungan
yang lebih dalam dengan orang lain dan cenderung untuk lebih sesuai
dengan keadaan emosional mereka sendiri.
g. Reaching out adalah kemampuan untuk meningkatkan aspek positif dari
kehidupannya dan dapat menghadapi tantangan baru & kesempatan.
Perilaku ini dapat terhambat jika seseorang yang pemalu, perfectionist, dan
self-handicapping.
2.3
Psychological Well-being
2.3.1 Definisi psychological well-being
Psychological well-being adalah realisasi dan pencapaian penuh dari
potensi individu dimana individu dapat menerima segala kekurangan dan
kelebihan dirinya, mandiri, mampu menjalin hubungan yang positif dengan
orang lain, dapat menguasai lingkungan, memiliki tujuan dalam hidup, dan
mengembangkan dirinya (Ryff, 1989). Psychological well-being merupakan
well-being yang menerapkan pendekatan eudamonik yang diajukan oleh
Aristoteles (Ryff, 1989). Pendekatan eudamonik merupakan pendekatan yang
menekankan pada realisasi diri dan tingkat aktualisasi kemampuan individu
(Ryan dan Deci, 2001). Dalam memahami psychological well-being terdapat tiga
kajian teori yang dapat menjelaskan konsep tersebut. Kajian teori pertama adalah
teori psikologi perkembangan, teori ini menjelaskan gambaran well-being yang
berkembang sesuai dengan teori perkembangan psikososial Erikson, teori
formulasi basic life tendencies oleh Buhler, dan deskripsi perubahan kepribadian
oleh Neugarten. Kajian teori kedua adalah teori psikologi klinis, teori ini
menjelaskan well-being yang berkaitan dengan konsep aktualisasi diri oleh
Masslow, fully functioning person oleh Rogers, konsep individu oleh Jung, dan
konsep kedewasaan oleh Allport. Kajian teori ketiga dijelaskan dari kesehatan
mental, teori ini menjelaskan bahwa well-being adalah suatu keadaan absennya
illness dari individu dan berkaitan dengan formula kriteria positif kesehatan
mental oleh Jahoda, serta fungsi later life oleh Birren. Psychological well-being
tidak hanya kepuasan hidup dan keseimbangan antara afek positif dan negatif
namun melibatkan persepsi dari keterlibatan dengan hambatan sepanjang hidup
(Keyes, Shmotkin, dan Ryff, 2002). Individu yang memiliki psychological wellbeing yang baik akan mampu menghadapi kejadian-kejadian yang terjadi di luar
dirinya dan mengarahkan perilakunya sendiri untuk dapat mengembangkan
potensi dirinya.
2.3.2 Dimensi psychological well-being
Psychological well-being terdiri dari enam dimensi pendukung, yang
masing-masing dimensi menjelaskan fungsi individu secara penuh dan positif
dalam menghadapi hambatan-hambatan yang dialami individu (Ryff, 1989).
Dimensi-dimensi tersebut meliputi:
a. Autonomy
Dimensi ini menggambarkan individu yang memiliki sikap mandiri,
memiliki prinsip internal dan mampu menolak tekanan sosial yang tidak
sesuai dengan prinsipnya. Individu yang memiliki tingkat otonomi yang
baik akan mampu mengatur tingkah laku diri sendiri, mengevaluasi diri
sendiri, mandiri, dan menolak tekanan sosial dari luar. Sebaliknya individu
yang tidak memiliki tingkat otonomi yang baik akan bergantung pada orang
lain, cenderung bersikap konformitas terhadap tekanan sosial, meminta
evaluasi dari orang lain.
b. Environmental mastery
Dimensi ini menggambarkan kemampuan individu untuk memilih,
mengatur, atau menciptakan lingkungan kompleks agar sesuai dengan
individu. Individu yang mampu mengatur lingkungan akan mampu untuk
memilih dan menciptakan lingkungan sesuai dengan kebutuhan dan nilai
pribadi individu, serta memanfaatkan secara maksimal sumber yang ada di
lingkungan. Individu yang tidak dapat mengatur lingkungan akan
mengalami kesulitan mengatur kegiatan sehari-hari, merasa tidak mampu
untuk mengubah lingkungannya, dan tidak menyadari peluang yang ada di
lingkungan.
c. Personal growth
Dimensi ini menggambarkan kemampuan potensial individu dalam
mengembangkan dirinya dan keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman
baru. Individu yang memiliki tingkat pengembangan diri yang baik akan
memiliki perasaan untuk terus berkembang, merasa dirinya harus selalu
bertumbuh, menyadari potensi yang dimiliki, dan mampu melihat
peningkatan dirinya dari waktu ke waktu. Individu yang memiliki tingkat
pengembangan diri yang kurang akan memiliki perasaan jenuh dengan
hidupnya, tidak mampu mengembangkan sikap yang baru, tidak memiliki
peningkatan diri, merasa dirinya terhambat dan tidak dapat berkembang.
d. Positive relations with others
Dimensi ini menekankan adanya hubungan yang hangat, memuaskan, saling
percaya, empati, dan keintiman dengan orang lain. Individu yang memiliki
hubungan positif yang baik dengan orang lain ditandai dengan memiliki
hubungan yang hangat, memuaskan dan saling percaya dengan orang lain,
memiliki perhatian terhadap kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan
rasa empati, rasa sayang dan keintiman. Sebaliknya, individu yang kurang
memiliki hubungan dengan orang lain ditandai dengan memiliki sedikit
hubungan dekat dengan orang lain, sulit untuk bersikap hangat, tidak
terbuka dan memberikan sedikit perhatian terhadap orang lain.
e. Purpose in Life
Dimensi ini menekankan pada pentingnya memiliki tujuan dan arah dalam
hidup, serta percaya bahwa dalam hidup memiliki tujuan dan makna
tersendiri. Individu yang memilliki tujuan dalam hidup maka akan memiliki
target atau cita-cita dalam hidupnya dan kejadian yang terjadi dalam
hidupnya memiliki makna tertentu. Sebaliknya, individu yang tidak
memiliki tujuan dalam hidup tidak akan memiliki target atau cita-cita dalam
hidupnya dan tidak merasa kejadian dalam hidupnya memiliki makna
tertentu.
f.
Self acceptance
Dimensi ini merupakan karakteristik utama dari kesehatan mental,
aktualisasi diri, dan kematangan individu. Penerimaan diri berarti bersikap
positif terhadap diri sendiri, terhadap kejadian yang telah berlalu, dan dapat
menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh diri sendiri.
Individu yang memiliki penerimaan diri yang baik akan memiliki sikap
yang positif terhadap diri sendiri dan menerima kekurangan dan kelebihan
diri sendiri, sedangkan individu yang tidak memiliki penerimaan diri yang
baik akan merasa tidak puas pada dirinya sendiri dan merasa terganggu
dengan kekurangan yang dimiliki.
2.3.3 Faktor yang mempengaruhi psychological well-being
Faktor yang mempengaruhi psychological well-being pada individu, meliputi:
a. Usia
Ryff (1989) dalam penelitiannya menemukakan bahwa usia menjadi salah
satu faktor yang mempengaruhi psychological well-being. Beberapa
dimensi pada psychological well-being seperti autonomy, self acceptance,
environmental mastery, positive relation of others akan meningkat sejalan
dengan perkembangan usia.
b. Jenis kelamin
Ryff (1989); Ryff dan Singer (2002), menyatakan perbedaan jenis
kelamin memberikan pengaruh pada psychological well-being seseorang
dimana wanita cenderung memiliki psychologicall well-being lebih tinggi
dibanding dengan laki-laki. Hal ini berkaitan dengan aktifitas sosial yang
dilakukan.Wanita cenderung lebih memiliki hubungan interpersonal yang
lebih baik dari pada laki-laki.
c. Tingkat pendidikan
Ryff, Magee, Kling & Wing (1999), menyatakan tingkat pendidikan,
salah satu faktor yang mempengaruhi psychological well-being. Individu
yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik akan memiliki tingkat
psychological well-being yang lebih baik pula.
d. Status sosial ekonomi
Ryff (1989), menyatakan bahwa faktor status sosial ekonomi menjadi
sangat penting dalam peningkatan psychological well-being. Tingkat
keberhasilan dalam pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik,
menunjukkan tingkat psychological well-being juga lebih baik. Ryan dan
Deci (2001), menemukan bahwa status sosial ekonomi berhubungan
dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan
dan pertumbuhan pribadi. Status sosial ekonomi mempengaruhi
kesejahteraaan psikologis seseorang seperti besarnya pendapatan
keluarga, tingkat pendidikan, keberhasilan pekerjaan, kepemilikan materi
dan status sosial di masyarakat (Pinquart & Sorenson, 2000).
e. Dukungan sosial
Lingkungan individu terutama keluarga sangat berpengaruh pada
psychological well-being seseorang. Dukungan sosial dari keluarga
terdekat atau dari lingkungannya, menjadikan seseorang lebih bisa
menerima, hubungan baik lebih terjaga dan hal ini dapat berpengaruh
pada peningkatan psychological well-being seseorang. An dan Cooney
(2006), menyatakan bahwa bimbingan dan arahan dari orang lain
memiliki peran yang penting pada psychological well-being.
2.4
Remaja
2.4.1 Pertumbuhan remaja
Remaja merupakan transisi tahap perkembangan dari masa anak-anak
menuju masa dewasa, perkembangan itu meliputi perubahan biologis, kognitif,
dan sosial-emosional. Tahap remaja dimulia pada usia 10 sampai 13 tahun dan
berakhir pada 18 sampai 21 tahun. Masa remaja terbagi menjadi dua tahap yaitu
early adolescence dan late adolescence. Tahap early adolescence merupakan
tahap perkembangan saat memasuki sekolah menengah pertama atau sekolah
menengah atas dan remaja mengalami perubahan pubertas. Tahap late
adolescence merupakan tahap tahap para remaja mulai tertarik dengan bidang
kerja, berkencan, dan pencarian jati diri (Santrock, 2012). Berikut adalah
perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja:
1. Perubahan fisik
Perubahan fisik pada remaja dipengaruhi oleh hormon yang ditandai dengan
masa pubertas. Perubahan fisik remaja dibagi menjadi dua karakteristik
yaitu primary sex characteristic dan secondary sex characteristic. Primary
sex characteristic ditandai dengan perubahan hormon yang menyebabkan
remaja wanita mengalami ovulasi dan menstruasi, serta pada remaja pria
akan memproduksi sperma. Primary sex characteristic mengindikasikan
bahwa remaja telah memiliki kemampuan untuk bereproduksi. Secondary
sex characteristic pada remaja wanita ditandai dengan pembesaran pada
bagian payudara dan pinggang. Pada remaja pria ditandai dengan
pertumbuhan testis dan penis, pelebaran pada bagian bahu, rendahnya suara.
Selain kedua karakteristik tersebut, baik remaja pria ataupun wanita akan
mengalami peningkatan pesat pada tinggi dan berat badan.
2. Perubahan kognitif
Perubahan kognitif pada remaja akan dibahas melalui teori Piaget (Santrock,
2012). Dalam teori Piaget, individu yang berusia antara 11 sampai 15 tahun
sedang berada dalam tahap formal operasional. Tahap ini dikarakteristikkan
dengan kemampuan untuk menggunakan konsep abstrak dan logis. Selain
hal tersebut, terdapat juga sosial kognisi pada remaja. Sosial kognisi adalah
cara individu mengkonseptualisasikan lingkungan sosialnya, seperti cara
individu berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Sosial kognisi
pada remaja dikenal sebagai adolescent egocentrism. Adolescent
egocentrism adalah kesadaran yang tinggi akan diri sendiri yang
direfleksikan pada kepercayaan remaja bahwa orang lain tertarik pada diri
mereka seperti diri mereka tertarik pada diri sendiri, dan pada keunikan
yang mereka miliki. Adolescent egocentrism terdiri dari dua, yaitu
imaginary audience dan personal fable. Imaginary audience merupakan
egosentrisme remaja yang merasa selalu diperhatikan. Personal fable
merupakan egosentisme remaja yang merasa memiliki keunikkan tersendiri
sehingga tidak ada orang lain yang dapat memahami dirinya dan merasa
dirinya kebal atau tidak terkalahkan.
3. Perubahan social-emosional
Menurut teori Erickson, individu usia 11-18 tahun sedang dalam tahap
perkembangan identity vs identity confusion. Dalam tahap ini para remaja
menghadapi krisis untuk menemukan jati dirinya. Dalam menemukan jati
dirinya, para remaja akan mengeksplorasi peran-peran baru dalam
lingkungan sosialnya. Jika para remaja berhasil mengeksplorasi jati dirinya
maka mereka berhasil melewati krisi ini dan mendapatkan identity,
sedangkan jika para remaja gagal dalam menemukan jati dirinya maka
mereka akan mengalami identity confusion. Menurut Lahey (2010), terdapat
tiga permasalahan yang akan mempengaruhi emosi remaja, yaitu konflik
antara orang tua dan anak, perubahan mood yang tiba-tiba dan perilaku yang
berbahaya.
2.4.2 Kenakalan remaja
Dalam masa remaja terdapat beberapa masalah atau gangguan yang dialami
oleh remaja, salah satunya adalah kenakalan remaja. Kenakalan remaja adalah
perilaku yang dianggap melanggar norma sosial hingga melanggar hukum
(Santrock, 2012). Kenakalan remaja dibagi dalam dua jenis yaitu status offsenses
dan index offsenses. Status offsenses adalah tindakan-tindakan yang tidak terlalu
serius seperti lari dari rumah, bolos dari sekolah, mengkonsumsi minuman keras
yang melanggar ketentuan usia, pelacuran, dan ketidakmampuan mengendalikan
diri sehingga menimbulkan perkelahian. Index offenses merupakan tindakan
kriminal baik yang dilakukan remaja maupun orang dewasa. Tindakan-tindakan
itu meliputi perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan, dan
pembunuhan. Penyebab dari kenakalan remaja adalah sebagai berikut:
a. Pencarian jati diri
Sesuai dengan teori Erik Erikson, tahap perkembangan remaja sedang
menghadapi krisis identity vs identity confusion. Menurut Erikson, remaja
yang memiliki keterbatasan pilihan dalam memilih peran sosial yang dapat
diterima oleh masyarakat atau remaja merasa tidak dapat menyesuaikan
dirinya dengan tuntutan lingkungan cenderung akan memilih identitas yang
negatif. Remaja yang memiliki identitas negatif ini akan mendapat
gambaran kenakalan remaja dari teman-temannya.
b. Pola asuh
Faktor pola asuh memiliki peran dalam membentuk kenakalan pada remaja.
Remaja yang diasuh dengan pola asuh pemaksaan yang tinggi dan pola asuh
positif yang rendah akan berdampak pada berkembangnya perilaku
antisosial pada remaja. Perilaku antisosial ini akan berhubungan dengan
perilaku negatif seperti kenakalan remaja.
c. Hubungan saudara dan pengaruh teman
Remaja yang memiliki kakak atau saudara yang berhubungan dengan
kenakalan remaja lebih cenderung akan terpengaruh dengan kenakalan
remaja. Selain memiliki saudara yang berhubungan dengan kenakalan,
remaja yang mengalami penolakan dari teman atau memiliki teman yang
melakukan penyimpangan akan cenderung melakukan kenakalan remaja.
d. Faktor lingkungan
Remaja yang tinggal di lingkungan perkotaan, tingkat mobilitas yang tinggi,
dan tingkat kriminalitas yang tinggi akan cenderung melakukan tindak
kenakalan yang bersifat kriminalitas.
e. Pendidikan
Remaja yang melakukan tindak kenakalan cenderung memiliki pendidikan
yang rendah dan juga nilai yang rendah.
2.5
Kerangka Berpikir
Psychological
Well-being
Andik
Gambar Error! No text of specified style in document..1 Kerangka
Berpikir
Para Andik yang berada di dalam Lapas akan mengalami berbagai masalah
seperti perkelahian dengan sesama Andik ataupun masalah lainnya.
Permasalahan-permasalahan yang dirasakan oleh para Andik tersebut akan
menyebabkan stress pada diri mereka. Stress yang dialami oleh para individu
akan mengancam kesehatan mental mereka termasuk psychological well-being
mereka (Lazarus & Folkman, 1984). Jika individu tidak ingin mengancam
perkembangan psychological well-being-nya, maka individu perlu untuk
melakukan upaya untuk mengurangi atau menghilangkan stress yang dialaminya.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan
stress adalah coping stress. Dalam penelitian yang dilakukan Jonker et al. (2009),
coping stress dapat menjadi prediktor yang penting dalam psychological wellbeing seseorang. Hal tersebut menjelaskan bahwa dengan melakukan coping
stress seseorang dapat mengurangi atau menghilangkan beban stress yang
dialaminya, sehingga akan berdampak baik pada psychological well-being
individu. Perbedaan strategi coping yang digunakan oleh individu akan
berdampak berbeda-beda pada masing-masing dimensi psychological well-being
(Tomas et al., 2012). Lazarus dan Folkman (1984) mengemukakan bahwa strategi
problem-focused coping lebih digunakan untuk mengembangkan psychological
well-being ketika situasi lingkungan dapat diubah. Dengan melakukan problemfocused coping, individu dapat mengubah, menyelesaikan, atau menghilangkan
situasi atau keadaan dari masalah yang dihadapinya, sehingga akan berdampak
baik pada kesejahteraan psikologis atau psychological well-being individu.
Namun berdasarkan hasil penelitian pada Andik Lapas di Blitar (Scholichatun,
2011), para Andik Lapas cenderung menggunakan emotion-focused coping karena
terbatasnya pilihan yang mereka milik. Penelitian lain yang dilakukan Karlsen
(2004), menunjukkan adanya hubungan positif dan kuat antara emotion-focused
coping dengan gejala kecemasan dan depresi, yang juga berhubungan negatif
dengan psychological well-being. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian lebih
lanjut untuk mengetahui peranan strategi coping terhadap psychological wellbeing Andik Lapas.
Selain strategi coping, kemampuan resiliensi juga berpengaruh pada
psychological well-being individu. Kemampuan resiliensi digunakan oleh
individu untuk dapat bertahan mengalami masa sulit yang dihadapi, sehingga
individu dapat bertahan menghadapi permasalahan yang akan berpengaruh pada
berkembangnya psychological well-being individu. Hal ini ditunjukkan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Christopher (2000) yang menyatakan bahwa
semakin tinggi derajat resiliensi akan berpengaruh pada tingkat kepuasan hidup
yang lebih baik yang menjadi prediktor kuat untuk psychological well-being.
Resiliensi dapat membantu para Andik Lapas untuk bertahan dalam situasi sulit di
Lapas sehingga hal itu dapat berdampak baik dengan psychological well-being
para Andik. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tomas et al. (2012)
menemukan bahwa kemampuan resiliensi dapat memprediksi secara signifikan
dan sebagian besar dari dimensi psychological well-being. Maka dari itu dapat
disimpulkan bahwa resiliensi memiliki peranan penting dalam menjaga
psychological well-being.
Individu yang dapat melakukan coping stress untuk mengurangi atau
menghilangkan stress yang dialami dan mampu untuk bertahan dalam
permasalahan dengan kemampuan resiliensinya, maka individu tersebut dapat
mengarahkan perilakunya untuk mengembangkan psychological well-being.
Keadaan tersebut dapat juga dilakukan oleh para Andik Lapas untuk melakukan
coping dan resiliensi pada permasalahan yang dihadapi Lapas agar dapat
mengarahkan perilakunya untuk mengembangkan psychological well-being.
2.6
Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H01: Problem-focused coping tidak berperan secara signifikan terhadap
psychological well-being pada Andik Lapas Anak Pria Tangerang.
Ha1: Problem-focused coping berperan secara signifikan terhadap
psychological well-being pada Andik Lapas Anak Pria Tangerang.
H02: Emotion-focused coping tidak berperan secara signifikan terhadap
psychological well-being pada Andik Lapas Anak Pria Tangerang.
Ha2: Emotion-focused coping berperan secara signifikan terhadap
psychological well-being pada Andik Lapas Anak Pria Tangerang.
H03: Resiliensi tidak berperan secara signifikan terhadap psychological wellbeing pada Andik Lapas Anak Pria Tangerang.
Ha3: Resiliensi berperan secara signifikan terhadap psychological well-being
pada Andik Lapas Anak Pria Tangerang.
Download