Kaligrafi, Bab 2

advertisement
Bab 2
Sejarah Singkat Tulisan
Di Mesopotamia,
Timur Tengah, dan Eropa
2.1Tulisan Bahasa Sumeria dan Akadia (“Aksara Paku”)
Sejarah tulisan mulai di Mesopotamia, Irak bagian selatan, antara sungai
Tigris dan sungai Efrat (atau, dengan pengertian yang lebih luas, di dae­
rah sekitar kedua sungai itu, termasuk sebagian dari Turki dan Syria).
Mesopotamia melahirkan beberapa peradaban paling tua di dunia. Salah
satu di antaranya adalah peradaban Sumeria, yang berjaya dari kurang
le­bih tahun 4500 SM – 1750 SM. Kota-kota pertama dalam sejarah dunia
muncul di Sumeria.
Pada awalnya, orang Sumeria menulis di atas tanah liat yang masih
empuk, dengan buluh (sejenis batang ilalang) yang diruncingkan. Tulisan
mereka lahir dari kebutuhan dalam perdagangan: kala itu, para saudagar
ingin mencatat berapa banyak dari satu komoditi (berapa ekor domba,
mi­sal­nya) telah dijual atau masih disimpan. Pada tahap awal, grafemnya
berupa gambar (pictogram), tetapi lama-kelamaan menjadi lebih abstrak,
dan grafemnya tidak lagi terbatas pada komoditi saja. Lihat
������������������
pada gambar
2-1 perkembangan dari grafem yang lebih realistis sampai ke grafem yang
abstrak.
12 — Sistem Tulisan dan Kaligrafi
Gbr. 2-1: Tulisan bahasa Sumeria. Dari grafem gambar menjadi
grafem abstrak.
Antara kolom 1 dan kolom 2 ada suatu perubahan yang drastis:
semua grafem diputar 90 derajat. Grafem 1, berbentuk kepala manusia,
sebelumnya tegak; kemudian diputar menjadi telentang. ����������������
Ada teori bahwa
putaran ini berkaitan dengan perubahan alat tulis yang dipakai. Belum
jelas kapan putaran ini terjadi.
Juga belum jelas kapan satu perubahan lain terjadi dalam penulisan
ba­hasa Sumeria, saat para penulis mengganti alat tulis. Daripada
menggunakan buluh yang diruncingkan, mereka kemudian menggunakan
buluh yang rata ujungnya. Bila ditekan ke tanah liat, buluh itu menghasilkan
satu bentuk yang mirip dengan paku. Nama dalam bahasa Latin untuk
paku adalah cuneus, dan makanya tulisan ini sekarang disebut cuneiform
(“berbentuk cuneus”, c berbunyi k) dalam bahasa Inggris, atau aksara paku
dalam bahasa Indonesia.
Sejarah Singkat Tulisan di Mesopotamia, Timur Tengah, dan Eropa — 13
Gbr. 2-2: Aksara paku (cuneiform).
Pada kurang lebih tahun 3600 SM sudah ada kira-kira 1500
gra­­fem dalam tulisan bahasa Sumeria. Kebanyakan adalah logogram
(grafem logografis). Waktu itu, satu logogram bisa menandai beberapa
kata berbeda. Misalnya, pada gambar 2.1, logogram 2 bisa dibaca /ka/
“mulut”, /dug/ “berbicara”, /zu/ “gigi”, dan /inim/ “pembicaraan”. Jadi
satu logogram mempunyai makna yang ambigu (tidak jelas) – bisa berarti
ini, bisa berarti itu.
Untuk mengurangi ambiguitas tersebut, dari kurang lebih tahun
3600 SM, penulis Sumeria mulai menggunakan grafem silabis sebagai
tambahan. Dasar
����������������������������������������������������������������
sistem tulisannya tetap logografis, tetapi grafem silabis
mulai muncul juga. Kebetulan, dalam bahasa Sumeria itu, kebanyakan kata
dasar terdiri dari satu silabel saja, dan terdapat banyak sekali homonim—
yaitu dua kata, tiga kata, atau lebih, dengan bunyi sama tetapi arti berbeda.
(Homonim hampir tidak dijumpai dalam bahasa Indonesia, tetapi sering
terdapat da­lam beberapa bahasa lain, termasuk bahasa Inggris: hair [rambut]
and hare [kelinci], dua-duanya dibunyikan /hεr/, dengan /ε/ seperti <e>
dalam zed; eye [mata] dan I [saya], dua-duanya dibunyikan /ai/.) Daripada
menggunakan sistem logografis, yang menuntut dua grafem untuk dua
kata yang berbeda arti sekalipun bunyinya sama, penulis Sumeria mulai
meng­gunakan salah satu grafem untuk dua-duanya, justru karena bunyinya
sama. Misalnya, kalau ada silabel /ho/ yang berarti X dan juga Y, grafem
untuk X bisa dipakai juga untuk menulis kata Y. Dan setiap kali ada silabel
/ho/ muncul dalam kata lain, walau bukan merupakan kata lengkap, grafem
untuk X bisa dipakai. Jadi, dalam hal ini, prinsip tulisan bukan logografis
14 — Sistem Tulisan dan Kaligrafi
(berdasarkan makna), melainkan fonografis (berdasarkan bunyi).
Pada dasarnya tulisan orang Sumeria logografis. Mereka mengguna­
kan prinsip fonografis dan silabis hanya dalam konteks terbatas—untuk
menulis nama-nama asing, misalnya. Yang lebih jauh mengembangkan
prinsip silabis adalah orang Akadia, yang mendiami daerah yang sekarang
termasuk Irak dan Syria. Mereka meminjam sistem tulisan Sumeria ke
dalam bahasa Akadia kurang lebih tahun 2500 SM. Kebanyakan contoh
tulisan aksara paku yang tersimpan sampai sekarang berasal dari orang
Akadia (dan orang Babel atau Babilonia, sebuah subetnis orang Akadia),
bukan dari orang Sumeria.
2.2 Tulisan Bahasa Mesir (“Hieroglif ”)
Prasasti paling tua dalam bahasa Mesir berasal dari sekitar tahun 3400 SM.
Walaupun ada beberapa jenis tulisan Mesir Kuno, yang paling ter­kenal
adalah tulisan hieroglif—sejenis tulisan yang sangat indah dan mengesankan,
penuh dengan gambar jelas. Tulisan hieroglif dipakai untuk monumen—
dinding istana dan kuil, patung dewa dan raja, serta makam raja.
Gbr. 2-3: Hieroglif Mesir kuno.
Penulis Mesir mengambil prinsip logografis (satu grafem untuk satu
kata) dan prinsip silabis dari aksara paku, lalu untuk pertama kali dalam
sejarah dunia mereka menciptakan prinsip alfabetis, dengan grafem yang
menandai konsonan sendiri (tanpa vokal) atau dua atau tiga konsonan
sekaligus. �������������������������������������������������������������
Pada umumnya tulisannya dari kanan ke kiri, tetapi bisa juga
dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah.
Sejarah Singkat Tulisan di Mesopotamia, Timur Tengah, dan Eropa — 15
Gbr. 2-4: Hieroglif Mesir kuno.
Beginilah alfabet dalam tulisan bahasa Mesir Kuno. Dalam bahasa
itu, kata untuk “kaki” mulai dengan bunyi /b/. Dan dalam tulisannya,
kata untuk “kaki” itu ditulis secara logografis dengan gambar kaki. Ino­
vasi penulis Mesir adalah: mereka ambil grafem untuk “kaki” itu dan
menggunakannya bukan hanya untuk kata “kaki” tetapi untuk semua
bunyi /b/. Dan demikian seterusnya untuk bunyi-bunyi lain, sehingga
akhir­nya ada satu alfabet untuk menandai 26 konsonan. Sebenarnya
alfa­bet ini digunakan hanya dalam beberapa konteks tertentu, dan tidak
menggantikan sistem logografis dan silabis. Misalnya, kalau suatu grafem
bisa dibaca dengan beberapa arti (ingatlah contoh dari Sumeria: satu
logogram bisa dibaca sebagai mulut, gigi, berbicara, dan pembicaraan), satu
grafem alfabetis bisa ditambahkan untuk membantu si pembaca. Kalau
yang ditambahkan adalah grafem untuk konsonan /k/, berarti kata yang
ditandai oleh logogram adalah yang mulai (atau kadang-kadang berakhir)
dengan /k/, bukan yang mulai (atau berakhir) dengan konsonan lain.
Cara lain untuk membantu si pembaca adalah dengan grafem yang
disebut “penentu” (Inggris: determinative). (Penentu ini juga dipakai dalam
tulisan bahasa Sumeria/Akadia.) Misalnya ada satu kata yang bisa dibaca
sebagai ikan dan juga sebagai tangis. Kata itu ditulis, lalu ditambahkan
grafem yang menggambarkan ikan, jika yang dimaksudkan adalah ikan, atau
ditambahkan grafem yang menggambarkan mata, jika yang dimaksudkan
adalah tangis. Grafem penentu ini tidak dibunyikan si pembaca.
Sebagaimana halnya dengan tulisan silabis—yang diciptakan orang
Sumeria tetapi lebih dikembangkan oleh orang lain (orang Akadia)—
tulisan alfabetis diciptakan orang Mesir tetapi lebih dikembangkan oleh
orang lain yang dijajah Mesir. Perkembangan
����������������������������������������
pesat atas dasar alfabetis
16 — Sistem Tulisan dan Kaligrafi
dari Mesir terjadi dalam beberapa sistem tulisan yang disebut rumpun
tulisan Semitik Utara.
2.3 Tulisan Semitik Utara
Tulisan Semitik Timur adalah aksara paku (dipakai untuk bahasa Su­meria,
Akadia, Babilonia, dan Assyria). Tulisan Semitik Utara tidak menggunakan
aksara paku melainkan mengandalkan alfabet konsonan yang diciptakan
orang Mesir. Berbeda dengan tulisan bahasa Mesir, tulisan Semitik Utara
tidak mencampurkan tulisan alfabetis dengan tulisan logografis: sistemnya
fonografis (berdasarkan bunyi) belaka. Suatu grafem menandai bunyi saja,
tanpa menandai makna sama sekali. Makna suatu kata hanya diketahui
kalau semua tanda bunyi digabungkan. Kami ambil contoh dari bahasa
Indonesia: dalam istilah kelas, arti kata itu tidak tergantung pada hurufhurufnya tetapi pada susunannya. Artinya baru muncul kalau huruf-huruf
itu diletakkan dalam susunan itu. Kalau susunannya berbeda—lekas atau
selak—artinya juga lain.
Alfabet Semitik Utara terdiri dari konsonan saja, dan tidak
mempunyai cara menandai bunyi vokal. (Kalimat tadi, kalau ditulis dengan
konsonan saja, kelihatan begini: Lfbt Smtk Tr trdr dr knsnn sj, dn tdk mmpny
cr mnnd bny vkl.) Sistem ini barangkali tepat untuk bahasa-bahasa Semitik,
termasuk bahasa Arab, karena dasar atau akar (bahasa Inggris: root) dari
setiap kata adalah konsonannya. Kebanyakan kata dalam bahasa Arab
mempunyai dasar/akar yang terdiri dari tiga konsonan. Misalnya, k‑t‑b
adalah dasar dari sekelompok kata yang berhubungan dengan tulisan:
kitab-
katab-
aktib-
katib-
maktub-
maktab-
buku
menulis
saya menulis
penulis
tertulis
kantor
Perbedaan di antara bentuk-bentuk dasar ktb ini terletak pada
bunyi vokalnya. Seseorang yang tahu makna bahasanya biasanya dapat
mengetahui melalui konteks (apa yang menjadi topik tulisannya) bentuk
mana yang harus dilafalkan.
Semua tulisan dalam rumpun Semitik Utara—termasuk tulisan
bahasa Aramaik, Phoenicia, Nabthi (Nabataean), dan Arab—ditulis dengan
garis mendatar dari kanan ke kiri.
Sejarah Singkat Tulisan di Mesopotamia, Timur Tengah, dan Eropa — 17
Alfabet Semitik Utara yang paling awal muncul dalam kurun waktu
tahun 1700 SM – 1500 SM. Dua tulisan yang paling berpengaruh dalam
rumpun tulisan Semitik Utara adalah tulisan bahasa Aramaik dan tulisan
bahasa Phoenicia.
Gbr. 2-5: Alfabet Aramaik.
18 — Sistem Tulisan dan Kaligrafi
Nama
Simbol
Gbr. 2-6: Alfabet Phoenicia.
Nilai
Sejarah Singkat Tulisan di Mesopotamia, Timur Tengah, dan Eropa — 19
2.4Dari Tulisan Bahasa Aramaik ke Tulisan Bahasa Arab
Sebenarnya, tulisan bahasa Aramaik dan tulisan bahasa Phoenicia sangat
dekat, dan tulisan Aramaik bisa dianggap turunan dari tulisan Phoenicia.
Tetapi dari segi wilayah pengaruh dan perkembangannya, kedua tulisan
cukup berbeda. Tulisan Aramaik muncul pertama kali pada abad ke-9 SM.
Antara abad ke-9 SM dan ke-6 SM, bahasa Aramaik (bersama tulisannya)
menjadi bahasa administrasi untuk kekaisaran Assyria/Persia, dan dikenal
dari Mesir sampai ke India.
Sekitar tahun 150 SM, beberapa suku Arab nomadis di daerah
Sinai, Arabia utara, dan Yordania timur bersatu dan mendirikan suatu
kerajaan yang berpusat di Petra. Kerajaan ini disebut Nabthi (Nabataea).
Walaupun bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Arab, mereka juga
menggunakan bahasa
Aramaik menulis de­
ngan tulisan Aramaik
antara abad ke-1 SM
– abad ke-3. Mereka
me­masukkan beberapa
variasi ke dalam tu­
l i s­ a n A r a m a i k —
terutama gabungan
huruf (seperti lam-alif
dalam tulisan bahasa
Arab). D
���������
an juga
bentuk-bentuk huruf
khusus kalau hurufnya
mengakhiri suatu kata.
Ciri-ciri tulisan Nabthi
ini menjadi unsur khas
dalam tulisan bahasa
Arab, dan tulisan ba­
hasa Arab dianggap
turunan langsung
dari tulisan Nabthi.
Transformasi tulisan
Nabthi menjadi tulisan
bahasa Arab terjadi
pada abad ke-4 dan
abad ke-5.
Gbr. 2-7: Dari tulisan bahasa Nabthi ke tulisan bahasa Arab.
20 — Sistem Tulisan dan Kaligrafi
Nama
Huruf
Huruf
Akhir
Huruf
Tengah
Huruf
Awal
Berdiri
Sendiri
Bunyi
Alif
a
Ba
b
Ta
t
Tsa
ts
Jim
j
Ha
h
Kha
kh
Dal
d
Dzal
dz
Ra
r
Zai
z
Sin
s
Syin
sy
Shad
sh
Dhad
dh
Tha
th
Dzha
dzh
‘Ain
‘a
Ghain
gh
Fa
f
Qaf
q
Kaf
k
Lam
l
Mim
m
Nun
n
Ha
w
Wau
h
Ya
y
Gbr. 2-8: Alfabet bahasa Arab.
Sejarah Singkat Tulisan di Mesopotamia, Timur Tengah, dan Eropa — 21
Alfabet bahasa Arab menggunakan 28 konsonan—dibanding
22 dalam alfabet Nabthi—tetapi tiga di antaranya (‘alif, wau, dan ya)
berfungsi pula sebagai vokal “panjang” (/a/, /u/, /i/). Kebanyakan huruf
mempunyai tiga bentuk tertulis, tergantung pada posisi dalam kata: pada
awal, tengah, akhir kata. Semua huruf juga mempunyai bentuk khusus
kalau berdiri sendiri. Juga ada tanda-tanda (“diakritik”) di atas atau di
bawah huruf untuk menandai bunyi vokal “pendek”, atau untuk menandai
penggabungan konsonan (misalnya dalam kata maktub). Tetapi diakritik
ini biasanya dipakai secara sistematis hanya untuk menulis Al-Qur’an dan
puisi Arab. Dalam konteks lain, bahasa Arab biasanya ditulis “gundul,”
tanpa diakritik untuk vokal pendek atau penggabungan konsonan. Hal
ini menyulitkan orang yang ingin membunyikan tulisannya jika belum
memahami bahasanya.
2.5 Dari Tulisan Bahasa Phoenicia ke Tulisan Bahasa Yunani dan
Bahasa Latin
Phoenicia dulu adalah satu daerah di pantai Timur Laut Mediterania.
Tulisan bahasa Phoenicia muncul kira-kira tahun 1000 SM. Sebagaimana
tulisan Aramaik, tulisan Phoenicia termasuk rumpun tulisan Semitik
Utara, menggunakan alfabet konsonan dengan 22 huruf. Bahasa Phoenicia
ditulis dari kanan ke kiri, seperti bahasa Semitik Utara lain, dan bahasa
Arab sekarang.
Sekitar tahun 800 SM, alfabet Phoenicia dipinjam orang Yunani lalu
dikembangkan. Lima huruf konsonan dari alfabet Phoenicia yang tidak
diperlukan untuk bahasa Yunani diberi bunyi baru, yaitu bunyi vokal. Dan
alfabet Yunani itu menjadi alfabet pertama yang menganggap konsonan
dan vokal sebagai huruf setara, tidak menganggap konsonan sebagai yang
utama dan vokal sebagai tambahan (diakritik).
Pada mulanya, bahasa Yunani ditulis dari kanan ke kiri, seperti bahasa
Phoenicia. Sekitar abad ke-7 SM, arah menulis bahasa Yunani bergantiganti arah, dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri. Namun sekitar abad
ke-5 SM, tulisan bahasa
Yunani ditulis dari kiri ke
ka­nan. Beberapa huruf yang
bentuknya non-simetris (B,
E, K, P, dan sebagainya) se­be­
lumnya menghadap ke kiri,
lalu sesudah pergantian, arah­
Gbr. 2.9 : Huruf Yunani pada abad ke-7, arah menulis berganti-ganti arah
nya menghadap ke kanan.
(kanan ke kiri dan kiri ke kanan).
22 — Sistem Tulisan dan Kaligrafi
Perkembangan bentuk huruf dari tulisan Phoenicia hingga tulisan
Yunani yang terlihat dalam gambar 2-10. Gambar 2-11 memperlihatkan
bahwa beberapa dari huruf dalam alfabet Phoenicia merupakan transformasi
dari grafem Mesir kuno.
Gbr. 2-10: Dari huruf Phoenicia ke huruf Yunani.
Sejarah Singkat Tulisan di Mesopotamia, Timur Tengah, dan Eropa — 23
Mesir
ProtoSinaitik
Phoenicia
Yunani
Awal
Yunani
Latin
Gbr. 2-11: Dari tulisan bahasa Mesir kuno ke huruf Phoenicia dan kemudian ke huruf Yunani dan Latin.
Alfabet Yunani tetap dipakai sampai sekarang untuk bahasa Yunani.
Namun juga ada perkembangan lagi. Pendatang dari daerah Euboea di
Yunani yang menetap di daerah Etruria di Itali membawa serta alfabet
Yunani. Orang Etruria mengadopsi alfabet Yunani, masih dengan
orientasi lama dari kanan ke kiri. Tulisan dalam bahasa orang Etruria
(bahasanya disebut Etruska atau Etruscan) muncul dalam abad ke-7 SM
(tahun 700 SM – 600 SM). Kemudian, sekitar tahun 650 SM, orang Roma
meminjam sistem tulisan Etruria untuk menulis bahasa Latin. Sejak saat
itu berkembang alfabet Latin yang sekarang digunakan untuk banyak
bahasa, bukan hanya di Eropa tetapi juga di negara-negara di Asia, Afrika,
dan Amerika Utara serta Selatan. Sebagaimana dengan bahasa Yunani
sebelumnya, tulisan bahasa Latin berganti arah kanan-kiri menjadi kirikanan, sekitar tahun 100 SM. Lihat pada gambar 2-12 transformasi bentuk
dari huruf Euboea (Yunani) ke huruf Latin.
24 — Sistem Tulisan dan Kaligrafi
Euboea
Tahun 700 SM
Etruska
Tahun 600 SM
Gbr. 2-12: Dari huruf Euboea (Yunani) ke huruf Latin.
Latin Awal
Tahun 500 SM
Latin
Tahun 100 SM
Download