- Lumbung Pustaka UNY

advertisement
PELATIHAN PEMBUATAN MEDIA DIGITAL STORY TELLING (DST)
DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MEDIA BERBASIS ICT UNTUK
PEMBELAJARAN KELAS SBI DI SMP 1 KARANGMOJO*)
Oleh:
Prof. Dr. Muhyadi**), Sugi Rahayu, M.Pd., M.Si.**), Dyah Purwaningsih, M.Si. ***)
Pendahuluan
Penyelenggaraan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan
Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang dicanangkan oleh pemerintah disambut
baik oleh masyarakat. Sikap masyarakat ini menunjukkan adanya rasa kesadaran
bahwa tantangan persaingan global di bidang pendidikan harus siap dihadapi oleh
generasi penerus. Tingginya animo masyarakat terhadap keberadaan kelas RSBI/SBI
juga dapat dilihat dari banyaknya jumlah calon peserta didik yang mendaftar dan
meneruskan jenjang pendidikannya di kelas RSBI/SBI baik untuk jenjang menengah
pertama maupun menengah atas.
Keadaan di atas menuntut adanya kesiapan pihak sekolah untuk memfasilitasi
terselenggaranya program RSBI/SBI. Pengalaman Tim pengabdi sebagai pendamping
dan pembina guru-guru kelas RSBI/SBI menunjukkan bahwa guru masih mengalami
kesulitan dalam memilih media yang sesuai untuk membantunya mengajarkan materi
dalam kelas RSBI/SBI. Media yang ada di pasaran kebanyakan berupa media text
book dan masih sedikit media yang menggunakan aspek audio dan visual. Hal ini
menyebabkan kurang optimalnya keterampilan berbicara maupun keterampilan
mendengarkan (listening) yang dimiliki para peserta didik. Apabila kondisi ini tidak
segera diatasi maka dapat berakibat kurang efektifnya penyelenggaraan kelas
RSBI/SBI.
Ketersediaan koleksi buku (text book) dengan bahasa asing hanya merupakan
salah satu pendukung kelancaran proses belajar mengajar dan bukan satu-satunya
jaminan suatu sekolah dapat sukses menyelenggarakan program RSBI/SBI.
Mengingat bahasa pengantar yang digunakan dalam kelas RSBI/SBI adalah bahasa
asing maka guru-guru yang mengajar dalam kelas RSBI/SBI harus menguasai
keterampilan berbicara dalam bahasa asing. Apabila suatu sekolah tidak memiliki
sumber daya manusia (dalam hal ini guru) yang memiliki kompetensi tersebut maka
sangat sulit menyelenggaraka program ini. Kebutuhan akan SDM dan media
1
pembelajaran yang mendukung terselenggaranya kelas RSBI/SBI inilah yang
menyebabkan banyak sekolah berbenah/menyiapkan diri.
Tersedianya fasilitas internet di sekolah merupakan salah satu komponen yang
secara tidak langsung dapat membantu guru mempersiapkan kompetensinya untuk
program RSBI/SBI. Guru dengan mudah mengakses bahan-bahan ajar, contoh
penerapan konsep dan aspek-aspek lain yang dapat digunakannya dalam kelas
RSBI/SBI. DST ( Digital Story Telling) merupakan salah satu media pembelajaran
yang mencoba menggabungkan beberapa keterampilan yaitu keterampilan berbicara,
keterampilan menulis, keterampilan mendengarkan dan keterampilan mengoperasikan
program yang memanfaatkan perkembangan ICT.
Guru dapat menuangkan materi ke dalam media di atas sesuai indikator
pembelajaran yang akan dikembangkannya. Hal ini yang menguatkan DST untuk
dapat diterapkan sebagai media pembelajaran untuk kelas RSBI/SBI dengan
mengubah bahasa pengantar atau tulisan dalam bahasa asing. SMP 1 Karangmojo
sebagai salah satu sekolah yang mendapatkan kesempatan untuk menyelenggarakan
kelas RSBI/SBI tanggap akan kebutuhan media audio visual untuk pembelajaran kelas
RSBI/SBI. Guru-guru selalu berusaha menyusun media tersebut akan tetapi masih
menemui banyak kendala. Besarnya kendala inilah yang mendorong Tim pengabdi
berusaha membantu para guru di SMP 1 Karangmojo untuk mengatasinya kesulitan
tersebut
melalui
kegiatan
diselenggarakannya
kegiatan
pengabdian
pengabdian
ini.
Hal
lain
ini
adalah
yang
tim
memperkuat
pengabdi
pernah
mendapatkan materi mengenai bagaimana mengembangkan media audio visual
berbasis ICT selain adanya permintaan para guru untuk diberikan bekal dalam
memulai mengembangkan media pembelajaran untuk kelas RSBI/SBI. Oleh karena
didorong oleh keinginan untuk membantu para guru dalam mengembangkan media
pembelajaran audio visual untuk kelas RSBI/SBI, maka pelatihan pembuatan media
DST (Digital Story Telling) untuk pembelajaran kelas SBI di SMP 1 Karangmojo ini
dilaksanakan.
Karakteristik Media Digital Story Telling (DST)
Media Digital Story Telling (DST) merupakan salah satu jenis media pembelajaran
yang menggabungkan aspek visualisasi gambar dengan efek suara. Adapun
penggabungan
dua
aspek
ini
memanfaatkan
2
program
Audacity
dan
mengoperasikannya dengan Windows Movie Maker. Visualisasi gambar dapat dibuat
secara bebas oleh si perancang dan pembuat media tersebut. Untuk keperluan
pendidikan, gambar dapat berupa fenomena alam yang berkaitan dengan konsep ilmu
tentang materi yang akan diajarkan ke peserta didik.
Pembelajaran di dalam kelas RSBI/SBI selain menekankan pada peningkatan
pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajarinya juga berusaha mengoptimalkan
kemampuan siswa berbicara dalam bahasa asing (bahasa Inggris). Guru harus dapat
membantu para siswa mengembangkan keterampilan tersebut. Keadaan inilah yang
menyebabkan ketersediaan media audio visual untuk kelas RSBI/SBI sangat
diperlukan demi kelancaran proses pembelajaran.
DST memiliki salah satu keuntungan yaitu suara yang diisikan dapat suara asli
seorang native speaker ataupun suara guru. Jika guru ingin menyampaikan suara asli
seorang native speaker maka suara tersebut dapat diambil di beberapa web yang
menyediakannya secara gratis. Nilai plus (added value) inilah yang membuat DST
sebagai salah satu jenis media pembelajaran yang cukup ’luwes’. Artinya,
keluwesannya terletak pada jenis materi dapat dipilih sendiri oleh si penyusun media
dan gambar maupun suaranya pun demikian.
Pentingnya Media dan Kriteria Media Yang Baik Dalam Proses pembelajaran
Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran.
Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai
dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Ujung akhir dari pemilihan media
adalah penggunaaan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga
memungkinkan siswa dapat berinteraksi dengan media yang kita pilih. Apabila telah
ditentukan media alternatif yang akan digunakan dalam pembelajaran, maka
pertanyaan berikutnya yaitu sudah tersediakah media tersebut di sekolah atau di
pasaran? Jika tersedia, maka kita tinggal meminjam atau membelinya saja. Itupun jika
media yang ada memang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah kita
rencanakan, dan terjangkau harganya. Jika media yang kita butuhkan ternyata belum
tersedia, mau tak mau kita harus membuat sendiri program media sesuai keperluan
tersebut.
3
Jadi, pemilihan media itu perlu kita lakukan agar dapat menentukan media
yang terbaik, tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran peserta didik.
Untuk itu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang benar,
karena begitu banyak jenis media dengan berbagai kelebihan dan kelemahan masingmasing. Secara umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media
pembelajaran diuraikan sebagai berikut.
a) Tujuan
Apa tujuan pembelajaran (TPU dan TPK ) atau kompetensi yang
ingin dicapai? Apakah tujuan itu masuk kawasan kognitif, afektif , psikomotor atau
kombinasinya? Jenis rangsangan indera apa yang ditekankan: apakah penglihatan,
pendengaran, atau kombinasinya? Jika visual, apakah perlu gerakan atau cukup visual
diam? Jawaban atas pertanyaan itu akan mengarahkan kita pada jenis media tertentu,
apakah media realia, audio, visual diam, visual gerak, audio visual gerak dan
seterusnya.
b) Sasaran didik
Siapakah sasaran didik yang akan menggunakan media? bagaimana
karakteristik mereka, berapa jumlahnya, bagaimana latar belakang sosialnya, apakah
ada
yang
berkelainan,
bagaimana
motivasi
dan
minat
belajarnya?
dan
seterusnya. Apabila kita mengabaikan kriteria ini, maka media yang kita pilih atau
kita buat tentu tak akan banyak gunanya. Mengapa? Karena pada akhirnya sasaran
inilah yang akan mengambil manfaat dari media pilihan kita itu. Oleh karena itu,
media harus sesuai benar dengan kondisi mereka.
c) Karateristik media yang bersangkutan
Bagaimana karakteristik media tersebut? Apa kelebihan dan kelemahannya,
sesuaikah media yang akan kita pilih itu dengan tujuan yang akan dicapai? Kita tidak
akan dapat memilih media dengan baik jika kita tidak mengenal dengan baik
karakteristik masing-masing media. Karena kegiatan memilih pada dasarnya adalah
kegiatan membandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik dan lebih sesuai
dibanding yang lain. Oleh karena itu, sebelum menentukan jenis media tertentu,
pahami dengan baik bagaimana karaktristik media tersebut.
d) Waktu
Yang dimaksud waktu di sini adalah berapa lama waktu yang diperlukan
untuk mengadakan atau membuat media yang akan kita pilih, serta berapa lama
waktu yang tersedia/yang kita memiliki. Pertanyaan lain adalah berapa lama waktu
4
yang diperlukan untuk menyajikan media tersebut dan berapa lama alokasi waktu
yang tersedia dalam proses pembelajaran? Tak ada gunanya kita memilih media yang
baik, tetapi kita tidak cukup waktu untuk mengadakannya. Jangan sampai pula
terjadi, media yang telah kita buat dengan menyita banyak waktu, tetapi pada saat
digunakan dalam pembelajran ternyata kita kekurangan waktu.
e) Biaya
Faktor biaya juga merupakan pertanyaan penentu dalam memilih media.
Bukankah penggunaan media pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektifitas pembelajaran. Apalah artinya kita menggunakan media, jika
akibatnya justru pemborosan. Oleh sebab itu, faktor biaya menjadi kriteria yang
harus kita pertimbangkan. Berapa biaya yang kita perlukan untuk membuat, membeli
atau meyewa media tersebut? Bisakah kita mengusahakan beaya tersebut/ apakah
besarnya biaya seimbang dengan tujuan belajar yang hendak dicapai? Tidak
mungkinkan tujuan belajar itu tetap dapat dicapai tanpa menggunakan media itu,
adakah alternatif media lain yang lebih murah namun tetap dapat mencapai tujuan
belajar? Media yang mahal, belum tentu lebih efektif untuk mencapai tujuan belajar,
dibanding media sederhana yang murah.
f) Ketersediaan
Kemudahan dalam memperoleh media juga menjadi pertimbangan kita.
Adakah media yang kita butuhkan itu di sekitar kita, di sekolah atau di pasaran ?
Kalau kita harus membuatnya sendiri, adakah kemampuan, waktu
tenaga dan
sarana untuk membuatnya? Kalau semua itu ada, petanyaan berikutnya tersediakah
sarana yang diperlukan untuk menyajikannya di kelas? Misalnya, untuk menjelaskan
tentang proses tejadinya gerhana matahari memang akan lebih efektif jika disajikan
melalui media video. Namun karena di sekolah tidak ada aliran listrik atau tidak
punya video player, maka sudah cukup bila digunakan alat peraga gerhana matahari.
g) Konteks penggunaan
Konteks penggunaan maksudnya adalah dalam kondisi dan strategi bagaimana
media tersebut akan digunakan. Misalnya: apakah untuk belajar individual, kelompok
kecil, kelompok besar atau masal ? Dalam hal ini kita perlu merencanakan strategi
pembelajaran secara keseluruhan yang akan kita gunakan dalam proses pembelajaran,
sehingga tergambar kapan dan bagaimana konteks penggunaaan media tersebut dalam
pembelajaran.
h) Mutu Teknis
5
Kriteria ini terutama untuk memilih/membeli media
siap pakai yang telah ada,
misalnya program audio, video, grafis atau media cetak lain. Bagaimana mutu teknis
media tersebut, apakah visualnya jelas, menarik dan cocok? Apakah suaranya jelas
dan enak didengar ? Jangan sampai hanya karena keinginan kita untuk menggunakan
media saja, lantas media yang kurang bermutu kita paksakan penggunaannya. Perlu
diinggat bahwa jika program media itu hanya menjanjikan sesuatu yang sebenarnya
bisa dilakukan oleh guru dengan lebih baik, maka media itu tidak perlu lagi kita
gunakan.
Metode Pelaksanaan PPM
Metode kegiatan ini meliputi ceramah, diskusi-informasi, workshop, dan
disseminasi terbatas. Secara lebih rinci metode yang digunakan dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Menjelaskan kepada peserta pelatihan mengenai berbagai macam cara
mengembangkan media pembelajaran untuk kelas RSBI/SBI.
2. Diskusi-informasi membahas cara mengatasi kesulitan dalam memulai
mengembangkan media pembelajaran serta menjelaskan cara menuangkan
materi ajar ke media tersebut.
3. Para
peserta
diberi
kesempatan
untuk
mencoba
menyusun
dan
mengembangkan media DST ke dalam draft awal.
4. Hasil uji coba selanjutnya dipresentasikan untuk bahan diskusi dan selanjutnya
siap didisseminasikan di sekolah.
Seperti telah diuraikan di depan, banyak guru yang masih minim pengetahuan dan
keterampilan mengenai cara mengembangkan media pembelajaran audio visual untuk
kelas RSBI/SBI . Selain itu motivasi guru untuk mengembangkan media tersebut
masih rendah. Untuk itu perlu diadakan pelatihan pembuatan media DST (Digital
Story Telling) untuk pembelajaran kelas SBI tersebut.
Untuk mencapai tujuan di atas, di buatlah kerangka pemecahan masalah
sebagai berikut:
6
Perencanaan
Kegiatan
Perumusan
masalah yang
akan
dipecahkan
Pemilihan topik
dan materi
pelatihan
Pelaksanaan
Pelatihan dan
Penugasan
Media
pembelajaran
DST hasil
pelatihan
Uji coba media di
sekolah peserta
pelatihan
Pemilihan Peserta
Pelatihan
Gambar 1. Diagram Pemecahan Masalah
Hasil Pelaksanaan PPM dan Pembahasan
Sesuai dengan jadwal, metode dan rencana pelaksanaan program yang sudah
ditentukan maka urutan kegiatan dan hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini adalah:
1. Penyampaian
materi
mengenai
jenis-jenis
media
pembelajaran
dan
implementasinya dalam kelas RSBI/SBI
Beberapa pengetahuan yang disampaikan adalah:
-
Pemanfaatan ICT untuk penyusunan dan pengembangan media
pembelajaran di kelas RSBI/SBI
-
Peran media pembelajaran bagi ketercapaian proses dan produk
pembelajaran di kelas RSBI/SBI.
-
Peluang penyelenggaraan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui
implementasi media DST.
2. Penyampaian materi dan simulasi cara pembuatan Digital Story Telling (DST)
 Digital Story Telling (DST), bagaimana mengoptimalkannya sebagai
media untuk peningkatan speaking dan listening dalam kelas RSBI.
 Sumber-sumber bahan yang dapat digunakan sebagai pengembangan
media DST.
 Mekanisme pembuatan, penggunaan dan simulasi pembuatan media
DST.
 Fitur-fitur dalam media DST sehingga sesuai untuk pembelajaran di
kelas RSBI/SBI.
7
3. Workshop pembuatan media DST oleh peserta
Para peserta yang telah mendapatkan materi pengetahuan tentang fitur-fitur
media DST selanjutnya mencoba menyusun dan mengembangkan media DST sesuai
mata pelajaran yang akan diajarkan di kelas RSBI/SBI. Kegiatan ini bertujuan untuk
menjelaskan
kepada
peserta
tentang
materi
yang
sudah
diterima
dan
membandingkannya dengan kondisi lapangan yang sesungguhnya melalui workshop.
Kegiatan ini dilanjutkan dengan pengamatan, pengidentifikasian dan penyusunan
data-data pendukung yang diperlukan peserta. Data-data ini yang akan dijadikan
bahan peserta dalam kegiatan diskusi dengan Tim pengabdi guna memantapkan
penguasaan materi yang telah diberikan.kondisi lapangan melalui workshop sehingga
dapat diketahui kendala-kendala yang ditemukan oleh peserta.
4. Diskusi antar peserta mengenai pembuatan media DST dan implementasinya di
kelas RSBI/SBI.
Adapun sebagai akhir dari kegiatan yang dilakukan oleh peserta adalah diskusi
mengenai penyusunan dan pengembangan media DST. Setiap komponen materi yang
telah diberikan didiskusikan dan dibahas antara Tim, bidang kurikulum serta peserta
pelatihan. Pada saat wakil kelompok menyampaikan hasil pengamatannya maka
peserta lain diberikan kesempatan untuk menanggapi hasil pengamatan yang telah
dilakukan.
Beberapa faktor pendukung yang membantu terlaksananya kegiatan PPM ini
adalah sebagai berikut:
1. Sekolah mitra merupakan sekolah yang telah dipersiapkan sebagai salah satu
sekolah RSBI sehingga ketersediaan fasilitas laboratorium
komputer sangat
membantu terselenggaranya kegiatan ini..
2. Tim pengabdi memiliki latar belakang bidang keahlian yang beragam yaitu ilmu
sosial dan MIPA sehingga materi yang diberikan dapat ditinjau dari beberapa ilmu.
3. Komitmen dan visi misi sekolah sangat kuat dalam usaha mempersiapkan SDM
untuk terselenggaranya kelas RSBI. Hal ini membantu Tim Pengabdi dalam proses
pelatihan sehingga seluruh peserta berperan aktif serta mau bekerja sama dengan
Tim pengabdi. Kerjasama ini memudahkan Tim pengabdi dalam memberikan
materi kepada peserta.
Adapun kendala-kendala atau faktor penghambat yang ditemui Tim pengabdi selama
kegiatan adalah:
8
1. Waktu pelaksanaan kegiatan kurang optimal dikarenakan sulitnya menentukan
jadwal pelatihan dimana seluruh guru yang terlibat dalam program RSBI dapat
mengikutinya.
2. Latar belakang keterampilan daam bidang pengembangan media dan komputer
yang dimiliki oleh guru-guru sangat beragam sehingga pelaksanaan pelatihan
memerlukan waktu yang relatif lebih lama..
Pengabdian masyarakat mengenai pembuatan media Digital Story Telling
(DST) di SMP N 1 Karangmojo ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2010 dan
pengumpulan tugas mandiri selama bulan Agustus 2010. Banyaknya peserta yang
mengikuti kegiatan berjumlah 21
orang dari 25 orang yang diundang oleh tim
pengabdi. Para peserta merupakan guru-guru pengajar kelas RSBI di SMPN 1
Karangmojo dari berbagai mata pelajaran.
Materi yang disampaikan terdiri dari 1) Media pembelajaran DST dan
implementasinya di kelas RSBI, 2) Mekanisme pembuatan media DST beserta fiturfitur pendukungnya, dan 3) Peluang PTK melalui pengembangan media DST di kelas
RSBI. Tim pengabdi yang memberikan materi pelatihan terdiri dari 3 orang, yaitu:
Bapak Prof. Muhyadi, Ibu Sugi Rahayu, M.Pd. M.Si., dan Ibu Dyah Purwaningsih,
M.Si., Adapun pemberian materi berbentuk ceramah dan dilanjutkan dengan
pengamatan lapangan oleh peserta serta diakhiri dengan presentasi dan diskusi oleh
para peserta pelatihan.
Pada waktu diskusi berlangsung terlihat bahwa penguasaan peserta mengenai
teknik pengembangan media pembelajaran bagi kelas RSBI masih relatif rendah.
Melalui diskusi ini, tim pengabdi menyisipkan materi-materi yang harus dikuasai
peserta sebagai bekal dalam mempersiapkan pembuatan media bagi kelas RSBI. Tim
pengabdi selain memberikan materi tentang bagaimana cara menyusun dan
mengembangkan media DST, Tim juga menjelaskan kemungkinan-kemungkinan lain
yang bisa dikembangkan melalui pembuatan media tersebut serta bagaimana cara
mengelolanya sehingga meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa RSBI.
Para peserta semakin menyadari bahwa peran media berbasis ICT untuk kelas
RSBI sangat penting sehingga mereka perlu mengembangkan keterampilan tersebut.
Sebagian besar peserta memahami bahwa pembuatan media DST relatif lebih baik
dampaknya terhadap keterampilan berbicara dan menulis siswa-siswa RSBI
khususnya di SMPN 1 Karangmojo.
9
Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan terhadap proses kegiatan pengabdian masyarakat
berupa pelatihan pembuatan media Digital Story Telling (DST) dalam rangka
pengembangan media berbasis ICT untuk pembelajaran kelas SBI di SMP 1
Karangmojo di lapangan diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Guru-guru mata pelajaran di kelas RSBI menjadi paham dan mengetahui
pemanfaatan ICT untuk mengembangkan media pembelajaran bagi kelas RSBI.
2. Keterampilan guru dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis ICT
untuk kelas RSBI meningkat terlihat selama proses workshop berlangsung.
3. Motivasi guru-guru untuk mengembangkan media DST sangat tinggi terlihat
dari keinginan guru-guru di luar peserta pelatihan yang ingin mempelajarai dan
mengembangkan media DST bagi pembelajarannya di kelas.
Saran
Untuk tindak lanjut dari kegiatan ini hendaknya dikembangkan lagi mengenai
model pembuatan media DST secara bilingual untuk mata pelajaran di luar kelas
RSBI. Hal ini dimaksudkan agar para siswa dan guru-guru non RSBI juga mengikuti
perkembangan teknologi media pembelajaran yang berbasis ICT.
DAFTAR PUSTAKA
Breen & Candlin. 1980. The Essentials of a Communicative Curriculum in Language
Teachin., Applied Linguistics, 1(2) pp 89-112
Chang,W. 2001. Perceptions of Teaching and Learning in Year One University
Physics in Taiwan: Students' and Prof essors' Perspectives . Institute of
Optical
Physics
Feng
Chia
University
Taiwan.
http://www2.physics.umd.edu/
Cohran, W.G. 1963. Sampling Techniques. New York : John Willey & Sons.Inc.
Copi, Irving. 1986. Informal Logic. New York : Mc Millan Publishing Company.
Dahar, R.W. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga
Glasersfeld, Ernst Von. 1989. An Exposition of Constructivist Why Some Like it
Radical. Scientific Reasoning Research Institute. University of
Massachusetts.
10
------------, Constructivist Learning Theory. 2002,. http://www.stemnet. nf.ca.
Guilford, J.P. 1973. Fundamental Statistic in Psychology and Education. New York :
Mc Graw-Hill Book Company.
Harlen, W. 1992. The Teaching of Science. London : David Fulton Publisher.
Honebein. 1996. Characteristics of Constructivist Learning and Teaching. ,.
http://www.stemnet. nf.ca.
Howe, Ann. 1996. Development of Science Concept within Vygotskian Framework.
Science Education. John Willey and Son.
Johnson, David & Roger Johnson. 2000. Cooperative Learning Methods : A Meta
Analysis. Minessota University
Jonassen. 1994. Characteristics of Constructivist Learning and Teaching. http://www.
Stemnet.nf.ca
Klapper, Joseph. 1990. The Effects of Mass Communication. New York : The
Free Press.
Kerlinger. F.N. 2002. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Terjemahan Landung R
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo
Lonning, R. A. 1993. Effect Cooperative Learning Strategis on Student Verbal
Interaction and Achievement During Conceptual Change Instruction in th
Grade General Science. Journal of Research in Science Teaching. Vol.30 No.
9 pp 1087-1101.
Pigay,N.(2004). TKI dan Tuntutan globalisasi. Majalah Nakertrans Edisi - 03
TH.XXIV-Juni 2004
Piaget. J.1969. The Child’s Conception of Physical Causality. New Jersey : Little
Field, Adams & Co.
Sadia. 1996. Pengembangan Model Belajar Konstruktivis dalam Perkuliahan IPA di
SMP. (Suatu Studi Eksperimental dalam Perkuliahan Konsep Energi Usaha
dan Suhu di SMPN I Singaraja). Disertasi (tidak diterbitkan). IKIP Bandung.
Semiawan, Conny. R. Kontribusi Perdosenan Tinggi di Indonesia dalam Transformasi
Pendidikan Menengah Menghadapi Era Global. Stadium General IKIP
Singaraja. 2001.
Shaffer, David. R. 1996. Development Psychology Childhood and Adolescend.
Georgia : Brooks / Cole Publishing Company
*) Dibiayai dari dana DIPA Universitas Negeri Yogyakarta Kegiatan Program Pengabdian
kepada Masyarakat Prioritas Fakultas dengan No. 180 b/ H.34.22/ PM/ 2010 Sub Akun 525112
Tahun Anggaran 2010
**) Staf pengajar Jurdik ADP FISE Universitas Negeri Yogyakarta
***) Staf pengajar Jurdik Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
11
Download